Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
TELEGRAM : @ddmoviechannel | Join and Download
Waktu itu hari pertama ibu kerja.
Ningrum.
Ya, Bu?
Kamu nanti tolong bersihkan lantai dua.
- Baik, Bu. - Dan jangan ke lantai tiga.
Di sana sedang direnovasi.
- Jadi, tidak perlu dibersihkan. - Baik, Bu.
Ingat, ya, jangan ke lantai tiga.
Baik, Bu. Permisi, Bu.
Kamar 19 di mana, ya?
- Kamar nomor 19 lantai dua, ya, Pak? - Iya, betul.
- Sebelah sana, Pak. - Sebelah sana?
- Terima kasih. - Iya.
Permisi.
Maaf.
Apa di dalam tidak kenapa-napa?
Tiga hari, tengah malam.
Seumur-umur ibu belum pernah melihat orang seputih itu.
Ibu liat ga mukanya?
Ibu ga liat jelas.
Tapi dia berhenti menangis.
Dan ibu dengar dia bilang sesuatu.
Bilang apa, Bu?
"Tiga hari,
tengah malam."
Ibu ga tau kenapa dia bilang begitu.
Ibu langsung tutup pintu dan pergi.
Tapi besoknya semua jadi aneh.
Ibu temukan kucing kita mati.
Lalu, Pak Yono, tetangga kita,
menusuk kakinya sendiri.
Dan Bude Ayu…
Ibu liat
dia lompat dari atap rumah sakit, Nak.
Ibu liat sendiri.
Bu.
Ini sudah hari ketiga, Nak.
Ibu takut.
Bu.
Pak Yono, kan, ada gangguan jiwa.
Bude Ayu juga udah dua tahun di rumah sakit jiwa.
Kucing kita, kan, juga udah tua toh, Bu.
Jadi, ya, ga ada hubungannya sama perempuan yang Ibu liat.
Ibu tuh cuma trauma
karena liat Bude Ayu bunuh diri.
Udah hampir tengah malam, loh, Bu.
Ibu belum salat isya, kan?
Udah, sekarang Ibu salat dulu, biar tenang pikirannya.
Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.
Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.
Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.
Aku memohon ampun kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah.
Aku memohon ampun kepada Allah.
Tiga hari,
tengah malam.
Bu?
Bu?
Ibu!
Kak?
Kak.
- Kak, bangun, Kak. - Iya.
Kak.
Iya.
Mimpiin Papa lagi?
Kak, sudah dua bulan.
Papa sudah tenang.
- Iya. - Masih jauh, Pak?
Sebentar lagi kita masuk ke kotanya.
Kalau di Semarang ini mau jalan-jalan ke gunung tinggal pilih.
Ada Telomoyo, Merbabu, Ungaran.
Mbak-mbak ini sedikit-sedikit mesti belajar bahasa Jawa, ya.
Lumayan juga hotelnya.
Kok Papa tidak pernah ajak kita ke sini?
- Katanya ini warisan orang tuanya? - Iya.
Bangunannya dari tahun 1950.
Tapi sewaktu bangunannya jadi, tidak langsung beroperasi.
Kenapa?
Aku tidak tahu.
Papa, kan, tidak pernah cerita.
- Hei. - Hei, Fey!
- Raina! - Raina, Fey.
Gimana, gimana perjalanan? Ampun.
Akhirnya sampai juga.
Raina.
Ya, begini kalau musim liburan. Penuh.
Tapi kalau liburannya sudah selesai,
kayak kuburan.
Besok sudah Senin, anak-anak sudah mulai sekolah.
Kamu besok juga udah mulai sekolah, kan, Fey?
Iya, Nek.
Di situlah kita akan tinggal.
- Situ Nek? - Iya, di situ.
Dari sini kita bisa melihat seluruh bangunan hotel.
Juga kamar-kamar, jendela-jendela, ya.
Nah, untuk antar-jemput Fey bisa pake mobil ini, ya, nanti.
Ayo masuk, masuk.
Nenek tidak tahu kalau papamu itu punya utang sama bank untuk bisnis.
Sampai tidak bisa bayar, sampai rumah kalian disita.
Tapi sekarang,
hidup kalian di sini, mengelola hotel.
Raina.
Di tanganmu, hotel pasti bisa lebih maju.
Kamu, kan, dulunya manajer hotel, pasti bisa.
Nanti uangnya mau ditabung
buat biaya kuliah Fey.
- Mintanya kedokteran, tuh, Nek. - Wah, bagus itu.
Nah, itu kamar kalian.
- Fey. - Iya.
Ayo kita lihat kamarnya.
Nah, ayo masuk.
Oh ya, jangan lupa urus surat-surat hotel sama pengacara papamu, ya, Raina.
Biar bisa atas nama kamu dan Fey.
Sekarang, kan, hotel ini satu-satunya peninggalan papamu.
Royalti novel papamu sudah tidak bisa diharapkan lagi.
Raina?
Ini barang-barang papamu.
Ada di rumah ini waktu pertama kali nenek ke sini.
Fey.
Ya, Nek?
Raina.
Di hotel jangan ke lantai tiga, ya?
Kenapa, Nek?
Lantai itu ditutup, lagi direnovasi.
Tukangnya lagi cuti.
Karyawan juga jangan sampai ada yang ke sana.
Siapa pun itu, takut ada langit-langit yang ambruk.
Fey?
- Iya, Kek? - Sini, Sayang.
Ya udah, kamu istirahat, ya?
- Makasih, Nek. - Iya.
- Pagi, Bu. - Pagi.
Saya Raina,
- wali murid dari Fey. - Iya.
- Murid pindahan dari Jakarta. - Oh, iya iya.
- Mau ketemu kepala sekolah, ya? - Iya, betul.
Kebetulan kepala sekolah sedang ada tamu.
Silakan duduk.
Baik. Terima kasih, Bu.
- Kepala sekolah belum selesai? - Belum.
Kemarin polisi, sekarang malah wartawan yang datang.
Kasihan Karin.
Ibunya meninggal, tragis.
Ini wartawan mana, sih, yang investigasi?
Harian Jakarta.
Pak, terima kasih atas waktunya.
Sama-sama.
Kalau masih ada perlu apa-apa, sampaikan saja.
- Baik. - Mari kerja sama.
- Terima kasih. Ya. - Saya masuk dulu.
Raina?
Raina!
- Ardo. - Hai.
Hei.
Kamu apa kabar?
Baik.
Kamu udah pindah ke Semarang sekarang?
Iya.
Semarang di mananya?
Ya, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau kasih tau.
Tadi aku liat deket sini ada kedai kopi.
Bisa, kan, kita ngobrol-ngobrol sebentar?
Udah lama kita ga ketemu.
Sudah enam bulan sejak kita…
putus.
Maaf, aku tidak bisa.
Ada kerjaan.
Tidak apa.
Duluan.
Raina.
Kamu hati-hati, ya?
Kota ini sedang tidak aman.
Tidak aman bagaimana?
- Kamu belum tau? - Belum.
Empat hari yang lalu,
ada orang tua murid di sekolah ini yang mati dibunuh, dikuliti.
Pelakunya sampai sekarang masih belum ketemu.
Polisi sedang mencari, dan aku datang ke sini ditugasi untuk menyelidiki.
Aku udah datang ke rumah korban.
Anaknya menjadi saksi kunci.
Dia masih trauma.
Masih syok jadi belum bisa banyak bicara.
Aku sekarang akan datang ke tempat kerja korban.
Siapa tau aku bisa dapat info sesuatu di sana.
Kamu tau, Hotel Ambar Mangun itu di mana?
Iya benar, Ningrum kerja di sini.
Tapi baru beberapa hari.
Polisi juga sudah pernah datang dan tanya tentang Ningrum.
Tapi kami tidak tahu apa-apa.
Iya iya, Nek, iya.
Tapi seharusnya,
Nenek dan Kakek
cerita kalau ada terjadi seperti ini.
Apalagi ini korbannya adalah karyawan hotel.
Kami ga ingin kamu dan Fey takut.
Kalian, kan, baru sampai.
Saya sudah mencatat beberapa informasi dari hotel ini.
Tetapi saya masih butuh banyak lagi informasi dari warga dan polisi.
Kek, saya mau menginap di sini.
Apakah masih ada kamar?
Kak.
Kakak kenapa tidak terus terang saja, sih, sama Kak Ardo?
Siapa tau kalian bisa nyambung lagi.
Waktu kakak putusin Kak Ardo dulu,
kakak bilangnya kalian tidak bisa sama-sama lagi
karena beda pandangan soal pernikahan.
Kakak bilangnya kakak ga mau punya anak.
Tapi, kan, sebenarnya…
Ardo itu dari kecil yatim piatu, Fey.
Menikah, tidak lama istrinya meninggal.
Jadi, keinginan dia itu benar-benar ingin memiliki pasangan.
Berkeluarga dan punya anak.
Tidak mungkin, kan, dia bisa terima keadaan
dan kenyataan kalau aku tidak bisa punya anak.
Kak.
Aku tau setahun terakhir ini berat banget buat kita.
Semua bertubi-tubi, Kak.
Semua habis-habisan.
Tapi kakak jangan menyalahkan Allah
dan terus menjauh dari Allah.
Salat, Kak.
Mbak?
Mbak?
Mbak?
Tiga hari, tengah malam.
Hei, Raina.
Kamu sudah mau antar Fey sekolah?
Fey di mana, ya, Nek?
Tadi sepertinya lagi di restoran.
Iya.
- Oke. - Ada apa?
Tiga hari, tengah malam.
Tiga hari, tengah malam.
Apa artinya, ya, Nek?
Artinya tiga hari, tengah malam.
Kenapa kamu tanyakan itu?
Tidak.
Cuma perempuan di kamar lantai tiga bilang seperti itu.
Semalam aku lihat ada cahaya dari kamar itu.
Aku cek.
Dia nangis, Nek.
Katanya lantai itu sedang direnovasi,
tapi kenapa ada tamunya?
Dan jalan menuju ke sana juga dikunci,
aku cari kuncinya tidak ketemu.
Ya, jadi aku buka paksa.
Takut kenapa-napa, Nek.
Tapi Nek, kenapa kamar di situ tidak ada nomornya?
Nek?
Nek.
Kamu buka kamar itu?
Kamu lihat dia?
Iya.
Nek.
Nek.
Aku sudah bilang,
jangan ke lantai tiga!
Kenapa kamu ga dengerin?
Kak, jadi anterin aku sekolah, kan?
Iya.
Nek, Fey berangkat dulu, ya.
Asalamualaikum.
- Kami jalan, Nek. - Waalaikumsalam.
Bu.
Polisi mau ketemu kita lagi.
Anak Ningrum sudah bisa bicara.
Untung dia tidak sebut-sebut soal kamar itu.
Tapi omongannya sudah menyebar.
Orang-orang mulai ketakutan.
Bu?
Pak.
Raina buka kamar itu.
Astaga.
Yang benar?
Aku mau lapor keluar.
Baiklah.
- Ratih. - Iya, Bu?
Ini ada apa?
Tidak tahu, pada minta lapor keluar semua, Bu.
Baik. Jadi, pelakunya satu orang atau dua orang?
Satu?
Jadi, itu hasil investigasi kami.
- Hei, cepat. - Sebentar, Pak.
- Halo, resepsionis? - Kamar 13 perlu handuk baru.
Baik, segera kami antar.
Tata gerha.
Tata gerha.
Masuk aja, taruh di tempat tidur.
Permisi.
Handuknya sudah saya taruh di atas tempat tidur.
Apa ada yang diperlukan lagi?
Kalau tidak ada, saya permisi.
Kalau perlu apa-apa, tinggal telepon saja ke bawah.
Mbak?
Mbak tidak apa-apa?
Halo?
Kalau aku tidak ada di kamar mandi,
lalu aku ada di mana?
Biarkan aku bermain setelah sekian lama aku terbelenggu!
Ratih, di kamar 13 ada tamunya, tidak?
Kamar itu kosong, Bu.
Kau rasakan deritaku!
Kesakitanku, sebelum mati!
Raina?
Hei!
Raina, hei, ada apa?
Raina, tenang, tenang.
Raina.
Tenang dulu, Raina.
Ini aku, Ardo. Hei.
Ada apa?
Ada apa sama pintu itu?
Tidak ada apa-apa.
Tapi tadi…
Ada apa, ya?
Ada sesuatu di hotel ini, Pak, Bu.
Ga ada apa-apa di sini.
Kami dengar yang terjadi sama Bu Raina, Pak.
Pak, Bu, kami ga bisa di sini lagi.
Tunggu, tunggu dulu.
Kek, Nek.
Bagaimana?
Kamu sudah lebih tenang?
Sudah.
Polisi sudah pulang.
Tetapi karena anaknya Ningrum terus berbicara
mengenai sosok perempuan misterius di hotel ini,
maka semua orang menghubungkan kematian Ningrum
dengan sosok perempuan itu.
Apalagi ditambah dengan kejadian Raina tadi,
semua orang semakin yakin.
Perempuan.
Kek.
Nek.
Di depan polisi mungkin kalian tidak mau berbicara.
Tapi tolong, sekarang.
Apa Kakek dan Nenek tau sesuatu?
Perempuan itu…
Perempuan yang ada di kamar tak bernomor di lantai tiga…
Dia bukan tamu,
tapi penghuni kamar itu.
Dia…
bukan manusia.
Enam tahun yang lalu,
kami kesulitan keuangan.
Papamu bilang kalau dia punya hotel
yang bisa kami kelola
dan pendapatannya bisa buat kami.
Kami kaget juga
karena kami tidak tahu
kalau papamu itu ada warisan hotel.
Kami juga tidak tahu kalau besan kami itu kaya.
Waktu pertama kali sampai di sini, kondisi hotel sangat rusak.
Kami renovasi.
Lalu waktu pasang instalasi listrik di lorong lantai tiga,
ada tukang yang buka kamar itu.
Tukang itu bilang melihat perempuan putih sekali.
Wajahnya, rambutnya, kulitnya.
Dan matanya merah.
Perempuan itu bilang…
Tiga hari, tengah malam.
Tiga hari kemudian saat tengah malam,
tukang itu mati.
Tapi sebelum dia mati,
selama tiga hari itu,
ada kejadian-kejadian aneh.
Mulai dari listrik sering mati…
sampai tukang itu bertingkah aneh.
Loh, itu siapa?
Hei, Mas?
Kenapa itu? Mas? Hei!
Rasakan sakitku.
Kemudian kami panggil Ki Danang,
orang yang sangat dihormati di sini. Dia juga punya indra keenam.
Dia ternyata tidak berani menyentuh kamar itu.
Katanya…
Ini tempat angker.
Tempat tinggal berpenghuni.
Penghuninya tidak bisa diusir.
Jangan pernah buka kamar ini.
- Sudah, Pak? Ayo. - Sudah.
Supaya ga ada yang dekat-dekat kamar itu, kami tutup lantai tiga.
Situasi aman sampai dengan kejadian Ningrum.
Sesudah itu, kami pasang gembok di pintu.
Kematian tukang itu, tidak ada yang tahu kecuali kami.
Kalau sampai ketahuan orang-orang,
waktu itu bisa batal buka hotel.
Ke papamu pun kami tidak cerita.
Sekarang pun,
kami tidak mau sampai ada yang tahu.
Bisa-bisa hotel ini tidak laku.
Tapi apa yang kini bisa diharapkan, Bu, dalam kondisi seperti ini?
Tamu, karyawan.
Semuanya pulang.
Kalau Fey pulang nanti,
kita harus ingatkan dia kembali, jangan sampai dia buka kamar itu.
Dari materi yang sudah ibu jelaskan tadi,
kita akan bahas lebih banyak lagi lewat alat peraga langsung.
Fey, tolong ambilkan alat praktikum biologi di gudang.
Kamu cek dulu isinya.
Kita butuh untuk tahap selanjutnya.
Iya, Bu.
Yang lain buka halaman 117,
tentang sistem organ tubuh manusia.
- Baik, Bu. - Baik, Bu.
Fey?
Fey…
Fey…
Rasakan sebelum mati!
Fey?
- Ada apa, Fey? - Itu di dalam, Bu.
- Itu. - Ada apa itu, Fey?
Ada apa ini?
- Tidak. - Ada apa, Fey?
Jangan, Bu, jangan!
Ada apa, Fey?
- Kenapa, Fey? - Ada apa?
- Ga ada apa-apa, Fey. - Ada, Bu, tadi…
Tadi patungnya bergerak, Bu.
Mana ada patung bergerak?
Ga ada apa-apa, kan?
Fey?
Fey, kamu tidak apa-apa?
Fey, kamu tidak apa-apa, kan?
Tadi guru kamu telepon.
Dan cerita tentang kejadian di sekolah.
Fey.
Kamu tidak buka kamar lantai tiga yang tidak ada nomornya itu, kan?
Buka. Kenapa, Kak?
Tidak!
Kenapa kamu buka, Fey?
Semalam aku kebangun,
aku liat kamar itu seperti ada cahaya Kak, jadi, aku cek.
Terus aku dengar ada suara orang nangis.
Dan di kamar itu
ada perempuan, Kak.
Tolol.
Semalam aku yang merusak gembok menuju kamar lantai tiga itu.
Fey.
Ada apa, Kak?
Mungkin kita bisa coba bicara dengan orang yang disebutkan oleh Nenek kamu itu.
Ki Danang.
Permisi?
Ya?
Ki Danang?
Jadi, benar-benar tidak bisa diusir, Ki?
Tidak bisa.
Ada sesuatu yang menahan dia di dunia ini, entah apa.
Kalau dia tidak bisa diusir,
apakah ada cara lain, Ki,
supaya dia tidak makan korban lagi?
Saya bisa cari tau bagaimana caranya.
Masalahnya,
saya tidak bisa berkomunikasi dengan dia.
Dia sangat menutup diri.
Untuk tahu namanya saja saya tidak bisa.
Nama?
Iya.
Nama itu sangat penting.
Untuk bisa kontak
dengan mereka yang tak kasatmata.
Tanpa nama itu, saya tidak bisa bantu apa-apa.
Supaya kalian selamat
dan hotel kalian tidak terganggu,
kalian harus cari tahu namanya.
Waktu kalian tiga hari.
Sampai pukul 24.00 tengah malam.
Sampai saat itu, sebaiknya kalian berdoa, mohon perlindungan.
Supaya tidak terjadi hal-hal yang buruk.
Ada hal-hal yang aneh dengan hotel ini.
Kita baru saja tau tentang hotel ini
sejak Kakek dan Nenek diminta untuk ngurusin.
Bahkan Papa tidak pernah sebut sedikit pun tentang hotel ini.
Kita tidak pernah diajak ke sini.
Dan papa tidak mau datang ke sini.
Nek, biar saya saja.
- Halo. - Halo selamat malam, dengan Ibu Raina?
Ya, betul.
- Saya pengacara almarhum bapak Anda. - Iya.
Ya, saya ingin menginformasikan
bahwa surat-surat kepemilikan hotel bukan atas nama Bapak Djanuar,
melainkan atas nama Baskara.
Iya, baik.
Terima kasih.
Siapa?
Pengacara Papa.
Surat-surat hotel ini atas nama Baskara.
Siapa Baskara?
Katanya nama Papa
sebelum dia ganti nama menjadi Djanuar.
Sepertinya ada sesuatu di hotel ini
yang ayah kalian rahasiakan.
Dan dia tidak ingin siapa pun tau mengenai itu.
Papa tau bagaimana rasanya menyimpan rahasia sendirian.
Meskipun sudah papa tuangkan ke tulisan-tulisan papa, tapi…
Tapi hati ini rasanya masih sesak.
Papa punya rahasia?
Masa lalu.
Masa lalu.
Kita harus baca semua ini.
Novel-novel Papa?
Papa pernah bilang sebelum dia meninggal,
dia punya rahasia yang dia tuangkan di dalam tulisan.
Maksudnya apa?
Aku juga tidak tahu, tapi Papa pasti tulis sesuatu.
Tidak tahu tulisan yang mana.
Tapi di situ mungkin ada tertulis sesuatu tentang hotel ini.
Mungkin saja tentang penghuni kamar itu.
Siapa nama dia, atau apa pun.
Raina?
Kak!
Raina.
Kamu ngapain?
Aku mau masuk ke kamar itu.
Jangan!
Selama ini, tidak ada yang pernah masuk ke kamar itu.
Hanya sampai depan pintu ini saja.
Pasti di sana ada sesuatu tentang perempuan itu yang bisa kita temukan.
Raina.
Jangan nekat.
Kalau aku tidak nekat, aku sama Fey mati.
Kak, aku ikut.
Kalau kita cari sesuatu di situ berdua, pasti lebih cepat, kan?
Oke, kita bertiga masuk.
- Aku ikut. Ayo. - Tidak. Jangan.
- Raina, aku ikut. - Tidak.
Kamu tunggu di sini.
Fey.
Kamu nyalakan lilin itu.
Iya, Kak.
Raina.
Fey.
Fey?
Fey?
Fey!
Fey.
Berhenti, setop!
Berhenti!
Tersiksa sampai mati.
Fey?
Tersiksa sampai mati!
Fey!
Fey!
Fey!
Fey.
Raina!
Raina!
Fey!
Fey!
Fey!
Fey, jangan, udah!
Fey!
Fey!
- Fey! - Fey.
Kamu tidak apa-apa?
Fey.
Kak.
Tiga hari, tengah malam.
Ayo kita pergi.
- Bangun. - Ayo, Fey.
Sini.
Kamu harus banyak istirahat.
Kalau tidak, kaki kamu bisa lebih parah retaknya.
Kak.
- Ikatkoe? - Hanya itu yang aku bawa.
Tapi di kamar itu banyak sekali barang-barang perempuan.
Sepatu, baju, semua.
Jadi, dia pernah tinggal di kamar itu.
Apa ini artinya bahwa ayah kamu kenal dengan dia,
dan memberi dia izin untuk tinggal di situ?
Aku tidak tahu.
Dia itu siapanya ayah kamu?
Raina.
- Kek! - Ardo, coba lihat ini.
Ini juga.
Pas kita lagi bersih-bersih di kamar 01, aku temukan ini di bawah tempat tidur.
Ya, itu juga kami temukan di kamar 02, 03,
di bawah ubin pecah, di kolong tempat tidur.
Teka-teki. Ini adalah sebuah teka-teki.
Dan ini tulisan tangan yang sama.
- Surat. - Mungkin.
Kalau kita bisa ketemu semuanya.
Aku ingat dulu waktu memasukkan barang ke kamar-kamar,
aku memang melihat banyak ubin yang rusak.
Lalu untuk mengatasinya, kami tutup dengan karpet.
Tapi kami tidak periksa di bawah ubin itu.
"Baskara malaikatku,
setelah hamparan putih utara asalku kutinggalkan,
kakiku yang lelah menjejak di lautan mereka.
Yang tinggi nan indah berdaun jarum."
"Aku tidak akan pernah lupa, di situlah pertama kali kita bertemu.
Aku harap kita bisa selalu bersama.
Layaknya mereka yang kokoh, kekal,
dan abadi dalam cinta.
Maukah?
Bunga Melatimu."
Ini sepertinya surat cinta.
Iya, buat Papa.
Dari Bunga Melatimu.
Perempuan itu, Kak.
Berdaun jarum, kokoh, kekal, abadi.
Pinus?
Kek.
Dekat sini ada tidak
tempat yang banyak pohon pinusnya?
- Pinus? - Iya, pinus.
Pinus indah, tinggi.
Daunnya runcing seperti jarum.
Kokoh, kekal, abadi.
Pohon pinus itu umurnya ratusan tahun.
Pasti di sana tempat pertama kali Papa bertemu dengan perempuan itu.
Ada, tapi agak jauh dari sini.
Dari sini harus naik mobil empat kilometer.
Setelah itu, ga ada akses mobil lagi.
Harus jalan kaki tiga kilometer, baru sampai hutan pinus.
Tapi apa yang mau dicari di sana?
Raina, bunga putih.
Tapi ini sedikit berbeda.
Hamparan putih itu pasti tidak jauh dari sini, ayo, Do.
Ayo.
Coba ke situ.
Ke mana lagi kita?
Itu!
Pak!
Permisi!
Mau ke mana?
Mau ke mana?
Kami sedang mencari asal tempat bunga putih tersebut.
Bapak tahu?
Itu dari desa saya.
Desa Kembang Putih.
Mas dan mbaknya ini ada keperluan apa, ya?
Begini, Pak.
Ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan di Semarang.
Apakah kami bisa bertemu dengan kepala desanya?
Bisa.
Mari, saya antar.
Nama saya Parjo.
Nama kepala desa saya Pak Soemardi.
Namun, beliau hanya bisa bahasa setempat.
Silakan, Mas, Mbak.
Apa yang bisa kubantu?
Silakan, Mas.
Di Semarang,
ada seseorang yang mati terbunuh dalam keadaan dikuliti.
Pelakunya bukan manusia.
Makasih, Bu.
Tapi sosok yang tidak kasatmata.
Kami datang ke sini mencari petunjuk, dan yakin
kalau dulu, ketika sosok itu masih hidup,
dia pernah tinggal di desa ini.
Saat di Semarang,
seseorang dibunuh dalam keadaan dikuliti.
Pelakunya bukan manusia.
Mereka pikir yang tak kasatmata.
Mas dan Mbak ini datang untuk mencari petunjuk, dan mereka yakin
dulu, saat sosok itu masih hidup,
dia tinggal di desa ini.
Keterangan selanjutnya apa, Mas?
Wujudnya perempuan,
rambutnya putih,
kulitnya putih,
dan matanya merah.
Apa Bapak pernah tau?
Wujudnya perempuan,
rambutnya putih,
kulitnya putih,
dan matanya merah.
Apa kenal yang seperti itu, Pak?
Tidak.
Aku tidak tahu apa-apa.
Pak?
Mas, Mbak.
Ternyata Pak Soemardi tidak tahu apa-apa tentang hal ini.
- Do, kita pulang saja. - Baik.
Mas, Mbak, maaf.
Malam-malam, apalagi cuacanya seperti ini,
tidak mungkin menyeberang sungai, Mbak.
Bagaimana kalau malam ini
menginap di rumah saya?
Rumah saya ada di sebelah sini.
Besok pagi saya antar.
Bagaimana?
Baik, mari.
Aku tahu.
Cara mati orang itu pasti beda-beda.
Tapi siapa yang sangka kalau kita akan mati dikuliti.
Raina.
Masih ada waktu.
Kita akan terus mencarinya.
Jujur aku tidak habis pikir.
Apa Tuhan suka mempermainkan kita?
Dulu aku sudah pernah mendekatkan diri.
Ibadahku tidak pernah putus.
Mama kritis.
Papa divonis kanker.
Aku semakin mendekatkan diri.
Karena aku benar-benar berharap.
Aku benar-benar berharap pertolongan-Nya.
Tapi penderitaanku ditambah.
Bahkan aku sampai pindah ke Semarang, berharap aku punya kehidupan baru.
Tapi di sini aku malah dihadapkan dengan kematian aku.
Kematian adikku dan kamu.
Apa yang terjadi dengan kamu saat ini, semuanya…
Apa kamu ga bisa melihat dari sisi yang lain?
Kehendak Tuhan untuk membuat kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Supaya nanti, kalo ada kejadian yang lebih berat,
kamu akan siap untuk menghadapinya.
Dulu, waktu istriku meninggal…
aku juga pernah marah.
Mempertanyakan, bahkan menyalahkan.
Tapi aku percaya, ada yang namanya cobaan.
Ujian sampai detik akhir kematian manusia sekali pun.
Tujuannya apa?
Sebagai penggugur dosa-dosa kita nanti.
- Tidak! - Bapak…
Bapak.
Tunggu, tunggu.
Kau jangan berani-berani cerita.
Pokoknya, jangan permalukan diri sendiri.
Bapak…
Bapak.
Bapak!
Kamu mau ke mana?
Sepertinya mereka tahu sesuatu.
Aku harus cari tahu.
- Ikut. - Ayo.
Ardo.
Ardo!
Ada apa?
Itu kamar anakku.
Kalian mau tahu tentang dia?
Bagaimana, Bu?
Bapak sudah aman?
Ayo.
Ayo, Bu.
Namanya Menoer,
anak dari Bapak dan Ibu Soemardi.
"Menoer"?
Iya.
Dikasih nama itu
karena dia memang seputih bunga menur
yang sudah lama tumbuh di desa ini.
Menoer itu
jenis melati dengan kelopak yang bertumpuk.
Tiga hari sesudah kelahiran,
ibunya mengalami kesakitan.
Menoer memang lahir di tengah malam.
Astagfirullah.
Ini bayi apa?
Kenapa, Mbah?
Menoer lahir dengan fisik yang berbeda.
Dia dijuluki anak setan.
Lihat dia!
- Anak dedemit. - Jahat!
Semua menghina dia.
- Sini. - Pak!
- Ayo! - Ampun, Pak!
Punya anak satu saja memalukan!
Menoer sering dikurung di rumah oleh bapaknya.
Sering dipukuli.
Ampun, Pak! Sakit, Pak!
Tidak ada yang bisa dia lakukan
kecuali hanyut dalam pikirannya sendiri.
Ayo main, ayo kita dansa.
Dia suka bikin permainan-permainan dalam pikirannya.
Dansa…
Tapi sejak umur 20 tahun…
Menoer pergi dan tidak pernah kembali.
Sejak saat itu, tidak ada kabar lagi tentang dia.
Di sini, orang-orang tidak bisa menyebutnya lagi
karena takut kepala desa tidak suka.
- Kek, Nek. - Raina?
- Ardo? - Menoer.
Namanya Menoer.
Menoer binti Soemardi.
Menoer binti Soemardi.
Aku Danang.
Aku ingin tahu hidup dan matimu.
Tak ada yang melihat hal yang kasatmata
kecuali Sang Maha Kuasa.
Dengan izin Gusti Allah,
hal yang tersembunyi dari mata manusia
akan terungkap.
Menoer masuk ke hutan pinus.
Baskara menolong dia.
Orang tuaku meninggal ketika baru selesai mendirikan bangunan ini, untuk hotel.
Tetapi aku tidak tahu cara menjalankan sebuah hotel.
Cuma baru di kamar ini aja yang ada barang-barang dan tempat tidur.
Kamu bisa tinggal di sini.
Ini punya mamiku.
Kamu bisa pakai.
Baskara lalu pergi ke Jakarta untuk suatu pekerjaan.
Baskara.
Kalau kau pulang nanti,
kau harus ikuti permainanku.
Tapi Baskara tidak pernah kembali.
Menoer pergi ke Jakarta untuk menemui Baskara.
Mukaku menjijikkan.
Harus kuganti.
Ada apa, Ki?
Menoer menguliti dirinya sendiri.
Menoer menguliti dirinya selama tiga hari.
Sampai dia mati.
Ayahmu
membuat Menoer merasa
semua orang jahat kepada dia.
Dia membenci dirinya sendiri.
Ki.
Apa yang harus kita lakukan supaya semua ini bisa berhenti, Ki?
Kita harus mengobati sakit hati dan amarah Menoer.
Caranya gimana, Ki?
Kita harus menyatukan dua unsur.
Unsur dunia
dan unsur kematian.
Hal ini bisa membuat Menoer memaafkan ayah kamu.
Disatukan dengan fisik Menoer yang sudah mati.
Maksudnya gimana, Ki?
Pada malam yang suci ini,
menyatulah menjadi kemurnian.
Pada malam yang suci ini, menyatulah menjadi kemurnian!
Aku mau kau rasakan deritaku
- sebelum mati! - Menoer sudah marah.
Kita harus keluar. Keluar!
Keluar, tutup pintunya!
Kalian semua harus mati!
Kalian semua harus mati!
Ki!
Ki!
Ki!
Satu-satunya orang yang bisa menolong kita meninggal.
Memang, sebetulnya sejak awal
memang tidak ada masa depan dengan hotel kita ini.
Sejak tukang itu mati seharusnya kita sudah berhenti.
Waktu kita memang sempit.
Tapi kita masih punya waktu untuk mencari cara untuk menghentikan Menoer.
Apa ada?
- Ki Danang bilang kalau… - Iya.
Kita semua ini ga ada yang ngerti maksudnya Ki Danang.
Kematian Menoer itu dirahasiakan oleh Papa.
Dia simpan.
Akibatnya, kita semua yang susah.
Bikin susah aja.
Aku benci rahasia.
Raina.
Masa lalu itu ga bisa diubah.
Dan semua yang terjadi di kehidupan ini sudah ada ketetapannya.
Takdir, maksud kamu?
Semua yang terjadi sama aku takdir?
Buat apa?
Kenapa? Satu, tuh, aku yang ga bisa ngerti satu, nih, ya.
Kenapa nih aku ditakdirkan ga bisa punya anak sama kamu
sehingga aku ga punya masa depan sama kamu?
Maksud kamu, tuh, apa?
Waktu tiga minggu kamu ke Medan,
urusan kantor kamu,
aku operasi angkat rahim.
Ada kanker.
Cuma Fey yang tahu.
Jadi, sekarang apa yang kamu mau harapin dari aku?
Ga ada, kan?
Setidaknya dengan aku bilang ini semua,
kamu tidak perlu bertanya-tanya seumur hidup kamu
tentang apa alasan aku, rahasia aku.
Jadi, kalau aku mati,
urusannya tidak panjang seperti rahasia Papa.
Raina.
Kak.
"Cinta Seputih Melati.
Oleh Baskara."
Papa.
Ra.
Coba lihat ini.
Kak, itu ada di kardus barang-barang Papa.
Iya.
Papa ternyata ke Jakarta bukan untuk urusan pekerjaan.
Ada di halaman 31.
Melatiku,
cinta dalam hatiku.
Hari itu aku melangkah ke Jakarta
bukan untuk suatu pekerjaan seperti yang kukatakan,
melainkan mencari cincin untuk mengungkapkan rahasia hatiku
dan melamarmu.
Ya, saya ambil ini.
Cincin cantik berbentuk bunga
simbol cintaku.
Tetapi tak kusangka,
hari penuh harapan itu
menggugurkan kesempatanku untuk bisa meminangmu menjadi istriku.
Kamu tidak ingat dirimu?
Namamu?
Nah, tuan dan nyonya ini, merekalah yang menolongmu.
Kau mirip sekali dengan anak kami.
Namanya Djanuar.
Tapi, sayang dia sudah meninggal.
Pasangan suami-istri itu
- Halo. - merawatku seperti anak mereka sendiri.
- Halo. - Djanuar menjadi namaku.
Mereka juga menikahkanku dengan seorang wanita.
- Asalamualaikum! - Ah, Garinto, sini-sini.
Hingga di tengah kehidupanku sebagai Djanuar itu
ingatan-ingatanku datang.
Menoer?
Langsung aku kembali ke Semarang untuk menemuimu.
Menoer?
Menoer!
Menoer.
Ingin aku mengutuk diriku.
Seandainya aku tak merahasiakan maksud dan tujuanku.
Seandainya saja aku langsung bilang padamu
tanpa menunda bahwa aku mencintaimu dan ingin menikahimu.
Aku tak akan menguburmu di tanah bangunan hotelku ini
yang temboknya kutandai ukiran bunga.
Menoer.
Maafkanlah aku.
Bersemayamlah kau di tempat yang menjadi kenangan kita.
Kutinggalkan hotel ini karena terlalu banyak kenangan.
Aku kubur Baskara.
Aku adalah Djanuar.
Hilang ingatan.
Menoer tidak tahu ini.
Dia harus tau kalau Papa cinta sama dia
dan tidak pernah bermaksud meninggalkan dia.
Kak, ini bisa mengobati sakit hati dan amarahnya.
Kita bisa pakai cincin ini.
Cincin bunga ini
adalah cincin yang ingin ayahmu kasih ke Menoer.
Cincin ini adalah simbol cinta ayahmu kepadanya.
Dan cincin ini juga
bisa menyatukan unsur dunia dan kematian.
Kita harus mencari makam Menoer.
Tulang-tulangnya pasti masih ada.
Dan kita akan pakaikan cincin itu ke jari Menoer.
Kuburannya.
Kuburannya ada di terowongan bawah tanah
di belakang hotel ini.
- Pak. - Iya.
Sudah pukul 21.00.
Kalian harus segera menemukan makam Menoer.
Gali sebelum pukul 24.00, atau semuanya akan terlambat.
Tempat apa ini?
Sepertinya ini saluran air.
Atau mungkin tempat persembunyian tentara ketika zaman perang.
Oke.
Kita harus mencar.
- Cari tembok yang ada ukiran bunganya. - Oke.
Raina?
Di sini!
Ardo? Ardo!
Ardo.
Di sini?
Iya.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
- Tidak ada daya dan kekuatan - Nek.
kecuali dari Allah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Do, ini belum terlihat apa-apa, Do.
Udah, gali terus!
Do.
Bunganya beda.
Ardo.
Ardo?
Ardo.
Ardo!
Ardo!
Ardo!
Raina!
Di mana kamu?
Raina!
Raina!
Di mana kamu?
Rasakan penderitaanku sebelum mati!
Raina!
Raina!
Di mana kamu?
Raina!
Raina!
Raina?
Raina!
Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.
Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.
Ya Allah, maafkan aku.
Tolong lindungi aku
dan orang-orang yang aku cintai.
Aku mohon, berikanlah petunjuk-Mu.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah
yang Maha Tinggi, lagi Maha Agung.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah
yang Maha Tinggi, lagi Maha Agung.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah
yang Maha Tinggi, lagi Maha Agung.
Ardo, sadar!
Ardo.
Itu…
Kita sudah ceritakan semuanya.
Polisi besok naik ke kamar itu, ya?
- Menoer sudah pergi. - Ya.
Tapi pasti tidak ada orang lagi yang mau datang ke sini.
Iya.
- Besok kamu kembali ke Jakarta? - Iya.
Aku harus memberi laporan untuk atasanku.
- Do. - Ra.
- Kamu. - Enggak, kamu saja dulu.
Kamu mau bicara apa?
Aku cuma mau tanya.
Kenapa kamu diam saja?
Ini soal kita.
Aku juga tidak tahu apakah ini saat yang tepat.
Tapi aku rasa lebih baik sekarang daripada ditunda.
Raina.
Aku masih mencintaimu.
Bisakah kita sama-sama lagi?
Do, kamu tau keadaanku bagaimana.
Aku terima kamu apa adanya.
Lagi pula, aku tidak pernah bicara
bahwa seandainya kita menikah, kamu harus melahirkan.
Soal anak,
masih banyak anak di luar sana yang tidak mempunyai orang tua
yang bisa kita rawat.
Kita masih bisa membangun keluarga.
Sebagai suami, istri,
ayah, ibu,
bahkan sampai kakek nenek dan punya cucu.
Kalau kamu bersedia.
Raina.
Maukah kamu menikah denganku?
Aku sayang kamu.
- Halo? - Do.
Kalau urusan kamu di Jakarta udah beres,
jadi, kamu bakal balik ke sini lagi?
Iya. Aku sekalian ngurus surat supaya kita bisa cepat nikah.
Dan, oh iya, aku sudah beri tahu temanku kalo kamu sedang mencari pekerjaan.
Dia mau wawancara kamu minggu depan.
Makasih, ya, Do.
Besok, pas sarapan,
kita kasih tau Fey sama kakek nenek soal rencana kita untuk nikah.
Iya. Selamat malam, ya.
Ada apa lagi, Ra?
Halo, Ra?
Tiga hari, tengah malam.
Ardo?
Tadi aku telepon, tapi tidak ada jawaban. Ayo sarapan.
Yang lain sudah menunggu.
Ardo?
Ardo?
Kenapa aku sama kamu selamat,
tapi Ardo tidak?
Rasa sakit hati Menoer sudah terobati
karena dia sudah tahu Papa tetap cinta sama dia.
Dia tidak akan menyentuh kita.
Karena kita anak Papa.
Tapi rasa sakit hati lainnya masih ada.
Rasa sakit atas perlakuan buruk orang-orang lain ke dia.
Seperti bapaknya sendiri, dan orang-orang di desanya.
Siapa pun yang masuk kamar itu,
selain kita berdua,
nasibnya tidak akan berubah.
Mati dalam tiga hari, saat tengah malam.
Dikuliti.
Menoer baru akan berhenti
setelah semua orang yang memperlakukan dia dengan buruk itu meninggal.
Tapi setelah itu pun,
selamanya Menoer akan tetap ada di kamar itu.
Menghuni kamar.
Karena dia tidak bisa pergi dari dunia ini.
Orang yang bunuh diri, tidak akan bisa punya tempat di alam kematian.
Fey.
Kamu tau dari mana semua itu, Fey?
Fey?
Fey.
Jangan khawatir.
Aku tidak akan menyakiti kalian.
Terima kasih, anak-anak Baskara.
Fey.
Fey?
- Fey! - Kak?
Kamu tidak apa-apa?
Kak.
Mas, gapapa kita buka paksa gerbang?
Gak masalah.
Sudah ada surat perintah.
Ayo, kita periksa lantai tiga.
Katanya kamar yang ga ada nomornya.
Tidak masuk akal.
Sebuah kamar bisa membunuh orang.
- Ayo masuk. - Sabar.
Itu namaku.
Tiga hari,
tengah malam.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.