Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Jangan khawatir.
Aku berjanji pada ibumu
bahwa aku akan menyayangi dan menjagamu
karena aku mencintaimu.
Dulu, aku adalah tetangga.
Tapi mulai saat ini,
kita akan tinggal di bawah atap yang sama.
Tid Noi!
Sayangku, Mak…
Ke mana kau membawa kekasihku?
Hentikan, Yong.
Itu hanyalah kata-kata
mengakui dia sebagai kekasihmu.
- Siapa pun bisa mengatakannya. - Aku tak paham
mengapa dia gantung diri.
Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya.
Hadirin!
Ceritanya menjadi semakin intens.
Di adegan ini, kalian akan lihat protagonis cantik kita,
manis bagai madu.
Sambutlah, Pawana!
Aku harap dia cantik.
Baiklah.
Sial, dia cebol!
Wah.
Oh, wow.
Dia sangat cantik.
Cantik?
Menurutku, dia tak lebih cantik dariku.
Lihat pria yang bersamanya.
Wajahnya tampak seperti tahi anjing.
Nak, ayo cari tempat.
Ayo. Pergilah dengannya!
- Hai. - Hai.
Oh.
Boleh kami duduk di sini?
Payak, kau sedang apa?
Pee Yong adalah kekasihku.
Tunggu, Mayom.
Di antara penjaga kuil yang jelek…
dan putra kepala suku, kau akan pilih yang mana?
Baik. Jika kau ingin aku memilih,
aku pilih Pee Yong.
Mak,
duduklah di sini.
Mayom, jangan takut.
- Tid Noi. - Jangan menyerah.
Ya?
Bisakah kau naik ke atas?
Apa pun yang kau mau,
akan selalu kulakukan untukmu.
- Aku pilih Yong. Aku tak mau kau. - Baiklah.
Meski dia miskin, aku mencintainya.
Kalian berdua sangat kasmaran,
pergilah ke neraka bersama-sama!
Ceritanya menjadi makin seru.
Siapa yang akan bisa memperistri Mayom?
Tetaplah menonton.
Ini dia.
Mayom.
Mayom.
Mengapa kau membuatku bersumpah agar aku tak akan menikah lagi?
Mengapa kau membuatku bersumpah?
Bahkan setelah mati, kau masih menghancurkan hidupku!
Sialan kau!
Sialan.
Mereka selalu bertengkar di setiap festival.
- Lewat sini. - Lewat sini.
Mak, aku takut hantu.
Itu cuma mayat, bukan hantu.
Sama saja. Aku takut.
Kau setakut ini pada mayat.
Saat lihat hantu sebenarnya,
pasti kau akan mati ketakutan, Nak.
Hei, Mak.
Aku melihatmu kabur lebih dulu.
Nak, mulai sekarang,
aku berjanji padamu,
apa pun yang terjadi,
aku tak akan meninggalkanmu.
Aku juga.
Oh, sialan!
Ayo pergi!
Kalian bilang tak akan tinggalkan aku.
Imut sekali.
Sialan, ini seram. Tunggu aku.
Kita sudah sampai.
Terima kasih, Tid Noi.
Pee Mak.
Aku harus masuk.
- Ya. - Ya.
Ini.
Mak.
Apa?
Jika kau mau bicara soal Nak, besok saja. Aku mengantuk.
Aku harus pergi.
Aku pasti akan bicara denganmu soal Nak,
tapi ada juga hal yang penting.
Apa?
Kau bisa antar aku pulang?
Di mana rumahmu?
Di sana.
Di sini?
Di sini?
Wah, hantu!
Hantu apanya? Seorang gay!
Duang,
mengapa kau ke sini selarut ini?
Aku menangkap belut.
Aku akan buat sup untukmu besok.
Lain kali jika datang,
lebih baik beri tahu aku.
Aku boleh menginap?
Yah, kau membawa bantalmu.
Baiklah.
Tapi jangan nakal.
Taruh lenteranya di sana.
Di sini panas sekali.
Tidurlah.
Ah, panas sekali.
Sudah kubilang, jangan nakal!
Tidak, Duang.
JANGAN LUPA MAKAN SUP BELUT. DUANG
Sup belut.
- Nyonya. - Hei, Tid Noi.
Aku membuatkanmu sup belut.
Terima kasih, Sayang.
Kau bawa sup ini untuk kami,
tapi mengapa wajahmu seperti itu?
Aku khawatir rasanya tak enak.
Aku yakin pasti enak.
Itu kesukaan Nak.
Jadi, kau bangun pagi untuk mencari belut.
Kau baru saja kabur dari hantu semalam.
Tidak, aku cuma pura-pura takut.
Jika takut, aku tak akan keluar dan menangkap belut untukmu.
Kau sungguh bekerja keras, Tid Noi.
Kau bangun pagi untuk memasak.
Sungguh sulit menemukan orang sepertimu.
Siapa pun yang hidup denganku akan punya kehidupan yang baik.
Aku bertanya-tanya, apakah di sini
ada yang ingin punya kehidupan yang baik?
Tentu, semua orang ingin punya hidup yang baik.
Dia tak harus mendayung ke pasar sendirian.
Benar, 'kan, Ibu?
Bagaimana? Dapat banyak ikan?
Lumayan.
Kau mau ke mana?
Aku mengantar kekasihku ke pasar.
Kau mau ke mana, Tid Noi?
Aku membawa Nak ke pasar.
Apakah kau cemburu?
Hei, Nak. Mengapa kau buru-buru?
Nak!
- Oke. - Wah.
Hati-hati.
- Apa yang kau jual? - Pekasam.
- Aku buat sendiri. - Kau membuatnya?
- Benar. - Kau mau?
Aku tahu cara membuatnya.
Mau bihun?
Baunya enak.
Kita bisa kembali nanti.
BIHUN MAMA MALA
Nak.
Ini.
Kau tahu cara memilih ikan segar?
Itu mudah.
Sisik berkilau,
mata jernih,
dan insang merah jambu.
Mana yang harus kupilih?
Cuma ada obat perangsang.
Tidak ada pemukul istri?
Sialan.
Dasar pencari gratisan.
Foon.
- Hei. - Oh.
Daganganmu hampir habis hari ini.
Tidak, aku minum hampir semuanya.
Kau mau?
Tidak untukku.
- Tidak mau? - Tidak.
- Abdul. - Hei.
- Yang wanita tahu. - Aku tahu.
- Yang pria tahu. - Aku tahu.
Beberapa orang mungkin ragu.
Kau tak percaya?
- Apa gaya rambut anak ini? - Sanggul atas.
Wah!
Abdul tahu segalanya
karena…
ramuan ajaib.
Para wanita jatuh cinta, para pria jatuh cinta,
lawan menjadi kawan.
Ini sepuluh botol terakhir.
Hei, aku akan beli semua.
Sepuluh tamleung.
Sudah terjual habis?
Aku mau. Mungkin akan ada yang jatuh cinta padaku.
Baiklah, ini.
Benar-benar sepuluh botol terakhir.
Kau sudah memilih?
Belum.
Aku tak bicara soal ikannya.
Lalu apa?
Aku bicara soal kekasihmu.
Apakah itu Tid Noi?
Dasar konyol.
- Hei. - Hei.
- Hei! - Hati-hati.
Jangan berkelahi.
Daun kratom! Setiap helainya memberimu energi. Kau mau?
- Tidak untukku. - Kalau begitu, pergilah.
Daun kratom!
- Bagus untuk tabir surya. - Hei.
Halo. Namaku Mak.
Ini adalah Nak.
Oh! Luar biasa.
Foto! Kamera! Ini sebuah kamera.
Apa itu kamera?
Mari. Ke sini.
Berdiri di sini.
Dan tersenyumlah.
Sekali lagi.
Sayang, tolong jaga tokonya.
Aku mau buang kotoran.
Apa?
- Pee Mak. - Ya.
Aku akan kembali.
Kau mau ke mana?
Buang kotoran.
Dia bilang apa? Sesuatu tentang kotoran?
Tid Noi, itu dialek selatan.
Buang air, buang kotoran.
Kau tak tahu apa-apa.
Apakah Nak orang selatan?
Aduh.
Kau mau ke mana?
Hei!
- Tidak! Lepaskan aku! - Jangan bergerak.
Kau mau buang air?
Sebelum mengeluarkannya, bagaimana jika kau memasukkannya?
Tolong! Mak!
- Nak! - Aku di sini!
Apa yang kalian lakukan? Kalian semua tahu bahwa Nak itu istriku.
Hei, ada gunjingan
bahwa Nak itu istri Mak, bukan?
Jangan berkata begitu. Kau bawa aib bagi Nak.
Bagaimana saat kau bilang Nak adalah istrimu?
Kau tak bawa aib baginya?
Aku tak peduli dia bersama siapa,
tapi hari ini, dia harus jadi istriku.
Mak, bawa Nak pulang.
- Pergilah. - Ayo.
Oke.
- Ayo. - Dia pasti mantan petinju.
Noi si kaki cepat.
Hei.
Cepat, Nak. Ayo masuk.
Kita selamat sekarang.
Bagaimana dengan Tid Noi?
Hei.
Sangat feminin.
Jangan mengkhawatirkannya.
Dia bisa bertinju.
Terima kasih telah menyelamatkanku, Mak.
Apakah ada yang terasa sakit?
Hei!
Tidak sakit.
Kau ada di sini.
Bagaimana mungkin aku merasa sakit?
Hei.
Sangat feminin, Bocah!
- Lawan dia! - Hei!
Tid Noi!
Kau baik-baik saja?
Terima kasih banyak.
Apakah kau terluka?
Sama sekali tidak.
Itu sepadan.
Benar.
Malangnya dirimu.
Tid Noi.
Terima kasih banyak.
Jika bukan karena kau, Nak akan dinodai.
Dia sudah ternoda, Ibu.
Apa maksudmu?
Nak dan aku menjadi intim.
Aku membawa bunga dan dupa untuk meminta maaf.
Kapan kejadiannya?
Kemarin.
Terima kasih banyak.
Itu pasti karena perbuatan baikku.
- Apakah kau terluka? - Itu sebabnya dia memelukku.
Nah, karena itu sudah terjadi,
kau harus meminta restuku.
Ya.
Yah…
Menurutmu, bagaimana maharnya?
Kalau begitu, 100 tamleung.
Aku harus pergi ke Bangkok demi mendapatkan uang untuk mahar.
- Terima kasih. - Baiklah.
Omong-omong, di mana Nak?
Dia bilang akan memetik jamur di belakang tumpukan jerami.
- Aku harus pergi sekarang. - Ya.
- Jangan, orang-orang akan melihat kita. - Tak ada yang akan melihat kita.
Nak.
Hmm?
Lakukan ini.
Aku mencintaimu, Nak.
Cincin ini melambangkan cintaku.
Simpanlah.
Akan kusimpan hingga hari kematianku.
Nak.
Nak.
Nak.
Nak.
Nak.
Nak. Di mana dia?
Nak.
Nak.
Di mana dia?
Apa-apaan?
Dia sungguh tak bisa lihat kita?
Benarkah?
Aku heran.
Kita di sini. Bagaimana bisa dia tak melihat kita?
Tidak, jangan di depan para kerbau.
Mereka tak tahu apa-apa.
Tid Noi, apa yang kau lakukan di sini?
Aku ke sini untuk mengatakan padamu bahwa aku akan pergi ke Pranakorn besok.
Mengapa kau harus pergi?
- Untuk bekerja, demi masa depan. - Hebat.
Saat kau sudah kaya, jangan lupakan kami, warga Prakanong.
Aku tak akan lupa, bahkan jika aku miskin.
Kau perlu waktu seharian untuk memetik jamur?
Kau ada waktu besok?
Aku ingin kau ke kuil denganku.
Besok aku sibuk.
Mengapa kau tersenyum?
Besok Nak sibuk.
Mengapa begitu?
Dia harus melepas kepergianku.
Mengapa kau tak tahu apa-apa?
Tid Noi, kau mau berangkat sekarang?
Ya.
Nak.
Kau tak melepas kepergianku sebab kau takut akan menangis, bukan?
Ayo.
Hati-hati.
PRANAKORN
Kau mau ke mana?
Kurasa aku mau pulang.
Ke kuil.
Silakan naik.
Terima kasih, Anak Muda.
Kau mendapat karma baik.
Luang Por, aku tak mau karma baik,
aku ingin seorang istri.
Maukah kau membayarku?
Baiklah.
Tolong ke Bangkok Noi.
Baik, naiklah.
Tuhan memberkatimu.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Kita sudah sampai. - Berhenti.
Hei, Bung, perjalananmu sungguh mulus.
Hei, jika kau tak buru-buru,
- tunggu aku. - Ya.
Aku ke sini menjemput istriku. Dia bekerja di atas.
- Itu dia. - Kau di sana rupanya, Somchai.
Ya, Sayang.
- Apakah kau lelah? - Sama sekali tidak.
Kita pulang sekarang?
Satu pelanggan lagi, Sayang.
Aku mengerti. Satu lagi.
Ayo.
- Aku harus bekerja. - Ya, lanjutkan.
Aku akan menunggumu.
Itu istriku.
Dia bekerja di sini.
Aku tetap bangga pada diriku
karena punya istri yang baik, pernikahan yang baik.
Dia bekerja keras.
Kasar, lembut,
kecil, besar, pendek, panjang, kerja.
Dia terima semuanya.
Aku tak mau menyombongkan diri
bahwa aku cukup berada
karena istriku.
Kau harus cari istri seperti istriku.
Yang bisa kau pamerkan ke semua orang.
- Aku mengerti. - Ya.
Tampaknya akan lama.
Kau bisa pergi sekarang.
Ambil kembaliannya.
- Terima kasih. - Ya.
KEDAI KOPI NAIMAI
Hei, Bung.
Oh, kau bisa bahasa Thai.
Tentu saja aku bisa.
Dari mana asalmu?
Afrika.
Oh, begitu. Kau sudah lama di sini?
- Dua… - Dua tahun?
Dua hari.
Kau belajar bahasa Thai dalam dua hari?
Aku terpelajar.
- Kau punya mobil? - Tentu saja.
- Sepeda? - Ya.
- Ular? - Ya.
Melata atau berjalan?
Terbang, kurasa.
Di negaraku, aku punya segalanya.
- Satu-satunya yang tak kupunya… - Apa?
Di negaraku, tak ada pria sepertimu.
- Kau mau ke mana? - Ke rumah bordil.
Bordir?
Bordil.
Oh, aku mengerti.
Kita sudah sampai.
Mengapa kau tak bilang tempatnya di sini, hanya berjarak dua langkah?
Jika bilang, bagaimana aku bisa dapat uang?
Itu sebabnya aku bilang bahwa aku punya segalanya di negaraku,
dan satu-satunya yang tak aku punya
adalah orang sepertimu.
Bajingan serakah.
Ini!
Dan menjauhlah dariku, atau akan kutendang kau.
Pergi!
Tolong ke Gunung Emas.
Silakan naik.
Terus berusaha!
Demi Nak!
Nak, tolong aku!
Nak!
Apa?
Ayahmu sangat tampan?
Apakah putra kita akan setampan ayahnya?
Kau mau?
Tid Noi yang malang.
Kini sudah terlambat.
Aku merasa kasihan padamu.
Mak bergerak dengan cepat.
Seratus tamleung.
Nak.
- Hei. - Oh.
Kau mau banyak uang?
Aku tak mau banyak uang.
Aku mau uang yang sangat banyak.
Sialan, itu sama saja.
Aku tak suka banyak uang. Aku suka uang yang sangat banyak.
Ya, kalau begitu, sangat banyak.
Jika kau mau uang yang sangat banyak,
mengapa tak lakukan apa yang kulakukan?
Biarkan istrimu bekerja.
Kau tinggal di rumah dan terima uangnya.
Itu kebahagiaan tertinggi seorang pria.
Mengapa kau menabung uang yang sangat banyak?
- Untuk menikahi seorang wanita. - Oh, begitu.
Apakah kau gila?
Mengapa kau ingin menikahi seorang wanita?
Bagaimana kau bisa dapat ide ini?
Menikah itu hanya membuang-buang uang.
Menikah, lalu menghabiskan hidupmu merasa takut kepadanya.
Jika kau saudaraku, akan kutendang wajahmu.
Sungguh bodoh.
Ayo. Antar aku. Aku akan menjemput istriku.
Menikah? Dasar bodoh.
Sungguh tolol.
Ayo jalan!
Nak.
Ya.
Jadilah milikku.
Ya, Tid Noi.
Biarkan aku menciummu.
Sungguh menyegarkan.
Ya.
Bisakah kau terdengar lebih manis?
Apa-apaan ini?
Aku tak kenal Nak.
Apakah kau akan meniduriku? Jika tidak, maka pergilah.
Ya. Aku akan menidurimu.
Aduh!
Itu sakit!
Namaku berarti kecil,
tapi barangku cukup besar.
Bodoh, itu anusku!
Coba lagi.
- Aduh. Lubang yang sama. - Sialan.
Sudahlah!
Biar aku saja! Minggir!
- Berbaringlah. - Apa-apaan ini?
Ke sini.
Membuang-buang waktuku saja.
Aduh!
- Ada apa? - Aku menyukainya.
Sekarang kau baru bilang.
Kalau begitu, mari kita lanjutkan.
Cukup.
- Sudah cukup. - Sekali lagi saja.
Tidak.
- Diamlah. - Tidak.
Nih, ini gratis.
Cukup.
Aku sudah selesai.
Cukup.
Ini uangmu. Aku mau pergi.
Astaga, dia mengerikan.
Tolong, kembalilah.
Selanjutnya.
Sudah selesai.
Luang Por, ini tato atau pembedahan?
Tentu saja ini tato.
Oh, kau rupanya.
Tato apa yang kau mau?
Yantra Delapan Mata Angin,
sembilan stupa,
tak terkalahkan,
atau pesona?
Bukan salah satu dari itu.
Lalu apa?
Nak.
Ini pasti pernikahanmu, Nak.
Mengapa kau memelukku hari itu?
Seratus tamleung ini tak ada gunanya.
Nak.
Nak.
Tid Noi.
Ya.
Nak.
Aku sudah kembali.
Tid Noi.
Nak.
Kau punya obat penghilang rasa sakit?
Ambilkan untukku.
Nak.
Jangan khawatir.
Aku berjanji pada ibumu bahwa aku akan menyayangi
dan menjagamu karena aku mencintaimu.
Nak, jika kau tak percaya padaku, lihat ini.
NAK SAYANG
Dulu, aku adalah tetangga.
Tapi mulai sekarang, kita akan tinggal di bawah atap yang sama.
Tid Noi, aku mencintai Mak.
Nak, katakan sekali lagi.
Aku mencintai Mak.
Aku sangat mencintaimu, Nak.
Tid Noi.
Dengar baik-baik.
Aku mencintai Mak!
Sungguh membuat tersanjung.
Kau sangat mencintaiku,
dan aku sangat mencintaimu.
Nak, cincin siapa ini?
Nak.
Nak.
Upacaranya akan segera dimulai. Ayo.
Tunggu.
Mak.
Ingatlah ini.
Mulai sekarang, kau tak akan meninggalkan Nak.
Dan satu lagi.
Jika dia tak menginginkan sesuatu, jangan pernah memaksanya.
Mengerti?
Ya.
Apakah kau tak ingin ikut upacaranya?
Aku sudah banyak mengikuti upacara.
Ayo.
Dan satu hal lagi.
Dia suka sup belut.
Dia sarapan pukul 5:30.
Ingat itu.
Kuanggap diammu sebagai janji yang kauberikan padaku, Mak.
Sekarang, kalian boleh pergi.
Terimalah berkatnya.
Baiklah.
Dengarkan berkatnya.
Hari dan malam telah berlalu
Hidup harus terus berlanjut
Waktu mungkin telah mengubah hati
Membuat kita terpisah
Aku tak pernah menyalahkan siapa pun
Itulah sifat alami waktu
Masa lalu kita tak bisa kembali
Tapi aku ingin kau tahu
Bahwa aku masih peduli
Aku masih memikirkanmu
Seperti yang selalu aku lakukan
Meskipun kau telah meninggalkan aku
Aku masih mengawasimu
Dan aku ingin tahu bagaimana kabarmu
Sebab aku selalu mencintaimu
Selanjutnya. Tn. Maen.
Berapa umurmu?
Dua puluh satu tahun.
Kau terlihat setua aku.
- Baiklah. - Oh, nasib baik!
Bertahan hidup!
Merah!
Merah!
Merah!
Selanjutnya. Tn. Payak.
Hei, ini wajib militer.
Para istri jangan ikut campur.
- Turun sana. - Aku adalah Payak.
Kau seorang pria?
Ya, Pak.
Baiklah.
Merah.
Merah!
Merah!
Hitam!
Sialan.
Pilihan bagus, Sayang.
Jangan jadi tentara negeri ini.
Kau hanya perlu jadi tentaraku. Ayo.
Selanjutnya.
Tn. Mak.
Merah!
Hitam!
Merah!
Merah!
Sialan.
Duang.
Sudah larut malam. Kau mengejutkanku.
Dengar, Tid Noi.
Melihatmu begini membuatku khawatir.
Ingat kata-kataku.
Diam-diam, cinta akan…
selalu menyakitkan.
Tapi jika kau sungguh mencintai mereka,
saat kau melihat mereka bahagia,
kau harus ikut bahagia untuk mereka.
Terimalah mereka apa adanya.
Nah, itulah cinta.
Tapi suatu hari,
jika mereka lihat perbuatan baik kita,
mereka mungkin berbalik dan melihat kita.
Mereka selalu bersama.
Kapan dia akan melihatku?
Mak akan segera bergabung dengan militer.
Mak? Bergabung dengan militer?
Ya.
Bisakah kau melihatnya?
Ya, kau nakal.
Mak akan bergabung dengan militer.
Duang, dengarkan aku.
Seumur hidupku,
aku hanya mencintai Nak.
Ada apa denganmu?
Apa yang sedang kau lihat?
Bintang-bintang.
Terlihat seperti wajah Nak.
Wow.
Bintang-bintangnya cantik.
Yang itu apa namanya?
Itu namanya bintang sodok.
- Mak. - Jangan khawatir.
Dengarkan aku.
Aku berjanji akan kembali padamu.
Jangan menangis.
Nak, dengarkan aku.
- Mak. - Aku akan baik-baik saja. Aku janji.
Apa yang kau lakukan padanya?
Mak, apa yang kau lakukan padanya?
Mak, mati kau!
Mati kau!
Jangan khawatir, Nak.
Aku berjanji akan kembali.
Mak, kau akan pergi ke mana?
Tid Noi, tolong jaga Nak.
Aku harus pergi berperang.
Aku akan menjaganya.
Jangan khawatir.
Aku mohon, jangan menangis.
Aku akan kembali.
Aku harus pergi sekarang. Aku harus berangkat.
Mak.
Jangan khawatir. Aku akan kembali, ya?
Tid Noi, jaga dia.
Baik, jangan khawatir.
Nak, jangan mengkhawatirkan aku.
Aku akan kembali.
Mengapa kau tersenyum?
Aku bangga padanya.
Dia mengorbankan dirinya,
meninggalkan istrinya untuk melayani negaranya.
Dia lelaki sejati.
Nak!
Tolong jaga bayi kita.
Tak peduli berapa lama waktu telah berlalu
Aku puas dengan segalanya apa adanya
Tak ingin melihatmu lelah
Tak ingin melihatmu menderita
Aku akan selalu mendukungmu dari kejauhan
Berharap kau memiliki seseorang yang indah
Tid Noi, apakah kau lelah?
Tidak, luka bakar.
Mau minum sekarang?
- Tidak. - Oh.
Lalu mengapa kau minta aku memetiknya?
Aku sedang mengidam.
Aku hanya ingin melihatnya.
Oh, astaga.
Nak. Ini. Besar sekali.
Ada apa?
Tid Noi, aku merindukan Mak.
Aku belum lama pergi.
Aku bercanda.
Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, Nak.
Aku akan membuat kari ikan.
Kau sudah banyak makan ayam.
Kau tak mau makan, Nak?
Ini.
Dengan surat ini,
kuharap kau mau makan sesuatu.
Seorang warga membawanya untukmu.
Dari Mak.
Nak.
Nak, ini aku, Mak.
Perang ini sangat berat.
Aku dikirim ke garis depan
dan mungkin tak akan kembali kepadamu dan bayi kita.
Tolong lupakan aku.
Jangan menungguku.
Jaga dirimu.
Katakan pada Tid Noi untuk menjagamu dan bayi kita.
Selamat tinggal.
Dia bilang apa?
Hei.
Nak!
Nak!
Untungnya, dia tidak keguguran.
Jika begitu, dia pasti mati.
Sialan orang bodoh yang memberinya surat itu.
Sungguh ceroboh. Dia itu sedang hamil, sialan!
Nak merindukan suaminya.
Dia belum makan selama berhari-hari.
Jika seperti ini, dia mungkin akan keguguran.
Anak malang.
- Mak. - Nak.
Mak.
Nak.
Jika Mak ada di sini, kau tak akan sedih.
Aku akan bawa Mak kembali padamu.
- Pun Tua. - Hmm?
- Tolong jaga Nak. - Ya.
Oh.
Dan ingat, ini penting.
Jika dia tak menginginkan sesuatu,
jangan pernah memaksanya.
Ya.
Dia suka sup belut.
- Sup belut, ya. - Dan…
- Dia sarapan pada pukul 5:30. - Ya, baiklah.
- Dan nasi yang tak terlalu basah. - Sialan, Noi.
Beri aku waktu untuk berjudi, oke?
Sialan. Kalau begitu, jangan pergi. Tetap di sini untuk menjaganya.
Sialan, Noi.
Dalam dua bulan, Nak, aku akan bawa Mak kembali padamu.
Mengapa masih belum keluar?
Tunggu sebentar. Tunggu.
Nak,
kau cantik di atas sana dan di bawah sini.
Ayo. Coba lagi. Mengejanlah!
Sekali lagi.
Mengejan!
Mengapa bayinya sangat keras kepala?
Mengejan.
Tid Noi!
Pee Mak!
Mak!
Nak!
Mak, bangun.
Mak.
Mak.
Mak, apakah kau terluka?
Tid Noi.
Apakah aku akan mati?
Kau tak boleh mati.
Aku berjanji pada Nak
aku akan membawamu kembali padanya.
Mereka… Mereka mendekat.
Tid Noi, dengarkan aku.
Kembali dan jagalah Nak untukku.
Jika kita berdua mati, dia tak akan tahu apa yang terjadi.
Tidak. Aku berjanji padanya akan membawamu kembali, Mak.
Aku mohon padamu.
- Mak, kau harus ikut denganku. - Aku mohon.
Pergilah.
Pergi.
- Mak. - Pergilah.
Cukup menakutkan jika mati akibat kematian keji,
tapi dia mati karena melahirkan.
Sebentar lagi, dia pasti akan menyulitkan kita.
Dalam dua bulan, Nak,
aku akan bawa Mak kembali padamu.
Nak.
Mak.
Apa pun yang terjadi, akan kubawa kau kembali.
Tid Noi.
Mak, tutup mulutmu. Diamlah.
Tid Noi.
Aku tahu.
Aku di sini.
Siapa ini? Sialan.
Ayo.
Bangun.
LIMA BELAS HARI KEMUDIAN
Beristirahatlah, Mak.
Tid Noi.
Terima kasih telah merawatku.
Ya.
Apa kau mengoleskan lebih banyak obat?
- Tidak. - Apa?
Aku mengunyah daun Kratom.
Bukankah itu untuk tabir surya?
Dua helai untuk tabir surya,
satu helai untuk perkasa di malam hari.
Ayo.
Berapa banyak ikan yang kau tangkap?
Aku dapat banyak.
Aku akan menumisnya dengan saus kari untukmu.
Apa itu?
Tidak ada orang di hutan.
Apa yang kau cari?
Aku tak mencari orang, sialan.
Aku mendengar bayi menangis.
Seorang bayi di hutan? Mengapa kau takut?
- Mengapa berteriak? Kabur, Anak Gadis! - Ayo! Pergilah!
Duang, tunggu aku.
Teruslah berjalan.
Burungku yang cantik
Mengapa kau tak jadi milikku?
Burungku yang cantik
Jika kau tak mencintaiku Aku akan mengutukmu
Agar ada tahi kering di anusmu
Hei.
Tunggu.
Ada dua wanita di depan sana.
Mari kita lihat seberapa mabuk kita.
Lihat mereka.
Jika dua wanita itu jadi empat, artinya kau mabuk.
- Aku hanya bisa lihat satu. - Apa?
Sial, aku mabuk.
Kau mabuk, Ang.
- Siapa Ang? Aku Eung. - Oh.
Diamlah.
Biar aku lihat.
Pegang ini.
Ini.
Begitu aku sudah dekat, aku akan mengangkat dia.
Kau gemuk.
Wah.
Oh.
Bau badannya menyenangkan.
Ayo ke sini. Bicaralah padaku.
Mari mengobrol. Ayo.
Dia menculik wanita itu.
Hei, Ang.
Tangannya!
Tangan apa? Kau bicara omong kosong.
- Ang. - Ada apa dengannya?
Baiklah. Kau pergi saja.
Dia untukku sendiri saja.
Mari bicara.
Wah! Bagaimana bisa hantu begitu cantik?
Sayangku, Mak
Sayangku, Mak
Nuan.
Buka pintunya.
Pee Mak
Oh, di sana.
Nak.
Pee Mak.
- Nak. - Pee Mak.
Nak.
Pee Mak.
Aku sama sekali tak disebut.
Nak.
- Tid Noi, mendayunglah lebih dekat. - Ya.
- Kau tahu cara mendayung? - Cepat.
Aku kembali.
Aku sangat merindukanmu.
- Mak. - Nak.
- Hati-hati. - Aku kembali.
Aku sangat merindukanmu, Nak.
Aku juga merindukanmu.
Aku merindukanmu setiap hari.
Bagaimana bayi kita?
Bayinya tidur di rumah.
Oh, begitu.
Bayinya perempuan atau laki-laki?
- Laki-laki. - Siapa panggilannya?
Aku menunggumu untuk menamainya.
Kau adalah Nak, aku Mak.
Mari kita panggil dia… Daeng.
- Daeng? - Daeng.
Bagus sekali.
Bagaimana dengan namanya?
Namanya…
Mak.
Namanya… Somkid.
- Somkid. - Somkid.
Bagus sekali.
Somkid.
Somkid, putraku! Ayah pulang!
Ayo masuk.
Nama ayahnya Mak.
Nama ibunya Nak.
Panggilannya Daeng.
Namanya Somkid.
Bagaimana kaitan semuanya?
Aku sangat merindukanmu.
Tidak.
- Tidak. - Sialan!
Mak.
Kau melanggar janjimu padaku.
Sudah kukatakan padamu.
Jika dia tak menginginkan sesuatu, jangan pernah memaksanya.
Tid Noi, kau tak tahu apa-apa.
Apa yang aku tidak tahu?
Sudah kukatakan padamu.
Jika dia tak menginginkan sesuatu, jangan pernah memaksanya.
Ini sudah larut.
Pergilah tidur.
Mak.
Mak!
Hentikan!
Daeng akan bangun?
Tid Noi akan mendengar kita.
Sialan!
Kau sedang bicara apa, Duang?
Aku baru saja bicara pada Nak semalam.
Kau bicara pada hantu!
Kau tak sadar, Tid Noi? Warga desa di sekitar sini sudah pindah.
Omong kosong. Teruslah mencukur.
Kau menyebalkan.
Baiklah.
Ada apa denganmu?
Kau mau pergi ke mana?
Aku akan beli kapak untuk memperbaiki tangga.
Aduh, Nak. Lukaku.
Aku tertembak.
Kau bisa minta Tid Noi membelikannya untukmu.
Tidak apa-apa.
Aku berutang nyawa kepadanya.
Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri.
Aku tak akan lama.
Ayolah. Aku akan segera kembali.
Bisa aku beli kapak?
Mak.
Ada apa, Pak Tua?
Kapak ini tak bisa membunuh hantu.
Mengapa kau berkata begitu?
Mak, biar aku katakan yang sebenarnya.
Kau hidup bersama hantu.
Mengapa kau mengatakan bahwa istriku adalah hantu?
Istrimu,
dia tampak seperti hantu, tapi aku tak pernah berkata apa pun.
Aku berkata yang sebenarnya.
Aku juga berkata yang sebenarnya.
Lihat. Dia tampak seperti hantu.
Istrimu…
Istrimu sudah mati!
Hei, Leua, Lae.
- Oh. - Hai, Tid Noi.
Kalian mau ke rumahku untuk minum?
Terdengar menyenangkan. Aku ingin minum.
Tidak jadi.
Aku takut pada hantu Nak.
Mengapa kau takut padanya?
Berhenti bicara padanya.
Ayo pergi.
Mereka sangat aneh.
Mereka mengatakan hal yang sama seperti Duang.
Astaga, Nak. Dia bahkan berkeliaran di siang hari.
- Lua, cepat! - Bergegaslah.
Mendayunglah. Ayo.
Cepat!
Cepat. Terus mendayung.
- Hei. Ada apa? - Cepat!
Kau tak percaya bahwa Nak adalah hantu. Lihatlah sendiri.
Mendayunglah!
Apa-apaan ini?
Pergi dan lihatlah ke sana! Cepat.
Berenanglah ke tepi.
Ayo.
Nak!
Nak!
Nak!
Nak!
Nak!
Sialan!
- Tid Noi! - Nak.
Kau…
Kau menahan napas begitu lama.
Sekarang aku paham mengapa warga desa berkata begitu.
Mereka berkata apa?
Mereka berkata kau adalah hantu.
Terlalu lama, itu sebabnya.
Bagaimana dia bisa kering begitu cepat?
Hei, Nak.
Kau bisa menyiapkan makanan untuk Mak.
Biar aku yang menidurkan Daeng.
Dan buatkan juga untukku.
Kau mau makan makananku?
Aku mau makan denganmu.
Ayo, Daeng.
Sekarang, cobalah untuk tidur.
Strategi
Yang hebat
Dengan tekad yang kuat
Hei, Tid Noi.
Kau menyanyikan lagu tidur atau lagu perang?
Mak, mengapa wajahmu begitu?
- Kau terlihat frustrasi. - Ada apa dengan warga desa?
Kata mereka, Nak adalah hantu.
- Ya, aku juga mendengarnya. - Benarkah?
Mulai saat ini, jika ada yang bilang Nak adalah hantu,
akan kupenggal kepala mereka dengan kapak.
Sebelumnya, biar kutendang bokong mereka dulu.
Ya.
Pergilah. Aku akan menidurkannya.
Luang Por.
Ayo kembali.
Mengapa takut? Kau datang bersama biksu.
Lagi pula, hari ini, aku harus mengatakan kebenarannya pada Mak.
Jingle bells…
Mak.
Mak, kau tak berbeda dariku.
Siapa yang ada di dermaga?
Luang Por datang, Mak.
Kau takut apa, Meng?
Ada apa?
Apakah Mak ada di sini?
Tid Noi ada di sini.
Mak juga ada di sini.
- Salam, Luang Por. - Tuhan memberkati.
- Salam, Luang Por. - Oh…
Menurutku, kau harus meletakkan kapaknya, Mak.
Hei, kalian mulai lagi.
Jangan katakan bahwa kalian ke sini soal Nak.
Siapa yang akan melakukan itu?
Tapi, Mak, kau harus hati-hati
dan memikirkan ajaran Buddha.
Membungkuk dan lihatlah melalui kedua kakimu.
Kau akan melihat kenyataannya.
Apa kenyataannya, Luang Por?
Kenyataan selalu benar.
Meng, ayo pergi. Wah! Dia terlalu cepat.
Tunggu aku.
Meng!
Hei.
- Ayo. - Cepat.
Dia bahkan tidak melepas talinya.
Lihat melalui kedua kakiku?
Dia berani mengatakan pada kita agar hati-hati,
tapi dia tak hati-hati.
Dia juga bicara omong kosong.
Mak, kau harus hati-hati
dan memikirkan ajaran Buddha.
Membungkuk dan lihatlah melalui kedua kakimu.
Kau akan melihat kenyataannya.
Sialan.
Hei, Mak.
Sialan, ular.
Hei, Mak.
Nak?
Oh, sialan.
Nak.
Sialan!
Duang.
Duang, Nak adalah…
Aku tahu.
- Pergilah ke kuil sekarang. - Aku harus pergi.
Hei, tunggu. Di mana Tid Noi?
Dia masih di rumah.
Aku harus pergi.
Tid Noi. Orang bodoh itu tak tahu apa-apa.
Nak, apakah kau melihat seekor ular?
Tid Noi.
Mak sudah pergi.
Dia hanya takut pada ular.
Di mana dia?
Apakah dia di sini?
Paman…
- Apakah itu dia? - Dia di sini.
Apakah itu kau, Nak?
Panggil dia, Paman.
Nak.
Nak.
- Itu dia. - Nak ada di sini.
Nak, apakah kau tahu bahwa kau membawa masalah bagi penduduk desa?
Aku hidup dengan suamiku dan mengurus urusanku,
tapi kalian mencari masalah.
Kau akan mati lagi malam ini.
- Benar, bukan? - Ya.
Nak, apakah kau tahu bahwa sejak kematianmu,
kami tak bisa tidur?
Para anjing melolong tiap malam.
Sudah waktunya aku menampar hantu.
- Sana. - Lawan dia.
Kau mau coba melawanku?
Baiklah!
Sungguh angin yang keras.
Nak, ayo masuk.
Akan turun hujan.
Apa yang harus kita lakukan?
Dia semakin serius.
Nak, kau bilang kau akan menghancurkan kami.
Jika tak kau lakukan, akan kami bakar rumahmu.
Bakar.
Jika kalian bakar rumahku, akan kubakar desa kalian.
Dia mulai lagi.
Nak, kupikir…
Takut-takuti mereka dengan trik menyelam.
Menyelam apa, persetan?
Nak.
Kau bilang "persetan" kepadaku.
Kau bilang "persetan" kepadaku.
- Paman, ayo. - Bakar.
Sayangku, Mak.
Mari kita pulang.
Ayolah, Semuanya.
Tetap fokus.
Mari… Mari terus lantunkan doa.
Mak.
Kembalilah pada istri dan bayimu.
- Mak. - Dengar!
Hantu seharusnya tak hidup dengan manusia.
Para biksu seharusnya mengurus urusan sendiri.
Mak.
Kembalilah pada istri dan bayimu.
Dia bilang "persetan" kepadaku.
- Kau mau ke mana, Tid Noi? - Oh, hai.
Aku mengantar kekasihku ke pasar.
Menyelam apa, persetan?
Kau bilang "persetan" kepadaku.
Nak.
Apakah kau terluka?
Sama sekali tidak.
Menyelam apa, persetan…
Kau bilang "persetan" padaku, Nak.
Menyelam…
Nak.
Kau bilang "persetan" padaku.
Nak.
- Tid Noi. - Duang.
Saat kau mengunjungi rumah orang, bersikaplah sopan.
- Apakah aku harus mengetuk pintu? - Ya.
Siapa di sana?
Sialan! Dia masih saja bertanya.
Ini aku, Duang.
Masuklah.
Tid Noi.
Jangan kesal.
Dia sudah mati.
Apa yang salah denganmu?
Bahkan Mak tahu bahwa istrinya sudah mati.
Mak,
akhirnya kau lebih percaya pada orang lain dibanding istrimu.
Di mana Mak?
- Di kuil. - Dan Nak?
Dia pasti mengikutinya ke sana.
Tidak.
Aku tak akan pergi.
Aku sungguh tak akan pergi.
Pemula!
Panggil biksu tinggi.
Ya.
Mak. Kau!
Entah apa yang membuatmu lari,
tapi aku mau tahu ini semua tentang apa.
Kau lebih percaya orang lain dibanding istrimu?
Jika Nak tahu tentang ini, betapa kesalnya dia?
Dan orang yang seribu kali lebih kesal
adalah aku.
Sebab aku mencintainya.
Aku tak mau melihat orang yang kucintai tak bahagia.
Cintaku tak perlu memiliki.
Aku bahagia hanya dengan menjaganya.
Itulah cintaku.
Aku berbeda darimu, Mak.
Cintamu kecil.
Pikiranmu picik,
tapi pikiranku terbuka.
Kau punya cinta sejati,
tapi cintaku sangat amat sejati.
Sejati dikali empat.
Bahkan hujan jadi saksi cintaku.
Nak.
Senyummu saja sudah membuatku sangat bahagia.
Nak!
Dia sungguh tak bisa lihat kita?
Mengidam. Hanya ingin melihat kelapa.
Hanya ingin melihat?
Aku hanya ingin melihatnya.
Di mana Nak?
Nak.
Nak.
Tid Noi.
Kau bilang pikiranmu terbuka.
Ya. Mengapa?
Mengapa kau tak lihat ke atas?
Tak ada apa-apa di sana.
Mak.
Mak.
Nak.
Nak.
Jika ada kehidupan selanjutnya,
kuharap kita bisa menjadi suami dan istri lagi.
Mak.
Jaga dirimu.
Si bayi dan aku harus pergi.
Sampaikan terima kasihku pada Tid Noi.
Nak.
Mak.
Nak.
Mak.
Nak.
- Nak. - Mak.
Nak.
- Nak. - Mak.
Nak.
Nak.
Oh?
Nak?
Nak?
Nak!
Nak!
Badai apa ini?
Rumahnya jadi tampak tua dalam semalam.
Silakan lewat sini.
Mak.
Maksudku, Luang Pee Mak.
Ya…
Apakah perkataanku semalam yang mengilhamimu untuk jadi biksu?
- Ayu vanno sukham balam. - Dan… Di mana Nak?
Dia sudah pergi.
Ke mana?
Ke utara?
Ke selatan?
Buang kotoran.
Apakah Nak orang selatan?
Dia sudah kembali ke selatan.
Kau akan mengatakan kebenarannya kepadanya?
Dia tak akan memercayaiku.
Terkadang, ketidaktahuan
membuatmu lebih bahagia.
Kapan dia akan kembali?
Sayangku, Nak.
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
Wah, Noi.
Kau tidak merawat diri sendiri?
Kau tak mau bercukur?
- Ayu vanno sukham balam. - Yah…
Nak?
Dia belum kembali, Tid Noi.
Sayangku, Nak.
Mengapa dia sangat mencintai Nak?
Cinta Tid Noi
bukan cinta sejati,
tapi cinta sangat amat sejati.
Tid Noi.
Apakah kau masih menunggu Nak?
Ya, benar.
Jika kau menunggu, aku akan menunggu.
Menunggu Nak?
Menunggumu.
Tid Noi.
Oh, kurasa aku sangat takut.
Oh, aku takut.
Di sini sangat tinggi.
Kakiku gemetar.
Biar kupejamkan mataku.
Tanganku gemetar.
Mengapa gemetar?
Aku tak bisa membuka mataku. Aku takut.
Duduk saja di atas balok.
Tunggu.
Tunggu saja.
Oke? Sudah oke sekarang?
Sebentar.
Tak ada yang bisa dipegang. Aku takut.
Aku merasa pusing.
Tid Noi.
Aku merindukan Mak.
- Bisa aku ulang lagi? - Ya.
Halo.
Halo. Namaku Na…
Lagi.
Aku bilang Nak…
Dan orang yang seribu kali lebih kesal
adalah aku.
Karena aku mencintainya.
Lagi.
Sayangku, Mak
- Oke. - Suaraku turun.
Oh, tunggu.
Tenang.
Meng, kau mau ke mana?
- Sini… - Kau mulai lagi.
Ulurkan dayungnya padaku.
Kau tak sadar, Tid Noi,
warga desa di sekitar sini… Sial, aku menggumam.
Mangganya salah arah.
Papan klip.
Aku tersedak mangga.
Aku minta air.
Nak.
Nak pasti sibuk,
karena dia akan melepas kepergianku.
Mengapa kau tak tahu apa-apa?
Aku juga ingin menyanyi.
Berbaringlah.
Sialan.
Aku sangat takut padamu.
Harus selipkan bunganya.
Papan klip.
Cut delapan, pengambilan satu. Kamera setelah papan.
Tunggu. Apa itu?
- Sudah di-cut. - Cut apanya?
Aku belum bilang sepatah kata pun, Meng.
Aku datang ke sini saat fajar cuma untuk ini?
Aku tak menyalahkanmu, aku menyalahkan sutradara.
Siapa?
Siapa sutradaranya?
- Teng. - Kau bilang Teng?
Ya.
Teng.
Apa ini?
Sebuah film, Tid Noi.
Aku bertanya tentang tokohku. Mengapa aku diperlukan di sini?
Kau berani melakukan ini pada Ananda?
Melakukan apa?
Melakukan apa? Hanya satu adegan dan ditembak mati.
Kuhabiskan waktu lebih lama untuk berdandan daripada untuk tampil.
Tunggu saja Tid Noi 2.
Menurutmu akan ada Tid Noi 2?
Mungkin bahkan trilogi.
Trilogi apanya, Teng?
Apa yang kau tertawakan, Tor?
- Apa yang kau tertawakan? - Kuantar pakai perahu.
Tidak. Aku bisa berenang, Berengsek.
Apa yang kau lihat?
Cut.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.