Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
FILM NETFLIX ORIGINAL
Film ini menggabungkan fakta sejarah dengan unsur fiksi
demi kepentingan tema narasi.
Jenderal Antonio Luna dibunuh oleh Pasukan Kawit tanggal 5 Juni 1899.
Presiden Aguinaldo melucuti semua perwira yang setia pada Luna.
Perintah dikeluarkan untuk menangkap para ajudan Luna,
Mayor Manuel Bernal dan Kapten Jose Bernal.
Jenderal Jose Alejandrino, seorang sahabat Luna,
selamat dari hukuman
karena kaitannya dengan Brigade Tinio.
Ketika pasukan Amerika menguasai Manila,
Aguinaldo dan kabinetnya bertahan
di Tarlac, Nueva Ecija dan Pangasinan.
Sudah berulang kali kukatakan kepada Pak Aguinaldo,
penyelamatnya hanyalah kematian terhormat dalam pertempuran.
Reputasinya akan dia raih kembali lewat aksi kepahlawanan itu
dan akan memuliakan saudara sebangsanya
seperti pengorbanan Dr. Jose Rizal.
Namun saranku tak didengar.
Jenderal Gregorio Del Pilar, Pembebas Bulacan,
pahlawan di usia 23 tahun, jenderal favorit presiden,
tinggal di Pangasinan dari Juni sampai Oktober 1899.
"Lima bulan masa tenang,
serangan Amerika jarang dan baru dilanjutkan
hari pertama November." - Teodoro Kalaw.
"Apa yang dilakukan Republik selama lima bulan itu,
ketika kehancurannya tengah direncanakan?" - Nick Joaquin.
Pagi hari setelah kematian Jenderal Antonio Luna
Jenderal Antonio Luna?
- Apakah kau Jenderal... - Kapten.
Kau tak mengenali komandanmu?
Itu pertanyaan sederhana.
Hormatlah sedikit, Nak.
Kumis.
- Sombong. - Lako, itu bukan Luna.
Maaf mengganggu, Jenderal Alejandrino.
Sebaiknya kau bercukur.
Cuacanya sedang panas.
Nak, sepertinya kau belum dengar.
Luna sudah mati. Pulanglah.
JENDERAL JOSE ALEJANDRINO MENTERI PERANG
Tak percaya ada kapten bunuh jenderal sendiri,
tanpa ada perintah.
MANTAN PM
Menurutmu itu perintah Presiden?
Apa untungnya bagi Miong?
Dia kehilangan Jenderal hebat.
Yang pemarah, memukul atau menodong siapa pun...
Aku tahu.
Coba pikirkan.
Kini Presiden tak perlu cemas karena Luna sudah mati.
Aku lebih suka memikirkan bagaimana kita bisa bersatu.
Sebelumnya, di kereta, seorang kapten mengira aku Antonio.
Dia sudah mau menembakku.
Sepertinya ada perintah untuk menangkap Luna, hidup atau mati.
Perintah dari siapa?
Aku tidak tahu.
Seorang Jenderal ditugaskan.
- Siapa? - Favorit Miong.
Yang sombong itu.
Jenderal Bocah.
JENDERAL GREGORIO DEL PILAR
Memandanglah ke kejauhan, bukan ke langit, Jenderal.
Joven.
Ini lebih baik.
Itu pose Mason.
Napoleon.
Kita ambil pose yang tadi dahulu.
Jangan bergerak. Tak lama.
Hitungan ketiga.
- Satu, dua, tiga. - Goyong!
Kita dapat fotonya?
Tak masalah.
Goyong.
Biarkan mereka. Masih pagi.
Kami menangkap yang lebih besar untukmu.
Jangan tanggung-tanggung lagi, Kawan.
Dia hanya pura-pura tangguh.
Di mana kakak-kakakmu?
Tunggu.
Waktu kita sedikit.
Dia hanya perlu dihajar.
Angel, kau tak perlu melakukan ini.
Biarkan Vicente lakukan tugasnya.
Jadi, kau resmi fotografer kami.
Vicente sudah bicara denganmu soal biaya dan persyaratan?
Ya, Jenderal.
Siapa namamu?
Joven Hernando.
7 JUNI 1899
Semoga aku tak akan menyesali ini.
Berapa lama kontraknya?
Tiga bulan.
Jangan khawatir
Aku akan bolak-balik ke Bayambang untuk mengambil persediaan.
Aku tak bisa meninggalkan klien yang lain.
Ini kamarmu.
Sebaiknya kau surati ayahmu agar dia tak khawatir.
Baiklah.
Rumah siapa ini?
Don Mariano Nable Jose.
Pedagang perahu layar dan kapal pesiar di Dagupan.
Kalau sampai anak itu membohongiku...
Kudengar putrinya cantik-cantik.
Cristobal.
Kau tepat waktu.
Silakan masuk.
Aku melacak mereka ke sini.
Kedua kakak Jenderal Luna.
Joaquin, Jose.
Goyo.
Kenapa kau ikat mereka?
Lepaskan mereka, dasar kau.
Kenapa tamuku diperlakukan begini?
Don Mariano, aku minta maaf soal ini.
- Aku Jenderal Gregorio del Pilar. - Lihat?
Dia sopan.
Saudaraku, Julian, dan temanku, Vicente.
Tak perlu perkenalan. Semua kenal kau.
Tenang. Kami tahu kau tak terlibat.
Aku hanya menaati Presiden.
Bawa mereka keluar.
- Mariano. - Aku minta maaf.
Apa hanya mereka tamumu?
Kurasa anak buahmu juga tamuku sekarang.
Terima kasih.
Kami mencari dua bersaudara. Manuel dan Jose Bernal.
Katanya mereka tinggal di sini.
Kenapa?
- Apa kesalahan mereka? - Penghianatan.
Aku kenal mereka.
Mereka orang terhormat. Tak mungkin berkhianat.
Itulah yang ingin kami ketahui, karena itulah aku butuh bantuanmu.
Itu Manuel!
Kakak!
Angel.
Tangkap dia!
Manuel!
Kakak!
Akan kau apakan Kakak?
Tenanglah kalau tak ingin Julian menekanmu.
Kau bilang tak akan menyakitinya.
Kau berjanji.
Bawa dia!
Bangun!
Jangan melukainya, Jenderal.
Jangan khawatir, Pak.
Ayo kita pergi.
Maafkan kekacauan ini.
Aku akan menebusnya saat aku kembali.
Kau akan kembali?
Sampai jumpa.
Don Mariano.
Dia berikan tatapan mautnya. Gadis itu pasti jatuh cinta.
Teresing ada di kota berikut.
Kapan itu menghentikannya?
Mereka bisa saja bertetangga.
"Ayah tercinta.
Aku berdoa Ayah dalam keadaan aman saat menerima surat ini.
Aku masih belum bisa memahami semua yang terjadi.
Senin lalu, aku masih bersama Jenderal Luna yang pemberani.
Sekarang dia sudah mati.
Sekarang aku berada di kamp Jenderal del Pilar
sebagai asisten Paman Miguel.
Aku tak tahu bagaimana perasaanku saat ini terhadap Jenderal Goyo.
Aku belum mengenalnya."
Mari kita bersatu, Mayor.
Bergabunglah dengan kami.
Akan kuberikan posisi yang bagus.
Untuk apa?
Kebebasan.
Itu yang diperjuangkan jenderalmu, 'kan?
Jenderalku yang kau bunuh dengan keji.
Ingat itu, Goyo.
Karena presidenmu, kita akan menjadi budak orang Amerika.
Jangan biarkan dia masuk
Kita sudah coba caramu. Sekarang pakai caraku.
Kakak, maafkan aku.
Jangan menangis, Angelito.
Ingat semua ucapanku kepadamu.
Kami akan mencopot tanda pangkatmu, Mayor.
Peluang terakhir, Manuel.
Bertempur dengan kami di bawah Presiden Aguinaldo.
Kau akan melaksanakan semua perintah Miong, bukan?
Kau buta dan tuli.
Tunjukkan rasa hormat!
Berhenti!
Cukup.
Kita berdua setia pada tujuan kita.
Satu-satunya perbedaan adalah objek kesetiaanmu sudah mati,
dan aku setia kepada Presiden.
Perbedaannya adalah...
kau setia kepada idolamu.
Para prajurit yang sudah dan akan kau bunuh
setia pada prinsip.
Luna meninggal sebagai prajurit terhormat.
Kau membunuh hanya karena kau disuruh.
Kau bukan prajurit, Goyo.
Kau adalah...
seekor anjing.
Bergabunglah dengan Luna.
Menggonggonglah, Goyo! Menggonggonglah!
Dia tak berguna.
Kita sudah tahu lokasi Jose.
Lalu anak itu?
Biarkan dia pergi.
Kakak!
Sebagian besar jenderal kita tak terlatih, bahkan dalam ilmu militer dasar.
Hanya sedikit yang cukup pintar untuk mempelajari taktik.
Beberapa hanya anak-anak yang dipromosikan
karena mereka punya kerabat atau teman pejabat.
Lihat aku.
Aku insinyur.
Aku belum pernah bertempur.
Tetapi lihat pangkatku.
Yang penting kita terus berjuang.
Betul.
Tetapi kebanyakan prajurit kami adalah buruh dan petani miskin.
Sementara Kongres yang kaya...
Buru-buru berlutut di hadapan orang Amerika.
Kekalahan Luna, kemenangan mereka.
Dan kepergianku dari Kabinet.
Satu generasi pengecut dan pembohong telah bergabung dalam pertempuran ini.
Aku berharap pada generasi berikutnya.
Tindakan kita sudah benar, Goyong.
Tak ada alasan untuk ragu.
Dari mana kau bisa yakin?
Kapan kau belajar menanyakan itu?
Ingat siapa dirimu.
Semua orang menghormatimu.
Kaulah sang Elang perkasa.
Pahlawan Bulacan.
Prajurit pemberani.
Siapa dirimu?
Sang Elang.
Anak-anakku.
Feliciano, Rocio, Dolores,
dan Remedios.
Maaf atas kunjungan mendadak ini.
Rumah kami selalu terbuka untuk jenderal favorit Presiden.
Mari kita makan.
Bagaimana kabar Luna Bersaudara dan Manuel Bernal?
Luna Bersaudara sudah dibebaskan.
Lalu Manuel?
Bebas merdeka.
Syukurlah.
Mereka pria terhormat.
Jenderal.
Kau bisa minta maaf kepada putri-putriku.
Kemarin kau cemas mereka ketakutan
atas kejadian itu.
Ayah, nanti Jenderal pikir
wanita di rumah ini penakut semua.
Aku mengagumi wanita pemberani.
Kalau begitu, tak perlu minta maaf, Jenderal.
Walaupun begitu, izinkan aku meminta maaf.
Itu dia. Akhirnya aku bisa menatap mata putrimu.
Kenapa? Apa yang kau cari di matanya?
Aku bercanda, Jenderal.
Seharusnya kau mengatakan, "Aku lihat masa depan di matanya."
JENDERAL EMILIO AGUINALDO PRESIDEN REPUBLIK FILIPINA
Jose Bernal sudah ditangkap?
Ia sudah dibereskan.
Bagus.
Akan kuangkat kau sebagai Mayor Jenderal Pangasinan.
Terima kasih, Ka Miong.
Ada yang ketinggalan. Jaga ini.
Ya, ampun.
Masa lalu mengejar kita.
Felicidad, adik Presiden.
Mantan pacar Goyong.
Jangan lupa mengawasi keluarga Ilocano.
Pernah dengar tentang Guardia de Honor?
- Ya. - Mereka akan membalas kematian Luna.
- Selamat pagi, Nyonya. - Sapa dia dahulu.
Apa kabar?
Baik. Kabarmu?
Kalian dengar pembunuhan Jenderal Luna.
Itu aneh sekali, bukan?
Sementara aku pusing mau adu domba siapa.
MAYJEN OTIS
Padahal kita semua tinggal duduk, menikmati cerutu,
dan membiarkan mereka saling menikam.
Kita tak perlu repot-repot.
Mereka pindahkan markas ke Utara, Jenderal.
Aguinaldo di Tarlac.
Beberapa pasukan pemberontak di kota pantai bernama Dagupan.
Lihatlah.
Aku tahu isi benakmu, Nak.
JENDERAL
Taktik mengepung. Tak mungkin segampang itu.
Mereka jadi sasaran empuk.
JULI 1899
Hei, Monyet! Pergi! Kalian bau!
Kembalilah ke gunung.
Tak perlu repot dengan barang daganganmu.
Lipat ekor kalian. Nanti bisa terinjak.
"Manusia hanya digerakkan dua tuas: rasa takut dan kepentingan pribadi."
Napoleon. Aku baru ingat.
Tolong jangan bergerak.
Satu, dua, tiga.
Aku akan kembali. Kudaku di sini. Aku mau melihatnya.
Kau wajib mendampingi pamanmu?
Tidak juga.
Bergabunglah dengan kami.
Pergilah. Tetapi aku butuh kau untuk pawai.
Siapa santo pelindung dari pesta ini?
Tak ada.
Semua ini untuk Goyong.
Ini untuk menghormati keberanian saudaraku,
dan karena kini dia Mayor Jenderal seluruh provinsi.
Ini dia bagian terbaik dari pesta ini.
Lesung pipi milikku.
Temannya tampak lebih nakal.
Kalau suka, dia milikmu.
Ayo.
Kita sedang perang, Kolonel.
Perang sesungguhnya hari ini adalah dengan gadis-gadis itu.
Permisi, Nona-nona.
Dari mana asal kalian?
Jelas kami dari sini.
Kau yang orang luar.
Kalian juga menunggu Jenderal?
Semoga tak hujan.
Aku kenal Jenderal Goyo.
Kalian berteman?
Aku fotografer resminya. Namaku Joven.
Nanti tolong foto kami bersamanya.
Jenderal datang!
Dia datang!
Sirnalah peluang.
Jenderal!
Jenderal!
Dia setampan yang orang bilang.
Aku harus duduk di sebelahnya di acara itu.
Kita harus mencari cara.
Hati-hati dengan pria itu.
Kenapa?
Dia meninggalkan gadis patah hati di setiap kota.
Benarkah?
Kudengar namanya berarti "dipermainkan".
Rasanya mau pingsan.
Selamat siang.
Jenderal!
- Istriku. - Nyonya.
Duduk di tengah, Nak.
Jenderal.
Don Mariano.
Hilanglah kesempatan kita.
Tetapi apakah dia punya kesempatan dengan Remedios?
Di Timur Jauh, seorang pahlawan lahir.
Di kota Bulacan, sarang pria pemberani!
Keluarga pahlawan,
pilar keluarga Del Pilar!
Di usia semuda itu,
dia telah menunjukkan kebesaran!
Aku diajarkan untuk berani.
Untuk melawan orang Spanyol penindas.
Aku ingin dia saja.
Diajarkan oleh Paman Marcelo yang berani.
Di rahang hiu, kupamerkan taringku.
Doa dan Tantangan yang ditulis pamanku
kuletakkan di setiap bangku, dan doa-doa itu tersebar.
Saat kota ini belajar mendoakan mereka, sang biarawan terkejut.
Karena doa-doa itu adalah tamparan baginya!
Orang pribumi terkutuk!
Orang sesat tak beradab!
Kau sebarkan pamflet di gereja?
Salam Maria, penuh koin, celenganmu penuh.
Biarawan bersama kalian.
Kantong uang suci,
berdoalah untuk kami dan selamatkan kami agar tak dicukur,
sekarang dan jika kami terbunuh.
Amin!
Saat kecil, aku sudah berani.
Saat dewasa, dia makin berani.
Di Kakarong de Sili, burung-burung pemangsa Spanyol.
Kami hadapi tanpa takut, meski cuma bersepuluh.
Ikuti aku.
Serang!
KAKARONG DE SILI, TAHUN 1897
Tinggal kita saja, Goyong.
Maestro Sebio kabur. Yang lain juga.
Jangan menyerah!
Goyong!
Hidup, Jenderal del Pilar!
Hidup!
Hidup, Jenderal del Pilar!
Hidup!
Hidup, Jenderal del Pilar!
Hidup!
Julian.
Ini lagu favoritku.
Jenderal, aku takjub...
Terima kasih banyak.
...bahwa semua gadis di kota ini jatuh cinta padamu.
Ini pengejaran yang panjang.
Hidup!
- Hidup, Jenderal del Pilar! - Hidup!
Aku baru saja memberi tahu Don Mariano,
Jenderal Goyo adalah jenderal AD termuda.
Lihat dia sekarang.
Mayor Jenderal Pangasinan.
Kau keliru, Mayor.
Manuel Tinio dari Ilocos yang termuda.
- Jose. - Pak Presiden.
Aku senang kau tiba.
Jenderal Torres.
Bertemu Goyo?
Kenapa? Ada apa?
Aku dan Goyo tak akur, tetapi kami tak akan jadi masalah.
Aku dengar soal itu.
Kapten!
Aku pergi dahulu.
Kau bukan seorang prajurit.
Kau seekor anjing.
Menggonggonglah, Goyo.
Kau pernah dengar "Guardia de Honor"?
Mereka akan membalas kematian Luna.
Menggonggonglah, Goyo!
Menggonggong!
Ada apa?
Mereka ada di sini.
Guardia de Honor! Kau anggotanya?
Jawab aku!
Apakah kau anggotanya? Jawab aku!
Ia kakek pikun!
Kami sudah bicara dengannya. Lepaskan dia.
Tak ada yang lihat kita.
Kenapa kau ini?
Kendalikan dirimu.
Ingat siapa dirimu.
- Siapa dirimu? - Sang Elang.
- Siapa dirimu? - Sang Elang!
Letnan!
Para prajurit salah menghadap. Suruh menghadap kanan.
Istirahat di tempat!
Hadap kanan!
Para prajurit sudah bentuk formasi?
Jenderal Torres ubah formasinya.
Dasar berengsek.
Letnan!
Prajurit harus hadap depan!
Kepada Presiden!
Kubilang depan!
Hadap depan!
Angkat senjata!
Jenderal Torres!
Jika Jenderal del Pilar memimpin, kau tak memimpin.
Mengerti?
Apa nilai sejati seorang pahlawan?
Apa yang ada di balik semua kebesaran itu?
Kenapa kita selalu mengidolakan dan mengagungkan tanpa bertanya?
Kenapa kita bergantung sepenuhnya kepada para penyelamat?
Jenderal Luna pernah berkata,
"Mereka yang memiliki perasaan bukan budak."
Tetapi kupikir jika sentimen ini telah membuat kita buta,
kita jadi budak perasaan kita sendiri.
AGUSTUS 1899
Selamat pagi, Pak Presiden.
Jauh dari politik tak pas untukmu.
Aku tak minta untuk pergi.
Kau adalah pilar Kabinet, Pule.
- Jangan pernah berpikir... - Aku tak menyimpan dendam.
Aku lega jauh dari intrik.
Aku masih bisa memberikan saran kepada mereka yang meminta,
dan yang mau dengar.
Bagus beberapa bulan terakhir ini situasinya tenang.
Terlalu tenang, bukan?
Ini kesempatan kita.
Akan kukirim Alejandrino ke Manila
dengan beberapa tahanan perang Amerika untuk memulai babak negosiasi lagi.
Aku berharap orang Amerika akan mengakui kedaulatan kita.
Itu terserah kau.
Ini bisa dibahas lewat surat.
Apa sebenarnya tujuanmu?
Aku datang untuk memintamu kembali.
Aku ingin kau menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung.
Kau ingin aku tinggalkan Kabinet agar Paterno ganti...
- Demi perdamaian. - Kini...
Untuk apa ini?
Apa untuk mencegahku mengkritik para badut di Kongres?
Kalau boleh kuingatkan,
mereka tak menyukaiku karena aku berkata jujur.
Paterno dan yang lainnya orang baik.
Mereka semua berjuang demi perdamaian.
Perdamaian tanpa kebebasan.
Aku butuh kebijaksanaanmu, Pule.
Aku butuh orang yang bicara jujur.
Bisakah orang Filipina menerima kebenaran tanpa merasa kesal?
Selagi kita membahas ini...
baiklah.
Apa kebenaran dari pembunuhan Antonio Luna?
Jangan sekarang, Kawan.
Kau mau terima posisi itu?
Aku akan membuat pengumuman resmi tentang posisi barumu.
Demi bangsa.
Jenderal!
Jenderal! Kolonel!
Mereka menunggu kalian di rumah Don Mariano.
Terima kasih, Ka Miong.
Mereka datang.
Maaf, Goyo. Ini mendadak.
Aku jadi Gubernur Militer Bulacan.
Masa jabatanku mulai November ini.
Selamat, Julian!
Hei.
Kita harus merayakannya!
Remedios, kemari.
Sabtu kita pesta untuk posisi baru Kolonel Julian.
Kau tahu harus bagaimana.
Kami akan siapkan hidangan mewah untukmu, Kolonel.
- Mau dimasakkan apa? - Apa saja, Don Mariano.
Harus ada tarian.
Jangan itu. Terlalu matang.
Yang itu bagus.
Tak terlihat terlalu matang.
Lebih baik cari aman. Buah segar yang terbaik.
Benar.
Tetapi kita harus tahu mana yang matang
dan mana yang pantas dibuang.
Sayang kalau membuang buah yang masih bagus.
Tak banyak mangga yang bagus di sini.
Mangga-mangga ini dipetik untuk disajikan,
bukan untuk dibuang.
Jangan mau dibuang.
Aku bukan mangga.
Baguslah.
Yang ini bagus.
Terima kasih, Pak Laureano.
Sama-sama, Kolonel.
Jenderal punya permintaan.
Mungkin kau bisa tinggal beberapa bulan lagi.
Aku punya klien di Manila.
Bahkan, saat ini aku mau ke sana.
Siapa klienmu, Paman?
Orang Amerika. Jangan bilang.
Benarkah?
Kita bisa buat rencana?
Aku akan kembali Oktober.
Kau bisa gunakan peralatanku. Separuh bayarannya milikmu.
- Paman Miguel... - Gugup?
Kakak, bisa tunda perjalananmu ke Bulacan?
Terlalu dekat ke Manila.
Pangkatmu mungkin lebih tinggi, tetapi aku tetap kakakmu.
Jangan khawatirkan aku. Presiden tahu yang dia lakukan.
Kita sedang negosiasi lagi dengan orang Amerika demi kedaulatan kita.
Selamat malam.
Aku tahu. Aku pernah jadi delegasi. Tak ada hasil.
- Berhentilah khawatir. - Malam.
Sia-sia ketampanan kita.
Selamat malam.
- Ka Miong. - Goyo.
Kau sekaku tanaman.
Akarku belum tumbuh, Kolonel.
Kau tak ingin bergabung?
Aku lebih senang mengamati.
Kalau begitu, titip jaga ini.
- Tas siapa ini? - Tas Goyong. Jaga baik-baik.
Nona.
Aku tak ingin bersaing.
Dengan siapa?
Mataku tertuju padamu.
Akulah yang menghadapi persaingan.
Kita impas.
Jenderal, kita sudah berbasa-basi selama berbulan-bulan.
Panggil aku Goyo.
Goyong? Goyo?
Keluargaku memanggilku Goyong, tetapi...
- Kalau kita bisa berkeluarga... - Goyo.
Kita harus bicara.
Tentang apa?
Para kekasihmu.
"Goyo, aku tak bilang kau tak boleh bersenang-senang.
Bahkan, menurutku kau harus.
Tetapi tidak dengan cara seperti yang orang-orang ceritakan."
Jangan percaya semua yang kau dengar.
Aku tak suka mendengarkan gosip. Aku bisa melihatnya di matamu.
Apa yang kau lihat?
"Aku memintamu untuk merasakan. Apakah kau tak ingat aku?
Kau tahu aku memercayai semua ucapanmu.
Aku percaya kepadamu. Aku menolak untuk percaya gosip."
Kau mudah teralihkan.
Kadang aku tak yakin apa kau sedang bicara denganku
atau ada gadis di belakangku.
Mataku juling karena cantikmu.
Bingung apakah ingin pandang matamu,
bibirmu,
- tanganmu. - Gila.
Kau sudah melupakan wanita dari Palang Merah.
Dia berada di kota lain, sakit karena memikirkanmu.
Aku tahu kau sibuk di rumah Don Mariano.
Kau bilang di sana untuk berjaga, tetapi kau di sana untuk Remedios.
Apakah itu benar? Katakan kepadaku!"
Kalau kau terima cintaku kecantikanmu akan menyembuhkan mataku.
Itu hanya permukaan, Goyo. Kecantikan bisa memudar.
Aku akan menjadi tua. Yang tersisa hanya kewanitaanku.
Dagupan tak akan kehabisan gadis-gadis muda yang cantik.
Saat kukatakan kau cantik,
itu juga berarti kecantikan batinmu.
Apakah itu benar, atau kau hanya mencoba memikatku?
"Kenapa kau berbohong? Kalian sepasang kekasih?
Kabarnya, kau berencana menikahinya."
Kuakui, gadis sepertimu itu langka.
Kau harus diperhatikan dan dipuja.
Aku manusia biasa.
Kalau ada cincin...
Aku manusia biasa.
Kau percaya aku mencintaimu?
Bisakah kau menunggu?
Ada satu permintaanku.
Jika dan saat kau menerima cintaku,
beri tahu aku.
Beri aku pertanda.
Aku berniat menikahimu, Remedios.
Lama aku tak mendengar kabar dari Bernal Bersaudara.
Aku ingin bicara dengan mereka.
Apakah mereka baik-baik saja?
Aku yakin itu.
Di mana mereka?
Aku tak tahu, Joven.
Kenapa?
Aku tak ingin lupa kita sedang memperjuangkan sesuatu.
Hanya inikah yang kita lakukan?
Menari, berpesta?
Bercinta, goda wanita?
Beberapa bulan terakhir ini tenang,
tetapi aku tak ingin lupa.
Tak ingin pura-pura buta.
Jenderal Alejandrino tiba di Manila bersama 13 tawanan
yang ditukar untuk bertemu Otis dan MacArthur.
Bagi pasukan revolusioner, itu unjuk kebanggaan dan kegigihan.
Bagi Amerika, hanya pertukaran kecil.
Selamat datang di Oriente.
Kalian tamu Korps Ke-8.
Akomodasi sudah siap.
Anggap rumah sendiri.
Kenapa mereka menatap?
Apa kita salah busana?
Mereka terpesona, Jenderal.
Perang jadi kenangan mereka.
Sudah lama mereka tak melihat salah satu jenderal Aguinaldo.
Tak tahu revolusi?
Yang mereka tahu, perang sudah berakhir.
"Presidenku,
aku menentang pertemuan Alejandrino dan Otis."
Mari bersulang!
Pertama, aku ingin berterima kasih kepada Jenderal
karena membebaskan tentara Amerika yang kalian tawan.
"Jelas bahwa orang Amerika masih menganggap kita seperti dahulu."
Namun, aku tak bisa menerima surat dari Jenderal Aguinaldo ini.
Dia menandatanganinya sebagai Presiden Republik
dan itu tak ada...
Dia bilang tak bisa menerima surat Aguinaldo...
Aku hanya bisa mengakui Aguinaldo sebagai Panglima Tinggi
pasukan revolusioner kalian.
Berarti ada masalah.
Kami harus membawa kembali semua tahanan.
Kenapa begitu?
Kenapa lagi?
Presiden Aguinaldo hanya bisa ampuni tawanan sebagai Presiden,
bukan sebagai "Panglima Tinggi" seperti dinyatakan dalam Konstitusi kami.
Itu benar ada dalam Konstitusi?
Diam. Aku tak tahu.
Kapal-kapal Amerika melepaskan tembakan ke kota San Fabian.
Itu wilayah Tagunton?
Tagunton itu pemberani.
- Dia... - Sebaliknya, Jenderal.
Dia yang pertama kabur begitu lihat kapal datang.
Berengsek dia.
Para prajurit menyusul.
Mereka minum-minum di kota berikutnya.
"Dalam negosiasi ini,
delegasi dari setiap provinsi harus dilibatkan,
agar kehendak orang Filipina sepenuhnya terwakili."
Baiklah, secara resmi kuterima surat ini dengan sangat menyesal.
Langkah terbaik adalah semua orang Filipina menyerah sekarang.
Tak ada yang pernah mendengar kekejaman di Manila.
Kalian bisa menyerah sekarang,
dan berguna.
Kita harus memperkuat San Fabian
dan menghukum Tagunton.
Kita dengar dahulu dia.
Menjelaskan sikap pengecutnya?
Mayor, minumlah. Hari masih sore.
Kau adalah idolaku.
Kami semua dari Bulacan bangga padamu.
"Penting untuk mempertahankan kesan bahwa kita bersatu."
Kau memintaku menjadi pengkhianat dan menyerahkan harga diriku.
"Kita harus tegas dan lebih bijaksana."
Aku akan berkonsultasi dengan presidenku,
soal langkah yang bisa diambil guna meraih perdamaian.
Terserah katamu, Jenderal.
- Silakan, untuk semua kerepotanmu. - Tidak.
- Kami bisa mengurus ini... - Semuanya sudah diurus.
Suatu saat, mereka harus mengakui,
Amerika adalah hal terbaik untuk negara mereka.
Kau bisa terjemahkan ini, kalian tamu dari Korps AD Ke-8.
Keamanan kalian dijamin dalam batas Amerika selama 24 jam.
Setelah itu, kalian diharapkan pergi
atau akan ditangkap dan dipenjara.
"Aku masih menunggu konfirmasi resmimu
untuk posisiku di Mahkamah Agung.
Aku yakin bisa memimpin revolusi ke jalan yang benar.
Kapan kau akan umumkan?"
Kudengar di sini sangat kacau.
Entah denganmu, McClelland. Aku tak sabar untuk beraksi.
Kita lama terjebak di sini.
Ekspedisi berburu terbesar di Timur.
Baik, Pak!
- Kapan kita bergerak, Mayor? - Tak lama lagi. Sabar.
Tembak!
OKTOBER 1899
Ada sekitar 100 orang Amerika,
tak satu pun terluka.
Tembak!
- Berapa prajurit kita yang luka? - Lima belas, 20 tewas.
Kita tak bisa di sini lagi.
Penembak jitu mereka lebih baik. Lebih akurat.
- Keparat! - Berlindung!
Haruskah kita mundur?
Goyong!
Semua, siap!
Haruskah kukirim pasukan untuk jaga parit berikutnya?
Amerika belum maju.
Berikan kepada yang terluka.
Itu adalah pertempuran kecil.
Tak ada alasan bagi orang Amerika untuk maju.
"Banyak pria, wanita, dan anak-anak dibunuh oleh prajurit dari..."
"Tennessee."
Tennessee, Ya, Tuhan.
Maaf bawa kabar buruk dari Manila.
Aku ingin pergi ke Manila.
Kita dikontrak Jenderal Goyo.
Namaku dipertaruhkan.
Aku merasa tak berguna di sini.
Mau apa di Manila? Kau bukan prajurit.
Begitu kau menembakkan senjata, kau akan ditembak.
Lakukan saja pekerjaanmu.
Dengar, aku sudah bawakan ini untukmu.
Lalu kau?
Kau akan kembali ke klien Amerika-mu?
Apakah kau marah?
Kau tak akan berubah pikiran?
Pulang ke Bulacan saat Natal?
Dia hanya Poleng lainnya, Goyong.
Tak semua orang Amerika monster.
Ingat, ini adalah bisnis.
Joven, kau pintar, tetapi pengetahuan berbeda dengan kebijaksanaan.
Perhatikan sikap dan tindakan orang. Kau akan belajar banyak.
Aku tak belajar apa pun dari orang di sekitarku.
Maka belajarlah dari kesalahan mereka.
Kau marah kepadaku?
Aku sudah menunggu tanda darimu.
Kenapa aku, Goyo?
Banyak gadis akan jatuh cinta kepadamu hanya dengan satu tatapan.
Jangan bandingkan diri dengan gadis lain.
Kau berbeda.
Itu sebabnya aku tak bisa melepaskanmu.
- Kau pintar berkata-kata. - Aku bisa wujudkan dengan tindakan.
Kau mengatakan hal yang sama kepada gadis lain?
Kau benar-benar mencintaiku?
Kau tetap tak akan percaya ucapanku.
Lebih baik kalau kubuktikan diriku.
Benar.
Apakah kau gemetar?
Goyo, ada apa?
Tak ada apa-apa.
Menggonggonglah, Goyo! Menggonggong!
Kau mengerang dalam tidurmu.
Aku hampir mau membangunkanmu.
Hanya mimpi buruk.
Terima kasih.
Diam dan ikut kami.
Dia sudah gila.
Siapa lagi yang bisa kita ajak?
Cara perpisahan yang aneh.
Diam.
Sembunyi!
Sembunyi dari orang kita?
Diam.
Ayo. Seperti waktu kecil.
- Tetapi tak pernah tengah malam. - Cepat.
Ayo!
Yang terakhir tak bernyali!
Yang pertama berengsek!
Sial, dingin sekali!
- Itu membuatmu melek? - Ya.
Joven!
Lompatlah kemari!
Kalian saja.
Aku akan berjaga-jaga.
Jangan melihat. Kami telanjang.
Hanya guntur.
"Aku ingin buktikan bahwa kita tahu cara bertempur dengan mulia dan terhormat.
Tetapi aku mulai percaya bahwa mereka berhak menyebut kita anak-anak."
KAPTEN MANUEL QUEZON
Manuel, berdansalah sedikit. Kupinjamkan kekasihku.
Aku harus pergi besok pagi. Aku akan bertemu Jenderal Mascardo.
Lupakan tentang kakakku. Lagi pula kau favoritnya.
Orang Amerika memasuki kota!
Mari kita sambut mereka! Di mana pasukannya?
Kami, Mascardo, bernyali baja!
Berhenti!
Kubilang, berhenti!
Manuel! Ayo kita pergi!
"Karena sering kali, antusiasme kita memuncak,
dan hilang sama cepatnya.
Untuk setiap kejadian tak terduga,
kita bingung dan cepat melupakan tugas kita.
Kita lebih memilih kenyamanan daripada martabat.
Inilah mungkin tanda kekanakan kita."
Akan ada badai?
Apakah akan ada badai?
Hentikan itu!
Berhenti!
Kami bukan musuh!
Hei!
Dasar bodoh!
Maafkan kami.
Kami kira kalian mata-mata Spanyol.
Apakah kami terlihat seperti...
Juan?
Sepupu?
- Berengsek, kau hampir membunuh kami. - Maafkan aku, Sepupu.
Lihat ini. Ini Vicente.
Juga Goyong...
Goyong?
Goyong!
Jika kau melukai adikku...
Goyong!
Di sana!
Kemari.
Kukira kau tenggelam.
Aku akan mati.
Kau hidup, Goyong.
Aku akan mati!
Hei, tenanglah.
Kakak...
Jenderal Goyo!
Jenderal!
- Jenderal ada di sini? - Ada apa?
Jenderal diperintahkan untuk pergi ke Bayambang.
- Ada apa? - Orang Amerika.
Mereka menyerang dari berbagai arah.
Tarlac dikuasai.
San Fabian sudah menyerah.
Orang Amerika datang.
Astaga, kukira ini sudah berakhir.
Ikut dengan kami demi keselamatanmu.
Aku tak punya tujuan lain.
Carikan orang untuk bawa peralatan Joven.
Ya, Pak.
Ini dia, Goyong. Ini sudah dimulai.
Dolores.
- Punya bungkusan untuk ini? - Tidak.
Saputanganmu saja.
Aku akan ke dalam.
- Kau pergi ke Bulacan? - Aku harus pergi.
Ingatlah siapa dirimu.
Terima kasih, Joven.
- Jaga diri. - Kau juga.
Jenderal Goyo, ini dari adikku.
"Ayah,
hari yang kutakutkan telah tiba.
Kita menghabiskan lima bulan dengan kedamaian palsu.
Tak seorang pun mencurigai serangan Amerika sebesar ini.
Semua pahlawan kita, walau sangat dipuja oleh rakyat,
tak tahu bahaya yang bersembunyi di bawah kaki mereka.
Entah apa yang akan terjadi pada kita.
Tetapi satu hal yang kuyakini, kita tak butuh pahlawan.
Kita membutuhkan prajurit."
12 NOVEMBER 1899
- Apa yang terjadi? - Presiden dan Jenderal Goyo.
Kepung rumah ini.
Kepung rumah ini.
Apa maksudnya ini?
Mungkin memastikan kita tak berpaling dari mereka.
Karena Luna benar?
Haruskah kusambut mereka?
Ambilkan aku koran.
Silakan duduk, Tuan-tuan.
Amerika sudah menyerang Tarlac.
Pasukan besar mendarat di Teluk Lingayen,
satu pasukan lagi dari Selatan.
Kudengar itu pagi ini.
Kita harus mengubah strategi kita.
Menyebar di berbagai daerah
agar orang Amerika tak tahu harus kejar yang mana.
Sembunyi di gunung, taktik gerilya.
Aku sudah pernah dengar ini.
Keluargaku ada di Calasiao bersama para perwira lain.
Kita bertemu di sana dan menuju Santa Barbara bersama,
bergabung dengan semua pasukan.
Pergilah ke Mangatarem.
Jaga artileri di Pegunungan Cordillera.
Kami akan mencari Tinio. Pasukannya masih tangguh.
Goyo tahu harus apa.
Jenderal, kita harus bersatu.
Kau benar, Pak Presiden. Aku akan patuh.
Bagus.
Aku ingin bertanya.
Kau tahu aku setia pada perjuangan. Kita melawan musuh yang sama.
Di antara kita berdua saja, jenderal dengan jenderal.
Apa yang terjadi pada Luna?
Kita berjuang demi sesuatu,
karena semua keputusanku kuambil karena kebutuhan.
Tempatkan dirimu dalam posisiku dan pilih,
aku atau Luna?
"Kami pergi dari Calasiao menuju Santa Barbara,
di mana brigade dikumpulkan di bawah Jenderal dan Presiden
untuk berjalan jauh ke Utara."
Letnan Carrasco.
Kolonel Leyba.
Keluargamu baik?
Kita bagi kelompok menjadi dua agar bisa bergerak lebih cepat.
Kau akan memimpin garda depan,
termasuk Felicidad, Hilaria, dan aku.
Ini Brigade Joven.
Pimpin dengan baik.
Kita punya dokter?
Itu kami.
Dokter Villa.
Dokter Barcelona.
Juan, jaga Joven.
Jika dia celaka, Goyong marah.
Ya, Pak.
Ibu dan putraku akan pergi dengan penjaga belakang.
- Kau bawa putramu? - Aku tak bisa tinggalkan keluargaku.
Kau saja yang menunjuk perwira untuk garda belakang.
Pastikan saja putra dan ibuku selamat.
Kita hanya butuh satu pemandu.
Yang ini. Yang itu seperti mau menggigit.
Ya, dia mungkin akan tersandung ekornya.
Ruiz, Sabino, jaga sikap.
Pergi dari sini. Pergi.
- Apakah kalian prajurit Luna? - Ya, Pak.
Aku tak ingin ada masalah antara kami dan pasukan Luna.
Nyawa kita dipertaruhkan. Mengerti?
Ya, Jenderal!
Angkat senjata!
Istirahat di tempat!
Jangan khawatir, Joven.
Besok, kita akan bersama Jenderal Tinio di Pozzorubio.
Begitu pasukan Goyo dan Tinio bergabung, kita bisa melawan balik.
Hidup sang Elang!
Jalan!
Jalan!
Apa rencana Presiden?
Aku tak tahu lagi.
Ada harapan untuk menang?
Ini bukan soal kemenangan lagi, Ortiz.
Ini soal menyelamatkan harga diri yang tersisa.
TIGA MINGGU KEMUDIAN
"Ayah tercinta.
Tak ada hasil dari pertemuan antara Jenderal Tinio dan Presiden.
Saat kami mencapai Pozzorubio, kami harus segera lari,
karena kami dengar orang Amerika sudah sampai ke mereka."
Bersiap!
"Pasukan Goyo tak pernah bergabung dengan pasukan Tinio,
karena orang Amerika mengejar tanpa lelah."
Orang Amerika!
"Kami terus kehilangan prajurit dari garda belakang
dan akhirnya terpisah dari garda depan.
Sejak saat itu, kami telah bergerak dari satu kota ke kota berikutnya.
Sering kali tak ada makanan.
Pegunungan makin curam saat kami berusaha mengejar Presiden.
Aku tak tahu kapan aku bisa mengirim surat-surat ini kepada Ayah.
Tetapi andai Ayah temukan semua surat ini di mayatku,
jangan lupa bahwa aku menyayangi Ayah."
- Awas. - Pelan-pelan.
Berhenti!
Kita istirahat.
Tak mungkin bisa bawa Ny. Trinidad dalam kondisi seperti ini.
Kita akan bermalam di sini.
Biarkan para wanita lewat dahulu.
Kuda-kudanya!
Beri tahu mereka, nyawa mereka lebih berharga!
Hati-hati!
Jangan melihat ke bawah!
Terus bergerak!
Maju!
Hilaria!
- Nyonya Hilaria pingsan! - Air!
- Kita butuh air. - Yang ini kosong.
- Kubilang air! - Air!
Pengkhianat! Kalian membunuh Luna!
Kalau aku pengkhianat, kau mati!
Hentikan ini!
Berdiri!
Monyet itu kabur!
- Kejar dia! - Ada yang dengar?
- Kubilang, air! - Ambil air!
- Ka Miong, tak ada... - Potong bambu!
Ada air di dalamnya! Goyo!
Cepatlah!
- Pelan-pelan. - Apa?
Dia demam.
Ada makanan yang tersisa?
Sial. Kita sudah gerogoti tebu seminggu ini.
Hanya ini yang tersisa. Tak ada makanan lagi.
Hilaria, gigitlah.
Tolonglah, Bu. Segigit saja.
Dirikan kemah di sini.
Sedikit saja.
Kau perlu memulihkan kekuatanmu.
Itu kuda terakhir kita.
Agar bisa terus.
- Felicidad, makanlah. - Terima kasih.
Kakak, makanlah sesuatu.
Bagaimana kondisi Nyonya?
Dia belum makan apa pun,
tetapi dia tangguh.
Dia akan pulih.
Bagus.
Goyong,
kau sudah berubah.
Ada sedikit sup.
Di mana garda depan berada?
Concepcion berjarak satu hari perjalanan dari sini.
Mereka mungkin menunggu kita di sana.
Apa itu tadi?
Ke mana dia pergi?
Mereka di sini!
Berengsek!
Apa maksudmu aku berubah?
Saat ke Dagupan,
aku hampir tak bisa mengenalimu.
Goyong.
Kami dengar seperti suara tembakan.
Aku juga dengar.
Orang Amerika?
Mungkin hanya pohon bambu tertiup angin.
Tetapi...
Aku tahu suara tembakan, paham?
Aku juga tahu suara Amerika.
Aku belum berubah.
Apa maksudmu?
Aku ingat siapa kau.
Goyong yang kukenal, dia seorang prajurit.
Kau mau ke mana, Berengsek?
Kembali, Pengecut!
Prajurit! Aku butuh prajurit!
Jangan biarkan mereka lewat!
Prajurit!
- Joven, sedang apa kau di sini? - Nyonya Trinidad!
Cucuku!
Apa yang kalian lakukan? Bertempur! Jangan ciut!
Kalian berdua, jaga Ny. Trinidad.
Juan, aku bisa tangani ini.
Susul garda depan. Peringatkan Presiden. Pergilah.
Suara yang kau abaikan beberapa saat lalu,
itu suara tembakan.
- Penjaga belakang di sini? - Tidak.
Orang Amerika menangkap mereka.
Mereka menangkap ibu dan putraku.
Bangun, Semua!
Kita akan pergi.
"Kami berjalan beberapa hari tanpa makanan dan air
sampai di kota berikutnya.
Tetapi kami tak mendapatkan bantuan apa pun.
Seperti kota-kota lain yang kami lewati,
kami tak tahu apakah mereka akan menyambut kami atau lari."
Jadi, kau fotografer yang mereka ceritakan.
Berapa usiamu?
Sembilan belas.
Tak jauh dari usia Jenderal.
GUNUNG TIRAD, ILOCOS SUR
Joven.
Maafkan aku, kau terseret ke dalam ini.
Aku tahu ini tak ada dalam kontrakmu.
Jangan khawatir.
Kita aman di sisi gunung lainnya.
Terima kasih, Jenderal.
Dengan semua yang sudah kita lalui,
ranjangku yang keras di Dagupan sekarang terasa mewah.
"Goyo, kudengar dari Ayah,
orang Amerika menyerang dengan kekuatan penuh.
Aku yakin kau akan ditempatkan di satu tempat yang jauh dari sini.
Kuberikan kalung ini sebagai tanda kepercayaan sepenuh hati kepadamu.
Tetapi jangan menganggap kuterima lamaranmu.
Kau dianggap yang paling berani, paling patriotik,
dan paling heroik dari semua pahlawan.
Dalam hal itu, aku tak ragu.
Tetapi kalau kau ingin aku mencintaimu,
biarkan aku mencintai seorang pria yang bisa kupeluk.
Bukan seorang pahlawan yang bertengger di atas awan.
Aku ingin berbaring dalam pelukan seorang pria yang tahu batasnya,
karena sudah memenuhi tugasnya kepada negaranya.
Seorang pria yang sadar akan kefanaannya,
sehingga menyadari hal-hal penting dalam hidup.
Semoga pria itu adalah kau.
Akan kuserahkan hatiku kepada pria yang ada di dalam jenderal bocah itu.
Kumohon kepadamu untuk kembali setelah perang.
Sebagai pria yang bisa kucintai.
Pada hari itu, hatiku akan siap untukmu."
Kukira kau kehilangan akal sehatmu.
Lihat.
Seluruh lembah terlihat.
Ka Miong, aku punya rencana.
Selamat datang, Pak Presiden.
Ada makanan dan air untuk semua orang.
Terima kasih.
Terima kasih.
Cepat habiskan itu.
Aku tahu beberapa prajurit Luna masih dendam
kepada prajurit lain di sini.
Tetapi ini saatnya kita bersatu.
Aku butuh 60 orang untuk membuat parit di Celah Tirad
dan mempertahankannya.
Brigade Del Pilar, maju!
Ruiz, Sabino, jangan jadi pengecut.
Berdiri!
Pilat.
Bikong.
Juga kau, Paltik.
Batalion Ilocos Sur, maju!
Tak ada pemberani dari Ilocos Sur?
Kalian mendaki dan menderita bersama kami.
Tak ada yang berani bertempur?
Ada banyak pengecut.
Kolonel Enriquez!
Orang Ilocanos bukan pengecut!
Letnan Garcia.
- Aku tak tahu kau dari Cervantes. - Jenderal Goyo.
Tak menduga melihatmu di sini.
Kau mengajukan diri?
Itu tergantung.
Apa yang kita perjuangkan?
Nyawa kita.
Siapa ikut aku?
Satu lagi!
Ayah!
Kita sudah lengkap.
Ini terakhir.
Berikan kepadaku.
Bersiaplah.
Jangan bergerak.
Taruh batu lebih besar di sini.
Buat lebih kukuh.
- Ka Enteng. - Terima kasih.
Terima kasih sudah setuju untuk saksikan ritual oleh tetangga kami ini.
Aku kaget kau akrab dengan mereka.
Semua suku biasanya saling berperang.
Kami hidup berdampingan karena kami membantu suku ini melawan musuh mereka.
Apa itu tadi?
Kudengar sesuatu jatuh.
Kirim pesan kepada Presiden.
Orang Amerika ada di Concepcion.
Presiden akan bangga padamu.
Aku tak yakin apa kau masih marah pada Presiden.
Aku tetap prajurit, Jenderal.
Aku tak akan pernah menolak untuk membela negara ini.
Kalau Aguinaldo jatuh, yang lain akan bangkit.
Tetapi ini...
takkan pernah tergantikan.
Tak boleh ada lagi keraguan saat kita berdiri di sini.
Dua pertanyaan layak dijawab.
Pertama.
Kalian mencintai negara ini?
Ya, Jenderal!
Kalau begitu, terimalah nasib apa pun yang akan menimpa kita demi cinta ini.
Tak ada pahlawan di gunung ini.
Kita adalah prajurit yang penuh dengan cinta,
bukan benci.
Posisi kita kuat.
Orang Amerika hanya bisa melewatinya dengan melangkahi mayatku.
Pertanyaan kedua adalah...
Apa kalian ingin mati lari seperti pengecut,
atau mati berjuang?
Mati berjuang!
Semoga kita jujur dengan ucapan kita.
1 DESEMBER 1899 CELAH TIRAD
Saat pertempuran,
bisa kau jaga Kiko untukku?
Bawa dia ke Angake.
Carilah Paman Eduardo.
Ya, Letnan. Kau bisa mengandalkanku.
Terima kasih.
Hati-hati, Ayah.
Kau juga tak bisa tidur?
TAK ADA PENGORBANAN YANG LEBIH BESAR
- Sana. - Jumpa di pengintaian.
Pak.
Semua jejak mengarah ke atas.
Baiklah.
Kami bawa Kompi E dahulu.
Jangan bawa lebih dari 140 peluru.
Ya, Pak.
MAYOR PEYTON C MARCH RESIMEN INFANTRI RELAWAN KE-33
Berapa lama kalau ikuti jejak ini?
Dua, tiga jam, Pak? Tetapi kita sudah periksa semalam.
Kami tak melihat...
Tiarap!
Berlindung!
Dari mana asal tembakan?
Sial! Ya, Tuhan!
Bawa dia dari sini.
Kuli!
Lebih cepat. Ayo.
Simmons, lihat bebatuan di depan itu?
Kau lari ke sana.
Kami melindungimu.
- Dengan aba-abaku. - Ya, Pak.
Siap?
- Lari! - Tembak!
Tahan tembakan!
Kau lihat sesuatu?
Sial! Jangan ada yang bergerak!
Tundukkan kepalamu, Pak.
McClelland!
Dengar, kalian berdua kembali ke desa.
Separuh Kompi C.
Ke balik gubuk itu.
Cari jalan mengitari jalan setapak ini.
Ya, Pak.
Ayo.
Lebih cepat tanpa ini.
Kompi C! Bersiap!
Jangan khawatir. Itu hanya intimidasi.
Kita di luar jangkauan di pondok.
Ayo, cepat!
Berlindung, cepatlah! Ke belakang pondok!
Ayo! Bergegas!
Pak, lihat pos di sana?
- Itu dekat, Letnan. - Biarkan mereka mendekat.
Hei, Daclan!
Katanya kau bisa bahasa Inggris?
Panggil mereka!
Kemari!
Kemari! Amerika, kemari!
Kemari! Amerika, kemari!
Sial.
Katamu kita di luar jangkauan?
- Lihat jalan itu? - Ya.
Bawa semuanya ke sana.
- Mengitari bukit ini. Ayo! - Baik, Pak.
Prajurit, bersiap!
Cepat! Lewat jalan setapak itu!
- Ayo! Tundukkan kepala kalian! - Maju!
Pergi ke Mayor.
Letnan.
Aku saja. Awasi mereka.
Beri tahu kalau ada pasukan lainnya.
Ayo!
Posisi!
Posisi! Cepat!
Mereka menemukan jalan.
Simmons!
Bagaimana?
Aku butuh beberapa kompi, Pak.
Sial.
Itu dia. Itu paritnya.
Kita selidiki jalan ini.
Batu itu jadi perlindungan.
Lindungi McClelland.
Snyder, Sullivan! Maju!
Siap.
- Maju. - Ayo!
Ayo, Bung. Ayo.
Berlindung!
Apa yang kau lihat?
Aku melihat...
Ini menuju ke parit,
tetapi jauh di atas.
Ada perlindungan?
Hampir tak ada batu dan pepohonan.
Seratus meter, mungkin lebih.
Ya, Tuhan! Kita akan coba ke sana?
Jenkinson!
Ya, Pak!
Bidikanmu bagus?
Tidak dari sini, Pak.
Tetapi ada jalan mengarah ke parit.
Menurutku kita coba ke sana.
Kita berada dalam posisi terjepit.
Tompkins!
Ya, Pak!
Meleset.
Telapak tanganmu berkeringat.
Mayor punya rencana.
Amerika sudah maju sedikit.
Mereka sulit mencapai jalan itu.
Kirim lima orang ke Garcia.
Lima orang!
Ke Garcia!
- Guerrero. - Jenderal.
Ini saatnya, Teman-teman. Ikuti aba-abaku.
Satu, dua, tiga...
Maju!
Berhenti!
Tenang!
Kapten, ada parit yang lainnya!
Jalan terus!
Kalian tinggal. Lindungi kami.
Baik. Ayo, Teman-teman!
Tetap merunduk!
Bersiap.
Terus bergerak!
Hati-hati dengan parit kedua. Di kanan!
Tundukkan kepala!
Aku butuh senapan!
Lewat sini!
- Menunduk! - Ayo!
Maju! Ayo!
Tompkins! Menunduk! Diam di tempat!
Merunduk! Cepat!
Maju!
Berhenti!
Hidup Republik!
Hidup!
Hidup!
- Hidup! - Hidup!
- Hidup! - Hidup!
- Hidup! - Hidup!
Mayor, ini tak akan berhasil. Ini lintasan tembakan.
Orang-orang itu bisa memandang seluruh gunung ini.
Tompkins, kau masih hidup?
Kurasa begitu, Pak.
Diam di sana! Kami turun!
Aku butuh empat orang.
Lindungi kami.
Mereka mundur.
Belum.
Mereka mencoba taktik berbeda.
Biarkan mereka datang.
- Di mana pemandunya? - Galut!
Sekarang dengarkan.
Kita butuh penembak jitu dari Kompi H
untuk merebut gunung ini.
Apa yang mereka rencanakan?
Aku tak tahu.
Tetapi saat tengah hari tiba, mereka akan letih.
Tak biasa dengan iklim kita.
Ayo kita ke puncak.
Ikut dengan kami.
Penembak jitu Kompi H!
Aduh!
Daclan tertembak?
Tidak.
Zakarnya digigit semut.
Kukira kenapa dia.
Ini jalan ke atas.
Ayo kita makan.
- Aku minta lebih banyak. - Air.
Terima kasih.
Itu sempurna sekarang.
MINUM BIR PABST
Kami ambil satu.
Bawa ke Jenkinson dan yang terluka.
Ya, Pak.
Paritnya kuat.
Terima kasih.
Kita tak akan di sini sampai Natal, bukan?
Aku ingin pulang ke Bulacan.
Kenapa?
Kalau kau bertemu kakakku...
Mayor!
Mereka berhasil sampai ke puncak!
Itu sinyalnya.
Senjataku!
Peleton Tiga, ikuti aku kemari. Ayo! Menunduk!
Tetap menunduk, Semua!
Maju! Cepat! Ayo!
- Musuh muncul? - Aku tak bisa lihat, Kapten.
Tahan!
- Ayo! - Musuh!
Bergerak!
Serang!
Pergi ke Angake! Sekarang!
Lewat sini.
Terus berjuang! Jangan takut!
Berapa di sana?
Tak tahu. Mereka sembunyi di atas bukit.
Jangan bergerak.
Tunggu!
Ayo!
- Terus berjuang! - Sobat!
Bikong, lari!
- Bikong! - Jangan ke sana!
Aku menyerah!
Tahan!
Tembak!
Tahan!
- Mereka dekat! - Hemat peluru!
Sekarang!
Pertahankan posisi!
Berhenti!
Jangan melangkah lagi!
Ayo, cepat!
Cepat!
Goyong, parit pertama sudah tak ada.
Kelompok Juan di parit kedua.
Prajurit kita habis.
Menunduk!
Masih bisa tempur?
Tentu saja.
- Carrasco. - Ya, Jenderal.
Akan kulihat berapa orang Amerika menunggu di bawah.
Guerrero, ikut kami. Mereka mungkin membutuhkanmu.
Ayo!
Tunggu di sini.
Jenderal!
Jenderal!
- Ayo kita pergi, Teman-teman. - Ayo!
Mana Jenkinson?
Dia di atas sana.
Mereka maju, Kapten!
Jangan menyerah! Berjuang!
Jenderal!
Tundukkan kepalamu.
Kurasa orang Amerika bisa melihatmu.
Mana senapanku?
Kita tuntaskan ini.
Jenderal!
Ayo kita pergi!
- Jenderal! - Letnan, ayo kita pergi!
- Dia bilang "Jenderal"? - Aku mengenainya.
Jenderal sudah mati!
Jenderal sudah mati!
Goyo sudah mati.
Kami menembak Jenderal mereka.
Goyo sudah mati!
- Tunggu. - Jenderal mati.
Pertempuran usai!
Mau ke mana, Pengecut?
- Mereka kabur. - Maju, Teman-teman!
Berengsek!
Jangan ke sana! Itu tebing!
Hei!
Ayo pergi!
Berengsek! Kalau lari, kalian mati!
Ayo kita pergi!
Jenderal, kita harus pergi.
Semua ini sia-sia.
Jose!
Untuk Mabini.
DAN PRESIDEN MENGATAKAN, "AKU ATAU LUNA?"
Sudah berulang kali kukatakan kepada Pak Aguinaldo,
penyelamatnya hanyalah kematian terhormat dalam pertempuran.
Reputasinya akan dia raih kembali dengan aksi kepahlawanan itu
dan akan memuliakan saudara sebangsanya
seperti dilakukan Dr. Jose Rizal.
Namun saranku tak didengar.
Aku ingin buktikan bahwa kita tahu cara bertempur
dengan mulia dan terhormat.
Tetapi aku mulai percaya
bahwa mereka berhak menyebut kita anak-anak.
Jaga dirimu.
Jangan menyerah.
Tak akan pernah terjadi.
Ketika seseorang berpangkat rendah melakukan satu perbuatan baik,
kita bisa anggap itu mulia.
Tetapi jika orang berpangkat tinggi hanya pernah melakukan satu perbuatan baik
itu namanya kelalaian.
Di mana dia dikuburkan?
Tanya Kolonel apakah itu kekasih sang Jenderal.
Hei.
Apakah itu kekasih sang Jenderal?
Dia tinggal di Dagupan.
Kekasihnya tinggal di Dagupan.
Revolusi gagal karena dipimpin dengan buruk.
Bukannya mendukung mereka yang benar-benar mengabdi pada negara,
Aguinaldo sia-siakan.
Aguinaldo tak menghargai kemampuan dan cinta kepada bangsa,
tetapi kesetiaan rakyat kepadanya.
Hentikan itu! Kalian membuang-buang peluru!
23 MARET 1901
Karena dia mengabaikan rakyat,
rakyat meninggalkannya,
dan dia jatuh seperti patung yang tak berharga.
Apa kabar, Pak?
Baik.
Jenderal Mascardo suruh aku menyerah pada Amerika
hanya untuk menemuimu.
Dia ingin tahu apakah harus melanjutkan pertempuran.
Aku membaca pernyataan Mabini...
Aku akan menjawab Pak Mabini di saat yang tepat.
Kurasa aku tak berhak untuk menyarankan Mascardo.
Aku berjanji setia pada bendera Amerika.
Itu terserah Mascardo sekarang.
Sampaikan salamku padanya.
Semoga Tuhan besertamu,
Pak Presiden.
ISTANA MALACAรAN
"Remedios-ku tersayang,
aku kembali kepadamu sebagai panutan yang ideal,
sebagai pria yang memilih hal terpenting
di masa yang kelam ini.
Kehormatan, tugas, pengorbanan.
Kematianku tak akan sia-sia, karena aku mati menghormati negaraku
dan yang terpenting, kau.
Aku tak akan pernah menjadi pahlawan yang terbang tinggi di atas awan,
jauh dan tak bisa dijangkau,
selama kau menempatkanku dekat di hatimu.
Di dalam hatimu aku tetap hidup
dan layak mendapatkan cintamu.
Hormatku, Gregorio."
Bagus. Kau masih hidup.
Halo, Joven?
SEBAGAI PRESIDEN
Kita apakan mereka?
Biarkan mereka.
Quezon!
QUEZON SEBAGAI PRESIDEN
Terjemahan subtitle oleh Wienda Sari Wihanda
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.