All language subtitles for Thank.You.Next.2024.S01E06.TURKISH.WEBRip.NF.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian Download
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese Download
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish Download
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bagaimana kabarmu?

Kabarku?

Aku bingung.

Kubilang baik saja saat ditanya.

PERJAMUAN TERAKHIR LEYLA

Karena ternyata sulit bagiku...

menemukan jawaban pertanyaan ini.

CALON PENGANTIN

Aku juga kewalahan mencari kebenaran.

Jika kebenaran benar-benar ada.

Entahlah.

Tak bisa kutemukan.

Aku hanya ingin baik saja.

Aku ingin bebas dari kegalauan ini.

Itu sebabnya kuhindari pertanyaan.

Karena aku takut dengan jawabanku.

"Bagaimana kabarmu?"

Aku kabur.

Itu jawabanku.

Leyla!

THANK YOU, NEXT

#KROSCEK

Aku selalu gugup.

Seolah-olah...

kekalahan selalu menungguku.

Kekalahan?

Ya.

Ada seorang pria.

Maksudku...

Bukan seperti itu, tetapi...

Maksudku, kami tak ada apa-apa.

Halo?

Karena aku takut.

- Dia tak ikut? - Dia datang.

- Kau di mana? - Aku di sini sekarang.

Aku sudah kesal padanya sejak awal.

Bagiku, dia berbahaya.

Tanda bahaya mengikutinya.

Dia bilang, "Aku akan membuatmu menderita dari jauh."

Katanya, "Aku narsistik."

"Egoku setinggi langit."

"Aku licik, sombong, cemburu."

Tanda bahaya itu tertulis, "Mauku selalu terpenuhi."

Tapi?

Tak ada tapi-tapian.

Itu adalah daya tarik magnet.

Bukan sesuatu yang sulit.

Padahal aku tak ingin mengenalnya.

Pria seperti ini tak menyenangkan jika sudah kenal dekat.

Setelah tahu kelemahan dan kekurangan orang,

apa kita masih bernafsu menginginkannya?

Kurasa tidak.

Sebuah hubungan harus konsisten.

Itu yang paling penting bagiku.

Kita harus punya kekhawatiran dan mimpi yang sama

dengan pasangan kita.

Aku tak punya kesamaan dengannya.

Sejak awal, aku sudah tahu siapa dia.

Dia bermasalah.

Dia sudah menikah dan bercerai tiga kali!

Para mantannya masih ada dalam hidupnya.

Istri pertama, kedua, dan ketiganya

selalu di dekatnya.

Pria itu kolektor ulung.

Tidak,

aku tak mau menjadi salah satu wanitanya.

Tak mungkin. Itu mustahil.

Aku pasti sudah gila jika mau menjadi korban keempatnya.

Itu sebabnya aku menjaga jarak,

tak menjalin hubungan dengannya.

Orang narsistik seperti dia

bisa dengan mudah meyakinkan mangsanya.

Kita langsung terjerat.

Dia akan memikat kita sedemikian rupa

sehingga tanpa sadar,

kita sudah duduk di depan penghulu.

Lalu...

Pernikahan.

Kekalahan.

Aku mengamati hubungan di sekitarku.

Awalnya mereka bersemangat.

Menebar janji, mengucap ikrar tergesa-gesa.

Makin ragu mereka, makin lantang suara mereka.

"Aku bersedia, hingga akhir hayat.

Hingga maut memisahkan."

Lalu apa?

Sungguh, aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi

saat kita mulai kesal satu sama lain?

Kenapa kita mulai saling menipu?

Kau tahu kisah cinta yang tertanam dalam DNA kita?

Itu bohong.

Karena tak satu pun kisah itu yang mendekati kenyataan.

Kau tak tahu lelahnya...

Kenapa semua orang bisa jatuh

ke dalam perangkap yang sama?

Entahlah.

Kita menikah agar makin dekat.

Silakan, pergilah!

Kita malah mulai menjauh begitu menikah.

Semuanya palsu. Tak ada yang tulus.

Sepertinya mereka tutupi semua keriput dengan operasi plastik.

Kita dikelilingi orang-orang palsu yang sebenarnya keriput,

tetapi ditutupi dengan Botox.

Astaga! Mestinya kau pilih kostum yang lebih ceria.

TAK ADA PILIHAN LAIN

Kulihat semua orang di sini.

Jika digabung, mereka tak sebanding dengan satu Ömer.

Aku makin mengerti ini setiap hari.

Tidak, Sayang. Serius. Jangan jadikan mantanmu yang berikutnya.

Seperti kata pemikir tenar, "Terima kasih, berikutnya."

Funda!

Sayangku!

Kita mengejar ilusi tanpa lelah

untuk menghindari berkata, "Aku salah."

Kalau hitam? Tidak.

Satin kuning gading ini lebih seksi, ya?

Coba sandingkan yang warna putih gading dan hitam.

Kita buang jati diri kita untuk menghindari kesendirian,

menyebutnya hubungan jangka panjang.

Padahal, itu kematian jangka panjang.

Sayang, kematian apa maksudmu?

Kalian baru kenal dua minggu.

Dia datang ke pesta? Kita akan bertemu dia?

Tidak. Dia tak kuundang.

Kami belum lama kenal. Aku tak mau ajak dia.

Tak kubelikan kado juga.

Kenapa tidak?

Belikan saja kado kecil. Buku, misalnya.

Untuk jaga-jaga...

Aku takut menjalani yang biasa-biasa saja.

Ya.

Aku takut saat bercermin nanti...

Terima kasih.

...dan melihat cahaya di mataku memudar.

Aku takut pilihan itu

akan menghancurkanku suatu hari nanti.

Aku takut menyesal.

Sepuluh! Sembilan! Delapan!

Tujuh! Enam! Lima...

"Aku tak mau berjanji dan punya tanggung jawab."

"Aku mau tiduri semua pria yang kutemui, lalu pergi."

Seperti itulah hubungan orang.

Kau tahu, ada orang yang pergi

tanpa meninggalkan pesan.

Itu yang kudengar dari teman-temanku.

Tentu saja, wanita tak mengejar mereka.

Lalu, rasa kesepian...

jadi satu-satunya pilihan tepat untukku.

Aku rindu masa-masa pandemi.

Pandemi atau Ömer?

Tidak, kurasa bukan itu.

Semua orang berubah selama pandemi.

Seolah-olah dunia akan kiamat,

semua orang saling melindungi.

Ömer tinggal bersamamu selama pandemi?

Benar?

Boleh juga.

Bravo!

Dia terkejut.

Baiklah. Apa makan malamnya?

Sikap seseorang berubah mengikuti situasinya.

Selama pandemi,

kami takut mimpi kami akan lenyap

dan tak akan pernah kembali.

RABU 20 MEI 2020

Semuanya begitu berbeda pada awalnya.

Seluruh dunia fokus pada satu masalah,

semua orang punya ketakutan yang sama,

berperang melawan musuh bersama.

Itu membesarkan hati.

- Leyla. - Sayangku.

- Aku sangat mencintaimu. - Oh!

Kau mimpi apa?

Bukan mimpi. Terasa sangat nyata.

Apa aku mati?

Kau bergaun pengantin.

Lalu?

Kau memakai gaun pengantin nenekmu.

Bagaimana rambutku? Terurai?

Kau sangat cantik!

Tapi kau bersama Sarp.

Tidak mungkin!

Aku saksi pernikahan kalian.

Tak bisa bicara. Saat kubuka mulut, bibirku hilang.

Sambil menatapku, kau berteriak, "Ya, selamanya!"

Tidak, Ömer.

Aku ingin menikah denganmu, bukan dengan orang lain.

- Sungguh? - Ya!

Lalu?

Dia menciummu.

Mengerikan. Aku menangis.

Sangat menjengkelkan.

Bajingan itu.

Oh, Ömer!

Malangnya dirimu! Jangan menangis, Sayangku.

Aku lebih memilih Sarp yang konyol itu?

Aku pasti sudah gila.

Mana mungkin aku pergi?

Aduh.

- Begini saja. - Bagaimana?

Kita menikah.

Bagaimana?

- Agar Sarp tak merebutku? - Aku serius. Kita menikah saja.

Baiklah.

Sungguh?

Hore! Aduh!

Kita sudah bertunangan?

- Aku harus beri tahu orang tuaku. - Lakukan.

Pandemi berakhir, begitu juga mimpinya.

Kami membuat keputusan yang tidak biasa,

tanpa pertimbangan.

Maksudku, awalnya aku masih ragu...

untuk hidup bersama.

Tiba-tiba dia pindah, begitu saja.

Namun, setiap orang punya rutinitas.

Kita bisa memaklumi sampai titik tertentu.

Setelah itu, menyebalkan.

Jika hanya ada satu kamar mandi di apartemen,

tak banyak romansa yang tersisa.

Leyla, menjalin hubungan berarti...

menerima pasangan kita apa adanya.

Hanya kalian yang bisa begitu.

Ibu dan Ayah.

Sayangnya,

kalian berdua yang membuat standarku terlalu tinggi.

Ayah masih sangat mencintai Ibu, 'kan?

Tak cukup kata untuk gambarkan hubungan kami.

Ayah! Kalian memang yang terbaik!

- Kau tahu? - Apa?

Ayah senang kau akhirnya membicarakan Ömer.

Aku agak terlalu cerewet belakangan ini.

Banyak bicara, nihil hubungan.

Pembersihan diri.

Ayo temui mereka.

Kami di sini.

Buddy, Sayang! Cintaku!

Kalian lagi-lagi bicara di belakangku, ya?

Kami tak membicarakan Ibu.

- Sungguh? - Ya.

Ayo makan. Makanan sudah siap.

Baiklah. Kami datang.

Kudengar akan ada tamu istimewa.

Benarkah? Siapa?

Ini mimpi?

Bukan. Pamanmu mengundangku.

Baik, Sayang.

- Halo, Tn. Cem. - Halo.

Kubawakan.

- Selamat datang. - Hai. Tidak telat, 'kan?

Tidak, kau selalu tepat waktu.

Ini si pembunuh berantai profesional?

Sama-sama. Senang kau datang.

- Selamat. - Terima kasih.

Reyhan, Mahir, perkenalkan Cem Murathan.

Dia tetangga dan klien kami.

- Kakakku, Reyhan Taylan. - Senang bertemu.

- Selamat datang. - Ya.

- Iparku, Mahir Taylan. - Hai.

Senang bertemu.

- Kita pernah bertemu. - Sungguh?

Maksudku, aku berusaha menemuimu.

Kenapa aku tak tahu?

Begini...

- Ya. - Silakan.

Can, ini anggur dari pelelangan.

Semuanya tahun '72. Kau seumuran.

Hadiah ini luar biasa. Terima kasih. Tak perlu begini.

Sama-sama. Selamat ulang tahun ke-50.

Bersulang.

Bersulang.

- Astaga! - Nikmatnya!

- Anggur ini luar biasa. - Cicipilah seteguk, Mahir.

Seteguk pun bisa membuat perutku sakit.

Lebih baik tak minum.

Bagianku untuk Reyhan saja.

Dengan senang hati.

Bisa lanjutkan yang tadi, Cem?

Aku penasaran...

cerita antara kau dan ayahku,

Ya. Kau tadi bilang kita pernah bertemu.

Aku kuliah arsitektur di Milan.

Kau pernah berbicara di sana.

Kau sangat senang dengan proyek barumu.

Tahun 2009.

Ya, tahun 2009.

Kau membahas psikologi bangunan.

Kau membahas pekerjaan barumu dengan cinta,

seakan-akan itu wanita.

Ya, aku ingat.

Aku tak ingat.

Sayang, kau mulai tinggal dengan pamanmu tahun itu.

Aku jadi ingat. Itu musim panas pertama kita.

Aku berlari mengejarmu karena panik.

Aku tak tahu cara menjaga anak perempuan yang sangat aktif.

Aku seperti pengasuhmu.

Proyek yang mana, Ayah?

Proyek itu gagal.

Terlalu banyak kesalahan. Terpaksa dibatalkan.

Begitu. Sayang sekali.

Aku turut prihatin.

Proyek itu agak sulit.

Di atas kertas lebih menarik.

Lalu Reyhan ditugaskan ke Tokyo, dan kami pindah ke sana.

Namun, kubiarkan kau memutuskan, seperti biasa, Sayangku.

Kau tak harus ikut.

Namun, aku selalu merasa nyaman di sampingmu, Sayang.

Pasti ada sebuah cerita di sini.

Benar, sebuah cerita.

Kita semua pasti punya cerita.

Benar, Sayang?

- Untuk cerita. - Bersulang.

- Bersulang. - Bersulang.

Selamat ulang tahun, Paman!

Selamat ulang tahun!

Kemarilah. Ayo...

Benar usianya 50? Jelaskan padaku.

Jangan ingatkan lagi. Biar kutiup lilinnya.

Terima kasih sudah datang.

- Untukmu. - Bersulang.

Kau tak banyak bicara.

Mulutku penuh.

Bisa ikut? Aku mau jalan-jalan.

Jika ini tentang buku Nn. Tuba,

itu akan menjadi proyek lain yang gagal.

Pemberitahuan resminya akan dikirim ke penerbit.

Bukan soal itu, tetapi aku senang mendengarnya.

Rahasiamu tak akan terungkap. Kau bisa tenang.

Meski rahasia yang lain terungkap malam ini.

Kenapa tak bilang kau kenal ayahku?

Benar, kita jarang punya kesempatan untuk bicara.

Kau benar.

Kau marah padaku.

Aku mengerti.

Aku tak marah padamu. Sungguh.

Marah adalah ungkapan emosi.

Aku tak punya perasaan terhadapmu.

Ada atau tak ada kau sama saja.

Itu sebabnya, itu malah bagus.

Aku senang kita tak membuang waktu.

Aku bahkan berterima kasih.

Ya, memang ada ketertarikan antara kita. Kita penasaran.

Kini kita tak akan berandai-andai.

Sudah berakhir.

Ini juga bukan kenangan yang tak terlupakan.

Hanya kenangan sesaat.

Jadi,

kau bisa tenang.

Kenangan itu...

tak meninggalkan bekas bagiku.

Aku tak terlalu suka membicarakannya, kau tahu?

Aku mau periksa orang tuaku.

ÖMER CENKER INILAH ALBUM KELUARGAKU

- Jangan memanipulasiku. - Tidak.

Itu pekerjaanmu, ingat? Kau politisi.

Kau senang berperan sebagai pahlawan bagi Leyla

hingga tak menyadari akibatnya.

Aku diam karena itu maumu.

Aku tak keberatan ceritakan semua.

Kau hanya ceritakan betapa feminisnya dirimu.

Ceritakan kau pakai nama belakangku karena utang ayahmu.

Kau pikir aku tak berani?

Katakan kau tak minum karena sedang rehabilitasi.

Kenapa kau tutupi?

Ceritakan pelacur selingkuhanmu itu.

Dia terus banggakan standarnya.

Tunjukkan seberapa rendah standar itu.

Siapa kalian?

Kini aku tahu semuanya.

Selamat datang di dunia nyata, Sayang.

Lantas, ada apa di tahun 2009 itu?

Ayahku selingkuh dengan wanita dalam proyek itu.

- Benarkah? - Dia menyesal dan memberi tahu ibuku.

Itu kesalahan besar.

Lalu, ibuku ke Tokyo. Melarikan diri, tepatnya.

- Tentu saja. Dia benar. - Ya.

Kalau aku, pasti kupotong penisnya sebelum pergi.

Sampai habis.

Baiklah.

Terima kasih.

Apa yang ayahmu lakukan?

Dia bisa apa? Dia tinggalkan proyek itu dan menyusul ibuku.

Lalu mereka mengirimmu ke pamanmu agar kau tak tahu. Begitu?

Benar.

Maksudku...

Kurasa lukanya masih segar.

Ayah masih merasa sangat bersalah. Ibu masih marah.

Kesalahan kecil bisa memicu prahara.

Namun, mereka sudah lama bersama.

Mereka bisa saja berpisah kalau mau, 'kan?

Benar.

Kurasa mereka tak bercerai karena aku.

Tak ada alasan lain.

- Kurasa tidak. - Setuju.

Kurasa Ayah...

mengalah agar aku masih menghormatinya.

Kalian tahu ibuku benci kegagalan.

Dia terlalu terhormat untuk bercerai.

- Tepat waktu. - Itu ibumu?

"Leyla, Sayang, kami akan pulang Rabu ini."

"Kami ingin bertemu kau sebelumnya."

"Kabari kami jika kau bisa."

"Kami menyayangimu."

Kami menyayangimu. Kami akan pergi.

Selalu kami...

Begitulah, mereka masih satu tim.

Mereka masih saja arogan.

Astaga, hentikan omelanmu.

Orang mati bisa kentut jika kau terus mengomel.

Astaga!

Jangan keterlaluan.

Terserah mereka mau apa. Ini hidup mereka.

- Sarp, ibumu menelepon. - Apa?

- Sekarang giliran ibuku. - Kau mau salad?

Maaf.

Halo, Ibu?

Terima kasih.

Apa?

- Rumah sakit mana? - Rumah sakit apa?

Baik, aku ke sana.

- Ada apa? - Sarp?

Ayahku serangan jantung. Dia masuk ICU.

- Apa? - Benarkah?

- Kumatikan semuanya? - Entahlah. Tunggu.

- Hidup memang permainan. - Aku pergi dulu.

Mengira hidup kita banyak, lalu sadar tak punya kehidupan.

- Saat hidup akan berakhir... - Mana kunciku?

- Dah, Buddy! - Ada kehidupan lain untuk kita.

Saat kita merasa muak,

hidup mengingatkan kita pada akhir yang dikira tak akan pernah datang.

Perjuangan tanpa akhir itu tampak kekanak-kanakan.

Kita merasa malu dengan masalah yang tampak besar bagimu.

Saat jantung kehabisan oksigen,

katanya terasa sakit yang menyengat.

Rupanya, rasa sakit itu adalah pertanda serangan jantung.

Ternyata, rasa sakit itu sangat penting bagi kelangsungan hidup kita.

Angina pectoris.

Di kedokteran, rasa sakit itu disebut angina pectoris.

- Kau tahu itu? - Tentu saja tidak.

Memalukan.

Bukan arteriosklerosis Nikotin, maupun penjara

Itu sebabnya, Dokter Itu sebabnya kualami angina pectoris

Nâzım Hikmet.

Ini cara Ayah merayu Ibu?

Dengan syair dan puisi.

Kami bertemu di bangku ini setiap Rabu pukul 14,00 tepat.

Mahir berangkat dari kampusnya naik bus pukul 13,15.

Kuliah ibu selesai pukul 13,30.

Dia datang membawa roti lapis dari Hisar Kiosk.

Kami piknik.

- Sedikit cabai. - Banyak acar.

- Roti sosis. - Roti sosis.

- Selalu sama. - Kami mengobrol berjam-jam.

Kami membaca puisi dan buku.

Kami menonton film, terkadang berdebat.

Namun, kami banyak tertawa.

Begitulah aku mengingat kalian.

- Aku selalu... - Dengar. Tunggu.

Ayah tahu maksudmu.

Jangan bahas "standar" lagi, ya? Itu tak ada dalam hubungan.

Menjalin hubungan butuh saling pengertian.

Butuh empati.

Butuh kesabaran.

Butuh saling memaafkan.

Butuh kesabaran dan saling memaafkan.

Leyloş, seiring waktu, kau mungkin merasa jenuh pada pasanganmu.

Itu bisa terjadi.

Kau mungkin teralihkan.

Kau mungkin merasa tersesat dalam hubungan.

Bahkan sedikit diabaikan.

Tak mudah mencintai seseorang.

Lebih sulit mencintai seseorang dengan kekurangannya.

Apa ada orang sempurna di dunia ini? Ada?

Tunjukkan satu saja. Ayo.

Yang kami alami selama 40 tahun ini nyata.

Itu semua milik kami. Kami terima apa adanya.

Ini bukan permainan. Bukan untuk pamer di depanmu.

Namun, cinta kami...

jauh lebih besar dari kesalahan kami. Karena itu kami masih bersama.

Kami berteman.

- Kami sepasang kekasih. - Kekasih.

- Cintaku. - Sayang.

Kesayangan Ayah.

Putriku sayang.

Sayangku, Ömer.

Hatiku hancur karena kita tak bicara

selama beberapa bulan terakhir.

Aku mengerti.

Kau berusaha menjaga jarak

untuk hormati orang dalam hidupmu.

Kau benar. Aku terima itu.

Namun, saat kita tak saling bicara, aku bicara dalam hati.

Sebab itu kuputuskan menulis surat daripada menunggu waktu yang tepat.

Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.

Misalnya, aku kembali mengenal ayah dan ibuku.

Ayah berdiri di depanku, melepas dan membuang topeng pahlawannya.

Ibu menunjukkan lukanya untuk pertama kalinya.

Ternyata mereka orang biasa, kau percaya itu?

Ini sedikit menyadarkanku.

Aku mulai merenungkan tahun-tahun belakangan.

Aku sadar, aku telah banyak berasumsi.

- Mau? - Tak pernah bertanya.

Aku percaya begitu saja.

Aku tak pernah mendengarkan, hanya mengungkapkan perasaanku.

Aku tak memahami sepenuhnya. Terlalu cepat menghakimi.

Yang terburuk,

aku tak pernah memperbaiki yang rusak.

Kubiarkan mereka tergeletak. Mereka menangis mengejarku.

Kau tahu, aku masih di tempat kejadian,

berkelana di antara reruntuhan.

Aku sadar, aku penyebab terbesar rusaknya hubungan kita.

Ömer tadi menitipkannya.

- Terima kasih, Pak Duncan. - Ya.

Aku mengerti keputusan tidaklah penting.

Kemenangan dan kekalahan meracuni sebuah hubungan.

Saat kehilangan seseorang,

awalnya kita mati rasa karena rasa sakit.

Lalu,, secara bertahap, itu mulai meresap.

Kemarahan berubah menjadi penyesalan, pengertian,

lalu kerinduan.

Ternyata, tak ada yang sebanding dengan kehilangan seseorang yang kita cintai.

Aku sangat mengerti itu.

Sayangku, Ömer, kaulah yang paling berharga.

Kau adalah sahabatku...

dan orang yang selalu dan selamanya kucintai.

Apa pun yang terjadi dalam hidup kita,

dengan siapa pun kita,

aku tak pernah ingin kehilanganmu.

Tak akan pernah.

Ketahuilah itu.

- Terima kasih. - Mungkin Buddy kubawa saja?

Kau akan sering mengunjungi Sarp. Biar kujaga dia seminggu, ya?

- Baiklah. - Baik.

Buddy! Ayo, Nak. Kalian akan pergi.

Ini.

- Mau kopi? - Tidak usah.

Lihat, aku baru beli kemarin.

Harum dan lebih murah.

Masa?

Terima kasih suratnya.

Kubaca berulang-ulang.

Tak perlu kau simpan. Kau bisa mendapat masalah.

Tidak. Aku tak punya siapa-siapa lagi.

Apa? Sudah berakhir?

Ya, karena...

kau juga yang paling berharga.

Sungguh. Kau yang paling berharga.

Seperti negatif foto yang kusimpan.

Tak bisa dibagi, disalin, dan diperbanyak.

Astaga, Sayangku!

- Celaka! - Astaga!

Tunggu. Aku tak tega melihatmu seperti ini.

Baiklah, ayo.

Leyla!

Leyla!

- Di mana Leyla? - Tenang, Kawan.

- Ömer... - Astaga! Ömer!

Bajingan!

- Kubunuh kau! - Tunggu, apa-apaan ini? Hentikan.

- Kubunuh kau. - Lihat aku.

- Apa yang kau lakukan? - Kubunuh kau!

- Hentikan. - Tenang.

Kau tak akan membodohiku lagi.

Aku membencimu.

Ömer.

Kita bermain?

Terjemahan subtitle oleh: Ardi Prananta

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.