Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sesungguhnya Allah SWT apabila mencintai sesuatu kaum,
akan diuji lebih dahulu.
Barang siapa yang rela mendapat ujian itu, maka mendapat keridhoan Allah.
Dan sebaliknya, barang siapa membenci ujian dari Allah,
maka mereka akan mendapat kemurkaan dari Allah SWT.
Saya mau ketemu Tuhan.
Nak.
Sini. Duduk sini.
Kamu mau ketemu siapa?
Mau ketemu Tuhan.
Tapi nggak tahu rumahnya di mana.
Tulus, jangan jajan di sekolah, ya.
Tadi sudah dibawain bekal kan, sama Ibu, ya? Oke?
- Oke. - Oke.
- Selamat siang. - Pak Satrio.
Dengan siapa?
Saya Saskia. Saya telepon Bapak berkali-kali.
Saya mau ketemu Pak Satrio.
Silakan duduk.
Ya?
Gini, Pak. Saya butuh bantuan Bapak.
Ibu Saskia,
saya sangat menghormati Ibu.
Tapi tolong jangan paksa saya untuk melakukannya.
Saya tidak akan melakukannya.
Dan yang terakhir, tolong jangan pernah datang ke sini lagi.
Jangan ganggu saya dan telepon saya lagi.
Saskia paham?
Mas,
kalau Bu Saskia maksa…
terus gimana, Mas?
Kamu ragu sama aku, Ri?
Kamu lupa kenapa milih aku jadi suami kamu?
- Lupa. - Tuh.
Yah, kamu tuh, ya.
Bisa dapat mantri, bisa dapat dokter, juragan kambing, juragan sayur,
kok ya milihnya aku? Aku yang jujur gini.
Jujur tuh melarat lo, Ri. Melarat.
Mas,
kalau melarat itu, kalau inginnya banyak.
Buat apa kaya kalau hati merana?
Yang penting bahagia.
Memang kenapa sih?
Kamu nyesel jadi suamiku?
Kok kamu tahu?
Aku nyesel.
Aku nyesel telat melamar kamu.
- Norak. - Benar.
Kalau aku nggak telat ngelamar kamu, coba ini, ini yang kamu lipat ini segini.
Setengah lusin anak kita.
Nggak mungkin kamu cuma ngelipat dua, ini nggak mungkin.
Setengah lusin yang kamu lipat.
Asalamualaikum warahmatullah.
Adikmu mana?
- Tidur. - Bangunin dong.
Nggak usah dipegang.
- Berantem terus. - Gak pernah denger orang.
Korek kupingnya. Korek.
- Dia begitu. - Sudah.
- Sudah mau makan lo. - Gak pernah mau dengerin siapa-siapa.
- Itu makananmu? - Enak saja.
Gak mau, aku yang pilih.
Bu, kenapa sih selalu Bapak dulu yang dikasih piringnya,
terus Mbak Dinda, terus baru ke aku?
Kan aku yang paling kecil,
harusnya kan aku yang dikasih pertama makanannya.
Kamu gitu saja baper.
Tuh lihat, Ibu saja selalu nyendok makanannya terakhir.
Ibu ladenin kita dulu.
Jadi, kenapa Bapak duluan yang Ibu ladeni,
karena Bapak kan imam keluarga,
yang cari nafkah buat keluarga kita.
Jadi, ya pantas toh kalau Ibu ngeladenin Bapak duluan.
Kalau Mbak Dinda kan perempuan, jadi wajar kalau perempuan diduluin.
Dengar tuh.
Kamu masa anak laki pengen duluan.
Bapak itu kan raja.
Berarti aku raja kecil dong?
Raja kecil.
Raja kecil nggak pernah mau ikut salat subuh.
Memang Bapak nggak capek salat terus?
Nggak dong. Nggak boleh capek.
Salat itu kan cara kita berkomunikasi dengan Tuhan.
Cara kita berdoa juga kepada Tuhan. Ya, 'kan?
Memang doa itu buat apa sih?
Kita berdoa supaya kita dikasih kesehatan.
Mbak Dinda sehat, Ibu sehat, Tulus juga sehat.
Kita semua dalam lindungan Tuhan, dikasih rezeki.
Ini makanan enak seperti ini karena apa?
Ya, karena kita berdoa kepada Tuhan.
Berarti Bapak bisa minta TV baru ke Tuhan, 'kan?
Biar kita nggak rebutan lagi nontonnya nih.
Tapi aku yang make TV barunya.
Emang Tuhan ada di mana sih, Pak?
Jadi, kalau nanti Tulus mau nanya, mau berdoa,
atau mau ketemu sama Tuhan, bisa gitu.
Tuhan itu ada di dalam hati setiap ciptaan-Nya.
Hai, kalian!
- Sudah kerjain PR? - Sudah.
Aku belum.
Oke, Nak.
Yuk, turun.
- Selamat belajar. - Dah.
- Asalamualaikum, Pak. - Waalaikumsalam.
Halo?
Pak, tolonglah, Pak.
Ibu cari orang lain saja.
Saya nggak bisa bantu Ibu.
Ya?
Maaf, Bu.
Bilang saja kalau bapakmu nggak mampu untuk bayarin kamu ikut karyawisata.
Kalau nggak punya duit, nggak usah ikut!
Iya, miskin!
Narti miskin!
Narti miskin!
- Hei! - Kenapa?
Bapakku nggak punya duit buat bayarin karyawisata.
Ya, sudah. Kamu berdoa saja ke Tuhan, ya.
Biar bapak kamu bisa dapat uang,
jadi kamu bisa ikut karyawisata juga. Ya?
Tulus sok tahu!
Memangnya kamu pernah ketemu sama Tuhan?
Kalau kamu mau ketemu sama Tuhan tuh harus mati dulu, baru bisa ketemu.
Nggak jelas!
Tulus gila!
Lo, kok namamu jadi "Elsa" sih?
Kamu tuh ndeso.
Elsa itu namaku di Jakarta.
Pokoknya kalau kalian mau sukses, kalian tinggal hubungi aku, ya.
Nanti aku kasih nama yang bagus-bagus.
Siti, kamu aku kasih nama Nancy.
Nur, kamu aku kasih nama Cindy.
Sudah, gak usah banyak omong. Mending sekarang kalian makan.
Sepuasnya.
Kalau perlu, nanti pesan lagi.
Kapan lagi kan kalian bisa makan di restoran mentereng kayak gini.
Kamu hebat, ya, sekarang sudah sukses.
Tapi mestinya kita makan di Gudeg Mbok Prapti saja.
Mahal.
Aduh, Tar.
Bagiku, uang itu nggak ada serinya.
Kamu mau tahu harga tasku ini berapa?
- Berapa? - Bisa buat beli rumah.
Pegang. Cium, cium. Hirup aromanya.
Pegang, oper, oper.
Itu dari kulit buaya asli.
Oper, oper. Biar kebagian semua.
Memang ini kulit buaya asli?
Ya, kulit buaya beneran toh, Darmi. Itu crocodile, kulit crocodile. Oper.
Tulus, Mbak Dinda di mana?
- Di dalam. - Sini.
- Pak. Dok. - Ibu.
- Dinda… - Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu.
Hanya mata Dinda memerah sedikit karena kena benturan bola.
Nanti saya bantu buatkan resep.
Nanti ada dua obat.
Satu diminum dan satu lagi salep untuk dioles di mata Dinda.
Ya, Dok.
Nanti kita lihat perkembangan tiga hari ke depan.
Jika timbul bengkak dan Dinda merasa pusing,
saran saya, segera bawa Dinda kembali untuk dirujukkan ke rumah sakit.
- Ini suratnya. - Ya, Dok.
Tulus, ayo dong. Nggak usah dihabisin.
Sini, Bapak tahu.
Ya sudah, sayurnya saja.
Nggak, nanti dulu.
Ya, makanya cepat diselesaikan, baru lanjut PR. Ayo.
Ini PR-nya sedikit lagi. Ini, tuh. Sedikit lagi.
Sudah dioleskan salep, 'kan?
Kata Dokter juga nggak apa-apa kok.
- Asalamualaikum warahmatullah. - Asalamualaikum warahmatullah.
Dinda mana, Ri?
Masih tidur, Pak.
Nanti aku lihat.
Nak.
Salat, yuk.
Dinda? Mbak?
Mas!
- Ya, Ri? - Mas!
Mas coba, Mas. Lihat Dinda sebentar, Mas.
Din?
Din?
- Ayo bangun, Nak. - Mas, coba lihat dulu, Mas. Dinda.
Mas, kok merah banget, Mas?
- Sayang, bangun. - Nggak apa-apa, 'kan?
Sakit nggak? Sakit nggak matanya?
Sakit?
Mohon maaf, Bapak, Ibu,
saya belum dapat memastikan apa yang sedang Dinda alami.
Lalu bagaimana, ya, Dok?
Dinda harus diperiksa di rumah sakit lebih besar
untuk dilakukan CT scan dan alat tes lainnya.
Bapak Ibu tak perlu khawatir,
nanti kami akan bantu buatkan surat rujukannya.
Ya.
Jadi, gimana ya, Mas?
Aku bingung.
Iya, aku tahu.
Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik.
Kalau Tuhan ingat sama kita.
Ri.
Orang yang nggak pernah ingat Tuhan saja selalu Tuhan perhatikan kok.
Kita mau cari uang dari mana, Mas, buat bayar biaya operasi Dinda?
Aku juga bingung, Ri.
Bukan kamu saja yang bingung.
Mas jangan bingung.
Kalau Mas bingung, aku gimana?
Anak-anak gimana?
Aku nggak tahu mesti cari pinjaman ke mana lagi.
Ke kantor.
Kamu masih ingat, 'kan, Ri,
pinjaman kita waktu kelahiran Tulus saja belum lunas.
Masa aku harus pinjam lagi?
Apa aku ke Jakarta, Mas?
Mau apa kamu ke Jakarta?
Mau pinjam uang lagi dengan Mas Sarjono?
Nggak.
- Apa boleh buat, Mas. - Nggak!
- Nggak! - Nggak ada jalan lain, Mas.
Aku akan usaha, tapi tidak ke Mas Sarjono.
Ibu, Bapak. Doa saja ke Tuhan.
Kan Bapak yang bilang begitu.
Kalau mau minta sesuatu, tinggal doa saja ke Tuhan.
Gimana, Mas? Sudah dapat pinjamannya?
Mas, tinggal ngomong sama Pak Mulyadi, apa susahnya sih, Mas?
Nggak ada susahnya kok, Tari.
Cuma kan aku nggak enak kalau pinjam terus sama Pak Mulyadi.
Nggak enak mana, dibanding ngelihat anakmu kesakitan?
Ya, aku tahu ini tanggung jawab aku.
Cuma kan aku nggak bisa begitu saja mau pinjam ke Pak Mul.
Ya, kalau nggak ke Pak Mulyadi, bisa sama yang lain.
Ke siapa?
Pak Dukuh, Pak Mandor, kan bisa.
Mas.
Aku tahu dan aku yakin,
Mas adalah laki-laki yang paling bertanggung jawab,
sebagai suami, apa lagi buat anak-anak.
Ya.
Ini, Bu, uangnya. Tolong dihitung, ya.
Pas, ya?
Kurang seratus ribu, Mas.
Kan untuk tambah bayaran anak-anak yang angkut barang, Bu.
Ya, nggak bisa dong, Mas. Kan perjanjiannya nggak begitu.
Ini, saya tambahin.
Tolong kwitansinya ditandatangani, Ibu.
Nah, ini kwitansinya angkanya benar. Nakal sampean.
Nanti jika ada barang yang masih mau dijual lagi,
bisa hubungi saya, ya, Bu.
Ya, saya pikir-pikir.
Baik, Ibu. Terima kasih.
Ayo, Mas. Diangkut.
Aku tuh bingung, Mas. Kita sudah nggak punya apa-apa buat dijual.
Sudah habis semuanya.
Tolong dong, Mas, diusahain biayanya bagaimana kek.
Iya. Aku kan juga usaha ke sana, ke sini, Tari.
Tapi kan sampai sekarang belum ada yang kasih kejelasan.
Tar, nggak ada lagi orang yang bantu kita.
Jangankan bantu, mereka lihat mukaku saja buang muka.
Gimana dong?
Segitu banyak teman aku,
semuanya saat aku minta bantuan, nggak ada yang tolong.
Penumpang yang kami hormati,
sesaat lagi, kereta api Yogyakarta
akan diberangkatkan dari Stasiun Yogyakarta
menuju stasiun akhir Pasar Senen.
Masmu nggak ada. Lagi ke luar negeri.
Pasti mau pinjam duit lagi, 'kan?
Suamimu itu masih saja nggak bisa menafkahi kalian.
Bukannya mbakmu sama Mas Sarjono nggak mau meminjamkan uang.
Tetapi keadaannya memang lagi sulit.
Kita masing-masing itu kan punya kewajiban ke keluarga kita.
Satrio itu masih saja nggak bisa menafkahi kalian dengan layak.
Jangan terus kamu bebankan ke Mas Sarjono.
Apa-apa kamu mengandalkan Mas Sarjono.
Kamu tahu, 'kan, Tari?
Sarah sama Rangga itu sebentar lagi kuliah ke luar negeri.
Biayanya itu banyak banget lo.
Ya, Mbak. Tapi ini Dinda sakit, Mbak.
Aku janji, Mbak, ini terakhir. Aku akan kembalikan.
Aku cicil sampai lunas.
Minjem lagi, minjem lagi! Uang lagi, uang lagi!
Kamu lagi nih!
Bisa, nggak, sih?
Sakit ini tuh!
Ini tempatnya, Pak?
Ya, benar, Mbak. Sesuai alamat yang ada di kartu.
- Terima kasih ya, Pak. - Ya. Terima kasih.
Asalamualaikum.
Sudah, gak usah pakai salam-salam. Ayo, pindah. Ikut aku. Cepat.
Ini bisnismu, Yan?
Ya, ini cuma tempat karaoke biasa kok, Tar.
Tempat hiburan, nggak seperti yang kamu pikirkan.
Lagian kamu ke sini kok nggak ngabarin dulu?
Aku ada perlu sama kamu.
Perlu apa?
Dinda, anakku. Sakit, Yan.
Aku butuh uang, Yan.
Kamu bisa bantu, nggak, ya?
Gimana, ya, Tar.
Bukannya aku nggak mau bantu,
cuma di sini kan aku juga cuma menjalankan bisnis.
Aku nggak bisa ngeluarin uang gitu saja.
Bisa-bisa malah nanti bisnisku yang mandek.
Jadi, kamu nggak bisa bantu, ya?
- Bisa sih, sebenarnya. - Beneran?
Iya. Kamu mau kerja di sini?
Aku mau kerja apa saja.
- Serius kamu? - Serius.
Tapi apa kamu siap buka jilbabmu ini, Tar?
Kamu ini cantik lo sebenarnya.
Pasti banyak tamu yang mau sama kamu.
Tapi, ya, tenang nih, aku kan cuma mengutarakan pendapatku saja.
Kalau kamu setuju, kamu bisa hubungi aku kapan saja.
Aku akan menerima kamu dengan tangan terbuka.
Tapi kalau kamu nggak mau, ya nggak masalah.
Aku nggak maksa kok.
Lagian, aku juga nggak rugi.
Ya, sudah.
Terima kasih, ya.
Kalau mau hubungi aku, ya, Tar!
Utari?
Yudha?
Kamu ngapain di sini? Bukannya di Jogja?
Lagi ada masalah?
Mau ngobrol bentar?
Kan kamu tadi sudah bilang.
Untuk biaya pengobatan anak kamu saja, kamu nggak ada.
Aku siap kok nerima kamu. Ngerawat anak-anak kamu.
Kamu pikirin, ya.
Memang kamu butuh uangnya kapan?
Nggak begitu maksudku. Nggak, nggak usah.
Aku tuh benar-benar pengen bantu kamu lo.
Aku bisa tanggung semua biaya pengobatan anak kamu.
Aku bakal obatin anak kamu sampai sembuh.
Kita cari rumah sakit yang terbagus.
Pokoknya semua urusan anak kamu, serahin ke aku.
Aku bisa ngasih semua apa yang kamu mau.
Tapi aku minta kamu juga serius.
Serius gimana maksudnya?
Serius sama aku.
Kamu tinggalin Satrio.
Sekarang giliran aku untuk bahagiakan kamu.
Satrio itu sudah terbukti tidak bisa membahagiakan kamu.
Kamu tahu kan, aku suka kamu itu dari dulu. Dari kecil.
Aku nggak tega ngelihat kamu susah sama Satrio kayak sekarang.
Ini.
Kalau kamu berubah pikiran, jangan sungkan telepon aku, ya.
Di sini saja. Aku di sini saja.
- Hati-hati, ya. - Terima kasih, ya, tumpangannya.
Utari.
Minum dulu.
Pak, Ibu ke Jakarta, ya?
Ya. Sebentar kok.
Pasti Bapak butuh banyak uang untuk ngobatin mata aku, ya?
Kamu nggak usah mikir gitu, ya.
Aku nggak mau Bapak sama Ibu berantem gara-gara aku.
Siapa yang berantem?
Bapak sama Ibu nggak berantem kok.
Kalau mataku nggak bisa sembuh, nggak apa-apa.
Aku kan masih punya mata satu lagi.
Kamu pasti sembuh.
Pasti sembuh kok.
Doa saja ke Tuhan.
Kan Bapak yang bilang begitu.
Kalau mau minta sesuatu, tinggal doa saja ke Tuhan.
Lo, Ri.
Kamu pulang sama siapa tadi dari stasiun?
Maaf, aku nggak sempat jemput.
Gimana Mas Sarjono?
Mas Sarjono sama Mbak Putri kata penjaganya lagi ke Amerika, Mas.
Amerika?
Ya.
Kenapa, Mas?
Kalau saja manusia tahu maksud Tuhan.
Ada orang yang perlu sekali uang, malah susah dapatnya.
Di sisi lain, orang yang bergelimang uang,
malah gampang sekali dapatnya.
Aku tahu dan aku yakin,
Mas adalah laki-laki yang paling bertanggung jawab,
sebagai suami, apalagi buat anak-anak.
Aku tuh bingung, Mas.
Kita sudah nggak punya apa-apa buat dijual.
- Apa aku ke Jakarta, Mas? - Nggak.
Apa boleh buat, Mas.
Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik.
Kalau Tuhan ingat sama kita.
Sekarang, kalian buat contoh isi suratnya, ya.
Seperti yang Ibu jelaskan tadi.
Tujukan kepada orang yang ingin kalian sampaikan
maksud kalian.
Tujukan kepada orang tua boleh, kepada saudara juga boleh.
Ayo, dikerjakan.
Baik, Bu.
Setelah surat kalian selesai, langsung cari prangko, ya,
sebelum kalian kirimkan ke kantor pos.
Kamu kenapa kok girang banget?
Habis dari kantor pos, bikin surat.
Surat untuk siapa?
Buat Tuhan.
Sini, Nak.
Terima kasih, Pak.
Suratmi…
"Kepada Tuhan di Tempat."
Mau anter ke mana kamu?
Ya, nggak tahu.
Hei. Lihat nih, Noto. Mau nganter kepada Tuhan.
Ambyar.
Ya, ampun, Pak. Masih saja dilihat-lihat itu surat.
Lagian, kenapa Bapak bawa suratnya?
Ya, masa ditinggal? Nggak bisa gitulah, Bu.
Tugas aku itu kan nganter surat.
Ya, sudah, ini kan tugasmu, Pak.
Sekarang Bapak cari tuh alamat Tuhan itu di mana.
Atau nggak, buang sajalah, Pak, surat ini.
Jangan. Dosanya besar nanti.
Ya, terus mau gimana?
Kamu ini. Bukannya bantuin malah tambah bikin pusing.
Ya, Harsono. Sutrisno…
Ini?
- Ini punyanya Bapak siapa? - Harsono.
Sutrisno.
- Nggak ada. - 0815…
Ada nomornya? Ada.
11325…
Nomor ponselnya berapa, ya?
Jangan. Buka. Yang ini saja.
Aman.
Aman.
Oke.
Ya, sudah.
- Mbak Ayu. Paket, Mbak. - Ya.
- Rumahnya Pak Jumadi, ya? - Ya.
Tanda tangan di sini.
- Terima kasih. - Ya.
Ada apa, Nak?
Nggak. Nggak apa-apa.
- Paket, Mas. - Ya, Pak.
- Mbak. Paket, Mbak. - Ya.
- Buat Ibu Widuri. - Iya.
- Tanda tangan. - Terima kasih.
- Pamit, ya. - Ya, silakan.
Dok, apa boleh kalau Dinda kami rawat di rumah, Dok?
Sebenarnya, perawatan di rumah sakit itu lebih terjaga.
Tapi kalau Ibu dan Bapak memaksa, saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Ya, saya berharap segera ada jalan keluar terbaik untuk Dinda.
Dinda harus tetap istirahat. Belum boleh sekolah.
Ya, Dok.
- Terima kasih, Dok. - Terima kasih, Dok.
Yuk.
Buru-buru. Mau ke mana?
Diare?
Satu lagi…
Aduh.
Surat yang kemarin mana, ya, Bu?
Lo, bukannya sudah Bapak bawa surat itu tadi pagi, Pak?
Aduh…
Ya, sudah, Pak.
Nggak usah dipusinginlah urusan surat begitu.
Ya, nggak bisa gitu, Bu. Surat itu kan titipan. Amanah.
Ya, memangnya Bapak mau kirim ke mana surat itu, Pak?
Ya, paling tidak kan aku mesti kembalikan, Bu.
Aduh, ampun gusti. Gusti…
Dosanya besar ini. Mati aku.
Pak Pos, ya? Pak Pos!
Tamu.
Ini ada titipan untuk Pak Satrio.
- Dari? - Kami hanya mengantarkan saja, Pak.
Apa isinya?
Isinya kami tidak tahu, Pak. Mohon diterima.
Terima kasih. Nggak usah.
Nak!
- Kalau begitu, kami pamit dulu, Pak. - Terima kasih, Pak.
Tapi dari mana ini?
- Mari, Pak. - Pak!
Nak. Jangan dibuka dulu, Nak. Jangan.
Uangnya banyak banget!
Bu, sini, Bu. Uangnya banyak banget ini, Bu.
Astagfirullah. Banyak banget ini uangnya.
Siapa yang datang tadi?
Ini bukan uang kita. Kembaliin.
Taruh. Ini ada orang salah kirim.
Ini dari Tuhan, Pak.
- Bukan, Nak. - Ini dari Tuhan.
Ini Tulus yang tulis.
Bukan, ini ada orang salah kirim ke kita. Bukan Tuhan.
Tari… Ayo, masuk. Yuk.
Mas. Gimana kalau kita pakai dulu uang ini sambil kita cari pinjaman?
Kamu nyuruh aku pakai uang ini?
Mas tega ngelihat keadaan Dinda sekarang?
Tar, kamu kok tanya seperti itu sih?
Kasihan Dinda, Mas.
- Sabar. - Aku sabar, Mas.
Tapi waktu terus berjalan.
Sampai kapan Mas biarin Dinda kayak begini sih, Mas?
Aku nggak mau ninggalin utang untuk anak-anak kita. Cuma itu.
Aku tahu.
Aku akan cari orangnya, kembalikan uang ini.
Tapi sekarang kondisinya kayak begini, Mas.
Gong….
Kamu itu kok, nggak bunyi-bunyi itu gimana?
Kamu itu burung kesayangan saya.
Saya rugi kasih makan tiap hari kalau kamu nggak bunyi-bunyi.
Kamu itu ganteng lo, Gong.
Kenapa?
Ini, Tulus lagi nunggu Pak Pos.
Kamu itu kirim surat. Pada siapa?
Ke Tuhan.
Tuhan?
Terus gimana?
Ya, sampai sekarang sih belum dibalas.
Tulus!
Ayo, makan dulu!
Iya, Bu! Nanti saja, Tulus masih kenyang!
Ayo! Makan dulu, yuk!
Anak ini, disuruh makan kok.
Ngopi dulu.
Aku kan nggak ngopi, Mbah.
Yang ngopi kan Mbah. Kamu teh saja.
Oke.
Tuhan itu cuma satu.
Umatnya banyak.
Jadi,
nanti kamu pasti akan dijawab.
Sabar, ya?
Benar, ya, nanti dibalas, ya, Mbah? Janji?
Lo?
Sesungguhnya Allah jika mencintai kaum-Nya,
maka Allah akan memberikan ujian terlebih dahulu pada kaum tersebut.
Barang siapa yang rela mendapat ujian itu, maka mendapat keridhoan Allah.
Dan sebaliknya, barang siapa membenci ujian dari Allah,
maka mereka akan mendapat kemurkaan dari Allah SWT.
Saya mau ketemu Tuhan.
Nak. Sini. Duduk sini.
Kamu mau ketemu siapa?
Mau ketemu Tuhan, tapi nggak tahu rumahnya di mana.
Pak. Lihat anak kecil nggak?
Kalau kamu mau ketemu sama Tuhan tuh harus mati dulu, baru bisa ketemu.
Kamu mau ngapain?
Aku mau ketemu Tuhan.
Tapi nggak kayak gini juga.
Aku mau bilang terima kasih ke kamu.
Karena apa?
Bapakmu benar.
Ayahku berdoa sama Tuhan dan Tuhan kasih bapakku rezeki.
Akhirnya, aku bisa ikut karyawisata.
Kamu tuh dari mana sih, Lus? Astaga.
Tadi habis main.
Ya, kamu aneh-aneh, main kok ya lagi hujan gede begini.
Masuk angin ini nanti sampai kedinginan begini.
Keringin dulu.
Lo, kok sudah tiba-tiba di sini?
- Ibu bikinin air hangat dulu, ya. - Ya.
Dari mana sih kamu?
Aku habis main ke masjid tadi sama teman.
Kamu dicariin ke mana-mana.
Teman kamu juga tadi nyariin kamu, Nak.
Yang sabar, ya, Kak.
Kata Mbah Sastro…
Tuhan itu cuma satu. Umatnya banyak.
Sabar.
Apa sih ngikut-ngikutin? Kenapa?
Habis kamu kenapa sih?
Lagi mikir apa? Kenapa?
Mbak Dinda bisa sembuh lagi, 'kan, Bu?
Kenapa kamu nanya?
Soalnya, akhir-akhir ini Mbak Dinda sudah nggak main lagi.
Terus dia lebih sering di kamar.
Ya, aku kasihan juga sama Mbak Dinda.
Kan aku juga jadi kesepian nggak ada yang nemenin main.
Mbakmu lagi butuh istirahat yang banyak sekali.
Biar cepat sembuh.
Masuk, yuk.
Bu?
Pak?
Tulus?
Bu! Mbak Dinda, Bu!
Ayo, cepat, Bu!
Dinda!
Astagfirullah. Dinda, bangun, Nak.
Dinda.
Mbak. Bangun, Mbak.
Dinda. Aduh.
Dinda, yuk bangun. Buka matanya, Nak.
Dok. Gimana, Dok?
Dinda harus segera dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.
Karena di sana perlengkapannya lebih baik.
Apa tidak mungkin di sini dirawat lebih intensif, Dok?
Begini, Pak Satrio.
Dinda harus segera diambil tindakan secara cepat.
Kalau tidak, saya khawatir akan merambat ke mana-mana.
- Astagfirullah! - Mohon maaf, saya harus pergi.
- Dinda. Nak. - Din.
Masih sakit, Nak?
Ya, yang sabar.
- Sudah nggak bisa tahan lagi. - Ya nanti juga sembuh kok. Sebentar lagi.
- Tunggu. - Sakit, Bu.
- Bu! Bapak! - Ya.
- Sakit, Nak? Sakit banget? - Sakit, Bu.
- Kuat, ya? - Tuh, yang kuat.
Sabar, ya, Dinda. Kuat, ya.
Istigfar ya, Nak, ya. Ini Ibu di sini.
- Iya, Ibu di sini. - Ibu, sakit.
Iya, Ibu tahu sakit.
Sakit.
Sakit, Bu.
Sakit.
Mas, aku sudah nggak tahan dengar Dinda kesakitan.
Aku berdoa sama Tuhan supaya aku bisa ambil semua penyakitnya.
Kita bisa kan, Mas, pakai dulu uang Bu Saskia.
Anggap saja sebagai pinjaman.
Nanti kita cicil setelah Dinda sembuh.
Nggak segampang itu, Tar.
Nggak mungkin.
Aku bisa dengan merem mengubah angkanya
untuk menggelapkan pajak dia.
Tapi sekali berbuat begitu, dia akan minta kedua kali, ketiga kali,
seterusnya, kita diperbudak untuk menutupi kesalahan.
Untuk apa? Supaya dia dapat untung.
Dan aku nggak mau.
Yang dirugikan itu siapa sih, Mas? Jelas bukan kita.
Mas itu mau melindungi siapa?
Memang yang Mas lindungi
bisa bayar kesehatan, kesembuhan anak kita sampai tuntas?
Dosa Bu Saskia itu urusan dia, bukan urusanmu.
Ya, memang. Bukan urusan kita, bukan urusan Tari, bukan urusan Bapak.
Kamu pernah mikir
uang yang akan kita pakai adalah hasil dosanya Ibu Saskia?
Itu yang kamu mau?
Iya, Tar?
Bukan cuma kamu yang mau Dinda sembuh.
Aku juga.
Kamu merasa gagal.
Aku lebih dari itu.
Kamu tahu? Waktu kamu ke Jakarta,
Dinda bilang, "Nggak apa-apa, aku nggak usah sembuh,
asal Bapak sama Ibu nggak usah ribut terus."
Dia bahkan bilang, "Nggak apa-apa."
"Aku masih punya mata satu lagi."
Bahkan dia ikhlas kalau matanya satu cuma bisa ngelihat.
Kamu nggak mikir
apa yang akan dia pikirin seumur hidupnya
kalau dia tahu uang yang kita pakai itu dari mana?
Dinda akan bersyukur, Mas,
kalau dia tahu dia punya orang tua yang akan ngelakuin apa saja buat dia.
Justru dia akan kecewa kalau tahu
orang tuanya terlalu takut ngambil risiko
dan mempertaruhkan kesembuhannya.
Prinsipmu
yang bisa bikin anak kita cacat seumur hidup.
Kamu nggak sayang sama anakmu?
Apa kamu bilang?
Coba ulangin.
Kamu nanya aku, aku nggak sayang sama Dinda?
Aku sayang Tulus. Aku sayang Dinda.
Aku juga sayang sama kamu.
Setiap perbuatan aku, dalam setiap dengus napas aku,
aku selalu berusaha untuk membahagiakan kalian.
Aku nggak akan mungkin menelantarkan keluargaku,
selama itu ada di jalan yang benar.
Maafin aku, ya, Tar.
Aku nggak bisa bahagiain kamu, ya?
Kamu nyesel dalam perkawinan ini?
Ya?
Aduh, Mas.
Apa aku harus kubur harga diriku, kehormatanku?
Cuma demi uang ini?
Ya, Tuhan.
Beri aku jalan untuk keluar dari posisi seperti ini.
Aku tuh benar-benar pengen bantu kamu lo.
Aku bisa tanggung semua biaya pengobatan.
Aku bakal obatin anak kamu sampai sembuh.
Pokoknya semua urusan anak kamu, serahin ke aku.
Aku bisa ngasih semua apa yang kamu mau.
Tapi aku minta kamu juga serius.
Saya khawatir ini adalah tumor.
Harus diadakan tindakan lebih lanjut,
yaitu operasi.
Sampai berapa itu, Dok, kira-kira biayanya?
Puluhan juta sampai ratusan juta rupiah.
Menurut Bapak, makna cinta itu apa?
Cinta itu nggak pernah sesederhana itu.
Cinta selalu memberi,
tanpa pernah menuntut.
Cinta juga selalu menderita,
tanpa pernah meratap atau mendendam.
Lumayan juga jawabannya.
Pak Satrio.
Ya, Bu.
Saya senang Bapak datang.
Jadi, gimana, Pak?
Bisa bantu permasalahan saya?
Tolong kamu beresin.
Ya, selama ini kan dia yang bantu kita. Ya, kan?
Iya. Ya?
Saya kembalikan uang Ibu.
Tidak ada yang berkurang satu lembar pun. Semua masih utuh di sini.
Pak Satrio.
Rasanya sih Bapak nggak perlu sok menolak uang ini.
Apalagi dengan kondisi Bapak sekarang.
Anak sedang sakit.
Yang ini, oke.
Uang sebanyak ini tentu bisa sangat membantu.
Dan rasanya uang ini jauh lebih dari cukup
untuk biaya pengobatan anak Bapak.
Ya, masa Bapak tega sih?
Anak sedang sakit tapi tidak bisa memberikan perawatan secara intensif.
Terima sajalah uang ini.
Supaya kita semua sama-sama terlepas dari masalah.
Saya tidak akan mengubah sedikit pun pembukuan keuangan saya,
bahkan untuk alasan anak saya sakit pun.
Saya nggak mau mengobati anak saya dengan uang haram.
Saya nggak mau berbohong kepada diri saya, perusahaan, dan juga pada Tuhan.
Saya permisi.
Maaf kalau saya salah bicara.
Kata Bapak dia bisa. Dia mampu mengatasi masalah saya.
Tapi mana kenyataannya?
Sudahlah. Carikan orang lain saja.
Saya perlu masalah saya untuk diselesaikan dengan segera.
Maafkan saya, Bu.
Saya tidak bisa rekomendasikan orang lain lagi.
Utang kamu di sini itu masih banyak. Paham kamu?
Ya, Pak. Saya tahu.
- Kamu ingat? - Ingat, Pak.
Kalau kamu ingat, kenapa kamu bisa nggak tahu diri gini?
Nekat untuk datang pinjam uang.
- Paham? - Mendesak, Pak.
Jadi, kalau karyawan semua di sini dengar karena mereka mendesak seperti kamu,
ini perusahaan bisa bangkrut, Yo. Bisa bangkrut.
Kamu ini tuh, ngubah angka saja susah malah nambah-nambahin angka.
Dari mana kamu?
Habis main.
Bapak kok pulangnya cepat banget?
Mau ketemu kamu.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Lus, tadi ada yang naruh ini di depan rumah.
Yah, kok surat aku dibalikin sih?
Tukang posnya bingung kali mau dikirim ke mana, Lus.
Lo? Pak!
Waduh.
- Permisi. - Silakan.
Mbah, sini.
Saya itu mau nanya.
- Ya, sini! - Nggak mau!
- Sini! - Kamu ke sini!
Sini! Dibilangin sini, ya, sini!
Mbah, saya itu mau nanya. Rumah itu rumah siapa?
Kalau ngomong sama orang tua itu yang sopan.
Permisi, Mbah. Rumah itu, rumah siapa, Mbah?
Itu rumahnya Satrio.
Tapi kalau nggak di rumah, ya, di rumah sakit.
Lo, terus yang sakit siapa, Mbah?
Putrinya yang pertama. Kasihan lo dia.
Terus sakitnya sakit apa, Mbah?
Nah itu, Mbah nggak ngerti, tapi kelihatannya parah.
Sudah barang-barangnya habis terjual
untuk biaya operasi, nggak cukup.
Dan sampai sekarang nggak sembuh.
- Belum sembuh? - Kasihan.
Din.
Minum obat dulu, yuk.
- Kamu nulis apa sih ke Tuhan? - Ini.
Aku nulis itu.
Apa ini?
Ini apa, Bu?
Ini balasan dari Tuhan, ya?
Berarti surat aku dibalas sama Tuhan?
Mas.
Hore.
Gimana, Mas?
Aku nggak tahu, Ri.
Si Tulus nulis apa sih?
"Namaku Tulus. Aku tujuh tahun.
Aku anak Pak Satrio dan Ibu Utari.
Aku punya kakak satu, perempuan. Namanya Mbak Dinda.
Rumahku di desa Mbatik, di samping rumah Mbah Sastro.
Bukan Mbah Sastro mantan lurah, tapi Mbah Sastro pemilik burung perkutut.
Tuhan, Bapak bilang Tuhan adanya di dalam hati…"
Tapi aku nggak bisa lihat Tuhan.
Aku bingung, hati adanya di sebelah mana.
Makanya aku nulis surat, biar Tuhan bisa baca.
Dari dulu, bapakku gak punya duit banyak, tapi kita bahagia banget.
Tuhan, apa Tuhan marah karena aku nggak pernah salat?
Soalnya, Bapak selalu suruh aku salat.
Tapi aku nggak pernah salat.
Kalau Tuhan marah sama aku, jangan hukum bapak dan ibuku, ya, Tuhan.
Apa lagi Mbak Dinda.
Aku nggak mau Mbak Dinda sakit gara-gara aku nakal.
Aku kasihan melihat Bapak sama Ibu.
Bapak sama Ibu nggak punya banyak uang buat ngobatin Mbak Dinda.
Tuhan, Bapak dan Ibu sudah jual barang,
tapi semua uangnya masih belum cukup.
Mbak Dinda juga kesakitan terus setiap saat.
Kadang badannya panas banget.
Kadang dingin banget.
Aku takut, Tuhan. Cuma Mbak Dinda kakakku satu-satunya.
Aku juga sedih melihat Ibu yang suka diam-diam nangis pelukin Mbak Dinda,
kalau aku lagi tidur.
Aku sering kebangun, tapi aku pura-pura tidur.
Takut Ibu tambah keras nangisnya.
Tolong, ya, Tuhan.
Salam hormat, sungkem, Tulus.
Mbak.
Aku benar-benar butuh bantuanmu.
Anakku, Andien, sakit keras, Mbak.
Dokter bilang aku harus segera membawanya ke Jakarta.
Tapi aku nggak punya apa-apa lagi untuk aku jual, Mbak.
Hanya sisa peninggalan rumah dari Mas Bambang.
Wid,
suamimu itu dulu memang banyak berjasa buat keluargaku.
Tapi itu dulu.
Kamu nggak bisa sekarang tiba-tiba datang terus minta balas jasa.
Suamimu pun sudah nggak ada.
Anakmu itu urusanmu.
Aku akan bekerja buat kamu, Mbak.
Aku akan bayar, apa pun caranya.
Tolong anak aku, Mbak. Aku harus selamatkan anakku.
Aku mohon, Mbak.
Aku bukan panti sosial, Wid.
Urusanku yang lain itu masih banyak.
Kalau kamu mau cari pinjaman, tempat lain saja.
Aku mohon, Mbak.
Bagaimana, Pak? Sudah mengerti kan apa yang saya sampaikan kemarin?
Ya, Bu. Saya mengerti.
Tolong Bapak kirim surat ini ke rumah mereka, ya.
Baik, Bu.
Ya, Bu. Mohon maaf.
Apa Ibu nggak ada keinginan untuk membantu keluarga mereka, Bu?
Bapak pastikan saja surat ini sampai ke tangan mereka.
Baik, Bu. Kalau begitu, saya mohon pamit, Bu.
- Pak. - Ya?
Tolong jangan ada yang melihat, ya.
Baik, Bu.
Tuhan, aku mau bilang terima kasih.
Mbak Dinda sudah dioperasi.
Dokter bilang, dua minggu lagi bisa masuk sekolah.
Terima kasih, Tuhan.
Gimana, ya, keadaannya?
Amin. Padahal semuanya sudah habis-habisan itu.
Sudah gak punya apa-apa.
Hati-hati, Din.
Nanti aku tanya. Siap.
Bu Tari. Gimana keadaannya Dinda?
Alhamdulillah, lancar, sehat.
- Ya, alhamdulillah. - Kami ikut senang.
- Mari, Bu. - Mari, Bu, Pak.
Allahu akbar.
Kalau kamu mau mencari Tuhan ada di mana,
Tuhan itu ada di hatimu, Nak.
Salah satu cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan,
hanyalah salat.
Pak Pos! Tunggu!
Pak Pos! Tunggu!
Kenapa, Nak?
Ini, mau titip surat.
Siap.
Buat Tuhan?
Ya, memang buat Tuhan.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.