All language subtitles for Firebrand.2019.NF.WEB-DL

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PERSEMBAHAN NETFLIX

Terbakar sedikit demi sedikit

Hidup jadi habis

Bukan salahmu

Hanya mencari kebahagiaan

Mengikuti lika-liku

Baru setelah itu Mengerti tentang kehidupan

Membakarnya habis

Dan menyentuh langit

Terbakar sedikit demi sedikit

Terbakar sedikit demi sedikit

PENGADILAN KELUARGA MUMBAI

Ya. Aku di bawah akan ke sana.

Radha Mohite, Nilesh Mohite.

Bu.

- Kau bawah surat hartanya? - Ya.

Sidangnya hari ini, 'kan?

Ya, kasusnya diangkat.

Tuntutan ini konyol, Yang Mulia.

Klien saya tak memiliki apa pun.

Dia tak punya penghasilan.

Pak Morarka menggunakan mobil BMW.

Dia tinggal di Mumbai Selatan di rumah yang luasnya 372 meter per segi.

Tak ada yang resmi dia miliki,

tapi dia punya sebagian besar uang keluarganya.

Dan cukup uang untuk beberapa generasi.

Sebagai menantu keluarga itu,

klien saya layak dapat jatah, yang diabaikan oleh kolega saya.

Dia menipu pengadilan, Yang Mulia.

Jika klien saya tak resmi memiliki harta,

tak mungkin ada alimentasi, Yang Mulia.

Pasangan ini menikah di acara besar di Hotel Taj Mahal.

Selalu ada artikel tentangnya di majalah besar

sebagai wirausaha terkenal.

Dia ahli waris harta bernilai jutaan.

Yang Mulia, saya ingin menyerahkan surat.

Salinan dokumen harta dan saham

dan satu artikel majalah.

Yang Mulia, klien saya mengabdikan diri

sepenuhnya kepada orang ini,

dia melahirkan tiga anak.

Jika kini dia menghadapi masalah keuangan,

itu sangat tidak adil, Yang Mulia.

Tetapkan tanggal baru.

Kenapa kau selalu serius?

Aku terus dapat kabar tentangmu.

Kau suka mengalahkan pria di pengadilan, ya?

Baik. Bunuh orang berengsek itu.

Salut! Persaudaraan feminismu.

Sudahlah, Freddie.

Kau masih bercanda?

Kau melakukan itu selama kita kuliah. Sekarang pun sama.

Seandainya kau melawanku di pengadilan,

pasti aku menang.

Nanti kita lihat.

Silakan masuk.

Jangan menangis.

Aku tak tahu harus bagaimana.

Pertama, suamiku selingkuh.

Lalu wanita itu tinggal di rumah.

Anak-anakku sangat terganggu.

Aku pembantu di rumahku sendiri.

Aku akan gila jika tak bisa keluar dari keadaan ini.

Tenang.

Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.

Baik. Kau bekerja atau ibu rumah tangga?

Dulu aku bekerja di bank.

Tapi dia memaksaku berhenti.

Kini terasa sulit mulai bekerja.

Pertama, aku harus mulai dari nol,

dan aku tak ingat apa pun

tentang pekerjaanku yang dulu.

Kalian pernah membahas perceraian secara serius?

Sudah kucoba berkali-kali,

tapi dia belum siap mendengar.

Jangan khawatir.

Kita mencari dasar untuk cerai.

Jelas ada dasar kekejaman.

Tapi kita akan pastikan kau dapat cerai dan keadilan.

Apa yang kau lakukan?

Kau taruh berapa banyak?

Tak apa-apa. Kau harus makan. Kau sudah menjadi lemah.

Kata "istirahat" tak ada dalam kamusmu.

Terkadang kita harus bekerja keras.

Ada konferensi di Spanyol dalam beberapa hari.

- Kau bisa ikut. - Agak sulit.

Kasusku ada banyak, rasanya tak enak kalau kubatalkan

atau menunda sidang. Kasihan perempuan itu.

Bagaimana dengan suami malangmu?

- Jangan begitu. - Kau tak ada waktu untukku.

Kenapa kau begitu?

- Apa kau tahu? - Apa?

Berapa banyak wanita yang cemburu padaku?

Sungguh? Berarti calonku masih banyak.

Jangan!

Kalian lelaki hanya punya satu misi.

- Apa? - Menggoda.

Perempuan mana saja.

Menggoda?

Menggoda? Aku?

Berani aku menggoda, dengan istri sepertimu?

Meski aku bicara saja, kau akan menuntut di pengadilan.

Dramamu berlebihan.

- Drama apa? - Tentu.

Aku melihatmu bicara dengan Smita.

- Bagaimana? - Renukabai pun juga.

Dan asistenmu yang keren, Jacqueline.

Kenapa dia?

Jika ada objek indah dan kita punya mata...

Inilah.

- Inilah persoalannya. - Apa?

Kalian menganggap kami objek.

Maaf.

Salah bicara.

- Makanlah. - Ya, aku makan. Maaf.

Kemarilah.

Apa?

Lehermu sakit, 'kan?

- Ya. - Duduk.

Lebih baik?

Ya.

Kau lelah, berbicara seharian.

- Pak, kopi. - Terima kasih.

Kenapa tak bangunkan aku? Aku terlambat.

Kau lelah sekali.

Dan sepertinya tidur pulas, jadi aku membiarkanmu.

Makan sesuatu.

Tidak. Aku sudah terlambat.

- Bu, sudah siap. - Renukabai, aku tak lapar.

Tidak, serius.

Aku tak lapar.

Dan tanyai Bapak mengenai makan malam.

Pelan-pelan.

Ya.

- Dah. - Hati-hati.

Ya.

Ini tak boleh, Yang Mulia.

Kasus belum disidang.

Dengan hormat, Yang Mulia,

saya ingin menyampaikan pada kolega saya

bahwa menurut Mahkamah Agung, pengadilan keluarga

tak bisa menunda hak alimentasi istri.

Suami juga tak boleh mengabaikan

tanggung jawab finansial istrinya.

Meski hubungannya terganggu.

Sebenarnya, penuntut juga harus bayar ongkos litigasinya.

Yang Mulia, tak masuk akal jika klien saya harus

menyetor uang ke pengadilan.

Pergilah ke kotak saksi.

Mengapa Anda menuntut?

Anda tahu anak Anda sakit.

Bukannya membiayai pengobatan, Anda bertengkar.

Anda berbuat tidak adil.

Coba bangun kembali

hubungan dengan istri Anda.

Dan coba hidup sebagai keluarga.

Maaf, Pak.

Tapi saya tak bisa hidup dengan perempuan ini.

Yang Mulia,

jika kami mengajukan bukti mengenai suami siapa pun

yang menolak tanggung jawab

untuk membiayai istri dan anaknya,

Pengadilan Tinggi boleh menyuruh

suami itu agar membayar alimentasi

di sidang mendadak.

Yang Mulia, apa ini?

Tadi kolega saya membahas

Mahkamah Agung,

kini dia bahas Pengadilan Tinggi.

Mungkin dia lupa bahwa ini pengadilan keluarga.

Yang Mulia,

jika kita merujuk diskresi

hakim dan Undang-undang Pengadilan Keluarga,

hakim boleh mengatasi semua bantahan

untuk beri keadilan kepada keluarga tersebut.

Saya minta agar klien saya diberikan sepertiga penghasilan mantan suami

sebagai alimentasi.

Pengadilan memutuskan

bahwa penuntut Chandres Keniya

harus bayar 30.000 rupee per bulan kepada yang dituntut Lilavati Keniya.

Mulai dari tanggal 15 bulan ini

hingga argumen terakhir. Tetapkan tanggal baru.

Terima kasih, Yang Mulia.

Astaga.

Lepaskan aku.

Pergi.

Jangan ganggu aku.

Tolong.

Lepaskan aku.

Sunanda, bagaimana?

Apa yang memicu rasa sakit ini?

Aku kira sentuhan fisik.

Selalu seperti itu?

Biasanya.

Seluruh tubuhku menolak.

Peristiwa ini sudah lama.

Kenapa kau rasa tak berdaya?

Mungkin karena...

Karena aku tak bisa melawan.

Jujur saja,

aku bisa saja membunuhnya.

Dan aku akan tenang.

Apa hasil kasusnya tak memuaskan?

Kasus itu berlangsung selama lima tahun.

Tapi dia keluar dari penjara dalam tiga tahun.

Aku dihukum seumur hidup.

Orang tuaku tak ingin menuntut

karena ada adik-adikku.

LSM membantuku menuntut.

Tapi orang tuaku tak pernah perhatikan.

Mereka pindah ke Kolhapur

seolah-olah...

aku mati di mata mereka.

Tapi aku ingin keadilan.

Bahkan di pengadilan, aku dipermalukan dengan pertanyaan asusila.

Seolah-olah aku yang salah dan aku pelakunya.

Dengan dukungan Stree Bal Shakti, aku memperoleh ijazah hukum.

Dan suamiku...

temanku...

karena dia, aku di sini saat ini.

Kasusnya tak diselesaikan secara memadai bagimu.

Tapi, Sunanda,

hukuman yang cukup itu seberapa?

Ini pemerkosamu.

Pemerkosa.

Pukul dia.

Bunuh dia. Koyak dia.

Jangan ganggu aku.

Lepaskan aku.

Pergilah, pergi.

Berengsek kau!

Bedebah!

Kau menghancurkan kehidupanku.

Bajingan terkutuk!

Ada yang bisa tolong?

- Sunanda. - Jangan.

Kau dikebiri!

Kau dikebiri!

Kau impoten!

Anjing jalanan!

Kau menghancurkan kehidupanku!

Anjing jalanan, Pemabuk, Bajingan!

Sunanda.

Sunanda.

- Tidak. Aku takkan mengampuninya. - Sunanda.

Tidak. Dia harus dihukum.

Berapa lama kau nikah?

Dia nikah selama setahun.

- Tapi... - Pak Krishnamurty.

Nanti dia harus bicara di pengadilan, sebaiknya dia mulai sekarang.

Ceritakan semuanya.

Aku dijodohkan.

Pada malam pertama dia tak menyentuhku.

Kukira dia lelah.

Tapi setelah itu dia tetap menghindar.

Aku bertanya apa masalahnya tapi dia tak ingin menjawab.

Beberapa bulan berlalu.

Lalu aku bercerita ke Ama, dan dia bercerita ke Aba.

Mereka mengajaknya bicara.

Aku menanyainya tapi dia tak menjawab.

Saat kuusulkan ke seksolog,

dia mengaku bahwa dia homoseksual.

Gay.

Orang tuanya tak tahu dan memaksanya menikah.

Apa dia terbuka untuk pembatalan nikah?

Tidak. Mereka tak ingin batal atau cerai.

Mereka akan merasa dipermalukan di masyarakat.

Tapi bagaimana dengan masa depan putriku?

Mereka suruh putriku punya anak.

Mereka tak rela melepaskannya.

Jangan khawatir. Kita akan dapat pembatalan.

Baik.

Hari ini aku berbicara dengan klien.

Suaminya gay.

Dia harus bagaimana?

Apa gunanya pernikahan jika hubungan fisik tak mungkin?

Tiba-tiba aku sadar...

Aku tak bisa jadi istri baik bagimu.

Bu, bisa makan atau minum anggur?

Kita membahas hal lain.

Tidak. Biarkan aku berbicara.

Baik. Lanjut.

Aku tak mengerti bahwa saat aku berkata aku mencintaimu,

seharusnya tak ada masa lalu antara kita.

Sebenarnya, alasan di balik ini adalah

cinta dan seks itu hal yang berbeda.

Sungguh berbeda.

Artinya?

Jika satu pasangan saling mencintai,

bukan artinya kehidupan seks mereka luar biasa.

Dan sebaliknya, jika seksnya bagus,

mereka belum tentu saling mencintai.

Tapi seharusnya keduanya ada dalam pernikahan, 'kan?

Ya, tapi tak ada yang dapat semua. Kau tahu itu.

Mengenai kita, kita berusaha.

'Kan?

Jadi?

Ya.

Kenapa kau tak minum?

Aku harus membawamu pulang.

Aku sopirmu hari ini.

Tapi kau suka?

Ya. Enak.

Hei, anggur satu lagi.

Aku cicipi.

Ya. Silakan.

Boleh aku berkata jujur?

Kita menikah bahagia selama ini, hanya karena kau.

Sungguh?

Ya.

Ada yang senang. Menikmati, ya?

Kau tak hanya suka anggurnya, kau sudah mabuk.

Anggurnya enak sekali.

Malamnya seru!

Hei, apa yang kau lakukan? Wanita gila, ada macet di depan.

- Sunanda. - Tak penting.

- Nanti kita mati. - Lihat rambutmu.

Kenapa rambutku?

- Tak pernah lurus. - Ya. Aku tahu.

Aku tahu rambutku tak lurus.

Sunanda.

Kau seperti anak kecil.

Tanganmu.

Ada macet di depan.

Tolong, jangan.

Jangan.

Jangan.

Nanti kecelakaan.

Kita akan menabrak sesuatu.

Ada macet di depan. Biarkan aku menepi.

Sunanda, Sunanda, tunggu.

Duduk di sana.

Apa yang kau lakukan?

Sunanda.

Tidak, jangan. Biarkan aku...

Jangan begitu.

Tunggu.

Lihat di dalam mobil itu.

Mereka bersenang-senang.

- Film baru direkam di mobil. - Madhav.

Hei, ada apa?

Kalian kira ini pertunjukan? Pergilah.

Pergi.

Madhav, masuk.

- Ayo. - Apa? Kita menikah.

Kau istriku.

- Ayo. - Ini bukan pertunjukan.

Bodohnya mereka.

Bodoh!

Dan akhirnya, Yang Mulia,

ketika perempuan dan anak dapat keadilan,

sistem yudikatif negara kita juga turut dihormati.

Jelas penuntut Harish Morarka salah merepresentasikan

asetnya kepada pengadilan, dan karena itu

yang dituntut Anjali Morarka dirugikan.

Pak Morarka,

Anda bisa menjual aset atau pinjam uang dari keluarga.

Tapi Anda harus bayar alimentasi kepada istri Anda.

Itulah keadilan.

Saya menyuruh penuntut Harish Morarka

untuk membayar yang dituntut Anjali Morarka

500.000 rupee alimentasi per bulan.

Atau pembayaran sekali sebesar 50 juta rupee.

Dia juga akan sepenuhnya bertanggung jawab

untuk pendidikan anak-anaknya.

Pula, dia harus beri 100.000 rupee per bulan untuk setiap anak.

Terima kasih, Yang Mulia.

Terima kasih

- Sedikit saja. - Tolong beri komentar.

Maaf. Tak ada komentar. Keadilan dicapai.

- Sunanda, - Ada Pak Harish. Ayo.

Aku tak tahu bagaimana harus berterimakasih.

- Pak, rencana berikutnya? - Pak, tolong.

Kami belum mengatakan apa pun.

Ini belum selesai.

Gerakan berikut, Pak?

Kami mengajukan banding.

Pak. Lihat yang saya temukan.

Sudah lihat?

Sudah.

Terima kasih.

- Terima kasih. - Selamat.

Istrimu semakin hari semakin sukses.

Kau tahu dia bekerja keras dan berdedikasi.

Bukankah Harish Morarka itu lelaki

yang kita lihat dengan model di Hotel Trident?

Ya, kau benar.

Keasusilaan orang itu tak kenal batas.

Dan kau tahu klaimnya?

Dia tak punya uang.

"Aku tak punya uang."

Pekerjaan bagus. Kau luar biasa.

Kau di semua koran.

Itu saatnya aku tahu kau cocok untukku.

Ambil ini.

Aku baik-baik saja. Ya.

Ceritakan.

Kau mengenal suamiku.

Dia terkenal.

Dia punya perusahaan iklan besar.

Klien top, perusahaan luar negeri.

Dia sangat sukses tapi suka main perempuan.

Aku akan jelaskan beberapa hal.

Ya, tentu. Silakan.

Tugas pengacara keluarga adalah mementingkan keluarga

sambil menjaga kepentingan klien.

Aku selalu menganjurkan jalan damai.

Karena litigasi selalu sulit dan menyakitkan

bagi semua.

Jika kau merasa pernikahan ini tak bisa diselamatkan,

kita bisa lanjut.

Ada banyak kekejaman dan siksaan mental.

Apa dia selingkuh?

Bisa siapa saja.

Aku tak tahu siapa sekarang.

Dan kau? Ada orang lain dalam kehidupanmu?

Tidak.

Tentu, ada saat

aku dikelilingi banyak pengagum

yang siap melayaniku.

Tapi bodohnya, aku memilih dia.

Ada anak?

Aku punya putri berusia sepuluh.

Jika saling setuju, kita bisa buat ketentuan.

Jika kalian bisa bertemu aku bersama, kita bisa lanjut.

Aku sungguh percaya padamu.

Aku tahu kau rela melakukan apa saja.

Ada satu syarat.

Kau harus sepenuhnya jujur denganku.

Tentu.

Tak boleh ada yang disembunyikan.

Dan tak boleh berbohong.

Smita, buat janji.

Yang Mulia, saya serahkan laporan medis mengenai kekerasan fisik.

Yang Mulia, kekerasan fisik itu cerita khayalan.

Klien saya bekerja setiap hari,

malam, dia butuh tempat istirahat.

Dan hal terpenting adalah

kamar itu miliknya.

Dan tak adil mengusirnya dari rumah sendiri,

sebagaimana kolega saya usulkan.

Tidak. Itu rumah perkawinan penuntut.

Dia juga berhak tinggal di tempat itu.

Klien Anda terus menganiayanya.

Dalam kondisi seperti itu,

dia bisa ke mana dengan anaknya?

Tapi, Yang Mulia, tak akan adil

memisahkan klien saya dari rumah dan istri.

Tapi, Pak...

Anda ingin mengatakan sesuatu?

- Ya. - Baik. Masuk kotak saksi.

Saya bekerja keras

dan pulang malam. Tak ada makanan yang layak.

Saya melakukannya untuknya dan anak, 'kan?

Jika saya diusir dari rumah saya, saya bisa ke mana?

Yang Mulia telah dengar keadaan klien saya yang sebenarnya.

Jika klien Anda tak mampu menghargai

dan melindungi istrinya,

berarti dia tak layak

tinggal bersama istrinya.

Saya memutuskan bahwa yang dituntut, Sadashiv Thombre, harus menjauh

dari istrinya, Malati Thombre, dan rumahnya

hingga putusan akhir. Tetapkan tanggal baru.

- Terima kasih, Yang Mulia. - Terima kasih.

- Ibu, terima kasih. - Berdirilah.

Ayo. Mari.

Silakan. Mari.

Kau dan Smita

pergi tetapkan tanggal berikutnya untuk sidang kasus Manchanda.

- Usahakan tanggal paling awal. - Baik.

Apa kalian sudah membahas ketentuan?

Aku ingin apartemen Jalan Altamount atas namaku.

Rumah pertanian di Karjat juga.

Dan aku butuh 50 persen dari bisnisnya.

Apa maksudmu?

Tuntutanmu terus meningkat selama tiga tahun.

Bisnismu tumbuh selama itu.

Bu, semua ini tak disebut di tuntutan pertama.

Jika kau setuju saat itu, kita berdua sudah akan bebas.

Kalian pernah mengajukan surat cerai?

Ya. Kasusnya berlanjut selama tiga tahun.

Seperti tak ada akhirnya.

Kali ini katanya persetujuan bersama, akan cepat selesai.

Lagi pula, pengacaraku meninggal.

Kau tak bilang kasus ini sudah dibawa ke pengadilan.

Sungguh?

Aku tak bilang?

Kau yakin?

Ya, Bu Patel. Kau tak bilang.

Astaga.

Sungguh, stres ini mematikan.

Kau tak tahu siksaan yang kulalui selama tiga tahun.

- Dan sebelum... - Siksaan apa?

Selama 15 tahun aku membangun bisnis ini.

Dan kau ingin ambil semua begitu saja?

Dan aku hidup di jalanan?

Ya. Kau layak di sana. Kau anjing.

Bu Patel, tunggu sebentar.

Mari kita sopan.

Sopan?

Tak ada dalam kamusnya.

Ada apa dalam kamusmu?

"Bersetubuh"? Yang kau lakukan dengan model itu?

Jangan begitu.

Aku tahu kau selingkuh.

Aku tak selingkuh.

Jadi kau sebut itu apa, Sayang?

Pesta tidur?

Aku setuju.

Baik. Senang?

Kau tak punya waktu untuk keluarga.

Itu tak benar, Bu.

Aku suka keluarga.

Setiap tahun kami liburan dua kali.

Liburan apa? Diam.

Sudah kubilang, aku tak ingin bersamamu. Selesaikan ini.

Aku ingin kompensasi untuk siksaan dan kesengsaraan ini.

Aku takkan membiarkanmu ambil semua.

Lanjut ke pengadilan.

Aku melihat bahwa kalian tak setuju tentang apa pun.

Tak mungkin ada persetujuan bersama.

Beri tahu aku satu hal.

Kalian masih tinggal bersama?

Ya.

Nasihatku, mulai hidup terpisah

dan cari pengacara masing-masing.

Kau tak cerita tentang pengacaramu.

Tak berguna. Tak bisa apa-apa selama tiga tahun.

Dia juga layak digugat.

Bu, kau harus menerima kasusku.

Kau tahu syaratku.

Kau harus 100 persen jujur.

Kau setuju?

Ya.

- Kau yang cari pengacara lain. - Tentu.

Bagus.

Ibu.

Ayah.

Bertengkar lagi?

Ya, Sayang.

Kali ini akan ke pengadilan.

Divya.

Apa?

Aku harus diam?

Suatu hari dia akan tahu.

Kita bahas nanti. Jangan sekarang.

Jika kau peka sebelumnya, hal ini tak akan terjadi.

Jangan sekarang, yang benar saja.

Ayah dan Ibu akan cerai?

Maaf, Sayang.

Sepertinya itu yang akan terjadi.

Aku harus tinggal dengan siapa, Ayah?

Orang tua temanku juga cerai.

Dan dia tak bisa bertemu ayahnya.

Ayah juga akan meninggalkanku dan pergi jauh?

Tidak, Sayang.

Mungkin Ayah harus pergi, tapi Ayah takkan meninggalkanmu.

Boleh aku ikut?

Kurasa aku ingin tinggal dengan Ayah.

Ayah tak tahu bagaimana ini akan berakhir, Sayang.

Tapi Ayah selalu akan ada.

Ayah menyayangimu.

Ya.

Aku juga sayang Ayah.

Ayah juga, Sayang.

Selesaikan makan malam.

Aku tak ingin makan.

Baik, tak perlu.

Waktunya tidur. Ya?

Dan Ayah akan urus semua, ya?

Susie?

- Hati-hati. - Ya.

- Antar dia ke kamar. - Ya.

Jadi?

Kapan kau pindah?

Kau dengar kata pengacara.

Nanti aku lihat.

Bisa kau ke tempat ibumu?

Paling tidak kau punya itu.

Aku tak punya tempat.

Kenapa?

Semua perempuan itu menolakmu?

Terkadang aku penasaran apakah kau selingkuh.

Kau tak sabar mengusirku.

Dasar babi!

Coba menyalahkanku.

Kau bisa ke tempat ibumu, 'kan?

Ya, agar aku meninggalkan rumah ini

dan kau dapat mengklaimnya.

Apa aku tampak bodoh bagimu, Anand?

Mustahil bicara denganmu.

Kau berhenti minum obatmu?

Jangan ganti topik.

Bajingan bersuara halus.

Aku tak tahan jika kau ada di rumahku selama satu menit pun.

Rumahmu?

Kapan ini jadi rumahmu?

Agar kau tahu, aku bersusah payah untuk ini.

Kau menjadi gila.

- Aku menjadi gila? - Ya.

Aku menjadi gila?

Ya.

Tunggu. Kutunjukkan siapa yang gila.

Tunggu.

- Divya! - Terkutuk kau!

Kau sungguh gila?

- Nanti kau lihat. - Menjauh, kau akan terluka.

Divya, apa yang kau lakukan?

Kau melukai dirimu.

Kau kenapa?

Kenapa kau melakukan ini?

Tolong, tenang.

Aku akan ambil air. Tolong tenang, Divya.

Kantor Polisi? Aku Divya Patel.

Jalan Altamount, Casablanca.

Aku diserang oleh suamiku.

Dia akan membunuhku. Datanglah cepat.

Siapa itu?

Minum air.

Tolong, Divya, tenang.

Siap-siaplah habiskan akhir pekan di penjara.

Apa?

Ya.

Kau bilang aku gila, 'kan?

Aku gila, 'kan?

Jangan coba lari.

Mereka akan menangkapmu.

Apa yang kau lakukan, Bung? Membunuh?

Dia tampak kaya.

Mungkin penipuan besar.

Kau lakukan apa?

Sepertinya.

Pasti memukul istri.

Atau masalah gadis.

- Pasti melecehkan gadis. - Diam, Berisik.

Siapa namamu?

Terima kasih.

Apa yang kau lakukan?

Lebih keras. Buka mulut.

- Pasti penipuan besar. - Tinggal di mana?

Anand.

Ini mustahil. Keluarkan aku dari sini.

Maaf, tak bisa sebelum Senin.

Apa maksudmu?

Maksudmu aku harus di sini tiga hari lagi?

Apa boleh buat.

Perempuan itu gila.

Dan kasusnya cukup kuat.

Dia berdarah.

Jika tusuk diri dengan kaca, siapa pun akan berdarah.

Tapi, Anand, ada sidik jarimu di kacanya.

Sial! Karena aku memunguti kacanya.

Dan tak akan mudah keluar pada Senin juga.

Para hakim tak suka kekerasan seperti ini.

Aku bagaimana?

Anand, satu hal. Apa dia selalu...?

Pergilah.

Maksudku, selalu agresif dan berlebihan?

Melukai dirinya?

Ada riwayat luka diri.

Begini, kesempatannya kecil.

Wanita sekarang sering melakukannya.

Maksudmu menggunakan ayat 498 A, 307, kekerasan dalam rumah tangga?

Arshad, telepon sekretarisku Natasha.

Dia akan memberimu detailnya.

Carikan aku pengacara bagus.

Kau takkan kulepas.

Tunggu.

Tunggu. Kau takkan lepas. Berhenti.

- Lepaskan aku. - Tunggu.

Berhenti.

Kau takkan kulepas.

Tinggalkan aku.

Lepaskan aku.

Tinggalkan aku.

Sunanda.

Sunanda.

Aku di sini. Jangan khawatir.

Tak ada orang.

- Dia kembali. - Siapa?

Dia kembali.

Dia selalu mengejarku.

Sudah lama, kenapa mimpi ini terus mengejarku?

Tapi lebih tak sering sekarang, 'kan?

Lebih jarang. Tak apa-apa.

Aku mengalami mimpi buruk itu setelah enam bulan.

Aku merasa...

Aku menahannya.

Tapi aku tak tahu cara melepaskan.

Kau benar. Kita menahan hal tertentu.

Terkadang itu memberi kita identitas yang khas.

Maksudmu aku

menahan identitas sebagai korban?

Dan aku tak punya identitas lain?

- Dokter, boleh aku bicara? - Silakan.

Wawasanmu mungkin berguna.

Sunanda sangat fokus pada pekerjaannya.

Semua kerja kerasnya untuk meraih kesuksesan...

terkait dengan peristiwa di masa lalunya.

Ada hubungan langsung.

Semangat dan dorongannya melawan ketidakadilan

berasal dari peristiwa itu.

Pengamatan bagus, Pak Patkar.

Perempuan korban ketidakadilan

kini mendukung perempuan lain yang dilecehkan,

membantu perjuangan di masyarakat yang didominasi pria.

Dan medan tempurku, pengadilan.

Betul.

Semua pekerjaanmu dan status profesionalmu,

ketika semua berasal dari konteks kebebasan,

kau merasa bahagia dan puas.

Tapi pada tataran pribadi,

identitasmu sebagai korban terus menguat.

Bagaimana bisa aku menghancurkan identitas korban ini?

Akan kuberi latihan.

Harus kau lakukan setiap hari.

- Baik. - Rasa sakit juga akan menurun.

Tapi masalah sesungguhnya, manusia suka penderitaan.

Kita suka sengsara.

Kita tak tahu ada pilihan

untuk menderita atau tidak.

Tapi, Dokter,

siapa memilih

untuk menderita atau jadi sengsara?

Penderitaan dan pengalaman sedih

menguatkan identitas.

Jika kau hancurkan identitasmu,

kau hancurkan penderitaanmu juga.

Baik, latihannya.

Tulis setiap detail dari pemerkosaanmu.

Tulis itu sebagai autobiografimu.

Rasa sakit, trauma, penderitaan yang kau alami 15 tahun yang lalu.

Tulis setiap detail.

Baik. Lalu?

Lalu bacakan cerita itu

di depan cermin setidaknya lima kali.

Besok, tulis cerita yang sama lagi.

Bacakan lima lagi kali.

Lakukan ini setiap hari tanpa pengecualian.

Minggu depan akan ada kemajuan.

Pak? Ibu?

Kau kembali.

Dibebaskan?

Hina sekali perbuatanmu.

Kau tak memedulikan sepuluh tahun kita hidup bersama.

Tipikal sekali, Pak Anand Pradhan.

Munafik.

Sudah kubilang, kau akan kuberi pelajaran.

Siap-siap belajar lagi.

Semua racun ini, keganasan.

Kau pernah memikirkan dampaknya pada Anuya?

Dai akan bertahan. Dia putriku.

Dan lagi dia sudah rusak. Karena gen burukmu.

Jika aku tahu genmu seperti ini, aku takkan nikah denganmu.

Aku hanya ingin...

Anuya tak menjadi sepertimu.

Dan satu hal yang ingin kuulangi.

Masalah Anuya bukan genetik.

Neurologis.

Kenapa kau tak paham?

Jika persoalannya gen buruk,

bisa jadi itu genmu.

Berhentilah.

Kenapa kau ke sini?

Aku tak ingin bicara.

Jika kau sedekat tiga meter denganku,

akan kukirim kau ke penjara lagi.

Aku tak ingin mendekatimu.

Aku akan mengambil barangku.

Aku sendiri menanti hari aku selesai denganmu.

Sepuluh tahun terlambat.

Ayah kembali.

Hei, Sayang.

Anuya, masuk ke dalam.

- Ibu? - Tolong.

Aku ingin bersama ayahku.

Aku tak mengerti kenapa kalian selalu bertengkar.

Suatu hari kau akan mengerti. Masuk.

- Tidak, biarkan aku bersama ayah. - Susie.

Bawa dia ke dalam.

Ayo.

Aku ke kamar mandi sambil berjalan pulang dari sekolah.

Saat keluar dari kamar mandi,

seorang pria menyerangku.

Dia menyeretku ke suatu tempat.

Aku tak bisa hentikan dia, meskipun aku berusaha.

Dia menekanku

dan naik ke atasku.

Dia...

sangat mabuk.

Dia bau keringat. Jijik!

Dia menyentuh tubuhku...

dan merobek blusku.

Bibirnya yang kotor dan jenggotnya yang tajam mencarik mukaku.

Aku tak bisa bernapas.

Aku merasa tercekik.

Dia mengangkat rokku...

dan...

Dan...

bahkan membuka celana dalamku.

Tangannya melecehkan kemaluanku.

Tak ada yang dengar teriakanku.

Dia menusuk penisnya ke dalam diriku

dan aku menjadi korban kesakitan yang sangat pedih.

Dia tak berhenti cukup lama.

Berhenti saja.

Terlalu menyakitkan, baca sisanya besok.

Tidak. Biarkan aku lakukan ini.

Aku ingin menyelesaikan ini.

Biarkan. Sudah cukup.

Ayo. Mari kita tidur.

Jangan.

Sunanda.

Jangan. Sunanda. Jangan.

Sunanda.

Sunanda.

Sunanda, jangan.

Jangan, Sunanda.

Jangan.

Aku hanya berusaha.

Kenapa harus?

Nanti semuanya beres sendiri.

Tidak.

Aku sadar aku tak bisa membahagiakanmu.

Kehidupanmu mogok karena aku.

Tak seperti itu.

Tak seperti itu.

Aku harus meninggalkanmu.

Setelah itu kau bisa hidup sepenuhnya.

Kau bisa menikahi perempuan cantik.

Kau suka anak.

Kau akan punya anak.

Kau akan punya keluarga.

Hei, Sunanda.

Kenapa kau harus serius sekali?

Kita teman, mari tetap teman.

Kenapa melakukan hal yang menyakitkan bagimu?

Sederhana, 'kan?

Begini.

Lupakan semua dan tidur sekarang.

Tidur. Kita bekerja besok.

Tidak.

Kurasa sudah waktunya kita berpisah.

Dan kau harus dengarkan aku.

Di luar jangkauan.

Tak seperti Madhav.

Jack, coba terus.

Pak, sudah saya coba.

Coba Sunanda.

Baik, Pak.

Bu.

Saya menemukan hal menarik tentang Divya Patel.

Sungguh?

Permisi.

Halo?

Bu Sunanda, ini Jacqueline.

Madhav tak masuk kantor. Anda tahu dia di mana?

Tidak, dia berangkat kerja seperti biasa.

Aku tak tahu dia di mana.

Baik, terima kasih, Bu.

Tidak. Dia tak tahu.

Bu, teh Anda jadi dingin.

Baik, sebentar.

Ke mana dia kira-kira?

Semoga dia tak apa-apa.

Bu.

Kau tahu kapan mereka mulai berselisih?

Ya.

Putrinya dikeluarkan dari sekolah,

dan masuk sekolah luar biasa.

Divya buat keributan besar

dan menuntut sekolahnya secara hukum.

Kerja bagus.

Bensin, 2.000 rupee.

Halo, Dokter, ini Madhav Patkar.

Boleh bicara sebentar?

Ya, silakan.

Latihanmu untuk istriku, Sunanda,

sangat mengganggunya.

Dan aku tak mengerti

kenapa dia harus mengalami trauma itu berulang kali

saat dia hampir tak bisa bertahan.

Ketika orang menulis tentang peristiwa trauma secara mendetail

dan mereproduksikannya, dampaknya nyata dalam segi emosional dan pengalaman.

Tapi setelah ditulis ulang berkali-kali, itu menjadi cerita.

Dengan setiap versi, tingkat emosi

dan penggunaan katanya menurun.

Pelan-pelan, orang memutuskan diri dari peristiwanya.

Maknanya juga menurun,

dan dampak trauma menghilang.

Kalau begitu, kesempatannya bagus.

Ya. Biarkan dia terus latihan.

Terima kasih.

Hei, apa kabar?

Baik.

- Pagi. - Selamat pagi.

- Hei. - Selamat pagi.

Lihat. Dia dibebaskan.

Setelah tiga hari.

Ada apa, Natasha?

Sepertinya sekantor tahu peristiwanya.

Ya. Andy. Sudah masuk koran dan televisi juga.

Aku menyimpan koran untukmu.

Bagaimana menurutmu?

Entahlah, Pak.

Ayo, Natasha.

Kau bekerja untukku enam, tujuh tahun.

Pasti ada pendapat.

Aku butuh pendapat jujur.

Aku sulit percaya kau tega pukul perempuan.

Aku pernah melihatmu marah.

Tapi kau tak suka memukul.

Pasti opini mereka terpecah, 'kan?

Ya.

Ayo.

Semua, tolong berhenti dan kemarilah.

Tolong.

Ada apa?

Ayo.

- Apa yang terjadi? - Mari.

Terima kasih.

Terima kasih.

Aku ingin berbagi sesuatu dengan kalian.

Hal pribadi, ketika diketahui publik, harus dibahas.

Mengenai apa yang terjadi.

Aku tak memukul istriku.

Sentuh pun tidak.

Namun, aku mengaku aku kurang perhatikan masalahnya

sehingga menjadi seperti ini.

Ada yang ingin bicara?

Kami paham, Andy. Terima kasih.

Ya, Andy. Setidaknya kami tahu kebenarannya.

Terima kasih.

Kuharap kalian tak lupa bekerja saat aku tak ada.

Dan, Radhika, kau mengerjakan kampanye "selamatkan gadis".

Seharusnya di mejaku minggu lalu.

Kau pemimpin zalim, Andy, Kukira...

Kalian boleh libur beberapa hari?

Aku bersama master Zen selama beberapa hari.

Terbakar sedikit demi sedikit

Hidup jadi habis

Bukan salahmu

Hanya mencari kebahagiaan

Mengikuti lika-liku

Baru setelah itu Mengerti tentang kehidupan

Membakarnya habis

Dan menyentuh langit

Terbakar sedikit demi sedikit

Terbakar sedikit demi sedikit

Sunanda.

Sunanda.

- Tidur di dalam. - Hei, Adhav.

Ada apa? Kau di mana seharian?

Aku menelepon berkali-kali.

Kami mencarimu seharian.

Aku akan rencana ke polisi besok.

Aku mengunjungi properti klien.

Madhav, kau membohongi pengacara.

Istrimu pula.

Baik. Aku pergi jalan-jalan.

Tidurlah saja.

Dan kau?

Aku tidur di sini.

Tidak. Kau tidur di dalam. Aku tidur di sini.

Kau boleh tidur di dalam.

Tidak.

Kau di dalam, aku di sini.

Kalau begitu kita berdua tak tidur.

Kau menang. Ayo.

Ayo.

Dari awal,

aku berkata akan menerima kasusmu

dengan satu syarat.

Bahwa kau tak sembunyikan apa pun dan selalu jujur.

- Lalu? - Ada yang kau sembunyikan.

Kurasa

kau bicara dengan seorang pria dan memercayainya.

Tidak. Aku tahu tanggung jawabku.

Aku bertemu dia sekali waktu kau membawanya kemari.

Aku tak akan bicara dengannya lagi.

Aku tak mengerti...

kenapa kau meragukanku?

Itu tak masuk akal.

Aku pengacara, Bu Patel.

Aku punya penilaian.

Jika ternyata kau membohongiku

atau menyembunyikan hal-hal, aku tak akan ambil kasusmu.

Baik.

Tanya yang kau ingin tahu.

Apa yang terjadi pada malam kau telepon polisi untuk menangkap suamimu?

Sudah kubilang, semua orang tahu, bahkan pers tahu...

Maaf.

Aku tak peduli soal itu.

Ceritakan apa yang terjadi, setiap detail.

Bu Sunanda.

Kau mengerjakan perceraianku,

bukan penyidikan pidana.

Aku ingin kebenarannya.

Atau aku mundur.

Baik.

Kami bertengkar, dia marah dan dia melukaiku.

Sudah ada versi baru.

Bertengkar. Siapa yang mulai?

Jelas dia.

Apa yang kau katakan sampai memicunya?

Cukup. Kau tak tahu rasanya

menikahi orang seperti itu.

Ayo, ceritakan.

Seperti apa?

Dia tak memedulikanku.

Dia mengabaikanku. Seolah-olah aku tak ada.

Aku seperti perkakas.

Apa tak mungkin setelah beberapa tahun menikah,

pemikiran suami dan istri berubah?

Mereka punya jalan sendiri.

Itu yang biasanya terjadi.

Apa itu bukan ketidakadilan? Aku jadi sedih dan sengsara.

Dan dia menikmati perempuan lain...

Apa yang terjadi malam itu?

Dia tak memedulikanku dan aku tak penting sama sekali.

Itu terjad di 90 persen pernikahan. Lalu?

Jadi aku harus cerita?

Ya.

Kami bertengkar. Aku marah.

Aku pecahkan gelas dan lukai diri.

Tapi kau takkan cerita itu ke orang lain. Kumohon.

Bu Patel, aku tak melanggar kepercayaan klien.

Ada apa lagi?

Aku harus tahu semua.

Pengacaranya bisa sebut hal di pengadilan yang aku tak tahu.

Katakan, dalam keadaan itu,

bagaimana bisa aku mewakilimu dengan baik?

Bagaimana dengan asetmu?

50 juta.

Dan perhiasan?

Perhiasan tak banyak, beberapa ratus ribu.

Bu Patel,

nilai berlian yang kau pakai pasti melebihi lima juta.

Baik. Nanti takkan kupakai.

Apa kau pikir orang itu bodoh?

Aku mulai hilang kesabaran.

Tolong pergi.

Tunggu.

Perhiasanku bernilai 35 juta.

Kira-kira.

Ada lagi?

Jangan begitu. Waktuku terbatas.

Klien lain menunggu.

Tunggu. Beri aku waktu untuk menghitung.

Aku punya mobil seharga lima juta.

Rumah pertanian di Karad, 70 juta.

Dan ada saham. Tata dan Reliance.

Ya, itu saja.

- Ada masalah kesehatan? - Kesehatan?

Aku sehat dan baik.

Bahkan masih bisa jadi model.

Pernah melukai diri?

Ya.

Lima atau enam tahun yang lalu saat Anand pertama selingkuh

dan ingin meninggalkanku.

Kubenturkan kepalaku ke jendela.

Aku depresi

dan coba memotong pergelangan tangan.

Aku tak tahan.

Aku mengunjungi psikiater, Dr. Seth.

Kau tak tahu yang kualami.

Apa yang terjadi.

Ternyata putriku autis.

Pernikahanku hampir hancur.

Aku tak berdaya dan depresi. Aku sering marah.

Dan aku sering pukul orang.

Seperti di luar kendaliku.

Memang semua di luar kendaliku.

Sebenarnya,

aku pernah berjalan di jalanan

dan ada lelaki tua dan aku...

Aku memukul mukanya.

Begitu saja.

Tolong, tenang, Bu Patel. Tenanglah.

Terima kasih.

Kau masih minum obat?

Terkadang.

Ceritakan.

Kau punya banyak uang, banyak harta.

Kenapa mau lebih?

Aku ingin dia menderita. Aku ingin dia hidup susah.

Aku ingin dia miskin lagi.

Dia menghancurkan dan menyakitiku.

Karena dia, aku melahirkan anak

yang tak sempurna.

Aku hampir jadi Puteri India.

Wanita sempurna.

Wanita sempurna melahirkan anak tak sempurna.

Itu melampaui toleransiku.

Kau mengerti?

Ada apa? Kau tak ingin tidur?

Aku mengerjakan sesuatu.

Sunanda, kenapa? Aku bekerja?

Aku bekerja.

Aku tahu betapa kau terganggu sejak aku katakan

perpisahan.

Mengertilah. Buat apa menderita jika tak perlu.

Jika tak bisa bahagia bersama, untuk apa bersama?

Aku ingin kau bahagia.

Kau tak perlu berkorban.

Nanti bagaimana?

Aku akan kehilanganmu.

Biarkan kita berteman saja.

Aku tak ingin membahas ini. Serius.

Cukup. Tidurlah.

Suatu saat kau harus memikirkannya.

Cerai adalah satu-satunya solusi.

Cukup. Tidur. Biarkan aku bekerja.

Bisa kau dengar?

Apa lagi?

Kita berpisah beberapa hari.

Kau yang pergi, atau aku.

Kita bertemu setelah beberapa minggu lalu lihat.

Tolong jangan menolak.

Madhav!

Madhav!

Madhav!

Madhav, kau di mana?

Sunanda, saat kau memutuskan, telepon aku. Madhav.

Ibu, saya tak lihat Bapak.

Apa dia pergi?

Ya, Renukabai. Dia keluar kota.

Mau sarapan apa?

Aku tak lapar. Pergilah.

Baik.

Aku senang kau berkunjung.

Orang yang pindah ke kota tak pernah mengunjungi kami.

Vahini, tapi aku terus datang, 'kan?

Ya.

Untuk berjumpa denganmu.

Tapi kali ini kau lama.

Kau melewatkan pernikahan Chimnee.

Ya. Maaf soal itu.

Ini tahun terakhir sekolah Raghu.

Baik.

Kita harus pikirkan masa depan.

Kau ingin jadi apa?

Tak ada.

Kenapa kau senyum.

Bicara dengan pamanmu besok.

Ya.

Vahini.

Bagaimana Chimnee?

Chimnee-mu baik.

Dia hamil enam bulan.

Bagus.

Jadi, ada apa?

Kau tiba-tiba muncul.

Aku sibuk bekerja.

Tapi sudah selesai.

Dan istrimu?

Tidak. Dia sibuk sekali. Tak punya waktu.

Kau harus buat keluarga.

Betul. Jangan abaikan masalah ini.

Orang di kota lambat buat keluarga.

Tapi kau harus sekarang.

Lalu dia angkat rokku.

Dan...

Aku pulang dari sekolah.

Aku ke kamar mandi.

Saat aku keluar,

seorang lelaki mengambil tanganku.

Dia menyeretku ke suatu tempat.

Kucoba menghentikannya...

tapi dia sangat kuat.

Dia terus menyeretku dan mendorongku keras ke tanah.

Dia merobek bajuku.

Bhau, kau harus simpan air hujan.

- Aku pernah mempertimbangkannya. - Baik.

Aku juga ingin coba.

- Ya. - Tapi harus hujan dulu.

- Bagaimana mungkin tanpa itu? - Benar.

Aku ingin bertanya.

Silakan.

- Istrimu pengacara, 'kan? - Ya.

Dia menangani kasus cerai?

Ya. Dia pengacara perceraian.

Hal aneh terjadi di sini.

Apa?

Empat perempuan kembali dari rumahnya.

Pernikahan mereka berakhir.

Uang pernikahannya terbuang.

Orang tuanya terbebani.

Mereka harus beri makan satu orang lagi.

Orang berperilaku semaunya.

Tak ada yang mau tanggung jawab atau dengar tetua.

Aku khawatir sekali.

Apa?

- Bagaimana kalau Chimnee kembali? - Bhau,

kenapa khawatir

soal hal yang tak pernah terjadi?

Buat apa khawatir tanpa alasan?

- Benar. - Jangan khawatir. Aku ada.

Klien saya sudah bayar 150 hingga 200 juta kepada penuntut.

Dalam bentuk tanah, saham, berlian dan hiasan.

Yang seharusnya cukup

untuk dia dan keturunannya.

Sedangkan semua harta dan uang dihasilkan klien saya dengan kerja keras.

Maksud Anda penuntut menuntut uang

hanya karena alasan frustrasi?

Sembarangan bicara!

Nona, tolong tahan klien Anda.

Maaf, Yang Mulia.

Yang Mulia,

klien saya mengalami banyak trauma.

Yang dituntut menyerangnya.

Dia pernah dipenjara. Kasusnya masih berlanjut.

Wanita ini tak bisa tahan lagi.

Ya. Saya mengenal kasus itu.

Nona,

Anda mewakili klien yang menganggap uang adalah solusi masalahnya.

Kita juga harus menimbang hak asuh.

Atur tanggal.

Minggu depan, saya beri putusan.

Terima kasih, Yang Mulia.

Sejauh ini bagus.

Seharusnya kau membantah hakim.

Mayuri Gupta, Rajesh Gupta.

Dengar.

Apa maksud hakim tadi?

Kau berbuat apa?

Kau menghancurkan kasusku.

Aku harus cari pengacara lain.

Apa yang berikutnya?

Tentang iklan Kondom Manforce.

Kenapa? Kukira klien melihatnya.

Ya, tapi mereka ingin ubah sudutnya.

Membuatnya lebih keren.

Lebih keren. Ayo lakukan.

Bisa. Tapi sutradara tak senang.

Harus rekam ulang.

Coba lihat. Lalu mungkin putuskan.

Putarkan.

Kondom Manforce rasa melati.

Kubilang jangan ada gangguan. Siapa?

Hei, kenapa kau di sini?

Anuya?

Permisi dulu sebentar.

- Baik, Andy. - Tentu, Pak.

Mari.

Duduklah.

Anuya?

Ayah, aku takut.

Aku ingin bersama Ayah saat kalian cerai.

Tentu, Ayah akan bersamamu.

Kenapa kau gugup?

Jika Ibu tahu aku bertemu dengan Ayah,

dia akan membunuhku.

Tidak. Dia menyayangimu, Sayang.

Dia kira aku di klub.

Aku suruh sopir jangan beri tahu orang.

Jangan khawatir. Nanti Ayah ke sana.

Tolong ke klub sekarang.

- Apa aku harus pergi? - Natasha, masuklah.

Ya. Ini.

Makan cokelat.

Natasha, antara dia ke mobil.

Aku sayang Ayah.

Ayah menyayangimu. Hati-hati.

Sampai nanti.

- Ya, Anand. - Freddie.

Kita tak bisa begini.

Anuya trauma.

Beri Divya apa pun yang dia minta

tapi pastikan aku dapat Anuya.

Jangan buang kasusnya seperti ini.

Apa lagi kita akan menang.

Aku tak peduli.

Selesaikan saja.

Baik, Anand, terserah.

Aku telepon pengacaranya.

Terima kasih.

Sebaiknya kita tak pacaran lagi.

Apa?

Kau bekerja.

Dan aku juga harus belajar.

Aku perlu katakan hal penting.

Ayo pergi.

Tidak. Aku sudah memikirkannya.

Kita tak usah bertemu lagi.

Tolong pergi.

Kenapa kau begitu serius.

Aku tak mengerti.

Aku takkan pergi tanpamu. Aku akan duduk di sini.

- Duduk. - Ayo.

Sudah duduk?

Apa yang kau ingin katakan?

Mau menikah?

Apa?

Apa kau gila?

Aku ingin hidup bersamamu.

Dan kau juga menyukaiku.

Aku yakin.

Pertemanan boleh.

Tapi pernikahan?

Aku tak bisa menikah.

Yang terjadi padaku selalu akan jadi rintangan.

- Kita bisa mengatasinya. - Tak mungkin.

Sunanda.

Setiap hari perempuan menghadapi peristiwa seperti itu.

Apa mereka berhenti hidup?

Mereka menanganinya.

Aku tidak.

Lalu keluarga dan saudaramu?

Mereka tak akan terima.

Aku dari kasta rendah.

Lagi pula...

korban pemerkosaan.

Kau bukan itu. Jelas?

Aku tak pernah melihatmu sebagai itu.

Dan saudara apa? Siapa yang kau maksud?

Aku tak ingat saat orang tuaku mati.

Aku dibesarkan oleh pamanku di desa.

Lalu aku pindah ke kota. Menjadi mandiri.

Dan sungguh,

jika satu hari aku tak melihatmu.

Aku merasa kehidupan akan berhenti.

Jangan katakan itu.

Setiap orang punya perjalanan sendirian.

Tak ada yang saling dukung.

Dua orang bisa jalan bersama, 'kan?

- Aku memutuskan, bulan ini... - Kau mencari ketidakbahagiaan.

Jangan heran kalau sengsara nanti.

Kakak.

Hei, Chimnee, kapan kau datang?

- Mari. - Tadi.

Duduklah.

Chimnee.

Sudah lama tak bertemu. Aku tak bisa ke pernikahanmu.

Apa kabar?

Sebelum kau menikah, kau cerewet.

Kenapa sekarang?

Kau boleh ceritakan apa saja kepadaku.

Katakan sesuatu.

Seharusnya aku tak putus sekolah.

Seharusnya aku belajar.

Suamimu mengurusmu dengan baik?

Dia minum?

Dia memukulmu?

Terkadang.

Jangan bilang ke orang tuaku.

Ini takdirku. Apa boleh buat.

Biar kuurus.

Halo.

- Hai. - Silakan duduk.

Klienmu ingin apa?

Hak asuh anaknya.

Apa yang kau berikan?

50 juta ditambahkan ke semua yang kau minta.

Maaf.

Tak setuju.

Ambil apa saja.

Tapi beri aku Anuya. Tolong.

Anand, Anand.

Biar aku yang urus.

Setor sejumlah besar uang untuk masa depan anakmu.

Dan beri dia semaumu.

Tapi sebagai pengacaramu, jangan berikan semua.

Besok, dia bisa klaim

hak asuh karena kau tak mampu

membiayai anakmu.

Karena sudah tak punya aset.

Anand, aku takkan berikan yang kau inginkan.

Meski kau berlutut dan memohon.

Anand, takkan ada persetujuan.

Ayo pergi.

Divya, jangan begini.

Kau tahu Anuya ingin bersamaku.

Aku ibunya. Dia hanya anak.

Dia tak tahu apa-apa.

Pengadilan akan putuskan.

Anand, ayo.

Sampai jumpa.

Kau lihat mukanya?

Menyenangkan.

Aku takkan berikan Anuya padanya.

Aku ke kamar mandi saat pulang dari sekolah.

Saat aku keluar, seorang lelaki mengambil tanganku.

Dia menyeretku.

Aku melawannnya tapi dia terus menyeretku.

Dia melemparku ke tanah.

Dia merobek bajuku dan naik di atasku.

Hal yang sama terus.

Aku lelah.

Madhav.

Dan akhirnya, Yang Mulia, saya minta atas nama klien saya

bahwa dia dapatkan hak asuh putrinya, Anuya.

Tolong, Yang Mulia.

Saya akan beri penuh perhatian kepadanya.

Saya akan merawatnya.

Yang Mulia,

saya ingin menyatakan bahwa anak tersebut berusia sepuluh

dan sebentar lagi menjadi remaja.

Sepanjang perjalanannya dari puber hingga dewasa,

dia butuh ibunya.

Tak ada yang lebih sanggup dari klien saya.

Saya minta bahwa klien saya yang dapat hak asuh.

Saya ingin mengemukakan bahwa penuntut sakit depresi manik.

Apa?

Dia menerima pengobatan psikiatris

karena sering marah dan melukai diri.

Itu tak benar.

Karena itu, memberinya hak asuh

bisa berbahaya bagi sang anak.

Berani kau berkata itu!

Aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik.

- Beraninya kau! - Bu Patel.

Tolong kembali ke tempat dan hargai sopan santun.

- Tapi... - Tolong.

Bu, tolong tenangkan klien Anda.

Bu, tolong tenang atau kau bisa diusir dari pengadilan.

Yang Mulia, jika ini perilakunya di pengadilan,

bayangkan saja di luar pengadilan.

- Yang Mulia... - Tolong, diam saja dulu.

Saya mendengar kedua argumen terakhir.

Saya siap beri putusan.

Dalam kasus Bu Patel Pradhan versus Pak Anand Pradhan,

perceraian disetujui atas dasar Undang-undang Pernikahan Hindu

dengan syarat ini.

Yang dituntut harus memberi penuntut apartemen dua kamar

di kawasan sesuai dengan statusnya.

Serupa dengan yang dia huni saat ini.

Hak asuh anak Anuya diberikan kepada ayahnya.

Tidak.

Anak akan terus tinggal

di rumahnya sekarang bersama ayahnya.

Penuntut akan punya hak kunjungan

yang disetujui oleh ibu penuntut dan ayah yang dituntut.

Tidak. Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa?

- Buat dia mengerti. - Bu Patel, duduk.

Seharusnya aku tak percaya kau.

Bu Patel, segera keluar dari pengadilan

atau Anda akan ditahan oleh pengadilan.

- Kau tak mengerti. Dia anakku. - Mari kita pergi.

- Apa yang kau mengerti? - Maaf.

Dia putriku.

- Sopanlah. Ini pengadilan. - Ini pengadilan?

Ini caramu menangkan kasus?

Tenang. Bu Patel, duduk. Dengarkan aku.

Bu Patel. Kita belum kalah.

Kita belum kalah?

Kau mengkhianatiku.

Aku tak bisa bicara denganmu seperti ini.

Telepon aku saat kau tenang kembali.

Aku tak akan tenang. Kau harus dengar.

Divya.

Tunggu.

Berhenti.

Aku belum selesai denganmu.

Bu Patel, kendalikan diri.

Sudah kukatakan, kita tak bisa bicara seperti ini.

Lepaskan aku.

- Aku ingin putriku. - Divya.

Berhenti. Kubilang, berhenti.

Tunggu.

Tolong. Dengar, dengarkan kau.

Bicaralah dengannya.

Dia putriku. Aku ingin dia. Paham?

Ikut aku. Dengarkan aku.

Kau tak boleh tinggalkan aku begitu saja.

Divya, hentikan.

- Tak boleh pergi. Dengar. - Lepaskan dia.

- Lepaskan dia! - Tidak!

- Tahan dirimu. - Tidak.

Tahan dirimu. Ada apa denganmu?

Ada apa denganmu?

Apa yang kau lakukan, Anand?

Semuanya baik-baik saja antara kita. Kau merusak itu.

Tolong.

Anand.

Tolong, Divya, kendalikan dirimu.

Tolong.

Tolong. Anand.

Ibu merasa kurang enak?

Aku baik-baik saja.

Jangan khawatir.

Tapi aku akan pulang.

Tunda semua janjiku.

Kalian tutup kantor.

- Baik. - Baik.

Terima kasih.

Terima kasih.

Saat yang telah hilang sudah hilang

Bebaskan pikiran

Saat yang telah hilang sudah hilang

Bebaskan pikiran

Menghapus jejak masa lalu

Biarkan hati bernyanyi di saat ini

Lahirlah kembali

Sekali lagi

Setiap hari

Aku ingin hidup bersamamu.

Dan jujur saja,

jika aku tak melihatmu dalam sehari,

kehidupanku berhenti.

Kita teman. Kita berteman saja.

Kenapa melakukan yang menyakitkan?

Sederhana, 'kan?

Oh, kau?

Masuk.

Maaf mengganggu.

Aku bisa datang lain waktu.

Tidak, tak masalah. Silakan masuk.

Pintunya unik.

Madhav, suamiku, adalah arsitek.

Dia suka hal yang kuno dan berbeda.

Silakan masuk.

Silakan duduk.

Aku ingin minta maaf atas perilaku Divya.

Tidak. Bukan salahmu.

Aku merasa iba terhadap Divya.

Dia punya segalanya,

namun harus menderita karena kondisinya.

Divya menyerangmu di pengadilan...

namun kau masih berempati. Aku heran.

Aku tak tahu tentang lelaki, tapi bagi banyak perempuan, kerusakan pernikahan

tak dapat ditoleransi.

Aku mengira

mustahil dia kalah dengan kau.

Itu bisa terjadi.

Tapi tidak.

Kata Divya aku mengkhianatinya.

Mungkin begitu.

Penilaianku ikut masuk dan bukannya berjuang untuknya,

aku berjuang demi anakmu.

Aku berterima kasih.

Lehermu sakit?

Bisa aku pijat?

Aku hebat memijat.

Sudah terbiasa.

Baiklah.

Aku melihatmu sejak kasus mulai.

Banyak yang terjadi.

Kau masuk penjara.

Pasti itu memengaruhi reputasimu.

Lalu pengadilan...

Kendati semua yang terjadi, kau tetap berpikiran sehat.

Bagaimana bisa?

Aku punya mantra sederhana.

Biarkan.

Tak semudah itu.

Hal yang menyakiti kita berdampak selama bertahun-tahun.

Ya, jika kita bolehkan.

Kita semua pernah jadi korban di masa lalu.

Bak air tak berhenti mengalir, begitu pun peristiwa.

Itu semua mengalir di hidupku seperti air di bawah jembatan.

Suatu yang tadi ada sudah menghilang.

Dan yang hilang, tak bisa kuubah lagi.

Baik.

Apa ini?

Lukisan?

Apa artinya?

Para wanita duduk di luar menunggu seseorang

dan kehidupan mereka sedih.

Sungguh? Di mana itu ditulis?

Tak ditulis.

Kau yang membuat makna itu.

Berikan makna lain.

Apa?

Mereka bersama.

Mereka berbeda, tapi serupa.

Tak sedih atau bahagia.

Jadi?

Yang ingin kukatakan...

kita buat hal dari semua hal.

Kita mencampur makna dan fakta.

Itu membuat masalah.

Seperti?

Apa fakta lukisan itu?

Ini lukisan lima wanita sedang duduk.

Benar.

Pikirkan. Makna apa yang kau berikan karena masa lalumu?

Seharusnya tak terjadi.

Tapi terjadi.

Aku mencuri buku saat kecil. Apa berarti aku pencuri?

Aku tiga malam dipenjara.

Apa aku penjahat?

Tidak, karena pemikiran itu bodoh.

Lalu bagaimana?

Geser ke sini. Berbalik.

Biarkan aku bantu.

Tapi...

Putar seperti ini.

- Baik. - Ya.

Katakan. Lebih baik?

Ya.

Akui lalu maafkan.

Maafkan dirimu.

Siapa pun yang lakukan apa pun, maafkan dia.

Maafkan Tuhan.

Maafkan orang tua.

Maafkan saudara dan semua orang.

Jika kita tak memaafkan,

kita yang menderita,

bukan mereka.

Merasa lebih baik?

Ya!

Mari kita bermain.

Bermain?

Kau ceritakan masa lalu dan kukatakan:

"Lalu?"

Lalu aku bercerita tentang masa lalu

dan kau katakan:

"Lalu?"

Baik.

Dulu ayahku memukulku.

Lalu?

Ayahku membuangku.

Lalu?

Aku gagal kelas enam.

Lalu?

Aku diperlakukan sebagai orang terbuang.

Lalu?

Kata istriku, aku memukulnya.

Lalu?

Orang selalu mempermalukanku dan sebut aku "Hitam."

Lalu?

Aku dipukul sampai masuk rumah sakit.

Lalu?

Aku diperkosa...

Lalu?

Lalu?

Lalu?

Lalu?

Lalu?

Itu yang terjadi.

Aku ingin hidup di masa kini.

Tak ada masa lalu, masa depan. Hanya masa kini.

Aku belum pernah memikirkannya.

Aku hanya ubah sudut pandang.

Kau selalu setegang ini?

Kau kurang istirahat?

Aku selalu bekerja.

Bahkan 24 jam tak cukup.

Pasti.

Berbaringlah.

Seperti ini, telungkup.

Aku akan bantu.

Sungguh.

- Aku merasa lebih baik. - Tolong.

Sebaiknya aku pergi.

Permisi, Bhau.

Madhav.

Ya, Sunanda.

Kapan kau kembali?

Kau mengusirku.

Kenapa kau mengatakan itu?

Tolong pulang. Aku merindukanmu.

Aku juga.

Apa yang terjadi?

Harus tandatangani surat cerai?

Kenapa kau begitu?

Kau ingin berpisah.

Astaga! Kembali saja.

Jangan terlambat. Kita makan malam bersama.

Aku akan pulang.

Renukabai.

Silakan.

Terima kasih.

Siapkan bumbu untuk terung.

Aku yang masak.

Baik, Bu.

Sapi kecil.

Ada apa?

Memasak favoritmu.

Apa kau beri makan domba sebelum dipotong?

Mandi dulu. Kusiapkan makan malam.

Baik.

Tasnya ditinggal di sini.

Kau tampak berbeda.

Apa yang terjadi? Sesuatu istimewa?

Kau menang dalam kasus Divya Patel itu.

Tidak. Sebenarnya aku kalah.

Kau tampak cantik. Muka merah.

Aku sulit tak melihatmu.

Lihat saja.

Boleh?

Kau menggoda?

Ceritakan.

Keajaiban terjadi.

Mengikuti nasihat dokter,

cerita itu akhirnya membosankan.

Aku heran betapa aku berpegang pada masa lalu selama ini.

Aku membebaskan diriku.

Sungguh bebas.

Kenapa?

Aku sadar aku harus hidup di masa kini, saat ini sekarang.

Jika kubuang momen itu, mereka juga akan hilang.

Masa lalu terjadi.

Lalu?

Apa aku harus selalu menangis?

Bagus.

Kau sadar.

Bagaimana bisa?

Aku mendapat mantra.

Biarkan.

- Baik. - Biarkan.

Biarkan.

Aku bertemu pria.

Dia membuatku mengerti.

Tahu apa yang terjadi setelah itu?

Aku tidur dengannya.

Kami melakukan semua yang dilakukan pria dan wanita.

Dan ternyata aku tak merasakan apa pun.

Tak ada rasa sakit, penderitaan, atau trauma.

Tak ada.

Terapi dokter berhasil.

Dulu kau berkata

bahwa cinta dan seks itu berbeda.

Ya.

Kini aku setuju.

Semalam, hanya ada wanita, pria, dan hormon.

Bukan korban pemerkosaan.

Tak ada perkosaan.

Kau tahu?

Itu bukan Sunanda.

Boleh aku bertanya?

Tentangnya?

Bukan.

Dia hanya kenalan.

Aku tak mengerti bagaimana itu terjadi.

Sambil masa laluku dihapus,

tubuh matiku hidup kembali.

Sudah saatnya kuhadapi masalahku sendiri.

Butuh keberanian.

Tapi aku menang kasus ini.

Kau punya pertanyaan lagi, 'kan?

Apa aku ada perasaan padanya?

Perasaan itu milikmu.

Hidup juga.

Jadi kau harus memutuskan.

Dan perasaanmu?

Jujur saja...

Aku bingung, sangat bingung.

Kenapa?

Aku bisa mengerti.

Pasti akan mengagetkan bagi suami.

Tapi kau berhak atasku.

Kau boleh marah dan teriak. Katakan apa pun.

Bukan persoalan hak.

Aku mencintaimu...

dan akan terus begitu.

Tapi cintamu...

Apa kau ragu?

Tak begitu...

tapi, Sunanda, hubungan ini terjalin dengan halus.

Bisa rusak dalam satu momen.

Keseimbangan berubah.

Persamaan baru muncul.

Karena itu...

Itu benar.

Masa lalu terjadi.

Mau coba hidup dalam persamaan baru?

Pikirmu kenapa aku di sini?

Sebenarnya?

Aku tak pernah punya moralitas kaum menengah.

Aku tak pernah meragukan cintamu.

Sungguh.

Sumpah.

Jadi, katakan...

bagaimana kau bisa berpisah dariku selama itu?

Aku merindukanmu, Madhav.

Kau tak merindukanku?

Rindu sekali.

Tapi aku takut kau keras kepala.

Bagaimanapun, kau melakukan semaumu.

Aku tak akan mampu cerai.

Aku juga.

Aku tak akan melepaskanmu satu detik pun.

Aku akan bawa kau ke Spanyol.

Aku tak pernah menolak itu.

- Sungguh? Bagus. - Ya.

PEMERKOSAAN TERJADI SETIAP 20 MENIT DI NEGARA DENGAN 1,3 MILIAR PENDUDUK

35% PEREMPUAN MENGALAMI KEKERASAN FISIK ATAU SEKSUAL

FILM INI DIBUAT UNTUK SEMUA KORBAN PELECEHAN SEKSUAL

Terjemahan subtitel oleh Jeffrey Jacobson

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.