Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
UNTUK ORANG TUA KAMI, SRI HIROO DAN SMT. VINITA BHARWANI
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu.
Karena Mas Adimas datang untuk…
Aku dengar kamu mau ngajak Adelia nikah?
- Iya, Pak. - Apa nggak kecepetan?
- Kalian 'kan baru lima bulan pacaran. - Tapi…
kami rasanya sudah saling cocok.
Siapa yang bilang cocok?
Nggak. Bapak nggak setuju.
Iya, bapak nggak setuju.
Tapi setelah dinego, akhirnya bapak kasih satu syarat buat Mas Adimas.
Besok aku tunggu kamu di pemancingan.
Kita lihat apa kamu pantas bersanding dengan putri bungsuku.
Kamu baru pertama kali mancing?
- Iya, Pak. - Umpannya pake ini.
Hari gini, mancing masih pake cacing aja.
Astaga!
Pak, maaf, Pak.
Ya ampun, Pak!
Pak, maaf. Saya ada baju di motor. Saya ambil. Sebentar.
Siapa yang dapet ikan paling besar,
dialah pemenangnya.
Pak!
Jangan langsung ditarik! Ulur dulu!
- Sini! - Ini, Pak.
Pelan-pelan. Lepas, Pak.
Iya, nih.
- Bukan nyangkut? - Pak.
- Punya bapak! - Ini pegang.
Iya.
Ini lebih anget lagi.
Dapat, Pak! Dapat!
Punyaku lebih besar! Kamu kalah!
- Apaan nih? - Bisa, Pak?
Pak. Itu…
Ya ampun, Pak. Aduh!
- Pak. - Aku gak bisa berenang!
- Iya, Pak. - Tolong!
- Pak. - Tolong!
Eggak dalem. Berdiri.
- Tolong! - Berdiri, Pak. Nggak dalem.
Nggak dalem. Berdiri. Udah.
Udah. Nggak dalem, 'kan?
Biar pun nggak dalem, kalo orang nggak bisa berenang, bahaya!
Iya, Pak.
- Tuh mereka. - Kayanya Mas Adimas dapet ikan deh.
Iya, dapet lo!
Mas Adimas menang, ya?
Kalah, Dek.
- Bapak… - Apa, sih?
Bapak nggak dapet ikan, Mas Adimas dapet ikan.
- Berarti Mas Adimas menang, 'kan? - Hebat!
Saudara-saudara. Pemancing senior ternyata kalah telak sama pemula.
Nggak, ini…
Ini yang pancingan bapak. Tadi, aku…
tuker karena gak ngerti ngulurnya gimana.
Jadi ini pancingan aku.
Ini tuh pancingannya bapak. Yang dapet ikan tuh bapak.
Aku yang kalah, gitu.
Jadi Mas Adimas kalah?
Maaf ya, Dek.
Udah, nggak usah sedih.
Ajak calon suamimu pulang.
Ganti pakaian, biar nggak masuk angin.
Calon suami?
Calon suami, Pak?
Jadi diizinin, Pak?
Pak, ini beneran nggak, sih?
Dapet izin, 'kan? Pak!
Iya, Cantik!
Kalian pernah dong ngerasain senengnya?
Ketika apa yang kalian impikan selama ini, akhirnya terkabul.
Iya? Ini serius?
Setelah lima bulan menikah,
akhirnya kami menemukan rumah impian kami.
Rumah masa depan. Rumah milik kami berdua.
Mungkin nanti bisa dibangun jadi dua tingkat.
Biar banyak kamarnya.
Rumah ini 'kan cicilannya 15 tahun, KPR.
Kalo bisa pengeluaran kita, kamu irit-irit lah.
Atau mungkin aku juga akan bikin kebun bunga di halaman?
Biar seger kalau pagi.
Anak-anak kami bisa main dengan bebas.
Main perosotan, ayunan, kolam berenang, air mancur, rollercoasters!
Termasuk rencana kita untuk punya anak, kita tunda dulu.
Tunda?
Ya 'kan, punya anak juga biayanya besar, Dek.
Tapi orang-orang udah nanya kapan kita punya anak.
Gak usah dipikirin lah, Dek, omongan orang.
Mereka juga nggak tahu rencana kita apa. Yang jalanin 'kan kita.
Ya?
Makasih, Adek Sayang.
Yuk, masuk, yuk.
Soal nunda anak, kita masih nggak sepakat sebenernya.
Tapi ya, sudahlah.
Yang penting, nikmatin rumah baru dulu.
Bersih.
- Dek. Ada kecoak. - Apa, sih?
Tuh, itu!
Mana?
Di bawah situ.
Itu, tuh!
Kena nggak, Dek?
Apa, sih?
Mas. Tenang. Tenang. Jangan bergerak!
Adek akan melindungi Mas dari kecoak dan siapa pun yang mengganggu hidup Mas.
Istriku memang luar biasa perkasa!
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Sini.
Tuh.
Bagus, 'kan? Adek nyusunnya kaya gini?
Bagus, 'kan?
Minum dulu, Mas.
- Apaan, nih? - Miranda Executive Spa.
Bandel, ya?
Copot! Copot dulu!
Ayo!
"Ada api di atas kayu, I love you."
"Ada kayu kena paku."
"I love you too."
Dek, jangan pake toge, ya!
Iya, Mas.
Kalau saja di rumah ini, kita sudah punya malaikat kecil seperti itu,
mungkin aku dan Mas Adimas akan lebih bahagia.
Mas.
Seksi banget, sih, kalo lagi masak pake beginian.
Ampun.
Jangan, dong. Ini kita aja belum sarapan.
Ya udahlah, nanti 'kan bisa dibungkus.
Bandel banget sih ini. Ngapain, sih? Ngapain?
- Mas! Aduh. - Jangan salahin aku.
Kamu, sih. Kaya gini masaknya.
- Bandel banget, sih. - Ayo.
Assalamualaikum.
Pak RT. Pintu terbuka, rumah kosong.
- Curiga saya ini. - Jangan-jangan…
Jangan masuk?
Bukan. Jangan-jangan ada maling.
Jangan ada maling?
- Ayo. - Sabar.
Anak buah duluan.
Ada orang di dalam?
- Mas Adimas? - Mas. Ada orang, deh.
Asli?
Mundur! Mundur, Sep!
Mundur! Kita salah waktu!
Mereka tuh lagi…
- Pak RT? - Maaf, Mas Adimas.
Kami tuh ngeliat, pintu depan tadi tuh terbuka.
Insting keamanan kami langsung bekerja.
Takut terjadi apa-apa.
Dan memang, terjadi apa-apa.
RT, terjadi apa?
Pak RT, begini. Kami di dalam hanya lagi ngobrol santai aja.
Gak ada apa-apa.
Jadi, gimana, Pak RT? Ada apa?
Kami mau mengantarkan undangan.
Karena bulan depan ini, anak saya yang kedua itu 'kan sunatan.
Iya. Oke, terima kasih, Pak RT.
Dan yang kedua,
kami tuh mau mengenalkan Pak Yosep ini
sebagai koordinator sekskamling.
- Siskamling. - Begitu.
Jadi begini, Pak. Setiap warga di sini
itu berkewajiban untuk ikut ronda.
Nah, Mas Adimas ini mau ikut ronda
atau setor uang keamanan saja buat kami?
Saya ikut ronda.
Sekskamling tanggung jawab kita bersama. Benar, Pak RT?
Ngeledek Mas Adimas, tuh.
Saya jadi malu.
Halo!
Mau ambil obat, ya? Udah Ning siapin.
Jawab dulu, Bang Meka.
Linda nih siapa, sih? Pacarnya Bang Meka, ya?
Bukan, cuma temen kantor.
Tapi suka?
Kok, baik banget? Pasti cantik, ya?
Apaan tuh?
Makasih, ya.
Oppa.
Ning udah tambahin vitamin C.
Vitamin cinta.
Jangan sakit, nanti aku khawatir.
Aku cinta kamu, Oppa.
Oke. Makasih, ya.
Oppa!
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Beli.
Beli!
Nih, kenapa nggak denger juga?
- Mau beli obat apa ya, Bu? - Non. Apa…
Batuk pilek buat anak bocah.
- Ingusan gitu. - Iya, ingusan gimana?
- Ijo? - Iya, ijo.
Ijonya ijo pucet atau ijo kekuningan gitu?
Encer atau kentel? Teksturnya gimana?
- Lengket nggak di tangan? - Aduh.
Saya kurang merhatiin, Bu. Ya pokoknya begitu deh, Mbak. Apa…
Kayak ingus begitu.
Ibunya balik dulu aja. Contoh ingusnya dibawa ke sini, ya.
Biar saya pas kasih obatnya.
Nanti kalau salah gimana? Saya yang kena? Ya 'kan, Bu?
Ya udah, deh. Saya ambil dulu ingusnya.
- Gimana, sih? Bingung jadinya. - Apa sih, Bu?
Yang bingung siapa, ya? Saya apa ibu ya, Bu?
Pagi, Del.
- Pagi, Del. - Adel.
- Kenapa mereka senyum-senyum, ya? - Pagi, Del.
Apa yang aneh, ya?
Aduh, jangan-jangan ada sisa ciuman Mas Adimas!
- Pagi, Del. - Mbak.
- Lagi ngapain? - Lagi ngecek aja.
Bekas cupang?
Aman aja. Namanya juga pengantin baru, 'kan?
Semua juga paham.
Ya, 'kan nggak penganten baru. Udah lima bulan lo, Mbak.
Itu 'kan itungannya masih hot.
Baru tuh abis setahun, hotnya pindah ke berantem.
Tiap tahun makin hot berantemnya.
Abis lima tahun, cerai deh.
Nggak sih. Itu aku.
Kalau kamu sama Adimas 'kan saling cinta.
Kalau mau bilang terima kasih, orangnya ada di sini.
Makasih ya, Meka.
Ini, sekalian aku juga beli kue.
Pasti belum sarapan, 'kan? Nanti maag, lo.
Ambil satu, ya?
Ngasih tapi ngambil?
- Makasih lo, Meka. - Iya, sama-sama.
- Dapet salam tuh dari Ning. - Kamu ketemu sama dia?
'Kan ambil obatnya Mbak Linda.
Dia 'kan suka banget sama kamu.
Apa?
Kalau kamu bisa pilih, kamu pilih yang mana?
Pilih Mbak Linda,
yang mungkin agak sedikit judes,
tapi udah mateng.
Atau kamu mau sama Sriningsih
yang jelas-jelas tergila-gila sama kamu?
Yang gila tuh kamu.
Ke kantor tapi pake seragamnya Adimas Purnama.
Ada orang di dalam? Mas Adimas?
Astaga.
Mas! Gimana, sih? Kok bisa nggak nyadar pake baju Adek? Gimana?
Kamu juga gak sadar pake baju Mas.
- Ganti di toilet kantor kamu aja. - Ayo, yuk!
Sini.
Mas, udah, nggak usah!
- Bukan. Nyari saklar. - Udah, nggak usah!
Itu berantakan banget kemaren.
- Iya. - Saya mau kasih liat.
Saya mau cek. Sampah masyarakat aja saya sikat abis,
apalagi sampah-sampah di gudang seperti itu.
Kamu tau saya, 'kan?
Astaghfirullahaladzim!
Kamu ngapain di situ, Adelia?
Mas.
Jadi ini nih, orangnya? Yang nekat begituan di kantor?
Ada videonya nggak, ya? Pengen liat.
Jadi pengen tau, kalo buka baju kaya gimana, ya?
Tidak bermoral.
- Hei. - Apa?
Kamu kenapa sih, Del?
Aku malu.
Semua orang ngetawain aku.
Siapa?
Kebiasaan, sih.
Suka mikir macem-macem.
Tadi 'kan, kamu dipanggil sama Pak Camat.
Dia ngomongin sesuatu gitu, nggak?
Soal buka-bukaan baju di gudang?
Tenang. Pak Camat 'kan terbuka gitu pikirannya.
Dia ngerti kok.
Jantung saya hampir mau copot, bayangin!
Itu bener-bener, mereka berdua dalem gudang, gelap-gelapan.
Udah hampir separuh telanjang.
Suaminya Adelia tuh, ampe begini, nih.
Adelia juga begitu.
Aduh! Bingung udah mau ngapain. Bingung udah.
- Saksinya Ari, ya? - Bener, Pak.
Saya sampe tutupin matanya Ari.
Saya sendiri nggak sempet nutup mata.
Ya antara saya ngeliat, saya nggak. Begitu.
Itu bayangin, pas ketahuan ama saya,
mereka cepet-cepet pake baju 'kan.
Itu udah nggak karuan bajunya tuh. Kancingnya ding det, tinggi sebelah!
Mas! Mas Adimas.
Mas. Ini, saya tuh buru-buru.
Dari tadi belum dipanggil. Saya butuh tanda tangan pak lurah.
Tolong dibantu.
Kalo bisa dipermudah, kenapa dipersulit?
Kalo bisa sabar, semua pasti lebih mudah.
- Ya? - Adimas!
Sombong.
Hei, Mer.
Ya ampun, apa kabar?
Baik, dong. Ini aku lagi ngurusin sertifikat tanah.
Kalo kamu gimana?
Istri kamu udah isi?
Belom.
Iya memang masih sengaja ditunda dulu
karena ada inilah, prioritas lain dulu. Maklum, PNS.
Tapi setiap aku ngeliat kamu pake seragam kaya gini tuh…
aku makin salut banget sama kamu.
Lulusan terbaik sarjana ekonomi
memilih untuk jadi abdi negara.
Ya, panggilan jiwa, 'kan.
- Kamu kapan? - Masih nunggu.
- Nunggu dilamar? - Nunggu ada yang mau.
Bisa aja kamu.
- Ibu Merry? - Banyak lah pasti yang mau.
Dim. Aku dipanggil. Duluan ya. Salam buat istri kamu.
- Bye. - Bambang! Titip.
- Siap. - Temen gue.
Mas. Kenalin, dong.
Minta WA-nya, Mas.
- Apaan, sih? - Minta WA-nya!
Mas.
Ini saya ada foto.
Mas tinggal kirim ke dia. Bilang, penantiannya sudah berakhir.
Ada pangeran yang ingin menjemputnya, Mas.
Ya, Mas?
- Ya? - Pangeran kodok.
Mas! Ini udah foto lo, Mas!
Belom selesai ya, Mbak?
Belom, nih. Masih nyari lagi. Satu dua lagi.
Ya udah.
Aku liat-liat juga, ya.
Struknya ada di dalem, ya. Makasih.
Bang Meka.
Mikirin siapa, ayo?
Udah kelihatan kok, dari matanya.
Kalo kamu tuh mikirin aku terus.
Koh, ini berapaan?
Itu, satunya Rp. 20.000. Sebentar.
Lagi ada promo, tiganya jadi Rp. 100.000.
Itu, gantungan kunci lucu banget. Buat siapa, Meka?
Ini, jadi inget temenku. Mirip banget sama dia.
Yuk, main, yuk!
Semoga kelak,
aku dan Mas Adimas bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kami.
Jangan coba-coba!
Cuma mau ngelanjutin yang tadi pagi ketunda, Dek.
- Sabar! - Aduh.
Iya. Oke.
Ya udah kalo gitu, aku mandi, ya.
Aduh, otot-ototnya bikin pusing.
Mas. Emang harus di sini ya, push up-nya?
Ya kalo deket kamu lebih semangat gitu, Dek.
Tiga dua.
Tiga tiga.
Tiga empat.
Mas.
Nyerah, ya? Udah nggak kuat, 'kan?
Ini minyaknya abis.
Tolong beliin ke depan kompleks, situ.
Sekarang?
Ya iya, sekarang! Masak pake apa? Masa pake keringetnya Mas?
Udah, sana. Sana.
Mas!
Bajunya dipake dong!
Kamu takut, ya? Kalo ibu-ibu di sini banyak yang naksir sama aku?
Nih. Pake!
Kalo aja ada cowok yang gantengnya kaya lo.
Nongol depan muka gue sekarang.
Gue janji. Nggak bakal gue biarin cowok lain markir di hati gue.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Saya cari minyak sayur. Di mana, ya?
Di sini, Mas.
Aduh.
Maaf, maksudnya? Maksudnya gimana ya, Mas?
Cari minyak sayur.
Minyak sayur. Di situ.
Tunggu!
Terima kasih.
Candu.
Berapa?
Cuma minyak aja, Mas? Gak mau yang lain?
Nggak. Minyak aja.
Mumpung waktu saya masih kosong, Mas.
Ran, lo ada perban, nggak? Buat tangan.
Apaan, sih? Diem dulu bentar!
Atau mau ini, isi pulsa? Biar saya isiin sekalian.
- Nggak. Minyak aja, Mbak. - Atau nomor HP aja, deh.
Biar saya simpen langsung. Kalo minyak abis, bisa saya telepon.
Nggak apa-apa. Saya balik sendiri.
- Jadi minyak aja? - Iya.
Ya udah, oke. Minyak Rp. 34.000.
- Ya. - Iya.
Terima kasih.
Terima kasih.
- Kembalinya? - Nggak usah. Pegang aja.
Makasih.
Rani! Panggil aja Rani!
- Ran. - Ganggu aja, tahu nggak lo?
Ini momen gue ketemu jodoh gue. Nggak pernah gue duga!
Kok muka lo pucet? Darah!
Aduh!
Charlie!
Charlie! Kerupuk gue ancur, Charlie!
Elah!
Mas. Tadi bapak telepon.
Bapak nanya kapan kita pulang.
'Kan rumah kita di sini, Dek.
Iya maksudnya, sejak kita nikah itu, kita nggak pernah lagi ke rumah bapak.
Dia nanya kapan kita ke sana.
Bapak neleponnya…
- marah-marah, nggak? - Marah-marah banget.
- Ada satu lagi. - Apa lagi?
Yang bikin bapak marah.
Kamu udah isi belum?
- Belum, Pak. - Bilang sama suamimu.
Kalo memang nggak bisa, suruh telepon Bapak.
Nanti Bapak ajarin gimana caranya!
Adek belum hamil.
Mampus.
Ini pasti bapak marah banget sama aku, nih!
Kebayang mukanya kayak apa.
Emang kenapa muka aku?
Ya udah. Kalo gini, gimana?
Kita bilang aja, kita nggak nunda. Kalo kita nyoba,
tapi emang belum dikasih aja sama Tuhan.
Nggak, gini.
Kita bikin anak.
Kita bikin aja.
Ya kalo dikasih, syukur.
Nggak, ya udah. Udah, begitu aja.
Kita bikin?
Berarti kita nggak nunda lagi?
Iya, bikin, Dek.
Ya udah. Kalo Adek, sih, sebagai istri yang baik
ikut aja keputusannya Mas.
- Aduh, Dek! - Mas! Pelan-pelan, dong!
Pesanan Oppa Meka.
Makasih.
Hampir lupa.
Tadi ke toko…
Ngeliat ini, mirip banget sama kamu. Nih, buat kamu.
Mirip, nggak?
Nggak mirip, ya?
Karena aku pikir mirip, lo.
Ya udah. Aku balikin ke tokonya ya.
Mau.
Kok mukanya sedih gitu?
Ning tuh terharu, tau nggak?
Ning tuh nggak nyangka
Oppa mau repot-repot beliin gantungan kunci yang mirip sama Ning.
Nggak repot sama sekali, kok. Emang di tokonya, aku ngeliat mirip.
Murah, kok!
Kenapa, sih?
Emang cowok tuh kaya gitu, ya?
Gengsi gitu kalo bilang suka sama perempuan?
Oke! Nggak apa-apa!
Akan ada waktunya.
Aku sabar menunggu.
Oke.
Kota ini 'kan Kota Gado-gado.
Jadi banyak sekali penduduknya itu pendatang dari berbagai daerah.
Dalam satu kelurahan saja,
warga punya adat dan kebiasaan yang berbeda-beda.
Oleh karenanya, Pak Walikota itu
mengusulkan program Pesta Bhineka.
Jadi nanti, setiap kelurahan
harus membuat satu pesta adat daerah
yang mewakili warganya.
Kita bagi-bagi nanti.
Seperti Kelurahan Jonggol Maju,
nanti mereka akan bikin pesta adat Ambon.
Lalu kemudian kelurahan…
- Parit Nanas? - Parit Nanas!
Itu akan membuat pesta adat Papua.
Pesta adatnya bebas apa aja ya, Pak?
Bebas. Yang penting, maknanya harus positif.
Misalnya, pesta Dewi Sri.
Itu di adat Jawa dan Sunda, itu artinya merayakan kesuburan.
Pak.
Cara hitung masa subur itu gimana ya, Pak?
Tergantung, mau pake penanggalan apa.
Tergantung juga yang ditanamnya tuh benih apa?
Memang Meka mau menanam benih apa?
Bukan saya yang punya benih, Pak. Ini punya Adelia.
Benih apa, Adelia?
Benih…
toge?
Toge?
Sebenernya gampang 'kan, menghitung masa subur toge.
Taro aja kacang hijau di media tanam.
Dan taro di tempat teduh.
Siram tiga sampe lima kali sehari.
Dan setelah itu, empat sampe lima hari sudah bisa dipanen.
Del, masa subur perempuan untuk hamil itu
hari kesepuluh sampe ke-17 setelah hari pertama menstruasi.
Udah boleh masuk belum, Dek?
Sebentar, Mas.
Masuk, Mas.
Lama banget.
Mas.
- Mau ke mana? - Ngeronda.
Sekarang?
Iya. Pak RT sama Yosep udah jemput.
Wangi banget, Dek, kamu.
Kaya gini, maksudnya mau ngajak…
Bukannya masih mens?
'Kan udah kelar.
Ya ampun, Dek.
Kok nggak bilang, sih?
Ya udah, nggak apa-apa.
Mas ngeronda aja.
Adek kecewa, dong.
Nggak, Adek nggak kecewa.
Adek sadar banget, kok. Kalo itu 'kan kewajiban Mas
sebagai warga yang baik. Harus ngeronda.
Ya udah.
Makasih, ya. Pengertiannya.
Jangan. Lebih baik jangan.
Jangan.
Anak itu bawa rezekinya sendiri, Mas Adimas.
Jadi makanya, Mas Adimas nggak boleh khawatir.
Inget, kata Yunani,
"Apabila ada kehidupan, pasti ada rezeki." Gitu.
Iya, Pak.
Saya juga dulu sama kayak Mas.
Tak mau punya anak karena takut tak ada uang.
Tapi pas sudah ada anak, rezeki ada saja!
Makanya ya nggak usah ditunda-tunda.
Cepat aja bikin.
Saya mau kok, kalo disuruh bantu.
Maksudnya disuruh bantu gimana ya, Pak?
Astaga. Maksudnya…
mau bantuin kalo Mas mau begituan.
Maksudnya gimana?
Begini, maksud saya…
Warga di sini tuh suka tolong-menolong. Begitu, lo.
- Nggak nyambung, ya? - Nggak nyambung, Pak.
Pak RT ini bagaimana, sih?
Pak Haji! Pak Rinto!
- Gantian, ya? - Oke.
Pak RT. Bang.
- Duluan, nih. - Ya, kembali. Hati-hati, Mas.
Jadi ya, kalo kepengen berhasil,
tidur jangan terlalu malam.
Tapi ingat.
Kalo ada ronda, harus tetap ikut ronda.
Buat apa punya anak kalau kampung tidak aman?
Usahakan rutin minum jamu.
Dan makan toge yang banyak.
Buat kita punya itu, menjadi kuat!
Toge itu bikin subur.
Subur bagaimana, Pak RT?
Kalo subur, dia tumbuh dong.
Mas Yosep. Pak RT.
Kita mungkin sudahi saja membahas toge-togean ini.
Ya? Saya kebetulan soalnya juga benci sama toge.
Gampang, Mas. Ganti saja dengan kacang hijau.
Beda.
Toge itu 'kan berasal dari kacang hijau yang kita rendam dengan air.
Sama saja, toh!
Kamu pernah makan bubur toge?
Belom pernah, sih.
Emang ada jual, Mas?
- Di mana, Pak RT? - Ukrania.
Ukraina, Pak RT.
Diganti, toh?
Nah, ini.
Mulai sekarang, kita ikutin seperti yang Mas mau.
Kita nggak jajan, kita bawa bekel dari rumah.
Adek ini emang istri yang paling, udah deh, luar biasa,
cantik, pin…
Toge?
Hari ini itu Hari Toge Nasional, baru aja dicanangkan di kecamatan, Mas.
- Emang ada, ya? - Ada.
Mungkin SK-nya belum sampe ke kelurahan kali, Mas.
Makan, yuk!
Iya, makan. Ayo makan, yuk!
- Ayo, dong. - Iya.
Makan. Kelaparan.
Adek seneng, deh.
Iya. Mas juga seneng banget.
Lo lagi. Lo lagi.
Muka gue lama-lama kayak lo!
Emang lo pikir muka lo cakep, Bro?
Muka lecek kayak kangkung kelamaan aja belagu.
Mestinya lo terima kasih.
Gue sama temen-temen gue nih, udah kerja keras demi kepentingan lo, Bro.
Gue nggak minta.
Memang bukan lo, tapi bini lo yang minta.
Dan lo nggak berani ngelawan bini lo.
- Datang tuh orangnya. - Mas.
Adek pergi dulu ke rumah Bu RT.
Soalnya ada sosialisasi programnya Pak Camat
ke Karang Taruna sama Ibu-ibu PKK, nih.
Program apa ya, Dek? Yang mana, ya?
Itu lo, Pesta Bhineka.
Jadi, RW itu disuruh merayakan tradisi Kutai Kartanegara.
Deket, kok. Sini.
Togenya diabisin, ya?
Iya.
Ya?
Ya?
Oke.
Dadah, hati-hati.
- Abisin. - Iya!
Bener, 'kan? Takut sama bini.
- Kok ditutup? - Bawel!
- Diem lo! - Kok ditutup? Ayo dimakan.
Pokoknya gue bebas mau makan apa aja yang gue suka!
Aduh, gelap nih! Bang, kita 'kan lagi ngobrol. Bang!
Bang, woi! Bang?
Mas.
Lo, Dek? Kok balik lagi?
Bu RT-nya sakit, jadi diundur besok.
Pantesan dari tadi firasat Adek nggak enak, ya.
Ternyata selama ini, ini kelakuannya Mas? Ini kenapa gak dimakan?
Bosen, Dek.
Mas nggak konsisten!
Mas nggak pengen punya anak!
Adek!
Adek marah! Adek mau pergi!
Dek, nggak gitu.
Mau ke mana, Non? Malem-malem.
Kok mukanya bingung gitu?
Yuk. Mampir, yuk.
Ayo, sebentar.
Yuk, nggak apa-apa. Yuk, sebentar. Sini.
Awas, hati-hati ya. Licin. Yuk.
Sini. Hati-hati ya, Non. Awas.
Yuk, sini. Sini.
Cari yang anget-anget di sini banyak.
Tuh. Mau minum apa?
Teh? Kopi? Atau mau makan? Ada mi instan.
Nggak mau. Saya benci mi instan.
Ada salah apa mi instan sama non?
- Teh anget aja, Bu. - Ya.
Sama gorengan.
Ya. Sebentar, ya.
Duduk dulu.
Bu. Berapa, ya?
- Dua puluh lima ribu, Non. - Iya.
Duh. Nah lo.
Berapa, Bu?
Dua puluh lima ribu, Mas.
Terima kasih ya, Mas.
- Pacarnya ya? - Suaminya, Bu.
Suami tapi nyebelin, Bu. Nggak nurut. Seenaknya aja.
Ya, saya memang nyebelin sih, Bu. Tapi 'kan saya sayang banget sama dia.
Saya keliling nyari dia ke mana-mana, tahunya di sini.
- Iya. - Tapi emang itu tugasnya suami ya, Bu?
Masa istrinya dibiarin jalan sendirian malem-malem, nggak bawa dompet ya?
- Iya, tapi saya juga… - Stop! Stop, ya!
Kalo kalian mau ribut, ributlah di rumah.
Nggak baik, lo. Pertengkaran itu dibawa sampe keluar rumah.
Udah. Sumber keributannya saya bawa pulang ya, Bu.
Iya.
Balik.
Nggak mau!
Mas!
Mas!
- Mas! - Yang langgeng ya, Mas!
Mas!
Turun!
- Mau turun! - Iya, udah nyampe.
- Apaan sih? - Sampe, Dek. Sampe.
Sampe. Nah.
Udah. Astaga, cape banget, Dek!
Ya siapa suruh cari masalah?
Aku tuh bukannya cari masalah. Beneran, deh.
Dek. Mas itu serius mau punya anak sama kamu juga. Serius!
Nggak ada maksud apa-apa.
- Cuma ya… - Apa?
Duit lagi, duit lagi! Duit terus!
Dek, ya emang soalnya itu adalah duit!
Kita berdua itu PNS. Gajinya juga sesuai kebijakan negara.
Kalo punya anak, argonya langsung jalan, Dek!
Dari mulai biaya lahiran, beli susu, beli pampers,
belum lagi sekolah. Itu 'kan duit semua.
Coba kalau dipikir, tabungan kita ada berapa, sih?
Coba liat. Kamu liat aja sendiri.
Tabungan kita gak cukup, kalo misalnya…
Dek.
Tabungan kita banyak banget?
Itu 'kan dari kita nikah, gaji Adek, Adek taruh situ.
Katanya Mas, gaji Adek buat dipake sendiri aja. Buat keperluan Adek.
Daripada belanja macem-macem, Adek tabung aja di situ.
Istriku memang penuh kejutan.
Dek.
Maaf, ya.
Ternyata Adek juga banyak berkorban.
Adek nggak ngerasa berkorban, Mas.
Rumah tangga 'kan tanggung jawab kita berdua.
Iya.
Udah mukanya cantik, hatinya juga cantik.
Mas beruntung punya istri kayak kamu.
Makasih, ya.
Berantakan itu.
- Bu! - Siang, Pak RT.
- Halo. - Pak.
Aduh, Mas Adimas. Terima kasih sudah mau hadir ke sini.
Dengan Mbak Adelia yang cantiknya luar biasa sekali ya, Bu?
Selamat ya, Pak. Udah disunat.
Bapak?
- Maksudnya anaknya. - Anaknya.
Mbak Adelia ini lucu sekali lo ya!
Iya.
Kalo begitu, kapan-kapan harus ronda gantiin Mas Adimas.
Supaya kita sampe pagi nggak ngantuk. Bercanda terus, ya!
Horor Mbak ini.
Lebih horor mana sama ibu?
Maksudku itu humor gitu.
- Humor. - Iya.
Cantik gini suruh ronda. Gimana, sih?
Ayo masuk, yuk! Masuk, sini!
Ini, Yan, tuh, ada Tante Adelia sama Om Dimas.
- Halo, selamat ya. - Ya.
Kok mukanya bete? Kenapa?
Sakit. Itunya baru dipotong.
- Iya. - Nih.
- Biar nggak sakit lagi. - Makasih, Om.
Mas Adimas. Ayo makan. Nyari di sana yuk, Mas.
Ya udah, yuk.
Sebentar. Mbak Adelia di sini aja dulu, ya?
Saya pingin ngobrol-ngobrol sebentar.
Sekalian mau saya kenalin sama ibu-ibu warga di sini.
Biar akrab.
- Iya. Nggak apa-apa 'kan? - Ya?
- Biar akrab. - Iya.
- Ya, Pak. Mari. - Ya.
Ran!
- Apaan, sih? - Itu, liat dulu.
Sana!
Mas Minyak Sayur.
- Saya. - Di sini kamu?
Soalnya Bu RT-nya tante saya.
Iya.
Mas. Kok udah nggak pernah belanja ke toko lagi?
Belum sempet aja.
Tapi stok minyak sayur banyak lo. Soalnya gak saya jualin.
Oke.
Mas, saya yang ambilin.
- Saya bisa sendiri. - Nggak apa-apa…
Nggak.
- Saya bisa sendiri. - Surga.
- Susah banget pasti, Mas. - Rani!
- Ran! - Iya!
Bantu cuci piring!
Piring kotor udah numpuk di belakang!
Iya, Bu! Lagi sibuk ngurusin jodoh!
Tamu. Tamu maksudnya.
Mas. Saya aja.
Gini aja deh, Mas.
Gimana kalo kenalan dulu? 'Kan belum sempet kenalan.
Nama saya Rani.
Saya…
Ayo, buruan! Piring kotor udah numpuk! Buruan!
Gede tenaga banget ini banteng! Aduh!
Sini, ngobrol dong, duduk dong. Ayo!
- Iya. - Jangan malu-malu, lo.
- Udah duduk. - Iya.
Ya udah kalo gitu. 'Kan udah pada kenal.
Jadi kalian tinggal ngobrol, ya?
Jangan lupa, ya? Oke?
Saya ngurus Pak RT dulu, ya?
- Yuk. - Iya, Bu.
- Udah dari tadi di sini? - Udah.
Mbak Adel. Pake KB apa?
Nggak pake KB.
Terus selama ini nundanya gimana?
Memang nggak nunda.
- Emang belum dikasih aja. - Masa?
Tapi suami bisa, 'kan?
- Bisa, 'kan? - Tegak kaya Monas, 'kan?
Saya permisi dulu. Mau ke suami saya.
Makan, yuk.
- Mas. - Apa?
Tunggu dulu. Aku baru mau makan.
Ya dibawa pulang aja kalo nggak.
- Ya kenapa? - Adek bete.
Itu ibu-ibu kepo banget!
- Kepo apa, sih? - Nanyain soal rumah tangga.
Ya biasa itu. Mungkin nunjukin perhatian ke kamu.
Perhatian kok ganggu?
- Mas! Males banget! - Iya.
Mbak.
Bener, Dek? Gak usah bawa apa-apa buat bapak ibu?
Iya. Kita dateng aja mereka udah seneng, kok.
Ya liat kamu seneng. Liat aku 'kan belum tentu.
Seneng. Pasti seneng.
Yuk.
Tuh, 'kan. Motor aja tau. Dia takut mau ketemu bapak. Nggak mau nyala.
- Belum ada. Kuncinya belum di situ. - Ya ampun!
Nggak bakal nyala sampe kapan pun, Mas. Udah tenang makanya.
Adek peluk dulu.
Udah?
Beli.
Iya, Bu.
Mau beli obat apa? Batuk pilek lagi?
Bukan, udah sembuh pileknya anak saya.
Mencret. Nah, iya.
Mencretnya gimana?
Mencretnya gimana? Ya begitu aja, Mbak.
Anu, bunyinya mah pret.
Ya begitu, prat, pret, prot aja begitu.
Kayak orang mencret ga?
- Bukan bunyinya. - Bukan?
Lebih ke bentuknya.
Air doang atau ada keras-kerasnya?
Terus temponya gimana pas keluar?
Cepet atau lambat? Perih, nggak?
Saya udah paham bakal ditanya kayak begitu-begituan sama Mbak, iya.
Iya, Bu. Gimana? Yang jelas.
Makanya, nih. Saya bawain contohnya.
Tuh. Nih.
Tuh, eek anak saya ini. Contohnya.
Kenapa itu?
Buset dah.
- Bu. - Ya?
- Bu, disimpen aja. Saya ke belakang dulu. - Ke belakang?
Kenapa, sih? Katanya suruh bawain contoh. Dibawain contoh, dia gitu.
Kok gitu sih, Mbak? Gimana sih, maksudnya?
Tante Adelia!
Dila!
Sini, Sayang! Duh!
- Kangen. - Dim.
- Mbak. - Masih inget nggak, ini siapa?
Om Dimas!
Pinter nih!
- Lagi ngapain, sih? - Lagi benerin rambut.
Mau diapain rambutnya?
Tuh, liat. Udah cocok. Tanda-tanda mau punya anak.
- Jangan! Udah cantik, kok. - Adimas.
Kamu ditungguin sama bapak dari pagi.
- Bapak di mana? - Di kebun.
Disuruh ibu panen rambutan.
Memangnya kalo dilihatin doang, itu rambutan bisa jatuh sendiri, ya?
Dipetik dong, Pak!
Buat cuci mulut nanti abis makan.
Ayo.
Man. Petik.
'Kan bapak yang disuruh, bukan saya.
'Kan aku nyuruh kamu. Kamu menantuku.
Banyak semutnya, Pak. Alergi saya.
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Nah, ini dia nih. Menantu kesayangan Bapak.
Pak.
Anakku mana?
Ada di dalem, Pak. Sama Mbak Amelia.
Ini rambutannya mau dipetik, Pak?
- Rebonding. - Cream bath sekalian.
Ya dipetik, lah.
Bapak udah nungguin menantu idamannya dari tadi.
Ini rambutan, nungguin kamu.
Hampir jadi kesemek.
- Ya udah. - Saya yang metik?
Ya kamu!
Ya udah, cepet. Lakukan.
- Man. Aku udah kangen sama anak. - Iya, Pak?
Yang hilang.
Bapak nanyain mulu.
Lo tunjukin, kalo lo tuh bener-bener laki-laki idaman!
Udah jadi belum, sih?
Mana sih yang deketan dikit?
Mana, ya? Anakku yang hilang, ya?
Bapak!
Gimana? Baik-baik aja, 'kan?
Kalo menderita, bilang bapak.
- Biar bapak gundulin Adimas. - Nggak.
Nggak menderita. Mas Adimas tuh baik banget, Pak.
Mas. Mas Adimas mana?
Lagi disuruh bapak metik rambutan.
Haduh, ntar dia manjat lagi!
Tuh 'kan.
Mas? Mas Adimas!
Mas!
- Mas! Mas, ini kenapa? - Kenapa?
Aduh! Mas!
- Mas, tolongin! - Sini!
Mas!
Mas?
Mas, nggak apa-apa? Mas!
Mas!
Aduh! Mas, nggak apa-apa?
- Aduh! - Nggak apa-apa.
Kamu itu 'kan disuruh metik rambutan.
Kenapa pake naek segala, sih?
Ya kalo metik nggak sambil manjat, gimana, Pak?
Yaelah.
Deket sini jelas ada ini. Nih.
Gini nih caranya. Nah, tuh!
Nah, 'kan.
Pelan-pelan, ya.
Sakit?
Dek. Sakitnya nggak seberapa.
Harga diri, Dek.
Kayanya Bapak bener-bener nih.
Aku diremehin habis-habisan. Gak ada harga diri sama sekali.
Mas jangan ngomong kaya gitu!
Nanti Adek jadi ikutan stres!
Adek belum mens dua minggu ini!
Dek?
Jangan-jangan…
Jangan-jangan.
Dek!
Mas! Anak kita!
Nanti kedengeran bapak ibu! Jangan gitu, dong!
Justru harus denger!
Hamil deh ini.
Isi ini.
Dek.
- Nih, Pak. - Ya.
Sediain dulu. Anak-anak nggak ikut makan?
Udah tidur, Pak.
Ini.
Fungsi keluarga. Ada anak, ada suami, ada istri.
Semua bekerja sama untuk mendidik anak.
Itu bagus! Ayo, makan. Ayo!
- Makan. - Yuk!
Saya ada pengumuman, Pak.
Apa?
Apa?
Adelia hamil. Bentar lagi, kami punya anak.
Beneran, Del?
- Senangnya! - Mantap!
Kok nggak bilang?
Ini baru mantu yang bisa membahagiakan mertuanya!
Ayo. Sekarang makan, ya.
Aku sendokin.
Ayo. Kurang?
Del. Kamu udah cek?
Belum.
Kalo kamu belum cek, Adimas tahu dari mana kamu hamil?
Soalnya aku udah telat dua minggu.
Firman. Nggak pake nasi?
Del, makan yang banyak. Makan buat dua orang.
Hamil?
Ya kayanya hamil. Soalnya udah gak mens.
- Butuh ini, 'kan? - Nah, ini dia.
- Tahu 'kan, cara pakenya? - Taro di ketek.
Kok bercanda?
Itu termometer, dong!
Kalo yang ini dikencingin, Mas!
Iya tahu, Ning.
Iya, kalo keluar garis satu, berarti negatif.
Kalo dua garisnya, berarti positif.
Kalo garisnya tiga?
Ke dokter mata! Check up!
Nggak ada itu!
Oke.
- Nih. - Ya.
Mas.
Ning nitip salam dong, sama Bang Meka.
Yuk.
Permisi, ada orang di dalem?
Ada!
- Siapa? - Meka.
- Lama, nggak? - Lama, nih.
Panjang, Bro!
Jangan nonton film di dalem, Mas! Aku mules, nih!
Entar!
Adelia hamil?
Adelia hamil!
Selamat, ya!
Apa?
Selamat, udah hamil!
Nggak kedengeran!
Siapa yang hamil?
- Adelia! - Adelia hamil?
Iya! Akhirnya!
- Siapa hamil, Mas? - Siapa?
- Adelia hamil! - Seriusan?
- Adelia hamil! - Adelia hamil!
- Adelia hamil! - Hamil!
Adelia hamil!
Udah, Dek?
Belom, Mas. Masih nunggu.
Jangan lupa ya, itu dipipisin, Dek. Jangan ditaro di ketek.
Iya, tahu.
Kalo satu garisnya, artinya negatif. Kalo dua, artinya positif.
- Dek? - Iya.
Masih lama ya, Dek?
Nggak sabar aku.
Kalo anak kita perempuan,
kita kasih nama siapa, ya?
Luna?
Atau Maya?
Atau Mayasari juga bagus ya, Dek?
Tapi kaya nama bus.
Mungkin alatnya yang salah.
Nggak cocok atau apa gitu. Aku beli baru ya, Dek?
Udah deh, Mas! Adek emang nggak hamil!
Maaf ya, Mas.
Mas pasti kecewa.
Jangan minta maaf, dong.
Nggak ada yang kecewa.
- Udah, Dek? - Udah.
Yuk.
Permisi. Rumah Mbak Adelia, ya?
Iya.
- Ada kiriman buat Mbak. - Ya.
- Makasih, ya. - Iya, sama-sama.
Dari siapa, Dek?
Dari ibu. Nih, supaya sehat janinnya.
Terus ada titipan rambutan juga dari Bapak. Buat Mas.
Bapak jadi baik banget sama Mas, ya?
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Iya. Baik banget.
Kebayang, nggak? Kalo dia tahu kita bohong?
Jangan dibayangin ya, Dek. Bawa masuk aja, deh.
Bentar ya, Mas.
Aduh!
Kamu serius mau ikut olahraga?
- Iya. Kenapa? - Udah. Istirahat aja.
Ya? Biar nggak kecapean.
Orang nggak kenapa-napa.
Ya udah. Nggak apa-apa.
Asal jangan loncat-loncat, ya. Bahaya.
Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu, semuanya!
Pagi!
Biar sehat, biar segar, kita olahraga dulu, ya?
Yuk, mulai!
Ya, saya mau kasih peringatan nih, sama yang sakit asma, jantung,
gerakannya nggak usah terlalu hot, ya. Secukupnya aja.
Termasuk Mbak Adelia yang sedang hamil muda.
Ayo, mulai!
Mbak? Mbak Adelia.
Mbak Adelia mau ke mana?
Mbak, kalo hamil muda, banyak istirahat, ya.
Jangan capek-capek.
Ayo semuanya, kita lanjutin lagi, ya.
Kamu gak ikut olahraga?
Saya nggak enak badan, Pak.
Biasa itu. Awal-awal hamil memang seperti itu.
Gampang mual. Gampang pusing.
Istri saya juga kaya gitu.
- Saya nggak… - Nggak apa-apa.
Kalo kamu memang mau istirahat, pulang dulu.
Nanti saya suruh Pak Amat anterin, ya?
Gitu, Pak?
Saya ke lapangan dulu.
Ini bikinnya pas ketangkep basah sama saya waktu itu di gudang, ya?
Saya bercanda.
Aduh, gimana nih?
Sebelum kita semua bubar, ada hal yang ingin saya sampaikan.
Mas.
Adelia dan saya pagi ini mendapat banyak sekali ucapan selamat
atas kehamilan istri saya.
Tapi sebenarnya…
Adelia belum mengandung.
Saya sendiri sebagai seorang suami, belum berhasil.
Tunggu, Dimas.
Rekan-rekan semua, saya senang sekali.
Mendengar sebuah kejujuran pada hari ini.
Untuk Adimas dan juga Adelia,
jangan putus asa.
Masih panjang perjalanan. Masih bisa terus mencoba.
Semangat terus, Adimas, Adelia!
- Hajar, Mas Adimas! - Kamu pasti bisa, Mas!
Pak. Bu.
Saya sekali lagi minta maaf.
Karena sudah terlalu terburu-buru mengabarkan kalau Adelia hamil.
Yang penting kalian harus sabar.
Jangan terlalu…
- Pak? - Bapak!
Biar nanti Ibu yang bicara sama Bapak.
Bapakmu itu sudah keburu gembar-gembor ke mana-mana soal kehamilanmu.
Dia itu bangga sekali lo.
- Adelia harus ngomong sama Bapak! - Dek.
- Pak! - Dek!
Ini, lo.
Bapak sudah sampai belikan buku ini untuk anak kalian.
Saya yang salah, Bu.
Maaf.
Bapak nggak adil!
Mas Adimas tuh nggak pernah bohong sama Bapak!
Dia tuh cuma kecepetan aja ngomong ke semuanya! Itu juga gara-gara Bapak!
Mas Adimas tuh ngerasa nggak pernah dihargain sama Bapak!
Diteror terus, apalagi kalau soal anak!
Makanya dia buru-buru ngomong sama Bapak, sama Ibu!
Biar dianggap sama Bapak!
Mas, ayo balik. Adek udah ngomong sama bapak.
Entar dulu!
- Ya apa? - Bapak nggak salah apa-apa.
Ya namanya orang tua berharap hal yang sama, ya wajar, lah.
Aku yang salah.
Tap ini bukan salahnya Mas!
Dan bapak juga harusnya ngerti!
Iya, tapi 'kan yang bohong aku.
Aku yang mengiyakan sesuatu yang juga belum pasti.
Itu karena kalian berdua sama aja!
Buru-buru pengen Adek cepet-cepet hamil!
Dek, dengerin.
Aku cuma pingin bahagiain bapak. Udah, itu aja.
Mas, udah deh! Ini 'kan pernikahan kita!
Pikirin kita aja, nggak usah dengerin omongan orang lain!
Ya?
Iya. Oke.
Kita pulang, ya?
- Udah mau hujan. - Ya, oke.
- 'Kan belum pamit kita. - Udah!
Udah.
Lo? Belom tidur, Dek?
Belom. Mas, duduk deh.
Duduk dulu.
Nah ini, Adek udah bikin daftar makanan buat Mas makan.
Supaya Adek bisa cepet hamil.
Nih, ada toge. Ada telor…
Mas!
Mas 'kan udah janji!
Iya, siap!
Gitu dong.
Nah terus, ini ada juga nih, jadwal mens sama jadwal masa subur Adek.
Udah ditandain nih, tanggal-tanggalnya. Jadi, Mas harus tahu!
Harus fit nih, Dek!
Ya bukan cuma fit.
Itu jadwal ngerondanya mesti diatur. Jangan bentrok.
Siap! Pokoknya Mas siap melayani Adek.
Kalo Adek nggak keberatan, mau sekarang juga boleh kalo mau dilayani.
Assalamualaikum, Mas Adimas!
Ayo ronda, Mas!
Mas Adimas!
- Kenapa, sih? - Ayo ronda!
Selalu harus datang di saat-saat kaya gini?
Ya udah deh. Mas ngeronda dulu, ya.
Mas.
Mbak. Nyari siapa, ya?
Nyari Bang Meka, Mbak.
Ini, mau nganterin pesanan obat.
Soalnya nggak diambil-ambil, 'kan saya takut dia kenapa-napa gitu.
Itu gantungannya dari Meka, 'kan?
Iya, dibeliin Bang Meka. Soalnya katanya mirip.
Mirip nggak, Mbak?
Mirip. Itu artinya dia tuh naksir sama Mbak.
Mbak. Bisa aja!
Tapi saya nggak tahu ya, Mbak.
Soalnya kalo ketemu tuh, Bang Meka masih kaya bingung gitu.
Tapi kalo kata temen saya, Adelia,
kerja di sini juga. Mbak kenal, nggak?
Adelia. Kenal, dong. Emang, Adelia bilang apa?
Iya, katanya Bang Meka tuh udah lama naksir sama yang namanya Mbak Linda.
Gitu.
Dan emang pesanan obat ini kata Bang Meka ya buat Mbak Linda.
Makanya saya bingung, deh.
Kok perhatian banget gitu Bang Meka sama Mbak Linda itu.
Tapi kata Adelia sih, dia masih ragu.
Ragu kenapa?
Soalnya Mbak Linda dingin, cuek.
Mbak Linda itu
lagi banyak persoalan hidupnya.
Dia tuh janda. Anaknya satu.
Tapi, Mbak. Tolongin dong, Mbak, jodohin saya sama Bang Meka.
Biar dia cepet ambil keputusan, gitu.
Mau sama barang baru atau barang second.
- Ning. Kamu ngapain di sini? - Oppa!
Ning tuh ke sini nganterin pesenan obat Oppa.
Abis nggak dateng-dateng ke apotek. 'Kan Ning jadi khawatir, jadi panik.
Iya. Ini…
Ini sebenernya buat Mbak Linda.
Iya, tahu. 'Kan…
Mbak…
Iya.
Nama saya Linda.
Kok bisa-bisanya Mbak yang namanya Mbak Linda?
Ya, ini namanya Mbak Linda.
- Ya kenapa Oppa nggak ngomong? - Ngomong apa?
- Maksudnya apaan sih, Ning diginiin? - Nggak ngerti, Mbak…
- Kenapa nggak dibriefing dulu, gitu? - Brief soal apa?
Iya Ning 'kan jadi bingung! Ning jadi pusing!
Ning jadi gak tahu harus kayak gimana! Gak tahu Ning di mana!
Udahlah! Oppa emang selalu mainin perasaannya Ning!
- Mainin perasaan? - Ya udah! Ning pergi aja, deh!
Kok ke sini, sih?
Kok…?
Dia kok aneh banget, sih?
Terus ngapain juga dia ke sini, ya?
Jelas-jelas, Ningsih itu naksir sama kamu.
Kamu itu cowoknya perhatian dan kelihatan kok, Ningsih juga gitu.
Cewek perhatian banget.
Kalian itu cocok.
Udah. Kamu nggak usah bingung lagi, deh.
Maksudnya, Mbak? Bingung gimana, ya?
Meka.
Mbak itu seneng kita temenan aja.
Mbak nggak mau hubungan kita berubah sama sekali.
Jadi buruan sama Ningsih.
Jangan sampe lolos.
Aneh banget!
Kesel, deh!
Kenapa kamu, Ning? Ngomong kaya gitu?
Aneh banget sih, ngomongnya gitu ke Mbak Linda!
Otaknya di mana? Mulutnya dijaga, dong!
Udah pasti Oppa Meka nggak suka lagi sama Ning.
Udah pasti nggak mau ngomong lagi sama Ning.
Makanya, dipikir dulu kalo mau ngomong!
Kesel banget, sih.
Aneh, deh!
Bisa nggak sih, dijaga omongannya? Lebih sopan!
Aduh!
Kasian kamu dibuang.
Padahal 'kan, kamu perempuan yang paling baik.
Paling perhatian.
Yang ngasih kamu aja blo'on.
Udah keburu ngambek.
Tanyain dia, dong. Permintaan maaf aku diterima, nggak?
Ya udah dimaafin, biar cepet!
Aku suka kamu.
Aneh banget sih, ngomongnya sama boneka!
Iya ini 'kan latihan doang.
Maksudnya apaan, sih?
Ning.
Sebenernya…
aku suka sama kamu.
Aku suka kamu.
Oppa.
Beneran?
Aku cinta kamu, Oppa.
Cium.
Suaminya selingkuh, tahu?
Kok bisa? Jahat banget, sih!
Mas Adimas ke mana, sih?
Padahal, nikahnya udah lama 'kan?
Ya abis istrinya tuh nggak hamil-hamil.
Suaminya tuh udah nggak sabar pengen gendong anak.
Ya udah. Terpaksa cari cewek lain, 'kan?
Kalo laki gue nih ya,
udah gue potong itunya. Biar kapok!
- Sikat. - Iya, bener banget.
Mas Adimas nggak mungkin selingkuh,'kan?
Gimana nih, kalo Mas Adimas selingkuh gara-gara aku belum hamil-hamil?
Dimakan sendiri sama Mas Adimas.
Apaan, sih?
- Parah! - Pake acara pegang-pegangan, lo!
- Kalian ngapain, sih? - Sini, liat tuh.
- Adimas lagi mesra-mesraan. - Parah banget!
Coba! Gimana coba kalo istrinya…
Minggir!
Cantik.
Badannya bagus lagi.
- Kurang ajar! - Mbak!
Mas!
Adek nungguin di kantin! Malah berduaaan sama dia di sini!
Adek, tenang. Adek dengerin penjelasan aku dulu.
Ya ampun, Mer!
Malah belain dia lagi!
- Gimana, sih? - Cabut.
Kamu belain dia daripada Adek!
Bukan, kalo dia gegar otak gimana, Dek?
Ya siapa suruh ngehindar?
Aduh, Del. Aku tuh sama Mas Adi nggak ada apa-apa. Kamu jangan salah paham dulu.
Maling mana ada yang ngaku!
Dek, tenang ya. Aku cuma lagi berusaha untuk membantu Merry.
Karena kebetulan, sertifikatnya Merry ini palsu.
Jadi dia minta tolong sama aku.
Terus kalo palsu, dipegang-pegang jadi asli, gitu?
Waktu itu Adek dapet uang palsu, nggak dipegang-pegang gitu sama Mas!
Ya ini 'kan aku cuma berusaha buat menghibur dia.
Adek marah! Adek mau pulang!
- Aku anter. - Bukan ke rumah kita!
Ke rumah bapak!
Mas. Kok nggak dikejar?
Denger nggak dia bilang apa?
Dia mau pulang ke rumah bapaknya.
Bapaknya.
Tahu, nggak?
Bapaknya ini! Ngerti, nggak?
Ini baru pertama kalinya nih, kita berantem abis-abisan kaya gini.
Ya, yang namanya suami istri, wajar nggak sih kalo berantem?
Yang nggak wajar tuh kalo dipukul,
ditusuk, diambil ginjalnya.
Udahlah nggak usah kabur-kaburan.
Ya masalahnya, aku nggak bisa…
Nggak bisa gitu di rumah, ketemu sama dia. Pasti kesel banget!
Terus dengan kamu kabur akan nyelesein masalah?
Udah, deh. Mendingan temuin, omongin.
Ketemu gimana?
Gimana coba? Aku masih sakit hati banget!
Del, di mana-mana, orang sakit itu harus mau minum obat walaupun pahit.
Tiga kali sehari,
satu sendok makan.
Laki-laki itu harus mengalah sama perempuan, Mas Adimas.
Apalagi kalo wanita itu keadaan emosi.
Kita pasti mental.
Tapi jangan takut. Ingat kata Yunani,
"Orang yang mengalah, pasti akan mendapatkan kemenangan." Gitu.
Mas. Menghadapi perempuan itu
harus seperti harimau ingin berburu dia punya mangsa.
Dia mundur dulu satu langkah
untuk dia siapkan tiga langkah dan menerkam itu mangsa.
Mengerti, Mas?
Maksudnya di sini nih, mengalah dulu
untuk meraih kemenangan yang lebih besar.
Paham?
Saya sudah jelaskan tadi secara pintar dan cerdas, ini tidak mengerti juga.
Udah, udahlah.
Pokoknya besok, Mas Adimas harus menjemput Mbak Adelia pulang.
Titik.
Percayakan pada kami semua akan selalu berdoa
untuk perjalanan Mas Adimas.
Semoga perjalananmu lancar, damai, dan aman dari segala bencana.
Itu tuh sebenarnya bahasa Yunani atau Jawa? Kok mirip?
Yu Nani itu bude saya, kok.
Bude?
Mbak Yu Nani, begitu?
Ayo, pulang!
Gue nggak ngerti aja sih, Mek.
Sikap Adelia tuh lagi
marah-marah mulu.
Terus cepet senewen. Mungkin karena dia gak hamil-hamil, ya?
Gue juga nggak ngerti. Terus terang gue bingungnya tuh untuk…
Respon gue harus gimana, ya.
Nah, mungkin selama ini, lo kurang perhatian sama dia.
Makanya dia jadi cemburu waktu ngeliat lo deket sama Merry.
Adek kayanya gemukan deh, Mas.
Nih, coba liat tuh!
- Nggak, Dek. - Bohong!
Mas. Adek nggak tahu nih, mau pake baju apa.
Nggak ada yang cocok!
Badan Adek tuh sekarang kaya pegel-pegel.
Kakinya, pinggangnya. Kenapa, ya? Udah tua kali, ya?
Bukan, kebanyakan duduk kamu.
Ngetik-ngetik kali, apa. Udah tidur.
Tapi pegel banget.
- Sini. - Ini?
Bener, lo!
Lo sekarang anterin gue ke rumah bapaknya Adelia.
Gue mau jemput bini gue balik.
- Tapi… - Sekarang juga.
Buru.
Tunggu apa lagi, Dim?
Kalo sampe ada apa-apa sama gue,
lo jagaain Adelia, ya?
Oke.
- Hidup dan mati, nih. - Iya.
Lo nggak mau ikut gue? Temenin.
Nggak mau gue ikut-ikutan.
Takut gue sama Om Idris.
Bro. Bisalah. Sukses ya, Bro!
Hai, Ning.
Oppa, Ning minta tolong, dong.
Ini dari tadi Mas Adimas nggak angkat-angkat, ya?
Ke mana, ya?
Nih lagi sama Adimas. Tuh.
Mau jemput Adelia di rumahnya.
Siapa, Bu?
Adimas, Pak.
Pak.
Bapak. Ibu.
Saya datang kemari mau menjemput Adelia.
Kami bertengkar.
Bapak sama Ibu
mungkin
akan marah sama saya kalo tau ini semua.
Tapi saya cuma mau bilang bahwa…
- saya sama Adelia… - Bude.
Adimas, ini…
Saya nggak pernah bermaksud menyakiti hati Adelia, Bapak, Ibu.
Saya nggak mungkin dan tidak akan pernah menyakiti perasaan Adelia.
Saya sangat mencintai Adelia, Pak.
Kalo Bapak mau marah sama saya, marah.
Bapak mau maki-maki saya, silakan, Pak.
Atau bahkan Bapak mau pukul saya, pukul.
Saya terima.
Tapi saya mohon satu hal, Pak.
Setelah Bapak pukul saya…
Bapak marah, Bapak maki-maki saya,
izinkan saya untuk jemput Adelia pulang.
Bu.
Urusan sama kamu.
Aku nggak ngerti kok mantu goblok gini!
Dimas.
Adel itu…
nggak ada di sini.
Iya.
Itu yang gue mau omongin dari tadi.
Adelia nggak pernah ke sini. Dia di kosnya Ning.
Sekarang lagi mau diajak ke rumah lo.
- Ya ampun, Dek! - Mas.
Mas Adimas.
Aku udah sampe sini. Katanya mau pulang ke rumah sini, ke rumah bapak.
Nggak.
Adek itu cuma nakut-nakutin Mas Adimas aja.
Adek nggak kepikiran Mas Adimas berani ke sana.
Ya harus berani, lah. Terus gimana kalo aku hidup nggak ada kamu, Dek?
Aku tuh cinta sama kamu.
Aku minta maaf ya, Dek.
Mas, Adek mau ngomong sama ibu.
- Del. - Bu, Adelia nggak apa-apa ya, Bu.
Tolong bilang sama bapak.
Mas Adimas itu orangnya baik banget.
Cuma Adelia aja yang suka jahat, suka cemburu.
Ya, iya.
Ya sudah, kamu pulang ya, Del.
- Makasih. - Iya, Bude.
Bu. Saya pamit, Bu.
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Ayo! Buruan!
Iya! Sabar bisa nggak, sih?
- Kenapa nih? - Patah gue.
Mati gue, nih!
Pak.
Pak, ampun, Pak! Ampun!
Ini untuk kamu.
Ini ramuan sari getah rambutan.
Minum sehari dua kali.
Ini ramuan rahasia Keluarga Idris.
Ngerti?
Makasih, Pak.
Ayo! Buruan!
Jalan yuk! Aduh, ini nggak bisa lebih cepet apa ni mobil?
Sabar!
Lo!
Aduh! Oke…
Kenapa, sih?
Astaga!
Lupa gue!
Kenapa, sih? Aduh!
Ban cadangannya udah kepake minggu lalu.
Yang asli tuh masih di bengkel.
Ya terus, ini gimana mau jalan? Kita nggak ada bannya, gimana?
- Ya udah… - Nggak! Gue lari.
Dim!
Aduh!
Udah, nggak usah ditungguin. Ntar juga dateng.
Ini kepalaku pusing lagi. Ini udah dua minggu pusing terus.
Mungkin gara-gara itu kali, aku jadi cepet emosi.
Gimana, dong?
Ada apa nih, rame-rame?
- Lo? - Pak RT!
Mbak Adelia!
Sudah kembali, ya?
Udah, Pak. Ini ada apa, ya?
Lah 'kan Mbak yang sosialisasi program dari Pak Camat.
Ke kami-kami ini, Mbak Adelia.
Hari ini Perayaan Belimbur!
Kita kumpul di lapangan! Ayo, ikut! Ayo!
Bapak duluan. Nanti saya nyusul.
Ditunggu lo, ya?
- Ayo, aku duluan ya. Sep. - Ditunggu ya, Mbak!
Belimbur apaan, Del?
Belimbur itu tuh kaya apa, ya? Tradisi saling menyiram antarsesama warga gitu.
Kalau di Kutai sana, itu kaya bagian dari
ritual apa, ya? Festival Erau itu. Penutupnya.
Ya udah, yuk. Liat, yuk!
Ya daripada di sini, nunggu Mas Adimas nggak dateng-dateng.
Mendingan kita ngumpul.
Mainan air, 'kan?
Biar nggak pusing. Biar happy. Ayo!
Ayo!
Bapak-bapak dan Ibu-ibu,
tradisi saling menyiram air ke kita semua.
Kita rayakan, selain untuk menjalin keakraban.
Ayo, ke depan! Hati-hati!
Aduh!
…untuk keselamatan dan juga perlindungan diri!
Agar ke depannya kita bisa tetap saling membantu dan rukun sesama tetangga!
Seru banget!
- Ningsih. - Apa?
Aku nggak enak badan. Aku balik aja, ya?
Aku pusing.
- Ntar dulu! Balik? - Balik, yuk.
Ya udah, ayo!
Rame banget, tapi.
Aduh! Ada orang mati gara-gara kita!
Boleh tolong angkat nggak, Mbak?
- Taro mana? - Di sana.
Charlie!
Ini, aduh! Puter, Mbak.
Hati-hati, Del.
Aduh, maaf ya!
- Ini, jadi kalian mau minta maaf apa… - Mau.
- Maafin ya, Mbak. - Kita nggak sengaja.
Dia isi air kebanyakan.
Iya, ya udah.
Makasih, ya. Ini saya bawa Adelia masuk ke dalem kamar dulu.
Iya, Mbak.
Kita pamit ya, Mbak. Maaf, Mbak.
Lo isi air kebanyakan.
Orang lagi pesta-pesta, berbahagia!
- Itu air masuk ke hidung. - Dia fisiknya lemah!
- Udah! Kita main lagi ke lapangan. - Ya udah, ayo.
Charlie!
Liat apaan, lo?
Nggak ada apa-apa.
Itu ada binatang! Tuh ada binatang.
Liat ada kecoa!
Emang gue anak kecil?
Foto bugil, ya?
Nggak ada! Nggak ada foto bugil kok.
- Gue pengen liat! - Jangan!
Minggir!
Elah.
Jodohku. Maunya 'ku dirimu.
Udah, Ran.
Sama dia?
Ran, udahlah.
Ran!
Ran, udah.
Ran, udah yuk. Pulang.
Ran!
Udah, yuk.
Lari!
Kenapa kalian jahat semua?
Aku lagi patah hati!
- Ran! - Diem, setan!
Kenapa?
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Saya pinjem dulu, Pak! Nanti saya balikin!
Motor saya, Pak!
Ning.
Del. Udah enakan?
Del. Kok dua bulan terakhir ini, tanggalnya nggak kamu kasih tanda?
Kamu udah mens belum?
Kamu cek, deh.
Tapi kamu jangan bilang sama Mas Adimas dulu, ya?
Ntar kalo hasilnya negatif,
Mas Adimas kecewa lagi.
Takut dia yang kecewa,
atau kamu?
Semoga cita-cita dan keinginannya terkabul, Mas!
Semoga semuanya terwujud!
Ya ampun.
Oke. Makasih, ya. Mas Yosep, Pak RT, terima kasih. Saya masuk dulu.
- Iya. - Del! Adelia!
- Mas! - Dek!
Mas Adimas!
Alhamdullilah!
Maafin Mas, ya? Mas minta maaf ya, Dek.
Mas udah banyak ngecewain Adek, nggak dengerin Adek.
- Mas kurang perhatian sama Adek. - Mas.
Soal ini kita gak usah pikirin lagi.
Pokoknya Adek mau apa, mau makan toge sebakul juga Mas ikutin.
- Mas makan yang Adek… - Mas!
- Apa? - Ini positif!
Ini garisnya dua, Dek. Kalo garisnya dua…
Adek hamil.
Ya ampun. Beneran Adek hamil, Dek? Akhirnya, Dek?
Iya. Adek hamil.
Ya ampun, Adek!
Alhamdullilah!
Ini Adelia sama Adimas ke mana dulu, sih? Lama banget!
Sabar toh, Pak!
'Kan udah janji. Nanti dari klinik langsung ke sini.
Tapi lama banget. Aku cuma pengen tahu
jenis kelaminnya. Udah, itu aja!
- Udah. - Pak.
Diliat dari bentuk perutnya Adelia, kayaknya laki-laki, Pak.
Adimas itu musti terima kasih sama bapak.
Gara-gara ramuan getah rambutan keluarga kita itu,
coba liat, Adelia 'kan hamil.
Adelia bukannya udah hamil sebelum Bapak kasih ramuan?
Kamu tuh mesti berseberangan kok sama Bapak.
Datang!
Adelia!
Gimana hasilnya?
Ayo, jangan cengengesan, dong!
Laki apa perempuan?
Kemungkinan dua-duanya, Pak.
Maksudnya?
- Kasih. - Kembar, Pak.
Kembar?
- Kerja bagus! - Duh, selamat, Del!
Bu! Kembar, Bu!
- Selamat ya, Dimas. - Iya, Pak.
Selamat.
Iya, makasih, Pak.
Sekarang udah keliatan 'kan, Pak. Siapa yang lebih jantan.
Pak!
Nangisnya jangan di sini, Pak. Malu sama tetangga.
Yuk, masuk.
Udah gendut, botak, cengeng lagi!
Sangar doang.
Aku masih bisa batalin perkawinanmu lo!
- Denger, Pak? - Pasti!
Maaf, Pak.
Denger.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.