Afrikaans
Akan
Albanian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
LOVE NEXT DOOR
KOLAM RENANG OLIMPIADE SEOUL
KEJUARAAN RENANG NASIONAL SEOUL 2007
Seung-hyo, ibumu datang? Dia pulang untuk menonton ini, 'kan?
Tidak, ada urusan mendadak, dia tak bisa datang.
Begitu, ya? Kalau ayahmu?
Pasiennya banyak yang kritis, jadi tak bisa ditinggal.
Mereka penting. Kau paham?
- Ya, Pak. - Baiklah.
Fokuslah bertanding.
Kau akan masuk tim nasional jika menang.
Final gaya bebas 200 meter akan segera dimulai.
Ayo!
TIM RENANG SMA HYEREUNG
Lintasan 8, Choi Seung-hyo dari SMA Hyereung.
Kau bisa, Seung-hyo!
Choi Seung-hyo dari SMA Hyereung, lintasan 8! Ayo!
Apa-apaan? Kenapa dia di sini?
Hei, Seung-hyo! Sebelah sini!
- Sebelah sini! - Berhentilah memanggil-manggilku.
Ayo, Seung-hyo! Kalahkan mereka! Jangan kasih ampun!
Astaga, Seok-ryu.
Jika kau kalah, jangan berani pulang ke rumah!
Kau bisa!
Bersedia.
Ayo!
Terus!
Kau hebat!
Ayo!
Terus!
CHOI SEUNG-HYO KEENAM
Tidak apa-apa! Terus!
Ayo!
Hei!
Astaga.
Dia pasti sudah gila.
Yang benar saja.
Kau tahu jam berapa sekarang?
Tidak. Lihat saja jammu kalau penasaran.
Kau pikir aku tanya jam?
- Kau tak mengerti maksudnya? - Berisik.
Ujian masuk universitas sudah lewat. Kenapa bertanya esai?
Ini pukul 03.00.
Burung dan domba pun masih tidur.
Kenapa aku mendengarmu berteriak?
Astaga, Seung-hyo yang malang.
Bayi kita terbangun?
Hentikan.
Bayi kita susah tidur? Mau kunyanyikan ninabobo?
Hei, berhenti bicara seperti itu.
Kalau begitu, masuklah dan tidur jika kau tak mau dengar.
Kau berisik.
Hei, di film itu,
hantunya yang berambut ikal.
Hei, kau memberiku bocoran?
Sangat tidak etis! Bisa-bisanya kau memberi bocoran.
Ini bukan The Sixth Sense! Ikal?
Akan kupastikan kau tak bisa tidur malam ini!
Tabiatmu itu sangat buruk.
Hei! Terus! Sedikit lagi!
Kau hebat! Ayo! Terus!
JUARA CHOI SEUNG-HYO
Hei, kau menang!
Kau hebat!
Bagus!
EPISODE 3 GARIS BERHENTI
Dia tenang kalau pagi.
Seung-hyo, kau sudah bangun?
- Ya. - Ibu tak melihatmu masuk.
Kau lembur?
- Ya. - Kasihan.
Putraku kerja keras.
Tak apa-apa.
Turunlah setelah mandi. Kita sarapan.
Tadinya Ibu mau buat jambon-beurre.
Namun, bahan-bahannya tidak ada.
Kita sering makan itu di Prancis.
Kau ingat?
Tidak.
Sungguh? Kau masih kecil waktu itu.
Namun, karena kita bersama...
Senangnya bisa makan bersama.
Ibu tak pernah bayangkan kau akan kembali tinggal bersama kami di sini.
Hanya karena dekat kantor. Itu saja.
Sudah kau kosongkan apartemen studiomu?
Ya, membangun gedung kantor tidak mudah.
Jika butuh uang, semestinya kau bilang Ibu.
Arsitektur juga bisnis. Jangan memaksakan diri.
Ya, Pak.
Hati-hati juga di lokasi.
Banyak pekerja terluka di UGD.
Baik.
Terima kasih.
Roti panggang ini rasanya tidak enak.
Ibu akan beli baget dan mentega untuk besok.
Tak usah. Aku tak biasa sarapan.
Benarkah?
Kapan Ibu ditugaskan?
Kau bertanya seperti ayahmu.
Kenapa? Kau mau Ibu pergi lagi?
Bukan begitu...
Ibu tak suka tinggal di Korea untuk waktu lama.
Terima kasih. Aku berangkat.
Selamat!
Kau mengagetkan.
Kau sengaja meledakkannya di depanku?
Apa? Tidak, ini sisa konfeti dari pesta ulang tahun Hyeong-chan.
Bukan, itu alat peledak.
Kau tahu banyak orang mati karena itu?
Arsitek yang ceroboh itu bermasalah.
Akulah yang bermasalah.
Aku dimarahi karena menyelamatimu.
Menyelamatiku karena apa?
Hei, Seung-hyo! Kita berhasil!
Biar Pak Yoon cerita.
Ada apa? Apa yang terjadi?
Kita bisa bernapas.
Ada tawaran besar.
Hanya untuk satu persen perusahaan teratas Korea.
Komunitas pensiunan bergengsi.
Yayasan Medis Danyeong bermitra dengan YR Group membangunnya,
dan mereka meminta kita mengawasinya.
Dia bilang akan ada sesuatu di semester terakhir.
- Hye-ran benar. - Istrimu mendatangi peramal?
Ya. Kali ini kartu tarot.
Roda keberuntungan berpihak pada kita.
POHON DELIMA
Daunnya terlihat kering.
Kau malah mencemaskan tanaman gersang itu?
- Ada yang mengutuknya. - Apa?
Perusahaan kita bergantung padanya.
Jika layu, kita bangkrut.
Astaga. Kenapa kau tidak sirami?
Tidak, lupakan.
Bisa tolong belikan pupuk?
Kau diperbudak takhayul.
Sebesar itulah keputusasaanku.
Jika tawaran ini tembus,
kita akan tenang sebentar! Kita harus pertaruhkan semua!
Aku mau.
Tentu saja. Namun, jangan asal-asalan. Harus bagus.
Aku mau.
Aku juga. Aku ingin sekali melakukannya!
Tidak, aku ingin melihatmu melakukannya!
KOMPETISI DESAIN RENOVASI GIMNASIUM SMA HYEREUNG
Ibu.
Ibu?
Tak ada orang?
Ibu masak kari. Hangatkan dan makanlah.
Kenapa dia tiba-tiba bersikap baik?
Seratus gulung kimbap.
Siapa yang memesan sebanyak ini?
Entahlah. Ini camilan untuk syuting TV.
Diambil pukul 18.00.
Begitu? Nanti kutanya mereka syuting apa.
Kau sudah mantap membiarkan Seok-ryu?
- Ya. - Sungguh?
Kenapa?
Ini namanya efek Romeo dan Juliet.
Mereka bilang cinta akan makin kuat jika orang tua terlalu turut campur.
Apa hubungannya dengan ini?
Dengar saja.
Itu kebenaran mutlak yang juga berlaku untuk hal lain, bukan hanya cinta.
Makin keras tentangan dan kontrol orang tua,
anak akan makin memberontak.
Ya, kau benar. Keputusan yang bagus.
Kau juga harus selembut menggulung kimbap.
Jika kau tekan terlalu keras, sisinya...
Seok-ryu tak akan menganggur lama.
Bagaimana kau tahu?
Dia bukan pengangguran biasa.
Selama ini dia rajin.
Dia akan merajut jalan hidupnya dengan sedikit dorongan.
Aku menantikan momen itu.
Pasti ada.
Kita butuh 100. Kenapa kau makan?
Rasanya enak sekali. Aku hanya mencicipinya.
- Enak? - Ya.
Cepat!
Selesai.
JADWAL MENGANGGUR BAE SEOK-RYU
BERMAIN GIM
Bagus.
BERSANTAI
Aku pasti bisa itu.
MENONTON TV
Mereka keliru melakukannya. Jangan seperti itu.
TIDUR SIANG
- Sedang apa? - Sibuk. Dah.
Tunggu. Kau belum tahu alasanku menelepon. Bagaimana kalau penting?
Ada apa?
Hantunya ternyata yang berambut lurus.
Sudah, ya?
Tunggu! Ini penting.
- Ayo baca komik. - Kau mungkin tak tahu.
Orang bekerja pada hari kerja.
Maksudku bukan sekarang.
Aku berencana ke sana pukul 18.00 sampai 20.00.
Datanglah sepulang kerja.
Tidak. Kututup sekarang.
Dasar jahat.
Sudahlah. Masih ada teman lain.
- Selamat datang. - Halo.
Hei!
Sahabatku.
Teman terdekat dan terlamaku!
Kenapa menyanjungku?
Aku kurang mengerti.
Mo-eum, kau muram sekali. Harimu buruk?
Seok-ryu, kau ceria sekali. Kau senang berdiam diri?
Tentu saja.
Mau baca apa?
Ada semua dari setiap genre.
Romantis? Laga? Manga shonen?
Semuanya membosankan.
KHUSUS DEWASA
Aku mau yang merah.
Begitu.
Kita sedang di tempat umum di lingkunganku.
Baru kali ini ada yang berani.
Benar?
Aku sempat mengintip tadi.
Lihat Mawar Kebahagiaan? Sepertinya cukup bagus.
Ambil, mumpung tak ada yang lihat.
Beri ke aku kalau sudah. Ayo.
Ayo. Tak ada yang lihat.
- Sekarang. - Seok-ryu?
Bukan "merah" itu yang kumaksud.
Yang ada darah segar dan daging robek! Seperti itu.
Seperti itu.
Merah yang itu? Semestinya kau bilang.
Halo.
Teman baikmu yang lain datang.
Tidak. Dia bukan lagi teman baikku. Sudah kucoret.
Tak mau menyapa?
Kau datang. Katamu tadi tak bisa.
Aku datang bukan untukmu. Ada buku yang kucari.
Sungguh? Buku apa?
Ini dia. Ini yang ingin kubaca.
Kau mencari...
"Princess"?
Astaga.
Kenapa? Kau tak suka seleraku?
Tidak, aku tak berprasangka.
Namun, kau suka kisah cinta tragis
dan akhir sedih?
Ya, benar.
Tahu dari mana?
Tahu saja.
Orang aneh dan orang eksentrik.
Kalian harus terus bersama agar tak mengganggu orang.
Baru datang cari gara-gara. Menyebalkan.
Ke mana kita sekarang?
Menurutmu? Kita pulang saja.
Tidak, aku senggang dari pukul 20.00 sampai pukul 22.00.
Kau rencanakan waktu senggangmu?
Kebiasaan lama sulit hilang. Melelahkan.
Kenapa? Apa salahnya?
Aku bisa bergembira dengan terencana dan sistematis.
Mau bermain permainan papan saja?
Lain kali saja. Aku harus pulang dan belajar.
Belajar untuk apa?
Sertifikasi perahu motor.
SIM perahu? Mau menyetir perahu?
Tidak, belakangan ini aku tertarik pada sesuatu.
Itu syaratnya.
Aku masih ada pekerjaan, harus kembali ke kantor.
Apa-apaan ini? Kalian meninggalkanku?
Kita sungguh berpisah?
Dah. Telepon aku.
Aku jangan.
Ayolah.
Ya, baiklah! Dasar warganegara yang baik.
Budak korporat!
Masa depan Korea bergantung pada kalian! Teruslah berkarya!
Mau apa aku sendirian?
Baik. Ini kopi pagi kalian.
Terima kasih.
Sama-sama. Silakan. Lebih nikmat dengan itu.
Benar.
Rasa manisnya benar-benar memberi semangat.
Kau tak punya mesin kopi
atau penyeduh?
Kalau punya, ini bukan kantor properti.
- Punggungku. - Astaga.
- Jae-suk, berikan bantal itu. - Ambil sendiri.
Pemalas.
Selamat pagi!
- Hei. - Kenapa bawa bunga?
Kubeli di toko bunga setelah turun kereta.
Cantik, 'kan?
- Astaga. - Benar!
Suamiku tak pernah membelikan barang secantik ini.
Anak-anakku juga. Jadi, kubeli saja untuk orang lain.
- Terima kasih. - Cantik, 'kan?
Entah kapan terakhir kali dapat bunga.
- Tunggu, kita foto dahulu. - Tentu.
- Bunga lavender. - Kirimkan.
- Baik. - Harum.
- Geser wajahmu, Jae-suk. - Harum sekali.
Benar?
Geser wajahmu, Jae-suk.
Dengarkan sambil lihat.
- Sudah! - Ada yang ingin kubahas.
Mari kita ganti nama grup kita.
- Kenapa? - Ganti nama grup kita?
Ya. Ingat betapa kejamnya Hee Bersaudari?
- Ya. - Sangat kejam.
Aku tak mau dikaitkan mereka, dan nama kita tak membantu.
Kali ini kita ganti namanya jadi sesuatu yang sangat indah!
Contohnya?
Kau tahu,
sesuatu yang indah dan elegan.
Kita pakai Suk dalam bahasa Inggris?
Apa bahasa Inggris-nya "suk"?
Aku tak tahu.
Kau ini diplomat. Kau tak tahu?
- Mana kutahu nama tanaman? - Sungguh?
- Kenapa tanya itu? - Cari di ponsel.
Tunggu. Biar kucari.
Tunggu. Hanya Korea yang makan ini?
- Ya. - Belum pernah dengar.
Hei, ketemu.
- Apa? - Mugwort.
- Mug... Apa? - Mugwort.
Wort. Seperti ini.
Kau menggonggong?
- Lebih baik cangkir. - Apa?
Tidak, itu sulit diucapkan.
Mugwort juga tanaman, 'kan?
- Ya. - Ya.
Tanaman apa yang terbaik?
Lavender!
Kau harus cepat!
Sepakat! Lavender.
NA MI-SUK HIDUP DENGAN KEHARUMAN
- Hei, Ayah? - Ya.
Bagaimana Ayah hidup dengan keharuman?
Entahlah. Tanya ibumu kalau dia sudah datang.
Ibu pasti sudah tua. Lihatlah.
Foto profilnya bunga.
- Lavender. - Menggosipkan ibumu sudah tua?
Makanya Ibu harus mengawasi kalian.
Kau kejam.
Aku tak menggosipkan Ibu. Itu fakta.
Kita menua bersama.
Berhentilah bicara.
Banyak sekali.
Ini masih sedikit. Kami harus buat 100.
- Seratus? - Ya.
Kru produksi TV datang dan memesannya.
Mereka suka dan pesan lagi.
Sungguh?
Berarti aku tak ada pilihan.
Aku harus bantu.
Hei!
Lupakan. Kau bisa apa?
Jangan mengganggu. Makan kimbap saja.
Atau tteokbokki.
- Mau? - Tidak, Ayah sibuk.
Selamat...
- Selamat datang! - Hai.
Bu Yu!
Astaga. Kau Seok-ryu?
Astaga! Ibu tak berubah.
Aku tahu mengenali Ibu begitu Ibu masuk. Astaga!
Bu, ini guru wali kelasku saat SMA.
- Astaga! - Halo, Bu Yu!
Maaf aku tak mengenalimu.
Tak apa-apa.
Aku sadar setelah melihat Seok-ryu. Baru ingat orang tuanya pemiliknya.
Ada apa kemari?
Aku mau pesan makanan.
Bisa pesan 20 tteokbokki dan 20 sundae?
- Tentu. - Astaga.
Dengan senang hati.
Itu banyak sekali. Bisa membawanya sendirian?
Akan kubantu.
Biar aku saja. Ayah sibuk.
- Kau mau? - Sebentar.
- Ya. - Sayang.
- Aku mau. - Tunggu.
- Cepat. - Hei.
Ambilkan minum.
Terima kasih sudah membantu membawakan.
Sama-sama.
Sekolah ini sama sekali tak berubah.
Tak ada yang berubah di sini.
Mungkin itu sebabnya Ibu selalu lupa waktu cepat berlalu.
Luar biasa. Tak kusangka Ibu sekarang kepala sekolah.
Kau juga.
Dahulu kau amat kekanak-kanakan. Tak Ibu sangka kini sudah dewasa.
Kau ke Korea untuk kunjungan singkat? Liburan?
Apa?
Ibu dengar kau kerja di Greip.
Ya...
Ibu sangat senang saat mendengarnya.
Bukan hanya Ibu.
Semua guru masih membicarakanmu.
Kau kompeten dan cerdas.
Siswi terkenal SMA Hyereung.
Lihat, siswa terkenal lainnya dari SMA Hyereung.
Apa?
Kau mendaftar ke kompetisi desain renovasi dan gedung baru gimnasium?
Ya, hari ini arahan lokasi untuk perusahaan yang mendaftar.
Ibu sempat ragu saat mengenali nama di daftar.
Ini bagus. Akan sangat berarti jika kau lolos.
Bu Yu.
Bukankah ini berarti dia tak boleh duduk bersamamu sekarang?
Secara teknis, dia punya kaitan akademis.
Itu tidak etis.
Kau belum berubah.
Para ahli dari departemen pendidikan yang akan mengevaluasi.
Ibu tak punya wewenang.
Usaha bagus.
Berengsek.
Sudah lama kita tak bertemu. Kalian senggang sore ini?
Tentu.
Maaf.
Ada beberapa hal terlewat dari kunjungan lokasi tadi.
Aku harus mempelajarinya.
Begitu, ya? Sayang sekali. Ibu minta Seok-ryu saja.
Mumpung di sini, temui para siswa.
Mengobrol dengan alumni.
Apa? Aku?
Ibu rasa kau bisa jadi contoh yang bagus.
Mereka pasti senang mendengar kau bekerja di Greip.
Namun, aku...
Aku harus pergi.
Baik, Ibu tahu kau sibuk. Terima kasih. Semoga berhasil.
Terima kasih.
Kau bersedia menemui para siswa?
Tentu.
Ini Bae Seok-ryu. Dia lulusan sekolah kita.
Dia bekerja di Greip di AS.
- Greip? - Keren!
Semoga energinya memotivasi kalian.
Ibu akan pergi, silakan mengobrol.
- Ya, Bu! - Ya, Bu!
- Sukses. - Terima kasih.
Halo, namaku Bae Seok-ryu.
Momen ini sebenarnya tak direncanakan,
jadi aku tak siapkan apa-apa.
Silakan bertanya apa saja. Aku akan menjawabnya.
Kau kuliah di mana?
Aku diterima di Universitas Hanguk setelah lulus.
Setelah kuliah setahun, aku melanjutkan di AS.
Setelah kuliah setahun, aku melanjutkan di AS.
Berarti orang tuamu kaya?
Tidak.
Ada teman yang bersiap kuliah di luar negeri.
Aku juga mau belajar bahasa Inggris, jadi kami sama-sama.
Setelah diterima,
aku mendapat beasiswa empat tahun. Begitulah.
- Keren. - Luar biasa.
- Tunggu... - Ya?
Apa jabatanmu di Greip?
Namanya manajer produk.
Tugasnya mengawasi dan mengelola proyek
sejak tahap perencanaan hingga produknya jadi.
Apakah manajer produk itu impianmu?
Entahlah. Kurasa bukan.
Lantas, apa impianmu?
- Impianku? - Ya.
Sewaktu kau SMA, apa cita-citamu?
Hei, Seok-ryu.
Lagi-lagi kau acuhkan aku. Sudah makan siang?
Jangan bicara padaku. Aku mau tenang dan sunyi.
Kalau begitu, ikuti aku saja.
Nanti.
Kita harus pergi.
Kata siapa? Aku tak mau pergi.
Ikut aku!
Kau gila? Berani mencengkeram leher wanita?
Kenapa kau begitu gegabah?
Serius? Apa kau gila?
Kau ini bukan wanita.
Aku jelas wanita.
Apa aku pria? Lantas, aku ini apa?
Kau ini...
hampir netral.
Kau mau mati hari ini?
- Mau dikubur di belakang sekolah? - Ayolah.
- Apa? - Ayo pergi.
Aku yakin di sini.
Sudah 30 menit kau katakan itu.
Kenapa kita mencarinya?
Kita sepakat menggalinya setelah sepuluh tahun. Sudah lewat jauh.
Aku tahu.
Kita sudah lupa kapsul waktunya. Apa pentingnya?
Aku bahkan tak ingat yang kumasukkan.
Hei, kaulah yang ingin melakukannya.
Seingatku itu surat. "Surat untukku dalam sepuluh tahun."
Aku pasti sudah gila. Sentimen milenial itu mengerikan.
Lupakan saja. Tak usah dicari. Biarkan saja tertimbun.
Semoga ditemukan miliaran tahun lagi seperti telur dinosaurus!
Tidak, itu akan tetap memalukan.
Seok-ryu yang kukenal lebih pilih penasaran daripada malu.
Apa kau tak penasaran?
Surat itu pasti penuh kata-kata indah dan polos.
Lantas kenapa? Realitasnya adalah kita menggali sekuat tenaga.
Hei, orang juga tahu kau menggali setengah hati.
Di sekitar sini.
Kenapa kau lakukan itu?
Lakukan apa?
Aku berlagak masih bekerja di Greip.
Kenapa kau ikut pura-pura?
Aku bahkan memberi kuliah.
Kau pernah di Greip.
Itu juga pura-pura?
Diam.
Itu cukup bagus. Pengalamanmu nyata.
Kurasa itu cukup untuk memberi anak-anak motivasi.
Kenapa ini sulit dibersihkan?
Jangan sok bersih. Cuci saja nanti.
Aku mau pulang.
Hei, ayo gali sedikit lagi. Firasatku bagus.
Sebentar lagi ketemu. Kurasa di antara kedua pohon ini.
Kau cari saja.
Kau sungguh pergi?
Seok-ryu!
Sial. Aku yakin di antara dua pohon ini.
Seok-ryu, tunggu.
Sedikit lagi.
Hei, Seok-ryu!
Aku pulang.
Hei!
Apa ini?
Kotak kado.
Pekerjaan sampingan tetangga, Ibu minta sedikit.
Kenapa Ibu melakukan ini?
Kenapa tangan Ibu? Kenapa memakai koyo?
Mungkin karena kimbap itu. Lengan Ibu sakit.
Aku sudah bilang mau bantu.
Kau lebih membantu kalau diam saja, Anak Manja.
Ibu masih bisa memasang 100 koyo lagi.
Semoga Ibu bisa menjual 1.000 atau 10.000 kimbap.
- Berikan. Biar aku saja. - Kenapa kau begini?
Ini pekerjaan Ibu.
Jangan ganggu uang saku Ibu. Urus saja pekerjaanmu.
Hei, Dong-jin!
Lagi-lagi dia menggila.
Seharusnya kau bantu Ibu jika di rumah!
Sibuk apa kau seharian di kamar?
Kau ini kenapa?
Aku sedang kerja, cuma mampir sebentar.
- Ibu. - Ya?
Aku ada sesi privat. Buru-buru.
Latihan yang baik.
- Aku pergi. - Dah.
Dong-jin sudah temukan jati dirinya.
Ibu pikir hidupnya akan begitu-begitu saja.
Kini hidupnya membaik.
Meski hanya paruh waktu, dia digaji.
Pemilik pusat kebugaran membantunya jadi pelatih pribadi.
Dia juga olahraga.
Itu bagus.
Bisakah aku terus begini?
Kau belum pulang?
Sebentar lagi.
Sedang apa?
Ini tempatmu dahulu berenang?
Ya.
Sudah cukup tua.
Masih dipakai?
Kadang-kadang, saat kelas penjaskes.
Tenang. Kau tahu fasilitas umum tak menghasilkan uang dan penuh prosedur.
Rapat dengan klien besok penting bagi kita sekarang.
Keduanya penting.
Mungkin terkesan kau punya reputasi dan kita baik-baik saja,
tetapi kau tahu bidang ini tak mudah.
Perusahaan besar pun bisa terdampak penurunan.
Aku tahu.
Jadi, tutup kolam renangnya, buka komunitas pensiunan.
Kau menekanku?
Tidak, hanya saran.
Artikel wawancara kita untuk Harian Chungwoo terbit.
Akan ada di koran besok. Dah.
Sampai jumpa.
ARSITEKTUR GEDUNG DAN MASYARAKAT SEUNG-HYO - ATELIER IN
CHOI SEUNG-HYO JUARA GAYA BEBAS 200M
DI KEJUARAAN RENANG NASIONAL SEOUL 2007
Kau mengagetkanku.
Kenapa berdiri di sana?
Makanya banyak rumor aneh tentangmu di kantor.
Bahwa kau punya kemampuan spiritual atau mata ketiga di dahimu.
Bahwa aku punya mata batin dan bisa baca pikiran manusia.
Aku hanya rabun jauh karena usia.
Bagaimana artikelnya? Kau tak suka?
Lumayan.
Perencanaannya bagus, isinya jelas.
Kenapa tak terdengar seperti pujian?
Kau makin lambat.
Tulisanmu menunjukkan tak ada kerja keras.
Kang Dan-ho.
Kupikir kau orang gila saat kau pertama kali bergabung di sini.
Saat meliput di kantor polisi,
kau bawa ransel dan tak pulang berbulan-bulan.
Lantas? Apa aku terlalu fokus menjaga keseimbangan kerja dan hidup?
Aku mengerti. Sungguh.
Harus lebih proaktif.
Akan kuingat itu.
- Kau lakukan sekarang? - Tidak, aku mau beli kue beras.
Lumayan.
- Di mana pasiennya? - Di sana.
Sejak kapan kejang?
Sekitar sepuluh atau 15 menit lalu.
Do-hyeun mengidap epilepsi.
Kita bawa dia. Mo-eum, duduk di depan.
Baik.
Sebentar.
Bagaimana ini? Jalanan macet.
Kami membawa pasien gawat darurat.
Kami membawa pasien gawat darurat. Mohon kerja samanya.
Kejang lebih dari 20 menit berbahaya.
Kenapa tak bergerak?
Kami bawa anak sakit. Ayo, jalan.
Mau apa dia?
Kurasa dia berusaha membuka jalan!
Apa?
AKU CINTA KAU, LUMPUR
PELINDUNG DATARAN LUMPUR
Baik, itu bagus.
AKU CINTA KAU, LUMPUR
MENARA YR
Belakangan ini banyak dibangun komunitas pensiunan,
tetapi kualitasnya sangat beragam, 'kan?
Jadi, unit termurah akan mensyaratkan deposit sedikitnya dua miliar won.
Kami berencana membangun komunitas pensiunan mewah.
Fasilitas itu akan dirancang eksklusif untuk 1% populasi senior kelas atas.
Akan jadi bangunan sangat indah karena terletak di jantung kota Seoul.
Akan menjadi tempat yang tak bisa diakses
atau dilihat sembarang orang.
Contohnya, manula yang naik MRT gratis.
Aku suka MRT.
Aku naik mobil hari ini,
tetapi sering naik MRT saat sering bepergian.
Bahkan jika tua nanti.
Aku mendukung kebijakan kesejahteraan yang memberi akses transportasi
ke para manula.
Itu bagus.
Kami tak bermaksud meremehkan.
Itu hanya perbandingan.
- Ya, tentu saja. - Benar.
Namun, jika sampai orang-orang tak bisa melihatnya,
rencananya dibangun setinggi apa?
Leher orang bisa sakit.
Maksud Pak Choi adalah
konsep seperti apa yang kau mau?
Apakah fasilitas yang megah dan mewah?
Ya, itu sebabnya kami siapkan beberapa draf.
Aku ingin gabungkan beberapa desain ini.
Bagaimana?
Bisa dilihat, ini beberapa desain perancang terkenal.
Klien potensial kami menghabiskan banyak waktu di luar negeri.
Selera dan standar mereka cukup tinggi.
Jadi, desain domestik biasa tak akan bisa memuaskan mereka.
Jadi, maksudnya...
kau meragukan kemampuan kami
dan ingin meniru desain orisinal. Begitu?
Itukah permintaanmu?
Maaf, Pak Choi?
Ini penghormatan.
Semua kreasi artistik hasil meniru.
Tak ada yang benar-benar baru.
Tidak, ini jelas plagiarisme.
Jangan khawatir soal itu.
Belakangan ini, semua orang keluhkan itu.
Namun, saat di pengadilan, sulit menjatuhkan hukumannya.
Aku tak bisa.
Jangan coba membujukku.
Aku takkan berubah pikiran.
Dengarkan aku dahulu. Aku juga punya rencana.
Rencana apa?
Pertama-tama, kita pura-pura setuju.
Lalu, kita ubah desainnya sambil jalan.
Kita tawarkan desain baru.
Ayolah. Tanggal dan bujetnya sudah siap.
Mereka juga tak bisa berhenti di tengah jalan.
Kita akan ubah sedikit demi sedikit dan masukkan gaya kita.
Ide bagus, 'kan?
Jadi, kau mau memodifikasi desain hasil plagiarisme!
Anggap itu referensi.
Kau bercanda?
Myeong-u.
Aku tahu arsitektur tak bisa dilakukan tanpa klien.
Aku tak bisa bekerja dengan orang seperti mereka.
Dengan sikap seperti itu, kita tak akan bisa melakukan apa-apa.
Kita harus menghadapi perbuatan kotor dan memalukan.
Seperti inikah sikapmu?
Kantor kita berdiri dengan segunung utang. Banyak karyawan harus diurus.
Aku menolak demi mereka.
Aku ingin menjaga harga diri mereka sebagai arsitek.
Dasar bodoh! Kau tahu yang mereka butuhkan?
Mereka tak butuh sentimen abstrak ini.
Mereka butuh insentif nyata. Kenaikan gaji!
Jika mau melakukan itu, kita butuh uang.
Kinerja perusahaan harus bagus.
Jadi, kau mau menjual jiwamu demi uang?
Itu yang terbaik bagi perusahaan kita?
Kau sendiri bagaimana?
Apa kontribusimu bagi perusahaan?
Kau tak peduli pada komunitas pensiunan!
- Kau selalu melihat kolam itu! - Apa?
Nilai komunitas pensiunan lebih besar daripada renovasi gimnasium!
Dua hal itu bahkan tak sebanding!
Kau libatkan perasaan pribadi ke pekerjaan!
Myeong-u.
Kolam sialan itu mengingatkanmu...
Maksudku... Dengar, Seung-hyo...
Aku pergi.
Tunggu...
Kerja bagus.
Sama-sama.
Kerja bagus!
Syukurlah Do-heyon sudah membaik.
Ini semua berkat kau, Pak Yeon.
Ini keahlianku.
Saat Se-yoon pertama kali didiagnosis mengidap epilepsi,
kupikir duniaku berakhir.
Mungkin itu tugas dari surga agar kita jadi paramedis yang lebih baik.
- Se-yoon anugerah dari surga. - Tentu.
Siapa penyelamat yang membuka jalan untuk kita?
- Tipe idealku. - Apa?
Aku biasanya menyukai karakter penuh aksi.
Namun, tidak lagi.
Aku suka orang yang tenang, tapi bersemangat.
Pendiam, tapi penuh tekad.
Itu sangat seksi.
Baru kali ini dia menggambarkan orang seksi selain Iron Man.
Tidak, menurutnya Spider-Man juga seksi.
Otot tergambar di celananya...
Apa tulisan di belakang kausnya? Lumpur apa?
"Aku cinta kau, Lumpur."
Ya, benar.
Berarti dia Manusia Lumpur. Iron Man, Spider-Man, Manusia Lumpur.
Manusia Lumpur.
Ada yang melihat pelat nomor Manusia Lumpur?
Maaf. Seharusnya kuperiksa. Kita sedang repot.
Semestinya kau periksa. Bagaimana aku menemukan dia?
Nona Jung, ada kiriman untukmu.
Baiklah. Terima kasih banyak.
- Apa ini? - Apa ini?
Kue beras? Aku jadi lapar.
Boleh kita makan?
Sebentar. Kita lihat dulu dari siapa.
Ini dia.
- Ada kartunya. - Ini dia.
Baiklah.
Ayo. Tunggu.
Terima kasih untuk waktu itu.
Aku berjanji menelepon, 'kan? Paramedis Jung Mo-eum.
Apa?
Dari mana dia tahu namaku?
Kenapa dia mengirim kue beras? Aku jadi haus.
Aku minta.
Enak.
Nona Bae Seok-ryu?
- Halo. - Halo.
Senang bertemu. Aku Lee Jin-young.
- Terima kasih. - Kau terkejut dengan teleponku?
Tidak juga.
Semestinya aku yang menemuimu. Terima kasih sudah ke lingkunganku.
Tidak apa-apa.
Aku harus datang temui seseorang sehebat dirimu.
Dari mana kau tahu nomorku?
Radarku bagus.
Kudengar orang berbakat pulang ke Korea,
jadi aku tanya ke sana-sini.
Kau menyanjungku. Terima kasih.
Aku sungguh-sungguh.
Kalau boleh tahu,
apa alasanmu berhenti dari Greip
dan kembali seperti ini?
Aku punya alasan pribadi untuk pulang.
Begitu.
Lalu, berapa lama kau bekerja di Greip?
Aku mulai bekerja di sana tahun 2015
dan resmi berhenti bulan lalu.
Sepuluh tahun?
Tidak, aku sempat cuti setahun.
Benarkah?
Ya, saat usiaku 30 tahun.
Itu juga karena alasan pribadi?
Ya.
Begitulah usia 30-an.
Aku pindah kerja pada usia itu.
Karier dan portofoliomu sangat mengesankan.
Kurasa itu bukan masalah.
Posisi yang ingin kutawarkan di Serendipity...
Bae Seok-ryu.
Kenapa berpakaian seperti itu?
Ada apa ini?
Kenapa kau selalu muncul seperti ini?
Karena rumah kita satu lingkungan.
Aku juga tak senang.
Sepertinya kita sepaham.
Uruslah urusanmu.
Kau mau ke mana?
Mau bangun dan menghirup aroma kopi.
Kenapa kau makin sembrono?
Kau berani sekali.
- Mau? - Itu bekas minummu.
- Bersihkan. - Apa aku kotor?
Tak terlihat bersih.
- Ayo. - Maaf.
Sungguh?
- Kau menyiramku? - Tidak, tanganku licin.
Tunggu saja.
Mau menyiramku? Negara kita kekurangan air.
Ini untuk Bumi.
Mau ke mana lagi?
Kenapa semua tindakanmu sangat susah ditebak?
Massa ototku hilang karena berbaring seharian.
Harus kudapatkan lagi.
Memangnya kau punya massa otot?
Pemilihan pakaianmu juga selalu salah.
Tadi sesuai, sekarang tidak.
Aku tadi bertemu perekrut kerja.
- Kenapa? - Entahlah.
Entah dari mana dia tahu nomorku.
Kau tahu aku sangat mumpuni dan berbakat.
Dia bilang apa?
Dia menawari beberapa posisi.
GLO Korea dan Serendipity.
Tawarannya cukup bagus.
Gajinya lebih kecil, tetapi layak.
Benarkah?
Pekerjaannya mirip dengan sebelumnya.
Adaptasinya mudah.
Bagus, 'kan?
Kau mau melakukannya?
- Apa? - Kau mau melakukan pekerjaan itu lagi?
Semua pekerjaan sama.
- Apa penting aku mau atau tidak? - Bukan begitu.
Ini pekerjaanmu. Pilih yang kau mau.
Kenapa orang hanya melakukan apa yang mereka mau?
Kenapa tidak?
Kenapa semua orang menerima kenyataan?
Kau bilang kau kelelahan, tak sanggup lagi,
- dan ingin mulai dari awal. - Ya, tapi...
Ini keberanianmu? Kembali ke masa lalumu?
- Kalau iya, kenapa? Apa masalahmu? - Pikirmu aku tak kenal kau?
Matamu berbinar saat ingin sesuatu
dan sangat antusias, tetapi aku tak melihatnya sekarang.
Apa kau menganggapku masih remaja?
Jangan sok mengenalku karena kita teman kecil.
Aku hanya berharap kau temukan mimpi sejatimu.
Mimpi? Hei! Mimpi?
Kau pikir mimpi datang semudah itu?
Hanya orang kaya yang bisa bermimpi.
Mereka yang punya kesempatan bangkit setelah gagal mengejar mimpi.
Kau tak tahu karena kau hidup di iklim Mediterania.
Lingkungan yang cerah, tenang, dan sempurna.
Aku? Kehangatan itu singkat. Aku lebih sering tinggal di Siberia.
Angin menusuk tulang, dengan salju, hujan, dan hujan es.
- Kau tahu rasanya? - Aku tahu.
Aku juga pernah mengalaminya.
Kupikir kau ingat.
Kau mengagetkanku.
- Kenapa kemari? - Aku menunggumu.
Kau sedang puber? Kenapa suaramu?
Ini hari pertamamu di timnas. Kau kumaafkan.
Apa yang kau lakukan? Berbuat aneh lagi?
Itu hadiah.
Handuk ini?
Ya, bukalah.
CHOI SEUNG-HYO, OLIMPIADE BEIJING 2008 REBUTLAH EMAS
Kau bercanda?
Keren, 'kan?
Kuminta dibordir seperti itu.
- Bawalah. - Tidak mau, memalukan.
Kalau ada yang lihat?
Baiklah, akan kubawa. Ya?
Jaga dirimu. Buat negaramu bangga.
Olimpiade-nya masih lama.
Semoga sukses! Kau bisa!
Semoga sukses!
Kau bisa!
DUKUNG KAMI MEREBUT MEDALI
Kami membawa kabar menyedihkan.
Choi Seung-hyo, yang lolos ke Olimpiade karena memenangi
Kejuaraan Renang Nasional 2007,
mengalami kecelakaan.
- Seung-hyo tak apa. - Seung-hyo...
Seung-hyo...
Tenanglah.
Tak apa-apa. Semua akan baik saja.
Tenanglah, ya?
Dengan rehabilitasi, kau akan bisa berjalan lagi.
Namun, menurutku kau tak bisa...
berkarier sebagai atlet.
Aku tahu.
Aku juga pernah mengalaminya.
Kupikir kau ingat.
Ponselku tertinggal di kantor.
Kudengar kalian bertengkar.
Pak Yoon yang cerita.
Kenapa dia cerita kepadamu?
Aku punya sedikit bakat konseling.
Aku sudah dengar kedua pihak.
Kurasa kau benar.
Menutupi plagiarisme? Sangat kurang ajar!
Kita juga harus melihat ke depan.
Kita akan sukses di masa depan.
Jangan sampai hancur karena plagiat.
- Kau mendukungku? - Jangan menyela dulu.
Namun, Pak Yoon juga benar.
Aku mau kerja kantoran dengan gaji yang pantas.
Untuk itu, perusahaan juga harus sehat.
Kita butuh tambahan orang.
Karena sifat arsitektur, kita selalu terikat pada klien.
Namun, kau tak tahu cara melakukannya.
Mungkin kau terlalu cepat puas.
Kudengar hal yang sama kemarin.
Siapa pun itu, mereka benar.
- Kau tahu itu benar. - Apa?
Seung-hyo,
kau luar biasa.
Bicaramu indah seperti puisi.
Kau idealis yang lebih suka mimpi dibanding kenyataan.
Kau selalu penuh harga diri.
Namun, apa kau tahu asal semua itu?
Privilese.
Hei! Mimpi?
Kau pikir mimpi datang semudah itu?
Hanya orang kaya yang bisa bermimpi.
Mereka yang punya kesempatan bangkit setelah gagal mengejar mimpi.
Kesimpulannya, demi kemajuan dan kejayaan Atelier In,
kuminta kerja sama yang baik dari kedua direktur.
Asal kau tahu,
Pak Yoon berdiri lama di depan ruanganmu.
- Kau konselor hebat. - Aku tahu.
Masuk.
Sepertinya kau tak sempat ambil kopimu karena ada aku.
Ya, terima kasih.
Maaf atas kejadian kemarin.
Kubuat kau di posisi sulit.
Tidak apa-apa.
Aku tahu itu keputusan salah, tetapi aku pura-pura sebaliknya.
Aku malu.
Hentikan. Kau ini bicara apa?
Akulah yang egois karena alasan pribadi. Kau benar.
Aku lebih suka mengerjakan kolamnya.
Kupikir itu kesempatanku membuka lembaran baru.
Aku mengerti, dan itu membuatku berpikir.
Kupikirkan perasaanmu saat terpaksa berhenti berenang.
Sulit untuk membayangkannya.
Na-yun baru saja bilang...
kita akan gagal jika berpisah.
Apa?
Kita harus tetap bersama jika tak ingin kelaparan.
Dia memang blak-blakan.
Kaum Milenial dan Gen Z memang beda.
Kau memang baik,
tetapi jangan bahas generasi MZ seperti itu.
Apa?
Itu pembicaraan orang tua.
Anak muda tak peduli.
Jangan kelompokkan mereka sebagai generasi seperti itu.
Jadi, kau tak suka aku?
Tak mau bekerja denganku?
Aku mau. Kenapa tidak?
Ya, aku tahu itu.
Kau terlalu dekat.
- Aku tak nyaman. - Baik.
- Maaf atas kejadian kemarin. - Aku yang minta maaf.
Itu dia!
Lantas, apa impianmu?
Impianku?
Ya. Sewaktu kau SMA, apa cita-citamu?
Karena harus menjawab, aku tak tahu.
Dahulu, mimpiku adalah menjadi nomor satu di semua hal.
Aku ingin menjadi putri kebanggaan ibuku,
semua guruku memujiku,
dan semua orang mengenalku.
Mengingatnya kembali, kini aku merasa sedikit menyesal.
Kenapa?
Aku mementingkan pandangan orang,
tanpa memedulikan diriku sendiri.
PEREKRUT DI GLO KOREA DAN SERENDIPITY MINTA WAWANCARA
Pahlawan bodoh keluarga kita sudah bangun?
Aku lapar.
Kau lapar?
Nasinya baru dimasak. Tunggulah sebentar.
Makanlah kue beras di meja.
Apa?
Aku terlalu sering makan kue beras.
Dari siapa?
Tetangga yang baru pindah.
Hei, dahulu rumah itu Ibu yang jual.
Sudah lama dipasarkan, tak ada yang minat.
Ibu sangat khawatir. Itu bagus, 'kan?
Enak?
Enak.
Kaukah itu, Seok-ryu?
Bu Yu?
Ini teh pir dan campanula. Bagus untuk tenggorokanmu.
Terima kasih.
Maaf soal tadi. Ibu takut?
Tak apa-apa. Ibu jadi tenang karena ternyata itu kau.
Omong-omong, kau sedang mencari apa?
Kapsul waktu.
Kukubur bersama Seung-hyo dan Mo-eum.
Kalian melakukan hal selucu itu?
Namun, tidak bisa ketemu?
Itu untuk yang terbaik.
Kukira aku akan temukan jawabannya.
Namun, aku malah makin bingung.
Apa?
Bu Yu,
aku sudah berbohong.
Aku tak lagi bekerja di Greip.
Aku berhenti.
Jujur, aku tak tahu itu berhenti atau melarikan diri.
Seok-ryu, kau selalu berprestasi.
Sebab itu Ibu khawatir
jika kau tak bisa berprestasi.
Apa yang akan kau lakukan?
Kurasa Ibu tak mengajarimu caranya.
Namun, Ibu sadari sesuatu setelah sekian lama mengajar.
Anak-anak terus tumbuh.
Meski Ibu tak ajari mereka,
mereka pasti temukan jawabannya.
Apa ada jawaban yang terlintas saat kau berhenti?
Maka, jangan berubah pikiran. Yakinlah dan lupakan.
Berubah pikiran selalu gagal.
Ibu benar.
Pergilah ke kolam kalau sudah selesai.
Seung-hyo di sana.
Baiklah.
Hei, Seung-hyo!
Kapsul waktunya ketemu?
Kau mengagetkanku. Sedang apa di sini?
Aku yang semestinya bertanya.
Hei, apa yang kau pegang itu? Suratku?
"Untuk Bae Seok-ryu sepuluh tahun lagi.
Hai!
- Ini aku. Terbaik dan tercantik. - Hei!
- Bae Seok-ryu! - Jangan dibaca. Hei!
- Akan seperti apa aku nanti? - Awas kau!
Aku terpenjara di kelas karena kejahatan menjadi siswa."
- Hei, jangan lari! Licin! - Tidak!
- Jangan baca suratku! - "Seragamku seperti di penjara."
Aku gila. Apa yang kutulis?
- Hei! - "Aku dibunuh dengan tugas sekolah.
- Lulus akan membuatku bebas. - Berikan!
Kau tahu yang terbaik dan juara
- itu mirip, 'kan? - Ini gila!
- Jika kau berusaha, - Hei!
kau bisa jadi juara."
Kubilang hentikan!
Semestinya jangan digali.
Bisa masuk buku pelajaran jika ditemukan nanti.
Pernyataan yang akan dicatat sejarah. Ini berharga!
Omong kosong! Berikan.
Berikan padaku!
Kau sudah gila?
Kurang ajar.
Kau melompat karena tahu aku tak bisa berenang?
Turunlah dan ambil dariku.
Tidak, aku takut air.
Kau tahu?
Sejak berhenti berenang,
baru kali ini aku masuk kolam.
Kenapa baru sekarang?
Menyenangkan.
Hei, aku tadi bercanda...
Kau ingat?
Saat aku tak bisa berenang lagi
dan menyendiri di kamar?
Seung-hyo, sedang apa?
Kubawakan komik. Ayo kita baca bersama.
Lalu, nanti akan kubuatkan ramyun.
Tanpa telur, kesukaanmu.
Kau mau apa? Hei!
Kenapa mendorongku? Aku mau baca.
Seung-hyo, kembalikan saja komikku.
Kau pikir aku tak bisa masuk karena kau kunci?
Aku tahu kuncinya ada di laci pertama rak sepatu!
Baik, jangan ramyun. Kubelikan barbeku!
Aku traktir daging! Bagaimana?
Hei! Tunggu! Hei!
Hei! Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?
Kau sedang apa?
Astaga!
- Sungguh? - Kau sungguh mengagetkanku.
Kau sedang apa?
Minggir.
Ayo!
Minggir.
Kau gila.
Kau malah tertawa?
Kenapa memanjat seperti itu?
Kau hampir mati!
Ya, lantas kenapa pintunya dikunci, Berengsek?
Aku hampir mati karenamu.
Aku baru menyelamatkanmu. Tak tahu diri.
Dasar orang gila.
Kalau aku gila, lalu kau apa? Beruang?
Kau pikir akan menjadi manusia setelah seabad di gua?
Dasar makhluk muka fosil! Kau jadi seperti bayi!
Bayi?
Kau seperti Australopithecus.
Apa otakmu lamban?
Kau tak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak, ya?
Bau apa ini?
Rumput gajah dan bawang putih? Bukan.
Ini bau pria tua kesepian!
Tak ada bau apa-apa.
Diam dan pergilah. Kembali ke asalmu.
Jika aku pergi, kau akan pandangi tembok lagi seperti pecundang?
- Pecundang? - Ya, pecundang bodoh.
- Hentikan. - Tidak.
Bodoh. Pecundang terbesar di dunia.
- Jangan mengutuk. - Kau mau apa?
Bangun dan makanlah dari mangkuk anjingmu, Keparat!
Apa masalahmu? Kubilang jangan mengutuk!
Dasar pecundang. Tak punya otak.
Jangan mengutuk.
Memangnya kau anak kecil?
Dasar...
Berengsek, kubilang hentikan!
Kau pikir kau keren?
Kau merepotkan dan pengecut, Berengsek!
Aku sudah merasa seperti sampah.
- Kenapa kau mengutukku? - Kaulah yang bersikap bodoh.
Sial, aku sakit dan tak bisa apa-apa.
Kenapa kau mengutukku? Kau tahu perasaanku?
Apa kau mengerti situasiku?
Sudah lebih baik?
Baru ini kau bicara dalam sebulan.
Memangnya kenapa?
Hei. Kenapa ada itu di tasmu?
Jika pintunya dikunci lagi,
akan kubongkar.
Sial.
Begitulah dirimu.
Orang gila yang menghunus kapak ke beruang yang mengurung diri di gua.
Itulah kepribadianmu.
Jangan takut. Itu tak cocok untukmu.
- Kau anggap itu menghibur? - Artinya itu buruk.
Apa?
Seok-ryu yang dulu ceria dan energik.
Namun, kini kau terlalu lembek,
tak lucu, dan membosankan.
Tarik kembali kata-katamu.
Hei!
Hei...
Hei...
Tunggu! Hei!
Tolong!
Tolong aku!
Tenang! Kau tak akan mati. Tak apa-apa.
Sial!
Kenapa melompat jika tak bisa berenang?
Kenapa memarahiku seperti itu?
- Tahu kenapa kau tenggelam? - Tidak!
Karena tubuhmu tegang! Santailah sedikit! Relaks!
Aku tak bisa relaks saat disuntik dokter! Bagaimana ini?
Tunggu... Ya. Berpura-puralah menjadi ubur-ubur.
Goyang kakimu. Biarkan air membawamu.
- Goyang? Begini? - Ya.
Bagus. Seperti itu.
Apa? Kurasa pura-pura jadi ubur-ubur berhasil.
- Berhasil. Ya. - Berhasil.
Tidak! Tidak berhasil!
Kepalaku!
Hei! Airnya terminum!
Jangan jambak rambutku. Tolong.
Apa aku sudah terapung?
Ini keren! Astaga. Aku merasa aneh.
Kau mau terus bicara meski di momen ini?
Rasakan kekuatan di dalam air.
Hei, Seung-hyo?
Apa?
Aku sebenarnya gugup.
Aku ingin berhenti karena lelah.
Ingin istirahat, memimpikan hidup baru.
Namun...
aku merasa bukan siapa-siapa tanpa latar belakangku di Greip.
Semua orang melangkah maju,
hanya aku yang berhenti.
Itu perasaanku setelah berhenti berenang.
Aba-aba untuk mulai sudah berbunyi,
tetapi aku merasa berdiri sendirian di garis start.
Kupikir,
"Akan sulit menemukan tempat untuk aku bisa berenang bebas lagi."
Kau menemukannya.
Aku tahu.
Aku menemukannya, kenapa kau tidak?
Aku benci masuk ke bak mandi, tetapi aku bisa masuk kembali ke kolam.
Sungguh?
Bisakah kuarungi hidup yang baru juga?
Tentu saja.
Hei, aku penasaran.
Andaikan,
misalnya, kau bisa berenang lagi.
Jika itu terjadi,
kau akan tetap jadi arsitek?
Ya.
- Sungguh? - Tentu.
Kalau kau?
- Apa? - Andaikan
kau kembali ke masa sebelum berhenti.
Jika kau bisa kembali ke Greip,
kau mau?
Tidak.
Satu lagi.
Andaikan saja
kau kembali ke sebelum pertunanganmu batal,
apa rencanamu?
Tidak. Aku tak mau kembali.
Baiklah.
Kita tulis surat untuk diri kita sepuluh tahun ke depan.
Baiklah.
Haruskah?
Diam dan tulislah.
Kita akan buka sepuluh tahun lagi.
Jika ada yang buka sebelum itu, dia akan sial selama 1.000 tahun!
Kita harus berjanji!
Hai, Bae Seok-ryu sepuluh tahun lagi.
Ini aku. Yang terbaik dan tercantik. Bae Seok-ryu!
Apa aku bisa menembak jaring laba-laba dengan teknologi canggih?
Ada rumor kau memanjat langit-langit.
Sepuluh tahun lagi rasanya masih lama.
Kau mungkin sudah utarakan perasaanmu ke Seok-ryu, 'kan?
GARIS BERHENTI
GARIS MULAI
LOVE NEXT DOOR
Bisa-bisanya kutinggalkan bukti seperti itu?
Perasaan itu sudah lama hilang.
Kau akhirnya membukanya?
Kugali malam itu. Aku penasaran.
Greip mengontak kita!
Aku baru pindah. Senang bisa bertemu.
Sungguh?
Si reporter lagi.
Selera kita sama lagi?
Sekeras apa pun usahamu,
itu percuma.
Jangan meremehkan kerja kerasku.
Seok-ryu?
Seung-hyo!
Kau bilang apa tadi?
Terjemahan subtitle oleh Ardi Prananta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.