Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
- Mak! - Ya, Jay?
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
- Maaf terlambat. - Ya, Bi.
Baru bantu lahiran di kampung sebelah.
Seperti janjian, Sum, lahirannya.
Tidak, Bi. Hanya kebetulan saja.
Oh.
- Yati… - Ya, Bi?
…Sumirah mulasnya sudah dari subuh?
- Ya, Bi. - Apa dari sore?
Dia mulas lagi, hilang lagi. Ya, 'kan, Nong?
Sudah, tidak masalah.
Namanya juga anak pertama, masih cari jalan.
Yati, minggir sebentar. Biar aku lihat dulu.
Ini sebentar lagi lahirannya.
Tapi jangan di sini lahirannya. Pengap.
- Panas. - Di mana, Bi?
- Kasihan. - Cepat, Jaya!
Di ruang tengah saja lahirannya.
Tolong gelar kasurnya sekarang.
- Jay! - Sebentar, Mak!
Tikarnya digelar dulu!
Aduh…
Kasurnya dikasih seprai.
Itu kursinya masih di sana. Pindahkan!
Taruh di mana, Mak?
Itu! Taruh di pojok sana.
Ada kucing.
Sudah, Mak!
- Sudah. - Ya.
Awas, pelan-pelan.
Awas.
Awas.
Awas, pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Hati-hati.
Awas.
Badannya diangkat, Jay. Sedikit lagi.
Nah. Ke kiri sedikit.
Enaknya bagaimana, Nak?
Hei, Jay.
Sumirah kepanasan, tolong ambil kipas angin.
Maaf, Bi. Geser sedikit. Stopkontaknya ada di sana.
Itu.
- Awas kena anakku! - Ya.
Jay, sapu lidinya mana?
Sapu lidi.
Ini simpan di mana, Mak?
Di bawah bantal.
Ya.
Sudah, kau tunggu di luar.
- Ya, Mak. - Doakan istrimu lahirannya cepat.
- Sudah, sana! - Ya, Mak.
Halo.
Suami Sumirah, anakmu laki-laki atau perempuan?
Maaf, siapa ya?
Ini Uwak Irah.
Uwak Irah?
Uwak Irah siapa?
Masa kau tidak tahu?
Siapa, ya?
Maaf, aku lupa.
Masyaallah.
Kau tidak tahu? Aku ini kakak dari mertuamu.
Jay!
- Ya, Mak? - Siapa di luar?
Tidak tahu, Mak. Maaf, siapa?
Uwak.
Uwak Sarnah?
- Oh… Yang kasih amplop tebal itu, ya? - Ya.
Oh, ya.
Uwakmu ini orang kaya.
- Siapa? - Uwak Sarnah.
- Ya. - Suruh masuk, Jay!
Ya, silakan masuk.
- Asalamualaikum. - Asalamualaikum, Jay.
Alaikum salam.
Aku kira tidak akan datang.
Lama tidak bertemu.
Sudah izin dari Jakarta ke Serang
mau jenguk anak dan istrimu.
Ini.
- Apa ini? - Sedikit rezeki untuk anak dan istrimu.
- Terima kasih. - Ya.
Lalu, bagaimana mulasnya? Sudah lahir?
Baru mulas-mulas, tapi belum lahir.
Dari tadi subuh masih mulas, ya?
- Kasihan Sumirah. - Ya, mulas-mulas saja.
Orang tuamu di mana? Sudah datang?
Oh, datang. Masih di jalan. Pasti datang.
Sebentar lagi juga datang.
Benar sebentar lagi?
Ya, masa anaknya sendiri…
Asalamualaikum!
- Alaikum salam. - Bi.
Halo, Bibi.
Hei, Suami Sumirah.
- Ya, Bi? - Anakmu laki-laki atau perempuan?
Belum lahir, Bi.
Sudah berapa lama?
Dari kemarin.
Bagaimana kondisinya?
Tidak tahu, Bi. Bingung.
Pantas kau di luar saja.
- Ya, Bi. - Ada siapa di dalam?
Ada Uwak Sarnah.
Oh.
- Uwak Sarnah? - Ya, Bi.
Ya sudah, Bibi titip ini saja.
Oh, ya, Bi.
Ambillah. Titip salam untuk Sumirah.
Ya.
Semoga selamat. Kau juga yang sabar.
Begini, kau sebentar lagi menjadi bapak.
Sudah, hal-hal yang tidak baik harus ditinggalkan.
Jiwa ragamu sekarang sudah milik keluarga.
Ya sudah, Bibi pamit.
- Masuk dulu, Bi. - Sudah, terima kasih.
- Terima kasih, Bi. - Asalamualaikum.
- Alaikum salam. - Hati-hati, Bi.
- Hati-hati! - Jaya!
Jangan berisik! Kasihan Sumirah.
- Sebentar, ya. - Ya.
Hei.
Bapaknya Sumirah belum 40 hari meninggal.
- Meninggal? - Ya.
- Benar? - Ya.
- Aku tidak tahu. - Kalau aku ingat.
Oh…
Pantas kau kasihan sama Sumirah.
Coba nikahnya sama kau. Sumirah pasti bahagia, ya?
- Teman-Teman. - Ya?
Maaf, adanya air putih.
Tidak apa-apa. Tidak usah repot.
Silakan minum.
Kau akan punya anak, jadi, harus hemat.
Nanti kalau akikah, anak perempuan kambingnya satu.
Anak laki-laki, dua.
Oh.
Ya, yang penting lahir dulu, jangan pikirkan akikah.
- Tidak usah buru-buru. - Ya.
Tapi memangnya harga kambing berapa?
Kambing?
Seekornya tiga jutaan.
Cuma harganya lagi naik.
- Naik, ya? - Ya.
Kata bapakku,
lebih cepat lebih baik.
Ketika anak sudah lahir, langsung akikah. Bagus.
Lebih cepat lebih baik.
Itu kalau sudah ada uangnya.
Doakan saja, semoga ada rezeki.
Insyaallah.
Sebagai teman sudah pasti mendoakan.
Kau tidak mau bekerja bersama kami di pabrik?
Ya…
Bagaimana?
Kalian badannya besar dan kuat.
Badanku kecil, bagaimana bisa diterima pabrik?
Jangan seperti itu.
Yang penting daftar saja dulu.
Kalau sudah daftar, enak. Rezeki mana ada yang tahu.
Lagi pula, di pabrik banyak yang badannya sepertimu.
Santai saja. Tidak masalah.
Sungguh?
Diberi tahu, tapi tidak percaya.
Kau punya ijazah SMA.
Masa mau ikut Bu Haji jualan ayam terus.
Kau harus punya pekerjaan tetap, jangan serabutan.
Demi anak dan istri.
Sebelah kanan! Minggir!
- Minggir. - Apa? Ini, lihat.
- Kau maju! - Ini sedang maju.
Itu dia!
Hei.
Jangan kencang-kencang.
- Ya. - Lanjut.
- Sebentar lagi subuh. - Apa?
- Santai saja. - Lanjut besok lagi saja.
- Buru-buru sekali? - Tidak enak sama istrimu.
Nanti lahiran, jadi, risi.
- Masalahnya, libur kerja hanya sehari. - Ya, sehari saja.
Besok masih bisa dilanjut.
- Ya, yang penting kabari. - Lanjut sampai subuh saja.
Yang penting, kalau sudah lahir, kabari kami.
- Kalian mau pulang? - Ya.
- Mau salat subuh. - Tebakanku, anakmu itu kembar.
- Sungguh? - Jadi, lahirannya lama.
- Doakan saja. - Ya sudah, begitu saja.
- Sehat, ya. Selamat. - Terima kasih, ya.
- Terima kasih. - Semoga sehat selalu.
Asalamualaikum.
- Hati-hati. - Ya.
Alaikum salam.
Hati-hati, ya! Terima kasih!
Sebentar lagi.
Jay!
Jaya! Jay!
- Bangun, Jay! - Astaghfirullahaladzim!
Kau membuat Mak kaget saja!
- Bangun! Temani istrimu! - Sudah lahiran, Mak?
Belum! Kau tanya lahiran terus.
Cepat masuk. Salat dulu.
Ya, Mak.
- Kang. - Ya?
Diam saja.
Anaknya ingin dielus-elus sama bapaknya.
Bagaimana mengelusnya?
Seperti ini.
Itu.
Begini saja.
Bi.
Bajunya cukup, Bi?
Cukup. Badanku tidak beda jauh denganmu.
Ya Allah.
Mak.
Apa, Nak?
Mak tidak dengar?
Dengar apa, Nak?
Kau seperti orang bingung.
Jabang bayi, cepat keluar.
Kasihan ibumu, sudah kelelahan.
Bi.
Apa?
Bibi dengar tidak?
Dengar apa?
Seperti ada suara burung gagak.
- Tidak ada suara. - Suara apa, Nak?
Tidak ada.
- Itu, Mak, seperti suara burung. - Sudah. Tidak ada suara apa-apa.
- Ada apa, Bi? - Tidak ada apa-apa.
Air panasnya sudah habis, ya?
Masih ada di dapur. Aku masak dua panci.
Bisa tolong ambilkan?
Jay! Bangun, Jay!
Tolong ambilkan air di dapur untuk Bi Dar.
Suamimu tidur terus.
Mungkin lelah, Mak.
Sudah.
Daripada terlalu lama, biar aku ambil sendiri airnya.
- Ya Allah. - Maaf, ya. Maklum, Bi.
Astaghfirullahaladzim.
Jaya!
Jaya!
Bangun!
Sudah lahiran, Mak?
Itu, lihat saja sendiri.
Belum lahiran, Sayang?
Belum, Kang.
Diangkat Sumirahnya.
Pelan-pelan.
Bismillah.
Minum.
Bismillah dulu.
Sudah cukup.
Yati, cepat ambilkan kain warna gelap. Ayo, cepat.
Ini juga. Tambah air panasnya.
Kau juga, Jaya. Cepat tutup semua tirainya.
Cepat, Jaya!
- Aduh, Bi. - Bukan begini, harus warna gelap!
Bi, mulas, Bi. Aduh.
Jaya, periksa kamar mandi.
- Tutup pintunya yang rapat. - Bi.
Jaya, tutup sekalian gordennya.
- Sudah, kau tunggu di luar! - Aduh, Bi, mulas.
- Ya, ayo. - Mulas, Mak.
Ambil napas.
- Tahan. Embuskan. - Istigfar.
Ayo.
Ya, terus.
Coba terus. Coba lagi.
Ayo! Kuat!
Kuat!
Yang kuat ya, Nak.
- Sudah lahir, Mak? - Belum. Kau pertanyaannya itu terus.
Cepat cari mobil.
- Cari mobil? - Ya, Sumirah mau dibawa ke rumah sakit.
Memang kenapa, Mak?
Nanti Mak ceritakan. Sekarang, cepat cari mobil dulu.
Cari mobil di mana, Mak?
Terserah kau mau cari mobil di mana. Cepat, Jaya!
Aku pulang, Mak.
Awas. Pelan-pelan, Nak.
Awas.
- Di mana mobilnya, Jay? - Itu mobilnya, Mak.
- Di mana? - Itu.
Astaghfirullahaladzim, Jaya.
Kau ini! Masa pinjam mobil seperti itu?
Seperti kandang ayam.
Mak dan Bi Dar duduk di mana?
Ya, bagaimana? Dapatnya hanya mobil ini.
Katanya mau pinjam mobil kakakmu?
Maksudnya Uwak Sarnah?
- Mobilnya sudah dijual. - Lah…
Bohong. Siapa bilang dijual? Mobilnya disita pihak agen.
Dijual, Mak.
Ditarik agen, Jaya. Soalnya tidak bayar cicilan.
- Semalam aku lihat perhiasannya banyak. - Hei, kau ini.
- Susah sekali dikasih tahu. - Hei, sudah! Ya Allah.
- Sudah! Nanti lahirannya makin susah. - Ya, Bi.
- Hati-hati. - Harus kubawa ke mana, Bi?
Langsung ke rumah sakit.
- Astaghfirullahaladzim, Jaya. - Ke arah kota.
- Rumah sakit mana? - Jay!
Ini STNK-nya. Kau dipanggil Bu Haji malah jalan terus.
Aku buru-buru.
- Ya sudah. - Terima kasih, ya.
- Sabar, Nak. Istigfar. - Ya, Teh.
Ya Allah, kau dibawa ke rumah sakit?
Istigfar, Nak.
- Nanti perutmu disobek, Sum. - Kau bicara apa, Narti!
- Kau bicara apa? - Sudah.
Katanya lahiran di rumah sakit, perutnya disobek.
- Sudah. Tenang, Semuanya. - Sabar, Nak. Istigfar.
Jaya, ayo cepat.
- Ayo, Bi, cepat. Kita cari mobil juga. - Ya.
Hei! Minggir!
Hei, Berengsek! Minggir!
Maaf, Pak. Suruh minggir anjingnya.
Maaf, Pak.
Kenapa pakai mogok?
- Kang Jaya. - Apa, Nong?
Itu orang yang tadi, bukan?
Orang yang tadi.
Orang tadi yang mana?
Lihat, dia datang ke sini.
Ayo.
Cepat, Kang Jaya!
- Cepat! - Kenapa jadi panik, Nong?
Tutup kacanya!
Tutup kacanya, Kang Jaya!
Lihat, 'kan? Tidak apa-apa. Ngawur.
Maaf, Pak.
- Mau ke mana? - Mau lewat.
- Lewat kiri. - Mau ke kota.
Sebelah kiri, Pak. Sedang ada resepsi pernikahan.
Oh…
Ke kota bisa lewat kiri?
- Bisa. - Oh, ya. Terima kasih, Pak.
Ya.
Astaga. Aduh.
Aduh.
Sepertinya ada kucing.
Makanya hati-hati!
- Aku periksa dulu. - Aduh.
Aduh.
Nong?
Nong!
Nong! Bangun.
Aduh.
- Hei. Kenapa, Nong? - Aduh.
Sakit, Kang.
Tadi seperti menabrak kucing, tapi kenapa tidak ada ya?
Ayo cepat, Kang.
- Jalan, Kang. - Ya.
- Kang. - Ya, Nong?
Ada apa, Nong?
Sudah tidak sakit.
Tidak sakit bagaimana maksudnya?
Perutnya sudah tidak sakit.
Mulas-mulas juga tidak?
Tidak, Kang.
Bagaimana bisa?
Ini.
Oh, ya. Kata Bi Dar, bayinya senang main-main.
Dia suka bermain. Mungkin lagi istirahat. Tidak apa-apa, jangan khawatir.
Jangan khawatir. Kita lanjutkan perjalanan, ya?
- Ya. - Mari kita pergi.
Kang Jaya? Sudah sampai, ya?
Kang Jaya?
Nong.
Kenapa kau kaget?
Aku takut, Kang.
Takut kenapa?
Aku takut perutku disobek.
Sudah, jangan dengar omongan Narti.
Tenang saja, ya.
Jangan dipikirkan.
Tapi firasatku tidak enak, Kang.
Tenang saja, ada Kang Jaya. Ayo, kita sudah sampai.
Ayo.
Bisa?
Kang Jaya.
Permisi, Pak, Bu. Ada yang bisa aku bantu?
Kang Jaya.
Ditanya itu.
Ini, Sus, istriku mau melahirkan.
Oh, baik. Ibu silakan duduk.
Pak, bisa tolong dibantu istrinya?
Oh, ya.
Sudah?
- Kalau begitu, kita langsung bawa masuk. - Sus!
Ini tidak ada daftar dulu atau bagaimana?
Oh, tidak usah, Pak.
Karena ini keadaannya darurat,
jadi, lebih baik istri Bapak segera ditangani.
Untuk permasalahan administrasi dan pendaftaran,
biar nanti menyusul saja denganku, Suster Ayu.
Mari, Pak, Bu.
Pak, Bu,
aku permisi sebentar, ya.
Sebentar saja.
Sebentar, ya.
Ya, Suster.
Bapak, tadi sudah kubilang jangan keluar.
Pak, sebentar, ya.
Kenapa Bapak keluar?
Kang Jay.
Ya, Nong?
Apa Kang Jay tahu kenapa aku dibawa ke rumah sakit?
Aku tidak tahu.
Kenapa bisa tidak tahu, Kang?
Kupikir karena kita disuruh oleh Mak dan Bi Darisah.
Bagaimana Kakang ini?
Kang Jay.
Ya, apa lagi, Nong?
Kang Jay tidak senang, ya, anak kita akan lahir?
Ya pasti senang. Masa tidak senang?
Ini anak kita.
Kenapa cuma begitu? Tidak kelihatan.
Lalu, Akang harus bagaimana?
Kalau dulu…
Kalau kau belum siap menikahiku…
Kenapa waktu itu…
Kenapa waktu itu…
melarang aku menggugurkan kandungan ini?
Hei, sudah. Jangan bicara sembarangan.
Pokoknya, Kang Jaya janji
tanggung jawab sampai bayinya lahir, ya.
Sudah, jangan bicara begitu.
Ya?
Terus,
kalau anak ini sudah lahir, aku bagaimana?
Ya, pokoknya
sampai…
diurus sampai gede.
Ya?
Pak Jaya?
Ya, Suster?
Maaf, ya, Pak, menunggu lama.
Tidak, Sus.
Bagaimana Suster bisa tahu namaku?
Tadi aku sempat dengar Pak Jaya mengobrol sama istrinya.
Dok.
Pak Jaya. Perkenalkan, aku dokter Ummu.
Aku bersama suster Melati,
suster Suci, dan suster Ayu,
yang akan menangani persalinan istri Bapak.
Halo, Dok.
Bumil Cantik,
siapa namanya, Bu?
Sumirah, Bu Dokter.
Ibu hamil saja cantik, pasti bayinya manis.
- Benar. - Sudah pasti, Suster Melati.
Bapak dan ibunya saja cakep seperti ini.
Yang penting bayinya sehat, ya, Dok?
Ya, benar.
Itu yang paling utama.
Ya sudah, Suster.
Sekarang kita langsung proses saja.
- Baik, Dok. - Sekarang, ayo.
Baik.
Bang Jaya!
Ke sini, Kang!
Bu Dokter, tolong jalannya jangan cepat-cepat, Bu!
Pak Jaya, kami sudah mengerti.
Tunggu, ya, Pak.
Baik, Bu dokter.
Pak Jaya tunggu di sini saja.
Istri Bapak akan ditangani dengan baik oleh dokter Ummu.
Sekarang, Pak Jaya ikut aku untuk mengurus administrasi.
MAK, SUDAH SAMPAI DI RUMAH SAKIT
Halo, Mak? Halo?
Sudah, Mak. Halo.
Ya, tadi mau kabari, tapi Mak telepon duluan.
Ya, sekarang sudah di ruang ber…
Halo, Mak?
Halo, Mak?
Halo!
Boleh tolong pakaiannya dilepas dulu?
Supaya tidak mengganggu proses lahirannya.
Semuanya suster?
Tidak, cuma kerudungnya saja, ya.
Kerudung
Oh, kerudung.
Boleh ditaruh di sini.
- Terima kasih. - Ya.
Hei, Kang.
Ayo. Mau ke mana? Aku antar.
Tidak, aku tidak panggil.
Tidak memanggil bagaimana?
Tadi melambai-lambai. Bagaimana ini?
Ya, tidak panggil. Aku cari sinyal.
Cari sinyal jangan di sini.
Soalnya di dalam tidak ada sinyal.
Memang tidak akan ada sinyal di dalam.
Memangnya sedang apa di sini?
Istriku sedang melahirkan.
Apa?
- Yang benar? - Ya, Kang. Permisi.
Bu Dokter.
Aku mau dibelek, ya?
Lo? Kenapa dibelek?
Maksudku, dioperasi.
Belum tentu, Bu.
Aku periksa dulu, ya.
Awas, Sus.
Bu Dokter.
Ya, Bu?
Kenapa ini dingin, ya?
Itu karena Ibu deg-degan.
Otomatis suhu di sekitar sini menjadi dingin, Bu.
Makanya, Ibu yang rileks, ya.
Rileks saja.
Suster.
Ya? Mau tanya apa lagi?
Aku haus.
Sebentar, ya, Bu.
Silakan.
Tolong dibantu, Sus.
- Ayo. - Pelan-pelan.
Maaf, kenapa melihatku seperti itu, ya?
Suster.
Suamiku mana?
Bisakah kau memanggilnya?
Suami Ibu sedang mengurus administrasi.
Kenapa lama sekali?
Ibu Sumirah lebih baik jangan banyak tanya, ya.
Bu.
Ini banyak yang mengantre, Bu.
Bu? Ini disengaja atau bagaimana, ya?
Bu, tolong, ya. Aku mau menemani istriku lahiran.
Darah manis.
Sumirah!
Ibu, kalau teriak seperti itu malah makin sakit.
Pegang yang erat. Aku mau paksa keluar sekarang.
Nong!
Sumirah!
Kalau bukan karena kami,
kau dan bayimu ini sudah mati dari kemarin, Sumirah.
Kami yang membuatmu bisa kuat hingga sampai di sini.
Jadi, sekarang kami ingin mengambil apa yang sudah kami jaga.
Sum!
Sumirah!
- Sum! - Kang.
Sumirah!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong…
Nong!
Nong!
Nong!
Ayo kita main.
Sumirah.
Sumirah.
Sum!
Sumirah!
Mimpi! Ini mimpi!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Kang Jay.
Nong!
Nong!
Kang Jay.
Astaghfirullahaladzim, Nong!
Nong!
Nong!
Nong.
Nong.
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Nong!
Sadar, Nong! Sadar.
Nong, bangun!
Nong!
Nong, sadar.
Nong!
Bangun, Nong!
Maafkan aku, Sumirah.
Nong.
Sayangku, sadar.
Nong!
Nong! Sadar, Nong.
Jangan tinggalkan aku.
Nong, sadar!
Nong, bangun!
Nong!
Nong, bangun!
Bangun, Nong.
Nong, sadar, Nong.
Ayo.
Kau.
Kau!
Kemarilah kau.
Urusanmu belum selesai.
Urusanmu belum selesai.
Tinggalkan saja dia di sini.
Nanti kami akan membiarkanmu keluar hidup-hidup.
Sadar.
Bangun, Nong.
Nong, bangun.
Tidak akan ada jalan keluar,
kecuali kau serahkan anak harammu.
Cepat serahkan, Jaya!
Jangan dengarkan mereka, Jaya!
Lebih baik serahkan ke kami saja.
Jaya…
Kalau bukan karena kami,
istri dan anakmu sudah mati dari kemarin, Jaya.
Jangan ganggu kami!
Kami selalu ada di sekitar kalian.
Jangan ganggu kami!
Kami membisikkan…
Jangan ganggu kami!
…dan mendengarkan isi hati kalian
siang dan malam.
- Menyerahlah. - Bangun.
Kami tahu kau tidak menginginkan bayi itu.
Aduh.
Ya Allah. Maafkan kami, Ya Allah.
Tolonglah kami, Ya Allah.
Selamatkan aku dan istriku, Ya Allah.
Bapak?
Bapak!
Bapak!
Sum! Itu bapakmu, Sum!
Bapak!
Sum.
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
Mak!
- Mak! - Sumirah!
Sumirah!
Mak!
Sumirah!
Tolong.
Sumirah!
Tolong. Tolong bantu.
Tolong.
Aku angkat.
Angkat.
Pelan-pelan.
Pelan-pelan.
- Awas. - Jangan…
Cepat, Narti.
- Angkat. - Awas.
Pelan-pelan!
Pelan-pelan.
Beri jalan.
Tolong bantu, Narti. Jangan diam saja.
- Pelan-pelan. - Hati-hati.
Buka bagian belakangnya. Dia harus melahirkan.
Bayinya sudah mau lahir.
- Hati-hati! - Pelan-pelan.
Bagaimana cara membukanya? Masih ditutup.
Pelan-pelan.
Tolong dibuka.
- Masuk. - Nong.
Angkat dia. Bereskan dulu.
Tolong bereskan.
Kepalanya dulu.
Kepalanya dulu.
- Kepalanya dulu. - Ya Allah.
Kepalanya dulu.
- Awas! - Sebentar!
Angkat tangannya.
Jaya, apa yang terjadi?
Yati mana?
Dorong sedikit.
- Dorong. - Bantu.
- Disanggah kepalanya. - Kepalanya. Tolong.
- Cepat, Jaya! - Ya, Mak.
Yang benar!
Ya Allah, Nong.
Ke belakang, Mak.
- Pindah ke belakang. - Ya.
Allahu Akbar. Ambilkan kain.
- Kain! - Kain.
Awas.
- Sudah. - Ya Allah, Nong. Nong.
Nong.
- Nong, bangun. - Bangun, Nong.
- Dar… Ya Allah, Bi Dar. - Bi, tolong.
Tolong mudahkan persalinan ini, Ya Allah.
- Bismillah. - Ya Allah.
Ya Allah, anakku.
- Istigfar, Yati. - Ya Allah.
Bi, tolong, Bi.
- Sum. - Mak.
- Sum! - Sum.
- Alhamdulillah. - Sum.
- Nong, istigfar. Lihat Mak, Nong. - Sum.
Sum.
Sum, istigfar.
Sum!
- Sadar, Sum. - Sum.
Istigfar, Sum.
Sum, istigfar.
Sum!
Yang kuat, Nong.
Ya Allah.
Buka sedikit kakinya.
Istigfar, Sum!
Terus, Sum!
Terus.
Terus!
Terus, Nong.
Istigfar! Ayo!
Sebentar lagi, Sum!
Sebentar lagi.
Alhamdulillahirabbil'alamin.
Sudah, Bu?
Ya Allah.
Anakku mana, Mak?
Ya Allah.
Ya Allah.
Kang Jaya.
Kang Jaya.
- Anak kita mana, Kang Jaya? - Ya Allah, Sumirah.
Kang Jaya.
- Kang Jaya. - Begini amat nasibmu, Sum.
- Ya Allah, Sum. - Mana anak kita, Kang?
- Sumirah! - Kang Jaya.
Mana anakku, Mak?
- Di mana, Mak? - Sumirah.
Anakku, Mak.
Sum, Ya Allah. Teh Yati, Ya Allah.
- Anakku mana, Mak? - Begini amat.
Di mana, Mak? Aku mau lihat.
Kang Jaya.
- Di mana anak kita, Kang? - Sum…
- Ya Allah, Sumirah. - Ingin lihat, Kang.
Mak.
Anakku, Mak.
- Nanti, ya. - Di mana, Mak?
- Ingin lihat, Mak. - Nanti, ya.
Anak cantik.
Nur.
Ibumu bagaimana?
Mohon doanya terus, Mas.
Bapak…
juga pasang?
Ini…
salah Bapak.
Kalau ibumu dulu tidak pasang itu…
kita tidak bisa makan.
Bu.
Istigfar, Bu.
Ikuti Nur, Bu.
Astagfirullah.
Astagfirullah.
Astagfirullah.
Bu?
Bu…
Bu, mau bicara apa?
Pak!
Ibu mau bicara apa, Pak?
Bu?
Bu, mau bicara apa, Bu?
Mau bicara apa?
Bu.
Aku kemari mencari Mbah Taliman, Pak.
Ibuku memasang susuk di sini 30 tahun yang lalu.
Sekarang kondisinya sekarat.
Aku minta tolong, Pak.
Apa pun yang dipasang di tubuh ibuku, tolong dilepas.
Biar Ibu bisa pergi dengan tenang.
Dari mana Mas tahu alamat rumah ini?
Dari bapakku.
Dulu, Bapak yang mengantar Ibu ke sini.
Begini, Mas.
Mbah Taliman sudah meninggal.
Beliau bapakku.
Tapi, Pak…
Ibuku baru bisa meninggal kalau susuknya sudah dicabut, Pak.
Tolong aku, Pak.
Sudah dua minggu ibuku sekarat, Pak.
Tolong, Pak.
Bu? Bu!
Bu!
Ibu kenapa? Bu!
Bu!
Bu?
Bu!
Pak! Pak, ini kenapa?
Bu!
Bu!
Bu!
Bu?
Bu.
Bu?
Bu!
Bu!
Bu! Bangun, Bu!
Bu! Ibu kenapa?
Bu.
Ibu!
Bu!
Pak, ini bagaimana?
Pak!
Bu!
Astaghfirullahaladzim, Bu!
Bagaimana, Dik?
Tidak bisa, Mbak.
Sudah dicoba, tapi tidak bisa.
Maafkan Haryo, ya, Mbak.
Ya sudah, Dik.
Kau pulang saja.
Biar Ibu, Mbak yang urus.
Maafkan Nur, Bu.
Nur hanya ingin Ibu tenang.
Maaf, ya, Mas.
Aku tidak kuat.
Memang seharusnya yang bisa angkat itu bapakku.
Karena dia yang menanam susuk itu.
Tidak apa-apa, Pak.
Terima kasih sudah membantu.
Semuanya sudah beres sekarang.
Maksudnya beres?
Ibumu tidak dibunuh, 'kan?
Maksudnya, Pak?
Seharusnya bapakmu tahu.
Ilmu itu bisa turun kalau ibumu sengaja dibunuh.
Dari mana saja, Nur?
Ibu bagaimana?
Bapak-Bapak.
Terima kasih atas doanya.
Sekarang…
Ibu sudah pergi dengan tenang.
Terima kasih.
Sama-sama.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.