Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Tak apa-apa menunggu? Atau mau di kafe depan saja menongkrongnya?
Oh, ya sudah.
Masuk, ya?
Seperti mengantar anak ke sekolah.
Aduh!
Agak grogi.
Doakan, ya?
Pak.
Gus.
Ini sudah kusiapkan tiga episode beserta failnya.
Tinggal kau pelajari.
Kita buat adaptasi dari IP sinetron yang dulu saja.
Yang pasti laku.
Lagi pula, kau kalau buat adaptasi selalu bagus, 'kan?
Ini bukannya dulu sudah pernah reborn, ya, Pak?
Namanya juga reborn. Bisa reborn lagi.
Pak.
Coba dengar dulu ide saya yang ini.
Bagaimana kalau kita buat film
hitam putih?
- Ya ampun, Gus. Hitam putih? - Iya, Pak.
Kau seperti tidak tahu industri kita seperti apa.
Nah, judul filmnya...
Kalau filmnya hitam putih, siapa yang mau menonton?
Ya, judulnya, Pak. Judulnya...
Gus, penonton kita tak mau diberi yang berat-berat. Mereka maunya dihibur.
- Dihibur, Gus. - Ya...
Jadi, sudah. Ini untuk festival saja.
Oh, tidak, Pak! Tenang.
Ini filmnya tidak berat, Pak.
- Tidak, ya? - Tidak.
Bapak tenang saja. Bapak pasti suka setelah saya...
Gus...
Pak.
Begini, Pak. Kalau Bapak rasa cerita saya kurang bagus,
habis ini selamanya saya tulis skenario adaptasi, tidak apa-apa, Pak.
Keluarkan semua IP sinetron Bapak, saya tulis semuanya. Sudah.
- Benar, ya? - Ya.
- Oke, coba. Ya. - Oke. Saya cerita, ya?
Tapi Bapak bayangkan hitam putih dulu.
- Oh, ya. - Oke? Hitam putih.
Nah, Pak Yoram...
Film ini bercerita tentang
seorang penulis film
yang ingin mendapatkan gadis pujaannya dengan cara
diam-diam menuliskan kisah cintanya ke dalam skrip.
Jadi, ini semacam surat cinta melalui film. Begitu, Pak.
Bagaimana?
Keren?
Oke, saya jelaskan lagi, ya.
Agar lebih jelas, saya jelaskan dari Sequence Satu.
Di Sequence Satu ini, Pak,
kita jelaskan bahwa gadis yang penulis ini taksir
namanya Hana, adalah teman SMA-nya yang baru saja menjanda.
Oh, menarik. Suaminya meninggal karena Covid?
Ah... Ya. Bisa iya, bisa tidak.
Saya belum memikirkan penyebabnya apa.
Oh, ya. Bisa kita pikirkan.
- Iya. Saya lanjut lagi? - Iya.
Jadi, begini...
Tapi untuk apa buat film hitam putih?
Saya susah jualnya kalau filmnya hitam putih, Gus.
Aku sudah pernah membuat film hitam putih.
Penonton harus diingatkan bahwa film ini hitam putih.
Di tengah film, mereka bisa keluar, tanya penjaga bioskop apa proyektornya rusak.
Disangka film rusak, Gus. Film rusak.
Nah, itu nanti di akhir dijelaskan, Pak,
kenapa filmnya harus hitam putih.
Akhirnya bahagia?
Pak, saya belum mulai cerita, tapi...
- Bahagia, Pak! Bahagia sekali malah! - Wow. Harus bahagia.
Nanti, Pak... Nanti di akhir, ketika film yang Bagus tulis ini rilis...
- Ya. - Penulisnya namanya Bagus.
Oh, kau curhat ini.
Kau curhat, ya?
Yah, kalau penulis, memang harus personal, Pak.
Mereka semua bilang begitu.
Iya. Oke.
Nanti, Pak, ketika film ini rilis dan sudah tayang perdana,
Hana menonton filmnya
dan tahu bahwa Bagus itu ternyata suka sama dia, Pak.
Oh, Gus! Itu gimik yang bagus!
Waktu tayang perdana waktu itu, aku taruh pocong di antara sela-sela penonton.
Heboh, Gus!
Jadi, nanti di akhir ceritamu, dibuat lamaran.
Nah, di tayang perdana kita, kau lamar saja pacarmu itu nanti.
- Oh, viral, Gus! Viral! - Aduh! Iya!
Oke, tapi nanti kita pikirkan. Saya cerita dulu.
- Oh, ya. - Ya.
Saya cerita dulu. Jangan dipotong dulu.
Tidak...
Adegan pembukanya di pasar swalayan.
Gus.
Adegan pembukanya saja sudah mahal, Gus.
Pak, dipotong lagi, Pak.
Oh, iya. Teruskan.
- Saya cerita dulu. - Cerita. Iya.
Di pasar swalayan, kita melihat rutinitas berbelanja orang-orang,
dan kita melihat Hana di situ.
Kita melihat Hana belanja.
Dia mengambil buah,
mengambil daging, sayur-sayuran, bumbu dapur.
Mestinya di pasar saja bisa, Gus, ya?
Maksudku, ya, tidak harus di...
Iya, saya... Saya cerita dulu boleh?
- Oh, ya. Maaf. - Iya.
Iya. Sama saja, Gus.
- Teruskan. - Iya.
Hana mungkin, kalau kita lihat, belanjanya biasa saja,
tapi kalau kita lihat ke dalam matanya, Pak,
kita tahu bahwa dia sedang menyimpan duka yang sangat dalam.
Ini bukan film seni, 'kan?
Bukan... Komersial, Pak. Komersial.
- Bilang! Aman kita... - Ya.
- ...kalau begini dari tadi. - Saya dari tadi sudah coba
bilang itu. Nah, ini... Sebentar. Sebentar lagi
Bagus bertemu dengan Hana, Pak. Di sini, Pak.
- Film romantis harus ada meet cute, 'kan? - Ya.
- Nah, ini. Ini meet cute-nya. Di sini. - Oh, di sini?
Oke.
Mas, maaf. Ini buahnya harus ditimbang dulu.
Di sana, ya, Mas. Di belakang sana, ya.
- Oh, oke. - Tak apa-apa. Saya tunggu.
Ya.
- Maaf, ya, Mas. - Maaf juga, ya. Sebentar, ya.
Maaf. Permisi.
Permisi. Maaf.
Sebentar.
Iya. Maaf.
Maaf.
Gus.
Sudah terbayang yang berperan jadi Bagus siapa?
Aku tahu. Sudah terbayang Gus.
Dion Wiyoko, Gus.
Permisi.
Permisi.
Hei. Na!
- Gus? - Kau di sini?
Iya.
Mas, punya saya nanti saja, ya?
Oke, Mas Bagus.
Ya ampun, bertemunya di sini.
Pak.
Maaf, Pak, sebelumnya.
- Karakter Bagus penulis, Pak. - Ya.
Kalau yang memerankan Dion Wiyoko, saya rasa
terlalu ganteng, Pak.
- Badannya atletis begitu, ya... - Begitu, ya?
Tidak realistis bagi penulis
jika bentuknya begitu, Pak.
Maksudmu, kurang seimbang?
- Begitu? - Ya.
Ya. Kurang seimbang.
Ya, kalau begitu, kita buat seimbang saja.
Bagaimana kalau yang memerankan Hana itu Julie Estelle?
Seimbang, 'kan?
Pas!
Pasangan terbaik tahun ini!
Pikirkan itu.
Pak!
Boleh saya lanjut dulu ceritanya? Ini baru dimulai.
- Masa kita sudah bahas pemain? - Oh, ya.
- Bahas pemainnya nanti saja boleh? - Iya.
- Saya lanjut dulu. - Iya.
Teruskan. Maaf, saya terlalu semangat.
Ya, tidak apa-apa.
Permisi. Maaf.
Hana?
Kau di sini?
Atau sudah pindah ke Jakarta?
Aku...
Eh, itu dulu saja.
Mas!
Saya nanti dulu saja. Yang lain dulu saja.
Tidak bisa, Mas.
Sudah saya input.
Yang diinput dibatalkan saja dulu.
Tidak bisa dibatalkan, Mas.
Ha?
Pakai cara apa pun. Tak bisa pencet escape atau delete?
Tidak bisa, Mas.
Nanti saya dimarahi Bos.
Orang ini sangat mengesalkan.
Gus, sudah. Bayar saja dulu.
Nanti baru mengobrol.
Ya sudah, digabung saja, Na. Yuk.
Lagi mengantre. Sudah, digabung saja.
- Tidak enak dengan yang lain. - Sudah, tak apa-apa. Yuk.
- Eh, Gus... - Maaf.
Permisi.
Permisi, ya. Maaf.
- Permisi. - Maaf.
Ini, sudah ditimbang.
- Yang ini. - Mas, itu dipisah saja, ya.
- Oh, ya. - Ini juga belanjaannya...
Bagaimana kabarmu, Gus?
Baik.
Apa?
"Baik."
Yah...
Sebenarnya, kalau kau memang ingin tahu,
aku sekarang sedang dipenuhi tekanan kerja, Na.
Nah.
Aku sedang memikirkan apakah aku harus berhenti bekerja, atau...
Menyebalkan, 'kan?
Basa-basi dulu, atau apa pun. Masa aku langsung curhat begini, Na?
- Menyebalkan. - Kau yang curhat.
- Ya, 'kan? - Kau yang memancing.
Tertekan apa?
Yah, jadi, aku...
Sekarang, selama aku menulis film,
biasanya aku hanya menulis cerita adaptasi.
Nah, sekarang aku punya kesempatan untuk menulis cerita orisinal.
- Begitu. Ya, ceritaku sendiri. - Wow.
Aku menonton film yang kau tulis dari sinetron... Apa namanya? Sebentar...
Terlahir Kembali... Remake.
Reborn?
Terlahir Kembali Reborn?
- Iya, Reborn. - Ha?
Aneh, ya?
- Bedanya apa? - Tak ada bedanya. Sebenarnya sama saja.
Tapi kalau kata produserku, itu semacam taktik.
Jadi, penontonnya sudah tahu filmnya, lebih familier. Promonya akan lebih murah.
Dan penontonnya mudah-mudahan banyak, karena sudah paham filmnya tentang apa.
- Oh. Tak terpikirkan, ya. - Ya.
- Terlahir Kembali itu trilogi, 'kan? - Ya.
Aku menonton semuanya.
- Oh, ya? Kau menonton itu? - Ya.
Tautannya dikirimkan anak-anak SMA, di grup WhatsApp SMA.
- Tautannya? - Iya.
Kau menonton bajakannya?
- Asli. - Yah...
Itu maksudnya bajakan kualitas asli.
Na, aku sampai bergetar mengatakan ini.
Tidak.
Gambarnya HD, Gus.
Bukan berarti bajakan gambarnya tidak boleh bagus.
Astaga, Hana! Karya teman sendiri dibajak?
Yang menulis takarirnya pasti "Lebah Ganteng", ya?
Astaga, iya.
Ya, itu bajakan, Hana.
- Gila! Karierku dihancurkan. - Maaf. Tidak, Gus.
- Aku tidak tahu, Gus. - Wah, kau...
- Aku tak menyangka. - Salahkan anak-anak itu.
Sama saja kau dengan anak-anak itu. Wah, kacau memang mereka.
Gila, ya!
Maaf, ya, Gus.
Aku tidak tahu.
Kau tidak berubah, ya?
Sama. Kau juga tidak berubah, Na.
Apa maksudmu? Sekarang dipanggilnya sudah "tante".
Aku tidak bilang begitu, ya.
Banyak yang memanggilnya begitu sekarang.
Tidak, rambutmu masih tetap sama.
Waktu SMA, lebih sering kau cepol seperti Bibi Lung, 'kan?
- Oh. Sepanjang ini, ya? - Iya, sepanjang itu.
Sebentar, seperti... Oh, iya.
Dikuncir seperti ini, 'kan?
- Iya. - Ya, 'kan?
Masih cocok atau tidak jadi anak SMA?
- Masih... - Sudahlah! Dua detik!
Dua detik menunda itu artinya basa-basi.
- Kau... Tapi aku sudah... - Sudahlah.
Aku tidak melakukan apa-apa, cuma menunda...
Sudahlah, Gus. Sudah.
Tidak, aku tetap kagum padamu. Kau dari dulu tidak berubah. Benar.
- Oh, ya? - Tidak berubah.
Aku juga suka kau tidak ikut tren sekarang,
seperti perempuan-perempuan itu.
- Apa? - Banyak yang ikut tren sulam alis.
Menurutku, "Untuk apa?"
Itu sakit, 'kan? Ada rambut ditanam, disulam di sini.
Kenapa? Konsepnya... Sampai sekarang, aku tak mengerti. Kenapa harus begitu?
Ya, 'kan?
Apa?
Ha?
Gus.
Ini sulam alis, Gus.
- Itu sulam alis? - Iya.
Itu bagus. Yah...
Maksudku, memang kita harus menghargai usaha perempuan untuk
mencapai estetika keindahan dengan upaya alami, karena
itu juga hak mereka.
- Basa-basi. - Gila!
Na, sudah aku hina! Ternyata kau pakai sulam alis?
- Tak kelihatan, Na! - Coba.
- Coba pegang. - Wah!
Oh, iya.
Tak ada bulunya, ya?
- Ya, iya. Kau salah paham. - Maksudnya?
Selama ini, sulam alis itu bukan dimasukkan rambutnya ke sini,
tapi lebih seperti digambar satu per satu. Begitu. Maka itu namanya sulam alis.
Nah, itu dia. Karena kupikir seperti benang, disulam itu...
- Disulam, 'kan? Alah. - Ya, tidak, Gus.
Maka dari itu, Gus, hargailah wanita.
Tadi aku sudah bilang, aku hargai.
- "Untuk mencapai estetika..." - Betul.
- Untuk mencapai estetika keindahan itu... - Ya?
- Ya. - Ya, 'kan? Aku sudah bilang begitu.
- Gus. - Apa?
Kenapa tidak menulis tentang mantan-mantan pacarmu saja?
Ada banyak, 'kan?
- Aduh... - Tidak...
Itu saja, Gus.
Buat cerita cinta seperti masa muda dulu.
Apalagi kalau kau misalnya buat kisah remaja. Pasti ramai, Gus. Pasti.
Aduh, tidak. Aku tidak bisa. Aku benar-benar...
Karena... Apa, ya? Menurutku, seumuran kita juga masih seru.
- Tidak, Gus. - Seru.
Tidak bisa. Di zaman kita ini, cinta sudah tidak seperti itu.
- Masih begitu. - Tidak.
Percayalah kepadaku.
Tidak. Lagi pula, kau bisa bayangkan? Misalnya ada film romantis, tentang cinta,
pemerannya seumur aku, seumur kau.
Siapa yang mau menonton?
Tidak, bayangkan.
- Masuk ke bioskop. Ya, 'kan? - Ya.
Layar besar begitu. Ya, 'kan?
Isinya muka-muka seperti kita ini?
Aduh, Gus. Sangat tidak seru.
Eits.
La La Land itu seumuran kita. Itu bagus filmnya.
Tidak juga.
Kok "tidak juga"? Itu dapat banyak penghargaan, Na.
Akhirnya, mereka berpisah, 'kan?
- Iya. - Ya, iya. Maka dari itu, kubilang, 'kan?
Kalau seperti itu, dibicarakan saja.
Hubungannya mau seperti apa. Ya, 'kan?
Maksudku...
Terlalu banyak bernyanyi dan berjoget.
- Itu film musikal. Harus ada nyanyiannya. - Tidak begitu juga, Gus.
Maksudnya, untuk apa? Pasangan harus mengobrol.
Jangan terlalu banyak bernyanyi dan berjoget.
Yang satu ingin buat bar jaz,
yang satu ingin jadi artis di Paris. Ya, 'kan?
Padahal, hanya perlu mengobrol saja. "Ya sudah, kita mau hubungan seperti apa?
Kita mau LDR? Ya sudah, siapa mengunjungi siapa?
Setahun berapa kali? Siapa yang datang..." Seperti itu saja, 'kan?
Kesal sekali dengan filmnya?
Aku menonton bersama Denny.
Kami berdua... Begitu selesai, kami kesal sekali.
Tapi filmnya oke, 'kan?
- Ya, tidak. - Kok tidak?
Akhirnya tidak bahagia.
Masa harus berakhir bahagia?
Astaga! Kau memang warganet sejati.
- Semuanya harus sesuai ekspektasimu. - Gus. Biarkan saja.
Maka dari itu, aku bilang,
cinta yang manis-manis itu cuma milik anak muda.
Tidak bisa.
Aku tetap mau menulis film yang seumuran kita,
tapi romantisnya mengalahkan romantisnya anak muda.
Nah, itu dia yang ingin aku buat, Na.
- Gus, tak akan bisa. - Bisa.
Jatuh cinta di umur kita ini
sudah seperti... Bagaimana, ya, Gus? Sudah terlalu banyak yang dipikirkan.
Pertimbangannya banyak.
Lagi pula, apa bisa kau bayangkan, di film
ada pasangan seumuran kita, lalu saling suka seperti anak SMA?
Gila. Aku...
geli, ya, melihatnya.
Sudah. Begini saja, Gus.
Menurutku, cinta yang manis itu cuam milik anak muda.
Oke?
Karena di umur kita ini,
sepertinya sudah tidak masuk akal yang namanya jatuh cinta seperti di film-film.
Ya, 'kan?
Kau menaruh judul di sini?
Gus, ini sudah 20 menit, Gus.
Jika kau taruh judul di sini,
mereka akan terganggu. Lagi pula, dialognya Hana lagi bagus.
Lalu kau potong dengan menaruh judul di situ?
Terganggu, Gus.
Ya, ini tidak terpotong, Pak. Memang adegannya sudah habis sampai situ.
Saya yakin mereka terganggu.
Tidak, Pak.
Gus, percayalah padaku.
Jika taruh judul di sini, di waktu itu, penonton akan kaget. Terganggu.
Pak, penonton kita sudah pintar. Tidak, Pak.
Oke, Gus. Bayangkan. Kalau ini sudah jadi film,
lalu kau taruh judul di situ,
di durasi itu...
mereka akan terganggu, Gus.
Oke. Pak.
Ya sudah. Nanti Bapak putuskan saja di proses pengeditan...
- Ide bagus. Oke. - Tapi sementara saya lanjutkan dulu.
- Oke? - Tadi sampai mana ceritanya?
Oh! Sampai Hana menyebut judul filmnya lewat dialognya.
Keren, 'kan?
- Keren, ya? - Keren.
Dan Bagus mau membuktikan kepada Hana bahwa dia bisa buat film
tentang hubungan mereka yang, meski di usia 40 itu,
romantisnya mengalahkan romantisnya anak remaja, Pak.
Kau benar-benar buat ceritanya dari cerita pribadimu, ya?
Saya lanjut dulu ceritanya?
- Oke. Ya. - Saya lanjut, ya?
- Sudah aku saja. - Tidak, aku bisa.
Gus.
Begini saja.
Waktu kita masih muda,
kita cuma tahu rasa sukanya saja.
Nah, di umur kita ini, sudah banyak hal lain yang kita lihat, 'kan?
Hal lain apa?
Oke, misalnya hubungan itu seperti apa,
penyesuaiannya,
komprominya,
penerimaannya...
Kita tidak menutup kemungkinan akan ada konflik, 'kan?
Lalu berbaikan. Sudah berbeda dengan zaman dulu.
Ya, 'kan?
Nah, itu yang membuatku tidak bisa menonton film-film romantis,
sementara pemerannya seumuran kita.
Aku sudah keburu memikirkan lelahnya, jatuh cinta lagi.
Lalu harus mengenal lagi, berkelahi lagi.
- Oke. Kalau menurutku... - Oke?
Kalau misalnya kita jatuh cinta,
pasti tak akan terasa lelah, 'kan?
Namanya juga jatuh cinta. Pasti terasa mengalir begitu saja. Ya, tidak?
Tidak. Aku akan merasa lelah.
Oke, begini.
- Katakanlah... - Hmm?
...hidupmu masih panjang. Sekarang tiga puluhan...
- Mau 40. - Ya, oke. Empat puluhan.
Berarti sisanya 40 tahun lagi...
- Amin. - Amin.
Berarti tak menutup kemungkinan kalau suatu hari, ada pria lain lagi di hidupmu.
Tidak. Sepertinya aku...
sendiri begini saja tidak apa-apa.
Ya, kalau kau sampai jatuh cinta?
Tidak mungkin.
- "Kalau." - Tidak mungkin, Gus.
Ini "kalau". Misalnya.
Gus, waktu Denny meninggal...
semua perasaanku, hidupku
rasanya selesai. Semua sudah terkubur bersama Denny.
Gus, kau tidak bisa membuat cerita seperti ini.
Jadi, suaminya Hana baru meninggal?
- Ya, Pak. Baru empat bulan. - Aduh, Gus.
Penonton tidak akan bersimpati terhadap karakter Bagus ini.
Apalagi kalau misalnya karakter Bagus ini suka sama sahabat dia yang baru berduka.
Protagonis macam apa itu?
Saya sudah bilang, Pak. Ini si penulis
yang menaksir teman SMA-nya yang baru saja menjanda.
Tapi nanti dia diam-diam menuliskan kisah cintanya itu.
Ya, tapi jangan secepat ini, Gus.
Nah, itu nanti dijawab di Sequence Dua, Pak.
- Sequence Dua? - Sequence Dua.
Memang semasa SMA,
- Bagus sudah menyukai Hana. - Oke.
Tapi belum sempat menyatakan apa-apa.
Kemudian mereka berpisah lama,
dan akhirnya mereka bertemu kembali.
Tiba-tiba sama-sama lajang sekarang.
Mereka mengobrol, merasa cocok,
- merasa nyaman. - Oke.
Jadi, kau...
mau buat film ini isinya mengobrol saja?
Memang ini film romantis. Film romantis itu mengobrol isinya, Pak.
Berarti kau setuju dengan omongan Hana?
- Bagaimana, Bapak? - Ya, Hana bilang...
Di ceritamu itu, dia bilang bahwa di film romantis tentang orang seumurmu,
semuanya harus bisa dibicarakan,
bisa didiskusikan.
Tapi mengobrolnya tidak sembarangan. Itu romantis, Pak.
Yang tadi romantis, 'kan?
- Romantis, ya? - Iya.
Yah...
Tapi...
kau bisa buat adegan itu jadi lebih... Begitulah.
Jadi lebih heboh.
Lebih fantastis.
Lebih romantis, Gus.
Gus, ingat. Tunjukkan, jangan beri tahu.
Film lebih besar dari kehidupan.
Iya. Pak. Begini, Pak.
Kalau kita pergi berkencan...
Kalau kita berkencan dan pergi ke suatu tempat, isinya mengobrol saja.
Bapak pasti juga pernah merasakan itu.
Saya dijodohkan.
Oke. Kebanyakan orang, termasuk saya, kalau misalnya berkencan,
memang isinya hanya mengobrol.
- Begitu, ya? - Memang begitu.
Tapi kenapa tiba-tiba di adegan film
harus selalu heboh?
Harus lebih besar dari kehidupan.
Kalau sekadar bagian dari kehidupan, masa tidak boleh?
Kenapa semuanya harus diperbesar, Pak?
Gus.
Untuk penonton kita, setiap tiga menit harus ada kejadian yang heboh.
Iya.
Pak, seperempat adegannya isinya mengobrol saja. Jadi, produksinya murah.
Cerdas!
Ini baru ide bagus.
Gus, kalau aku suka ceritanya, kalau ceritamu bagus,
uang bukan masalah.
Yah, ya sudah. Saya baru menulis sampai Sequence Dua. Baru sampai situ.
Bagaimana, Gus? Separuh-separuh begitu?
Bapak sendiri yang bilang saya harus datang ke sini langsung, mengobrol dulu
- di kantor. - Saya yang bilang?
Bapak bilang lewat telepon begitu.
Jemuran saya di rumah saya tinggalkan. Mungkin sekarang kehujanan.
Ya, nanti kalau ini meraih box office, kau dapat mesin cuci baru.
Jadi, kapan mau kau selesaikan?
Karena aku mau dekati Riri.
- Riri... Mas Riri Riza? - Ya.
Wah!
Aduh, kalau...
Kalau beliau...
Sebentar, Pak. Tapi memangnya Mas Riri mau, ya?
Dari apa yang saya dengar, Mas Riri cuma menyutradarai tulisannya sendiri.
Dia pasti mau. Aku sudah lama kenal dia. Dari zaman masih kuliah, aku sudah kenal.
Dia pasti mau. Tenang, aku bisa lewat Mira.
Percayalah kepadaku.
Aduh, saya...
Bagaimana, ya, Pak, kalau...
Saya merasa terhormat kalau tulisan saya bisa disutradarai oleh beliau. Mas Riri.
Riri Reza!
- Riri Riza, Pak. - Iya. Itu.
Jadi, bagaimana? Kapan?
Yah, secepatnya, Pak.
Kalau begitu, saya pamit sekarang,
biar saya rapikan, saya tulis lagi.
Agar saya tidak malu saat dilihat Mas Riri.
Oh, jangankan kau. Aku juga malu kalau ini tidak bagus.
- Ini film kita, Gus. - Ya, Pak.
Ya sudah kalau begitu.
- Saya pamit, Pak. - Ya.
- Terima kasih, ya, Pak. - Ya.
- Gus. - Ya?
- Sebelum aku berubah pikiran. - Ya.
Kok kau mau dijadikan gimik? Aku tak mengerti.
Itu romantis, Cheline. Kau dan suamimu tidak romantis,
maka dari itu kau tidak mengerti.
Kau tahu sama seperti apa sekarang?
Kau sama seperti film horor
yang pakai pocong-pocongan, duduk di kursi penonton saat tayang perdana.
Sama saja seperti mengakui filmnya sendiri tidak cukup kuat untuk bicara,
sampai kau harus pakai gimik segala!
Tidak sekalian saat melamar pura-pura kesurupan dulu?
Itu gimik. Kalau ini bukan gimik.
Ini jujur dari dalam hati.
Jujur apanya? Sudah minta izin, belum?
Kalau aku minta izin, berarti tidak jadi kejutan.
- Bagaimana? - Nah, 'kan?
Kau...
Hei!
Dion Wiyoko!
Gus.
Kau bukannya syuting, ya? Dia bukannya lagi syuting?
Tanya saja.
Mulai!
Aku kapok bekerja dengan sutradara baru seperti ini.
Merangkap pemain, pula.
Merangkap investor juga.
Hei!
Bagaimana ini?
Dia pulang?
Bagaimana, Boy?
Berhenti!
Teman-Teman, kita istirahat dulu, ya, sampai...
Ya, pokoknya kita istirahat dulu.
- Terima kasih. - Alah.
Ya, begitulah ceritanya.
Hilang tanpa kabar.
Ditelepon, dicari sampai malam, tak ada.
Hilang begitu saja.
Pulang saat pengambilan gambar?
Dia pulang.
Orang gila!
Itu lucu padahal kalau dijadikan film.
Ada cerita tentang film, ditinggal sutradaranya,
terus close up wajah kru satu per satu.
Tang!
Seru, ya.
Hei. Dia pakai narkoba mungkin, ya?
Mungkin.
Ya, begitulah.
Aku libur, tidak tahu sampai kapan.
Kasihan juga kru-krunya.
Eh, Gus! Jangan dibelok-belok topiknya!
- Apa? - Minta izin pada Hana.
Ha?
Ya, bilang pada Hana cerita dia mau kau jadikan skrip.
Kalau aku bilang padanya... Sekarang, dia lagi berduka, Chel.
Ya, jadinya bukan kejutan.
Tetap izin. Itu ceritanya dia. Masa tidak? Kalau dibegitukan, aku akan mengamuk.
- Bukannya malah tersentuh? - Itu.
Ih.
Itu privasi orang.
Masa saat jadikan hidup orang lain kontenmu, kau tidak izin?
Hei!
Kalau misalnya sekarang aku malah bilang suka padanya...
Aku sangat tega, 'kan?
Aku menulis ini, masih ada waktu setahun lagi.
Jadi, setahun itu untuk dia merelakan masa lalu.
Aku juga makin dekat dengannya.
Jadi, ketika nanti dia menonton filmnya, dia malah berbunga-bunga.
Bahagia. Begitu.
Kalau sudah setahun dan belum merelakan masa lalu?
Ya, akhirnya jadi tidak bahagia.
Ini bahas skrip atau sungguhan?
Begini. Sebentar.
Aku mau tanya. Kau sebenarnya serius atau tidak pada Hana?
Ya, serius.
Kau bilang kau serius padanya,
terus tadi kutanya, "Kalau nanti dia marah, bagaimana?"
Terus kau jawab, "Tidak mungkin marah. Kudekati..." Dan sebagainya.
Oke, ya sudah. Aku tanya lagi.
Kalau sudah lebih dari setahun dan dia masih belum merelakan masa lalu,
berarti dia akan sangat marah,
terus jawabanmu cuma, "Ya, tidak berakhir bahagia."
Bagaimana kau ini?
Eh, ini hidupmu.
- Bukan skrip. - Oh, ini sungguhan?
Dengar.
Seperti yang sudah aku bilang, Cheline,
sekarang dia lagi berduka.
Dalam keadaan tak siap, kubilang, "Aku suka padamu." Tega sekali diriku.
Itu kenapa aku tulis film ini, karena jaraknya masih setahun lagi.
Memberi waktu untuk kami berdua.
Dengar, ya? Ini skrip pertama yang orisinal untukku.
Dan aku ingin buat sepersonal mungkin.
Aku dedikasikan untuk dia.
Maka dari itu, di sini nama samaran saja tak aku pakai.
Untuk dia? Mungkin untuk kau saja.
Ya, untuk dia. Aku menulis tentang dia.
Ya, pasti ini tentang... Untuk dia!
Terserah.
Mudah-mudahan bukan aku yang mengedit.
- Tak mau ikut-ikutan. - Memang kau yang akan mengedit.
Benar. Pak Yoram maunya kau yang mengedit.
- Tidak! - Ha?
Aku sudah menyarankan orang lain, tapi dia maunya kau. Bagaimana?
- Tidak mau! - Hei.
- Ini bahas skrip atau sungguhan? - Bilang pada Pak Yoram.
- Tak ikutan. - Bisa menolak dia?
- Gus! Ini sungguhan? - Apa?
Tanya istrimu! Masa bodoh pokoknya.
Aku jadi pusing. Hei!
- Aku lagi bermain. - Aku mau mengedit.
Kau mengedit di situ saja! Aku mau bermain di sini!
Aku ingin mengedit di layar besar!
Ya, aku tak bisa bermain di situ.
Untuk apa aku ke sini kalau aku tak bisa bermain, Cheline?
Aku tidak tahu. Untuk apa kau ke sini?
Aku mau bermain!
Jemurannya belum kering, ya?
- Bau semua. - Terus aku harus apa?
Terus aku lakukan apa? Makan ini saja?
Tidak tahu.
Bagaimana ini? Kau mau ke mana?
- Dion? - Jemuranku belum kering.
Ayolah. Dua putaran saja.
Bu, perkenalkan, ini Mas Bagus.
- Halo, Bu. - Mas Bagus ini penulis.
Terus, katanya dia lagi mau menulis tentang penjual bunga.
- Mau riset katanya. - Ya.
Untuk di bioskop.
Oh, ya?
Oh, ya. Ibu sudah menonton filmnya Mas Bagus.
Yang dari sinetron itu, Bu. Terlahir Kembali.
Nah, Mas Bagus ini yang menulis untuk film bioskopnya.
Sudah menonton, Bu?
Iya, yang film itu, 'kan?
Oh...
Sudah menonton.
Suka, tidak?
Tak apa-apa. Jujur saja, Bu.
Jelek, Mas.
Bu...
Tidak apa-apa. Justru malah bagus seperti ini.
Daripada saat tayang perdana. Jawaban orang-orang diplomatis
kalau ditanya, cari satu atau dua hal yang bagus dari filmnya.
Padahal filmnya jelek. Dipuji terus, berulang-ulang.
Malah bagus seperti Bu Yati begini. Bagus, Bu.
Jujur itu mahal sekarang. Saya hargai itu.
- Terima kasih. - Saya permisi keluar dulu, ya, Mas.
Ya.
Pedih, ya?
- Aduh. - Aduh.
Tidak. Bagus filmnya.
Bu Yati itu jujur sekali, ya?
Pedih...
Tiap orang seleranya beda-beda.
- Iya. - Sudah, tenang.
Mas.
Pak, ini diantar lagi, ya. Alamat kemarin.
- Alamat sama seperti kemarin? - Ya.
Sudah. Begitu
kalau sudah sore.
Paling heboh saat pagi hari. Terima pesanan tiba-tiba, dadakan.
"Siapkan bunga ini. Terus yang ini..." Wah.
Itu sudah... Heboh kalau pagi.
Kalau sekarang, tinggal bersantai berarti, ya?
Bapak jalan dulu.
- Hati-hati, ya, Pak. - Iya.
Itu SOP atau bagaimana, Na?
- Itu suaminya Bu Yati. - Oh!
Kukira kalau mengirim bunga harus pakai sungkem, kesannya sangat sakral.
Bukan begitu.
- Yang orangnya baik. - Oh, iya. Aku tahu.
Dia juga baik padaku.
- Na. - Hmm?
Yang ini?
Itu anaknya Bu Yati.
Kau siapanya Bu Yati? Anaknya juga, jangan-jangan?
Sekalian saja semua keluarganya Bu Yati di sini.
- Mas ini juga keponakannya Bu Yati. - Ya, Pak?
- Saya? - Ya.
Iya, saya keponakannya Bu Yati juga.
Oh. Iya.
- Mari, Pak. - Ya, mari.
Sudah, masuklah.
Semuanya kenalan Bu Yati?
Kok bisa sekeluarga... Semuanya keluarganya Bu Yati? Bagaimana ini?
Tetap terpejam
Kuingat harummu
Aku suka sekali bagian Hana dan masa lalunya, Gus.
Adegan peti mati itu dahsyat.
Tapi kau bisa atau tidak buat sedihnya jadi lebih panjang sedikit?
Atau kau bisa putar lagu. Itu cocok.
Hmm...
Kalau sekarang, saya masih menulis, Pak.
Tapi kalau misalnya adegan dukanya saya panjangkan,
apakah nanti jadinya tidak terlalu melodramatis?
Justru penonton suka itu, Gus.
Mereka minta diperas emosinya. Kalau bisa, mereka sampai menangis, Gus.
Nanti di tayang perdana, kalau mereka menangis,
aku pakai rekamannya untuk promosi media, Gus.
Wah, itu bagus sekali. Percayalah padaku.
Tinggal lagunya tadi. Siapa namanya?
Judul lagunya apa?
- "Sudut Memori", Pak. - "Sudut Memori." Si Raisa pasti mau.
Saya telepon dia langsung.
Yura, Pak.
Siapa itu?
Yura yang menyanyikan "Sudut Memori".
- Oh! Dia? Kalau dia, aku kenal. - Iya.
Aku kenal dia dari dulu.
Nanti... Tak apa-apa. Nanti, biar aku yang menemui Yura Yunani langsung.
Yunita, Pak.
Ini bisa jadi bagus, Gus. Tinggal kita cari...
sutradaranya saja.
Bapak bilang kemarin, katanya Mas Riri yang mau menyutradarai, Pak.
Iya, tapi Mira katanya jadwalnya sibuk.
Jadi, mereka perlu waktu empat sampai lima tahun dulu untuk pikir-pikir.
Ya, itu bukan karena jadwalnya sibuk, Pak, tapi kita ditolak namanya.
Kau saja yang menyutradarai.
- Ha? - Kau!
Gila, temanku jadi sutradara.
Karena Pak Yoram banyak melihat teman-teman produsernya yang lain.
Semua beri kesempatan pada sutradara baru, terus filmnya jadi laku.
Nah, dia juga mau ikutan. Jadinya aku diberi kesempatan itu juga.
- Kita akan berpesta, 'kan? - Pasti berpesta.
Mau pesta seperti apa? Kau maunya apa?
- Benar? - Apa saja boleh.
Oke.
Makan masakan Padang sepuasnya.
Wah, sadis!
Santan semua. Kolesterol, Hana.
Ayo, masa cuma Padang? Mau pesta apa lagi? Pesta.
Napoleon!
Napoleon?
Napoleon Bona-"parte".
Aduh, sadis. Mainnya pelesetan.
Napoleon Bona-"parte". Astaga!
Kau tiap hari selalu begini?
- Iya. - Sepagi ini?
Ini kesiangan.
Gara-gara aku, ya?
Perlu ditanya?
Ya, maaf.
Kau... tiap pagi begini,
bagaimana bangunnya, ya? Tak pernah kesiangan atau bagaimana, Na?
Tidak pernah.
- Karena aku tak pernah tidur. - Ha?
Astaga. Kau tidak tidur, Na?
Masa?
Tidur, tapi, ya... sebentar.
- Jangan bilang siapa-siapa, ya, Gus. - Apa itu?
Semenjak Denny tidak ada,
aku tidak bisa tidur di kamar.
Aku tidak bisa melihat sisi kosong di tempat tidurku.
Jadi, tidurnya di sofa.
Ya, tiap malam paling tidur sebentar.
Tapi kalau sudah sore...
sangat mengantuk.
Ya, tidur lagi sebentar.
Begitu saja terus.
Gus, pilih yang mana?
Yang putih...
atau yang kuning?
Aku... Lebih bagus yang putih menurutku.
Ya sudah. Yang ini saja, ya, Bang.
- Oke, Bu. - Na.
- Hmm? - Aku bukannya tadi pilih yang putih?
Iya.
Kok tidak jadi?
Aku mengetes seleramu saja.
- Ini, ya, Bang. - Terima kasih.
- Gus, aku mau lihat sebelah situ. Tolong. - Ya.
Terima kasih, ya.
- Bang, berikan ke dia, ya. Terima kasih. - Oke.
Bang, yang putih juga tidak jelek. Bagus juga, 'kan, yang putih?
Yang putih?
Bagus.
Na! Kata abangnya, yang putih juga bagus!
Tapi lebih bagus yang ini.
Na, tidak jadi.
Memang Abang suka yang kuning?
Saya? Yang merah.
โชYa sudah.
Terima kasih, Bang.
Manis, ya?
Iya.
Kau kenapa memilih karakter penjual bunga?
Ya, karena kupikir kalau karakternya penjual bunga, dia manis.
Terus nanti lokasi syuting akan penuh bunga, warna-warni.
Tapi filmnya hitam putih. Itu lucu. Seperti ini. Itu.
Kalau kau sendiri? Kenapa jadi penjual bunga, Na?
- Suka bunga. - Iya, itu pasti.
Tidak, aku baru sadar,
kalau ternyata dari dulu, aku paling menyukai itu.
Waktu Denny meninggal, ya,
aku setiap hari bertemu bunga, lihat bunga,
tapi saat ada yang mengirim bunga,
aku masih senang menerimanya.
Sampai begitu, ya?
Aneh, ya?
Aku sempat berpikir waktu itu, sepertinya sudahi saja.
Berhenti saja setelah...
Denny sudah tidak ada.
Tapi gara-gara sering menerima bunga,
aku malah jadi lebih yakin untuk meneruskan usaha bunga.
Sebentar, ya.
- Pak. - Boleh.
- Asternya ada yang kecil, Pak? - Isi sepuluh ada, Bu.
- Biasa, 'kan, harganya? - Sepuluh... Ya, sudah biasa.
- Ya sudah, yang ini dan lebih kecil. - Dua lagi?
Ini.
- Ah, ya sudah. Ini dua saja, ya, Pak. - Boleh.
- Tolong diikat, ya, Pak. - Boleh.
Aku merasa, Gus...
kita tidak bisa sepenuhnya memahami perasaan orang lain.
Jadi, memberi bunga itu seperti memberi tanda
bahwa kita berusaha memahami keadaanmu
dengan bunga yang kita berikan.
Menarik.
Kalau aku, Na,
apa yang aku suka dari film adalah
film bisa memberi kita pengalaman menjadi orang lain.
Jadi, kita bisa merasakan menjadi orang lain itu bagaimana.
Malah kita bisa menemukan solusi hidup dari film.
- Ini, ya, Pak. - Biasa, dua setengah.
- Terima kasih, ya, Pak. - Terima kasih.
- Sama-sama. - Ya.
Memangnya bisa, ya?
Maksudnya tadi, dari film-film itu, jadi bisa merasakan perasaan orang lain?
Bisa.
Ya, tapi tergantung filmnya.
Kalau...
Terlahir Kembali Reborn?
- Ah. Sudah, yuk. - Gus...
- Aku serius bertanya, Gus. - Sudah, ayo.
Eh, dijawab dulu.
- Hati-hati, Gus. Basah. - Iya.
- Bagaimana? Sudah sampai mana skripnya? - Apa?
Aku sekarang lagi mencari akhir dari Sequence Empat.
Sudah bagian akhir?
Bukan.
Di film, ada delapan sequence. Nah, aku lagi cari
bagian akhir Sequence Empat.
Bagaimana?
Di film, ada delapan bagian.
Nah, bagian itu "sequence".
Ya, itu istilahnya. Kalau menulis itu begitu, Na.
Oke. Terus?
Kalau dijelaskan satu per satu, panjang sekali.
Ya, tidak apa-apa, 'kan?
Benar mau dijelaskan?
Kita punya waktu, 'kan?
Panjang.
Ya, aku ingin belajar.
Wah...
Oke, sebentar.
- Aku minum dulu, ya. - Oke.
Kita mulai dari Sequence Satu.
Sequence Satu ini adalah tentang pengenalan karakternya.
Karena aku lagi menulis film romantis, di Sequence Satu itu ada "meet cute".
"Meet cute" ini adalah pasangannya, dua karakter ini
pertama kali bertemu, biasanya caranya yang lucu, manis sekali.
Ah! Oh, "meet cute"?
Maksudnya "meet" dari "pertemuan", "cute" dari "manis, lucu"?
Ya, itu dia.
Dan di sini, aku sudah harus tetapkan keyakinan salah.
- Keyakinan salah? - Ya.
Keyakinan salah itu seperti prinsip hidup yang diyakini karakter utama,
tapi sebenarnya itu salah. Begitu.
- Oke? - Oke.
Nah, itu Sequence Satu.
Sequence Dua.
Menetapkan tujuan.
Jadi, tokoh utama kita ini sudah yakin
mau mendapatkan gadis pujaannya, maka apa pun
yang terjadi nanti, dia akan tetap mengejar tujuannya itu.
- Oke, kita ke... - Tiga.
- Tiga. - Sequence Tiga.
Sequence Tiga ini adalah tentang hambatan pertama.
Di Sequence Tiga, kita sudah lihat bahwa tujuan karakter utamanya sudah jelas.
Misalnya ingin mendapatkan kekasihnya.
Ingin mendapatkan cintanya.
Tapi ada hambatan pertama yang juga sudah mulai kelihatan.
Misalnya, kekasihnya ini masih jadi pacar orang lain.
Atau orang tuanya tak setuju. Begitu.
Oke.
- Itu tiga. - Tiga.
- Empat? - Empat.
Di Sequence Empat, kalau kau di dalam bioskop, lagi menonton film,
kau merasa itu sudah di tengah-tengah,
itu namanya Sequence Empat atau yang kita sebut titik tengah.
Begitu. Dan biasanya, di Sequence Empat ini,
keyakinan salah akhirnya menimbulkan masalah di romansanya.
Begitu. Jadi, ini seperti klimaks pertama.
Klimaks pertama di film ini.
Dan biasanya adegannya perkelahian antara pasangan ini. Begitu.
Begitu. Nah.
Kalau membuat bagian romansanya saja, itu mudah, Na.
Tapi yang susah itu menaruh keyakinan salah di karakter yang tepat,
dan apa yang mau dipelajari. Susah sekali.
Sama, hidup kita juga begitu.
Selalu ada yang harus kita pelajari, dan biasanya sulit, 'kan?
Contohnya?
- Contohnya? - Ya.
Kalau aku?
Kalau aku jadi tokoh utama.
Keyakinan salahku apa?
Yah...
- Jangan. - Tak apa-apa.
Jangan, aku merasa tidak enak.
Tidak apa-apa, Gus. Aku juga mau belajar.
Hmm...
Oke.
- Tapi ini di film, ya? - Iya.
Kalau kau...
Dulu, kau pernah bilang
bahwa kau tidak akan jatuh cinta lagi.
- Ya. - Nah...
Nantinya, di akhir, kau akan belajar
bahwa itu karena kau cuma lagi berduka,
atau lagi trauma.
Dan ketika kau menemukan orang yang tepat, kau akan jatuh cinta lagi,
dan kau akan merasa hidup jadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Begitu.
Kau tahu dari mana kalau itu cuma karena trauma?
- Ya... - Tidak...
Memang salah, ya,
jika tidak jatuh cinta lagi?
Oh, ya, tidak salah. Ini cuma contoh.
Iya...
Kalau kau menulis karakternya sepertiku,
kau akan menulis keyakinan salah seperti itu?
Iya.
Oh.
Tapi ini, 'kan... Tadi... Ini film, Na.
- Untuk cerita filmnya saja. - Iya.
Pertengkarannya unik, Gus.
Aku suka ini.
Ini baru namanya adegan terbaik.
Tapi itu masih belum selesai, Pak.
Justru itu. Kemarin ada rapat direksi, dan mereka setuju film ini tayang akhir tahun.
Jadi, kau minimal harus selesaikan skrip ini minggu depan.
Minggu depan itu...
Seminggu lagi?
Wah, Pak...
Kalau seminggu lagi, terlalu cepat, Pak. Saya...
Kalau dikejar-kejar begini, hasilnya tidak bagus, Pak.
Kau "bagus", 'kan?
Pak, jangan bercanda dulu. Ini serius.
Tak mungkin kalau seminggu. Itu saja belum selesai.
Gus.
Aku percaya kau bisa.
Ini bukan masalah percaya atau...
Seminggu itu sulit, Pak.
Gus, ini skrip orisinalmu yang pertama.
Cerita tentang kau.
Dari hatimu.
Aku percaya kau bisa.
Yah...
Pak, saya bukannya... Justru ini karena...
Gus, tidak semua yang instan itu tidak enak, 'kan?
Ah, Bapak ini.
Nah, ini... Pak, justru karena...
Karena ini skrip orisinal pertama saya,
saya harus keluarkan yang terbaik, Pak.
Kalau seminggu, rasanya...
terlalu cepat, Pak.
Paling tidak draf satu dulu.
Ya? Aku tunggu minggu depan. Oke?
Pak, tambah lagi. Tambah... Dua minggu, ya? Jadi dua minggu.
Minggu depan.
Alah.
Cuma seminggu?
AMBULANS
Gus, aku sudah bilang.
Jangan lupa istirahatnya.
Jangan lupa vitaminnya. Kontrakan dibersihkan.
Kau makan makanan instan terus. Jadinya begini.
Yah, Pak...
Maka dari itu, Pak Yoram kalau memberi tenggat waktu jangan instan.
Ya sudah. Biaya rumah sakit ini, biar produksi yang tanggung.
- Terima kasih, Pak. - Kau punya BPJS, 'kan?
Aku sudah bicara dengan Mike.
Kita bisa mundur seminggu.
Ha?
Itu bisa, Pak, mundur seminggu. Jadi dua minggu.
Tahu begitu, saya menulisnya...
Ah, tak apa-apa.
Ini beda. Kau sakit. Ini force majeure.
Ini baru menulis, Gus.
Belum menyutradarai.
Penyutradaraan sungguh berbeda, tapi aku yakin kau bisa.
Ini, aku bawakan baju-bajumu dari kontrakan.
Aku pilih yang nyaman untukmu.
Oh, ya.
Terima kasih, Pak. Maaf jadi merepotkan.
Ah, tidak.
Dan aku juga bawa...
ini.
Astaga.
Yah...
Siapa tahu kau di sini bosan, tak ada pekerjaan.
Siapa tahu bisa selesaikan draf dua. Ya, 'kan?
Kau istirahat dulu, ya?
Ini aku taruh di bawah infus, ya? Jadi, tidak terlalu jauh.
Maaf, ya, aku cuma bisa bantu bawa ini untukmu.
Oke. Selamat istirahat, Gus.
Salam untuk Hana.
Kau sedang apa?
Mau tahu saja kalau habis diopname, ini sakit atau tidak.
Ya, aku bukan habis operasi. Cuma tifus.
Aku juga tidak tahu. Siapa tahu sakit.
- Jadi, tidak sakit? - Tidak.
Maka itu, jangan makan Indiemie melulu. Kau jadi kena tifus, 'kan?
Tifus itu karena bakteri.
Virus.
Bakteri, Dion.
- Virus. - Astaga.
- Hei. - Bakteri!
Virus, Che.
Bakteri, Dion.
- Cari di Google saja boleh, tidak? - Tak usah!
Tidak usah cari di Google! Tifus itu karena bakteri!
- Aduh. - Kalian berdua suami istri aneh.
Ribut, memperdebatkan virus dan bakteri. Aduh.
Nah! Itu!
Bakteri. Itu.
Masih saja? Sudah!
Kau tidak percaya.
Kau cari uang sampai seperti ini, Gus.
Karena renjana.
Iya. Bakteri, Gus.
Sudah!
Renjana membawa tifus.
Tidak apa-apa. Itu sepadan dengan pertama kali menyutradarai.
Iya, 'kan?
Bagaimana skripmu akhirnya?
Diizinkan, tidak?
Ya, kalau misalnya minta izin, bukan kejutan. Aku sudah bilang, 'kan?
Hei!
Kok minta izin segala? Bukannya skripnya orisinal?
Kok pakai izin IP?
Gus...
Ini dia.
Ini kenapa kita butuh lebih banyak sutradara perempuan. Kalian tidak peka.
Sepertinya sutradara perempuan yang tidak peka juga banyak.
Soal penyutradaraan itu bukan masalah gender, Che.
Sutradara laki yang tidak peka juga banyak.
- Ikut-ikutan saja. - Aduh!
- Lihat teman kamu ini. - Che...
Dia buat kisah pribadi orang lain jadi skrip, tapi tak minta izin.
Aduh...
Terserah.
Bagus ada?
Ada.
Lagi tidur.
Oh...
Hana, ya?
Iya.
Sungguhan, ya?
Tunggu di dalam saja. Si Bagus lagi tidur.
Paling setengah jam lagi bangun.
Mengantuk karena obat.
Oh...
Maaf.
Cheline.
- Dion. - Hana.
Kalian di sini juga, 'kan?
Kami mau pergi.
Masuk.
Ayo masuk.
- Terima kasih, ya. - Iya.
Yuk. Kami pergi dulu, ya.
- Oke. - Mari.
Aku pikir si Hana itu cuma karakter di skrip.
DITULIS OLEH BAGUS RAHMAT
Na?
Aku percaya padamu, Gus.
Na, aku berencana untuk...
Tadinya, aku sangat memikirkannya.
Obrolan kita terakhir kali. Omonganmu terakhir kali.
Ternyata cuma untuk pekerjaanmu, ya?
- Bukan soal pekerjaan... - Aku tidak paham.
Aku coba jelaskan semuanya, kau tenang dulu...
Tenang?
Semua yang kau tulis...
Ini pembicaraan kita. Semua pembicaraan kita kau tulis.
Ini.
"Dalam lelahnya, Hana tertidur
seperti anak kecil yang kelelahan bermain sepanjang hari.
Bermain-main dengan..."
"Bermain-main dengan perasaan duka yang menyamar sebagai cinta."
Yah...
Jadi, menurutmu
semua yang aku rasakan ini bukan cinta?
Ya, bukan, Na. Seharusnya cinta tidak menyiksa dirimu seperti itu.
Kau itu siapa, Gus?
Aku tidak kenal.
- Gila. - Aku mau jelaskan...
Aku tidak paham kenapa kau bisa sejahat ini.
- Aku akan... - Tidak!
Aku pikir...
di umur kita sekarang ini, seusia kita ini, sudah cukup.
Hidup sendiri saja.
Tak akan ada sahabat yang bisa memahamimu seperti saat kita bersekolah.
Lalu kau datang...
Kita mengobrol setiap hari.
Aku bercerita apa saja padamu, semuanya tanpa ragu, karena kau kuanggap temanku.
Teman lamaku.
Aku percaya padamu.
Aku ceritakan semuanya... Astaga!
Ditulis. Kau jadikan pekerjaan.
Na...
Aku jelaskan, ya, Na.
Skenario ini masih setahun lagi sampai jadi film.
Jadi, kupikir kalau setahun lagi...
Kau itu kenapa, Gus?
Kehabisan ide?
Sampai memanfaatkan cerita hidupku untuk pekerjaanmu? Begitu?
Hmm?
Gila!
Selama ini, apa kau paham
kenapa kau cuma bisa mengerjakan adaptasi terus? Kau mengerti kenapa?
Karena hidupmu tak ada isinya. Maka itu, kau ambil cerita orang lain.
Hidup orang lain. Kau ceritakan ke orang lain. Begitu, 'kan?
- Kau mau tahu isi kepalaku? - Apa?
- Hidupku isinya apa? Isinya kau semua! - Tidak tahu!
Semua tentang kau! Kenapa aku menulis tentangmu?
Karena aku suka padamu. Itu saja. Apa salahnya?
Sangat salah, Gus.
- Masa cinta bisa disalahkan? - Pikirkanlah!
Bisa! Sudah dewasa, 'kan?
Jadi, orang dewasa tidak boleh jatuh cinta?
Harus kau atur!
Sebentar.
Kau tahu artinya cinta?
Kita berteman, Gus!
Lebih bagus. Berarti kita sudah kenal, dari menjadi teman.
Aku masih berduka!
Aku makin bingung! Aku tak boleh suka karena kau berduka atau karena kita teman?
Dua-duanya!
Semuanya!
Dan asal kau tahu, ya, Gus...
Aku masih mencintai Denny.
Denny sudah tidak ada, Na.
Masih ada, Gus.
Di hatiku.
Selamanya.
Dan kau tak akan mengerti.
Kau tak usah bicara soal jatuh cinta.
Tak usah buat film tentang jatuh cinta.
Kau tak mengerti apa-apa.
Sampai kapan mau tidur di sofa karena takut teringat akan Denny?
Mau sampai kapan, Na, hidup di masa lalu seperti itu?
Aku tidak apa-apa hidup seperti ini. Kenapa memangnya? Kenapa?
Kalau begitu, kenapa kau pindah ke Jakarta?
Mulai lagi dari awal?
Kau tahu, 'kan, kau mau merelakan masa lalumu?
Hati kecilmu bilang begitu, 'kan?
Aku tidak akan merelakan masa lalu!
Oke?
Asal kau tahu, ya, Gus...
Hidup tidak seperti film-film yang kau tulis.
Kau cuma mencintai dirimu sendiri! Kau cuma mencintai dunia imajinasimu!
Kau mencintai kariermu, harapan yang kau tulis! Itu saja!
Kau cuma mencintai dunia film yang sempit dan kecilmu itu!
Yang kau anggap bisa mengubah dunia!
Kau pikir
dengan membuat film, kau bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, Gus?
Ini, Gus. Semua romansa itu ada di kepalamu saja, Gus!
Kau benar, Na.
Semua romansanya memang
cuma di kepalaku.
Tapi bukannya kita sama, ya?
Romansanya juga cuma ada di kepalamu, Na.
Karena kau pikir kalau kau makin tersiksa
dan makin larut dalam kesedihanmu itu, makin menutup diri dari dunia...
Yang namanya jatuh cinta memang seperti itu, Na?
Harus seperti itu? Untuk korban cinta... Sebentar, aku belum selesai. Na!
Itu? Harus tersiksa dulu? Baru itu yang namanya cinta?
Konsep cintanya aneh, Na!
Mari kita sambut pemeran utama dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.
Dion Wiyoko sebagai Bagus.
Dan juga Julie Estelle, sebagai Hana.
Mbak Julie, bisa cerita sedikit tentang film ini?
Jadi, Hana ini adalah seorang janda
yang mencoba menata hidupnya kembali, dia berusaha melupakan dukanya,
dan membuka hati untuk cinta yang baru.
Intinya, sebenarnya film ini bercerita tentang bagaimana baiknya
seseorang jangan larut terlalu lama dalam dukanya.
Kurang lebih seperti itu, ya, Mas Bagus?
Ceritanya bagus sekali.
Yah, sama seperti namanya.
Baiklah, rekan-rekan media, terima kasih atas kehadiran teman-teman semua.
Kita doakan yang terbaik untuk film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.
Oke, berarti sekarang sudah pertemuan mingguan yang kedua.
Jadi, ini pakaian yang akan dipakai oleh Julie.
Dan kemarin sudah diadakan pengepasan, ya?
- Ini sudah semua? - Sudah.
Oke. Jadi seperti ini, Mas.
Tapi aku ada draf kedua...
MAKIN PERSONAL SKRIPMU, MAKIN BAIK
Tadi, Bu Hana pesan ke saya. Dia belum bisa bertemu Mas Bagus.
Iya, saya mengerti, tapi mungkin Hana bisa dibujuk?
Saya cuma sebentar saja, Bu. Saya tidak lama.
Mohon maaf, ya, Mas Bagus. Tadi, dia benar-benar pesan seperti itu.
Saya permisi ke dalam dulu, ya?
- Ya, terima kasih. - Ya.
Tapi yang buat aku kagum,
kau tidak pernah ikut pakai sulam alis.
Jadi, bagaimana itu? Rambut disulam ke alis itu ditanam atau bagaimana?
Sakit, ya?
Mas. Maaf, saya memotong.
Saya mau tanya. Jadi, ini pertemuan pertama Hana dan Bagus, ya?
- Iya. - Ya. Nah.
Dari awal, memang Bagus niatnya mendekati Hana,
atau dia memang benar-benar menyukai Hana?
Sudah, di sana saja. Gambar juga bagus di sana.
- Susah. Di sini, aku atur bagus. Benar. - Mas, sudah. Ini sudah kuamankan.
- Aman. Biar kuurus dengan orang lokasi. - Mesti cari opsi...
- Tak bisa, waktuku... - Bagaimana kalau di sini?
- Cari opsi. - Aman, Mas. Aman. Nanti...
- Cari opsi. - Tidak bisa.
Mendingan di sana saja.
Di sana gambarnya lebih bagus. Ini untuk film kita juga.
Di sini saja. Kata Mas Bagus oke, 'kan? Mas, di sini, 'kan? Oke?
- Sudah, di sana saja. Ya? - Ya sudah, sekarang terserah Mas Bagus.
Aku... di sini...
Ya, tidak akan, Gus.
Waktu Denny meninggal,
aku merasa semua perasaanku, hidupku...
Itu semua selesai begitu saja.
Semua sudah dikubur bersama dia.
Menyebalkan juga, ya, si Bagus ini.
Eh... Bagus yang di skrip maksudnya, Mas.
Iya.
Kau buat karakter ini semenyebalkan itu, ya, Gus?
Memangnya menyebalkan, ya?
Aduh...
Parah, Mas. Ini...
Hana sangat sabar.
Karena Bagus sepertinya tidak peka, ya?
Lagi berduka, kau cecar terus. Aduh, parah.
Penonton akan sangat kesal, Gus.
Bukannya Hana jadi belajar dari Bagus, ya?
Maksudnya...
Di kondisi Hana yang lagi begini, terus Bagus memberikan
pemikiran baru. Begitu, bukan? Untuk Hana.
Sepertinya Hana seharusnya marah, Mas, di sini.
Karena Bagus sepertinya benar-benar tidak menghargai perasaan dia.
Jahat.
Saya mau minta syutingnya diundur dulu, Pak.
Kau kenapa lagi, Gus?
Saya merasa
skripnya masih kurang, Pak.
Saya butuh revisi. Agak banyak, Pak.
Karakternya jelek sekali, Pak.
Gus, aku sudah dapat tanggal dari bioskop untuk ini.
- Sebulan saja, Pak. - Aduh, seminggu saja tidak bisa, Gus.
Kau harus ingat. Film itu hitam putih. Aku tak bisa negosiasi dengan bioskop.
Belum lagi kalau Marvel datang, tayang bersamaan dengan kita.
Aku tidak minum vitamin. Aku minum obat penenang, Gus.
Jadi, sudahlah. Ya?
Pak.
Hmm?
Kalau Bapak tidak mau memundurkan syutingnya,
saya yang mundur dari proyek ini, Pak.
Mulai!
Aku merasa...
karena kita tak sepenuhnya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan,
memberi bunga itu jadi seperti tanda.
Aku berusaha memahami
keadaanmu
melalui warna
dan bentuk bunganya.
Itu cuma mewakili, 'kan?
Tapi kalau di film, aku suka karena
kita jadi benar-benar bisa merasakan rasanya jadi orang lain, Na.
Tidak cuma mewakili.
- Masa? - Ya.
Berhenti!
Berhenti!
Kenapa, Gus?
Ada yang kurang?
Oh...
Tidak. Bukan salahmu, Dion.
Saya, ya, Mas?
Oh, tidak. Bukan salahmu juga, Jul.
Kalau menurut kalian, film bisa buat kita merasakan perasaan orang lain, tidak?
- Bisa. - Tidak.
Sekali lagi, ya? Tadi aku yang salah. Maaf, ya.
Dari awal, ya?
- Sekali lagi, ya? - Oke.
Yuk, reset!
- Reset! - Mulai dari awal!
Ayo!
Lagi, Gus?
Ya!
- Semua reset, ya! - Ya!
Aku yang salah.
Bodoh...
Ayo!
Tolong, depan pintu! Jalan dibuka dulu saja, hei!
Mas. Ini mau ke mana
- barang-barangnya? - Ke Yogyakarta, Mas.
Orangnya sudah berangkat, Mas?
Nanti malam, Mas.
Konvoi.
Mas, orangnya ada?
Lagi keluar sebentar, katanya.
Mengganggu.
Yuk, ini berat.
- Hitung. - Ya.
Aku hitung.
Satu, dua, tiga!
Baik! Kamera siap!
Talenta masuk! Siap!
Keluar!
Bersiap!
Suara!
Slate!
Slate 2,300, adegan 51, perekaman dua, rekam satu.
Kamera!
Ya.
Dan...
mulai!
Buat bagian romantisnya gampang, ya, Na.
Tapi buat keyakinan salah
karakter yang tepat dan perlu dia pelajari itu susah, Na.
Oke.
Contohnya?
Kalau aku jadi karakternya.
Bagaimana?
Jangan.
Tidak apa-apa.
- Aku merasa tidak enak. Jangan. - Sudah, tak apa-apa. Bagaimana?
Oke, begini...
Misalkan kau dalam film,
kau bilang kau tak akan jatuh cinta lagi.
Nah, nanti di bagian akhir, kau akan belajar
bahwa itu semua karena trauma.
Habis berduka, kehilangan.
Nanti, habis itu, kau akan jatuh cinta lagi.
Tapi kau tahu dari mana, ya,
bahwa itu cuma karena trauma?
Memangnya salah, ya, kalau orang tidak jatuh cinta lagi?
Ya, itu cuma contoh.
Aku benar-benar ingin tahu pendapat pribadimu, Gus.
Menurutmu, itu salah?
Kau kau menulis karakterku,
kau akan buat itu sebagai keyakinan salahnya?
Iya.
Berhenti!
Begini bekerja bersama sutradara baru.
Lihat sutradaramu.
Ayo merokok.
Ayo.
Mas.
Eh, Jul.
- Mau tanya. - Ya?
Maaf, Mas, saya baru sadar sekarang.
Bagaimana?
Karakter Bagus itu...
memang mau dibuat egois terus, ya, Mas?
Maksud begini, Mas.
Maaf, saya cuma mau usul saja.
Tapi apa di adegan ini
Bagus tak mau dibuat
memahami Hana, ya?
Sedikit saja.
Karena di bagian akhir,
Hana benar-benar merelakan masa lalu, ya, Mas?
Tapi si Bagus kok sepertinya...
tidak alami perkembangan karakter, ya?
Iya juga, Gus.
Apa kita buat si Bagus jadi lebih pengertian, ya?
Ya, cuma ganti dialog saja.
Nanti, ya? Coba, ya.
- Sebentar, ya. - Tak apa-apa, Mas.
Maaf, Bung.
Benar tidak apa-apa?
Tak apa-apa. Aman.
Ada apa ini?
Ayo syuting!
Chel.
Chel.
- Chel! Aku mau lihat adegannya. - Ya?
- Belum enak lajunya. Shot-nya... - Tak apa-apa. Aku mau lihat saja.
Oke.
Menurut...
Kau perlu tambahan close up, tidak?
Menurutmu perlu tambahkan close up, tidak?
Ya, jangan tanya aku, Mbak.
Aku editor. Shot itu bagian sutradara.
- Gus, tambah close up atau tidak? - Aku editor. Shot itu...
Kalau begitu, kenapa kau pindah ke Jakarta?
Mulai lagi dari awal.
Mas Bagus, yang tadi itu kita sudah oke atau mau...
Kau tahu, 'kan, kau mau merelakan masa lalumu?
Hati kecilmu bilang begitu, 'kan?
Aku tidak akan merelakan masa lalu!
Sekali lagi, Poi!
Tapi jangan lupa close up-nya. Nanti aku dimarahi Pak Yoram.
Close up? Sudah, syuting saja sendiri!
Gus...
Ini lagi. Kenapa editor lokasi ada di sini?
Ini film drama, bukan film laga.
Editor lokasi butuh untuk film laga!
Maaf, bukan salahmu.
Aku sutradara baru, tapi aku paham!
Kau sedang apa di sini?
Eh, aku produser kreatif.
Produser kreatif? Tak ada yang namanya produser kreatif!
Produser, ya, produser saja!
Ah, ya sudah. Syuting sendiri saja!
Yuk. Syutingnya kapan?
Oke, Teman-Teman. Kita istirahat dulu, ya?
Istirahatnya sampai...
Pokoknya kita istirahat dulu saja. Ya?
Terima kasih.
Tenang, Gus. Masih ada waktu,
Kita ganti saja dialognya, kita rekam ulang.
Hidupku yang tidak bisa diulang, Dion!
Hana sudah baca skripnya.
Ya, benar katamu. Dia mengamuk saat tahu.
Jadi, ini sama persis dengan kisahmu dan Hana?
- Kau baru tahu? - Kau tidak beri tahu.
Karakternya bernama sama saja kau tidak sadar?
Katamu hiperrealisme.
Aku bingung. Masa kau tidak mengobrol dengan istrimu? Hubungan kalian bagaimana?
Ya sudah, terus?
Ya sudah, selesai. Semuanya sudah selesai.
Tak mungkin bisa berbaikan lagi. Dia mau pindah ke Yogyakarta malam ini.
Yah...
Gus, Dion, ayo rekam ulang! Ditunggu Julie!
Eh, tadi aku sudah menonton adegannya! Bagus sekali!
Percaya padaku! Habis ini, Pak Yoram pasti akan memberimu sekuel!
Eh, jangan. Masa film seperti ini diberi sekuel?
- Tidak apa-apa! Sudah, yuk! - Ya.
Aku bingung. Tiap ada film sukses, selalu diberi sekuel. Ya, 'kan?
Aduh!
Benar juga.
Kalau tidak bisa diulang, ya, lanjutkan saja cerita filmnya.
Buat sekuel.
- Dion! - Ya?
- Kau benar! - Apa?
Buat sekuel saja!
Apa?
Iya! Buat sekuel!
Hidupku tidak bisa diulang lagi, tapi masih bisa dilanjutkan!
Teman-Teman, ada yang melihat Pak Bagus?
Belum ditemukan juga?
Sudah kuperlakukan baik, tapi kabur juga.
Kubilang juga apa?
Inilah yang membuatku malas bekerja dengan sutradara baru.
Selalu kabur-kaburan.
Sudah, kita rekaman saja, yuk.
Cheline, close...
- Cheline mana, ya? - Sudah. Rekam saja, yuk.
Tak ada waktu. Aku masih ingat urutannya, Setelah ini kover, 'kan?
Je, monitor. Pemain sudah siap atau belum?
Julie siap, Bang.
Tapi Dion dari tadi dicari dan tidak ada, Bang.
Menghilang.
Aduh!
Aku butuh kopi.
Bisa beres pagi kalau seperti ini.
Jupri, monitor.
Masuk, Bang.
Aku mau kopi, satu.
Panas atau dingin, Bang?
Dingin.
Tapi airnya tidak ada, Bang.
Ya, terus kau kenapa...
Gila, sangat seru! Seperti di film-film!
Eh, kalau adegan mengejar pacar begini biasanya sequence terakhir!
Pas sekali kalau diberikan musik latar!
Shot juga mesti banyak. Saat lagi diedit dan mau dibuat agar tegang, lebih enak.
Nah, di sini satu.
Protagonis dapat satu lagi, tapi dari depan.
Nah, jadi rasanya naik.
Oke! Bagus sekali seperti itu, Gus! Pertahankan!
Oh!
Pakai drone, Gus! Pakai drone!
Mengejar kita, 'kan? Bagus sekali! Pengalaman sinematik!
Drone balap, Gus! Dari sini, ya? Itu.
Di sini mengejar kita... Habis itu berputar.
Berputar lagi!
Gedung!
Nah, dari gedung, tapi dari belakang ke sini. Nah. Itu. Jadi dari atas, 'kan?
Kita buat penonton bingung dulu, mau ke mana sebenarnya.
Menyusuri, terus sampai sana.
Mengejar kita lagi. Baru penonton paham.
Mendekati kita. Berputar.
โชMaju ke depan.
Itu. Lihat, 'kan?
Berputar lagi!
Dari sini, enaknya langsung ke Hana.
Ya, 'kan? Lagi terburu-buru.
Mau taruh barang, mau berangkat. Jadi, rasa urgensinya ada.
Oh, atau kita buat Hana duduk menunggu di antara figuran yang lagi lalu-lalang.
Balik lagi. Bolak-balik ambil barang, dari rumah ke mobil.
Aku tahu!
Aku penasaran, kalau kecepatan rananya kita kurangi,
seperti Slumdog Millionaire, terus patah-patah.
Atau layar terpisah! Iya, layar terpisah!
Bagus di kiri, Hana di kanan.
Jadi, kita bisa lihat yang lagi mengejar dan yang lagi mau berangkat,
tapi di waktu yang bersamaan.
Gila, pasti bagus.
Dion, stop!
- Di mana? - Ini rumahnya.
- Stop! - Oke!
- Stop! - Dion!
- Tenang. - Aduh!
Na!
Na, aku mau mengobrol sebentar.
Na!
Na, sebentar saja.
Na, mengobrol sebentar saja. Aku butuh mengobrol denganmu, Na.
Na.
Aku janji, Na. Beri aku kesempatan untuk...
Untuk mengobrol saja, Na.
Sebentar, Na.
- Mas, itu langsung taruh di truk, ya. - Iya.
Na, sebentar.
Na!
Na, kalau misalnya habis mengobrol kamu masih marah
padaku dan tak mau bertemu denganku lagi, tak apa-apa, Na.
Tapi aku cuma butuh sebentar saja.
Na, aku... Sebentar dulu, Na. Sebentar saja, Na.
Ayo mengobrol... Fokus...
Na!
Na, sebentar saja.
Tolong, Na.
Aku meneleponmu juga selama ini tidak kau angkat.
Na, sebelum kau pergi, ayo mengobrol sekali saja.
Na, jangan sampai aku tak bisa mengobrol lagi denganmu. Aku cuma butuh...
Sekali saja. Mengobrol sekali. Sebentar saja, Na.
Na? Ya sudah, izinkan aku mengatakan sesuatu padamu. Na!
Aku ingin menjelaskan, Na.
Na, tak bisa seperti ini. Na, dengarkan aku dulu.
Tolong, Na! Alasan aku membuat film itu, Na!
Na! Dengarkan aku! Alasan aku buat film...
Na!
Na! Aku terjepit, Na!
Na! Bajuku tersangkut, Na!
Na! Hana! Bajuku tersangkut, Na!
Na! Hana!
Na!
Na, bajuku tersangkut! Na!
Gus!
Aduh!
Gus!
Ah!
Gus!
Gus! Pelan-pelan, Gus!
Pelan...
Sut...
- Pelan-pelan. Ha? - Na...
Patah, Na.
Patah, Na. Benar, Na.
- Gus, jangan bercanda. - Patah, Na.
Benar patah, Na.
Tolong, Na. Panggilkan ambulans, Na.
- Ha? Jadi benar? - Tolong.
Benar.
- Tolong telepon ambulans! - Iya! Sebentar...
- Aduh! - Dion.
- Ha? - Ini momen penting.
- Gus! - Tapi...
Kalau kakinya patah, pasti dimaafkan.
Jangan dipegang, Gus!
- Sudah, Gus. - Sebentar, Na.
Kenapa aku menulis film ini dari awal itu karena ingin ceritakan semua tentangmu.
Aku menulis ini karena aku ingin memahamimu.
Karena aku ingin memahami dukamu, Na.
Dukamu setelah kehilangan orang yang kau cintai itu, Na.
Apa yang kau pikirkan...
Apa yang kau hadapi, Na...
Tentang dukamu...
Itulah kenapa filmnya hitam putih, Na.
Bagus sekali!
Bagus!
Bagus!
Sudah ditelepon atau belum ambulansnya?
- Sebentar, Na. - Sudah!
Na...
Dengarkan aku, Na.
Aku keluar dari filmnya.
Ha?
Sudah, aku tak akan lanjutkan lagi filmnya.
Aku malu pada diriku sendiri, Na.
Kupikir,
kalau aku memberimu kejutan dengan film,
itu sudah jadi tanda cintaku untukmu.
Tapi ternyata tidak, Na.
Tidak sama sekali, Na.
Aku tidak tahan dengan kebodohan diriku sendiri.
Kau benar, Na.
Romansanya cuma ada di kepalaku.
Aku sadar, Na.
Aku lebih menginginkan kau daripada filmnya.
Ini.
Kalau di film-film, adegan romantis seperti ini tidak masuk akal.
Masa saat ada patah tulang, kita mengobrol?
Masih menunggu ambulans, 'kan?
Sampai ambulansnya datang, masih ada waktu untuk mengobrol.
Gus...
Patah kaki itu sangat sakit.
Mana mungkin mengobrol?
Pasti kau berteriak-teriak kesakitan.
Oh, ya, dan... Siapa? Temanmu, Cheline, Dion.
Masa saat kaki temannya patah, mereka diam saja?
Ini filmnya romcom, romantis komedi.
Yam pasti ada komedinya.
Tidak masuk akal.
Tapi kau marah atau tidak,
karaktermu aku tulis begitu?
Marah.
Lagi pula,
kau bisa saja menulis cerita seperti ini.
Mengambil kesimpulan sendiri...
Itu bagaimana caranya, Gus?
Dari awal, aku...
niatnya memang menulis semua pertemuan kita, Na.
Na?
Kau di sini?
Habis kita berkelahi di restoran Padang itu...
Kau akan menulis keyakinan salah seperti itu?
Iya.
Oh.
Kita bertengkar.
Pak Yoram memajukan tenggat waktunya.
Jadi, harus buru-buru aku selesaikan.
Aku coba menghubungimu,
tapi aku jugs paham kau kesal terhadapku, Na.
Ya sudah, akhirnya yang tersisa cuma diriku
dan
alasanku dari awal, kenapa aku mau buat film.
Aku merenungkan segalanya dan melihat ke dalam diriku sendiri...
Aku sadar bahwa
keyakinan salahnya bukan ada padamu, Na.
Justru ada padaku.
Romansanya memang cuma di kepalaku.
Habis itu, aku mengarang hubungan dan kisah kita akan seperti apa.
Terus hal yang paling aku takuti adalah
kalau kau sampai tak sengaja baca skripnya, apa yang terjadi?
Dan aku tahu kau pasti marah.
Kau pikir aku akan semarah itu, ya?
Ini. Aku membaca skripmu.
Aku tidak berteriak-teriak, 'kan?
Ya, biasanya di film, saat marah-marah,
mereka pakai dialog yang keren, seperti...
Seperti yang itu.
"Gus, kau cuma peduli pada dunia film yang kecil, sempit itu,
dan kau anggap bisa merubah dunia."
Di skrip ini,
Bagus sebegitu menyukai Hana, ya?
Kenapa tidak mengobrol? Maksudnya, jika suka, tinggal bicara saja, 'kan?
Na.
Aku menyukaimu, Na.
Nah. Gampang, 'kan?
Maka dari itu, aku sudah bilang padamu.
Pasangan itu tinggal mengobrol saja. Mengobrol.
Tidak, Na. Ini sungguhan.
Aku menyukaimu.
Tapi aku bodoh
karena tidak mau memahami perasaanmu.
Perasaanmu yang kehilangan orang yang kau cintai itu, Na.
Hanya aku sendiri yang senang.
Aku...
egois.
Maka itu, saat skenario jadi,
aku langsung ingin menunjukkannya padamu.
Dan aku ingin menyatakan apa adanya, seperti...
Seperti tadi, kepadamu.
Jadi...
rumit sekali, ya, Gus, rasanya hubungan kita ini.
Maaf, Na.
Aku tidak ada maksud membuat situasinya jadi bingung begini.
Tapi kau suka skripnya atau tidak?
Tidak.
Skripnya tidak romantis, Gus.
Tapi...
dengan kau datang ke sini...
dan bicara apa adanya...
Menurutku, itu yang romantis.
Mungkin tidak apa-apa.
- Maksudnya, tak perlu dirapikan. - Tak apa-apa.
Tidak apa-apa. Sudah, tenang.
Cheline.
- Dion. - Gus.
Hei, kau... Mau mengedit, ya?
- Ha? - Mau mengedit?
- Kau mau beri presentasi? - Iya. Ini.
Hana, perkenalkan.
- Cheline. - Hana.
Dion.
Mereka...
Oh, iya!
Sudah bilang akhirnya?
Iya.
Kisah nyata, ya?
Ya sudah. Kalau begitu, mau aku siapkan dulu. Semoga berhasil presentasinya.
- Hana! Pergi dulu, ya? - Ya.
- Sehat-sehat, ya? - Dah.
Dah.
Chel.
Sungguhan?
Jawab.
Mas Bagus. Silakan masuk, Pak Yoram sudah menunggu.
Oke. Sebentar, ya.
Ya sudah.
Mau ikut menemani ke dalam?
Tidak usah.
- Benar? - Tidak.
Ya sudah. Aku masuk dulu, kalau begitu.
- Semoga beruntung! - Ya.
Tak apa-apa menunggu di sini? Atau mau di kafe depan saja?
Tidak usah. Sudah, di sini saja.
Ya sudah.
Seperti mengantar anak ke sekolah, ya?
Gus.
Grogi. Doakan, ya?
Pak.
Gus.
Ini sudah kusiapkan tiga episode beserta failnya.
Tinggal kau pelajari.
Kita buat adaptasi dari IP sinetron yang dulu saja.
Pasti laku.
Lagi pula, kalau kau buat adaptasi selalu bagus, 'kan?
Ini bukannya dulu sudah pernah reborn, ya, Pak?
Namanya juga reborn. Bisa dibuat ulang lagi.
Pak...
Coba dengar dulu ide saya yang ini.
Bagaimana kalau kita buat film hitam putih?
Menarik.
Menarik.
- Ini? Aku lihat dulu, ya. - Itu. Silakan.
Nama karakternya sama dengan kau dan aku.
Iya, Pak.
- Tak harus saya yang berperan, 'kan? - Tidak, malah jangan, Pak.
- Jangan sampai kau yang berperan juga. - Oh, jelas tidak, Pak.
Iya...
Hitam putih, ya?
- Ya, hitam putih. - Horor?
Film romantis, Pak.
Gus.
Sudah kubilang, kalau kau mau yang orisinal, boleh. Asalkan horor, Gus.
Pak, tapi dengarkan dulu. Ini ceritanya menarik sekali.
Ini ceritanya tentang penulis film
yang diam-diam, untuk kejar gadis pujaan, menuliskan kisah cinta ke dalam skrip
kepada temannya yang baru saja menjanda.
Ah! Ini!
Jadi, arwahnya tidak terima, lalu mengejar kedua pasangan baru itu ke mana-mana,
- lalu mereka dibunuh? - Bukan, Pak.
Arwahnya masuk ke sebuah benda, dan benda itu dibawa mereka.
- Jadi, mereka terus dihantui arwahnya. - Bukan. Ini film romantis, Pak.
Judulnya apa?
Judulnya. Coba, bacakan. Aku mau dengar. Coba baca.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.
Horor.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film Horor. Paham?
- Pak. - Nah, itu baru namanya judul.
Bapak sudah berjanji pada saya, Pak.
Iya, sudah janji.
Pak Yoram minta adegan dukanya agak dipanjangkan, terus diperbanyak.
Dan dia mengusulkannya seperti ini.
Tapi kenapa, ya? Di film-film seperti itu. Seperti...
- Padahal menurutku... - Ya?
...berduka tidak seperti itu.
Lihat Bu Yati.
Kenapa?
Suaminya baru meninggal minggu lalu.
Ha?
Sudah lama sakit.
Astaga.
Menurutku, Gus,
yang berat dari berduka
adalah hidup harus berjalan terus, 'kan?
Padahal kita lagi tidak mau jalan.
Atau...
kalau dari yang aku alami,
tiap kali aku lagi mau bahagia seperti itu...
Yang seperti ini.
Seperti kita sedang mengobrol begini.
Aku senang...
tapi rasanya seperti...
tidak boleh terlalu senang.
Seperti ada yang melarang.
Ada bagian yang ingin aku revisi.
Yang mana?
Bagian ketika kau...
Saat kau merelakan masa lalu.
Karena menurutku,
kau tidak perlu merelakan masa lalu.
Bawa saja masa lalu itu bersamamu.
Denny dibawa saja. Tidak apa-apa.
Denny menempati ruang yang sangat besar di hatimu, ya?
Kalau aku minta bagian kecilnya saja.
itu pun kalau masih ada.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.