Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ini tahun 2015, dan orang masih berpikir
bahwa pernikahan itu pencapaian sakral bagi wanita.
Aku tidak jatuh dalam perangkap itu.
Beberapa orang lebih suka jika merasa seperti memegang pisau.
Ah!
Tapi aku langsung masuk.
Koki lebih suka pisau berat.
Aku tidak tertarik dengan pisau dapur
tapi aku menikah enam pekan lagi. Jadi, begitulah.
- Jadi, pisau itu lebih tajam? - Sangat.
Memang tidak murah, tapi ini pisau unggul.
Sayang, kita tak bisa berumah tangga dengan pisau payah.
Jadi, sebaiknya pilih pisau yang nyaman digenggam.
Bagaimana kalau pisau Zwilling?
Sadarlah, Wanita gila.
Ini lebih berat.
Dia pandai menilai.
Oh… Yah…
Kurasa karena tubuhmu mungil, pisau Miyabi akan lebih nyaman dipakai.
Aku tidak makan siang 6 tahun
untuk disebut mungil oleh badut ini.
Itu sebutan untuk gadis pendek dan gemuk.
Aku harusnya tahu. Aku dulu begitu.
SMS ibumu.
- Kabari kita sudah resmi terdaftar. - Baiklah.
Luke Harrison Keempat adalah pemain lacrosse di Colgate,
selancar layang di Nantucket,
dan ski di Vail karena Aspen penuh orang kaya baru.
Mmm.
Dia memanggilku "sayang" karena maksud baik.
- Ayo, Sayang. - Ya.
Sebelumnya, dia berhak menikahi gadis kerempeng pirang keturunan Norwegia
dengan nama gender ambigu, seperti Landry atau Devon,
yang bisa mengenali tipuanku dengan mudah.
Hei, bisa kita beli piza?
Siapa kau dan kau apakan tunanganku?
Aku bukan bangsawan,
tapi aku punya hal yang tidak bisa dibeli,
sifatku.
Hanya ada segelintir di dunianya Luke.
Cinta pekerjaan, benci bayi, bahkan bayi manis.
Aku juga punya beberapa rahasia kelam
dan bersyukur Luke tetap mencintaiku setelah tahu semuanya.
Hm, ibuku tanya apa undangannya sudah disebar.
Hm. Setelah kusetujui jenis hurufnya.
- Setelah kau setujui jenis hurufnya. - Ya.
Oh. Setelah Ani setujui jenis hurufnya.
Terima kasih!
Oh, Ibu bilang undangan harus disebar enam pekan sebelumnya.
- Astaga, tinggal 6 minggu lagi? - Ya.
Wah. 6 minggu lagi.
Sudah selesai?
- Ya, bisa bungkus sisanya? - Tentu.
- Toilet. - Baiklah.
Aku pernah dijuluki hewan liar.
Salah satu langkah dan Luke bisa melihatnya juga.
Hmm.
Bereskan saja. Terima kasih.
Astaga. Ada apa ini?
Pramusaji menumpahkan soda ke piza dan gaunku.
Ya ampun.
Sayang, tidak masalah. Ya?
Ayo, aku bantu.
Sayang, aku mencintaimu.
Oh… astaga.
- Aku kenyang sekali. - Kau hanya makan sedikit.
Baiklah, ada beberapa rahasia yang kupendam,
tapi dialah yang membuatku merasa aman.
Aku bangga kau makan karbohidrat.
Aku ingin melihat keringat kalian bercucuran!
Kalian pasti bisa menambah latihan sepuluh detik lagi!
Uh, 19 menit?
Orang-orang harus bekerja!
Bukan aku, tapi orang lain.
Aku tak boleh telat hari ini.
Astaga. Kau akan menemui sutradara film dokumenter itu?
Ya.
Baiklah, kau tak akan terlambat selama ada aku.
Nell Rutherford sudah mengasuhku sejak kami masuk kuliah.
Aku tahu kau tidak pernah naik kereta.
Astaga, tidak, tidak, tidak. Aku… Aku… Aku membencinya.
Baiklah. Aku di sampingmu, jadi…
Nell beramput pirang dan diberi dana perwalian.
Aku pekerja keras yang pernah diberi dana bantuan.
Kami benci asal-usul kami.
Ibumu datang akhir pekan ini, 'kan?
Oh, ya.
Dia sudah tiga kali mencari gaun pengantin untukku
di toko baju murah hingga toko baju mahal.
Wah, dia kebalikan dari seorang legenda.
Baiklah, aku rasa ini sangat cocok denganmu.
Apa? OnlyYou Pro?
Oh.
Kau sendiri mau pakai?
Aku tidak akan menikah sampai presiden kita adalah wanita.
Jadi, kita akan segera tahu jawabannya.
Uh…
Aku, eh… Aku masih takut membuat kesalahan.
Maksudmu menikah?
Bukan. Jenis huruf OnlyYou Pro itu ibarat wanita jalang
yang tidak tahu etiket saat makan bersama.
Astaga, tidak ada yang jenis huruf yang mirip wanita jalang. Tidak ada.
Aku sulit bernapas.
Astaga.
Tidak apa-apa.
Astaga. Astaga.
Ini normal. Ya? Hal ini selalu terjadi.
Ada penundaan…
- Bukan masalah besar. - …akibat lalu lintas kereta di depan.
Terima kasih atas kesabarannya.
Kau tak apa?
Sudah menyala. Lihat?
Stasiun berikutnya, Alun-alun Herald Jl. 34.
- Dan kereta jalan. Bagus. - Ya ampun.
Uh, Eleanor Whitman.
Dibawa dari Atlantic untuk meningkatkan majalah fesyen berbau seksual di kantorku.
Bagaimana akhir pekanmu?
Bagai lari setengah maraton di toko Williams-Sonoma.
- Williams-Sonoma? - Ya.
Cobalah berbelanja di Scully and Scully, tapi jika kau mampu.
Keluarga Luke pasti akan suka.
Apa itu Scully and Scully?
Aku suka sekali toko Scully and Scully.
Aku membeli tempat lilin di sana.
Hm.
Tugas Eleanor adalah menulis topik berbobot,
seperti kesenjangan gaji dan wanita di Afganistan.
Topik tulisanku juga sama pentingnya.
Tulisanmu, Nn. Fanelli,
tidak ada tandingannya.
Aku terkagum usai membacanya.
Ini yang membuat majalah kami laris.
Rupanya, kepuasan pria penting secara global.
Menurut studi terbaru Jurnal Amerika tentang Kesehatan Masyarakat,
tahun lalu, 30 persen penyintas kekerasan seksual
harus bayar 940 dolar untuk uji forensik.
Itu gaji seorang gadis.
Benar. Jadi, aku ingin judulnya "Harga Nyata dari Kekerasan Seksual".
Uh! Lavender. Menjijikkan.
Hm.
Bagaimana jika "Kasus Perkosaan Lebih Mahal dari Sewa Rumah"?
Judul itu bisa membuat kita masuk berita.
Hm…
Nn. Fanelli, beri aku ide nakal agar kita tidak bangkrut.
Baiklah.
Coba kulihat, nakal.
Baiklah, eh, menurut penelitian baru dalam Jurnal Kinesiologi,
bernapas lewat hidung cocok untuk berolahraga
dan diterapkan oleh atlet dunia.
Jadi… 5 minggu menuju seks oral dewa:
Bernapas Bagai Atlet
agar si dia lebih puas dibanding dengan mantannya.
Aku memasukkan namamu dalam doaku.
- Draf selesai sebelum akhir pekan? - Ya.
Terima kasih, Semuanya.
Ikuti aku.
Namamu akan masuk blok utama Majalah New York Times.
Ada di bawahku, tapi lebih baik dari Cuisinart untuk hadiah pernikahan.
Aku hampir menjadi Ani Harrison,
redaksi senior di Majalah New York Times.
Menjadi seseorang yang bisa dihormati.
Karena tidak makan siang, aku bisa pakai ruangan Eleanor jika perlu.
Kelak, aku akan punya ruangan sendiri yang dipenuhi pajangan
dan penghargaan yang bentuknya mirip kelamin.
Sebelum itu, aku akan pura-pura jadi orang penting.
Batu itu milik neneknya Luke.
Eh, maaf. Nananya.
Luke bilang bisa kupasang di cincin berlian,
seperti yang banyak dilakukan para gadis,
makanya aku tidak mau.
Aku sengaja ingin menyiratkan satu hal.
Ini cincin warisan.
Kami tidak hanya kaya, kami berasal dari keluarga kaya.
Kutantang kau.
Hei, Ani, senang berjumpa lagi.
Maaf memaksamu jauh-jauh ke Midtown.
Katie, terima kasih.
Bisa ingatkan Benjamin aku butuh gambar
untuk berita kesenjangan gaji?
Eh, berita apa?
Berita cerdas yang baru kukarang agar terdengar keren.
Tanya Penelope.
- Silakan duduk. - Terima kasih sudah meluangkan waktu.
Mhm.
Eh, aku tahu katamu dokumenter bukan pilihan yang tepat saat ini,
tapi ada perkembangan besar sejak terakhir kita bicara.
Teman sekolahmu dulu, Dean Barton, telah setuju untuk diwawancarai.
Fanelli, jangan kacaukan ini.
Tidak mengejutkan. Dia perlu mempromosikan buku barunya.
Kau pasti sudah menonton pidatonya di depan Kongres musim panas ini.
Hanya 200 kali.
Belum.
Eh, pidato meminta pengetatan pemeriksaan kepemilikan senjata di Pennsylvania.
Cincinmu. Tunjukkan cincinmu.
Sayang sekali, aku sangat sibuk musim panas ini dengan pernikahan
dan artikel berita untuk kampanye Hillary.
Sulit dibayangkan orang masih menanyakanmu tentang itu setelah sekian tahun.
Kau penyintas insiden penembakan sekolah swasta tersadis
dan hal itu terus jadi perhatian publik
karena masih banyak yang belum kau jawab.
Orang ingin tahu. Kau pahlawan atau kaki tangan?
Aku sama sekali tidak terlibat.
- Lalu kenapa Dean bilang kau terlibat? - Entahlah.
Kau tidak mau menceritakan versimu?
Nn. Fanelli. Kau ada di ruangan.
Aku perlu tiga sampai lima versi sampul untuk berita orgasme simultan
saat aku kembali dari makan siang.
LoLo Vincent, pimpinan redaksi Women's Bible.
Aaron Wickersham, sutradara independen.
Oh! Benar.
Kulihat film pendekmu di Festival Film Toronto beberapa tahun lalu.
Kau pria seksi untuk edisi bulan Desember?
Sebenarnya, aku sedang membuat dokumenter tentang kekerasan bersenjata di sekolah.
Aku ingin bicara dengan…
Jangan katakan.
Tifani.
Oh.
Aku sering lupa itu namamu.
Ani lebih ringkas.
Timku menghabiskan sepanjang tahun lalu
meriset kejadian di SMA-mu.
Aku tidak berniat membuatmu marah,
tapi kami menemukan kisah yang sangat berbeda.
Percayalah, aku hanya mencari kebenaran.
Aku janji kerja sama kita tidak akan makin merusak namamu.
Asalkan kau dapat kisah sensasional.
Maaf, tapi mustahil kau bisa menjanjikan hal semacam itu.
Bagaimana kalau aku percaya pada ceritamu?
Terima kasih.
(AKTIVIS - PENULIS - BIOGRAFI)
Oh, Tifani, sekolah ini bagaikan istana.
Ibu pikir mobil-mobil di jalur utama akan lebih bagus,
karena ini wilayah mewah. Oh.
Ibu.
Mmm.
Pasti siswa yang menerima beasiswa menulis ini akan masuk…
Akan masuk universitas top.
Tifani, Ibu tahu kau bosan mendengar ini,
tapi saat kuliah, kau akan bertemu orang-orang
yang akan berperan dalam hidup Ibu kelak
dan kualitas laki-laki di universitas negeri tidak sebanding.
Ya, Ibu..
Ini saatnya! Permulaan hidupmu!
Dah!
Kau sudah jadi gadis tercantik di sekolah!
Ibu!
♪ Kurasa aku tak meyukaimu ♪
♪ Orang tak tahu kemampuan anak gadis ♪
♪ Orang tak tahu yang harus kau buktikan ♪
♪ Kurasa aku paranoid ♪
Aku coba mengenali kelompok siswa
beberapa minggu pertama di SMA Brentley.
Ada anak-anak populer.
- Hai.
Anak-anak cerdas.
Lalu yang lainnya.
Juga guru keren yang seketika mengenali bakatku.
"Holden itu pencerita yang tidak dapat diandalkan.
Orang yang versi kebenarannya, tidak bisa dipercaya."
Itu penggalan dari esai hebat karya Tifani Fanelli.
Selamat datang di Brentley. Selamat.
♪ Dia jin genius dalam botol, Sayang. ♪
Berhenti.
Oh, terima kasih.
Semua punya satu hal yang aku tidak punya.
Bibit berbobot.
Hei! Hilary!
- Hei, Dean. - Belikan aku permen, ya?
Oh.
Tenang, kubantu.
Eh, jangan pakai nampan.
- Terima kasih. - Ya.
Baiklah.
Ayo, duduk bersama kami!
- Liam! - Aku di sini.
Peyton, ambil itu.
- Hei, kau. - Hei.
Apa kabar, Tifani?
Sial, sudah ada yang mengejarnya.
Kutunjukkan kelas bahasa kepadanya pagi ini, Bodoh.
- Finny, aku utang berapa? - Finny?
Eh, Tif-Finny.
Tidak usah diganti.
Hanya Dean yang mau ditraktir oleh anak penerima bansos.
Oh.
Penerima beasiswa menulis.
Yang hanya bisa diikuti oleh siswa-siswa miskin.
Liv…
Mm. Dan kau adalah cicit dari cicit cicitnya John D. Rockefeller…
Tapi tetap kalah saat Piala Esai Salinger dari, ehh…
Baiklah.
Eh, Olivia terpaksa ganti nama marganya dari Rockefeller jadi Kaplan
karena ancaman penculikan.
Ini masa yang mengerikan baginya.
Astaga. Finny, hati-hati dengan anak aneh ini.
Semoga kau tersedak permenmu itu, Dean. Dasar brengsek.
…kendali senjata, dan disetarakan
dengan upaya pelarangan kepemilikan senjata.
Dulu aku juga berpikiran begitu, Rachel.
Hingga aku menyadari RUU itu tak akan mengancam hak konstitusionalku
dan memastikan senjata yang melukai tulang belakangku
terdaftar dan terkunci di tempat aman,
jauh dari orang bermental tidak stabil dan berbahaya yang membunuh teman-temanku.
Kenapa kau menonton ini?
Dean, kami sangat menghargaimu…
Sutradara itu menghubungiku lagi.
Oh.
Apa maunya dia?
Dean jadi narasumber dokumenter.
Bagus.
Itu upaya terakhirnya agar kau bersedia.
Kau inti ceritanya. Kau tidak pernah diwawancarai.
Dia butuh kau.
Hei.
Lakukanlah kalau kau merasa perlu.
Tapi ingat, kau tak perlu membela diri kepadaku
atau korang yang sungguh mengenalmu.
Siapa peduli pendapat orang?
Mudah bagimu karena semua orang mencintaimu, Luke.
- Boleh kuberi kabar baik? - Ya.
Mereka berusaha membujuk kita untuk pindah ke London.
Perusahaan Luke menawarkan banyak uang
agar kami pindah ke London.
Aku akan bertelanjang kaki dan hamil tahun depan.
John bilang kalau tempat ini peringkat enam sedunia untuk program magister.
Ayolah, Luke.
Program itu hanya untuk gadis kulit putih yang tidak bisa digaji untuk menulis.
Kupikir kau akan senang.
Hanya saja, hari ini LoLo bilang kalau dia sudah hampir selesai
meninjau kontraknya dengan Majalah New York Times.
Ani, maafkan aku, tapi kita sudah sering mendengar itu.
Sebelum ada tawaran yang pasti, itu tidak nyata.
Tapi London nyata.
Ini adalah peluang yang nyata bagimu.
Baiklah. Kupertimbangkan.
- Pikirkanlah. Aku joging dulu. - Baiklah.
Anggap ini awal yang baru, Sayang.
Astaga, ini seru sekali!
- Cepat! Berdansa dengannya! - Ya, ya, aku tahu.
Perhatikan!
Astaga!
Tarian Liam seperti hewan sedang kawin!
Dean pasti sangat cemburu!
Gerakkan kakimu!
Hei, Ben, coba lihat ini!
- Oh! Oh! Hei! Oh. - Baiklah.
- Ah! - Apa…
- Apa-apaan kau ini? - Tenanglah.
Dasar orang aneh. Jangan dekat-dekat aku.
- Tenang. - Dasar brengsek.
- Ayo. Kemari. - Akan kubunuh dia.
Ya!
Hei!
Dia sangat tampan!
Arthur, sepertinya aku hamil.
Oh, ya. Anak-anakmu akan butuh guru les nanti.
Tunggu. Kenapa aku merasa kita baru melakukan hal yang buruk?
Kau sudah janji tidak akan macam-macam.
Janji dibuat untuk dilanggar, Sayangku.
Ah!
Dia minum alkohol. Ayo kita hampiri.
- Oh, Arthur. Arthur. - Arthur.
Arthur, hentikan.
Kau harus ikut Ibu, sekarang!
Ikut aku.
Hilary!
Ayo, ayo!
Jangan berhenti! Ayo, cepat.
Anak-anak. Kalau pergi, Bapak harus hubungi orang tua kalian.
Ibu tahu saya pergi ke rumah Dean.
Dia berteman baik dengan Bu Barton.
- Ya. - Tiff akan menginap.
- Telepon saja ibunya Hilary. - Ya.
Ya. Telepon ibu saya.
Baiklah.
Ya, ini aku.
Ayo! Cepat.
Hei!
Hai!
- Hai, Pak Larson! - Jangan!
- Jangan! - Terima kasih!
Dia akan telepon ibuku.
Aku suka lagu ini!
Gaun tanpa lengan cocok untuknya.
Dia cocok pakai apa pun.
Walau dadanya dikecilkan, bahunya masih lebar.
Wah.
Nikahi aku.
Hm!
Coba pakai sabuk.
Kau perlu semacam hiasan karena gaun ini terlalu polos.
Kalau mau menunggu 5 detik saja,
Ibu tidak perlu menghina gaunku.
Aku tidak menghina gaunnya! Memangnya aku menghina gaunnya?
Kau itu hanya ingin dia menonjol!
Nell paham.
Ibu pernah menonton acara TV tentang pernikahan,
dan gadis di acara itu
pakai, em, rok tulle putri raja yang bisa dipasang dan dilepas.
Kate Middleton tidak pakai tulle putri raja saat menikah.
Jadi, mempelai dari Ohio sebaiknya juga tidak usah.
Terima kasih.
Ya, dia hamil sekitar 6 bulan.
Hm.
Tetap saja, Ibu lebih pilih itu daripada, em, pakai bolerino.
Bolero.
Oh, Bolero.
Minumlah lagi.
Ani.
Maaf kalau Ibu ingin merayakan hari paling penting dalam hidupmu.
Ibu mau lihat-lihat obral di atas.
Bu, maaf, tapi gelas ini tidak boleh dibawa keluar butik.
Baiklah, jangan bunuh aku, tapi aku agak setuju dengan ibumu.
Kau lebih seksi daripada ini, 'kan?
Aku akan menikah di wilayah yang elit.
Aku tidak mau mempermalukan Luke memakai gaun payet putri duyung.
Astaga. Mempermalukan Luke? Ugh. Ani, ya ampun.
Nell, ini tinggal 5 minggu lagi.
Kenapa kau baru bilang kalau gaunku jelek?
Tidak, gaun itu tak jelek. Tak ada yang salah tentangmu.
Ya ampun. Tenangkan dirimu, oke?
Yah, itu tidak mungkin
jika ibu-ibu dari pedesaan di Pennsylvania ada di sini.
Baiklah kepada ibumu.
Potongan itu pas denganmu.
Bagian tengahnya lebih tertutup dibanding bajumu yang lain.
Wah!
Dari Aaron si sutradara itu.
Biarkan masuk kotak suara.
Aku pikir sudah kau tolak. Kenapa dia masih meneleponmu?
Sudah.
Tapi seandainya saja aku akan berubah pikiran,
aku bisa meluangkan waktu.
Astaga.
- Ani. - Hal yang bagus, 'kan?
Sayang, kau mau membeberkan kalau Dean Burton orang brengsek yang sok suci.
Itu hal yang luar biasa bagus.
Hal yang menakjubkan.
Tidak. Eh, entahlah. Aku… Aku belum siap.
- Kau membutuhkan apa lagi? - Oh.
Coba kupikir. Ah, Dean berpidato di Kongres dan jadi viral…
tapi aku harus menyerahkan artikel Senin nanti tentang cara memuaskan pria
yang lebih peka dibanding pria yang disunat.
Menurut para ahli.
Dulu tidak ada yang percaya aku,
karena aku orang miskin berpakaian murah.
Untuk melakukan ini, aku harus tidak terbantahkan.
Aku harus bisa bilang kalau aku kerja di New York Times,
tinggal di gedung berpenjaga pintu di Tribeca,
dan namaku Ani Harrison
karena aku istri kapten lacrosse Nantucket.
Orang tidak akan berani percaya cerita dari Dean
jika aku menyeka air mataku dengan tangan yang ini.
Lumayan bagus.
Tapi kau tak butuh itu agar bisa dipercaya.
Itu kau.
Aku butuh.
Sangat butuh.
Astaga, orang-orang itu sangat sombong
Kalian itu hanya karyawan ritel.
- Aku mau menelepon sebentar. - Baiklah.
- Silakan dibawa. - Oh, Terima kasih.
Cincin itu seperti kartu izin.
Hai, Ani. Aku senang kau telepon.
Aku tidak enak hati dengan pembicaraan kita di kantormu.
Kepsek yang baru mengizinkan syuting di sekolah pada pekan kedua September.
Kami sedang menyusun jadwal dan ingin tahu apa kau mau datang.
- Oh, bagus. Spencer. - Telepon balik begitu sempat, ya?
Oh. Maaf. Kau sangat mirip putriku.
Eh, orang sering salah mengira aku orang lain.
Mumpung ada kau…
- Yang itu. - Mm.
Seleramu bagus.
Hai, Aaron?
Aku selalu di Ritz Carlton saat pulang.
Bagus.
Sayang, ini dia!
Oh!
Tuangkan untukku!
Cepat!
- Bersulang!
Oh, Ya!
Yang itu juga.
- Ayo minum lagi! - Hilary.
Hilary, ibumu datang!
- Ibuku datang. Sial, ibuku datang. - Apa?
Kita harus pergi!
Apa? Aku harus pergi.
Tif, kau tak ikut?
Kau tak bisa mengajaknya! Maaf, tapi tak bisa!
Tif!
Pergi dari sana.
Dia tidak mau melepasku!
Finny! Minum!
Ayo! Rumahku, peraturanku!
Ani?
(JANGAN NIKAHI GADIS GILA ITU)
(HAPUS UNGGAHAN)
(KITAB WANITA)
Perusahaan sial.
Panduan terbaru adalah, kita hanya boleh menulis memakai frasa kelamin wanita.
Baiklah.
Oh, tapi kau tidak perlu tahu, karena kau tidak bekerja di sini lagi.
Kita pindah ke New York Times.
Oh! Hebat! Ya!
Wuuu!
Terima kasih.
Hai. Reservasi untuk empat orang atas nama Harrison.
Pukul delapan malam.
- Hei.
Hai.
- Kau tampak senang. - Aku sedang punya kabar baik.
Satu orang rombonganmu sudah di bar.
Baik. Oh, hm, nanti kuceritakan.
Tolong. Terima kasih banyak.
Itu orangnya. Itu… itu istrinya.
Baiklah.
Whitney.
- Luke. Hai. - Senang bertemu.
Hm. Andrew datang agak terlambat.
- Ini Ani, tunanganku. - Hai, Whitney.
- Senang berkenalan.
Maaf, tapi aku sudah lama tertahan di rumah bersama bayi 16 bulan.
Bayi 16 bulan?
Tapi kau tampak cantik.
Luke menyebutku pawang istri.
Kau punya fotonya?
Apa susahnya?
Bersikaplah mereka yang menciptakan urusan keibuan.
Geser ke kanan.
Ada tempat di neraka untuk wanita yang tak puas
hanya menunjukkan satu foto anaknya.
Astaga, ya ampun. Lihat bayi manis ini!
- Sayang, lihatlah. - Manisnya. Boleh minta bir?
Apa ini suamimu?
Setahuku begitu!
Maaf! Astaga. Jalan Lima macet parah.
- Dia datang! - Luke.
- Senang bertemu! - Senang bertemu.
- Sayang. - Hei.
Ini Ani.
Senang berkenalan. Andrew.
Pak Larson, ini aku.
TifAni.
TifAni?
Eh, Pak Larson? Eh… Dia dulu gurumu?
TifAni.
Eh, aku tidak mengenalimu. Kau tampak…
Seakan semua itu tak pernah terjadi.
Meja kalian sudah siap.
Jadi… Maaf. Tunggu. Kau ganti nama atau…?
Bukan, ini, em, TifAni dari waktu aku keluar dari Brentley.
Oh.
Astaga!
- Aku sangat prihatin atas… - Astaga.
- Kau tahu, segalanya. - Tidak masalah.
- Eh, yang kau alami, aku… - Oh, aku mengerti.
Luke, buat dia berhenti.
Tapi aku ikut prihatin. A… A…
Yah, siapa tahu ini bisa menghibur,
tapi berkat kau, suamiku yang naif jadi masuk derivatif kredit.
Kau tahu, TifAni itu dulu, eh, penulis paling andal di kelasku.
Sekarang dia jadi redaksi senior di Women's Bible.
- Women's Bible? - Ya.
- Hebat sekali. - Terima kasih.
Dulu aku menyembunyikan majalah itu dari ibuku.
Masa lalu tak pernah mati, bahkan tak berlalu.
Bersulang untuk Konfusius!
Hmh. Faulkner.
Bersulang.
Bersulang.
Hm! Jadi, Ani, ceritakanlah kepada kami.
Bagaimana pendapatmu tentang sutradara dengan jins ketat itu?
- Kau… ikut dalam dokumenter? - Mereka mengundangmu juga?
Kau juga diundang, 'kan?
Ya.
Se…harusnya dari dulu.
Untung saja waktunya cocok.
Kami mungkin akan pindah ke London setelah menikah.
- London? - Ya.
Ya. Luke diminta untuk memimpin biro Eropa milik BlackRock.
- Luke! Aku ucapkan selamat, ya! - Terima kasih.
- Hebat sekali! - Kami masih pikirkan rinciannya.
Apa kau akan bisa menulis untuk majalahmu dari sana?
Sebenarnya, aku baru saja diterima
idi program magister di Goldsmith.
- Di Universitas London. - Oh!
Semoga untuk mengajar.
- Oh! - Oh!
Ugh. Sudah cukup, Pak Larson!
Kadang aku merasa bagai boneka bertuas.
Putar kunciku dan aku akan bicara sesuai keinginanmu.
Walaupun dia sangat mampu,
Pak Larson tidak pernah sekali pun membuatku malu.
Hei.
Pasangan kita mencari taksi ke Jl. 7.
- Bisa kuceritakan sesuatu? - Tentu.
Hari ini, aku dapat tawaran kerja dari Majalah New York Times.
Hebat sekali!
Aku tidak berperan apa-apa, tapi aku sangat bangga.
Terima kasih.
Bagaimana dengan London dan kuliah magister?
Akan kupikirkan.
Tif, aku tahu bagaimana kelanjutan hal ini.
Jangan langsung setuju.
Aku senang kau ikut dokumenter.
Dia sebenarnya tidak sependapat.
Dia tidak percaya kepada sutradara berjins ketat itu.
Jadi, kau langsung setuju?
Aku boleh menyebutmu brengsek sekarang?
Seharusnya kau boleh melakukan apa pun.
Baik.
Senang bertemu denganmu.
Pak, apa AC-nya nyala?
Sebentar lagi akan dingin.
Kau serius akan perkataanmu soal London?
Entahlah, kadang-kadang aku merasa seperti salah satu pencapaian hidup bagimu
agar kau tampak berhasil.
Aku bukan orang brengsek yang tak menghargai kariermu
hanya karena gajinya tak sebesar gajiku.
Kau tahu itu, 'kan?
Menurutku kau sangat berbakat dan sangat kreatif.
Itu yang aku suka darimu.
Itu alasan aku mau kita pindah ke London.
Kurasa kau dibatasi di tempat kerjamu dan jujur, kau lebih baik dari itu.
Aku harus menulis cara memuaskan pria selama 9 tahun aku berkarier.
Aku tidak akan mendapat tawaran dari New York Times tanpa bantuan LoLo.
Kau dapat tawarannya?
Ya.
Apa dan di mana?
Ini benar?
- Ya. - Gajinya tidak naik 10%.
Itu New York Times. Aku tidak mengincar gajinya.
Ini membuatku berpikir mereka tak menghargaimu.
Bukan karena aku. Kini sulit mendapat uang di penerbitan.
Tepat sekali.
Dengar, pergilah ke London dan ambil program magister. Kau bisa menulis buku.
Karya ciptaanmu sendiri dan yang adil bagimu.
Kau lebih ingin dikenal karena karyamu atau hal yang terjadi di masa lalumu?
Tidak.
Tidak, aku ingin dikenang atas apa yang sungguh terjadi kepadaku.
Aku mau nama baikku pulih. Hanya itu yang kupikirkan.
Aku tahu kau sudah lama mempertimbangkan dokumenter ini
dan aku tidak melarangmu,
tapi Dean sudah membalik kengerian yang menimpanya menjadi perbuatan baik.
Orang menghormati itu dan juga menghormati dia.
Kau mengerti maksudku.
Ya.
Persaingan redaksi pemuas pria dan pahlawan UU senjata.
Astaga, tentu saja! Ah!
Astaga! Andai saja ada cara bagiku untuk menulis topik-topik penting
di majalah terhormat dan berpengaruh di seluruh dunia,
mungkin…
aku akan dihormati orang seperti Dean.
Sial! Andai saja aku bisa bekerja di tempat yang sulit dicapai itu!
Kau sedang marah. Percuma bicara denganmu saat marah.
Agh! Panas sekali di sini!
Aku akan jalan beberapa blok terakhir.
Pak, tolong jalan terus saja.
Ya ampun, Peyton.
- Hei, yang benar saja. - Kau belum selesai juga?
Pergi kau, Liam.
Kita bisa jalan-jalan.
Apa-apaan dia?
Astaga, aku tak sanggup melihatnya.
Ayolah, lakukan sesuatu.
Tidak. Itu urusanmu.
Oh.
Ya ampun.
Urus pacarmu, Liam.
Hei.
Oh.
Hei. Kau sudah aman.
Aduh…
Hai, em, Dean…
Aku hanya ingin minum.
Tidak usah. Sebaiknya kau tidur saja.
Ya, tapi aku haus.
Dean!
Tunggu! Berhenti!
Tunggu! Tunggu! Tunggu! Berhenti! Berhenti! Berhenti!
Berhenti! Berhenti! Tunggu!
Dean, tunggu. Berhenti! Berhenti! Kumohon, berhenti!
Stop! Stop! Wait! Wait, no!
Kumohon!
Kumohon, berhenti!
Sial!
Brengsek.
Finny!
Sial.
Finny.
Sial! Dasar perempuan sinting! Keluar!
Panas sekali! Mobil ini seperti sampah!
Sial! Dasar brengsek! Keluar sana!
- Keluarkan dia! - Sayang, keluar!
Jangan pernah sentuh aku!
Sial kau!
Jangan kau sentuh aku!
Kau ini sudah gila.
Permisi.
Apa kau tahu jalan ke SMA Brentley?
TifAni?
Hei. Hei.
Hei, apa yang terjadi?
Hei, apa yang terjadi?
TifAni, apa yang terjadi?
Silakan masuk.
Bajunya agak besar, tapi bersih.
Dengar, boleh Bapak…
membawamu ke rumah sakit sekarang?
- Bapak harus menelepon ibumu. - Jangan.
Dengar, kau… kau tidak bisa di sini.
Bukan maksudnya…
Bapak bisa mendapatkan masalah besar.
Terima kasih.
Dean ingin bertemu denganmu.
Aku tidak mau.
- Dengarkan aku. - Tidak.
Dia mau menarik tuduhanmu terlibat penembakan.
Ani, dia mau memulihkan nama baikmu.
Dia mau bertemu dan minta maaf di depan kamera.
Ugh, aku sangat benci suara lembutmu itu.
Maaf, hm…
Apa?
Kenapa?
Mungkin kau ada gambaran?
Ugh, Demi Tuhan, tolong akhirilah penderitaan orang ini.
Mungkin perkosaan kelompok.
Itu dia, sudah kukatakan. Tak bisa ditarik lagi.
Dari info yang aku dapat,
kau berpartisipasi dalam kejadian itu. Aku…
Ani, aku prihatin. Itu terkutuk.
Ya. Aku tidak dapat piala partisipasi.
TifAni… maksudku, Ani.
Kalau kau bersedia,
aku bisa menambah satu hari ekstra dalam jadwal.
Syuting kalian akan terpisah sampai kau memberiku izin.
Kau yang memutuskan.
Untuk apa mengejar bobot kualifikasi jika tak mau bertarung?
Baiklah.
Keamananmu dan kenyamananmu adalah prioritas utama kami.
Kami tidak ingin kau trauma lagi.
Kami bisa mencari pengacara untuk korban.
Maaf, harusnya kutanya dulu kau disebut penyintas atau korban.
- Hal itu penting zaman sekarang. - Oh.
Ugh, penyintas? Menjijikkan.
Berarti kau korban?
Ya.
Korban.
Hm!
Jelas yang ini.
Aroma ek-nya samar. Aku benci aroma ek.
Hm. Ibu, astaga, mungkin aku ini anak adopsi.
Kalian tahu? Yang benar "brusketa", bukan "bru-syeta".
TifAni yang mengajarinya. Dia dan Nell pernah tinggal di Roma.
Jaga sikapmu, Fanelli.
Itu pasti pengalaman menyenangkan bagi kalian.
Oh, aku suka Italia.
Penerbangan dari London juga tidak lama.
Oh!
Kau belum cerita. Kau sudah pasti pindah ke London?
- Ibu, kami belum memutuskan. - Ingat?
Oh, oh, Ibu minta maaf. Ibu salah paham.
Em…
Aku pamit sebentar.
Baiklah.
Menyenangkan. Bersulang.
Dan kini akan berkomentar, Dean Barton.
Satu hari Kongres gagal bekerja sama
memeriksa kepemilikan secara seragam…
Maka satu hari lagi siswa bertaruh nyawa…
hanya untuk bisa sekolah.
TifAni?
Itu pengabaian.
Kenapa Ibu kemari?
- Kita berutang kepada anak-anak ini. - Mau melihat keadaanmu.
Kenapa?
Bambina kecilku.
Aku mulai panik karena akan bertemu Dean.
Benar.
Bagaimana kalau aku tidak marah lagi begitu melihatnya di kursi roda?
Aku tidak mau kasihan padanya.
Lebih baik kalau aku membencinya.
Oh.
Bagaimana kalau kita keluar dan minum sampai mabuk berat?
Hm?
Ayolah. Kau akan membeberkan Dean Barton sebagai sampah.
Anggaplah itu sebagai hadiahmu.
Di mana sang mempelai wanita?
Oh.
Ya ampun. Bagaimana aku bisa melalui ini?
Sang mempelai datang! Akhirnya!
Hai, Bibi! Hmm!
Hallsy itu bibi Luke dan wanita terhormat,
tapi itu cerita lama setelah dia mengencani 20 pemain tenis.
Kenapa banyak yang tidak suka aroma ek sekarang?
Oh, ini anggur beraroma mentega khusus untuk Bibi!
Hanya itu kebanggan California.
Aku minta tolong. Jangan satukan aku dengan Gilmartin.
- Bibi kenapa lagi? - Aku tidak melakukan apa-apa!
Mereka terlalu sensitif soal taman baru.
Jangan tersinggung, ya?
Pasti mereka akan kebisingan.
Mereka setuju pasang penyangga kedap suara.
Taman macam apa butuh penyangga kedap suara?
Taman menembak. Dinah.
Aku rasa wajar kalau pemilik senjata ingin menikmati hobi mereka.
Sebagai wanita, aku merasa lebih kuat saat menembak…
daripada mengomel tentang segalanya.
Baiklah, aku mau masuk. Ada yang mau air putih?
Aku mau! Tanpa es.
Jangan cemas, kau tidak akan duduk bersama Gilmartin.
Tapi di meja dua belas
bersama tante girang keriput sepertimu.
- TifAni. - Ya ampun, eh…
Astaga.
Oh, sial.
Dia…
Dia sedang lelah.
Ini pekan yang berat baginya.
Ani!
Berhenti!
Ani.
Aduh, sial!
Ani!
Berhenti!
Sial.
Kau puas dengan hidupmu, TifAni?
Ya. Ibu, aku sudah membangun kehidupan yang sangat nyaman.
Berapa gajimu setahun?
Apa?
Berapa gajimu setahun, Sayang?
Eh, 80 ribu.
Kadang lebih dari itu kalau aku dapat menyunting sebuah perluasan merek.
Baiklah. Kita anggap saja 90 ribu.
Berapa harga jam tanganmu itu?
Kau pikir Ibu tidak sadar itu Cartier?
Ibu tidak tahu menanyakan harga barang itu tidak sopan?
Oh, Ibu tahu. Ibu tahu kau pikir hidup Ibu tidak berarti.
Tapi kau menghabiskan 1.500 dolar sebulan untuk sasana
lalu 12.000 dolar untuk KPR.
Lalu 90 ribu yang Ibu sisihkan susah payah dari tunjangan perceraian
agar bisa di rumah bersamamu dan tidak perlu bayar penitipan anak.
Ibu memakai uang itu untuk sekolah
yang menuntunmu kepada pria seperti Luke.
Dan Ibu… Ibu sedang berusaha maksimal
untuk bisa akrab dengan keluarga Harrison. Itu tidak mudah.
Tapi kau ikut dokumenter itu?
- Apa hubungannya dengan ini? - Segalanya!
Segalanya, TifAni. Segalanya.
Karena kau malu dengan Ibu dan jangan menyangkalnya.
Bayangkan saat mereka tahu apa yang terjadi.
Anak mereka laki-laki,
bukan perempuan yang cepat bertumbuh
dan berani mengambil risiko.
Mereka tidak tahu rasanya.
Ibu berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu.
Sungguh.
Karena itulah Ibu membuat banyak aturan,
tapi kau tidak mau mengikutinya.
Itu pilihanmu.
Jadi, terserahlah.
Tapi…
Tapi setidaknya, jangan bawa-bawa nama Ibu!
Ibu bertindak layaknya seorang ibu yang baik.
Sungguh.
Kau akan tahu, kelak.
Kau akan tahu betapa sulitnya.
Baiklah.
Kau tidak akan tahu kalau terus menjauhi Luke.
Setidaknya kau tidak akan punya setumpuk uang milik orang
saat menyebut Ibu tidak sopan.
Permisi.
TifAni.
Tunggu.
Maafkan aku.
Ibuku tanya artinya tante girang.
Ah!
Baiklah.
Uh!
- Sayang? - Ya?
Bisa kita lakukan dengan lembut?
Ya.
Baiklah.
Sudah.
Aku tidak bisa. Berdirilah.
Tolong menyingkirlah. Maaf. Aku tidak bisa…
Astaga.
Aku mungkin tidak selalu benar,
tapi setiap aku bersikap hormat, seakan kau tidak tahan.
Terima kasih sudah mengantarku.
Peluangmu hamil hanya 30%,
tapi lebih baik jaga-jaga.
Oh.
Aku baru dengar itu.
Liam?
Aku ingin bilang, aku tidak bermaksud pacaran dengan orang lain.
Itu tidak masalah.
Tapi aku juga merasa…
Kurasa aku diperkosa.
Kau sudah gila, ya?
Apa kau sudah gila, hah?
Kau tahu apa itu perkosaan?
Kenapa kau bilang itu kepadaku?
Maafkan aku. Maksudku bukan kau.
- Finny! - Itu dia.
Finny, kalau aku masih pusing, kau pasti juga sama.
Hei, ayo, ayo! Keluarlah!
Hei, Nona.
Kau itu seperti hewan liar.
Hei, kalian berdua harus lebih maju.
- Kau memang pecundang! - Pecundang?
Itulah dirimu tadi malam.
Apa ada permainan yang kau menangkan?
- Ya, aku menang dua! - Kurasa tidak.
Kalau aku kalah sebanyak kau, aku pasti sudah lama pergi.
Oh, ayolah.
Luke?
"Oh, Sayang, kenapa bibirmu bisa terluka?"
"Karena istriku mengidap penyimpangan seksual, Ibu."
TifAni, Bapak memberi tahu Kepsek Mayer
kejadian dengan tiga murid itu akhir pekan lalu.
Apa kau berencana melaporkan ini?
Bagaimana caranya? Apa yang terjadi?
Mereka akan diinterogasi polisi.
Mungkin itu akan tercantum pada berkas pendaftaran kuliah mereka.
Kalau kau akan melapor,
yakinlah dulu dengan perkataan untuk laporanmu.
Mungkin itu akan sulit, mengingat kau banyak minum alkohol.
Kau pasti tidak ingat jelas.
Tak ada yang membingungkan, Kepsek Mayer.
Dia sudah menolak.
Benarkah? Kau menolaknya?
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu.
Aku tidak mau.
Aku bilang, "Aduh."
Aku ingat berulang kali mengaduh.
Aku ingat berteriak kepada Dean.
Aku berusaha mendorong Liam,
tapi dia kira aku menyentuh wajahnya, jadi dia menciumku.
Dia juga mabuk berat.
- Bapak sedang apa? - Menelepon ibumu.
Bapak tak bisa melaporkan kasus anak di bawah umur
tanpa memberi tahu walinya.
Hentikan!
Hentikan.
Tidak.
Tidak.
Aku berubah pikiran.
Pak Larson dipecat.
Katanya dia seharusnya melarang kami meninggalkan sekolah.
Dia jadi kambing hitam. Dean tidak tersentuh.
Masuklah.
Hei! Hei, Hei, Hei!
Oh, hm, itu milik ayahnya.
Dia hanya bisa membuatku masuk Columbia dan keluar dari neraka ini dengan mudah.
- Mau ini? - Tidak.
Aku tidak bisa bernapas.
Haruskah kita cerita kepadanya?
Cerita apa?
Um…
- Arthur, sebaiknya jangan. - Ayolah, kita semua teman.
Dua musim panas lalu, Dean dan Peyton datang
ke pesta kelulusan kelas delapan Kelsey Quick.
Mereka semua 16 tahun dan labil dan kau tahu…
- Aku pikir mereka bersikap ramah. - Oh, mereka tidak bersikap ramah.
Mereka ingin merokok bersama kami.
Dari dulu kau tidak menceritakannya agar aku tampak bodoh karena telah pergi.
Pergi ke mana?
Ya, ke dalam hutan.
Di sana Peyton menindih Ben di tanah dan Dean buang air besar di dada Ben.
Kudengar dia sengaja makan burito hari itu.
Sialan kau, Arthur! Kau ini memang brengsek.
Ya, baiklah. Lalu dia lari ke Alun-alun Suburban,
pergi ke apotek, membeli silet,
dan menyayat pergelangannya di toilet.
Apa itu benar?
Ya.
Apa? Jelas sayatannya tak cukup dalam untuk bunuh diri.
Orang tuanya menyuruhnya membuat kalung makaroni selama musim panas.
Tapi kenapa kau begitu kepadanya? Kau bersikap seakan kau marah kepadanya.
- Aku memang marah kepadanya. - Kenapa?
Dia tidak membalas mereka!
Itu tindak kejahatan. Senjata perang biologi!
Tapi dia membiarkannya saja.
Sekarang, hal itu terjadi lagi.
Kau telah membuka jalan
bagi mereka untuk terus mengulangi perbuatan mereka.
Ibuku tak boleh tahu.
Dia akan membenciku.
Baiklah. Ya, semua orang berpikir begitu
Aku diskors, tapi ibuku tetap merasa aku ini anak yang baik.
Tidak. Kau tidak mengerti watak ibuku.
Ya, memang tidak.
Ibu macam apa yang tidak melindungi anaknya mati-matian?
Sayang, lihatlah ini.
Oh, bagus. Rajutan lagi.
- Kau suka ini untuk dansa pertama, 'kan? - Tidak.
- Apa? Bukannya kita sepakat. - Tidak. Kita tidak pernah sepakat!
- Kita sudah sepakat. - Astaga.
Apa maksudmu? Ini… Astaga!
- Astaga. Baiklah, lalu apa? - Lalu ada…
Nah, ini daftarnya.
- Daftar lagu resepsi pernikahan. - Baiklah.
Tidak, jangan diputar.
- Jangan? - Jangan.
Jangan diputar.
- Kau tidak suka lagu ini? - Tidak.
Aku suka lagunya, tapi penyanyinya pedofil.
- Tapi kau masih bisa menyukai lagunya. - Aku suka.
Apa yang tidak kau pahami?
Menurutmu ucapanmu masuk akal?
- Baiklah, matikan. - Tidak mau.
Matikan lagunya.
Luke, matikan lagu sialan itu!
Baiklah.
Puas?
Oh. Dua orang kesukaanku!
Kau memberi tahu Kepala sekolah kau menikmatinya?
Oh, imutnya. Itu menggemaskan.
Wah, bokongmu besar sekali.
Oh, terima kasih. Aku sering olahraga.
Hentikan. Ayo pergi.
- Astaga. - Kau imut saat marah.
Ayo, pukul aku. Tak ada yang menghentikanmu.
Ayo hajar dia!
Ini semua salahmu!
Ayo!
Sial.
Dean! Cepat! Ayo cepat pergi dari sini!
Cepat.
Oh, sial.
- Pergi. - Ada apa ini?
Oh!
Kau tak tahu itu Bu Hurst. Kenapa tak minta maaf saja?
Oh, seperti kau dan segalanya baik-baik saja bagimu sekarang?
Ayolah. Itu lebih baik daripada dikeluarkan.
Kau pikir bisa masuk Columbia sekarang?
Baiklah. Jaga nada bicaramu, Nona.
Saat itu aku sedang membela temanku.
Aku tahu.
Terima kasih.
Aku tidak mau kau berterima kasih.
Bersikaplah seakan kau punya sebersit harga diri.
Cukup sebersit kecil saja harga diri.
Setidaknya kau pasti punya itu, 'kan?
Kau tak bisa marah kepadaku. Aku tak minta kau melakukan ini.
Kau seharusnya marah kepada dirimu.
Kau berpeluang menjatuhkannya, tapi tidak kau lakukan,
karena kau begitu ingin diterima kembali.
- Kau terdengar sangat bodoh sekarang. - Ya, aku yang bodoh. Hm.
Aku tak akan menjatuhkan Dean. Arthur, bukan begitu cara kerjanya.
Kau minta maaf kepada Liam! Ya ampun!
Kau minta maaf kepada orang yang memerkosamu.
Aku tidak habis pikir, bagaimana kau bisa menerimanya?
brengsek kau!
TifAni, tunggu, tidak.
TifAni, tunggu. TifAni.
Ini. Kau itu sungguh pecundang.
Hai, Sayang, aku mau bilang semoga sukses hari ini.
Aku tahu kau gugup, tapi semua akan baik-baik saja.
Kau layak mengakhiri ini.
Aku mencintaimu. Dah.
Ani, kau siap?
Kita akan syuting di sini.
Kalau kau butuh apa pun, bilang saja kepadaku, ya?
Ah…
- Siap? - Siap.
Mulai.
Baiklah, eh, Ani, apa kau siap?
Bisa kau ceritakan pengalaman pribadimu di hari tragis itu?
Kapan pun kau siap.
Aku dari dulu berpikir,
orang terlihat rapuh bila dilihat dari belakang.
Kita bisa mengamati setiap pori, helai rambut mereka,
seakan mereka tidak berdaya.
Aku hampir berpikir
rambut pirang di belakang leher Dean itu indah,
padahal rambutnya yang lain gelap dan kasar, saat dia melompat.
Tif! Tif! Tif!
Ayo! Ayo! Ayo!
Olivia!
Ayo!
Ayo! Cepat! Cepat!
Dia bawa senapan. Aku melihatnya.
- Angkat mejanya! - Siapa bawa ponsel?
Ponsel? Baiklah.
Ben!
Tidak ada sinyal!
Kau merasa sedih.
Tampaklah sedih.
Dia tidak seharusnya mengalami itu.
Saksi menyatakan bahwa Ben berkata…
Hei, Tif.
Seakan kalian berdua sudah sepakat.
Apa itu benar?
Ya.
Sepakat mengenai apa?
Aku juga ingin balas dendam.
Bahwa dia juga seorang korban.
Hei, Peyton.
Kau mau ke hutan? Hm?
- Mau mengisap ganja? - Ben.
Ben, aku sangat menyesal…
Ben?
Ben!
Bagaimana perasaanmu saat dia pergi?
Apakah perasaanmu menjadi lega?
Begini, kami jadi berdamai saat itu,
karena kami tahu kami harus menolong Peyton.
Astaga.
- Hei. - Tidak.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kita harus keluar dari sini.
Itu untuk apa?
Kita harus keluar dari sini.
- Naik atau turun? - Kamar asrama lama di atas.
Apa dia naik?
Menurutku turun.
- Cepat! Cepat! Lari terus! Lari! - Ayo! Ayo!
Ayo!
Ayo, cepat!
Kau tidak menahan pintu untuk Liam Ross.
Bisakah kau jelaskan alasannya?
Karena aku tak mau mati demi salah satu pemerkosaku.
Karena aku tidak cukup berani.
Astaga. Astaga. Astaga. Dean! Dean!
Dean.
Nona-nona!
Kalian di sana.
Arthur.
Beth. Pergilah. Aku menyukaimu.
Kau…
Si gadis pengecut.
Kau mau melakukannya.
Apakah jahat kalau aku mau?
Kumohon.
brengsek!
Ekspresi wajahnya, dia… seperti bingung,
seakan aku salah menargetkan orang.
Sampai sekarang, aku tidak bisa memegang pisau tanpa teringat wajahnya.
Ya ampun, Ani.
Terima kasih.
Semua akan baik-baik saja.
Kau sangat berani, TifAni.
Jangan katakan itu.
Aku tak percaya dia datang.
Menjijikan.
Apa kau percaya itu?
Aku tidak sadar aku melayat diiringi tatapan benci semua orang.
Cerita versi Dean soal kejadian itu tidak sama denganku.
Seperti apa cerita versi Dean?
Katanya dia menolak berpacaran denganku
usai aku tidur dengan dia dan dua sahabatnya.
Katanya aku dicampakkan.
Karena TifAni berpacaran dengan lebih dari satu orang…
Katanya aku balas dendam dengan membantu Ben dan Arthur
rencanakan pembantaian.
Katanya wanita yang dicampakkan amarahnya mengerikan.
Mari kuantar kembali ke mobil.
Beth?
Sebagai penutup, kami akan menembak diri sendiri.
Walau hanya Ben yang berhasil.
Dean akan lumpuh selamanya.
Siapa yang berani menyebutnya pembohong?
Apa itu benar?
Aku tidak tahu Arthur akan melakukan itu.
Bukan itu! Soal kau berpacaran dengan mereka!
Bu, aku tidak mau.
- Aku mabuk. Mereka bohong. - Astaga, TifAni.
Ini alasannya Ibu bilang, jangan mabuk!
Ibu akan telepon pengacara sesampainya di rumah.
Oh, orang akan bilang apa nanti?
Kau tidak terbukti membantu, tapi…
lalu tuduhanmu terhadap mereka?
Kenapa kau tidak menuntut saat itu?
Aku hanya berpikir itu tidak ada gunanya.
Ibu.
- Bu… - Tidak, TifAni.
Tidak, tidak.
Kau membuat Ibu jijik.
Maaf.
Kau bukan anak yang Ibu besarkan.
Kau beruntung ibumu menyiapkan pengacara dan mendukungmu.
Tidak semua orang punya itu.
Hm. Ya.
Sangat beruntung.
Aku gadis paling beruntung.
Kau berharap ibumu membantumu lebih banyak?
Andai dia tidak menatapku seakan aku ditiduri banyak orang lalu disingkirkan.
Ani, kau ingin bercerita lebih lanjut atau kita ganti topik?
- Aaron, apa-apaan ini? - Hai, Finny.
Sumpah, seharusnya dia baru datang besok.
- Kau harus pergi. - Tunggu.
Finny, kumohon beri aku 5 menit.
Kenapa kau ke sini? Bukan ini kesepakatan kita.
Ani, jangan pergi. Dia yang harus pergi. Aku akan menyuruhnya pergi sekarang.
- Finny. - Tidak. Tidak perlu repot.
- Ani. - Kumohon.
Ani, Tunggu.
Ani, Tunggu. Ani. Jangan biarkan Dean membuatmu pergi.
Pikirkan semua wanita yang kau bantu dengan menceritakan kisahmu.
Ini demi mereka juga.
Semua wanita itu baik-baik saja.
Ibuku bersikeras aku bertahan di Brentley.
Dua tahun yang sepi bagiku.
Aku dan teman-temanku selamat dari kejadian yang mengubah hidup
dan sulit dipahami orang.
Wuu!
Mereka bisa saling mendukung,
tapi aku tidak punya teman.
Tahun terakhirku, kami berkaryawisata ke Kota New York,
dan aku mengalami… pengalaman ini.
Aku tak perlu membuatnya terkesan.
Apa kau tahu kapan sampelnya akan sampai?
- Kau tidak apa-apa? - Maaf.
Tidak, sampel itu harus tiba Jumat ini.
Ya, Jumat. Kau tidak menjadwalkannya?
Aku tak pernah melihat wanita seperti itu.
Wanita yang mengancam orang di telepon.
Wanita yang bisa membeli barang mahal.
Menerobos lalu lalang Kota New York hanya karena dia terlihat
seperti orang yang lebih penting daripada orang lain.
Aku memutuskan aku harus jadi seperti itu.
Lalu tak akan ada yang bisa menyakitiku lagi.
Oh, ayolah!
- Siapa mau lagi? - Ya, satu lagi.
Satu, dua, tiga, empat lagi?
- Ya. Terima kasih! - Ini dia.
Itu dia. Apa kubilang?
- Kau pulang! - Ya!
Ya.
Aku pergi.
Selesai sudah.
Rasanya…
Rasanya tidak benar.
Kau tahu, aku terpikir untuk menuliskan ini sendiri.
Aku ingin menceritakannya.
Menurutku itu cerdas.
Em…
Kau mau minum?
Martini, murni, tiga zaitun, tanpa vermouth.
- Vodka dengan zaitun, segera siap. - Baiklah.
Benar. Aku tak bilang itu.
Terima kasih atas pelayananmu.
Tolong jangan marah, tapi sepertinya aku mau pindah ke London.
Menurutmu?
Kau tahu? Aku marah. Jadi, hadapilah.
Apa itu?
Aku menulis sesuatu.
Menurutmu Times mau menerbitkan ini?
Kau tahu apa yang kuharapkan 38 tahun lalu?
Jauh lebih mudah untuk marah kepada pria itu.
Pacarku saat SMA…
Sangat… kreatif.
Maaf, LoLo.
Tidak apa. Tidak perlu dibesar-besarkan.
Para pria itu, mereka membusuk dalam tanah.
Tapi orang yang mencintaimu,
yang membuatmu kecewa,
berhentilah melindungi mereka dengan tindakan setengah hati seperti ini,
dan mungkin kau akan dapat hasil.
Tapi saat ini, biar kuperjelas.
Sebuah kebenaran tanggung jawab
tidak diterima di koran terhormat.
Jadi, cobalah tulis ulang.
Tulislah seakan tidak akan ada yang membacanya.
Baik itu Luke, mertuamu, apalagi orang tuamu.
Begitulah cara menulis sesuatu yang layak dibaca.
Tak ada yang memaksamu menulisnya.
Pergilah ke London, jalani hidup bersama Luke.
Tapi putuskan sesuatu.
Putuskan.
Aku berusaha.
Biar kukatakan yang sederhana kepadamu.
Katakan apa yang kau inginkan,
bukan yang diinginkan orang lain,
lalu lakukanlah.
Jika kau sebarkan perkataanku barusan…
Tidak akan.
Bukan. Yang soal masa remajaku sudah 38 tahun lalu,
aku akan memaksamu makan karbohidrat.
Aku harus membuat pilihan hari itu.
Aku bisa menyalahkan dunia atas yang terjadi.
Atau mencari peluang.
Semua tantangan, semua sakit hati,
dan tragedi dalam hidup
menawarkan peluang untuk melakukan hal yang berbeda,
untuk berbuat baik.
Apa kataku. Sangat menginspirasi, 'kan?
Aku tak mendengarkannya.
- Tak ada yang bisa merenggut pilihan itu. - Sst!
Aku bisa akui aku berbohong tentang keterlibatanmu dalam penembakan.
Aku masih muda, dan takut, dan bingung.
Orang akan memakluminya.
Tapi aku tak tahu cara menjelaskan hubungan kita.
Aku punya istri.
Tiga, dua…
Anak-anak.
Hm. Sesuai perhitunganku.
Hal ini akan menghancurkan mereka.
Tapi kalau aku, hancur tidak masalah?
Aku hanya berusaha kabur sebelum kau.
Aku takut kau akan melapor tentang malam itu di rumahku.
Aku harus memakai kursi roda, dan kau tidak.
Jadi, aku marah kepadamu.
Tahu perbedaan antara aku dan orang sepertimu, Dean?
Antara aku dan Arthur?
Karena aku juga marah. Sangat marah. Kau tidak akan bisa membayangkannya.
Tapi amarahku bagai karbon monoksida.
Tanpa aroma, rasa, warna, dan sangat beracun.
Tapi hanya kepada diriku.
Aku tidak melepas amarahku kecuali kepada diriku sendiri.
Ssst.
Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu.
Saat itu, aku mabuk.
Aku bahkan tidak mengerti kalau aku melakukan hal itu.
Walau aku menangis?
Walau aku memohon kepadamu untuk… Tunggu. Tunggu.
Tunggu. Seakan kita bisa mendiskusikannya, mencari solusi.
Apa kau tahu, setiap kali aku mulai bisa
menerima diriku, lalu teringat aku memohon.
Perasaanku langsung hancur.
Kalau maksudmu tentang malam itu, akan kusangkal.
Aku akan memperkuat tuduhanku. Kau rencanakan itu bersama Arthur dan Ben.
Banyak yang akan percaya kepadaku.
Kau sungguh mengancamku saat ini?
Aku menawarimu kesepakatan.
Paham?
Jangan bicarakan kejadian malam itu.
Akan kubilang kau tak terlibat penembakan.
Sudah kuduga.
Dengar, aku tahu dulu aku brengsek.
Tapi aku berjanji menebus kesalahanku, setiap hari.
Apa itu tidak ada artinya bagimu?
Terima kasih.
Dulu aku juga korban.
Tapi tak ada yang memperlakukanku demikian.
Jadi, berhentilah mengasihani diri.
Tahu berapa kali aku mengucapkan "perkosaan" sepanjang hidupku?
Aku tahu. Aku juga benci kata itu, membuatku ingin menguliti diriku.
Pernahkah kau ucapkan kata itu,
sekali saja?
Mungkin tidak.
Mungkin tidak.
Jadi aku akan duduk dan melihatmu berkeringat dingin
sampai kau mengatakannya.
Baiklah.
Baiklah.
Kau menang.
Aku…
Aku memerkosamu.
Puas?
Aku merasa terhormat bisa bertemu kau.
Em, terima kasih banyak. Kau sangat menginspirasi.
Jadi, aku akan duduk dan melihatmu keringat dingin sampai kau mengatakannya.
Baiklah. Kau menang.
Aku…
Aku memerkosamu.
Mau kugendong?
Selamat tinggal, TifAni Fanelli.
Selamat datang, Ani Harrison.
Kau layak berada di sini.
Sungguh.
♪ Uuh ♪
♪ Uuh ♪
♪ Uuh ♪
♪ Uuh ♪
Maaf. Sebentar.
Sebentar.
Ya. Tentu saja.
Baiklah.
Ya. Terima kasih.
♪ Uuh ♪
Astaga!
- Kita bicara lagi nanti. - Ya, Ya, Ya.
Hei.
Hm…
Bisa kita bicara?
♪ Uuh ♪
Ini terbit di New York Times?
Ya.
Teganya kau tidak cerita kepadaku.
Maafkan aku.
Kurasa… Aku tidak mengerti. Aku…
Kupikir kau sudah melupakan semua ini.
Aku kagum. Kupikir kau itu… tangguh.
Begitu tangguh hingga aku mengesampingkan fakta bahwa aku terluka?
Tidak. Kalau itu kulakukan, aku menipu.
Oke, tapi tidak bisakah diselesaikan diam-diam?
Apa harus kau mengungkap rincian kelamnya kepada dunia?
Para pria itu… ke sana kemari dan menghina bentuk bulu kemaluanku.
Mereka mengejek suara yang kukeluarkan.
- Jadi, semua rincian itu penting bagiku. - Mereka sudah mati.
Salah satunya lumpuh. Mereka keliru dan sudah dapat ganjarannya.
- Mereka keliru? - Mereka mengacau. Aku setuju denganmu.
Tidak. Mengacau itu adalah saat kau naik mobil orang tuamu tanpa izin
lalu membuatnya tergores.
Apa yang mereka lakukan kepadaku itu lebih dari sekadar mengacau!
Ani, ini gladi makan malam resepsi.
Kenapa kita membahas ini sekarang?
Sial! Dulu kau begitu berbeda. Dulu kau orang yang seru.
- Seru? - Ya, seru.
Dulu kita bersenang-senang bersama. Aku merindukan itu.
Aku tidak yakin aku orang yang seru.
Aku tidak tahu sifat asliku
dan yang mana sifat buatanku agar disukai orang.
Dulu aku sangat bangga tentang itu. Aku…
Aku pikir aku bunglon yang jauh lebih cerdas dari semua orang.
Begitu cerdasnya hingga aku tak tahu apa-apa tentang diriku sendiri.
Hei. Aku tidak percaya itu.
Kita bisa kembali masuk. Berhentilah.
Kita bisa kembali masuk.
Aku mencintaimu. Kau mencintaiku. Kita bisa mengatasi ini.
Tidak.
Apa kau ingat saat kau bilang
kau seperti salah satu pencapaianku?
Aku memang mencintaimu.
Tapi aku memperalatmu.
Aku bahkan membencimu.
Itu… Itu tidak adil.
Bukan kau yang menyakitiku, tapi aku melampiaskannya padamu.
Aku tak merasa kau membenciku.
Karena aku seperti boneka bertuas.
Putar kunciku dan aku akan bicara sesuai keinginanmu.
Karena aku terus menyangkal.
Aku baik-baik saja.
Aku tidak terluka.
Hingga amarahku menumpuk di dalam diriku.
Dengar, seharusnya kuhadapi semua ini lebih cepat.
Aku hanya berpikir perlu melakukannya sekarang
tanpa mencemaskan pendapatmu atau pendapat orang lain.
Apakah ini sungguh terjadi?
Seperti kata LoLo,
kebenaran tanggung tidak bisa diterima.
Itulah yang kumiliki bersama Luke.
Aku benci telah menyakitinya.
Tapi inilah tempatku.
Inilah yang sejak dulu aku inginkan.
Bohong kalau kubilang aku tidak kehilangan setelah memutuskan hubunganku.
Tapi mungkin hari menjadi lebih cerah tanpa itu.
"Jika ada yang ingin kalian baca hari ini,
bacalah esai Ani Fanelli yang ada di Majalah New York Times."
"Kukirimkan ke semua wanita yang kukenal dan sebaiknya kalian pun demikian!"
Dean Barton tamat!
Astaga!
- Cepat bangun! - Sudah.
Kau jadi viral!
- Astaga. - Tunggu, apa kau punya jus jeruk?
Ya. Ada jus jeruk di kulkas bagian samping.
Ha-ha-ha-ha!
Kau penulis yang lucu.
(AKU JUGA KORBAN)
Lihat!
Lihat ini!
Kau tampak cantik!
Ah, aku bangga padamu!
Aku baru membaca tulisanmu dan tulisanmu itu membayangiku.
Terima kasih telah mengungkapkannya.
Dari orang yang selalu merasa tidak akan ada yang mendengarkannya.
Aku menangis membaca tulisanmu.
Terima kasih telah menerbitkannya ke seluruh dunia.
Aku juga diperkosa oleh pria yang kupikir temanku.
Mendengar kisahmu memberiku harapan bahwa aku pun bisa mengungkap kisahku.
Aku diperkosa saat aku sedang pingsan.
Bagian saat kau siuman
membuatku sangat sedih.
Aku tidak pernah cerita.
Bahkan pada suamiku.
Saat aku duduk menulis esai ini, tujuanku adalah membersihkan reputasiku,
menunjukkannya kepada mereka yang menyakitiku.
Tapi tujuanku berubah lebih dari itu.
- Ani. Senang bertemu denganmu. - Ini bukan hanya tentangku.
Hai, tentu. Terima kasih.
Aku membaca prosa di artikelmu.
Yang terpenting adalah kita bisa bicara terbuka,
meski orang ingin membungkam kita.
Agar kita bisa menjadi sosok wanita yang diri kita kagumi saat kecil.
Aku dengar dari para wanita yang tak pernah mengungkap kisah mereka.
Dari mereka yang menyimpan kisah mengerikan ini
sendirian selama 38 tahun…
Aku hanya berharap tak ada yang perlu melakukan itu lagi.
Kuharap orang merasa terdorong untuk mengungkap kisah mereka,
tentang apa yang mereka alami
dan menyadari bahwa mereka tak perlu merasa malu.
Wow.
Ani, terima kasih banyak telah hadir.
- Tentu. - Sangat menginspirasi.
Terima kasih.
TifAni Fanelli, ya, 'kan?
Ya.
Sarah Gardener. Aku meliput kesehatan masyarakat untuk Bloomberg.
Baiklah.
Pengendalian senjata api itu bidangku.
Aku meliput karier Dean Barton dengan lengkap.
Dia banyak menolong orang selama ini.
Semoga ketenaran sesaatmu juga begitu.
Senang bertemu.
Senang bertemu.
Permisi, maaf sekali.
Aku mau bisa menghubungimu, tapi aku lupa namamu.
- Sarah Gard… - Oh, tak perlu.
Aku akan selalu mengingatmu sebagai wanita yang aku maki di Jl. 5.
Kau perlu latihan menyampaikannya, Fanelli,
tapi rasanya sungguh puas.
♪ Aku tak akan di sini lagi ♪
♪ Lebih kuat dari sebelumnya ♪
♪ Akhirnya aku bisa bernapas ♪
♪ Melalui semua yang gila dan aneh♪
♪ Dengan kaki telanjang di trotoar ♪
♪ Lepas kendali ♪
♪ Dahulu, aku takut ♪
♪ Melepaskan ♪
♪ Kini, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Oh, aku bebas ♪
♪ Dari semua orang ♪
♪ Tak ada lagi rahasia ♪
♪ Karena beban dalam diri ♪
♪ Adalah memori ♪
♪ Yang terus mengingatkanku ♪
♪ Tak bisa kucegah Yang tak dapat kulupakan ♪
♪ Tak tahu apa yang ada di depan ♪
♪ Kutemukan cara ♪
♪ Ya, kutemukan cara ♪
♪ Kini, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Oh, aku bebas ♪
♪ Dari semua orang ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Oh, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Dari semua orang ♪
♪ Oh ♪
♪ Oh ♪
♪ Oh ♪
♪ Oh ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Dari semua orang ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Oh, aku bebas ♪
♪ Dari semua orang ♪
♪ Ya, aku bebas ♪
♪ Oh, aku bebas ♪
♪ Akhirnya aku melepaskan ♪
♪ Dengan memberitahumu ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.