Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[musik suram, lambat]
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
Cik.
Maaf ya, Cik. Kita mulai.
[hentakan musik suram]
[menahan muntah]
[mengerang]
[tersedu]
[musik tenang, misterius]
[air mengucur]
[alas tidur berderit]
[mengerang]
[hentakan musik]
Bu.
Bu.
Itu…
Punggungnya Cik ini kayak banyak bekas cambukan.
[terbata] Aku… aku tidak kuat.
Sst.
Ini rahasia almarhumah, Nak.
[suara raungan kencang]
[Marbut masjid melalui pelantang] Diberitahukan kepada seluruh warga
untuk datang ke rumah
Ibu Ida.
Karena Ibu Ida sunatan.
Maksudnya, cucunya, si Farhan, yang sunatan, Bapak-Ibu.
Sekali lagi, diberitahukan, Bapak-Ibu,
untuk datang ke rumah mantan Ketua RT kita, Ibu Ida.
Karena Ibu Ida sunatan.
Cucunya, maksud saya, yang sunatan.
Oke? Semua datang, ya.
[tepuk tangan, bersorak]
[Bu Tutti] Farhan sudah besar sekali.
- [Bu Ana] Iya. - Dulu 'kan masih kecil.
Sudah berapa tahun ya sejak ibunya pergi?
- Pergi jadi TKW itu. - Iya.
Sudah lama, dong. Tidak pernah pulang kali, ya.
[musik perkusi]
[Bu Siti] Tidak segampang itu bisa pulang.
[Bu Ana] Iya juga, sih.
Ya, namanya juga anak. Kalau sudah kerja lupa.
Untung anak saya tetap di rumah.
Eh, Bu. Si Bimo itu belum dapat kerjaan lagi, ya?
Tidak apa-apa. Namanya juga kerja, butuh waktu.
Yang penting nanti kalau kerja, tidak terpaksa.
Iya, sama dengan Arif. Arif juga 'kan belum kerja.
Apa Arif itu mau jadi pemandi jenazah juga, Bu?
Kalau menurut saya, Bu, biar Lela saja. Arif tidak usah.
Nanti banyak yang meninggal di kampung.
Heh!
Bu Terry jangan bercanda kayak gitu.
Saya belum mau mati cepat.
Nanti gimana Bimo? Sama siapa?
- Saya 'kan… - Janda.
[terkekeh]
- Apa, sih? - Kita semua 'kan tidak punya suami.
Jadi, sama-sama janda.
[tertawa] Ya beda, lah!
Kalau Bu Siti itu 'kan ditinggal pergi, bukan ditinggal cerai.
Jadi belum janda. Beda itu, Bu.
Bu Terry 'kan perawan ting-ting, ya? Tidak tahu rasanya jadi janda.
[Bu Tutti] Iya, 'kan, Bu?
[musik perkusi]
[musik perkusi teredam]
[suara teredam berhenti, warga bersorak]
[musik perkusi berlanjut]
[musik perkusi memudar]
[musik mencekam]
[musik mencekam makin intens]
[Bu Tutti] Bu Ida, kenapa sih kita sudah disuruh pulang?
Padahal 'kan masih mau di sini.
[Bu Ana] Iya, masih betah, kok, Bu.
Bimo sudah datang.
Saya pamit duluan, ya.
- Bu Ida, terima kasih banyak. - Makasih, Bu Ana.
- Mari, Ibu-Ibu - Mari.
[mesin motor berderu]
[Bu Tutti] Nah, itu Lela.
Bu Siti, Lela jemput, tuh.
Buat apa Lela membawa payung?
Seakan mau hujan saja.
Terry kayak tidak tahu,
Lela 'kan sama kayak ibunya, bisa lihat pertanda.
Saya pamit dulu, ya, keburu hujan.
Saya juga pamit ya, Bu. Makasih, ini.
- [terkekeh] Permisi. - Makasih ya, Bu.
[musik lembut]
Ibu.
Pamit, ya.
[Arif] Ibu!
Aduh.
Cik, ikutan, dong. Mau ngadem, nih.
Kamu tuh gede.
- Ini, bawa! - Aku bawa ini banyak sekali.
Rif.
Tadi dicari Pak RT.
Ada pekerjaan baru katanya.
Memperbaiki kontrakan tetangga.
Mau melamar kerja saja? Hah?
Memang sudah pasti mau jadi tukang renovasi terus?
Ya, kerjakan dulu saja yang di depan mata. Iya, tidak?
'Kan bisa mencari pekerjaan yang serius.
Sudah, biarkan saja dia kerjakan dulu apa yang dia mau.
Berantem saja.
[menggumam kecil]
[menggerutu]
- Cik Rika! - Rif!
Bu, aku pamit dulu, ya.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
- Rif. - Habis pulang kerja ya, Cik?
Iya, kamu mau perbaiki kontrakan, 'kan?
- Iya. - Ayo.
[guntur bergemuruh]
Yuk.
[kumandang azan dari kejauhan]
[suara gedebuk pelan]
Bismillahirrahmanirrahim.
[gedebuk]
[suara langkah kaki]
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya niat melakukan salat…
[gedebuk]
[menghela napas]
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya niat melakukan salat fardu Maghrib sebanyak tiga rakaat
dengan menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta'ala.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Sami Allahu liman hamidah.
[suara parau] Sami Allahu liman hamidah.
[musik menegangkan]
Allahu Akbar.
[suara parau] Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
[musik menegangkan memudar]
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
[guntur bergemuruh]
[hentakan musik]
Astaghfirullah, Lela!
Lela, ah.
Selalu mengagetkan Ibu.
- [terkekeh] - [menghela napas]
Jadi pergi?
Memang segitunya… ingin belajar dandan?
[Lela bergumam]
Lela ingin jadi penata rias?
Belum tahu sih, Bu. Mumpung diajak.
Tidak apa-apa 'kan, mencoba banyak hal?
Atau…
Kamu sangat tidak ingin jadi kayak Ibu?
Ya sudah, tidak jadi pergi.
[musik sendu]
[guntur bergemuruh dari jauh]
[suara piring beradu saat dicuci]
Ibu bukannya mau memaksa, Lel.
- Ibu cuma ingin ada yang melanjutkan… - Mengerti, Bu!
Ibu melanjutkan dari Nenek, aku tahu.
Aku 'kan dari kecil selalu ikut Ibu memandikan jenazah.
Masa sekarang tidak boleh kalau ada pilihan lain?
Jadi pemandi jenazah 'kan pilihan yang Ibu kasih.
Maksud Ibu…
[piring berdenting]
Sekarang, kalau bukan kamu siapa, Lel?
Sudah tidak ada pemandi jenazah di kampung kita ini.
Memang aku tidak boleh ya, Bu, kayak Arif?
Mengerjakan apa yang aku mau, Bu?
[guntur bergemuruh dari jauh]
'Kan Ibu sendiri yang bilang,
jadi pemandi jenazah itu berat, yang dihadapi kematian.
Tak jarang dari kita jadi saksi hidup sama saksi matinya.
Aku tidak mau, Bu. Aku capek.
[hentakan musik]
Tutup semua pintu, Lel.
Jangan biarkan sebarang orang masuk.
Bu!
[musik mencekam]
Bu.
Mau ke mana, Bu?
[Marbut masjid melalui pelantang] Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia,
- Ibu Ida Mulyani… - [guntur bergemuruh]
binti Tarya, jam tujuh malam.
- Lel, tunggu Arif pulang. - Ya Allah, ampuni dia…
Jangan ke mana-mana.
Biar Ibu yang pergi ke rumah Bu Ida.
…dan surga tempatnya.
[angin bertiup kencang, guntur bergemuruh]
Bu!
[guntur bergemuruh]
[pria] Sabar ya, Pak. Mudah-mudahan husnul khatimah.
Bu Siti.
Jenazahnya belum ada yang urus.
Terima kasih, Pak.
Silakan.
Assalamu'alaikum.
- Wa'alaikumsalam. - Wa'alaikumsalam.
[musik mencekam]
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
[musik mencekam makin intens]
[Siti] Tolong siapkan semua.
Biar saya yang memandikan sendiri.
[guntur bergemuruh]
[suara tetesan air]
[suara ketukan konstan]
[suara ketukan berlanjut]
[pintu berderit]
[suara ketukan mendekat]
- [dentuman kencang] - Astaghfirullahaladzim!
Ya Allah.
[menggerutu]
[pintu berderit]
Assalamu'alaikum.
Cik?
Kok tidak ke rumah Ibu Ida?
Ibu saja katanya.
- Kamu sedang apa sih, Cik? - Ini Rif, ambruk.
Inna lillahi.
Kok bisa bocor, sih?
Sampai ambruk, lagi.
[tetesan air di wadah]
Aku bantu perbaiki ya, Cik.
Sebentar, Cik!
Sebentar ya, Cik!
Hati-hati, Rif!
Iya.
[guntur bergemuruh]
[musik menegangkan]
[hentakan musik]
Ibu?
Bu!
- Bu! - Bu!
Bu.
Bu. Ibu.
- [Arif] Bu! - Bisa jalan?
Jalan, ya. Sini, Lela bantu.
[pintu berderit terbuka]
Bu.
Memangnya Ibu Ida meninggalnya kenapa, Bu?
Hm?
Ya sudah.
Nanti aku temani tidur di sini, ya.
Ibu istirahat.
Biar aku yang membereskan cucian.
Ya?
[guntur bergemuruh dari jauh]
[pintu ditutup]
[langkah kaki]
Bu?
[gesekan korek api]
Ibu kok tidak istirahat?
Tolong.
Itu… darahnya Bu Ida?
Ibu Ida kenapa, Bu?
Sst.
[musik menegangkan]
Lel,
nanti kalau kamu memandikan jenazah,
semua harus kamu bakar.
Jangan sampai rasa penasaran kamu menghantui kamu.
Sisanya biar aku saja, Bu. Ibu istirahat.
[napas berat]
[musik mencekam]
[hentakan musik]
[suara geraman]
[terengah]
[pintu berderit terbuka]
[pintu ditutup]
[kasur berderit]
Sudah dikunci 'kan, Lel?
Lel.
Lel.
[menghela napas]
[musik menegangkan]
[hentakan musik]
[pintu dibuka]
[menghela napas]
[mengerang]
Lel.
Ibu minta maaf.
Ibu kenapa?
Seharusnya 'kan aku yang banyak minta maaf sama Ibu.
Ya…
Karena Ibu kamu jadi mengalami semua ini.
Tapi, Lel,
semua orang hidup ada fungsinya masing-masing.
[musik sendu]
[menghela napas]
[musik berubah mencekam]
[angin berembus intens]
[derit kayu]
[musik mencekam makin intens]
[musik menghentak]
[tercekik]
[suara azan dari kejauhan]
[mengerang]
[mengigau] Ibu, ayo.
[hentakan musik]
[suara bergetar] Bu!
Astaghfirullah.
Ibu!
Bu!
[berteriak] Bu!
[meraung] Ibu!
Ibu!
Arif!
Arif!
Kenapa, Cik?
[Lela menangis meraung]
[Marbut masjid melalui pelantang] Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia Ibu Siti Rodiah binti Amien
jam 04.40 subuh tadi di kediamannya.
Kalau kata Arif jam dua, Pak.
Sudah tahu penyebabnya?
[membaca doa dengan lirih]
- Kalau ada apa-apa, kabari, ya. - Iya, Pak.
Arif, turut berduka.
Makasih ya, Pak.
Yuk.
- Pak. - Cik.
Rif.
Yang sabar, ya.
Makasih ya, Cik.
La. Lela.
Lela.
Sudah jam segini.
Ibu kamu tidak dimandikan?
Iya, La.
Tidak boleh dibiarkan lama-lama seperti ini.
Rif.
Maaf, ya.
Ibu kamu meninggalnya kenapa?
Katanya Ibu tiba-tiba pendarahan semalam.
Tidak ada luka apa pun.
Dan tidak ada yang masuk juga ke kamar Ibu.
Cik Lela saksinya, Pak.
[musik muram]
[Rika] Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
[menghela napas]
[mengambil napas panjang]
[suara bergetar] Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Tidak ada Tuhan selain Engkau.
[tersedu]
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
[tersedu]
[dengan lirih] Ya Allah.
Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Kuatkan hamba, ya Allah.
Ikhlaskan hamba, ya Allah.
[tersedu]
[musik sendu]
[tercekat]
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
Bismillah.
Allah beri rahmat-Mu kepada
Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.
[musik berdentum] Ya Allah.
Bu. Ibu kenapa, Bu?
Yang ikhlas, Bu.
[tersedu]
Izinkan saya memandikan Ibu.
[terisak]
Ibu yang ikhlas.
[musik sendu]
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Ikhlas, Bu. Ikhlas.
[menghela napas]
[suara Siti] Pemandi jenazah itu pekerjaan yang sangat mulia.
Manusia terakhir yang ditemui jenazah
adalah perantara sebelum berpulang kepada Yang Kuasa.
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
[musik sendu makin intens]
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
Karena itu,
apa pun yang kita temukan,
biarkanlah menjadi rahasia antara kita dengan almarhumah.
Permisi ya, Bu.
[musik menegangkan]
[suara kawat dicabut]
[Lela terkesiap]
[bernapas berat]
[suara bergetar]
[teriak tertahan]
[musik makin intens lalu berhenti]
[pria] Mas Arif dan Cik Lela, kami pamit, ya. Assalamu'alaikum.
[Arif] Wa'alaikumsalam.
Cik Lela.
- Baik-baik, ya. - Saya duluan ya, Cik.
[obrolan samar]
Yang sabar ya, La.
- Sabar, ya. - Makasih, Pak.
Nak.
[musik sendu]
[tersedu]
[gemerisik angin]
[pintu diketuk]
[Bu Ana] La?
[pintu diketuk]
Lela.
La?
Ini ada uang takziah dari warga.
Diterima, ya.
Nanti tahlilan Bu Ida sama ibu kamu
disatukan di musala saja tidak apa-apa, 'kan?
Soalnya 'kan kamu tahu, anaknya Bu Ida tidak ada di sini.
Kasihan.
Ya?
Astaga.
Itu darahnya Bu Siti?
Banyak sekali.
- La. - Kenapa?
- Itu kenapa? - Ibu kamu meninggalnya kenapa?
- [pintu dibanting] - [bicara bersamaan]
- [Bu Terry] Pasti tidak beres. - [Bu Tutti] Kenapa, ya?
[musik mencekam]
[suara air cucian]
[suara perkakas]
[Lela] Kamu itu kayak tidak sedih ya, Rif.
Aku minta memandikan Ibu, tidak mau.
Sekarang, kuburan Ibu masih basah kamu sudah sibuk sama urusan lain.
Arif!
[tersedu]
[musik mencekam]
Rif!
Katanya Bu Tutti nanti malam ada tahlilan, ya, di musala.
Saya bawakan makanan, ya!
Makasih, Cik.
Ini yang bocor gentengnya ini saja?
Iya, cuma itu saja.
Rif.
Kamu tidak apa-apa langsung kerja?
Kalau kamu atau Cik Lela butuh apa-apa, kabari saya, ya.
Saya juga pernah kehilangan orang tua.
Pasti berat menerimanya.
- [musik sendu] - [menghela napas]
Makasih, Cik.
Ya sudah, saya masuk, ya.
[menghela napas]
[Bu Ana] Kalau memang ini takdir,
kok bisa barengan kayak gini, ya?
[Bu Tutti] Apa karena Bu Ida sama Bu Siti teman dekat,
jadi meninggalnya dekatan juga?
[Bu Ana] Tapi 'kan kita semua memang dekat, ya.
Kalau saya sih curiga.
Ini semua tidak wajar.
Jangan-jangan mereka itu disantet.
Hus!
[berseru pelan] Sudah.
Jangan bicara yang aneh-aneh.
Orangnya baru meninggal.
Iya, Bu Terry, nih.
Ya, 'kan saya cuma merasa.
Karena ini aneh benar.
[Bu Tutti] Aduh.
Aduh.
Tuh, 'kan. Lap!
Ini!
Bu Terry, sih. Makanya tidak usah bicara santet segala.
Bu Terry, sih.
[musik mencekam]
[warga] Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[hentakan musik]
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[suara berat dan parau] Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[berteriak]
Jangan saya! Saya tidak mau mati!
- [pria] Bu Terry, istighfar, ya. - [meraung]
- Istighfar. - [terengah]
Yang lain tenang, ya.
Ini kayaknya mati lampu sekampung.
Kita pakai lilin dulu buat penerangan.
Kita lanjutkan tahlilannya sampai selesai, ya.
- Mat. - Iya, Pak?
Ambil lilin.
Iya, Pak. Siap.
Yuk, lanjut.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
- [musik mencekam] - Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[musik mencekam makin intens]
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[teriak]
[musik memudar]
Cik Lela?
Cik kenapa, Cik?
Cik Lela. Istighfar.
Cik, istighfar, Cik.
[Lela gemetar]
[Lela terengah]
[suara Siti] Allahu Akbar.
[musik mencekam]
[musik mencekam makin intens]
[suara Siti] Allahu Akbar.
[hentakan musik]
[napas berat]
[menjerit]
[mengerang]
[meringis]
[mengerang]
[mengerang]
[menjerit tertahan]
- Sst. - [terkesiap]
[angin berembus kencang]
Satu per satu teman Ibu meninggal.
Ibu benar tidak apa-apa Bimo tinggal sendiri?
Ibu 'kan sudah tinggal lama di sini.
Orang-orang di sini juga sudah seperti keluarga.
Ibu justru khawatir sama kamu.
Bagaimana kamu kalau tidak ada Ibu?
[menghela napas]
Bimo 'kan sudah besar, Bu.
- Nanti, Bimo dapat gaji pertama… - [suara desahan pelan]
Bimo ajak Ibu makan, ya.
- Nanti Bimo ajak makan ya, Bu. - [desahan]
Bu?
Ibu.
Hm…
[Bimo] Ibu kenapa, Bu?
Tidak. Tidak apa-apa.
[ritsleting koper ditutup]
[pintu lemari berderit]
[pintu lemari tertutup]
[musik menegangkan]
[mengerang]
[musik menegangkan]
[musik menegangkan memudar]
[pekikan seram]
[Bu Ana menjerit]
- Ibu? - [Bu Ana tercekat] Nur.
[muntah]
Ibu!
- [pintu digedor] - Ibu!
[musik menegangkan makin intens]
Ibu.
[meratap] Ibu.
[terisak] Ibu!
[Marbut masjid melalui pelantang] Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah berpulang ke rahmatullah,
Ibu Ana Marlina…
[pintu diketuk]
- Lela? - …binti Suryo…
jam 20.05 malam ini.
- Ya Allah, ampuni dia, berilah rahmat… - Rif, Lela ke mana?
Dipanggil tidak keluar, tidak menjawab.
…dan surga tempat peristirahatannya.
- Sebentar ya, Pak RT. - Ya.
Assalamu'alaikum.
Cik.
Cik.
Cik sedang apa?
Orang-orang sudah menunggu di luar, Cik.
Jenazahnya harus segera dimandikan.
Ibu sudah tidak ada, Rif.
Justru karena Ibu sudah tidak ada, Cik.
Terus Bu Ana gimana?
Kamu tidak kasihan sama Bimo?
Aku takut.
Kemarin Cik memandikan jenazah Ibu sendirian.
Kok sekarang tiba-tiba jadi takut?
Justru karena aku memandikan jenazah Ibu sendirian.
Kamu tidak mengerti!
[pintu diketuk]
Cik Lela?
[Bimo] Cik Lela?
Cik, tolong saya, Cik.
Cik Lela!
Cik Lela, Cik, tolong saya.
Cik Lela masa tega, Cik.
Cik Lela.
[musik menegangkan]
[Bu Terry] Apa ini tidak kelamaan?
Kenapa tidak memanggil pemandi dari kampung lain saja?
Lela saja, ya.
Soalnya pemandi jenazah di kampung sebelah kejauhan.
Eh, sebentar, Bu.
Arif, coba bilang sama Cik kamu dulu biar mau memandikan.
Ya, Pak. Bu Ana meninggalnya mendadak.
[pria] Ini sudah kematian ketiga, Pak.
Tak ada yang berniat melaporkan?
Keluarganya tidak ada yang mau melapor.
Jenazahnya belum disentuh, 'kan?
Saya boleh lihat?
Sebentar ya, Pak.
Bim.
Sebentar, Bim.
Pak Drajat mau lihat jenazah ibu kamu, boleh, 'kan?
Tapi Ibu meninggalnya tidak ada hubungannya sama polisi, Pak.
Bukan pembunuhan.
Saya lihat langsung meninggalnya.
[Pak Drajat] Saya cuma curiga karena ini sudah kejadian ketiga.
Jadi, nanti kalau ada apa-apa, kita bisa bawa ke rumah sakit
untuk diotopsi jenazahnya.
Tidak usah, Pak.
Saya cuma menunggu Cik Lela untuk memandikan Ibu.
Ibu pasti juga tidak setuju.
[musik muram]
- Pak, duduk dulu. - Ya.
[lonceng jam berbunyi]
[suara Bu Ana] Lela.
Tolong saya, La.
Lela.
Tolong saya, La.
[musik mencekam]
- [Lela merintih] - Lela. Tolong saya, La.
[musik mencekam memudar]
[memekik] Tolong saya!
[menjerit]
Cik.
[terengah]
Cik kenapa?
[suara bergetar]
Aku tadi habis dari rumahnya Bimo.
Ada Pak Drajat juga.
Katanya jenazah Bu Ana mau diperiksa.
Tapi, Bimo mau jenazahnya dimandikan dulu sama Cik Lela.
Diperiksa?
Memangnya Bu Ana meninggalnya kenapa?
Bimo tadi cerita kalau…
Kalau Bu Ana, sebelum meninggal, dia muntah darah.
Sama kayak Ibu.
[musik menegangkan]
Kalau kamu tahu
Bu Ida meninggalnya kenapa?
Memang Ibu tidak cerita?
Cik.
Tutup semua pintu, Rif.
Jangan biarkan sebarang orang masuk.
[napas memburu]
Cik.
[gumaman warga]
Cik Lela.
Terima kasih banyak, Cik.
Kalau Bimo mau ikut memandikan,
nanti bisa masuk setelah aku bersihkan jenazah Ibu.
[terisak pelan]
Cik Lela saja.
Saya takut tidak kuat.
Bismillahirrahmanirrahim.
[musik menegangkan]
[Lela menjerit]
[bernapas berat]
Astaghfirullah.
Astaghfirullahaladzim.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Aku berniat memandikan jenazah wanita ini
karena Allah Ta'ala.
Amin.
Bismillahirrahmanirrahim.
[musik menegangkan makin intens]
[Lela terengah-engah]
[musik menegangkan mereda]
[mengerang]
[musik mencekam]
Allah beri rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad
dan keluarga Nabi Muhammad.
Allah beri rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad
dan keluarga Nabi Muhammad.
[Lela menjerit]
[merengek]
[tersedu] Astaghfirullahaladzim.
[musik mencekam makin intens]
[terengah]
[mengerang]
[terkesiap]
[merintih] Tidak kuat.
[musik mencekam]
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
[makin lantang] Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama Rasulullah.
Dengan nama Allah dan atas nama agama…
Tolong saya.
[menjerit]
[terisak-isak]
[warga] Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
- Laa ilaha illallah. - [Marbut] Pak RT, duluan.
- Laa ilaha illallah. - Iya, Pak.
- Laa ilaha illallah. - Bu Terry, sebentar, Bu.
Ini, Pak Polisi mau bertanya sebentar ke Bu Terry.
Tanya apa ya, Pak?
Hubungan Ibu dengan para almarhumah 'kan termasuk dekat.
Apakah akhir-akhir ini ada…
permasalahan, pertengkaran, atau permusuhan?
Aduh, saya ini tidak terlalu dekat, Pak.
Jadi, jangan tanya saya, ya.
[melalui pelantang] Inna lillahi.
[musik mencekam]
Kayaknya dari kampung sebelah, Pak.
Mari.
[musik berhenti]
[Rika] Sudah 'kan, Rif?
[Arif] Sudah, Cik.
Saya tinggal membereskan perkakasnya.
[Rika] Oke. Rumahnya saya kunci, ya.
- Duluan ya, Rif. - Ya, hati-hati ya, Cik.
Ya.
Cik Lela?
Kenapa?
Ada yang aneh?
Arif kalau sama kamu banyak mengobrol, ya?
Oh, tidak.
Cuma mengobrol sedikit kalau sedang memperbaiki kontrakan.
Cik Lela baik-baik, ya.
Pasti bebannya berat.
Saya duluan ya, Cik.
[musik menegangkan]
[musik memudar]
Pindahnya langsung hari ini, Bim?
Besok pagi, Cik.
Saya sudah janji ke Ibu
mau berangkat ke tempat Bude.
Mau cari kerja di sana.
Cik Lela.
Terima kasih sudah membantu.
Aku minta maaf ya, Bim, soal semalam.
Aku datang terlambat.
Tidak apa-apa, Cik.
Hampir saja Ibu dibawa ke rumah sakit untuk otopsi.
Untung Cik Lela datang.
Walaupun saya pikir
apa saya salah, ya, tidak mau mencari tahu kenapa Ibu meninggal?
Tapi, Cik Lela mengerti, 'kan?
Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.
Tidak ada siapa-siapa, Cik.
Walaupun ada yang aneh.
Aneh?
[musik mencekam]
Aneh bagaimana, Bim?
Sebelum meninggal…
Ibu memanggil nama Bu Nur.
Dan sudah sering Ibu memanggil nama Bu Nur.
Bu Nur siapa, Bim?
Cik Lela ingat
dulu kita tamasya ke Kebun Raya. Kita masih kecil.
Yang ketutup tangan siapa, Bim?
Itu Bu Terry, Cik.
Kalau ini, ini Bu Nur.
Yang Ibu sering sebut namanya, Cik.
Saya juga tidak tahu kenapa.
Ibu selalu tidak mau cerita.
Sekarang dia di mana?
[menghela napas]
Bu Nur sudah lama tidak tinggal di kampung ini dari kita kecil, Cik.
Katanya dulu mereka dekat sekali.
Terus, ada masalah.
Saya tidak tahu pasti, Cik.
Cuma, saya dengar
ada hubungannya sama almarhum bapak saya.
Dan sama para suami yang lain.
Cik, sebentar ya.
[musik menegangkan]
[berbisik] La.
Ini ada yang aneh, La.
Ibu Ana, Ibu Ida, ibu kamu.
Semuanya meninggal tidak wajar, La.
Ada banyak darah di mana-mana, La.
Saya yakin, ini pasti disantet.
[musik mencekam]
Ibu yakin?
Ya!
Saya lihat langsung pas Bu Ida keluar darah dari hidung dan matanya.
Percaya sama saya, La.
[musik makin intens lalu berhenti]
[musik menegangkan]
SITI RODIAH
[mendengus]
[menahan muntah, batuk]
[muntah]
[batuk-batuk]
[terengah-engah]
[mengerang]
[terengah-engah]
[musik mencekam]
[terengah]
[musik mencekam makin intens]
[suara kawat dicabut]
[terisak]
[musik mencekam makin intens]
[Lela berteriak]
[geraman marah]
[suara menghantam]
[meraung-raung]
Tolong!
[Marbut masjid melalui pelantang] Diberitahukan kepada seluruh warga
untuk melaporkan kegiatannya semalam.
Karena diduga ada yang membongkar kuburannya almarhumah Ibu Ida.
Ibu Ida diacak-acak. Maksudnya kuburannya diacak-acak.
Ditunggu semuanya.
Terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
[menghela napas]
[musik mencekam berhenti]
[suara pintu digedor]
[musik mencekam]
[suara wanita] La?
Kamu sedang apa di sini?
Bu Tutti.
Saya sedang cari informasi soal Bu Nur.
Ini 'kan yang bernama Bu Nur?
Kamu tidak usah mengungkit soal dia.
Bimo bilang, sebelum ibunya meninggal,
Bu Ana menyebut nama Bu Nur.
Kenapa, Bu?
- Kasih tahu saya. - Dia orang jahat.
Dia merusak rumah tangga semua orang.
Termasuk orang tua kamu.
Kamu tidak tahu, 'kan, bapak kamu di mana selama ini?
[bisikan samar]
- [Bu Tutti merintih] - [musik mencekam]
Bu.
- [merintih] - [bisikan berlanjut]
Ibu kenapa, Bu?
[Bu Tutti menjerit]
Bu!
- Jangan, Bu! - [bisikan berlanjut]
Bu!
[menjerit] Bu Tutti!
Bu, jangan, Bu!
- Bu! - [bisikan makin kencang]
Bu! Bu Tutti!
[Bu Tutti] La?
La?
La? La!
Lela!
Kamu sedang apa di sini?
Ibu tahu apa tentang Bu Nur?
[terengah-engah]
Saya dengar kabar tadi Bimo ke makamnya Bu Ana,
dia lihat kuburannya Bu Ida dibongkar orang.
[musik makin intens]
Sudah. Kita mesti pergi dari sini.
Nanti dilihat orang.
Ayo, La.
[musik mencekam berhenti]
Assalamu'alaikum.
Cik?
[musik menegangkan]
Cik?
[Lela] Rif.
Cik ke mana semalam?
[terbata-bata]
Ini apa, Cik?
- Cik gali kuburan orang? - Sst.
Jawab, Cik.
Aku mau memastikan kenapa Ibu menutupi kematian Ibu Ida. Sudah.
Cik itu harus ingat, Ibu mengajari Cik untuk jadi pemandi,
bukan buat begini, Cik.
Ini semua tidak ada yang kebetulan, Rif.
Ibu belum waktunya meninggal.
Mereka semua korban, Rif.
Lalu kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja?
Serahkan saja semuanya ke mereka!
Ini semua tidak ada hubungannya dengan polisi, Rif.
Genteng bocor.
Kawat ini.
Ini aku temukan di mulut Ibu.
Di semua jenazah-jenazah itu, Rif.
Bagaimana kalau memang Ibu, Ibu Ida, Ibu Ana, mereka disantet?
[gedebuk]
Hah?
Bu Terry!
[Bu Terry] Hei, Bu Rina, saya kasih tahu ya.
Ibu Ana, Ibu Ida, Ibu Siti,
itu meninggalnya kena santet.
Ih, seram sekali.
Saya dengar sendiri dari Lela.
Ini.
- Terima kasih, Bu. - Ya.
- [Bu Nani] Permisi, Bu. - Bu Nani, sini, deh.
Di kampung kita ada gosip.
- Gosip apa? - Ada santet.
Tidak usah membahas hal seperti itu. Nanti jadi fitnah.
Kampung kita jadi tidak aman sekarang. Bagaimana dong, Pak?
Sudah, pokoknya Ibu-Ibu tenang. Tidak usah dibahas, ya?
Pak RT kalau diberi tahu tidak percaya ya, Bu?
Iya.
Bu Reza. Bu Reza sudah tahu belum gosip di kampung kita?
Jangan-jangan korban selanjutnya kita, Bu.
- Tidak. Kamu saja duluan. - Seram.
Banyak-banyak berdoa. Kalau tidak nanti mati satu-satu.
[semua mengeluh] Tidak mau!
- Bu. - Pak.
- Baru pulang? - Iya, nih.
- Semua pulang saja dulu. - Ayo.
- Kenapa? - Permisi ya, Pak.
- Ke mana? - Pulang dulu, Pak.
Pulang?
Tumben pada kumpul-kumpul. Ada apa?
Itu, Pak, membahas santet.
'Kan kampung kita ini sudah banyak santet.
Ya sudah. Nanti kalau ada yang dibeli, kabari saya, ya.
- Ya, nanti saya kabari. - Makasih.
- Eh, Rika, sini deh. - Kenapa, Bu?
Ka, kamu tahu tidak, kalau warga kampung kita ini mau disantet semuanya.
Cik Rika pernah dengar tidak, wanita bernama Bu Nur?
Dia itu pernah tinggal di kampung kita.
Katanya, dia itu pelakor.
Ibu-Ibu di kampung sini semua jadi janda karena dia.
- Kita jadi takut. - Hati-hati saja, ya.
Saya, kalau suami saya selingkuh,
yang salah suami saya, bukan orang lain.
Ya?
- Tidak bisa dinasihati. - Iya, ya?
Ibu bagaimana sih? Menyebar gosip bahwa yang menyantet Bu Nur.
Kenapa kamu menyalahkan saya?
Bu.
'Kan kamu yang bilang
orang-orang meninggal di kampung ini karena disantet.
Saya tahu, Lela, apa yang kamu tanya ke Bu Tutti soal Bu Nur.
Saya cuma tanya.
Saya juga tahu apa yang ada dalam pikiran kamu soal Ibu Nur!
- Saya cuma tanya, Bu! - Lela!
Ini sebenarnya ada apa, sih?
Kamu kenapa menyebarkan berita ke orang-orang?
Menyebut nama Bu Nur. Kenapa?
Kok saya? Bu Terry.
Enak saja, kenapa saya?
Sudah!
Kalau ada apa-apa, lain kali cerita ke kami.
Tugasnya polisi apa, Pak?
Lela.
Bu Nur itu sudah meninggal.
Benar, dia pernah tinggal di desa ini.
Dia janda anak satu. Anaknya perempuan.
Mungkin sekarang seumuran kamu.
Tapi, dia sudah meninggal, La, bunuh diri!
Buat apa kamu mempermasalahkan orang yang sudah meninggal?
Terus sekarang anak perempuannya di mana? Di mana, Pak?
Lela.
Ikut saya sini.
Lela.
Lain kali, kalau ada apa-apa,
bilang ke saya.
Jangan bertindak sendiri. Jangan ceroboh.
Mengerti?
[deru mesin motor]
Bu.
Kita belum selesai.
[Bu Terry menggeram]
[Bu Terry menarik napas dalam]
[mengerang]
[suara serak] Tolong saya, Lela.
Mereka menuduh saya merebut suami mereka.
Mereka menuduh saya merusak rumah tangga mereka.
Bu Nur?
Kamu mau dengar cerita sebenarnya?
Apa?
[tercekat]
[menggeram]
[parau] Pergi kamu dari kampung ini!
Dasar perempuan perebut suami orang!
Pergi kamu! Janda gatal!
Keluar kamu dari kampung ini!
Mati. Mati. Mati!
Mati!
Mati!
- [Lela terengah] - [Bu Terry menggeram]
[suara serak] Tolong percaya saya, Lela.
Tidak.
Ibu memang pantas mati!
[Bu Terry menggeram]
Pergi!
Percaya dengan saya.
Ini semua bukan salah kami! Ibu pantas mati!
[menggeram]
[musik mencekam berhenti]
Bu.
Bu Terry?
Bu.
Bu.
Bu.
[musik mencekam]
Cik.
Astaghfirullahaladzim.
Ini apa, Cik?
Aku yakin.
Ini, ini, ini nih.
Jaket ini, semua bukti ini. Aku benar, Rif.
Kenapa belum dibakar, Cik?
Ya… ini buktinya, Rif.
Cik sudah gila.
Rif, sebentar, Rif.
Cik!
Cik sadar tidak, orang-orang di kampung semuanya membahas ini, Cik!
Memang Cik sudah yakin?
Cik, ingat.
Satu hal yang Cik bicarakan itu, itu bisa menyebar jauh lebih buruk.
Aku tidak mau menyebarluaskan, Rif.
Aku cuma mau cari tahu siapa yang sudah bikin Ibu meninggal.
Hati-hati, Cik.
Jangan bikin almarhum Ibu dan yang lainnya jadi tidak tenang.
Di sini aku juga tidak tenang, Rif!
Terus aku harus apa? Aku harus diam saja, Rif?
Tidak! Tidak bisa, Rif!
Bukan seperti itu, Cik.
Cik ingat tidak, omongan Ibu?
Ingat, tidak?
Terus aku harus cerita ke siapa, Rif?
Kamu selama ini tidak ada buat aku.
Semenjak Ibu pergi kamu menghilang. Kamu tidak peduli, Rif!
Aku berduka sendirian, Rif!
Ibu itu sudah tidak ada dan dibunuh!
Coba. Ibu dibunuh, Rif!
- Aku tidak bisa ikhlas! Tidak bisa! - Istighfar, Cik!
Tidak bisa! Ibu itu dibunuh… Ibu itu…
Ibu sudah tidak ada.
[terisak]
[musik sendu]
Aku selalu peduli sama Ibu.
Semua hal di rumah ini,
semua hal di kampung ini selalu mengingatkan aku sama Ibu.
[musik sendu makin intens]
[menangis]
Ibu dibunuh!
[Lela meratap] Ibu dibunuh!
Ibu.
[musik mencekam]
[angin bertiup kencang]
[musik mencekam makin intens]
[tercekat]
[batuk]
[musik mencekam mereda]
[musik berubah muram]
[warga] Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
[terisak] Laa ilaha illallah.
[musik mencekam]
[menjerit]
Tolong!
[suara dalam benak Lela] Tolong!
[terkesiap]
[terengah-engah]
Darahnya Bu Ida?
Bu Ida kenapa, Bu?
Sst.
[Bu Terry] Ibu Ana, Ibu Ida, ibu kamu.
Semuanya meninggal tidak wajar, La.
Saya yakin ini pasti disantet.
Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.
Sebelum meninggal,
Ibu memanggil nama Bu Nur.
Dan sudah sering Ibu memanggil nama Bu Nur.
Lela, Bu Nur itu sudah meninggal.
Benar, dia pernah tinggal di desa ini.
Dia janda anak satu. Anaknya perempuan.
Mungkin sekarang seumuran kamu.
Tapi dia sudah meninggal, La, bunuh diri!
[Lela terengah]
[terisak]
[suara pintu dibuka]
[musik menegangkan]
[pintu berderit]
[suara warga di kejauhan]
[gedebuk]
[ketukan]
[ketukan]
[musik mencekam]
[musik menegangkan]
[gemetar]
[musik mencekam makin intens]
[musik menegangkan]
[angin melolong]
[pintu terbanting terbuka]
[tercekik]
[mengerang]
[teriak]
[napas berat]
Bu Terry!
[terengah-engah]
Bu!
Bu?
Bu Terry.
[menjerit]
[mengerang]
[mengerang]
Tolong.
Tolong!
Tolong!
[merintih]
[pintu terbanting]
- [berderak] - [menangis]
[napas memburu]
Tolong.
[pintu digedor]
[merintih]
[derak kayu]
[menjerit]
[merintih]
[bisikan samar]
[menjerit]
Ibu benar, Bu. Ini semua ada hubungannya sama Bu Nur.
Saya bawa buktinya.
Aku ada buktinya, Bu.
Bu Terry.
[musik mencekam intens]
[suara dalam, serak] Siti! Kamu harus tahu sesuatu.
Siti. Kamu harus tahu sesuatu.
Saya dengar suami kamu sedang pergi dengan perempuan itu.
Saya tidak tahu kenapa suami saya berubah sekarang.
Tapi, Bu Ida bilang
perempuan itu memang menggoda suaminya juga.
Tolong saya Bu Ana.
[dentuman musik]
Bu?
[suara dalam, serak] Perempuan itu menggoda suami kita semua.
[musik mencekam intens]
Bu Ana?
[terisak]
[suara pintu tertutup]
[menjerit]
Tolong buka!
[terisak kencang]
[tersedu-sedu]
[menjerit]
[menangis]
[menjerit kesakitan]
[menjerit]
Bu Tutti?
Dia harus mendapatkan pembalasannya!
[Marbut masjid melalui pelantang] Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia Ibu Tutti Alabiya
binti Padma jam dua belas malam.
[suara rendah, serak] Ini dosa mereka.
Jangan jadi dosamu.
[tertawa menyeramkan]
[musik mencekam memudar]
[menghela napas]
Aku berniat karena Allah Yang Maha Tinggi.
Bismillahirrahmanirrahim.
[musik mencekam]
[terkesiap]
Ya Allah.
[musik mencekam makin intens]
[bernapas berat]
[kertak tulang]
[suara tulang remuk]
[tercekat]
[suara kawat dicabut]
[merintih]
[napas cepat]
[mendesis]
[Lela menjerit]
Kenapa ada…
[menjerit]
Tolong saya, La.
[Lela menjerit]
Tolong saya, La.
Badan saya sakit semua, La.
[mendesis]
- [mengerang] Ibu! - Tolong saya!
- Tolong saya, sakit semua, La. - Tolong saya, La.
Badan saya sakit semua, La.
Tolong saya!
[teriakan tumpang tindih]
[berteriak]
[tercekik]
Lela?
[pintu diketuk]
[Drajat] Lela?
Jenazahnya harus kami bawa, Lela.
[pintu diketuk]
- [mengerang] - Lela?
- [mengerang] - [pintu digedor]
Buka pintunya, La!
[mengerang]
[menjerit]
La!
Buka pintunya, La!
Lela!
Lela?
- [terengah-engah] - Lela.
Lela?
Lela?
Ini jenazahnya harus segera diotopsi.
Kamu menyembunyikan sesuatu, ya?
Saya belum selesai memandikannya.
Belum selesai membuang barang bukti?
Ini harus segera dibawa ke rumah sakit!
Dan kali ini tidak ada keluarga yang bisa menolaknya.
Tolong, Pak, saya harus menyelesaikannya, Pak.
Cuma kamu yang bisa melihat jenazah dari dekat.
Kamu tahu sesuatu?
Kamu mendengar sesuatu?
Saya tahu semuanya.
Dia pelakunya.
[musik menegangkan]
Anaknya Nur.
Perempuan yang dibenci,
yang diusir dari sini.
- Astaghfirullahaladzim. - [riuh]
Kamu 'kan, pelakunya, Rika?
[Drajat] Sudah, sudah! Tenang!
Jangan saling tuduh.
Jenazahnya akan segera saya bawa untuk diotopsi terlebih dahulu.
[obrolan samar]
Ibumu itu perebut suami orang.
Apa salah kami?
Apa salah ibu saya?
Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!
Cik Lela, sudah.
Cukup ini jadi dosa mereka.
jangan sampai jadi dosa kamu.
[warga] Laa ilaha illallah.
Laa ilaha illallah.
- Cik, istighfar, Cik! - Awas!
[warga] Pak!
[jeritan]
[obrolan samar]
[jeritan]
- Tolong. - [obrolan samar]
[jeritan massal]
[semua berbicara bersamaan]
Astaghfirullahaladzim.
[kepanikan warga]
[musik mencekam]
[jeritan melengking]
[pria] Ayo, sedikit lagi!
Bismillahirrahmanirrahim.
Allahu Akbar.
La.
Jadi, benar Rika pelakunya?
[musik menegangkan]
[massa berteriak marah]
[napas berat]
[massa berteriak marah, pintu bergemerincing]
- [warga] Buka! - [pintu digedor]
[warga] Pelacur! Ayo!
Buka!
[suara pecahan kaca]
[massa berteriak marah]
Keluar!
Keluar!
- [pintu bergemerincing] - [tersedu]
[suara Rika kecil menangis]
[pintu didobrak]
Keluar kamu!
[Rika menjerit]
[Rika berteriak]
[suara pukulan]
[musik mencekam]
Ibu!
- [Nur menjerit] - [massa berteriak marah]
Tolong berhenti.
[Nur menjerit]
[wanita] Mampus, kau!
[Nur menjerit]
[suara pukulan]
[suara pukulan]
[Rika kecil menangis] Tolong berhenti!
[Nur menjerit]
Ibu!
[wanita] Rasakan!
[massa berteriak marah]
[Nur berteriak kesakitan]
[terisak] Berhenti!
[suara samar] Hajar, Bu.
Berhenti!
Berhenti!
Bertahun-tahun yang lalu, kalian lakukan ini ke ibu saya!
Menghakimi ibu saya sesuka hati kalian!
Sampai ibu saya menderita sampai akhir hayat hidupnya!
[terisak]
Ini memang dosa saya.
Tapi kalian…
dan mereka…
bagian dari dosa ini.
[wanita] Alah!
Kamu ini memang pembunuh!
Sama saja sama ibu kamu!
[massa berteriak marah]
[teriakan redup]
[musik sendu]
Lel.
Nak.
Hentikan, Lel.
Hentikan.
[massa berteriak marah dari jauh]
Berhenti!
[massa berteriak marah]
Berhenti!
[suara pukulan]
[suara pukulan bergema]
[musik sendu]
[menjerit] Arif!
[menangis, berteriak]
Rif!
Rif!
- [menangis] - [guntur bergemuruh]
Arif!
[hujan turun]
[isak tangis]
Rif!
[warga] Hujan! Hujan!
[Lela meraung]
Jangan meninggalkan Cik Lela, Rif.
Rif!
Rif!
Arif, bangun!
[Lela menangis]
Rif!
[musik sendu]
[Marbut masjid melalui pelantang] Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah berpulang ke rahmatullah Ibu Murni binti Salim
jam 09.30 tadi pagi
di kediamannya.
Allah beri rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad
dan keluarga Nabi Muhammad.
Laa ilaha illallah.
[musik mencekam]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.