Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[bunyi trompet]
[prajurit 1] Ayo, kumpul!
- Kumpul, Pemalas! - [prajurit 2] Ayo, cepat!
[prajurit 3, menggeram] Ayo, jalan!
- Cepat! - [riuh keramaian]
- [prajurit 1] Ayo! - [prajurit 3] Ayo!
[prajurit 1] Ayo, kumpul di lapangan!
- [prajurit 3] Ayo! - [prajurit 1] Ayo! Cepat!
[prajurit 3] Berdiri yang urut!
- [prajurit 4] Baris! Hei! Baris! - [bunyi cambuk]
[prajurit 5] Ayo! Jalan! Terus!
- [prajurit 6] Ayo! - [prajurit 4] Ayo!
[prajurit 5] Hei! Luruskan!
[dalam bahasa Belanda] Tegak, gerak!
[dalam bahasa Belanda] Hormat!
Lapor!
[De Boer] Tawanan-tawanan inlander berjumlah 90 orang!
Terdiri dari pemberontak-pemberontak,
pembangkang-pembangkang yang tidak mau bayar pajak.
Perampok-perampok maupun penjahat-penjahat siap melakukan kerja paksa.
Laporan selesai!
Letnan!
Mana itu tawanan dari Kandanghaur yang memberontak terhadap kompeni, ha?
Dia ada di sebelah kiri barisan. Siap untuk diperiksa.
[prajurit 7] Minggir!
[tawanan 1] Maaf.
[musik dramatis dengan tabuhan gendang]
Ini dia, Komandan.
[Van Schram, bergumam]
De Boer,
kau mesti jaga benar-benar orang ini.
Saya punya firasat orang ini sangat berbahaya.
- Siap, Komandan! - [Van Schram, bergumam]
Siapa nama koe, Anak Muda?
[teriak] Jawab pertanyaanku, Bangsat!
Namaku Parmin.
Orang-orang menyebutku Jaka Sembung.
Bangsamu menyebutku pemberontak.
[Jaka Sembung] Puas?
- Kurang ajar! - [debuk]
[Van Schram, berdengus]
Betron!
Suruh mereka semuanya berangkat!
Siap, Komandan!
[De Boer] Barisan, hadap kanan...
[De Boer] jalan!
[prajurit 3] Ayo, jalan! Cepat!
- [prajurit 1] Ayo, cepat jalan! - [riuh keramaian]
- [prajurit 3] Ayo! - [tawanan 2] Aduh...
- [prajurit 1] Cepat! - [prajurit 2] Jangan malas, ya!
[prajurit 2, dari kejauhan] Cepat! Ayo! Jangan malas!
[Van Schram, menghela napas]
[Van Schram, dalam bahasa Belanda] Pagi, Maria.
[Maria, dalam bahasa Belanda] Pagi, Papi.
[Van Schram, bergumam]
Kalian pergi. Semua boleh pergi.
- Papi. - [Van Schram] Ya?
Tiap hari Papi selalu menyiksa tawanan-tawanan itu.
Mereka sudah sangat lemah dan menderita.
Bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik?
Maria,
selain pemberontak-pemberontak itu harus bekerja,
mereka juga harus diajari disiplin.
Kita tidak boleh lemah.
[Van Schram, tertawa kecil]
[dalam bahasa Belanda] Kita harus kuasai, ya?
- [bunyi trompet] - [embusan angin]
[latar musik tradisional diputar]
[gemerencing belenggu]
[musik sedih]
[prajurit 1] Ayo!
- [riuh keramaian] - [bunyi cambuk]
- [bunyi cambuk] - [tawanan 3] Ampun, Tuan!
[tawanan 4] Aduh, jangan, Tuan.
[riuh keramaian]
[bunyi batu dipukul]
[tawanan tua, mengaduh] Bismillah.
[mandor, berdengus] Oi!
Kerja baru sebentar sudah minta minum?
- Haus, Pak. - [mandor, berdengus]
Kerja sana!
- [tawanan 5] Bangun, Pak. - [prajurit 8, teriak]
[prajurit 8] Jangan bantu dia! Kerja! Ayo cepat!
- [letusan senjata api] - [riuh keramaian]
[dalam bahasa Belanda] Sial!
Kerja! Ayo, kerja lagi!
- [letusan senjata api] - [riuh keramaian]
[riuh perkelahian]
[letusan senjata api]
- [para tawanan] Cepat! Naik! - [letusan senjata api]
[tawanan 6, mengaduh]
[Jaka Sembung] Selamatkan dia!
- [teriakan] - [letusan senjata api]
[riuh perkelahian]
Tangkap para bajingan itu!
Ayo, kejar! Jangan sampai lolos!
Lari!
- Semua lari! Ayo! - [riuh keramaian]
- [letusan senjata api] - [prajurit 7] Cepat! Jalan!
Apa?
Jaka Sembung melarikan diri?
[dalam bahasa Belanda] Dasar sial! Kalian tidak becus!
Gila!
Ini terbukti tindakannya yang sangat lemah!
Dia orang berbahaya!
Kau harus segera menangkap dia, De Boer!
[dalam bahasa Belanda] Cepat lakukan!
Siap, Komandan!
Perintah segera dilaksanakan!
[dalam bahasa Belanda] Tunggu, Kapitan.
Menangkap Jaka Sembung bukan hal mudah.
Pengikutnya ada banyak.
Ya, Komandan.
[dalam bahasa Inggris] Bukankah lebih baik kalau kita minta bantuan Residen Cirebon
dan Gubernur Hederald di Batavia?
[dalam bahasa Belanda] Tidak! Tidak mungkin!
Tuan Residen dan Tuan Gubernur akan mentertawakan
kalau kita gagal mengatasi perkara yang sekecil ini.
Mengerti?
[dalam bahasa Belanda] Itulah sebabnya.
Bukankah pemerintah Batavia telah menggariskan politik memecah belah
untuk menghadapi orang-orang pribumi?
Saya kurang setuju dengan politik itu.
Saya lebih suka bunuh mati saja setiap pemberontak
yang menentang pemerintahan.
Pikiranmu sangat dangkal, De Boer.
Kau hanya mengerti itu,
padahal ada satu siasat lagi yang lebih jitu.
Apa saranmu, Van Allen?
Di negeri ini, ada banyak jago-jago alias jawara-jawara.
[Van Schram, bergumam]
Kita kumpulkan mereka untuk menangkap si Jaka Sembung.
[bergumam] Caranya?
Kita membuat sayembara.
Ya...
[dalam bahasa Belanda] Itu ide bagus, Van Allen.
"Sayembara!"
[riuh keramaian]
[prajurit 8] "Dicari jawara-jawara tangguh
untuk menangkap seorang perampok ulung
bernama Jaka Sembung.
Hadiah, 100 golden.
Tertanda, Kapitan Van Schram."
- [bunyi gong kecil] - [prajurit 9] Sayembara!
- [bunyi gong kecil] - [prajurit 9] Sayembara!
- [bunyi gong kecil] - [prajurit 9] Sayembara!
- [bunyi gong kecil] - [prajurit 9] Sayembara!
[musik dramatis]
[jawara 1, berdengus]
[tertawa kecil]
[riuh panik]
[jawara 1, mendengus] Air!
[riuh keramaian]
[bunyi trompet]
[prajurit 10] Berhenti!
Mau apa koe kemari?
[jawara 1, menggeram] Tidak usah tanya-tanya!
[prajurit 10] Hei, tunggu!
- [jawara 1, menggeram] - [prajurit 10, mengaduh]
[prajurit 10] Berhenti!
[centeng 1] Kepung!
[jawara 1, tertawa]
[riuh baku hantam]
[desir ayunan senjata]
[jawara 1, tertawa]
[jawara 1, tertawa]
[letusan senjata api]
[riuh baku hantam]
[teriakan para centeng]
[riuh baku hantam]
[letusan senjata api]
[jawara 1, tertawa]
[jawara 1, tertawa]
[centeng 1] Kejar!
[letusan senjata api]
Suara ribut-ribut apa lagi itu di luar?
- Ha? - [letusan senjata api]
[dalam bahasa Belanda] Entah, Komandan.
[riuh perkelahian]
[jawara 1] Ayo! Maju!
[jawara 1] Ayo! Semuanya maju!
[jawara 1] Ayo!
Koe mau apa ribut-ribut di sini, ha?
Saya mau bertemu dengan Menir Van Schram.
[Van Schram] Saya sendiri.
[jawara 1] Saya mau ikut sayembara,
asalkan bayarannya tiga kali 100 golden.
Ya, boleh.
Tentu boleh.
Tapi koe...
mesti diuji dulu
sebab Jaka Sembung
bukan orang sembarangan.
Koe mengerti?
Dia boleh jago,
tapi Kobar
jago dari segala jago, Menir.
- [Kobar, tertawa] - [dalam bahasa Belanda] Bagus.
Mari. Koe buktikan.
- [lenguh kerbau] - [Kobar terengah-engah]
[Kobar, berteriak]
[bunyi tulang patah]
Kang Parmin,
Surti jadi khawatir.
Bahwa musuh-musuh Akang sekarang
bukan saja kompeni-kompeni itu,
tetapi juga jawara-jawara bayarannya.
Hubbul wathan minal iman.
"Cinta tanah air adalah sebagian dari iman."
Terkutuklah mereka-mereka yang telah membantu orang-orang kafir,
apalagi membunuh sesama bangsanya.
[Ayah Surti] Parmin, di sini kau adalah pemimpin rakyat yang dikenal.
Jangan kau menetap di satu tempat.
La haula wa la quwwata illa billah.
"Tidak ada sesuatu kekuatan pun yang dapat terlaksana tanpa seizin Ilahi."
Benar, Kang, tapi di sini banyak mata-mata.
Sebaiknya Akang menghimpun kekuatan di tempat yang aman.
[Jaka Sembung] Baiklah.
Aku mengerti perasaanmu, Surti.
Insyaallah,
kompeni-kompeni dan jawara-jawara murtad yang menghalangi perjuangan kita
akan aku hadapi sampai titik darah penghabisan.
[gedoran pintu]
- [Kobar] Buka! - [gedoran pintu]
- [Kobar] Buka pintu! - [gedoran pintu]
- Semuanya, sembunyi ke belakang. - [Ayah Surti] Ayo.
[Kobar] Ayo, cepat!
Mana itu yang namanya si Jaka Sembung?
[musik dramatis]
[Kobar] Mana?
Dia tidak ada di sini.
- Ini bukan rumahnya! - [Kobar, tertawa]
[Kobar] Bagus!
Ternyata yang namanya si Jaka Sembung hanya seorang pengecut!
[Surti, teriak]
- [Kobar] Ayo! - [Surti, teriak]
[Surti] Lepaskan!
- [Surti, teriak] Lepaskan! - [Kobar, tertawa]
[Kobar] Diam!
Rupa-rupanya kau adalah begundal kompeni yang rakus upah.
Diam!
Memang Kobar butuh upah,
tapi juga perlu kepalamu!
Seorang jawara yang tidak didasari ilmu agama
hanya menjadi alat pembunuh.
- [Surti, teriak] - Masyaallah.
[desir angin]
[debuk]
[Kobar, meludah]
[Kobar, meludah]
[Kobar, berteriak]
[sorak perkelahian]
[sorak perkelahian]
[debuk]
[Jaka Sembung] Tunggu!
Pulanglah kalian kalau tidak ingin bernasib seperti dia,
dan beri tahu tuanmu
bahwa Kobar mati di tanganku.
[centeng 2, teriak]
[centeng 3] Ayo!
- [centeng 2, menggeram] - [centeng 4, meludah]
[Surti, terkejut]
Aku kagum akan kehebatannya.
Alangkah kuatnya barisan kita kalau orang seperti dia mau bersatu.
Koe orang semuanya boleh pergi.
Pergi.
[centeng 4] Permisi, Menir.
- [centeng 3] Permisi, Menir. - [centeng 2] Permisi.
Kobar sekarang sudah mati.
Lantas, jago-jago inlander mana lagi yang bisa diharapkan,
dan kalau terus-terusan begini, di mana harga diri kita, Komandan?
[dalam bahasa Belanda] Apa maksudmu, Letnan?
Kita punya pasukan.
Kita punya cukup persenjataan untuk tumpas mereka.
[Van Schram] Tapi aku tidak mau itu.
Kenapa?
Di samping kita mempergunakan taktik dan politik,
juga agar orang-orang pribumi tahu
bahwa kita, orang penjajah,
tidak suka kekerasan.
[Van Schram, bergumam]
[Van Allen, bergumam]
[Van Allen, dalam bahasa Belanda] Selamat sore, Komandan.
[dalam bahasa Belanda] Siapa dia, Van Allen?
Dia seorang dukun,
mau ikut sayembara.
Dia bisa menghidupkan mayat untuk disuruh membunuh si Jaka Sembung.
Apa?
Oh, ya?
Apa itu mungkin, Menir Van Allen?
Sedangkan Kobar yang hebat pun kalah,
apalagi mayat.
Maaf, Menir.
Ki Hitam memang mayat,
tapi dia memiliki ilmu Rawe Rontek,
yaitu ilmu kekekalan.
[dukun] Jika bagian tubuhnya terputus,
bisa hidup kembali
bila menyentuh tanah.
Omong kosong!
Kalau ceritamu itu benar,
kenapa dia tetap jadi mayat?
Karena kepalanya digantung pada sebatang pohon,
dan badannya disimpan dalam sebuah peti di tempat terpisah.
[dukun] Dia dikalahkan Ki Sapu Angin, guru Jaka Sembung.
[dalam bahasa Inggris] Omong kosong!
Semua ceritamu itu bohong!
Penipu!
Koe cuma cari ini, he?
[dalam bahasa Belanda] Jangan!
[De Boer, dalam bahasa Inggris] Tolong! Tolong aku!
[De Boer, dalam bahasa Inggris] Tolong!
[dalam bahasa Inggris] Tolong!
[dalam bahasa Inggris] Tolong!
[dalam bahasa Belanda] Tolong aku! Cepat!
[De Boer, dalam bahasa Inggris] Tolong!
[De Boer, dalam bahasa Inggris] Tolong!
[dalam bahasa Inggris] Tolong! Tolong aku!
[dalam bahasa Inggris] Tolong!
[De Boer, dalam bahasa Belanda] Cepat!
[dalam bahasa Inggris] Tolong aku! Tolong!
[De Boer, dalam bahasa Inggris] Tolong. Tolong, Kapitan!
[Van Schram] Turunkan dia.
[dalam bahasa Belanda] Terima kasih, Komandan.
Lebih baik koe hidupkan Ki Hitam untuk membantu kami.
Baik, Menir.
Lain kali, koe orang, hati-hati bicara.
[musik mistis]
[lolong serigala]
[dalam bahasa Inggris] Kini aku tahu sihirmu yang hebat.
[kuda meringkik]
[dukun] Demi karsa dan daya yang mengendalikan alam semesta,
aku memanggilmu, Ki Hitam,
di dalam kerandamu yang gelap pekat
untuk hadir kembali ke dalam kehidupan fana.
[musik mistis berlanjut]
Sekarang, carilah kepalamu.
Aku ikuti langkahmu.
[musik misterius]
[gemerencing alat sihir]
- [gemerencing alat sihir] - [musik misterius masih berlanjut]
[gemerencing alat sihir]
Bangunlah kau, Ki Hitam.
[tertawa] Ki Bidin, Sobatku,
aku tahu kau sengaja menghidupkan aku
untuk membantu majikanmu, orang-orang bule itu. [tertawa]
Ya, untuk membunuh Jaka Sembung,
murid Ki Sapu Angin,
musuh besar kita itu.
[Ki Hitam] Baik.
Akan kutebus kekalahanku.
Mari kita mulai.
[prajurit 11] Ayo, keluar semua!
[riuh panik]
[prajurit 12] Ayo, sana!
- [debuk] - [rakyat 1] Aduh! Ampun, Pak.
[prajurit 13] Jangan "ampun-ampun." Ayo, cepat keluar!
Bikin lambat!
[rakyat 2] Ampun.
[prajurit 13] Cepat! Jangan pelan-pelan begitu!
[letusan senjata api]
[riuh panik]
Kumpulkan mereka semua di alun-alun!
[De Boer] Cepat!
- [bunyi tembakan, kuda meringkik] - [riuh panik]
- [tukang kopi] Ini, Den. - [dalam bahasa Jawa] Terima kasih, Pak.
[letusan senjata api]
- [riuh keramaian] - [kuda meringkik]
[Harja] Ya Allah!
[riuh keramaian]
[prajurit 12] Ayo, kamu orang, keluar semua!
[prajurit 12] Berkumpul di sana!
[riuh panik]
Ayo!
Tangkap dan kumpulkan mereka!
[prajurit 14] Jangan bergerak!
[prajurit 15] Ayo ikut!
Ba!
[prajurit 14] Kau tahu apa ini?
[prajurit 15] Mau ke mana?
- [Harja, tertawa] - [prajurit 15] Dasar gila!
Hei! Belanda edan! Edan!
- [Harja] Kompeni gila! - [prajurit 14] Jangan lari!
[Harja] Kompeni gila!
[Harja, teriak] Belanda edan!
[Harja] Mas! Minggir! Ada kompeni edan di sana!
[penjual, dalam bahasa Jawa] Bagaimana?
[Harja] Sana! Minggir!
- [penjual, mendengus] - [Harja] Minggir!
Wong edan apa?
[Harja, menggeram] Mas, minggir! Aku mau lewat!
- [Harja] Aku sudah bilang, 'kan? - [penjual, dalam bahasa Jawa] Ini ya...
- [Harja] Minggir! - [penjual, dalam bahasa Jawa] Tunggu!
[Harja] Minggir!
- [penjual] Tolong! - [Harja, teriak] Belanda edan!
[Harja] Ada Belanda gila!
[pria 1] Kenapa si Harja itu?
- [pria 1] Hei, Ja! - [wanita 1] Ada apa?
- [riuh keramaian] - [pria 2] Ada apa, Ja?
- [pria 1] Ada apa ribut-ribut? - [wanita 1] Belanda?
- [Harja] Belanda gila! Ke sana! - [pria 1] Kenapa, Ja?
[para penduduk kebingungan]
Hei, Kang Parmin mana?
[pria 2] Ada di sana! Ayo!
[riuh keramaian]
[Harja] Kang Parmin!
Kompeni edan! Kampung diubrak-abrik! Semua orang ditangkap.
Jadi, bagaimana sikap kita, Kang?
Semua tenang.
Jangan mengambil tindakan apa-apa.
[kuda meringkik]
[De Boer] Hei, inlander-inlander semua!
[De Boer] Mestinya koe orang semua sudah tahu
buat apa pemerintah Batavia berkuasa di sini!
Kita orang mau bikin negeri ini makmur,
kaya dengan rempah-rempah,
bebas dari pemberontak-pemberontak,
dan perampok-perampok.
[De Boer] Seperti orang yang bernama Jaka Sembung.
Dia orang jahat.
[kuda meringkik]
Kalian semua mesti beri tahu
di mana itu si Jaka Sembung bersembunyi, ha?
Tidak! Jaka Sembung bukan penjahat!
Dia pembela keadilan dan kebenaran!
Tutup mulutmu!
- [riuh keramaian] - [istrinya, teriak] Kakang!
[prajurit 12] Mundur! Mundur semuanya!
- [De Boer] He! Sini! - [ibunya bocah] Jangan!
- [bocah] Aku tidak mau! - [ibunya bocah] Jangan!
- [De Boer] Lepas! - [ibunya bocah] Anakku!
- [bocah] Ibu, tidak mau! - [De Boer] Sini!
- [bocah] Aku takut! - Jangan bunuh anakku, Menir!
- Kasihani anakku satu-satunya, Menir! - [bocah] Ibu!
- [bocah] Ibu! - [ibunya bocah] Jangan!
Jangan!
- [rakyat 3] Sudah, Bu! Tenang. - Jangan! Anakku!
- [prajurit 16] Ayo! Mundur semua! - Jangan!
[ibunya bocah] Jangan!
Aku akan hitung sampai tiga.
Kalian harus bicara di mana itu si Jaka Sembung bersembunyi.
- Jangan, Menir! Jangan bunuh anakku! - Ibu!
- Ibu! - [De Boer] Ayo, cepat!
- [bocah] Ibu! - [ibunya bocah] Jangan, Menir!
[De Boer] Kalau tidak,
kepala anak ini akan ditembus peluru pistolku!
[bocah] Ibu.
- Jangan, Pak! - Ibu.
- Tenang, Bu. - Pak...
Satu!
Ibu!
Dua!
- [De Boer] Tiga! - [Jaka Sembung, teriak]
Hei, orang bule!
Aku paling tidak bisa melihat di depan hidungku
ada anak kecil mati karena aku.
[De Boer] Oh, ya?
Rupa-rupanya kau menyerah juga, Kunyuk!
Jangan! Jangan menyerah, Pendekar!
Biar anakku menjadi korban!
Teruskan perjuanganmu!
Ya! jangan menyerah, Pendekar!
[riuh keramaian] Ya! Benar!
[riuh keramaian] Jangan menyerah!
[riuh keramaian] Lanjutkan! Teruskan!
[riuh keramaian] Ya, benar! Teruskan!
[riuh keramaian] Teruskan! Ayo, Jaka!
Tenang!
- Allahu Akbar! - [rakyat] Allahu Akbar!
Kita tidak perlu cemas!
Perjuangan untuk membebaskan negeri ini
tidak pernah berhenti meskipun tanpa saya.
Esa hilang, dua terbilang!
Aku kagum pada kelicikanmu!
Keparat!
- [bunyi tikaman] - [letusan senjata api]
[bunyi tembakan di kejauhan]
Semua orang, minggir!
[musik dramatis]
[Surti, terpekik tertahan]
[Jaka Sembung, teriak]
[debuk]
Kurang ajar!
Harja, kamu mau ke mana?
Jangan seperti jagoan. Ayo sembunyi ke belakang!
[efek mistis]
[Jaka Sembung, teriak]
[rakyat, menjerit]
[Ki Hitam, tertawa]
[Ki Hitam, tertawa]
[Van Schram] Bagus, Ki Hitam. Bagus.
Pasung,
dan arak orang ini keliling kampung!
Biar semua orang tahu
hukuman apa untuk seorang perampok seperti dia!
- [pria 3] Jaka Sembung ditangkap! - [pria 4] Apa? Di mana?
[pria 3] Di sana!
[pria 3] Pak Bendol, ayo keluar!
- [wanita 2] Ada apa? - [pria 3] Jaka Sembung ditangkap! Ayo!
- [pria 3] Ran! Buka, Ran! - [wanita 2] Ayo!
- Ayo! - [pria 3] Jaka Sembung ditangkap!
- [pria 5] Ada apa, Pak? - [wanita 3] Merapat.
[musik dramatis]
[prajurit 10] Terus!
- Minggir! - [prajurit 11] Jalan!
[prajurit 12] Ayo, cepat.
[prajurit 12] Cepat!
[prajurit 12] Ayo jalan terus!
[prajurit 13] He! Ayo!
[prajurit 12] Cepat ke pinggir, Semua! Kasih jalan!
[prajurit 12] Minggir!
[prajurit 13] Minggir, Semua!
- [prajurit 13] Ayo! - [prajurit 12] Jalan!
[Surti] Kang Parmin!
[prajurit 12, dalam bahasa Belanda] Jalan!
[prajurit 12] Ayo, cepat.
[prajurit 13] Ayo, jalan! Cepat!
[prajurit 14] Keluar!
[prajurit 15] Minggir!
- [prajurit 15] Minggir! - [Surti] Akang!
- [prajurit 16] Ayo, cepat! - [Surti] Kang Parmin!
- [prajurit 17] Minggir, Semuanya! - Kang Parmin!
[musik dramatis]
- [prajurit 12] Cepat! - [prajurit 13] Maju!
[prajurit 12] Ayo!
[musik dramatis berakhir]
[musik tradisional diputar]
[kuda meringkik]
[derit pintu gerbang depan]
[musik tradisional berakhir]
[derap langkah kaki]
Kasih masuk ke dalam kerangkeng!
Jangan dikasih minum
dan jangan dikasih makan!
[dalam bahasa Belanda] Cepat!
[prajurit 18] Ayo.
[prajurit 19] Jalan!
[prajurit 19] Ayo, cepat.
- [prajurit 18] Cepat. - [prajurit 19] Ya.
[prajurit 18] Ayo.
[prajurit 19] Cepat!
[tawanan 6] Hei, lihat. Itu Jaka Sembung.
[prajurit 18] Ayo, cepat!
[prajurit 18] Cepat!
[prajurit 19] Ayo.
[prajurit 19] Ayo, cepat.
[prajurit 18] Masuk!
- [bunyi paku dipalu] - [erangan kesakitan]
[Ayah Surti] Kau mau ke mana malam-malam begini, Nak?
Ayah,
kita tidak bisa berdiam diri.
Kita harus cepat-cepat membebaskan Kang Parmin.
Maksudmu, kita akan menyerbu ke kamp kompeni?
[Surti] Ya, Ayah.
Tidak, Anakku.
Apa artinya kekuatan kita bila dibandingkan dengan mereka?
Ini sama artinya dengan mengantar nyawa.
Itu risiko perjuangan, Ayah.
Saya tidak bisa melihat kekejaman Belanda terhadap Kang Parmin.
[Surti] Kita harus membebaskannya, Ayah!
[Surti] Kita harus membebaskannya!
Tenang, Surti.
Tenang.
Aku tahu kau mencintai Parmin.
Ayah.
Nak,
bertawakallah,
semoga Tuhan memberikan jalan kepada kita sekalian.
[musik beralunan trompet]
[prajurit 8] Siapa kamu?
Jaka.
Jaka, ini aku datang.
Buat apa kamu kemari?
Tenanglah. Aku ingin membebaskanmu.
Bukankah aku seorang pemberontak.
Penjahat,
dan tawanan ayahmu?
Benar, Jaka.
Tapi kau adalah pejuang dari rakyatmu.
Mengherankan.
Seorang kulit putih seperti kamu menyebutku sebagai pejuang.
[musik dramatis]
Jaka, aku iba padamu, juga...
[Jaka Sembung] Maria,
bisakah kau melepaskan tanganmu dari mukaku?
Kenapa?
Agamaku melarangnya.
[Maria] Baiklah.
Kau jangan salah paham.
Kedatanganku kemari
untuk membebaskanmu.
- [Van Schram] Maria. - [Maria, terpekik]
[musik intens]
[dalam bahasa Belanda] Bagus.
[dalam bahasa Belanda] Kamu lakukan semuanya dengan baik.
Papi sudah dengar semua, apa yang kamu bicarakan.
[dalam bahasa Belanda] Kemarilah, Nak.
[dalam bahasa Belanda] Kemarilah.
[dalam bahasa Belanda] Cepat, kemari! Kamu tidak dengar?
Kamu akan saya pulangkan ke Holandia
dan jangan kamu mimpi bisa datang lagi ke Jawa.
[dalam bahasa Belanda] Paham?
[dalam bahasa Belanda] Anak sial!
Dan koe, Pemberontak,
koe akan saya siksa dulu sebelum koe digantung!
Papi! Jangan!
[dalam bahasa Belanda] Papi! Jangan!
Papi!
[Van Schram] Minggir kamu!
[Maria] Papi kejam.
[centeng 1] Mau merokok?
[centeng 2] Dingin juga, ya.
[riuh rendah perbincangan]
- [debuk benda terjatuh] - [Surti, teriak kaget]
[para centeng kaget]
[centeng 2] Oi! Siapa itu?
[centeng 3] Jangan lari!
[centeng 4] Kejar!
[centeng 2] Berhenti!
- [centeng 5] Turun! - [centeng 1] Tangkap dia!
- [letusan senjata api] - [Surti, teriak]
[debuk]
[para centeng berteriak]
[riuh perkelahian]
- Centeng! - [centeng 5] Ya, Menir!
Siapa orang itu?
[centeng 5] Ayo!
[centeng 5] Dia anak buah Jaka Sembung, Menir.
[Van Schram, dalam bahasa Belanda] Begitu.
[Van Schram] Bagus.
Jadi, koe kemari mau membebaskan pemimpinmu, he?
- [Van Schram] Centeng! - [centeng 4] Ya, Menir.
Kasih dia masuk ke dalam penjara sekalian.
[dalam bahasa Belanda] Dasar kurang ajar!
[centeng 5] Ayo!
- [centeng 5] Jalan. - [centeng 4] Masuk!
- [centeng 5] Diam! - [prajurit 15] Siapa dia?
[centeng 4] Tawanan, Pak.
[centeng 5] Ayo.
[Surti] Lepaskan!
[centeng 4] Masuk!
[centeng 5] Ayo.
Buka!
Bukakan pintu!
[Surti, teriak] Lepaskan! Lepaskan aku!
Surti...
[Surti, teriak] Buka!
[Surti] Bukakan pintu!
[Surti, menangis] Lepaskan!
Surti...
[Maria] Maafkan aku, Jaka.
Sudahlah, Nona.
Jangan kesedihan itu diperkarakan terus.
Di sini, tidak ada seorang pun yang berani menentang papimu.
Ya.
Tapi aku tidak bisa membiarkan hal begini.
Hal ini, jangan dibicarakan lagi.
[pengasuh] Kita tidak bisa berbuat apa-apa,
kecuali pasrah.
Hari sudah larut malam.
Biarlah segalanya itu sirna di dalam mimpi.
[dalam bahasa Arab] Allah.
[dalam bahasa Arab] Allah.
[dalam bahasa Arab] Allah.
[dalam bahasa Arab] Ya, Allah.
[dalam bahasa Arab] Allah.
[dalam bahasa Arab] Allah...
[dalam bahasa Arab] Allah...
[dalam bahasa Arab] Allah...
ALLAH
[Jaka Sembung dalam bahasa Arab] Allah.
[menggeram]
[terengah-engah]
[denting paku terjatuh]
[menggeram]
- [Jaka Sembung meludah] - [denting paku terjatuh]
[dalam bahasa Arab] Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
[menggeram]
Kang Parmin.
[dentang jeruji sel didorong]
- [dentang jeruji sel terjatuh] - [debam jatuh berjatuhan]
- [Surti] Kang Parmin! - [Jaka Sembung] Surti.
- [Surti] Matamu, Kang. - [Jaka Sembung] Ya.
[dentang jeruji beradu belenggu]
- [menggeram] - [debam jatuh berjatuhan]
[Jaka Sembung] Kita harus cepat pergi.
[dentang jeruji sel terjatuh]
[Jaka Sembung] Keluar! Semua, keluar!
[prajurit 20] Tembak!
[riuh keramaian]
[Jaka Sembung] Keluar! Keluar, Semua!
[Jaka Sembung] Tunggu! Tunggu.
Biar aku yang di depan.
[riuh keramaian] Ayo!
[para tahanan] Terus! Ayo, terus!
- [debuk] - [teriakan]
[riuh perkelahian]
[dalam bahasa Inggris] Berhenti!
[Ki Hitam] Sabar.
Ini urusan saya.
Kau sudah tidak punya kekuatan apa-apa.
[mengerang]
[efek mistis]
[bunyi menguik babi hutan]
[salakan anjing]
- [bunyi menguik babi hutan] - [salakan anjing]
Kang Parmin!
[dalam bahasa Inggris] Berhenti!
Biarkan dia lari!
[Van Schram] Dia akan mati sendiri kehabisan darah.
Hal yang saya khawatirkan,
nasib si Jaka Sembung.
Jangan-jangan dia bisa berubah menjadi manusia kembali
dan balas dendam.
Tidak, Menir.
Babi itu akan mati kelaparan,
atau mati dibunuh orang-orang kampung.
Menir, tahu?
Orang Islam di daerah ini
paling benci dengan babi.
[riuh keramaian] Bunuh!
[riuh keramaian] Babi haram!
[riuh keramaian] Babi haram!
Jangan! Jangan pukuli dia!
Jangan bunuh dia!
[Surti] Jangan bunuh dia!
[bunyi menguik babi hutan]
[Surti] Kang Parmin.
Tenanglah, bapak akan membantumu.
[musik lembut menenangkan]
[Ki Sapu Angin] Ayo naik, Nak.
[musik tradisional]
[bunyi menguik babi hutan]
Kasihan nasibmu, Jaka.
Memang berat melawan sihir Ki Hitam.
Mudah-mudahan atas izin Allah,
akan kuubah wujudmu kembali.
[dalam bahasa Arab] Aku berlindung kepada Allah, dari godaan setan terkutuk.
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Allah...
[musik dramatis]
[efek mistis]
[dalam bahasa Arab] Kabulkanlah doa kami, wahai Tuhan semesta alam.
Guru.
[Ki Sapu Angin] Masuk.
Semua lawan-lawanmu berilmu tinggi.
Mereka bukan tandinganmu.
Kau perlu aku isi kembali.
Dalam kebutaan ini,
bagaimana mungkin saya lakukan itu?
Kau tidak perlu khawatir, Jaka.
Seorang pengikutmu,
yang diam-diam mencintaimu,
telah merelakan biji matanya.
Siapakah dia, Guru?
Surti.
Surti?
Dia baru saja meninggal beberapa saat lalu.
Di mana dia sekarang, Guru?
[Ki Sapu Angin] Mari, Nak.
[musik tradisional]
[Ki Sapu Angin] Dia terbaring di hadapanmu, Jaka.
Surti.
Kau adalah pahlawanku,
juga kekasihku.
Pengorbananmu sangat besar
untuk menebus perjuangan ini, Surti.
Aku tidak bisa melupakanmu, Dik.
Selamat jalan, Surti.
[dalam bahasa Arab] Sesungguhnya kami itu milik Allah
dan akan kembali kepada Allah.
[Jaka Sembung, terisak]
[dalam bahasa Arab] Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang.
[musik intens]
[musik intens berakhir]
[efek musik dramatis]
[desir angin]
[suara elang]
[musik intens]
[bunyi tebasan]
[Ki Sapu Angin] Bagus.
Jurus pemungkas untuk melawan ilmu Rawe Rontek
telah kau kuasai dengan sempurna, Jaka.
Terima kasih, Guru.
[Ki Sapu Angin] Tapi kau harus ingat,
potongan tubuhnya, jangan ada yang menyentuh tanah.
[Maria] Bangsa kami
telah cukup lama tinggal di sini.
Secara pribadi,
saya sangat menentang cara-cara papi saya,
menindas orang-orang pribumi
di negeri ini.
Ya.
Khususnya,
mereka-mereka yang membenci pemerintah kolonial.
[Maria] Perjuangan untuk membebaskan negeri ini dari kaum penjajah
adalah hak rakyat itu sendiri. Justru anehnya,
mereka semua ditangkap...
disiksa, lalu dipenjarakan
tanpa diadili.
Padahal, bangsa kami hidup dari keringat mereka
dan hasil kekayaan bumi negeri ini.
Hal inilah yang menggugah perasaan saya
untuk bersimpati pada perjuangan Jaka Sembung.
Cita-cita almarhum
sangat luhur.
[Maria] Kita semua harus mendukungnya tanpa terkecuali.
Kalau bukan saudara-saudara
yang meneruskan perjuangannya,
siapa lagi?
- [pejuang 1, isyarat mendiamkan] - Saya...
[riuh keramaian] Kang Jaka?
[riuh keramaian] Dia hidup kembali!
- Asalamualaikum. - [para pria] Waalaikumsalam.
Kawan-kawan tentu heran, melihat kehadiranku yang utuh ini, bukan?
[Jaka Sembung] Nanti, akan aku ceritakan kisahnya.
Aku telah mendengar semua pembicaraanmu, Maria.
Aku tidak menduga anak seorang penjajah mau berjuang bersama-sama kami.
Tekadku untuk membebaskan negeri ini
adalah juga tekad rakyat banyak.
Kita harus manunggal dengan mereka.
Rakyat adalah tulang punggung perjuangan.
[Jaka Sembung] Dan niat ini akan terlaksana bila Maria mau membantu.
[efek dramatis]
[Van Schram] Ternyata anakku sendiri adalah pengkhianat.
Berkhianat kepada papi
dan pada kompeni.
- [Maria, berteriak sakit] - [debuk terbentur]
[Maria terisak]
[Van Schram] Rupanya diam-diam selama ini
kau telah menemui orang-orang Jaka Sembung, ha?
Memang, Papi.
Maria tidak setuju pada tindakan Papi
yang sewenang-wenang terhadap orang-orang pribumi.
Mereka berjuang menuntut haknya.
[Maria] Mereka ingin hidup bebas,
menikmati hasil negerinya sendiri.
Kita ini cuma...
hidup menumpang di sini.
Papi...
Papi serakah!
Kompeni kejam!
[dalam bahasa Belanda] Beraninya melawan papimu sendiri?
[Maria, menjerit dan terisak]
[dalam bahasa Belanda] Kenapa kau membantu musuh?
[Van Schram] Maria!
Rupanya kau sudah termakan hasutan orang-orang pemberontak itu, ha?
Tidak, Papi!
Maria sadar apa yang Maria lakukan!
Tidak seperti mereka-mereka,
mengkhianati bangsanya sendiri karena upah!
[dalam bahasa Belanda] Beraninya kau!
Jadi, koe berdua,
besok harus tangkap itu si Jaka Sembung yang hidup kembali.
[Ki Bidin] Ya.
Beres.
Perintah Menir pasti terlaksana.
[dalam bahasa Belanda] Bagus.
Kalau tidak,
koe berdua punya kepala akan jadi gantinya.
- Mengerti? - [Ki Bidin] Mengerti, Menir.
[makmum] Allahu Akbar.
- [imam] Allahu Akbar. - [makmum] Allahu Akbar.
- [imam] Allahu Akbar. - [makmum] Allahu Akbar.
- [imam] Allahu Akbar. - [makmum] Allahu Akbar.
[imam] Asalamualaikum warahmatullah.
[makmum] Asalamualaikum warahmatullah.
[imam] Asalamualaikum warahmatullah.
[makmum] Asalamualaikum warahmatullah.
[dalam bahasa Arab] Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
[makmum] Amin.
[imam, dalam bahasa Arab] Selawat dan salam...
[makmum] Amin.
[Jaka Sembung] Jangan! Dia bukan lawan kalian.
[musik intens]
Hei, Orang-orang murtad!
Untuk apa kalian datang kemari?
Apakah kalian ingin tahu
bahwa diriku bukan lagi seekor babi yang buta?
Ternyata kau muridnya Ki Sapu Angin,
musuh besarku.
Aku sudah menyediakan lubang kubur untukmu,
Jaka sombong.
Terima kasih.
Tapi arwahku akan bersedih
jika aku harus mati di tangan antek-antek kompeni seperti kalian!
[riuh perkelahian]
[debuk]
[berseru mengejek]
- [desir angin] - [Ki Hitam, tertawa]
Kau boleh pilih di setiap bagian tubuhku,
sesuka hatimu!
[Ki Sapu Angin] Kau harus ingat.
[Ki Sapu Angin] Potongan tubuhnya jangan ada yang menyentuh tanah.
Bakar!
Jangan sampai menyentuh tanah!
- [pejuang 2] Ayo! - [pejuang 3] Bawa!
[pejuang 4] Bawa ke sana!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- Satu, dua, tiga. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
[pejuang 5] Yang kuat!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- [Harja, dalam bahasa Jawa] 1, 2, 3. - [para pejuang] Ayo!
- Serbu! - [para pejuang] Serbu!
[prajurit 21, dalam bahasa Belanda] Tahan.
[Harja] Jangan dilepas! Aduh!
[Harja] Aduh! Somad, tolong!
[Harja] Ini tanganku!
[Harja] Pegang tanganku! Aduh!
[Harja] Ayo! Aduh!
[Harja] Jangan dilepas! Aduh! Pak Kompeni, jangan dilepas!
[Harja] Jatuhlah aku!
Matilah kamu!
[pejuang 3] Allahu Akbar!
- [letusan senjata api] - [riuh perkelahian]
[dalam bahasa Belanda] Kalian berdua, dengarkan.
[dalam bahasa Belanda] Sebarkan pasukan!
[dalam bahasa Belanda] Laksanakan!
[dalam bahasa Belanda] Ayo, cepat.
[Jaka Sembung] Buka! Semua, buka!
[Jaka Sembung] Keluar! Cepat!
[Jaka Sembung] Keluar! Ayo!
[Jaka Sembung] Keluar!
[dalam bahasa Belanda] Perhatian! Dengarkan perintahku!
Kasih mati itu semua pemberontak-pemberontak, ha!
Ayo, cepat!
[pejuang 4] Keluar!
Ayo, terus! Lari, terus! Ayo! Somad!
[Harja] Hei, Kalian! Terus! Katanya mau lawan Belanda!
Van Schram.
Sekarang koe boleh bangga atas kematianmu.
[dalam bahasa Belanda] Tidak.
Ucapan itu hanya berlaku untuk koe sendiri, ha!
[Van Schram] Koe cari mati, Anak Muda!
[denting parang]
- [bunyi tebasan] - [mengaduh]
[mengerang]
[dalam bahasa Belanda] Koe bangsat!
[letusan senjata api]
[pengasuh] Non Maria. Bangun.
[letusan senjata api]
Ada apa?
Di luar, Jaka Sembung dan teman-temannya menyerbu kastel ini.
- Jaka Sembung? - Ya, Non.
[letusan senjata api]
[Harja, tertawa]
- [Van Schram, berseru] - [Jaka Sembung, teriak]
Pemberontak busuk koe!
- [bunyi tebasan] - [Van Schram, mengerang]
Papi!
[terisak] Papi...
Maafkan aku, Maria.
Aku telah terpaksa membunuh ayahmu.
Aku tidak kuasa mengelakkan takdir ini.
[Maria terisak]
[Jaka Sembung] Dia adalah orang besar bagi bangsamu, Maria.
Aku hormat padanya.
[Jaka Sembung] Sudahlah, Maria.
Mari kita kuburkan jenazah ayahmu dengan baik.
- [Van Schram] Laknat! - [Jaka Sembung] Maria, awas!
- [letusan senjata api] - [Maria mengaduh]
[Jaka Sembung] Maria!
Maria?
Maria!
Papi...
[Jaka Sembung] Maria!
Maria!
Jaka...
Di saat terakhir ini...
aku...
akan katakan...
- sesuatu kepadamu. - Apa itu, Maria?
Aku...
mencintaimu...
Teruskanlah perjuanganmu.
[Jaka Sembung] Maria!
[Jaka Sembung] Maria...
[musik tradisional diputar]
TAMAT
Terjemahan subtitle oleh Wafi Wifqatillah
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.