Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ranting itu, sebelum beringin. Yang paling tinggi.
Awas!
- Sebelah utara. - Segera diangkut, ya?
- Pak, yang ini? - Ya, itu dibawa.
Hentikan,
atau mereka murka,
dan hukumannya bisa jauh lebih sakit daripada mati.
- Saya mohon, Pak. - Ikut saya.
Ikut saya.
Tidak ada yang bisa menolong kalian.
Tidak uang kalian,
tidak juga Tuhan.
Ayo pulang.
- Ayo kita pulang. - Ayo!
Darto!
Apa?
Sudah, ayo!
Kita lanjutkan besok saja.
Hei.
Kalau kita berhenti sekarang,
besok, upah kita akan dipotong.
Aku malu mengirim uang yang kurang untuk istriku,
dan aku punya cicilan.
Kau juga, 'kan?
Ya?
- Baiklah. Kalau begitu, ayo. - Ya.
Paiman! Man!
Man?
Paiman?
Man?
Paiman?
Man?
Pak Bara, saya pasti bangun daerah Bapak
supaya lebih maju lagi.
Apa lagi dari sisi pariwisatanya.
Asalkan Pak Bara bisa terus berkoordinasi dengan saya.
- Paham, 'kan? - Paham, Pak.
Tapi sudahlah, kita bicarakan nanti itu.
- Benar. - Sekarang kita nikmati saja yang ada.
Untuk apa melihat ini?
Jadi, aku sudah membuat daftar...
Jangan.
Aku sudah membuat daftar,
nanti selama di sana ingin melakukan apa saja.
Jadi, kita bisa pelajari rutenya dari maket ini
supaya kita nanti tidak tersesat.
Ya, lalu tadi, kalau dari brosur ini,
kita akan melewati lima terowongan yang baru saja mereka bangun.
Begitu? Terowongan?
Ini, jadi nanti setelah makan malam,
kita akan berendam di area air panas,
sambil menonton kembang api.
Berendam?
Tidak.
Tidak, Kak. Kau baru sembuh.
Tidak boleh berendam.
- Nanti sakit lagi. - Berarti percuma
merayakan kesembuhan, tapi ujungnya tidak boleh ini dan itu.
Sudahlah, aku balik ke Jakarta.
Sekarang.
Baiklah, tidak. Bawel sekali.
- Makanya. - Hei.
Sepertinya kamar kita yang ini.
Ya, bukan? Aku ingin di sini, tapi tak mampu membayarnya.
- Kembalikan suami saya! - Kembalikan suami saya!
- Kembalikan suami saya! - Kembalikan suami saya!
- Suami saya di mana? - Kembalikan!
- Kembalikan! Kembalikan suami saya! - Tenang.
- Suamiku di mana? - Kembalikan! Kembalikan suami saya!
- Kembalikan suami saya! - Kembalikan suami saya!
- Kembalikan! - Kembalikan suami saya!
- Kembalikan suami saya! - Kembalikan suami saya!
Ada apa ini?
Biasa, Pak. Setiap perubahan itu selalu ada pro dan kontra.
Semua aman.
Semua bisa diatur, ya?
Saya minta Pak Bara urus ini semua.
- Baik. - Sampai beres.
- Paham, Pak? - Ya, Pak.
- Suami saya! - Suamiku mana...
Silakan duduk. Santai dahulu, Pak. Santai.
Boleh minta tolong?
Boleh.
- Di sini, ya? - Kau sedang apa, Kak?
- Ayo berfoto. - Tidak.
- Tidak mau. - Cepat. Ini mengantre.
Begini.
- Satu, - Ya, begitu.
- Kak... - dua, tiga.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Sebentar, Dik. Ini.
Ini di mana, ya?
Ini Ekonomi Dua, di gerbong lima paling belakang.
Terima kasih, ya? "Tekun".
Sama-sama.
Ini, ambil.
Pria Solo manis juga, ya?
Apa?
Dokter Nugroho saja kau bilang manis.
Genit!
Kita dapat nomor...
- Nomor 7A. - 7A.
Berarti yang itu.
Kak, sini.
Bu, mengantuk.
Sudahlah, kau tidur saja.
Nanti saat bangun sudah sampai.
Selamat datang di Kereta Api Sangkara.
Kereta khusus wisata dengan rute ke Resor Sangkara.
Perjalanan Kereta Api Sangkara akan ditempuh dalam waktu tujuh jam.
Perkiraan sampai di lokasi, Resor Sangkara, pukul tujuh malam.
Terima kasih, Indah.
Saya Sidik, kondektur yang bertugas, mengucapkan selamat menikmati
perjalanan Anda yang tak terlupakan bersama...
Kereta Api Sangkara.
Wisata daerah ini pasti akan banyak berkahnya
kalau dipimpin oleh bupati sebaik Bapak.
- Setuju. - Ya, terima kasih.
Tapi semua ini juga berkat Pak Santoso.
Karena kalau tanpa beliau,
daerah pimpinan saya ini akan selalu dilupakan.
Baik.
Untuk Sangkara,
dan untuk proyek-proyek masa depan kita.
- Menyulang. - Menyulang.
Adam.
Mau diabadikan ini.
- Ya. - Saya di sini, ya?
Satu, dua...
- Buang semua sedihmu - Buang semua sedihmu
- Aku akan selalu menghiburmu - Aku akan selalu menghiburmu
Ya, hapus air matamu!
- Matamu! - Matamu!
- Abrakadabra! - Matamu!
- Matamu! - Tunggu.
Ayo berfoto.
- Ya! - Ya!
- Foto lagi, ayo! - Ayolah.
Biar saya bantu.
Jangan terlalu dekat.
- Berisik. - Jangan terlalu dekat.
Terima kasih.
- Ini dia. - Mana?
Saya bantu, Pak.
Ya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Dia datang.
Aduh, sakit.
Pintu darurat dikunci.
Manyun. Terlalu percaya diri.
Kepada seluruh awak untuk bersiap.
Kereta Sangkara akan segera berangkat.
Teman-teman.
Buat cerita Instagram, ayo. Sini.
Ya.
Baiklah, tiga, dua, satu.
- Hai, Teman-teman! - Hai!
Jadi, sekarang, kita ada di kereta sedang perjalanan ke...
- Resor Sangkara! - Resor Sangkara!
Lihatlah, pemandangannya bagus sekali.
Keretanya juga keren sekali.
Kalian harus coba.
Tapi coba yang VIP, bukan yang ekonomi.
Karena banyak rakyat jelata.
- Dah! - Dah!
Afiliator lain sudah terciduk.
Tidak lama lagi giliranku
yang akan ditetapkan jadi tersangka.
Maksudnya? Kau menyuruhku mendadak ke Solo?
Lalu sekarang? Kau mau mengajak kabur?
Kenapa tidak ke luar negeri saja?
Semua asetku disita.
Cuma ini yang bisa kuselamatkan.
Kau itu memang payah, ya.
Permisi.
Ada yang mau pesan makanan atau minuman?
Terima kasih.
Maaf, Pak. Mau saya bantu menaruh tasnya di bagasi?
Peraturan keamanan,
penumpang dilarang menaruh barang bawaan di kursi.
Ayolah!
Astaga, apa-apaan itu?
- Kembalikan. - Sini pinjam.
- Apa-apaan ini? - Apa? Sama saja...
- Mbak. - Ya?
Tadi ada laki-laki di situ, mana?
Dari tadi hanya ada orang itu, Bu.
Tidak, pakai baju pekerja.
Tidak, tadi wajahnya...
Tidak ada, Ibu.
Mungkin Ibu mau beli sesuatu?
Ibu, maaf, penumpang ekonomi hanya bisa sampai di sini.
Saya ada perlu.
Tidak bisa, Ibu, penumpang ekonomi hanya bisa sampai di sini.
Ada... Saya mau bertemu...
Maaf, Ibu, tidak bisa.
Mungkin Ibu mau beli sesuatu?
Kopi. Saya mau beli kopi.
Silakan, Ibu. Layanan mandiri.
- Apa? - Layanan mandiri.
Ada yang mau saya bicarakan berdua dengan Bapak di sini.
Tentang kejadian tadi di stasiun.
Itu...
Ya, maklum, Pak.
Orang-orang daerah gampang sekali tersulut isu.
Apa pun bisa dijadikan bahan untuk unjuk rasa.
Jadi, mereka tadi itu protes ke pihak stasiun
karena ada beberapa karyawan-karyawan yang dipecat.
Saya tak mau tahu itu, Pak Bara.
Karena kejadian tadi di stasiun,
itu sudah cukup membuat saya malu di depan para investor.
Dan gangguan-gangguan seperti itu,
lama-lama bisa merusak wajah wisata kita, Pak.
Ibu, itu!
Lihat? Kau mulai lagi membuat jurnal-jurnal itu.
Aku cuma mau lihat.
Nanti kau juga lihat, tapi bukan sekarang.
Besok?
Suatu saat.
Besok di resor, kau harus beri tahu isi jurnalmu.
Kumohon.
Sok misterius. Sebal.
- Kak. - Kenapa, Dik?
Tadi ada...
Tadi ada burung...
- Dik. - Ya?
Aku ke toilet sebentar, ya?
- Kutemani? - Tidak.
- Kau di sini saja, jaga barang. - Kutemani, Kak.
Aku cuma mau pipis. Ya? Sebentar.
Aneh.
"...sudah sampai tujuan."
Don.
Pintunya kenapa, ya?
Coba kau cek.
- Cepat. - Baik, Pak.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah...
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Ini lampunya kenapa?
Kak?
Kak Pur.
Kak?
Kenapa menyusul?
Ya, aku takut kalau terjadi sesuatu.
Lagi pula, kenapa lama sekali?
Kau muntah, ya?
- Hanya mabuk darat. - Tidak.
Lihat?
Sampai di sana, cari dokter, ya?
- Bawel. - Biar kubereskan dahulu.
- Kembang? - Ya?
Kak...
- Kak? - Ayo.
- Sini. - Kak!
Bagaimana? Semuanya aman, 'kan?
Semua aman.
Buat Pak Santoso pasti aman.
Mohon maaf, sebentar, Pak. Saya izin sebentar, ya?
Ya, silakan.
Ada yang bisa saya bantu?
Gerbong lima hilang.
Hilang bagaimana, maksudnya?
Mas.
Saya mau ke toilet sebentar.
Mohon maaf, toilet ini sedang rusak.
Silakan gunakan toilet di depan kabin, ya, Pak?
Mari saya antar, Pak.
Ayo, Pak.
Gerbong lima mana? Kenapa hilang?
- Hilang? - Gerbong lima hilang?
Apa? Hilang?
- Hilang? - Gerbong lima hilang?
- Bagaimana bisa hilang? - Bagaimana bisa hilang, Pak?
Mohon tenang, Semuanya. Bapak-Bapak, Ibu-Ibu.
Ini cuma masalah teknis kecil saja.
Dan semuanya juga sudah ditangani dengan baik.
Dia tertinggal di terowongan.
Mohon maaf, ya? Atas ketidaknyamanannya.
Dan gerbong lima juga akan segera menyusul ke resor nanti.
Saya permisi sebentar, ya.
- Ayo duduk lagi. - Itu bagus.
Kita bisa tenang sekarang, semuanya baik-baik saja.
Mas.
- Ya? - Sebentar.
Ada yang bisa saya bantu?
Mas, tadi Anda bilang gerbong lima aman dan akan dijemput.
Anda pasti bohong, 'kan?
Tadi saya sudah jelaskan dengan baik
bahwa gebong lima itu tidak hilang, tapi tertinggal di terowongan.
Dan semuanya sudah ditangani dengan baik.
Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?
Apa sebelumnya tak ada uji coba jalur, pengecekan keamanan kereta?
Kalau pengujian itu belum dilakukan, saya juga tidak akan mau ada di sini.
Betul?
Bapak duduk saja dengan tenang, kita akan aman dan baik, ya?
Saya permisi sebentar.
Mohon tunggu sebentar, ya?
Bagaimana ini?
- Aku ke toilet sebentar, ya? - Kutemani, ya?
Lebih baik kau bikinkan aku minuman saja, ya?
- Sebentar. - Baiklah.
Halo?
Kembang, ini Dokter Nugroho.
Dokter.
Kenapa tumben meneleponku?
Soalnya dari minggu lalu Purnama tidak angkat telepon saya.
Saya juga sudah menghubungi ayahmu sebagai wali pasien,
tapi ayahmu malah kasih nomormu.
Memangnya ada apa, ya, Dok?
Purnama harus cepat cek kesehatan, atau...
Kenapa cek kesehatan lagi, Dok?
Kata Kakak, dia sudah dinyatakan sembuh, Dokter.
Memangnya Purnama tidak cerita
kalau operasi pengangkatan kanker hatinya tidak berhasil?
Sel kankernya sudah menyebar...
Halo? Dok?
Halo? Dokter?
Terima kasih, Dik.
Dokter Nugroho barusan telepon.
Dia bilang semuanya.
Kenapa kau bisa tidak cerita padaku, Kak?
Aku yang menemanimu.
Yang selalu ada untukmu siapa, Kak?
Aku.
Dan kau tetap masih bisa membohongiku begini?
Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, Dik.
Kalau aku bilang, pasti kau tak mau pergi, 'kan?
Kita tidak akan ada di sini.
Menghabiskan waktu?
Menghabiskan waktu bersamaku itu bisa di rumah sakit, Kak!
Kau mau
aku menghabiskan waktu, sisa waktuku di rumah sakit?
Tak usah sok tahu soal ajal begitu.
Kau tak tahu rasanya tak bisa apa-apa di rumah sakit, Dik.
Aku capai minum obat setiap hari, setiap hari badanku banyak sekali obat.
Kau tak tahu rasanya.
Aku lebih baik di sini melihat pemandangan indah
menghabiskan waktu bersamamu, Dik,
daripada aku harus di sana cuma menatap tembok.
Kau tak tahu rasanya!
Kau tahu kenapa?
Waktuku tak lama lagi!
Aku akan segera mati.
- Waktuku tak lama lagi. - Kak.
Kak.
Kak, masih banyak cara yang kita belum coba.
Lalu kalau misalnya kau meninggalkanku,
masa aku harus tinggal bersama Ayah yang tak peduli pada kita berdua?
Kak, aku tidak mau. Aku hanya punya kau, Kak,
dan aku tidak mau kau meninggalkanku seperti itu.
- Tidak. - Aku melihat jurnalmu.
Itu untukku, bukan?
Siapa tahu aku tak sempat berpamitan nanti.
Kak.
Tidak, Kak.
Kak, lihat aku.
Kau harus lanjutkan pengobatanmu. Kau harus sembuh.
Kau harus terus bersamaku karena aku mau melihatmu beruban, Kak.
Ya?
Kak.
Aku tidak ingin kau meninggalkanku, Kak!
Kak, lihat aku.
Aku tidak mau kau meninggalkanku!
Jangan tinggalkan aku, Kak.
BAHAYA LISTRIK TEGANGAN TINGGI
Hei, Tekun!
Pak!
Tadi ada orang di sini, Pak. Berdarah-darah, Pak!
Ada orang di sini, Pak. Berdarah-darah, Pak!
Hei, kenapa kau? Hei!
Radio masinis korsleting.
Kita tidak bisa menghubungi pusat kendali.
Lalu, ini kenapa? Apa-apaan ini?
Tadi saya datang ke sini untuk menghubungi gawat darurat, Pak.
Tapi semuanya sudah tak berfungsi, dan...
Gawat darurat?
Gerbong lima hilang, Pak.
Gerbong lima terlepas dari rangkaian kereta.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin, Tekun.
- Pak... - Butuh prosedur khusus
untuk memisahkan antargerbong.
Pak, gerbong lima hilang.
Hilang begitu saja, Pak. Hilang.
Kalau katamu benar,
Pak Santoso tak boleh tahu masalah ini sampai kita menemukan penyebabnya.
Sekarang begini,
kau tangani penumpang ekonomi di gerbong empat
sesuai prosedur.
- Ya? - Baik, Pak.
Hei, tunggu.
Lihat saya.
Kita lalui ini sama-sama, ya?
- Permisi. - Ya.
Kenapa sinyalnya jelek sekali di sini?
Selamat menikmati.
Sinyalnya kenapa ini?
- Lihat? - Ini juga.
- Bagaimana ini? Tidak ada sinyal. - Kau ada sinyal?
Sebentar, Pak, Bu. Saya cek dahulu, ya?
Yang cepat, ya?
Terima kasih sudah menunggu.
Bagaimana?
Ini cuma masalah teknis kecil saja.
Gerbong lima terlepas dari rangkaian kereta,
dan petugas dari stasiun keberangkatan sudah menanganinya dengan baik.
Barang-barangmu juga akan segera dibawa ke resor.
Lalu? Para penumpang di gerbong lima, bagaimana?
Mereka baik-baik saja. Mereka juga akan segera menyusul ke resor.
Kita sudah masuk terowongan,
dan sebagai permintaan maaf,
kami akan pindahkan kau ke Kelas Ekonomi Satu di gerbong empat.
Kereta Sangkara juga akan memberikan bonus poin
yang kau bisa gunakan untuk perjalanan berikutnya.
Bagaimana?
Baiklah.
Mbak, jahenya belum dibayar.
- Ayo bernyanyi dan menari - Ayo bernyanyi dan menari
- Hilangkan semua benci - Hilangkan semua benci
- Biarkan hati senang - Biarkan hati senang
- Lagi! - Lebih kencang!
Hei!
- Hei, kenapa itu? - Hei, apa itu?
- Pak! Tolong ini! - Bagaimana itu?
Tolong, air!
Air!
Pasti musnah!
Musnah!
Pak, ada apa?
Kalian manusia jangan kira bisa menghindari
hukuman yang akan menimpa kalian!
Pengadilan akan datang! Musnah!
Kenapa kalian hanya bisa mengikuti hawa nafsu?
Jawab!
Waktunya telah habis
tanpa kalian sadari.
Kalian tidak akan bisa menghindari bencana ini.
Tidak bisa!
Musnah!
Kak, jangan ke situ!
- Jangan ke situ, Kak! - Mana gerbongnya?
Ayo, Kak, jangan ke situ!
Kak...
Tadi aku lihat penumpang...
Kerumunannya tadi ada di tengah situ...
Penumpangnya...
Itu gerbongnya ke mana, Dik?
Penumpangnya seperti di...
Lalu...
- Penumpangnya? - Bukan.
Bukan orang.
- Kita bagaimana ini, Kak? - Tidak.
Aku tidak kuat, Kak.
Kenapa dia?
Pak Bara.
Pak Bara pasti tahu sesuatu, 'kan, Pak?
Kenapa bisa hilang, Pak?
Ini kenapa bisa hilang?
Aduh, saya tidak tahu, Pak.
Saya tidak tahu, Pak. Maaf.
Kau tidak tahu terus!
Satu terowongan,
satu gerbong hilang.
Kalau satu kali
mungkin kebetulan,
tapi ini sudah lebih.
Ini pasti peringatan.
Ini bukan soal teknis.
Ini jauh di luar kuasa kita.
Bagaimana daerah kecil seperti tempat kita ini bisa maju
kalau masyarakatnya terbelakang seperti ibu ini.
Apa pun disangkutkan dengan takhayul.
Tidak, Pak. Saya lihat sendiri, Pak.
Orang-orang di gerbong sana,
mereka berkumpul di tengah,
lalu ada makhluk yang...
Yang... Kau percaya denganku, 'kan, Kak?
Kau lihat sendiri, 'kan?
Bagaimana pikiran dangkal Ibu itu bisa memengaruhi orang, Bu.
Pak Santoso.
Bapak tenang.
Gerbong-gerbong itu hanya tertinggal di terowongan.
Tekun, kau sudah cek pusat, ya?
Sudah, Pak.
Kondektur terus berkomunikasi dengan pusat kendali.
Itu, 'kan? Ya, 'kan? Tenang.
Semua masalah sudah diatasi petugas, Pak Santoso.
Sekarang lebih baik kita kembali ke kabin.
Silakan Bapak dahulu.
Baik.
Pak, saya tidak tahu. Benar, Pak
Kau cepat cari bantuan.
Utamakan gerbong empat dahulu yang diselamatkan, Tekun.
Sebelum nanti pers buat liputan yang jelek tentang kita.
Kau dengar saya, 'kan?
Pak, masalahnya antena radio kita sudah rusak.
- Kalian menikmati perjalanan ini? - Ya.
Pak Bara.
Ya? Halo, ya.
Kita gabung dengan yang lain.
- Dansa. - Ya.
Ya, nanti saya menyusul, ya?
Sudah yakin, ya?
- Ya. - Janji, ya?
Ya.
- Mari? - Ayo.
Sidik, gerbong empat dan lima hilang.
Pak, ini juga saya baru mau memberi tahu Bapak.
Lalu, bagaimana? Kau tak bisa hubungi mereka?
Atau mereka menghubungimu?
Komunikasi di kereta ini entah kenapa mendadak sekarang
sudah tidak berfungsi, Pak.
Sudahlah, sekarang begini.
Kita harus segera sampai ke stasiun resor.
Sampai stasiun resor,
kita harus kirim orang SAR untuk evakuasi orang-orang di sini.
Kita bawa mereka ke stasiun resor,
kemudian kita kasih pelayanan kelas VIP, kelas nomor satu, ya?
Setelah itu,
kita pelan-pelan minta mereka tanda tangan surat perjanjian
supaya mereka tidak menuntut kita.
Ya, tapi kalau gerbongnya ketemu, Pak.
Kalau tidak, bagaimana?
Coba lihat, Pak.
Mereka nyata, Pak.
- Hapus. - Apa?
Nanti orang-orang curiga kalau...
salah satu rekaman CCTV hilang?
Sudah, hapus.
Orang saya di kepolisian akan mengurusi hal-hal ini.
Sudah, Pak.
Sekarang bagaimana, Pak?
Ada satu penumpang perempuan di kelas ekonomi,
sepertinya dia tahu urusan setan-setan ini.
Jangan biarkan dia memengaruhi penumpang gerbong lainnya.
- Bisa? - Ya, Pak.
Yang penting investor, mereka itu masa depan kita.
- Ya. Siap, Pak. - Ya?
Oke. Tenang.
Ya?
Kita lalui bersama-sama, ya?
Dik, Bu, maaf.
Pak Santoso...
Bapak harus kembali ke VVIP.
Ini permintaan maaf dari saya.
Jadi, kalian semua silakan menikmati fasilitas VIP.
Tidak bisa, Pak.
Maaf, Pak.
VIP penuh.
Nanti Tekun yang akan melayani kalian dengan baik.
- Ayo. - Baik, Pak.
- Ayo, silakan. - Mari.
- Saya menyusul. - Baik.
Permisi.
- Mari, Bu. - Pak Santoso.
Saya Ramla.
Suami saya hilang.
Suami saya bikin rel untuk Sangkara.
- Maaf, Bu... - Suami saya tidak pernah pulang.
Bu, semua sudah saya serahkan kepada Pak Bara.
Saya tidak tahu apa-apa, Bu, bahkan tentang suami Ibu.
Mohon maaf, Kak.
Cuma ada satu kursi saja yang tersedia.
- Kau yang duduk, Kak. - Kau saja.
Kak, kau harus istirahat.
Kali ini kau yang menurutiku.
Kak.
Ini...
Ada apa, ya?
Panjang ceritanya.
Nanti saja kujelaskan.
Ada masalah apa lagi ini?
Tidak ada apa-apa.
Selamat datang.
Terima kasih sudah meningkatkan tiket ke kelas VIP.
Lalu, Pak Santoso bagaimana?
Dia di restoran.
Tolong gantikan aku sebentar, ya?
- Saya? - Ya, sebentar saja.
Permisi.
Ada yang bisa saya bantu lagi?
Saya bisa bicara sebentar?
- Bisa. - Kak.
Kak.
- Sebentar saja. - Tidak.
Ya?
Saya tahu orang yang berbohong itu seperti apa,
dan saya melihat itu darimu
setiap kau menjelaskan soal gerbong yang hilang
Jujur saja.
Ada apa sebenarnya?
Mbak. Saya sebenarnya tak tahu apa yang terjadi.
Sampai sekarang pun saya belum tahu dapat bantuan atau tidak.
Kau seharusnya bilang dari awal.
Tidak lihat adik saya tadi histeris begitu?
Saya ini cuma ikuti perintah atasan.
Lalu, ini keretanya masih jalan juga cuma ikuti perintah atasan?
Lalu, kau cuma diam saja?
- Saya disuruh atasan. - Seharusnya kau berpikir
- untuk tunggu di stasiun resor. - orang-orang di sana nyawanya terancam.
Cuma itu caranya.
Jujur saja bicara pada semuanya, jangan pakai alasan konyol begini.
Saya benar-benar melihat itu.
Sudah tahu kabin ini tidak cukup untuk VIP,
sekarang mereka kenapa di sini?
Kabinnya jadi bau sekarang.
- Kau urus ini. - Maaf.
Sudahlah, ayo.
Suci, lihat aku.
Jangan lihat ke sana. Kau tarik napas, tenangkan diri.
Tidak apa-apa.
Indah, itu ada tamu.
- Kau layani dahulu. - Baik, Pak.
Pak, saya mohon, biarkan saya ikut masuk.
Saya takut sendirian di sini.
Justru itu, Suci.
Saya tak mau penumpang itu nanti curiga melihat keadaanmu.
Jadi, lebih baik kau tenangkan dirimu dahulu di sini.
Baik, ada lagi?
Baik.
Semuanya, harap tenang, ya?
Suci!
Suci!
Suci!
Ini kenapa, Pak?
Masuk.
Diam.
Semuanya jangan bersuara.
Kita harus segera ke gerbong dua.
Sekarang.
Ayo, cepat!
Pak?
Ini kita lewat hutan keramat apa, Pak?
Saya tidak tahu, Indah.
Mereka sepertinya jin penunggu.
May? Maya, jangan bergerak.
May?
Mundur!
Mundur!
Tidak!
Tekun!
Tekun! Buka, Tekun!
Buka. Cepat, Tekun.
Tekun, cepat buka!
Tidak bisa!
Ayo, Indah!
Kembang? Buka!
Kak, jangan!
- Buka! - Kak!
Tunggu!
Itu gerbong tiga hilang!
Bagaimana bisa?
Kita tak ada waktu menjelaskan mereka.
Ayo, Kembang.
Lalu, bagaimana ini?
Lalu, itu bagaimana kabar penumpang gerbong tiga?
Pak Sidik.
Pak, kita harus hentikan kereta ini sekarang.
Kita harus temui masinis sekarang juga sebelum terowongan keempat, atau...
Gerbong dua ini akan ikut hilang.
Maksudnya bagaimana ini, Pak?
Kalian jangan kurang ajar dengan penumpang, ya!
Diam!
Hilang, Pak.
Saya sudah tahu
dan sudah curiga dengan tiga orang penumpang kelas ekonomi di sini.
Dan bisa-bisanya masih selamat, meskipun dua gerbong itu hilang,
lalu dia minta tolong kepadamu.
Kau, 'kan, yang mengunci pintu darurat gerbong lima?
Lalu, kenapa pintunya bisa terbuka?
Kalian berkomplot
untuk melepaskan gerbong-gerbong kelas bawah
karena memang tidak menguntungkan kalian, 'kan?
Dan kalian merencanakan untuk memerintahkan masinis
untuk menghentikan gerbong kelas atas, di tengah jalan,
di saat kereta terputus dari dunia luar.
Dan semua kamera CCTV mati.
Semua apa lagi kalau bukan...
upaya perampokan.
Hei! Mau merampok kami?
Tidak. Kami bukan perampok.
Ini kriminal, Bung.
Bagaimana caranya merampok?
Kami tak ada yang bawa senjata di sini, kami tak berbahaya.
Kalau kalian bisa melepas gerbong, apa lagi yang bisa kalian lakukan?
Apa lagi?
Aku tak akan biarkan kalian semua
mengincar tasku dan merampokku sedikit pun!
Terowongannya!
Kita semua harus pindah ke gerbong sana,
kalau tidak, kita semua mati, ayo!
Kak!
Jangan! Mundur!
Pak Bara.
Pak! Kenapa ini?
Tenang. Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tenang.
Saya akan memberitahukan
bahwa di gerbong belakang sedang terjadi peristiwa perampokan.
- Apa? - Kenapa bisa perampokan, Pak?
- Ya, tapi tenang. - Kenapa bisa?
Saya tidak akan membiarkan perampoknya masuk ke gerbong kita.
Tidak!
Sayang!
Kris!
Sayang!
Tolong jangan mati! Kris!
Astaga! Mereka pembunuh!
Mereka pembunuh! Ayo tangkap mereka! Ayo!
- Pak, tolong! Bantu saya, Pak! - Kak!
- Tangkap mereka, Pak. - Kak!
- Kakak! - Lepas!
Ayo, cepat.
Lepas!
Tekun!
Ya, akan segera saya atasi. Tenang.
Sidik, cepat kunci pintunya!
- Ya? Tenang. - Pak.
- Gerbong tiga hilang? - Ya, Pak.
- Bagaimana ini? Santoso di situ. - Ya, Pak.
- Tapi saya tidak tahu, Pak. - Ya, apa?
Coba.
Tidak bisa itu.
Mundur.
Kalau Bapak percaya Tuhan,
lebih baik Bapak berdoa supaya kita cepat sampai ke resor, Pak.
Bisa, 'kan?
Ya.
- Tekun! - Tekun!
Mau ke mana kau?
Pak, percaya sama saya. Kita harus ke gerbong satu sekarang juga.
Karena setiap kali kita masuk terowongan, petaka itu datang.
Tenang. Oke?
Taruh dahulu. Taruh, ya?
Begitu, 'kan, enak.
Pak, kita sudah masuk terowongan. Semuanya, ayo!
Bunuh mereka!
- Kita harus pindah! - Keparat!
Mati kau!
Lanjut, Pak!
Kuhabisi kau!
Astaga!
Cepat!
Buka! Buka pintunya!
Buka!
Syukurlah!
Masuk!
Tolong buka pintunya!
Pak!
Tolong!
Buka pintunya, Pak.
Kak?
Kenapa, Kak?
Aku baru membunuh orang, Dik.
Tidak, itu tidak sengaja.
- Ya, tapi aku yang membunuhnya. - Tidak.
Tidak, Kak.
Kau ini tidak mengerti...
Pak, kita harus hentikan kereta ini sekarang juga, Pak.
- Sekarang juga! Saya mohon... - Tenang.
Tekun, kita harus segera sampai resor
supaya orang resor bisa mengirim bantuan
- untuk menyelamatkan orang di sana. - Dia benar.
Tak bisa, Pak.
- Dia akan segera datang ke sini, Pak. - Tekun.
- Tekun, tenang. - Dia akan segera datang ke sini, Pak.
- Ya, nanti. Tenang. - Pak, saya mohon!
Jangan sampai kita masuk terowongan lagi.
Sebentar, itu kenapa? Tadi apa?
- Pak, kita... - Apa-apaan ini?
Kunci. Aku akan hentikan keretanya.
- Kunci. - Jangan sampai masuk terowongan.
Apa-apaan ini?
Kau di sini jaga mereka, ya?
Ya.
Tambah kecepatannya.
Maksudnya, Pak?
Kecepatannya ditambah.
Ditambah.
Tapi Pak Sidik...
Pak Sidik mengurus yang lain. Tambah kecepatannya!
Apa?
- Apa? - Baik, Pak.
Tidak bisa, Pak.
Kita harus hentikan kereta sekarang.
- Kita butuh pertolongan, Pak - Ya, nanti Pak Bara...
Nanti Pak Bara akan menghentikan kereta ini.
Semuanya tenang. Nanti semuanya... Lancar semuanya.
Pak, tolong. Tolong hentikan sekarang, Pak.
- Saya mohon. - Ya, saya mengerti. Ya.
Pintunya terkunci!
Kenapa?
- Pak Bara! - Hei, buka!
- Buka, Pak! - Pak Bara, buka!
- Buka! - Astaga!
- Pak Bara! - Buka!
Dik...
Awas, mundur!
Ayo cepat!
- Kak, hati-hati, ya? - Kau tunggu, ya?
Ya.
Buka pintunya!
Teruskan!
Buka, Pak!
Buka pintunya! Saya pimpinan di sini!
Dia pimpinanmu, tapi saya pimpinan dia.
Teruskan! Ayo teruskan. Teruskan!
Bara!
Walaupun Anda menguasai daerah sini,
tapi di atas kereta,
semua wewenang ada pada saya.
Buka pintunya.
Kurangi kecepatan dan hentikan kereta, sekarang!
Pak! Jangan, Pak!
Nanti kita akan mati semua!
Tidak!
Minggir! Lepas!
Tekun!
Anda harus membayar
apa yang Anda lakukan pada Tekun.
Saya pikir
kalau gerbong satu ini hilang di terowongan lima,
itu artinya saya harus segera
bersama masinis untuk sampai ke resor
supaya bisa kirim bantuan ke sini dan mengevakuasi kalian.
Seperti itu maksud saya, Pak.
Saya juga memikirkan kalian, Pak. Saya membantu kalian.
Sudah, diam!
Diam, Pak.
Anda sudah banyak bikin masalah.
Baiklah.
Jadi, kereta ini berhenti supaya kita tidak masuk terowongan, begitu?
Karena setiap kereta ini masuk terowongan,
dia pasti menyerang, Pak.
Ya, tapi bagaimana masalahnya
kita bisa sampai ke stasiun resor itu tanpa menggunakan kereta ini?
Jarak dari sini ke stasiun resor tidak terlalu jauh.
Kita bisa jalan lewat hutan untuk menuju sana.
Ya, terowongan terakhir tidak terlalu jauh dari resor.
Tinggal jalan lurus.
Ya, tapi kalau seandainya tim bantuan sudah mencari kita sekarang,
di kereta ini, kita lebih aman.
Mana suami saya?
Tidak kenal, Bu.
Ini.
Ini suami saya.
Saya tidak kenal suami Ibu.
Lihat bajunya. Lihat baik-baik.
Ini.
Suami saya bekerja untuk Sangkara.
Untukmu.
Bapak memberi uang untuk Sangkara?
Ibu juga?
Bapak dan ibu lain juga?
Berarti suami saya juga bekerja untuk bapak dan ibu semua.
Darto.
Wiryo Sudarto.
Suami saya tak pernah bercerita pekerjaannya susah.
Dia rajin.
Dia bekerja untuk memberiku alat dengar baru.
Saya tahu dia hilang.
Saat alat datang, suami saya tak pernah pulang.
Tapi karena alat ini, saya bisa mendengar
ibu-ibu mencari suami-suaminya, mencari saudaranya.
Saya sudah bicara dengan Pak Santoso.
Dia baru tahu pekerja-pekerjanya hilang.
Kata Santoso, semua urusan rel
kuasa pejabat daerah.
Bukan saya, Pak, Bu. Bukan saya.
Bukan saya. Sumpah demi Tuhan bukan saya, Pak.
Cukup.
Cukup membuat Tuhan murka karena Bapak.
Lihat orang-orang ini.
Mereka menanggung akibat dari perbuatan Bapak.
Kau lihat itu. Lihat ini, ya?
Kau bikin jalur keretanya terlalu jauh.
Itu karena resor ini, Pak, terhalang oleh hutan.
Ini kenapa rancanganmu tidak memberi kami banyak keuntungan.
Pak, hutan Alas Geti ini dipenuhi oleh bukit batu.
Ya, tapi kita bisa potong di sini.
Ini. Potong di sini.
Pintar sedikit.
Dengan rancangan saya ini,
kita bisa bicara pada Pak Santoso bahwa penumpang kereta
bisa mendapatkan pemandangan yang lebih bagus
sehingga kita bisa minta uang Pak Santoso lebih banyak.
Tenang saja. Kau nanti dapat bagian.
Tidak bisa, Pak.
Hutan ini sudah ada empunya, Pak.
Kau urus urusanmu saja.
Urusan tumbal, itu urusanmu, tidak usah ikut campur ini.
Penghuni hutan ini bukan jin sembarangan.
Tak ada satu keyakinan pun yang bisa mengakali mereka,
tidak sesajen, tidak tumbal, apa pun, Pak.
Ini soal rumah mereka, Pak.
Asal kau tahu saja, ya, Rahmat,
kalau bukan karena Pak Gubernur yang menyuruh,
kau tidak mungkin di sini.
Jadi, kau tak usah punya pikiran
bahwa kau bisa memeras saya
dengan takhayul-takhayul murahanmu itu.
Saya mohon padamu, Pak.
Hentikan,
atau mereka murka,
dan hukumannya bisa jauh lebih sakit daripada kematian.
Ini...
Ini punya saya. Punya saya, paham?
Pak Rahmat, ikut saya.
- Ada apa, Pak? - Sebentar saja.
- Ikut saya. - Saya mohon, Pak.
Ikut saya.
Tidak ada yang bisa menolong kalian,
tidak uang kalian,
tidak juga Tuhan.
Dia sengaja menempatkan saya untuk tugas di kereta ini
supaya rahasia busuknya tidak tercium oleh kita.
Apa-apaan kau?
Bukan begitu, Pak Bupati?
Sudah, tenang saja.
Kita lalui ini bersama-sama.
Lalu bagaimana? Kita harus ke mana?
Seingat saya, kita harus memutari terowongan ini.
Ke situ arahnya, tinggal jalan kaki sampai stasiun.
Yakin, Dik?
Yakin.
Mereka ada di dalam terowongan.
Apa itu barusan?
Ayo, kita lanjut. Jalan sekarang!
Sayang!
Kak.
Mereka keluar karena gelap, bukan karena terowongan.
- Kak! - Ke sana!
- Hei! - Lari, Kak!
Ke sini! Bunga! Ke sini!
- Ayo! - Kak. Kita harus lari, Kak.
- Kak... - Bunga!
Bu Ningrum.
Kenapa?
Bukankah bisa cari jalan lain?
Kenapa hutanku kau ratakan?
Memang sudah wataknya manusia sepertimu...
saling membinasakan demi segenggam tanah.
Manusia serakah!
Kaulah buktinya
bahwa Tuhan
telah salah menempatkan manusia di Bumi.
Ampun! Maafkan saya! Ampun.
Ke sini, ayo!
Pada ke mana, ya?
Awas!
- Hei, apa? - Itu... Tidak ada..
Tak ada waktu. Tidak ada waktu mencari. Ayo!
Ayo!
Kalau Darto ada, dia pasti mencari.
Kembang...
dan...
Purnama.
Purnama.
Ramla.
Ramla.
Hati-hati.
Ayo lewat sini.
Kak.
Ini kita ke mana?
Stasiunnya pasti ada di sana.
Ayo.
Maafkan saya.
Kak.
Kak!
Aku mau pulang.
- Aku tak mau di sini, Kak. - Kembang.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku hanya ingin pulang, Kak.
Ya, kita pulang.
Kak, aku kedinginan.
Aku akan cari cara melepasnya.
Kak, aku tidak bisa merasakan apa pun.
Tapi sakit.
Kak, mukaku kenapa?
- Kak! - Kembang.
Kembang!
Kembang!
Kembang. Adik.
Kembang?
Kembang, bangun.
Kembang!
Jangan tinggalkan aku. Ayo bangun.
Bangun. Kau tak akan meninggalkanku, 'kan?
Bangun, Dik.
Tolong adikku!
Tolong.
Ambil saya!
Ambil saya, jangan adik saya!
Tolong ambil saya!
Jangan adik saya!
Kembang!
Kembang!
Kalau kematian para tukang itu tidak cukup,
kenapa jin-jin itu tidak menghabisi Bara saja dari awal?
Kematian Bara di awal
tidak akan menghentikan munculnya Bara-Bara yang lain.
Jin-jin itu membutuhkan waktu untuk membangun peringatan ini.
Lalu, kenapa saya tidak bisa menjadi bagian dari mereka?
Bagi mereka, kita cuma tanah.
Dan kau...
tanah yang kurang subur.
Silakan.
Bagaimana, Dik?
Aku masih cantik, 'kan?
Ternyata kau benar.
Aku bisa mematahkan prediksi dokter.
Jadi, masih ada harapan melihatku beruban.
Kak, lihat aku.
Kau harus teruskan pengobatanmu.
Kau harus sembuh.
Kau harus terus bersamaku karena aku mau melihatmu beruban, Kak.
Hei, lihat aku. Dengarkan aku.
- Kak. - Dengarkan aku.
Aku akan melanjutkan pengobatanku.
Kau harus menemaniku, ya?
Bisa, ya?
Aku sangat merindukanmu, Dik.
Seharusnya aku mendengarkanmu dari awal.
Seharusnya aku terus berjuang.
Maafkan aku, ya?
Sekarang aku hanya bisa berharap kau ada di tempat yang lebih baik, Dik.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.