Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Terima kasih.
Aku mau mengenalkan diriku lagi.
Aku baru 18 tahun saat mulai.
Kini 30 tahun. Aku sudah berubah, orang tak tahu itu.
Aku ingin jawab pertanyaan tentang diriku.
Seperti kenapa kau selalu mencatok rambut?
Tidak. Lagi pula tidak dicatok, paham?
Jambulku berubah.
Contohnya, kau adikku, 15 tahun.
Apa yang ingin kau lihat di acara itu?
Kau mau bicara apa?
Cinta yang kudapat selama ini.
Memberiku kekuatan dan motivasi hebat.
Serta kebencian yang kuterima.
Rasanya seperti orang mengkritikku tanpa mengenalku.
AKU CINTA KEV
Aku mau bahas hal-hal yang memengaruhiku.
Tak perlu lagi menyensor diri
atau membahas sesuatu untuk menyenangkan orang.
Aku ingin jadi diriku.
Aku ingin bahas masyarakat kita.
Yang mementingkan citra.
Kita mau semuanya sekarang juga.
Kadang, kita berharap waktu bisa berhenti.
Tiap orang punya beberapa versi.
Beberapa sisi dari diri kita.
Versi mana untuk acara ini?
Aku yang dewasa?
Kita hidup dalam masyarakat kapitalis yang buruk dan akhirnya…
Anak-anak, makan…
Aku yang kikir?
Aku cuma punya air, bisa dibagi. Aku tak bisa mentraktir.
Aku yang kelam?
Atau…
Jangan terlalu dipikirkan. Jadilah apa adanya.
- Apa adanya? - Ya.
Kau yang kukenal.
Apa adanya.
SPESIAL NETFLIX
Baiklah!
Ya ampun!
Aku senang bersamamu, Denain!
Kau sangat meriah, ya?
Senang bisa bersamamu.
Aku mengunjungi Denain sore ini.
Butuh satu menit 47 detik.
Aku sudah melihat semuanya.
Aku akan berikan positif maksimal.
Itulah yang kita butuhkan saat ini.
Getaran positif.
Berikan positif, terima positif.
Apa pun situasinya, temukanlah sisi positifnya.
Bahkan Covid ada sisi positifnya.
Ya, sumpah.
Kita jadi punya alasan baru.
Apa kau memakainya?
Kontak erat. Kau pakai alasan itu? Kau tahu?
Jika enggan pergi ke suatu tempat, "Aku kontak erat."
Bajingan sejati bilang,
"Entah. Aku tak mau ambil risiko."
Kau tak mau ikut!
Temanku bertemu seorang gadis. Dia bilang dia kontak erat.
Kataku, "Kau tak bisa begitu. Kencanmu dua jam lagi."
"Masa bodoh."
"Kontak erat. Tak apa-apa."
Dia bilang dia kontak erat.
Kataku, "Bung, kau tak bisa begitu."
Katanya, "Bung!"
"Kontak erat!"
"Tak apa-apa!"
Kataku, "Bung, ini pernikahanmu!"
"Kau harus membatasi pemakaian kontak erat!"
Kita melewati masa yang aneh ini.
Masuk ke ruang publik,
wajib menunjukkan kartu vaksin di aplikasi TousAntiCovid.
- Kau sudah unduh aplikasinya? - Ya!
Bagus. Kau bertanggung jawab.
Pemerintah punya staf untuk memikirkan namanya.
Mereka pikir, yang terbaik adalah
TousAntiCovid.
Lihat aplikasi sukses, biasanya namanya singkat.
Facebook, Instagram, Snapchat, TikTok.
Menarik.
Tapi mereka menamainya
TousAntiCovid.
Lihat Tinder. Kau tahu?
Namanya Tinder.
Bukan KitaMauBercinta.
Lelucon itu terlalu cepat. Aku tahu.
Aku bisa lihat orang dewasa berpikir, "Seharusnya anak-anak tak ikut."
Aku harus memberitahumu malam ini…
Seharusnya sejak tadi.
Beberapa bagian dari acara ini tidak ditujukan untuk anak-anak.
Sekarang sudah jelas, ya.
Ada anak kecil di sini malam ini?
- Ya! - Hai, Kawan.
- Baris pertama! Siapa namamu? - Lucas.
Lucas? Berapa usiamu?
Sepuluh tahun? Oke.
Ini makin rumit.
Ini makin rumit. Dan kau?
Delapan tahun? Oke.
Seperti lelang anak. Delapan tahun!
Siapa mau anak delapan tahun?
Oke.
Lucas, kau bersama siapa malam ini?
Orang tua dan kakakmu, oke.
Nyonya juga.
Nyonya juga?
Nyonya siapa, Lucas?
Jika Nyonya tinggal denganmu di rumah, itu masalah.
Bukan? Dia guru sekolahmu?
Dia bukan simpanan ayahmu, 'kan?
Baiklah.
Di sebelah sini orang tuamu, 'kan?
Tunjukkan ke mereka. Oke.
Mereka orang tuamu, 'kan?
Berkedip dua kali jika bukan. Kami bisa membantumu, Lucas.
Kami bisa membantumu.
Lucas terkejut…
"Untuk apa aku kemari?"
"Aku mau menonton Paw Patrol. Kenapa kita di sini?"
Kalian tahu? Kita akan buat kode bersama.
Saat aku memberi kode, artinya,
"Hati-hati, materi berikutnya tidak ditujukan untuk anak-anak."
Dengan begitu, orang dewasa yang bawa anak bisa membantu.
Maksudku, mereka bisa begini…
Mari kita lakukan.
Jadi, setiap kali aku begini…
Mari kita cari kode singkat sederhana…
Kau tahu…
Mungkin agak terlalu kasar.
Aku agak terbawa suasana.
Coba yang lebih sederhana. Taruh jarimu di telingamu.
Begitu aku…
artinya, taruh jarimu di telingamu.
Paham, 'kan?
Dengar, dia menatapku. Dia terkejut, begini…
"Sial, Aladdin tampak berbeda!"
Kita hidup di dunia yang gila. Kita bahas malam ini.
Saat Covid berakhir,
entah bagaimana, tapi kita semua berpikir,
"Bisakah keadaan jadi lebih buruk lagi?"
Lalu Putin berkata, "Aku punya ide."
"Masker selesai, kini helm."
"PCR selesai, kini nuklir. Seru."
Keadaan ini gila.
Aku bicara dengan adikku saat menulis acara ini. Dia 15 tahun.
Aku 30 tahun. Selisih kami 15 tahun.
Aku berada di titik tengah yang aneh.
Aku bukan kakak atau ayahnya. Hubungan kami istimewa.
Berbicara dengannya membuatku sadar
anak berusia 15 tahun, remaja, banyak menderita belakangan ini.
Adikku berkata,
"Saat usiaku 11 tahun, rompi kuning marah."
"Saat usiaku 13 tahun, ada wabah global."
"Kini, di usia 15, ada ancaman nuklir."
Kataku, "Dari semua ini, apa yang paling membuatmu takut?"
Dia bilang, "Raporku. Minggu ini."
"Aku panik!"
Berbicara dengan adikku membuatku sadar
makin mencoba mengajarinya, aku makin belajar tentang diriku.
Katanya, "Ada gadis di SMP,
aku mencintainya."
"Aku mau ajak bicara, tapi tak berani."
Itu menyentuhku. Kita semua punya masalah itu.
Terlalu malu mengajak bicara. Luar biasa.
Kataku, "Kumpulkan keberanian."
"Bicaralah besok." Katanya , "Tak bisa."
Kubilang, "Besok, bicara dengannya!"
"Tak bisa." "Kenapa?"
"Dia guruku." "Kalau begitu…"
"Tenang!"
"Santai saja."
Kita pernah mengalaminya. Bagiku baru-baru ini.
Itu membawaku ke kisah nyata pertamaku.
Aku di bar di Paris.
Ada wanita sendirian di bar. Aku suka orang sendirian.
Jika kau sendirian di ruang publik, aku tertarik.
Aku ingin bicara denganmu. Sangat ingin.
Di bar, aku hampiri. Sendirian di restoran, aku hampiri.
Di kamar mandi. Aku suka orang sendirian!
Aku hampiri
dan berkata, "Kau baik?"
Katanya, "Kau baik?"
"Di duniamu, kau baik-baik saja atau tidak?"
"Ada apa dengan pandangan dunia biner ini?"
Aku bilang, "Tidak, tapi pertanyaanku
bermakna sekuler?'"
"Tapi dari reaksimu, kurasa kau punya cowok."
Dia bilang, "Cowok?"
"Bagaimana jika aku punya cewek?"
"Jika punya, tak boleh bicara dengan pria lain?"
"Ada apa dengan pandangan dunia patriarki ini?"
Aku bilang, "Baiklah!"
"Awal yang baik."
Kataku, "Maaf. Seharusnya aku tak mengusikmu."
"Aku akan pergi."
Dia bilang, "Kau meninggalkanku?"
"Seperti kau mengikat hewan piaraan?"
"Ada apa dengan pandangan dunia hewan ini?"
Jadi, aku mulai bicara dengannya.
Bukan karena mau.
Aku terjebak dalam percakapan ini.
Sumpah, setelah 15 menit, dia berkata,
"Oke. Habiskan minumanmu. Aku akan mengantarmu."
Kubilang, "Kau mengantarku?"
"Menurutmu pria seperti tas belanja yang bisa dibawa pulang?"
"Ada apa dengan
pandangan dunia klik-dan-ambil ini?"
Jadi, aku pergi bersamanya. Ya.
Kita akan bicara jujur malam ini.
Pria, di atas pukul 02.00, pulang membawa wanita,
kami tak punya prinsip.
Itu benar, jelas sekali. Wanita berbeda.
Jika wanita menikmati pria, dia membawanya pulang,
tapi satu hal saja bisa menghancurkannya.
Sahabatnya datang berkata,
"Nona!"
"Nona!"
"Kau takkan percaya."
"Chacha lupa cairan lensa kontaknya."
"Dia buta seperti kelelawar di kelab!"
"Kita harus bantu Chacha!"
Mereka pergi membantu Chacha.
Tak ada seks. Selamat malam. Usailah.
Pria, di atas pukul 02.00, membawa pulang wanita,
meskipun sahabatnya selama 15 tahun
datang dan berkata,
"Jika aku tak minum obat dalam 20 menit,
aku akan mati."
"Kita pernah bergembira bersama. Dah, aku akan bercinta."
Prinsip kita tidak sama.
Aku bersama wanita dari bar, di rumahnya.
Aku mengatakan hal yang sama.
Aku punya sisi kekanak-kanakan, sisi dewasa.
Dia bilang, "Oke, tapi sisi mana yang kudapat malam ini?"
Aku bilang, "Sisi dewasa. Aku akan menjadi dewasa."
"Aku sangat menginginkanmu."
Katanya, "Ya, kau dewasa."
Aku membuka baju. Katanya, "Tidak, kau anak kecil."
Tidak. Jangan tepuk tangan, Denain.
Dasar bajingan.
Kami merasakan gairah.
Kami mulai bercinta.
Ya, jari di telinga, Nak.
Sekarang, ya.
Maaf, aku tertawa karena dia seperti ini,
tapi temannya bilang, "Aku akan belajar banyak hal."
Jadi, kami mulai bercinta.
Dan…
Dan di tengah-tengah,
dia bilang,
"Lanjutkan!"
Tunggu…
Tidak, Kawan…
Aku takkan bohong.
Saat menulis sketsa ini,
aku tak mengira dia di baris ketiga seperti ini.
Katanya, "Lanjutkan!"
"Pukul aku!"
Dia berubah dari feminis jadi Gollum dalam 30 detik.
Dia bilang, "Lanjutkan!"
"Pukul aku!"
Aku ingin memuaskannya,
tapi aku juga memahami masyarakat kita. Harus pelan-pelan.
Aku sentil telinganya.
Sakit,
tapi tak apa.
Dia bilang, "Sial, kau bercanda?"
"Lanjutkan!"
Dia membuat gerakan traumatis, setidaknya bagi cowok bugil…
Begini…
"Baiklah, tenang. Aku akan mulai."
"Tadi itu hidangan pembuka. Tenanglah."
"Aku memperbaiki posisiku. Tak masalah."
Aku tertawa karena aku tahu kau menilai fisikku.
Aku menamparnya sedikit.
Dia bilang, "Sial, kau bercanda?"
"Lanjutkan!"
Hei, telingamu! Hati-hati.
Lalu aku merasa ingin berkata,
"Nyonya,
saat ini,
kau harus mencari hobi lain."
"Judo, karate, berkelahi. Bukan itu tujuanku di sini."
Kukira kami sudah mencapai puncak situasi ini,
tapi dia bilang, "Oke, sudahlah."
"Lupakan saja."
"Kau lihat botol Coca-Cola di sebelah kirimu?"
Aku bilang, "Ya."
Katanya, "Lakukan!"
Sumpah, reaksiku bagai anak delapan tahun.
Aku bilang, "Kau mau kola?"
Dia bilang, "Ya, aku mau kola!"
Aku polos. Aku bodoh. Kuambil botolnya, kutuangkan.
Tanganku gemetar. Aku tak nyaman.
Kuberikan padanya. Katanya, "Apa-apaan?"
Aku bilang, "Kau mau kola."
Katanya, "Aku mau botolnya, bukan isinya!"
Kupikir, "Aku tak bisa melakukan ini."
Pertama, aku belum pernah melakukannya.
Bayangkan saja…
Bayangkan aku melakukannya?
Bayangkan jika salah?
Bayangkan aku menyakitinya?
Kami akan berada di rumah sakit pukul 04.00.
Aku bingung.
Dia dengan sebotol kola…
Itu mimpi buruk di otakku.
Tanya ke dokter, "Bagaimana mengeluarkannya?"
Dia bilang, "Mudah."
"Masukkan koin dan keluar."
Aku membayangkan dokter berkata,
"Kau melepas tutupnya?"
"Jangan pernah lepas tutupnya."
"Efek pengisapan udara buruk."
Kukira aku tak bisa melakukannya. Apalagi aku.
Bagaimana jika ada yang mengenaliku? Mereka bicara pada pers?
Bayangkan berita utama keesokan paginya?
"Kev Adams,
terlalu banyak soda!"
Oke, Denain, kita pemanasan. Itu bagus.
Aku mengatakan Denain sejak awal, tapi apakah ada orang dari wilayah lain?
Baik, bagus!
Apakah ada yang dari kota kecil?
Ya?
- Kalian dari mana? - Fenain!
- Apa? - Fenain!
- Fenain? - Ya!
- Fenain? - Ya!
Seperti pelesetan Denain.
Jauh, tidak?
Mereka tak tahu.
Mereka tanya, "Kita mau ke mana?"
- Sejauh apa? - Lima belas menit.
Lima belas menit. Tak terlalu jauh.
Aku dari Aniche!
Maaf, apa katamu?
Menurut dia, "Kau tak menanyaiku, masa bodoh!"
"Jika aku ingin katakan asalku, akan kulakukan!"
- Dari mana? - Aniche!
Namanya Aniche?
- Kau dari Aniche? - Sepuluh kilometer dari sini.
Sepuluh kilometer ke sana.
Kau ingin aku ke sana.
Lurus ke depan. Paham.
Dia akan berkata, "Mudah saja. Di bundaran…"
- Namanya Aniche? - Aniche, ya.
- A-N-I-C-H-E. - Ya, baiklah.
Aniche, jangan khawatir. Siapa namamu?
Claudette.
Hai, Claudette, salam kenal.
Halo khusus untuk semua orang dari Aniche.
- Aku menontonmu di Trianon. - Kau ke sana?
Kau sangat lucu, makanya aku datang ke sini.
Baiklah. Senang mendengarnya. Manis.
Tapi katakan, apa kita berkencan sekarang?
Claudette menyerah di acara itu.
Pikirnya, "Ini momenku, masa bodoh."
"Tatap mataku, Nak."
"Aku akan membawamu ke Aniche. Pasti seru."
Terima kasih sudah datang, Claudette. Baik sekali.
Aku salah menanyakan asalmu. Situasi memburuk.
Adikku bilang,
"Kev, bagimu mudah. Itu benar."
"Kau menyuruhku bicara, mudah bagimu."
"Di panggung, kau tak ditolak."
Kataku, "Kau salah. Baru-baru ini aku mengalaminya."
Yang membawaku ke kisah nyata berikutnya.
Tiga tahun lalu, aku ditolak dari acaraku sendiri.
Biar kujelaskan. Kisah nyata.
Kami ke Limoges.
Aku suka beraktivitas sebelum acaraku.
Aku suka pergi ke aula dan menonton aksi pembukaan.
Aku bisa merasakan suasana.
Lalu aku ke belakang panggung untuk giliranku.
Aku berkeliling. Inilah sesuatu yang penting.
Jelas, satpam di belakang panggung
berganti setiap malam, tergantung tempatnya.
Jadi, aku pergi ke belakang panggung
dan aku tahu satpam tak mengenaliku.
Aku tahu.
Dua meter, aksen Eropa Timur. Dia tak mengenaliku.
Biar kuingatkan, ini acaraku.
Aku mendekatinya. Dari jauh, dia sudah begini…
Dari jauh, aku bilang, "Ya."
Bisa ditebak, saat kudekati, dia bilang…
"Kau punya lencana?"
Aku bilang, "Aku tak punya lencana, Pak."
"Aku yang mengisi acara."
"Tanpa lencana, dilarang masuk."
"Aku tahu peraturan itu."
"Tapi tanpa masuk, tak ada acara. Lantas?"
Sekali lagi, katanya, "Ada lencana?"
Kataku, "Pak, aku paham pertanyaannya tadi."
"Tidak, aku tak punya."
"Maka menyingkirlah."
Disingkirkan di acaraku sendiri, seperti pecundang.
Pecundang yang payah.
Kubilang, "Pak, dengar."
Lalu dia mengatakan hal yang luar biasa.
"Diam."
"Acara akan dimulai."
Kataku, "Acara takkan dimulai."
"Aku yang mengisi acara!"
"Baiklah. Ayo coba yang lain."
Kubilang, "Pak, apa yang ada di lencana?"
Sumpah, dia menatap lencananya.
Dia bilang, "Wajah artisnya."
"Ya."
"Dan apa ini?"
Dia mendekati wajahku dan berkata,
"Tak ada lencana."
"Tanpa lencana, tapi wajah sama."
"Pak, ini aku!"
Kupikir, "Sudahlah."
Dia bawa protofon di sini.
Seorang pria bicara,
"Permisi. Ada yang melihat Kev?"
"Kami hendak memulai acara."
"Ada yang tahu di mana Kev?"
Aku bilang, "Itu aku!"
"Ini!"
Itu aku!
Pria itu bicara ke protofon, "Ada seseorang di depanku."
"Mengaku sebagai artisnya."
"Mungkin itu dia."
"Tanpa lencana."
Pria itu berkata,
"Baik, Igor, bisa kau jelaskan penampilannya?"
Kejadian selanjutnya, semoga tak menimpa musuh terburukku.
Pria dua meter. Menatapku dari atas ke bawah dan berkata,
"Rambut aneh."
"Gembil."
"Mata melotot."
"Gigi jarang."
Parahnya, aku dengar protofon berkata,
"Kurasa itu dia. Aku datang!"
Aku suka pesan moral cerita ini.
Kau di Limoges Zénith.
Kau di puncak.
Tapi selalu ada orang yang membawamu kembali ke Bumi.
Hari itu ada Igor. Luar biasa.
Adikku bilang, "Sulit bagiku untuk menarik wanita."
Kubilang, "Dengar."
"Aku tak menyarankan hal ini, tapi jika bisa membantu,
aku mengizinkanmu mengatakan kau adikku."
Sumpah, dia bilang,
"Baik sekali, Kev, tapi…
bagi anak 15 tahun sepertiku,
kau tidak…"
"Apa maksudmu, aku tidak…"
"Orang tahu Kev Adams, tapi tidak…"
Apa kau sadar itu seperti tamparan?
Sepuluh tahun lalu, aku dikenal sebagai bintang remaja.
Sekarang adikku sudah remaja.
Dia bilang aku tidak…
Ini sulit!
Jadi, kataku, "Menurutmu siapa yang hebat?"
Dia bilang, "Generasiku, kami suka orang-orang di TikTok."
Kalian tahu TikTok?
Ya, bagus, 'kan?
Bagi yang lebih tua yang tak mau mengaku, kujelaskan dengan singkat.
Bagaimana, ya? TikTok adalah…
Aplikasi yang rencananya kau pakai selama satu menit dan 30 detik,
tapi nyatanya tujuh jam, kacaulah hari Minggu-mu.
Seperti Ikea bagi yang lebih tua. Paham, semuanya?
Yang buruk dari TikTok,
kau melalui banyak emosi dengan cepat.
Makin sering digeser, makin banyak emosi.
"Indahnya! Sangat mengharukan!"
"Menakutkan! Bokong itu!"
"Apa ini?"
"Senang mengetahuinya! Ada apa?"
"Astaga! Mereka menyelamatkan simpanse!"
"Astaga, bokong simpanse!" Tak ada hentinya.
Video TikTok kesukaanku adalah video memasak cepat.
Kau tahu itu?
Terdengar suara memasak. Terdengar…
Di akhir, ada yang begini…
Gilanya, aku suka TikTok,
tapi seperti kataku, aku 30 tahun.
Teman-temanku mulai punya anak.
Aku terus berada di tengah-tengah.
Saat teman SMA-mu menjadi orang tua,
mereka ingin semua orang jadi orang tua.
Pesanku untuk orang tua muda malam ini,
berhenti memamerkan foto anak-anakmu. Ini penting.
Aku tak tahan.
Ditambah, saat bayi baru lahir,
bukankah tak sehebat itu?
Tak sehebat itu, sungguh.
Kau jadi sandera. Harus. Mereka menjelaskan semuanya.
"Ini anakku di kamar mandi bersama temannya."
"Ini putraku bersama gurunya."
Hubungan dengan mereka pasti buruk.
Tak ada anak yang bilang, "Ini foto orang tuaku."
"Ini orang tuaku di kamar mandi bersama temannya."
"Ini ayahku dengan simpanannya." Tidak pernah. Itu tak terjadi.
Saat teman SMA-mu menjadi orang tua, mereka ingin semua orang mengikuti.
Seperti temanku, Nico dan Caro.
Mereka baru punya anak. Nico membuatku kesal.
Dia bilang, "Sial, Kev!"
"Sial!"
"Kev!"
"Memiliki anak dengan Caro
adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku."
"Kau harus mencobanya, Kev."
Kataku, "Caro baru saja melahirkan. Wanita malang itu butuh istirahat."
"Kita tak akan menghamilinya…"
Dia mengganti popok putranya
dan dia mendemonstrasikan ganti popok.
Dia sangat menyukainya. Aku tahu.
Dia bilang, "Kev, jujur…"
"Jujur!"
"Sejujurnya,
ini tontonan terbaik yang pernah kau lihat, 'kan?"
Aku bilang, "Ya, tentu, keren."
Dia sangat menyukainya, dia mengambil bedak bayi…
Lalu dia membuangnya.
Katanya, "Tapi aku lelah."
"Benar." "Ya."
"Kau lelah, Nico." "Ya."
"Kenapa kau mengulangnya?"
"Kau melempar putramu dan menaruh popok."
"Jadi, kau tampak sangat lelah."
Liburan musim panas ini, bersama teman-teman,
kami pergi ke klub liburan yang ada banyak anak-anak.
Aku menyadari, bagi beberapa anak,
sejak kecil,
kau bisa tahu mereka akan jadi orang seperti apa.
Sejak kecil.
Ini contohnya. Ada anak kecil di klub liburan.
Dia tak mau bergaul.
Dia bilang, "Tidak!"
"Aku tak mau bermain denganmu!"
"Aku mau bersama ibuku! Aku tak mau main!"
"Tak mau. Tidak!"
"Aku tak mau main. Aku mau bersama ibuku."
"Aku mau bersama ibuku selamanya. Aku tak mau main!"
Dalam 30 tahun, dia seperti ini,
"Rekan-rekanku…"
"Kita sedang berperang…"
"Bu Le Pen…"
"Ini bukan Gérard Majax, Bu Le Pen."
Ada seorang gadis kecil. Dia yang terburuk.
Dia menyuruh dua anak lelaki berkelahi untuk memperebutkannya.
"Mattéo dan Pablo, bertarunglah!"
"Pemenangnya boleh memegang tanganku!"
Mattéo dan Pablo, keduanya enam tahun, saling memukul.
Aku berpikir, "Dia jahat!"
Pasti, 30 tahun mendatang, dia akan bilang,
"Lanjutkan!"
"Lanjutkan!"
Tapi ada yang ajaib tentang anak-anak.
Konon, anak-anak dan orang mabuk bicara jujur. Aku percaya. Itu benar.
Anak-anak berani menanyakan yang tabu bagimu.
Itulah hebatnya.
Adikku yang berusia 15 tahun berkata,
"Aku sudah menonton semua filmmu, acaramu."
"Kenapa beberapa orang sangat menyukaimu?"
"Kenapa beberapa orang sangat membencimu?"
Pertanyaan menarik. Sebenarnya, aku tak punya jawabannya.
Kucari di Google.
Aku tanya Google saat tidak tahu.
"Kenapa orang membenci Kev Adams?"
Aku menemukan forum, teman-temanku…
Sumpah, itu benar!
Cari saja, kau akan menemukan hal yang sama.
Sebuah forum bernama,
"Kita semua benci Kev Adams."
Forum yang penuh orang yang membenciku.
Ada 700 kontributor.
Seluruh populasi Aniche!
Seluruh Aniche ada di sana.
Kubaca saja. Aku membuat daftar jawaban terbaik.
Kau bisa memilih kesukaanmu dengan mengunjungi forum itu.
Tampaknya, itu dimulai dengan moderator, sebutan mereka.
Seperti tuan rumah di forum.
Moderator berkata, "Hai, semuanya."
"Kenapa kau membencinya?"
Seperti Nikos Aliagas-nya forum.
Jawaban pertama menulis,
"Karena dia payah!"
Jangan buang waktu. Langsung ke intinya.
Tanpa argumen. "Dia payah!"
Kau mungkin tahu, di forum
kau bisa mengirim persentase
untuk menunjukkan apakah masalah telah terpecahkan.
Orang yang sama
menambahkan di bawahnya, "Masalah terpecahkan."
Langsung ke intinya.
Kontributor kedua, "Hai, semuanya."
"Aku bertemu Kev Adam di Paris dengan dua putriku."
"Tak murah senyum, tatapan, atau sapaan."
"Dia sangat dingin. Tidak direkomendasikan."
Dia tak merekomendasikanku.
Dalam 30 detik, aku berubah jadi Hippopotamus.
Tepat di bawahnya, seseorang menulis,
"Hai. Maaf. Di mana kau melihatnya di Paris?"
Orang itu menjawab, "Museum patung lilin Grévin."
Dia genius!
Ada lagi.
Rupanya, itu terjadi, tapi di forum,
seseorang selalu menimbrung
dan melenceng dari topik.
Orang ini bilang, "Hai, semuanya."
"Aku terjebak di Gare du Nord."
"Ada yang tahu kode WiFi di sini?"
"Terima kasih."
Tak ada yang jawab.
Seseorang menulis, "Aku suka Kev Adams saat kecil."
"Kini aku lebih tua, dia menyebalkan."
Orang lain bertanya, "Berapa usiamu?"
Jawabnya, "Aku 12 tahun."
"Aku suka artis yang lebih aktif,
seperti PNL, MHD, SCH, B20."
Lalu sumpah, pria dari Gare du Nord menulis,
"Terima kasih untuk kode WiFi."
Para genius!
Tunggu!
Ada lagi.
Seseorang bernama Sacha06…
Aku ingat namanya karena ini bagus.
"Hai. Aku di Cours Florent selama dua tahun."
"Impianku menjadi komedian."
"Saat aku melihat sorotan pada orang seperti Kev Adams,
aku marah."
"Ini saatnya sorotan untuk artis sungguhan seperti kita."
Aku berpikir,
"Sacha06 membenciku seperti dia membenci dirinya."
Aku mau menjawabnya. Memulai dialog. Kami pasti bisa bicara.
Jadi, aku membuat akun, namaku Comic01.
Aku hendak membalas Sacha06,
tapi sebelum aku melakukannya,
orang lain menulis,
"Kev Adams sangat buruk sampai Kev Adams bukan nama aslinya."
"Itu nama samaran!"
"Pria itu memakai nama samaran karena dia sungguh sangat buruk!"
Aku mau menjawabnya lebih dulu.
Aku bilang, "Kau benar."
"Payah memakai nama samaran alih-alih nama apa adanya."
"Bagus, Batman_du_34."
Begitu kataku.
Sacha06 dari Cours Florent menulis,
"Tertawa terbahak-bahak!"
"Comic01, bahkan kau lebih lucu dari Kev Adams!"
Jadi, aku menulis, "Masalah terpecahkan."
Kau tak masalah di baris depan?
Kau menikmatinya? Aku tak meludahimu?
Ya, tadi kulihat aku mengirimmu misil.
Kulihat sesuatu meluncur. Aku melihatmu dalam gerak lambat, "Tidak!"
Aku melihatnya.
Kau memilih baris depan.
Kau tahu kau akan masuk figuran.
Dia bicara dengan satu mata tertutup, "Luar biasa!"
Dia akan pulang, berkata, "Hebat!"
"Tadi kita menonton siapa?"
"Luar biasa!"
Adikku bilang, "Apa itu tak menyakitimu, Kev? Jujurlah."
"Ini antara kita berdua saja."
"Ini pribadi."
Dia bilang, "Kau tak sakit hati dikritik di internet?"
"Apa itu menyakitkan atau memengaruhimu?"
Aku bilang, "Tentu saja. Kita hanya manusia. Wajar."
"Kita tak suka perasaan negatif, merasa ditolak."
Penting mengatakannya di acara ini.
Aku menerima hinaan daring selama bertahun-tahun.
Penting untuk diketahui, internet adalah dunia paralel
tempat orang mengatakan hal yang tak berani mereka katakan.
Itu benar.
Saat sesuatu…
Halo! Kau baik-baik saja?
Ke mana saja kau?
- Terlambat! - Apa?
Terlambat?
Tapi kau amat terlambat!
Dari mana asalmu?
Denain!
Apakah itu istrimu?
- Ya. - Siapa namanya?
Nathalie.
- Kalau kau, Pak? - Fabrice.
Fabrice.
Katakan apa yang terjadi.
Maaf, tapi aku senang mengetahui alasan orang terlambat.
Aku selalu terlambat. Katakan kenapa kau terlambat?
Jalanan macet.
Ada…
Dia bilang ada kemacetan.
Warga setempat kebingungan.
"Belum ada kemacetan sejak tahun 1964!"
Tepuk tangan untuk mereka. Terima kasih sudah merespons.
Tadi kubilang…
Fabrice akan ada di forum malam ini. "Dia mengusikku saat acara!"
Meski begitu,
aku juga merasa ditolak di kehidupan nyata.
Itu tak enak. Kita semua pernah mengalaminya.
Yang membawaku ke kisah nyata lain yang ingin kubagi denganmu.
Beberapa tahun lalu, aku menerima pesan di ponselku, "Halo."
"Ini Penghargaan César."
"Tolong hubungi kembali secepatnya."
Kupikir, "Ini dia."
"Tibalah momenku."
"Kev Adams, Aktor Terbaik."
"Serial Teachers 2."
Aku tersinggung kau menganggapnya lucu.
Mereka ingin aku memberi, bukan menerima penghargaan.
Kecuali, tentu saja…
Bung, sumpah, aku tak tahan dengan gerakan kamera.
Aku mencoba fokus untuk saat ini.
Kau lihat itu? Aku juga melihatnya.
Beri tepuk tangan. Pekerjaan mereka sulit.
Aku di sini, mencoba fokus!
Aku bisa lihat orang-orang di belakang…
Aku dipanggil untuk memberi penghargaan, bukan menerima.
Tapi aku senang. Undangan pertamaku untuk upacara penghargaan.
Aku hanya pernah memenangkan hadiah di Miss Universe,
jadi, aku senang.
Aku sampai di sana. Penghargaan César di Paris.
Kau tahu Anne Hidalgo?
- Ya. - Ya?
Jika Anne Hidalgo wali kota Denain,
Fabrice baru tiba di sini besok.
Dengar. Ini neraka.
Kau lihat dia mencalonkan diri sebagai presiden?
Dia dapat satu persen.
Satu persen.
Rasakan!
Tak heran. Kau lihat rapat pertamanya?
Dia bilang, "Aku akan lakukan untuk Prancis
seperti yang kulakukan untuk Paris!"
Semua orang Paris berkata, "Tidak!"
"Tidak, Anne, sudah cukup."
Dia dapat satu persen.
Ini gila. Dia mengacaukan Paris.
Batas kecepatan di Paris sekarang 30 km per jam.
Dilarang lebih cepat di Paris. Sangat berbahaya.
Aku mengendarai skuter sepanjang dermaga,
lalu terjadi kecelakaan gila.
Pejalan kaki cepat menghancurkan skuterku.
Dia membelahnya. Pria itu terburu-buru.
Aku pergi ke César.
Karpet merah. Semua bintang Prancis. Fotografer.
Mereka berteriak, "Omar!"
"Marion!"
Aku tiba, mereka berteriak, "Kev!"
"Kev!"
"Minggir! Omar terhalangi!"
Aku duduk. Kursi di sampingku kosong.
Upacara dimulai.
Tebak siapa yang datang telat dan duduk di sampingku?
Fabrice!
Hidalgo!
Bagi yang tak dengar, mereka bilang, "Fabrice?"
Bukan Fabrice. Anne Hidalgo masuk.
Sumpah, tapi bukan itu yang menarik.
Yang menarik ialah dia telat. Semua melihatnya.
Dia menyelinap masuk. Dia tahu dia harus menjelaskannya.
Satu-satunya orang di dekatnya yang bisa dia jelaskan adalah aku!
Dia menyelinap, menatapku dan berkata,
"Macet!"
"Salah siapa?"
Dia gila!
Seolah Putin muncul di Ukraina
dan berkata, "Kenapa semuanya hancur?"
Upacara dimulai.
Mereka menugaskanku memberikan penghargaan untuk animasi terbaik.
Bukan kategori paling bergengsi.
Masa bodoh. Aku senang.
Kali pertamaku, mungkin yang terakhir. Aku menikmatinya.
Masalahnya bukan hadiah yang kuberikan.
Masalahnya adalah waktu dalam upacara.
Biar kujelaskan.
Setiap tahun di upacara itu,
mereka memberi penghormatan
kepada orang perfilman yang wafat tahun itu.
Selama enam menit.
Cukup lama. Bisa ejakulasi dua kali.
Sangat lama.
Enam menit. Aku suka momen ini.
Para wanita tertawa, tapi para pria, "Hentikan."
"Kau bodoh? Kenapa tertawa?"
Enam menit.
Pria di panggung berkata,
"Dia sudah wafat."
"Dia sudah wafat."
"Mereka semua wafat."
"Kita semua tamat."
Setelah enam menit, dia bilang,
"Kita takkan melupakan mereka!"
"Dan sekarang, Kev Adams!"
Bukan waktu yang tepat
untuk bercanda.
Tak apa-apa. Aku tak bingung. "Ayo, berikan yang terbaik."
Kubuka amplopnya.
Kuucapkan kata-kata yang selalu kuimpikan.
"Nominenya adalah…"
Jelas, semua nomine adalah animasi, jadi…
"Dora si Penjelajah dalam Big Jungle Adventure,
SpongeBob SquarePants dalam The Great Ocean Odyssey,
Despicable Me 3 dalam The Minions Revenge,
dan Peppa Pig dalam When Pigs Fly."
Kubuka amplopnya.
Pemenangnya adalah…
"SpongeBob SquarePants!"
Saat kukatakan SpongeBob SquarePants, seorang wanita berjalan…
Dengan spons!
Seorang wanita berjalan untuk mengambil hadiahnya.
Mungkin produsernya.
Ada pria di belakang yang bilang, "Turun!"
"Kau, turunlah!"
Jadi, kupikir,
"Kev, mungkin ini kali terakhirmu tampil di Penghargaan César."
"Coba sesuatu!"
Mungkin itu salah, tapi saat itu, kupikir, "Coba sesuatu."
Aku baru bilang SpongeBob SquarePants. Kulihat wanita ini mendekat.
Aku mulai berkata…
"Sayangnya, SpongeBob tak bisa hadir malam ini."
"Dia banyak pekerjaan."
"Dia tenggelam di dalamnya."
"Setidaknya dia tak melempar sponsnya."
Senang mendengar reaksimu, Denain,
karena mereka tak tertawa di Penghargaan César.
Ada yang bilang, "Permisi?"
"Turunkan dia."
Jadi, aku di belakang panggung, sendirian. Buangan Penghargaan César.
Siapa yang datang menghiburku?
Anne Hidalgo!
Bukan Anne Hidalgo.
Tapi itu lucu!
Bukan SpongeBob SquarePants juga.
Lucunya membayangkan Anne Hidalgo.
Kubayangkan dia datang, "Baiklah!"
"Usahamu sangat bagus!"
"Setidaknya satu persen penonton tertawa."
"Satu persen lumayan."
Bukan Anne Hidalgo atau SpongeBob SquarePants.
Siapa yang datang menghiburku? Gérard Depardieu.
Sumpah. Legenda perfilman Prancis.
Dia muncul dan berkata, "Permisi!"
"Kau tak apa-apa?"
"Tidak, Gérard, aku agak sedih. Orang-orang menolakku."
Dia bilang, "Apa pedulimu?"
"Mereka semua bodoh."
"Kupikir kau sangat berani."
"Serius? Menurutmu tadi lucu?"
"Tidak lucu."
"Tapi berani!"
Gilanya, berkat pertemuan ini,
kami syuting bersama beberapa tahun kemudian.
Judulnya Maison de Retraite. Pernah menontonnya? Bagus.
Senang mendengarnya.
Di film, aku melakukan kegiatan perawat sehari-hari.
Aku senang karena bisa menghargai mereka.
Aku harus membawa orang tua ke kamar mandi.
Hanya saja, orang yang kubawa ke kamar mandi
adalah Gérard Depardieu.
Hari kedua syuting, aku sangat stres.
Kakiku gemetar.
Aku ingin semua lancar.
Aku syuting dengan legenda! Aku jadi stres.
Sutradara menjelaskan, "Kami merekam dari belakang."
"Gérard akan menurunkan celananya."
"Dari belakang, dia tampak bugil,
tapi tenang, dia mengenakan dalaman kertas."
"Dia tampak bugil,
padahal kemaluannya tertutup."
Kupikir, "Oke, tenang. Aku sudah diberi arahan."
Aku bilang, "Ayo!"
"Syuting bersama Depardieu, ayo!"
Gégé datang.
Kau bisa mendengarnya dari jauh.
Seperti Jurassic Park. Gelasmu bergetar.
Aku bilang, "Gérard, kita bertemu di Penghargaan César."
Dia bilang, "Tentu saja tidak. Ayo."
Dia di posisinya. Kami mulai. Dia menurunkan celananya.
Aku sadar dia sudah memutuskan…
secara mengejutkan, kuakui,
tapi dengan bijak,
tak mengenakan dalaman kertas.
Ya.
Dengar, Denain, reaksiku
seolah melihat serangga yang belum pernah kulihat.
Sumpah.
Dia menurunkan celananya. Aku terkejut.
"Tenang, Gégé!"
"Duduk, Gégé!"
Paham?
Dia tak mengerti. Dia bilang, "Ada apa?"
Aku tak tahu cara memberitahunya. Seluruh tim bilang, "Gégé…"
"Gégé…"
"Kami melihat kemaluanmu, Obelix."
Saat dia sadar,
jawabannya adalah tawaku yang paling lepas.
Makanya aku ingin berbagi.
Saat dia sadar, katanya,
"Benarkah?"
"Bagaimana rupanya? Sudah dua tahun aku tak melihatnya."
Syuting dengan Depardieu adalah mimpiku.
Berkat kalian, aku mewujudkan banyak mimpi.
Aku baru membuka klub komedi di Paris. Sudah dengar?
Gad Elmaleh tampil di klubku.
Dia inspirasiku untuk melakukan pekerjaan ini.
Dia muncul di klub komediku. Dia tampil.
Lebih baik lagi.
Dia membuat lelucon
di klub komediku, tentang aku.
Bisa bayangkan pujiannya?
Katanya, "Kev Adams dan aku tampil bersama."
"Kami berbagi."
"Dia dapat pengalaman. Aku dapat uang."
Begitu katanya.
Tidak, ini lucu.
Aku tak marah padanya.
Aku tak marah.
Aku tak marah sebab aku beruntung mengenalnya.
Aku kenal keluarganya, anak-anaknya.
Dia punya dua anak yang rupawan. Sangat tampan.
Luar biasa tampan.
Anak-anaknya mirip leluconnya. Kau penasaran apa benar itu anaknya.
Aku suka itu!
Aku suka itu.
Kalian semua menatapku, "Kau yakin soal ini, Nak?"
"Kau mengambil risiko besar."
Tenang. Dia tampil di klub komediku. Dia melihat materi ini.
Katanya, "Bisa kita bahas nanti?"
"Tak bisa. Aku kontak erat."
Saat kuberi tahu adikku tentang Depardieu, dia bilang, "Kev…"
"Aku tak peduli kau tak menang César."
"Aku ingin tahu kenapa di usiamu, kau masih belum menikah?"
"Ibu menyuruhmu menanyakan itu?"
Ibuku di belakang berteriak, "Tidak."
"Katakan dan lakukan sesukamu."
Itu membuatku sadar
aku disibukkan oleh pekerjaan selama sepuluh tahun ini,
aku cinta pekerjaanku,
peran yang kumainkan saat di panggung atau di film,
mungkin aku telah mengabaikan kehidupan cintaku.
Kini aku sadar,
terlepas dari semua cinta yang kudapat dari pemirsa,
aku merasa sendirian.
Sendirian dengan diriku.
Sebagai contoh,
aku punya enam hubungan serius dalam hidupku.
Dalam tiap hubungan, begitu putus, orang selanjutnya adalah jodoh.
Paham?
Suami, ayah. Ayo, ini untuk seumur hidup.
Dia jodohku.
Dalam cinta, aku selalu menjadi pembukaan.
Si pria sebelumnya.
Sulit. Kadang aku bertemu mantan.
Baru-baru ini, aku bertemu mantanku.
Dia tampak berseri, cantik.
Suami yang sangat tampan.
Kereta bayi, bayi.
Bayi yang rupawan.
Gembil, rambut keriting, mata melotot.
Begitulah adanya.
Aku berjuang keras dengan kehidupan asmaraku
yang terkadang memengaruhi kehidupan seksualku.
Biar kujelaskan.
Materi berikut mengenai impotensi pria.
Aku berkenan memberitahumu.
Seharusnya bertahan tiga menit,
tapi jujur saja, lemas setelah 90 detik,.
Aku takkan bohong.
Aku baca di majalah serius itu tabu pria terbesar di tahun 2022.
Impotensi pria. Maka, aku menulis materi tentang itu.
Saat itu menimpamu, sebagai cowok, itu sulit.
Mari kita hadapi. Sangat sulit.
Seolah-olah bagian tubuhmu terpisah dari bagian lainnya.
Aku tak tahu cara menjelaskannya.
Ini…
Seolah-olah anumu ingin masuk,
tapi tak punya lencana, paham?
Sulit.
Mengerikan.
Bagi wanita di sini,
ada penjelasan yang mungkin cocok denganmu.
Kau pernah mengenakan tudung?
Pada tudung, ada tali untuk mengencangkannya.
Paham maksudku?
Sayangnya, terkadang talinya terlepas.
Jadi, kau mengemban misi berbahaya untuk memasukkannya kembali.
Paham maksudku? Tidak mudah.
Kadang kau mengira itu bergerak.
Padahal tidak.
Kenapa?
Hanya ujungnya yang keras.
Sisanya…
Penjelasan terbaik yang terpikirkan.
Mengerikan.
Tapi jujur saja. Kita harus jujur.
Aku akan jujur, atas nama umat manusia.
Pria itu pengecut. Benar!
Saat itu terjadi, kami bahkan tak mencari alasan.
Kami memakai alasan yang pertama terlintas.
Saat itu menimpaku, aku lembek, aku payah.
Aku tahu gadis itu butuh penjelasan.
Aku memakai alasan yang terlintas. Seperti…
"Covid sialan, 'kan?"
"Kita takkan pernah melalui ini."
Aku bertanya-tanya.
Ternyata, pria selalu memakai alasan yang sama.
Mereka semua bilang, "Sumpah."
"Itu…"
Kurasa kita di ibu kota impotensi.
Kota para pencicip sejati!
"Sumpah, ini belum pernah terjadi padaku."
Menurut pria, itu terjadi dalam dua situasi.
Saat tak bisa bangun.
Dan di supermarket.
Saat ada antrean panjang dan kartu mereka ditolak.
Mereka bilang, "Sumpah, ini belum pernah terjadi padaku."
Dalam kedua situasi, pria melakukan hal yang sama. Gosok, coba lagi.
Mereka meniupnya.
Gesek, coba lagi…
Gadis di hadapan mereka selalu bilang,
"Cepat, orang-orang yang menunggu."
Wanita punya kelas.
Wanita berkelas, biar kuberi tahu.
Apa kata wanita dalam situasi ini?
"Tak masalah!"
Aku pernah membawakan materi ini di tempat lain.
Tak banyak balasan!
"Tak masalah."
Tapi kau tahu itu.
Kau tahu mereka berpikir, "Dengar, Berengsek."
"Aku keramas selama satu jam."
"Aku sudah bercukur. Sakit."
"Kau tak tahu karena kau Chewbacca!"
"Aku bersiap selama enam jam. Kau bahkan tak bisa menjamin enam menit?"
"Ini masalah besar!"
Mereka bilang, "Tak masalah." Mereka tak mau membesar-besarkan.
Inilah malam saat tak ada yang dibesar-besarkan.
Wanita berkelas, tapi mereka agak munafik.
Begitu pria itu pergi ke kamar mandi, wanita itu mengambil ponselnya,
melanjutkan obrolan grup gadisnya,
"Kalian takkan menyangka apa yang baru saja menimpaku."
"Pria itu tak bisa melakukannya!"
Teman jalangnya menjawab,
"Sudah kuduga. Kelihatan dari tubuhnya."
"Hidung menggantung. Sudah jelas."
"Tipe Capricorn."
Bagi pria, ini momen yang sangat sulit.
Kau sendirian di kamar mandi.
Kau mulai berdiskusi…
dengan bagian tubuhmu.
Diskusi serius.
Kau bilang, "Apa maumu?"
"Jangan sekarang. Setelah semua yang kita lalui…"
"Kumohon, jangan sekarang!"
"Aku menganggapmu sebagai anakku. Aku mengukurmu setiap tahun!"
"Lihat aku saat bicara denganmu, Jordan!"
"Sial, sebelumnya berhasil."
"Dengan Sylvie, Véronique."
"Dengan Claudette! Tak ada masalah!"
Yang tak adil tentang anatomi manusia
adalah ini malam terburuk
karena kejantananmu, maskulinitasmu terkikis.
Besoknya, kau di kereta.
Pemandangan berlalu.
Kau makan kue buah dari gerbong makan.
Lalu sesuatu mulai bangkit…
Katamu, "Jangan sekarang!"
"Tidak!"
Kau menatap kue buah, "Ada apa?"
"Kau mengincar sesuatu, Kue Buah?"
Saat mengalaminya, aku tak bisa bicara dengan teman gadis itu.
Aku salah paham.
Saat teman bilang, "Bagaimana pekerjaanmu? Tak terlalu keras?"
"Apa maksudmu tak terlalu keras? Kenapa tak terlalu keras?"
- "Ini musim dingin, semua orang lemas. - Apa? Lemas?"
Aku ingin bilang, "Ambilkan kue buah. Kau akan lihat."
Aku salah paham.
Selain itu, aku terbiasa cemas.
Kupikir mungkin aku punya masalah fisiologis.
Mungkin aku takkan mampu lagi. Jadi, aku menelepon dokter.
Dokter bilang,
"Aku bisa menemuimu di kantorku 15 hari lagi
atau melalui obrolan video 15 menit lagi."
Aku terburu-buru.
Kataku, "Oke, obrolan video 15 menit lagi."
Dokter meneleponku.
Kami mulai bicara. Kujelaskan masalahku dan itu membuatku khawatir.
Dia bilang, "Baiklah. Kau harus tunjukkan bagiannya."
"Tunjukkan bagiannya?"
"Aku harus melihatnya."
"Bagian…"
"Bagian itu?"
Jadi, aku mengambil postur yang sangat tidak menyenangkan.
Aku begini…
Pria itu berkata, "Mendekatlah. Menarik sekali."
Dia memeriksaku. Katanya, "Aku perlu memeriksa masalah fisik."
Di saat seperti ini, hal terburuk terjadi.
Aku seperti ini
dan ibuku masuk.
Sumpah.
Dia membuka pintu dan dia berdiri di sana dengan terkejut!
Dia tak tahu cerita lengkapnya.
Dia melihatku sedang Facetime, seperti ini,
dan pria berkumis yang berkacamata berkata, "Lumayan."
Aku menatapnya dan berkata, "Bu, sumpah,
itu belum pernah terjadi padaku."
Yang ingin kusampaikan adalah melalui percakapan dengan adikku,
aku belajar bersikap sombong tak ada faedahnya.
Yang kau butuhkan
adalah lencana.
Aku belajar bahwa dalam cinta,
kau harus tetap berpikiran terbuka
dan botol kola tertutup.
Aku belajar aku tak bisa menyenangkan semua orang,
tapi makin aku tertarik pada orang,
aku makin suka mereka.
Aku belajar dalam hidup, meski kalah, kejarlah.
Bahkan, materi gagal di César
bisa mewujudkan mimpi syuting bersama legenda.
Meski mereka tanpa dalaman.
Aku belajar aku tak bisa menjadi idola remaja seumur hidupku.
Dan aku di usia di mana aku tak dikenal anak-anak.
Itu adil karena ada banyak anak
yang belum kuakui.
Aku belajar, kita mengalami kemunduran dalam hidup ini.
Saat itu terjadi, bertahanlah. Tak masalah.
Kau akan melaluinya dan makin kuat.
Aku juga belajar, terkadang kita merasa lemas.
Saat itu terjadi, tunggu 15 hari.
Sebaiknya temui dokter secara langsung.
Selain itu, bicara dengan adikku, aku belajar melihat caramu melihatku.
Melalui matanya, aku melihat caramu melihatku.
Gembil, mata melotot,
rambut aneh.
Mirip SpongeBob SquarePants.
Yang terpenting, kita semua punya peran.
Termasuk aku. Ada beberapa.
Aku seorang anak.
Aku pelawak. Bintang.
Mungkin kelak, aku akan berperan sebagai ayah.
Tapi satu hal yang pasti, peran kesukaanku
adalah menjadi saudaramu.
Terima kasih banyak, Denain! Jadilah apa adanya!
Apa adanya.
Ini tidak dicatok.
Terjemahan subtitle oleh Tiara A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.