Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aslı.
Aslı.
Namanya Aslı.
Dia wanita yang sangat manis.
Satu-satunya kekurangannya hanya cara dia melafalkan huruf "S".
Dia "mendetsits".
Seperti "Atslı."
Dia manis sekali. Aku hilang kontak.
Mungkin dia sudah mati.
Usianya jauh lebih tua.
Kapan dia lahir?
Entahlah. Namun, dia sangat manis.
Rokokku mati.
Dengar, Kawan.
Ini pesta bujangan paling buruk yang pernah kuhadiri. Sungguh.
Kita seharusnya ke pesta Leyla.
Minumlah. Rasanya seperti air putih.
Sapalah Murat!
Kenapa kau buka ponselmu?
Memeriksa anakku.
Kita sudah sepakat. Ponsel dilarang. Ayolah.
Wanita-wanita ini benar-benar membuat kalian takut. Ini.
Teleponnya mati. Kita tak bisa pergi dari sini.
- Di mana pengantinnya? - Pengantin!
Pengantin! Ömer!
- Kenapa berteriak? - Pengantin!
- Baik, tenang. - Hei. Dengar.
Siapa pacar Ömer? Aku lupa namanya.
- Dilek. - Si juling.
- Dilek si juling! - Itu seks pertamanya.
Dilek juling, Aslı cadel...
Aku akan mencari Ömer.
Ömer.
Ömeritto.
Ömeritto, di mana kau?
THANK YOU, NEXT
#PERNIKAHAN
#BATAL
Bagaimana?
Coba kulihat.
Ini, Bu.
Aduh!
Kalian diam saja. Ada apa? Bagaimana?
- Katakan sesuatu. - Dahulu mungkin indah.
Baunya seperti barang antik. Coba kucium.
Astaga, memang bau.
Syukurlah.
Sayang, lepaskan sekarang.
Dicuci pun baunya tak akan hilang.
Tapi ini gaun pengantin nenekku.
Aku harus bagaimana?
Kalau mau, kubuatkan yang mirip.
- Apa itu perlu? - Yah...
Leyla, Sayang.
Seburuk itukah, Beliz?
Bukunya terbit.
Dia sebut Cem "Han Tumar" di buku ini.
Dia susun ulang huruf-huruf "Murathan". Han Tumar.
Menurut hakim tak ada kemiripan. Kita tak bisa apa-apa.
"Orang narsis sebenarnya gelisah dan sering trauma akibat ibu mereka."
"Luka terbesar Han Tumar adalah ibunya."
Apa kita tahu tentang ibunya?
Aku tak tahu apa-apa.
"Dalam beberapa minggu,
Tuna menjadi budak yang terbelenggu di tubuh Han."
"Gairahnya tumbuh makin kuat."
"Api yang dinyalakan Han melahap tubuhnya
bagai air terjun dari selangkangannya."
"Dia bercinta dengan tawanannya
tanpa memberi kesempatan bernapas."
"Han bagai air terjun mengalir deras,
dan Tuna menyerahkan tubuh telanjangnya ke air ini."
Apa kau nyata?
Apa kau milikku?
- Leyla. - Leyla!
- Leyla? - Leyla!
- Sudah? Terima kasih. - Sama-sama.
Sayang. Kau baik-baik saja?
Ayo kita menikah. Hari ini.
Ada yang aneh. Semuanya salah. Ini pertanda buruk.
Semua berjalan sesuai rencana, Sayang. Jangan konyol.
Tidak. Gaun pengantin nenek jelek.
Mereka jahit yang baru.
Mobilku rusak.
Pakailah mobil baruku.
Kau akan ke Dubai dan baru pulang saat pernikahan.
Setelah itu kita akan selalu bersama. Benar?
Bulan madu.
Bagaimana?
Tahun madu juga boleh.
Pergilah, nanti kau terlambat.
- Kenapa dia menelepon? - Pasti soal menu.
- Sungguh? - Ya.
- Gantilah nada deringnya. - Baik.
Nanti kau terlambat.
Nanti kau terlambat.
Ömer!
Hati-hati.
Baik, Habibi.
Aku gelisah menjelang pernikahan.
Ibu juga merasa begitu?
Itu namanya antusias, Leyloş.
Bukan gelisah.
Tidak, ini bukan antusias.
Ini benar-benar kegelisahan.
Entahlah. Semua baik saja saat aku bersama Ömer,
tetapi banyak yang kucemaskan saat aku sendiri.
Seperti ada kekosongan dalam diriku yang tak bisa diisi.
Kau gelisah sebelum menikah.
Benar. Aku terikat. Dalam pernikahan.
Entahlah.
Aku tak merasa cemas seperti calon pengantin.
Padahal sudah satu setengah tahun.
Kami berpisah 1,5 tahun, dan...
Kau juga masih ragu.
Astaga.
Yes, Şeyyaz?
- Kenapa kau tak jawab teleponku? - Kujawab. Ada apa?
Kau datang ke turnamen hari Minggu?
Tidak. Aku akan pindah.
Baik, datanglah kalau sempat.
Aku ingin bicara.
Astaga. Soal apa? Jangan menakutiku. Katakan.
Defne.
- Dia hamil. - Apa?
Itu berita bagus. Selamat.
Kenapa nada bicaramu begitu?
Dengar, kubunuh kau jika kabur.
Dia bahkan belum memberitahuku.
Kudengar dia bicara dengan Cem. Belum tentu itu anakku.
Kalian sudah lama bersama. Siapa lagi ayahnya?
Tidak mungkin.
Lalu, kenapa ibu Cem Murathan datang terburu-buru?
Ini kejutan.
Paman bersikeras.
Maksudku, pamanku, Can.
Nyonya Oya, perkenalkan, Leyla Taylan.
Hai. Salam kenal, Leyla.
Halo. Sama-sama.
Aku juga baru bertemu pamanmu.
- Apa yang terjadi? Kau tak apa-apa? - Bukan masalah besar.
Mobil di depan berhenti mendadak, dan aku lengah.
Begitu.
- Turut prihatin. - Terima kasih.
Tiga minggu lagi aku menikah.
Itu juga membuat stres, jadi...
- Kudengar Ömer di Dubai. - Ya. Proyek baru. Dia tunanganku.
- Kita duduk, Bu? - Baik, Sayang.
- Sampai jumpa. - Ya. Terima kasih.
Dia cantik, 'kan?
Kau kenapa? Semua baik-baik saja?
Ya, aku baik-baik saja.
Aku bahagia.
Bagus.
Malam itu, saat pembukaan hotel,
hidup kita berubah.
Apa maksudmu?
Hidupmu, hidupku, dan hidup Cem.
Siapa tahu ada kejutan lain menanti kita?
- Turut prihatin dengan kecelakaan itu. - Terima kasih.
Kenapa dia bilang hidup kita berubah malam itu?
- Mungkin dia tidur dengan Cem? - Tidak.
Kenapa kau begitu yakin?
Maksudku, bayinya pasti sudah lahir sekarang.
Cem Murathan tak akan begitu.
Meski narsistik, dia menghargai orang dekatnya.
Lantas...
kenapa dia tak beri tahu Şeyyaz kalau dia hamil?
Kenapa beri tahu Cem Murathan dahulu?
Kenapa dia dan ibunya bahagia
jika itu bukan anak Cem Murathan?
Sudah tiga tahun mereka menikah. Mereka akan lulus tahun itu.
Defne hamil delapan bulan.
Bayinya laki-laki.
Cem sibuk mengerjakan tugas akhirnya.
Mereka naik mobil ke luar kota untuk ganti suasana.
Selim yang menyetir.
Putra bungsuku.
Defne dan aku sama-sama kehilangan anak.
Sedangkan Cem...
Dia kehilangan anak dan adiknya dalam kecelakaan itu.
Mereka tak bisa pulih dari itu.
Kami trauma tiap kali bertatapan.
Aku yang lebih dulu berani melupakan.
Kami berpisah.
Namun, kami sudah menjadi keluarga.
Tak bisa berpisah lagi.
Aku mengerti. Aku tahu perasaanmu.
Cem tak pernah membicarakan ini.
Istri-istrinya juga tak ada yang tahu.
Mereka terlalu cepat pergi untuk tahu itu.
Karena itu kau tak bisa percayai Şeyyaz?
Maksudku, Feyyaz.
Kini kami baik-baik saja.
Entah bagaimana nanti.
Kami melanjutkan atau putus.
Namun, ini bayiku, Leyla.
Bayi yang kurindukan bertahun-tahun.
Itu sebabnya aku ingin berbagi dengan keluargaku dahulu.
Kuberitahu Nyonya Oya dan Cem.
Cem sangat berharga bagiku, Leyla.
Dia pria paling jujur dan penyayang...
yang pernah kukenal.
Dia cinta masa kecilku.
Dia tetap ayah dari anakku.
Dia yang paling kucintai.
Akan selalu begitu.
Kenapa buru-buru?
Apa?
Tiga minggu lagi kau menikah.
Kubilang, kenapa buru-buru?
Meski tak selalu mulus,
kami bersama sembilan tahun.
Lebih lama dari semua pernikahanmu.
Kau benar.
Pernikahannya akan dilangsungkan di rumah danau, jika...
Tanggal sembilan, jika kau mau datang.
Aku mengundangmu.
Aku tak di sini hari itu.
- Sungguh? - Ya.
Aku tak akan melihatmu bergaun.
Aku ke London minggu ini.
Untuk waktu yang lama.
Baiklah.
Selamat tinggal...
Leyla.
Pertanyaan sebenarnya belum terjawab.
Jika dia pria yang diceritakan Defne, kenapa pagi itu...
Sebentar. Ömer menelepon.
Baik, Sayang. Sampai jumpa beberapa jam lagi.
Baik. Hati-hati. Sampai jumpa.
Halo? Sudah mendarat, Sayang?
Baru saja. Aku lelah, tak bisa menjemput orang tuamu.
Waktuku dua jam untuk pulang dan mandi.
Baik, kukirim orang untuk jemput mereka.
Ini dari Cem Murathan.
Cem Murathan kirim apa?
Mungkin kado pernikahan.
Baik, kutunggu di restoran. Sudah dulu.
Kirimi aku fotonya.
Baik. Sampai jumpa.
Dia kirim apa?
- Astaga! - Astaga!
Apa ini?
- Kintsugi. - Kintsugi?
Artinya, "Masalah kita selesai."
Dia minta maaf padamu. Kenapa?
- Dia tak bilang apa-apa? - Diantar sopirnya.
Tn. Cem ingin memberikannya sebelum pergi.
Baik sekali!
- Dia masih di bawah? - Mungkin.
Kurasa dia di bawah. Permisi.
Pelan-pelan!
Filosofi Jepang kuno, kintsugi,
bertujuan membuat barang rusak
menjadi lebih cantik dan fungsional dari sebelumnya.
Menurut filosofi ini,
rusak bukanlah kehilangan, tetapi kemunculan baru.
Mungkin ada fase dalam hidup seseorang
yang meninggalkan bekas mendalam dan tak bisa diperbaiki.
Namun, mengatasi tantangan ini dan memperbaiki bagian yang rusak
dengan ikatan yang lebih berharga dan kuat juga bagian kehidupan.
Tunggu! Bisa tunggu sebentar?
Alih-alih mengabaikan retakan benda yang rusak,
itu malah membuatnya lebih terlihat,
menjadikannya bagian dari masa lalu.
Ini perjuangan melawan fragmentasi.
Bukan menuju ketiadaan.
Namun, melanjutkan perjalanan dari saat itu rusak.
Trauma itu tak disangkal atau ditutupi.
Namun, tak ada unsur kehidupan yang merupakan cela.
"Setiap pengalaman tak ternilai, meski mengecewakan."
Sangat dalam.
Ya. Namun, menurut Ayah,
ada dua pria yang terdampak.
Yang satu selesai.
Yang lain punya sejarah sembilan tahun
dan masih terbuka lebar.
- Mari. - Itu mereka.
- Selamat datang. - Selamat datang.
- Selamat datang. - Apa kabar?
- Halo. - Baik, kabarmu?
Aku sangat rindu.
Halo. Apa kabar?
Aku mencintaimu, Ömer.
- Terima kasih, apa kabar? - Baik.
- Kau sehat dan bugar. - Kau juga. Terima kasih.
- Apa kabar? - Halo. Baik, kau?
- Hai. - Apa kabar, Sayang?
- Baik. Kalian? - Kami baik.
Silakan duduk.
- Apa kabar? - Baik.
Silakan.
Apa ini, Sayang?
Ini hadiah darinya?
Ini sudah rusak.
Barang pecah belah.
Menarik. Bagus. Baiklah.
- Bagaimana? - Semua baik, terima kasih.
Kami rindu. Senang bisa bertemu.
Lezat.
Hidangannya sangat lezat.
Sampaikan pujian kami untuk Koki.
Aku sudah lama tak makan masakan lezat. Sampaikan terima kasihku.
Nikmatilah. Nanti kusampaikan.
Jangan. Sampaikan ke dia rasanya lumayan.
Ömer! Kau tak sopan!
Memangnya kau anak kecil? Itu tak lucu.
Kita panggil saja penghulunya dan selesaikan hari ini.
Mestinya "dimulai", Sayang.
Semuanya dimulai setelah kalian bilang, "Aku bersedia."
Lalu, "Berdoa untuk para leluhur."
Tunggu, aku ingin katakan sesuatu.
Menurutku, pernikahan adalah perjalanan panjang selama empat musim.
Tentu saja, dalam perjalanan ini, kalian membawa banyak beban.
Lalu, seiring waktu,
beban ini lama-kelamaan hilang.
Itu sulit.
- Akan ada badai di musim panas. - Benar.
Ayolah, jangan menakuti mereka.
Aku tak suka membawa beban.
Aku hanya ingin memegang tangan Leyla dalam perjalanan ini.
Akan menyenangkan jika selalu musim semi.
- Semoga selalu musim semi. - Semoga sepertimu.
Kutunggu di pernikahan.
- Jika aku tak berubah pikiran. - Ömer!
Baik. Aku akan pulang sehari sebelumnya. Baik.
Semoga lancar.
Saat kereta luncur yang kita naiki menanjak,
jantung kita berdetak lebih cepat.
- Kau sangat cantik! - Cantiknya.
Tanpa tahu apa yang akan terjadi,
kita sangat senang dan takut.
Tunggu. Dia benar menangis.
Lihat, indah sekali. Bagaimana...
Begitu sampai di puncak,
kita pejamkan mata dan bilang, "Ayo, apa pun yang terjadi."
Ini perasaanku.
Bagaimana perasaanmu?
Tinggal sehari lagi.
Lusanya, kita akan berteriak dan melompat-lompat.
Ömer?
Halo?
Kau tertidur?
Aku belum tidur tiga hari, Leyloş.
Aku mati rasa.
Baik, Sayang. Aku mengerti.
Tidurlah.
Jangan sampai telat.
Baik, pergilah! Sana.
Buddy!
- Bagaimana? - Dia tak apa-apa. Hanya luka kecil.
Kami bius dia untuk dirontgen.
Dia akan segera melompat lagi.
Terima kasih, Balım.
- Terima kasih banyak. - Tak apa-apa.
- Boleh masuk? - Silakan.
Buddy, Sayang!
Cintaku.
Kau tak apa-apa, Sayang?
Kau baik-baik saja, Sayang?
Tidak, Ayah. Aku tak akan memberi tahu Ömer.
Buddy baik-baik saja. Dia ceria.
Ya. Kami masih di dokter hewan.
Ya, mereka akan antar gaunnya ke rumah danau besok pagi.
Baik, Ayah. Diantar langsung ke rumah. Ya.
Hati-hati.
Sampai jumpa.
Selamat.
- Kapan hari bahagianya? - Lusa.
Semoga kalian bahagia. Aku sungguh-sungguh.
Rasa sakit Ömer akhirnya hilang. Itu yang membuatku senang.
Kita semua menderita.
Meski tak mulus, hubungan kalian juga lama.
Kuobati luka Ömer selama dua tahun.
- Dua tahun? - Ya.
Hubungan kami adalah hubungan pelarian.
Kau menyakitinya, dan aku menyembuhkannya.
Dia melihatmu bersama Koki, lalu menghampiriku.
Melihatmu mencium Cem Murathan,
dia meneleponku sambil teriak kesakitan.
Ada apa dengan kau dan Cem Murathan?
Tak ada, Ömer. Hentikan. Ada-ada saja!
Ini soal apa? Kupikir ini sudah selesai.
Dia sangat mencintaimu.
Bagaimanapun, kalian tetap akan menikah.
Luar biasa.
Bagus sekali.
Kutahu dia akan memaafkanmu.
Aku tahu itu.
- Halo? - Sayang.
Aku baru saja masuk ke rumah.
Kawan!
Tunggu. Aku sedang menelepon Leyla.
Leherku...
Tidak, jangan!
- Satu! Dua! Tiga! - Satu! Dua! Tiga!
- Pengantin pria! - Pengantin pria!
Apa Ibu bisa memaafkan Ayah?
Maksudku, apa Ibu bisa melupakan...
Ayah pernah tidur dengan wanita lain?
Tidak.
Kenapa Ibu tak tinggalkan Ayah?
Agar ayahmu tak temui dia.
Defne telah mengatur semuanya.
Şeyyaz yang memasak makanannya.
Ini, sayang.
Kami yang mengurus hiburan.
Semua orang bekerja untukmu!
Kami punya kejutan besar untukmu. Aku tak sabar!
Beliz mengirim foto.
Ibu mertuamu sudah siap di meja.
Mereka menginap di hotel, 'kan? Tak kembali ke sini?
- Aku tak tahu. - Baiklah.
- Ini ponselmu. - Tidak, taruh di sini saja.
- Kupasang di sini. - Berbalik.
Kau sangat cantik! Sangat menawan, Sayangku!
Aku tahu kau lelah, Sayang. Ayolah, semangat.
Saatnya bergembira!
Baik, kita akan bergembira. Baiklah. Ayo.
Ayo pergi.
Leyla! Sampaikan salammu untuk Murat!
Kami putus selamanya di hari ultahku.
Lebih tepatnya, pagi setelah malam itu.
Namun, itu lebih baik.
Aku terlalu lelah dengan semua pasang surutnya.
Jangan bilang-bilang ke dia.
Tak akan kuberi tahu siapa pun. Tenang saja.
Kutepati janjiku.
Kecuali kepadamu, sekarang.
Tak ada yang tahu.
Ke mana perginya si Edis?
Kita harus mengejar pesawat. Kita bisa terlambat.
Aku penasaran akhir cerita ini.
Edis!
Pergilah.
Carilah aku.
Baik.
Terima kasih.
Apa zodiakmu?
Gemini.
Gemini juga?
Tanggal 8 Juni.
- Begitu! - Ya.
Empat hari sebelum ulang tahunku.
Dia adakan pesta ulang tahun meriah di rumah barunya.
Di rumah barunya?
Ya.
Rumahnya indah. Lihatlah.
Dia undang semua temanku demi pesta kejutan.
- Dia undang semua temanmu? - Lihat. Semua datang.
Ya. Itu kejutan yang menyenangkan.
Dia selalu perkecil dampaknya sebelum menyakitiku.
Aku sudah terbiasa. Ya.
Dia siapkan sarapan enak esoknya.
Dia membuat telur?
Tidak.
Dia membuat telur saat memberiku kunci rumahnya.
PERJAMUAN TERAKHIR LEYLA
Lantas?
Dia memberiku hadiahnya.
Lalu dia mulai mengevaluasi hubungan kami.
Dia bilang akan selalu mencintaimu.
Juga, pada akhirnya, dia akan kembali kepadamu.
Selesailah evaluasi kami.
Sampai di mana tadi?
Sudah kau putuskan akan melihatku bergaun pengantin?
Bagaimana? Apa yang kau pikirkan?
Katakan.
Katakan. Kita selesaikan urusan kita.
Baik, hentikan.
Kenapa kau menyerah?
Aku tak menyerah.
Lantas, kenapa kau pergi pagi itu?
Apa kau nyata?
Apa kau milikku?
Ömer.
Leyla.
- Leyla. - Baik, lepaskan aku. Pergilah.
Kudengar Ömer mengirimimu pesan. Apa yang dia katakan?
Apa dia mengancammu? Da menakutimu? Katakan yang sebenarnya.
Aku hanya takut kepadamu.
Apa Cem Murathan benar lagi?
Kau benar lagi?
- Leyla... - Siapa kau?
- Apakah ini ujian? - Bukan.
Siapa kau? Katakan. Jawab pertanyaanku.
Bagaimana?
Bagaimana kau bisa membuat keputusan tentang hidupku?
Kintsugi dan semuanya.
Kintsugi!
"Untuk melanjutkan perjalanan dari tempat rusaknya."
Siapa yang mengatakan ini?
Tak ada yang bisa melanjutkan perjalanan
dari tempat rusaknya.
Baik.
Tak akan bisa.
Tak akan bisa.
Pembohong.
Penipu. Pembohong.
Gadis itu ternyata hanya cadangan.
Dia bersamanya sebelum menemuiku hari itu.
Semua orang di sekitarku pembohong.
Semua temanku.
Kau juga pengecut.
CEM MURATHAN LEYLA BERSAMAKU. TENANG...
TN. CAN, SELAMAT MALAM. MAAF MALAM-MALAM.
- Dari Leyla? - Ya.
Tenang. Dia di rumah temannya.
Dia tertidur. Besok pagi dia ke sini.
Percuma kita belikan gelang emas. Kuno.
Biar saja. Kita tetap berikan. Terserah dia nanti.
Jangan sampai anak kita malu dan kita kalah.
Baiklah, Nurhal.
Itu Leyla, 'kan?
Leyla!
Astaga!
Kau akan sesali ini.
- Sinan, tolong angkat. - Baik.
Halo, Pak Altuğ.
Tentu. Tunggu sebentar.
Tunggu sebentar.
Halo, Ayah?
Ya?
Aku sedang dicukur.
Apa?
Kapan?
Kapan?
Tolong dilepas.
Baik.
Ada apa, Ömer?
Bagaimana lagi... Apa aku salah bicara?
Ayo, Kawan. Cepat.
Ayo.
Buddy.
Apa kabar, Sayang?
Leyla, Sayang?
- Ponselmu mati. - Ya.
- Ada apa? - Jangan dinyalakan. Tunggu.
Hentikan. Ada apa? Baiklah.
Aku bertindak bodoh lagi.
Terjadi lagi. Kuhapus pesan hanya untukku.
Kau ini bicara apa, Sarp?
Leyla, kumohon.
Jangan dengarkan.
Leyla. Kau tahu, aku yang pertama melihatmu?
Di hari pertama kuliah.
Lalu kuajak sahabatku ke pesta kampus.
Kubilang, "Aku jatuh cinta padanya," lalu kutunjukkan kau ke dia.
Si berengsek itu mencurimu.
Leyla, kumohon. Aku mabuk berat.
- Apa? - Lalu dia menghancurkanmu.
Si berengsek ini tak pantas untukmu.
Aku serius.
Malam sebelum pernikahan, astaga!
Sudahlah.
Kenapa kau ambil risiko sebesar ini?
Dasar berengsek!
Untuk mencegah siapa pun menghalangi kalian,
kubuat kau dan Cem Murathan bertengkar.
- Dari mana saja kau? - Apa? Aku di sini.
Kau sedang apa?
- Kau dari mana saja? - Ada apa?
Tidak ada.
- Apa? - Ayo.
Ömer melihat kalian berdua di malam pembukaan hotel.
Dia menangis sampai pagi.
Dia merasa hancur.
Saat dia pingsan, kuambil ponselnya,
dan memohon Cem Murathan untuk menjauhimu.
Jadi, kau yang mengirim foto itu ke Cem Murathan?
Maafkan aku.
Aku minta maaf, Leyla.
Baik, pergilah.
Aku tak berniat buruk. Kulakukan itu agar kalian tak putus.
- Aku tak berniat buruk. - Keluar.
Leyla, tolong, lihatlah aku.
- Lihatlah aku. Dengar... - Keluar, Sarp.
Kumohon.
- Leyla, aku sungguh... - Sarp! Keluar!
Hidup memiliki bahasa yang menarik.
Dengan isyarat dan kodenya.
Kita pikir sudah dikatakan. Belum.
Setiap orang baru dalam hidup kita mengajari kata baru.
Kasih sayang.
Saling percaya.
Persaingan.
Keberhasilan.
Cinta.
Kebahagiaan.
Kerinduan.
Kesepian.
Kekecewaan.
Leyla.
Kata favoritku adalah "teman".
Leyloş, ini kami!
Kata terakhir, "pengkhianatan".
- Leyla! - Leyla, buka pintunya.
Leyla!
- Leyla! - Ömer, tolong tenang.
- Mana Leyla? - Tunggu.
- Tenang. - Dia bersama Cem lagi?
Kendalikan dirimu. Bicarakan baik-baik.
Tak perlu. Orang tuaku melihat semuanya.
Sebentar, Ömer. Ibumu juga meneleponku.
Kau salah sangka.
Nyonya Reyhan. Jangan memaksaku.
Ömer, tenanglah. Mereka tak ada apa-apa.
Benarkah? Kau bersama mereka?
Aku bersamamu tadi malam.
Balım juga.
- Persetan! Bajingan! - Astaga! Ömer!
- Kubunuh kau! - Apa-apaan ini? Hentikan!
- Kubunuh kau! - Lihat aku.
- Apa-apaan ini? - Hentikan.
- Kubunuh kau! - Hentikan!
Jika Buddy tak kubawa ke taman hari itu,
jika Buddy tak lari dan terluka,
jika aku tak bergegas menemui wanita itu...
Kau tak akan membodohiku lagi.
Aku benci kau.
Ömer.
Mau bermain?
Jika wanita tak membongkar semuanya,
jika aku tak melihat foto ulang tahun itu,
jika Cem Murathan tak kembali sehari sebelum pernikahan...
Astaga... Beraninya kau datang ke sini!
Ömer.
Jujur atau tantangan?
Kau bicara tentang kejujuran?
Kau?
Tantangan. Ayo.
Tantangan.
Aku bicara tentang tanggal 8 Juni.
Kau mau mengaku?
Aku tak mau kehilanganmu lagi.
Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh harapan dan kenyataan
untuk mencari kebahagiaan.
Beberapa perjalanan harus dijalani tanpa membawa apa-apa.
Seperti burung. Ringan dan bebas. Baru.
Siapa tahu? Mungkin saja.
Siapa tahu?
Begitulah hidup.
Terjemahan subtitle oleh: Ardi Prananta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.