Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Diterjemahkan oleh Kapten Kooky IDFL™ SubsCrew
Terlalu lemah!
Berteriak!
Arahkan Bokuto pada tenggorokan lawan!
Bunuh!
Bunuh, Kengo!
Permisi.
Sudah siap.
Kau takut?
Dengan tujuan membunuh.
Angkat!
Bersiap!
Angkat!
Berputar tanpa suara.
Seperti kilau cahaya.
Di dalam dunia...
...dengan gambaran tak terbatas abadi.
Kreatifitas yang tumbuh kembali,
dalam semangat yang khidmat.
Lepasnya rasa putus asa.
Di dalam batas revolusi.
Musik nostalagia itu jahat.
Biarkan karmamu datang dan pergi.
Kericuhan yang aneh.
Dirimu adalah kemenanganmu.
Pemenang ataupun pecundang.
Hempaskan dosa yang tumbuh.
Telan saja keadaan menyedihkan ini.
Lahirlah kembali di dunia lain.
Telanlah gairah.
Takdirmu datang langsung dari ngarai!
Takdirmu datang langsung dari ngarai!
Takdirmu datang langsung dari ngarai!
Takdirmu datang langsung dari ngarai!
Keluarkan aku!
Tengoklah dari ngarai ke langit.
Keluarkan aku!
Rasakan selmu tumbuh kembali.
Berhamburan dalam keabadian.
Keluarkan aku!
Tengoklah dari ngarai ke langit.
Keluarkan aku!
Rasakan selmu tumbuh kembali.
Berhamburan dalam keabadian.
Keluarkan aku!
Dikendalikan rasa putus asa.
Mencari penebusan mutlak.
Dari putus asa menuju kebebasan.
Keluarkan aku!
Keluarkan aku!
Keluarkan aku!
Kalian pesan yang sama?
Apa?
Pelayan, Bir.
Siapa dia?
Itu Nakase.
Kau mulai teler rupanya.
Dia belum pernah dilatih kita. (Kendo).
Hadapi lawanmu!
Kurang tinggi!
Cukup, kau membosankan.
Hei, Bung.
Guru sangat keras pada kita.
Aku tak sanggup berlatih seperti itu lagi.
Jujur saja aku masih ingin berlatih Kendo.
Kendo lagi? Sialan.
Lagian kita sibuk sekarang.
Ditambah waktu untuk anak² kita.
Kenapa?
Ayo sekarang coba padaku.
Ayo, pukul aku.
Katanya mau Kendo? Benar?
Ayo, tusuk aku.
Ayo sini!
Hentikan!
Boleh minta air putih?
Dan spon.
Pelayan. Tolong air dan spon.
Bukankah kau pernah jadi instruktur Kendo?
Apa?
Kau pernah mengajar di SMU?
Instruktur? Itu sudah lama!
Kau coba memprovokasi?
Sudahlah tidak apa².
Sudahlah.
Kau kalem sekali.
Sudahlah.
Ayo, kemari!
Apa ini?
"Burung Magpie melintas jembatan langit".
Ini dari permainan kartu puisi itu?
Masih dalam progress.
"Malam berganti malam".
Hapus saja! Tak enak didengar!
"Burung Magpie..."
"Burung Magpie melintas"...
"Burung Magpie melintas jembatan langit".
"Lihatlah bulu putihnya".
"Malam pun silih berganti".
"Malam penuh gairah".
"Ada setumpuk kartu puisi"...
..."yang siap"...
..."menjaga mimpiku".
"Pintu²ku menjaga cahaya masuk".
Belikan tiket konser.
Lain kali saja kubelikan.
"Berbahaya, orang²ku berbahaya".
Kau datang lagi tadi malam?
Tak mungkin.
Bisa kau cukur jenggotnya?
Ini.
Tn. Yatabe, kami akan mencukurmu.
Maaf, cream-nya agak dingin.
Aku percaya padamu.
Tentu.
Aku pergi dulu.
Hei.
Hei, tunggu.
Kubilang berhenti! / Apa?
Apa²an ini?
Ada apa?
Apa?
Kau menjatuhkan Shinai-ku.
Shinai-mu? / Ya, Shinai-ku.
Apa maunya?
Hormati seniormu.
Kau menjatuhkan Shinai-ku. Ambil lagi, cepat!
Anjrit. / Kau bicara padaku?
Hei.
Biar kuatasi.
Bajingan.
Lepaskan aku.
Apa maumu?
Kau mau menghancurkanku?
Ikut kami.
Kami akan lihat kemampuanmu.
Antri saja, biar kulawan satu persatu.
Sakit! / Jangan berantem!
Beri dia pelindung kepala.
Sakit, edan!
Diamlah.
Kulawan kalian semua.
Berisik. / Kau pasti mati tanpa ini.
Ambil Shinai-nya.
Kalem, dong.
Pelindung kepala!
Aku 'kan belum siap!
Bagaimana cara memegangnya?
Tunggu dulu, gundul.
Dia tak gundul.
Ayo.
Maju.
Ayo!
"Sanseppo".
Guru.
Dia menusuk tenggorokannya!
Sako!
Kau baik² saja?
Berikutnya siapa?
Hei, pergilah.
Tujuan Kendo bukan untuk membunuh.
Dasar pecundang.
Apa peduliku soal Kendo?
Bersiap!
Mulai!
Kulihat murid²ku merasa tak dihargai.
Maaf.
Di mana kau melatih langkah seperti itu?
Aku tak berlatih apa².
Maaf.
Apa maksudnya 'Sansep' yang Anda katakan tadi?
Sanseppo.
"Lumpuhkan lawan dengan 3 cara".
Lumpuhkan pedangnya, teknik, serta mentalnya.
Sanseppo.
Bisa lihat lagi kuda²mu?
Anjrit.
Bagaimana? Kau lihat sendiri?
Jangan lihat dengan matamu!
Luaskan sudut pandangmu!
Penglihatan akan berlipat ganda!
Untuk persepsi yang kuat,
...terlalu fokus pada mata pastilah lemah.
Perhitungkan jarak jika sudah dekat.
Dan mendekatlah jika sudah menjauh.
Itulah taktik pertarungan.
Berdasar intisari dari visi yang kau tangkap,
jangan terpaku pada pedang lawanmu, tapi lihatlah gerakan keseluruhannya.
Masih belum paham juga?
Aku punya pekerjaan untukmu.
Bagaimana? Mau?
Ikuti aku.
Jadi pesuruh?
Tn. Tadokoro.
Hei, putra Yatabe.
Bisa pindah ke sebelah sana?
Sudah kubilang sebelumnya.
Ini seperti saat kita masuk karung kosong,
yang pertama masuk adalah Sang Guru.
Aku tahu.
Pakaiannya tak cocok buatmu.
Minumlah bersamaku.
Ayolah, santai saja.
Ikut aku.
Badanmu berat.
Aku perlu memapahmu.
Selamat sore.
Kau lagi.
Maaf, lehernya sedang sakit.
Tn. Yatabe, kami siap memberimu makan.
Ini. / Aku tak makan apa².
Yang kumakan hanya makanan dingin.
Jadi tak bisa didapatkan di sini.
Di lain hari kami terpaku di bar menyaksikan baseball.
Itu bola basket.
Perbedaan yang sama.
Mau didinginkan?
Tentu.
Bagaimana kalau bir?
Apaan sih?
Kazuno, kau pesan bir, ‘kan?
Ya.
Kau tahu?
Sebelumnya kami keluar berbelanja,
Dia berjalan di depan,
Pria biasanya lebih suka menunggu.
Kupikir kau ada di depanku.
Kau dengar itu?
Dia datang duluan memastikan kalau aku sudah bayar.
Apa?
Jadi kau yang bayar?
Maaf kalau begitu.
Menjengkelkan.
Bukankah dia pria baik.
Aku pernah bertanya, kau tak jual barang itu?
Apa? / Apa?
Tak ada harapan.
Kau bekerja keras.
Sudah hampir selesai.
Nak, perlihatkan tanganmu.
Apa?
Tanganmu.
Sudah lima hari.
Kuberi imbalan atas kayu bakar ini.
Ikut aku.
Siap.
Nak, hal terbaik apa yang ingin kau lakukan?
Apa?
Kutanya, bagaimana cara terbaikmu untuk bersenang²?
Sepertinya menulis lirik.
Guru tahu musik Rap?
Tentu, itu lagu bertutur.
Ya, benar.
Saat kutulis lirik.
Aku merasa paling bahagia.
Oh, kau penulis puisi.
Kau suka menulis kata², Nak.
Penting namun berlebihan.
Dalam Zen Buddhisme disebut “Ketajaman berdasar intuisi”.
Hati melebihi kata².
Intinya adalah memahami “hati yang ada di dalam hati”.
Hati yang ada di dalam hati.
Benar, langsung menuju ke dalam hati.
Langsung menuju ke dalam hati.
Itu tak ada teorinya.
Langsung menuju ke dalam hati manusia.
Sudah siap.
Nak, kau terlihat seperti ahli pedang.
Tapi aku kurang tertarik pada Kendo.
Ini imbalan memotong kayu bakar.
Aku lebih suka bayaran biasa.
Pasang juga perisainya.
Kau tak mungkin dapat seperti ini hanya sehari kerja.
Tapi aku ‘kan kerja 5 hari.
Jadi, kulepas saja baju ini lalu memberimu uang?
Yang ini juga.
Cobalah.
Ini.
Ini punya Guru?
Hati², sangat tajam.
Apa?
Bokuto adalah duplikat pedang.
Dipakai untuk membunuh.
Perhatikan pedangnya dan ayunkan.
Sudah kubilang aku tak tertarik.
Kau paham?
Tukar tempat! Mulai!
Kaki kirimu terlalu lamban.
Ke depan.
Ke depan.
Longgarkan lenganmu.
Ke depan.
Ke depan.
Lbh cepat lagi.
Lalu mundur.
Mundur.
Nak.
Ya.
Tolong antar surat ke alamat ini.
Ada orang di rumah?
Permisi.
Apa?
Aku Haneda dari kampus Kamakura College.
Ada surat dari Guru Mitsumura.
Kau mau membunuhku?
Apa?
Kau datang bawa² senjata.
Aku hanya membawanya.
Berikan padaku.
Cepat, berikan!
Aku bawakan surat.
Kau ini siapa?
Siapa dirimu?
Aku hanya mengantar surat.
Hei, ada apa?
Ada apa?
Dari Guru Mitsumura.
Aduh, sakit.
Cukup.
Kau boleh coba juga.
Aku sudah selesai.
Kuletakkan suratnya di sini.
Serang!
Teriak!
Serang!
Lebih keras!
Serang!
Pikiran, pedang, dan tubuh.
Serang!
Siapkan kuda².
Semua kekuatan dalam satu ayunan.
Teriak!
Serang!
Halo.
Tn. Yatabe.
Guru berikan ini pada anak baru?
Kau masih ingin ikut Kendo?
Aku hanya mengembalikan ini.
Dan trik kecil ini.
Bisakah tak menggangguku?
Nak.
Pasang pelindung kepalanya.
Kau tak punya kemampuan tersisa untuk mengalahkan anak ini.
Pasang perisainya.
Aku baik² saja.
Berikan Shinai-nya.
Siap.
Serang!
Kenapa?
Jangan mundur.
Serang!
Nak, teruskan.
Dia bisa memukul wajahmu.
Kembali pada kuda².
Kendo macam apa itu!
Kubilang kembali pada posisi kuda².
Baik.
Kau pikir siapa dirimu, Sinting.
Hentikan dia.
Hentikan!
Kalian semua kurang latihan.
Bajingan.
Kalian pikir bisa mengalahkanku dengan cara kasar?
Ayo.
Hentikan!
Aku hanya mau bilang, anak ini...
...sedang bergurau seolah dia itu lawanmu.
Bodoh sekali.
Salahkan dirimu sendiri karena wajahmu kena.
Kelihatannya Guru tertarik padamu.
Kengo.
Tidakkah kau paham?
Kali ini, berhentilah minum alkohol.
Inginnya begitu.
Tapi aku mau teler lagi hari ini.
Sepertinya kau tak berziarah ke makam ibumu.
Untuk apa ke sana?
Untuk bilang aku membunuh ayah?
Kau sedang menderita.
Mabuk²an takkan menghilangkan rasa sakit itu.
Pergi!
Tambah lagi.
Kau takkan bisa pulang.
Kalau begitu biarkan aku di sini.
Tambah lagi.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Teriak! / Serang!
Serang!
Lebih keras!
Serang!
Pasang lagi kuda²mu!
Berdiri dan berlatih, Kengo!
Berdiri!
Kengo!
Kengo!
Guru Mitsumura.
Itu kecelakaan.
Kau paham, Kengo?
Hanya kecelakaan.
Ayolah, hentikan.
Kau sudah minum dua gentong.
Tak apa².
Kau ingin menyerah, Kendo?
Kau bisa menyerah.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Coba pukul kepalaku.
Tanpa pelindung kepala.
Coba saja.
Shinai tidaklah cukup.
Ambil ini.
Bertarung!
Bisa jadi wajahku juga terpukul.
Sungguh? Kau begitu kuat.
Kau temukan kepuasan dalam bentuk penghargaan?
Kengo sudah mati sekarang.
Tangan, wajah, perut.
Tusuk.
Serang!
Aku membunuhnya. / Dia tak mati.
Kengo.
Ayo!
Aku membunuhnya.
Ambil Bokuto-nya.
Aku selalu membayangkan...
...tipe laki² apa yang mengajakmu keluar.
Faktanya adalah...
...banyak tipe laki².
Ambil Bokuto-nya.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Kengo.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Mempelajari Kendo dengan sikap disiplin yang benar,
akan melatih...
...pikiran dan tubuh.
Kendo memiliki keistimewaan nilai² menghargai, keyakinan, kebaikan,
kehormatan, dan ketulusan...
...terhadap usaha mengembangkan diri.
Kita harus mencintai masyarakat...
...dan berpegang teguh pada perdamaian,
serta kesejahteraan umat.
Kengo.
Ambil Bokuto-nya.
Lebih menusuk!
Ke atas!
Pasang kuda²!
Kengo.
Bunuh.
Kau lemah?
Bunuh.
Kengo, Bunuh.
Tentang ayah...
...mungkin sebaiknya kubunuh dia.
"Senang melihat kalian akhir pekan ini."
"Akhir pekan hebat untuk bersama."
"Beri senyuman dan bicaralah padaku."
"Katakan kalian hendak ke mana."
"Cek, satu, dua, tiga."
Usaha bagus.
Seperti...
Haneda, kenapa kau tak pernah enjoy?
Kenapa kau berlatihKendo?
Dia sungguh mengabaikanku.
Kau sedang menulis lirik?
Lirik apa?
Apa ini?
"Hati di dalam hati".
Kau jadi aneh.
Tak masuk akal.
Kembalikan. / Tunggu dulu.
Ishizaki. / Tunggu.
Cukup sudah lirikmu itu.
Tulisan cakar ayam itu tak masuk akal.
Diterjemahkan oleh Kapten Kooky IDFL™ SubsCrew
Hei.
Kau putra Yatabe.
Kau tahu lima dosa?
Lima dosa?
Membunuh, mencuri,
berzinah, tipu muslihat, dan alkohol.
Membunuh, mencuri,
berzinah, tipu muslihat, dan alkohol.
Kalian, keluarga Yatabe...
...terjerumus dalam lima dosa itu.
Kau benar.
Yang paling tak diampuni adalah...
...membunuh ayahnya sendiri.
Itu yang tak terampuni.
Serang!
Perut!
Tusuk tenggorokan!
Kakak senior.
Boleh kita berduel?
Apa maksudmu?
Tanpa pelindung pasti lebih serius.
Kendo adalah olahraga kompetitif.
Kendo bukan untuk membunuh.
Silahkan serang aku.
Lupakan. / Serang!
Perut!
Haneda. / Tusukan ke tenggorokan.
Tenang dulu.
Hei.
Sudah cukup!
Aku ingin latihan serius!
Lakukan dengan sepenuh hati!
Kau perlu sesuatu yang lebih!
Ada apa ini?
Ada apa?
Latihan.
Kau ingin mengalahkan Kengo?
Hal yang kau miliki,
masih ada empat “penderitaan” dalam dirimu.
Sama seperti Kengo.
Dengan demikian kau takkan pernah menang.
Tapi aku berhasil memukul wajahnya.
Empat “penderitaan”, kau paham?
Sako.
Terhenyak, rasa takut,
keraguan, kebingungan.
Nak.
Ketika menyabet wajah Kengo,
apa yang ada dalam pikiranmu?
Tak ada hal istimewa.
Itulah kenapa kau mengenainya.
Namun sekarang kau takut padanya.
Kau takkan punya kesempatan.
Kalau sudah paham, pakailah pelindung kepala.
Pasang lagi.
Dia memukulnya dengan Bokuto.
Tanpa pelindung.
Duel kematian.
Itu dia!
Guru Yatabe, Si Setan Pedang.
Si Pedang Bayangan. / Apa maumu?
Ayah dan anak.
Tn. Yatabe, Apa yang kau lalukan kemarin?
Minum².
Kau minum²?
Sudah berhenti.
Kita minum²... / Bung.
Kau tak boleh minum di sini.
Kau suka rutinitas ini?
Apa?
Kau tak tahu, orang dewasa punya banyak cara untuk bersenang².
Dengar dulu.
Sadarlah.
Kembalilah ke dojo Kendo.
Apa?
Tidakkah kau ingin memulai lagi?
Kau terlalu yakin, Nak.
Kau bunuh ayahmu sendiri?
Aku juga punya pengalaman mengerikan.
Terseret banjir.
Sewaktu badai, dalam hujan deras.
Bendungan jebol.
Kumohon ajari aku.
Bagaimana cara membunuh ayahmu.
Kumohon ajari aku.
Begitulah caranya.
Berhentilah melatih murid sekolah.
Aku melarangmu mengajari mereka.
Apa yang kuajarkan padamu.
Kawakami sekarang instruktur Kendo Kepolisian.
Mereka memilih si idiot itu.
Kepolisian memang payah.
Terimakasih atas kebaikannya. / Silahkan kemari lagi.
Kami pasti kembali. / Terima kasih banyak.
Tn. Yatabe, yakin tak mau minum?
Tadi pagi...
...murid ayahku datang ke rumah sakit menemuinya.
Satu demi satu...
...memberi hormat padanya.
Ayahku dalam kondisi seperti itu,
mereka membungkuk memberi rasa hormat.
Banyak sekali orang menghormatinya.
Benar.
Katakan padaku.
Apa kau pernah jadi kekasih ayahku?
Kau dengar?
Kau tahu.
Aku hanya datang melihatmu dalam pertandingan Kendo.
Ayahku,
dia pria baik?
Ya.
Sungguh?
Dulu dia pernah bilang,
"Satu hari kelak aku bisa terbunuh".
Aku sungguh tak bisa apa².
Dia memang seperti itu.
Apa kau seperti dia juga?
Hentikan!
Jangan!
Hentikan!
Maaf.
Aku sungguh mohon maaf.
Tn. Yatabe, kau tak perlu bermain² seperti ini padaku.
Seorang wanita tua sepertiku.
Kau benar² mirip dirinya.
Kau rindu ayahmu?
Kau tak tahu, ‘kan?
Kau membenci atau menyayanginya?
Sekarang sekitar 8 di Numazu, Shizuoka. (Badai dan hujan).
Daerah tersebut dihantam angin dan hujan lebat.
Kami memperkirakan 60m/dtk kecepatan angin di Jepang Timur.
Menurut Biro Meteorologi...
...puncaknya sekitar pukul 11...
...di Izu Peninsula...
...a ²0km/jam kecepatan angin di timur laut.
Tekanan atosfir mencapai 950 hectopascals.
Kecepatan angin maksimum bisa sampai 45m/dtk.
Tidurlah.
Pelajari Kendo dengan sikap disiplin yang benar,
akan melatih pikiran dan tubuhmu dengan baik.
Kendo memiliki keistimewaan tentang nilai²...
menghargai, keyakinan, kebaikan, kehormatan,
... dan ketulusan terhadap usaha mengembangkan pikiran serta tubuh.
Kita harus mencintai masyarakat...
...dan berpegang teguh pada perdamaian, serta kesejahteraan umat.
Saling menghargai? Kehormatan?
Ingatlah...
Aku bisa membunuhmu kapan saja.
Kumohon bertarunglah denganku.
Memangnya aneh?
Apa?
Pikiranmu ngawur.
Jika demikian.
Ambilah Bokuto-nya.
Kau sedang bersenang².
Kau sungguh ingin mati?
Ketika aku terseret banjir...
...tenggelam di malam hari.
Gemerlap cahaya terlihat begitu indah.
Kupikir sudah ada di surga.
Berisik, kubunuh kau.
Cepat bunuh aku.
Sakit!
Aku datang.
Aku datang.
Ini baru permulaan.
Kena kau!
Aku masih hidup.
Bunuh aku.
Bunuh.
Pasti senang sekali membunuhku.
Pegang dengan kedua tangan! Tusuk ke depan!
Ayah.
Ambil Bokuto-nya.
Ayah.
Ambil Bokuto-nya.
Kalian takkan bisa menghentikanku.
Akan kulawan semua.
Kau...
...begitu mirip ayahmu.
Hingga tak pernah mengakui dirinya sedang terluka.
Dia menyesatkan semangat Kendo.
Kau lari dari ayahmu.
Diam.
Kau sama persis. / Diam.
Diam.
Ada apa dengan anak itu?
Anak itu?
Dia menantang duel?
Dia ingin...
Bajingan!
Lepaskan!
Biar kubunuh dia, kubunuh dia!
Kau ingat?
Nak.
Perlihatkan lukamu.
Jangan pura² sedang mabuk seolah kau lupa.
Lihat baik².
Lihat baik²!
Kau ingat?
Yang kau tusuk tadi malam bukanlah ayahmu.
Tapi anak ini!
Kau coba membunuhnya.
Mohon maaf.
Maaf.
Maaf.
Kemarilah.
Atas sesuatu yang telah kau akibatkan pada anak itu...
Kau harus menanggungnya.
Untuk Kanon Dewi Pengasih sang penyelamat dari mara bahaya.
Guru Mitsumura.
Anda sudah sangat membantu permasalahan ayahku.
Santai saja.
49 hari telah berlalu.
Kau sudah lebih baikan, bukan?
Ya.
Ikatan ayah dan anak memang tak bisa diduga.
Bahkan tidak untuk keinginan masing².
Kau sebaiknya baca ini.
Ini surat yang ditulis ayahmu padaku.
Guru Mitsumura...
Kau telah memberikan anugerah perhatian yang sangat besar bagiku.
Ada sesuatu yang ingin kuungkapkan.
Mungkin terdengar tak lazim.
Tapi aku tak bisa lepas dari kekejaman pedang ini.
Aku sangat bersyukur kau telah jadi jembatan kesenjangan antara aku dan anakku.
Semenjak kematian istriku Shizuko,
rapuhnya kebaikanku telah membuatku...
...tak bisa menjaga hati Kengo.
Dan pertentangan antara kami...
...menjadi semakin tajam dan penuh kejahatan.
Oleh karena itu,
duel pedang antar kami tak mungkin terhindarkan...
...seperti yang sudah diramalkan.
Jika memang terjadi,
Kengo pasti hidup sendiri dan tentu membutuhkan perhatianmu.
Dengan rasa terimakasih terlebih dahulu kuucapkan,
dia dengan segala kebodohan dan kelemahannya itu,
namun sebenarnya sangat dekat di hati Shizuko's dan diriku.
Andai dia harus membunuhku,
di luar rasa benci,
sesederahana itulah dia menyimpan derita dalam dirinya,
dan dengan membunuh, artinya sama bodohnya sepertiku.
Aku mendoakan hal ini setiap hari.
Ayahku membuatku...
...agar membunuhnya?
Kita tak pernah tahu.
Jangan salahkan dirimu.
Jangan salahkan dirimu.
Dengan cara ini,
kau telah membebaskan...
...jiwa ayahmu.
Ya.
Ya.
Selamat siang
Tunggu.
Tunggu.
Tolong buang sampahnya.
Siap.
Semoga harimu menyenangkan.
Kudengar kau tak ke kuil.
Tidakkah kau membutuhkannya?
Biar kulihat posisi kuda²mu lagi.
Apa kepalamu lebih cepat terpukul?
Atau tenggorokanku yang lebih cepat tertusuk?
Bukankah kau ingin mencobanya?
Diterjemahkan oleh Kapten Kooky IDFL™ SubsCrew
Kunjungi http://idfl.me
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.