Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
The Bros Penerjemah: Mong_Ji
For more subtitle visit us at IDFL.me :)
Wah, pagi-pagi sudah mulai kerja!
- Hei, Mi-Bong! - Hei.
Kau pasti sibuk, kenapa kemari?
- Bagaimana pemakamannya? - Segera selesai.
Kurasa aku harus menelpon ke Seoul.
Apa ayahmu mengizinkannya?
- Hati-hati! - Awas!
Dasar. Bisa rusak tahu!
- Apa kau tahu nomor telpon mereka? - Tidak tahu.
Tak ada yang tahu. Mereka memutuskan hubungan setelah apa yang mereka perbuat.
Apa yang kalian lakukan pada makam orang lain?
Selama era Kekaisaran Korea, seorang pejuang patriotik
menyumbangkan perhiasan emas keluarganya ke dalam gerakan kemerdekaan.
Tapi saat mengangkut mereka, ia ditikam oleh tentara Jepang.
Bahkan saat dia meninggal, dia tak tahu di mana dia menyembunyikannya,
bahkan pada anaknya sendiri.
Karena hal itu, 2 patung emas budha yang masing-masing bernilai 5 milyar won,
masih terkubur di suatu tempat.
Dimanakah itu?
Di Anju, Pyeongan Selatan.
Menurut kalian kenapa nenek moyang kita terus berkata ingin penyatuan?
Lupakan soal pertukaran politik atau ekonomi.
Harta karun inilah yang lebih penting.
Inilah yang dinamakan patriotisme.
Kurasa ajaranku membuat kalian tersentuh.
Jangan begitu. Itu memalukan.
Ada pertanyaan?
Oke, maju.
Tunggu sebentar.
Produk Anda telah dibersihkan bea cukai.
Bapak harus pergi. Kalau ada pertanyaan,
lihat saja Era Kolonial Jepang milik Seol Min Seok.
Semoga hari kalian menyenangkan.
Ini adalah pembangunan besar-besaran,
membutuhkan 37 terowongan antara Seoul dan Andong.
Karena sebagian runtuh,
ada terlalu banyak biaya tambahan.
Ini adalah wilayah yang sulit untuk mulai membangun jalan raya.
Jika konstruksi selesai seperti yang direncanakan,
kerugian tambahan sebesar 300 miliar won telah diperhitungkan.
Jadi, jika kita membuat jalan baru di sekitar milik pribadi ini,
di Gunung Cheondeung,
kita bisa memenuhi tenggat waktu,
dan mengurangi biaya hingga 50 miliar won.
Yah, lumayan.
Kenapa kita harus memutar?
Maaf?
Kenapa kita harus mengitari bukit itu?
Properti pribadi itu.
Kita tidak bisa berkembang disana.
Kenapa? Apa tempatnya menyeramkan?
Akan lebih mudah menempatkan jalanan,
lewat Istana Gyeongbokgung.
Pak, saya sudah meninjaunya.
Apa?
Putar milikku.
Mereka mengatakan jika kita membagi gunung Cheondeung lewat tengah,
kita akan memotong waktu pembangunan selama sebulan,
dan biaya 100 milyar won.
Saya belum paham betul, karena masih pemula,
tapi jika kau melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian bukankah itu namanya malpraktek?
Penggelapan?
Lasernya bekerja.
Pak, saya sudah memeriksanya bersama Tn. Lee,
dan jika kita mengambil rute itu, kita akan menabrak properti keluarga orang lain...
Siapa peduli dengan keluarga orang lain?
- Tn. Lee. - Ya, Pak?
Apa yang dikatakan Tn. Ko benar?
Jika tak bisa jelaskan, kau akan dipecat.
Apa Dosen Han masuk?
Katakan padanya peralatan sudah tiba. Jangan lupa.
Ini penting. Baik. Terima kasih.
Apa kau kena masalah lagi?
- Akhirnya. - Hey!
- Apa? - Kenapa beli peralatan?
Ya, cuma sedikit kok.
Kau tak punya rumah jadi menyimpan barangmu di dalam loker.
Peralatannya sudah datang.
Apa benar itu harta dari Myanmar?
Sudah pasti. Departemen Arkeologi yang membawanya.
Apa kau tahu berapa banyak utang...
- Hey. - Tetap saja,
kurasa dia akan jadi yang paling sukses di antara kita. Dia punya mimpi.
Jangan lupakan kami kalau sudah jadi orang besar.
Dia punya mimpi, tapi tak ada yang jadi nyata.
Kenapa kau menghabiskan banyak uang buat beli peralatan?
Jika kau menghabiskan uang 100 juta won untuk peralatan,
dan mencuri 2 juta, bagaimana bisa?
Hey, kita akan mencari harta karun,
dan memajangnya di museum seluruh dunia.
Lalu namaku akan tertera sebagai penyumbang.
Itu adalah kehormatan besar untuk keluargaku.
Dan juga dibayar dengan layak.
Hey.
Apa?
Perang sipil di Myanmar.
Myanmar apa?
- Dimana kau akan memakai peralatannya sekarang? - Apa?
Hey! Apa...
Profesor Han, kau bilang akan menjaminnya.
Kenapa kau bisa tidak tahu ada perang?
Itu kubeli hasil pinjaman.
Bagaimana ini? Aku tak bisa mengembalikannya.
Tunggu sebentar.
Lee Chun Bae dari keluarga Geosan telah berpulang.
Pemakaman: Rumah Geosan di Anmak, Andong.
Kenapa waktunya sekarang?
Aku bisa gila.
Jadi? Bagaimana?
Apa maksudmu 30 juta won?
Aku membelinya 100 juta won. Bagaimana bisa kuberikan 30 juta?
Aku bahkan belum membukanya.
Tidak, kujual karena rusak.
GPR nya...
Akan kubuat surat permintaan maaf tertulis, tidak perlu lakukan investigasi.
Malpraktek? Penggelapan?
Kenapa kau membicarakannya?
Pecat saja aku.
Tidak, bukan begitu. Aku sungguh harus pergi.
Bukan begitu. Halo?
Kenapa lakukan ini padaku?
Aku belum pernah bertemu denganmu. Dari mana asalmu?
Ini adalah kampung halamanku.
Lihatnya ke depan saja.
Apa sih?
Apa yang terjadi?
Si Kampret itu.
Aku tak begitu tertarik, tapi kau harus sukses.
Diam saja seperti biasanya. Rasanya nyaman dan canggung.
Dasar kunyuk.
Jangan mengumpat di mobilku. Terdengar kasar.
Aduh, Si Kampret ini kasar sekali.
Jangan hidup begitu karena punya tampang.
Paham?
Konfirmasi pembayaran untuk pinjaman 100 juta sesuai jadwal.
Sial.
Apa kau pernah datang ke rumah Andong?
Kenapa?
Kurasa kau pernah, ya?
Tentu, jika ada barang yang menarik dari mereka.
Lidahmu sangat tajam. Sama seperti ayahmu.
Kau yang seperti ayahmu.
Kepala babi dan tidak tahu malu.
Hey. Awas kau!
Apa Ayahmu mengajarimu memperlakukan Hyungmu begitu?
Apa ayahmu mengajarimu untuk mengambil tanpa mengembalikan, Nyuk?
Hey! Sakit, bego!
Kunyuk? Jangan merendahkanku!
Aku sudah kesal soal rontok rambut.
Hentikan!
Kita barusan menabrak sesuatu, 'kan?
- Benar? - Aku tak yakin.
Ah, sial.
Sialan.
- Oh, tidak. - Apa-apaan ini?
Hey.
Aku yakin kita menabrak sesuatu.
Permisi!
Apa ada orang?
Kau bukan orang, ya?
Pasti hewan. Ayo pergi.
Kau bercanda? Ayo cari!
Menurutmu terpental sejauh itu?
Kenapa kau ganggu aku saat mengemudi?
Itu cuma burung pegar, goblok.
Serius, kuharap tadi bukan orang.
Kita menabrak sesuatu...
Hey, kenapa?
Kenapa, Kunyuk? Kau menakutiku.
Itu orang. Orang!
Orang!
Oh, tidak.
Tutupi dia.
Aku tak bisa bergerak.
- Halo? - Ini 119. Apa ada hal darurat?
Ya, kami berada di rute 5.
Kurasa kami menabrak orang.
- Cepatlah datang. - Tidak!
Bukan begitu. Kami tak tahu,
apakah kami menabraknya atau dia cuma berbaring di sana.
Siapa orang yang tiduran di sana? Dasar goblok.
- Bagaimana ini? - Tapi...
Ada seekor babi hutan yang terlepas, semua orang kesana.
Saya akan kesana sendiri sekarang.
Itu adalah menyalahi aturan. Ngapain semua orang kesana?
Di sini ada babi hutan dan burung pegar juga.
Banyak hewan di sini! Segera kemari!
Kami butuh seseorang untuk menjawab panggilan.
Kisa Anda membawa pasien ke rumah sakit terdekat?
Ngomong apa sih? Katanya bawa dia.
- Siapa? Dia? - Iya.
Ayo!
Ayo bawa dia!
Kupegangi.
Kenapa di sana? Di situ!
Kakinya! Dasar!
Buka pintunya.
Pegang.
Sial!
- Maaf! Maaf!' - Tidak.
- Kepalanya. - Oke.
- Ini. - Hati-hati.
- Tidak. - Cepat jalan.
- Oke. - Maaf.
Kepalamu. Sial. Pala...
- Dia masih hidup, 'kan? - Jangan sebar-sebar nasib sial!
- Dia bangun! - Bangun!
- Hentikan mobilnya! - Sip!
Permisi. Kau baik-baik saja?
Duh, kepalaku...
Maaf?
Kepalaku...
Kepalaku...
Tempat tidur?
Kepala.
- Kepala, goblok! - Oh, iya.
Sakit sekali.
Mau sisir?
- Katanya sakit, bego! - Oh, sakit?
Cepatlah...
- Menggali? - Cepat jalan.
Katanya cepat jalan!
Oke, ayo cepat jalan!
Buruan, jalan.
Terima kasih.
Terima kasih masih hidup.
Bisa lebih cepat?
Kenapa tak ada rumah sakit?
Ini kota kecil.
Kalian tinggal di sini?
Tidak. Ini kampung halaman kami.
- Kampung halaman. - Benar.
Kampung halaman.
Rasanya hangat dan kabur saat mendengarnya.
Aku ini gadis dari Seoul.
Mau diturunkan di mana?
Entahlah.
Aku tak ingat.
Bawa saja aku sejauh mungkin.
Aku yakin akan ingat kalau jalan mengitari kota,
karena ini pedesaan.
Tidak, Andong lebih besar dari perkiraanmu.
Lebih sulit mencari saat berjalan kaki.
Kenapa tiba-tiba tertawa?
Tidak, cuma...
Rasanya aku terlalu jelas terlihat sebagai gadis Seoul.
Duh, panas.
Pasti kepalamu terbentur keras sekali.
Pergilah ke rumah sakit,
- dan... - Tidak. aku lebih tahu tubuhku.
Aroma pedesaan.
Tapi apa kau tahu,
apa benar kalau kubilang bau kandang itu menyenangkan?
Maksudku, aroma bunga dan makanan memang enak.
Tak ada orang BAB bilang,
"Wah, wanginya enak."
- Dia aneh. - Kau yang menabraknya.
Kita yang menabraknya.
Kalau begitu masak saja eek dan memakannya.
Permisi!
Apaan...
Tolong hubungi kami jika kelak ada luka.
Katanya tak apa-apa.
Hentikan.
Kau pakai jubah berkabung.
Sinting ya? Kau 'kan cucu pertama.
Ogah. Tidak akan. Jubahnya tidak muat pula.
Aku lebih benci. Aku muak dengan peringatan kematian dan jubah berkabung.
Jangan menginjakkan kaki kalian di Andong lagi!
Jangan kemari meski aku mati.
Bagaimana kau bisa melakukan pemakaman tanpa anak-anaknya?
Ibuku hidup bak pelayan di keluarga ini.
Lalu dia meninggal!
Ayah, kenapa...
Kaulah yang tidak mengangkat telpon. Beraninya kau?
Siapa yang menelpon?
Kami tidak mendapat telpon!
Meski kalian terburu-buru, apa yang kalian pakai itu?
Ibu meninggal karena Ayah.
Ibu terkena kangker karena Ayah membuatnya menderita!
Ayah tak pernah sekalipun membawanya ke rumah sakit! Apa uang begitu penting?
Katakan sesuatu!
Kau ini...
Sialan. Ayah!
- Astaga. - Apa-apaan ini?
- Kenapa si kunyuk ini... - Anak nakal!
Hentikan!
Bagaimana ini?
Dasar...
Semuanya, merunduk!
Ayah.
SEDANG ADA PEMAKAMAN
Astaga. Lihat siapa ini.
Si cucu pertama.
Bagaimana kabarmu?
Yah. selain kematian dalam keluarga.
Apa kalian pacaran?
RUMAH GEOSAN
Formalitas saja dan segera pergi.
HARI PERTAMA PEMAKAMAN
Mi Bong, melihatmu membuatku terkejut.
Bagaimana bisa kau menembakku?
Barang punya ibu ada di sini.
Pakailah jubah berkabung dengan tulus,
ungkapkan cinta bakti pada ayahnya.
Jadi, sekalipun ini rumit,
Kenapa kunyuk ini!
Siapa yang pakai ini sekarang?
Kau tahu bagaimana keluarga kita.
Sebuah simbol Konfusianisme berdasarkan aturan ritual keluarga.
Setelah pemakaman selesai,
kami akan bilang kalian pindah ke Uzbekistan atau kemanalah.
dan menjadikan orang lain sebagai putra pertama,
kalian lakukan saja bagian kalian dalam acara berkabung ini,
- dan tetap diam... - Jangan bicara lagi.
Kami akan mengawasi. Lakukan yang benar!
Suara wanita tak boleh terdengar keluar saat acara berkabung.
Sudah sepantasnya kalian berduka atas kehilangan orang tua,
tapi mempunyai anak-anak yang belum dewasa sudah takdir kami,
pastikan saja kalian tidak mempermalukan keluarga.
Berperilaku baik dan mengikuti etika. Kalian bisa melakukannya, 'kan?
- Apa? - Ayah mereka,
tidak hidup untuk melihat mereka menjadi anak yang baik.
Mereka itu tong kosong nyaring bunyinya.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada kalian,
Halo?
Ya. Tidak, aku tidak sedang melakukan hal penting. Cuma omong kosong.
Ibu, tolong cicipi kaldunya.
Lihat saja resepnya di internet untuk selera Andong.
Hyung-nim. [Kakak ipar]
Dapurnya terasa berbeda setelah kepergian menantu pertama.
Dia berhenti masak di dapur di hari terakhirnya.
Dia meninggal dengan diperlakukan tidak layak,
dan tidak menyiapkan acara peringatan.
Blendernya di mana ya?
Kau selau bekerja tanpa melihat.
Tutupnya di sana. Jadi di mana badannya?
Masa jalan sendiri? Pasti di situ.
Dia baru menikah, jadi pasti tidak tahu.
Jangan tertawa saat keluarga sedang berkabung.
Astaga.
Berikan padaku. Aku yang belikan ini untuk ibuku saat ulang tahunnya.
Hadiah ulang tahun, jidatmu.
Berikan padaku sendok kayunya juga.
Kami tak punya itu.
Mau aku carikan lagi?
Bagaimana ibunya membesarkan dia seperti itu?
Biar kukatakan padamu soal papan ini sekali lagi.
Ini terlalu terpajang di setiap pameran nasional,
serta di Perancis. Ini sampai ke Prancis.
Ini adalah karya seni yang diakui di seluruh dunia.
Ini dari Perancis?
Lalu berapa harganya?
- Aku tak tahu soal itu... - Ah, sial.
Apa ada lagi?
Misalnya?
Tahulah, sesuatu yang bernilai.
Kami tak punya yang begitu.
Kenapa ruang belajarnya selalu terkunci?
Ruang belajar?
- Ruang itu... - Hey, kenapa ini...
- Apa? Ngapain? - Kenapa kau memasukkanya lagi?
Aku memasukannya karena sakit kalau dipegang terus.
Hei Nyuk, bagaimanapun ini adalah upacara pemakaman ayahku.
Menurutmu aku akan mencuri dari sana lalu melarikan diri?
Kau tak bisa membodohiku.
- Aku ini polisi. - Lupakan!
- Aku cuma mau pegang. - Ini berat, tahu!
Kau tak bisa lakukan ini padaku.
- Kau menyakiti perasaanku. - Kenapa tidak?
Aku selalu membelikanmu es krim dan menjagamu saat kecil, masa gak ingat?
- Es krim 'kan murah harganya, waduh... - Aku akan mencuri uang dari ayahku...
Apa ada sesuatu yang baru?
Ya, benda ini paling tinggi nilainya.
Ini asli?
Ya, tapi ada retakannya.
Kenapa repot-repot ngomong?
Katanya kau tanya barang baru.
Ini apa?
- Apa ini koin dari dinasti Joseon? - Ya, itu warisan budaya.
- Kenapa benda berharga ada di sini? - Cuma pajangan.
Yang asli sudah dikirim ke Pusat Kemajuan Studi.
Ngapain dipajang di sini?
- Mana aku tahu. - Tak ada yang berguna.
Apa maksudmu? Semua yang ada di sini berharga.
Tunggu dulu. Ini...
Kaligrafi ini buatan Seok-bong Han...
Bagaimana kau tahu? Ini buatan Seok-bong Han...
- Benar 'kan? - Ya.
Aku langsung tahu ini buatan Seok-bong Han.
Nenek moyang kita Geo-san Lee,
yang belajar langsung dari Seok-bong Han, menulisnya sendiri.
Benar.
Dia belajar darinya?
Tapi tampak sama.
Tidak ada yang layak.
Semua ini berharga.
Ini apa? Papan cuci?
Kalau mencuci di sana, rambutmu akan rontok.
- Itu apa? - Balok kayu.
Itu adalah catatan nenek moyang kita yang ditinggalkan untuk keturunan mereka.
Mereka mengukir kata-kata ini per huruf.
Mereka bisa menulis di mana saja. Kenapa sudah-susah...
- Balok kayu itu. - Eh, kaget aku!
adalah sejarah keluarga kita.
dan yang menghubungkan antara masa lampau dan masa depan.
- Ya. - Itulah bagaimana,
darah suci mengalir di tubuhmu.
Ya.
- Berapa harganya benda itu? - Apa katamu?
Tidak ada. Aku cuma penasaran dengan nilai jualnya.
Si Kampret!
Kau itu Kampret tak tahu malu!
Kalau terus begitu, kau akan sendirian di muka bumi.
Anak tidak tahu diri!
Kau bedebah...
Aduduh.
Jangan makan di sini, Nyuk!
Astaga.
Ya, Hati-hati.
Dia bilang apa tadi? Coba jelaskan.
"Kau mau mati, Nyuk?"
Oh, gitu.
Apa itu?
Berapa ya harganya?
Mau itu papan atau vas, pokoknya bagi dua.
Apa yang aneh dengan pusaka keluarga?
Iya, kau.
Hei, Nyuk. Aku ini korban juga dalam keluarga.
Apa kau sulit membedakan antara "Penerima" dan "Korban"?
Mereka menolong saat kau kena tipu. atau dikejar hutang.
Saat kau merampas uang sekolahku ke luar negeri...
Benarkah?
Tampaknya kau tidak tahu,
Kau mau sekolah ke luar negeri?
Kau memukulku saat mau masuk kuliah di percobaan pertamaku,
saat percobaanmu sampai empat kali, dan akhirnya aku berada di UGD.
Siapa?
Aku?
Kau mengambil uang pernikahanku, jadi aku harus membatalkan pernikahannya.
Ayo bilang kau tak ingat itu juga, kenapa?
Pernikahanmu batal?
Apa kau mendengarnya? masa tidak ingat?
Hey, kalau mau putus hubungan karena uang,
sebaiknya memang berakhir.
Baguslah.
Apa itu sebuah pujian?
Pergilah setelah acara duka. Biar kuurus semua di sini.
Semua hal yang kau anggap benar,
telah menghancurkan hidupku!
Hei kunyuk. Bagaimana bisa aku menghancurkan hidupmu?
Kau punya mobil bagus dan rumah.
Kenapa merasa hidupmu itu pahit?
Sejak kecil, kau selalu...
- Si Kupret. - Halo?
Sudah kubilang akan kuurus sesampainya aku di Seoul.
- Kenapa kau... - Apa yang kau lakukan padaku?
- Halo? - Aku orang yang kau tabrak dengan mobil.
Oh, ya, baik.
Apa kau baik-baik saja?
Apa ada yang luka?
- Panas sekali, - Cewek itu?
dan aku tak bisa ingat apapun!
- Bicaralah... - Berikan padaku.
Dengar. Sudah kami bilang kau harusnya pergi ke rumah sakit.
Kami tak tahu apakah itu karena kecelakaan mobil!
Ayo tanggung jawab!
Apa?
Apa yang terjadi? Kenapa lampunya padam?
Siapa itu?
Keluarlah. Ayo!
Keluar!
Kami tidak tertarik
Tidak.
Apaan...
Siapa kau?
Keluarga ini harusnya memperlakukan leluhur lebih baik.
Tapi tidak memperdulikanku,
untuk apa mereka tinggal lebih lama?
Kami sudah bermalas-malasan selama beberapa tahun.
Menantu pertama kami meninggal, jadi kami tak bisa menggelar upacara pemakamannya.
Aku harus tinggal di rumah ini Selama beberapa hari.
Aku mencium bau hantu, daripada leluhur.
Kami tak akan melakukan pengusiran roh jahat.
Anak pertama pergi ke gereja.
Kampret. Kenapa memangnya kalau aku ke gereja?
Aku masuk paduan suara.
Hey.
- Tutup pintunya yang benar. - Sungguh menyedihkan.
Astaga.
Bagaimanapun,
kau tampak tidak asing.
Apa nama keluargamu?
Apa gunanya nama keluarga.
atau nama depan seorang Buddha di luar kuil?
Tolong berikan aku makan sehari tiga kali.
Terima kasih atas kemurahan hatimu.
Astaga. Tentu.
Sayang,
kau pasti lelah.
Oppa, tidakkah menurutmu keluargamu itu terlalu kasar?
Ayo kita pindah ke Vietnam, oke?
Sayang.
Mau pergi ke kota dan minum-minum?
Rasanya tak bisa bernafas. Aku harus melakukan sesuatu.
Sayang.
- Sekali lagi. - Sayang.
Hey! Hentikan sebelum aku menendangmu!
Apa ini rokok Marlboro?
- Korek. - Korek.
- Korek. - Sekarang!
- Korek. - Korek.
Tapi sayang,
bagaimana caramu menemukan nomor telpon sepupuku?
Aku berteman dengan mereka di FB.
Benarkah?
Apa kita berikan saja kuncinya pada mereka?
Hanya jika salah satu dari mereka jadi anak pertama.
Siapa juga yang percaya pada mereka sekarang?
Benar.
Bagaimana bisa mereka tak hadir di pemakaman ibunya?
Bahkan anak anjing menempel pada ibunya saat mati.
Karena tradisi keluarga yang menyeret mereka, meski mereka tak ingin datang.
Bayangkan betapa brengseknya mereka, apa para tetua tak merasa terganggu?
Tunggu dulu sayang.
Apa kau tak mau jadi anak pertama?
Tidak.
Kau terus saja begitu.
Tidak, sama sekali. Hatiku ini murni.
Murni?
[BAR KARAOKE PELAJAR]
"Bar Karaoke Pelajar?"
Bar karaoke?
Aku terjebak di dapur dan kau malah karaokean?
Aku tidak karaokean.
Dan kau sebut dirimu polisi? Mati sana!
- Mati! - Astaga naga!
Permisi, si kampret mau lewat.
Aku menolak jadi anak pertama.
Mi Bong, si Bedebah itu.
Oh, kaget aku.
Apa yang kau lakukan di sana?
Sedang turun salju.
Segera.
Jadi, menurutmu kau mungkin di sini untuk mencari seseorang atau tidak.
Aku tak berencana menanyakan soal lukaku.
Terima kasih banyak.
Tapi,
Berapa uang yang kuterima untuk hilang ingatan?
Mungkin lebih berharga dibanding semua uang di dunia ini,
atau mungkin akan kuberikan semua yang kumiliki untuk menghapusnya.
Kurasa itu serius.
Kau tahu, aku tak punya hasrat yang kuat untuk hidup.
Aku tak tahu kenapa.
Aku merasa sedih dan...
Ro Ra, kenapa wanita secantik dirimu...
Kenapa kau tahu namaku?
Aku melihatnya di kartu namamu.
Maukah kau panggil namaku sekali lagi?
Oh Ro Ra?
Ya ampun.
- Rasanya panas. - Panas?
Aku kepanasan.
- Kenapa mendadak... - Namaku itu...
- panas. - Iya, dah.
- Oh Ro Ra. - Ya.
Mau ke tempat dingin dan cari udara segar?
Tentu. Tunggu, apa?
Sungguh panas.
Tapi sekarang suhunya -10ยฐC...
Di luar dingin.
Sungguh menyegarkan!
Astaga.
Sumpah. Aku tak ada niat!
Kau...
Tidak, aku bukan orang seperti itu. Sumpah.
Kau sangat kuat.
Apa pekerjaanmu?
Saya seorang dosen dan kepala penjelajah.
Indiana Jones.
Ya, benar.
- Dorong lebih keras. - Baik.
Akan kudorong lebih keras.
Aku bersama kepala penjelajah.
Sungguh petang yang menakjubkan.
Karirnya sungguh romantis.
Indiana Jones!
Ya!
Ya!
Pak, aku memang berpikiran dangkal...
Kirim tidak ya?
Apaan nih?
Yaelah, terikirim!
Ayo kita pergi sekarang.
Apa impianmu?
Penyatuan.
Pasti kau seorang pahlawan.
Tidak juga. Ada yang harus kutemukan jika persatuan terwujud.
Apa itu?
Kau akan bilang aku kekanakan.
Itulah pesonamu.
Pesona apaan?
Dana untuk gerakan kemerdekaan hilang.
Dua patung budha senilai 5 milyar won masing-masingnya.
Kenapa kau bisa tahu hal itu?
Kenapa aku bisa tahu?
Kau bekerja di Yayasan Budaya.
Ya, benar. Aku bekerja di pemerintahan.
Benar. Ingatanmu sudah kembali.
- Pastinya! - Baguslah.
Bagus untukmu. Ada harta di rumah ini.
Tidak. Lokasinya di Anju Pyongan Selatan.
Bukan. Lokasinya di Andong Gyeongsangbuk.
Bukan di sana.
Saat menyelidiki pusaka dari Gunung Cheondeung,
sebuah tulisan dari Kekaisaran Korea ditemukan.
Itu bukti yang meyakinkan bahwa patung emas budha,
berada di Andong, bukan Anju, begitulah.
Itu adalah harta milik keluarga Geosan.
Patung emas Budha dari kekaisaran Korea,
sudah pasti berada di sini.
Benarkah patung budha itu berada di rumah ini?
Kenapa rumah ini sangat besar?
Kematian tetaplah kematian.
Orang yang hidup harus hidup.
Astaga.
Dingin. Dingin.
- Pergilah ke kamar lain. - Kau saja.
Apa kau mau datang besok?
Iya.
Kosongkan lemarimu.
Kenapa ngetiknya berisik? Diam.
- Apa kau mau pergi? - Bukan begitu.
Berisik banget!
Kau berisik, udaranya dingin pula.
Jika kau memberiku satu kesempatan lagi, akan kulakukan apapun demi perusahaan.
[PESAN TIDAK DIBACA]
Dia bahkan tak membacanya.
Singkirkan kakimu.
Kubilang singkirkan kakimu!
Hey.
Jangan taruh kakimu di wajahku!
Dasar, kupret.
Bagaimana bisa anak pertama meninggal?
- Ibu. - Udaranya dingin.
Sampai daun bawangnya membeku.
[KEDIAMAN GEOSAN]
[HARI KEDUA PEMAKAMAN]
Apa kau habis olahraga?
Kau akan hidup sampai seribu tahun.
Terima kasih, aku mau hidup sampai 100 tahun saja.
Lihat dirimu. Apa kita kedatangan orang dari Seoul?
Semua orang Seoul pikir aku ini anak yatim.
Apa kau beruang?
Apa yang kau pakai itu, Nyuk?
Gebukin aku sampai mati. Aku tak mau pakai itu.
- Apa kau sungguh akan memakainya? - Tentu.
Katakan kau sedang apa.
Siapa kau?
Aku...
Tn. Lee.
Nn. Yoon.
Kakak.
Kau sangat cantik.
Terima kasih.
Sedang apa di sini?
Ibu.
Boleh aku sentuh sebentar?
Tentu, silakan.
Cantik sekali.
Seoul itu bagaimana?
Pasti ada banyak Starbuck juga. Senangnya.
Pokoknya, kau dari keluarga mana?
Ranting yang mana?
Aku tidak tahu.
Tidak, kau harus tahu. Harus!
- Maaf. - Oh, tidak.
Katakan kau berasal dari keluarga mana?
Aku dari Papyeong Yoon.
Dari ranting mana?
Kelompok Booyoon yang memisahkan diri dari kelompok Pando.
Sungguh keluarga yang terhormat.
Apa ada anggota keluargamu yang kami tahu...
Itu...
Yoon Bong Gil.
Yoon Bong Gil.
Dr. Yoon Bong Gil.
Apa kau tahu apa itu Tiga Tugas?
Kenapa kau...
Dia tinggal di luar negeri, tidak tahu yang begituan.
Wanita. Tiga.
Ada tiga tugas wanita.
Sebagai anak yang mengikuti ayahnya.
Setelah menikah, mengikuti suaminya.
Setelah suaminya meninggal,
maksudku, setelah suaminya wafat...
Ya?
Secara realitas, dia harus menikah lagi.
Apa? Apa kau bilang?
Kenapa bertanya begitu? Dia pasti tak nyaman.
Dia kelak akan jadi menantu. Sewajarnya kami bertanya...
Menantu apa? Dia cuma rekan kerja.
Dia lebih tinggi dariku. Usianya juga lebih tua.
Ayo.
- Ayo bangun. - Kakiku kram!
Kakiku kram.
Maaf.
Ayah menyembunyikannya lagi.
Aku yakin dia menulis sesuatu soal patung emas itu.
- Adaw! Sakit. - Kampret tidak berguna!
Aku berusaha membayar utangku dengan harta itu.
Sampai kapan cucu pertama mengejar mimpi yang sia-sia?
- Kenapa kau... - Ayolah, ayah.
Jangan kemari untuk mencuri!
Oh Jeong Hak
Terima kasih.
Kenapa kau tak bilang sedang ada di Andong?
Aku kaget mendengarnya dari Nn. Yoon.
Aku sengaja tidak memberi tahu anda. Maaf.
Aku tak bermaksud menginterogasimu soal perancangan tanah.
- Mari lihat dari sudut pandang ini. - Maaf?
Orang akan berkumpul, jadi itu adalah kesempatan bagus.
Kau mungkin perlu beberapa hari setelah pemakaman,
jadi bawakan aku formulir persetujuan.
Maka akan kuabaikan hutang 50 milyar dolar yang berusaha kau buat.
Aku akan menjadikanmu sebagai kepala cabang di Jerman juga.
Tunggu sebentar.
Asyikk!
Sa Ra. CEO bilang akan mengirimku ke Jerman.
Kau tak boleh bersikap begini terhadap rekan kerja.
Aku sudah selesai, kalau begitu aku pergi.
Bukan begitu.
Keluargaku itu memalukan, jadi...
Joo Bong, kau suka padaku karena aku dari luar negeri, 'kan?
Aku orangnya santai dan profesional.
Aku menyukaimu karena kau orang Korea.
Tapi ketertarikan lawan jenis tak akan bertahan.
Semoga beruntung di acara pemakaman.
- Tapi... - Benar.
Katakan padaku saat kau mati. Akan kuberikan penghormatan.
Kau baik-baik saja?
Kau hampir melukaiku.
Kenapa kau di sini?
Itu bukan karena kecelakaan.
Dia memang gila.
Ada sebuah taman hiburan dalam perjalanan pulang.
Kalau dilihat lebih dekat, tinggi peralatannya berbeda.
Tidak ada taman hiburan di Andong.
Jangan tanyakan rinciannya. Aku akan tahu saat melihatnya.
Aku akan tahu.
Ini. Rumahnya di sini. Benar.
Baiklah!
Benar di sini? Ini rumahmu?
Astaga, rumah itu.
Bukankah rumahnya cantik?
Ini benar-benar tipe idamanku.
Apa kau calo perumahan?
Itu tak akan berhasil pada orang-orang itu.
Kirim email padaku dan kembangkan rencananya.
Baiklah.
Kau menangis atau nyanyi?
Apa kau membangun jalan raya?
Kau pasti sedang membangun.
- Apa kau pandai menyekop? - Apa otakmu geser?
Kenapa kau mengatakan sesuatu yang kejam di hadapanku?
Maaf.
Kau tak akan dapat tanda tangan mereka dengan sikap seperti itu.
Para orang tua sangat sensitif soal etika.
Aku tahu.
Tapi sekali lagi, mereka adalah orang yang sederhana.
Maaf?
Ini adalah rahasia.
Rahasia apa?
- Maaf. - Kemarilah, cucu pertama.
Cucu pertama.
- Cucu pertama! - Ya?
- Iya. - Sapa beliau.
Dia adalah Cucu pertama dari keluarga Noam.
Halo.
Aku Lee Suk Bong, generasi ke-19 dari keluarga Geosan,.
Akhirnya aku bisa melihatmu, wahai cucu pertama.
Dia sibuk di Seoul.
Dia selalu berada di ruang kuliah.
Ya, aku ada di ruang kuliah.
Saat menantu pertama meninggal...
Anu, saat itu...
Kudengar kau telah diculik.
Kau tidak tahu soal pemakaman ibumu.
Kau pasti menderita.
Ingat, saat kau di Philipina,
kau bertemu penjahat yang tak dikenal...
Aku disandera.
Aku diculik karena pengetahuanku.
Benar. Disandera.
Mereka berusaha mengambil rahasia nasional darinya,
"Aku tak bisa mengatakannya."
"Lebih baik aku mati."
Aku bertahan dalam penyiksaan.
Jariku sampai seperti ini, tapi sekarang sudah baikan.
Hmm, sudah kuduga. Darah pemimpin gerakan kemerdekaan.
Kau memiliki darah suci keluargamu.
Ke sana.
- Ayo. - Kesana apaan?
Aku akan meninggalkan kalian.
Baiklah.
Kau sudah sampai.
Seorang pegawai pemerintah memberitahumu itu?
Apakah ini Yayasan Budaya?
Apa ada seorang analis bernama Oh Ro Ra?
Dia di sini sekarang. Dia itu manajer.
- Aku mulai percaya. - Sudah selesai.
Apa harganya 100 juta won?
Oke. Sudah kutelusuri, tombol power sebelah kiri,
dan tombol kontrol sebelah kanan.
Kau bisa memahaminya? Meski pakai bahasa Inggris?
Aku melihat gambarnya.
Ada gambar dimana-mana.
Ini sangat rinci.
"Cucu pertama dari generasi ke-13 Al Lee, Menteri Perang.
Pejabat peringkat ketiga Selama Dinasti Joseon,
Generasi ke-17 paman Lee Jang-bok... "siapa lagi itu?
Ah, dasar.
Harusnya mereka juga mengajariku, 'kan?
Siapa nenek moyang generasi ke-13, yang merupakan Menteri Perang?
Al Lee.
Cucu pertama sedang belajar.
Keluar sana!
Pergi.
Paman sedang mencarimu.
- Pergilah. - Baik.
Hey, Mi Bong!
Sepupu kedelapan belas nenek moyang generasi kedelapan belas, Lee Bum-goo.
Apa kau sungguh akan memberiku ini?
Dia sepupu kesepuluhmu.
Ada generasi ke-16 yang bernama Gwi-yal.
Terjadi karena,
sepupu kakek buyutmu berselingkuh,
dan memiliki anak kembar.
Kurasa adiknya...
Apa kau sudah mengingat semuanya?
Ini adalah pendeteksi emas. Jangan dipegang begitu.
Tapi ke bawah.
Sensor ini memonitor perbedaan medan magnet.
Log dalam nilai numerik.
Aku jurusan sastra. Payah urusan hitung-hitungan.
Jangan begitu.
Apa yang kalian lakukan di sana?
Sedang apa sekarang?
- Siapa mereka? - Maaf?
Mereka dari perusahaan pemakaman.
- Apa? - Ya.
Mereka tak melakukan apapun, jadi kuberi pekerjaan.
Kami menemani almarhum,
Sepanjang jalan terakhirnya.
Jangan begitu. Dasar.
Kedua pelayat itu pergi sebentar.
Maaf.
- Cepat kemari. - Baiklah.
Maafkan aku.
Inilah dia yang berkabung!
Apa yang kau lakukan?
Biar kuperkenalkan padamu.
Apakah Anda sesepuh Lee Bum Goo , kepala kota utara saat dulu?
Benar sekali.
- Anda adalah sepupu kesembilan ayahku. - Tepat sekali.
Seperti yang dikatakan ayahku, Anda sangat jujur,
bagaikan pohon pinus.
Lebih seperti itulah.
Jalan raya akan masuk.
Aku menentangnya, Kau ingin memecah Andong jadi dua?
Apakah Anda leluhur generasi keenam generasi leluhur kita,
tak lain tiada bukan, Lee Gwi Ya!
Apa? Kau kenal siapa aku?
Tentu, aku sangat ingin bersua dengan Anda.
Astaga.
[TENANGLAH DALAM DAMAI]
Apa yang kau lakukan?
Maaf?
Ngapain? Kenapa tidak menyapa pelayat?
Anu...
Aku sedang memotong rumput sambil mendengarkan musik.
Kurasa rumputnya akan segera tumbuh.
Aku akan memotongnya dulu.
Apa dia sudah sinting?
Apa Anda tidak menyukai Suk Bong,
tapi bagaimana dengan Joo Bong?
Orang tak mudah berubah.
Yang satu cari muka.
Ya. Sekalinya bajingan tatap bajingan.
Apa sepupu kedua bilang mau jadi cucu pertama?
- Dia ingin dia melakukannya. - Siapa?
Jin Dol?
- Sulit sekali. - Buruan.
Bagus, bagus sekali. Singkirkan tanganmu.
- Hay, letakkan di sana. - Baik.
Hati-hati.
Aku akan berhati-hati.
- Kubilang simpan di sana. - Bukan begitu.
Berikan padaku.
Baiklah.
Apa ini? Aku mengambilnya dari Joo Bong.
Masih jalan.
Kuda kedua mengejar. Dia turun dari jalur...
Paman, kau tahu bukit punya keluarga kita?
- Ayo kita bicara soal itu. - Lupakan.
Sejak kapan bicaramu pakai logat?
Sangat canggung.
- Apa nih - Hentikan.
Dorong lagi sedikit.
Kenapa tanganmu bantet?
Minggir.
- Dapat. - Hampir dapat.
Itu emas.
- Emas, woi, emas! - Itu emas!
Apa ini? Cuma telpon bekas.
Berapa persen bagianku?
- Sekitar 5 persen lah. - Bukan sepuluh?
Hey, 5% dari 10 milyar won itu 500 juta won.
Baik, sepakat. Angkanya leh ugha.
Sudah kubilang akan kubayar...
Woi, Pak!
Ini adalah tempat leluhur kami disimpan.
Kenapa kau kemari?
Aku merasakan energi negatif datang dari sini.
Negatif? Itu tempat leluhur kami.
Mereka tidak akan menyakiti kita.
Yah, aku cuma lihat-lihat.
Kau dari kuil mana?
Aku tahu hampir semua kuil di Andong.
Selama aku hidup bak angin Yang tak tertangkap oleh jaring,
Akulah kuil itu, dan sang Budha.
- Permisi. - Apa kau...
melakukan pengusiran setan?
Apa sering?
Berapa banyak makanan...
yang kau makan selama hidupmu?
Sialan.
Tentu saja aku makan lebih banyak dibanding orang lain.
Mau kemana? Kita sedang bicara!
Apa kau bisa menggambar Dharma?
Apa kau yakin punya kristal dalam tubuhmu?
Ya ampun.
Peringatan ini dibatalkan!
Kue berasnya tidak enak, hiu itu pun tidak enak,
dan kenapa guritanya belum datang?
Maafkan aku.
Sudah hampir selesai.
Kau itu menantu pertama dan tidak bisa menyiapkan acara peringatan dengan benar?
Ibu.
Lihat ini.
Ini. Panggilan cepat nomor 1 itu pasar ikan.
Nomor 2 tempat kue beras.
Semuanya mempekerjakan orang seperti mereka sekarang.
Tak ada yang memasak semuanya sendirian.
Kalau nomor 0 itu aku.
Kalau nomor 0 ditekan, langsung terhubung padaku.
- Baiklah. - Ini milik ibu.
- Sungguh? - Ya.
Jangan tunjukan pada orang kolot itu. Mereka akan ceramah.
Ini milik ibu?
Tentu. Gunakanlah.
Barangnya bagus.
- Ibu bisa menghubungimu? - Ya.
Jangan tekan sekarang.
Makanannya enak. Apa masalah mereka?
Memangnya kau bisa tidur dengan kepala tanpa menyentuh tanah?
Menarik sekali.
[PERSETUJUAN PEMBANGUNAN JALAN RAYA]
Si Kunyuk itu. Dia tak boleh mengacaukan hartaku.
Kurasa kita harus mempercepatnya.
Aku merasa tak nyaman.
Benar tuh. Lepaskan saja, kau kelihatan tak nyaman juga.
Aku tak bisa melakukannya karena orang kolot itu.
Aku harus memakainya, agar mereka tak curiga.
Aku mau bicara soal adikku.
Memangnya dia kenapa?
Jika mereka memulai konstruksi, aku tak bisa menggali.
Kalau dia tahu, dia akan meminta jatah satu patung emas Budha.
Kenapa juga aku harus berbagi 5 milyar won? Memangnya apa yang ia lakukan?
Sudah makannya. Ayo kerja.
Selesaikan dulu makannya, aku sudah taruh sumpit.
- Apa kau merokok lagi? - Tidak.
- Aku mencium bau rokok. - Bukan aku.
Rahasia...
Tolong rahasiakan.
Ini bukan saatnya untuk menjaga rahasia.
Tidak bisakah kita saling mengerti sesama anak muda?
Tidak bisa!
Merokok itu bukan dosa.
Aku mulai merokok setelah menikah.
Karena aku lelah.
Maksudku Suk Bong.
Kau sialan. Aku ragu, tapi kau mau makan 10 milyar won sendirian?
Apa maksudmu?
Kalau dia tahu, dia akan meminta jatah satu patung emas Budha.
Kenapa juga aku harus berbagi 5 milyar won?
- Suara siapa itu? - Mau dengar lagi?
- Tolong rahasiakan. - Apa itu?
Eh, bukan dia.
Hey. Ayo kita selesaikan dengan jujur.
Kau dan aku berusaha menjual tempat ini.
Jika kau mau membangun jalan raya di sini,
aku tak bisa menemukan patung Budha, dan tamat riwayatku.
Aku...
Ah, sial. Aku tak seharusnya lakukan ini.
- Akan kuberikan 10%. - Aku tak butuh uangmu!
Aku muak dengan sikapmu!
Kau menipu Ayah dan mengambil bagianku.
- Kau tidak merasa bersalah, gitu? - Bersalah soal apa, Nyuk?
Menurutmu kenapa Ayah memberiku banyak?
Itu agak aku jadi Anak pertama dalam keluarga.
Aku juga sudah dengar!
Kau tahu apa impianku sejak kecil?
Tak seperti orang lain, mimpiku adalah menjadi yatim piatu.
Impianku itu menjadi dirimu, Nyet!
Dasar anak setan! Sialan!
Kenapa si kunyuk ini...
- Dasar pengecut. - Apa?
Enyah sana.
Apa kau memukulku?
Aku istirahat sebentar.
Hey. Kunyuk.
Kau pantas mendapatkannya.
Jentik dahi. Benar? Apa?
Dasar!
Si Kunyuk ini main curang!
Dasar curut...
Aku akan membunuhmu.
Hentikan!
Berkelahi itu hal buruk.
Toh ada dua patung Budha.
Apa kau memberitahunya?
Kenapa kau cuma bilang padanya?
Dia bilang padaku saat hilang akal sebentar. Jangan berteriak padanya.
Tidak. Dia merencanakan semua ini.
Dia bilang padaku untuk mengingat pohon keluarga untuk memenangkan para tetua.
Siapa kau sebenarnya?
Aku...
pernah...
hidup dengan Choon Bae.
- Siapa itu Choon Bae? - Kau tidak kenal nama Ayah?
Eh, iya, ya.
Apa? Apa katamu?
Apa yang kau kejar?
Aku cuma bicara kenyataan.
- Kenapa kau... - Jangan bentak dia.
Apa...
itu setelah ibuku meninggal?
- Apa kau gila? - Diam saja, bisa gak?
Bisa kau katakan pada kami?
- Kenapa kau mengabaikanku? - Kau ini kenapa?
- Hentikan! - Sial!
Oh, tidak. Nn. Ro Ra.
Nadinya tidak berdenyut! Tidak ada denyutan!
- Aku tidak menyentuhnya! - Aku juga, Nyuk!
- Pencuri! - Hey.
Sembunyikan dia dulu.
Para tetua!
Kemarilah! Cepat!
- Oke, kami datang. - Kami datang.
Apa yang kau lakukan?
- Anu, kami cuma... - Ya, gini deh.
- Kami segera kesana. - Baiklah.
Minggir.
- Cepat! - Dibilangin, iya!
- Kami ntar juga kesana! - Iya, kesana!
- Pergilah. - Duluan.
- Bagaimana ini? - Pertama-tama...
- Nih. Tutupi dia. - Apa?
Tutupi dia.
- Kau harusnya tutupi dia. - Tutupi saja.
Tutup, tutupi dulu.
Oke, terus apa?
Ayo kabur.
Cuma gitu? Kampret!
Kami sudah baik kepadamu, dan kau mencuri dari kami?
Dimana polisinya?
Aku sudah memanggilnya tadi, katanya mereka segera kemari.
Kau menggali bagian depan dan belakang,
dan mencari ke seluruh rumah kami.
Lalu kau berusaha mengintip ke kuil leluhur?
Kau sudah tertangkap basah, masih tidak mau ngaku?
Anu, aku memang berusaha pergi ke kuil leluhur,
tapi tidak mencuri apapun.
Semuanya, jangan bergerak!
Periksa seluruh sudut dan pastikan tak ada yang sembunyi.
Dia tak mungkin sendirian merampok rumah besar ini.
Tetap di tempat!
Minggir! Apa yang kau lakukan? Minggir!
Lihat aku. Apa ada komplotanmu yang lain?
Tetap diam tak akan berhasil.
Kau akan bicara pada akhirnya.
Dia keren sekali.
Sayang, bahaya ada di sini. Masuklah ke rumah.
- Tolong kemari! - Ada apa?
- Apa itu? - Apa?
Periksa di sini. Kumpulkan semua barang bukti.
Oh, tidak.
Tidak.
- Biar kulihat. - Biar kulihat.
Terlalu banyak puntung rokok.
Merknya juga Marlboro Red.
Toko di kota ini tak menjual barang import.
Mungkin ini milik si kaki tangan. Mungkin dia bukan berasal dari sini.
Itu sih bukan barang bukti!
Banyak orang keluar masuk kota ini,
dan merknya juga banyak.
Itu sih bukan...
bukanlah barang bukti.
Itu benar.
Kenapa kau teriak-teriak begitu?
Orang membuangnya di sini.
Aku tidak tahu dan menginjaknya.
Kotor sekali.
Apa yang ada di sini?
- Tapi... - Jangan.
Apa itu?
Itu cuma...
Lakukan sesuatu.
- Apa itu? - Apa itu?
Apa itu?
Tadi kok aku tidak lihat.
- Tidak, lakukan sesuatu. - Apa?
Oh, tidak.
Hey. Angkat.
Apa ini?
Tidak ada apapun di sini.
Kayu bakarnya di sini.
- Yaelah. - Dasar.
- Apa aku meninggalkannya di sana? - Kami akan kembali.
Astaga.
Kupikir itu orang lain.
Kemana perginya dia?
Apa...
Tunggu dulu!
Dengarkan aku!
Tolong dengar!
Hentikan.
Ayo.
Suk-bong. Joo-bong.
Kenapa kalian pergi begitu saja? Aku hampir mati loh.
Kemana kau pergi?
Tunggu!
Pegangi dia.
Ke sini.
Dia harus berbaring. Kau tak apa?
Apa yang kalian lakukan?
Dia orang yang kukenal.
Apa kalian berdua sudah sinting?
Siapa yang kalian maksud?
- Ini Nn. Ro Ra. - Dia.
Siapa itu Ro Ra?
- Dia kenapa - Entahlah.
Mi-bong.
Beliau pasti sedang syok.
Tolong dibawa ke ruang istirahat.
Siapa? Aku?
Apa dia sudah pikun?
Apa? Aku pikun?
Kalian ini.
Dia paman kami.
Kurasa dia agak pikun sekarang.
Tolong dipahami. Keluarga kami memang agak gitu.
Hey.
Apa aku yang gila?
Mereka tampak aneh di mataku.
- Apa aku berhalusinasi? - Astaga.
Lihat. Apa ini aku?
Sejak kapan aku kena pikun?
Sadarkan dirimu!
Bukan kau. Tapi mereka yang aneh.
Kenapa kalian bertingkah seolah ada orang di sana?
Apa maksudmu?
Aneh sekali.
Mereka tampak tidak asing.
Aku merasa kenal dengan mereka.
Di sana. Dia sedang bicara sambil jalan. Apa kalian tidak lihat?
- Apa? Siapa? - Dimana?
- Apa? Di sana. - Dia di sana.
- Di mana? - Apa...
- Jangan bercanda. - Tidak kok.
Ada apa dengan kalian?
- Orang ini. - Di mana?
- Kalian tidak melihatnya? - Di mana orangnya?
- Apa kalian tidak waras? - Apa mereka baik-baik saja?
- Ngomong apa sih? - Dia.
Apa?
Dia tak punya bayangan.
- Tolong hubungi... - Katanya dia baik-baik saja.
Akan kudorong dengan kuat.
- Apa? - Dia hantu! Setan!
Tolong jangan panggil aku...
begitu.
Biksu itu benar!
Di rumah ini ada hantunya!
Lakukan sesuatu!
Kalau kau manusia, tunjukkan dirimu!
Kalau kau hantu, pergilah!
Jangan usir aku!
Kupikir ada harta...
tapi malah ada setan.
- Bisa kau lihat? - Ya.
Tidak, aku tak melihatnya.
Apa dia pergi? Pergi?
Rasanya hampir mati.
Dia ada di sana.
Tolong, ampuni aku. Aku menyesal.
Choon Bae, tolonglah.
Tunggu dulu.
Lihat aku.
Bukankah kau Hyung Bae?
Astaga. Akhirnya, kau...
Ya Tuhan.
- Siapa tuh Hyung Bae? - Mana aku tahu.
Choon Bae...
tak seharusnya hidup begini.
Jika kau pergi seperti ini...
siapa yang akan membayar hutangku?
Saat Hyung Bae kecil,
dia kabur. Katanya ia tak ingin jadi anak pertama.
Saat kami akhirnya menemukan dia, dia sudah jadi biarawan.
Namun beruntung, ada kerabat jauh,
yang miskin.
Keluarga itu mengadopsi anak mereka.
Dialah Ayahmu.
Mereka menyengsarakan ibu dan bicara soal darah juga keluarga.
Tapi Ayah diadopsi?
Oleh anjing setia keluarga.
Ayah!
- Juga... - Apa?
- Ambil ini. - Siapa peduli kesehatanku?
Katakan!
Papannya juga lenyap.
Tetua.
Aku harus bertahan. Keluarga yang memuakkan itu...
Tolong buka mulutnya.
Aku menolak untuk mempercayainya.
Kau sungguh jadi anak pertama, Mi Bong.
Kau baik-baik saja?
Dia sungguh lemah.
- Ayo kita coba hubungi lagi. - Tangkap saja dia.
Tabungannya sudah lebih.
Ayah.
Dia itu penjahat. Masukkan saja ke bui.
Apa kau sungguh akan melaporkannya jika dia benar-benar keturunanmu?
Apa katamu?
Apa kau pernah mempertimbangkan kami sebagai anak pertama keluarga?
Lalu? Kau mau mengembalikannya?
Sebagai gantinya, jualah bukit keluarga. bukan sebagai kerabat, tapi bisnis.
Tolong temukan dia.
Ikat dia, agar dia tak kabur.
Melihat kau begitu mencemaskan keluargamu, kau layak,
jadi menantu pertama.
Itu suatu kehormatan.
Kau bisa jadi menantu pertama.
Terima kasih.
[SI CEMEN JOO BONG]
Apa yang coba kau lakukan?
Masa bodoh. Akan kujual dan bayar semua utangku.
Setidaknya pastikan kau tidak tertangkap saat mencuri barang.
Hei Nyuk, kau dengar mereka?
Kita tak ada hubungan apapun dengan keluarga itu lagi.
Kita melewatkan pemakaman ibu.
Apa kita juga akan melewatkan pemakaman Ayah?
Aku tak akan minta jatah curianmu. Katakan kau di mana?
Kenapa tidak ngomong?
Kau di mana?
[KELUARGA LEE DARI ANDONG]
Seseorang datang dari Yayasan Budaya.
Dia memberiku kartu nama.
Siapa namanya?
Kenapa ini...
Kau kenapa?
Kenapa?
- Siapa kau? - Aku!
- Ada apa? - Hantu! Aku melihat hantu...
Kau kenapa? Bangun!
Tolong! Satu orang tak cukup. Kalian semua kemarilah.
[KEDIAMAN GEOSAN]
[HARI TERAKHIR PEMAKAMAN]
Keluarga kita merupakan simbol adat keluarga,
apa yang terjadi pada kita?
Ini semua karena si kurang ajar ini!
Panggil saja aku bajingan.
Akan kuambil semua barangku.
Kemari kau!
Jangan memerintahku.
Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini!
Ya, makanya. Kita bukan kerabat lagi. Jangan perintah sana sini.
Baik. Kau tak mau bertobat, 'kan?
Memangnya apa salahku?
- Ini cuma beberapa hari. - Diam kau.
Lihat. Bertobat?
Kalianlah yang sudah membunuh orang yang hidupnya hanya untuk menghormati orang mati,
kalian yang harusnya tobat!
Benar. Ayahku memang diadopsi.
Lalu bagaimana dengan ibuku?
Karena keluarga sialan ini,
ibu kami menderita seumur hidupnya! Bagaimana dengannya?
- Kalian akan berbuat apa? - Hentikan.
- Hentikan apanya? - Bukan begitu.
Kenapa kau...
Harusnya kau senang itu bukan kotoran!
Dasar kunyuk!
Aku kehabisan peribahasa untuk dikatakan!
Kau kampret! Anak durhaka!
Bedebah!
Anak setan!
Kunyuk gila! Anak jadah!
[FORMULIR PERSETUJUAN]
Terima kasih.
Kami tak pernah membedakannya karena dia anak adopsi.
Choon Bae Hyung-nim...
mungkin pernah berbuat kejam padamu,
tapi dia adalah orang baik.
Kau kehilangan ayahmu,
tapi aku kehilangan temanku selama 40 tahun.
[Layanan Kurir Andong]
Air ini terus mengalir dari telingaku.
Untungnya, bajunya muat.
Menurutmu muat?
Jangan gerak, nanti sobek.
Kalau kupikirkan lagi, meski ayah diadopsi,
dan aku bukanlah anak pertama, kau dan aku harus bersama.
Kita ini tidak cocok.
Apa bebeknya memang selebar itu?
- Bebeknya mau meledak tuh. - Bebek ini?
Aku tak akan bisa jadi pria berotot seperti kau kalau aku minum obat penguat sepertimu.
Setidaknya kau punya tampang.
Aku tak bisa memaafkan ayah.
Bahkan jika ia membenci kita.
Tapi apa salah ibu?
Dia tak bisa melihat anak-anaknya.
Ibu,
pasti kesal karena kita melewatkan pemakamannya.
Dia bahkan tak muncul dalam mimpi. Aku sangat merindukannya.
Yang paling membuat kita marah,
adalah aku ingin berdebat dengan ayah dan bertanya kenapa dia melakukannya,
tapi dia sudah tak ada.
Itulah yang membuatku kesal.
Pembangunan Hyunjae, cabang Jerman.
Aku tak tahu ini masih di sini.
Aku, Lee Choon Bae, anak pertama generasi ke-18 dari keluarga Gaeosan,
akan mengungkapkan rahasia di balik pemakaman,
dari menantu pertama.
Sial.
Rekeningku tak banyak uangnya. Kenapa masih memukulku?
Suk Bong!
Suk Bong!
Ini. Ambilah.
Jangan lupa makan.
[KUPON]
- Apa ini, Bu? - Tidak banyak, ya?
Kenapa Ibu juga melakukan ini?
Sial. Tidak berguna.
Bajingan tengik itu.
Dia tak tahu bagaimana kondisi ibunya.
Orang akan mengutukmu kalau melihatnya.
- Kita mau kemana? - Ayo ke rumah sakit.
Akan kupastikan tak ada yang bicara.
Aku tak mau pergi.
Kita bekerja keras sepanjang hidup,
untuk memastikan mereka tak akan menentangmu karena diadopsi.
Siapa peduli pikiran orang lain?
Benar.
Kau tak boleh mengatakannya pada anak-anak.
Jika kau mengacaukan masa depan Suk Bong dan Joo Bong,
Aku tak akan memaafkanmu.
Kau sungguh tak mau pergi?
Apa yang kau lakukan?
Ini tidak muat.
Aku ingin menyembunyikan semua barang penting di sini.
Apa ini?
Suk Bong sangat menyukainya.
Apa ini?
Joo Bong membeli mainan ini sebagai hadiah ulang tahunku. Bagus, 'kan?
Itu bukan mainan. Apa kau bodoh?
Dasar kejam.
Jangan bilang aku kejam.
Kau yang kejam, cewek.
Kau yang kejam, cowok.
Astaga.
Ayo masuk.
Sesak.
Ayo ke dalam, kita makan.
Aku tak ingin makan.
Kenapa kau tak biarkan aku keluar dan bermain?
Kau selalu suruh aku diam di rumah dan memasak.
Ini adalah anggrek kesukaanmu.
Siapa kau?
Siapa dirimu?
Kenapa kau bekerja di pekarangan kami?
Aku...
adalah pelayan.
Sudah lama di sini?
Ya, sudah sangat lama.
Biar kutanya sesuatu.
Apa aku...
pernah melahirkan,
anak?
Ya, pernah.
Yang satu penuh impian,
dan yang satunya lagi pintar.
Aku menulis rahasia menantu pertama di sini.
Karena aku ingin turun dalam sejarah,
seseorang yang membawaku pada keindahan hidup sesungguhnya di sini,
meski tak ada yang menyadarinya.
Menantu pertama meninggal sebelum anak pertama.
Anak pertamanya itu orang bodoh.
Karena dia sakit, dia mengunci gerbangnya.
dan tak bisa menggelar peringatan.
Keluarga ini bilang akan membawa cucu pertama.
Harusnya dia datang sekarang.
Ngomong-ngomong, siapa nama menantu pertama?
Untuk buku catatan leluhur, aku tak tahu namanya.
Maaf, sayang.
Joo Bong pergi ke luar negeri untuk bekerja.
Dan Suk Bong,
- terlalu sibuk untuk datang. - Apa?
Mereka tak mau mendengarkan siapapun.
Mereka mengubah nomor ponsel, tapi kalian bisa berusaha menghubunginya.
Astaga.
Nomor yang kuberikan pada mereka,
adalah nomor ibumu, yang tak seorangpun tahu.
Jangan injakkan kaki lagi di Andong!
Ayah!
Kau sekalipun tak pernah membawanya ke rumah sakit! Apa uang sebegitu pentingnya?
Hanya satu harapanku.
Melupakan tempat ini,
dan hidup dengan kehidupan sendiri.
Aku akan menjalani hidup yang kupilih.
Ini adalah kebebasanku.
Ini...
Bagaimana bisa kita tak tahu?
Apa kau ingat saat melihatnya?
Ro Ra!
-Ro-ra! -Ro-ra!
Kupikir dia ada di sini.
Kau di mana?
Kemarilah, Bu!
Bu, Bu. Aku datang!
Maaf tak bisa mengenalimu!
Ibu!
- Ayo cepat. - Kemana?
Kalau jalan rayanya masuk, ibu tak bisa menaikinya.
Cepat. Kita harus mendapatkan kembali formulir itu.
- Kalian! Tunggu! - Minggir.
- Kalau kalian pergi seperti ini, aku akan mati. - Minggir!
- Minggir. - Langkahi dulu aku.
- Tidak! - Menghindar.
- Ayo! - Hey, kalian!
Kalian jangan pergi!
Tidak bisa, kalian bedebah!
Nih.
Kau sebut ini ukiran?
Hey. Kita harus cepat.
Aku harus ke WC.
Perutku sakit. Duluan saja.
- Dimana WC nya? - Waktunya pas sekali.
Ke sana!
Apa? Oke.
Itu dia. Duh, keceplosan.
Ini...
Duluan saja.
Bahaya nih.
Kenapa WC nya jauh sekali?
Ada apa?
Apa kau masih berduka?
- Apa yang kau lakukan? - Itu dokumen yang salah.
Aku sudah memeriksanya. Sudah benar kok.
Tidak, ini salah.
Hey.
- Tn. Ko. - Tn. Lee.
Bukan apa-apa.
Dia awalnya bertanggung jawab atas proyek ini.
Seperti yang bisa kalian lihat, dia memiliki masalah mental,
itu sebabnya aku menghapus dia.
Nn. Yoon.
Ya, Pak.
Ayo.
Dimana formulir persetujuan?
Beraninya kau mengacaukan semuanya?
Kau pasti bingung.
Setelah kau mengirimkan formulir persetujuan,
tak bisa ditarik kembali, sama halnya seperti kematian.
Apa yang terjadi?
Permisi. Kemana sih dia?
Hey! Mau kemana?
Hey.
- kau pasti Tn. Oh. - Benar.
Kenapa kau mengumpat adikku?
Kau tak apa?
Siapa si babi biru ini?
Dia bukan babi. Dia kakakku!
Ini otot, tahu!
Lakukan bersama.
Ini bukan jaketku.
Nn. Yoon, kemarikan itu.
Tidak!
- Tidak. - Hentikan dia!
Apa kau sudah gila?
Apa lihat-lihat?
Serahkan padaku!
Hey, kau!
Kampret jahanam!
Dasar jahanam. Kau tak apa?
Joo Bong, ayo.
Amplopnya!
Siapapun yang mendapatkan formulir itu akan dapat bonus 1000%!
Kalian pikir aku bercanda?
- Tangkap mereka! - Tangkap!
- Joo Bong! - Bedebah.
Hyung!
Joo Bong!
Tangkap!
Ayo turunkan peti matinya.
Tunggu!
Kumohon hentikan!
Apa yang kau lakukan?
Kita tunggu sebentar lagi.
Hyungku menderita selama hidupnya.
Anak-anaknya harus melihat kepergiannya!
Aku tak berharap banyak pada mereka!
Aku ingin mereka di sini untuk pemakaman orang tuanya.
- Sesulit itukah? - Mereka akan datang!
- Minggir! - Mereka akan datang!
Tunggu sebentar lagi.
Apa yang kau lakukan?
- Mulai! - Tunggu dulu!
- Apa? - Lihat di sana.
Apa?
Masukkan tanahnya.
Ada lubang di sana.
Menantu pertama pasti ada di sini.
Untuk melihat anak pertama.
Kampung halaman.
Kampung halaman.
Aku merasa nyaman dan kabur saat mendengarnya.
Itulah pesonamu.
Tapi orang-orang itu sangat sederhana.
Rahasia apa?
Apa kau ingin aku menolongmu?
Aku tak bisa mendapatkan kembali formulir itu. Maaf.
Hiduplah dengan bahagia bersama ibu untuk 100 tahun, Yah?
Ibu...
Ayah.
Ayah juga harus datang.
Tak peduli apa bentukmu,
Aku akan...
aku akan berbakti kali ini.
Ibu...
Jangan lepaskan tangan ayah. Peganglah yang erat.
Jangan lupakan aku.
Bu...
Ayah...
banyak hal yang ingin kusampaikan padamu.
Maafkan aku, Ayah.
Bu...
Kenapa jalanmu cepat sekali?
Siapa tadi namamu?
Kau baru tanya sekarang?
Aku tahu kita baru bertemu, tetap saja.
Jangan katakan, kalau tidak mau.
Toh aku tak akan menyebut namamu.
- Namaku... - Nn. Oh Soon Rye.
Kenapa tanya kalau tahu?
Namaku Lee Chun Bae.
Yah, aku tak mau kehilanganmu, jadi...
Kau lihat bukit di sana?
Kau lihat ayunannya?
Kalau dilihat lebih dekat, tingginya berbeda.
Mungkin bengkok, tapi itu hanya taman hiburan Andong.
Lihat baik-baik.
Kau bisa segera tahu.
Aku tak bisa melihatnya.
Permisi.
Namaku bukan "Permisi".
Mereka tak punya ini di Seoul.
Apa kau ingat hal terakhir yang ayah lakukan?
Itu terkenal. Kau melempar tanah padanya.
Akulah orang yang menjual bukitnya.
Aku kehilangan formulirnya.
Kenapa kita tak bisa mengenali ibu?
Bayangan kita tentang orang tua saat mereka muda,
berdasarkan foto.
Kita terlalu sibuk bertahan dan berusaha mengingat.
Kau terdengar seperti Hyungku untuk pertama kali selama 32 tahun.
Orang jadi dewasa setelah mengalami hal seperti ini.
Aku mau memperbaiki yang bocor.
Kau memang kotor sampai akhir.
Apa itu?
Kenapa cuma bengong di sana?
Hey. Kita tak harus menjual tanah ini.
Rumput apa itu?
Warisan ayah.
Bagaimana perasaan Anda menemukan Cymbidium kanran?
Aku senang menemukannya, karena terancam punah.
Mari berfoto.
Spesies yang terancam punah dari Cymbidium Kanran Ditemukan
Suatu kehormatan ya.
[Cymbidium Kanran Ditemukan di Andong]
Kita memiliki formulir persetujuan.
Siapa peduli soal bunga?
Apa ini begitu penting?
Persetan dengan rumput bodoh itu!
Ada rumput di sini.
Apa kau sudah melunasi utangmu?
Tentu.
Tapi aku baru membeli peralatan baru.
Yang bisa menemukan berlian di kutub Utara.
Jangan lakukan. Kembalilah.
Kami ingin memulai sebuah lokakarya.
Nn. Yoon mengatakan ada visi di sini.
Tidak mau.
Aku ingin hidup seperti yang diinginkan ayah.
- Bebas. - Kapan mau kembali?
- Peringatan berikutnya. - Itu banyak sekali.
23 tahun itu lumayan.
Aku akan menganggapnya sebagai kunjungan pertanian orang lemah.
Maksudmu, "pertanian akhir pekan."
Benar. Aku bingung.
Kenapa bisa membingungkan?
Masuk akal bagi seseorang untuk kebingungan.
Jangan jentik jidat. Jangan lakukan.
Penerjemah bahasa Indonesia: Mong_Ji
For more subtitle visit us at IDFL.me :)
[Oh Ro Ra, Yayasan Budaya]
Suk Bong!
Joo Bong!
Permisi!
Apa kau manusia?
Kau bukan manusia, 'kan?
Terjemahan Bahasa Inggris Oleh Jeong Lee
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.