Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Hai, Semuanya! Selamat malam!
Aku mau bersulang untuk para murid tingkat akhir.
Bersulang untuk kebebasan kita melakukan apa pun yang kita mau.
Yang lebih penting, bersulang untuk meninggalkan sekolah ini selamanya!
Say, kau mau muntah?
Ayo.
Kau akan membuatku jatuh.
Apa yang kau makan? Semuanya merah muda.
Bukankah kau agak tua masih berada di Las Encinas?
Aku bisa ambilkan pesangonmu,
jadi kau tak repot kembali kemari.
Kenapa kau di sini?
Apa Ayah dan Ibu tahu?
Ya. Aku menelepon Ayah. Katanya kau di sini.
Karena kau benci tempat ini, aku mau menemanimu.
Dan melihat perubahan sekolah ini.
Bocoran, tak ada perubahan.
Kelihatan, kok.
Tapi itu baru.
Aku tak tahu apa itu.
Itu logo Alumni.
Apa?
Murid-Murid Senior, atas izin Virginia,
periode berikutnya didedikasikan
untuk mengenal Alumni, asosiasi alumni yang baru dan lebih baik.
Tidak wajib hadir, tapi sangat dianjurkan.
Nanti akan diabsen.
Ini saudaraku, Héctor. Aku Emilia. Kami menanti kalian.
- Cepatlah atau nanti terlambat. - Apa-apaan?
Aku alumnus di sini. Kok, aku tak tahu tentang Alumni?
Karena murid penerima beasiswa tak boleh masuk.
Kok, kau tahu soal itu?
Lu memakai koneksinya di New York dan bisa memasukkanku.
Jika kau masuk, relasi mereka luar biasa.
Alumni yang membuatku magang di PBB.
Kecuali mereka berdua.
Murid penerima beasiswa sepertiku
bukan perwakilan ideal untuk Las Encinas di luar negeri.
Mereka mencoba memboikotku semampu mereka.
Mereka berdua jahat.
Jauhi mereka.
Memang harus sampai merombak ulang satu paviliun?
Kalian bilang hanya akan membeli perabot baru.
Alumni butuh tempat yang cocok untuk kegiatan barunya.
Kegiatan baru apa?
Kau tak mendukung, Virginia.
Aku tak mengerti kenapa kalian butuh klub sosial,
padahal aku bisa kelola Alumni dari folder di komputerku dengan...
Itulah salah satu alasan kau tak akan bertanggung jawab lagi.
Apa?
Semua ini juga sumbangan dari orang tua kami untuk Las Encinas.
Terserah kau mau bilang apa, tapi kau tak berhak di sini.
Memang tak pernah berhak.
- Anu... - Ada yang ingin kau sampaikan?
Akan kusambungkan orang tuaku ke pengeras suara agar mereka dengar.
Lumayan keren, 'kan?
Sangat menarik.
Ya, 'kan?
Cantik.
Virginia, maaf, kau harus pergi.
Para senior mau datang melihat tempat ini.
Kehadiranmu akan buat mereka tak nyaman.
Mau kuantar keluar?
Tak usah. Terima kasih.
Dia harus tahu orang tak bisa sembarangan masuk ke sini.
Baik dia atau siapa pun.
Aku adalah presiden Alumni.
Sudah dirombak total.
Sudah dirombak total.
Dan dia saudariku, wakil presiden.
Sebentar lagi, tahun ajaran akan berakhir.
Semoga kalian lulus dan meninggalkan Las Encinas.
Tapi baik sekolah dan kami tak ingin kita berpisah,
tapi berharap bertemu lagi.
Kami berusaha keras dan habiskan banyak uang...
Layak bagi Alumni.
Layak bagi Alumni.
Kami banyak berinvestasi untuk menciptakan tempat
untuk kita bersantai, berleluasa,
dan menghabiskan waktu luang dengan nyaman
dengan orang-orang sefrekuensi, membangun relasi...
Ini adalah tempat unik khusus untuk orang terpilih.
Saat ini kami merekrut anggota baru.
Pilar Las Encinas adalah disiplin, keunggulan, dan prestasi.
Pilar kita adalah kesenangan, kebebasan, dan relasi.
Jika ingin masuk, kalian harus disponsori seseorang
yang memutuskan apa kalian ideal.
Hanya satu kandidat per sponsor.
Mulailah cari sekarang.
Dan ingat, kita ingin Las Encinas...
Héctor?
Kami ingin Las Encinas jadi bagian dari hidup kalian selamanya.
Bagian dari hidupku, katanya.
Bagian dari hidupku apanya?
Aku tak butuh bergabung dengan klub yang dijalankan oleh dua bajingan angkuh,
yang kuinginkan hanya meninggalkan sekolah ini
dan tak menginjakkan kaki di sini lagi.
Kita semua ingin itu.
Aku bakal sedih keluar.
Tidak akan begitu kau keluar. Pegang kata-kataku.
Dalmar!
Halo!
Hai!
- Apa kabar? - Baik, kau?
Ya ampun! Mereka kenapa? Apa mereka berpacaran?
Tampaknya begitu.
Kau menyesal melepaskannya, ya?
Andai kau tak main-main dengannya dan ragu-ragu...
Kau bilang begitu setelah kau...
Setelah aku apa?
Ikut aku. Ayo bicara.
Tentang apa? Sonia?
Astaga, Nico. Relakan dia. Tidak.
Pinjam dia sebentar.
- Kau bisa tanpa dia? - Tidak...
- Entah. - Aku pun tidak.
Pasti bisa. Ayo.
Tidak...
Berhentilah memusingkan dokumenmu.
Kata gadis Spanyol kaya berkulit putih.
Aku bukannya tak peduli.
Aku hanya mau kau berhenti memusingkan hal yang sama seharian.
Pertama, itu tak membuatmu tiba-tiba dapat dokumen.
Kedua, kau bisa kena tukak lambung.
- Bagaimana jika kita menikah? - Apa?
Demi dokumen itu. Aku tak bodoh.
Ini tak seperti di film.
Tak bisa asal tanda tangan dan jadi warga Spanyol.
Tidak.
Maaf.
Maaf aku mengganggu apa pun kegiatanmu.
Aku lupa
kau sekolah di sini.
Apa kita saling kenal?
Aku kenal kau.
Dari Instagram.
Aku tak menghubungkanmu dengan Las Encinas.
Saat aku melihatmu di Alumni,
aku terkejut.
Begitu. Oke.
Senang bertemu kau. Kau mau apa?
Tak usah ketus. Aku berniat baik.
Berniat baik sambil setengah bugil? Aku tak yakin.
Aku memang setengah bugil.
Dari sini...
sampai ke sini.
Serius, aku ingin mensponsorimu untuk bergabung dengan Alumni.
Apa?
Semua kandidat butuh seseorang untuk menjamin mereka.
Sponsor apa yang lebih baik dari presidennya?
Ya. Oke.
Tapi pertama, aku harus tertarik untuk bergabung.
Tentu saja.
- Aku belum pikirkan. - Tak ada alasan kau tak mau bergabung.
Sebutkan satu.
Orang sepertiku tak pantas di sana.
Orang sepertimu.
Maksudku, aku tak pantas di sana.
Kurasa kau sangat pantas.
Mau mandi?
Di cuaca sepanas ini...
Kau mau apa?
Kau bisa lihat.
Aku suka dilihat.
Apa arti tato itu?
Ini berkaitan dengan universitas.
Mampirlah ke klub, oke?
Akan kuajak berkeliling. Kenali kami dulu, lalu putuskan.
PANGGILAN VIDEO
PANGGILAN VIDEO MASUK
Aku tak menyangka.
- Apa kau... - Serius, Chloe. Pikirkanlah.
Kau sadar, tidak? Bantuan macam apa itu?
Aku tak akan meninggalkan Eric. Untuk apa? Hubungan kami baik.
Kau tak bisa membuatnya stabil.
- Maaf? Dari mana kau tahu? - Chloe...
Kita diminta ke kantor polisi.
Nanti kita bahas.
Ibu?
Ponselmu mati. Ibu bisa apa?
Ceritanya pasti tak meyakinkan
jika polisi terus menanyainya.
YA, APA YANG TERJADI?
Menurut kalian apa? Aku tak percaya. Ya.
Pelakunya Chloe. Dia mendorong Raúl secara harfiah atau psikologis.
Masa bodoh. Dia pelakunya.
Apa aku punya bukti? Tidak, Sayang.
Jika punya, dia sudah dipenjara.
Aku tak punya bukti, tapi aku yakin.
Pasti ada yang melihat sesuatu.
Jadi tolong, jika kalian menonton video ini dan melihat sesuatu,
apa pun itu,
tolong bersaksi.
Berapa kali mereka akan menanyai kita? Mereka mengincar kita.
- Ayo pergi dari negara ini. - Jangan lagi.
Ada pilihan?
Kita tinggalkan Iván?
Dia tak mau tahu soal kita.
Ibu pun berjanji padanya akan pergi.
Kapan Ibu berjanji?
Entah. Sebelum dia pergi.
Apa imbalannya?
Ibu tak mungkin asal berjanji.
Tanpa imbalan apa pun, Sayang.
Jika putra Ibu tak mau bertemu, Ibu akan pergi.
- Ke Buenos Aires. - Lalu kenapa belum pergi?
Ibu ingin menunggunya kembali agar bisa mencoba mendekatinya lagi.
Itu benar.
Ya, tapi bagian "tanpa imbalan apa pun" tidak.
Yah...
Seharusnya tak perlu kutanya.
Sayang, dengar.
Kau pernah berpikir kejadian terkait mantanmu yang sinting
dan terjun bebasnya yang mencengangkan adalah pertanda kita harus pergi?
Dengar, Bu.
Kali ini aku mulai merasa cocok. Aku nyaman dengan seorang pria.
Kita tinggal bareng lagi dan saling menghargai. Aku tak mau pergi.
Tanyalah pengacara ayah Iván.
- José Luis? - Minta dia mewakili kita...
Kau tahu berapa tarifnya?
- Tiduri saja dia agar dapat diskon! - Dasar...
Hei!
Aku minta referensi dari Lake Club
dan mereka terus memujimu.
Aku akan bangga kau menjadi manajer barku.
Tapi gajinya tak memuaskan.
Akan kunaikkan. Aku janji.
Sementara itu?
Eksposur saja cukup.
Ya. Itu lagu lama.
Bisa mulai besok?
Dasar oportunis.
Selamat bergabung, Pak.
Omar, jika kau belum siap, tak perlu kembali dulu.
Tak perlu buru-buru.
Tidak, aku harus kembali ke hidupku.
Tapi kau tampak belum siap.
Aku siap. Mateo bilang begitu.
Terapismu itu tak...
Ayah, 'kan, tak suka dia.
Ayah menyebalkan.
Mulai lagi, Ayah dan anak bertengkar.
Kenapa?
Kita berempat.
Bersama.
Bertengkar, seperti biasa.
Tapi bersama.
Aku akan kembali ke New York beberapa hari lagi.
Benar, Sayang. Biarkan Ibu menikmati momen ini.
Kau tak membiarkan Ibu tenang sedikit pun.
Oh, Ibu.
Ayo kita bawa barang Omar ke kamarnya.
Ayo.
Berikan.
Apa? Ada apa?
Sial, Omar!
Kenapa kau di sini?
Nadia?
Ya. Senang melihatmu langsung.
Sialan!
Omar, tunggu.
Permisi. Maaf.
Omar!
Aku tak menemukan tempat yang murah.
Kau bersama orang tuamu, jadi kutanya Dalmar.
Kau tak tanya aku soal kamarku?
Kupikir hubungan kita baik dan aku tak ingin mengganggumu.
Tapi kau tak berpikir untuk pindah ke kamar Iván, 'kan?
Kenapa di sini?
Karena di sini masih terasa nyaman.
Kalian masih membuatku nyaman.
Hei, Omar...
Nadia, tolong jangan ikut campur.
- Tak usah. - Nadia?
- Salam kenal, aku... - Ya ampun, Dalmar!
Jadi selama ini, aku yang bayar kamar,
dan kau tinggal gratis?
Tenang saja, oke?
Akan kuambil barangku dan tidur di sofa.
Sebelum aku ke rumah orang tuaku juga begitu.
- Aku tahu. - Kau tak boleh di sofa. Maaf.
Cukup, Omar.
- Dengarkan dia. - Jangan ikut campur!
Joel, aku menyayangimu.
Sangat menyayangimu.
Tapi ini rumahku.
Aku butuh ketenangan di sini.
Kehadiranmu
hanya akan mengacaukan pikiranku, hatiku,
dan kerjaanku selama berbulan-bulan.
Tolong mengerti. Aku harus melindungi diriku.
Oke.
Oke, aku akan pergi.
Ayolah. Kasihani dia.
Mana rasa kasihanmu padaku, Dalmar?
Hei, Nak. Kau dengar putraku.
Ayah.
- Keluar. - Ya, aku akan ambil barangku dan...
Yang benar saja. Selarut ini? Kau bisa tidur denganku.
Memang sempit, tapi... Lihat.
Yang benar saja, Dalmar!
Itu kamarku. Terserah aku. Ada masalah?
Kau seharusnya tak buka kembali tempat itu.
Kau hanya akan rugi.
Itu akan berubah, Bu.
Kenapa kau tak terima kita bangkrut?
Ayo jual semuanya dan pergi dari sini.
- Aku akan bangkit lagi. Percayalah. - Ya? Caranya?
Dengan pelatihan ekstensifmu di bidang keuangan?
Ide bisnis revolusionermu?
Kau tak tahu sama sekali.
Selain itu, kau terlalu sombong tak mau minta bantuan atau nasihat Ibu.
- Entahlah. - Aku akan turun.
Astaga! Mereka berdua?
Ini keluarga Krawietz.
Kau kenal mereka?
Ya, dari sekolah.
Dulu mereka sekolah di sana, tapi kini mengelola asosiasi alumni.
Begitu.
Kenapa? Apa mereka terkenal?
Keluarga Krawietz?
Mereka satu dari sepuluh keluarga
yang bisa dibilang pemilik sesungguhnya negara ini.
Mereka kaya di tahun 60-an dengan bantuan dari...
Kau tahulah.
Tidak, aku tak tahu.
Ayolah. Videla versi tempat ini...
Entah siapa yang Ibu maksud.
Ya ampun! Kau tak belajar Perang Saudara?
Kami belum pelajari itu.
Pantas saja.
Begini, Sayang.
Voldemort, yang namanya tak boleh disebut, memerintah negara ini bertahun-tahun.
Selama pemerintahan diktator, beberapa keluarga jadi kaya.
Setelah dia meninggal? Mereka makin kaya. Tebak siapa salah satu keluarga itu.
Keluarga Krawietz.
Benar.
Mereka punya perusahaan konstruksi, hotel, bank, maskapai penerbangan, reksa dana...
Pasaraya, tim sepak bola, jalan tol pribadi,
firma hukum, tapi kau malah memacari gembel,
padahal ada Krawietz di sekolah?
Mau aku jual diri padanya seharga 100 unta?
Seratus unta? Dia akan membayar seratus miliar.
- Dia tajir dan kau layak. - Benar.
Dia kaya raya. Dan tak bisa dipungkiri dia manis.
Sangat gay juga.
Lihat dari sisi berbeda. Uang kaum boti pun sama nilainya.
Jangan bilang "kaum boti".
Oke, Sayang. Gay, homoseksual.
Ibu bilang firma hukum?
Reksa dana...
AKU DI BAWAH, DI BAR. CEPAT KEMARI. INI TENTANG AYAHMU.
Apa ini?
Nomor telepon yang kuselundupkan ke penjara untuk ayahmu.
Kenapa kau berikan ini?
Kau membantuku menangkapnya, jadi kubantu kalian berkomunikasi.
Kita saling bantu.
Oke, terima kasih.
Isa...
Harusnya kubilang lebih awal, tapi kau tak jawab teleponku
atau balas pesanku...
Aku tak mau berhubungan denganmu, Luis. Entah kenapa kau tak paham.
- Entah kenapa kita tak bisa berteman. - Aku tak mau.
Tak ada gunanya.
Dan aku tak mau.
Ini menjadikan kita impas, oke?
Jangan telepon atau kirim pesan. Aku tak mau berurusan denganmu.
Walau aksenku begini, kurasa aku cukup jelas.
Terima kasih.
Hei! Ada apa?
Tidak ada. Bangunlah, nanti kau telat.
KANTOR IMIGRASI PEMERINTAH SPANYOL
PUTUSAN: KEMBALI SECARA SUKARELA
Astaga!
Mustahil mendapatkan dokumen itu.
Aku akan diusir dari negara ini.
Mau menikah?
- Lebih baik aku dideportasi. - Hei!
Aku akan membahagiakanmu.
Aku bisa gila.
Sialan.
"Bekerja sama dengan polisi bisa membantu proses legalisasi."
Gampang. Kita cari kejahatan yang berat dan kau laporkan. Masalah terpecahkan.
Tenang saja, oke?
Kita akan cari solusinya.
Lihat saja nanti.
Aku harus ke sekolah.
Aku akan datang mengambil barangku malam ini, oke?
Kau boleh di sini selama yang kau mau.
Tak apa. Aku tak ingin melihat Omar sedih setiap hari.
Tapi kau mau tinggal di mana?
Iván membolehkanku pakai kamarnya sampai dia pulang.
Kalian sudah berbaikan? Apa kalian...
Ya, sebenarnya...
Kami sudah berbaikan. Waktu itu ego menguasai kami,
tapi hubungan kami baik.
Aku hanya bisa mensponsori salah satu. Tunjukkan tawaran kalian.
Sebagai pemilik Isadora House,
aku bisa memberimu tempat, selain klub ini, tentunya,
tempat kita bisa berkumpul, bersantai, dan bersenang-senang.
Kesenangan, kebebasan, dan relasi
di kerajaan kehidupan malam terbesar di tangan Alumni,
kapan pun kau butuh, tentunya.
Oke. Terima kasih, Isadora.
Chloe?
Ya?
Apa tawaranmu untuk Alumni?
Yah...
hasratku untuk menjadi salah satu dari kalian.
Aku akan berusaha memberikan kenyamanan.
Aku akan membantu klub berkembang semampuku.
Alumni akan jadi prioritasku.
Itu sangat manis.
Tapi bagaimana prioritasmu bisa diukur atau diuji?
Itu tak berwujud.
Kau tak bisa dijamin memenuhi itu.
Terima kasih.
Nanti kukabari pilihanku.
Sial...
Héctor, aku ingin pulang.
Aku mau minum, menelepon, lalu kita pulang.
- Kerjaanku banyak. - Emi, tenanglah.
Kau mau apa?
Tidak ada.
Apa ini?
Akan kuusir dia.
Ayo. Kita bisa suruh Virginia mengusirnya juga.
Kenapa? Dia tak menyakiti siapa pun.
Lihatlah dia.
Kasihan.
Benar. Dia miskin. Kenapa tidur di sini?
- Dia penerima beasiswa dan kita... - Emi, cukup.
Sampai jumpa di rumah.
Kau terobsesi dengannya?
Jangan cemburu.
Aku akan tidur denganmu jika kau mau.
Kau tak akan pulang. Jangan kira aku bodoh.
Isadora, tiga pemasok kita tak mau melayani kita lagi.
Melihat total bulan lalu, aku paham kenapa.
Jujurlah.
Gajiku tak akan naik karena kau mau menutup kelab ini dulu.
Tidak.
Apa maksudmu? Kita hanya sedang kesusahan.
Sedang kesusahan.
Sepupu!
- Nico, kemarilah! - Jangan...
Ada apa?
Dia mau memantauku.
Apa kabar, Semua? Apa kabar, Sepupu?
- Hei. - Kami baik-baik saja.
Duduklah dan minum bersama kami.
Santai saja dan tak usah mengaturku.
- Aku hanya mau menjagamu. - Jangan.
Bersenang-senanglah, menari, dan menggoda orang.
Jika kau membuatnya menyukaimu, jangan permainkan dia.
Mulai lagi.
Ulahmu sendiri.
Aku muak terus kau ejek. Serius.
Aku mau ke toilet.
- Kau akan merindukanku? - Ya.
Kapan kau mulai memberhentikan?
- Apa? - Kapan kau mulai memecat orang?
Ini akan jadi pekerjaan tersingkatku.
Hei, Chloe. Apa?
Sudahlah, Nico. Hentikan.
Serius, aku tak mau. Tidak akan.
Kau tak lihat dia malah membaik?
- Tentu. Justru karena itu. - Mulai lagi.
Dia sedang bahagia sekarang, tapi dia bisa hancur karenamu.
Kenapa kau tak adil padaku?
Kau tak lihat aku membantunya? Aku serius.
Maaf? Kau?
Ya, aku.
Kondisinya baik karena obat dan terapi, bukan karenamu.
Kau bukan solusi. Kau masalah. Kau tak stabil.
Kau toksik. Kau merusak.
Astaga, kurasa Eric benar.
Kau butuh pacar atau seseorang untuk memperhatikanmu sepanjang hari.
Aku tahu kau merindukan Rocío dan Dídac,
dan tak menempel ke Eric seharian membuatmu senewen.
Tapi, Sayang, aku mengatakan ini dengan penuh cinta,
biarkan kami semua bahagia.
Pergilah. Sana.
Biar kutemani dia.
Pergilah. Kau tak lihat keadaannya?
Berengsek.
- Abaikan saja dia. - Berengsek.
Solusinya bukan memecat orang dan menutup kelab.
Justru sebaliknya. Kita harus mengurus Isadora House
dan membesarkannya.
Megah, besar, berkesan.
Kita harus pekerjakan orang lagi. Itu solusinya.
Harus mengeluarkan uang untuk menghasilkan uang.
Kau tak punya uang.
Mau gosip agar kau terhibur?
Tolong.
Isadora bangkrut.
- Apa? - Sumpah.
Serius?
Aku bisa pinjam uang.
Lagi? Sudah lima kali.
Ya, lagi. Sebanyak yang dibutuhkan.
Aku juga bisa cari investor lewat Alumni.
Lewat Alumni? Klub untuk para alumni?
Ya, jangan sinis.
Klub eksklusif mereka di sekolah menakjubkan.
Ada orang-orang tajir, kurasa aku bisa cari investor.
Kok, kau tahu dia bangkrut?
Dalmar yang bilang. Dia tahu dari Omar.
Omar sangat cemas dia mungkin dipecat
karena perusahaan itu tak punya uang.
Tapi Isa bergembar-gembor bahwa dia sukses.
Dia pura-pura. Jangan percaya.
Kau serius?
Kau tahu?
Perbanyaklah tenaga kerja kita.
Aku ingin pelayan, penari, satpam.
Petugas kebersihan juga. Itu penting.
Kita akan menyukseskan Isadora House.
Aku sayang kau.
Isa...
- Hai. - Ada apa?
Boleh kami ganti meja?
Ada masalah?
Ya, kami lebih suka yang lebih terang.
Gelap lebih bagus untuk bercumbu, 'kan?
Maaf.
Aku kelewatan. Maaf. Aku tak profesional.
Kusuruh pelayan segera ke sana.
Tidak, Omar. Bukan segera. Sekarang.
Aku sibuk sekali. Bisa tunggu sepuluh menit?
Bisa sekarang jika kuberi 100?
Bagaimana?
Ya ampun. Baiklah.
Terima kasih.
Taruh saja. Biar kujaga. Toh hanya sebentar.
- Oke. - Ya.
PENDAPATAN DAN PENGELUARAN PER BULAN
Apa?
Hei...
Sedang apa kau?
Bagaimana tidurmu, Penumpang Gelap?
Klubnya keren, ya? Kau bebas berbuat apa pun di sini.
Bahkan membuatmu serasa di rumah.
Kau tak punya tempat tinggal.
Atau kau mencariku?
Lepaskan aku.
Lihat klub ini? Di sini kau bebas berbuat apa pun.
Gratis.
Akses penuh untuk semua anggota.
Jika kau ingin sponsor, kau tahu.
Menginaplah.
Silakan saja.
Apa imbalannya?
Kenapa kau mau mensponsoriku?
Kau mau imbalan apa?
Aku ingin melihatmu menikmati ini bersama kami.
Itulah tujuan utama Alumni. Kesenangan.
Mengenal orang seperti kami dan bergembira...
Ya, tapi aku tak seperti kalian.
Tapi kau bisa tumbuh menjadi seperti kami.
Selamat pagi!
Selamat pagi, Isadora.
Ini.
Terima kasih. Apa ini? Dokumen untuk bergabung dengan Alumni?
Akuntansimu.
Angka-angka merah.
Angka merah lagi.
Dan lagi.
Seperti daftar panggilan tak terjawab.
Dari mana kau dapat ini?
Dari kebenaran.
Bukan dari cerita karanganmu kemarin.
Pembohong yang bangkrut bukan profil yang ingin kusponsori.
Semoga harimu baik.
Akan kulakukan apa pun agar masuk.
Bahkan mengekspos teman sekelas.
Selamat.
- Aku sponsormu. - Terima kasih.
Kau dan Isadora tak berteman, 'kan?
- Apa? - Mengkhianati teman sekelas kumaklumi.
Tapi teman tidak.
Di klub, kami menginginkan suasana positif dan kekompakan.
Kami tak mau pengkhianatan atau sikap toksik.
- Kenapa kau menawariku pekerjaan itu? - Kau butuh uang.
Aku tak boleh di rumah, tapi di tempat kerja boleh?
Aku hanya mau membantumu.
Aku bukannya tak butuh,
tapi aku tak tahu apa aku ingin dibantu hanya karena kau merasa bersalah.
Joel, jangan keras kepala.
Kenapa? Kau lihat apa?
Aku akan memikirkannya dan mengabarimu. Dah!
Joel, jangan...
Terima kasih.
Kenapa?
Ada apa?
Tak apa-apa.
Tidak, katakan. Ada apa, Iván?
Banyak yang harus kita bahas, 'kan?
Ya, tapi boleh kita bahas lain waktu?
Ini yang kuinginkan sekarang.
Kenapa? Ada apa, Iván?
Kenapa kau tak datang?
Aku bukannya tak datang.
Lantas kau sebut apa itu?
Tak datang, tak mengabariku,
tak jawab teleponku...
Astaga...
Terus?
Itu benar, 'kan?
Serius?
Kau tak bisa menunggu? Aku sudah memohon.
Ya, tapi ini sudah kutahan berminggu-minggu...
Bagaimana denganku? Aku menunggumu berminggu-minggu.
Aku juga sangat merindukanmu, tapi aku tak bisa melakukannya...
Aku tak mau jadi simpananmu.
Apa maksudmu?
Aku harus apa di sana, Iván?
Aku hanya akan bersamamu saat kau punya waktu luang,
seperti simpanan.
Joel, kau bisa melakukan apa pun yang kau mau. Apa pun.
Kursus bahasa Inggris agar kemampuanmu meningkat.
- Kau sadar, tidak? - Melancong. Afrika keren.
Kau sadar, tidak? Itu namanya punya simpanan!
Maaf jika aku ingin tetap di sini
dan berusaha lulus dan berkembang tanpa dibantu.
Tanpa dibantu? Aku yang bayar uang sekolahmu.
Dengar, Joel...
Persetan kau, Iván. Persetan kau.
Sialan...
Ada apa?
Sponsori aku.
Aku ingin bergabung.
Oke. Duduklah dan mari kita bicarakan.
Ayo.
Kau mungkin terpikat olehnya, tapi kau tetap harus mengujinya.
Pasti. Akan kau apakan kandidatmu?
Aku ingin bergembira. Itulah tujuan kita mendirikan klub.
Ayo main-main sedikit.
Main apa?
Buat mereka nekat. Mereka sangat ingin bergabung, 'kan?
Yang satu mengkhianati teman sekelasnya, satunya lagi mengemis padamu.
Dia tak mengemis, Emi.
Ayo kita uji mereka.
Mari lihat apa mereka serius.
Mari lihat senekat apa mereka untuk menjadi seperti kita.
Héctor!
Sampai nekat. Jika dia masuk, terserah kau mau apa.
Kau akan membiarkanku berbuat apa pun dan tak menghalangiku?
Mantap.
Sampai nekat. Pergilah.
Hei!
- Boleh kuantar keluar? - Mau menumpang?
- Tak usah. - Oh, ya.
Kau tak punya rumah. Atau punya?
- Kau tak jelaskan kenapa... - Mau minum?
Entah. Kenapa tiba-tiba berubah?
Boleh, ayo.
Terjemahan subtitle oleh Cindy F
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.