Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Namaku Chintya.
Aku bekerja untuk Pusat Nasional Asia Selatan Pasifik.
Aku ditugaskan ke sini
untuk menginvestigasi semua aktivitas mencurigakan di bank.
Lebih baik beri semua info yang kuperlukan.
Sebelum kau sungguhan masuk penjara. Mengerti, tidak?
Ini foto yang didapatkan dari Kriminal Tiongkok.
Ini foto-fotomu?
Aku ganteng.
Hidung mancung. Dia pesek. Coba kau lihat.
Dia baptis pakai ponsel.
Ini benar kau.
Ini foto siapa?
Masa itu aku? Lihat yang benar.
Matanya sipit.
Ini foto siapa lagi?
Kau ada di mana waktu ini terjadi?
Kau maunya di mana?
Selaku manajer dan kuasa hukum,
saya keberatan klien saya ditangkap.
Karena ketika bank ini dirampok, mereka berada di tempat lain.
Kenapa mereka melepaskan orang-orang itu?
Orang ini mempunyai informasi mengenai The King.
Di mana markas The King?
Kilometer 32, jalan terus.
Ada pom bensin. Di depannya ada putaran. Putar!
Ambil perempatan kedua, ada rumah,
ada pagar hitam. Masuk.
Rumah pojok, depan bengkel.
Masa dia tulis di papan?
Hei, Bocah!
Pisang saleh dimakan Sonya.
Ikan Lele dimakan Papa.
Kalaulah boleh kami bertanya,
kalau tidak boleh, ya tidak apa-apa.
Tertawa kau!
Kami adalah raja yang sebenarnya.
Tunjukkan, Pen.
Monyet!
Akan saya atur supaya kalian bisa ikut tur itu.
Dan untuk sementara,
Ge Pamungkas akan saya taruh untuk menemani kalian di sana.
- Apa ini? - Anu, peta.
Peta.
Kasino!
Ayo pergi ke kasino!
Bagaimana ini?
Peta!
Terima kasih.
Saya mengundang kalian untuk menawarkan pekerjaan.
Saya akan membayar kalian sepuluh kali lipat
dari yang biasa kalian dapatkan
untuk melakukan pertunjukan komedi tunggal
di kasino yang berada di sebuah pulau pribadi.
Lama sekali cuma melakukan itu saja.
Kalian ini siapa?
Dia Isa
dan saya Bela.
Isa, Bela.
Kisah cinta dua dunia.
Terpisah karena adat yang berbeda.
Kenapa dia bisa tahu?
Nikita?
Biasa saja, Bos.
Hanya satu dari kalian yang bertaruh di pulau ini
yang bisa menjadi raja kasino.
Selamat bersenang-senang.
Rekomendasi saya bagus, bukan?
Jualan jadi lancar.
Luar biasa.
Saya usul
mereka dibagi jadi tiga kelompok.
Saya pernah memasukkan program ke kepala mereka. Tinggal diaktivasi.
Chris John, bagaimana?
Masih suka memukuli orang?
Lalu, dia dilempar apa?
Daging yang murah. Jangan yang ini.
- Daging yang murah? - Ya.
Ini murah.
Kenapa aku tidak dimakan?
Kalian sudah gila.
Sebegitu tidak doyan denganku.
Aku siluman ular.
Kita sama-sama reptil.
Buaya bodoh! Tobatlah kau. Tersetrum!
Ada setrumnya? Bisa pakai mengecas ponsel.
Buaya takut dengan yang bergerak-gerak.
Mereka akan merasa terancam.
Bukannya kalau mereka merasa terancam,
ekornya lepas?
Kau bodoh sekali.
Itu cecak.
Manusia napas dengan paru-paru,
ikan bernapas dengan?
Insang.
Air?
Oksigen?
Paru-paru juga.
Air, oksigen di air!
Apa?
Aku tahu.
Izin Allah.
Untung aku sering menonton
Meteor Garden.
Putus ekornya seperti cecak.
Fico yang gila atau buayanya yang goblok?
Ternyata jam beker.
Awas.
Ayo kita mulai permainannya.
Awas!
Saya tak dapat memastikan, Petugas,
apakah mereka orang yang sama dengan para perampok bank ini atau bukan.
Dan lagi, Petugas,
itu sudah lama.
Apalagi mereka memakai topeng.
Memakai topeng.
Ya, itu benar.
Tapi mereka menembak semua CCTV
dan membuka topengnya.
Itu menurut semua sandera yang sudah kutemui satu per satu.
Jadi, apakah para sandera itu berani memastikan
bahwa foto komika itu
adalah foto yang sama dengan para perampok itu.
Aku beri tahu, banyak foto yang tergores dan tidak jelas.
Mereka juga dipaksa untuk menunduk. Kau tahu itu.
Memang seperti itu kejadiannya.
Jadi, kau setuju denganku?
Ini menarik.
Baik.
Jadi, kau setuju
mereka semua dipaksa untuk menunduk.
- Ya, benar. - Kecuali kau.
Maksudnya?
Kau tidak mengerti?
Jadi, semua orang menunduk.
Karena kau tidak menunduk,
kau melihat perampok itu.
Saat membebaskan sandera, ingat?
Aku tidak tahu.
Aku sedang menunggu.
Di mana yang lain?
Siap!
Tunggu sebentar...
- Bapak. - Hei.
Sedang tugas, Pak?
Ya.
Sama, Pak. Saya juga.
Sedang menjalankan tugas.
Mantap.
Izin melanjutkan tugas, Pak.
- Baik. - Baik.
Aku tidak tahu...
Tahu yang lebih lucu?
Aku memeriksa data semua sandera. Satu per satu.
Termasuk kau.
Kau bukan pelanggan Bank INI.
Jadi, kau ada di mana?
Jadi, begini.
Saat itu...
Saat itu.
Asalamualaikum.
Alaikum salam. Masuk.
- Permisi, Pak Indro. - Ya.
Saya Ence.
- Security baru di kompleks ini. - Baik.
Bu Indro.
Ini bukan Bu Indro.
Ini Ibu Chintya dari kepolisian.
Sama.
Kenapa sama? Sama bagaimana?
Ya.
Sama-sama bergerak di bidang keamanan.
Ya.
Permisi.
Jasku.
Ya.
Dinas di mana?
Maksudnya, di bagian apa tugasnya?
Maksudnya, apa pekerjaanmu?
Interpol.
Polwan.
Interpol.
Ya. Saya juga tahu, Pak Indro.
Inter... Internal. Begitu.
Kalau saya eksternal.
Berkeliling.
Saya juga dulu hampir jadi polisi.
Cuma pas tes masuk, saya tidur.
Tapi saya diterima.
Jadi polisi tidur.
Saya tolak.
Masa saya tidur saja? Nanti saya dilindas.
Kalau ada mobil yang bannya kena tahi, saya juga kena.
Berlepotan.
Tidak lucu, ya?
Kalau begitu,
ini saya mau mengantarkan undangan.
- Anak tetangga kita dipotong. - Apa?
Ujungnya saja sedikit.
- Sunatan? - Ya.
Itu.
Hei.
Sudah diisi peluru?
Mana bisa menjatuhkan helikopter tanpa peluru?
Pak Indro.
Awas!
Granat!
Diam! Angkat tanganmu!
Mayday...
Ambil pistolnya!
Kenapa ditendang?
Cepat ambil!
Akan kutembak.
- Cepat ambil! - Melejit, Pak.
- Ya, cepat. Malah diam. - Lolos.
Di mana?
Mau apa? Lewat pintu.
Bagaimana membukanya?
Begitu saja.
Cepat!
Ambil cepat.
- Ambil. - Angkat.
Angkat kursinya, Pak Indro.
Kecil sekali lubangnya.
Pak Indro, angkat.
Kenapa saya yang diangkat?
Aku sama sekali tidak suka tempat ini.
Kurasa kita telat.
Baby is too late
Baby is...
Apa?
Pasti dia menembak dari arah sana.
Ini semua berantakan.
Tapi ada satu benang merah yang harus kita curigai.
TV ini masih tetap utuh.
Gitar ini juga mulus.
Dan di sini ada...
jas.
Warna hitam.
Kalau prediksi saya,
mungkin penembak ini adalah seorang musisi.
Yang juga menjual TV.
Tehnya juga masih utuh.
Mungkin dia...
Ada apa?
Panggil bantuan.
Panggil...
Panggil bantuan. Tolong panggil 911!
Mereka menghancurkan semuanya.
Tolong.
Tolong panggil 911.
Kau pikir ini negara mana?
Di sini Indonesia. Tidak ada 911.
Kenapa gampang sekali tersinggung? Hei!
Maaf, tadi memanggil saya, Yang Mulia?
Masuk.
Saya tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak.
Tapi...
saya ingin sampaikan satu proposal kepadamu.
Proposal?
Seperti anak SMA membuat pensi.
Atau proposal lamaran? Maksudnya mengajak menikah?
Ya.
Benar.
Aku ingin kau menikahiku.
Sepertinya saya yang gila kalau menolak jadi suamimu.
Aku sudah lama jatuh cinta kepadamu.
Dari pertama bertemu,
aku tertarik denganmu.
Caramu memperlakukanku,
caramu menyentuhku...
Sudah banyak yang aku ubah dari diriku.
Wajahku,
tubuhku...
Itu sudah sempurna sekali.
Tidak usah diubah lagi.
Gerah, ya?
Agak.
Sini aku bantu buka baju.
Itu apa, ya?
Maksudmu,
ini?
Ini?
Ya.
Aku ubah...
Aku ubah semuanya.
Cuma yang...
Yang satu itu aku tinggalkan untukmu.
Khusus untukmu.
Ini ada yang pasang AC atau bagaimana? Agak dingin.
Ini yang bisa mengingatkanmu bagaimana aku dulu.
Waktu masih bahagia di tanganmu.
Di tanganku?
Ya.
Di Rumah Sakit Cinta Waras.
Apa?
Dok!
Ini aku.
Kingkong!
Pasien kesayanganmu.
Aku menulis ratusan surat cinta untukmu, Dok.
Dan aku tahu,
di suatu tempat dalam hatimu,
kau merasakan sesuatu yang kurasakan.
Cinta.
Hei!
Bawa si Kingkong keluar!
Bawa ke Bantar Gebang.
Aku cinta kau.
Kingkong.
Sejak itu, aku mulai dendam kepada orang gila.
Sejak itu, aku mulai buka praktik cuci otak
dan jual beli pasien.
Cinta mengubah segalanya, bukan?
Saya ingin sampaikan satu proposal kepadamu.
Gerah, ya? Aku bantu buka baju.
Maaf mengganggu.
Sarang buaya sudah berhasil dijebol.
Delapan komika gugur.
Sisa delapan komika. Sudah memasuki daerah hutan.
Baik.
Kirim Para Pembunuh.
Baik, Yang Mulia.
Para pasukan pemburu,
ciptaanmu juga, Dok.
Selamat siang.
Selamat.
Kalian telah berhasil lolos pada level pertama.
Pada level kedua ini,
kalian akan berhadapan dengan pasukan pembunuh nomor satu,
di sepertiga dunia.
Sepak terjang mereka sudah teruji,
selama 30 tahun.
Kalian boleh
ambil senjata mana yang kalian suka.
Ini permainan
bertahan hidup.
Pilihannya adalah
kalau kalian tidak membunuh,
kalian yang akan dibunuh.
Dan untuk pasukan pembunuh,
selamat bersenang-senang.
Itu mereka.
Itu apa?
Capung?
- Habisi! - Hajar!
King.
Maaf, King.
Maaf, King.
Saya sudah bicara ke mereka seperti yang sebelumnya.
Siapa ini?
Pesuruh kantor.
Apa ini?
King.
Aku mencintaimu, King.
Sayangku.
King.
Tolong aku, King.
Komedian legendaris itu sudah sampai?
Sudah, Yang Mulia.
Ada tambahan dua bonus dari asisten Dokter Pandji.
Bagus sekali.
Masukkan mereka sekalian.
Baik, Yang Mulia.
Tidak.
Ingin tahu saja.
Kepo.
Berhenti.
Istirahat.
Istirahat? Mau mati?
Belum naik haji sudah mau mati.
Aku kebelet kencing, Nest.
Kalau ditahan terus, jadi kencing batu.
Lumayan itu.
Untuk batu cincin.
Awas kujadikan kurban kau.
- Bercanda terus. - Sana. Cepat.
Baiklah.
Lumayan kalau dapat batu cincin.
Mahal sekarang, Nest.
Tidak tahu.
Nest.
Mereka tadi pakai senjata berat semua.
Kita masih punya apa?
Kita punya pistol.
Kosong.
Tapi jangan khawatir.
Kita juga punya
setengah jam lagi untuk hidup.
Tadi pop quiz,
sekarang warteg.
Beli.
Mas, Mbak.
Teh, Aa.
Jual peluru, tidak?
Gitarku bisa menembak, tapi tidak berisi peluru.
- Beli. - Kau sedang apa?
Kata orang, kalau tidak ada singkong, akar pun jadi.
Apa kau sudah gila?
Memangnya kalau akar dibakar bisa enak?
Tidak enak.
Kurang cerdas.
Membuat api unggun di tengah permainan saling bunuh.
Itu dia.
Mungkin itu pasukan pembunuh yang tadi disebutkan.
Jangan sembarangan menuduh.
Siapa tahu mereka juga tersasar.
Naik metromini 75.
Sama-sama mencari jalan pulang.
Bisa jadi.
Coba tanya.
Kenapa tidak ada?
- Kalian cari siapa? - Benteng loncat-loncat.
Kenalkan,
- aku George. - Hai, George.
Kalau kau,
namanya pasti Rudy, ya?
Jadi George Rudy?
Menyusahkan aku saja.
Sudah siap mati?
Kami datang kemari
untuk menghabisi kalian.
Berarti benar mereka pasukan pembunuh.
Kenapa kau tidak percaya?
Kau yang tidak percaya.
Tunggu.
Masa kalian mau menembak orang yang tidak pakai senjata?
Itu senjata.
- Buang! - Mana?
Mana? Tidak ada.
Mana?
Tidak ada.
Begini!
Kita...
- bertarung saja. - Bertarung.
- Biar adil. - Biar adil.
Kalau berani, tangan kosong.
Hadirin sekalian!
Selamat datang.
Hadirin!
Sangat seru!
Pertarungan antara pesaing besar!
Aku akan mengundang
pesaing paling awal.
Satu
Cewek Paling Seksi!
Satu Komedian Paling Lucu!
Dan satu Satpam Yang Akan Dihukum Mati!
Gondrong! Maju kau!
- Lawan sini. - Sini kau!
Maju!
- Lawan dia. - Kenapa aku?
Kalau kau...
Astaga.
Rambut pirang kena tumpahan kuah sate.
Mata pakai celak. Sini kau!
Kau maju!
Lawanmu...
- Bintang mana? - Kau.
Lawan aku.
Lawan, Be.
Habisi!
Lawan, Ri.
Kau serang saja sendiri.
Lihat itu.
Itu opa-opa.
Sudah tua. Kenapa kau melawan orang tua?
Pakai otak sedikit.
Kita pasrah saja digebuki sampai mati?
Ya, daripada kita durhaka.
Masa aku mau lawan opa-opa?
Kita panggil pemenang minggu lalu.
Tim Mematikan!
Kalap!
Kita mau diapakan?
Menurutmu apa?
Kalap.
Kita mau dibuat mati di sini.
Jancuk.
Aku ada rencana.
Anak sialan!
Tolong bantu aku.
Aku butuh kalian.
Rencana apa?
Aku mau pasang bom.
Bom?
- Serius? - Serius.
Kalian caplih.
Tante Polwan.
Saya takut.
Jangan takut!
Kau mau aku berbuat apa?
Ulur waktu.
Ulur... Apa?
Distract mereka.
Distract mereka?
Kau distract mereka.
Apa? Gita?
Distract.
- Di? - Ulur watur.
Apa? Ulur apa?
- Ulur waktu. - Ulur waktu.
Bagaimana caranya?
Kau security. Maju.
Ya, tapi...
Lihat aku.
Kau bukan orang biasa.
Kau security.
Lihat seragammu.
Baca. "Security."
Kau security.
Kau bisa.
Kalian jangan main-main dengan aparat.
Bergeraknya lama, Om?
Lima menit.
Dua menit.
Empat setengah menit.
Jangan ditawar lagi. Harga mati.
Ayo.
Sukses.
Berani kau kalau maju.
Aku pikir kau takut?
Mau pesan apa, Kang?
Mau dicungkil matanya?
Atau
dicubit burungnya?
Kenapa...
Astaga.
Tunggu.
Tunggu.
Kita berantem ada batas waktunya?
Suka-suka kau. Bebas.
Bagaimana kalau batasnya
pas sampai ke tenggorokanmu?
Baik, ayo.
Sebentar lagi.
Bagaimana cara tahu nyawa sudah sampai tenggorokan?
Tidak bisa bicara.
Pakai kode...
Tidak sakit.
Ini tidak sakit?
Tidak sakit.
Sebentar dulu.
Kalau begitu, kita tarung saja.
Bertarung.
Kenapa...
Kenapa aku sakit?
Tidak sakit.
Bilang apa tadi?
Lupa.
Rambutmu bau.
Semua sinyal
dan frekuensi di pulau ini kelihatannya diputus.
Kita seolah-olah sedang menghilang.
Keberadaan kita tidak terdeteksi dari luar.
Apa?
Kau tahu semua ini?
Siapa kau sebenarnya?
Saya tak boleh bilang.
Yang jelas, kita berdua sama.
Bekerja untuk kedamaian dunia.
Kau bekerja di intelijen juga?
Aku tidak bisa beri tahu.
Kau tahu Comic 8?
Dia bekerja untuk saya.
Percayalah kepadaku.
Pelan-pelan saja, Nest.
Kita harus cari
di mana
menara transmiter itu berada.
Dan kita harus hancurkan itu.
Berhenti.
Tunggu.
Astaga.
Sakit.
Sakitnya di mana?
Di sini.
Tunggu.
- Astaga. - Tidak kena.
Diam di tempat.
Jangan bergerak.
Tunggu.
Astaga.
Tapi kita harus bisa keluar dulu dari tempat ini.
Tunggu, Tante.
Tante siapa yang kau maksud?
Siapa lagi kalau bukan tante bohai, aduhai, erotis, dan eksotis.
Tua-tua membuat yang muda bernafsu.
Ampun, Bang.
- Ampun. - Lawan, Be. Tidak sakit.
Tidak lagi.
Hei, bantu aku. Aku sudah hancur.
Lawan sendiri.
Saya tidak mau durhaka.
Opa tidak apa-apa?
Kenapa dimakan lagi?
Cantik, tapi jorok.
- Apa? - Tempel.
Lekatkan di sini.
Kenapa tidak bilang?
Dia pasti akan mati.
Petugas.
Kau mau apa?
Fokus.
Maaf.
- Bagus. - Kita dapat poin.
Tolong!
Ta-ra!
Astagfirullah.
Di, kau tidak apa-apa?
- Kau tidak apa-apa? - Ya. Kau pakai apa ini?
Astagfirullahaladzim.
Kenapa aku buka?
- Aku kalah. - Lawan, Be. Tidak sakit!
Sakit sekali.
Ri.
Ernest sedang apa?
Tidak tahu.
Orang tua dia lawan.
Astagfirullahaladzim.
Anak ini kualat. Berdosa.
Durhaka, bukan?
Sekarang giliranmu.
Hei.
Cari pengacak sinyalnya.
Pak Security.
Pergi bersama Pak Indro.
Cukup, Nest. Jangan dilawan, Nest.
Sebelum kau dikutuk jadi batu.
Bercanda saja, Nest.
Opa, sabar.
Orang tua dilawan.
Parah kau, Ernest.
Cukup bermainnya.
Keluarkan semuanya.
Aku ingin lihat.
Rasakan jurus andalanku.
Dasar tua!
Jurus langkah seribu.
Yang benar saja.
Astaga.
Astaga.
Tante.
Awas.
Turun!
Turun? Sakit!
- Turun? - Bohong.
Kata dia tidak sakit.
Apanya yang bohong?
Teman Om tidak sakit.
Kalau Om memukul sakit.
Pakai ilmu hitam?
Coba lagi. Turun.
Takut Om.
Capai, Om?
Menurutmu?
Haus?
Bawa minum?
Sebentar.
Be, ambilkan air. Kasihan Om Willy haus.
Sakit otakmu, ya?
Mau cari air di mana?
Mau peras daun ini?
Tidak ada, Om.
Ayo lanjut saja.
- Lanjut? - Ya.
Mabuk semua ini.
Keram, sakit semua.
Kau mau lagi?
Aku beri lagi!
Lebih dari delapan kali kita sisir daerah ini,
dari dua hari lalu. Tak ada juga.
Kenapa bisa tidak akurat begini?
Di situ ada pulau.
Di situ tidak ada.
Ini tidak benar.
Mungkin frekuensi penghilang sinyal mereka terlalu canggih.
Sedangkan yang kita miliki
sudah sangat kuno.
Maksudmu,
- kuno itu tidak keren? - Ya.
Jangan mentang-mentang mukamu klasik,
lalu bilang kuno itu tidak keren.
Biar kuberi tahu.
Untuk mencari yang begini-beginian,
tidak perlu begitu-begituan.
Lalu, kau mau cari pakai apa?
Perasaan, Bung.
Jiwa, Bung.
Jiwa itu harus di atas segalanya.
Jiwa, Bung.
Perasaan!
Apa?
Terserah kau saja.
Permisi.
Menumpang kencing.
Sambal goreng petai
cita rasa Arab.
Ada sedikit rasa kurma.
Opa, sabar saja.
Astaga.
Nest, jangan terlalu serius. Bercanda saja larinya!
Dia diajak lari.
Tidak tahu kualat.
Itu sudah pasti masuk neraka.
Memangnya kalian saja yang bisa jadi pembunuh?
Saatnya menaikkan jenjang karier.
Makan ini!
- Apa ini? - Lumayan buat dimakan.
Ibu!
Itu dia gadisku.
Ada apa?
Kita mesti cari
daerah ketinggian.
Soalnya biasanya transmiter itu letaknya di daerah ketinggian. Tahu?
Seperti itu, bukan?
Ya, benar.
Tidak percuma kau jadi satpam.
Security, Pak.
Ya, sekuricit.
Ayo.
Pak.
Saya takut, Pak.
Banyak sekali tengkorak.
Santai saja!
Orang-orangan sawah.
Memangnya kita burung pipit, takut yang begini?
Orang-orangan sawah? Itu tengkorak.
DILARANG MASUK
Cukup.
Ampun.
Aku lebih baik disuruh berantem dengan banci
daripada disuruh naik tangga begini.
Di sini saja.
Ini baru lantai satu, Pak.
Aku sudah tahu tempat transmiternya di atas sana.
Kita ledakkan dari sini saja.
Begitu maksudku.
Bagaimana kita tahu, kita belum sampai ke atas.
Itu, kabelnya kelihatan.
Itu kabel listrik.
Benar. Transmiter pakai tenaga listrik.
TV di rumah saya juga pakai listrik.
Untuk TV namanya receiver.
Receiver dan transmiter sama-sama bertenaga listrik.
- Mengerti? - Kalau anu...
Jangan kebanyakan tanya.
Aku jadi kesal.
Satpam, kau diam saja.
Security.
Daripada kusebut tukang ronda, mau?
Jangan.
Kau membuat kesal.
Aku pasang tiga sekalian.
Gila kau, Ndro.
Tutup pintunya.
Benar.
HIPNOSIS TERBALIK
PERINGATAN!
IP ANDA TELAH TERDETEKSI
Aku bisa merasakan.
Kau suka main belakang, ya?
Pas, ya?
Ya.
Minggir!
Wanita itu yang sudah mendoktrin kita.
Ya, dia yang mendoktrin kita!
- Hajar saja dia. - Hajar!
Ini yang disebut
"Sudah jatuh tidak tertimpa apa-apa."
Nasib.
Ini pasti ulah Dokter Pandji.
Wil.
Ya, Rud.
Kenapa kita di sini, Rud?
Kita sedang syuting?
Syuting?
Syuting? Siapa yang sedang syuting?
Perasaan, kita sedang dijahili The King.
Sepertinya kita dicuci otak.
Kita sepertinya tidak ada bosannya dicuci otak.
Pusing.
Sepertinya aku sedang syuting.
Aku... Kau siapa?
Aku di mana ini?
- Om Barry. - Aku sedang apa?
Om Barry!
Kau tahu?
- Kau kenal aku? - Kenal, Om.
Film Om kami putar terus di sana.
Om Barry Prima.
Ini siapa?
- Dia tidak tahu. - Tidak tahu dia.
Kampungan.
Sumpah kau fanku?
Tapi kepala sakit sekali.
Ge.
Kau ingat aku siapa?
Kau sadar aku siapa?
- Kau sadar, Ge? - Ya.
Jangan cium pakai itu.
Kita normal.
Kita ini di mana?
Kenapa kita pakai baju begini?
- Kenapa ini? - Sebentar.
Itu si Tante kenapa?
Ini di mana?
- Ikuti aku. Sini. - Baik.
Pelan-pelan. Kepalaku sakit.
Om, begini.
Kita ini sebenarnya agen...
Agen MLM obat Tiongkok, Om.
Agen MLM obat Tiongkok.
- Aku tidak pernah beli. - Tidak.
Tapi yang penting, senjata itu semuanya asli.
Jadi, lebih baik ditinggal. Lebih baik Om pergi dari sini.
Aku biasa pegang senjata.
Syuting tidak ada peluru.
Kau bawa saja.
- Nanti kami bawa. - Aku ke mana?
Di selatan pulau ini ada hanggar. Bisa pakai pesawat.
- Sana atau ke sana? - Selatan sana, Om.
Aku pergi dulu.
- Tidak mau ikut makan? - Nanti.
Pokoknya saya doakan Om sehat.
- Semoga... - Doa banyak.
- Beri uang saja. - Siap.
Hati-hati di jalan.
Aku tidak punya uang.
- Hati-hati, Om Barry. - Baik.
Semoga Om Barry tetap prima!
Om Barry.
- Siapa itu? - Senjata.
Saya lupa minta foto tadi.
Saya ingat, saya diminta casting,
di PH yang tidak jelas.
Lalu waktu saya duduk sendirian,
saya dengar suara biola.
Lalu tidak ingat.
- Mengerti. - Apa itu?
Tidak usah khawatir.
Masalah biolanya,
aku sudah hancurkan.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Ledakan dari sebelah barat pulau ini.
Kita ke sana saja.
Baiklah kalau begitu.
Om George dan Om Willy bagaimana?
Mau ikut kita atau...
Atau bagaimana enaknya?
George Rudy?
Willy?
Semua sedang apa di sini?
Pasti kena cuci otak juga, ya?
Kau ikut aku saja.
Di sana ada landasan pesawat.
Ya, Om ke sana saja karena ini garis perang. Bahaya.
- Ayo. - Ayo.
Ke sana saja.
Ini biar kami yang urus.
Dapat senjata lagi.
Aku yang besar.
- Kau sedang apa? - Kau tidak tahu?
Ini kode siulan untuk Mongol.
Kalau Mongol dengar siulan seperti ini,
pasti badannya langsung menggeliat.
Lalu menuju ke sini.
Itu, ada balasan.
Itu suara Babe.
Suara Babe.
- Ayo kita ke sana dulu. - Baik.
Tante. Kita harus berpisah dulu.
Kami harus ke suatu tempat.
Ini sepertinya bahaya, Tante. Boleh...
Apa ini? Kenapa ada ini?
- Ya, bahaya. - Pegang ini.
- Baik. - Apa ini?
Ini.
Hubungi polisi.
Minta bala bantuan.
Bilang ada Interpol diculik di sini.
Tidak usah pakai sepatu, Pak.
Masih bagus sepatu saya.
Setan!
Ini.
Ada teleponnya.
Halo, dengan Bareskrim.
Pak Polisi, saya mau mengabari ada interpol...
Ini bukan Interpol.
Ini Badan Reserse Kriminal.
Salah sambung.
Halo.
Kenapa dimatikan?
- Halo. - Halo, ini ada Interpol namanya Chintya.
- Tidak ada Chintya. - Ya. Interpol Chintya.
Interpol Chintya, Pak.
Ya, salah sambung, Mas.
Tidak ada Chintya di sini.
Cari siapa?
Bukan Interpol.
Pak, permisi.
Boleh kuterima panggilannya?
Kenapa?
Mereka mungkin mencari Chintya.
- Tolong. - Chintya siapa?
Tamu Pak Joe. Dia Interpol. Boleh kuterima panggilannya?
Saya akan berikan
kalau kau bisa berbahasa Indonesia yang baik.
Ini Indonesia. Harus bicara bahasa Indonesia.
- Oke? - Oke.
- Oke? - Oke, Pak.
- "Oke" itu bukan bahasa Indonesia. - Pak.
Kenapa ditutup, Pak?
Nanti menelepon lagi.
Bilang saja minta dilacak.
Halo, Pak Polisi. Kami minta anjing pelacak.
Telepon ini minta dilacak koordinatnya.
Ini minta tolong saja. Telepon ini dilacak koordinatnya.
Sekarang cari dermaga,
tunggu bala bantuan di sana.
Siap, Dan.
Memangnya namaku Hamdan?
Aku menunggu pasukan.
Cepat.
Siap, Ndro!
Itu...
Itu pulaunya.
Itu pulaunya!
Benar firasatku, bukan?
Pulaunya ada di situ!
Tadi kau tidak bilang seperti itu!
Kau bilang firasatmu pulau tak ada di sini!
Kau bilang begitu!
Siapa yang bilang? Buktinya ada pulaunya.
Aku sudah bilang jiwaku keren sekali.
Pasti pulau itu ada di sini dan terbukti, bukan?
Kau banyak bicara!
Kita pergi saja!
Ternyata Dokter Pandji dalangnya, Bos.
- Kita semua dijahili. - Ya, Bos.
Kita dia jadikan bahan judi, Bos.
Bagaimana bisa?
Kalau diceritakan sekarang, panjang, Bos.
Sekarang enaknya bagaimana?
Kita gerebek langsung ke kasino?
Langsung kita habisi saja.
Kalian berdelapan masuk lewat pintu depan.
Alihkan perhatian.
Beri saya waktu dan keleluasaan untuk cari pintu lain.
Kalian langsung menuju ke atas, bekuk yang namanya The King.
- Kerjakan! - Siap, laksanakan!
Be.
Ayo.
Capai.
Hei, cukup.
- Apa? - Ayo.
Semuanya diam di tempat!
Semuanya tiarap!
Tiarap atau diam di tempat?
Semuanya tiarap, lalu diam di tempat!
Kau mau mengurus mereka sekarang?
Suruh keluar saja.
Ya, suruh mereka keluar saja.
Kasihan kalau di sini nanti kena tembak.
Jadi, revisi lagi?
Macam skripsi saja.
Teman-Teman, maaf.
Kita ralat.
Yang merasa warga baik-baik, silakan keluar.
Keluar!
- Silakan. - Di sini kau punya pekerjaan.
Teman-teman, kita menyebar.
Cari The King dan Pandji.
Ayo.
King.
Sepertinya saya mau pamit dulu.
Apa?
Kenapa?
Pandji.
Kalau kau pergi sekarang,
nanti menyesal.
Kau penasaran.
Tidak bisa tidur.
Kau pasti bertanya-tanya bagaimana ini berakhir.
Menyenangkan, bukan?
Ini semua karena itu.
Itu!
Sekarang,
aku bisa tertawa lepas lagi.
Semuanya berkat dirimu.
Berkat dirimu.
Berkat dirimu.
Tidak perlu khawatir.
Kalau ada apa-apa,
yang harus kulakukan hanyalah...
memencet tombol ini.
Ya.
Aku sudah taruh bom di seluruh pulau ini.
Ini,
tinggal dipencet.
Dan semuanya akan menghilang.
Meledak!
Permainan berakhir.
Tunggu.
Santai saja.
Yang Mulia, sepertinya,
kau saja yang santai.
Kau boleh saja membuat semua orang jadi boneka.
Tapi kau bonekaku.
Aku adalah raja dari The King.
Genius.
Tidak. Apa?
Dendam apa?
Apa aku terlihat dendam?
Bawa semua emasnya.
Kita liburan ke Maladewa.
Jangan lupa mampir beli boneka beruang Teddy.
Hei, jangan bergerak.
Bos, siapkan dulu pesawatnya.
Awas.
Bos, apa komika konyol ini kuhabisi?
Hei, sini kau, maju!
Aku tidak usah pakai senjata, ya?
Biar gereget.
Tidak asyik pecah begini.
Pecah.
Kenapa dia ikut pecah?
Sakit!
Kau jangan diam saja.
Cepat bantu. Ini mau lahir.
Ini bagaimana?
Tolong saja.
Baik, ditolong.
Tapi jangan ditembak.
Tidak ditembak.
Sakit.
Siapa yang menghamili, siapa yang repot?
Sakit!
Co, carikan handuk dan baskom. Air juga, Co.
Pakai tangan. Satu, dua, tiga.
Pelan-pelan.
Taruh di meja.
Pelan-pelan.
Astaga, ini...
Bernapas saja. Tenang.
Memangnya kau bisa?
Bisa. Aku pernah belajar.
Belajar dari mana?
Belajar di YouTube. Diam.
Mampus!
Apa yang kau lakukan?
Terlalu lama.
Kenapa kau tembak?
Baru mau kupukul.
Terlalu lama.
Ayo kita cari dokter sinting itu saja.
Buang-buang waktu saja.
Kalau masih sadar, kuhajar kau.
Mongol.
- Hajar. - Baik.
Lihat saja.
Mongol. Awas!
Sembarangan kau.
Bilang kalau mau memanah.
Kalau aku mati bagaimana?
Kita harus dilestarikan.
Pikir pakai otak!
Jangan pakai ini.
Pakai ini!
- Itu. - Apa?
Kenapa tidak bilang dari tadi?
- Habisi. - Banci.
Diam kau.
Kita dikatai banci.
Kau yang menghancurkan biolaku.
Dan kau
yang mengganti bajuku
sampai dalamanku.
Lihat apa saja kau?
Puas?
Punyamu itu kecil?
Tenang.
Tikus kecil bisa beranak banyak.
Tidak usah takut.
Air, baskom.
Handuk.
Kalau melahirkan seperti ini, aku tahu.
Aku pernah punya peliharaan. Tikus.
Dia hamil, waktu melahirkan gampang.
Tinggal pencet perut.
- Anaknya keluar? - Anaknya keluar.
Induknya mati.
Lama-lama kugampar kau.
Sakit.
Tunggu.
Mundurlah.
Mundur!
Tenang. Kita habisi.
Kalau boleh, tangan kosong.
Kita berhadapan dengan tangan kosong.
Buang.
Siapa takut?
Kau bicara apa tadi?
Coba buka. Buka itu dulu.
Pukul duluan.
Astaga. Kenapa giginya maju sampai dua meter?
Tutup supaya enak dilihat.
Tutup.
Siapa takut?
Mongol! Awas!
Kabur.
Lahir juga.
Tidak percuma sering menonton YouTube.
Cewek atau cowok?
Nanti dikonfirmasi.
Isa!
Isa.
Isa, tolong jangan tinggalkan aku.
Aku tidak bisa hidup tanpamu.
Kita
memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Tidak.
Aku menolak itu.
Kaulah hidupku.
Dan kau ada di dalam hatiku.
Sampai jumpa, Cintaku.
Sampai jumpa, Temanku.
Kau satu-satunya.
Kau satu-satunya.
Tidak.
Maafkan aku, Sayang.
Maafkan aku.
Isa.
Isa.
Isabella...
Isa!
Adalah
Kisah cinta dua dunia
Mengapa kita berjumpa
Namun, akhirnya
Terpisah
Siang jadi hilang
Kita akan selalu bersama.
Di kehidupan ini.
Sayangku.
Melenyapkan sebuah kisah
Astaga, mati bersama. Berdua.
Kukubur di mana? Aku mau tolong.
Jangan sedih. Jangan menangis.
Malu. Muka preman malah menangis.
Jaga dia baik-baik.
Aku sudah tidak kuat.
Tidak asyik.
Main tinggal saja.
Bagaimana ini, Tang?
Ini...
dia mati?
Sepertinya.
Kenapa juga perutnya dipencet?
Tangan kosong.
Ini baru asyik.
Yang tadi kentang.
Ini baru asyik.
Jadi lama.
Begitu saja kau malas.
- Olahraga sedikit. - Ya.
Jadi lama.
Ayo maju.
Hei!
Masih lama?
Apa?
Hei, ini jatahku. Hei!
Lewat sini saja, Be.
Ini terbuka.
Dokter Pandji.
Mana?
Pas ini kepalanya kutembak.
Jadi orang jangan terlalu sadis.
Pegang ini.
Pakai ini saja.
Berat.
Kalau pakai itu tidak sakit?
Paling cuma geli.
- Dokter Pandji. - Hei.
Jangan goyang-goyang.
Tetap di tempat. Diam di situ.
Astaga.
Maaf sekali, Gung.
Astagfirullahaladzim.
Dia kabur.
Pandji!
Hei.
Apa yang baru kalian lakukan?
Bagaimana?
Dokter Pandji tertangkap?
Kau mau ke mana?
Dokter Pandji mau kabur!
- Hei! - Hei! Berhenti!
- Hei! - Hei!
Mau ke mana kau?
Mau ke mana?
Ternyata kau biang keroknya.
Ya, aku orangnya.
Aku otak di balik semua ini.
Kenapa?
Lebih baik kalian mundur sekarang.
Kuledakkan kalian semua.
Mundur!
Mundur.
Itu vibrator?
Ini detonator.
Tapi bentuknya memang agak...
Seluruh pulau
sudah ditanami bom.
Aku pencet tombol ini, tamat kalian semua.
Santai.
Sabar.
Tenang!
Gara-gara kalian semua aku dipenjara.
Aku tersiksa.
Pagi, siang, sore, malam.
Aku harus mendengarkan suara kalian tampil di komedi tunggal di TV.
Tahu kenapa?
Karena lawakan kalian
adalah hiburan semua sipir penjara dan polisi itu.
Aku tersiksa. Apa kalian mengerti?
Tiap mendengar suara mereka tertawa,
aku jadi ingin menangis.
Karena aku ingat semua hal yang sudah kau lakukan ke aku.
Berisik.
Itu tidak lucu.
Matikan!
Sipir. Kerja, jangan menonton TV.
Sakit rasanya.
Kelamaan.
Lalu apa maumu?
Kau cuma sendiri.
Kami lebih banyak. Kau mau apa?
Mau menembakku?
Mau menembak teman-temanku?
Kau tembak, ini aku pencet. Mati kalian semua.
Kalian mengerti?
Teman-teman, sepertinya aku mendapat hidayah.
Dok.
Sepertinya kali ini kau yang menang, Dok.
Kami semua kalah.
Kalau mau pergi, silakan.
Kami juga pergi.
- Apa yang kau lakukan? - Percaya saja.
- Ini baru benar. - Pergi.
Benar.
Dengarkan itu.
Kini kalian tahu siapa bosnya.
Aku yang menang.
Buaya raksasa!
Cepat tembak dia.
Pergi!
Kenapa dia bisa jadi naga?
Itu metamorfosis, bukan?
Hei!
Mbak-mbak Interpol.
Kalian lagi?
Hai.
Cewek cantik.
Mbak, sabar.
Kami bisa jelaskan.
Tidak perlu.
Aku sudah tahu siapa kalian.
Siapa Pak Indro itu.
Kalian bekerja untuknya?
Aku tidak ada masalah dengan kalian.
Kalian ini.
Para budak negara.
Baik.
Baik.
Saya ada satu hadiah terakhir
untuk kalian.
Tiket
untuk ikut denganku
ke neraka!
Permainan sudah selesai.
Setuju?
Kenapa, Bude?
Cari pemicu bom?
Mari kuberi tahu.
Pemicu bommu sudah hilang.
Sudah ditelan buaya.
Bersama Dokter Pandji.
Apa?
Pandji sudah mati?
Ya.
Tidak!
Siap!
Siapa yang pertama menemukan tempat ini?
- Bukan Christopher Columbus? - Jadi,
- waktu... - Tempat ini menemukan kami.
Apa? Apa maksudnya?
Bos Indro di mana? Pasukan cadangan kita di mana?
Perasaanku agak tidak enak.
Mereka itu siapa?
- Mereka itu semua... - Komika.
- Tahu? - Komika?
Mereka tidak bawa gambar.
Juga tidak membawa pensil.
Komika.
Apa, ya? Pelawak tunggal.
Pelawak tunggal.
Apa, ya? Pelaut...
- Pelawak? - Ya, itu.
Aku ingat itu.
- Tapi mereka tak bersalah. - Apa?
- Apa? Mereka jelas penjahat. - Mereka tak bersalah. Kebetulan di sana.
- Aku dapat surel... Dengar. - Aku lihat.
- Tunggu. - Aku...
Aku dapat surel beberapa jam lalu.
Cek foto ini.
- Jelas ini... - Aku bersama mereka.
Aku ada di sana. Mereka hanya kebetulan di sana.
- Aku bisa jelaskan. - Lihat.
Aku bisa jelaskan.
- Lihat. - Tidak perlu.
Lihat.
Aku bisa jelaskan.
- Apa? - Jelaskan...
Diam!
Begini saja.
Ayo kita berpencar cari Bos Indro.
Aku setuju.
- Baik. Ayo pergi. - Baik.
Mereka jelas orang jahat.
- Tangkap! - Tangkap mereka. Cepat!
Apa? Tidak ini...
Chintya, dengar.
Duduk!
Permisi.
Atas nama hukum dan undang-undang,
kalian kami tangkap!
Kalian tertangkap juga, wahai perampok bank.
Saya sudah mengejar sampai ke seluruh pelosok dunia.
Jangan mempermainkan saya.
Saya ini Kombes, Komisaris Besar.
Joe Tarling.
Tangkap mereka.
Mas.
Kita ini dijebak.
Dijebak siapa? Dijebak Bos Indro?
Dia sendiri yang bilang.
Jangan pakai nalar logika biasa.
Tidak ada yang tidak mungkin.
Halo.
Semua sudah berkumpul?
Untuk kedelapan agen asuhan saya yang paling saya sayangi.
Pertama, saya harus sampaikan maaf yang sedalam-dalamnya kepada kalian.
Saya minta maaf karena ini semua harus terjadi.
Ada dua kabar yang ingin saya sampaikan.
Kabar baik dan kabar buruk.
Kabar baiknya adalah
kalian
saya nyatakan berhasil dalam melakukan tugas ini.
Dan seperti biasa,
kerja kalian bagus.
Kabar buruknya,
kalian sebenarnya...
Bagaimana, ya?
Saya manfaatkan.
Tengkorak emas ini yang sebenarnya
incaran saya sudah sejak lama.
Menurut cerita rakyat,
ini bukti pertama peradaban sebelum umat manusia.
Dan bagi yang memilikinya,
kelak dapat menjadi raja yang sebenar-benarnya di muka bumi ini.
Tulang dibuat dari biang emas.
Sumber emas paling murni yang pernah ditemukan.
Bahkan harganya tidak ternilai.
Sangat berharga.
Terutama bagi yang mengetahui bagaimana cara menggunakannya.
Info terakhir yang saya terima,
tengkorak emas ada di seorang master kriminal.
Yang namanya The King.
Nikmati kedamaian hidup kalian dalam penjara.
Nikmati umur kalian yang tersisa.
Selamat tinggal.
Kalian bilang, kalian agen rahasia?
Di bawah Pak Indro.
Kuberi tahu.
Ini tidak ada.
Bohongan.
Badan intelijen yang kalian bilang,
tak pernah ada.
Tentu tidak mungkin ada.
Kami semua operasi hitam.
Semuanya tidak tercatat.
Aku sudah cari semuanya.
Itu tidak ada.
Pak Indro
membohongi kalian.
Untuk tujuannya sendiri.
Ini juga target utama internasional. Kalian tahu?
Kasus ini besar.
Kejahatan di mana-mana.
Di dalam badan intelijen.
Dan kuberi tahu,
bahkan di dalam pemerintahan.
Ada yang pura-pura jadi intelijen.
Kami monitor dan akan cari terus.
Buta huruf.
Kita memang terlalu bodoh selama ini.
Kita dijahili.
Delapan tahun ikut dia.
Baik.
Dengar.
Aku akan bantu sebisaku.
Tapi maaf,
kalian semua
harus tetap di sini untuk waktu yang lama.
Teman-teman.
Meski begini, aku punya kemampuan.
Aku bisa meniru suara binatang.
Aku bisa meniru suara buaya.
Saya orang timur.
Saya mau cerita.
Karena saya merasa bahwa di negara kita ini,
orang timur masih sering didiskriminasi.
Utamanya dalam masalah pekerjaan.
Entah kenapa, kami orang Timur,
dalam dunia kerja,
jarang diterima.
Kalau bertemu orang timur, pekerjaannya selalu cuma satu.
Keamanan.
Benar, bukan?
Berpacaran di Indonesia seperti sepak bola.
Yang berantem dua orang, yang menonton banyak.
Benar, tidak?
Kalau dipisahkan, semua teriak,
"Wasit goblok!"
Ini selalu jadi perdebatan.
Misal ada ibu baru melahirkan, lalu menelepon,
"Sayang, anak kita sudah lahir.
Matanya matamu sekali."
Lalu dijawab, "Begitu, ya, Sayang?
Baik, mengobrolnya nanti saja.
Nanti suamimu dengar."
Tempat kos di Jakarta harganya variatif, bukan?
Mulai dari 300,000 sampai tiga juta rupiah.
Kalau artis seperti ini, tahu kos di mana, bukan?
Yang 300,000-an.
Biar hemat.
Yang tiga jutaan itu untuk anak orang kaya.
Fasilitas lengkap.
TV, AC, kamar mandi di dalam.
Kalau yang 300,000?
Kamar mandinya juga di dalam,
tapi tidurnya di luar.
Nikmati kedamaian hidup kalian dalam penjara.
Nikmati umur kalian yang tersisa.
Selamat tinggal.
Seperti yang sudah dibilang,
tengkorak emas ini
sangat berharga.
Di luar sana banyak yang mau.
- Benar, bukan? - Yes, no?
Ya atau tidak?
Yes pasti yes, no?
Zaman sekarang
masih berharap dari gaji karyawan?
Pikir.
Siapa kau?
Dul.
Siapa ini kau ajak?
Katanya,
agen.
Kau tahu siapa saya?
Cak Lontong, bukan?
Katanya agen rahasia.
Kenapa keliru?
Saya Cak Lemper.
Sepupu Cak Lontong.
Aku sudah firasat.
Tapi itu belum sepenuhnya benar.
Fakta yang paling valid.
Sebenarnya saya adalah...
Cak Lontong.
Keren.
Aku juga bisa meniru suara kelinci.
Ini suara kelinci.
Ternyata kelincinya sedang cegukan.
Maaf, Pak.
Saya selama ini keamanan.
Jadi konsumsi baru kali ini.
Ini pekerjaannya apa?
Pak Ari, mari.
Pak Ari sebagai penanggung jawab konsumsi, perhatikan.
Di sini ada nasi kotak,
camilan, dan minuman.
Tolong Bapak jaga, jangan ada yang hilang.
Tidak beda dari keamanan, bukan?
Tapi setelah pertanyaannya kuganti,
"Di sini ada yang tidak suka melihat cewek main bola?"
Pasti banyak. Apalagi cowok. Paling tidak suka.
Aku juga begitu.
Aku termasuk orang yang tidak suka lihat cewek main bola.
Soalnya pusing.
Pusing melihat cewek lari.
Ada yang tembus pandang, ininya goyang-goyang.
Ada lagi tetanggaku baru buka rumah makan.
Namanya Rumah Makan Adik Sayang.
Sepertinya enak. Begitu datang, makan...
Enak makanannya.
Begitu datang, "Bil, sini."
Namanya Bila.
"Bil, lihat ini."
Sudah gaya, begitu bayar, "Kenapa mahal?"
Kudatangi kasirnya.
"Hei, kenapa ini harganya mahal?
Ini Rumah Makan Adik Sayang.
Apa Adik sudah tidak sayang lagi kepada Abang?"
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.