Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[suara mobil mainan]
[suara mobil mainan]
[benturan]
[suara seram] Anjas...
[hujan di luar]
Ibu?
[suara seram] Anjas, anakku...
Ibu?
Ibu?
[pria] Anjas!
[petir]
Ayah.
Ayah.
Ayah.
Ayah!
[mendesah]
Sini, Nak.
Sini sama Ayah.
Anak Ayah.
- Yah. - Hmm?
Mulut Ayah bau lagi.
Kamu tadi ngobrol sama siapa di atas?
Masa Ayah musti ingatin terus Anjas?
Ibu itu sudah nggak sama kita.
Ibu itu sudah...
Maafin Anjas, Yah.
Karena pergi beliin mainan pesenan Anjas
- Ibu jadi kecelakaan di jalan. - Bukan, tidak.
Bukan salah Anjas.
Namanya juga takdir.
Tidak bisa diubah.
Sudah sana tidur sudah malam. Tidur lagi.
Tapi Anjas masih mau sama Ayah.
[teriak] Ayah bilang tidur!
Sana!
[tersedu]
Ibu.
Anjas kangen sama Ibu.
[tersedu]
[tersedu]
[petir]
[mebel bergerak]
- [petir] - [berkeriut]
[keriut berlanjut]
[mebel bergerak keras]
[suara seram] Anjas.
Ibu?
[petir]
Bu?
Bu?
[suara seram] Saat ia datang, kau akan pergi selamanya.
"Saat ia datang,
kau akan pergi selamanya."
[bergumam seram]
[suara retakan]
Anjas, anakku.
Ibu?
Ibu!
Ibu.
Ibu,
Anjas dimarahi Ayah lagi.
Anjas sudah jahat sama Ibu.
Maafin Anjas ya, Bu.
Anjas mau ikut Ibu?
Mau.
- [hentakan] - [tawa hantu]
- [tawa hantu] - [petir]
Anjas?
- [suara gemeretak] - [terkesiap]
Anjas?
[tawa hantu]
Anjas?
Anjas, di mana kamu?
Anjas?
Anjas!
[tersedu]
Anjas.
[tawa hantu]
Anjas!
Anjas!
[menjerit] Anjas!
[wanita bernyanyi] Aku memerintahmu setan
Menjadi apa pun
Yah! Ambar injak garis, Kak Dinda.
Ngepet!
- Kamu ngomong apa? - Ngepet.
[mendesah]
Sini.
- Kamu dengar dari mana? - Dari Kak Panji.
Ambar, tidak semua yang diucapkan Kakak-kakak kamu itu boleh ditiru.
Iya, Kak. Maaf.
[kakak] Kak Lidya manggil. Yuk
Tante Dona.
Kaca retak gitu masih saja dipakai?
Terus gimana dong? Tante tidak usah ngaca?
Kalau boleh jujur?
Sebenarnya, aku sudah bilang Glen, pacar aku, untuk cari yang baru.
Retak bahaya lho. Bisa pecah semua lama-lama.
Makasih ya, Sayang.
Terus gimana, Glen jadi datang tidak?
Jadi antar Tante ke Bandara, kan?
Jadi dong. Habis syuting langsung ke sini.
Panji, lihat ini. "Xbox." Keren banget, kan.
Aku ingin punya ini.
Biar bisa beli game sepak bola.
Ya udah kamu minta saja ke Mama. Mama kan mau pergi lama.
Mahal sekali. Tidak enak lah.
Kalau aku sih, Langsung minta.
Hm...
Minta?
Makan saja roti ini sampai perut besarmu meletus!
Meletus!
Hei, Kak Kresna! Tidak tahu artinya!
"Kuntilanak menyayangi anak kecil.
Ia akan menculik anak kecil yang secara sadar mau diajaknya.
Anak-anak yang suka keluar setelah maghrib.
Anak-anak yang tidak patuh kepada kedua orangtua.
Terutama anak yang kesepian dan butuh kasih sayang ibu.
Anak itu jadi pengganti anak kuntilanak
yang meninggal dalam kandungan."
[mebel bergerak]
[pintu berderit]
Siapa itu?
- [gadis teriak] - [anak laki-laki terkesiap]
Kaget ya?
Ambar, tidak boleh kagetin kaya gitu.
Kamu sih baca buku yang aneh-aneh terus.
Makhluk gaib itu bagian dari dunia kita, Ambar.
Mereka ada di sekeliling kita.
Seram amat, Miko.
Seru Ambar. Menarik.
Kamu jagain anak-anak Tante, kan?
Kelima anak tante
punya sifat yang berbeda-beda.
Tante juga tahu sekali kalau sifat kamu itu keras.
- Jadi, Tante berharap sih kamu... - Aku tidak bisa janji banyak.
Tapi aku janji aku akan jagain mereka sebisa mungkin.
Baiklah.
Liburan ini si Bu Naya itu bakalan libur.
Yang gantiin Mbak Narsih,
pekerjaannya hanya bisa dipakai sampai siang.
Dinda.
Iya, Tante?
Kamu belum bisa panggil "Mama" ya?
Adik-adik kamu semuanya sudah panggil Mama lho.
Maaf, Tante.
Maaf, Mama.
Tidak apa-apa.
Tidak ada yang harus dimaafkan.
Aku bingung sama diri aku sendiri.
Kenapa aku susah panggil "Mama",
dan adik-adik sebagai...
Keluarga?
Sayang.
Mama yakin...
ada waktunya kamu bisa menerima Mama dan adik-adik
sebagai keluarga.
Sudah.
[pria] Camera roll and action!
Kita berada di depan rumah Lukman Putra.
Rumah yang dikenal sangat angker.
Karena diduga pernah dihuni oleh sosok Kuntilanak.
Dugaan itu muncul setelah empat bulan lalu.
Putra tunggal Lukman Putra,
Anjas Putra, hilang secara misterius di dalam rumah ini.
Suasana di depan rumah sudah tidak enak.
Kita bisa lihat banyak barang rongsokan ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
Baiklah, pemirsa. Sekarang kita akan masuk ke dalam.
Karena rumah ini menjadi target operasi "Dimensi Astral,"
dalam episode "Rumah Kuntilanak".
Benarkah Anjas diculik Kuntilanak?
Konon kabarnya, rumah ini dikenal angker oleh warga sekitar,
karena sering terdengar tangisan anak kecil.
Dan suara perempuan yang tertawa.
- [suara keras logam] - Suara khas tawa...
Suara apaan itu?
Gue gak dengar suara apa-apa. Semuanya gak ada yang salah.
- Baiklah, ayo lanjut. Rolling. - Santai saja, oke?
Oke, lanjut ya.
[menghembuskan nafas]
Ya, selain sering terdengar suara tangisan anak kecil
juga sering terdengar suara jeritan dan penampakan...
Glenn, belakang loe.
[kucing mengeong]
Kucing!
Sialan tuh kucing. Kagetin gue aja.
Dari mana dia datangnya?
- Kucing gaib itu? [tertawa] - Apa? Gila loe.
- Glenn, kita duluan, ya? - Ya.
- Thank you, Bro. - Good job.
- Hati-hati ya? - Iya.
[dering telepon]
Halo, Babe. Ini udah mau jalan.
Iya, kamu tenang saja, Sayang. Keburu kok.
Oh iya. Aduh lupa. Cermin, ya?
Iya, nanti aku cari di pasar antik.
Banyak kok.
Pokoknya, pas nanti Tante Donna pulang, dia bakal surprised, oke?
Bye.
Mama akan tinggal selama tiga minggu di San Francisco.
Setelah Om Harun meninggal,
tidak terasa sudah lima tahun Mama tidak menengok anak
dan cucu Mama di sana.
Mama yakin sekali kalian bukan anak-anak manja.
Kalian adalah anak-anak yang mandiri.
Tepat satu tahun yang lalu...
Mama jatuh cinta pada kalian.
Itu yang bikin Mama yakin sekali,
untuk mengajak kalian tinggal di sini
sebagai anak-anak Mama.
Tenang, Ma. Dinda akan jaga mereka.
Makasih, Sayang.
Tapi lebih tepatnya,
kalian harus saling menjaga, ya?
Mama juga sudah lebih tenang
karena Kak Lidya sudah mau
tinggal di sini menemani kalian.
Kalau Kak Lidya ada, ada Kak Glenn juga, ya?
Iya, pasti nanti Kak Lidya pacaran sama Kak Glenn.
Sorry, Tante. Mereka pernah lihat aku sama Glenn.
Kalau gitu artinya kalian juga harus bisa jagain Kak Lidya.
- Setuju! - Setuju.
- Aku juga. - Setuju.
- Hei. - Hai.
- Ini cerminnya? - Iya.
Keren sih.
Kejutan buat Tante Donna sudah siap.
Tapi ada beberapa bagian yang agak lecet.
Harus diperbaiki.
Apa kita kasihnya nanti saja pas Tante Donna sudah pulang dari Amerika?
Biar surprise ya?
Ya sudah, di gudang saja kalau begitu.
Tapi tutup pakai kain soalnya banyak debu di sana.
Oke.
Keren banget.
Tante, sori ini jadi agak telat jemputnya.
Tidak apa-apa.
Tante yang makasih, kamu mau ngantarin Tante ke Bandara.
Biar saya bawa.
Lid, kamu jaga mereka baik-baik ya.
Terutama Ambar, dia yang paling lemah dan sensitif.
Aku dengar itu, Mama.
Aman, Tante. Salam buat Mas Anton.
Yo wis, budhal sek yo!
[semua anak] Ya, Mama.
Ma, jangan tinggalin Ambar lama-lama ya?
Tidak, Sayang.
Tidak lama kok. Mama hanya pergi tiga minggu.
Kalau kangen, boleh nggak Ambar tidur di kamar Mama.
Boleh, Sayang.
Boleh sekali.
Babe, hati-hati ya.
Jangan ngebut.
Tapi cepat, sudah mepet soalnya.
Beres, Bos.
[pintu ditutup]
[mesin dihidupkan]
Ambar.
Ayo masuk.
[suara seram] Dinda...
Dinda...
Dinda...
Dinda...
Dinda...
Dinda...
Siapa yang manggil aku?
- [suara seram] Dinda... - [tawa seram]
Ada orang di sana?
Kaca siapa ini?
Perasaan dulu nggak ada.
[terkesiap, terengah]
[berderit]
[tawa hantu]
[anak bercengkerama]
- [anak 1] Dingin! - [anak 2] Hangat-hangat!
- Di mana sih? - Hangat hangat.
Kata kuncinya "kayu".
Pasti di atas.
- Aku tahu tempatnya. - [dua anak laki dan perempuan] Hangat!
Hangat.
Panas!
Kayu? Ya, kayu.
Kayu...
Kayu. Itu benar. Terbuat dari kayu.
Mungkin di atas. Ya.
Nah ini dia.
[terkekeh]
Dapat!
Yes!
Aku dapat! Hore!
- Ini. - Itu, kan. Apa aku bilang?
Jangan menaruh batu di atas lemari! Gampang ditemuin!
Gampang ditemuin?
Tempatnya itu ada di atas! Lemarinya tinggi!
Terus kenapa, Panji bisa nemuin?
Mungkin aku jago.
Jago? Ngarep!
Lagian, kita ngumpetin batunya bareng-bareng.
Dan aku bilang, aku nggak setuju!
Apa ini, Cungkring?
Kamu takut jaga ya?
Miko, kamu tuh yang takut jaga! Iya, kan?
Enak aja. Dasar gendut!
Eh Kutu!
- Maksudnya apaan? - Berantem lagi.
Kamu kutu.
- Kamu gajah! - Kamu kutu!
- Ngepet! - Kamu gajah!
- Tadi kamu bilang apa? - Ngepet!
- Apa? - Ngepet!
- Apa? - Ngepet. Eh!
Panji, sudah kubilang berkali-kali jangan ngajarin Ambar kata nggak bener!
Kenapa berantem terus?
Sini deh.
Kalian ingat, kan
Mama ngomong apa?
Keluarga itu nomor satu.
Ya?
Isi hari-hari kalian dengan saling menghargai.
Kalian akan cepet banget dewasanya.
Dan kalian akan nyesel,
kalau sekarang kalian berantem terus.
Mengerti?
- Kagak. - Heh, ngerti nggak?
Ya sudah, sekarang kalian mandi.
[suara hantu] Kamu cantik, Ambar.
Dari dulu Mama pengen sekali punya anak perempuan.
Apalagi, yang cantik seperti kamu.
Kamu senang tinggal di sini?
Senang.
[suara hantu] Ambar...
Hei!
Kamu ngapain di sini?
Aku kangen sama Mama, Kak.
Ambar, kita sudah satu tahun di sini.
Bukan berarti kita boleh ke sini
tanpa ada Mama.
Aku sering ke sini.
Tiap kali ke sini rambutku dikuncir pita
supaya lebih cantik.
Aku juga bisa. Sini.
[hantu cekikikan]
[terkesiap]
Pita itu, siapa yang masang?
[suara hantu] Dinda...
Dinda...
Dinda...
[menjerit]
[terengah]
[suara teredam]
[derau TV]
[derau TV]
[suara menggaruk]
[suara menggaruk]
[lemari berderak]
[suara seram] Dinda...
Dinda...
[hantu wanita bernyanyi] Senja datang
cahayamu mulai menghilang
Jangan bangun dari tidurmu
Awas, jangan perlihatkan dirimu
Aku sangat takut
Aku mengutus setanku
Menjadi apa pun
Tapi jangan bawa kematian
[tawa setan]
[suara bergemeretak]
[anak perempuan menjerit]
[menjerit]
[setan cekikikan]
[anak perempuan terengah]
[suara menggaruk]
[suara menggaruk]
- Suara apa itu? - [suara menggaruk]
Mati.
Tau ah.
Sayang banget ini.
Siapa yang bikin kayak gini?
Lemari ini antik loh!
Siapa?
Kak, tadi malam aku dan Krisna dengar suara aneh.
Iya, Kak.
Aku juga.
Kayak goresan kuku di kayu.
Apa sih? Pokoknya ini urusan kalian sama Tante Dona.
Aku nggak mau tau.
[anak tertawa]
- [anak 1] Ayo dong, ayo. - [anak 2] Baiklah.
Lihat ini.
Ini keren banget.
- Aku nggak bohong. Lihat saja judulnya. - Apa?
"Mitos dan Makhluk Ghoib".
Lihat.
"Kuntilanak itu tangannya bisa memanjang sendiri."
Dengan kukunya, dia bisa cakarin apa saja yang dia mau!
Jadi maksud kamu, ada Kuntilanak di rumah kita?
Ada dua kemungkinan.
Yang pertama itu binatang,
yang kedua ya, Kuntilanak.
Di rumah kita itu, nggak ada yang namanya binatang.
Ada nggak sih, yang pernah lihat perempuan aneh gitu di rumah kita?
Maksud aku bukan Kak Lidya.
Aku pernah lihat.
Kayak perempuan.
Tapi ternyata cuma jemuran.
[anak-anak mendesah]
Berarti itu mah bukan.
Apa lagi Mik, keterangan tentang Kuntilanak?
[Miko] Aku pernah baca nih.
Kuntilanak akan menculik anak kecil dan mengambil jiwanya.
Dan anak kecil itu akan disembunyikan di tempat persembunyiannya.
Serem nggak tuh?
Tapi, Kuntilanak bisa dipanggil kan?
Ngapain juga manggil Kuntilanak?
Bisa.
Tapi manggilnya dengan nyanyian.
Aku tahu. Nama nyanyiannya itu "Durma Kuntilanak".
Berarti anak yang sudah hilang, bisa dilepasin lagi?
Bisa.
Tapi kadang tempat baliknya itu aneh.
Misalnya...
kandang ayam.
Atas pohon.
Dan juga, ada yang nggak balik selamanya.
Biasanya arwahnya gentayangan.
Kasihan ya anak-anak yang diculik selamanya.
Pemirsa, dugaan itu muncul setelah empat bulan yang lalu.
Putra tunggal Lukman Putra, Anjas Putra, menghilang secara misterius
di dalam rumah ini.
Pemirsa, kita bisa lihat banyak barang-barang rongsokan
yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
Baiklah, Pemirsa.
Sekarang kita akan masuk ke dalam
karena rumah angker ini menjadi target dari "Dimensi Astral,"
dalam episode, "Rumah Kuntilanak".
Benarkah, Anjas diculik oleh Kuntilanak?
Kabarnya, rumah ini dikenal angker oleh warga sekitar,
karena sering terdengar suara tangis anak kecil.
Dan perempuan yang tertawa.
Suara khas dari...
Suara apaan itu?
[suara mengunyah]
[suara mengunyah]
Wah. Tentang Kuntilanak.
Miko?
Sepertinya ini adalah kamar Anjas dulu.
Lihat.
- Masih ada sisa mainannya. - Aku panggil yang lainnya, ya.
Satu, dua, tiga, empat.
Kak Krisna, Panji, acara Kak Glenn ditayangkan di TV!
Kalian mau nonton gak? Ini tentang Rumah Kuntilanak.
Ayo nonton!
Pemirsa, ada foto.
Masih ada foto.
Anjas pasti diculik sama Kuntilanak.
Dia suka anak kecil, Kak.
Miko.
Kak Glenn nekat.
Hampir pasti, ini adalah foto keluarga Anjas.
Kasihan sekali nasib keluarga ini.
[jerit dan tawa]
Kresna, nggak lucu tau!
- Takut ya? - Nggak!
Sudah deh! Berantem melulu kalian.
- Kresna nyebelin tau, Kak. - Hei.
Lihat deh.
Di belakang Kak Glenn ada sesuatu.
[menjerit]
- Apaan sih? - [kucing mengeong di TV]
Yah! Cuma kucing doang.
Hei, Lidya.
Rumah Kuntilanak ada di mana sih?
Bisa tolong tanyain Kak Glenn?
Nggak terlalu jauh sih.
Cuma harus ngelewatin hutan.
- [tawa hantu] - [gedebuk]
[pintu berderit]
[barang jatuh]
[tawa hantu]
[barang berguncang]
[orang berusaha membuka pintu]
[menggedor]
[suara hantu] Miko...
Siapa itu?
Kresna, Panji!
Ada orang di pintu.
[pintu berderit terbuka]
[berkeriut]
- Lidya? - [suara hantu] Miko...
Lidya!
[jerit dan tawa hantu]
[Miko terengah]
[jerit hantu]
Kresna, Panji!
Tolong aku!
Kresna, Panji, tolong aku!
[Miko] Kresna, Panji, tolong aku!
Miko, sadarlah.
- Miko, Miko. - Miko...
- Miko. - Miko, sadarlah.
- Miko. - Sadarlah!
Miko? Hei, Miko.
- Kenapa dia? - Dari tadi dia teriak-teriak, Kak.
- Miko, sadarlah. - Miko, bangunlah.
- Miko. Miko. - Miko.
[terengah]
Kamu kenapa, Miko?
Kuntilanak... Ada Kuntilanak di rumah ini!
Tidak ada. Jangan ngaco. Kamu itu ngimpi.
Tahu nggak kenapa? Mana bukunya?
Gara-gara ini.
Kamu bisa dapat mimpi buruk gara-gara baca ginian!
Itu benar, Miko.
Baiklah, tidur lagi semuanya.
Miko.
Memangnya, kamu lihat apa?
Aku melihat Kuntilanak, di situ.
Dia nahan pintu.
Aku coba dorong terus.
Tapi dia tetap saja nahan.
Bajunya warna apa?
Putih ya?
Standby, semua. Target satu, Kak Glenn, target dua, Kak Lidya.
Operasi "Gagalkan Pacaran," siap untuk diluncurkan.
Kendaraan target satu sudah dikuasai.
Pandawa, calling Panji Millennium.
Bagaimana posisi target kita?
Target sudah masuk ke dalam rumah.
Selena Gomez, bagaimana posisi target dua?
Target dua dan target satu sudah bergerak dari posisinya.
Miss Elsa melihat kedua target,
menuju gudang.
Target satu dan dua sudah lolos dari pengintaian.
Waspada semua, mereka pasti sedang berduaan.
Siaga merah!
Ya ampun, Babe,
cocok banget sama barang-barangnya Tante Donna.
Aku yakin dia pasti suka.
- Babe. - Apa?
Cermin antik kayak gini biasanya punya banyak legenda.
Pandawa, saya akan mendekat
untuk mendengar apa yang mereka obrolkan.
Bagus, Komandan Kancil.
Jika ada kegiatan fisik yang mencurigakan, batalkan.
Copy Pandawa.
Babe, bener nggak sih rumahnya ada Kuntilanaknya?
[derau radio]
Banyak warga sekitar yang melihat penampakan.
Nih.
Rating Rumah Kuntilanak kemarin tinggi, jadi Bos buat sayembara
yang isinya, barang siapa yang bisa membuktikan keberadaan sosok Kuntilanak
dapat sepuluh juta Rupiah dan jadi bintang tamu di acara kita.
Daripada gitu,
mendingan gue pake kain putih
- rambut gue acak-acakan. - Babe.
- Terus loe foto gue. - Babe.
- Duitnya buat gue tapi. - Aduh.
- Lihat, aku seperti Kuntilanak. - Nggak.
Komandan Kancil, lakukan tugasmu sekarang!
Mereka tidak boleh pacaran di kamar. Over!
- Siap, Kapten. Over. - Aku mirip.
- Benar, kan? - Cantik gini mirip Kuntilanak.
[Lidya] Tapi kamu masih mau, kan?
- Masih mau aku? - Mau.
Ow!
Miko! Hei!
Yes!
Kak Lidya dan Kak Glenn, nggak boleh pacaran di kamar!
Wooo!
Kalian sempat bingung kan, mau ngapain liburan ini?
Aku dapat jawabannya.
Nih. Hadiahnya sepuluh juta.
Kita tinggal datang ke Rumah Kuntilanak
yang gak jauh dari sini terus kita foto dia.
Dan kita menangin sayembaranya!
Sepuluh juta?
Kita bisa beli rumah tuh.
- Beli Xbox dulu. - Ngaco lu Kres.
Emang Kuntilanak bisa difoto?
Kalau frekuensinya sama, bisa.
Tapi serius nih...
mau ke rumah itu?
Takut yah?
- Takut bilang saja. - Nggak kok, nggak takut.
Gimana? Oke? Kan lagi liburan.
Kak Lidya harus kuliah sampai sore. Kalian jaga rumah, ya?
- Baiklah. - Oke.
Kalian nggak punya rencana macem-macem kan?
[semua] Nggak.
Oke. Aku percaya kalian.
[semua] Siap!
[klakson mobil]
Aku sudah dijemput. Berangkat dulu, ya.
Iya, Kak.
- Dah, Kak Lidya. - Dah.
- Jangan bandel. - [semua anak] Iya.
Benar kan, rumahnya dekat sini?
Kita tinggal masuk hutan,
ikutin jalannya,
jalan dikit, sampai. Dekat kan?
Hati-hati, Ambar.
Ayo.
Dikunci. Kita harus cari jalan lain.
[gedebuk dari dalam rumah]
Hati-hati, nanti jatuh.
[pintu berderit]
Ambar, tunggu.
[tung]
[dung]
[ding]
Ingat ya, kalau ada apa-apa, bilang.
[suara hantu] Dinda...
[menarik napas berat]
Apaan tuh?
[Dinda] Mangkujiwo?
Miko.
Ada gambar Kuntilanak.
[Miko] Kuntilanak?
Oiya. Dengar ini.
"Orang yang bisa manggil Kuntilanak adalah orang yang memiliki Wangsit."
Wangsit itu apa?
Wangsit itu seperti bakat.
Kadang orang yang mempunyai bahkan tidak menyadarinya.
- Apa ini. - Kenapa?
Nggak apa-apa.
[hantu wanita bernyanyi] Senja datang
cahayamu mulai menghilang
Jangan bangun dari tidurmu
Awas, jangan perlihatkan dirimu
Aku sangat takut
Kenapa, Din?
Nggak.
- Kak, ke situ yuk. - Ke mana?
Ada dapur di belakang.
Ayo.
Ya sudah, kita berpencar.
Tapi inget, nanti kalau ada Kuntilanak langsung difoto, oke?
- Difoto? Serius? - Serius.
Ayo, Mik.
Bodoh.
Apaan sih?
Kuntilanak, Kuntilanak...
keluar dong.
Bukan gitu cara manggil Kuntilanak.
Kuntilanak itu keluar dengan nyanyian.
Emangnya kamu tahu lagunya?
Nggak tahu.
Anjas?
- Ke atas yuk. - Yuk.
Kenapa duduk di sini? Ayo.
Guys, tungguin dong.
Kamu sih lama.
Hei.
Kayaknya ini kamar anaknya deh.
Jadi, maksud kamu...
ini kamar Anjas?
[pintu terbuka]
[anak laki-laki] Tolong.
[anak laki-laki] Tolong aku.
Tolong...
Tolong aku...
Kumohon.
[merintih]
[menjerit]
- [terkesiap] - Kak kenapa?
Ambar, ngagetin aja.
[terkesiap]
[menghantam dinding]
[gemeretak]
[terkesiap, terengah]
[Panji] Mobil itu, punya kamu ya?
Ya sudah, aku nggak jadi ambil.
Nggak apa. Ini buat kamu saja.
Mobil ini aku dapat dari Ibu aku.
Soalnya aku nggak bisa main ini lagi.
Kamu Anjas ya
yang sudah hilang itu?
Kamu gambar apa?
Kok muka kamu kayak gitu?
[semua berteriak]
- Kamu ngapain di sini? - Itu, itu!
Apaan sih?
Itu tadi...
Itu mobil dapat dari mana?
Mobil ini dapat dari si...
- Siapa? - Anjas.
- Anjas? - Ya Anjas.
Berarti tadi kamu ketemu sama hantunya Anjas.
- Hantunya Anjas? - Di mana?
- Hantunya Anjas? - Iya.
- Anjas kan sudah mati. - Aduh.
Apa yang harus aku lakukan?
- Panji, ini tempat apaan sih? - Aku nggak tahu.
Ini kamu ya yang nyalain semua lilinnya?
Bukan aku. Ngapain aku nyalain lilin?
- Kamu ketemu sama hantunya Anjas, kan? - Iya.
Tadi kamu dapat foto, dong. Mana sini HP kamu.
- Mana fotonya, mana. - Ya sudah. Kita langsung pulang saja.
Jangan lama-lama di sini.
- Mana fotonya? - Ya sudah, ayo.
Ayo kita ke sana yuk.
- Anjas? - Aduh.
- Panji... - Tunggu!
Cepetan, Miko.
Kresna, kayaknya tadi aku lihat anak kecil.
Kayaknya Anjas.
- Aku tadi juga lihat... - Sudah-sudah!
Nanti saja cerita di rumah. Ini sudah mau gelap.
Ayo pulang.
- Aku mau pipis, ya? - Ya ampun, Panji!
Ya sudah sana, cepetan!
Tadi aku ngelihat hantunya Anjas.
Dia kasih lihat aku gambar.
Gambarnya paku.
Paku?
[teriakan teredam]
Diam!
Diam.
Ngapain kamu di rumah saya?
Siapa yang nyuruh?
Orang-orang TV brengsek itu?
Ngaku.
Jangan Om!
Lihat.
Ini mainan anak saya.
Dasar kamu maling kecil! Apalagi yang kamu ambil dari rumah saya?
Aku nggak mencuri ini Om!
- Aku dapat dari Anjas. - Bohong!
Katanya Anjas mobil ini hadiah dari ibunya.
Dari ibunya?
Pasti Anjas masih hidup.
- Nama kamu siapa? - Panji, Om.
Oke, Panji. Sekarang kamu ikut ke rumah Om,
dan tunjukin kamu ketemu Anjas di mana.
[teriak]
Panji.
- Semuanya lari! - Ada apa, Panji?
Ada orang gila di sana!
Panji!
Ya benar. Ayo, ayo!
- Buruan! - Ayo!
- Ayo cepat. - Ke sini.
Ayo turun. Buruan!
Ayo!
[Dinda] Anjas?
Anjas?
[Glenn] Suasana di depan rumah sudah tidak enak.
Pemirsa, kita bisa lihat banyak barang rongsokan ditinggal begitu saja
oleh pemiliknya.
Cerminnya...
Cermin yang ada di gudang.
Selamat siang, Pemirsa.
Saya akan mewawancarai warga sekitar yang kebetulan adalah tetangga Pak Lukman
mengenai kasus hilangnya Anjas, anak Pak Lukman.
Menurut rumor, Anjas, anak Pak Lukman hilang
diculik Kuntilanak. Apa betul?
Si Anjas main sama teman-temannya sore-sore, mainnya petak umpet lagi.
Gimana nggak diculik Kuntilanak coba.
[pria di video] Saya ngelihat Kuntilanak.
Dia rambutnya panjang matanya seram.
[Dinda] Mangkujiwo.
Wangsit.
[suara seram] Kresna...
[benturan]
[duk]
[duk]
[benturan]
[tawa setan, memekik]
[terengah]
Aku kangen, Ma.
[cermin bergerak keras]
Aku kangen banget sama Mama.
[cermin bergerak keras]
[bergemeretak]
Aku kangen banget sama Mama.
[hantu cekikikan]
[suara hantu] Ambar...
Ambar...
Mama?
Mama?
Ambar.
Aku pikir Mama nggak akan pulang lagi ke sini.
[wanita] Mama pasti pulang.
Mama nggak mungkin meninggalkan anaknya.
Ambar kangen sama Mama.
Ambar mau ikut Mama?
Mau Mama.
[suara gemeretak]
[terkesiap]
[menjerit]
- [suara seram] Dinda... - [cekikikan seram]
Ini dari baju Ambar.
Kak Dinda, tolong.
Ambar! Ambar!
Kak Dinda, tolong Ambar.
Ambar!
-Ambar! -[cekikikan seram]
Ambar!
- Dinda, ada Kuntilanak di atas! - Ambar!
Dinda!
Ada Kuntilanak di lorong atas!
[Dinda terengah]
Ambar tadi di dalam sana.
Dia di hutan, dibawa sama Kuntilanak!
- Miko! Miko! Miko! - Bangun, Miko.
Miko!
Aku nggak bisa nelpon Kak Lidya. Handphone-nya mati.
Miko, ada Kuntilanak di rumah ini.
- Dia membawa Ambar. - Apa? Bawa Ambar?
[pintu berderit]
[Dinda] Cermin ini sama persis dengan cermin yang di rumah hantu itu.
Jadi pasti Kak Glenn mengambilnya dari rumah itu dan membawanya ke sini.
Tunggu sebentar.
Ini dia.
"Kuntilanak biasanya tinggal di pohon
dan ada juga yang di dalam cermin."
Tampaknya kita berhadapan dengan yang di cermin.
Jadi maksudmu, di dalam cermin itu
ada alam gaib tempat Kuntilanak itu tinggal?
Ya.
Jangan-jangan, yang kita lihat itu arwahnya Anjas.
Berarti Anjas sudah meninggal dong. Terus Ambar?
Kuntilanak akan selamanya menyimpan anak di tempat persembunyiannya
setelah malam Jumat Kliwon.
Kita masih ada waktu untuk mengeluarkan Ambar dari situ.
Sekarang Kamis Wage, besok Jumat Kliwon.
- Wage itu apa? - Tanggalan Jawa.
Miko, gimana cara ngelawan Kuntilanak?
Paku. Kepalanya harus dipaku.
Tapi orang yang bisa manggil dan ngalahin Kuntilanak
hanya orang yang menerima Wangsit.
Wangsit.
[Panji] Kresna, tolong aku!
- [anak 1] Panji! - [anak 2] Panji!
Panji? Panji?
[Kresna] Pintunya terbuka.
- Di mana dia? - [Panji] Tolong!
[Miko] Panji! Ayo.
-Panji! -Panji!
Om, lepasin dia! Jangan sakitin dia!
- Om, lepasin dia! - Diam.
Kalian ini kurang ajar!
Kalian tidak cuma mengambil mobil-mobilan anak saya,
kalian mengambil cermin ini juga!
Kalian nggak tahu ini cermin apa?
Cermin ini terkutuk!
Cermin ini yang merusak keluarga saya.
Cermin ini...
sarang Kuntilanak!
[man] Hei!
Om, adik kami dan Anjas dibawa Kuntilanak ke cermin itu!
Panji!
[suara seram] Ayah.
- [Suara seram] Ayah. - Anjas.
Anjas, sini Nak!
[tawa setan]
Anjas!
Anjas!
[berteriak]
Anjas.
[berteriak dan mengerang]
[Miko] Yah, lampu mati. Gimana dong?
Ambar masih di dalam. Kita harus mengeluarkan dia dari situ.
[Miko] Caranya gimana?
Pasti ada caranya.
[Panji] Tapi gelap. Aku nggak bisa ngelihat.
[Kresna] Ya sudah. Kita bawa cermin ini ke luar. Di sana terang.
- Ya sudah. - Hati-hati.
-[Miko] Kresna, hati-hati. -[Kresna] Iya.
[semua] Satu, dua, tiga.
- [bersusah payah] - Kak Kres!
[anak bergumam] Sini-sini!
[Miko bernapas berat]
Miko, di buku kamu ada nggak cara masuk ke dalam cermin?
Nggak ada, Kak.
Kita harus panggil dia keluar.
- Gimana caranya? - Iya, gimana?
Kembalikan Ambar!
[tawa setan]
Dinda! Dinda!
Sekarang gimana nih, Miko?
- Kok aku sih? - Kamu yang sering baca tentang itu!
Sudah jangan berantem!
Itu yang dia mau.
Kita harus bersatu...
karena kita keluarga.
Saya berjanji kepada Ambar bahwa kami akan selalu bersama-sama.
Jika kamu akan mengambil Ambar, ambillah saya. Saya siap.
Saya juga.
Saya juga.
Saya juga.
[tawa setan]
[jeritan]
Dia keluar! Sekarang apa, Miko?
Aku nggak tahu.
- Terus gimana dong? - Dia keluar.
[rintihan]
[semua menjerit]
[setan cekikikan]
[semua menjerit]
[hantu memekik]
Berhenti!
[anak-anak menjerit]
- Panji kamu di mana? - Ini aku.
- [Dinda] Kresna, kamu di mana? - Aku di sini.
[Dinda] Ayo, kita berdiri.
-[Dinda] Kresna, kok gelap gini ya? -[Kresna] Nggak tahu.
[Panji] Nggak bisa lihat apa-apa.
Di mana Miko?
[suara gemeretak]
Suara apa?
[Miko dengan suara seram] Tolong!
Dinda, Kresna, tolong aku!
-[Kresna] Miko! Miko! -[Dinda] Hei, lepasin Miko!
[Panji] Lepasin!
[hantu menjerit]
[Miko berteriak]
- Miko! - [Panji] Jangan!
Terlalu berbahaya, jangan!
[anak-anak terengah]
[hantu mendengking]
- [hantu meratap] - [petir]
Lidya.
[anak-anak] Kak Lidya!
[Dinda] Bantu bawa dia ke sana.
[anak-anak] Kak Lidya.
Kak Lidya!
[Lidya dengan suara iblis] Apa yang kau mau?
Lidya kerasukan Kuntilanak.
Kak Lidya!
[Lidya dengan suara iblis] Kenapa kau ganggu aku dan anakku?
- Lidya! - Dia ngomong apa sih?
Ngapain kamu ganggu aku dan anakku?
[Kresna menjerit]
Lepasin!
Baiklah, gadis kecil.
Jangan lakukan itu, Kak Lidya!
Panji!
- [menggeram] - [suara gemeretak]
Apa yang kau mau?
Lidya!
Lidya, kamu kenapa?
- Lidya, sadar! - [hantu memekik]
Kresna!
Kak Lidya kenapa?
Kak Lidya, kesurupan Kuntilanak.
Kresna, sini!
Ada apa Din?
Aku yakin pasti ada kata kunci di cermin ini.
Ingat, Kuntilanak bisa masuk ke dalam dunia kita.
Pasti ada cara agar dia kembali ke dunianya.
Kak Dinda, tolong.
- Ambar! Ambar! - Ambar! Ambar!
-Ambar! Ambar! -Ambar! Ambar!
Dinda, Kresna, tolongin Kak!
- Miko! Miko! - Miko!
Lidya, bangun!
Ayo kamu harus bisa melawan! Kamu kuat!
Kak Dinda, Kresna, baca ukirannya ini Kak!
Ukiran?
Ukiran ini Jawa kuno.
"Yang kuat...
adalah yang memelihara."
Biar aku coba.
Yang kuat adalah yang memelihara!
Dinda, di buku itu juga disebut
kalau orang yang bisa memanggil dan mengalahkan Kuntilanak
adalah orang yang punya Wangsit.
Aku nggak punya Wangsit, Din.
Terus?
"Orang yang mempunyai Wangsit."
Wangsit?
Yang kuat adalah yang memelihara.
[memekik] Yang kuat adalah yang memelihara!
Yang punya Wangsit kamu, Dinda!
Yang kuat adalah yang memelihara!
[Lidya menggeram]
Yang kuat adalah yang memelihara!
[Lidya menggeram]
[pekikan seram]
[jeritan setan]
[Lidya] Kalian ingat kan, Mama ngomong apa?
Keluarga itu nomor satu.
Mama yakin, ada waktunya
kamu bisa menerima Mama dan adik-adik
sebagai keluarga.
Dinda, paku kepalanya!
[pekikan seram]
[jeritan setan]
[Dinda] Yang kuat adalah yang memelihara!
[hantu meratap]
[ratapan hantu mereda]
Kamu berhasil, Din.
Aduh!
- Panji? - Panji.
Aku nggak apa-apa kok.
Oke.
Kamu bener nggak apa-apa?
Ambar sama Miko gimana?
[suara gadis] Dinda!
- Ambar? - Ambar?
[Dinda] Kami berhasil menggagalkan pengambilan Ambar dan Miko.
Adik-adikku selamat.
Walaupun mereka, seperti yang tertulis,
ditemukan di tempat-tempat yang bisa dibilang aneh.
- Miko? - Miko.
Kak Kresna, Kak Dinda, Kak Panji!
Miko.
Miko, kamu nggak apa-apa?
Nggak apa-apa sih. Cuma bau saja.
Bau tahi.
- [batuk] - [anak-anak tertawa]
[Dinda] Tidak demikian dengan Anjas,
anak malang yang sudah lama diculik sama Kuntilanak.
Namun paling tidak petunjuk yang diberikan Anjas melalui gambar-gambarnya
cukup menolong ayahnya untuk menemukan jasadnya yang hilang.
Sekarang paling tidak dia bisa beristirahat dengan tenang.
Satu, dua, tiga. Say cheese!
Cheese!
Foto keluarga pertama kalian.
[semua anak] Waah...
- Bagus sekali. - Bagus!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.