Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
["It was June" diputar]
[suara bising televisi]
Hanya perempuan pendosa yang tidak paham agama
dan kodratnya sebagai perempuan yang selalu meributkan tentang kesetaraan.
Tuhan menciptakan Adam dari tanah,
dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam!
Itu artinya,
derajat perempuan lebih rendah daripada laki-laki
karena dia diciptakan dari tulang rusuk laki-laki!
"Bapak, Ibu, aku pulang." [terkekeh]
[bergumam] "Ya, tadi seru sekali."
"Aku senang." [terkekeh]
[pria] Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu!
- [wanita] Tapi aku tak mau kita berpisah! - [pria] Lepas!
[wanita] Kita masih bisa memperbaiki semuanya!
[wanita] Semuanya akan baik-baik saja!
[pria] Lepas, Anjing!
- [guntur menggelegar] - [suara tamparan]
[pria] Aku sudah muak melihat mukamu!
[pria] Aku bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik darimu!
- [suara tamparan] - [wanita menjerit]
[musik berubah muram]
[pria] Dasar perempuan tolol, tidak berguna!
[wanita terisak-isak]
[petir bergemuruh]
[Pengkhotbah] Jadi, jelas! Sangat jelas!
Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah mungkin setara!
Laki-laki berkuasa atas perempuan,
dan kodrat perempuan adalah tunduk kepada laki-laki!
Kau ingat kata-kata Ibu.
Apa yang sudah dipersatukan Tuhan,
tidak dapat dipisahkan.
Bantu doa, ya.
["Can't Help Falling in Love" diputar]
Aku, Edwin Darma,
dengan ini, meminta Renata Putri untuk menjadi istriku.
Aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu
dalam suka ataupun duka,
sejahtera ataupun kekurangan,
sehat ataupun sakit,
hingga maut memisahkan.
Aku, Renata Putri,
bersedia untuk menjadi istrimu, Edwin Darma,
dalam suka ataupun duka,
sejahtera ataupun kekurangan,
sehat ataupun sakit,
selamanya,
hingga maut memisahkan.
[tepuk tangan]
[dialog samar]
[tamu tertawa]
[suara gemeresik]
[musik berhenti]
SELAMAT HARI JADI KETIGA
Sayang, bangun. Nanti terlambat.
[pintu dibuka]
[wanita] Kita pindah dari sini.
Itu, Papa menunggu di sana. Ayo.
Ke sana. Ayo, Sayang.
Pak!
[teko berdesis]
[Pengkhotbah] Kunci kesempurnaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga
adalah istri yang patuh kepada suaminya.
Istri yang patuh akan membawa keharmonisan dunia dan akhirat.
Adalah dosa yang besar jika istri menentang kehendak suaminya.
Tuhan akan murka
kepada istri-istri yang durhaka kepada suaminya.
Mereka akan menerima azab yang pedih di Neraka.
Tunduklah kepada suami
seperti kepada Tuhan.
[pancuran air mengalir]
Sayang, sarapannya sudah siap, ya.
Kau tidak suka makanannya?
[ponsel berdenting]
Mau kubuatkan yang lain?
Tidak usah.
Aku sudah mau berangkat.
[pintu ditutup dan dikunci]
Jangan ke mana-mana.
Kunci pintunya selalu.
Tidak ada yang boleh masuk ke sini.
Ruang kerjamu tidak mau kubersihkan?
[terkesiap]
Jangan usik ruang kerjaku.
[gedebuk]
[pintu dikunci]
[erangan wanita dari kamar sebelah]
[pria di televisi Ini demi kebaikan kita berdua.
Sepertinya pernikahan kita memang cukup sampai di sini.
- Kau tahu sakitnya... - [Renata] Kau tahu sakitnya...
- ...ketika kita mencintai seseorang... - ...ketika kita mencintai seseorang...
- ...tapi orang itu tak pernah menyadarinya? - ...tapi orang itu tak pernah menyadarinya?
- Dia bahkan tak pernah menganggapmu ada. - Dia bahkan tak pernah menganggapmu ada.
- [keduanya] Kau itu hanya dianggap angin... - [pria] Cukup!
Aku harap
kau bisa mengerti.
[pintu berderit]
[perempuan tersengal]
[kenop pintu gemeretak]
[pintu diketuk]
[Maya] Nak Renata.
Ada kiriman kue untukmu.
Biasanya petugas di bawah mengabari kalau ada barang untukku.
[ragu] Semua petugas sudah pada pergi.
Aku bantu bawa masuk, ya.
Biar aku saja, Bu.
Terima kasih.
Suamimu ada?
Maaf, aku masuk dulu.
[musik mencekam makin intens]
Apa kau melihatnya?
Apa maksudmu?
[wanita] Bu Maya.
Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
[wanita] Nak Renata?
[pria] Sudah, tidak usah ikut campur urusan rumah tangga orang.
Nak Renata, masih mau tetap tinggal di sini?
Tempat ini sudah tidak layak lagi.
Permisi.
[pintu ditutup]
[pintu dikunci]
[musik mencekam berlanjut]
[musik berhenti]
[dering telepon]
[dering telepon]
[dering telepon]
Halo?
[suara wanita] Renata.
Ini Ibu.
Maaf, Ibu telat mengucapkannya.
Sepanjang hari tadi Ibu sibuk mengurus bapakmu.
Penyakitnya sering kambuh.
[terisak-isak]
Selamat ulang tahun, ya, Sayang.
Ren?
Kau baik-baik saja?
[Renata, suara gemetar] Baik, Bu.
Terima kasih ucapannya.
Yang sabar, ya, Nak.
["Can't Help Falling in Love" diputar]
[musik menyeramkan]
[musik menyeramkan berlanjut]
[terengah-engah, napas berat]
[pintu berderit]
Kau sudah pulang.
Mau kubuatkan minum?
Tidak usah.
[sebagian dalam bahasa Inggris] Atau mau makan kue?
Aku capai, mau tidur.
[menghela napas]
[Pengkhotbah] Kepala dari perempuan adalah laki-laki.
Maka dari itu, dia berkuasa atas dirimu.
Istri yang tunduk kepada suami, itu artinya
- istri yang menghargai suami sebagai... - [Edwin] Aku berangkat dulu.
- ...kepala keluarga. - [pintu dibuka]
[pintu ditutup]
Pagi, Bu Renata.
[musik mencekam]
Perempuan macam apa kau
yang tega menyakiti hati sesama perempuan?
Yang tega merebut suami orang dan merusak rumah tangganya!
Dasar pelacur murahan!
Tidak tahu malu! Tidak punya harga diri!
[wanita di televisi] Kau tahu kenapa laki-laki suka pergi ke pelacur?
Karena mereka suka sama perempuan yang tidak sok suci
dan tidak sok bermoral.
Jadi, sebelum kau menghina aku,
sebaiknya kau sadar kalau suamimu itu munafik.
[erangan wanita di kamar sebelah]
Seharusnya kau belajar siapa yang berkuasa di ranjang,
dialah yang berkuasa di kehidupan.
- Dasar perempuan tolol! - [erangan berlanjut]
Kau harusnya belajar
siapa yang berkuasa di ranjang,
dialah yang berkuasa di kehidupan.
[pintu dibuka, lalu ditutup]
["Dick and Dave (Noir Version)" diputar]
[Asmara] Sejak pindah ke sini, aku nyaris tidak pernah melihatmu.
Tadinya kupikir kau dipasung di dalam rumah.
Aku Asmara.
Kau Renata, 'kan?
[sebagian dalam bahasa Inggris] Kau sangat legendaris di sini.
Orang-orang menyebutmu "Istri yang Saleh".
[terkekeh]
"Istri yang Saleh".
Kalau kriteria istri yang saleh artinya harus tahan dipukuli oleh suami,
lebih baik aku menjadi istri yang durhaka.
Kau pikir kau bisa menyembunyikan bekas pukulan di wajahmu?
Anjing yang setia saja akan menyerang tuannya
jika selalu disakiti.
[pria] Hai, Sayang.
Hai.
[terkekeh]
PENATU
[suara kecupan]
[Asmara mengerang]
Ayo, Sayang.
[keduanya tertawa]
[musik mencekam]
Bisa tolong cepat?
Aku mau mengunci dan mematikan lampu.
[suara wanita bersenandung]
[suara lampu dipadamkan]
- [dering telepon] - [pintu dibuka]
[pintu ditutup]
Halo.
[wanita] Halo, bisa bicara dengan Bapak Edwin?
Pak Edwin belum pulang.
Maaf, aku bicara dengan...
Istrinya.
Maaf, Bu, kalau aku menelepon malam-malam.
Aku dari kantornya Pak Edwin,
sudah berkali-kali menghubungi ponsel Pak Edwin, tapi selalu mati.
Aku juga pernah coba telepon ke rumah, tapi tidak pernah diangkat.
Kalau aku boleh tahu, apakah Pak Edwin sedang sakit?
Soalnya beberapa hari ini Pak Edwin tidak masuk kantor tanpa kabar.
- [pintu berderit] - Halo?
Halo?
Bu?
[Edwin] Ada telepon dari siapa?
Ibuku.
Kau lagi sering lembur belakangan ini.
Kerjaanmu di kantor...
baik-baik saja?
Kenapa kau bertanya seperti itu?
Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?
Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja.
[keletak]
Tugasmu itu hanya mengurus rumah.
Tidak usah ikut campur urusan kerjaan aku.
[ponsel berdenting]
Ada kerjaan yang aku harus bereskan.
Kau langsung tidur saja.
[musik mencekam]
[Maya terisak-isak]
- [musik mencekam berlanjut] - [terisak-isak]
[bunyi bel gereja]
[Pengkhotbah] Dalam sejarah kehidupan,
Adam yang diciptakan pertama kali,
lalu setelah itu Hawa.
Bukan pria yang tergoda kepada perempuan!
Tapi perempuan yang datang sebagai godaan bagi para pria!
Tahi.
Kedatangan perempuan...
Kenapa juga selalu perempuan yang menjadi kambing hitam
untuk moral laki-laki yang bobrok?
Mereka dilahirkan sebagai kepanjangan tangan setan!
Dan mulut mereka seperti ular berbisa yang mengandung racun!
Hanya laki-laki lemah yang takut kepada perempuan.
[Pengkhotbah] Untuk membuat mereka menjadi...
Kau perhatikan saja.
Semua ajarannya merendahkan perempuan.
- Istri yang tunduk kepada suami... - Apa kau tahu kenapa?
- ...itu artinya istri yang menghargai... - Karena dia impoten.
...sebagai kepala keluarga.
Para suami!
Yang akan membawa istri ke pintu Surga!
Jadi, para istri.
Para istri harus senantiasa taat, berbakti...
Beri tahu suamimu.
Jika ingin main mata dengan perempuan lain,
setidaknya jangan di tempat ibadah.
Dan jangan di depan mata istrinya sendiri.
[musik menegangkan]
[badai bergemuruh]
[Maya] Apa kau melihatnya?
- Apa kau melihatnya? - [terengah-engah]
- [Maya] Apa kau melihatnya? - [terengah-engah]
- [Maya] Apa kau melihatnya? - [terengah-engah]
- [Maya] Apa kau melihatnya? - [terengah-engah]
[musik mencekam]
[terkesiap, lalu terengah-engah]
- [petir bergemuruh] - [terengah-engah]
- [wanita tertawa] - [terkesiap]
[musik mengerikan]
[petir bergemuruh]
[terkesiap]
[wanita tertawa]
[Edwin] Sedang apa kau?
Sudah kubilang berkali-kali,
jangan usik ruang kerjaku.
Kau tahu
aku paling tidak suka sama orang yang melanggar perintahku.
Aku dengar ada suara perempuan.
Tidak ada siapa-siapa di sini.
Kau curiga sama aku?
[suara wanita bersenandung]
Tidak percaya dengan suamimu sendiri?
[terisak-isak]
Mungkin aku hanya bermimpi.
Maaf.
[suara derit pintu]
[terengah-engah]
[pintu ditutup dan dikunci]
Maaf, aku ganggu.
Masuk.
[derit pintu ditutup]
Jadi, kau kemari hanya untuk melihatku
atau memang ada urusan lain?
Sebenarnya aku mau bertanya.
Selama tinggal di sini, apa kau sempat merasa diganggu?
Maksudnya, seperti dengar suara-suara aneh
atau melihat sosok aneh.
Setan maksudmu?
Itukah yang membuat orang-orang di sini pergi?
Jangan drama.
Orang-orang pada pergi dari sini
karena memang tempat ini sudah tidak terurus.
Pemilik apartemen juga sengaja membiarkan apartemen ini bobrok
agar kita semua minggat.
Rumornya, mau dijadikan mal.
Kalau memang benar, ada setan seperti yang kau bilang,
jadikan ia teman saja.
Lumayan, 'kan? Menemani jika kau kesepian.
Tapi apakah kau harus izin dengan suamimu?
Nanti gara-gara berteman dengan setan,
kau digebukin lagi.
Suamiku tidak seperti itu.
Aku permisi dulu.
Jangan pergi.
[musik menegangkan]
Tidak ada satu orang pun di dunia ini
yang pantas diperlakukan seperti itu.
Agar kau santai.
Sedikit.
[menenggak]
Kau tahu sakitnya
ketika kita mencintai seseorang, tapi orang itu tidak pernah menyadarinya?
[tertawa]
Dia bahkan tidak pernah menganggap keberadaanmu.
[tertawa]
Kau hanya dianggap angin lalu baginya.
Padahal kau sudah berusaha untuk melayaninya,
membahagiakannya...
Laki-laki memang seperti anjing.
Coba katakan.
Laki-laki memang seperti anjing.
Laki-laki memang seperti anjing.
Kurang keras!
Laki-laki memang seperti anjing.
Lebih keras lagi!
Laki-laki memang seperti anjing!
Laki-laki memang seperti anjing!
[tertawa] Laki-laki memang seperti anjing!
- Laki-laki memang seperti anjing! - Laki-laki memang seperti anjing!
Laki-laki memang seperti anjing!
Suamimu tidak marah melihat penampilanmu seperti ini?
Seperti apa?
Seperti pelacur maksudmu?
Bukan itu maksudku.
Lagi pula, siapa bilang aku punya suami.
Maaf. Kupikir...
Kau itu cantik,
tapi terlalu lugu,
jadi, gampang dibodohi.
Tipe sepertimu, disukai oleh laki-laki untuk dijadikan istri.
Tapi tipe sepertimu itu
cepat membuat mereka bosan.
Coba,
kapan terakhir kali kau bercinta dengan suamimu?
Lalu, terakhir kali kau bercinta dengannya,
apakah dia menatap matamu?
[terengah-engah]
Memang anjing suamimu!
Suruh saja dia kawin sama tembok!
Tanya sama dia, membayangkan siapa dia saat bercinta denganmu?
Ini sudah terlalu sore, aku harus pulang.
Suamiku jangan sampai tahu, ya, aku main ke sini.
[bergumam]
[musik meresahkan]
[kaca pecah]
[musik meresahkan berlanjut]
- [musik mencekam] - [terkesiap]
[terengah-engah]
- [musik mencekam] - [terkesiap]
Kau tidur dulu saja.
Tidak usah menungguku.
[musik mencekam makin intens]
[musik berhenti]
Kau adalah orang paling tidak bahagia yang pernah kutemui.
Sebenarnya apa yang kau cari di dunia ini?
Hidup hanya sekali.
Rugi kalau tidak bahagia.
Ini.
Obat bahagia.
["Mellow Madness" diputar]
Apa yang sebenarnya bisa membuatmu bahagia?
Aku ingin punya anak.
Ibuku bilang...
anak bisa mempererat hubunganku dengan Edwin.
- [berdesah] Terus. - [terengah-engah]
- [mendengus] - Dorong.
Kepalanya sudah keluar.
[mendengus, berteriak]
Puji Tuhan, Renata.
Anak kita telah lahir.
[tertawa]
Sayang.
Kau cantik sekali.
- Mirip sekali denganmu. - [tertawa]
[pintu dibuka]
[pintu dikunci]
[menenangkan bayi]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[air mengalir]
[perempuan tertawa]
[terengah-engah]
[suara wanita bersenandung]
- [pintu berderit] - [terkesiap]
[suara langkah kaki]
[pintu ditutup]
[pintu dikunci]
[suara wanita bersenandung]
[terengah-engah]
[terengah-engah]
[suara wanita bersenandung makin kencang]
[musik ritual mencekam]
[terkesiap]
[terisak-isak] Tuhan, tolong selamatkan pernikahanku.
[terkesiap]
[ketukan makin cepat]
[terisak-isak, tersengal]
Jauhkan Edwin dari segala godaan.
[pintu diketuk]
- [Edwin] Renata. Buka pintunya. - Selamatkan pernikahanku.
- [Edwin] Renata! - Aku melihatnya bersama laki-laki.
Sesuatu yang mengerikan terjadi.
Mengerikan bagaimana?
[petir bergemuruh]
Minum.
Yang kau takutkan itu hanya bayanganmu.
Yang aku lihat bukan hanya bayangan.
Aku ada buktinya.
[musik menegangkan]
Aku sudah bosan dengan semua cerita gilamu.
Minum.
Aku baik-baik saja, benar.
Obat ini hanya membuatku mati rasa.
Aku takut tambah susah punya anak.
Kau dengar, ya.
Tidak usah lagi ungkit-ungkit soal itu.
Dokter sudah bilang kau itu tidak mungkin hamil.
Mungkin Tuhan tahu,
kalau kau itu memang tidak pantas menjadi ibu.
Buka mulutmu.
Buka!
[terisak-isak]
[pintu dibanting]
[tersedu-sedu]
[terisak-isak]
Pelaku pembunuhan terhadap seorang ibu rumah tangga
yang mayatnya ditemukan di loteng rumahnya
tidak lain adalah suaminya sendiri.
Sering kali dalam kasus kekerasan atau pembunuhan terhadap perempuan,
pelakunya justru adalah anggota keluarga atau orang terdekatnya.
[suara pria teredam] Kami sudah menangkap pelakunya.
Tersangka adalah suaminya sendiri.
Bisa tolong jelaskan kronologisnya bagaimana, Pak?
Kejadian berawal ketika sang istri menagih uang sekolah anaknya,
sementara sang suami yang pengangguran sedang dalam keadaan mabuk
merasa tersinggung dan langsung mencekik korban hingga tewas.
Untuk saat ini, pelaku sudah kami amankan.
[pintu berderit, lalu ditutup]
[perempuan] Kenapa kau tidak mengusirnya saja?
Biar kita yang tinggal di sini.
Jadi, tidak perlu susah-susah mencari tempat tinggal lagi.
[musik menegangkan]
[mendesah]
[musik mencekam makin intens]
[Maya] Apa kau melihatnya?
Apa kau melihatnya?
Apa kau melihatnya?
[mendesah]
[tertawa]
[air menetes perlahan]
[Edwin] Aku berangkat dulu.
[pintu ditutup]
[Renata] Kau tahu perempuan yang hilang itu?
Ana?
Si lonte itu?
Kenapa kau bisa sebut dia seperti itu?
Perempuan disebut lonte,
biasanya karena dia merebut apa yang kita miliki.
Atau
dia memiliki apa yang kita inginkan.
Kau tahu kenapa dia menghilang?
Siapa bilang dia menghilang?
Paling dia kabur dengan suami orang.
Kenapa kau bisa bilang dia kabur sama suami orang?
Untuk apa kau menanyakannya?
Kau ini masih muda.
Cantik.
Kau masih bisa cari yang lain.
Aku tidak mau pernikahanku hancur.
[musik misterius]
Aku tidak boleh kehilangan suamiku.
[bergumam]
Setelah semua yang dia lakukan kepadamu?
Apa pun yang terjadi,
aku harus mempertahankan rumah tanggaku.
[pintu dibuka]
- [pintu ditutup] - [musik mencekam]
[musik berhenti]
Dia pasti tidak suka melihatku seperti ini.
Tapi dia suka melihat perempuan lain seperti ini.
Jangan bodoh.
Laki-laki memang ingin istrinya menutupi seluruh tubuhnya.
Tapi suka sama pelacur yang seksi dan bercinta dengan mereka.
Apa kau tahu mereka bilang apa?
Mereka muak dengan istri-istri mereka yang kolot, membosankan,
[sebagian dalam bahasa Inggris] dan tidak pintar melayani mereka.
Munafik.
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
[musik romantis]
Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau.
Aku hanya ingin membuatmu senang.
[suara kecupan]
[terengah-engah]
[musik menegangkan]
[terengah-engah]
[terkesiap]
Siapa yang mengajarimu seperti ini?
Siapa
yang mengajarimu seperti ini?
[mengerang]
Coba lihat.
Lihat penampilanmu.
Seperti pelacur murahan, tahu?
Kau pikir aku akan suka kau seperti ini?
[bergumam]
Munafik.
Apa kau bilang?
[terengah-engah]
Kau munafik.
[terkesiap]
Buka, minum.
[pil bertebaran]
- [mengerang] - [Renata teriak]
[musik mencekam]
- [suara cambukan] - [Renata menjerit]
[cambukan dan jeritan berlanjut]
[pria] Tidak mungkin seorang suami memukul istrinya tanpa alasan.
Kalau suami sudah memukul istrinya,
itu pasti karena dia tidak patuh dan melanggar aturan.
Dan bagaimanapun juga,
sudah menjadi tugas istri untuk mempertahankan rumah tangga.
Perceraian itu sangat dibenci oleh Tuhan.
Dan tidak ada sejarahnya perceraian di keluarga ini.
Belajar menjadi istri yang lebih baik.
Introspeksi diri.
Kesabaran seorang istri itu balasannya Surga, Renata.
[bel berbunyi]
Ibu urus Bapak dulu, ya.
Kondisinya makin parah.
Kau tunggu, ya.
Aku tidak bisa lama-lama, Bu.
Edwin bisa marah kalau tahu aku pergi.
Kau ke sini tidak izin suamimu?
Jangan pernah lakukan itu lagi, Renata.
Inilah perempuan zaman sekarang.
Korban emansipasi.
Merasa dirinya setara sama laki-laki.
Itu sama saja menyesali takdirnya sebagai perempuan.
[terisak-isak]
[musik mencekam]
[Ana bersenandung]
[terengah-engah]
[suara deritan]
[terengah-engah]
[musik menegangkan]
[pintu berderit]
Dengan kekuasaan-Mu, dia akan kembali.
Dengan kekuasaan-Mu, dia akan kembali.
Dengan kekuasaan-Mu, dia akan kembali. [terisak-isak]
Nak Renata?
Silakan duduk.
Aku buatkan minuman dulu, ya.
Nak Renata baik-baik saja?
Baik.
Nak Edwin...
bagaimana kabarnya?
Baik.
[denting]
[Maya bernapas berat]
[musik menegangkan]
HALO
[terengah-engah]
[terisak-isak]
- Renata? Ada apa ini? - Mana dia?
Renata.
- Ada apa ini? - Mana dia?
Mana dia?
Tunggu!
[terisak-isak]
[Edwin] Dokter sudah bilang kau itu tidak mungkin hamil.
Mungkin Tuhan tahu
kalau kau itu memang tidak pantas menjadi ibu.
[berteriak, terkesiap]
Kau itu memang tidak pantas menjadi ibu.
[bergema] Kau itu memang tidak pantas menjadi ibu.
[terisak-isak]
[musik makin intens]
[musik berhenti]
[tersedu-sedu]
Kenapa kau masih mau saja diperlakukan seperti ini terus?
Kenapa kau tidak meninggalkannya?
Jangan-jangan kau suka, ya, dipukuli?
Dengan cara seperti itu, kau merasa diperhatikan olehnya?
- Cukup! - Ya, 'kan? Jawab!
Cukup!
Aku tidak butuh nasihatmu!
Aku tidak butuh nasihat siapa-siapa!
Kau ini sakit, ya!
Kau hanya suka menyakiti diri sendiri!
Hei! Mau seberapa kuat kau bertahan, dia tetap tidak cinta denganmu!
Renata, kau harus mendengarkanku! Jangan menjadi perempuan bodoh!
[musik instrumental dramatis]
Aku, Edwin Darma,
dengan ini meminta Renata Putri untuk menjadi istriku.
Aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu
dalam suka ataupun duka,
sejahtera ataupun kekurangan,
sehat ataupun sakit,
hingga maut memisahkan.
Aku, Renata Putri,
bersedia untuk menjadi istrimu, Edwin Darma,
dalam suka ataupun duka,
sejahtera ataupun kekurangan,
sehat ataupun sakit,
selamanya,
hingga maut memisahkan.
Kenapa kau menangis?
Aku di sini.
Kita sudah berjanji.
Susah,
senang,
kita jalani bersama.
Kau janji tidak akan meninggalkanku, 'kan?
Aku janji.
[suara samar Ana bersenandung]
[pintu dibuka dan berderit]
[musik menegangkan]
[suara Ana bersenandung]
[musik menegangkan makin intens]
[musik berhenti]
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
[Renata] Perempuan itu ada di rumahku.
Perempuan yang mana?
Ana.
Ana?
Si lonte?
Untuk dia di tempatmu?
Dia selingkuhan suamiku.
Kau yakin?
Yakin! Aku lihat sendiri dia di tempatku.
Kenapa kau tidak usir saja dia?
Kau ini istri sahnya.
Kau berhak mengusirnya.
Kenapa?
Kau tidak berani?
- Kalau kau tidak berani, biar aku saja. - Jangan.
[musik menegangkan]
[Asmara] Keluar kau!
[Asmara] Aku tahu kau ada di sini!
[Asmara] Keluar kau, Lonte!
[Ana] Siapa kau? Untuk apa kau di sini?
[Asmara] Apa yang kau lakukan di sini?
- [Ana] Mau apa kau? - [Asmara] Diam kau!
- [Ana] Untuk apa kau di sini? - [Asmara] Diam!
[Ana] Pergi!
[Ana] Pergi kau dari sini!
[Asmara] Kenapa kau mengganggu suami orang?
- [Ana] Jangan sakiti aku! - [Asmara] Dasar lonte!
[Ana] Jangan sakiti aku.
[Ana berteriak]
[Asmara] Mampus kau, Anjing!
[terengah-engah]
[musik menegangkan makin intens]
Apa yang terjadi?
Anjing. Membuat tanganku kotor saja.
Dasar lonte! Bangsat!
Asmara, dia tidak bernapas.
Bukankah itu yang kau mau?
Aku tidak menyuruhmu membunuhnya.
Kalau Edwin tahu, dia bisa membunuhku.
Aku tidak mau terlibat.
Aku tidak mau.
Kau tidak bisa lepas tangan begitu saja.
Itu perempuan selingkuhan suamimu, mati di tempatmu.
Memangnya kau pikir siapa tersangka utamanya,
kalau bukan istri tuanya yang cemburu?
[musik menegangkan]
[muntah]
[batuk]
[tertawa lirih]
[musik mencekam]
[percikan air]
[terengah-engah]
[menghela napas, tertawa]
[terengah-engah]
[terkesiap]
[pintu dikunci]
Aku sudah siapkan makan malam.
[pintu dibuka]
[pintu ditutup]
[musik mencekam]
[musik berhenti]
Kenapa kau?
Tidak apa-apa.
[ponsel bergetar]
[musik mencekam]
[terengah-engah]
[musik mencekam makin intens]
Memangnya di dunia ini yang namanya Ana hanya satu orang?
Mungkin saja Edwin punya selingkuhan Ana yang lain.
Atau semua selingkuhannya dipanggil Ana.
- Aku serius. - [tertawa]
Bagaimana kalau Ana belum mati?
[musik berubah kelam]
Kau itu terlalu paranoid.
Sebaiknya kau meminum obatmu sebelum makin parah.
Dari mana kau tahu aku minum obat?
Sudahlah.
Sebaiknya kau menenangkan diri dulu.
Dan jangan pernah bahas Ana lagi.
Jangan sampai orang-orang menjadi curiga.
Soal Edwin,
biar aku yang urus.
Apa maksudmu?
[kenop pintu bergemeretak]
Ibu sedang apa di sana?
Apa yang Ibu lakukan?
Sebaiknya Ibu keluar dari sini.
Kalau suamiku tahu, dia bisa marah besar.
Aku tahu semuanya.
Aku tahu semuanya!
Aku tahu semuanya!
[Asmara] Bu Maya tahu apa?
Kasih tahu aku, Ibu tahu apa.
[terkesiap]
Ibu ini sudah tua.
Umur Ibu juga sudah tidak akan lama lagi.
Harusnya Ibu tenang saja, menikmati masa tua Ibu.
Kenapa harus mencari masalah?
- Sudah bosan hidup? - [terkesiap]
[Maya merintih]
Sekarang, percayakan semuanya kepadaku.
[detak jantung]
[musik mencekam]
[petir bergemuruh]
- [petir bergemuruh] - [terkesiap]
[terkesiap]
[laporan samar melalui radio polisi]
Ada apa?
[Asmara] Bu Maya mati.
Ada yang bunuh tadi malam.
Kasihan. Malang benar nasibnya.
[terengah-engah]
[suara samar wanita]
[Edwin] Ya, hati-hati. Jangan sampai dia tahu rencana kita.
[Asmara] Ya, kau tidak perlu khawatir.
Hai.
[musik menegangkan]
[berbisik] Sedang apa kau di sini?
Jangan panik. Nanti dia malah curiga.
Justru kalau kau ke sini, dia akan curiga.
Tolong jangan melakukan hal yang aneh-aneh.
Ini foto lamaran kalian?
Bagus, ya.
Danaunya seperti familier.
[Asmara] Edwin.
Ternyata kalian berdua sudah saling kenal, ya?
Sudah. Namanya juga tetangga.
Kau kenapa?
Kenapa gelisah seperti itu?
Ya.
[Edwin] Dari tadi kau gelisah terus.
[berbisik] Sedang apa kau ini?
Minum.
Ayo minum. Biar rileks.
Minum!
[musik menegangkan]
[terisak-isak]
[musik menegangkan mereda]
[dialog samar]
[terengah-engah]
[menarik napas panjang]
[musik seram]
[musik seram makin intens]
[terkesiap, batuk]
[merintih, napas berat]
[terengah-engah]
Asmara?
Dia belum mati.
Dia ada di sini.
Apa-apaan kau ini?
Kau harus memercayaiku.
- Kau harus hati-hati. - [gedebuk]
Jangan pernah sebut nama itu lagi.
Perempuan tolol.
Ada apa denganmu?
Aku hanya khawatir dengan keselamatan kita.
"Kita"?
Kau kali.
Kau harus memercayaiku.
Kau harus memercayaiku!
Dia belum mati.
[musik mencekam]
[petir bergemuruh]
[musik mencekam makin intens]
Kenapa kau melakukan ini kepadaku?
Kenapa?
Kenapa?
[tersedu-sedu]
[Renata] Tuhan, tolong selamatkan pernikahanku.
Jauhkan Edwin dari segala godaan.
Tolong, Tuhan. Tolong.
[terisak-isak]
[pintu berderit]
Win?
Sayang?
Jangan bercanda.
Tidak lucu, tahu?
[denting gelas]
[terisak-isak] Kumohon, Tuhan.
[Asmara berteriak]
[musik menegangkan]
Asmara!
[terengah-engah]
[Renata berteriak]
[tersedu-sedu]
[menjerit]
[gemerencing]
[Edwin] Cari apa kau?
Apa yang kau lakukan?
Aku sudah bilang.
Kau seharusnya diam di rumah saja.
Tapi kau malah berkeliaran di luar tanpa izin dariku dan bohongi aku.
Apa susahnya mendengarkan perintahku?
Kau tahu.
Aku paling tidak suka orang yang membantah aturanku.
[musik menegangkan]
- [merintih] - [gedebuk]
[musik berhenti]
[Asmara] Sayang.
Sayang, sarapannya sudah siap.
Nanti kau terlambat.
[Edwin bergumam]
[Edwin] Sayang, ini aku ada rapat mendadak.
Aku berangkat dulu, ya.
Baiklah.
[Asmara] Jangan pulang terlalu malam, ya.
[Edwin] Ya, Sayang.
[pintu ditutup]
Asmara?
Asmara.
Hei, sudah bangun.
Asmara, kau tidak apa-apa?
Asmara.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Tidak usah berpura-pura bodoh.
Apa maksudmu?
[mengejek] "Apa maksudmu?"
Aku sudah berusaha menyelamatkanmu dari Edwin.
Menyelamatkanmu dari pernikahanmu yang bobrok itu.
Selama ini kau membiarkannya dengan semua kebejatannya.
Dan kau berkhayal seakan-akan pernikahan kalian sempurna.
[Asmara tertawa]
Aku berani bertaruh,
sebenarnya kau bermimpi ingin menjadi sepertiku.
Menjadi perempuan yang diinginkan.
Diperhatikan dan dicumbu oleh pasangannya.
- Diam! - Kau harus terima kenyataan!
Edwin tidak cinta lagi denganmu!
- [terisak-isak] - Akui, Renata.
Akui, Perempuan Bodoh!
[terengah-engah]
Kau tahu dia hamil anak Edwin,
sesuatu yang tidak akan kau bisa kasih kepada Edwin.
Ini hanya soal waktu sampai dia benar-benar meninggalkanmu!
[tertawa]
- [Edwin] Renata, dengar aku. - [napas berat]
Renata!
Renata!
- [terisak-isak] - Dengarkan aku.
Kau mau menangis, memohon-mohon, tidak akan mengubah rencanaku.
- Aku sudah tidak mencintaimu. - [terisak-isak]
Aku tidak mau pisah.
[terisak-isak] Tolong, Win.
Apa kau mendengarku?
Tolong, aku akan melakukan apa pun yang kau mau.
- Tidak. - Win!
Lepas!
Aku harus pergi.
Nanti kita urus surat cerai.
Aku tidak mau cerai. Win!
[terisak-isak] Kita sudah janji untuk terus bersama, Win.
Lepas!
Lepas!
[mengerang]
[gedebuk]
Lepaskan!
Aku bilang lepas!
- [teriak] - [gedebuk]
[Renata terisak-isak]
[pintu dibuka]
[terisak-isak]
[tersedu-sedu]
["Can't Help Falling in Love" diputar]
Aku, Renata Putri,
bersedia untuk menjadi istrimu, Edwin Darma,
dalam suka ataupun duka,
sejahtera ataupun kekurangan,
sehat ataupun sakit,
selamanya,
hingga maut memisahkan.
[denging]
- [terisak-isak] - [tercekat]
[Renata berteriak]
[berteriak lebih kencang]
[tersedu-sedu]
[menjerit]
[ponsel berdenting]
[musik mencekam]
[musik mencekam makin intens]
Win.
Edwin.
Win?
[dalam bahasa Inggris] Jalang.
[kaca pecah]
[dalam bahasa Inggris] Maaf.
Sayang?
Di mana kau?
[Ana bersenandung]
Sayang!
Kenapa kau tidak mengusirnya saja?
Biar kita yang tinggal di sini.
Jadi, tidak perlu susah-susah mencari tempat tinggal lagi.
[tertawa]
[musik makin intens]
[musik berhenti]
Win! Edwin!
- [Renata mengerang] - [gedebuk]
- Edwin! - [mengerang]
Edwin!
[menjerit]
Edwin!
Mau apa kau?
[terengah-engah]
Jangan sakiti aku!
- [kaca remuk] - [mengerang]
Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Edwin.
[terengah-engah]
[mengerang]
Demi Tuhan.
Aku hanya teman biasa.
[mengerang]
[gedebuk]
[gemerencing]
[dalam bahasa Inggris] Jalang!
[Asmara] Kau itu pembunuh!
Kau itu pembunuh, Anjing!
Renata, si perempuan saleh itu pembunuh!
[Asmara tertawa]
[terisak-isak, napas berat]
[tertawa]
[menghela napas]
Selama ini semua orang menganggapku perempuan bodoh.
Perempuan lemah yang bisa diatur seenaknya.
Kalian masuk ke dalam kehidupanku.
Memuaskan nafsu binatang suamiku.
Menghancurkan perasaan dan harga diriku.
Tapi kalian terlalu serakah.
Ingin memiliki Edwin sendiri
dan memisahkan dia dariku.
[tertawa]
Yakin masih berpikir aku perempuan bodoh?
[bergumam]
Dasar lonte!
[Renata tertawa]
[tertawa gila]
[tertawa gila]
Kau ingat kata-kata Ibu.
Apa yang sudah dipersatukan Tuhan,
tidak dapat dipisahkan.
- [petir bergemuruh] - [denting gelas dan sendok]
[musik meresahkan]
[terisak-isak]
[Pengkhotbah] Jadi, jelas! Sangat jelas!
Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah mungkin setara!
Laki-laki berkuasa atas perempuan,
dan kodrat perempuan adalah tunduk kepada laki-laki!
- [mual] - [musik mencekam]
[kelontang]
[tercekat]
[terkesiap]
- [tercekat] - [teriak]
[aktris di televisi] Perempuan macam apa kau
yang tega menyakiti hati sesama perempuan?
Yang tega merebut suami orang dan merusak rumah tangganya!
Dasar pelacur murahan!
Tidak tahu malu, tidak punya harga diri!
[Renata dan aktris] Kau tahu kenapa laki-laki suka pergi ke pelacur?
Karena mereka suka sama perempuan yang tidak sok suci
dan tidak sok bermoral.
Jadi, sebelum kau menghina aku,
sebaiknya kau sadar kalau suamimu itu munafik.
Seharusnya kau belajar, siapa yang berkuasa di ranjang,
dialah yang berkuasa di kehidupan.
Dasar perempuan tolol!
[Asmara] Sayang. Sayang, kau lama sekali.
- Aku bunuh kau, Pelacur! - Apa-apaan?
[Asmara menjerit]
[suara bising televisi]
["It was June" diputar]
Sayang.
Sayang, bangun. Nanti kau terlambat.
[bersenandung lagu Ana]
[Pengkhotbah] Kunci kesempurnaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga
adalah istri yang patuh kepada suaminya.
Istri yang patuh akan membawa keharmonisan dunia dan akhirat.
Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.
Enak, 'kan?
- [terkekeh] - [petir bergemuruh]
[dalam bahasa Inggris] Aku mencintaimu.
[petir bergemuruh]
["Lenggang Temaram" diputar]
♪ Ku dijamah ♪
♪ Direnggut ♪
♪ Oleh apimu ♪
♪ Abuku ♪
♪ Selalu menunggu ♪
♪ Disapu sang waktu ♪
♪ Aku akan selalu berdansa ♪
♪ Di atas segala derita ♪
♪ Senyumku itu dukamu ♪
♪ Kubiarkan diriku dimanjakan ♪
♪ Lampu-lampu hias malam temaram ♪
♪ Kusaksikan darahmu yang menggenang ♪
♪ Uh... hilangkan dendam ♪
♪ Kini ♪
♪ Kau bangkit ♪
♪ Hantui sepiku ♪
♪ Ku rindu ♪
♪ Sakitnya dicumbu ♪
♪ Sang waktu ♪
♪ Aku akan selalu berdansa ♪
♪ Di atas segala derita ♪
♪ Senyumku itu dukamu ♪
♪ Kubiarkan diriku dimanjakan ♪
♪ Lampu-lampu hias malam temaram ♪
♪ Kusaksikan darahmu yang menggenang ♪
♪ Uh... hilangkan dendam ♪
♪ Oh, hilangkan dendam ♪
♪ Hilangkan dendam ♪
♪ Hilangkan dendam ♪
[musik berakhir]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.