All language subtitles for Tanduk.Setan.2024.NF.RTL.SUB.INDONESIA

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2

Maaf terlambat.

Baru bantu lahiran di kampung sebelah.

Seperti janjian, Sum, lahirannya.

Tidak, Bi. Hanya kebetulan saja.

Sumirah mulasnya sudah dari subuh?

Apa dari sore?

Dia mulas lagi, hilang lagi.

Sudah, tidak masalah.

Namanya juga anak pertama, masih cari jalan.

Yati, minggir sebentar. Biar aku lihat dulu.

Ini sebentar lagi lahirannya.

Tapi jangan di sini lahirannya. Pengap.

- Panas. - Di mana, Bi?

- Kasihan. - Cepat, Jaya!

Di ruang tengah saja lahirannya.

Tolong gelar kasurnya sekarang.

Sebentar, Mak!

Tikarnya digelar dulu!

Kasurnya dikasih seprai.

Itu kursinya masih di sana. Pindahkan!

Taruh di mana, Mak?

Itu! Taruh di pojok sana.

Ada kucing.

Sudah, Mak!

- Sudah. - Ya.

Pelan-pelan.

Badannya diangkat, Jay. Sedikit lagi.

Nah. Ke kiri sedikit.

Enaknya bagaimana, Nak?

Sumirah kepanasan, tolong ambil kipas angin.

Maaf, Bi. Geser sedikit. Stopkontaknya ada di sana.

Itu.

- Awas kena anakku! - Ya.

Jay, sapu lidinya mana?

Sapu lidi.

Ini simpan di mana, Mak?

Di bawah bantal.

Sudah, kau tunggu di luar.

- Ya, Mak. - Doakan istrimu lahirannya cepat.

- Sudah, sana! - Ya, Mak.

Halo.

Suami Sumirah, anakmu laki-laki atau perempuan?

Maaf, siapa ya?

Ini Uwak Irah.

Masa kau tidak tahu?

Maaf, aku lupa.

Kau tidak tahu? Aku ini kakak dari mertuamu.

Tidak tahu, Mak. Maaf, siapa?

- Oh… Yang kasih amplop tebal itu, ya? - Ya.

Uwakmu ini orang kaya.

- Ya. - Suruh masuk, Jay!

Ya, silakan masuk.

Aku kira tidak akan datang.

Lama tidak bertemu.

Sudah izin dari Jakarta ke Serang

mau jenguk anak dan istrimu.

Ini.

- Apa ini? - Sedikit rezeki untuk anak dan istrimu.

- Terima kasih. - Ya.

Lalu, bagaimana mulasnya? Sudah lahir?

Baru mulas-mulas, tapi belum lahir.

Dari tadi subuh masih mulas, ya?

- Kasihan Sumirah. - Ya, mulas-mulas saja.

Orang tuamu di mana? Sudah datang?

Oh, datang. Masih di jalan. Pasti datang.

Sebentar lagi juga datang.

Benar sebentar lagi?

Ya, masa anaknya sendiri…

Halo, Bibi.

Hei, Suami Sumirah.

- Ya, Bi? - Anakmu laki-laki atau perempuan?

Belum lahir, Bi.

Sudah berapa lama?

Dari kemarin.

Bagaimana kondisinya?

Tidak tahu, Bi. Bingung.

Pantas kau di luar saja.

- Ya, Bi. - Ada siapa di dalam?

Ada Uwak Sarnah.

Ya sudah, Bibi titip ini saja.

Ambillah. Titip salam untuk Sumirah.

Semoga selamat. Kau juga yang sabar.

Begini, kau sebentar lagi menjadi bapak.

Sudah, hal-hal yang tidak baik harus ditinggalkan.

Ya sudah, Bibi pamit.

- Masuk dulu, Bi. - Sudah, terima kasih.

Jangan berisik! Kasihan Sumirah.

Bapaknya Sumirah belum 40 hari meninggal.

- Benar? - Ya.

- Aku tidak tahu. - Kalau aku ingat.

Pantas kau kasihan sama Sumirah.

Coba nikahnya sama kau. Sumirah pasti bahagia, ya?

- Teman-Teman. - Ya?

Maaf, adanya air putih.

Tidak apa-apa. Tidak usah repot.

Silakan minum.

Kau akan punya anak, jadi, harus hemat.

Nanti kalau akikah, anak perempuan kambingnya satu.

Anak laki-laki, dua.

Ya, yang penting lahir dulu, jangan pikirkan akikah.

- Tidak usah buru-buru. - Ya.

Tapi memangnya harga kambing berapa?

Kambing?

Seekornya tiga jutaan.

Cuma harganya lagi naik.

Kata bapakku,

Ketika anak sudah lahir, langsung akikah. Bagus.

Itu kalau sudah ada uangnya.

Doakan saja, semoga ada rezeki.

Sebagai teman sudah pasti mendoakan.

Kau tidak mau bekerja bersama kami di pabrik?

Ya…

Bagaimana?

Kalian badannya besar dan kuat.

Badanku kecil, bagaimana bisa diterima pabrik?

Jangan seperti itu.

Yang penting daftar saja dulu.

Kalau sudah daftar, enak. Rezeki mana ada yang tahu.

Lagi pula, di pabrik banyak yang badannya sepertimu.

Santai saja. Tidak masalah.

Sungguh?

Diberi tahu, tapi tidak percaya.

Kau punya ijazah SMA.

Masa mau ikut Bu Haji jualan ayam terus.

Kau harus punya pekerjaan tetap, jangan serabutan.

Demi anak dan istri.

Sebelah kanan! Minggir!

- Kau maju! - Ini sedang maju.

Jangan kencang-kencang.

- Sebentar lagi subuh. - Apa?

- Santai saja. - Lanjut besok lagi saja.

- Buru-buru sekali? - Tidak enak sama istrimu.

Nanti lahiran, jadi, risi.

- Masalahnya, libur kerja hanya sehari. - Ya, sehari saja.

Besok masih bisa dilanjut.

- Ya, yang penting kabari. - Lanjut sampai subuh saja.

Yang penting, kalau sudah lahir, kabari kami.

- Kalian mau pulang? - Ya.

- Mau salat subuh. - Tebakanku, anakmu itu kembar.

- Sungguh? - Jadi, lahirannya lama.

- Doakan saja. - Ya sudah, begitu saja.

- Sehat, ya. Selamat. - Terima kasih, ya.

- Terima kasih. - Semoga sehat selalu.

Hati-hati, ya! Terima kasih!

Sebentar lagi.

- Bangun, Jay! - Astaghfirullahaladzim!

Kau membuat Mak kaget saja!

- Bangun! Temani istrimu! - Sudah lahiran, Mak?

Belum! Kau tanya lahiran terus.

Cepat masuk. Salat dulu.

Diam saja.

Anaknya ingin dielus-elus sama bapaknya.

Bagaimana mengelusnya?

Seperti ini.

Bajunya cukup, Bi?

Cukup. Badanku tidak beda jauh denganmu.

Apa, Nak?

Mak tidak dengar?

Dengar apa, Nak?

Kau seperti orang bingung.

Jabang bayi, cepat keluar.

Kasihan ibumu, sudah kelelahan.

Apa?

Bibi dengar tidak?

Dengar apa?

Seperti ada suara burung gagak.

- Tidak ada suara. - Suara apa, Nak?

Tidak ada.

- Itu, Mak, seperti suara burung. - Sudah. Tidak ada suara apa-apa.

- Ada apa, Bi? - Tidak ada apa-apa.

Air panasnya sudah habis, ya?

Masih ada di dapur. Aku masak dua panci.

Bisa tolong ambilkan?

Jay! Bangun, Jay!

Tolong ambilkan air di dapur untuk Bi Dar.

Suamimu tidur terus.

Mungkin lelah, Mak.

Sudah.

Daripada terlalu lama, biar aku ambil sendiri airnya.

Maaf, ya. Maklum, Bi.

Sudah lahiran, Mak?

Itu, lihat saja sendiri.

Belum lahiran, Sayang?

Belum, Kang.

Minum.

Bismillah dulu.

Sudah cukup.

Yati, cepat ambilkan kain warna gelap. Ayo, cepat.

Ini juga. Tambah air panasnya.

Kau juga, Jaya. Cepat tutup semua tirainya.

Cepat, Jaya!

Bukan begini, harus warna gelap!

Jaya, periksa kamar mandi.

Jaya, tutup sekalian gordennya.

Sudah, kau tunggu di luar!

Tahan. Embuskan.

- Sudah lahir, Mak? - Belum. Kau pertanyaannya itu terus.

Cepat cari mobil.

- Cari mobil? - Ya, Sumirah mau dibawa ke rumah sakit.

Memang kenapa, Mak?

Nanti Mak ceritakan. Sekarang, cepat cari mobil dulu.

Cari mobil di mana, Mak?

Terserah kau mau cari mobil di mana. Cepat, Jaya!

- Di mana mobilnya, Jay? - Itu mobilnya, Mak.

- Di mana? - Itu.

Kau ini! Masa pinjam mobil seperti itu?

Seperti kandang ayam.

Mak dan Bi Dar duduk di mana?

Ya, bagaimana? Dapatnya hanya mobil ini.

Katanya mau pinjam mobil kakakmu?

Maksudnya Uwak Sarnah?

Mobilnya sudah dijual.

Bohong. Siapa bilang dijual? Mobilnya disita pihak agen.

Dijual, Mak.

Ditarik agen, Jaya. Soalnya tidak bayar cicilan.

- Semalam aku lihat perhiasannya banyak. - Hei, kau ini.

- Susah sekali dikasih tahu. - Hei, sudah!

- Sudah! Nanti lahirannya makin susah. - Ya, Bi.

- Hati-hati. - Harus kubawa ke mana, Bi?

Langsung ke rumah sakit.

Ke arah kota.

Rumah sakit mana?

Ini STNK-nya. Kau dipanggil Bu Haji malah jalan terus.

- Ya sudah. - Terima kasih, ya.

Ya Allah, kau dibawa ke rumah sakit?

- Nanti perutmu disobek, Sum. - Kau bicara apa, Narti!

- Kau bicara apa? - Sudah.

Katanya lahiran di rumah sakit, perutnya disobek.

- Sudah. Tenang, Semuanya. - Sabar, Nak. Istigfar.

Hei, Berengsek! Minggir!

Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2

Maaf, Pak. Suruh minggir anjingnya.

Maaf, Pak.

Kenapa pakai mogok?

Itu orang yang tadi, bukan?

Orang yang tadi.

Orang tadi yang mana?

Lihat, dia datang ke sini.

Ayo.

Cepat, Kang Jaya!

- Cepat! - Kenapa jadi panik, Nong?

Lihat, 'kan? Tidak apa-apa. Ngawur.

- Mau ke mana? - Mau lewat.

- Lewat kiri. - Mau ke kota.

Sebelah kiri, Pak. Sedang ada resepsi pernikahan.

Astaga. Aduh.

Sepertinya ada kucing.

Makanya hati-hati!

- Aku periksa dulu. - Aduh.

Tadi seperti menabrak kucing, tapi kenapa tidak ada ya?

Jalan, Kang.

Sudah tidak sakit.

Tidak sakit bagaimana maksudnya?

Perutnya sudah tidak sakit.

Oh, ya. Kata Bi Dar, bayinya senang main-main.

Dia suka bermain. Mungkin lagi istirahat. Tidak apa-apa, jangan khawatir.

Jangan khawatir. Kita lanjutkan perjalanan, ya?

- Ya. - Mari kita pergi.

Kang Jaya? Sudah sampai, ya?

Kenapa kau kaget?

Aku takut, Kang.

Takut kenapa?

Aku takut perutku disobek.

Sudah, jangan dengar omongan Narti.

Tenang saja, ya.

Jangan dipikirkan.

Tapi firasatku tidak enak, Kang.

Ditanya itu.

Apa Kang Jay tahu kenapa aku dibawa ke rumah sakit?

Aku tidak tahu.

Kenapa bisa tidak tahu, Kang?

Kupikir karena kita disuruh oleh Mak dan Bi Darisah.

Bagaimana Kakang ini?

Ya, apa lagi, Nong?

Kang Jay tidak senang, ya, anak kita akan lahir?

Ya pasti senang. Masa tidak senang?

Kenapa cuma begitu? Tidak kelihatan.

Lalu, Akang harus bagaimana?

Kalau dulu…

Kalau kau belum siap menikahiku…

Kenapa waktu itu…

Kenapa waktu itu…

melarang aku menggugurkan kandungan ini?

Hei, sudah. Jangan bicara sembarangan.

Pokoknya, Kang Jaya janji

tanggung jawab sampai bayinya lahir, ya.

Sudah, jangan bicara begitu.

kalau anak ini sudah lahir, aku bagaimana?

Ke sini, Kang!

MAK, SUDAH SAMPAI DI RUMAH SAKIT

Sudah, Mak. Halo.

Ya, tadi mau kabari, tapi Mak telepon duluan.

Ya, sekarang sudah di ruang ber…

Ayo. Mau ke mana? Aku antar.

Tidak, aku tidak panggil.

Tidak memanggil bagaimana?

Tadi melambai-lambai. Bagaimana ini?

Ya, tidak panggil. Aku cari sinyal.

Cari sinyal jangan di sini.

Soalnya di dalam tidak ada sinyal.

Memang tidak akan ada sinyal di dalam.

Memangnya sedang apa di sini?

- Yang benar? - Ya, Kang. Permisi.

Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2

Sadar, Nong! Sadar.

Nong, bangun!

Nong, sadar.

Bangun, Nong!

Maafkan aku, Sumirah.

Sayangku, sadar.

Jangan tinggalkan aku.

Nong, sadar!

Nong, bangun!

Nong, bangun!

Bangun, Nong.

Nong, sadar, Nong.

Ayo.

Kau.

Kau!

Kemarilah kau.

Urusanmu belum selesai.

Urusanmu belum selesai.

Tinggalkan saja dia di sini.

Sadar.

Tidak akan ada jalan keluar,

kecuali kau serahkan anak harammu.

Cepat serahkan, Jaya!

Jangan dengarkan mereka, Jaya!

Lebih baik serahkan ke kami saja.

Kalau bukan karena kami,

istri dan anakmu sudah mati dari kemarin, Jaya.

Jangan ganggu kami!

Kami selalu ada di sekitar kalian.

Jangan ganggu kami!

Kami membisikkan…

Jangan ganggu kami!

…dan mendengarkan isi hati kalian

siang dan malam.

- Menyerahlah. - Bangun.

Selamatkan aku dan istriku, Ya Allah.

Aku angkat.

Pelan-pelan.

Cepat, Narti.

Pelan-pelan!

Pelan-pelan.

Buka bagian belakangnya. Dia harus melahirkan.

Bayinya sudah mau lahir.

Bagaimana cara membukanya? Masih ditutup.

Angkat dia. Bereskan dulu.

Kepalanya dulu.

Kepalanya dulu.

Kepalanya dulu.

Kepalanya dulu.

Angkat tangannya.

Jaya, apa yang terjadi?

- Disanggah kepalanya. - Kepalanya. Tolong.

Yang benar!

Ambilkan kain.

- Kain! - Kain.

Sudah.

Nong, istigfar. Lihat Mak, Nong.

Sadar, Sum.

Buka sedikit kakinya.

Sebentar lagi, Sum! Sebentar lagi.

Sudah, Bu?

- Kang Jaya. - Begini amat nasibmu, Sum.

Mana anakku, Mak?

- Anakku mana, Mak? - Begini amat.

Di mana, Mak? Aku mau lihat.

Di mana anak kita, Kang?

Ingin lihat, Kang.

- Ingin lihat, Mak. - Nanti, ya.

Anak cantik.

Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2

Terima kasih.

Sama-sama.

Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.