All language subtitles for Pamali.Dusun.Pocong.2023.INDONESIAN.WEBRip.NF.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Stetoskop kamu sudah?

- Yang ini, hati-hati, ya. - Sudah, Mbak.

Ini ada obat-obatan soalnya.

Hati-hati, jangan...

Infus-infusnya sudah, Put?

Harusnya sih, sudah Mbak. Aku cek lagi, ya.

Tunggu siapa, Mang?

Dua orang lagi, yang gali kubur.

Kayaknya gak ada yang kirim gali kubur, deh, dari kantor. Ya? Enggak ada.

Ini bukan dari kecamatan.

Dari Desa Cidukuh ini mah.

Memangnya Neng-Neng mau nguburin mayat-mayat di sana?

Saya mah cuma disuruh nganter aja.

Nanti kalau sudah, saya pulang lagi.

Ya sudah, deh, saya tunggu di perahu aja.

Stop!

Aduh...

Assalamualaikum!

Wa'alaikumsalam.

Maaf!

Mang, maaf sekali telat, Mang.

Tadi dapat infonya dadakan dari Bu Kades.

Untung tukang ojeknya namanya Rosman. Jadi, bisa ngebut kayak Rossi.

- Ayo. Sini barangnya. - Yuk.

Nanti saya pulang kesorean.

Yang ini hati-hati, Mang. Ada baju saya.

- Sudah, Put? - Sudah, Mbak. Aman.

- Masuk aja, Mbak. - Dibantu?

Bisa, Mbak?

Ayo, Neng. Naik, Neng.

Bisa, Mbak. Mbak naik duluan.

Neng mau dibantu?

Pelan-pelan. Ayo.

Maaf.

Saya Mila.

My love?

Mi-la.

- Oh, Mila! Bagus namanya. - Makasih.

Tapi bagusan my love.

- Cecep. - Puput.

- Pada duduk. - Ya, Mang.

Puput, salamin buat Mila.

Mila, dapet salam dari saya.

Teh. Cecep, Teh.

- Gendis. - Gen...

- Gendis. - Gendis?

Orang mana? Gendis namanya aneh.

Saya Deden.

KOTAK MEDIS

Teh, mau dibantu?

- Ya, boleh, Mang. Makasih, ya. - Ya, sama-sama.

Makasih, ya, Mang.

- Mang Yusuf. - Ya?

Ini kira-kira kita perjalanannya berapa lama, ya?

Yah, tiga jam jalan kaki, lah, Neng.

Gila!

Gila, dekat.

- Boleh minta tolong, ya? - Ya.

Terima kasih banyak.

Makasih, Mang.

Den, kamu kuat tiga jam?

Bisa, lah.

- Ya sudah, aku di depan. Sial. - Eh!

- Hati-hati. - Ya.

- Ini, pegang. - Ya.

- Mang, hati-hati. - Ya.

- Puput! - Enggak apa-apa!

- Kenapa? - Beneran?

Teteh gak apa-apa?

Enggak apa-apa? Teh, sakit kakinya?

- Ayo. - Enggak apa-apa, kok, Mang.

Ya sudah, kita istirahat dulu, ya? Istirahat, ya?

- Kamu duduk di sini dulu, deh. Duduk. - Iya.

- Silakan, pada duduk aja dulu. - Bisa, gak, Put?

- Kaki kamu gak kenapa-kenapa? - Ya, gak apa-apa, Mbak.

- Maaf. - Minum dulu.

- Enggak apa-apa, Mbak. Aku ada. - Ambil aja.

Makasih, Mbak.

Lurusin dulu aja.

Enggak keseleo, 'kan?

Enggak, Mang. Enggak apa-apa.

Mang, ini buat apa?

Enggak tau.

Sudah lama ini.

Dari dulu juga ada.

Ayo, kita sudah masuk desanya, Neng.

- Aman, Cep? - Aman, Den.

Masih jauh, ya, Mang?

Di sebelah sana balai desanya.

Gila. Sepi amat ini, Mang.

Warganya pada ke mana?

Sebagian pada ngungsi,

sebagian lagi dirawat.

Di bekas pabrik yang sudah gak kepake.

Butuh bantuan, Den?

Aman, Teh.

Mang, itu pintunya kenapa ditandain gitu?

Oh, itu tandanya rumahnya sudah kosong.

Penghuninya sudah pada meninggal.

Teh, pagi ini yang sakit nambah tiga orang.

Total yang sakitnya ada 17 orang, Teh.

Yang meninggal berapa, Jat?

Dihitung-hitung, 52 orang, Teh.

- Eh, Mang. - Anis.

- Jat. - Mang.

Ini Mamang anter anak-anak nakes yang mau bantu-bantu.

- Halo. - Ya.

- Mari. - Mari.

- Mari, Teh. - Silakan.

Silakan.

Nah. Begini keadaannya.

Sudah sebulan, lah...

wabah muncul di desa ini.

Sudah hampir semingguan lebih juga

mereka nunggu pertolongan datang.

Neng.

Ini kayaknya virusnya itu nular lewat kulit.

- Jadi, kalau bisa jangan sentuhan. Ya? - Ya.

Ini semuanya hati-hati, ya?

Kalau bisa mah, jangan sentuhan. Ya?

Mbak. Banyak banget korbannya, Mbak.

Di ruangan sebelah lebih banyak lagi, Neng.

- Ayo, Neng. - Ya.

Ayo.

Mati lagi.

Baunya bisa sampe keluar kayak begini.

Nah.

Ini sebagian jenazah yang belum dikuburkan.

Itu disimpannya di ruangan ini.

Biasanya Mang Ujang yang menguburkan.

Tapi sekarang dia...

Innalillahi...

Belum, masih hidup.

Alhamdulillah.

Tapi sekarang, kondisinya memang sedang kritis, dia.

Tadi ada di ruangan sebelah.

Ayo, Neng, Mamang anter ke tempat istirahat kalian.

Put, ayo.

Ya, Mbak.

Kalian nanti yang perempuan,

itu tidurnya di ruangan ini, ya?

Silakan diatur-atur aja gimana nyamannya.

Makasih, Mang.

Maaf kalau tempatnya berantakan. Seadanya.

Enggak apa-apa, Mang. Makasih. Ini sudah cukup.

Kalau kita berdua di sebelah mana, Mang?

Dikira bakal dapat kamar dekat perawat.

Ternyata dekat kuburan.

Mana gak ada sinyal, lagi.

Cep. Lihat, Cep.

Ada peta segala.

Gila. Canggih, lo.

"Tata Cara Penguburan Jenazah."

Saya mah sudah bisa.

Cep, berarti ini mayat-mayatnya sudah tiga hari belum dikubur?

Pantesan baunya...

Jangan asal ngomong, Deden.

Baru tiga hari aja sudah banyak banget korbannya, ya?

Seram sekali.

Astaga. Ini gimana tidurnya?

- Put. - Ya, Mbak?

Kapur barusnya ada?

Bentar, Mbak.

Ada, Mbak. Perlu berapa bungkus?

Dua kayaknya cukup.

- Makasih, Put. - Ya, Mbak.

Mbak Mila.

Mbak tau, gak, ini virus apa?

Aku soalnya belum pernah lihat penyakit kayak gini sebelumnya.

Enggak tau, Put.

Mbak Gendis juga kayaknya belum tau.

Kita lihat aja, ya?

Soalnya, Mbak...

Tadi di kamar mayat, aku sempet mikir,

jangan-jangan di antara mereka masih ada yang hidup, Mbak.

Soalnya selama ini, mereka kayaknya benar-benar gak diurus.

Enggak usah takut.

Yang penting jangan lupa jaga jarak.

Sama sarung tangannya jangan lupa dipake, ya?

Ya, Mbak.

Nanti kalau sudah selesai, nyusul, ya?

- Ya, Mbak. - Aku duluan.

Cep.

- Mbak, aku taro sini, ya? - Ya, makasih.

- Nanti aku balik lagi. - Ya.

Den, sekarang kita pasang talinya kayak gitu, ya.

Ya.

Cep, talinya jangan lupa, Cep.

Iya, sudah.

- Den. Tolong, Den. - Ha?

Aduh...

Istirahat dulu, lah. Istirahat.

Malah istirahat.

Baru dapet lima kita, Cep.

Masih ada dua lagi.

Sebentar, Deden. Istirahat dulu.

Lanjutlah, Cep, kerjanya.

- Den. - Ha?

Tadinya, ya, kalau aku gak disuruh ke sini,

aku mau kerja di Jakarta.

- Kerja kantoran, Cep? - Gali kuburan juga, Den.

Tapi, 'kan, setidaknya orang kota yang aku kubur.

Gila, pengen mandi aku.

- Bau, ya? - Ya.

Memangnya mau saingan sama mayat?

Hei! Gila kamu, Deden!

Apa?

- Hei. - Apa?

Kita lagi di tengah kuburan.

Di kampung orang-orang yang kena wabah.

Jaga mulut, jaga sikap, Deden.

Iya...

"Iya?"

Lanjutlah, Cep, kerjanya.

Cep, lanjut kerjanya, Cep.

Den...

Berhenti dulu.

Apa, Cep?

Apa, sih, Cep?

- Deden! Berhenti dulu. - Apa?

Apa?

Kayak ada yang siul.

Siul?

Itu.

Kamu dengar, 'kan?

Ayo, Cep. Ayo.

Ayo, Cep.

- Jat. - Ya, Mang?

Tandain, Jat.

Sudah kosong, Mang?

Sudah.

- Mari, Jat. - Silakan, Mang.

Permisi.

Ada orang?

Kubur...

Mang Ujang...

Kubur...

Mang Ujang...

- Puput! - Mang Ujang!

Puput!

Mang? Mang Ujang?

Mang Ujang.

Mang?

Hari ini sudah empat, Put, yang meninggal.

Kamu gak apa-apa, 'kan?

Engak apa-apa, Mbak.

Enggak kena, 'kan, Put?

Enggak. Enggak kena, Mbak.

Enggak apa-apa.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

Den, diam, ah...

Siapa?

Siapa?

Den?

- Deden? - Ya?

Bangun, Den, ada yang datang.

Ada yang datang.

Siapa yang datang, Cep? Orang kita di kuburan.

Makanya, Den.

Den?

Siapa?

Siapa, ya?

Siapa itu?

Cep.

Ngapain, sih, kamu?

Dingin, Cep. Ayo masuk.

Kamu mengagetkan saja.

Neng.

Ya, Bu.

Tadi Neng lihat ada suster pada datang ke bangsal.

Ibu mau, ya, diobatin di sana?

Ibu di sini aja, Neng.

Ya, Pak. Sebentar, ya, Pak.

Ya, Pak. Pak...

Saya sekarang masih sibuk.

Dan peraturan kami itu, kami gak bisa satu-satu gitu ke rumah kamu.

Ibu kamu yang harus dibawa ke sini, sama kayak pasien-pasien yang ada di sini. Ya?

Iya, Teh, tau.

Tapi memang ibunya yang gak mau dibawa ke sini.

Tapi, 'kan, semalam kamu keluar. Masa lupa, Deden?

Namanya juga orang ngantuk, Cep. Gimana mau ingat?

Tapi kamu dengar, 'kan, ada yang gedor-gedor pintu?

- Mimpi kali kamu? - Mimpi kali, ya?

Cep, Den.

Jenazah Mang Ujang yang semalam meninggal sudah kalian kuburin?

Aduh, kalau Mang Ujang belum, Mil.

Soalnya kita mau nguburin dulu yang kemarin-kemarin.

Takut keburu busuk.

Ya.

Oh, ya.

Ya sudah, gak apa-apa.

Barusan ada yang datang lagi.

Sudah lumayan parah.

Astagfirullahaladzim.

Hati-hati, ya, Cep.

Den.

Ya. Terima kasih, Teh.

Mila.

Kamu juga hati-hati, ya.

- Mimpi mulu. Ayo. - Ayo, sekarang.

Boleh, gak, kalau misalnya Teteh aja yang ke rumah?

Sebentar aja.

Gini, ya, Dek.

Saya dan teman-teman saya di sini, kami kekurangan orang.

Kalau semua orang mau kayak kamu,

terus pasien-pasien di sini siapa yang nolongin?

Kasihan mereka. Ngerti, ya?

Tapi nanti ibu saya gimana, Teh?

Adek, gak bisa. Peraturannya gak bisa.

Rumah kamu memang di mana?

Agak jauh, Teh, dari sini.

Rumahnya paling ujung, yang di depannya ada tulisan "Warung Ceu Imah".

Enggak usah kepikiran ke mana-mana, ya?

Kita kekurangan orang, Mil.

Aku ke sananya bisa nanti, Mbak.

Habis jaga.

Saya yang butuh kamu di sini.

Cuma mikirin satu orang,

kamu ngelupain tanggung jawab sama yang lainnya?

Nama saya Mila.

Nama kamu siapa?

Eneng.

Neng di rumah memang tinggal sama siapa aja?

Berdua aja sama Ibu.

Bapak sudah meninggal seminggu yang lalu.

Ya sudah, gini saja.

Nanti sore,

Neng ke sini lagi jemput Kakak.

Terus nanti kita bareng-bareng ke rumah Neng, ngelihat Ibu.

Gimana?

- Makasih, ya, Teh. - Sama-sama.

Pak.

Pak!

Mila, antikejang.

Mbak. Infeksinya makin parah, Mbak.

Antibiotiknya sudah habis. Kita gak bawa banyak.

- Habis semua? - Habis semua.

- Mulutnya. - Mbak, antikejang habis.

Habis juga?

Tanpa obat-obatan yang cukup, mereka gak akan bertahan lama.

Kita gak tau kondisinya bakal separah ini.

Kebutuhan obat-obatan banyak juga, 'kan? Perban juga.

Mau gak mau, kita harus ngehubungin pusat, segera.

Minta kiriman obat dari mereka.

Cep, Den, kalian punya nomornya Mang Yusuf, 'kan?

Tolong bilangin sama dia, besok untuk balik lagi ke sini,

untuk bawa semua keperluan kita. Ya?

Atau hari ini aja kali, ya? Hari ini, deh.

- Aduh, Teh... - Apa lagi?

Bukannya gak mau ini mah, Teh.

Saya susah dapat sinyal kalau di sini mah.

Aku juga gak dapat sinyal.

Gini, ya. Saya minta tolong, boleh?

Kita, 'kan, lagi susah di sini.

Kebutuhan obat lagi banyak, dibutuhin. Orang-orang di sini tuh, butuh kita.

Kita gak bisa nolong orang-orang kalau misalnya

kita gak bisa hubungin Mang Yusuf.

Jadi, saya minta tolong, cari titik-titik sinyal di sekitar sini.

Ya? Boleh?

Ya, Teh.

Saya aja.

Dan saya juga gak mau kejebak di sini.

Siapa juga yang mau kejebak di sini?

Susah sinyal di sini. Kenapa, ya?

Rumah kamu masih jauh?

Lumayan, Teh. Masih di depan lagi.

Nanti ada WC umum atau musala dulu, gak?

Kenapa?

Teteh mau ke toilet?

- Ya. - Sini, Teh.

Sebentar, ya, Teh.

Teteh kalau misalnya mau ke toilet, di sini aja.

Ini rumah temannya Neng.

Tapi sekarang orangnya sudah gak ada.

Kalau misalnya ke rumah orang lain, pasti pada gak mau,

takut ketularan.

Toiletnya di sana, Teh.

Bentar, ya, Neng.

Sari?

Sari?

Neng?

Neng?

Neng, kamu di mana?

Neng!

Neng, kenapa? Ada apa, Neng?

Ada apa?

Jangan, Teh.

Apa?

Siapa itu?

Siapa itu?

- Teh Mila. - Neng?

- Itu tadi apa? - Enggak tau!

- Den, aku duluan, ya? - Ya?

Enggak kuat, pengen nyetor.

Ya sudah, kalau kayak gitu, aku pinjam ponsel kamu.

- Biar gak bosan. - Ya, tunggu.

- Terima kasih. - Kamu sekalian, ya, hubungi Mang Yusuf.

Ya.

- Jangan lama-lama, Cep. - Ya.

Cep, dapat sinyal, Cep!

- Den? - Ya?

Maaf, Den, bisa ambilin air?

Di sini kosong.

Ya, sebentar.

Mang Yusuf...

Den! Sudah, belum? Di sini keburu tinggi, nih.

Sebentar, Cep.

Tenang, Den.

Derajat manusia lebih tinggi daripada jurik.

Jangan takut.

Cep.

Cepetan, Cep!

Cepetan, Cep...

Cep, cepetan, Cep. Ada hantu, Cep!

- Den? - Cep!

Deden! Kamu kenapa, Den? Deden!

Cep! Kenapa, Cep?

Siulan tengah malam.

Pintu digedor-gedor.

- Pocong. - Mbak?

Enggak mungkin, 'kan, mereka tiba-tiba muncul gitu aja?

Cep, Den, kalian sudah pastiin talinya dilepas, 'kan?

Sudah, Teh. Sudah. Seratus persen yakin saya. Sudah, Teh.

Justru itu, Teh, yang paling pertama kita ingat.

Berarti...

Yah, mungkin sudah berhantu dari dulu, Teh.

Mungkin kita harus kuburnya lebih cepat?

Sebelum meninggal, Mang Ujang sempat mau ngomong sesuatu,

tapi aku cuma dengarnya "kubur".

- Kamu, sih, suka nunda-nunda kerjaan. - Ya!

Kayaknya memang benar, deh.

Kayaknya kita harus kubur semua mayat-mayat itu segera.

Ya?

Siap, Teh.

Mang Yusuf gimana?

Tadi saya sudah SMS, Teh.

Ya, terus? Gimana kabarnya?

- Enggak ada sinyal, Teh. - Deden!

Ya...

Sinyalnya cuma ada di sumur.

Kenapa gak dicari terus?

Terus kita gimana?

Ini Mila ke mana, ya?

Tadi apa, Neng?

Enggak tau.

Neng.

Ya, Bu.

Sebentar, ya, Teh.

Teh Mila.

Kamarnya di situ.

Yuk.

Kenapa, Teh?

Saya sudah bilang gak usah pergi. Kenapa tetap pergi?

Kamu gak usah gitu, ya, Put.

Kita tuh gak bisa nolong semua orang.

Jangan maksain.

Saya, lo. Saya yang bertanggung jawab atas kalian di sini.

Enggak pernah ada yang dengerin saya.

Ujung-ujungnya, saya juga yang harus nyamperin.

Teh, ya sudah, kalau Teteh gak berkenan, biar saya aja yang nyusulin Mila.

Kamu siapanya Mila?

Maaf, Teh.

Mungkin kita bisa susul Mila bareng-bareng gitu, Teh?

Ya. Ya, deh.

Kamu di sini jaga-jaga, ya?

Mbak, tapi...

Enggak, Put. Kamu di sini jaga-jaga kalau ada apa-apa.

- Tapi, Mbak... - Puput.

Ya, Mbak.

Ayo.

Terima kasih, Neng. Mari.

Tolong!

Tolong! Mbak Gendis! Tolong!

Mbak Gendis! Mbak Gendis, tolong!

Mbak Gendis!

Bu Imah...

Kita ke bangsal, ya, Bu?

Biar saya bisa jagain Ibu 24 jam.

Mau, ya, Bu?

Di sana ramai. Jadi, Ibu gak sendirian.

Ada teman-teman saya juga.

Jadi, kita bisa gantian jagain Ibu.

Nanti kita mati juga sendirian.

Neng.

Ya, Bu.

Kubur Ibu di tempat Bapak, ya, Neng?

Ibu mau satu liang sama Bapak.

Ibu gak boleh ngomong kayak gitu.

Ibu harus sembuh.

Kalau gitu, saya permisi, ya, Bu.

Obatnya jangan lupa diminum.

Ya, Neng?

Neng...

Neng gak perlu nganterin Teteh.

Beneran gak apa-apa?

Enggak apa-apa.

Tinggal lurus aja, 'kan?

Benar, Teh?

Ya, sudah malam soalnya.

Neng, ngapain siul malam-malam?

Itu cara buat ngehormatin orang yang sudah meninggal, Teh.

'Kan sekarang setiap hari ada aja orang yang meninggal.

Kamu kata siapa?

Kata Bapak sama Ibu.

Semua orang di desa ini juga kayak gitu, Teh.

Kalau payung?

Kenapa dibuka di dalam rumah?

Memang di bangsal gak ada, Teh?

Itu, 'kan, buat ngelindungin kita dari nasib buruk.

Bukannya itu pamali, ya?

Teteh balik, ya?

Hati-hati, Teh.

Makasih, Neng.

Mil...

- Pergi! - Mila! Tenang, Mil.

Mila. Ini saya, Cecep, Mil.

Mil, tenang, Mil. Minum dulu, Mil. Minum dulu.

Tenang, Mila. Tenang.

Kamu kenapa?

Kita nemuin kamu di hutan bambu.

Mil...

Mila.

Mil...

Pocong, Cep.

Aku ngelihat pocong, Cep.

Beneran, Cep. Aku ngelihat pocong. Aku gak bohong, Cep.

Saya juga pernah lihat, Mil...

di dusun ini.

Terus gimana, Cep? Gimana? Kita harus gimana, Cep?

- Cep, belum balik juga? - Belum, Den.

- Siapa? - Puput.

Dia gak ada pas kita sudah pulang.

Saya sudah cari ke mana-mana, Teh.

Tapi belum ketemu juga.

Teh Gendis di mana, Cep?

Puput!

Teh Gendis...

Astaga.

Tunggu.

Puput!

Mang Yusuf sudah ada kabar?

Belum ada kabar, Teh.

Telepon lagi.

Suruh datang hari ini juga.

A'uzu billahi minas syaitonir rojim.

Bismillahir-rahmanir-rahim.

Al-hamdu lillahi rabbil-'alamin. Ar-rahmanir-rahim.

"Maliki yaumid-din.

Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Ihdinas-siratal-mustaqim, Siratallazina an'amta 'alaihim gairil-magdubi...

Mau ke mana, Mbak Gendis?

- Mau ke mana? - Saya gak mau mati di sini.

Jenazahnya mau ditinggalin aja di sini, Mbak?

Puput sudah meninggal.

Puput sudah meninggal, Mila.

Dia sudah jadi korban.

Kamu tuh gak lihat? Nyawa kita terancam kalau kita makin lama di sini.

Enggak. Mbak bisa dengerin dulu, gak, kalau aku lagi ngomong, Mbak?

Kamu yang gak pernah dengerin saya!

Kamu gak pernah dengerin saya, Mila!

Puput meninggal gara-gara ulah kamu.

Kalau kamu dengerin saya...

Kalau kamu gak sok jadi pahlawan, Puput mungkin masih hidup sampai sekarang.

Ngerti?

Tapi bukan aku, Mbak.

Bukan aku yang tinggalin Puput sendirian di sini.

Teh.

Mang Yusuf sudah jawab.

Dia sudah di jalan.

Saya lebih baik nunggu di dermaga.

Terserah kalian mau ikut atau gak.

Neng! Eneng!

Kenapa, Bu?

Ibu gak apa-apa?

Ya sudah. Kalau gitu, Neng siapin makanan dulu, ya?

Neng!

Neng!

Di dalam atuh, Mil. Dingin.

Mudah-mudahan...

Teh Gendis sudah ketemu sama Mang Yusuf, ya.

Terus sudah dibawa ke kota duluan.

Mil...

Kamu masih kepikiran sama Puput?

Cep?

Cep?

Apa, sih...

Cep?

Sudah bangun, Den?

Ngapain, sih, gelap-gelap?

Cep?

Cep?

Cep?

Cep?

Cep...

Ada apa, Den?

Jurik, Cep!

Aku ketemu jurik!

- Den, sabar dulu. Ngomong pelan-pelan. - "Sabar"? Sabar, Teh?

Teteh gak mati kayak Puput.

Kamu juga gak ketularan kayak saya.

Den...

Saya gak mau mati, Teh.

Den.

Saya gak mau mati.

- Tenang, Den. Duduk dulu. - Pergi, Cep. Ayo.

- Ayo, Cep. Ayo. - Tenang, Den. Duduk dulu.

- Deden, tenang, Den. - Teh Mila.

Cep...

Neng, ngapain ke sini malam-malam, Neng?

Ibu, Teh...

Kenapa?

Ibu sudah gak ada.

Ayo. Sekarang, Cep!

- Kita harus pergi. - Teteh...

Kalau kamu gak mau, saya pergi sendiri!

Iya, Den. Iya, sabar.

Sabar? Kamu payah!

Ya, Neng, ya?

Ya? Ikut Teh Mila.

Ya?

Permisi. Pak? Bu?

Saya kumpulin warga-warga yang masih di rumah.

Tolong buka pintunya!

Kalian makamin Bu Imah sesuai amanah beliau.

Di makam suaminya.

Jangan lupa kabarin lagi Mang Yusuf.

Suruh dia jemput kita malam ini juga.

Kita harus pergi dari sini, Pak! Pak!

Permisi. Bu!

Bu, buka pintunya...

Kenapa, Teh?

Kok kepalanya di sini?

Tolong buka pintunya!

Kenapa, Teh?

Pergi dari sini. Ayo.

Halo? Mang Yusuf? Halo?

Ini Deden, Mang.

Ya, halo, Den.

Mang! Mang Yusuf sudah di mana?

Masih hujan di sini, Den.

Lagian juga ini sudah malam. Besok aja, ya, saya jemputnya.

Enggak bisa, Mang.

Ini darurat.

Kenapa, Den?

Den?

Halo, Den?

Deden!

- Kamu bodoh banget, Den. - Halo?

- Sebentar, Mang! - Halo, Den?

Deden dengar saya, gak?

- Halo? - Sebentar, Mang!

Den, dengar Mang Yusuf, gak, nih?

- Den, halo? - Sebentar, Mang.

Mang, jangan ditutup. Mang!

Halo?

Deden?

Halo, Den?

Deden? Halo?

Dengar suara saya?

Halo, Deden?

Mang Yusuf?

- Masih di situ? - Ya! Saya masih di sini, Mang.

Maaf. Maaf, Mang.

Pokoknya, Mang Yusuf harus ke sini sekarang juga, Mang.

Kenapa? Halo, Deden?

Mbak...

Mbak Gendis...

Jangan tinggalin aku, Mbak.

Puput...

Tolong!

Tolong!

Kok terbalik, ya?

"Pastikan kaki jenazah tepat di bawah nisan,

dan jangan sampai terbalik.

Bila melanggar, maka desa akan kena musibah."

Cecep!

Deden!

- Mil! - Mang Cecep!

Deden!

- Cecep! - Mil. Mila.

- Cecep. - Mil.

Ternyata saya yang salah, Mil.

Saya sudah ngelanggar adat di desa ini. Saya sudah ngelakuin pamali, Mil.

Kayaknya itu yang bikin pocong-pocong itu keluar.

Neng...

Maksud kamu apa?

Di sini, semua mayat dikubur terbalik.

Saya gak tau itu, Mil. Saya gak tau itu.

Warga sini punya pamali yang beda sama kita.

Put...

Kalau payung, Neng? Kenapa dibuka di dalam rumah?

Itu, 'kan, buat ngelindungin kita dari nasib buruk.

Ngapain siul malam-malam?

Semua orang di desa ini juga kayak gitu, Teh.

Mil, Eneng mana?

Neng mana?

Eneng mana? Kita harus jalan sekarang.

Panggil Deden juga.

Deden lagi coba hubungin Mang Yusuf.

- Eneng mana, Mil? - Tadi...

Deden!

- Eneng! - Eneng?

Neng...

Neng!

Den!

Neng!

Ibu.

Bapak.

Neng!

Neng, masuk sini!

Sudah gak ada, Mang Cecep.

Neng.

Neng ikutin Mang Cecep, ya?

Mil! Mila!

- Deden! - Cecep!

- Mil. Mila! - Cep.

- Kamu kenapa? - Enggak apa-apa.

Deden mana, Mil?

Kita harus... Kita harus pergi tanpa Deden, Cep.

Deden mana, Mil?

Kita harus pergi sekarang, Cep.

- Deden, Mil... - Ya, ayo, Cep.

Mil...

Deden...

- Ini salah saya. - Enggak, Cep.

- Ini salah saya! - Bukan, Cep!

Mil, Deden, Mil...

Ya, tapi kita gak ada waktu buat ini. Kita harus pergi, Cep.

Ayo!

Ayo, Neng. Ayo.

Ayo, Cep.

Awas, pelan-pelan.

Ayo, Cep.

Neng?

Neng, kenapa? Ayo.

Neng gak pernah keluar dari desa, Teh.

Tapi bahaya kalau kita tetap di sini, Neng. Kita harus pergi.

Kita harus keluar. Ayo, percaya sama Teh Mila.

Neng harus dengerin apa kata Teh Mila, ya, Neng? Kita harus keluar dari sini, Neng.

Ayo, Neng.

- Neng takut. Neng gak mau. - Neng. Ayo, Neng.

Cep...

Cep.

Cep! Neng, ayo! Ayo!

Kiri! Kiri, Cep! Ayo, Cep!

Cep!

Ayo!

Ayo, Cep!

Ayo, Neng!

Cep! Cecep!

Cep, ayo, Cep! Ayo, Neng!

Lari!

- Cecep! - Mila!

Cecep!

Cecep!

Ayo! Cep, ayo!

Ayo! Cep!

Cecep!

Cep, ayo!

Cecep!

- Cep, ayo! - Mang Cecep!

Cep! Cecep!

Cep, ayo naik! Naik, Cep!

Cep!

Ayo, naik! Bisa, Cep!

Ayo! Naik!

Cecep! Ayo! Naik!

- Ayo, Cep! - Tarik, Teh Mila!

- Pergi aja sama Neng. - Enggak.

Kamu pergi aja sama Neng.

Enggak, Cep! Ayo, bisa! Sedikit lagi!

- Enggak bisa, Mil! - Bisa! Ayo!

Ayo, Mang Cecep!

Cecep! Cep!

Ayo!

"Tata Cara Penguburan Jenazah."

Cep. Ayo, Cep!

- Mil. - Cep...

Baca mantra di balik buku!

Apa?

Cep!

- Baca mantranya! - Ayo!

Ayo, Cep!

Cecep!

"Wahai jiwa yang gentayangan,

melayang di antara langit dan bumi.

Pulanglah ke asalmu,

kembali ke alam yang engkau inginkan.

Tenteram...

Tenteram...

Tenteram...

Kembali ke tempatmu semestinya!"

Mang Cecep!

- Mang Cecep! - Cecep?

- Ayo, Mang Cecep. - Ayo, Cep.

Sini.

Ayo, Cep.

Ayo, Cep.

Cep. Cecep...

Cep!

Deden!

Di mana kalian?

Den!

Aduh...

- Terima kasih, Mang. - Sama-sama.

Ayo, naik.

Ayo, Neng.

Ayo.

Ayo, naik.

Neng...

Nanti Neng bisa tinggal di rumah Mang Cecep, ya?

Nenek Mang Cecep pasti senang punya cucu baru.

Mang Yusuf.

Tulisan itu artinya apa?

"Ciri sabumi, cara sadesa."

- Setiap... - Setiap daerah...

punya pantangannya masing-masing.

Cuma tiga orang yang berhasil balik dari sini.

Gue dengar, warga desa di sini mati misterius gitu.

Enggak wajar, ya.

Katanya, sih, gitu, ya.

Bayangin, mereka ke sini cuma buat nolong,

tapi malah...

Terus, gimana sama warga yang kena wabah, ya?

Semoga masih ada yang selamat, ya.

Gue rasa susah sih, ya. Tapi gue harap

kita bisa temuin korban yang masih selamat.

Siapa tuh?

SEMUA KEJADIAN, NAMA, DAN PERUSAHAAN DALAM FILM INI ADALAH FIKSI

KESAMAAN PADA NAMA, KEJADIAN, ATAU PERUSAHAAN SEBENARNYA HANYALAH KEBETULAN

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.