Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Bemba
Bihari
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Iqbal.
Teman-Teman, kurasa kita harus mencari tempat berkumpul lain.
Kita tak bisa terus di sini selama liburan, seperti sekelompok kera.
Ada apa dengan kalian? Tempat ini bagus.
Hei, apa itu video baru?
Dasar menyebalkanโฆ
Bob, aku baru mau menangkapnya.
Apa kau bodoh?
Hewan itu disebut pelesit.
Iqbal.
Kalau ini masuk ke rumahmu, semua orang akan mati. Kau akan dikutuk.
Iqbal.
Itu belalang sembah, Bodoh. Karena kau membunuhnya, kau akan dikutuk.
Kau yang akan mati.
Iqbal? Iqbal, kau mau ke mana?
Iqbal.
Ibu?
Iqbal!
Ibu?
Anak ayam, anak ayam Turun lima ekor
Satu mati, satu mati Kini tersisa empat
Ini milik ayahmu.
Ini milikmu.
Ini, bawa senter Ibu.
Iqbal.
Ibu mencarimu ke mana-mana.
Ada apa, Kak Iqbal? Kau pucat pasi.
Ayah, sebaiknya kita tak pergi. Ada yang tak beres.
Maaf kita tak bisa ke bioskop hari ini.
Mungkin besok atau lusa, ya?
Itu justru lebih baik.
Film The Helter Skelter Ghost akan tayang saat itu.
Mau pesan tiketnya sekarang?
Tidak. Aku takut!
Apa yang perlu ditakutkan?
Bawa saja bantal untuk menutupi wajahmu.
Aku yakin tempatnya sudah dekat. Seharusnya kita sudah sampai.
Semuanya tampak baik-baik saja.
Makhluk itu mulai mengganggu kita.
Apa kau sadar kita sudah melewati jalan ini dua kali?
Jika punya kemampuan sepertimu, aku tak akan mengandalkan aplikasi.
Singkirkan ponselmu. Gunakan mata ketigamu. Selesai.
Iqbal.
Ini milik ayahmu.
Ini milikmu.
Ini, bawa senter Ibu.
Ayah.
Aku tak mau sesuatu terjadi kepada Ibu.
Suruh orang lain saja.
Ayah tak bisa lihat. Aku tak bisa menjelaskanโฆ
Ada apa denganmu?
Sayang?
Iqbal.
Makin cepat sampai, makin cepat urusan selesai. Makin cepat kita pergi.
Iqbal, jangan berjalan sendirian.
Asalamualaikum.
- Asalamualaikum. - Jangan takut, Iqbal.
Hal-hal yang bisa kita lihat tak bisa menyakiti kita.
Asalamualaikum.
Karunia dari Allah ini adalah sesuatu yang istimewa.
Tapi aku takut, Bu.
Bersabarlah.
Setelah ilmumu cukupโฆ
Asalamualaikum.
Asalamโฆ
Sayang. Ayah, Ibu, dan Kakak ada urusan.
Jangan ke mana-mana, ya, Yaya?
Bu Dina.
Aku tak menyangka kau akan datang.
Cepat.
Sudah berapa lama?
Hampir sepekan.
Sejak Zura kembali dari perkemahan sekolahnya.
Dia sempat masuk ke hutan?
Ya.
Cepat.
Cepat.
Apa yang kau lihat?
Akhirnya
kau tiba di sarang kami.
Yang ini agak rumit. Mungkin ini adalah Al-Hinnu.
Tunggu apa lagi?
Ayah!
Kau tak bisa menyentuh Zura.
Kini dia milik kami.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Ia bukan Al-Hinnu. Ibu. Beri aku arahan!
Gunakan kemampuanmu. Kau pasti bisa, Iqbal!
Iqbal bisaโฆ
mati.
Jangan sentuh putraku, Setan!
Iqbal!
Tolong aku.
Allah Maha Besar.
Sayang.
Ambil stoplesnya! Sayang.
Ada apa, Sayang?
Kumandangkan azan.
Allah Maha Besar.
Ia menipuku. Ia adalah Al-Ghillan, jin jahat.
Ia ingin membunuh Iqbal.
Aku bersaksi tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Sayang.
- Ibu. - Sayang.
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.
Ilya.
Ibu.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Maha Suci Allah yang bersifat kekal dan terdahulu,
Tuhan yang berkuasa mematikan segala yang bernyawa.
Ayah tahu...
betapa kau menyayangi ibumu.
Tapi kita yang masih hidup...
harus melanjutkan hidup.
Ayah tak boleh bilang begitu.
Dia ibuku.
Andai kita tak membantu gadis itu...
saat ini Ibu pasti masih hidup.
Kau suka melihat mereka bermain?
Aku lebih suka jika bisa seperti mereka.
Normal.
Ayah.
Aku tak mau lagi melihat hal-hal itu atau melanjutkan pekerjaan kita.
Apa gunanya kemampuanku jika aku tak bisa menyelamatkan ibuku sendiri?
Bukan salahmu ibumu...
Kita tak bisa melawan rencana Allah.
Ayo makan.
Tersisa enam
Sampai kapan kita harus mencari tempat berkumpul? Liburan hampir habis.
Coret lantai delapan. Itu wilayah pamanmu, Rahim si Pencandu.
Paman apa? Aku tak akur dengannya.
Iqbal, kenapa kau sendirian di sini?
Menunggu ibumu?
Jangan berengsek.
Meski telah meninggal, aku yakin ibunya tak sebau ibumu.
Diam kau.
Halo? Ya, Pak?
Dua puluh menit?
Tentu.
Tak masalah.
Yaya, klien menelepon. Ayah harus pergi. Tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana.
Jangan buka pintu selain untuk kakakmu atau Ayah.
Aku tak boleh ikut? Aku takut sendirian.
Pekerjaan Ayah khusus untuk pria.
Ayah akan segera pulang.
Para pekerja ini memang tak bisa diandalkan.
Dasar monyet tak berguna.
Bagaimana kita bisa maju jika seperti ini?
Aku melakukan ini agar kau bisa santai. Tenanglah sedikit.
Tenang apanya.
Bagaimana bisa aku santai?
Aku akan ke Medan besok.
Ke hutan. Mencari tanaman.
Bagaimana kabar istrimu yang cantik?
Aduh!
Itu kemaluanku. Aku masih menggunakannya.
Dina meninggal.
Kenapa kau tak cerita?
Aku sudah mengenal kalian selama lima tahun.
Kau mengabarkan soal kematiannya seolah-olah itu masalah remeh.
Mati itu gratis, tapi pemakaman membutuhkan uang.
Jangan repot-repot.
Ambil saja. Banyak yang harus diselesaikan saat seseorang meninggal.
Ambil uang ini.
Tapi kau harus membantuku selama dua pekan.
Tunggu aku di luar.
Biar aku mengurus wanita ini.
Kudengar ada hantu di tempat itu setiap Jumat malam.
Ayo berkumpul di rumahku saja.
Aku tak mau berkumpul dengan ibumu. Lebih baik dengan hantu.
Astaga, anak-anak ini ada di mana-mana.
Seperti kecoak.
Maaf, liftnya rusak.
Iqbal, ayo.
Ada upacara peringatan kematian ibumu setelah salat magrib. Ayo ikut Ayah.
Bolehkah putraku ikut?
Baiklah.
Nurul juga?
Nurul?
Apa itu kau, Nurul?
Ayah.
Ayo. Dia bisa pulang ke rumahnya sendiri.
Tak usah lepas sepatumu. Ini bukan rumah, ini rumah kaca.
Banyak tanaman karnivora.
Beberapa di antaranya bunga bangkai.
Dan bangkai itu bau.
Nepenthes alata ex trancanta.
Tanaman ini sangat langka.
Ini Sarracenia, dari Amerika.
Ini tak ada di Malaysia.
Titan arum kesayanganku.
Aku membawanya sendiri dari Sumatra.
Tanaman eksotis pertamaku.
Mekar sekali tiap delapan tahun.
Hanya sehari.
Aku tak boleh melewatkannya.
Aku hanya pernah melihatnya sekali.
- Sebelum itu, kita beri ia makan. - Memberi makan?
Ayo, akan kutunjukkan.
Tunggu sampai membusuk sebelum diisi lagi. Mudah saja.
Kamar itu kosong.
Tak ada apa-apa di sana. Kau tak perlu masuk. Ayo.
Penerbanganku pukul 04.00 besok. Aku harus pulang dan berkemas.
Baiklah.
Iqbal, aku akan membawakanmu kopi luwak dari Sumatra.
Apa itu?
Kopi dari bokong musang. Kopi luwak. Rasanya enak.
Ayah tegaskan sekali lagi. Jangan masuk ke tempat ini.
Tugas Ayah akan selesai dalam dua pekan.
Setelah itu kita bisa melupakan tempat ini.
Nenek, aku pergi.
Iqbal, kau baik-baik saja? Kau tampak agak murung.
Iqbal, jangan seperti ibuku. Dia dihantui oleh roh adikku.
Padahal adikku tak akan kembali.
Ini.
Ayo, kita cari Ali dan Bob.
Mereka mungkin merencanakan hal buruk di suatu tempat.
- Aku tak punya uang. - Kau yakin?
Sungguh. Aku tak punya uang.
Ibuku menyuruhku membeli telur.
Kau punya telur, bukan?
Berikan saja telur itu.
Kau pasti punya uang lagi.
- Hanya itu uangnya. - Paman!
Paman Rahim sedang apa?
Gadis ini lagi.
Jangan ikut campur. Aku baru mau bersenang-senang dengan telur.
Ayo, kita pergi.
Jangan ganggu temanku.
Sebentar lagi, Nurul. Sebentar lagi.
Kau akan dewasa.
Lalu aku akan mengajarimu cara berpakaian seperti wanita.
Cara mengurus pria.
Cara memuaskan pria.
Aku bisa mengajarimu berbagai hal.
Tapi untuk saat ini,
pergilah.
Aku tak peduli.
Pergi. Enyahlah.
Sampai jumpa.
Iqbal, kau baik-baik saja?
- Kau baik-baik saja? - Pisaunya tumpul.
Kulitku lebih tebal.
Kenapa dia meminta kita membawa sweter?
Kita lihat saja nanti.
Berapa lama lagi? Sampai kita jadi batu?
Akhirnya.
Kenapa kau harus mengajaknya?
Tak ada orang di rumah. Dia tak bisa meninggalkanku sendirian.
Kau mau bermain sepak bola melawan anak-anak kecil. Kau bahkan suka itu.
Tak apa-apa, Ilya, tetaplah bersamaku.
Panggil saja aku Yaya. Sekarang kita satu geng, 'kan?
Baik, ayo masuk.
Apa ini?
Hei.
Apa ini bunga?
Sempurna. Kau tak perlu menonton film porno lagi.
Tanaman ayahmu akan rusak, Ah Boy.
Jaga bicaramu, Ali.
Iqbal, dari mana kau dapat kuncinya?
Ayahku mengurus tempat ini
selagi ayahmu pergi ke Sumatra selama dua pekan.
Tunggu. Jadi, kita bebas berbuat apa saja?
Ternyata dia berguna.
- Ali. Lihat ini! - Ya.
Ada apa?
Bunga itu besar sekali.
- Ayo, Kawan-Kawan. - Ayo.
Lihat ini.
Jangan ganggu dia.
Ah Boy, ayahmu sangat serius dengan hobinya, ya?
Tentu saja. Lagi pula, ini bisnisnya. Ibu bilang Ayah menghasilkan banyak uang.
Sayangnya, Ayah tak membaginya dengan keluarganya.
Hanya dengan keluargamu.
Ibuku bilang ayahmu tak pelit dengan keluarga istri keduanya.
Mereka semua kaya.
Hanya keluargamu yang tak kaya.
Ibumu? Ibumu tak tahu apa-apa.
Hei, kenapa kau bilang begitu?
Ah Boy. Bob bercanda, kau tahu kelakuannya.
Terserah. Orang-orang mengatakan berbagai hal tentang keluargaku.
Ah Boy.
Apa itu?
Menurut kalian apa isinya?
Berikan kuncinya.
Hei! Ali.
- Cepatlah. - Sabar.
Lambat sekali.
- Lupakan saja, Ali. - Sial, tak ada yang pas.
Cukup. Ayo pergi. Jangan sampai ada masalah.
Apa katamu?
Pergi? Dia pengecut.
Lihat ini.
- Tak terjadi apa-apa. Tak perlu takut! - Teman-Teman, cukup.
Kenapa kalian takut?
Apa terjadi sesuatu?
Bob. Tunggu aku!
Ada apa dengan paku itu?
Cairan itu lendir atau darah?
Aku hanya melihat paku.
Ada yang tak beres di sini.
Bagaimana...
Ah Boy, hati-hati.
Kita harus pergi dari sini. Ayo.
Anak ayam, anak ayam Turun enam ekor
Jangan.
Kumohon.
Aku berlindung dari setan yang dirajam.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Satu mati, satu mati Kini tersisa empat
Anak ayam, anak ayam Turun empat ekor
Putraku.
Nak. Ayah di sini.
Apa yang terjadi semalam?
Katakan.
Jangan memaksanya, Norman.
Beri dia waktu. Dia masih kecil.
Kau bisa bercerita kepada Ayah.
Sekarang Ayah bersamamu.
Aku hanya ingin menjadi normal.
Guru, kita tak bisa membiarkannya seperti ini.
Kita harus menyegel kemampuannya.
Kita tak tahu sejauh apa kemampuannya.
Kurasa ini bukan keputusan yang bijaksana. Kau yakin ingin melanjutkan?
Tak ada cara lain.
Untuk saat ini, semua kemampuanmu
untuk melihat, merasakan, mendengar, dan menyembuhkan sudah disegel.
Berhasil atau tidak, semua ada di tangan Allah.
Ini ayat untuk membatalkannya.
Siapa tahu kau perlu.
Terima kasih, Guru.
Insyaallah, ini tak akan diperlukan.
Bimbing dia, Norman.
Saat kau mendapat pertanda dari Allah,
kau tahu apa yang harus dilakukan. Insyaallah.
Kalian bekerja sif malam juga?
Kak Iqbal bekerja sif malam di pemakaman.
Apa Rahim mengganggumu? Nurul bercerita padaku.
Ah Boy adalah temanku.
Apa maksudmu, Yaya?
Maaf, Anna, ceritanya panjang.
- Aku akan mengirimkan makanan, ya? - Ya.
Ah Ma, ayo makan. Apa Nurul sudah bangun?
Ah Boy.
Tak ada yang boleh tahu bahwa dia perempuan.
Kau tak bisa memaksanya menjadi orang lain.
Ayah tak bawa bantal? Bagaimana jika Ayah takut?
Astaga, Yaya. Ayah terbiasa dengan hal menakutkan. Sudah bosan.
Terkutuklah kita.
Terkutuklah kita.
Terkutuklah kita.
Iqbal.
Iqbal.
Cepat!
Mundur.
Jangan terlalu dekat.
Cepat.
Mungkin dia pergi mengambil bantalnya?
Kak Iqbal! Ada apa?
Kenapa kau kabur? Itu hanya film.
Ayo kembali ke dalam. Aku ingin melihat hantu itu lagi.
Jangan bercanda tentang hal ini.
Jadi, kau mau masuk kembali atau tidak?
Memang benar nenekku hidup seperti hantu. Sendirian.
Tapi tak masuk akal jika dia bunuh diri.
Aku tak bisa tidur.
Kalian juga?
Kukira hanya aku karena nenekku meninggal.
Kalian merasa ada yang janggal sejak kita ke tempat itu?
- Di mana Ali? - Ada yang mengikutiku.
- Suara tangisan wanita. - Hentikan omong kosongmu, Bob.
Ayo cari Ali.
Kita harus menempelkan kertas mantra itu kembali.
Jika kalian sangat ingin mati, silakan.
Jangan libatkan aku.
Terkutuklah kita.
Terkutuklah kita.
Terkutuklah kita.
Iqbal.
Kau baik-baik saja?
Periksa kamar-kamarnya. Aku akan mencari di area ini.
Baiklah.
Ah Boy.
Benar, Bu. Aku menemukan anak itu.
Pagi itu jadwalku menyiram tanaman. Menuruti jadwal Jamil.
- Aku tak bisa menghubungi ponselnya. - Dia di luar negeri.
Di hutan. Mungkin tak ada sinyal.
Selain kau, siapa lagi yang punya akses ke tempat ini?
Setahuku, tak ada. Tapi aku tak terlalu yakin.
Dan Ali, dia temanmu?
Kalian sering bermain di sini?
Kemarin kami ke sini...
Kau bicara apa, Yaya? Jangan mengarang.
Ayo pergi.
Yaya, pergilah ke kamarmu.
Kenapa kau mencuri kunci dan membawa Yaya ke sana?
Kau benar-benar mencari masalah.
Sekarang Ayah harus membohongi polisi.
Kau mau dipenjara?
Ayah sudah melarangmu. Kau pikir Ayah bercanda?
Berhenti.
Kenapa Ali ada di sana?
Katakan.
Entah bagaimana dia bisa masuk sendirian.
Tapi benar, kemarin aku mengajak mereka ke sana.
Siapa lagi?
Ali, Bob, dan Ah Boy.
Ruangan itu, Ali dan Bob merobek kertas mantranya.
Aku merasa sesuatu dilepaskan dari sana.
Jangan bicara omong kosong. Kemampuanmu telah disegel.
Ayah, aku tak bisa membedakan antara yang nyata atau gaib.
Cukup. Siapa pun bisa membeli kertas mantra itu dan menempelkannya.
Kenapa kau sangat keras kepala?
Sudah kuduga.
Ayah tak akan pernah mengerti.
Ada banyak hal yang tak bisa kuceritakan kepada Ayah.
Ini sulit.
Ayah tak memiliki kemampuan seperti Ibu dan aku.
Hanya anak-anak kita yang kumiliki.
Ya.
Bu, aku menemukan ponsel ini di balkon.
Satu mati, satu mati Kini tersisa tiga
- Anak ayam, anak ayam - Tolong berhenti.
Diam!
Ah Boy?
Ah Boy?
Ah Boy?
Ah Boy?
Ah Boy, jika kau mau pulang,
tutup saja pintu depan.
Baik, Paman.
Yaya, ayo.
Tolong jaga kakakku.
Ayo.
Apa ayahmu memukulmu?
Sama sekali tidak. Dia tak pernah main tangan. Dia hanya tak memahamiku.
Ah Boy...
Aku bisa melihat alam gaib.
Segala macam makhluk, roh, jin.
Ibu selalu bilang ini anugerah.
Tapi aku bahkan tak tahu cara menyikapi anugerah ini.
Jadi, kau seperti pahlawan super? Seperti X-Men?
Apa maksudmu?
Aku serius. Ini bukan lelucon.
Siapa bilang aku bercanda?
Satu hal lagi.
Kurasa aku bisa melihat kapan seseorang akan mati.
Semalam...
aku melihatmu.
Yang benar saja.
Tapi jika sesuatu terjadi padaku, selamatkan aku, ya?
- Berapa lama yang kau butuhkan? - Sekitar 15-20 menit.
Bagus.
Ayo, Yaya.
Aku akan membeli pulsa.
Ingat, jangan biarkan orang lain masuk.
Yaya.
Jangan masuk ke kamar ini. Ayo. Lihat Ayah bekerja saja.
Ayo.
Kenapa kau tak memindahkan pot itu?
Pot ini? Ini sangat berat, Bu.
Bu.
Lakukan saja.
Siapa yang tega membunuh anak kecil?
Ayolah, apa sulitnya memindahkan pot sialan itu?
Apa itu?
Sepertinya tulang rahang manusia.
Asalamualaikum.
Tak apa-apa. Jangan takut.
Jangan beri tahu siapa pun.
Ayah menyuruhku menutupi wajahku saat takut. Tapi aku masih bisa mendengar.
Apa?
Suara itu, sejak kita ke ruangan di atas.
Kau bisa mendengarnya juga?
Itu berarti...
Menurutmu, apa yang dilakukan polisi itu di atas sana?
Kurasa itu bukan suara polisi.
Ayo.
Lift sialan ini tak pernah berfungsi.
Iqbal, di mana ayahmu?
Tadi Ayah menelepon.
Dia minta maaf karena tak bisa datang ke pemakaman Nenek. Ayah di kantor polisi.
Tak apa-apa. Kau dan Ilya sudah makan? Ayo makan bersama Ah Boy.
Jangan pingsan seperti semalam.
Ibu mau berangkat kerja. Nurul, simpan sisanya.
Kalian jaga sikap dan tidurlah lebih awal.
Yaya, kau tahu apa yang terjadi saat orang Tiongkok meninggal?
- Mereka membakar jasadnya. - Dibakar?
Ya, sampai garing. Hanya tersisa beberapa tulang.
Lalu, mereka menyimpannya di stoples.
Stoples? Seperti untuk hantu?
Untuk hantu? Apa maksudmu?
- Kakak? - Itu bukan kakakmu.
Tunggu apa lagi?
- Ada apa dengan kekuatanmu? - Ayah menyegel kemampuannya.
Halo? Kavita?
Maaf, kurasa aku harus cuti tiga hari lagi. Putriku sakit.
Kemarin, anak lain dibunuh di sini.
Aku sangat khawatir.
Terima kasih, Kavita.
Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Katakan! Apa yang kau inginkan?
Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Kini tersisa enam
Satu mati, satu mati
- Iqbal memakannya! - Maafkan aku, Ibu.
Aku tak bisa menyelamatkan Ibu.
Maafkan aku.
Satu mati, satu mati Kini tersisa lima
Tak ada yang perlu dimaafkan, Iqbal.
Kau pun tak bisa mencegahnya.
Ibu sudah pergi.
Tapi Ibu akan selalu menyayangimu, apa adanya.
Kau tak perlu menjadi seperti orang lain.
Anak ayam, anak ayam
Allah Maha Besar.
Ini semua rencana Tuhan Yang Maha Esa.
Kau harus menjalani berbagai ujian.
Tapi, Guru, kau menyegel kemampuanku.
Tampaknya hanya kemampuan menyembuhkanmu yang tersegel.
Kemampuanmu luar biasa.
Itu adalah perjanjian khusus...
dengan Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
Sebuah tanggung jawab untuk membantu orang lain.
Maaf membuatmu menunggu, Pak Norman.
Apa aku ditahan?
Kami menemukan ponselnya dan jejak darahnya di apartemen 10A.
Mustahil, Bu.
Itu milik Rahim. Seluruh gedung tahu diaโฆ
Kau dan Pak Rahim memanfaatkan dua anak yang tewas untuk menjual narkoba, bukan?
Ada dua anak yang tewas?
Ya, kami menemukan jasad Mohamad Firdaus bin Aziz.
Bob juga tewas?
Bukankah kau di apartemen itu saat dia tewas?
Kertas ini.
Ini penyebabnya. Aku harus menyelamatkan anak-anakku.
Pak Norman, tenanglah. Itu hanya permainan anak-anak.
- Lepaskan aku. Anak-anakku dalam bahaya! - Ravi.
Kita tak punya cukup bukti.
Tolong hentikan!
Tolong hentikan!
- Tak apa-apa. - Iqbal. Yaya.
Ayah!
Ayah. Ah Boy...
Yaya. Dengarkan Ayah.
Aku tahu. Aku harus menunggu di sini dan jangan pergi ke mana pun.
Bagus.
Nurul.
Berhenti.
Aku mau ayahku.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat,
bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.
Siapa namamu?
Siapa nama ibumu?
Siapa nama ayahmu?
Jamil bin Ahmad.
Entah apa yang merasukinya.
Dia menjadi seperti binatang.
Dokter tak bisa menolongnya, Anna.
Lalu bagaimana?
Luka lepuh dan gigi yang bergemeretak.
Dia hanya ingat nama ayahnya. Ini semua pertanda.
Dia dirasuki makhluk halus.
Bob dan Ali mati karena iblis ini.
Seperti Nenek.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Alhamdulillah.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang dirajam.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan.
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Jalan orang-orang yag Kau beri nikmat,
bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.
Amin.
Jika tak disembuhkan sekarang, makhluk ini akan mengambil anak-anak kita.
Polisi. Aku lupa, mereka ingin menginterogasiku.
Mereka tak boleh tahu aku di sini. Akan kujelaskan nanti.
Tadi Ayah bertemu Guru.
Dia memberi tahu Ayah semuanya.
Maaf, Iqbal.
Ayah yang keras kepala.
Hei, bukankah kau anak Pak Norman? Di mana ayahmu?
Apa yang bisa kau ceritakan tentang adik iparmu, Rahim?
Tak berguna. Seperti kakaknya.
Maaf, tapi apa Pak Jamil masih suamimu?
Dia sudah lama meninggalkan kami. Tapi tak menceraikanku.
Jadi, Ayah akan membuka segel kemampuanku untuk menyembuhkan?
Ikuti saja petunjuk Ayah untuk saat ini.
Sampai ilmumu cukup.
Kau bilang putrimu sakit?
Benar. Nurul. Dia ada di kamarnya.
Jadi, kamar siapa ini?
Anak sulungku, Farah.
Dia menghilang delapan tahun lalu.
Kau sudah melapor kepada polisi?
Ya. Dahulu. Tapi tak ada tindakan sampai saat ini.
Seolah-olah seluruh dunia melupakannya.
Tapi kau belum lupa.
Aku masih menunggu.
Bu, kita harus pergi. Mereka bilang ini mendesak.
Norman membunuhnya. Membuang jasadnya di sini.
Tapi tulang dan noda darahnya? Kurasa masih ada yang mengganjal.
Norman. Aku tak boleh kehilangan anak lagi.
Asalamualaikum.
Wa'alaikumussalam, Nurul.
- Dasar bodoh. Aku bukan Nurul! - Namaku Norman bin Salim.
Kau bisa bicara denganku. Siapa kau? Apa maumu?
Aku Farah.
Pembohong. Jangan coba menipu kami, Iblis.
Aku tak mau bicara denganmu.
- Aku ingin bicara dengan ayahku. - Jamil, lagi?
Iqbal.
Baiklah.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dirajam.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan.
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Jalan orang-orang yag Kau beri nikmat,
bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.
Amin.
Terkutuklah kita.
Allah Maha Besar!
Ayah.
- Allah Maha Besar! - Ayah!
Allah Maha Besar!
Nurul?
Ibu di sini, Nurul.
Ibu.
Iqbal.
Aku tak sanggup...
Tolong aku.
Ini berbahaya.
Ah Boy bisa mati.
Ini Hantu Raya.
Kau yakin?
Anna, apa ada anggota keluargamu yang memelihara Hantu Raya?
Hantu Raya butuh seorang tuan.
Hantu Raya, jin, mereka semua hanya ingin mempermainkan kita.
Dia terus memanggil ayahnya. Mungkin ayahnya bisa membantu?
Jamil.
Mau bagaimana lagi.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Ayah, coba tanya siapa tuannya.
Ada apa, Iqbal?
Kau kehilangan kemampuanmu?
- Kehilangan nyalimu juga? - Jangan macam-macam dengan putraku.
Menjauhlah.
Itu makhluknya?
- Iqbal. - Ayah.
Aku akan membuat makhluk itu merasukiku. Tolong buka segelku. Kumohon, Ayah!
Tidak!
Jangan sok pahlawan. Itu kesalahan ibumu.
Saat menyegel kemampuanku, Ayah melakukannya demi aku atau Ayah?
Ayah tak akan membiarkanmu melakukannya.
Yaya?
Yaya?
Yaya?
Iqbal!
Ayah!
Norman.
Iqbal.
Di mana Ah Boy?
Ayah, tunggu apa lagi?
Dia mengetahui yang nyata dan yang gaib. Maha Besar, Maha Tinggi.
Selamatkan Yaya.
Kau bersenang-senang, Iqbal?
Lepaskan dia. Bawa aku saja.
Dia akan segera mati. Kau tak bisa berbuat banyak dengannya.
Apa yang istimewa darimu?
Kau tampak tak berguna bagiku.
Kau tak tahu?
Anak ini akan menjadi milikku.
Tiada sesembahan selain Allah!
Terkutuklah kau!
TKP, DILARANG MELINTAS
Iqbal?
Keluar dari putraku, Setan!
Saat aku menjentikkan jariku, anak ini akan mati.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dirajam.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Setan menyedihkan.
Jangan menuduh sembarangan.
Aku hanya ingin mengurus mereka.
Lalu kau, Norman?
Putramu yang istimewa. Bukan kau.
Kau diam saja dan melihat Dina mati. Kau juga akan menyaksikan Iqbal mati.
Karena kau lemah, Norman!
Tak seperti Dina. Tak seperti Iqbal.
Kau lemah, Norman.
Kau lemah.
Diam!
Menjauhlah dariku.
Ibuku sudah meninggal.
Aku tahu siapa kau.
Kau bukan ibuku, Setan.
Tiada sesembahan selain Allah.
Tiada sesembahan selain Allah.
Tiada sesembahan selain Allah.
Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar.
- Ayah sedang apa? - Paman?
Ayah hanya ingin membantu.
Ayah hanya ingin membantu.
Ayah hanya ingin membantu.
Jangan takut, Ayah.
Jangan takut.
Jangan takut, Ayah.
Sama seperti Ibu.
Sama seperti aku.
Aku tak mau mati.
Dia anakmu sendiri. Kau lebih buruk dari binatang!
Dia kehilangan banyak darah. Kita harus menyelamatkannya, Jamil.
Dia akan mati jika tak dibawa ke rumah sakit. Kumohon, Jamil.
Apa kau gila?
Tidak boleh!
Jika kau beri tahu siapa pun, Anna dan Nurul akan menderita.
Cepat.
Hentikan pendarahannya. Dan hentikan suara terkutuk itu.
Dia masih hidup.
Jamil.
Dia tak akan mati.
Kau harus membawanya ke rumah sakit.
Hei.
Siapa kau?
Aku datang ke sini bersama tanaman kesayanganmu dari Sumatra.
Saat itu aku belum punya tuan.
Saat Farah datang merawat tanamanmu, aku memilihnya.
Gadis yang manis.
Sangat polos.
Tak sepertimu!
Selama aku di dalamnya, aku tak akan membiarkannya mati.
Dasar hama.
Kau pikir kau siapa?
Hei, aku ayah gadis ini.
Kemarilah. Ayo, aku akan mengeluarkanmu.
Ini rahasia kita. Sebagai keluarga.
Aku akan memberimu uang nanti.
Dari dukun Batak. Jangan pernah melepas kertas ini.
Jika tidak,
kita akan dikutuk.
Aku tak bermaksud...
- Dia seharusnya... - Kau lebih hina dari binatang.
Ini perbuatanmu?
Ini perbuatanmu?
Ini perbuatanmu?
Apa yang kau lakukan?
Anna.
Ayah.
Farah.
Ayah.
Untungnya, Ayah pernah mengajariku...
cara menyenangkan pria.
Cara memuaskan pria.
Ayah mengajariku banyak hal.
Tapi sayang sekali aku mati.
Sejak dahulu, pisau Ayah selalu tumpul.
Tapi senjataku tajam.
Kita harus menyegel iblis itu di sana.
Tidak, jangan disegel. Kita harus menutup portalnya.
Al-Fatihah.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik Hari Pembalasan.
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yag Kau beri nikmat,
bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.
Amin.
Mendiang ibumu selalu menyuruh Ayah untuk membimbingmu sampai kau siap.
Itu nasihatnya.
Sekarang aku mengerti, Ayah. Aku tak ditakdirkan menjadi normal.
Tapi insyaallah, dengan bimbingan-Nya, aku akan melakukan apa yang diperlukan.
Alhamdulillah. Ayo.
Siapa mereka?
Kau kenal mereka?
Kita akan segera tahu.
Astaga.
Ayo pergi.
Diterjemahkan oleh Ajeng Fajriani Nurasieta
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.