Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Subtitle from WeTV by Hwang_24]
♪Ada apa sebenarnya?♪
♪Entah ada apa dengan hatiku♪
♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪
♪Kenapa aku bisa luluh♪
♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪
♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪
♪Tapi mengapa♪
♪Hatiku selalu terusik olehmu♪
♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪
♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪
♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪
♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh dengan semangat♪
♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Tetap di sisiku dan merepotkanku♪
♪Meski sekali lagi menipuku♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu♪
♪Mungkin terpikat oleh sikap spontanmu♪
♪Juga tidak pernah bertemu dengan wanita sepertimu♪
♪Membuatku luluh karenamu♪
♪Membuatku sedih karena kepergianmu♪
♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
♪Karena kau membuatku marah dan menyebalkan♪
♪Tapi mengapa♪
♪Hatiku selalu terusik olehmu♪
♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪
♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Bolehkah kembali dan usik hatiku♪
♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪
♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪
♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪
♪Meski sekali lagi menipuku♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
= Cuplikan episode sebelumnya = Kalau aku memang punya maksud terhadapmu,
seharusnya akan berdebar-debar, bukan?
Tapi, aku tak merasakan apapun.
Lalu dulu...
Kulihat kau begitu tergila-gila padaku.
Karena waktu itu...
Aku bodoh.
Bodoh seperti kerbau.
Ah! Kak Arthit!
Kenapa menggendongku?
Gila ya kau? Ingin menggigitku?
Mulai hari ini,
Aku akan menganggapmu sebagai teman.
Kami berdua berpacaran.
Kau sedang mengkhawatirkan aku?
Siapa yang bakal khawatir pada teman buruk sepertimu?
Kalau bukan khawatir, lalu kau kenapa?
Berbicaralah yang sopan padanya.
Kenapa aku harus sopan padanya?
Paeng adalah pacarku.
Aku harus melindunginya.
Kenapa kau bisa bersama Thanon?
Jawablah.
Arthit.
Kutitipkan Paeng padamu.
Aku segera kembali.
Thanon.
Kau membohongiku.
Apa yang aku bohongi?
Tentang Paeng.
Kau tidak bersama Paeng.
Terserah bagaimana kau ingin berpikir.
Kalau kau bersama Paeng,
tidak akan mengejar Ling seperti itu.
Ini adalah masa penyesuaian.
Aku belum terbiasa tidak peduli terhadap Ling.
Itu karena kau mencintai Ling.
Aku memang mencintai Ling.
Ha?
Lalu bagaimana bisa kau berpacaran dengan Paeng?
Karena...
Aku hanya ingin mencobanya.
Kau tidak bisa begitu terhadap anak perempuan orang.
Kau tidak mencintainya,
bagaimana boleh kau berpacaran?
Ling tidak menerima perasaanku.
Aku hanya bisa lepas tangan.
Aku merasa Paeng sangat imut.
Aku seharusnya bisa mencintainya.
Kau...
Jangan menganggap anak perempuan sebagai mainan.
Kau mengkhawatirkan Paeng?
Membuktikan bahwa yang kau khawatirkan bukanlah aku...
...tapi Paeng.
Orang seperti Paeng,
bagaimana mungkin kukhawatirkan?
Kalau begitu jangan ikut campur urusanku dengan Paeng lagi.
Lalu, jangan terus memelototiku.
Aku mau pergi mandi.
Teman jahat.
Punya permen?
Tunggu sebentar.
Ini.
Terima kasih.
Datang bermain bersama teman?
Benar.
Sejuk, 'kan?
Kau juga datang bermain bersama teman?
Aku suka berlibur sendirian.
Sebenarnya aku juga ingin datang bersama teman.
Tapi mereka sibuk.
Siapa namamu?
Kau adalah...
Paeng.
Paeng.
Aku Mark.
Paeng, apakah kau sudah kuliah?
Aku sudah lulus.
Benarkah?
Kelihatannya masih kecil.
Apa pekerjaanmu?
Bekerja di kebun mawar.
Sulit dibayangkan.
Jangan hanya melihat permukaan saja.
Tidak bisa beristirahat sejenak pun.
Ngantuk kah, Paeng?
Pagi-pagi sudah bangun.
Sebentar lagi tiba di hotel.
Tidak, kak Thanon.
Aku sangat bersemangat.
Kalau kau mengantuk,
Bisa tidur bersandar padaku.
♪Ada apa sebenarnya?♪
♪Entah ada apa dengan hatiku♪
Kenapa? ♪Entah ada apa dengan hatiku♪
Kenapa? ♪Tidak pernah terpikirkan♪
Ketiduran? ♪Tidak pernah terpikirkan♪
♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪
Belum. ♪akan merasakan perasaan ini♪
♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪
Bagaimana bisa tidur? ♪akan merasakan perasaan ini♪
Bagaimana bisa tidur? ♪Kenapa aku bisa luluh♪
♪Kenapa aku bisa luluh♪
♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪
Ayo kita foto, kak Thanon. ♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪
Ayo kita foto, kak Thanon.
Ayo kita foto, kak Thanon. ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
- Membosankan. - Ya. ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪
♪Tapi mengapa♪
♪Hatiku selalu terusik olehmu♪
♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪
Maaf, kak Thanon. ♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪
♪Rasanya asing tanpa hadirmu♪
♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
Tidak apa-apa, Paeng. ♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
Hei, terima kasih membantuku. ♪Rasanya sepi tanpamu, benarkah?♪
Hei, terima kasih membantuku.
Hei, terima kasih membantuku. ♪Bolehkah kembali dan terus usik hatiku♪
♪Bolehkah kembali dan terus usik hatiku♪
Paeng, kau lapar? ♪Bolehkah kembali dan terus usik hatiku♪
Paeng, kau lapar? ♪Ingin mengikuti kata hati♪
♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪
Masih ada kentang goreng. ♪agar tidak lagi kesepian♪
♪Ingin mengikuti kata hati agar tidak lagi kesepian♪
Kebetulan aku lapar. ♪agar tidak lagi kesepian♪
Kebetulan aku lapar.
Kebetulan aku lapar. ♪Kembalilah membuatku marah♪
Kau sangat mengerti aku, kak Thanon. ♪Kembalilah membuatku marah♪
♪Kembalilah membuatku marah namun hatiku penuh semangat♪
Kak Ling, makan? ♪namun hatiku penuh semangat♪
Kak Ling, makan?
Tidak, aku tidak lapar.
Tidak, aku tidak lapar. ♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪
Kak Thanon, kena mukamu. ♪Ingin kau tetap di sisiku♪
Lucu sekali. Sini. ♪Ingin kau tetap di sisiku♪
Lucu sekali. Sini. ♪Meski sekali lagi menipuku♪
♪Meski sekali lagi menipuku♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
Bantu aku seka. ♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
Baik. Jangan bergerak. ♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
Arthit, menyetirlah baik-baik.
Paeng, apakah ada yang sakit?
Di sini.
Memerah.
Kumohon, Arthit.
Aku hampir muntah.
Sungguh terima kasih.
Anak-anak pasti sangat gembira.
Kali ini kami membawa perlatan olahraga.
Mereka seharusnya suka.
Setiap tahun menyumbang sebanyak ini.
Sekolah kami mendapatkan banyak bantuan.
Jangan buru-buru pergi.
Kami punya maksud untuk...
...menjamu kalian malam ini.
=Disumbangkan untuk sekolah= ...menjamu kalian malam ini.
=Disumbangkan untuk sekolah= Anggaplah pernyataan terima kasih.
Anggaplah pernyataan terima kasih.
Terima kasih.
Kebetulan ada dua kamar kosong di asrama guru.
Biar kuatur para murid untuk menyiapkannya.
Oh. Tidak apa-apa.
Kami bisa turun tangan sendiri.
Begitu?
Kami bisa.
Ya, 'kan?
Malam ini kita tinggal di sini, Paeng.
Baiklah.
Saatnya anak-anak makan.
Ayo kita pergi lihat bersama.
Ayo.
Oke.
Ayo, silakan lewat sini.
Silakan.
Mari. Lewat sini.
=Cuci tangan sebelum makan, pergunakan sendok umum=
Disana masih belum.
Di sini, ya?
Untuk kalian.
Kalian pasti sudah lapar.
Ini.
Operkan.
Operkan pada murid-murid.
Terima kasih.
Kemana Thanon?
Tidak tahu.
Pergi menjaga Ling?
Bukankah menyukai Thanon?
Kenapa aku berkata begitu...
...kau masih acuh tak acuh.
Mereka adalah teman.
Apa yang aneh dari menjaga teman?
Thanon menyukai Ling.
Untuk apa kau beritahu aku ini?
Aku tak ingin melihatmu bodoh hingga tidak tahu situasi.
Hei.
Menurutku...
Kau dan Thanon tidak sedang pacaran.
Ya, 'kan?
Aku tak tahu...
Kak Thanon yang memintaku menjadi pacarnya.
Aku suka kak Thanon.
Jadi aku setuju.
Sudah kubilang yang Thanon cintai adalah Ling.
Kalau yang dia cintai adalah kak Ling,
lalu kenapa memintaku menjadi pacarnya?
Dia sedang membohongimu.
Aku bersedia dibohongi.
Kerbau bodoh.
Benar. Lebih baik aku menjadi kerbau.
Aku boleh menunggu kak Thanon.
Mengeluh.
Kak Thanon.
Kak Thanon.
Dimana kau?
Di sini?
Ah, adik Nang yang cantik.
Apa yang kau lakukan di sini?
Apakah melihat kak Thanon?
Kak Cancer yang keren,
apakah melihat kak Thanon?
Katakan dengan manis dulu.
Cerewet.
Kalau begitu aku diam.
Baiklah.
Kak Cancer.
Apakah melihat kak Thanon?
Tidak.
Kau mempermainkan aku.
Ah, tidak.
Aku mengatakan yang sebenarnya.
Sebaliknya kau...
Kau bahkan tidak tahu kemana kakakmu sendiri.
Aku bukan parasitnya.
Bagaimana aku selalu tahu dia ada dimana?
Aku juga bukan.
Buang-buang waktu saja.
Sudahan.
Buang-buang waktu.
Kak Thanon.
Kak Thanon. Kak Thanon.
Sudah, buang-buang waktu saja.
Jahatnya.
- Apa kabar, tante. - Apa kabar.
Aku membuatkan bubur ikan.
Aduh, terima kasih banyak ya.
Apakah kak Arthit belum bangun?
Tidak tahukah kau?
Arthit dan Thanon bersedekah ke sekolah di gunung.
Oh, ke gunung?
Ya.
Aku tidak tahu.
Kak Thanon juga tidak bilang.
Pergi bersama siapa?
Katanya berempat.
Ling, Cancer, Arthit, Thanon.
Hmm, kenapa eksresimu seperti itu?
Kenapa?
Kak Cancer tidak ikut.
Siapa orang keempat?
Paeng.
Ha?
Thanon datang meminta persetujuanku.
Kak Cancer...
Apakah ada yang bisa kau jual untukku?
Aku tidak sedang mimpi, 'kan
Kenapa memukulku?
Memukulmu baru kau tahu tidak sedang bermimpi.
Aku sudah membantumu.
Sekarang saatnya kau membantuku.
Lagi?
Tak mau.
Tak bisa.
Harus pergi sekarang.
Adik Nang, tunggu.
Kenapa?
Ada apa, Nang?
Sudah belajar, 'kan?
Dibohongi Thanon.
Tidak apa-apa.
Menurutku asyik juga.
Aku suka.
Mana?
Dimana?
Biar Arthit perbaiki.
Disini.
Pakunya mencuat.
Aku khawatir bisa tergores.
Arthit.
Betulin.
Paeng.
Minum air?
Tanganku kotor.
Aku suapkan.
Wow. Enaknya.
Segar, 'kan?
Sesuap lagi.
Aduh.
Arthit. Kau baik-baik saja?
Aku pergi lihat Arthit.
Aku saja.
Menurutku, Paeng saja.
Baik.
Eh...
Bukankah kau mau mengepel?
Lanjutkan.
Mari.
Aku bantu cucikan.
Kau berbuat begitu,
Paeng bisa salah paham.
Paeng tidak akan salah paham.
Percayalah padaku.
Kau kenapa?
Kau membuatku merasa sangat tidak enak.
Tahukah kau?
Apa yang telah kulakukan?
Tempelkanlah.
Aku bantu.
Belum selesai.
Jangan bergerak.
♪ Bukan sengaja ingin berbuat salah ♪
♪ Juga tahu diri telah bersalah ♪
♪ Namun kesalahan ini, karna aku takut ♪
♪ Bukan tidak mengakui kesalahan ♪
Jangan pura-pura baik padaku. ♪ Bukan tidak mengakui kesalahan ♪
Jangan pura-pura baik padaku.
♪ Harus aku berlutut ♪
Aku takkan terpikat olehmu seperti Thanon. ♪ Harus aku berlutut ♪
♪ Harus aku berlutut ♪
♪ meminta maafmu seberapa lama ♪
Tak perlu khawatir terpikat olehku. ♪ meminta maafmu seberapa lama ♪
♪ meminta maafmu seberapa lama ♪
♪ hingga kau tahu pedihnya hatiku ♪
Cukup jika kau tidak benci lagi padaku. ♪ hingga kau tahu pedihnya hatiku ♪
♪ hingga kau tahu pedihnya hatiku ♪
♪ Tidak marah padaku lagi ♪
♪Aku tahu diriku tidak cukup baik♪
♪Tidak cukup untuk membuat kita saling mencintai♪
Aku yang terlalu berharap.
Aku yang terlalu berharap. ♪Perkataan maafku♪
♪Perkataan maafku♪
♪Ditinggalkan di sini begitu saja♪
Kalau begitu... ♪Ditinggalkan di sini begitu saja♪
♪Ditinggalkan di sini begitu saja♪
Cukup jika kau tidak benci lagi padaku.
Cukup jika kau tidak benci lagi padaku. ♪Kesalahan yang hanya sekali♪
Cukup jika kau tidak benci lagi padaku.
Cukup jika kau tidak benci lagi padaku. ♪Apa kau ingin membenciku♪
♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪
♪Bolehkah aku bertanya♪
♪Karena selalu mengganjal di hati♪
Maaf. ♪Karena selalu mengganjal di hati♪
Maaf.
Maaf. ♪Bolehkah beri tahu aku♪
♪Bolehkah beri tahu aku♪
Itu sangat sulit. ♪Bolehkah beri tahu aku♪
Itu sangat sulit.
Itu sangat sulit. ♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Apa kau tak mau lagi memaafkanku?♪
♪Jika kuberitahu aku sangat sedih♪
♪Apa cukup untuk membuat kita berbaikan♪
♪Jika kuberitahu aku sangat sedih♪
♪Apa cukup untuk membuat kita berbaikan♪
Bersedih karna aku dan Paeng?
Tidak.
Jangan membohongi diri lagi.
Orang yang mengabaikan hatinya sendiri...
...tidak akan hidup bahagia.
Sudah sampai langkah ini.
Mengaku saja lah.
Aku tidak mengerti,
apa yang sedang kau lakukan.
Aku tidak mengejar Paeng.
Juga tidak berpacaran dengan Paeng.
Semua yang kulakukan ini...
...adalah karena ingin tahu perasaanmu.
Lalu Paeng?
Paeng bekerja sama denganku.
Jahat.
Kalau aku tidak jahat,
Aku tidak akan tahu pemikiranmu.
Kenapa harus membohongiku?
Kau sendiri yang membohongi dirimu sendiri.
Jangan mengelak lagi.
Aku tahu hati kita saling bersahutan.
Aku tak ingin kau mencintaiku.
Aku tak sanggup.
Aku juga tak ingin mencintaimu.
Kenapa?
Terhadapmu, aku takut aku tak cukup.
Ling.
Aku tak peduli akan bagaimana kelak,
tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk hari ini.
Di hari terkahir hidup,
satu-satunya hal yang akan kita sesali,
bukanlah kesalahan yang kita lakukan,
tapi hal yang jelas-jelas ingin kita capai,
tapi tidak kita usahakan dan lakukan.
Kurasa,
kita berdua jangan biarkan hidup menjadi seperti itu.
Kalau kau tak mencintaiku,
Aku akan berhenti,
kemudian melepaskanmu dan pergi.
Kalau bukan begitu,
bolehkah kita mencobanya?
Arthit. Makanlah.
Tidak nafsu.
Makanlah yang banyak.
Kalau tidak cukup,
masih bisa ditambah.
Terima kasih.
Semuanya enak.
Sesuai selera?
Eh... kalau tinggal berbulan-bulan di sini,
aku pasti jadi gendut.
Kalau begitu silakan makan.
Terima kasih.
Paeng.
Mau makan ini?
Aku ambilkan.
Tidak apa-apa.
Aku sendiri saja.
Kak Thanon, menurutku dia sangat membenciku.
Makanya jangan provokasi dia.
Datang, datang.
Jangan makan terlalu kenyang dulu.
Barang bagus tiba.
Apa itu?
Minuman kampung kami.
Hanya ada di sini.
Baik.
Terima kasih.
Terima kasih.
Silakan dicicip.
Terima kasih.
Manis sekali.
Kak Ling. Enak sekali.
Iya. Enak.
Minggir.
Aku mau berdiri di sini, jangan menghalangi.
Kau gila?
Minggir.
Bisakah jangan menghalangi jalan?
Bagaimana kau boleh begitu?
Paeng. Paeng. Paeng.
Kau baik-baik saja?
Bahkan bertengkar dengan pohon.
Pohon?
Hahaha... pohon.
Haus.
- Haus. Aku haus. - Berhenti.
Kalau tahu kapasitas alkoholmu serendah ini,
aku tak akan membiarkanmu minum sebanyak ini.
Kapasitas alkohol rendah?
Ya.
Kapasitas alkhol siapa yang rendah?
Siapa?
Siapa?
Haus.
Haus. Aku haus.
Ah? Siapa?
Kau ini kenapa?
Tak perlu kau urusi.
Aku bisa menjaganya.
Kau bisa menjaganya?
Kau ingin kemana, pergi saja.
Dia adalah orangku.
Maksudku...
Dia adalah pekerjaku.
Hei... sekarang bukan waktu kerja.
Lagian di sini bukan perkebunanmu.
Ayo, Paeng.
Ikut bersamaku.
Kemana?
Paeng, kemari.
Tak mau.
Arthit.
Kenapa?
Paeng. Kemari.
Paeng. Paeng.
Paeng. Kemari.
Paeng. Paeng.
Ah. Jangan tarik aku.
Belah saja aku.
Setiap orang setengah.
Ya?
- Paeng. - Paeng.
Kau mau kemana?
Paeng.
Paeng.
Tuan, tuan.
Cepat pergi lihat temanmu.
Dia mabuk tidak karuan.
Baiklah.
Arthit.
Haus.
Ling.
Kau baik-baik saja?
Aku ingin muntah.
Jangan muntah dulu.
Kemari.
Sini.
Kau baik-baik saja, Ling?
Biasanya tidak melihatmu minum begitu banyak alkohol.
Kenapa minum begitu banyak hari ini?
Sangat manis.
Sudah enakan?
Maukah minum air?
Jangan khawatirkan aku.
Aku baik-baik saja.
Aku bisa menjaga diriku.
Aku sangat kuat.
Ling. Ling.
Jangan bilang kau ketiduran.
Hei... benar-benar ketiduran.
Hei.
Berjalanlah baik-baik.
Hati-hati jatuh.
Siluman merepotkan.
Siapa yang siluman merepotkan?
Kau panggil siapa?
Ah?
Kau sedang gila alkohol?
Benar. Gila alkohol.
Kau kira aku takut karena kau lebih tinggi besar?
Semena-mena saja.
Kau berani memaki aku?
Tidak. Aku tidak memaki.
Lihat.
Yang kumaki itu angin,
maki langit,
maki air...
Kalau kau ingin menggantikan,
aku boleh memakimu.
Benar-benar menyebalkan.
Ayo, tidur.
Tidak mau.
Kak Thanon, dimana kau?
Kak Thanon?
Apa panggil-panggil?
- Diam. - Kak Thanon.
Lepaskan aku.
Aku tidak ingin bersamamu.
Aku resah terhadapmu.
Karena kau...
Hatimu hitam,
keji,
suka menggangguku,
suka menyiksaku...
Aku membencimu, kak Arthit.
Aku membencimu.
Paeng.
Kau kira aku sangat suka mengurusimu?
Jangan gila mabuk di sini.
Malu tidak?
Ayo.
Tidak mau.
Lepaskan aku.
Tidak mau pergi, ya?
Kemari.
Ah, lepaskan aku.
- Lepaskan. - Jangan bergerak.
Kak Thanon.
Brengsek.
Suka mengganggu anak perempuan.
Ah. Sakit.
Sakit.
Bukankah ingin aku lepaskan?
Sudah kulepas.
Berhati hitam.
Berhati jahat.
Keji.
Ohho. Setelah mabuk lebih keras lagi ya makiannya?
Benar.
Maki dengan keras.
Kak Arthit. Kau kira kau tampan?
Kau kira aku sangat menginginkanmu?
Aku hanya pernah mengidolakanmu saja.
Wan Fahmai.
Orang yang berhati sempit...
Hanya mengingat dendam masa lalu...
Aku sudah bukan Paeng yang dulu.
Hei, diam. Menyebalkan.
Tidak. Aku akan mengatakannya.
Kak Arthit. Kau berubah.
Dulu kau jauh lebih baik dari ini.
Aku mengidolakanmu, dulunya.
Tapi sekarang...
10 juta, 20 juta...
Beri aku uang, aku juga tak mau.
Iiih!
Kubilang diam.
Ingin kuplaster mulutmu.
Aku tidak ingin tinggal di sisimu.
Aku benci.
Ini kamarku.
Paeng.
Paeng.
Aku antarkan kau ke kamarmu.
Jangan urusi aku.
Ayo, Paeng. Bangun.
Tidak mau. Ngantuk.
Tidur di sini saja. Aku ingin tidur.
Kenapa aku bisa mempedulikannya?
Gila.
Kenapa bisa mempedulikannya?
Tidak mungkin.
Tidak terasa.
Aku toh tidak suka padamu.
Sangat jelas.
Begitu dekat denganmu,
tidak terasa apa-apa.
Kau selalu saja suka membuatku marah.
Siluman merepotkan.
Paeng.
Tidur begini lebih nyaman.
Jangan bergerak.
Kak Cancer. Apakah kita di jalan yang benar?
Tentu saja.
Aku mengikuti arahan navigasi.
Jangan khawatir. Aku pasti mengantarkanmu sampai sekolah gunung.
= Jalan buntu =
Hei. Kak Cancer, dasar gila.
Bukankah kau bilang mengikuti arahan navigasi?
Aku memang mengikuti arahan navigasi.
Lihat.
Perkiraanku, salah rute.
Ah?
Maaf. Cukup.
Aku minta maaf.
Mundur.
Baik. Mundur sekarang.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa dengan mobilnya?
Mobilnya kenapa?
Adik Nang...
Kau ingin marah padaku sampai kapan?
Jangan membenciku, jangan marah padaku.
Hanya kehabisan bensin saja.
Menurutmu kehabisan bensin hal kecil ya?
Kau yang menyetir.
Kenapa tidak perhatikan tangki minyaknya?
Tidak seharusnya menyetir buta begitu.
Maaf, adik Nang.
Aku bersalah.
Jangan marah. Jangan marah padaku.
Tidak.
Aku sangat tidak baik.
Juga tidak akan memaafkanmu semudah itu.
Menurutku istirahatlah dulu.
Tunggu besok pagi,
Aku akan panggilkan mobil untuk menambah bensin, oke?
Begini juga tak bisa.
Thanon.
Apakah kau pernah masuk ke kamar?
Tentu saja masuk mengambil baju,
untuk mandi.
Apa yang kau lakukan terhadap Paeng kemarin malam?
Tidak. Aku tidak melakukan apapun.
Aku menjaga Ling dan ketiduran.
Tunggu sebentar.
Kau menjaga Ling?
Lalu Paeng?
Bukankah kau pacarnya?
Kau yang menjaganya, 'kan?
Pemandangan di sini bagus juga.
Kau sangat bisa memilih lokasi.
Tanggalkan baju dan turunlah.
Sangat nyaman.
Wuoh...
Dingin.
Satu, dua, tiga!
Wah!
Bukan kamarku.
Kemarin malam, kau menjagaku semalaman?
Lalu Paeng kemana?
Arthit yang menjaganya.
Ada apa dengan mereka?
Jangan pedulikan mereka.
Aku tidak ingin tahu.
Aku hanya ingin tahu tentang kita.
Aku sudah mengatakan semuanya.
Aku hanya menunggu jawabanmu.
Apakah kau bersedia bersamaku?
Tidakkah kau takut suatu hari nanti,
kalau aku tidak sanggup melanjutkannya lagi,
persahabatan kita...
...juga akan berakhir?
Kalau aku takut,
aku tidak akan menunggumu hingga saatu ini.
Tidakkah kau takut suatu hari nanti,
aku akan membuatmu sakit hati?
Aku tidak takut.
Tidakkah kau takut suatu hari nanti,
aku akan meninggalkanmu lagi?
Aku tidak takut.
Aku sudah bersiap.
Tidak peduli apapun yang terjadi,
aku tidak takut hal yang belum terjadi.
Saat ini, aku hanya ingin bersamamu,
mencintaimu, menjagamu...
mengetahui kalau hatimu tertuju padaku.
Aku tidak ada permohonan yang lain lagi.
Bersamalah dengaku, Ling.
Aku harus bertanya pada siapa?
Ada apa?
Kemarin malam aku mabuk.
Lalu... terbangun di kamarmu.
Kau tidak ingat lagi?
Kemarin malam...
kau masuk dan ingin melecehkan aku.
Tidak mungkin.
Sudah menjadi kenyataan.
Bukan sungguhan.
Sungguhan.
Aku tidak punya maksud terhadapmu.
Kalau kau tidak punya maksud,
untuk apa menerkamku?
Aku bukan sengaja.
Kak Arthit, maaf.
Aku tidak tahu, aku benar-benar bukan sengaja.
Kau menginginkan aku.
Aku tidak menyadarinya, kak Arthit.
Bagaimana kau ingin menebus aku?
Kak Arthit, apa yang kau inginkan dariku?
♪Ada apa sebenarnya?♪
♪Entah ada apa dengan hatiku♪
Aku akan memberitahumu. ♪Entah ada apa dengan hatiku♪
♪Entah ada apa dengan hatiku♪
♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪
Habislah kau. ♪Tidak pernah terpikirkan♪
♪Tidak pernah terpikirkan akan merasakan perasaan ini♪
♪Kenapa aku bisa luluh♪
♪Kenapa aku sedih karena kepergianmu♪
♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
Tidak boleh minum lagi, Paeng. ♪Gila, aku tidak merindukanmu♪
Tidak boleh minum lagi, Paeng. ♪Karena kau membuatku marah♪
♪Karena kau membuatku marah dan begitu menyebalkan♪
♪Tapi mengapa♪
♪Hatiku selalu terusik olehmu♪
Mengikuti sampai di sini.
Tidak peduli kau ke surga,
ataupun ke neraka,
aku tetap ikut.
Menyebalkan.
Paeng.
Menurutku kalian jangan bertengkar lagi.
Ke tempat yang sejuk saja.
Aku carikan asisten.
Kau ingin menggaet siapa?
Kak Arthit?
Atau kak Thanon?
Kalau dua-duanya kudapat,
itu yang paling ideal.
Dua-duanya tidak kuberikan.
Tak peduli apakah kakakku,
ataupun kak Arthit.
Jangan mimpi bisa dapatkan mereka.
Sudah selesai?
Kau yang tak berayah tak beribu,
kau yang yatim piatu kasihan,
kau seharusnya ikut pergi bersama ayah ibumu saat kecelakaan.
Paeng.
Aku benar-benar ingin tahu,
kau masih bisa meneruskan pikiran busuk ini untuk berapa lama.
Terima kasih, kak Nang.
Kau membuatku sadar,
kata-katamu tidak bisa lagi melukaiku.
Lepaskan.
Siapa kau?
Apa urusanmu?
Justru kau.
Jangan lagi mencari masalah Paeng.
Sakitkah?
Sedikit.
Terima kasih.
Kak Mark.
Ya, kak Mark.
Di saat yang bertepatan ini, kita bertemu lagi.
Lalu, kenapa dia mengganggumu?
Kami sudah lama berkonflik.
Tapi aku tidak ingin menghiraukannya.
Kalau aku benar-benar ingin melawan,
Dia bukanlah tandinganku.
Aku sungguh-sungguh.
Ya, baik.
Aku percaya.
Kebetulan sekali.
Kita sudah bertemu dua kali.
Ya, memang.
Dari sebelah sana gunung, hingga sebelah sini gunung.
Memang.
Aku penasaran kalau kau menanam kebun mawar...
Menanam untuk hobi atau untuk dijual?
Aku menanam untuk membuat produk untuk dijual.
Benarkah?
Kebetulan aku di bidang marketing.
Kalau kau tertarik,
aku bisa memberimu arahan di bidang ini.
Benarkah?
Ya.
Thanon, Arthit, cepatlah.
Nang. Apakah kau melihat Paeng?
Barusan ketemu.
Kau juga tidak mempedulikan adikmu.
Malah menanyakan orang lain.
Kak Arthit.
Aku hanya ingin datang bermain.
Tapi, Paeng...
Dimana Paeng?
Dia bersama seorang laki-laki.
Kelihatannya akrab.
Seolah sudah janjian bertemu saja.
Dimana mereka?
Ayo kita lihat.
Mungkin bisa ketemu.
- Ayo. - Ayo.
Cepat.
Sungguhan.
Siapa dia, Arthit?
Siluman merepotkan.
Aku duluan.
Baiklah. Sampai ketemu.
Ayo, saatnya pulang.
Paeng.
Ling juga ikut pulang bersama.
Benarkah? Bagusnya.
Paeng. Ikut mobilku.
Ayo, Ling.
Ah, tunggu.
Aku baru saja sampai.
Cancer. Bawalah adikku pulang.
Ha? Bawa sendiri.
Thanon.
Begini juga boleh?
Tidak dapat tidur juga.
Kau kenal lelaki itu?
Kutanya.
Pendengaranmu kurang, kah?
Aku tidak tahu kau sedang berbicara denganku.
Tiba-tiba saja bertanya.
Di sini hanya ada kita berdua,
aku masih bisa berbicara dengan siapa?
Siapa?
Kak Mark.
Siapa dia?
Tidak tahu. Tidak kenal.
Tidak kenal?
Bisa-bisanya begitu akrab?
Hebat.
Hebat apanya?
Hebat dalam menggaet lelaki.
Aku tidak.
Kemarin malam,
apakah aku benar-benar berbuat sesuatu terhadapmu?
Menurutmu aku berbohong padamu?
Apakah kau ingin melihat foto?
Aku tidak punya foto untukmu.
Siapa yang segila itu, mengambil foto di saat seperti itu?
Kalau begitu, apa reaksimu?
Aku bergegas kabur dari kamar.
Karena terhadapmu, benar-benar tidak boleh gegabah.
Nona Paeng.
Kenapa kau bisa pulang bersama tuan Arthit?
Lalu kenapa ronamu begitu pucat?
Apakah diberi pelajaran oleh tuan Arthit?
Apakah dia melakukan sesuatu terhadapmu?
Ah?
Kak Arthit tidak melakukan apapun terhadapku.
Sebaliknya, aku...
...melakukan sesuatu terhadapnya.
Apa yang kau lakukan terhadapnya?
Jangan-jangan nanti diberi pelajaran lagi.
Kau belum kapok?
Dia menakut-nakutiku.
Katanya, habislah aku.
Habis?
Lalu kau bagaimana?
Aku bersedia melakukan apapun, kak Ung.
Tidak peduli melakukan apapun, asalkan bisa menebus kesalahanku.
Ha? Apa?
Arthit dan Paeng pulang bersama?
Benar.
Mereka berdua pulang bersama.
Aku tidak sempat menghentikan mereka.
Semuanya telah berangkat.
Suamiku, oh, suamiku.
Bukankah katanya Paeng suka pada Thanon?
Ternyata akhirnya masih ingin menggeluti Arthit?
Tante harus bagaimana, Nang?
Tante tidak perlu khawatir.
Aku akan merebut kembali kak Arthit.
Apa yang akan kau lakukan?
Kau sudah gagal berkali-kali.
Tante, harus percaya padaku.
Aku pasti tidak akan menyerahkan kak Arthit kepada orang lain.
Kita berjuang bersama.
- Baik. - Baik.
Kita berjuang bersama, 'kan?
Benar.
Paeng.
♪Kembalilah dan usik hatiku♪
♪Ingin kau tetap di sisiku dan merepotkanku♪
♪Meski sekali lagi menipuku♪
♪Memohon padaku untuk memaafkanmu lagi♪
Apa yang sedang kau pikirkan?
Berpikir...
...tentang pekerjaan.
Sejak kau kembali,
ibu belum bertemu denganmu.
Apakah kau sengaja menghindari ibu?
Tidak.
Kenapa aku harus menghindari ibu?
Saat kau bersalah,
kau suka menghindari ibu.
Aku...
Aku hanya... ingin segera menyelesaikan pekerjaan saja.
Mengabaikan pekerjaan berhari-hari,
pekerjaan sudah menumpuk.
Kau yakin...
...tidak ingin jujur pada ibu?
Jujur tentang apa?
Tentang kau pulang bersama Paeng.
Siapa yang memberitahu ibu?
Nang.
Semuanya juga bersama.
Apa anehnya pulang bersama?
Tapi kedua pihak yang saling membenci,
duduk bersama dalam perjalanan yang begitu panjang,
Tidak sesak kah?
Bagaimana bisa bertahan?
Ya... bertahan saja.
Kau yakin tidak berbohong pada ibu?
Arthit.
Ibu mengatakan duluan.
Tidak boleh luluh terhadapnya.
Apa yang sedang kau lakukan, nona Paeng?
Hari ini kau tidak membuat sabun?
Aku sudah mencobanya,
sungguh harum dan lembut.
Kak Ung.
Aku hanya sembarang membuat untuk cuci-cuci saja.
Oh... Tapi benar-benar harum dan lembut.
Hanya untuk cuci-cuci juga terlalu boros.
Teh nona Paeng juga sangat harum.
Kelihatannya terlalu cakep dan enak, nona Paeng.
Apakah dibuatkan untukku?
Wow, air liur langsung menetes.
Buatlah yang banyak, nona Paeng.
Masuk.
Uh... makanan yang nona Paeng buatkan untukmu.
Semoga bisa meringankan hukumannya.
Apakah dia takut?
Sedikit.
Nona Paeng juga mengatakan...
kalau tuan Arthit tidak makan, dan membuangnya,
dia juga tidak akan menyalahkanmu.
Kelopak mawar ini... bisakah dimakan?
Aduh. Tentu saja boleh.
Ini di-riset dan ditanam sendiri oleh nona Paeng.
Untuk dibuat menjadi makanan, dessert, produk...
Ini adalah produk pertama nona Paeng.
Tuan Arthit adalah yang pertama mencobanya.
Menganggapku tikus percobaan?
Aduh. Mentraktirmu mencobanya.
Anggaplah tebusan Paeng terhadapmu.
Memperbaiki kesalahan terhadap kak Arthit.
Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan nona Paeng?
Pokoknya hal besar.
Lagipula, aku sangat marah.
Nona Paeng tidak salah menduga.
Menduga apa?
Kalau amarah tuan Arthit belum reda.
Tapi nona Paeng telah mengatakan,
dia akan menebusnya perlahan-lahan.
Sedikit demi sedikit.
Dengan perlahan-lahan,
apa dia mengira aku akan luluh?
Kalau aku tidak memaafkannya,
apa rencana majikanmu?
Nona Paeng akan terus berjuang.
Kalau terus berjuang,
aku masih saja tidak memaafkannya?
Bagaimana?
Eh...
Aku juga tidak tahu lagi.
Aku pergi dulu.
Sampai jumpa.
Apakah ada lelaki yang akan makan beginian?
Kak Ung.
Nona Paeng.
Kabar buruk?
Ya.
Menyia-nyiakan waktu.
Tuan Arthit akan sulit memaafkanmu.
Ah...
Aduh, nona Paeng.
Hei, Arthit.
Kalian meninggalkan aku sendiri untuk menghadapi Nang.
Aku hampir mati lelah.
Wanita seperti apa itu?
Terlalu sulit dilayani.
Percaya kah kau?
Aku seperti dicampakkan ke neraka.
Hanya ingin makan di tengah perjalanan,
dia juga tidak mengijinkanku berhenti.
Sepanjang perjalanan memakimu dan Thanon,
malah menyalahkan aku.
Aku benar-benar tidak mengerti,
Aduh.
Kakiku hampir patah menyetir pulang dari sana.
Telinga juga hampir kebas.
Seperti yang kukatakan barusan, aku belum makan apapun.
Oit.
Aku makan kau juga tidak ijinkan.
Terbuat dari apa hatimu?
Aku terus disiksa Nang sepanjang jalan.
Sungguh tidak mudah.
Beri.
Beli sendiri.
Begini baru benar.
Saudaraku.
Ingin makan apa?
Aku traktir.
Tidak makan?
Aku pergi.
Terima kasih.
Ini adalah mawar pertama dari kebun mawarku.
Ayah, ibu, berkatilah kesuksesanku.
Anakku.
Apa yang kau inginkan?
Aku ingin punya adik.
Nona Paeng.
Belum tidur?
Apa yang sedang kau tulis?
Sebentar lagi aku tidur.
Baguslah, kau belum tidur.
Eh... yaitu...
Ayo ke dapur bersama.
Untuk apa?
Air minum habis.
Aku lupa membawanya.
Jalan ke dapur sangat gelap sekarang.
Pergi sendirian suram.
Memang suram.
Benar.
Kau takut hantu?
Ah, jangan bilang. Jangan teriak.
Hati-hati benar-benar datang.
Baiklah.
Tidak bilang. Tidak teriak.
Aku temani.
Nona Paeng paling baik.
Ayo.
Perlukah begitu berlebihannya?
Semuanya harus serius.
Ini sungguhan. Bukan bercanda.
Bukan untuk candaan.
Baik.
Karna ingin main, ayo main.
Mengerti?
Yang wangi menyerbak.
Ha?
Yang wangi menyerbak.
Ha?
Ambilkan dupa.
Ohho? Ambil dupa ya bilang ambil dupa.
- Ya. - Ya.
Ini adalah mantra kutukan.
Yang menyala percikan.
Ha?
Mancis.
Oh. Mancis.
Aduh. Mancis ya sebut mancis.
Tapak tangan bersatulah.
Namaskara.
Bocah ini sungguh nalar.
Sudah waktunya.
= Mantra =
Baik. Mulai.
Serius sedikit.
Letakkan jari pada cangkir.
Katakan.
Pho-Tha-Ya.
Katakan.
Pho-Tha-Ya.
Katakan.
Pho-Tha-Ya.
Katakan.
Pho-Tha-Ya.
Apa yang sedang kau lakukan?
Ah? Astaga.
Mengagetkan saja.
Tanpa suara.
Hati-hati dirasuki.
Yaitu...
Apa yang sedang kalian lakukan?
Main rumah-rumahan.
Dewa Cangkir.
Benar. Mengundang Dewa Cangkir.
Main Dewa Cangkir.
= Lokasi Penempatan =
Mengerti?
Pernah dengar,
tapi tak pernah main.
Hei. Permainan jahat apa yang kalian mainkan?
Tidak takut kah?
Tidak takut, Ung.
Sebelumnya temanku main,
mengundang tiga buah.
Hantu?
Anak anjing.
Apa? Gila.
Lotere. Menang.
Kalau begitu, aku juga ikutan.
Kau tidak takut lagi, kak Ung?
Begitu terang-terangan,
aku tidak takut.
Hei, hei, adik Ung sangat mirip denganku.
Begitu kah?
Arwah yang semakin kita kenal, semakin tinggi peluang menang lotere.
Benar.
Arwah yang kita kenal?
Benar.
Jangan. Aku takut.
Benarkah boleh?
Ini tergantung dari pertimbangan dan akal sehat setiap orang.
Nona Paeng, kami hanya bermain saja.
Tidak perlu dihiraukan.
Nona Paeng. Boleh menanyakan aku apapun.
Asalakn kau ingin tahu.
Tapi ada satu syaratnya.
Kalau tidak berbicara baik-baik, mungkin tidak akan dijawab.
Apapun yang ingin ditanyakan, tanyakan saja.
Benarkah boleh menanyakan apapun?
Kalau begitu aku ikutan.
Aduh.
Ibu.
Kalau kau bisa mendengar,
aku ingin berbicara denganmu.
Pegang cangkirnya bersama.
Katakan Tho-Kha-Ya..
Katakan Tho-Tha-Ya..
Katakan Tho-Tha-Ya..
Su...Sudah datang ya?
Mohon tanya apakah kau guru besar yang kuundang?
Aahh...
Nona Paeng, tanyakan saja.
Bisakah memberitahu aku, siapa pembunuhmu?
Jari tangan jangan tinggalkan cangkir.
N kah?
A kah?
N
NAN Lelaki kah?
Tahukah namanya?
Apa ini? Kenapa bisa berputar seperti ini?
Sedang main apa?
Tuan muda.
Paman Phong.
Terputus.
Apakah kami akan dirasuki?
Benar, benar...
Rasuk apa?
Dewa Cangkir ini?
Katakanlah.
Siapa yang mulai duluan?
Tengah malam begitu...
Seharusnya bergegas tidur.
Besok baru kuat bekerja.
Ada apa ini?
Bermain hal tak berarti.
Paman Phong.
Ya?
Kau yang paling senior.
Kenapa tidak menghentikannya?
Eh...
Karna permainan ini, paman Phong yang ajak.
Benar.
Aduh.
Kau juga...
Apakah berotak?
Bermain ini dengan mereka...
Seorang sarjana sekolah tinggi...
...bermain hal takhyul begitu.
Pernahkah terpikir, diri sendiri seorang perempuan,
Keluar malam-malam...
Orang bisa mengatai kau keluar menggoda lelaki.
Apakah kau berharap orang menganggapmu begitu?
Bukankah keterlaluan, tuan muda Arthit?
Sedikit pun tidak.
Sudah begitu besar,
belum bisakah berpikir?
Berkumpul di antara para lelaki,
siapapun akan berpikir begitu.
Perempuan baik-baik tidak akan begitu.
Pergilah. Semuanya, pergi tidur.
Bubar.
Aku hanya ingin tahu...
Apakah ini salah?
Aku sudah lama tidak membuat masalah.
Kenapa masih harus menghalangiku?
Apa yang ingin kau ketahui?
Hal pribadiku.
Aku tidak peduli bagaimana orang lain memandangku.
Karena aku tidak berbuat salah.
Sebaliknya, hanya kau...
...yang terus mencari-cari kesalahanku.
Menurutmu aku mencari-cari kesalahan?
Benar.
Kau selalu mencari masalah denganku.
Karena kau membenciku.
Kau membenciku.
Aku juga membencimu.
Aku membencimu, kak Arthit.
Kau kira aku begitu kurang kerjaan?
Nona Paeng.
Nona Paeng.
Sab. Ada apa?
Katakanlah.
Yaitu...
Ung dan nona Paeng...
Mereka datang untuk minum air.
Eh...
Kami main Dewa Cangkir hanya demi meminta nomor lotere.
Tiba-tiba nona Paeng datang.
Lalu berkata ingin ikut main.
Datang mengundang arwah.
Benar, benar.
Siapa yang dia undang?
Aku tidak tahu.
Tapi nona Paeng...
Dia berdoa dalam hati.
Dia menyebut... siapa pembunuhnya.
Siapa pembunuhnya?
Benar.
Arwah itu berkata seorang lelaki.
Cukup, cukup.
Main arwah-arwahan.
Bubar dan pergi tidur.
Sudah begitu besar.
Masih tidak bisa berpikir kah?
Masih tidak bisa berpikir kah? ♪ Bukan sengaja ingin berbuat salah ♪
Berkumpul di antara para lelaki, ♪ Bukan sengaja ingin berbuat salah ♪
♪ Bukan sengaja ingin berbuat salah ♪
siapapun akan berpikir begitu. ♪ Bukan sengaja ingin berbuat salah ♪
siapapun akan berpikir begitu.
♪ Juga tahu diri telah bersalah ♪
Perempuan baik-baik tidak akan begitu. ♪ Juga tahu diri telah bersalah ♪
♪ Namun kesalahan ini, karna aku takut ♪
♪ Bukan tidak mengakui kesalahan ♪
♪ Harus aku berlutut ♪
♪ meminta maafmu seberapa lama ♪
♪ hingga kau tahu pedihnya hatiku ♪
♪ Tidak marah padaku lagi ♪
♪Aku tahu diriku tidak cukup baik♪
♪untuk membuat kita saling mencintai♪
♪Perkataan maafku♪
Aku sudah lama tidak membuat masalah. ♪Perkataan maafku♪
Aku sudah lama tidak membuat masalah.
Aku sudah lama tidak membuat masalah. ♪Ditinggalkan di sini begitu saja♪
Kenapa masih harus menghalangiku? ♪Ditinggalkan di sini begitu saja♪
Kenapa masih harus menghalangiku?
Kenapa masih harus menghalangiku? ♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Kesalahan yang hanya sekali♪
Kau selalu mencari masalah denganku. ♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪
Karena kau membenciku. ♪Apa kau ingin membenciku♪
♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪
Aku juga membencimu. ♪hingga akhir hayat?♪
Aku juga membencimu.
♪Bolehkah aku bertanya♪
Aku membencimu, kak Arthit. ♪Bolehkah aku bertanya♪
Aku membencimu, kak Arthit.
Aku membencimu, kak Arthit. ♪Karena selalu mengganjal di hati♪
♪Karena selalu mengganjal di hati♪
♪Bolehkah beri tahu aku♪
♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Apa kau tak mau lagi memaafkanku?♪
♪Jika kuberitahu aku sangat sedih♪
♪Apa cukup untuk membuat kita berbaikan♪
Aku membencimu, kak Arthit.
Kau kira aku begitu kurang kerjaan?
♪Jika kuberitahu aku sangat sedih♪
♪Apa cukup untuk membuat kita berbaikan♪
Ayah.
Ya.
Dimana ibu?
Mungkin di dapur.
Ayah.
Ada yang ingin kutanyakan padamu.
Hal apa?
Orang tua Paeng...
Mereka bukan meninggal karena kecelakaan mobil, 'kan?
Kenapa bertanya seperti itu?
Orang tua Paeng...
...benar-benar bukan meninggal karena kecelakaan mobil, 'kan?
Apa yang kau ketahui?
Kenapa tiba-tiba menanyakan ini?
Ini tidak ada hubungannya denganmu.
Aku ingin tahu, ayah.
Bisakah beritahu aku?
Tidak bisa.
Ini adalah hal pribadi Paeng.
Lagian telah berlalu begitu lama.
Tidak perlu mengungkit hal lama.
= Cuplikan episode berikutnya = Tidak tahu kakak ganteng darimana.
Di kebun mawar sana.
Dia benar-benar sangat ganteng.
Tipe yang kau sukai.
Aku meminta Ling untuk mengajak Paeng.
Kau datang atau tidak?
Aku tidak pergi.
Siapa kau?
Orang yang harus Paeng turuti.
Kak Ling, aku harus pulang.
Langsung menggaet di toko?
Dia berbuat begitu...
benar-benar tidak menganggapmu.
Kita ketemu di rumah, sayang.
Dimana? Cepat katakan.
Sesuai selera.
Suka dia, ya?
Sangat suka.
Sangat sesuai selera.
♪Saat penghubung di antara kita sirna Bolehkah jangan bersikap dingin padaku?♪
♪Kau tahu jelas betapa aku mencintaimu♪
♪Aku tahu diriku tidak cukup baik untuk membuat kita saling mencintai♪
♪Perkataan maafku Ditinggalkan di sini begitu saja♪
♪Kesalahan yang hanya sekali♪
♪Apa kau ingin membenciku hingga akhir hayat?♪
♪Bolehkah bertanya, mengganjal di hati Bolehkah beri tahu aku♪
♪Kesalahan yang hanya sekali Apa kau tak mau lagi memaafkanku?♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.