Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ada beberapa pesan.
Apa? Pesan apa? Pesan seperti apa?
Dia kirim semua foto sejak kalian bertemu,
dengan pesan, "Ini album keluargaku."
Apa karena itu Cem Murathan kabur?
Karena Ömer?
Leyla, jangan.
Cem akan pulang dari London setelah pernikahan.
- Ada apa, Leyla? - Sebentar, Bu.
Aku harus menelepon Cem Murathan.
Leyla, Sayang.
Ibu. Aku tahu yang akan Ibu katakan. Tunggu sebentar.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah...
Periksalah Edis. Baik. Pergilah.
- Leyla! - Leyla!
Ayolah. Ayo.
- Ayo, Sayang. - Semua sudah siap.
Tunggu, aku datang.
Leyla, Sayang.
Aku siap.
Ini momen yang kita tunggu-tunggu.
Semuanya, mohon perhatiannya. Lihatlah ke sini.
Leyla, semoga kalian selalu bahagia.
Kado pernikahan ini khusus untukmu.
Leyla! Sapalah Murat!
THANK YOU, NEXT
#JUJURATAUTANTANGAN
Kau juga berlibur dengan gadismu itu?
- Kita bahas ini lagi? - Tidak!
- Aku hanya penasaran. - Jangan.
Ini gratis.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Senang kau kembali, Nn. Leyla. - Ya. Terima kasih.
Nn. Leyla, dengan siapa kau di sini?
Kupikir kita tak akan bahas itu.
Jika kita mulai membahas itu, aku juga banyak pertanyaan.
Hidupku tak penuh warna sepertimu saat itu.
Yah...
Apa istilahnya? "Buang mantan, cari yang baru."
"Cium dulu, temui nanti, dan bergembira!"
- Oh! - Itu istilahnya, 'kan?
Apa pun yang kulakukan, itu setelah kita putus, Ömer.
Kau sendiri...
- Hei. Apa mereka bertengkar? Lihat. - Kau bercanda.
Kau cium gadis itu saat kita bersama.
Lalu kalian pacaran satu setengah tahun. Delapan belas bulan!
Baik. Hentikan. Aku tak mau membahasnya.
Kita harus bicara, keluarkan unek-unek, dan melupakannya.
Tolonglah, Ömer. Jangan merusak suasana. Kumohon.
Mari bicara.
Ini bisa gawat. Mungkin kau harus lerai, Sayang?
Leyla!
- Aku ingin memotret kalian. - Itu dia! Ya.
- Tersenyumlah. Ya. Bagus. - Senyum.
Bagus. Tersenyumlah. Cium!
- Dapat! - Foto kami juga. Bersama-sama.
- Ayo, bersama-sama. Ayo. - Ayo.
- Kemari, Dokter. - Kurapikan rambutku.
Takarirnya nanti, "Saling rukun, jangan berperang."
Kau selamatkan kita dari bahaya besar, Sarp, Sayang.
- Kesukaanku! - Murat, jangan tambah lagi.
Aku minum untukmu, karena kau tak boleh minum.
- Aku marah. - Sayang...
Kau sudah minum, Sayang? Yang tadi belum habis?
Aku tak mengerti kalian.
Semua orang saling ikut campur. Kenapa?
- Begitulah kami, Sayang. - Jangan, Funda.
- Aku tak suka kebiasaan ini. - Astaga!
Panas sekali. Ayo kita berenang.
Senyumlah. Ayo. Kita berenang.
- Ayo. Cukup minumnya. - Ayo.
- Ayo kita berenang. - Tak ada yang mandiri.
- Semua harus bersama. - Ya, kita berenang bersama. Ayo.
- Apa yang kau lakukan? Tak mau. - Yang kalah bayar!
Ayolah!
Ayo, cepat!
Lompat!
- Lompat, Dokter! - Ayo!
- Jadi, siapa yang bayar? Kau! - Selamat.
Segarnya.
Kau mau aku menari perut untukmu malam ini?
- Silakan. - Ya!
- Kau mau? - Lakukanlah!
- Lakukan. - Ya.
Apa pun untuk suamiku.
- Lupakan, kita berenang malam ini? - Ya!
- Ya. - Tentu!
- Sepertinya kau enggan. - Baik. Aku punya ide agar tak kedinginan.
- Sungguh? - Apa permainannya?
Melempar bola lalu...
- Tequila pong! Ayo! - Jangan bilang tequila.
- Tidak. Kita minum saja. - Apa kubilang?
- Kubilang ingin mangsaku hidup, 'kan? - Esra!
Dengar. Baiklah! Jujur atau Tantangan saja. Selesai.
- Jangan permainan itu. - Apa maksudmu?
- Jangan main itu. - Kenapa?
Jujur!
Baik. Aku bisa!
- Mulailah. - Aku pertama?
Aku bisa. Baik. Aku dahulu. Tantangan. Ayo.
Apa kau pernah selingkuhi Leyla?
Tunggu. Kuambil dulu.
- Pertanyaan bodoh. - Kau bodoh.
Kau pantas mendapatkannya.
- Inilah Truth or Dare. - Kau bahagia sekarang? Menyenangkan?
Benar, 'kan?
Oh, Wez harus di sini.
- Luar biasa di sini. - Ayo.
Ayolah. Selamat datang.
Semua pria frustrasi datang. Kemarilah. Apa kabar?
- Aku merindukanmu. - Sama.
- Balim. Kemarilah. - Selamat datang.
Teman masa kecilku Ömer yang kami ceritakan. Balim temanku di SMA.
Aku tahu dia.
Sebentar. Kau sungguh tak tahu akan ada Balim di sana?
Tidak, bagaimana kutahu?
Kami tak saling kenal. Dia dokternya Buddy.
Dokter Buddy bukan dia, tak apa.
Terserah katamu, Ömer.
Dokter hewan kita pindah ke Bodrum selama pandemi.
Kutemukan dokter baru, ingat?
Baik, terserah.
Kau tak tahu dia teman Sinan?
Dengar, sumpah demi Buddy, aku tak tahu.
Jangan bawa-bawa Buddy.
Lalu?
- Serius? - Ya.
- Aku dokter hewan Buddy. - Kau bercanda.
- Apa kabar? - Baik. Selamat datang.
Halo. Kemarilah.
Baiklah. Tak apa.
Lewati saja. Langsung ke intinya.
Kenapa kalian tiba-tiba begitu dekat?
Dia juga putus dengan pacarnya.
Apa maksudnya "juga"? Kita belum putus, Ömer.
Boleh kulanjutkan?
Ya. Namun, kita belum putus.
Jangan sampai salah.
Omong-omong...
Setelah empat tahun, mereka putus.
Suatu pagi, aku terbangun dan ingin kabur dari tempat itu.
Dia cerita kenapa dia merasa tersakiti,
kenapa kepercayaan dirinya hilang.
Dia ceritakan hal-hal seperti itu, yang aku tahu betul.
Begitu dia cerita, aku menanggapi.
Kau tidak kabur, 'kan?
Aku tak bisa.
Kau baik-baik saja?
Kurasa tidak.
Aku tak baik-baik saja.
Aku lelah sekali.
Aku mengerti.
Astaga. Dia memang mencari mangsa, ya?
Kuhentikan jika kau begini.
Tidak, lanjutkan saja. Ini jelas jebakan.
Itu jebakan, kau mestinya tahu.
Dia menatapmu dari jauh.
Kau langsung sambar umpan dia.
Kau boleh tak baik-baik saja.
Kurasa itu bukan rayuan bercinta yang direncanakan.
Terima kasih.
Entahlah.
Aku merasa dihargai.
Aku suka menjadi pria idaman.
Kurasa itu juga yang dia rasakan.
Kami pun terbuai.
Tepat malam itu, ya?
Kau selingkuh malam itu. Benar, Ömer?
"Terbuai."
Jangan bohongi diri kita sendiri.
Hubungan kita sudah berakhir.
Demi Tuhan, jangan pakai alasan itu, Ömer.
Kurasa titik balik kita adalah...
saat aku melamarmu.
Bagus. Lanjutkan. Aku suka.
Kita dengar cerita karanganmu untuk membenarkan diri sendiri.
Ini bukan karangan. Aku mengalaminya, aku tahu.
Hubungan kita baik saat kita bekerja, 'kan?
Lalu aku menganggur selama pandemi.
Tinggal bersamamu kesalahan terbesarku.
- Mestinya aku tak menurutimu. - Itu salahku juga?
Bukan. Kau tak bersalah.
Hanya saja...
Kurasa kita belum siap untuk itu.
Aku mengerti.
Kau tiba-tiba merasa kewalahan, 'kan?
Belakangan, aku juga memikirkan ini.
Semua berubah begitu cepat saat kita mulai tinggal bersama.
Kita masih bisa tinggal bersama, tetapi...
Saat waktunya tepat.
Aku bisa saja melamarmu.
Namun, aku harus bereskan masalahku dahulu.
Dua tahun kau menghidupi kami.
Orang tuaku mengirimiku uang.
Dalam situasi itu, kita tak bisa bangkit.
Merasa malu, lalu dipermalukan...
Libidoku hilang.
Kini aku mengerti kenapa kau jadi pemarah saat itu.
Aku tak bahagia.
Aku tahu, Sayang.
Maksudku, dulu.
Itu sebabnya aku merasa tak pantas.
Saat aku menarik diri, kau jadi pendiam.
Makin kau diam, makin aku menjauh.
Lalu kau juga menjaga jarak. Itu berlanjut...
Ya, dan kau masuk ke perangkap itu. Begitu?
Cukup. Aku tak mau cerita lagi.
Tunggu! Satu pertanyaan terakhir.
Kenapa kalian putus?
Karena cintaku padamu tak pernah luntur.
Jangan sembunyikan apa pun lagi.
Sampai kapan pun.
Sampai aku muak denganmu.
Astaga! Apa yang kau lakukan?
- Ömer, airnya dingin. Kembalilah! - Ayo, kau akan kuhangatkan.
Karena itu telingaku berdenging. Entah siapa yang membicarakanku.
Kami juga membicarakanmu, tentu saja.
Tak ada yang terlewat.
Jadi, kau buka lembaran baru lagi. Bagus.
Kadang bagus memulai baru.
Kau kenapa?
Tidak. Aku baik-baik saja.
Mungkin karena banyak makan.
Namun, masakanmu luar biasa, Kokiku.
Selamat makan.
Kau memang ahlinya.
Sekarang...
secara resmi dan sepenuhnya...
kupercayakan kepadamu.
- Selamat. - Terima kasih.
Baik, setelah terikat kerahasiaan antara pengacara dan klien...
Ya?
Bagaimana dengan Defne?
Semuanya bagus.
Kokiku, senyum apa itu?
Matamu berbinar mendengar nama Defne.
Kokiku, kau jatuh cinta? Ceritakan padaku.
Anggap saja Defne menambal keretakan hatiku karenamu.
Kau tak pernah seperti ini.
Kau bahagia.
Aku bahagia. Sungguh. Sangat bahagia.
Syukurlah.
Cem Murathan bilang apa?
Itu bukan urusanku.
PANGGILAN VIDEO DARI ÖMER
Maaf, kujawab dulu.
- Ömer? - Kau suka?
Rumah siapa itu?
Sinan menemukannya. Akan kusewa.
Kau suka?
Jadi begitu?
Empat kamar tidur, dua kamar mandi,
dan satu kamar mandi tamu.
Ada perapian, taman, dan teras.
Juga dekat dengan kota.
- Luar biasa. Lekas pindah! - Rumahnya indah.
Tunggu sebentar.
Dia tak bertanya apa aku mau tinggal bersamanya.
Dia tanya apa aku suka.
Bukan berarti dia akan menjajal semua toiletnya.
- Sarp! - Dia pasti akan mengajakmu.
Si Dokter membuatnya berdiri lagi. Taruhan?
Aku tak mau bilang apa-apa, tetapi dia memang aneh.
- Sungguh. - Aku kesulitan saat liburan.
- Kita berhasil mentolerir dia. - Baik, lupakan kebosanan itu.
- Rumah sudah. Cincinnya? - Secepat itu?
Apa maksudmu "secepat itu"? Sudah tujuh setengah tahun.
Jika waktu putus dihitung juga, berarti sembilan tahun. Sembilan!
Sembilan tahun.
Dia akan melamar saat ulang tahunnya.
Hei! Kau tahu sesuatu.
- Pasti. - Tidak.
Jika jadi dia, akan kupasangkan cincinnya
pada ulang tahunnya yang ke-30.
- Kau ini... - Kau...
- Gombal. - Aku apa?
- Sayang? - Kau kenapa?
Aku muak. Sungguh.
Aku tak tahan dengannya. Dia membuatku gila. Dasar aneh.
Siapa? Kerem?
Tutup mulutmu.
Tadinya dia akan perkenalkan aku ke orang tuanya besok malam.
- Namun, dia tugas jaga lagi. - Lakukan di akhir pekan.
Keluarganya baru akan ke İzmir pada akhir pekan.
Dia hanya membuat alasan.
Dia ambil semua sif di rumah sakit
agar kami tak bisa berkenalan. Dia kabur.
Leyla. Sampai di mana buku Tuba Tepelioğlu?
Rilis ditunda atas perintah pengadilan.
Akan diperiksa seorang ahli.
Dia gelar pameran dari bukunya.
- Apa? - Apa?
Judulnya sama. Hidup Bersama Orang Narsis.
- Apa? - Astaga.
Coba kulihat.
Astaga.
Apa Cem Murathan tahu?
Teleponnya mati. Di hotel tak ada. Coba kau...
- Segera. - Terima kasih.
- Aku akan menelepon Beliz. - Bagus.
Beliz sudah di TKP.
Aku pergi. Sampai nanti.
Haruskah kutulis buku juga? Sedikit Rusak karena Dokter.
Diam, Murat.
- Aku sedang telepon. - Berengsek.
- Bicaralah di dalam. - Di dalam saja. Astaga.
HIDUP DENGAN ORANG NARSIS TUBA TEPELİOĞLU - NİL KATMANOĞLU
#MENAKSIRBERAT
#HILANGTANPAKABAR
#MANIPULASI
Hei.
Apa kau kebetulan punya pil serangan jantung?
Aku hampir mati.
Kusarankan untuk tenang, tetapi sepertinya tak mungkin.
Pertanyaannya selalu Cem Murathan.
Apa yang dilakukan Cem Murathan hingga menyakiti wanita-wanita ini?
Aku tak mengerti.
Seorang narsistik memulai hubungan dengan cinta intens,
membuat pasangannya tersanjung.
Mereka umbar kemewahan, memikat dengan gairah hingga memilikimu.
Lalu mereka hentikan semua itu
dan membuat pasangannya ragu.
Mereka sangat manipulatif.
Mereka permainkan pikiran kita, membuat kita rapuh.
Mereka tak sepenuhnya membuka diri,
hanya tunjukkan yang ingin ditunjukkan.
Ketakutan terbesar mereka adalah dipermalukan, dihinakan.
Mereka takut kekurangan mereka terekspos.
Dengan pameran ini, kami ingin sampaikan,
"Kalian terekspos! Kami tahu!"
Tuba, Sayang. Selamat.
Tidak mungkin!
Hai.
Kau mementahkannya, seakan-akan, "Aku bukan orang itu."
Tindakanmu sangat berdampak.
Membuat hidup kita tenang.
Dari Can Taylan. Kita lupa meneleponnya.
Halo, Tn. Can?
Kau sangat pendiam.
Ya, aku masih syok.
Aku tak menyangka kau akan bertindak begitu.
Kau masih belum kenal aku.
Benar. Aku akan baca bukunya begitu terbit.
Omong-omong, itu langkah bagus.
Itu langsung mengurangi dampak bukunya.
Apa ada tulisan, "Aku bukan orang narsis"? Tidak.
Sebenarnya, cara masukmu itu tindakan narsistik sejati.
Kau masih menghukumku?
Itu dia!
Reaksi narsistik lagi.
Menghindari rasa bersalah, membuat orang lain merasa bersalah.
Tipikal narsistik.
Tidak, aku hanya mengevaluasi situasi hari ini.
Itu saja.
Maaf.
ÖMER: AKU DI DEPAN.
Tn. Can kirim salam.
- Kita ke kantor bersama? - Ya, baiklah.
Aku tak ikut ke kantor. Ömer datang menjemputku.
- Kami akan melihat rumah. - Bagus.
- Dah. - Dah.
Sampai jumpa.
- Mereka kembali bersama. - Begitu?
Sudah dua bulan. Ömer ikut kami berlibur.
Astaga! Hari yang melelahkan.
Mondar-mandir ke sana ke mari.
Ditambah insiden ini.
Aku sangat lelah.
Kau tahu? Cem Murathan benar-benar sosiopat.
- Kenapa? - Dia masuk tanpa berkedip.
Dia seperti Teflon.
Masalah hanya berlalu, tak ada yang menempel.
Kau tahu Funda putus dengan Kerem?
- Apa? - Aku belum sempat meneleponnya.
Dia tahu kita bersama?
- Siapa? - Tn. Cem. Cem Murathan.
Kubilang kau menjemputku. Aku tak tahu. Kenapa?
Sudah sampai.
Hei. Jujur atau tantangan?
Kenapa lagi?
Ada apa antara kau dan Cem?
Tak ada apa-apa, Ömer. Hentikan.
Kenapa lagi? Kupikir masalah ini sudah selesai.
Baik. Tak akan lagi.
Aku mau sedikit perabot.
Kutaruh sofa di sana
dengan TV di depannya.
Yang jelas, perabotan lama tak akan kubawa.
- Sampai jumpa. - Hati-hati di jalan, ya?
Ayo, Nak.
Ayo. Jalan.
Apa mungkin dia menunggu sesuatu sebelum mengajakmu pindah.
Mungkin dia masih banyak pikiran. Dia pernah bilang begitu.
Dia baik-baik saja.
Dia juga royal. Makan di luar, memberi hadiah...
- Juga seks yang bergairah. - Pamali.
Masa bodoh.
Lagi pula, kau bukan tipe yang ingin buru-buru menikah.
Maaf.
- Halo? - Ya, mereka berbaikan.
Ya, Sayang. Kami di sini, kemarilah.
Baiklah. Sampai jumpa di rumah, Sayang.
Sampai di mana tadi?
Kau tak ingin buru-buru menikah, 'kan?
Apa pria ini memilih semua wanita ini dari katalog?
- Siapa? - Lihatlah.
- Hai. Selamat malam. - Hai.
Bersenang-senanglah.
- Selamat malam. - Selamat malam.
- Halo juga. - Terima kasih.
- Selamat malam. - Malam.
- Selamat malam. - Selamat malam.
Kau kenapa, Leyla?
Sumpah, tak ada apa-apa. Sungguh.
Aku tak memikirkan Cem Murathan.
- Apa kau merasa bersalah? - Kenapa aku merasa bersalah?
Ya, aku memang tak cerita ke Ömer, tetapi...
Tunggu dulu. Aku juga belum cerita ke kalian.
Apa yang terjadi?
Mari selesaikan masalah ini.
Tak ada masalah.
Semua baik-baik saja.
Apa kau kembali bersama Ömer karena aku?
Tentu saja tidak.
Aku mencintainya.
Jujur...
atau tantangan?
Aku tak mau bermain ini denganmu.
Aku mencintai Ömer.
Lalu kenapa kau terus memikirkanku, Leyla?
Buddy! Turun!
Ayo turun. Pindah ke sana.
Astaga!
Sayang, ada sidang. Kutelepon nanti?
Singkat saja. Makan malam di luar?
- Dengan siapa? - Kau dan aku.
- Kupesan tempat di Faberj. - Kau reservasi di Faberj?
Ya, ada yang ingin kubicarakan.
Baik, bagus. Mari bicara. Aku bisa.
Apa yang kita rayakan?
Belum. Sebentar lagi.
Silakan dituang.
Terima kasih.
Cukup.
Karena aku diterima di Queen N Crown,
Tn. Ahmet menawariku kemitraan.
- Ömer! Ini serius? - Ya.
Kau diterima di Queen N Crown?
Sebagai mitra pula!
Itu berita yang sangat bagus.
Sayangku!
Selamat.
Kau hebat.
Ini berita yang sangat bagus!
Kini aku bisa tenang.
Luar biasa. Menjadi mitra di perusahaan.
Untukku.
Untukmu.
Selamat, Kawan. Sungguh.
- Itu keren. - Selamat.
Aku bersyukur.
Teman-teman,
aku mau ajukan penawaran untuk membeli rumah ini.
Bagaimana?
Rumah mana pun bisa kau beli. Yang ini atau yang lain.
Kabari aku jika kau pindah.
Ini dekat RS. Cocok untukku.
Kau tahu? Kau pun bisa pindah ke luar kota.
Harganya meroket.
Banyak rumah bagus dekat hutan.
Ya. Kenapa tidak?
Bisa kupertimbangkan untuk pindah.
Untuk sementara, aku akan bekerja dari rumah.
Tak repot bolak-balik.
Rumah dengan taman lebih besar akan sempurna.
Aku bisa bangun paviliun untukku bekerja.
Buddy senang di sini. Dia pasti senang di sana.
Entahlah.
Terima kasih sudah datang.
- Luar biasa. - Sungguh.
Dia pindah ke rumahnya sendiri.
Dia menghasilkan uang.
Ingat yang dia katakan?
Semua ada waktunya. Tunggu saja.
Tak apa, aku tak bilang apa-apa.
Aku tak terobsesi menikah dan lainnya, tetapi...
Belakangan ini dia jauh berubah.
Ada perubahan positif juga.
Harus kuakui.
Dia lebih perhatian dan berhati-hati dalam hubungan kami.
Dia tak bisa berkata buruk.
- Selamat pagi, Semua. - Pagi.
Pagi, Tn. Tak Berguna.
Ada apa ini?
"Rumah mana pun bisa kau beli.
Kau layak, Kawan."
Kau ini teman siapa?
Dengar. Jaga bicaramu, atau tak akan ada hadiah akhir pekan ini.
Ulang tahunku hari Senin. Tanggal 12 Juni.
Astaga!
- Aku akan dapat kejutan di akhir pekan? - Bagus!
- Bagus. - Bagus.
Dia juga akan tahu begitu melihat kalian ada di pondok.
Semua orang akan datang? Kejutan? Kesukaanku!
Ömer mengaturnya. Kejutan itu niatnya.
Baik, ini masih kejutan. Aku tak tahu apa-apa. Ini menarik.
- Tahu-tahu... Apa? Cincin! - Diam!
- Baik, kita mulai rapatnya. - Baik.
- Baiklah. - Oke.
- Kuenya datang! - Ya!
Ini kuenya.
- Ya. - Aku datang.
Kita akan tiup lilinnya.
"Tiga puluh, serius?"
30 SERIUS?
- Ini rambutku? - Ya.
Tunggu dulu. Aku punya kejutan kecil.
Satu kejutan kecil terakhir. Bisa ambilkan?
- Sayang. - Sayang?
Sudah kuusahakan.
Tadinya mau buatkan hologram. Aku tak bisa. Namun...
Ini.
Lihat?
- Selamat ulang tahun, Leyloş. - Selamat, Sayang.
Ibu, Ayah. Kejutan yang menyenangkan!
- Sapalah. - Hai, apa kabar?
Hai.
Kutaruh di sini saja.
Oke. Mumpung ada kalian, akan kutiup lilinnya.
- Ayo. - Tiuplah.
- Buat permohonan! - Baik, akan kulakukan.
Semoga!
Semuanya hebat. Terima...
kasih.
Sepertinya ada yang kurang.
Ya, 'kan?
Leyla?
Ya?
Leyla.
- Sayangku. - Apa?
- Leyla. - Apa?
Ömer, apa yang kau lakukan?
Sarapan sudah siap. Ayo, bangun.
- Begini caramu membangunkan orang? - Ya.
Ayo, bangunlah.
Cukup tidurnya.
Bangun sekarang.
- Ömer! - Ayo. Bangun.
Aku tak suka kau melakukan itu!
Ayo. Sarapan sudah siap.
Mau minum kopi juga?
Tidak, teh saja.
Kau sedang kesal?
Tidak.
Baguslah!
Hari ini ulang tahunmu, Sayang.
Hei. Selamat ulang tahun, Sayangku Yang Cantik.
Ömer, hentikan.
Kita merayakannya di akhir pekan. Cukup.
Kita lupakan ulang tahun ini.
Ada apa?
Apa aku berbuat salah?
Kenapa kau marah?
Kenapa kau pikir begitu? Aku tak marah.
Aku hanya merasa gelisah. Entah kenapa.
Baiklah.
Mungkin aku harus berkemas dan pulang?
Benar, Nak?
Ya, pulanglah.
Kau kenapa?
Sejak pesta... Ada yang aneh. Kau diam saja.
Baik. Ini mau dibawa ke mana, Ömer?
Maksudku, apa rencana kita?
Hidup seperti tentara?
Selalu berpindah-pindah.
Seperti pengelana dengan ranselnya?
Bahkan Buddy tak mau di sini lagi.
Dia lebih suka di tempatmu.
Ikutlah aku.
- Baiklah. - Begitu?
Sayang, maksudmu hidup bersama?
Sungguh?
Aku sudah...
Kukira kau tak mau begitu.
Ya, dahulu sulit hidup bersama di sini.
Namun, di rumah barumu nyaman.
Kupikir kau akan bertanya sebelum pindah.
Apa lagi yang kau pikirkan?
Baik, ayo. Makan telurmu sebelum dingin.
Tak mudah membuatnya.
Ömer!
- Jujur atau tantangan? - Tantangan.
- Tantangan. - Ya.
Tinggallah bersamaku.
Jadilah ibu dari anak-anakku.
Menualah denganku.
Ya. Aku mau.
Ömer. Mau bermain?
Permainan apa maksudmu?
Tadinya kusiapkan untuk pesta pernikahan.
Mumpung semua orang di sini, dan kita memakai kostum...
Jujur atau tantangan?
Astaga. Berani-beraninya kau datang ke sini!
Ömer.
Jujur atau tantangan?
Apa maksudmu dengan jujur?
Kau?
Ayolah, Ömer.
Tantangan. Ayo.
Kau mau mengaku?
Terjemahan subtitle oleh: Ardi Prananta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.