Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Bagaimana kabarmu?
Kabarku?
Aku bingung.
Kubilang baik saja saat ditanya.
PERJAMUAN TERAKHIR LEYLA
Karena ternyata sulit bagiku...
menemukan jawaban pertanyaan ini.
CALON PENGANTIN
Aku juga kewalahan mencari kebenaran.
Jika kebenaran benar-benar ada.
Entahlah.
Tak bisa kutemukan.
Aku hanya ingin baik saja.
Aku ingin bebas dari kegalauan ini.
Itu sebabnya kuhindari pertanyaan.
Karena aku takut dengan jawabanku.
"Bagaimana kabarmu?"
Aku kabur.
Itu jawabanku.
Leyla!
THANK YOU, NEXT
#KROSCEK
Aku selalu gugup.
Seolah-olah...
kekalahan selalu menungguku.
Kekalahan?
Ya.
Ada seorang pria.
Maksudku...
Bukan seperti itu, tetapi...
Maksudku, kami tak ada apa-apa.
Halo?
Karena aku takut.
- Dia tak ikut? - Dia datang.
- Kau di mana? - Aku di sini sekarang.
Aku sudah kesal padanya sejak awal.
Bagiku, dia berbahaya.
Tanda bahaya mengikutinya.
Dia bilang, "Aku akan membuatmu menderita dari jauh."
Katanya, "Aku narsistik."
"Egoku setinggi langit."
"Aku licik, sombong, cemburu."
Tanda bahaya itu tertulis, "Mauku selalu terpenuhi."
Tapi?
Tak ada tapi-tapian.
Itu adalah daya tarik magnet.
Bukan sesuatu yang sulit.
Padahal aku tak ingin mengenalnya.
Pria seperti ini tak menyenangkan jika sudah kenal dekat.
Setelah tahu kelemahan dan kekurangan orang,
apa kita masih bernafsu menginginkannya?
Kurasa tidak.
Sebuah hubungan harus konsisten.
Itu yang paling penting bagiku.
Kita harus punya kekhawatiran dan mimpi yang sama
dengan pasangan kita.
Aku tak punya kesamaan dengannya.
Sejak awal, aku sudah tahu siapa dia.
Dia bermasalah.
Dia sudah menikah dan bercerai tiga kali!
Para mantannya masih ada dalam hidupnya.
Istri pertama, kedua, dan ketiganya
selalu di dekatnya.
Pria itu kolektor ulung.
Tidak,
aku tak mau menjadi salah satu wanitanya.
Tak mungkin. Itu mustahil.
Aku pasti sudah gila jika mau menjadi korban keempatnya.
Itu sebabnya aku menjaga jarak,
tak menjalin hubungan dengannya.
Orang narsistik seperti dia
bisa dengan mudah meyakinkan mangsanya.
Kita langsung terjerat.
Dia akan memikat kita sedemikian rupa
sehingga tanpa sadar,
kita sudah duduk di depan penghulu.
Lalu...
Pernikahan.
Kekalahan.
Aku mengamati hubungan di sekitarku.
Awalnya mereka bersemangat.
Menebar janji, mengucap ikrar tergesa-gesa.
Makin ragu mereka, makin lantang suara mereka.
"Aku bersedia, hingga akhir hayat.
Hingga maut memisahkan."
Lalu apa?
Sungguh, aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi
saat kita mulai kesal satu sama lain?
Kenapa kita mulai saling menipu?
Kau tahu kisah cinta yang tertanam dalam DNA kita?
Itu bohong.
Karena tak satu pun kisah itu yang mendekati kenyataan.
Kau tak tahu lelahnya...
Kenapa semua orang bisa jatuh
ke dalam perangkap yang sama?
Entahlah.
Kita menikah agar makin dekat.
Silakan, pergilah!
Kita malah mulai menjauh begitu menikah.
Semuanya palsu. Tak ada yang tulus.
Sepertinya mereka tutupi semua keriput dengan operasi plastik.
Kita dikelilingi orang-orang palsu yang sebenarnya keriput,
tetapi ditutupi dengan Botox.
Astaga! Mestinya kau pilih kostum yang lebih ceria.
TAK ADA PILIHAN LAIN
Kulihat semua orang di sini.
Jika digabung, mereka tak sebanding dengan satu Ömer.
Aku makin mengerti ini setiap hari.
Tidak, Sayang. Serius. Jangan jadikan mantanmu yang berikutnya.
Seperti kata pemikir tenar, "Terima kasih, berikutnya."
Funda!
Sayangku!
Kita mengejar ilusi tanpa lelah
untuk menghindari berkata, "Aku salah."
Kalau hitam? Tidak.
Satin kuning gading ini lebih seksi, ya?
Coba sandingkan yang warna putih gading dan hitam.
Kita buang jati diri kita untuk menghindari kesendirian,
menyebutnya hubungan jangka panjang.
Padahal, itu kematian jangka panjang.
Sayang, kematian apa maksudmu?
Kalian baru kenal dua minggu.
Dia datang ke pesta? Kita akan bertemu dia?
Tidak. Dia tak kuundang.
Kami belum lama kenal. Aku tak mau ajak dia.
Tak kubelikan kado juga.
Kenapa tidak?
Belikan saja kado kecil. Buku, misalnya.
Untuk jaga-jaga...
Aku takut menjalani yang biasa-biasa saja.
Ya.
Aku takut saat bercermin nanti...
Terima kasih.
...dan melihat cahaya di mataku memudar.
Aku takut pilihan itu
akan menghancurkanku suatu hari nanti.
Aku takut menyesal.
Sepuluh! Sembilan! Delapan!
Tujuh! Enam! Lima...
"Aku tak mau berjanji dan punya tanggung jawab."
"Aku mau tiduri semua pria yang kutemui, lalu pergi."
Seperti itulah hubungan orang.
Kau tahu, ada orang yang pergi
tanpa meninggalkan pesan.
Itu yang kudengar dari teman-temanku.
Tentu saja, wanita tak mengejar mereka.
Lalu, rasa kesepian...
jadi satu-satunya pilihan tepat untukku.
Aku rindu masa-masa pandemi.
Pandemi atau Ömer?
Tidak, kurasa bukan itu.
Semua orang berubah selama pandemi.
Seolah-olah dunia akan kiamat,
semua orang saling melindungi.
Ömer tinggal bersamamu selama pandemi?
Benar?
Boleh juga.
Bravo!
Dia terkejut.
Baiklah. Apa makan malamnya?
Sikap seseorang berubah mengikuti situasinya.
Selama pandemi,
kami takut mimpi kami akan lenyap
dan tak akan pernah kembali.
RABU 20 MEI 2020
Semuanya begitu berbeda pada awalnya.
Seluruh dunia fokus pada satu masalah,
semua orang punya ketakutan yang sama,
berperang melawan musuh bersama.
Itu membesarkan hati.
- Leyla. - Sayangku.
- Aku sangat mencintaimu. - Oh!
Kau mimpi apa?
Bukan mimpi. Terasa sangat nyata.
Apa aku mati?
Kau bergaun pengantin.
Lalu?
Kau memakai gaun pengantin nenekmu.
Bagaimana rambutku? Terurai?
Kau sangat cantik!
Tapi kau bersama Sarp.
Tidak mungkin!
Aku saksi pernikahan kalian.
Tak bisa bicara. Saat kubuka mulut, bibirku hilang.
Sambil menatapku, kau berteriak, "Ya, selamanya!"
Tidak, Ömer.
Aku ingin menikah denganmu, bukan dengan orang lain.
- Sungguh? - Ya!
Lalu?
Dia menciummu.
Mengerikan. Aku menangis.
Sangat menjengkelkan.
Bajingan itu.
Oh, Ömer!
Malangnya dirimu! Jangan menangis, Sayangku.
Aku lebih memilih Sarp yang konyol itu?
Aku pasti sudah gila.
Mana mungkin aku pergi?
Aduh.
- Begini saja. - Bagaimana?
Kita menikah.
Bagaimana?
- Agar Sarp tak merebutku? - Aku serius. Kita menikah saja.
Baiklah.
Sungguh?
Hore! Aduh!
Kita sudah bertunangan?
- Aku harus beri tahu orang tuaku. - Lakukan.
Pandemi berakhir, begitu juga mimpinya.
Kami membuat keputusan yang tidak biasa,
tanpa pertimbangan.
Maksudku, awalnya aku masih ragu...
untuk hidup bersama.
Tiba-tiba dia pindah, begitu saja.
Namun, setiap orang punya rutinitas.
Kita bisa memaklumi sampai titik tertentu.
Setelah itu, menyebalkan.
Jika hanya ada satu kamar mandi di apartemen,
tak banyak romansa yang tersisa.
Leyla, menjalin hubungan berarti...
menerima pasangan kita apa adanya.
Hanya kalian yang bisa begitu.
Ibu dan Ayah.
Sayangnya,
kalian berdua yang membuat standarku terlalu tinggi.
Ayah masih sangat mencintai Ibu, 'kan?
Tak cukup kata untuk gambarkan hubungan kami.
Ayah! Kalian memang yang terbaik!
- Kau tahu? - Apa?
Ayah senang kau akhirnya membicarakan Ömer.
Aku agak terlalu cerewet belakangan ini.
Banyak bicara, nihil hubungan.
Pembersihan diri.
Ayo temui mereka.
Kami di sini.
Buddy, Sayang! Cintaku!
Kalian lagi-lagi bicara di belakangku, ya?
Kami tak membicarakan Ibu.
- Sungguh? - Ya.
Ayo makan. Makanan sudah siap.
Baiklah. Kami datang.
Kudengar akan ada tamu istimewa.
Benarkah? Siapa?
Ini mimpi?
Bukan. Pamanmu mengundangku.
Baik, Sayang.
- Halo, Tn. Cem. - Halo.
Kubawakan.
- Selamat datang. - Hai. Tidak telat, 'kan?
Tidak, kau selalu tepat waktu.
Ini si pembunuh berantai profesional?
Sama-sama. Senang kau datang.
- Selamat. - Terima kasih.
Reyhan, Mahir, perkenalkan Cem Murathan.
Dia tetangga dan klien kami.
- Kakakku, Reyhan Taylan. - Senang bertemu.
- Selamat datang. - Ya.
- Iparku, Mahir Taylan. - Hai.
Senang bertemu.
- Kita pernah bertemu. - Sungguh?
Maksudku, aku berusaha menemuimu.
Kenapa aku tak tahu?
Begini...
- Ya. - Silakan.
Can, ini anggur dari pelelangan.
Semuanya tahun '72. Kau seumuran.
Hadiah ini luar biasa. Terima kasih. Tak perlu begini.
Sama-sama. Selamat ulang tahun ke-50.
Bersulang.
Bersulang.
- Astaga! - Nikmatnya!
- Anggur ini luar biasa. - Cicipilah seteguk, Mahir.
Seteguk pun bisa membuat perutku sakit.
Lebih baik tak minum.
Bagianku untuk Reyhan saja.
Dengan senang hati.
Bisa lanjutkan yang tadi, Cem?
Aku penasaran...
cerita antara kau dan ayahku,
Ya. Kau tadi bilang kita pernah bertemu.
Aku kuliah arsitektur di Milan.
Kau pernah berbicara di sana.
Kau sangat senang dengan proyek barumu.
Tahun 2009.
Ya, tahun 2009.
Kau membahas psikologi bangunan.
Kau membahas pekerjaan barumu dengan cinta,
seakan-akan itu wanita.
Ya, aku ingat.
Aku tak ingat.
Sayang, kau mulai tinggal dengan pamanmu tahun itu.
Aku jadi ingat. Itu musim panas pertama kita.
Aku berlari mengejarmu karena panik.
Aku tak tahu cara menjaga anak perempuan yang sangat aktif.
Aku seperti pengasuhmu.
Proyek yang mana, Ayah?
Proyek itu gagal.
Terlalu banyak kesalahan. Terpaksa dibatalkan.
Begitu. Sayang sekali.
Aku turut prihatin.
Proyek itu agak sulit.
Di atas kertas lebih menarik.
Lalu Reyhan ditugaskan ke Tokyo, dan kami pindah ke sana.
Namun, kubiarkan kau memutuskan, seperti biasa, Sayangku.
Kau tak harus ikut.
Namun, aku selalu merasa nyaman di sampingmu, Sayang.
Pasti ada sebuah cerita di sini.
Benar, sebuah cerita.
Kita semua pasti punya cerita.
Benar, Sayang?
- Untuk cerita. - Bersulang.
- Bersulang. - Bersulang.
Selamat ulang tahun, Paman!
Selamat ulang tahun!
Kemarilah. Ayo...
Benar usianya 50? Jelaskan padaku.
Jangan ingatkan lagi. Biar kutiup lilinnya.
Terima kasih sudah datang.
- Untukmu. - Bersulang.
Kau tak banyak bicara.
Mulutku penuh.
Bisa ikut? Aku mau jalan-jalan.
Jika ini tentang buku Nn. Tuba,
itu akan menjadi proyek lain yang gagal.
Pemberitahuan resminya akan dikirim ke penerbit.
Bukan soal itu, tetapi aku senang mendengarnya.
Rahasiamu tak akan terungkap. Kau bisa tenang.
Meski rahasia yang lain terungkap malam ini.
Kenapa tak bilang kau kenal ayahku?
Benar, kita jarang punya kesempatan untuk bicara.
Kau benar.
Kau marah padaku.
Aku mengerti.
Aku tak marah padamu. Sungguh.
Marah adalah ungkapan emosi.
Aku tak punya perasaan terhadapmu.
Ada atau tak ada kau sama saja.
Itu sebabnya, itu malah bagus.
Aku senang kita tak membuang waktu.
Aku bahkan berterima kasih.
Ya, memang ada ketertarikan antara kita. Kita penasaran.
Kini kita tak akan berandai-andai.
Sudah berakhir.
Ini juga bukan kenangan yang tak terlupakan.
Hanya kenangan sesaat.
Jadi,
kau bisa tenang.
Kenangan itu...
tak meninggalkan bekas bagiku.
Aku tak terlalu suka membicarakannya, kau tahu?
Aku mau periksa orang tuaku.
ÖMER CENKER INILAH ALBUM KELUARGAKU
- Jangan memanipulasiku. - Tidak.
Itu pekerjaanmu, ingat? Kau politisi.
Kau senang berperan sebagai pahlawan bagi Leyla
hingga tak menyadari akibatnya.
Aku diam karena itu maumu.
Aku tak keberatan ceritakan semua.
Kau hanya ceritakan betapa feminisnya dirimu.
Ceritakan kau pakai nama belakangku karena utang ayahmu.
Kau pikir aku tak berani?
Katakan kau tak minum karena sedang rehabilitasi.
Kenapa kau tutupi?
Ceritakan pelacur selingkuhanmu itu.
Dia terus banggakan standarnya.
Tunjukkan seberapa rendah standar itu.
Siapa kalian?
Kini aku tahu semuanya.
Selamat datang di dunia nyata, Sayang.
Lantas, ada apa di tahun 2009 itu?
Ayahku selingkuh dengan wanita dalam proyek itu.
- Benarkah? - Dia menyesal dan memberi tahu ibuku.
Itu kesalahan besar.
Lalu, ibuku ke Tokyo. Melarikan diri, tepatnya.
- Tentu saja. Dia benar. - Ya.
Kalau aku, pasti kupotong penisnya sebelum pergi.
Sampai habis.
Baiklah.
Terima kasih.
Apa yang ayahmu lakukan?
Dia bisa apa? Dia tinggalkan proyek itu dan menyusul ibuku.
Lalu mereka mengirimmu ke pamanmu agar kau tak tahu. Begitu?
Benar.
Maksudku...
Kurasa lukanya masih segar.
Ayah masih merasa sangat bersalah. Ibu masih marah.
Kesalahan kecil bisa memicu prahara.
Namun, mereka sudah lama bersama.
Mereka bisa saja berpisah kalau mau, 'kan?
Benar.
Kurasa mereka tak bercerai karena aku.
Tak ada alasan lain.
- Kurasa tidak. - Setuju.
Kurasa Ayah...
mengalah agar aku masih menghormatinya.
Kalian tahu ibuku benci kegagalan.
Dia terlalu terhormat untuk bercerai.
- Tepat waktu. - Itu ibumu?
"Leyla, Sayang, kami akan pulang Rabu ini."
"Kami ingin bertemu kau sebelumnya."
"Kabari kami jika kau bisa."
"Kami menyayangimu."
Kami menyayangimu. Kami akan pergi.
Selalu kami...
Begitulah, mereka masih satu tim.
Mereka masih saja arogan.
Astaga, hentikan omelanmu.
Orang mati bisa kentut jika kau terus mengomel.
Astaga!
Jangan keterlaluan.
Terserah mereka mau apa. Ini hidup mereka.
- Sarp, ibumu menelepon. - Apa?
- Sekarang giliran ibuku. - Kau mau salad?
Maaf.
Halo, Ibu?
Terima kasih.
Apa?
- Rumah sakit mana? - Rumah sakit apa?
Baik, aku ke sana.
- Ada apa? - Sarp?
Ayahku serangan jantung. Dia masuk ICU.
- Apa? - Benarkah?
- Kumatikan semuanya? - Entahlah. Tunggu.
- Hidup memang permainan. - Aku pergi dulu.
Mengira hidup kita banyak, lalu sadar tak punya kehidupan.
- Saat hidup akan berakhir... - Mana kunciku?
- Dah, Buddy! - Ada kehidupan lain untuk kita.
Saat kita merasa muak,
hidup mengingatkan kita pada akhir yang dikira tak akan pernah datang.
Perjuangan tanpa akhir itu tampak kekanak-kanakan.
Kita merasa malu dengan masalah yang tampak besar bagimu.
Saat jantung kehabisan oksigen,
katanya terasa sakit yang menyengat.
Rupanya, rasa sakit itu adalah pertanda serangan jantung.
Ternyata, rasa sakit itu sangat penting bagi kelangsungan hidup kita.
Angina pectoris.
Di kedokteran, rasa sakit itu disebut angina pectoris.
- Kau tahu itu? - Tentu saja tidak.
Memalukan.
Bukan arteriosklerosis Nikotin, maupun penjara
Itu sebabnya, Dokter Itu sebabnya kualami angina pectoris
Nâzım Hikmet.
Ini cara Ayah merayu Ibu?
Dengan syair dan puisi.
Kami bertemu di bangku ini setiap Rabu pukul 14,00 tepat.
Mahir berangkat dari kampusnya naik bus pukul 13,15.
Kuliah ibu selesai pukul 13,30.
Dia datang membawa roti lapis dari Hisar Kiosk.
Kami piknik.
- Sedikit cabai. - Banyak acar.
- Roti sosis. - Roti sosis.
- Selalu sama. - Kami mengobrol berjam-jam.
Kami membaca puisi dan buku.
Kami menonton film, terkadang berdebat.
Namun, kami banyak tertawa.
Begitulah aku mengingat kalian.
- Aku selalu... - Dengar. Tunggu.
Ayah tahu maksudmu.
Jangan bahas "standar" lagi, ya? Itu tak ada dalam hubungan.
Menjalin hubungan butuh saling pengertian.
Butuh empati.
Butuh kesabaran.
Butuh saling memaafkan.
Butuh kesabaran dan saling memaafkan.
Leyloş, seiring waktu, kau mungkin merasa jenuh pada pasanganmu.
Itu bisa terjadi.
Kau mungkin teralihkan.
Kau mungkin merasa tersesat dalam hubungan.
Bahkan sedikit diabaikan.
Tak mudah mencintai seseorang.
Lebih sulit mencintai seseorang dengan kekurangannya.
Apa ada orang sempurna di dunia ini? Ada?
Tunjukkan satu saja. Ayo.
Yang kami alami selama 40 tahun ini nyata.
Itu semua milik kami. Kami terima apa adanya.
Ini bukan permainan. Bukan untuk pamer di depanmu.
Namun, cinta kami...
jauh lebih besar dari kesalahan kami. Karena itu kami masih bersama.
Kami berteman.
- Kami sepasang kekasih. - Kekasih.
- Cintaku. - Sayang.
Kesayangan Ayah.
Putriku sayang.
Sayangku, Ömer.
Hatiku hancur karena kita tak bicara
selama beberapa bulan terakhir.
Aku mengerti.
Kau berusaha menjaga jarak
untuk hormati orang dalam hidupmu.
Kau benar. Aku terima itu.
Namun, saat kita tak saling bicara, aku bicara dalam hati.
Sebab itu kuputuskan menulis surat daripada menunggu waktu yang tepat.
Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.
Misalnya, aku kembali mengenal ayah dan ibuku.
Ayah berdiri di depanku, melepas dan membuang topeng pahlawannya.
Ibu menunjukkan lukanya untuk pertama kalinya.
Ternyata mereka orang biasa, kau percaya itu?
Ini sedikit menyadarkanku.
Aku mulai merenungkan tahun-tahun belakangan.
Aku sadar, aku telah banyak berasumsi.
- Mau? - Tak pernah bertanya.
Aku percaya begitu saja.
Aku tak pernah mendengarkan, hanya mengungkapkan perasaanku.
Aku tak memahami sepenuhnya. Terlalu cepat menghakimi.
Yang terburuk,
aku tak pernah memperbaiki yang rusak.
Kubiarkan mereka tergeletak. Mereka menangis mengejarku.
Kau tahu, aku masih di tempat kejadian,
berkelana di antara reruntuhan.
Aku sadar, aku penyebab terbesar rusaknya hubungan kita.
Ömer tadi menitipkannya.
- Terima kasih, Pak Duncan. - Ya.
Aku mengerti keputusan tidaklah penting.
Kemenangan dan kekalahan meracuni sebuah hubungan.
Saat kehilangan seseorang,
awalnya kita mati rasa karena rasa sakit.
Lalu,, secara bertahap, itu mulai meresap.
Kemarahan berubah menjadi penyesalan, pengertian,
lalu kerinduan.
Ternyata, tak ada yang sebanding dengan kehilangan seseorang yang kita cintai.
Aku sangat mengerti itu.
Sayangku, Ömer, kaulah yang paling berharga.
Kau adalah sahabatku...
dan orang yang selalu dan selamanya kucintai.
Apa pun yang terjadi dalam hidup kita,
dengan siapa pun kita,
aku tak pernah ingin kehilanganmu.
Tak akan pernah.
Ketahuilah itu.
- Terima kasih. - Mungkin Buddy kubawa saja?
Kau akan sering mengunjungi Sarp. Biar kujaga dia seminggu, ya?
- Baiklah. - Baik.
Buddy! Ayo, Nak. Kalian akan pergi.
Ini.
- Mau kopi? - Tidak usah.
Lihat, aku baru beli kemarin.
Harum dan lebih murah.
Masa?
Terima kasih suratnya.
Kubaca berulang-ulang.
Tak perlu kau simpan. Kau bisa mendapat masalah.
Tidak. Aku tak punya siapa-siapa lagi.
Apa? Sudah berakhir?
Ya, karena...
kau juga yang paling berharga.
Sungguh. Kau yang paling berharga.
Seperti negatif foto yang kusimpan.
Tak bisa dibagi, disalin, dan diperbanyak.
Astaga, Sayangku!
- Celaka! - Astaga!
Tunggu. Aku tak tega melihatmu seperti ini.
Baiklah, ayo.
Leyla!
Leyla!
- Di mana Leyla? - Tenang, Kawan.
- Ömer... - Astaga! Ömer!
Bajingan!
- Kubunuh kau! - Tunggu, apa-apaan ini? Hentikan.
- Kubunuh kau. - Lihat aku.
- Apa yang kau lakukan? - Kubunuh kau!
- Hentikan. - Tenang.
Kau tak akan membodohiku lagi.
Aku membencimu.
Ömer.
Kita bermain?
Terjemahan subtitle oleh: Ardi Prananta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.