Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
KISAH YANG TERINSPIRASI OLEH -- IFAYEMI ELEBUIBON --
Orang-orang yang mati di Yoruba
tak dikubur.
Melainkan, jasad mereka dibawa ke hutan suci.
Orang mati dianggap sedang beristirahat.
Mereka beristirahat...
Seperti itulah orang mati dimakamkan di Yoruba
dahulu kala.
Begitu zaman berubah,
kami menggali tanah untuk mengubur jasad.
Menurut keyakinan Ifa,
burung Akala memiliki kekuatan untuk membangkitkan jasad manusia.
Saat orang mati
mendahului ajalnya,
burung Akala yang mistis dapat membangkitkan orang tersebut.
Namun, jika itu memang sudah ajalnya,
burung mistis tersebut akan membiarkannya pergi ke alam baka.
Dalam kitab Ifa,
hal itu disebut "Idin'osun".
Seorang anak pemberani yang berdandan bagai Akala
menubuatkan Raja Oyo
bahwa sang raja harus berkurban
agar istananya tak dilalap api.
Seorang anak pembangkang
mendengar kepakan sayap burung merpati yang sedang terbang.
Nubuat ditujukan pada Saro, teman Elemele.
Salagereje.
Akhirnya, sang pelindung
dijadikan domba kurban.
Semuanya, berkumpullah.
Tidakkah kalian melihat bahwa nubuat telah terpenuhi?
(NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN)
Apa penyebab kematianmu?
Anak Muda!
Tampaknya kau datang jauh-jauh kemari untuk menyaksikan festival.
Aku kemari bukan untuk itu.
Festival apa?
Kau kotor sekali.
Asal jangan jadi kriminal.
- Lewatlah. - Terima kasih.
- Terima kasih. - Hati-hati!
Halo, Nyonya.
- Selamat datang. - Selamat datang. Hati-hati. Ya?
Siapa ini?
Kembalilah bekerja.
Selamat pagi.
Siapa kau?
Dari mana asalmu?
Aku hanya seorang pengembara. Selamat pagi.
- Pengembara? - Ya.
Aku hanya butuh tempat untuk tidur.
Aku akan pergi sekarang.
- Jangan pergi. Aku tak marah. - Jangan marah.
- Pengembara... - Ya.
...sudah biasa datang ke Oyo.
Masyarakat Oyo menerima orang baru.
Kau dari mana?
- Dari Gbogan. - Gbogan?
Ya. Tapi aku tinggal di mana saja, selama ada lapak baru untuk berdagang.
Berdagang?
Berdagang apa?
- Aku penenun kain aso-ofi. - Aso-ofi?
Ya. Aku pernah bekerja dengan penenun terbaik di Iseyin.
- Benarkah? - Tepatnya, aku ahli di bidang ini.
- Yang benar? - Ya.
Kalau begitu, kau amat beruntung.
Jika bisa membuktikan keahlianmu, kau bisa mencari peruntungan di Oyo.
Terima kasih.
- Siapa namamu? - Saro.
- Apa? - Saro. Namaku Saro.
Saro... Saro, penenun aso-ofi asal Gbogan.
Ya.
Jangan pergi dahulu.
Biar kuambilkan makanan. Ya?
Sesudah makan,
- barulah kau pergi. - Terima kasih.
- Terima kasih, Bu. - Tak usah sungkan. Berdiri.
Tolong belikan...
Kau datang kemari cuma untuk belajar itu?
Dasar bedebah.
Paduka.
Kalian memanggilku.
Sedia payung...
sebelum hujan.
Jika kita gagal mempersiapkan diri, maka kita bersiap untuk gagal.
Benar, Paduka.
Tetangga-tetangga kita sudah memulai rutinitas.
Tetangga yang mana?
Kapan kita mencapai mufakat perihal pajak?
Itu pasti suku Tapa.
- Dewan Rahasia Oyo! - Paduka.
Paduka.
Paduka. Yang Mulia! Hidup Raja!
Sebaiknya kalian pulang...
tidur sejenak, dan pikirkan lagi.
Besok di jam yang sama,
kita akan tahu apa kita harus berperang.
- Mari kita sudahi. - Baik, Paduka.
- Wah, penata rambut. Halo. - Halo, Nyonya-Nyonya.
- Semoga harimu baik, Penata Rambut. - Terima kasih, Nyonya.
- Penata rambut kerajaan. - Terima kasih, Nyonya.
Siapa yang mau kau buat cantik?
Ratu Arolake yang memanggilku.
- Kudoakan yang terbaik. - Amin.
- Buat rambutnya jadi cantik. - Baik, Bu.
- Terima kasih. - Astaga.
Hei, Putri Kikelomo!
Cepat panggil Ratu Arolake.
Kembali duduk!
Kikelomo mana yang harus memanggil Ratu Arolake?
Apa anakku tampak seperti budak? Semua mengenalku di istana ini.
Aku tak pernah lewati batas.
Aku tak mencampuri urusan orang lain.
Jangan seenaknya.
Jika si penata rambut hendak menata rambut Ratu Arolake
dan tak bisa memanggil sendiri,
Ratu Arolake yang harus keluar.
Dan jika dia tak bisa keluar, buatlah anak agar bisa diperintah.
Jika itu tak mungkin, perintahlah anak-anakmu.
Ya.
Perintah saja anakmu sendiri.
- Ratu Arolake! - Tuan Putri.
Ya?
Rambutmu lembut sekali.
Penata rambut yang kau panggil sudah datang.
Bagus. Nanti aku keluar.
Ratu, janganlah mengusik kami!
Hati-hati saja, kalian bisa mati karena cemburu.
Kalian dinikahi setelah aku.
Dan akan ada yang dinikahi setelah kalian.
- Bu, jangan teriak. - Santai saja, Bu.
Tak perlu teriak.
Dengar, Ratu Arolake,
kau datang ke tempat ini.
Mereka punya anak. Aku punya anak. Dan kau juga akan punya anak.
Amin.
Kau tak akan mandul di istana ini.
Seperti peramal saja, ya!
Tak apa-apa. Kita lihat saja nanti.
Saro, penenun kain aso-ofi dari Desa Gbogan.
- Makanan dariku enak? - Ya. Enak.
Jadi, sudah kau pikirkan mau punya kesibukan apa di sini?
Untuk apa? Tak perlu kupikirkan.
Aku akan terus menjadi penenun.
Aku tak punya keahlian lain.
Begitu rupanya.
Ya. Aku tahu kau penenun kain aso-ofi.
Tapi aku tak melihat tanda-tanda...
Aku tak lihat tanda-tanda kau hendak bekerja.
Jangan-jangan kau banyak uang, tapi diam saja.
Aku tak punya uang.
Ya. Sudah kuduga. Maka itu, aku menanyaimu.
Saro, tak mau bekerja dahulu di sini?
Kalau bekerja, kau bisa menghasilkan uang, menabung,
lalu mendirikan lapak.
Benar, 'kan?
Tadinya aku berharap bertemu penenun di sini
yang mau bermitra denganku sebagai batu loncatan.
Saro, penenun kain aso-ofi dari Gbogan.
Betapa polosnya. Kau lucu sekali.
Jika kau menerima saranku, aku bisa menawarimu pekerjaan.
Tentunya, kau akan mendapat uang.
Kau bisa menabung.
Lalu nanti tak terasa, kau sudah punya usaha sendiri.
Usaha sendiri. Tak apa-apa, 'kan?
Baik, tak masalah. Apa pekerjaannya?
- Bagus, Semuanya. - Terima kasih, Nyonya.
- Bagaimana pekerjaannya? - Lancar.
- Nona itu sudah ambil kendi pesanannya? - Sudah.
- Dia memesan lagi? - Ya.
- Bagus. - Hai, Nyonya.
- Baguslah. Tanah liatnya bagus? - Ya, bagus.
Mantap. Teruskan.
Terima kasih.
Bagus.
- Kita kedatangan tamu. - Wah.
- Terima kasih, Bu. Halo. - Halo.
Namanya Saro.
Saro...
- Dia datang untuk ikut bekerja. - Baguslah.
Kalian akan kerja bersama.
- Selamat datang di tim kami. - Terima kasih.
Saro, ada pepatah, "Kesempatan tak datang dua kali."
Inilah pekerjaannya.
Dengar.
Memang, aku tahu ini kerja kasar.
Tapi ini pekerjaan yang jujur.
Kau akan diberi upah harian.
Dan makanan disediakan 2 kali.
Tiap hari. Sebelum mulai bekerja dan sebelum pulang saat senja.
Mencetak tanah liat?
Saro...
Kawan, pekerjaan kami dibagikan secara merata di sini.
Jika kau mengerjakan suatu bagian,
tapi akhirnya tidak suka, kau boleh mengerjakan bagian lain.
Dan kau akan diberi upah.
Kami mendapat uang dari mencetak tanah liat.
- Bagus. - Ya, Nyonya.
Baik, Saro. Sekarang terserah kau saja.
- Halo, Nyonya. - Halo.
Ratu.
Ratu Wojuola.
Siapa?
Halo, Ratu Arolake.
- Bisakah... - Ada apa kali ini?
Aku hanya mau bertanya apa aku sudah bisa mengambil cermin besarku?
Cermin yang pernah kau pinjam tempo hari.
- Cerminmu? - Ya.
Waktu itu langsung kukembalikan.
- Kau belum mengembalikannya. - Benarkah?
Begini, aku tak mengalungkan cermin atau mengikatnya di pinggangku.
Jadi, saat kembali ke kamar, aku akan mencarinya, lalu kukembalikan.
Mengerti?
Rupanya ada saja orang yang tak lelah memandangi diri sendiri siang malam.
Kau, di istana ini? Kita lihat saja.
- Pelan-pelan. Sampai jumpa. - Sampai jumpa. Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Si tamu dari Gbogan.
Aku bukan tamu siapa pun.
- Baiklah. Selamat istirahat. - Selamat istirahat.
Sebaiknya segera pulang.
Kau tahu apa kata orang jika berada di pasar malam-malam.
Apa kata orang?
Coba saja tetap tinggal saat malam, kau akan lihat sendiri.
Cepat!
Kami tak pernah di pasar malam-malam.
Ibunya Ajiun, tunggu aku.
- Paduka. - Ya, Wojuola Sayang?
Yang suaranya merdu. Keturunan musikus hebat.
- Paduka. - Ya?
Kenapa kau mengabaikanku?
- Mengabaikanmu? - Ya.
Kau sudah lama tak datang ke kamarku.
Kau pasti bilang begini karena melihat sesuatu.
Kau adalah favoritku.
Mana mungkin aku mengabaikanmu?
Aku tak mungkin mengabaikanmu. Kau lupa hubungan kita sudah sejauh apa?
Paduka, kau bilang aku favoritmu.
Benar.
Tapi tiap kali kami mencarimu di istana,
kau selalu saja berada di kamar gadis muda itu.
Paduka, aku tak bermaksud untuk cerewet.
- Wojuola. - Paduka.
- Tapi begitulah adanya. - Wojuola.
Paduka.
Kukira dengan mendatangi kamarmu malam ini,
aku bisa menenangkan diri dan tidur nyenyak.
Aku malah dibuat bosan dengan keluhanmu.
- Dengar... - Paduka,
tolong jangan salah paham.
Hidup ini tak sesulit yang kau pikirkan.
Paduka, jangan salah paham.
Jangan bergantung pada hidup.
Wajar ada kecemburuan dalam percintaan, bukan, Paduka?
Aku lelah sekali.
Kau sungguh akan berpakaian? Paduka.
Paduka, tinggallah sebentar lagi. Kembalilah. Kumohon...
Sudah, aku mau keluar.
Arolake Sayang.
Paduka, tolong jangan sentuh aku.
- Kenapa? - Malam ini bukan malamku.
Siapa yang bilang begitu?
Tiap malam adalah malam kita berdua.
Ya, 'kan? Kemarilah.
Jangan, Paduka. Aku tak mau cari masalah.
Masalah apa, Arolake? Siapa yang memberimu masalah?
Tunggu, ada apa dengan sikapmu ini, Istriku?
Kau sungguh melakukan ini, Arolake Kesayanganku?
- Ayo... - Kita tak bisa melakukan ini.
Apa maksudnya?
- Baiklah, aku datang bulan. - Tidak mungkin.
Jangan pakai alasan itu. Sejak kapan?
- Jawablah. - Sungguh. Aku tak bohong.
- Benarkah? - Kali ini datangnya agak cepat.
Kurasa karena beragam ramuan kesuburan
yang kuminum belakangan ini, siklus datang bulanku terus berubah.
- Ramuan kesuburan? - Ya.
Kalau itu alasannya, masih ada cara untuk mengakalinya.
- Tenang saja. Aku tahu cara mainnya. - Begitukah?
- Sudah, kemari saja. - Paduka.
- Ada apa? - Paduka, jangan bersikap...
Tolonglah.
Siapa yang bernama Saro di sini?
Aku.
Ambil. Nyonya menyuruhku memberimu ini.
Terima kasih.
- Baik. - Terima kasih.
Cepat.
- Kenapa kalian bengong? - Aku pun heran melihatnya.
Ambil makanan masing-masing dan bersyukur saja.
Kalian mau makan atau tidak?
Ini. Mau ambil atau tidak?
- Cepat ambil. - Ambil ini. Jangan dorong.
- Ini. Ambil makananmu. - Tolong oper kepadanya.
- Di mana makananku? - Beri kami makanan.
- Sebentar lagi jadi. - Kami lapar.
Aku mau yang seperti dia.
- Ratu Tua. - Ratu Muda.
- Kau menemukan cerminku. - Ya.
Cermin ini...
Cantik sekali. Seperti dirimu.
Terima kasih sudah membawakannya.
Padahal kau bisa menitipkannya pada anak-anak.
Takutnya mereka jatuhkan.
Aku tahu betapa berharganya ini.
Suami kita membayar mahal untuk ini.
Favorit Raja bersinar bagai rembulan.
Kenapa hanya kau yang mendapat hadiah terbaik?
Ratuku, kaulah favorit Raja.
Raja tak terpikat padaku atau yang lainnya.
- Begitukah? - Ya.
Lantas kenapa dia meninggalkan ranjangku
dan menyelinap ke ranjangmu tiap kali itu giliranku?
Kau kaget aku bisa tahu?
Dasar wanita menyedihkan.
- Dasar penyihir! Penuh kebencian. - Aku bukan penyihir.
Kalaupun aku penyihir,
akan kupakai sihirku untuk hal lebih baik, bukan memikat pria tua yang...
Apa?
Teruskan. Selesaikan kalimatmu.
Aku tak salah dengar, 'kan?
Bagimu, Raja hanyalah pria tua mesum, bukan?
Raja yang memerintah semuanya tak lagi berarti bagimu?
Kumohon, Senior, jangan salah paham.
Entah kau dengar dari mana,
tapi percayalah, aku tak melayani Raja dengan menyelak.
Tak apa-apa. Kau tak perlu memohon.
Jangan ragu jika ingin bicara.
Kita semua memiliki fungsi di istana ini.
Beberapa dari kami... Kau masih mendengarkan?
Fungsi kami adalah melahirkan putra dan putri untuk Raja.
Namun, fungsimu berbeda.
Fungsimu hanyalah memuaskan hasrat Raja.
Ya! Fungsimu hanya sebatas itu.
Ini peringatan. Camkan baik-baik.
Jika saat giliranku bersama Raja,
dia menghilang
dan kudapati berada di kamarmu lagi...
kau akan berurusan denganku.
Ratu Senior. Tolong, cerminku.
Ambillah.
Lebih cepat.
Kawan kita dari Gbogan!
Selamat pagi.
Kau tahu dia sudah bersuami?
Siapa?
Awarun.
Awarun memang berwujud perempuan, tapi dia adalah laki-laki.
Kenapa kau mengatakan ini?
Itu sudah jadi kewajibanku.
Kau pendatang baru di sini dan masih muda.
Aku bisa saja menyebutmu bodoh,
tapi aku tak mau menghina penciptamu.
Awarun...
7 tahun lalu, dia berkemas dan meninggalkan rumah suaminya.
Kau bukan yang pertama. Ya...
Semua pria yang bekerja untuknya pernah jadi kekasihnya.
Sekarang giliranmu. Paham?
Apa ada orang lain yang tahu tentang aku dan dia?
Soal itu, aku tak tahu.
Jarang ada yang suka bergosip di sini.
Mereka tak suka turut campur.
- Begitu? - Ya.
Kecuali kau, ya?
Jadi, begitu?
Ini bukan salahmu. Sungguh.
Ini salah hati nuraniku yang mendesakku untuk berterus terang.
Wanita yang berhubungan denganmu adalah tante girang.
Aku serius.
Dia suka berondong yang menarik sepertimu.
Dia meniduri mereka, lalu menjadikan mereka budak.
Diamlah!
Kau ini melantur atau bagaimana?
Ini bukan salahmu. Ya? Pokoknya, aku sudah memberitahumu.
Teruskan saja.
Ayo lebih cepat!
Hei! Itu dia.
Mondar-mandir tak jelas bagai domba.
- Lihatlah dia. - Pilih yang benar.
- Ya ampun. Dia mulai mencari perhatian. - Tak usah buru-buru.
Apa?
Hei! Denike!
Anike!
Ibu sudah bilang jangan dekat-dekat dengan dia, bukan?
- Tenanglah! - Ayo, jangan di sini.
Tidur siang kalau tak ada kegiatan! Masuklah!
Coba lihat itu, Bu.
Kau benar-benar harus tenang.
Manik-maniknya berhamburan.
Mereka cuma membantu.
Apa salahnya membantu? Kenapa kau pukul? Kau ini kenapa?
Maaf saja, Bu, semua orang di istana mengenalku.
Aku tak pernah lewati batas.
Aku tak pernah campuri urusan orang.
Kenapa anakku harus memungut manik-maniknya?
Memang mereka budak?
Kenapa jadi membahas budak? Manik-maniknya berhamburan.
Berdosakah anakmu karena membantu memungutnya?
- Jangan temperamental. - Lantas?
Kenapa kalau berhamburan? Tangannya saja yang lemas.
Dia tak kuat memegang manik-manik.
Nak, kau tak apa-apa, 'kan?
Salah sendiri dia tak punya anak untuk diperintah. Dasar munafik.
- Paduka Raja. - Siapa?
Paduka, ini Ogunjimi, pelayan Anda.
Masuklah.
Paduka Raja.
- Ada masalah apa? - Paduka, Ratu Arolake demam.
- Arolake demam? - Benar, Paduka.
- Demam apa? - Aku pun tak tahu, Paduka.
Arolake.
Biar aku...
Kau baik-baik saja?
Istriku, Arolake. Kau kenapa?
Arolake...
Kau memang nakal.
Ayo.
Aku akan bangun, mandi, dan bersolek
Aku akan bangun, mandi, dan bersolek
Aku akan bangun, mandi, dan bersolek
Aku akan bangun, mandi, dan bersolek
Aku, Saro
Aku, Saro, akan mandi Bahkan lebih sering daripada wanita
Aku akan bangun, mandi, dan bersolek
- Halo. Sedang sibuk? - Halo.
- Halo, Pak. - Halo.
Halo.
- Kau Saro, penenun aso-ofi? - Benar.
Kata Awarun, kami bisa mendapat aso-ofi berkualitas darimu.
Ya, mari kutunjukkan.
Ya.
- Silakan dilihat. - Baik.
Silakan.
Bagus, tidak?
Kenapa malah bengong?
Ini indah sekali, Ibu.
Ratu Arolake, aku membawakan ramuan untuk Anda.
Siapa?
Masuk saja.
Kau siapa? Aku tak pernah melihatmu.
Aku orang baru di istana ini.
Ramuan ini diantarkan ke dapur, dan aku diminta memberikannya kepada Anda.
Lantas di mana Doja?
Aku tak tahu. Aku hanya diminta mengantarkan ini.
Baiklah kalau begitu.
Terima kasih.
Tunggu.
Bawa wadahnya sekalian ke dapur.
Gaya rambut ini cocok sekali untukmu.
- Aku tahu ini yang kau sukai. - Ya, itu bagus sekali.
- Akano Erin. - Ya?
- Ya, ini aku. - Kau benar-benar berubah.
- Jadi, aku mulai membotak? - Benar sekali.
Kau pasti tahu saat orang membotak, artinya mau kaya raya.
- Sungguh? - Ya, kita pasti kaya raya.
Siapa itu?
- Di mana? - Tadi ada orang.
Siapa di sana?
Tolong hati-hati.
Tadi kau lihat di mana?
Tunjukkan dirimu!
Kau juga dengar?
Berhati-hatilah. Ambil obornya.
Ya.
Tenang saja.
- Kau melihat sesuatu? - Tidak ada apa pun.
- Berarti tadi cuma angin. - Baguslah.
Taruh obornya dan masuklah.
Masuklah. Waktu kita tak banyak.
- Awarun! - Hai. Maka itu, ayo masuk.
- Baiklah. - Ayo masuk.
Bos.
- Kau tak bernyanyi hari ini? - Hibur kami dengan musikmu.
Kalian tak apa?
Harus kuhibur dengan musikku?
Tugasnya sudah selesai?
Kalau belum, jangan banyak bicara.
Selesaikan tugas kalian dan bereskan yang di dekat kakiku ini.
Kalian butuh hiburan, 'kan?
Selamat siang.
Wah, kalian sedang sibuk.
- Halo, Nyonya. - Hai, Nyonya.
Kalian berdua akan sukses.
- Semoga kalian selalu sehat. - Amin, Nyonya.
Babarinsa, semoga ibumu juga sehat.
Dia sehat. Terima kasih.
- Dia sehat? - Ya.
Syukurlah. Adigun?
Kau juga. Semoga sehat selalu.
Saro?
Kau tak mau menyapaku?
Selamat datang.
Babarinsa. Kemarilah.
Kemarilah.
- Adigun. - Ya?
Kau juga kemari.
Sini.
Tolong belikan aku kacang kola.
Cepat kembali. Jangan berlama-lama.
Ada masalah apa?
Hei, aku bicara kepadamu.
Siapa yang bersamamu tadi malam?
Siapa pria itu?
Saro.
Rupanya itu kau.
Jadi, kau yang mengintip lewat jendela tadi malam?
Dasar bodoh.
Saro.
Beraninya kau membuka mulut kotormu
untuk menanyaiku.
- Jelas? Benar, kau. - Aku?
- Jelas? - Mulut kotor?
Saro.
Aku tak salah bicara. Aku bersungguh-sungguh.
Ya. Lihat aku.
Mulutmu tak hanya kotor...
tapi juga jorok.
Mulutmu bau.
Bau busuk.
Dengarkan baik-baik. Lihat kemari.
Apa pun yang kulakukan, tak ada yang berhak menanyaiku.
Aku juga bisa melakukan apa pun yang kumau dengan siapa pun.
Dan tak ada yang berani menanyaiku.
Sebentar, Saro.
Pernahkah kubilang aku butuh suami?
Atau pernahkah aku meminta bantuanmu? Kapan aku mengatakannya?
Satu hal lagi, Saro.
Jangan serakah dan lupa diri. Mengerti?
Tenun yang benar, dan lanjutlah bekerja.
Wanita yang berhubungan denganmu adalah tante girang.
Aku serius.
Dia suka berondong yang menarik sepertimu.
Dia meniduri mereka, lalu menjadikan mereka budak.
Salam dariku, Dewan Rahasia Oyo.
Paduka Raja.
Kerajaan ini tak akan hancur.
- Amin. - Amin.
Tadi Akiniku mengatakan...
bahwa ada informasi penting perihal para pedagang budak.
Tunggu.
Ke mana arah topik ini?
Paduka.
- Raja dengan manik-manik indah. - Terima kasih.
- Berjayalah kerajaan Anda. - Amin.
Paduka.
Salam untuk Dewan Rahasia Oyo.
- Nyonya-Nyonya, semoga sehat selalu. - Amin.
Begitu mendengar mereka akan datang,
aku langsung mengabari Raja.
Sebelum mengabari beliau,
aku sudah menempatkan pasukan bersenjata
di tiap sudut desa ini.
Awalnya 2 orang, lalu menjadi 4 orang.
- Bagus. - Bagus sekali.
Tadinya 10, kini ada 20. Mereka berlipat ganda.
Entah dari mana lagi mereka bisa masuk kemari
dan memperbudak masyarakat Oyo.
- Kita lihat saja. - Kau pria perkasa.
Baik, kerjamu bagus.
Paduka.
Berjayalah kerajaan Anda.
- Hidup Raja. - Amin.
Kami telah lama berdagang di desa ini.
Barang siapa yang bekerja keras, akan menuai hasilnya.
Mereka bisa membangun rumah, menikah, dan punya anak.
Lalu membesarkan anak-anak.
Saat sang ayah beristirahat
di usia tua dan menikmati jerih payahnya,
mereka kemudian memikat anak-anak dan menjualnya sebagai budak.
Pernah lihat anak yang dijadikan budak kembali ke desa?
- Tidak. - Tidak.
Jadi, tolonglah. Perbudakan tidaklah baik.
Katakan tidak pada perbudakan. Jangan berikan kesempatan.
Jangan merumitkan hal yang sederhana.
Lantas?
Kenapa kita selalu gegabah dan sok tahu?
Kenapa?
Mereka yang datang, orang berkulit putih yang bilang ingin bermitra dengan kita...
Cobalah kita dengarkan mereka
agar tahu mereka mau berbisnis apa.
Bukankah orang kulit putih yang mau datang?
Alah, tak usahlah membahas itu.
Tapi apa maksudmu mengatakan itu?
Maksudmu anak-anak yang berguna untuk kita di kemudian hari
sebaiknya dijual saja? Enak saja.
Dengarlah, aku sudah mulai takut.
Sungguh.
Kita sebaiknya waspada.
Agar tak ada yang menyerahkan kita kepada musuh.
Ini harus diingat baik-baik.
Kita harus berhati-hati.
- Baba Oloye... - Perbudakan tak ada baiknya.
Jangan ulangi ucapanmu. Itu menyesatkan.
Perdagangan budak hanyalah pembenaran penculikan.
Kau pikir orang-orang yang dijadikan budak akan pulang?
- Tak akan. Mereka diambil selamanya. - Mereka akan pergi selamanya.
Paduka.
Kami tinggal bersama warga desa. Kami melihat dan mengetahui segalanya.
Kalau soal desa ini, kami tak pernah ketinggalan berita.
Semuanya jelas di mata kami.
Kami bisa menjamin, dengan berkat Tuhan,
Anda akan panjang usia dan berjaya.
- Amin. - Amin.
Dewan Rahasia Oyo.
Paduka Raja.
Saro...
Kumohon.
Berapa lama aku harus memohon sampai kau memaafkanku, Saro?
Saro.
Maukah kau menikahiku?
Saro.
Jangan pernah.
Sekalipun mau menikah lagi,
aku tak akan memilih orang sepertimu, Saro.
Aku tak bisa menikahimu.
Tataplah aku, Saro. Kau terlalu muda untukku.
Kau tak bisa menikahiku.
Saro, ayolah.
Semoga kau mendapatkan wanita
yang akan mencintai, menghormati,
merawat, dan memperlakukanmu bagai raja, serta melahirkan anak untukmu.
Kuharap kau bertemu wanita semacam itu.
Saro,
saat hari itu tiba, kau akan mendapat restu dan doaku.
Ya?
Aku akan mendukungmu.
Aku akan memberimu dukungan penuh? Ya?
Tapi sebelum hari itu tiba, janganlah ada yang menghalangi kita.
Ya?
Ayo, peluk aku. Buang suasana hatimu yang buruk itu.
Jangan seperti itu.
Saro...
Aku punya kabar baik untukmu.
Kabar yang sangat baik.
Kudengar...
para istri Raja dan wanita istana lainnya membutuhkan pakaian baru.
Ya. Jadi, aku merekomendasikanmu sebagai pemasok.
Bagaimana?
- Yang benar? - Ya, aku serius.
Kalau begitu,
aku, Saro, akan membuat pakaian baru untuk para istri Raja.
Kau diminta datang ke istana besok.
- Aku ke sana sekarang. - Tenanglah! Sekarang?
Mari bercinta sampai besok. Kau diminta datang besok.
- Aku, Saro... - Ya, kau Saro. Ayo.
- Putra Tewogbola akan menenun aso-ofi... - Ya.
- Untuk penghuni istana? - Ya.
- Oh, Awarun. - Ayolah. Ya?
- Selamat datang, Ratu. - Halo.
Percayalah, kainnya bagus.
Silakan.
- Kau bawa yang terbaik? - Ayo lihat, Bu.
- Ya, tentu saja. - Halo.
- Semoga sehat selalu. - Amin.
Anak Muda,
- kudengar kau punya kain terbaik. - Benar.
Mari kita lihat.
Rupanya sungguh bagus.
- Warnanya tak cerah. - Lumayan juga.
- Ada motif lain? - Ini adalah kain aso-ofi.
- Beri dia motif yang itu. - Ada banyak sekali. Silakan dilihat.
- Nah! - Yang ini bagus.
Bagaimana menurutmu?
- Masih ada yang seperti ini? - Ada.
Itu pilihanmu, Bu?
Memang kenapa? Tak boleh kupakai?
Motifnya terlalu mencolok.
Ambilkan untuk Tuan Putri.
- Kau suka yang ini? - Ini bagus.
Kau pasti cantik jika mengenakan ini. Ambil saja.
Baiklah. Simpan yang ini untukku, ya?
Bagaimana dengan anak-anak yang lain?
Mereka bisa memakai yang mana saja.
Pokoknya, simpan yang ini untukku. Ya?
- Kami juga mau yang ini. - Kami yang ini.
Tuan Putri akan mengambil yang ini.
Ya. Yang ini untuk Tuan Putri. Bagus.
- Terima kasih banyak. - Terima kasih.
Terima kasih.
Jangan sampai tertukar.
Terima kasih.
Yang ini pilihan ratu kami, yang lainnya pilihan kami.
Semoga Tuhan mengampunimu.
Halo, Anak-Anak Raja.
Anak Muda, masih ada satu ratu lagi.
- Tunggu sebentar, biar kupanggilkan. - Baik.
Siapa pun kau yang mengikutiku, tunjukkan dirimu!
Ratu!
- Ibu. - Ya?
Aku senang sekali dengan pakaian yang akan kita beli.
Ibu lihat betapa tampannya pria itu, 'kan?
Seperti kain yang dia bawa.
Semuanya tampak indah.
Aku bingung mau memilih yang mana.
Dia tampan sekali, Ibu.
Bilang saja kau menyukai pria itu.
- Ibu... - Diam.
Aku tak bilang begitu.
Pernahkah Ibu membohongimu?
Ibu, apa gara-gara kubilang pakaian-pakaiannya bagus?
Sudahlah.
Ibu yang melahirkanmu.
Setua apa pun kau, aku akan selalu menjadi ibumu.
Kau pikir Ibu tak lihat?
Ibu melihat kalian berdua saling bertatapan dengan mesra.
Aku tak menatapnya dengan mesra.
Mungkin dia menatapku. Entahlah.
Tapi aku, Omowunmi Ayanladun Omofadeke,
tak menatapnya dengan mesra.
Terus saja membohongi diri sendiri.
Kuakui, dia memang begitu tampan.
Aku penasaran apa dia sudah menikah.
Siapa yang bisa menjawab itu?
- Ibu. - Ya?
Sepertinya aku ingin mengganti beberapa pesananku.
Bisa suruh dia kembali agar aku bisa melihat-lihat motifnya lagi?
Lalu, aku bisa pilih yang lain.
Boleh saja. Kenapa tidak?
- Itu saja? - Terima kasih, Ibu.
Kau dari mana saja?
Kau mengagetkanku.
Saro.
Kau habis dari mana?
Kenapa kau menanyaiku?
Pernahkah aku bertanya kau ke mana?
Baiklah. Aku tadi mampir ke tempat teman.
Benarkah? Saro.
Kau berbohong.
Kau tak punya teman. Sejak kapan kau punya teman?
Aku punya banyak teman.
- Begitukah? - Ya.
Jujur saja, temanku banyak.
- Begitu rupanya. - Ya.
Baiklah.
Ratu Arolake.
- Siapa? - Omowunmi.
Masuklah.
Putri Omowunmi. Kau kemari untuk mencuri manik-manikku?
Sama sekali tidak.
Aku mau mengajakmu keluar dari kamar tempat persembunyianmu.
Bisa-bisanya kau tak pernah keluar untuk berjemur di bawah matahari.
Kulitmu masih bisa lebih bersinar.
Aku kurang suka matahari. Aku lebih suka bulan.
Bulan adalah kekasih yang lembut.
Aku tak paham hal semacam itu.
Sebentar lagi, kau akan mengerti.
Tunggulah sampai ayahmu menjodohkanmu
dengan pengeran tampan.
Tidak akan!
Tak ada yang berhak menjodohkanku.
Aku akan memilih sendiri.
Baiklah. Bagus kalau begitu.
Ini.
Untukku?
Terima kasih banyak. Ini cantik sekali.
Aku terus membuatnya, tapi tak bisa menjualnya.
Dan aku jelas tak bisa memakai semuanya.
Mungkin putri-putri yang lain juga ingin memilikinya.
Mungkin begitu.
Sudah adakah pria muda yang membuatmu tertarik?
Kapan terakhir kali kau melihat pria tampan
yang berkelas di istana ini?
Paling hanya penenun aso-ofi yang datang tempo hari.
- Kau suka dia? - Tidak sama sekali.
Aku hanya bilang dia setidaknya menarik dan tampan.
Dia bahkan akan datang ke istana sore ini.
Aku ingin melihat-lihat motifnya lagi dan memilih dengan baik kali ini.
Benarkah? Tapi katamu belum ada yang membuatmu tertarik.
Kain atau pembuat kainnya?
Kau bisa saja.
Pelan-pelan memijatnya!
Masih belum menemukan yang kau sukai?
Yang ini cantik.
Mungkin aku akan ambil yang ini juga
beserta yang tempo hari kupilih.
Ratu!
Ratu!
Ratu.
Ke mana dia?
Ratu.
Kau dari mana? Aku mencarimu sejak tadi.
Aku...
Aku habis dari luar, mencari udara segar di bawah cahaya bulan.
Ingat kubilang bulan adalah kekasih rahasiaku, 'kan?
Jadi, kenapa kau ingin menemuiku?
- Tidak ada. Sudah lewat. - Baiklah.
- Selamat tidur. - Selamat tidur, Kawan.
- Jaga dirimu. - Sampai jumpa besok.
- Halo. - Selamat datang.
Saro.
Kau berhak marah padaku...
Saro. Siapa yang marah padamu?
Tolonglah,
aku memohon.
Entah kenapa aku bersikap seperti ini kepadamu.
Memangnya siapa yang marah padamu?
Yang jelas bukan aku.
Lantas kenapa kau menjauh dariku?
Meski kita berselisih, perlukah kita saling menjauh selama ini?
Sungguh, aku tak marah padamu.
Aku takut saja melihatmu.
Karena kau mengambil lebih dari yang bisa kau tangani.
Saro...
kau telah mengambil sesuatu yang bukan milikmu.
- Itu saja. - Begitukah?
Apa maksudmu?
Aku mengatakan ini karena tak mau kau terlibat masalah.
Saro, aku memperingatkanmu saja.
Kumohon, sebaiknya kau pergi.
Tenanglah.
Jangan ucapkan apa pun, kumohon.
Aku sudah di sini. Mari nikmati waktu kita bersama.
Bagaimana kau bisa datang dan pergi tanpa dilihat orang?
Bagai ular,
aku bisa menyelinap masuk dan keluar dari mana saja tanpa ketahuan.
Baiklah, maaf.
Pengawal pribadiku yang membantuku.
Apa? Apa katamu?
Pengawalmu juga tahu kau menemuiku?
- Saat ini? - Tidak sama sekali.
Kubilang padanya aku ingin menemui ibuku.
Kami keluar istana bersama, tapi tidak kemari bersama.
Aku memberinya uang dan menyuruhnya bersenang-senang,
lalu aku kemari.
Saro, aku tahu.
Aku juga takut, tapi...
aku merindukanmu dan ingin sekali menemuimu.
Tak mungkin ada yang sebahagia ini.
Ini yang paling mendekati makna kebahagiaan dalam hidupku.
Ya, aku datang untuk berterima kasih.
Semuanya berjalan dengan lancar dan baik.
Aku tenang dan bahagia. Terima kasih.
Terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Sama-sama.
- Memang seharusnya begitu. - Benar, Paduka.
Jika ada konflik dalam masyarakat,
rajalah yang harus menyelesaikan masalahnya.
Usiaku baru 15 tahun saat dinikahkan dengan Raja.
Bukankah ini Arolake, anak yang kemarin?
Benar sekali, dia Arolake.
- Rupanya dia sudah besar. - Benar, Paduka.
- Boleh kujadikan istri, 'kan? - Paduka bisa saja...
Aku akan selalu memenuhi keinginan Raja.
Aku mencoba bunuh diri...
tapi gagal.
Aku merasa terperangkap, bagaikan dikurung di penjara permanen.
Aku amat marah, sekaligus sedih.
Aku tak tahu apa-apa
selain kebencian ratu-ratu lainnya padaku.
Baru-bari ini...
- ada yang mencoba meracuniku. - Apa?
Meracunimu?
Arolake, kau tak boleh mati!
Minumlah, tak apa-apa meski hanya sedikit.
Bagus.
Ya, muntahkan.
Teruslah.
Kau mengalami semua itu?
Aku juga menghadapi banyak hal dalam hidupku.
Saro!
Usiaku baru 6 tahun saat dipaksa kerja
- untuk melunasi utang orang tuaku. - Ayo, cepat!
Aku datang ke Oyo untuk mengubah nasibku.
Aku bisa mendapat profit dari jerih payahku di sini.
Jadi, aku telah memutuskan. Pilihannya, aku sukses di sini
atau mati selagi berjuang.
Salah satu harus terjadi.
Jerih payahmu tak akan sia-sia.
Oyo telah baik padamu.
Benar, Oyo telah baik padaku.
Namun...
pertama kali aku memandangmu...
saat itulah aku berpikir bahwa...
jika wanita cantik ini bisa jadi milikku...
hanya ajal yang dapat memisahkan kami.
- Sungguh? - Aku serius.
- Saro... - Ya?
Ayo melarikan diri.
Apa katamu?
Mari kita berkemas dan tinggalkan kota ini sekarang juga.
Kau pasti bercanda.
Saro, jangan takut. Kita pasti bisa.
Sadarkah kau dengan ucapanmu?
Kita harus melarikan diri? Ke mana?
Ke mana saja asalkan tak di sini.
Aku tahu di mana Raja menyimpan
uang dan hartanya.
Aku bisa bergegas ke Istana dan ambil sebagian uang untuk kita.
Sebaiknya jangan. Jika Raja tahu...
Saro, tenanglah dan dengarkan aku.
Aku sungguh tak mau kembali ke kehidupan kelam itu.
Apalagi setelah mendengar ucapanmu tadi.
Aku yakin takdirlah yang mempertemukan kita.
Selama kita bersama, kita pasti bisa.
Saro...
Aku mengatakan ini karena tak mau kau terlibat masalah.
Saro, aku memperingatkanmu.
Arolake, ayo kita kawin lari.
Ya.
Tapi harus malam ini.
Aku akan ke istana dan berkemas.
- Arolake! - Ada apa?
Jangan buat mereka curiga.
Aku juga akan berkemas di sini.
Putri Omowunmi.
Kau kenapa?
Tak ada masalah, 'kan? Ada apa?
Kau habis dari mana?
Aku... habis mencari udara segar.
Kekasihmu.
Apa?
Kekasihmu,
sang bulan.
"Bulan adalah kekasih yang lembut," katamu.
Aku tak tahu bahwa maksudmu adalah itu.
Jangan terlalu menghiraukan omong kosongku.
Katakan saja ada apa.
Tadi kutanya, kau habis dari mana?
Sudah kujawab, bukan? Aku habis mencari udara segar.
Pembohong!
Ibuku benar. Kau pelacur! Perebut suami orang!
Omowunmi.
'Mowunmi.
Ibu!
Ibu!
Omowunmi!
- Ada apa? - Ibu!
- Apa yang terjadi? - Ibu!
Bicaralah. Ibu di sini. Kau kenapa?
- Apa salahku? - Kau diminta ke istana.
Saro pengkhianat!
Saro.
Sangat disayangkan.
Masyarakat Oyo.
Paduka Raja.
Dewan Rahasia Oyo.
- Paduka Raja. - Paduka.
Ini adalah seorang pengkhianat.
Oyo menerima pendatang dari mana pun.
Benar.
Kami sudah menerimamu.
Tapi kau malah menikam mata Oyo dengan tombak tajam.
Raja sekalipun tak berani mengkhianatiku. Tapi kau, orang luar, berani melakukannya.
Ya.
Siapa yang memeliharamu?
- Raja bukan memberikan saran. - Ya.
- Raja memberikan keputusan. - Ya.
- Garda penjaga. - Paduka.
Bawa pengkhianat ini dan perlakukan dia dengan semestinya.
Hidup Raja.
Saro pengkhianat!
Saro pengkhianat!
- Saro pengkhianat! - Hajar dia!
Dasar pengkhianat!
Dasar pengkhianat laknat!
Pengkhianat.
Pengkhianat harus dihabisi.
Pengkhianat.
Dasar pengkhianat.
Pengkhianat.
Pengkhianat tak berguna.
Inilah akibatnya, Pengkhianat.
Saro.
Saro.
Maaf.
Maafkan aku. Kumohon, ayo pergi.
Mereka sudah pergi. Ayo pergi.
Saro. Lihatlah aku.
Saro. Ayo.
Kumohon berdirilah. Saro.
Saro.
Saro.
Saro!
Saro...
Bangkitlah, Manusia.
Kau tak pantas hidup.
Matilah kembali.
Maaf. Ayo berdiri.
Ayo.
Maaf.
- Arolake... - Ya?
Aku lelah.
(BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN)
Ayo, duduk di sana.
Duduk di sana. Aku sangat mengantuk.
- Badanku sakit semua. - Maaf.
Kita berhenti di sini. Aku tak sanggup berjalan lagi.
Pelan-pelan.
Duduklah di sini.
Aku lelah.
Aku tak sanggup berjalan lagi.
Aku hanya berharap kita tak mati di hutan ini.
Saro.
Badanku sakit semua. Aku lapar sekali.
Kita seharusnya tetap di sana dan mati saja.
Arolake, jangan berpikir begitu.
Jangan bilang begitu.
Duduklah di sini dan tunggu aku.
Aku akan berkeliling di sekitar sini, mungkin ada yang bisa dimakan.
Ke mana? Mau cari makanan ke mana?
Aku akan berkeliling di sekitar sini.
Mungkin ada yang bisa kita makan.
Aku tak mau ditinggal sendirian.
Bagaimana jika kau tersesat dan tak bisa kembali padaku?
Aku tak akan pergi jauh. Aku tak akan tersesat.
Aku pasti akan datang. Tenang saja.
Ya? Aku akan datang lagi.
- Saro. - Ya, Arolake.
Tolong jangan tinggalkan aku.
Aku tak mungkin meninggalkanmu, Arolake.
Pokoknya aku tak akan bisa meninggalkanmu.
Aku pasti akan kembali.
Istirahat saja dan tunggu aku.
Makanan.
Pele.
Dari mana kau dapat buah pawpaw?
- Dari dekat sini. - Terima kasih.
Kemarikan punyamu. Punyaku lebih lembut.
Biar kukupaskan. Kau tak bisa mengupasnya.
Yang ini keras.
Apa yang kau sembunyikan saat aku datang tadi?
Tak ada yang kusembunyikan.
Makan pelan-pelan.
- Apa? - Jangan makan yang di dalamnya.
Itu bijinya.
Hei! Ada sungai!
Santai. Pelan-pelan. Jangan sampai jatuh.
Jangan jatuh.
- Biar kubantu. - Terima kasih.
Ini. Minumlah.
Jangan membuatku terjatuh.
Ayo terus berjalan. Terus maju.
Kita pasti akan tiba di sebuah desa. Bukankah ini perkebunan singkong?
- Halo, Pengembara. - Halo, Pak.
- Halo. - Hai.
Mau ke mana dan dari mana?
Beruntung kami bertemu Bapak. Adakah desa di dekat sini?
Desa Ojumo tak jauh dari sini.
Tapi jika terus berjalan kaki, kau tak akan tiba di Ojumo sebelum malam.
Tak ada pilihan lain. Kami akan terus berjalan kaki.
Baiklah.
Pengembara, sekadar saran saja sebelum kalian lanjut berjalan.
Konon, ketaatan lebih baik daripada persembahan.
Jika kalian bisa mencari jalan sendiri, tak masalah.
Tapi ketahuilah, wilayah ini dipenuhi pedagang budak.
Jumlah mereka amat banyak.
Jika berjalan kaki,
kalian pasti akan ditangkap dan diperbudak.
Kalau begitu, bisa beri kami saran?
Sebenarnya,
aku punya pondok di hutan
tempat aku singgah saat berburu sampai malam.
Kalau mau, kalian bisa ikut aku dan menginap di sana.
Dan besok pagi, kalian bisa menuju ke Desa Ojumo.
Tidak. Aku tak mau kembali ke hutan setan itu.
Tunggu. Kalian siapa?
Siapa nama kalian dan dari mana asal kalian?
- Pak, tenanglah. - Jawab.
Bisa dibilang kami berasal dari tempat yang amat jauh.
Tolonglah. Kami ingin pergi ke desa itu.
- Tolonglah, Pak. - Bagus.
Kumohon.
Jika kalian mau, ikuti aku ke pondokku di hutan.
Jika mau lanjut berjalan, silakan. Tapi kalian akan dijadikan budak.
Perang ada di depan mata dan tak berhenti. Tiap tindakan pasti ada konsekuensinya.
Apa pun persembahan yang mereka buat tak akan berhasil.
Salam kenal, Pengembara.
- Siapa namamu? - Saro.
- Namamu Saro? - Ya, namaku Saro.
- And istrimu? - Arolake, Pak.
Arolake. Ambil ini.
Dengar.
Silakan bersantai. Ada bangku. Tak usah takut.
Aku mau berburu, tapi tak akan pergi terlalu jauh.
Jika kalian sangat lelah dan mengantuk,
masuk saja ke dalam pondok.
Jika mau berjalan-jalan, pergilah ke hutan.
Ini kendi berisi air.
Panggang ubi jika mau makan.
Terima kasih.
- Tak usah takut. - Terima kasih.
Yang melawan dan kabur hidup lebih lama. Prajurit yang mati kehilangan segalanya.
Aku bagai daun kecil yang tak bisa dipakai untuk membungkus tepung jagung.
Halo.
- Selamat datang. - Salam.
- Halo, Pak. - Halo.
- Selamat datang. - Terima kasih.
Terima kasih.
- Hidup Ogun. - Hidup Ogun, dia berjaya.
Terima kasih.
- Semoga kita diberkati hari ini. - Amin.
Kita sampai di rumah.
Kalau mau, kalian boleh tinggal bersama kami.
Rumahku adalah rumah kalian.
Jika mau melanjutkan perjalanan, silakan.
- Semua rute sudah aman. - Anakku...
Akin!
Kasihanilah kami!
Kasihanilah kami!
Akin!
Ada apa?
Kenapa kalian meratap?
Minggir! Beri jalan!
- Maaf. - Putra kita, Akin, meninggal dunia.
Mopelola.
Mereka membawanya dari Oluyolu sambil meratap sepanjang jalan.
Ini tidak mungkin!
Akin.
Akin, anakku.
Ini tidak mungkin! Akin!
Bangunlah dan tatap Ayah. Akin, Ayah memintamu berdiri!
Akin!
- Malang sekali. - Akin!
- Akin sudah tiada? - Dia sudah tiada.
Pantaskah aku menerima ini?
- Tidak. - Tidak sama sekali.
Wahai kematian, kau telah datang
Saat kami terlahir
Kami ditakdirkan untuk...
Akin telah wafat, Akin telah wafat
- Saro. - Ya? Ada apa?
Nasib kita akan berubah sebentar lagi.
Maksudmu?
Ingat aku pernah bilang bagaimana burung mistis itu membangkitkanmu?
Ya.
- Ambil ini. - Itu apa?
Jangan berteriak.
Ini kekuatan Akala.
Kekuatan Akala?
Inilah yang ia gunakan untuk membangkitkanmu.
Saat aku menjauhkan burung itu darimu, ia menjatuhkan ini.
Lalu kuambil. Ini, ambillah.
Tidak. Untuk apa kuambil darimu?
- Saro. - Apa?
Dengarkan aku.
Sekarang bukan waktunya untuk takut.
Sebenarnya aku tak mau memberitahumu.
Aku menunggu momen yang pas. Dan inilah momennya.
- Ambil ini dan bersikaplah yang jantan. - Aku tak mau menyentuhnya.
Kau masih belum mengerti juga?
Ini adalah kekuatan.
Kekuatan mistis yang amat besar.
Kekuatan ini akan mengubah nasib kita. Dan aku yakin Tuhan
telah memberkati kita dengan ini.
Bayangkan saja, apa jadinya
jika dunia tahu kau punya kekuatan untuk membangkitkan orang mati?
Akin sudah tiada!
Ya Tuhan!
Tak ada lagi yang akan menghiburku.
Siapa yang akan menghiburku?
Siapa yang akan menghiburku?
Akin, berdirilah.
Akin, berdirilah!
Ya Tuhan!
Aku harus menerima ini?
Bangkitlah!
- Tolong! - Tolong!
- Tolong! - Apa yang terjadi?
Putraku...
Akin!
Akin.
Pengembara.
Entah bagaimana kau melakukannya. Aku baru tahu
ada manusia di Bumi yang dikaruniai kekuatan untuk membangkitkan oleh Tuhan.
Mari. Silakan.
- Mari kita bersyukur. - Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih pada kalian juga.
Terima kasih.
- Kalian tak akan menangisi anak kalian. - Amin.
- Baik. - Terima kasih.
Lihatlah, Pengembara.
Ini tuak nira.
Sehabis makan, lanjutkan dengan minum ini.
Kami hanya menyadap tuak nira yang bagus.
Tuak dari kelapa sawit.
Kami sangat menyukai pohon yang tumbuh di dekat danau.
Selamat siang, Pemburu.
Juru bicara Raja.
Kami dengar kau kedatangan seorang pembangkit.
Benar, Juru Bicara Raja.
Dia diundang ke istana.
- Tapi tak akan ada masalah, 'kan? - Tak ada.
Baiklah. Kami akan ikut kalian begitu dia selesai makan.
Tidak. Dia saja. Atau kini kau juga bisa membangkitkan?
Tidak.
Berdiri.
Aku adalah juru bicara Raja.
Semua ucapanku berasal dari Raja.
Saat kita memasuki istana, membungkuklah,
dan jawab semua pertanyaannya dengan jelas. Mengerti?
Berdiri. Cepatlah.
Kau tenang saja dan teruskan makannya.
Anikulapo bersama kita Kita tak akan takut mati
Anikulapo bersama kita Kita tak akan takut mati
Anikulapo bersama kita Kita tak akan takut mati
Anikulapo bersama kita Kita tak akan takut mati
- Paduka Raja. - Selamat datang.
- Raja memberimu salam. - Terima kasih.
Kau yang bernama Anikulapo?
Dengar, Kawan, bicaralah agar Raja bisa mendengarmu dengan baik.
Namaku bukan Anikulapo, Raja.
Lantas siapa namamu? Dan dari mana asalmu?
Namaku Saro, Paduka.
Aku berasal dari Gbogan.
Gbogan...
Gbogan? Kau jauh sekali dari rumah.
Ya. Aku telah mengembara ke berbagai tempat.
Aku kebetulan melewati wilayah Anda, Raja.
Jadi, kau sungguh membangkitkan bocah itu?
Ya.
Di hadapan sejumlah saksi.
Dan kau bisa melakukannya lagi?
Semoga kita dijauhkan dari kematian.
- Amin. - Amin
Tapi tak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan.
Jelaskan, Kawan.
Dari mana sebenarnya kau mendapat kekuatan semacam ini?
Jujur saja, kami semua takut.
Aku hanya mendengar di cerita bahwa orang mati bisa dibangkitkan.
Tapi jika menyangkut sejumlah saksi mata
yang menyaksikan orang mati dibangkitkan, kaulah yang pertama.
Tak pernah ada orang, baik yang mati maupun masih hidup,
yang memiliki kekuatan seperti yang kau miliki.
Meskipun aku belum menyaksikannya sendiri.
Namun, aku ingin mengajakmu menghabiskan waktu bersama kami.
Tinggallah bersama kami. Bertemanlah dengan kami.
Kami menyayangi tamu. Bukan begitu?
Benar sekali.
Kami suka menyambut orang.
Semua orang yang kau bawa ke desa kami, kami jamin akan kami terima.
Dan kau akan dihargai.
- Terima kasih. - Paduka Raja.
Izinkan aku mengusulkan saran.
Sebaiknya kita segera memberi tahu Imam Besar Fakunle soal kejadian ini.
Terima kasih, Paduka.
Terima kasih.
Hei, seperti apa Raja? Kudengar dia dungu.
Yang benar saja, Arolake.
Dia tak dungu.
Kudengar dia punya juru bicara.
Ya.
Dari yang kudengar, dia tak berbicara di depan umum
karena menurutnya itu amat tak terhormat.
Dia juga bicara kepada Imam Besar saat upacara dan pendamaian.
Lantas kenapa dia tak bicara di depan umum?
Atau apa karena semacam penghakiman ilahi?
Jujur saja, aku pun tak mengerti.
Ada yang bilang
dia telah bersumpah beberapa tahun lalu
untuk menukar lidahnya dengan kekuasaan agar bisa menaklukkan musuh-musuhnya.
Ada juga yang bilang,
dia berhenti bicara saat melihat ayahnya disembelih
seperti hewan selama masa perang.
Malangnya.
Menyedihkan sekali.
Namun, tak ada yang tahu mana yang benar.
Benar.
Pelindungku.
Kita sudah sukses.
Ini dia.
Apa langkah selanjutnya?
- Menikmati hidup saja. - Benar.
- Dan berbahagia. - Ya.
Dan bergembira.
Lalu apa lagi?
Ya, kau benar.
Namun, aku berpikir untuk bekerja.
- Bekerja? - Ya. Kalau tidak, mau makan apa?
Nanti kita kelaparan.
Saro. Kita tak akan kelaparan lagi.
- Kau tak mengerti? - Bantu aku memahaminya. Coba jelaskan.
Apa aku akan mendedikasikan hidupku untuk membangkitkan orang mati?
Atau mungkin meminta makanan sebagai imbalan membangkitkan orang mati?
- Aku bertanya saja. - Saro si penenun kain aso-ofi.
- Cintaku. - Cintaku.
- Istriku. - Bersabarlah.
Anjing yang sabar akan mendapat tulang paling tebal.
Aku bersabar, tapi tak melihat prospek kerja.
Anikulapo! Tolong selamatkan kami.
- Anikulapo! - Anikulapo!
- Baringkan dia. - Anikulapo! Tolong bantu kami.
Anikulapo!
- Saro! - Ya?
Bangunlah. Orang-orang memanggilmu.
- Anikulapo, tolonglah kami! - Siapa...
Siapa itu?
Anikulapo, selamatkan kami! Tolong.
Tolong, selamatkan kami.
Selamatkan kami!
Tolong aku.
Berhentilah menangis. Tuhan akan membuatnya berhasil.
Amin.
Ibunya Akano.
Tolong aku!
- Lihatlah anakmu. - Tolonglah aku.
Kumohon!
Bangkitlah!
Terima kasih banyak!
- Kami bersyukur sekali. Terima kasih. - Terima kasih.
- Syukurlah. - Terima kasih.
Terima kasih, Ya Tuhan.
- Baik, beridirilah. Ayo. - Biarkan dia.
Anikulapo bagai mukjizat di desa kami
Kami datang untuk berterima kasih
Anikulapo bagai mukjizat di desa kami
Kami datang untuk berterima kasih
Anikulapo bagai mukjizat di desa kami
Kami datang untuk berterima kasih
Anikulapo bagai mukjizat di desa kami
Kami datang untuk berterima kasih
Bangkitlah!
Astaga. Anikulapo, terima kasih!
Saudaraku. Akanmu. Terima kasih.
Ibuku.
Ibuku.
- Terima kasih, Ya Tuhan. - Nenek.
- Ada apa ini? - Terima kasih, Ya Tuhan.
Biar aku istirahat dengan tenang.
- Bu, jangan pergi dahulu. - Jangan pergi dahulu.
- Apa-apaan ini? - Jangan pergi.
Siapa yang meminta bantuan kepadamu?
- Tinggal berapa? - Sekitar enam lagi.
Ya, tepat ada enam.
Mau kujadikan tinggal empat?
- Bisa lebih cepat? - Maaf.
Halo.
Selamat datang.
Paduka Raja.
Para hadirin yang bijak, salam untuk kalian semua.
Kita semua tahu, dua kepala lebih baik dari satu kepala.
Ini perihal pria asing yang datang ke desa kita
dan mengaku sebagai pembangkit.
Benar, aku ingin membahas Anikulapo.
Karena jika aku menasihati anjing, tapi tak didengarkan,
anjing itu akan ditembak.
Domba jantan yang tak mau mendengar akan disembelih sebagai kurban.
Dan bagi yang tak mendengarkan nasihatku,
biarkan saja bertindak sesukanya.
Dia akan menanggung ganjarannya.
Menurut kisah,
Orunmila butuh setidaknya empat tahun untuk mempelajari
dasar-dasar teknik berenang dari Olokun,
dan enam bulan lagi untuk tahap berikutnya.
Dia menghabiskan 16 tahun lagi
untuk belajar renang di laut beriak, berjuang meski ada bahaya.
Tidakkah kalian melihat bagaimana konsekuensinya?
Biarlah dia pergi.
Pak.
Coba jelaskan,
apa Anikulapo telah amat menyinggungmu sampai kau melaporkannya ke istana
dan bahkan berniat untuk mengasingkannya?
Kenapa kau mau dia diasingkan?
Berhenti menyebutnya Anikulapo.
Dia memang Anikulapo!
Apa dia mengantongi kematian?
Memangnya dia bisa mengendalikan kematian? Tak ada yang tahu kapan orang mati.
Otun, kau belum sadar kenapa dia bersikap seperti ini?
- Ya ampun. - Dia iri saja.
- Benar sekali, iri. - Aku?
- Pasti iri. - Kau iri dengannya.
- Astaga. - Dengan semua kekuatanmu?
Imam Besar, di usiamu yang cukup tua ini,
kau sampai merapal mantra yang panjang dan rumit
hanya karena masalah sepele ini. Bukan main!
Kau memang munafik saja.
Apa hal terburuk yang telah dia lakukan?
Kami tak mengerti.
Tolong pikirkan masa depan.
Karena semua perbuatanmu akan tercatat dalam sejarah.
Tuan-Tuan, berpikirlah dengan kepala dingin.
Kalian tahu Imam Besar Fakunle dapat melihat segala hal.
Yang dia katakan bisa jadi benar adanya.
Mereka bilang aku iri.
Iri dengan siapa? Sejak kapan aku tak berguna bagi kalian?
Semuanya,
Imam Besar Fakunle,
para anggota dewan tak bermaksud merendahkanmu.
Mereka justru sedang berusaha memahamimu dengan baik.
Kita semua tahu seperti apa Anikulapo.
Ditambah, semua yang dia lakukan di sini dan di desa-desa tetangga.
Apa dia tak minta bayaran? Dia pasti mematok tarif.
Dia dibiarkan berkeliaran di desa ini.
Kalian tak tahu tempat asalnya, atau dapat kekuatan dari mana.
Suruh dia membawakan kundurnya agar bisa kita periksa.
Omowon!
- Omowon! - Aku datang!
- Aduh, mataku. - Ada apa?
- Kenapa? - Omowon.
Ada yang jatuh ke mataku.
Tolong ditiup.
Mendekatlah. Tolong tiup mataku.
Ah. Mataku.
- Aku tak bisa melihat. Tiup yang benar. - Sudah kutiup.
Baiklah.
Jangan digosok. Jangan...
Tidak!
Selamat datang.
Paduka Raja.
- Raja memberimu salam. - Raja memberimu salam.
Terima kasih.
Terima kasih.
Sepertinya...
Terima kasih.
Anikulapo, Raja memberimu salam.
Tak ada yang bisa menyangkal betapa hebat
dan besar kontribusimu pada desa ini
serta desa-desa tetangga.
- Ya. - Terima kasih.
Raja memberkatimu.
Amin.
Namun, kami penasaran
dan ingin memahami secara mendalam
kekuatan macam apa yang kau miliki dan dari mana sumbernya.
Kekuatanku berasal dari Tuhan.
- Paduka. - Itu dia.
Benar.
Kita semua tahu bahwa Tuhan mahakuasa.
Kekuatan yang kau gunakan ini... Apa kau mempelajarinya?
Atau kau mewarisinya?
Yang diminta Imam Besar untuk kau jelaskan pada kami adalah
dari mana sumber kekuatanmu?
Ada yang tersinggung karena aku?
Tidak. Kau tak menyinggung siapa pun.
Kau sudah berbuat baik.
Aku merasa diserang oleh kalian semua.
Diserang?
Jangan berpikir begitu.
Tak ada yang menyerangmu. Justru kami senang kau di desa ini.
Kami juga melihat perbuatanmu pada desa ini dan desa-desa tetangga.
Konon, saat dua tokoh masyarakat berjumpa, mereka saling bertukar pikiran.
Kau mengerti?
Dia hanya ingin tahu sumber kekuatanmu secara detail.
Lagi pula, tak akan ada dampak buruknya pada desa ini
dan desa tetangga nantinya.
- Itu saja. - Benar.
Kau tak pernah menyinggung siapa pun.
- Menyinggung dari mana? - Baik, langsung ke intinya saja.
Aku tak merasa berkewajiban untuk mengungkap sumber kekuatanku.
Tak akan kuberi tahu.
Serahkan saja kundur itu pada kami.
Apakah itu akan berfungsi jika orang lain yang menggunakannya?
Tunggu sebentar. Tidak.
Kenapa harus kulakukan jika akalku masih sehat?
Akal sehat?
Imam Besar,
maukah kau menyerahkan kekuatanmu pada orang lain?
Anikulapo, ini bukan masalah serius. Kami hanya penasaran.
Imam Besar hanya ingin memeriksa kundurmu untuk memastikan
apakah kekuatannya berbahaya bagi masyarakat Ojumo.
Jika kalian ingin aku angkat kaki dari desa ini,
aku akan pergi.
- Bukan begitu maksud kami. - Benar.
Tapi menyerahkan kundur ini pada kalian tidaklah memungkinkan.
Jika orang selain aku, Saro Tewogbola,
menyentuh kundur ini, orang itu akan mati mendadak.
Ya Tuhan, jangan biarkan kami mati mendadak.
Biarkan dia pergi saja.
- Paduka. - Dia berterus terang.
- Paduka, itu benar. - Dia berkata jujur.
Kalian dengar?
- Dia pergi. - Jangan dibiarkan pergi.
- Dia pergi. - Suruh dia kembali.
- Apakah masuk akal? - Kau terlalu jahat.
Hei.
Hei. Omowon. Hei, berdiri.
Ada apa denganmu? Kau kenapa?
Kau hamil.
Apa? Kau tak tahu kau hamil?
Jangan khawatir.
Beri tahu pria yang menghamilimu dan minta pertanggungjawaban.
Mengerti?
Tak bisakah kau bicara?
Halo.
Selamat datang. Kau pergi cukup lama.
Terima kasih. Ada apa ini?
Tidak ada.
Tidak, pasti ada masalah.
Ada apa dengannya? Apa yang kau perbuat?
Bicaralah!
- Dia hamil. - Apa?
- Omowon. - Ya?
Kau hamil?
Yang benar?
- Saro... - Ya?
Apa lagi yang kau lakukan?
Nyonya, kumohon maafkan aku.
Kumohon, Nyonya. Maafkan aku.
Omowon, kau boleh pergi.
Arolake. Tolong jangan diambil hati.
Ini bukan masalah besar.
Bukan masalah besar?
Saro?
Ini bukan masalah besar?
Arolake.
Kita seharusnya rundingkan lebih awal.
Dan kurasa sekaranglah saatnya.
Itu benar.
Aku menghamili Omowon.
Arolake, itu anak kita.
Anak untuk kita semua.
Renungkanlah baik-baik,
cintaku milikmu dan akan terus begitu.
Sampai kapan pun.
Apa pun yang terjadi.
Tapi sampai kapan kita akan terus seperti ini,
Arolake?
Tanpa anak di rumah kita,
Arolake?
Kau pun tahu, untuk membangun rumah tangga yang kuat,
kita harus mempunyai anak.
Kau tahu ini.
Arolake. Arolake, kumohon.
Arolake, coba pikirkanlah.
Kita semua memiliki fungsi di istana ini.
Beberapa dari kami... Kau masih mendengarkan?
Fungsi kami adalah melahirkan putra dan putri untuk Raja.
Namun...
fungsimu berbeda.
Fungsimu hanyalah memuaskan hasrat Raja.
(BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN)
Bimpe, ayo cepat.
Sebentar lagi.
Bimpe, kau sudah tampak cantik.
Ayolah, bantu aku memasang penutup kepala.
Lihat apakah sudah pas. Sepertinya kebesaran di kepalaku.
Atau tidak?
Suamiku, Sayangku.
Itu pas sekali di kepalamu.
Kemari. Kau mau ke mana?
Ada apa?
- Ada apa lagi? - Kenapa kau
selalu memukul anak-anakku?
Pasti sengaja dibuat menangis. Kemarikan, biar bersamaku.
Biar aku saja! Ada masalah apa?
Ada apa ini?
Lagi pula, aku tak melarangmu melahirkan anak.
Maaf, tak apa-apa, Nak.
Kau terus membuat anakku menangis.
Omowon, cukup!
Sudahlah.
Kenapa dia memukul anakku? Karena manik-manik konyolnya itu?
- Kubilang cukup, Omowon! - Dasar tak jelas!
Maaf, Sayang. Tak apa-apa.
Sebaiknya jauhkan barang-barangmu dari anak-anaknya.
Maaf, Banke Sayang.
Maaf.
Sekarang anakku menangis lagi.
Suruh dia jauhkan barang-barangnya dari jangkauan anak-anak.
Sudah.
Jika kau berani menyentuh anakku lagi,
kau akan berurusan denganku.
- Dasar... - Omowon, kubilang cukup!
Tak apa, Nak. Bermainlah dengan Kakak.
Di mana anak-anak? Mongudu!
Tuan!
Bantu dia memungut manik-manik.
Tak apa-apa. Aku tak butuh bantuan.
Apa salah pria malang ini, Ratu yang Agung?
Kenapa kau mengatakan hal semacam itu?
Kita membahas itu diam-diam, tapi malah kau ucapkan dengan lantang.
Lantas kenapa? Yang benar saja. Memangnya itu rahasia?
Yang mana? Soal dia mandul atau sempat jadi ratu?
Ayo kita berangkat. Buang-buang waktu saja.
Kau akhirnya membongkar rahasiaku kepada istrimu yang jalang itu.
Benar, 'kan?
Arolake. Dengar, itu tak seperti yang kau bayangkan.
- Tak seperti yang kubayangkan? - Benar.
Tak masalah.
Dengar.
Kurang puaskah kau menghancurkan hatiku dan menelantarkanku?
Kurang puaskah kau menjadikanku objek cacian
di hadapan para istrimu dan semua orang?
- Kau juga ingin membunuhku? - Astaga.
Membunuhmu bagaimana?
Menurutmu apa jadinya
jika kabar tersebar bahwa istri raja yang melarikan diri masih hidup
dan sudah punya suami baru di Ojumo?
Arolake,
kau tak perlu mencemaskan apa pun.
Aku sungguh tak memberi tahu dia apa pun.
Jika aku membahayakan posisimu, menurutmu aku juga akan kena imbasnya
atau makin bernapas lega?
Ayolah.
Pelindungku, Arolake, biar kupeluk...
Menjauhlah!
Betapa mirisnya.
Bodoh sekali aku selama ini.
Setidaknya, sebagai istri raja kekaisaran Oyo,
aku istri favoritnya.
Istri favorit Raja.
Bagaikan bulan, di atas segalanya.
Dan dia mencintaiku.
Dia amat menyayangiku.
Kini aku menjadi objek cacian bagimu,
dasar binatang tak tahu diri!
Apa?
Beraninya kau mengatakan itu!
Kau berani bicara seperti itu?
Arolake.
Suamiku, rupanya kau sudah bangun.
Utusan Raja ingin menemuimu.
Paduka Raja, aku telah menemui utusan Anda.
Raja memberimu salam.
Paduka sendiri yang memanggilmu.
Lihatlah yang terjadi. Pangeran wafat.
Sungguh? Tidak mungkin.
Dia telah wafat.
Kasihanilah kami.
Kumohon, kembalikan putraku.
Malangnya.
Kasihanilah kami.
Anikulapo.
Tolong bangkitkan putraku.
Apa pun yang kau inginkan,
di desa ini atau di mana pun itu, akan dikabulkan.
Asal kembalikan putraku, Anikulapo.
Ini terlalu berlebihan, Paduka.
Ini bukan hal sulit.
Aku akan membangkitkan putra Anda, Paduka.
Dan bayarannya tak seberapa.
Tapi pertama-tama,
izinkan aku berunding empat mata dengan Anda.
- Tenanglah. - Tenanglah, Paduka.
Tenanglah.
Paduka.
- Tenanglah, Paduka. - Jangan emosi, Raja.
Jangan dibawa emosi.
Tenanglah.
Paduka, tenangkan diri.
Kita tak tahu apa yang dia minta.
Anikulapo.
Kau bernyali juga. Putriku?
Itu keinginanku. Aku tak meminta banyak.
Aku hanya ingin menikahi Tuan Putri.
Aku dibayar jauh lebih dari itu oleh mereka yang menghargai kekuatanku.
Apalagi Raja.
Anikulapo.
Nyalimu besar sekali.
Dasar tak tahu diri.
Setelah semua yang kulakukan untukmu
dan bagaimana kerajaan melayanimu,
beginikah caramu membalas budi?
Tak tahu diri dari segi apa?
Hal istimewa apa yang kalian lakukan untukku?
Semua yang kumiliki di sini berasal dari jerih payahku.
Yang benar saja. Justru... Dengar baik-baik.
Kalianlah yang tak tahu diri.
- Tak tahu terima kasih. - Sungguh keji.
- Jangan sampai dewa mendengar ini. - Anikulapo!
- Begitukah cara bicaramu? - Dengar.
Tawaran ini tak bisa dinegosiasi.
Aku akan membangkitkan pangeran kalian.
Tapi setelah itu, nikahkan putrimu denganku.
Kabari jika sudah setuju, Paduka.
Anikulapo akan menunggu di rumah.
Anikulapo, kumohon bangkitkan putraku.
- Berikan Tuan Putri padanya. - Kumohon.
- Lagi pula, dia belum bersuami. - Kumohon.
Turut berduka cita.
Jangan! Tak perlu mengeluarkan belatimu.
Biarlah kematian Pangeran lebih bernilai daripada pernikahan.
Tolong.
Biar dia membangkitkannya.
Biar dia menikahi Putri.
Bangunkan putraku, Paduka Raja.
Paduka Raja.
Bantu aku membangunkan putraku.
Ucapkan salam kepada bangsawan
Ucapkan salam kepada putra Yang kelak akan menjadi raja
Perayaan untuk yang paling kita sayangi
Pada perayaan ini Ada harta tak ternilai yang...
Pak, aku mendengar sesuatu pagi ini.
Tapi entah apakah itu benar.
Beri tahu aku saja.
Kau tahu bibiku adalah pelayan Ratu di istana.
Benar.
Katanya, Pangeran Adeoye mengalami demam tadi malam.
Dan pagi ini,
Pangeran telah wafat.
Astaga! Kabar duka apa ini?
Mereka merahasiakannya
karena ingin Anikulapo membangkitkannya.
Ya. Majikan kita pasti bisa mengatasinya.
Ini bukan hal sulit baginya.
- Pasti bisa. - Ini memang tak sulit.
Tapi Anikulapo bilang jika Putri Ajoke tak dinikahkan dengannya,
dia tak akan bangkitkan Pangeran Adeoye.
Pak, kita harus sama-sama bersumpah.
Jangan beri tahu siapa pun soal ini.
Lanjut bekerja. Tak boleh ada yang dengar.
Benar.
- Teruslah bekerja. - Ya.
- Halo. - Selamat datang.
- Di mana anak-anak? - Sedang tidur di dalam.
Selamat datang, Suamiku.
Ambilkan makanan untukku.
Bagaimana pertemuannya?
- Berjalan lancar. - Syukurlah.
Aku datang.
- Silakan. - Terima kasih.
Terima kasih.
Di mana Arolake?
Dia sudah pergi.
Pergi ke mana?
Mana kutahu dia pergi ke mana.
Dia mengemas barang-barangnya dan pergi.
Permisi, aku mau tidur siang.
Utusan Raja.
Raja telah setuju dan memintamu segera datang.
Dia telah setuju!
Yang Mulia.
- Raja menyapamu. - Selamat datang.
Anikulapo, kau menerima pesan dari Raja.
Katanya Raja setuju.
Tak hanya Raja.
Kami semua setuju.
Raja setuju.
Ratu setuju.
Bahkan Tuan Putri sudah bersedia menikah denganmu.
Asalkan kau membangkitkan saudaranya.
Tentu saja.
Aku akan bangkitkan pangeran kalian.
Ya.
Kurasa dia sedang berkomunikasi dengan dewa.
Dia mengeluarkan kundurnya.
Dia menunjukkannya kepada dewa agar diberikan kekuatan.
- Kita lihat saja. - Ya.
Para dewa telah tiba.
Teruskan.
Bangkitlah!
Anakku.
Bersabarlah.
Bersabarlah.
Bangkitkanlah.
Bangkitlah!
- Ini kedua kalinya. - Benar, Paduka.
Biarkan dia coba lagi.
Hei. Anikulapo atau siapa pun namamu,
kenapa lama sekali?
Dia bukan mengulur waktu. Memang seperti ini prosesnya.
- Tunggu. Bersabarlah. - Sudah kedua kali.
Dia selalu seperti ini tiap membangkitkan jasad.
Bersiaplah.
Kata siapa dia tak bisa?
Bangkitlah!
Pangeran, kau sedang dibangkitkan!
- Pangeran. - Jawab kami!
Tamatlah aku!
Tamatlah keibuanku!
- Pangeran, bangun! - Dia menantang kita.
Seperti inikah kau meninggalkan kami?
Saudaraku... Pangeran telah meninggalkanku.
Aku harus menderita dalam duka ini.
Agilinti, teman Olatuse.
Bagaimana ini?
Awan, teman Awedowu.
Nubuat ditujukan untuk Olapade.
Anak Ebediowu.
Kau diperingatkan untuk tak berkhianat.
Kau diperingatkan untuk tak berbohong.
Olapade, anak Ebediowu,
keangkuhanmu telah menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran.
Saat memutuskan untuk bertindak,
bersiaplah menanggung konsekuensinya.
Olapade, anak Ebediowu,
keangkuhanmu telah menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.