Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku berharap film ini akan bisa menjadi sahabat yang baik
untuk kita semua yang sedang putus asa, frustrasi, depresi,
untuk bisa kembali bangkit dan berjuang kembali.
Rindu.
Rindu itu akan selalu ada dalam berbagai bentuk.
Rindu akan keluarga, kekasih, sahabat.
Kita sebagai manusia tugasnya hanya menerima rasa rindu,
tidak menyangkal adanya rasa rindu,
dan tidak memendam adanya rasa rindu di dalam hati.
- Terima kasih. - Wah, luar biasa.
Tepuk tangannya, Teman-Teman Media, untuk Mbak Raia Risjad,
selaku penulis skenario dan juga penulis buku Rindu.
Dan tepat pukul 19.30,
kita akan pertama kali menyaksikan film Rindu.
Ada yang mau bertanya?
Ya, silakan, Mbak.
Inspirasi terbesar Mbak Raia,
baik buku maupun film, adalah suami Mbak Raia sendiri,
Mas Alam.
Nah, pertanyaan aku,
kira-kira tanggapan Mas Alam sendiri bagaimana, Mbak?
Terima kasih untuk pertanyaannya.
Mungkin bisa dijawab oleh orangnya secara langsung, mumpung di belakang.
Hai, Mas Alam.
Bisa dibantu jawab perasaannya bagaimana?
Senang sekali.
Suatu kehormatan
bagi seorang suami mana pun,
bisa menjadi sumber inspirasi bagi karya terbaik istrinya.
Aku mencintaimu.
Aku juga mencintaimu.
- Terima kasih, Mbak Raia. - Terima kasih.
Hei.
Aku sepertinya harus balik duluan.
Lo, kenapa?
Perut aku sakit sekali.
Sebelah mana sakitnya?
Ya, tapi sekarang makin sakit.
Aku coba tahan, tapi sudah tidak bisa lagi.
Oke, tidak apa-apa.
Kau pulang,
tapi ingat, sampai rumah ganti baju,
minum air hangat, sama oleskan...
Minyak kayu putih.
Janji.
Ini malammu.
Bersenang-senang, ya?
Oke.
Ya.
- Ya? - Ya.
Minyak kayu putih.
Raia.
Astaga...
- Selamat! - Terima kasih.
- Akhirnya, kau berhasil. - Aku berhasil.
Syukurlah.
Aku bangga kepadamu.
- Terima kasih. - Aku benar-benar bangga.
Raia, aku bukannya mau bicara soal kerjaan,
cuma mau mengingatkan saja, tenggat waktu novelmu...
Sedang dikerjakan.
- Ya... - Ya, sedang ditulis.
Oke. Aku bisa santai.
- Oke. - Aku lega.
Sekarang aku bisa menonton dengan tenang.
Semoga suka sama filmnya, ya.
Ya, aku yakin pasti suka.
- Aku balik, ya. Dah. - Kenapa?
Pak, aku pulang, ya.
- Kenapa pulang? - Suamiku sakit.
- Kau hati-hati, ya. - Ya, terima kasih, Pak.
Mentari, aku balik, ya.
Lo, kok pergi?
- Suamiku sakit. - Oh, ya sudah.
- Dah. Bersenang-senanglah. - Hati-hati, ya. Dah.
Sayang.
Perutnya sudah enak belum?
Sudah makan?
Raia.
Banyak orang bilang bahwa Paris adalah kota cinta.
Tapi, bagiku, New York yang lebih pantas menyandang gelar itu.
Setiap orang sudah pasti akan jatuh cinta pada kota ini
dan mungkin jatuh cinta di sini.
Non, kalau ada orang telepon itu diangkat.
Ayo berpesta.
Kau mencariku cuma mau mengajak pesta?
"Cuma"? Pesta itu bukan "cuma".
Kau sudah dua bulan menyendiri di New York.
- Ini namanya observasi, Sayang. - Kau harus membuka diri.
Kau melamun terus di taman.
Kau bisa observasi di pesta.
Lihat semua orang. Banyak sekali bahan yang bisa kau lihat.
- Tidak. - Ya. Aku mohon.
Aku tahu kau punya masalah parah sekali di Jakarta
sama mantanmu yang anjing sekali itu.
Memang ya, paling enak memaki orang pakai bahasa Indonesia.
Tapi, ayolah.
Sekali ini saja. Kau temani aku, ya.
Oke, begini.
Menurutmu, aku pantas tidak ke pesta pakai...
Mau alasan apa lagi?
Astaga.
Ayo.
Aku tidak mau melihat mukamu yang cemberut itu.
Suasana hati Diaz menulis lagu bisa rusak melihat mukamu saja.
Sialan, bawa-bawa Diaz.
Oke, ya, aku tahu.
Mentang-mentang Diaz itu musisi jazz paling oke,
paling terkenal sejagat raya yang bisa bikin sahabatku naksir.
Aku cuma teman sama dia. Tidak usah berlebihan.
Oh, tidak.
Dia belum tahu kalau kau...
Pasti. Jangan sampai tahu! Aku harus terlihat santai.
Kau awas ya, bocor sama dia.
Selain itu, ada orang yang ingin aku kenalkan sama kau di sana.
Jangan sekarang, kumohon.
Apa? Sekarang kau tidak boleh jual mahal, Raia.
Kau harus membuka diri. Bersosialisasi.
Raia, begini. Dengarkan.
Aku pernah baca,
katanya penulis itu paling lancar menulisnya
kalau mereka itu lagi jatuh cinta.
- Teori. - Kali ini, kau harus percaya sama aku.
Ayolah, Raia.
- Hai, Erin. - Hai.
- Apa kabar? - Baik.
- Senang bertemu lagi. Masuk. - Aku merindukanmu.
Omong-omong, kenalkan, ini temanku dari Indonesia.
- Hai. - Hai.
- Diaz Umbara. - Raia.
Senang sekali bisa ketemu sama penulis favorit adikku.
Silakan menikmati minuman dan pestanya.
- Aku ke sana dulu sebentar. - Terima kasih.
Keren sekali, 'kan? Dia sebenarnya aset negara.
Dia luar biasa dan rendah hati sekali.
Lalu, orangnya tidak gembar-gembor di media sosial.
Erin.
Aku dipanggil!
Aku mau kau bersosialisasi, mengobrol sama orang.
Siapa tahu kau dapat ide.
- Aku ke sana dulu. - Oke.
Ini santan atau susu kedelai?
- Susu kedelai, tenang. - Aku tidak bisa kalau santan.
Gula Jawanya dikirim langsung dari Jogja.
Raia, 'kan?
Ya.
Aku Aga.
- Hai. - Hai.
Aku yang ditugaskan untuk menemanimu malam ini.
- Kalian harus coba ini. - Ayo!
Jadi, apa rasanya menjadi penulis?
Menyenangkan.
Sama saja seperti profesi yang lain.
Kau... sebentar.
Desainer grafis, 'kan, kalau tidak salah?
Kalau ada tenggat waktu, pusing?
Tidak ada ide, stres, oh...
Kau tahu?
Apa?
Biarkan aku membantumu.
Oke.
Habiskan beberapa hari denganku...
...dan mungkin saja kau akan dapat inspirasi untuk menulis.
Aku ke toilet sebentar.
- Apa aku terlalu terus terang? - Ya.
Permisi.
Bagaimana ya rasanya jadi gentong, tapi di New York?
Gentong.
Oke, Raia.
Berkisahlah gentong pada keramik...
Tunggu sebentar!
Yang di tembok...
Oke... Sampai di mana tadi?
Oke.
Tidakkah kau merasa asing?
Tentu. Tentu saja aku merasa asing.
Seperti
alien dalam lagunya Sting
yang judulnya...
Judulnya...
Oke.
Alien, Sting.
"Englishman In New York".
"Englishman In New York".
Orang Indonesia?
Puisinya bagus.
Bukan puisi. Cerita buat novelku.
Oh.
Bagus gambarnya.
Nyet! Kau dari tadi di sini? Aku mencarimu!
Ayo, Diaz sudah mau mulai sesi musiknya.
- Aku di sini saja, ya. - Tidak! Ayo.
Ternyata kau di sini.
- Aku mencarimu dari tadi. - Oh, ya?
Katanya mereka ini musisi sesi terbaik di New York.
Oh, ya?
Diaz mungkin satu-satunya orang yang bisa main ini di New York.
Rin.
- Ini lagu orisinalnya dia, 'kan? - Orisinal! Keren sekali.
Lagi memikirkan Aga, ya?
Tenang saja, dia juga suka denganmu.
Aku sudah kasih nomormu juga ke dia.
Apa?
Biar kau bisa melanjutkan hidup saja. Kau itu memang harus didorong sedikit.
Kau mau ikut joging, tidak, sama Diaz?
Cie... Sehat sekali kencannya.
Kok kencan? Ini olahraga. Yang diajak kita berdua, bukan aku saja.
Sudah, kau mau ikut tidak?
- Tidak. - Kok tidak? Kenapa?
Mau menulis.
Mau menulis?
Kau alasannya mau menulis melulu, tapi tidak pernah jadi.
Ya sudah. Dah.
Dah. Selamat bersenang-senang.
CATATAN TRANSAKSI
Aku mau bertanya kepadamu. Itu ada amplop isi uang buat aku?
Ceritanya aku mengekos.
Itu uang kosnya.
Aduh, buat apa? Aku sudah bilang, apartemenku dibayarkan kantor.
Untuk apa sok mengekos denganku?
Aku tidak enak, Rin.
Tidak enak dikasih micin. Sudah.
Omong-omong, dia manis.
Membuatkanmu sarapan. Nasi goreng, pula.
Sudahlah, tembak.
Jadiin.
Ya, Alam juga dulu manis sekali denganmu,
sampai kau yakin sekali untuk menikah dengannya.
Sial. Maaf, bukan begitu maksudku.
Tidak apa-apa.
Kau benar.
Laki-laki yang melayani kita,
yang bisa membuat kita merasa menjadi wanita paling spesial,
belum tentu laki-laki yang bisa kita percaya.
Ya, tapi tidak semua laki-laki seperti itu.
Ya, aku tahu.
Selamat menikmati nasi gorengnya.
Oke? Dah.
Dah.
Mau dibantu tidak?
Aman. Sudah selesai, kok. Sedikit lagi.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Hai, "Englishman In New York".
Oh. Hei.
- Hai. - Hai.
Ya, tadi habis jalan, duduk, melihatmu.
Dingin sekali ya, hari ini.
Mau minum kopi?
Apa?
Minum kopi. Ayo.
Nama aku River Jusuf.
Raia Risjad.
Kau itu memang suka menggambar, ya?
Ya, memang itu pekerjaanku.
Ilustrator?
Arsitek.
Oh, wah.
Di sini? New York?
Tidak, di Jakarta.
Pesanan croissant kalian.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Kenapa? Kurang bergengsi, ya, kalau cuma di Jakarta?
Oh, tidak. Tidak!
- Bukan itu maksudnya. - Bagaimana maksudnya?
Tidak, tidak begitu.
Maaf.
Mbak... Raia Risjad, ya?
Ya.
Astaga! Oke.
Mbak Raia Risjad, kita suka sekali sama Mbak.
Kita boleh minta foto bersama, tidak?
Ya, boleh.
Terima kasih!
- Tolong ya, Mas. - Oh, ya.
Oke, di sebelah mana?
- Di sini. - Di sini saja? Oke.
Oke. Satu, dua, senyum.
Oke.
- Terima kasih. - Terima kasih, Mas.
Mas suaminya Mbak Raia, 'kan?
Ya, 'kan, di kata pengantar novelnya Mbak Raia,
Mas Alam yang selalu menjadi sumber inspirasi Mbak Raia.
Benar!
Mas Alam hebat sekali. Keren sekali.
- Kita duluan, ya. - Ya.
- Terima kasih banyak. - Oke.
- Dah, terima kasih. - Dah!
- Maaf. - Wah...
Ternyata kau penulis yang sangat terkenal, ya.
Di Indonesia. Bukan New York.
Jadi, kau sudah menikah?
Sudah tidak lagi.
Oh.
Jadi...
Kemarin kenapa ada di pesta?
Ada makanan Indonesia. Gratis. Kenapa tidak?
- Maaf, sebentar ya. - Ya.
Ya, Paul?
Mereka mau terbang langsung dari Melbourne kemari, Riv.
Mereka mau bicara soal proyek ini langsung sama kita.
Tapi kau harus ada di sini.
Wah, aku tidak yakin aku bisa balik, Paul.
Aku harus bilang apa lagi ke mereka, Riv?
Ayolah, Lek.
Mereka paham apa yang kau alami.
Aku paham apa yang kau alami.
Tapi ini sudah setahun, Lek!
- Ayolah. - Oke.
Kali ini aku butuh kau.
Aku sepertinya harus jalan duluan.
Ke?
Mungkin salah satu gedung paling cantik di New York.
Boleh ikut?
Masih direnovasi.
Kabarnya, setelah sekian lama dilelang, akhirnya ada yang beli.
Terus, mau dijadikan residensial.
Kau sepertinya agak kurang setuju ya, Riv?
Tapi bukannya bagus akhirnya gedung ini di tempati orang-orang?
Ya, menurutku, setidaknya gedung ini akan menjadi
rumah, mungkin untuk orang-orang ini, kau tahu, membangun cerita baru.
Tidak semua yang kosong harus diisi juga.
Bisa jadi cerita baru itu malah menghapus memori yang lebih berharga.
Untukmu.
Wah...
Tapi ini detail sekali lo, Riv.
Kau cuma melihat sekilas tadi.
Ingatan fotografis.
Ingatan fotografis.
Aku juga ingin punya kemampuan seperti itu.
Bisa dilatih tidak, ya?
Buat apa?
Buat mengingat kenangan manis di hidupku.
Tapi kita tidak bisa memilih
mau kenangan manis atau kenangan buruk yang kita simpan.
Tidak semua cerita seindah gedung-gedung ini.
Ya, tahu.
Tapi boleh, 'kan, aku cuma ingin mengingat yang manis-manis saja?
Tidak ada salahnya juga, Riv.
Ya, tidak ada salahnya.
Tapi bagaimana bisa?
Ingatan jelek itu bisa menghantui kita seumur hidup lo.
Seberapa jauh pun kita mencoba melangkah ke depan,
kita tidak akan pernah tahu kapan kita bisa melupakan masa lalu.
Kenapa, Riv?
Kau kalau mau pergi, tidak apa-apa lo.
Riv.
Besok masih menggambar?
Aku juga suka cari inspirasi buat menulis.
Sendirian.
Masih belum ketemu idenya.
Kayaknya kota ini masih menutup diri dariku.
Boleh bersama?
Setiap gedung punya cerita.
Coba kau ceritakan
obrolan antara gedung-gedung ini sama taman-taman kota.
Seperti cerita pancuran air sama gentongmu waktu itu.
Dah.
- Hei, Raia. - Hei.
- Sebelum aku lupa, ini kuncinya. - Oke.
Terima kasih sudah menggantikan sifku.
- Tidak masalah. - Baiklah.
- Dah. - Aku harus pergi. Dah.
Hai, bisa aku bantu?
Hai, aku ada janji dengan Dokter Stevenson.
Baik.
Tolong isi formulir ini untuk administrasi kami.
- Dokternya akan siap sebentar lagi. - Baik, terima kasih.
Akhirnya, kau pulang.
- Hai. - Hai.
Kita bertiga sudah menunggumu dari tadi.
Aga membawa kepiting untukmu.
Soalnya kata dia, kau paling suka kepiting, benar?
Lalu, dimasakkan saus Padang sama Diaz.
Rai, kata Erin kau paling suka kepiting saus Padang.
- Oke. - Ayo.
Sudah siap semuanya?
- Bagus. - Sudah siap.
Ini, tambah.
Terima kasih.
Omong-omong, Rai, aku sudah mulai baca buku-bukumu.
Oh, ya?
Menurutku, ditulis dengan bagus.
Aku sangat suka, indah.
Terima kasih.
Tapi kau dapat bukuku dari...
Dipinjamkan Erin.
Kalian tahu?
Menjadi penulis itu jauh lebih susah daripada menjadi musisi.
Oh, ya?
Kalau menjadi musisi, punya alat buat memancing inspirasinya,
kalau penulis?
Mungkin makanya ada istilah "kebuntuan menulis".
Benar, 'kan?
Tidak ada itu istilah "kebuntuan bermusik".
Bagaimana ini?
Hari ini kita menjadi pancingannya Raia biar Raia punya ide-ide baru.
- Astaga. Maaf sekali! - Tidak apa-apa.
- Kena baju, ya? Maaf! - Tidak.
- Kena baju lagi sausnya. - Ini cocok buat ide bukuku.
- Ada tisu basah? - Tidak ada.
- Maaf, Diaz. - Tidak apa-apa.
Ini, celupkan.
- Aku jawab apa sekarang? - Tidak usah!
Sini, aku saja yang menelepon.
Sudah, sini.
Bukan, ini Erin.
Ya. Alam, aku cuma mau bilang.
Kalau bisa, kau jangan kirim pesan mesra dan sok romantis seperti ini lagi ya.
Soalnya Raia sudah punya pacar di sini. Tidak enak, 'kan, ya?
Oke? Terima kasih.
- Kok kau bohong soal cowok? - Kok bohong?
Ini, 'kan, benar. Tinggal tunggu waktunya saja.
- Siapa? - Tentu saja Aga.
Kau jangan pura-pura bego. Nanti bego sungguhan.
Menyebalkan.
Siapa lagi? Dia lagi?
Bukan. Tagihan pinjol.
Memang kau sudah semiskin itu sampai harus pinjol?
Ya, benar. Tukang pinjolnya sudah menagih alamatmu.
Memang dia tinggal di sini?
Tidak.
Bekasi.
Menyebalkan kau.
Masih kotor, Erin. Cuci!
- Aku sudah cuci tangan. - Jorok sekali.
Aduh!
Mau sampai kapan, Bang, kau membiarkan gigimu menyiksamu begitu?
Minggu ini saja, Ibu sudah mengirimkanku puluhan pesan
untuk memastikan anak kesayangannya pergi ke dokter gigi.
Sepertinya Ibu tidak pernah bertanya,
"Aga, apa kabar?"
Kalau dipikir-pikir, dia lebih khawatir sama gigimu daripada hidupku.
Benar, 'kan?
Berisik kau.
Makanya, jadi anak jangan durhaka.
Jorok.
Jerawatan aku nanti.
Ini obat jerawat.
- Untuk mengobati jerawatmu. - Najis!
- Hai. - Hai.
Ke mana kita hari ini?
Terima kasih.
"Simbol Harapan".
- Bagaimana? - Grand Central.
Aku lebih suka menyebut gedung ini "Simbol Harapan".
Kenapa?
New York itu selalu dianggap orang-orang
sebagai kota untuk mencari keberuntungan dalam hidup
Kota tempat Mimpi Amerika menjadi kenyataan.
Jadi, dulu, setiap pendatang atau perantau yang datang ke New York naik kereta api,
pertama kali merasakan aura New York, ya di sini, di stasiun ini.
Mereka datang dari jauh, membawa mimpi.
Sampai sini, mimpinya terasa nyata.
Bahasa penulis itu memang beda, ya.
Setiap gedung punya ceritanya.
Aku mau kasih lihat kau sesuatu.
Nah, lihat titik hitam di sana, yang di sebelah Cancer?
Itu kotoran yang sengaja ditinggalkan sebagai sebuah peringatan.
Itu bukan kotoran debu atau asap kereta api.
Tapi, tar sama nikotin.
Jadi, pesan moral dari cerita ini adalah berhenti merokok?
Bisa.
Bisa jadi juga dia sebagai peringatan supaya kebersihan gedung terus berjalan.
Oh, oke.
Atau sekadar mengingatkan...
kalau kita pernah buat salah.
Ini.
Ini namanya Whispering Gallery.
Tahu tidak, kenapa?
Coba kau berdiri di sana.
Hai, Ibu Gentong.
Kok bisa?
Oke.
Halo, Bapak Sungai.
Silakan, Pak, dilanjutkan penjelasannya tentang gedung ini, Pak Sungai.
Riv? Dengar aku tidak?
Ayo jalan lagi.
Sekarang?
Seru, ya, tempatnya.
Itu, terdengar.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Buat merayakan sesuatu.
Merayakan karena lima cerpenku sudah selesai.
Wah!
Selamat, ya.
Kenapa tidak dibuat novel sekalian?
Niat awalnya novel, tapi yang lahir malah cerpen.
Otak penulis memang agak acak.
Tapi yang paling acak, Riv, semua tokoh di cerpenku bukanlah orang.
Tapi benda-benda yang kutemukan selama di sini
dan, tidak ketinggalan, gedung-gedung yang kau ceritakan kepadaku.
Aduh.
Sakit gigi, ya?
Tidak mau ke dokter saja, Riv?
Siapa tahu ada yang perlu ditambal atau dicabut?
Nanti kalau dicabut, pasti enak rasanya.
Seperti aku, sudah hampir setahun tidak bisa menulis,
terus sekarang sudah selesai lima.
Karena New York.
Karenamu.
Karena kau sudah mengajakku untuk melihat banyak hal
yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, Riv.
- Dan itu bikin inspirasi aku... - Aku harus jalan duluan.
Bawa saja, tidak apa-apa.
Pak Sungai!
Tolong jangan panggil aku nama itu.
- Ada Pak Kali, tapi tidak lucu... - Pokoknya jangan!
Permisi, Nona.
Bisa rekomendasikan buku fiksi yang menarik?
Ya, tentu...
- Hai. - Oh, hai.
Lagi sibuk?
Ya.
Jadi, kau bisa rekomendasikan buku apa?
Ini dia.
Terima kasih.
Sepertinya aku mau mulai baca bukunya sekarang di kafe seberang.
Sambil menunggu toko tutup,
lalu mungkin habis itu aku boleh mengantarmu pulang?
Boleh.
Oke.
- Sampai nanti. - Oke.
- Dah. - Dah.
Aku tidak bisa berhenti baca buku ini.
Terima kasih sudah direkomendasikan.
Terima kasih sudah diantarkan pulang.
Sama-sama.
Oke.
Raia.
Mau minum kopi dulu?
Mungkin kita bisa bahas buku ini?
Lain kali, ya.
Aku mau menulis.
Benar, 'kan?
- Apa? - Pasti dapat inspirasi.
Oke.
Oke.
Oke. Aku pergi sekarang.
- Malam. - Malam.
- Oke, dah. - Dah.
- Skenariomu, 'kan? - Kok skenarioku?
Muncul di toko buku, minta rekomendasi novel,
mengantarku pulang.
Ya, 'kan? Menyebalkan.
Itu inisiatifnya Aga sendiri, bukan aku.
Pukul 09.00. Kau tidak mau pergi?
Kukira sudah lewat masa-masa depresimu itu.
Sudah, sana kau pergi ke kantor.
Paling tidak makan dulu. Sudah kubuatkan sarapan.
Kapan lagi adikmu ini berbakti sama abang sepertimu?
Aku pergi dulu.
Ada paket dari Jakarta.
Hai.
- Hai. - Maaf, ya.
- Tadi aku tidak sempat... - Tidak apa-apa.
Aku sudah jalan sendirian kok, tadi.
- Besok? - Sudahlah, Riv.
Tidak perlu menjadi kewajiban.
Kalau kau ada kesibukan atau kerjaan lain, tidak apa-apa.
Aku tidak pernah merasa itu menjadi kewajiban kok.
Aku memang ingin menemanimu.
Oke.
Raia.
Kau penulis yang bagus.
- Bagaimana kau bisa tahu... - Aku tidak mau kau berhenti menulis.
Riv.
Obat untuk sakit gigimu.
UNTUK RAIA
Agak beda kau hari ini.
Oh, ya?
Mungkin karena tidurnya enak sekali semalam.
Jadi, kita mau ke mana?
Terserah!
Ke mana pun "sungai" mengalir, di sanalah aku ingin berada.
Kau punya berapa banyak kaus kaki warna hijau, Riv?
Sepasang.
Oh, ya?
Dipakai tiap hari?
Ya.
Tidak bau, Riv?
Dicuci setiap malam.
Maaf.
Sepertinya aku harus membelikanmu kaus kaki warna lain.
Apa, ya?
Ungu.
Ya. Ungu.
Raia, kau dapat bunga lagi.
Terima kasih.
UNTUK RAIA
Ya ampun, rajin sekali pagi-pagi sudah membuat sarapan.
Cantik sekali!
Sudah kubilang, 'kan?
Jatuh cinta itu bisa membuatmu membuka kebuntuan apa pun dalam hidup.
Ya, aku percaya sama yang lagi jatuh cinta.
Jatuh saja, mendaratnya belum tentu ditangkap.
Lalu, aku jamin Aga itu seribu kali lebih baik dari Alam.
Kok Aga?
Memangnya bukan Aga?
Siapa?
Siapa?
Kau harus cerita kepadaku!
- Apa? - Siapa?
- Siapa apanya? - Siapa?
Tidak.
- Kau suka sama siapa? - Tidak.
- Kau harus kasih tahu aku! - Tidak.
Aku akan membelikanmu dua ember berondong jagung kalau kau kasih tahu aku.
Aku bisa beli sendiri.
Begitu ya? Kau menyebalkan, ya.
Aku buatkan sarapan untukmu.
Tumben.
- Kenapa kau? - Kau yang kenapa?
Kemarin mengurung diri di kamar, sepertinya depresi sekali.
Sampai aku khawatir, tahu?
Terus tiba-tiba sekarang...
...berubah.
Siapa?
Siapa wanita itu?
Perkenalkan kepadaku. Kalau tidak, begini saja.
Kita kencan ganda.
Kau ajak wanita itu, aku ajak wanita yang aku suka.
Wanita yang membuatmu baca buku sebanyak ini?
Ya, begitulah.
Nanti aku kenalkan.
- Ini enak tidak? - Tentu saja enak!
Erin bilang ini berondong jagung paling enak di New York.
Cobalah.
Tidak. Dia salah.
Enak sekali. Ini enak sekali.
Sungguh, ini wah...
Enak sekali.
- Enak, 'kan? - Ya.
Masih mau bilang yang tadi lebih enak?
Tidak.
Aku tahu berondong jagung paling enak.
Sifmu sampai pukul berapa hari ini?
Pukul 20.00.
Ini, untukmu.
Untukmu saja.
Untuk menemanimu bekerja.
Oke, terima kasih.
- Raia. - Ya, Riv?
- Aga. - Hai.
Hai.
Aku kira orang lain tadi. Maaf.
Tidak apa-apa.
Aku cuma mau mengajakmu makan malam.
Maaf, sepertinya tidak bisa hari ini.
Oh, aku ada buku untukmu. Sebentar.
Ayo.
Ya, yang ini.
- Ini? - Ya.
Tebal sekali. Setahun baru selesai.
Tidak mungkin setahun.
Gaji terakhirmu.
Terima kasih.
Aku sebenarnya ingin kau lebih lama kerja di sini, tapi...
besok Jane akan kembali dari cuti hamilnya, jadi...
Tidak apa-apa.
Terima kasih sudah memberiku kesempatan bekerja untukmu.
Ya.
Kiriman bunga untuk Raia?
Ya. Terima kasih.
Percuma, Bu, Abang tidak angkat telepon.
Ya, aku tahu. Aga juga khawatir.
Takutnya dia kalau ke sini malah depresi lagi.
Ya, makanya.
Ya sudah, ya.
Alaikum salam.
Dia...
Kau ketemu langsung kali ya sama orangnya.
Jadi, kau bisa nilai.
Kau masih percaya sama penilaianku?
Sebentar, ya.
Seingatku, dulu cuma kau yang mengingatkanku
kalau hubungan pernikahanku sama Alam tidak akan gampang.
Ya, terus kau kesal sama aku.
Kau bilangnya di malam pernikahanku!
Tentu aku kesal. Menurutmu?
Ya, salah aku.
Memang mulutku suka kacau.
Tapi maksudku...
Alam dari awal sudah kelihatan sekali palsunya.
Aku heran sekali bagaimana
- dan apa yang kau lihat dari dia? - Oke.
Lupakan yang itu, fokus ke yang ini.
Aku butuh matamu.
Apakah dia orang yang tepat?
Memang belum jadian?
Kau pikir anak SMA pakai jadian?
Apa?
- Kau langsung melakukan itu? - Sut!
- Astaga. - Rin!
Tidak boleh seperti itu. Dilihat orang.
Kebiasaan.
Sebentar.
Editorku. Sebentar.
Hai, Mbak Mut.
Ya, sebentar lagi.
Sedikit lagi.
Aku janji. Ya.
Oke. Dah. Ya.
Aga mengajak kita ke rumah pantai omnya di Montauk.
Ada Diaz juga.
Tidak. Aku mau menulis.
Yah, sudah aku okekan.
- Kok diokekan? Kebiasaan, Rin... - Sumpah ini bukan skenario aku.
Sumpah. Tapi memang Aga memaksa.
Raia, jangan mulai!
Rumahmu bagus sekali.
Cocok sekali buat jadi tempat siaran.
Selamat datang.
- Nah, ini dia orangnya. - Kau mau apa ke sini?
Dia yang desain ini semua.
Sudah kukenalkan waktu itu, 'kan?
Seharusnya sudah, ya.
- Bang River, 'kan? - Ya. Halo, apa kabar?
Hai, baik.
- Apa kabar? - Apa kabar? Baik.
- Keren sekali desainnya. - Terima kasih.
Mereka akan menginap.
Oh, begitu?
Obat maagku sepertinya ketinggalan di apartemen, Rin.
- Kenapa? - Raia?
Kenalkan, ini abangku, River.
Halo, River.
Raia.
Tadi aku cerita sama mereka, rumah ini Abang yang desain.
Tidak, cuma bantu renovasi saja.
Ya, tangannya sangat artistik.
Seperti suka membuat apa di kota?
- Sketsa? - Ya, sketsa.
Sketsa.
Arsitek, 'kan, ya?
Aku juga punya teman arsitek soalnya di Jakarta.
Suka bikin sketsa gedung-gedung sejarah, suka menghilang juga.
Oke. Ada apotek di dekat sini, 'kan?
Mau aku yang antar?
- Boleh. - Aku ikut, ya?
Jangan, sebaiknya kita beres-beres dulu.
Tidak, biar aku yang antar.
- Ayo. - Oke.
Oke.
Bang.
Hati-hati.
- Biar aku antar kalian ke kamar. - Ya, tolong.
- Setelah kalian. - Lewat sana?
- Ya. - Ayo.
Kau kenapa tadi?
Kenapa memangnya?
Bagus sekali aktingmu.
Pura-pura tidak kenal.
Kenapa?
Tidak mau mereka tahu kita sudah saling kenal, ya?
Bisa dipasang tidak sabuk pengamannya?
Sudah, ya.
Aneh kau.
Kau tidak suka aku ada di sini ya, Riv?
Itu apoteknya, sudah sampai.
APOTEK DAN TOSERBA
Obat untuk sakit gigimu.
Yang kemarin masih ada kok.
Buat stok.
Kalau tidak mau ketemu sama aku, 'kan masih punya obatnya.
Ya, 'kan?
Kau ini pria paling aneh yang pernah kutemui tahu, Riv.
Tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang,
tiba-tiba kirim pesan, tiba-tiba kirim bunga.
Saat bertemu, seperti orang asing. Kenapa kau ini?
Ada masalah?
Diam sekarang.
Begini, Riv, kalau kau pikir aku ke sini untuk mengejarmu,
mengintaimu, atau apa pun itu, tidak benar ya!
Aga suka denganmu.
Ya, terus?
Oh, ya.
Aku mengerti sekarang.
Karena Aga suka sama aku, kau sengaja menjauh, pura-pura tidak kenal. Begitu?
Aneh, ya.
Sebentar.
Ini kita mau ke mana, ya?
Ayo, turun.
Dibangun tahun 1796...
Tidak minat mendengarkan pemandu wisata.
Ketika malam hari, ia memancarkan cahayanya setiap lima detik.
Tidak dengar, ya, kalau aku bilang tidak minat!
Keberadaannya sederhana, ia hanya diam dan memancarkan cahaya.
Kalau mau mengobrol, jawab saja pertanyaanku yang tadi, Riv!
Tapi ia memberikan arahan untuk kapal-kapal
supaya tidak karam menabrak karang.
Apa?
Ini bagaimana sebenarnya?
Aku tidak mengerti. Kau maunya apa?
Dingin. Ayo pulang.
Dipakai sabuk pengamannya.
Sudah.
Duduk, Raia, duduk!
- Ya, sebentar, ini ponselku bunyi... - Duduk!
- Sebentar! - Duduk!
Aku bilang duduk, duduk!
Aku bilang pasang sabuk pengaman, pasang sabuk pengamannya!
Tidak mungkin.
- Aku tidak bisa lempar. - Mustahil kau bisa lempar.
Ketemu obatnya?
Kamar kita yang mana, Rin?
Di sebelah kiri. Tasmu juga sudah kumasukkan ke sana.
- Terima kasih. - Sudah lempar belum?
- Raia. - Belum.
Kau tidak apa-apa?
Aku mau istirahat.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Bang.
Bagaimana tadi sama Raia?
Raia 'kan orangnya?
Dia cerita kepadamu?
Aku dan dia cuma teman, Ga.
Aku cuma bahagia kau menemukan seseorang.
Apalagi orangnya Raia.
Bagaimana kau bahagia kalau kau suka sama dia?
Aku tidak mau lihat kau sedih, Bang. Apalagi di sini.
Aku tahu tempat ini berharga untukmu, makanya aku bawa dia ke sini.
Untukmu.
Terkadang, membuat kenangan baru bisa membuat kita bangkit dari kesedihan.
Coba pikirkan.
Bang!
Temanku mau memasak, bagaimana menyalakan kompornya?
Oh, ada tombol pengamannya. Sebentar.
Tombol pengaman apa?
Ada makanan di panci.
Maafkan aku tadi di mobil.
Aku kasar sekali kepadamu.
Memang seharusnya aku tidak buka sabuk pengamannya. Bahaya.
Terima kasih.
Istri aku meninggal karena kecelakaan mobil.
Kenapa akhir filmnya harus seperti itu?
Tidak. Maksudku, hidup itu sudah berat, 'kan?
Kenapa tidak dibuat akhir yang bahagia saja?
Seperti kita?
Seperti kita.
- Aduh... - Itu, 'kan.
Gigimu sudah harus diperiksa lagi.
Nanti habis dari Bandung, kau sempatkan ke klinik, ya.
- Aku cek giginya. - Tidak mau ke klinik.
- Kenapa? - Tidak mau ke klinik.
Di rumah saja praktiknya, ya.
Soalnya aku suka melihatmu bawa bor ke rumah.
- Begitu? - Aduh.
Seksi sekali.
Genit.
Sudah tengah malam.
Ada yang ulang tahun hari ini.
Tunggu.
Selamat ulang tahun, Bapak Sungai.
Terima kasih, Sayang.
Oh, begitu.
Pantas saja mengajak nontonnya jam segini.
- Ada apa? - Ada, deh.
Oke. Sebentar.
Serius? Hijau sekali?
Lucu, 'kan?
- Kenapa? Kau tidak suka, ya? - Suka.
Cuma, kaget saja hijau.
Aku bosan melihat kaus kakimu. Kalau tidak putih, abu-abu, hitam,
Sudah seperti anak sekolah.
Lagi pula, pasti nanti bagus dipakai jalan-jalan di New York.
Serius jadi liburan?
Tentu saja jadi!
Terima kasih, Sayang. Ini kado ulang tahun terbaik.
Aku mencintaimu.
Aku lebih mencintaimu, Bapak Sungai.
Terus ini mau dicoba sekarang sekali?
- Di pinggir jalan ini? - Ya.
Kok jadi seperti leprechaun, ya?
Tidak! Sumpah, bagus. Itu, gemas.
Aku masih ada satu lagi hadiah untukmu.
Apa itu?
- Makanya ayo cepat pulang sekarang. - Oke.
Gigi sudah sakit saja, masih mengunyah terus.
Ini berondong jagung, Ra.
Ini adalah hal terbaik di dunia.
Itu, 'kan? Makan sambil bicara.
Sebentar, aku ambilkan minum dulu.
Andara sudah tidak ada.
Yang kuat ya, Nak.
Yang kuat, Nak.
Nak...
Andara.
Ya, Sayang.
Sudah sampai kita, Riv.
KAU ADALAH CINTA DALAM HIDUPKU
DENGAN KECUPAN, SEPARUH DIRIMU
SALAM SAYANG, ANDARA
Aku membunuh mereka.
Aku membunuh istri dan anakku.
Tapi aku hidup.
Seharusnya aku yang mati.
Seharusnya aku yang mati.
Seharusnya aku yang mati.
Seharusnya aku yang mati.
Kenapa?
Aku menyedihkan sekali, ya?
Tapi jangan kasihani aku.
Aku ini pembunuh.
Kau bukan pembunuh, Riv.
Kau pemberani.
Tidak banyak laki-laki yang bisa jujur sama perasaannya.
Seperti yang kau lakukan tadi.
Menangis seperti tadi maksudnya?
Memang kenapa kalau pria menangis?
Tidak boleh?
Tidak banyak, Riv, orang-orang yang berani buat meninggalkan semua yang dia punya
sampai sejauh ini untuk mengejar sembuh.
Aku itu lari.
Cuma pengecut yang lari.
Kalau begitu, kita ini sama.
Dua manusia pengecut yang lari dan tersesat di New York.
Kau selamat itu bukan hukuman,
tapi kesempatan.
- Untuk? - Melanjutkan hidup.
Terima kasih ya, Riv.
Sudah cerita ke aku.
Jadi, kapan pun kau mau cerita,
aku ada untukmu.
Oke?
Bangun dan bersinarlah, Tuan Putri.
Berisik. Aku masih mengantuk.
Kau mau ikut, tidak? Aku, Aga, dan Diaz mau keluar.
River?
River sudah balik dari tadi. Subuh sepertinya.
Memang dia tidak memberitahumu?
Tidak.
Hai.
Aku mau ajak jalan.
Mau makan malam?
Aku ganti baju dulu, ya.
Sepuluh menit?
Tidak akan menghilang, 'kan?
KEDAI TIMES SQUARE
Kau pernah ke sini, Riv?
Pernah, dulu sama Andara.
Halo, sudah siap pesan?
Ya.
Aku pesan chicken parmigiana.
- Aku juga. - Oke.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Kau dulu ke New York dalam rangka apa?
Bulan madu.
Aku juga ingin bulan madu ke New York.
Gagal.
Mantan suamiku tidak bisa cuti lama-lama, jadi...
Kau tahu, Riv?
Hari yang paling berarti dalam hidupku
malah menjadi hari kehancuran rumah tanggaku.
Jadi, dulu aku punya buku.
Dibuat film.
Bagus bukunya.
Aku suka.
Lalu, aku ditawari untuk menulis skenarionya.
Buat penulis sepertiku, itu batu lompatan yang sangat besar.
Aku bahagia sekali malam itu.
Tapi...
Malam itu juga aku tahu kalau...
suam...
Mantan suamiku...
selingkuh.
- Aku turut menyesal. - Tidak apa-apa.
Bangsat, ya?
Bangsat...
Coba dari dulu aku bisa berpikir seperti itu.
Tapi tidak. Yang aku lakukan hanya menyalahkan diri sendiri.
Lalu, berpikir, kenapa ya dia tega melakukan itu semua?
Aku bego.
Saking begonya, aku tidak bisa menulis lagi sejak hari itu.
Tidak bisa sama sekali. Semuanya terhambat.
Lalu, yah...
Dengan semua kekuatan yang aku punya, aku...
Pergi ke New York. Lari ke New York.
Aku berharap hidupku akan bisa jauh lebih baik.
Tapi ternyata...
...tidak.
Sampai akhirnya kau datang, Riv.
Dan kehadiranmu
itu bisa membuatku berfungsi lagi.
Jadi...
Terima kasih.
Tapi...
lapar, ya.
Kalau memang benar Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan,
kenapa setelah punya pasangan, pasangannya diambil sama Tuhan?
- Aku juga selalu berpikir begitu. - Ya, 'kan?
Maksudnya, kenapa seperti itu?
Yang butuh akhir bahagia bukan cuma pembaca.
Penulis juga butuh akhir bahagia.
Sampai.
Terima kasih buat makan malamnya.
Tadi sangat indah.
Oke.
Selamat malam.
Selamat malam.
Oke.
Oke.
Raia.
Aku besok pulang ke Jakarta.
Kenapa?
Tidak usah dijawab.
Kabur saja terus.
Terima kasih untuk semuanya, ya.
Sudah? Begitu saja?
Dia sudah menceritakan semuanya dan sudah jujur kepadamu,
lalu kau hanya begini saja?
Kenapa kau tidak jujur saja soal perasaanmu kepadanya?
Raia itu perlu tahu! Apa kau mengerti?
Aku tidak bisa, Ga.
Kenapa tidak bisa? Memang risikonya apa?
Ya, ada risikonya!
Apa risikonya?
Kenapa tidak kau saja yang sama dia?
Karena dia itu cintanya sama kau! Mengerti?
Begini.
Kau itu abangku.
Yang kau perlu lakukan itu hanya jujur. Sudah, itu saja!
Oh, kau mau aku jujur sama dia?
Hai, Raia, aku mencintaimu, tapi aku masih mencintai istriku.
Tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai mati.
Itukah kejujuran yang kau mau dariku?
TERIMA KASIH BUNGANYA
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Kami berkomitmen pada proyek ini karena River.
Jadi, jika kami tidak bisa bicara dengannya hari ini,
kami harus mengevaluasi kembali semuanya.
Pagi.
Maaf aku terlambat.
Mohon maaf atas ketidakhadiranku selama ini.
Tapi aku selalu mengawasi proyek ini, jangan khawatir.
Aku hanya harus menyelesaikan beberapa hal di New York.
Namun, sekarang aku sudah kembali. Sepenuhnya.
Bisa kita mulai?
Apa yang akan dibahas lebih dahulu?
Kalau di film-film, kau itu seperti pahlawan super, Riv.
Kau selamatkan aku tadi.
River!
Temani aku di sini, ya.
Jangan kau tinggalkan aku lagi.
Mari kita lakukan ini!
Ya!
Paul...
Mungkin takdir hubunganku dengannya memang seperti ini saja.
Tidak panjang, sementara. Sudah.
Dan sahabatmu ini
takdirnya cuma jadi tempat persinggahan.
Tidak pernah jadi tempat tujuan.
Bisa begitu, ya?
Kau itu kebanyakan "mungkin" tahu? "Mungkin" terus.
Kenapa tidak kau pastikan saja perasaanmu?
Kau menyukainya, 'kan? Kau tembak saja.
- Tidak. Gila. - Daripada kau pendam seperti ini?
- Gila kali. Tidak mau aku. - Kenapa?
- Takut sakit hati? Takut ditolak? - Tidak... Aku... Aduh.
Rin, aku itu berbeda denganmu.
Kau sudah sering berpacaran,
patah hati juga sudah berkali-kali.
Lihat dirimu sekarang.
Lihat.
Masih bisa hidup, tegak, ceria seperti ini.
Aku?
Kau lihat aku, Rin.
Aku sekali saja rasanya sudah...
tidak enak rasanya.
Aku tidak mau lagi.
Sekarang aku tanya kepadamu.
Kalau aku patah hati lagi,
aku harus ke mana?
Tidak ada orang yang terbiasa sakit hati, meski berkali-kali pun juga.
Termasuk aku.
Begini, biar kuberi tahu.
Jatuh cinta itu anugerah.
Patah hati itu musibah.
Ya, sudah sepaket saja. Tidak bisa kau pisah.
Tapi itulah hidup.
Baik dan buruk, positif dan negatif. Ya, begitu saja.
Tinggal kau punya nyalinya atau tidak.
Lagi pula, rasa takut itu mau membawamu ke mana?
Kok kau jadi bijak, Rin?
Dari dulu kali, Nyet.
Cuma kau tak pernah menghargaiku saja!
Bu.
Abang?
Amin.
Panjang sekali doanya, Bu.
Ya.
Mendoakanmu.
Supaya hidupmu tenang
dan kau bisa memaafkan dirimu sendiri.
Ibu yakin Allah itu sudah mengampunimu.
Bahkan, Allah itu tidak pernah menyalahkanmu.
Kenanganmu dengan Andara tidak cuma sebatas kecelakaan itu.
Pasti masih banyak kenangan indah yang kalian ciptakan.
Seharusnya, kenangan indah itu membuat kita bahagia.
Bukan sebaliknya, 'kan, Bang?
Kau pasti tahu bagaimana cintanya Ibu ke istrimu.
Sudah seperti anak sendiri.
Dan cinta Ibu itu tidak pernah hilang sampai kapan pun juga.
Hati manusia bisa menampung begitu banyak cinta
tanpa melupakan cinta yang pernah ada.
Hai.
Ada titipan dari River.
Dia titip ini sebelum pergi dan katanya harus dikasih hari ini.
Satu lagi.
Tapi ini baru boleh kau buka saat kau sudah sampai di sana.
Mau antar ke sini, tidak?
Sebaiknya jangan.
Biar aku saja yang antar.
Perpustakaan Umum?
Mau apa?
"Raia tersayang."
"Perpustakaan Umum yang ada di hadapanmu sekarang ini
adalah gedung yang menandakan New York
sebagai pusat perkembangan budaya urban di dunia."
Mulai dibangun tahun 1895,
tapi baru 16 tahun kemudian diresmikan.
Awalnya, desainnya tidak ditentukan dari seorang arsitek,
tapi dari sebuah sketsa karya John Shaw Billings,
yang adalah seorang pustakawan,
yang ditentukan sebagai direkturnya saat itu.
Di depannya, ada dua patung singa
yang melambangkan kesabaran dan ketabahan
menghadapi resesi di Amerika saat itu.
Di dalamnya ada empat juta buku.
Aku berharap suatu saat bukumu ada di dalamnya juga.
Jangan pernah berhenti menulis, Raia.
"Dari penggemar tulisanmu, River."
Sudah lama dia menunggu kau jenguk, Riv.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini makanan kesukaannya Andara.
Aduh, Ibu ini.
Mau River kabur lagi ke New York?
Tidak apa-apa, Pa. Ini memang makanan kesukaannya Andara.
River yang pesan tadi sama Ibu.
Kantor bagaimana keadaannya?
Oke sekali.
Lagi banyak-banyaknya proyek.
Alhamdulillah!
Pantas sejak di Jakarta kau lembur terus.
Oh, ya. Hari Sabtu besok, bisa antarkan Ibu ke undangan?
Karena Papa lusa ke Surabaya. Ya?
- Ya. - Bisa?
Bisa.
Sendirian di pernikahan?
Masa bodoh.
Tidak ada makanan apa, ya? Lapar sekali aku.
Gendeng.
Kau sudah setahun tidak ketemu aku. Bukannya bilang kangen.
Oke, aku merindukanmu, Sepupu paling ganteng dan paling kusayang.
- Puas kau? - Nah, seperti itu.
Oke.
Gila.
Akhirnya seorang Harris Risjad menikah.
- Keren ya, aku? - Gila, keren sekali.
- Parah. - Parah.
Wejangan apa untukku? Nasihat.
Ini kau serius minta saran dariku?
Sudah pernah gagal lo, ini.
Hei, memang ada yang sukses?
Bego.
Apa, ya?
Jalani, nikmati, akan ada banyak kejutan di depannya.
Kau akan baik-baik saja.
Lalu, satu lagi.
Kalau kau pikir hubungan pacaran dan setelah kau menikah nanti sama,
biar kuberi tahu, berbeda sekali.
Jadi, bagaimana New York?
Menyenangkan.
- "Menyenangkan" saja? - Menyenangkan saja.
Tidak ada lagi?
- Mau versi panjangnya? - Ya.
Beli bukuku.
Serius?
- Serius. - Wah!
Sebentar lagi kau kaya.
Amin.
- Akhirnya. - Amin.
Gila.
Bagaimana urusan sama Alam?
Sudah.
Selesai.
Berarti ini kesempatanku.
Apa lagi? Perasaanku tidak enak.
Untuk mengenalkanmu ke teman-temanku.
- Oh? - Tampan semua lo.
Ada pembalap, bankir, untukmu pasti ada. Tenang saja.
- Benar ya? Carikan ya. - Pasti ada nanti.
Gila.
Astaga.
Oke.
Siap.
Seperti ini. Sudah mau menikah juga.
- Sebentar. Sebelah sini. Oke, ganteng. - Ganteng, 'kan?
Aku turut bahagia.
Terima kasih.
Oke.
Ayo!
Kau dari keluarga mempelai, ya?
Ya, Tante.
Seragamnya cantik sekali.
Terima kasih.
Ini Tante sudah mau pulang?
- Ya. - Acaranya baru mulai, Tante.
Ya, tapi tidak mengerti ini. Tante mendadak sakit kepalanya.
Yang penting Tante sudah salaman sama mempelai dan keluarganya.
Masih pusing, Tante?
Ya, sedikit.
Tante duluan, ya.
Biar aku temani.
- Oh, begitu? - Ya, tidak apa-apa.
- Aduh, terima kasih banyak, ya. - Sama-sama.
Bagus sekali namanya.
Pas sekali itu mobilnya datang.
Bang.
Itu anak Tante.
Ini Raia yang temani Ibu tadi di lift.
- Terima kasih ya, Nak. - Ya.
Bagaimana, Nyet? Seru pestanya?
Halo?
Halo?
Hai, Raia.
Hai.
Kok kau tidak bilang kau di Jakarta?
Harus, ya?
Kau juga tidak kasih kabar apa pun kepadaku, jadi...
Tadi ibuku cerita, katanya dia bertemu dengan perempuan yang cantik,
ramah, baik.
Sepertinya dia cukup terkesan denganmu.
Apa kau juga memberitahunya kalau kita saling kenal?
Atau...
Ingat tidak, dulu,
waktu Aga mengenalkan kita?
Kau pura-pura tidak kenal.
Masih seperti itu?
Apa maumu, Riv?
Aku mau bicara denganmu.
Oke, ini sudah bicara.
Lalu, mau apa?
Kau tidak bisa seperti ini terus, Riv.
"Tidak bisa seperti ini" itu bagaimana?
Datang dan hilang seenakmu.
Raia, aku tidak pernah sama sekali bermaksud untuk melakukan itu kepadamu.
Oke.
- Aku mau... - Riv, tolonglah...
Aku lelah.
Besok aku mau pergi.
Ke Melbourne.
Tiga bulan.
Urusan kerjaan.
Oke.
Tidak apa-apa.
Nanti setelah kau pulang, kita bicara.
- Aku janji... - Tidak usah janji.
Aku janji, setelah pulang nanti...
aku segera menghubungimu.
HATI-HATI ATAU KAU AKAN BERAKHIR DI NOVELKU
- Mbak Raia? - Ya, benar.
Ini, Mbak.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Hai.
Silakan masuk.
GEDUNG PENCAKAR LANGIT
SEJARAH PARALEL
Memang kau belum ada kabar atau komunikasi dengannya?
- Kalau kau benar-benar sayang... - Kejar saja.
Tidak, Rin. Aku mau pasrah saja sama takdir. Lelah.
Pasrah sama takdir itu omongan orang yang takut berusaha.
Teori.
Praktik. Coba dulu. Aku sudah coba.
Aku coba menembak Diaz.
Wah, terus?
Ternyata akhirnya sedih.
Karena dia bilang kita lebih cocok berteman saja.
Tapi kurasa aku setuju.
Memang ada benarnya.
Yah, tidak apa-apa.
Ya, kau harus...
- Rin, acaranya sudah mau mulai. - Oke.
Ada kiriman bunga untuk Mbak Raia.
Oh, ya. Terima kasih.
- Sudah siap, Mbak? - Sudah. Nanti aku ke sana.
- Oke. Permisi ya, Mbak. - Ya.
UNTUK RAIA
"Mencintai punya kuasa menyembunyikan yang pahit-pahit
dan menampakkan hanya yang manis-manis."
"Dan katanya, bisa mencintai saja itu cukup."
"Karena mencintai membuat kita bisa lebih menghargai hidup."
"Mencoba hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya,
karena mencintai juga memunculkan berani."
"Mampu merasakan mencintai tanpa harus dicintai balik
itu cukup."
"Cukup."
"Seperti angin yang tetap berembus tanpa berharap terima kasih."
"Cukup."
"Layaknya hujan yang tetap turun, meski ada yang menggerutu."
"Cukup, seperti Matahari yang terbit dan tenggelam pada masanya."
"Masing-masing menjalankan fungsinya karena sudah demikian semestinya."
"Seperti manusia juga semestinya memakai hati untuk mencinta."
"Dan mencinta itu, katanya, tidak pernah sia-sia."
Terima kasih.
Terima kasih, Raia.
Kalau begitu, sesi tanya jawabnya bisa kita mulai, ya.
Silakan.
Kenapa vakum menulisnya lama sekali, Mbak?
Apa ini ada kaitannya dengan perceraian yang dialami Mbak Raia?
Oke.
Oke, terima kasih untuk pertanyaannya.
Kalau untuk aku pribadi, menulis itu banyak sekali kaitannya sama suasana hati.
Dan jeda yang aku ambil kemarin sebelum akhirnya kembali menulis
justru membuat aku melahirkan karya yang sangat luar biasa.
Setiap Gedung Punya Cerita.
Mbak, di dalam setiap novel Mbak Raia itu selalu ada nama Alam,
mantan suaminya Mbak Raia.
Nah, sekarang ada River Jusuf.
Penggantinya mungkin?
Tolong jangan pertanyaan pribadi terus.
Tidak apa-apa.
River Jusuf, seperti yang sudah kalian baca...
River Jusuf.
Dia adalah orang yang mengajarkanku untuk melihat New York
dengan cara yang berbeda.
Terima kasih.
Terima kasih.
Hai.
Sebelah sini, ya.
- Ini. Terima kasih, ya. - Terima kasih, Mbak.
Hai.
Hai.
Bukan cuma bunga yang ini.
Bunga yang sebelum ini dan yang sebelum-sebelumnya juga.
Oh.
- Aku pikir... - Kau pikir River?
Terima kasih, ya, sudah mau menemuiku.
Aku yang terima kasih kau sudah ke sini.
Kebetulan lagi ada festival jazz di Singapura.
Loncat, sampai ke sini.
Erin tahu kalau kau...
Aku menyukaimu?
- Bukan? - Bukan.
Erin tahu kau ke sini?
Tidak. Dia tidak tahu.
Tapi dia yang mengajarkanku untuk berani.
Selama ini aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu.
Tidak apa-apa.
Aku sudah dengar pendapatmu tentang River tadi waktu di konpers.
Dan sama sekali tidak masalah.
Tidak masalah.
Sakit sedikit, tapi...
tidak apa-apa.
Yang penting aku sudah lega. Aku sudah sampaikan perasaanku kepadamu.
Cinta itu menyenangkan.
Ya, kalau bisa berbalas akan jauh lebih menyenangkan pastinya.
Tapi tidak pun juga tidak masalah.
Berani untuk mencintai saja
sudah terasa begitu membebaskan.
Catat.
Yang barusan bagus buat jadi lirik lagu.
Bagus. Bagus sekali.
Raia.
Hai, Riv.
Tumben kau menelepon.
Ya.
Jadi, dulu ada orang yang percaya sama aku
aku bisa menyelesaikan bukuku.
Lalu, sekarang, hari ini, bukunya rilis.
Tapi orangnya tidak ada.
Mau tahu tidak, kenapa?
Kenapa?
Karena hobinya menghilang.
Padahal, kalau dia di sini sekarang,
aku ingin bilang sesuatu.
Karena dia sudah percaya sama aku,
di saat aku sendiri tidak bisa percaya sama diriku sendiri.
Begitu.
Memang kau mau bilang apa sama dia?
Aku mau bilang...
- Begini... - Kalau...
Bagaimana kalau kau
langsung saja bicara sama orangnya sekarang?
Dia janji tidak akan menghilang lagi, katanya.
Kau bukannya di Melbourne?
Aku lagi ada acara penting di Jakarta.
Acara apa?
Acara...
peluncuran buku Setiap Gedung Punya Cerita.
Karya Raia Risjad.
Kalau penting, kenapa telat?
Tadi sudah minta pilotnya untuk mengebut dan lebih cepat, tapi katanya,
"Terjun payung saja kalau mau cepat."
Raia, kau ingat
kau pernah menanyakan sesuatu kepadaku
malam itu, waktu pernikahan?
Kau masih ingat?
"Apa maumu?"
Aku mau kau, Raia.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Boleh minta tanda tangan, tidak?
Menyebalkan!
Silakan kumur, Mas.
Jadi, ini perlu dicabut, Dok?
Tidak perlu.
Pada prinsipnya, kita coba untuk selamatkan giginya dulu.
Lagi pula, tidak semua rasa sakit itu bisa hilang karena dicabut.
Dokter cocoknya jadi penulis novel, ya.
BERDASARKAN NOVEL TERLARIS IKA NATASSA
Tidak semua yang kosong harus diisi supaya punya makna.
Karena cerita baru malah menghapus memori yang sudah ada, begitu.
Tapi setiap cerita baru pasti punya makna spesialnya sendiri.
Oke. Ada cerita apa lagi tentang bioskop ini?
Jadi, gedung ini itu dibangun 1932,
tapi baru tahun 1949 dijadikan gedung bioskop.
Oke. Informasi baru.
Terima kasih Bapak River.
Kau boleh kok panggil aku Bapak Sungai.
Oke, Bapak Sungai.
- Aduh. - Sakit, ya? Sebelah mana?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.