Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Camilannya sudah dibawa?
Sudah.
Sudah telepon Ibu?
Sudah.
Tadi Ibu juga telepon aku.
Menanyakanmu terus.
"Bisa makan tidak di sana?"
- "Ada listrik tidak di sana?" - Sudahlah, Mas.
Aku sudah memutuskan untuk ikut.
Aku tidak mau kejadian seperti dulu…
terjadi lagi.
Ya, Sri.
- Mas Bimo. - Ya.
- Tarno. - Ya.
- Ini pasti Mbak Sri, ya? - Ya.
- Tarno. - Sri.
Aduh. Maaf, Mas, telat sedikit.
Tadi harus angkut-angkut barang.
Langsung jalan atau kita mau minum kopi dulu?
Tidak usah, Mas. Langsung saja. Takut ketinggalan kapal.
- Ya. Aku bantu, Mas. - Ya.
- Itu, Mas? - Ya.
Maaf, ya, Mas.
- Sudah, Mas? - Ya.
Jadi, ini Bang Junai.
Sopir paling berpengalaman di sini.
Sudah ribuan kali keluar dan masuk pedalaman.
Pertama kali ke sini?
Kalau sudah minum air sungai di sini, dijamin pasti betah.
Seperti Bang Tarno. Ya, Bang?
Apalagi kalau sudah kenal gadis-gadisnya.
- Mas Bimo. - Ya?
Benarkah nanti menjadi guru di Muara Tapah?
Ya, Bang.
Ikatan dinas calon PNS.
- Bang Junai pernah ke Muara Tapah? - Belum.
Desa tragis.
Tragis kenapa, Bang?
Dulu pernah ada musibah banjir.
Banyak yang mati.
Masih ada, ya, sekolah di sana?
Ada muridnya?
Kalau dari data kabupaten, ada.
Tapi tidak banyak.
Saran aku, Mas Bimo jaga sikap saja.
Orang luar pulau itu suka merasa lebih tinggi daripada kami.
Jadi, sesukanya saja.
Maaf.
Tidak apa-apa, Bang.
Orang daerah seperti kami ini
sebenarnya terbuka tangannya menyambut para pendatang.
Tapi kalau macam-macam, bisa ditebas lehernya.
Kau ini, Bang.
Itu salah paham.
Aku tidak ada macam-macam, Bang.
Makanya, tidak usah sok jagoan di tempat orang.
Harus menghargai adat istiadat orang lain.
Ya, itu dulu. Waktu belum tahu adat di sini.
Kalau bisa, Mas Bimo tidur dulu saja.
Di depan, kita baru mau masuk hutan.
BERDASARKAN NOVEL SEKUTU IBLIS YANG MENGINTAI
KARYA ACHMAD BENBELA
Mas! Mas Bimo! Mas!
- Ada apa, Sri? - Ada… Ada kepala.
- Apa? - Ada kepala. Ada…
Ada api, kepala terbang.
- Ada… - Mana?
- Bang Junai lihat? - Apa, Mbak?
- Kepala terbang. - Tidak.
- Bang Tarno? - Apa?
Aku tidur.
Mungkin kau salah lihat, Sri.
Tidak, Mas. Ada api.
Api, kepala terbang, Mas!
Mungkin kau kelelahan.
Masih ada waktu kalau mau tidur lagi.
Hei?
Mual, Mas.
Bang, hentikan mobilnya.
Mabuk darat itu!
Nanti, seminggu di sini juga terbiasa.
Minum?
- Kenapa, Bang? - Tidak tahu.
- Headlamp, Bang? - Ya.
Bagaimana? Mendingan?
Masih kuat?
Atau kau mau pulang saja? Kau tidak harus ikut, Sri.
Kau bisa tinggal di rumah Mbok sementara.
Tidak mau. Aku mau ikut.
Sri.
Kumohon kau percaya sama aku.
Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Sudahlah, Mas.
Mas Tarno!
Dipanggil kau.
- Mas! - Ya!
Ada apa?
Itu.
Bang Junai, senjata!
- Bang, senjata! - Apa itu, Mas?
- Mas! - Raung!
- Ayo masuk ke mobil! - Masuk!
Tidak bisa.
- Ayo! - Ada yang menghalangi.
Kalian ini bawa jimat dari Jawa?
- Tidak! - Tidak!
Ayo, Bang! Coba!
Bawa ketan? Telur?
- Ada! - Tidak!
Mana?
- Mana? - Ini!
Ayo, Bang!
- Hai. - Hai.
- Bagaimana hasil panen? - Lumayan mantap, Pak.
Bu, nasi kuning empat.
Minum, Bang.
Minum, Mas Bimo.
Terima kasih, Mas.
Sri.
Kau tidak apa-apa?
Mbak Sri.
Kejadian seperti raung itu biasa. Tidak apa-apa.
Kenapa bisa ada peti mati seperti itu, Bang?
Di sini kalau ada orang mati,
peti matinya tidak dikubur,
tapi digantung di pohon di tengah hutan.
Terus kenapa bisa mengejar kita?
Yang mengejar itu biasanya waktu hidup punya ilmu.
Karena tidak diurus raungnya,
makanya gentayangan cari mangsa.
Mangsanya… telur?
- Daging manus… - Hei! Itu.
- Itu… - Ayo, makan dulu Mas Bimo.
Mbak Sri, makan dulu agar tidak kosong perutnya.
Agar tidak mual waktu naik kapal klotok.
Ayo.
Bu! Dua lagi!
Ya.
Nanti Mas Bimo kena denda kalau menolak, Bu.
Ya, Bu.
Tidak bisa menjadi CPNS lagi.
Dua jam dengan kapal kayu. Di sini namanya klotok, Bu.
Ingat. Sri ingat terus pesan Simbok.
Mas Bimo! Mbak Sri! Ayo!
Sudah dulu, ya, Bu.
Asalamualaikum.
Asalamualaikum.
Sri.
Aku harus mengatakan apa lagi kepadamu supaya kau percaya
kalau aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Aku ambil CPNS ini untuk kita.
Untuk hidup yang baru.
Kita mulai lagi dari awal, ya, Sri?
Mas Bimo!
Mas Bimo!
Benar ternyata.
Aku Tingen, guru bahasa daerah di SD Muara Tapah.
Bimo, Pak.
Aku Ampong, Sekdes Muara Tapah.
Panggil saja Pak Sekdes.
Aku ditugaskan Pak Kades untuk menjemput Mas Bimo dan…
- Ini istriku, Sriatun. - Sri.
Kami senang Mas Bimo bergabung di sekolah kami.
Terima kasih, Pak.
Ayo, Mas Bimo. Klotoknya sudah mau berangkat.
Pak Tingen, kami jalan duluan.
Apa? Pak Tingen tidak ikut?
Aku mengajar di sekolah lain hari ini.
Ya sudah kalau begitu. Kami jalan, Pak.
- Ayo. - Mari.
Bagaimana jalan tadi?
Ada sesuatu?
Benar kata Pak Tingen. Pertama kuyang…
Habis itu raung.
Nanti akan lebih banyak lagi yang mereka hadapi.
Kedatangan dia sudah lama ditunggu.
Dia siapa?
Perempuan dari seberang pulau.
Terima kasih, Pak.
Ayo.
Mas Bimo, Mbak Sri, aku duluan.
Kalian tinggal lurus saja, sampai ke sekolah.
Permisi.
Ayo.
Ayo.
Ayo. Jangan dilihat. Ayo.
Sore, Bu, mau…
Guru baru?
- Ya. - Lurus.
Ada lapangan itu, kiri, sekolah.
Terima kasih.
Hei, Mas! Aku di sini!
Hei!
- Bagaimana kabarnya? - Baik, Pak.
Alhamdulillah. Perkenalkan, aku Pak Kasno, kepala sekolah di sini.
Selamat datang di SD Negeri Muara Tapah, Mas Bimo dan Mbak S…
- Sriatun! Ya, 'kan? - Ya.
Ini avokad sebagai tanda penyambutan dari kami.
Terima kasih, Pak.
Selamat bergabung bersama kami,
para tenaga pendidik untuk masa depan anak Indonesia.
Ayo kita lihat rumah kalian. Ayo lewat sini.
Ayo, sini Mas.
Jadi, yang sebelah kanan itu adalah rumahku, Mas.
Yang tengah itu masih kosong.
Lalu, yang paling kiri itu rumahnya Pak Tingen.
Tadi kami sudah ketemu Pak Tingen di kecamatan, Pak.
- Sungguh? - Ya.
Pak Tingen memang tinggal di daerah dekat kecamatan.
Dia tidur di sana saat mengajar saja.
Ayo, silakan.
Listrik di desa ini belum masuk, Mas Bimo.
Jadi, Mas Bimo dan Mbak Sri harus pakai lampu minyak.
Tidak apa-apa, 'kan?
- Tidak apa-apa, Pak. - Ya. Ayo.
Itu.
Lebih romantis, 'kan?
Ayo, silakan.
Murid-murid di sini jumlahnya hanya tujuh orang.
Terbagi dalam dua kelas.
Kelas tiga dan kelas lima.
Anak-anak di desa ini banyak yang meninggal
karena musibah banjir yang melanda saat itu.
Setelah banjir mereda, muncul wabah penyakit.
Banyak orang meninggalkan desa ini,
terutama pasangan muda.
Tapi kalau mereka punya keinginan belajar,
kita berkewajiban untuk memberikan ilmu kepada mereka.
Bukan begitu, Mas Bimo?
Ya, Pak.
Mbak Sri, bagaimana? Ikut mengajar juga, 'kan?
Tidak, Pak. Aku hanya menemani Mas Bimo saja di rumah.
Apa?
Untuk apa di rumah? Nanti hanya tengak-tengok.
Mendingan ikut mengajar bersama Mas Bimo.
Mau, ya? Mau?
Mau, pasti.
Kalau bisa, boleh, Pak.
- Daripada aku di rumah saja. - Ya, seperti itu!
Nanti, aku akan membuat laporan
kalau ada tambahan guru honorer baru, ya.
- Terima kasih, Pak. - Ya.
Astaghfirullahaladzim.
Lupa, aku.
Kenapa, Pak?
Orang sini kebiasaan.
Kalau habis makan,
harus dibagi-bagi dengan sekeliling.
Serius sekali. Jangan takut.
Sekeliling itu maksudnya bukan roh halus.
Orang sini itu berprinsip
apa yang diambil dari alam, harus dikembalikan lagi ke alam.
Ya, 'kan?
- Pak Kasno. - Ya?
Terima kasih atas pinjaman bahan makanannya.
Santai saja, Mas Bimo.
Nanti, tiga hari sekali, kita bisa naik klotok punya Pak Kades
untuk pergi belanja di daerah dekat hulu.
Nanti Mas Bimo bisa isi baterai ponsel dan teleponan sama keluarga di kampung.
Ya, 'kan?
Tadi, dalam perjalanan kemari,
kami lihat seorang kakek dan nenek tua di hutan…
Terima kasih, Pak. Sri, ayo.
Itu Bue Alang dan istrinya, Tambi Nyai.
Mereka kasihan.
Sejak anak-anaknya menghilang,
justru mereka malah diasingkan oleh warga.
Kenapa begitu, Pak?
Ya, karena mereka…
Hanya Tambi Nyai yang dianggap punya ilmu hitam,
dan mengakibatkan bencana banjir saat itu.
Ya sudah, Mas Bimo. Sudah larut.
- Aku permisi dulu. - Ya, Pak.
- Selamat malam. - Selamat malam.
Oh, ya.
Hati-hati dengan sekeliling.
- Istirahat, Mas Bimo. - Ya, Pak.
Mbak Sri! Pamit!
Tidak perlu dipikirkan, Mas Bimo, Mbak Sri.
Tambi Nyai memang begitu dengan pendatang baru.
Aku pernah didatangi, lalu disuruh pergi.
Buktinya, tidak terjadi apa-apa kepadaku.
- Tapi aku kaget, Pak. - Kaget kenapa?
Tiba-tiba dia megang perut istriku.
Benar dipegang perutmu?
Ya, tapi cuma dipegang saja, tidak diapa-apakan lagi.
Ya sudah, tidak apa-apa. Lagi pula, hanya dipegang.
Ya sudah, kita berangkat saja.
Tidak apa-apa. Sudah, jangan dipikirkan.
Pagi, Pak Ancah, Pak Sahen.
Selamat pagi, Pak Kasno.
Kenalkan, ini Mas Bimo dan Mbak Sri.
- Ancah. - Bimo.
Sri juga mau mengajar di sini.
Mengajar apa, Pak?
Bahasa Inggris.
Hebat!
Selamat datang di SD terhebat, Pak Bimo, Bu Sri.
Tujuh siswa saja yang terpilih bisa sekolah di sini.
Suka bercanda Pak Ancah ini.
Biar tidak stres, ya, Bu Sri?
Ya, tidak apa-apa.
Aku Sahen. Tugasku mengurus sekolah ini.
Maaf, kemarin tidak mengantar Mas Bimo dan Mbak Sri.
Tidak apa-apa.
Ayo, kumpul!
Dua baris!
Selamat pagi, Anak-Anak!
Selamat pagi, Pak!
Hari ini Bapak akan memperkenalkan guru-guru baru kita.
Pak Bimo dan Ibu Sri.
Sekarang, kalian boleh masuk kelas masing-masing. Ayo!
Ayo, semangat!
Silakan, Bu Sri.
Silakan, Mbak.
- Bapak di sini. - Terima kasih, Pak.
Ibu di kelas ini. Silakan.
Alung!
Hadir!
- Hanjak. - Hadir.
- Mayang. - Hadir.
Hari ini kita akan belajar bagaimana cara memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris.
- Bu Sri. - Bu Sri.
- Bu Sri. - Bu Sri.
- Bu Sri. - Bu Sri.
- Bu Sri. - Bu Sri.
Bu Sri!
Bu Sri!
Untuk Bu Sri.
Terima kasih, Hanjak.
Anak-anak itu menyukaimu.
Aku mau pergi menemani Pak Kasno ke ladang.
Apakah kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian?
Mas…
Tadi saat di sekolah…
Kenapa?
Saat sedang mengajar…
aku lihat setan anak-anak.
Mungkin karena cerita Pak Kasno kemarin.
Tidak usah terlalu dipikirkan.
Kau istirahat saja, ya.
Aku pergi dulu.
Mas Bimo?
Mas?
Mas Bimo?
Mas.
Apa kau merasa seperti ada yang mengawasi?
Mengawasi bagaimana?
Kita ini pendatang, Sri.
Orang baru di daerah yang seperti ini
pasti banyak yang memperhatikan.
Bukan seperti itu maksudku, Mas.
Sri.
Selama kita menghargai dan menghormati orang di sini,
aku yakin mereka juga pasti akan menjaga kita.
Makan.
Setiap makhluk hidup
di dunia ini saling berhubungan dan bergantung satu sama lain.
Ini yang disebut…
ekosistem.
Untuk hidup kita lebih nyaman, kita harus menjaga ekosistem itu.
Makanya, kita tidak boleh merusak hutan…
Bagus, ya?
- Untuk Ibu. - Wah.
- Terima kasih, Hanjak. - Sama-sama.
- Itu gelang apa, Hanjak? - Basal.
Apa itu basal?
Ini jimat dari akar ulin. Diberi Pak Tingen.
Kenapa?
Mana?
Mbak Sri, bawa anak-anak ke kelas tiga!
- Cepat! - Itu dia!
Mayang! Sedang apa di sana? Turun, Mayang!
Mayang!
Pak Sahen, ayo. Cepat!
Mas Bimo bantu Mayang turun.
Bantu sekarang! Cepat!
Ayo, cepat!
Ayo, cepat!
Cepat!
Mayang!
- Ayo, cepat! - Ini aman, Pak?
Aman!
Mayang!
Mayang?
Mayang?
Awas!
Tidak apa-apa, Mas?
Aku tidak apa-apa.
Mayang…
- Mayang? - Tadi dia…
Sri!
- Pak! - Ya, ayo.
Pak Ancah, bawa anak-anak!
- Sri! - Mbak Sri!
- Buka, Mbak Sri! - Tumbal…
Tumbal.
- Tumbal. - Sri!
Tumbal…
- Mayang! - Sri!
Tumbal.
Tumbal.
- Sri! - Bu Sri! Buka, Bu!
- Sri, buka pintunya! - Tumbal!
Sri! Ini aku, Sri!
- Mayang! - Sri!
- Mayang, jangan! - Sri!
Tumbal!
Mayang!
Ayo kita pecahkan kacanya.
- Pintunya kebuka! - Kebuka, Pak!
Ayo.
Bawa Mayang!
- Mayang! - Sri?
- Ayo, bawa. - Sri.
Cepat.
- Pak, gendong. Cepat! - Kau tidak apa-apa?
Ayo, bawa!
Perutku…
- Kenapa? - Perutku sakit.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Sri.
Sri?
Mas Bimo?
Sri?
Kenapa, Sri?
- Hei, kenapa? - Ada…
Apa?
- Ada ke… Ada kepala melayang! - Apa?
Kepala melayang?
Sri, tenang. Tenang.
Kau yakin sudah baik-baik saja?
Aku… aku tidak apa-apa.
Aku mau mengajar saja.
Daripada di rumah sendirian.
Ya sudah kalau begitu.
- Asalamualaikum! Mas Bimo! - Sebentar, ya.
Alaikum salam.
Pak Sahen, Pak Kasno, kenapa belum berangkat ke sekolah?
Kami datang mau memberi tahu kalau sekolah hari ini libur, Mas.
- Kenapa, Pak? - Sebab kejadian kemarin, anak-anak takut.
Makanya, mereka sekarang tidak datang.
Oh…
Mbak Sri bagaimana kondisinya?
Sudah baikan.
Berkat minyak bintang dari Pak Sahen.
Cuma…
Cuma apa, ya?
Semalam, Sri bilang kalau dia lihat…
kepala manusia terbang, Pak.
Wah…
Kuyang.
- Begini, Mas Bimo. - Ya?
Pak Kades juga sudah tahu kejadian kemarin di sekolah.
Jadi, beliau minta sama Mbak Sri berkunjung ke rumahnya, sore.
Bisa, 'kan?
Ya bisa saja, Pak, tapi aku harus tanya Sri dulu.
- Apa dia… - Aku bisa.
Perutku sudah tidak sakit.
Aku ikut.
Ya.
- Permisi Kak Busu! - Hei.
Kami mau ketemu Pak Kades.
Dia ada di dalam sama Mina Uwe. Masuk saja.
Terima kasih, Kak Busu.
Itu Busu, istrinya Pak Kades. Ayo.
Aku mengundang kalian ke sini
supaya Mina Uwe bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mina Uwe itu tabib.
Dia juga yang mewarisi ilmu dari leluhur kami.
Mina Uwe.
Tangannya…
Boleh?
Oh.
Dia hamil.
Astaga.
Aduh, pantas saja menjadi masalah!
Hei, Pak Sekdes!
Memang, 'kan? Dia datang sudah masalah.
Apalagi dia hamil.
Maksudnya bagaimana, Pak Sekdes?
Sabar, Mas Bimo.
Biar Mina Uwe saja yang menjelaskan.
Warga desa sini
percaya satu ramalan.
Bahwa akan datang seorang perempuan dari seberang pulau
yang akan menyempurnakan kekuatan sekutu iblis.
Untuk menjadi iblis sepenuhnya,
dia butuh janin bayi merah
dari perempuan seberang pulau.
Kedatangan kalian ini sudah ditunggu Tambi Nyai.
Tapi tidak perlu takut.
Aku akan melindungi kalian.
Hei, Ampong.
Ya?
Tolong rebus daun sirih ini sampai mendidih.
Beri garam sedikit.
- Sri? - Mbak Sri.
Sri.
Sri?
Sri!
- Mbak Sri! - Kau kenapa, Sri?
Mina Uwe, bagaimana ini?
Tetap tenang, Mas Bimo.
Sri.
Tidak apa-apa, Nak. Tidak usah takut.
Hei!
Pegang dia! Jangan sampai dia keluar!
Tutup pintu dan jendela!
Anak dan istriku.
Terus, Pak!
- Tahan yang kuat! - Tahan! Cepat!
Ayo! Yang kuat! Satu, dua tiga!
Ampong! Di mana daun sirihnya?
Cepat!
Berikan kepada istrimu.
Busu, bawa Mbak Sri masuk ke kamar.
Ayo, Mas Bimo.
- Pelan-pelan, Mas Bimo. - Ya.
- Hati-hati, Mas Bimo. - Ya.
- Kuambilkan minum dulu, ya. - Terima kasih, Bu.
Tunggu apa lagi, Pak Kades? Sudah jelas semuanya!
- Kita harus ambil tindakan! - Hei, Pak Sekdes.
Tambi Nyai itu bukan lawan kita.
Biarkan saja Mina Uwe yang menangani sekarang.
Justru sekarang kesempatannya, Pak!
Jika Tambi Nyai berubah menjadi kuyang,
berarti badannya dijaga Bue Alang!
Kita datangi saja sekarang!
Ampong! Kau mau aku menjadi pembunuh?
Paling tidak, diusir dari desa kita ini.
Aku setuju sama Pak Sekdes. Biar warga desa juga lebih tenang.
Pak Sekdes, tidak ada bukti-bukti kuat keterlibatan Tambi Nyai.
Tahu apa kau? Kau ini pendatang!
Kau tidak tahu betapa mengerikannya kejadian sepuluh tahun lalu itu!
Ampong!
Permisi, Bu Kades.
Aku dan Sahen mau pamit dulu.
Mas Bimo sama Mbak Sri mau istirahat dulu di sini atau ikut?
Bareng saja, Pak.
Pak Kades ke mana?
Pak Kades dan Pak Sekdes ke rumah Tambi Nyai.
Akhirnya.
Bue Alang! Tambi Nyai!
Mereka pasti sembunyi di tempat lain!
Ayo kita cari!
- Mari, Pak. - Ya, Mas.
Pak Kasno!
- Pak Tingen. - Pak Kasno.
Kenapa ada yang kerasukan di sekolah?
Aku sudah pasang pagar gaib di sekeliling sekolah.
Aduh.
Aku minta maaf, Pak Tingen.
Aku tidak tahu daun sawang itu dari Pak Tingen.
Kukira itu sampah, makanya aku buang.
Pantas saja.
Tapi anak-anak memakai gelang basal,
termasuk Mayang.
Kenapa mereka masih diserang?
Sepertinya…
iblis yang merasuki Mayang itu memang jauh lebih kuat.
Oh.
Pak Tingen.
Pak Tingen masih ada gelang basal?
Untuk apa, Mas Bimo?
Untuk istriku.
Tadi sore dia kesurupan di rumah Pak Kades.
Ya, itu dia.
Aku sudah tidak punya gelang basal.
Apa Pak Tingen tidak bisa membuat satu saja untuk Sriatun?
Gelang basal itu bukan aku yang buat.
Aku hanya dititipkan
untuk diberikan ke anak-anak waktu itu.
Memangnya Pak Tingen tidak ada jimat yang lain?
Aku tidak punya!
Ini apa?
Ini bukan jimat,
tapi rambut kuyang.
Dia akan bergerak kalau ketemu pemiliknya.
Sisa rambut ini saja
yang kutemukan di tempat tidur,
waktu kuyang…
membunuh anak…
dan istriku.
Kau harus keluar dari desa ini sekarang.
Aku tidak mau apa yang terjadi
dengan istri dan anak Pak Tingen terjadi kepadamu.
Kenapa istri dan anak Pak Tingen?
Pak Kasno sudah setuju
kau tinggal sama istrinya di kecamatan.
Aku akan ke sana seminggu sekali.
- Mas… - Kau berangkat dengan kapal malam ini.
Pak Tingen lagi cek kapal.
- Tapi, Mas… - Tidak ada "tapi", Sri.
Tidak ada "tapi". Kau duduk saja, aku siapkan semuanya.
Ya, bagaimana, Pak?
Maaf, Mas Bimo, klotoknya tidak bisa berangkat malam ini.
Pengemudinya tidak berani.
Besok pagi-pagi saja. Mas Bimo diminta tunggu di dermaga.
Kita harus secepatnya berangkat, Pak.
Aku takut Sriatun kenapa-kenapa.
Mas Bimo tenang saja.
Aku akan pasang duri landak dan bawang putih di sekeliling rumah
agar iblis dan roh jahat itu tidak berani mendekat.
Tapi ingat, Mas Bimo, apa pun yang terjadi,
jangan keluar rumah sampai besok pagi.
Ya.
Pak Tingen?
- Suara apa itu, Mas? - Sut.
Kita harus pergi sekarang. Ayo.
- Kembali ke kamar! - Mas.
Aku menjagamu.
Aku menjagamu, Sri.
Aku menjagamu.
Kebakaran!
- Kebakaran! - Dermaganya juga!
- Yang banyak airnya! - Dibantu!
Pak, bantu, Pak! Ayo!
- Ayo! - Kau tunggu di sini, ya!
- Jangan ke mana-mana. - Hati-hati, Mas.
Ya, sebentar.
- Bantu! - Bu! Ayo ambil lagi, Bu!
Ayo bantu, Bu!
Yang banyak airnya!
Ayo, siram!
- Ya, Pak! - Kenapa bisa kebakaran, Pak?
Katanya ada orang yang sengaja bakar dermaga.
- Siapa? - Aku tidak tahu.
Jangan sembarangan bicara!
Tidak ada bukti kalau dermaga ini sengaja dibakar!
Aku saksinya, Pak!
Ada orang menyiramkan minyak ke dermaga, lalu dibakar pakai obor!
Sudah! Terus!
Pak Kasno, ada jalan lain keluar dari desa ini?
Tidak ada, Mas Bimo. Ini jalan satu-satunya. Tidak ada.
- Yang itu, Pak! - Ayo!
Kerasukan!
Sri?
Sri!
- Terus! Ya! - Sri!
Kenapa, Mas Bimo?
Istriku hilang. Tadi dia menunggu di sini.
- Sri! - Ada apa?
Bu Sri hilang!
Ayo!
Sri!
Sri?
Sri!
Bagaimana, Mas?
- Tidak ada, Pak. - Aduh.
- Kelas lima! - Kelas lima.
Sri?
Bagaimana, Pak?
- Pak Ancah? - Tidak ada, Mas Bimo.
Mayang, kau tahu Bu Sri di mana?
Di mana, Mayang?
Ini gelang Pak Sekdes, 'kan?
Sepertinya ya.
- Di mana rumah Pak Sekdes? - Aduh…
- Di… - Di mana?
Di sekitar dermaga, Mas Bimo.
Mas Bimo!
Mina Uwe, ayo ikut aku.
Sebelum terjadi bencana di rumah Pak Sekdes.
Terima kasih, Mina Uwe.
Ayo, Mina Uwe.
Pak Sekdes!
Di mana istriku?
Aku tidak tahu di mana istri Mas Bimo.
Di mana kau sembunyikan istriku?
Mas Bimo jangan menuduh!
Sejak kami tiba di sini, kau sudah tidak suka dengan istriku.
- Jangan bicara sembarangan. - Aku tidak bicara sembarangan!
Hanya kau yang punya alasan untuk menculik istriku!
Jangan-jangan kau juga yang membakar dermaga.
Sudah gila kau?
Justru kedatangan kalian yang membuat desa ini menjadi kacau!
Kalau bukan karena Pak Kades dan Mina Uwe,
aku tidak sudi kalian ada di sini!
- Kau pergi sana! Pergi sana! - Sri!
Sri!
Sudah gila kau.
Kembalikan istriku.
Kau sudah mengacaukan rumahku!
Pak Sekdes!
Tahan!
- Tahan! - Berhenti!
Ada perempuan hamil hilang
dan kalian malah berkelahi di sini?
Dia sudah menculik istriku.
Bukan aku!
Apa alasannya Mas Bimo menuduh Pak Sekdes menculik Mbak Sri?
Aku menemukan ini
di tempat aku menemukan barang-barang istriku.
Itu gelangmu 'kan, Pak Sekdes?
- Bukan! - Dia bohong!
Hei! Pak Sekdes, tahan!
Pak.
Ini gelangku!
Pak Tingen.
Pak Tingen punya gelang ini.
Dia yang menculik istriku!
Ini…
sudah jelas perbuatan Tambi Nyai dan Bue Alang.
Kalau benar
yang menculik istrimu adalah Pak Tingen,
sudah pasti
dia juga yang membakar dermaga.
Kenapa Pak Tingen sampai tega melakukan itu?
Karena dia juga pengikut Tambi Nyai.
Sekarang…
yang paling penting itu menemukan istrimu.
Aku menemukannya di sini.
Genggam dengan dua tangan.
Itu petunjuknya.
Sahen, kumpulkan warga.
Kita harus ikut petunjuk itu.
Supaya bisa menemukan Sriatun.
Warga itu takut, Mina Uwe.
Maaf, Mas Bimo.
Mereka menyalahkan perempuan seberang pulau
sebagai sebab semua ini.
Hei…
Cari yang berani!
Kita… Kita ini…
harus segera menemukan Sriatun.
Supaya tidak dipengaruhi oleh Tambi Nyai.
Bu Sri!
- Bu Sri! - Sri!
Bu Sri!
Bu Sri, di mana?
Bu Sri!
- Bu Sri! - Sri!
- Bu Sri! Di mana, Bu? - Sri!
Bu Sri!
- Bu Sri! - Sri!
- Bu Sri! - Sri!
Sut.
Itu dia!
Itu kuyang Tambi Nyai.
- Kejar! - Ayo!
Apa? Di mana dia?
Sri?
Sri!
Pak Kasno, Mas Bimo mana?
Dia ada di… Benar juga.
- Mas Bimo! - Mas Bimo?
Cepat cari, sebelum terlambat!
- Mas Bimo! - Hati-hati!
- Hati-hati! - Mas Bimo!
Mas Bimo?
Mas Bimo?
Mas Bimo?
Sri?
Sri!
Sri!
Sri!
Sri!
Sri!
Sri!
Sri? Hei, Sri?
Sri.
Sri.
Maafkan aku, ya, Sri.
Maafkan aku.
Mas Bimo!
Hei, kita aman.
- Mas Bimo! - Kami di sini!
- Mas! - Hei!
Ayo.
Ayo, Pak.
Hati-hati, Pak.
Bagaimana istriku?
Tidak apa-apa, Mas Bimo.
Saat ini, istrimu dalam pengaruh kekuatan Tambi Nyai.
Nanti kubantu sadarkan.
Kenapa tidak dibawa saja ke rumahku, Mina Uwe?
Aku khawatir
tak sempat selamatkan nyawanya.
Ada apa?
Kuyang Tambi Nyai
sudah tahu kita di sini.
Cepat masuk.
- Masuk. - Masuk, Mas.
Pak Kades.
Beri tahu yang lain sudah bisa pulang sekarang.
Ya.
- Sahen. - Ya.
Tolong kau pasang bawang putih dan duri landak ini di tiap pojok.
Supaya tidak tercium oleh kuyang Tambi Nyai.
Ya.
- Pak Kades, aku juga permisi. - Hati-hati.
Pak Kades, aku sudah pasang bawang putih dan duri landaknya.
Bagus. Sekarang, cepat kau ke rumahku.
- Ambilkan motorku. - Baik, Pak.
Sahen sudah pasang penangkal?
Sudah.
Kalian tenang saja.
Dia tidak bisa menyerang kita sekarang.
Mas Bimo.
Siapa yang menculikmu, Mbak Sri?
Aku dibawa oleh Pak Tingen.
Lalu, Tambi Nyai bilang…
Cukup.
Dia butuh istirahat.
Sudah jelas pelakunya sekarang.
Mau bukti apa lagi, Pak Kades?
Mina Uwe,
sepertinya aku tahu tempat persembunyian Bue Alang dan Tambi Nyai.
Mereka harus bertanggung jawab atas kekacauan ini.
Aku akan usir mereka dari desa ini!
Sudah terlambat, Pak Kades.
Kekuatan Tambi Nyai terlalu besar.
Tidak ada pilihan lain,
selain mengakhirinya.
- Kubantu kalau Pak Kades tak tega! - Tidak bisa!
Bukan kau yang bisa mengakhirinya.
Tapi dia.
Waktu kepala terlepas dari tubuhnya,
pakai ini…
untuk menghabisinya.
Ayo, Mas Bimo, kita pergi.
Aku… ikut.
Pak Sekdes, kau dan Sahen di sini saja.
Jaga Mina Uwe.
- Ayo, Mas Bimo, Pak Kasno. - Ayo.
Mas Bimo!
Sri.
Apa yang diberikan Tambi Nyai kepadamu?
Bue Alang!
Bue Alang! Tambe Nyai!
Perbuatan iblis kalian itu harus dihentikan!
Serang mereka sekarang!
Bue Alang!
Kalian berdua itu memang iblis!
Bunuh aku!
Tapi jangan sakiti anak dan istriku!
Hei, kalian sudah tertipu.
Tambe Nyai berniat melindungi istrimu!
Anakmu juga!
Kalian harus tahu
bukan Tambe Nyai saja yang punya ilmu kuyang.
Mina Uwe juga!
Kalian lebih percaya Mina Uwe.
Kalian datang berniat bunuh kami!
Kalian tertipu oleh iblis
dan diajak bersekutu dengannya!
Sekarang…
tidak ada lagi…
yang melindungimu…
dan janinmu.
Perempuan seberang pulau.
Mina Uwe yang butuh janin
dari perempuan seberang pulau
supaya menjadi iblis seutuhnya.
Tidak!
Selamatkan istri dan anakmu.
- Pak Sekdes! - Ya?
Bawang putih dan duri yang kupasang tadi hilang semua.
- Kita cari. - Ayo, Pak.
Sut.
Kau…
Dengarkan dulu penjelasanku.
Memang Tambe Nyai yang menyuruhku menyembunyikan Sriatun
supaya tidak dimangsa kuyang.
- Tambi Nyai itu kuyangnya! - Benar!
Tapi Tambi Nyai itu bukan iblis yang sebenarnya.
Tambi Nyai justru melindungi desa kita selama ini.
Ini rambut kuyang yang membunuh anak dan istriku.
Dia tahu siapa pemiliknya.
Kalau kau tidak percaya,
lihat ke dalam.
Lihat ke dalam.
Hati-hati.
Lihat apa kau?
Pak Sekdes!
Kalian mengganggu ritualku!
Anak dan istriku!
Hei.
Tingen.
Mereka…
tambah kekuatanku.
Sri!
Mas Bimo! Jangan, Mas Bimo. Stop!
Mas Bimo!
- Mas Bimo. - Kau pengkhianat selama ini!
- Dengar, Mas Bimo. - Kau kaki tangan Mina Uwe!
Mas… Bimo…
Mas Bimo…
Mas Bimo!
Mas Bimo!
Mas Bimo.
Mas Bimo.
Perutmu, Sri.
Mas Bimo.
Cepat cari tubuh Mina Uwe.
Dia harus dimusnahkan sebelum menjadi manusia.
Bawa ini, Mas Bimo.
Ini bisa menunjukkan di mana tubuh Mina Uwe.
- Bimo! - Mas Bimo!
Mas Bimo, awas!
Hancurkan jantungnya!
Sudah, Mas!
Sudah.
Sudah. Sudah, Mas.
Sudah, Mas.
PR-nya jangan lupa dikerjakan, ya.
Ya, Bu.
Sudah. Pulang.
Sudah benar.
Sudah bagus.
- Terima kasih, Bu. - Sama-sama.
Ya.
Wah.
Besok sudah ada bidan yang bertugas di desa kita.
Jadi, kita tidak perlu pergi ke kecamatan buat periksa.
Aku akan selalu menjagamu, Sri.
Mas Bimo, Mbak Sri.
Aku baru dapat kabar dari Pak Kades
kalau Tambi Nyai dan Bue Alang
meninggal di rumah tadi pagi dengan tenang.
KARAKTER DAN KEJADIAN MERUPAKAN FIKSI
ADANYA PERSAMAAN ADALAH KETIDAKSENGAJAAN
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.