Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
P. APAKAH ADA CARA MUDAH UNTUK MATI? J. LOMPAT DARI BANGUNAN, KURASA?
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Warnanya bagus.
Maksudku…
Pensil warna Faber-Castell itu bagus, 'kan?
Aku juga mau, tapi mahal.
Kudengar Chagall dan entah siapa, aku lupa, menggunakannya.
Van Gogh.
Apa?
Van Gogh juga menggunakannya.
Benar…
Apa yang kau gambar?
Surga.
Surga?
Tempat yang segera kutuju.
Lalu, kau? Kenapa kau kemari?
Apa?
Kau berencana lepas landas dari sana?
Tidak.
Aku hanya…
Aku bercanda.
Kau menjenguk seseorang?
Ya! Seorang teman.
Tapi itu bukan lelucon.
Soal pergi ke surga.
Aku tak bohong.
Aku…
akan segera mati.
Enam bulan lagi.
Hanya satu dari ratusan ribu yang terjangkit
penyakit langka ini.
Aku terlahir dengan itu.
Begitu, ya.
Aku mengerti.
Kau tak terkejut?
Apa?
Tidak jadi.
Maaf…
Kau tak takut?
Takut apa?
Kematian.
Kau tampak
tak ketakutan.
Aku tak takut.
Aku sudah tahu bahwa hidupku pendek sedari dulu.
Daripada rumah sakit,
pemandangan di surga tampak lebih menyegarkan.
Bahkan bisa dibilang…
aku tak sabar ke surga.
UNGGAHAN BARU: APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA TAHU KAU AKAN MATI?
Kak!
Cepat makan, nanti terlambat!
Aduh!
Nasib Kakak sungguh buruk.
Kau mudah sekali tertimpa sial.
Natsumi…
- Nanti kubelikan palet baru. - Tidak usah.
Masih bisa dipakai.
Belikan saja tongkat lacrosse yang Natsumi mau.
Serius? Crux Pro?
Baik, semuanya.
Rata-rata sudah selesai. Ayo kita bahas jawabannya.
Lihat ke papan tulis.
Mudah tertimpa sial.
Natsumi benar.
Akito…
Kau harus ikut kompetisi ini.
PAMERAN SENI NIKA
Akan jadi prestasi luar biasa bila murid SMA bisa menang.
Baiklah.
Kompetisi itu adalah tujuan terbesar yang dapat kujangkau.
Melukis adalah pintu masa depanku.
Itu yang kupercayai.
Tumor ganas?
Tumor di jantung jarang sekali terjadi,
tapi di beberapa kasus,
itu bisa jadi titik pertumbuhan utama.
Dokter menemukan tumor di jantungku dan bilang umurku tinggal setahun.
Semuanya tergantung penyebarannya,
tapi perkiraanku umurmu sisa setahun.
Butuh beberapa hari untuk mencernanya.
Tidak, seminggu.
PAMERAN SENI NIKA
Bahkan bisa dibilang…
aku tak sabar ke surga.
Aku penasaran
bagaimana bisa dia tak gelisah.
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Jika bisa bertemu dengannya lagi,
menanyainya mungkin menenangkanku.
Jadi, aku yang takut akan kematian
bertemu gadis yang tak takut akan kematian.
DRAWING CLOSER
Silakan masuk.
HARUNA SAKURAI
Permisi.
Pas sekali. Aku sedang mencari model.
Aku tak punya teman yang menjenguk, jadi…
Namamu Haruna Sakurai?
"Haru" artinya musim semi, 'kan? Saat itulah aku lahir.
Orang tuaku tak kreatif.
Tunggu, namaku Akito.
Akito Hayasaka!
"Aki" artinya musim gugur, saat aku lahir.
- Berapa umurmu? - Tujuh belas.
Aku juga!
Kok bisa kebetulan?
Kau bisa duduk di sana.
Oh, baik.
Eh,
kau suka menggambar juga?
Apa?
Kau tahu tentang Faber-Castell.
- Aku ikut klub seni. - Nah, 'kan?
Tapi belakangan ini aku bolos.
Aku yakin kau mengincar sekolah seni.
Masa depanmu adalah…
pelukis?
Masa depan, ya?
Ya, impian masa depanmu.
- Sebenarnya, aku… - Asyiknya…
Aku juga ingin sekolah seni.
Kau ikut kompetisi Pameran Seni Nika, 'kan?
Aku juga ingin ikut,
tapi waktuku tak cukup untuk buat sesuatu yang luar biasa.
Kalau begitu,
kupercayakan padamu.
Kita daftar sekolah seni dan ikut kompetisi itu.
Entah bagaimana, aku hanya bisa terdiam.
Hei, boleh lihat karyamu?
Ya, silakan.
Kau hebat, Nona Sakurai.
- Kau kursus? - Tidak.
Aku bahkan tak pernah ke museum seni.
Sungguh?
Oh, ya.
Panggil Haruna saja.
Apa?
Jadi, Haruna…
Kenapa dalam keadaan seperti ini, kau…
bisa tetap menggambar?
Ini satu-satunya
dunia di mana aku bisa bebas.
Saat aku dengan buku sketsaku,
aku merasa tak terikat.
Aku bisa melukis di atas penyakitku dan terbang ke mana pun aku mau.
Jika kau punya masalah, aku akan melukisnya untukmu juga.
Eh,
patung ini dekat SMP Aoba, 'kan?
Ya. Itu SMP-ku.
Tapi aku jarang masuk kelas.
Aku sering naik sepeda lewat sana.
Salah satu anggota klub kami juga dari SMP Aoba.
Namanya Takada.
Sungguh?
Lalu, gambar halaman berikutnya,
kau tahu ada di SD mana?
Gadis ini terlihat dekat denganmu.
Dia temanmu?
Ya, bisa dibilang begitu.
Atau mungkin, sudah tidak lagi.
"Tidak lagi"?
Haruna! Waktunya untuk diinfus!
Baik…
Maaf.
- Eh, dia temanmu? - Ya.
Tumben sekali.
Kalau begitu,
aku pulang dahulu.
Baiklah.
Hei…
Boleh aku datang lagi?
Apa?
Aku masih…
ingin lihat gambarmu.
Tentu.
Kau boleh datang lagi.
Sebagai gantinya, bawakan hadiah syukuran rumah.
Syukuran rumah?
Hal baru untuk digambar.
Aku bosan dengan yang ada di sini.
Baiklah.
Kalau begitu, sampai jumpa lagi.
Ya. Sampai jumpa lagi.
Itu saja. Anggota OSIS, jangan lupa datang ke ruang guru.
Sesi penyuluhan selesai.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Permisi.
Akito!
Kau bolos klub seni lagi?
Aku sedikit lelah. Aku tak ikut dulu.
"Tak ikut dulu"?
Lalu kompetisi Pameran Seni Nika? Bukannya kau mau daftar?
Pameran Seni Nika, ya…
Eh, ada apa?
Kecelakaan sepeda kemarin mengubahmu?
Tidak.
- Lututnya sudah sembuh. - Hentikan!
Ayo, katakan ada apa?
Maaf, busnya sudah datang.
Perhentian berikutnya, rumah sakit universitas kedokteran.
Yang mengunjungi Toko Bunga Bel Fiore
bisa turun di sini.
TOKO BUNGA BEL FIORE
- Terima kasih! - Terima kasih!
- Ada bunga yang sedang kau cari? - Apa?
Hadiah untuk pacarmu?
Oh, tidak, aku…
Kau sampai tak berkedip.
Itu untuk temanku di rumah sakit.
Jangan pilih bunga di pot.
Apa pun dengan akar dianggap memperburuk penyakit.
Coba ke sini.
Bagaimana dengan bunga ini?
Sangat berwarna-warni.
Seperti palet pelukis.
Mereka disebut gerbera. Ada lebih dari 2.000 spesies.
Dua ribu?
Masing-masing punya arti tersendiri,
tapi apa pun warnanya, tak satu pun bermakna negatif.
Jarang yang seperti itu.
Warna juga mencerahkan suasana.
Pas untuk hadiah lekas sembuh.
Kalau begitu, aku beli empat.
Tidak, tunggu! Lima saja.
Warnanya?
Aku pilih merah muda.
Merah muda bermakna "terima kasih".
Bagaimana?
Lalu bagaimana dengan oranye?
Oranye bermakna "kesabaran dan ketahanan".
Kalau kuning?
Kuning bermakna
"keindahan terbaik".
Putih bermakna "kemurnian".
Dan biru…
Aku hampir lupa.
Gerbera jika digabungkan bermakna "harapan".
Itu dia!
Lima dengan warna berbeda.
HARUNA SAKURAI
Haruna?
Haruna, boleh aku masuk?
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
Jangan masuk tanpa izin!
Oh…
Maaf.
Bagaimanapun ini masih kamar wanita.
Maafkan aku.
Ini bisa menebusnya?
Karangan bunga?
Gerbera.
Terima kasih.
Senangnya.
Aku suka gerbera. Mereka sangat manis.
Pemilik toko bunga merekomendasikannya.
Makna bunga itu
adalah "harapan", katanya.
Harapan, ya?
Oh…
Maaf.
Bukan itu maksudku.
Jangan khawatir.
Bagiku, penyakitku adalah
"mantra sihir yang luar biasa".
Jika seseorang menggangguku, begitu mereka tahu aku sakit,
mereka semua menghindar dan pergi.
Mantranya hanya gagal…
pada satu orang.
Apa?
Bukan apa-apa.
Mau minum sesuatu di ruang tunggu?
Ayo.
Teman baru?
Akito Hayasaka, yang lahir di musim gugur.
Kita bertemu di atap.
Dia seniman masa depan Pameran Seni Nika.
Begitu, ya.
Maaf harus kupotong, tapi Haruna ada jadwal tes.
Oh, ya. Aku lupa.
Maaf.
Tak apa.
Lain waktu saja, ya?
Ya. Sampai jumpa lagi.
Tunggu.
Jika tak keberatan,
datang lagi, ya?
Tentu saja.
Jadi, begitu.
Tidak sepertiku,
Haruna tak bisa menemui orang, bahkan jika dia mau.
Dia hanya bisa berbaring, menunggu untuk dikunjungi.
YANG KEBAL DARI MANTRA
Atau mungkin, sudah tidak lagi.
RUANG KLUB SENI
Hayasaka.
Katanya kau berhenti.
Oh… Ya.
Takut, ya?
Tak penting juga, sih.
Hei, Takada…
Kau sekolah di SMP Aoba, 'kan?
Benar.
Kau ingat gadis bernama Haruna Sakurai?
Dia…
Gadis yang sakit itu, ya?
Aku tak begitu ingat.
Apa Haruna dekat dengan seseorang?
- Teman baik atau… - Teman?
Haruna jarang datang ke sekolah.
Ah, tapi…
aku pernah melihatnya
beberapa kali bersama Miura.
Miura?
Dia teman sekelasku.
Miura yang itu, ya?
Ya? Kau mau apa?
Lalu, kau siapa?
Oh, aku…
- Hayasaka… - Namamu tak penting.
Tapi kau…
Itu caraku menolak.
Kau bukan yang pertama mengajak kencan.
- Ayo, Ayaka. - Ya.
Kau salah paham.
Ada yang ingin kutanyakan.
Apa?
Kenapa tak bilang dari tadi?
Jangan basa-basi. Buang-buang waktu saja.
Kau kenal Haruna Sakurai?
Kudengar kau dekat dengannya.
Maaf, nanti kususul.
- Oke. - Ya.
Kenapa kau bisa kenal Haruna?
Oh, dia…
- Bisa dibilang kita rekan. - Apa?
Apa kau
bermain ayunan dengan Haruna saat masih kecil?
Atau memungut kucing liar bersama?
Rupanya begitu. Haruna dirawat di rumah sakit lagi.
Kali ini mungkin dirawat lama,
dan sepertinya tak ada teman yang mengunjunginya selain aku.
Jadi kupikir Haruna akan senang jika ada teman lain yang menjenguknya.
Kau ingin cari perhatiannya.
Kau salah paham.
Aku hanya ingin membantunya.
Namamu Hayasaka, kan?
Maaf, tapi tak bisa.
Aku tak pernah menemuinya sejak masuk SMA.
Kami tak bisa disebut teman sekarang.
Aku yakin Haruna juga tak ingin kujenguk.
Inilah sebabnya kau tidak punya teman!
Aku sampai.
Selamat datang.
Dari mana saja kau?
Berbelanja.
Katanya kau bolos klub seni.
Eri khawatir dan bertanya tentangmu.
Oh, ya? Yah…
Kenapa tak kau beri tahu?
Beri tahu apa?
Ibu akan merasa lebih baik jika Eri menjagamu.
- Aku yakin… - Ini bukan urusannya.
Aku tak ingin jadi beban.
Ada apa?
Biar kutebak, Kau ditolak!
Kau tak punya beban, ya?
Enak banget.
Hidup ini tak hanya lacrosse. Jangan lupa belajar.
Akito, Ayah boleh masuk?
Ya.
Hari libur mendatang,
bagaimana jika kita jalan-jalan sekeluarga?
- Jalan-jalan? - Ya.
Kau penah bilang ingin mengelilingi Jepang dengan buku sketsamu saat punya SIM.
Aku bilang begitu?
Seluruh Jepang agak mustahil, tapi ayo kita coba.
Natsumi juga ingin pergi. Ayo pergi bersama.
Tinggalkan saja aku. Kalian bertiga saja.
Aku hanya jadi beban bila ikut.
Jadi beban itu tak apa.
Manja sedikit tak apa.
Kau sudah mati-matian melukis.
- Ayah yakin masih ada yang bisa… - Sudah tak ada.
Meski ke sana, kenangan itu tak ada gunanya.
Maaf…
Itu saja?
Menjengukku tiga minggu berturut-turut…
Ini hadiahmu.
Terima kasih.
Aku tak mengira kau akan sering datang.
Aku sampai menyatu dengan bunganya.
Ayo hidup bersama seminggu ke depan.
Semangat.
- Mako! - Lama tak bertemu!
- Kau baik-baik saja? - Aku baik-baik saja.
- Ya, benar. Lihat ini. - Ya ampun…
- Pasti sakit. - Kau yang membuatnya begitu.
Mau kembali ke kamar?
Aku tak nyaman dengan obrolan mereka.
Yuk.
Jadi, Haruna… Ada orang yang kau tunggu untuk menjengukmu?
Yah…
Bagaimana dengan teman yang kau sebut sebelumnya?
Yang kuharapkan datang
adalah ayahku.
- Ayahmu? - Ya.
Ayahmu tak datang?
Sudah lima tahun.
Aku ingin minta maaf padanya.
Minta maaf?
Ayahku…
selalu meluangkan waktu
melakukan hal-hal yang kuinginkan.
Dulu saat aku dirawat, tak peduli seberapa sibuk,
ayahku selalu datang sepulang kerja.
Sebenarnya ayahku senang bepergian.
Saat aku lahir,
impiannya pergi berkemah atau ke pantai bersama.
Tapi aku tak pernah bisa pergi ke mana pun bersamanya.
Makanya,
aku ingin minta maaf karena terlahir dengan tubuh ini.
Maaf karena terlahir bukan menjadi putri sehat yang dia harapkan.
Ini dia.
Terima kasih.
Permisi.
Kau Kepala Perawat, 'kan?
Aku ingin menanyakan tentang keluarga Haruna Sakurai.
Keluarganya?
Jadi…
Aku tak pernah melihat mereka.
Entah ada masalah apa, Haruna bilang ayahnya lama tak datang.
Memang bukan urusanku,
tapi bisakah pihak rumah sakit menghubungi ayahnya?
Atau bisakah…
aku bicara dengan ibunya?
Bisakah kau beritahu aku
kapan ibunya akan ke sini?
Kalau ibunya, ada di sini.
Apa?
Aku…
ibunya Haruna.
Maafkan aku.
Aku sudah lancang.
Namun…
Aku hanya tak ingin mencampur
pekerjaan dan hubungan pribadi.
Saat kulihat kau datang kembali,
aku sangat bersyukur sampai ingin lompat memelukmu.
Soal ayahnya…
Maaf, ya.
Kuhubungi pun,
tetap tak mungkin.
Apa?
Dia tewas dalam kecelakaan.
Pada hari itu,
kami dapat izin dari dokter, dan…
Sedikit lagi.
…mereka pergi ke pantai untuk pertama kalinya.
Selesai.
Oke.
- Kami berangkat. - Hati-hati.
Tentu.
Ayo berangkat.
Tapi Haruna…
menyembunyikan rasa sakitnya demi ayahnya.
Haruna!
Hei, Haruna?
Kau tak apa? Haruna! Hei!
Kau sadar? Bisa dengar aku?
Kau tak apa? Bisa sebutkan namamu?
Kau tak apa?
Haruna
menyalahkan dirinya sendiri.
Haruna merasa bersalah karena masih hidup
dan ingin segera bergabung dengan ayahnya.
Haruna menutup diri dari dunia.
Tapi sejak kau datang,
dia sedikit terbuka.
Selama tak mengganggu sekolah,
tolong tetap jadi temannya.
KASUS SARKOMA JANTUNG PRIMER
KANKER PEMBULUH DARAH
Terima kasih.
Andai hal itu disembunyikan,
mungkin Akito…
tetap tersenyum
seperti dulu.
Aku pun…
juga berpikir seperti itu.
Mungkin benar
bahwa dia akan lebih bahagia
jika tak tahu penyakitnya.
Tapi…
mungkin ada hal yang hanya bisa dilakukannya
karena dia tahu?
Di dunia ini tak ada yang tahu mana yang benar dan salah.
Tehnya enak.
MENUJU STASIUN GAKUENTOSHI
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
Sial!
Busku!
Kau terlambat latihan pagi lagi?
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Sial sekali aku. Aku melewatkan latihan.
Jangan khawatir.
TOKO BUNGA BEL FIORE
Oh! Tuan Gerbera.
Pesan lima seperti tempo hari.
Jika kau bolos sekolah untuk menjenguk, dia pasti orang penting.
Kau salah paham.
Ini lebih seperti… rekan.
Bikin jadi enam saja.
Yang ini gratis.
- Tapi… - Sudah, tak apa!
Tergantung jumlahnya, karangan bunga gerbera berubah makna.
Enam gerbera bermakna…
"aku tergila-gila padamu".
Hei, kau tambahkan satu, ya?
- Apa? - Eh?
Oh…
Aku langganan,
jadi pemiliknya menggratiskan satu.
Senangnya
dapat bunga manis seperti ini setiap minggu.
Andai saja bisa kuabadikan karangan bunga ini selamanya.
Ya, benar.
Lihat!
Ibuku membelikanku ponsel ini.
Ibumu…
Kepala Perawat, ya?
Ya.
Kudengar ibuku mengoceh banyak hal. Maaf soal itu.
Tak apa.
Setelah kukuasai kamera, mungkin akan kuunggah di medsos.
Bagaimana menurutmu? Kau tak perlu memujiku.
Ini video.
Apa?
Lebih artistik seperti itu!
Bagaimana dengan yang lain?
Ini swafoto?
Hei! Jangan lihat yang itu!
Apa?
Oh!
Bunganya…
akan kupajang.
Oke.
SELAMAT DATANG DI KAMAR HARUNA
Hei,
aku senang kau sering datang, memang kau senggang?
Apa?
Kau tak punya teman?
Bukannya tak punya teman, tapi temanku sedikit.
Bagaimana dengan gebetan?
Bukannya tak punya,
tapi juga tak banyak.
Apa maksudmu?
Lalu…
cinta pertamamu?
Bukannya tak punya,
dia teman masa kecil.
Tapi, sudah ada Shota.
Bertepuk sebelah tangan?
Makanya kau bersedih di atap.
Kau sendiri?
Kau punya gebetan?
Apa?
Maksudku,
apa kau pernah suka pada seseorang,
atau jatuh cinta?
Aku hanya penasaran.
Itu menakutkan.
Cinta yang berumur pendek.
Bagaimana?
Asmara kepadaku akan berakhir sebelum dimulai.
Aku iri padamu, Akito.
Walau cintamu tak terbalaskan, kau punya masa depan.
Kau keliru.
Aku juga tak punya masa depan.
- Sebenarnya, aku… - Kau akan berumur panjang.
Jadi, jangan menyerah pada cintamu.
Aku ingin lihat kau jatuh cinta dengan siapa,
keluarga macam apa yang kau ciptakan, dan kau akan menjadi bapak sepeti apa.
Akan kulihat dari surga.
Jadi kau harus panjang umur, Akito.
Itu keinginanku.
Bisa kabulkan?
Aku memutuskan
untuk tak mengatakannya.
Aku akan datang tiap hari.
Apa?
Aku akan datang tiap hari.
Ya.
Akan kutunggu.
Akan kutunggu tiap hari.
Andai tahu akan segera mati, apa yang akan kaulakukan?
Jawabanku,
menggunakan sisa waktuku untuknya.
KAU DATANG PUKUL BERAPA?
SEKOLAH SELESAI PUKUL ENAM, MUNGKIN TIBA SEBELUM TUTUP.
IH.
IBU, BAWAKAN SELIMUT!
HOI! KAU SALAH KIRIM. HAHA!
Akito!
Kau jarang nongkrong.
Panas, ah! Dasar anak kecil.
Oh, hari Minggu ini, ayo kita pergi ke bioskop.
Kau tak bisa menghindar.
Sudah diputuskan.
Oke?
Baiklah.
Adikku bermulut harimau.
Adikku selalu berkata aku lahir dengan nasib yang buruk.
Sungguh?
Eri dan Shota juga selalu menggodaku.
Eri selalu mendapat nilai bagus,
dan dia ketua kelas saat SD dan SMP.
Shota jagoan di tim sepak bola.
Selamat datang!
- Lima saja? - Ya.
Tolong tambahkan satu lagi.
Haruna,
kau ingin apa saat liburan musim panas?
Tak ada liburan itu untukku.
Berlibur dari penyakit ini sih bagus.
Maaf.
Aku…
Tunggu!
Kembang api 4.500!
Apa?
Dari jendela ini,
kau bisa lihat pertunjukan 4.500 kembang api.
Awalnya aku tak tahu, jadi ledakannya mengejutkanku.
Aku sembunyi di balik futon.
Saat aku mengintip,
terlihat kembang api yang indah di arah laut.
Aku sampai merinding.
Tapi menonton kembang api sendirian
agak menakutkan.
Ayo lihat itu bersama.
Kau mau?
Ya.
Sungguh?
Kalau begitu…
berjanjilah.
Baiklah.
Tunggu sebentar!
- Ulurkan tanganmu. - Apa?
Apa yang…
- Hei! - Diam saja.
Gawat. Aku harus pergi.
Kau ada janji?
Ya, ke bioskop.
Mereka mengharuskan aku ikut.
Teman masa kecilmu?
Ya.
Begitu rupanya.
Kedengarannya seru.
Kencan, ya?
Bukan, tak seperti itu.
Cepat pergi.
Sampaikan salam dariku.
Tentu. Aku akan kembali lagi.
Kembang apinya tanggal 20 Agustus!
20/8
Sampai jumpa.
Kau suka menonton cuplikan?
- Tidak juga. - Akito! Di sini!
Maaf.
Kenapa kau lama sekali?
- Kau berutang popcorn. - Apa?
Set minuman juga, ya.
- Ya, baiklah. - Asyik.
Hei, bukankah itu Miura?
Ada gosip kau menyatakan cinta padanya.
Sudah kubilang…
Bercanda, kok.
Ayo, cepat.
- Yang ini. - Baik.
Hei, Akito! Ayo!
- Di sini? - Ya.
Ayo nonton film aksi lain waktu.
HARUNA: KAU SAMPAI TEPAT WAKTU?
Kau tiba tepat waktu?
Aku sudah membuat teru-teru bozu.
Mereka akan memastikan langitnya cerah saat kembang api.
Kau tak apa?
Dia tak apa?
- Kau tak apa? - Akito?
Bisa dengar?
- Apa? - Akito!
- Akito! - Hei, Akito!
Panggilkan ambulans!
Akito!
Kakak…
Bu, Kakak sadar!
Akito? Kau sudah siuman?
Jangan bangun dulu.
Kau pingsan di bioskop, dan mereka membawamu ke sini.
Sudah sepekan.
Apa?
Jantungmu mengalami aritmia.
Mereka melakukan operasi untuk memasang mesin di jantungmu.
Kau akan direhabilitasi selama sisa libur musim panas.
Hari apa ini?
Apa?
Tanggal berapa ini?
Tanggal 20 Agustus.
Sial.
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Hei! Kau tak apa?
Aku tak lihat tanda "terbaca".
Teru-teru bozu-nya kubuat lebih.
Apa terjadi sesuatu?
Kau ingin menjauh?
Kau ada janji dengan teman masa kecilmu?
20/8
HARUNA
Halo?
Halo.
Maaf…
aku ingkar janji.
Aku juga tak membalas pesanmu.
Syukurlah. Kukira kau marah padaku.
Sebenarnya ada alasan kenapa aku tak bisa menghubungimu.
Aku paham. Karena Eri, 'kan?
Apa?
Jadwal liburanmu pasti padat.
Aku senang jika liburanmu lancar.
Sebagai temanmu, aku senang.
Aku pernah bilang, 'kan?
Menonton kebahagiaan Akito dari surga
adalah kegembiraan terbesarku.
Janji kembang api ini bukan masalah besar.
Maaf, ya.
Sebentar lagi…
Jangan tutup dulu teleponnya.
Tak akan kumatikan…
sampai kembang apinya selesai.
Mungkin ini kesempatan terakhirku melihat kembang api.
Jangan bilang begitu.
Ayo hidup lebih lama.
Lalu tahun depan, kita pasti akan melihatnya bersama.
Enam bulanku hampir habis.
Kita pasti bisa!
Aku sudah cari tahu,
beberapa orang hidup dua kali lebih lama dari diagnosisnya.
Sepuluh tahun pun ada.
Ada kemungkinan diagnosisnya salah.
Maksudku…
Masih ada Natal
dan perayaan Tahun Baru.
Kita akan merayakan ulang tahunmu yang ke-18.
Di bulan April, 'kan?
Ya.
Akito…
Kau tahu…
Aku…
Sejujurnya…
Apa? Kau bilang apa?
Tidak.
Kembang apinya…
sudah selesai.
Kenapa tak beri tahu kami?
Rasanya seperti menghadiri pemakamanku sendiri.
Selain itu…
Aku takut akan melampiaskannya padamu.
Kami pun tak bisa mengubah apa pun.
Meski begitu…
aku tetap ingin tahu.
Itulah arti persahabatan.
Maaf, ya.
Terima kasih.
Kau bisa kembali bersekolah?
Seharusnya bisa.
Aku akan pulang setelah liburan musim panas ini.
- Semester kedua… - Akito?
Begitu rupanya.
Tolong…
rahasiakan ini dari Haruna.
Saat aku didiagnosis, aku sangat takut.
Dekat dengan Haruna
memberiku alasan untuk hidup.
Aku tahu ini egois. Maaf.
Tapi, daripada menantikan surga,
aku ingin Haruna menikmati sisa hidupnya.
Itu sebabnya…
aku ingin kami menghabiskan waktu yang tersisa…
seperti remaja 17 tahun biasa.
Aku mungkin…
juga ketergantungan padanya.
Apa?
Menjadi perawatnya…
adalah caraku untuk lari.
Kurasa…
aku harus menghadapinya juga.
Sudah semuanya?
Ya.
Akan kuhadapi ini,
agar Haruna bisa menikmati sisa waktunya.
- Aku tak mau kembali ke sekolah. - Aku juga.
Ayaka, kuteksmu akan jadi masalah.
Oh, ya?
- Dia benar. - Ya…
Tapi, saat konseling karier
aku bilang ingin jadi seniman kuku, mungkin tak apa.
- Aku akan jadi pelanggan pertamamu. - Sungguh?
Aku akan jadi yang kedua.
- Eh. - Bukankah dia…
Apa?
Ayo jenguk dia.
- Hei, tunggu! - Apa?
Tunggu!
Lepaskan!
Kubilang lepaskan!
Kau sudah seputus asa itu? Kau suka Haruna, 'kan?
Sayang sekali.
- Haruna tak akan suka orang aneh… - Haruna…
kehabisan waktu.
Tinggal tiga bulan.
Entah selama itu atau tidak.
Kau datang.
Aku sungguh minta maaf.
Aku tak mau beralasan, dan paham maaf saja tak cukup.
Ini tak sebanding,
tapi hari ini, aku membawa tamu istimewa.
Ayaka?
Lama tak bertemu.
Maaf, ya.
Aku sungguh minta maaf.
Tidak.
Aku yang salah.
Maaf karena…
tak pernah datang.
Maaf, Haruna.
Apa yang kukatakan jahat.
Tidak…
Ini salahku.
Itu tak benar, 'kan?
Kau tak boleh mati.
Tak akan kuizinkan.
Maaf, ya.
Tak akan kuizinkan meski kau minta maaf.
Tak akan…
Aku tak berterima kasih.
Aku bertemu Haruna di kelas dua SD.
Semua orang menjauhinya karena penyakitnya.
Lamban!
Kau tak ikut main?
Aku tak boleh berlari.
Begitu, ya.
Ayo adu siapa yang mengayun lebih tinggi.
Ayo!
Kau juga!
Aku tak pernah sungkan,
jadi kutanyakan soal penyakitnya.
Entah bagaimana, kami jadi akrab.
Kami adalah sahabat sejati.
Imut banget!
Ia ditelantarkan, ya?
Tapi, saat SMP Haruna sering tak masuk.
Hubungan kami jadi renggang.
Puncaknya saat hari kelulusan.
Haruna tak bisa menghadiri upacara.
Ini dia!
Kau suka ijazah buatan tanganku?
SELAMAT HARUNA BERSAMA SELAMANYA!
Jangan menyerah. Ayo ke SMA bersama.
Ada beberapa sekolah bisa hadir secara daring.
Kau meledek?
Kenapa? Aku tak meledek.
Kau pikir ijazah buatanmu membuatku bahagia?
Begitu rupanya. Kau guruku sekarang?
Bukan seperti itu. Kenapa kau bilang begitu?
Aku tak ikut upacara kelulusan klubku untuk membuatnya.
- Sebagai temanmu… - Kita bukan teman.
Bahkan saat kita masih kecil,
aku tak pernah menganggapmu teman.
Aku hanya…
ingin menjadi sepertimu.
Namun, itu percuma.
Itu tak bisa,
dan sesungguhnya aku tak mau.
Jadi ini kesempatan bagus.
Sudah saatnya,
kita berhenti berteman.
Jangan datang lagi.
Apa maksudmu?
Aku selalu menganggapmu sahabatku.
Inilah sebabnya kau tidak punya teman!
Selamat tinggal.
Selesai.
Haruna mungkin ingin membebaskanmu.
Tahu akan kematian, membuatnya tak ingin jadi beban.
BERSAMA SELAMANYA!
Selamat tinggal.
Aku mengerti betul rasanya menjauhkan diri.
Maksudku…
sedikit memahaminya.
Akito, boleh masuk?
Ayah ingin bicara sebelum sekolahmu dimulai.
Kau ingat prosedur medis terbaru yang pernah kita bicarakan?
Dr. Kikuchi sudah mengusahakan,
dan dia setuju untuk mengenalkanmu pada spesialis yang bagus.
Sungguh?
Tapi itu hanya memanjangkan sedikit umurku.
Menurut Ayah itu layak dicoba.
Kalau berhasil, kau bisa ikut serta di Pameran Seni Nika.
Tapi kau harus absen selama tiga bulan.
Tiga bulan…
Aku tak bisa.
Maaf.
Menurutku operasi ini…
Baiklah.
Maaf sudah memaksamu.
Mungkin Ayah menginginkannya
lebih untuk Ayah sendiri ketimbang untukmu.
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
Silakan!
Kau sendiri?
Syukur…
Kau tak senang kalau aku di sini?
Hari ini kau datang juga.
Maksudku, kau datang tiap hari.
Lalu kau apa? Ke sini tiap hari, menjijikkan.
Ya…
Jika kau datang setidaknya berbicaralah,
jangan duduk saja.
Memang kau "Sang Pemikir"?
Keberadaanku saja cukup.
Tak sepertimu, aku menghargai waktu Haruna.
Aku pun menghargai waktunya.
Kurasa kalian akan jadi pasangan yang serasi.
- Apa? - Apa?
Jangan bercanda.
Aku paling benci dengan pria kuper seperti dia.
Ayaka jomlo, lo.
Hei!
Wah!
Aku menjomlo karena tak ada pria yang serius.
Apa yang kau tertawakan? Kau naksir karakter anime, 'kan?
Aku tak punya waktu untuk berasmara.
Ini menyenangkan.
Sekolah pasti seperti ini.
Hei… ini untukmu.
SNOW WHITE IN DA HOUSE
Dua tiket Festival Sekolah.
Apa?
Kelasku mementaskan Putri Salju hip-hop. Itu ideku.
Dasar kurang peka!
Aku menyuruhmu mengajak Haruna!
Aku tak suka minta tolong padamu…
tapi aku ingin Haruna merasakan masa remaja 17 tahun.
FESTIVAL SEKOLAH MENENGAH ATAS SEIMEI SNOW WHITE IN DA HOUSE
Saat kami masih SD,
kami mementaskan Putri Salju.
Aku Pangeran,
dan Haruna Putri Salju.
Tapi Haruna pingsan tepat sebelum pertunjukan.
Haruna tak bisa melihat maupun tampil.
Makanya…
Baiklah.
Akan kuajak Haruna.
Aku janji.
Festival sekolah?
Ya, ayo kita ke sana.
Aku akan bertanya pada ibumu
dan minta izin dokter.
Miura juga menantikannya.
Oke.
Ayo.
Aku mau ke sana.
Aku pasti ke sana.
KELAS 2-B
H-3 FESTIVAL
Lihat teru-teru bozu terbaruku.
Aku hebat, 'kan?
Persiapannya berjalan lancar?
Sedih rasanya tak bertemu sampai festival, tapi itu membuatku makin penasaran.
Kau tak apa?
Ini akan meringankan sakitnya. Sabar, ya.
Aku tak apa.
Semua ini demi aku bisa pergi ke festival.
FESTIVAL SMA SEIMEI ke-68, 2024
Wow!
Dua orang tamu masuk!
Oh, Akito!
Halo.
Halo.
Nikmati festivalnya, ya?
Ya.
Apa ini?
- Jangan ganggu mereka! - Akito?
Lewat sini.
- Apa? - Kembali bekerja!
- Apakah dia Eri? - Ya.
Oh…
Dia cantik, ya.
Masa?
Ya!
- Cupcake-nya terlihat enak. - Ya.
Mereka tampak serasi.
Aku paham maksudmu.
Mereka terlihat seperti punya dunianya sendiri.
Aku agak iri.
- Wah! - Ada zombie!
- Keduanya? - Ya.
Senyum!
- Satu lagi. - Itu menggemaskan.
Maaf.
Bisa istirahat sejenak?
Kau tak apa?
Aku terlalu bersemangat sampai sulit bernapas.
Mau minum?
Ya.
Halo?
Haruna?
Sudah waktunya kembali. Sudahi urusanmu dan pulang.
Ibu yakin kau lelah.
Aku tak apa.
Sebentar lagi.
Lain kali saja.
Tak ada waktu lagi.
Ibumu?
Ini Hayasaka.
Kupastikan Haruna pulang dengan selamat.
Tolong perbolehkan.
Sebagai Kepala Perawat,
aku ingin Haruna kembali.
Tapi…
sebagai ibunya…
aku perbolehkan.
Terima kasih.
SNOW WHITE IN DA HOUSE
Saya menggunakan pembersih, dan selalu mencuci wajah sebelum merias wajah.
- Tentu saja, losion susu… - Jangan campur realitas dan teater.
Tebas!
Putri Salju…
Kau tak apa, Putri Salju?
Pangeranku!
Kau menyelamatkanku!
Terima kasih banyak!
Haruna!
Kau datang.
Kau benar-benar datang.
Terima kasih, Ayaka.
Kau sangat cantik.
Terima kasih.
Dalam benakku, kau ada di sana menari bersamaku.
- Oke, semuanya! Ayo berfoto! - Berkumpul di sana!
- Jumpa lagi nanti, ya? - Ya.
- Ayaka, di tengah. - Oke!
Bukan, kau di sini.
Apa? Di mana Takada?
- Ke mana dia? - Menakutkan.
Terima kasih.
Barusan adalah mimpiku yang kupikir tak akan terjadi.
Ayo pergi ke pantai lain waktu.
Yang ada di buku sketsamu adalah tempat yang ingin kau tuju, 'kan?
Kuharap aku masih punya waktu lagi.
Pantai yang kugambar…
adalah tempat yang dituju ayahku hari itu.
Kami tak pernah sampai ke sana.
Maaf! Kami akan turun!
- Kita berangkat, ya. - Oke.
Terima kasih.
Naiklah.
Kita tepat waktu.
Terima kasih.
Hei…
Jika aku mati…
maukah kau menciumku dan menghidupkanku kembali?
Aku juga ingin merasakan cinta.
Sekali saja…
aku ingin jatuh cinta.
Aku akan jatuh cinta padanya…
dan dicintai olehnya.
Aku ingin membahagiakan orang itu.
Maaf. Aku tak bisa…
Aku tak bisa mengubah apa pun.
Kau kenapa?
Kau menangis?
Maaf, ciuman itu hanya bercanda.
Kau kepikiran, ya?
Aku bercanda. Jangan menangis.
Aku…
Ada sesuatu yang kusembunyikan darimu.
Tapi kupikir lebih baik tak kukatakan.
Jadi…
Jangan katakan.
Aku hanya ingin dengar sesuatu yang bahagia saja.
Sebagai imbalannya…
aku tak akan marah.
Haruna
tak akan bertahan lebih lama.
Buat saat terakhirnya
sesuatu untuk dikenang.
Hei, kau gambar apa?
Rahasia.
Tunjukkan.
Tak mau.
Kenapa?
Aku ingin lihat…
gambarmu.
Apa?
Tak adil jika hanya melihat gambarku.
Hei.
Maukah kau
menggambarku?
Aku ingin kau menggambar diriku.
Kau terlihat cantik, Haruna.
Terima kasih, Ayaka.
Kau seperti perias pemakamanku.
Tidak, ini lebih seperti rias pengantin.
Lihat?
Terima kasih.
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
Menahan pose yang sama cukup melelahkan, ya.
Sekarang aku tahu perasaan Mona Lisa.
Kau boleh berbaring.
Hei.
Kau ingat hari pertama kita bertemu?
Saat itu
kenapa kau berbicara padaku?
Oh, hari itu.
Aku terlarut dalam pikiran dan menemukannya.
Seorang malaikat…
Apa?
Tertawalah sesukamu,
tapi di tengah semua kesialanku, seolah-olah aku melihat
malaikat untuk pertama kalinya.
Itu alasanku.
Dan malaikat itu
hanya punya enam bulan untuk hidup,
namun dia tak takut mati sama sekali.
Aku sangat terkesan.
Aku benar-benar kagum.
Kau keliru.
Hari itu dokterku berkata
umurku tinggal enam bulan.
Aku tahu akan mati.
Aku tahu betul hari itu akan datang.
Sejujurnya, aku sangat takut.
Aku tak sanggup menahannya.
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS KEDOKTERAN KINKI
Warnanya bagus.
Maksudku…
Jadi, saat kau bicara padaku,
kaulah orang yang hadir sebagai pahlawan.
Aku…
bilang ingin segera mati, 'kan?
Saat itu, aku sungguh merasa begitu.
Tapi sekarang berbeda.
Aku tak mau mati.
Aku masih mau hidup.
Aku masih ingin bersamamu…
dan Ayaka lagi.
Tak harus…
sepuluh atau dua puluh tahun.
Satu hari pun…
Satu menit, atau satu detik saja…
aku ingin hidup lebih lama.
Aku memutuskannya setelah bertemu kalian.
Jadi mulai sekarang, aku akan melawan penyakit ini tiap hari.
Jika tak mati hari ini, aku menang.
Jadi…
meski menyakitkan…
kau juga harus tetap semangat, Akito.
Baiklah.
Tunjukkan…
gambarnya.
Aku menyukai…
gambarmu.
Maaf…
Izinkan aku
menjalani operasi.
Aku tahu itu akan mahal dan…
tanpa nasib burukku pun peluang keberhasilannya sudah rendah.
Walau kemungkinan gagalnya tinggi…
aku tetap ingin mencoba.
Apakah boleh?
Ya.
Tentu saja.
Satu hal lagi.
Kalian tak salah sudah memberitahu penyakitku.
Itu menyadarkanku tentang hal yang penting.
Kau juga, Natsumi.
Untuk semua yang telah dan akan kalian lakukan…
terima kasih.
Nasibmu tak buruk, kok. Kau memiliki kami, keluargamu.
Benar.
- Tekanan darah turun. - Dia butuh intubasi segera.
Haruna! Bertahanlah!
- KONDISI HARUNA MEMBURUK. - AKU KE SANA.
Haruna, sadarlah!
Saat kau sadar, ada yang ingin kukatakan.
Jadi…
cepatlah sadar!
Sadar, Haruna…
Sadarlah!
Kau tak apa? Kau bisa dengar?
- Ambil defibrilator. - Baik.
Akito!
Kenapa…
Kenapa kau tak di sana?
Haruna sudah berusaha.
Dia tersadar untuk terakhir kalinya.
Lalu…
dia memanggil namamu.
Ini untukmu.
Kau mau menerimanya?
Itu gambar terakhir Haruna.
Aku tak bisa.
Aku percaya kau…
layak untuk memilikinya.
Haruna mulai menggambar…
untuk lari dari kenyataan
dan pergi ke dunianya sendiri.
Tapi setelah kau hadir,
kurasa Haruna menggambar
untuk kau lihat.
Aku ingin…
mengatakan sesuatu padanya,
tapi tak bisa.
Aku bahkan tak bersamanya di akhir hayatnya.
Aku tak bisa…
Untuk Akito…
Tempat ini
adalah surga bagiku sekarang.
Berkat kau
tempat yang hanya menyimpan rasa sakit ini
menjadi suatu tempat
yang hangat dan cerah.
Di tempat ini,
aku mungkin sudah cukup tersenyum.
Di tempat ini,
aku menangis sepanjang hidupku.
Meski aku pernah ingin cepat mati,
sekarang aku ingin hidup selama mungkin.
Berkat kau,
aku benar-benar bahagia.
Itu sebabnya…
kau harus hidup cukup lama untuk kita berdua.
Menjadi bahagia dan lebih bahagia.
Dan menggambar lebih indah dari sebelumnya.
Hei,
kau gambar apa?
Rahasia.
Lalu, suatu hari nanti,
saat kau sudah tua, kita akan bertemu lagi di atas langit.
Aku menantikan hari itu.
Saat kita bertemu lagi,
kuharap kau tak keberatan
jika aku memanggilmu
sahabatku.
Terakhir,
sebagai imbalan atas bunga yang begitu banyaknya,
kuberikan bunga ini padamu.
Tuan Hayasaka, kau akan segera mengantuk.
Baiklah.
Oke, putar perlahan.
Kerja bagus.
Terima kasih.
Kau sungguh berusaha.
Kau bisa?
Ya.
HASIL UJIAN MASUK: LULUS
Lumayan.
Saat pulang bisa mampir ke onsen?
Onsen?
Ayolah!
Terima kasih.
- Boleh kumakan? - Tentu.
Kak, untukmu.
Terima kasih.
Hei Hayasaka, kau masih hidup?
Masih hidup tapi kembali ke rumah sakit.
Lagi?
TOKO BUNGA BEL FIORE
Wah, Nona Gerbera rupanya.
Pacarmu dirawat lagi?
Bukan pacarku. Dia musuh bebuyutanku.
- Lima tangkai lagi? - Ya.
Atau…
enam tangkai?
Lima saja.
Begitu rupanya.
Sayang, ya.
Oh, ya,
enam akan terlihat seperti ini.
- Apa itu… - Ya?
Foto-fotonya?
Aku yang buat karangan bunganya, tapi orang lain yang mengunggahnya.
Foto-fotonya sangat bagus, aku sangat kagum.
Hayasaka!
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
Hei, kau melukis apa?
Karya seni terakhirku.
Tidak.
Ini karya seni pertama
dari kehidupan kedua yang Haruna berikan.
Jadi, bagaimana keadaanmu?
Menyebar.
Menyebar?
Dokter bilang tumornya menyebar ke tulang belakangku.
Bukankah itu buruk?
Sepertinya begitu.
Maksudku, itu sangat buruk, 'kan?
Mungkin.
Bukan. Maksudku…
Lupakan saja.
Lihat ini.
Ini gerbera yang kuberikan pada Haruna?
Setelah kukuasai kamera, mungkin akan kuunggah di medsos.
Haruna mengunggahnya.
Unggahan terakhirnya bulan Desember.
Dan setelah itu, ada ini.
Butuh kata sandi.
"Untuk kau
yang lahir di musim gugur."
Kita butuh kata sandinya.
MASUKKAN SANDI: "0405"
KATA SANDI SALAH
Bukan hari ulang tahunnya.
Gerbera…
MASUKKAN SANDI: "GERBERA"
KATA SANDI SALAH
MASUKKAN SANDI: "3GERBERAS"
Cerita tentang gadis dengan sisa umur enam bulan
bertemu pria dengan sisa umur satu tahun.
Apa?
Untuk kau yang lahir di musim gugur…
Aku memutuskan untuk menuliskan perasaanku
lewat foto gerbera yang kau berikan padaku.
Kau orang pertama yang kebal
terhadap mantra sihirku.
Hari itu di atap, walau kau tahu keadaanku,
tapi kau tak pura-pura takut atau menatapku dengan kasihan.
Aku yang malah terkejut.
Dengan harapan bertemu denganmu lagi, aku mencari di seluruh rumah sakit.
Aku menunggu di lorong setiap hari untuk kunjunganmu.
Jika melihatmu datang, aku akan segera kembali ke tempat tidur.
Saat aku menyadari kau sungguh datang tiap hari,
aku sangat senang sampai panik dan sesak napas.
Haruna?
Tapi saat masuk musim gugur,
aku tahu rahasiamu.
KARDIOLOGI
Kardiologi?
Dia sekarat?
Akito juga?
Haruna tahu…
Meski begitu,
kau menyembunyikannya untuk menyemangatiku.
Kau gunakan sisa waktumu
demi aku, 'kan?
Maaf.
Aku ingin membalas kebaikanmu,
jadi aku pura-pura tak tahu.
Aku ingin semuanya biasa saja.
Momen seperti itu,
bagi kita berdua
adalah hal yang langka dan berharga.
Bagiku
enam bulan terakhir ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku.
Ketahuilah,
kurasa pertemuan ini
bukan kebetulan,
melainkan takdir.
Aku yakin kita lahir
hanya untuk bisa bertemu.
Dengan memikirkan itu,
membuat rasa sakit ini teredam.
Aku tak apa.
Jadi jangan takut, Akito.
Aku akan bantu menopang rasa sakitmu.
Lalu,
aku pamit pergi
untuk mengawasimu dari langit.
Terima kasih juga sudah mengajak Ayaka.
Tetap berteman dengannya, oke?
Aku dan Hayasaka?
- Aku sudah bilang Ayaka juga. - Tidak.
Kau yakin?
Ayaka
mungkin tampak keras,
tapi dia memiliki hati yang lembut, dan aku mengkhawatirkannya.
Jika kalian saling berpegangan,
itu akan jadi persahabatan yang baik.
Adapun yang tak terdengar saat festival kembang api,
akan kurahasiakan.
Kau tahu…
Aku…
Sejujurnya…
Akito, aku…
Tapi
jika pada akhirnya
kau menemukan tulisanku ini,
aku ingin percaya
bahwa setelah jahat kepadaku begitu lama,
ini adalah anugerah terakhir yang Tuhan berikan padaku.
Hei, aku yakin kau tahu
apa makna karangan bunga gerbera berjumlah enam tangkai.
Saat kau di rumah sakit selama ini,
kau belajar makna dari karangan bunga.
Jadi aku percaya
bahwa kau akan tahu makna dari tiga tangkai gerbera
saat kuberikannya padamu.
Tiga gerbera bermakna
"aku mencintaimu".
Itu maknanya.
Aku jarang merekomendasikannya karena tiga terlalu sedikit.
Tapi, maknanya sungguh indah.
TIGA GERBERA BERMAKNA "AKU MENCINTAIMU".
Kau dan Haruna membuatku takjub.
Di sisa waktu kalian yang sedikit,
kalian punya cerita cinta yang abadi.
Jika itu "cinta yang berumur pendek",
semua cerita cintaku
adalah cinta yang akan kedaluwarsa dalam satu bulan.
Tapi,
dengan mengunjungimu seperti ini,
aku terpesona dengan kegigihanmu.
Coba tebak, Haruna…
Apa yang akan dia pikirkan saat dia bangun?
Hayasaka…
Kau akan marah?
Tersinggung?
Atau
akankah kau tertawa?
Hayasaka meninggal
tiga setengah tahun
setelah diagnosisnya.
Untuk seseorang yang bernasib buruk,
menurutku dia bertahan cukup lama. Ya, Haruna?
Apa kau menggunakan pelembab?
Sama sekali tidak.
Sungguh?
Jarimu agak kering.
Sampai tanggal kematian pun sama…
Kalian membuatku takjub.
UNTUK KAU YANG LAHIR DI MUSIM GUGUR…
AKITO.10.10
Apa?
Ada balasan.
Hayasaka?
Haruna, kuharap kau sehat.
Aku mungkin akan segera menyusulmu.
Aku setengah takut,
setengah menantikannya.
Berkat kau,
aku bisa berjuang sampai akhir.
Dunia yang tadinya serba hitam,
kini berubah jadi berwarna.
Dunia ini jadi berkilau.
Dan…
terima kasih atas Miura.
Miura sering menjengukku.
Dia sangat membantu.
Miura akan bebas saat aku pergi,
dan aku yakin dia akan lega.
N.B.
Saat aku bangun dari tidurku,
ada tiga gerbera dicat di kukuku.
Pasti itu ulahnya Miura.
Miura mungkin tak tahu maknanya,
jadi akan kuberitahu lain kali
sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku tahu, bodoh.
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
KOLEKSI PAMERAN SENI NIKA
AKITO HAYASAKA & HARUNA SAKURAI "LANGIT KITA"
Nonton sambil dapat cuan? Pause sebentar & Kunjungi link dibawah! -> klik.site/maxwin2
DALAM HIDUP KITA HANYA ADA SATU WARNA,
SEPERTI PALET SEORANG SENIMAN, YANG MEMBERIKAN MAKNA HIDUP DAN SENI.
ITU ADALAH WARNA CINTA - MARC CHAGALL
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.