Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Subtitle : PatrickStar RESYNC : NAFAS_KUDA
Aku membenci banyak orang.
Di Kota Annam yang kutahu,
banyak orang yang berpura-pura jadi orang.
Belakangan ini karena kota dalam proses perkembangan,
banyak orang yang jadi gila demi hasrat pribadi.
Misalnya Walikota Annam, Park Seong Bae.
Bisa dibilang kota Annam digenggam sepenuhnya oleh orang ini.
Kaum oposisi tentu takkan berdiam diri saja.
Perang terus sepanjang hari, tiap hari.
Dan aku... berada di pihak orang yang menang.
Walikota kami kembali memanggilku secara rahasia.
Bajingan itu memanggilku untuk melakukan sesuatu untuknya.
Bukan aku, sungguh itu bukan aku.
Lalu siapa ini?
Ayahmu?
Kau sungguh masih anak sekolahan?
Aku sekolah di SMP Anpyeong, kelas 3.
Pegang!
Mendekatlah!
Baca kalimat ini!
Ini aku.
Aku minta maaf.
Sidang kali ini aku tidak bisa hadir sebagai saksi.
Apa yang pernah kubeberkan pada polisi,
semuanya karanganku sendiri.
Tolong sampaikan pada polisi aku minta maaf.
Bagus! Mantap jiwa! Aku sayang padamu.
Walikota Annam Park Seong Bae yang dituduh melanggar UU Pemilu
Agustus tahun lalu didenda 3,5 juta Won sehingga hampir menyebabkan jatuhnya harga saham.
Hari ini divonis tidak bersalah dan bursa saham kembali normal.
Dalam sidang kali ini yang harusnya dihadiri oleh saksi,
namun pagi tadi tiba-tiba menolak hadir di persidangan.
Sekarang mari kita dengarkan pendapat dari Walikota Annam.
Walau pengadilan memvonisku tidak bersalah,
tapi jaksa menuntutku saat mereka tidak punya bukti ataupun saksi.
Masuk akal, kah?
Menurutku ini sangat merugikan reputasi dan harga diri 480 ribu penduduk Annam.
Benar!
Tolong minggir sedikit.
Walikota mau lewat.
Tn. Jaksa, maaf telah menyusahkanmu.
Kau tahu kenapa saksi menolak hadir?
Menurutmu? Mungkin dia merasa bersalah karena berbohong di sidang sebelumnya?
Mendadak telpon dan bilang tidak ada yang ingin dia sampaikan.
Ada apa?
Kalian pikir hukum itu candaan saja?
Dan kau pikir bisa berbuat sesuka hati pada hukum?
Ternyata jaksa bisa juga mengancam orang.
Kau tidak perlu mengurus imejku, biar kuurus sendiri.
Hentikan!
Brengsek, apa yang kau pegang?
Banyak orang yang melihat.
Diam!
Kau menyelidiki pasar Minseon?
Sekarang sudah tahun berapa? Kalian masih memakai otot dalam menyelesaikan masalah?
Apa katamu?
Tolong minggir, Walikota mau lewat.
Park Seong Bae! Park Seong Bae!
Kalau kau berhenti, dan aku merindukanmu bagaimana?
Kau tidak merasa aneh harus pakai jas tiap hari?
Justru harus terlihat aneh.
Hyeongnim, kalau begitu jangan ragu.
Tidurlah!
Loyalitas.
Bukannya kusuruh kau telpon kalau Lee Min Seob sudah tiba di Filipina. Kenapa tidak telpon?
Bajingan itu tidak mau ke Filipina. Aku hampir membunuhnya agar mau masuk pesawat.
Jadi dia sudah tiba kemarin, kan?
Hari ini baru berangkat.
Aku menunggu ia sadar sedikit.
Hari ini?
Kau ganti sesuka hatimu?
Biar aku yang urus, Hyeongnim.
Hyeongnim, kau harus percaya padaku.
Berdiri tegak! Berdiri dengan baik!
Kau pikir yang kau lakukan itu hebat?
Dasar bodoh! Sialan!
Kau apa?
Sampah.
Bersihkan hidungmu!
Awasi Lee Min Seob, paham?
Hei, mau kau hitung satu-satu?
Bukankah kusuruh kau tunggu di luar?
Orang yang mau berhenti besok...
Kau akan tahu sendiri saat menyembunyikan diri.
Kenapa kemari?
Hei Jakdaegi, belakangan ini kau masih sering ke Filipina?
Bisnisnya sudah lama selesai. Buat apa kesana?
Tundukkan kepalamu kalau bicara denganku, Bangsat.
Hyeongnim, kenapa kau begitu?
Walikota Park baik-baik saja?
Ha?
Keparat, jangan kau habiskan sendiri.
Aku tahu semua apa yang kau kerjakan.
Apa maksudmu?
Saksi sidang itu...
bukankah dia ditahan oleh orang ini?
Kau mengganggu urusan jaksa. Kau tahu itu melanggar hukum, kan?
Hyeongnim! Hyeongnim!
Dengar dulu penjelasanku.
Tidak ada untungnya bagiku jika dia kutangkap.
Karena itu lepaskan dia dulu.
Banjang-nim, loyalitas.
Apa itu?
Sabarlah!
Biar aku yang kejar.
Hei! Hei! Seon Mo!
Sial!
Moon Seon Mo!
Sialan! Kenapa kau tiba-tiba muncul, brengsek?
Sial!
Kabur ke mana dia? Jangan sampai tertangkap.
Sembunyi di mana dia?
Jakdaegi!
Jakdaegi!
Jakdaegi di mana kau?
Dasar bajingan.
Bangsat sialan, cepat sembunyi!
Dasar pecandu.
Kim Kyeong Min ada di sini. Cepat tangkap dia!
Kau kambuh, ha?
Sudah ketemu?
Seon Mo.
Keparat ini adalah pecandu?
Cepat pergi, kampret!
Jangan bergerak!
Seon Mo, jangan seperti itu.
Singkirkan dulu senjatamu.
Kalau kau masih bergerak, akan kutembak.
Singkirkan dulu senjatamu!
Kalau kau masih bergerak, akan kutembak.
Dasar sial!
Seon Mo, kau...
Dasar goblok! Sialan!
Hei! Hei! Hei, Seon Mo!
Sial, hari ini tidak ada hal yang berjalan lancar.
Brengsek.
Yang satu mau memukulku, satunya lagi mau menangkapku.
Bangsat!
Sialan!
Kalau masih juga bergerak, aku kutembak!
Lihatlah!
Pistol kosong bisa membunuhku?
Ini ada pelurunya, bangsat!
Jangan bergerak! Akan kutembak!
Jangan! Hei! Jangan bergerak!
Tembak saja! Ayo tembak!
Banyak bacot, sialan!
Hei! Hei! Tunggu!
Jangan hubungi 119?
Tertangkap? Brengsek!
Bagus.
Hyeongnim!
Hyeongnim, dengar penjelasanku!
Penjelasan apa?
Jakdaegi urusanmu, uang urusanku. Begitu, kan?
Seon Mo, mau kuberi sedikit?
Lepaskan!
Sialan!
Bajingan kau!
Kenapa aku dimaki-maki terus?
Kenapa? Aku tidak boleh memakimu?
Keparat!
Bajingan, kenapa? Memangnya aku kenapa, ha?
Aku hanya ingin menjauhkanmu dari perbuatan yang salah. Apa salahku?
Do Kyeong, kudengar selama ini kau selalu membantu Walikota Park membereskan masalahnya.
Kenapa aku tidak boleh mengambil uang ini?
Kau boleh tapi aku tidak?
Uang ini untuk Jakdaegi, kenapa kau ambil?
Ok, minggir!
Seon Mo, jangan takut.
Harus dilaporkan, Hyeongnim.
Bukankah harusnya dilaporkan?
Kan? Do Kyeong? Harus dilaporkan, kan?
Kau mau mati?
Kau bercanda?
Dasar gila!
Lepaskan!
Kenapa memukul Seon Mo?
Brengsek!
Hentikanlah! Bajingan!
Sialan!
Cukup! Brengsek! Hentikan! Hentikan!
Hentikan!
===ASURA===
Awalnya kau bilang tidak tahu kalau Hwang Banjang akan ke sana.
Tapi, Hwang Banjangnim bilang mau melakukan investigasi.
Menurutku ini sangat aneh.
Aku juga heran mengapa bisa seperti ini.
Begitulah polisi. Sangat tidak ingin punya catatan kriminal.
Sudah kukatakan, situasinya mendadak jadi aku bisa apa?
Ulangi lagi dari awal!
Ulang lagi?
Ini yang terakhir.
Setelah menerima telepon, aku langsung menjawabnya.
Kau tahu kan bagaimana orang yang sedang memakai narkoba? Mana mungkin punya pikiran yang waras?
Karena takut dia berbuat aneh, aku langsung kesana menemuinya.
Di mana ini?
Kau membunuh polisi?
Bangsat!
Cukup! Hentikan!
Aku Han Do Kyeong.
Aku ingin melaporkan suatu hal.
Hwang Banjangnim jatuh dari gedung tingkat dua.
Segera kemari.
Atas tuduhan membunuh polisi, kau ditahan.
Kau berhak untuk tetap diam.
Juga berhak mencari pengacara.
Walaupun kejadiannya tiba-tiba,
mana mungkin 3 orang polisi tidak bisa menangkapnya?
Dia terjatuh lewat terali besi, aku bisa apa?
Seberapa jauh kau dari Hwang Banjang?
Sekitar 4 atau 5 meter.
Dorongan Jakdaegi sangat kuat.
Jakdaegi? Apa dia tidak punya nama lain?
Kenapa menggunakan banmal? [Banmal: Bahasa tidak sopan]
Sudah kubilang kau tidak perlu ikut menginterogasi.
Han Hyeongsanim. [Hyeongsa: Detektif]
Ya?
Investigasi sudah selesai. Kau boleh pergi.
Maaf telah menyusahkanmu.
Apa yang kau lihat?
Aku tampan?
Katanya kau mau berhenti kepolisian.
Kenapa?
Karena aku tidak mau bekerja sebagai polisi.
Mengapa tidak mau?
Pekerjaan polisi ternyata tidak cocok untukku.
Masalah tentang Jakdaegi
aku tidak boleh tahu?
Jangan bicarakan itu lagi. Makanlah!
Kau yakin mau seperti ini?
Bagaimana kalau kita ceritakan saja kejadian yang sebenarnya?
Habis makan kita beritahu pada mereka.
Aku yang membunuhnya, aku telah berbohong. Maafkan aku.
Bagaimana?
Aku hanya bicara asal-asalan.
Angkat kepalamu dan lihat aku!
Maaf.
Kenapa minta maaf?
Kenapa kau minta maaf?
Sepertinya aku salah bicara.
Bukan 'sepertinya' tapi kau memang salah.
Sudah berapa kali kubilang, aku terpaksa.
Aku terpaksa seperti itu.
Apa ini kesalahanku?
Atau salahmu?
Bukan.
Makanlah.
Masalah ke depannya tidak akan mudah.
Jika persoalan ini tidak diselesaikan sekarang akan timbul masalah besar nantinya.
Mulai minggu depan aku akan menjadi pengawal Walikota.
Aku akan memulai hidup baru.
Aku tidak mati.
Ini ada hadiah dari seseorang.
Saat lagi bosan, kau bisa melihatnya.
Kau merasa tidak nyaman?
Hari ini aku dapat uang lagi.
Berapa?
20 Juta.
Ditambah 5 juta.
Kau pasti senang dapat uang terus, kan?
Tidak.
Oh ya...
Aku akan segera mengundurkan diri. Tidak apa-apa, kan?
Itu tidak baik bagimu.
Tak lama lagi akan segera membaik.
Iya, aku akan terus bertahan.
Iya.
Bukankah penyelidikan sudah selesai?
Bukan tentang itu, tapi yang lain.
Yang lain apa?
Aku tanya, yang lain apa?
Interogasi itu bagianku.
Singkirkan!
Menurut aturan, harus direkam.
Tidak usah direkam!
Harus.
Kau tahu orang yang akan menjadi saksi dalam kasus pelanggaran UU Pemilu Walikota Annam, kan?
Siapa?
Lee Min Seob.
Orang yang menolak bersaksi dan justru bersembunyi itu.
Mana mungkin aku mengenal orang seperti itu?
Bukankah dia kau sekap dan kau ancam agar menolak bersaksi?
Kalian sedang mengarang cerita atau apa?
Kudengar kau sering bertemu Lee Min Seob.
Sering minum bersama, dan nongkrong bersama.
Menurut orang-orang terdekatnya,
dia memiliki teman yang jadi seorang polisi di Annam.
Aku belum pernah melihat orang ini.
Mayatnya ditemukan di Filipina.
Pagi tadi.
Lalu?
Aku terlambat.
Kau sudah tiba?
Matikan!
Baik.
Aku Kim Cha In dari Gyeonggi-do.
Aku Kim Cha In dari Gyeonggi-do. [Jaksa Kim Cha In]
Aku Kim Cha In dari Gyeonggi-do.
Sudah kau perlihatkan?
Ya.
Sudah lihat foto di lapangan parkir bandara?
Inti masalahnya ada di situ.
Orang bernama Jakdaegi yang bersama Lee Min Seob ini kau kenal, kan?
Malam itu hampir mati kau siksa.
Kenal, kan?
Dia membunuh Banjang-nim kami. Jika bajingan ini membunuh orang, momennya sangat pas.
Sebenarnya aku bermaksud menghajarnya sampai mati.
Dulu aku sering dengar rumor yang bilang sifatmu seperti seorang gangster.
Aktingmu boleh juga.
Mengapa menuduh seorang polisi yang tidak bersalah tanpa bukti?
Kudengar kau sudah mengajukan surat pengunduran diri dan akan bekerja sebagai pengawal pribadi Walikota Annam.
Jadi atau tidaknya belum pasti. Aku hanya sekedar ikut seleksinya.
Masih mengelak?
Kau bertemu dengan Walikota Park Seong Bae sebanyak 22 kali.
Ini surat pengunduran dirimu, kan?
Karena kasus Hwang Banjang, pengunduran dirimu harus ditunda.
Akan ku urus nanti.
Apanya?
Kubilang nanti aku yang mengurusnya.
Apa perkataanku sulit dipahami?
Bukankah seharusnya atasanku yang mengurus ini?
Aku adalah atasan dari atasanmu.
Bawakan aku secangkir kopi!
Sial!
Tundukkan kepalamu! Tundukkan!
Brengsek!
Kepalamu... tundukkan!
Tundukkan kepalamu!
Tundukkan kepalamu! Tundukkan kepalamu!
Tahan dia!
Sialan kau! Kau pikir aku ini kriminal, bajingan?
Bangsat!
Sekarang, ingatlah 2 hal ini.
Pertama, tidak banyak waktu tersisa. Sampai tanggal 20 November kau masih bisa hidup.
Kedua. Lepaskan dia! Minggir.
Sebelum itu tiba, bawakan aku rekaman suara Park Seong Bae yang memintamu menculik Lee Min Seob.
Lepaskan dia! Biarkan dia duduk!
Duduklah!
Selama ini sudah banyak hal yang kau lakukan untuk Park Seong Bae.
Walaupun Park Seong Bae bisa menghindari hukuman, tapi kau tidak bisa.
Kau tahu kenapa?
Karena kau yang bertugas mengurus pekerjaan kotor.
Kalau diselidiki, setidaknya kau bisa divonis hukuman penjara paling rendah 3 tahun.
Aku sangat ahli dibidang ini.
Lahan emas yang dulunya pangkalan militer A.S.
dijadikan bahan hinaan orang selama 4 tahun gara-gara siapa?
Ada seorang Walikota menulis pesan di situs web pemerintah,
yang mencegah pembangunan kota Annam adalah Komite Pembangunan.
Sedikitnya ada 500 kata dipostingan itu.
Tunggu, tunggu dulu!
Untunglah akhir bulan ini Komisi Pembangunan akan dibubarkan.
Sungguh patut disyukuri.
Tn. Walikota! Tn. Walikota!
Kalau kau ingin bicara sendiri, untuk apa kau mengundang kami ke sini?
Sekarang saatnya bicara, nanti akan ada sesi tanya jawab.
Begini, dari awal Komite Pembangunan sudah menetapkan akan segera memulai pengembangan usaha.
Lalu siapa yang akan menetapkan jika pembangunan dialihkan ke Gyeonggi-do?
Hak pembangunan kota Annam hampir saja terjual.
Siapa yang kemudian mengacaukannya?
Bu-uiwonjangnim, bisakah aku mengajukan sebuah pertanyaan?
Apa?
Sebenarnya maksud dari "jual" sama saja dengan monopoli, kan?
Segera minta maaf atas pernyataanmu tadi!
Hei, hentikan! Hentikan!
Semuanya mari kita keluar saja.
Tidak ada lagi yang perlu didengarkan.
Roti macam apa ini? Ayo pergi!
Seorang walikota yang sangat kompeten mengapa selalu dipersulit?
Tidak kusangka kau begitu sembarangan.
Bukankah kau juga akan terus mendorong pembangunan kota baru?
Lebih baik jika terus dijadikan pangkalan militer A.S. saja.
Perkataan orang itu tidak bisa dipercaya.
"Orang itu"? Baru saja kau bilang "orang itu"?
Tidak pantas berbicara seperti itu dalam pertemuan resmi.
- Apa katamu? - Bicara seperti apa?
Perkataanmu terlalu menakutkan. Sampai aku kencing di celana.
Ayo! Kalau maksudmu begini, lain kali jangan undang kami lagi.
Tidak mau bekerja denganku?
Ini pekerjaan yang sudah lama kutunggu-tunggu.
Sudah kubilang, akan segera menyerahkan surat pengunduran diriku.
Tapi karena kasus Hwang Banjang belum tuntas, jadi mereka tidak bisa memprosesnya.
Aku bilang aku mengerti. Kalau kasus sudah selesai baru aku akan pergi.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Entahlah. Aku juga tidak menyangka masalahnya jadi seperti ini.
Perasaanku terhadapmu kadang suka, kadang benci.
Kenapa?
Aku membuat banyak masalah.
Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan membereskannya.
Karena itu, aku sedang mencari solusi.
Bagaimana keadaan Jakdaegi?
Kudengar kemarin sudah sadarkan diri.
Jangan membuat masalah jadi begitu rumit.
Itu tidak seperti cara kerjamu biasanya.
Aku akan fokus.
Tn. Walikota...
Siljangnim, biar kulihat. [Siljang: Sekretaris]
Bagian bawahnya masih belum kering. Keringkan lagi!
Baik.
Eun Siljangnim, candaanku di akhir rapat tadi bagaimana?
Humor Tn. Walikota tadi membuat semua orang takluk.
Tidak sampai semuanya.
- Benarkah? - Tentu.
Orang ini terlalu banyak tingkah.
Do Kyeong, kau berniat untuk tidak peduli pada Jakdaegi lagi?
Semua ini terjadi karena dia pecandu narkoba.
Dia membunuh polisi.
Maka dari itu, mengapa kau tidak mencegahnya?
Hyeong, bukannya kau mencariku?
Benar!
Kau dan aku tidak bisa bertemu secara rahasia begini.
Bukankah kita dari pihak yang berlawanan?
Aku tahu.
Tapi kelihatannya aku harus berhenti pura-pura beroposisi.
Kenapa? Kau masih harus bertahan di situ.
Bajingan-bajingan itu
berniat menjatuhkanku dan mengambil proyek 800 milyar itu.
Maksudku, orang-orang di partai oposisi itu sudah mulai curiga.
Kalau diteruskan lagi cepat lambat pasti ketahuan.
Lagipula jika kedua belah pihak terus menindasku,
aku menderita karena terdesak di tengah.
Kau yang tidak pintar memperoleh kepercayaan.
Karena itulah aku jadi sangat lelah.
Kabarnya orang-orang itu melobi Kepala jaksa untuk melawanmu.
Kalau begitu kita juga harus mencari Jaksa untuk melawan mereka.
Aku juga berpikiran seperti itu.
Jika punya dana 20 Milyar aku akan langsung mencari Jaksa yang pas.
Tapi Hyeongnim, masalahnya sekarang kita tidak punya dana.
Sial, lagi-lagi soal uang.
Ingn melakukan banyak hal tapi tidak punya uang.
Kau tahu sudah berapa banyak uang yang diambil dari Siljang kami?
Sial, hentikan ocehanmu!
Dasar goblok!
Memangnya hanya Mingpyeong-dong yang mau menjual tanah?
Mau berapa kali kuulangi?
Ingin membangun area bisnis yang luas
di Dongnam, Jaedeok, Jipyeong, sebelum mendapat izin pembangunan
jangan pernah menyerah.
Bangsat! Sialan!
Ini...
Jika Dewan Kota menentang,
pembangunan tidak bisa dilanjutkan.
Tn. Walikota, kali ini kau terlalu memaksa mereka.
Kau mengucapkan kata-kata yang membuat mereka marah.
Hyeongnim, kita harus bermain tarik ulur dulu.
Kau sungguh tidak paham bagaimana politik bekerja.
Aku akan bekerja untuknya.
Tapi ada rumor kalau Walikota itu
sangat menakutkan.
Sudah kubilang jangan percaya rumor itu.
Jika dia sudah menganggapmu orang sendiri, dia pasti akan membelamu mati-matian, paham?
Berapa gajimu sekarang? Hanya sekitar 2,2 juta?
Gaji pokok 4 juta, ditambah bonus.
Sial! Uang, uang, uang.
Aku pindah kesana bukan karena uang.
Tapi karena aku sangat percaya padamu, makanya aku bersedia kesana.
Sial, ucapanmu terlalu menjijikan. Setiap hari cuma bisa bilang percaya padaku? Kampret!
Aku cukup setia, kan?
Sial, aku berterima kasih padamu.
Ada apa?
Kenapa tanpa persetujuanku kau mengambil kembali surat pengunduran diri?
Apa yang dia janjikan padamu sampai kau bisa begitu?
Langsung ke topik pembicaraannya saja.
Kami menemukan sebuah tempat yang pas dan mendirikan sebuah kantor.
Alamatnya akan kukirim padamu.
Kerja mulai besok.
Sial.
Kerja yang benar.
Kami orang-orang yang tidak sabaran.
Tak lama lagi Park Seong Bae akan kami bereskan.
20 November akan segara tiba.
Jika tidak mau masuk penjara, bawakan kami sesuatu!
Iya.
Sebelah sini.
Menurutku disini akan dibangun...
Tapi setelah Park Seong Bae terpilih kembali menjadi walikota,
ia bermaksud mempertahankan hak pembangunan daerah ini.
Kekuatan oposisi memilih bersatu dan menentang Walikota.
Tae Byeong Jo termasuk dalam oposisi.
Masalah ini sedikit aneh.
Sebelumnya, 90% dana politik Park Seong Bae berasal dari Tae Byeong Jo.
Mungkin mereka sebenarnya bekerja sama.
Mungkin dia mengetahuinya...
apa hubungan dua orang ini?
Jawab dengan benar!
Dua hari yang lalu kau mengambil kembali surat pengunduran dirimu.
Dia juga tahu.
Sudah kau rekam?
Kenapa?
Aku tidak menerima instruksi untuk menculiknya.
Langsung masukkan dia ke penjara baru kita interogasi.
Solusi yang kau temukan setelah berpikir keras adalah
menyuruh Moon Seon Mo menggantikan posisimu?
Dia sendiri yang ingin ke sana.
Aku bisa apa?
Kalian berdua benar-benar...
Di tempat yang sangat sempit itu
ternyata kalian sedang bekerja keras.
Ok, kalau begitu akan langsung kusebar saja.
Demi menjatuhkan Walikota Annam,
Kantor Kejaksaan Gyeonggi melakukan investigasi secara ilegal.
Akan kuberitahu media supaya menyebarkannya di internet.
Jangan terlalu senang, duduk!
Jaksa Kim tidak tahu kalau aku sangat brengsek.
Duduklah!
Lihat saja nanti, bangsat.
Nomor telepon isteimu, 010-3348-4988. Benar, kan?
Kalau begitu aku akan langsung kukirim saja.
Jangan!
Apa? Tidak kedengaran. Apa katamu?
Jangan.
Aku tidak dengar kau bilang apa.
Dia sudah sekarat.
Sudah tahu, lalu kenapa masih menelantarkan istrimu yang sekarat
dan bersenang-senang dengan cewek lain?
Sial!
Anggap saja untuk menebus dosa terhadap istrimu.
Do Kyeong, kau saja yang tekan tombol kirim.
Kenapa kau harus begitu?
Ayo tekan!
Tekan tombol kirim.
Tekan!
Ayo tekan!
Jaksa sialan!
Brengsek!
Ayo tekan!
Ayo tekan! Bajingan.
Kau tidak perlu begitu.
Pasti akan kurekam.
Rekam apa?
Instruksi Walikota yang menyuruhku menculik Lee Min Seob.
Mengkaitkannya dengan Tae Byeong Jo.
Menggugat bahwa organisasi mereka melakukan kejahataan terorganisir akan lebih mudah kan?
Park Seong Bae harus ditangkap dulu, lalu kemudian menyapu bersih semuanya.
Jika mau menyelidiki orang-orang di sekitarnya,
harus melalui prosedur yang resmi.
Dia akan berpikir jika kita bertindak asal-asalan, kan?
Jaringan informasi harus lebih hebat dari kita.
Daejang-nim, sepertinya dia sudah kebanyakan minum.
Dia kuat minum juga.
Kutuangkan segelas untukmu.
Ya.
Tn. Jaksa...
Ya?
Boleh aku bertanya?
Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanya saja.
Kudengar ada kemungkinan Kepala Jaksa Oh berada di pihak yang berlawanan dengan Park Seong Bae.
Kau bawahannya?
Bawahan?
Itu hanya gosip.
Hei, pertanyaan macam apa itu, brengsek!
Jaksa bilang aku boleh bertanya, goblok.
Daejang-nim...
Keluar kau!
Daejang-nim. [Daejang - ketua tim]
Kubilang keluar!
Kalian berdua duduk!
Daejang-nim!
Tenanglah.
Detektif Han...
Sebelum menangkap penjahat, polisi itu sangat sabar.
Kami juga begitu.
Kita harus saling mempercayai agar bisa menangkap penjahat, bukan begitu?
Omong kosong.
Jika kau bukan seorang jaksa,
sudah dari dulu kuhabisi kau.
Lepaskan!
Detektif Han, aku sangat kagum dengan keberanianmu.
Keren sekali, Han Do Kyeong.
Ah, sialan!
Diam, bangsat!
Sialan.
Mau kubantu?
Tidak perlu.
Terluka lagi?
Hati-hatilah.
Hyeongnim kita sangat hebat.
Loyalitas.
Dia akan ke sini dalam waktu 5 menit.
Kau pakai yang model baru?
Sekarang ini siapa juga yang masih pakai model lama? Memalukan.
Giorgio Armani, kubeli waktu ada diskon.
Hyeong, halusnya...
Bagaimana? Kerja dengan Walikota tidak mudah, kan?
Kerjaannya hanya memaki-maki. Orang itu gila.
Tapi aku senang bisa ke sana.
Awalnya aku sangat benci orang-orang di ranah politik.
Tapi setelah kuperhatikan, ternyata lumayan keren juga.
Politk yang mereka mainkan benar-benar...
Yang kau dapat pasti tidak sedikit, kan?
Benar-benar diluar dugaan!
Bisa dibilang sekarang ini aku seperti terlahir kembali.
Harusnya kau pindah kamar sejak dulu.
Dia tidak mau.
Mandikan dia. Ada bau tidak sedap.
Aigoo...
Jidatmu kenapa?
Anda berbaring saja dulu di sini.
Aigoo...
Jaksa kampret yang bernama Kim Cha In itu
angkatan ke-32.
Lulusan Fakultas Hukum dan dia bukan orang Yeongnam.
Jika cara yang kita pakai lebih kejam lagi, harusnya dia bisa dibereskan.
Yang anda maksud itu Unit Khusus Kantor Kejaksaan, kan?
Aigoo, Tae Byeong Jo.
Sudah melakukan banyak pekerjaan kotor.
Dia akan mengkhianatiku, kan?
Karena itulah saya menyarankan Anda untuk menjauhinya.
Tapi 10 tahun belakangan, dia sudah menjadi anjing pemburu.
Sebaiknya kita tidak berpikir negatif.
Walau begitu, Anda harus tetap menghabisi hingga ke akar-akarnya.
Jangan menghakiminya.
Kedengarannya seperti kau sedang memberiku perintah.
Saya bilang begitu karena saya menempatkan diri saya di posisi Anda, Tn. Walikota.
Hei, manusia tidak mungkin menempatkan diri di posisi orang lain dan berpikir.
Manusia hanya akan memikirkan dirinya sendiri.
Kecuali Do Kyeong.
Tentu.
Nanti baru masuk lagi.
Tunggu sebentar!
Maaf.
Aku habis dari kamar mandi.
Keluarkan itu!
Dibuat dengan menggunakan nama seorang petani tua di Yeoju.
Kau, aku, dan Eun Siljangnim pakai HP khusus untuk berkomunikasi sekarang.
Pakailah itu untuk menghubungiku.
Baik.
Empat orang, termasuk aku.
Kudengar hubungan kalian sangat dekat layaknya kakak-adik.
Iya.
Kampret!
Betul, pria harus berani bicara loyalitas.
Iya.
Jika kau disuruh diam langsung diam,
hidup begitu, kau akan sukses?
Aku bersalah.
Aku akan bekerja lebih baik lagi.
Bocah ini cukup menggemaskan.
Ayo pergi!
Baik.
Rawat dia dengan baik.
Ambilah! Aku tidak tahu dia bisa makan atau tidak.
Terima kasih.
Do Kyeong...
Bagaimana kalau preman itu kita bunuh saja?
Tae Byeong Jo?
Kau mau?
Kenapa? Kau tidak mau?
Kampret, apa yang kau takutkan?
Aku hanya bercanda.
[Rekaman Suara]
[Hapus]
[Hapus rekaman terpilih?]
Mau peniti khusus buat baju?
Biarkan aku sendiri!
Jangan hiraukan dia!
Dia orang yang sangat pemarah.
Mau makan nasi goreng?
Kenapa?
Karena kau terlihat menyedihkan.
Kau menyukaiku?
Najis!
Kau tipe pria yang paling kubenci.
Sudah pesan makan siang?
Halo!
Pasti kalian sudah lapar, kan?
Membuat sebuah tempat rapat rahasia.
Lalu kemudian memanggil orang sembarangan. Mau apa kalian sebenarnya, bodoh?
Aku sudah janji kalau diagramnya hari ini selesai.
Seperti hanya kalian saja yang bekerja siang malam.
Han Do Kyeong...
Isteri Park Seong Bae adalah adik tirinya yang satu ayah lain ibu.
Adik ipar.
Di rumah sakit kemarin apa yang kalian bicarakan?
Dia tidak mau membicarakan masalah saksi, aku bisa apa?
Kenapa kau tidak tanya, goblok?
Sebentar, tenanglah!
Ya, Bujang-nim.
Silakan bicara.
Apa?
Kita disuruh mundur.
Apa?
Untuk sementara kembali ke Suwon saja.
Anda baru saja bicara dengan Kepala Jaksa?
Yang di atas mungkin sudah memberikan tekanan.
Sialan! Kau cari mati?
Bukan dia,
tapi Walikota kita,
Hyeongnim-nya Han Do Kyeong,
minta bantuan pada mereka yang diatas.
Gunakan kesempatan ini untuk beristirahat.
Bereskan semuanya!
Ayo beres-beres! Beres-beres.
Bereskan!
Suamiku tidak mengizinkanku melihat buku tabungan.
Yang itu tidak penting. Lingkari saja nomor satu.
Bagus, bagus.
Do Kyeong kita.
Bekerja bersama dengan wanita cantik.
Aku hampir mati kegirangan.
Ada urusan apa?
Ada sebuah kasus sialan.
Jakdaegi bangsat itu menarik pernyataannya.
Aku sudah kudengar.
Aku tidak tahu kalau Hwang Banjangnim sudah meninggal.
Oh ya, kenapa dia bisa mati?
Diabetes?
Hepatitis?
Kami semua melihat kau mendorong Bangjangnim.
Sepertinya kau bersekongkol dengannya.
Kau mengarang cerita saja, brengsek.
Orang yang mengarang cerita bukannya kau?
Dari apa yang kulihat.
Perlukah aku menyinggung masalah gudang buah?
Siapa yang bilang kau bukan penipu?
Kau teruskan saja mengarang cerita fantasimu.
Kalau bicara jangan gemetar.
Kau seorang polisi.
Kenapa dia?
Bangsat, sialan!
Brengsek!
Bajingan!
Turun kau, bajingan!
Turun!
Lepaskan! Lepaskan!
Tenangkan dirimu!
Kenapa kau begitu marah?
Hyeong, kau kan tidak bersalah.
Enaknya makan sup ikan.
Kau kan bilang sudah bosan makan di sini.
Barusan kenapa kau seperti itu?
Bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku?
Siapa yang akan percaya perkataan bangsat sialan itu?
Hyeongnim kita ini benar-benar...
Makin tua sepertinya nyalimu makin ciut.
Bajingan sialan...
Kenapa memaki orang?
Seon Mo...
Aku pernah bilang jika mau bertahan hidup sampai akhir, harus bagaimana?
Harus tahu diri.
Tidak boleh kelewat batas.
Setelah mencapai tingkat tertentu, harus segera berhenti.
Hyeong...
Urusanku akan ku urus sendiri.
Duduk!
Aku harus pergi.
Kusuruh kau duduk!
Kau harus hadir dalam upacara besok.
Orang-orang yang berasal dari berbagai tempat demi mencari uang, semuanya berkumpul di situ.
Di awal-awal, untuk makan saja masih belum becus.
Setelah pemerintahan Republik keenam, [1987-sekarang]
dibangunlah kota Bundang. Sekarang berubah seperti apa?
Sekarang seperti apa?
Di atas ada cheondang, di bawah ada Bundang, kan? [Cheondang: Surga]
Annam kita, anda bisa lihat...
Akan menjadi tempat berkumpulnya para konglomerat.
Daerah apa?
Daerah konglomerat.
Tidak kedengaran.
Apa?
Daerah konglomerat.
Aku...
Park Seong Bae, akan menggunakan kedua tanganku dan membangunnya.
Katanya mau beli mobil?
Isi sendiri.
Kemarin kau marah?
Ada yang traktir sudah pasti senang, goblok.
Cepat masukkan ke dompetmu!
Ya.
Belakangan ini aku agak menyesal menyuruhmu meninggalkan kepolisian.
Kenapa harus menyesal?
Aku meninggalkan kepolisian bukan karenamu.
Dasar brengsek.
Distrik kita adalah Annam Metropolis.
Mari kita saksikan bersama!
[Walikota Kota Annam - Park Seong Bae]
Sangat bagus.
Semuanya tingkatkan kewaspadaan!
Hei, apa rencana hari ini?
Tae Sajang akan membuat keributan di sini.
Lalu kenapa baru sekarang aku diberitahu?
Memang kapan harusnya?
Aku pergi dulu.
Coba ceritakan secara singkat!
Aku juga baru tahu, bagaimana bisa bantu?
Walaupun tahu juga, tidak bisa kuceritakan.
Kau lupa prinsip Tn. Walikota?
Semakin sedikit yang tahu informasi, semakin baik.
Apa itu?
Reporter Kim!
Terlalu silau. Benda apa itu?
Hei, kamera!
Hei! Hei! Jangan potret!
Sial! Sudah kubilang jangan memotret.
Mulai sekarang, orang-orang kita jangan ada yang bergerak.
Hapus semua foto yang sudah kalian ambil!
Semuanya kumpul di sini!
Sedang apa mereka?
Kenapa hanya setengah jalan lalu berhenti, sialan!
Kalian sedang memfoto apa? Singkirkan kameranya!
Suruh mereka cepat bergerak!
Suruh mereka jangan mengambil foto lagi!
Kusuruh kau singkirkan kameramu!
Maaf.
Sajang-nim, Anda diminta segera bertindak.
Hei!
Kenapa Walikota kalian selalu menjadikanku kambing hitam?
Sepertinya dia ingin menyebarkan foto-foto yang sudah terlanjur diambil kamera itu di TV.
Sialan, kalau itu kau, kau mau bertindak?
Suruh dia segera bertindak!
Bagaimanapun juga, tolong segera bertindak.
Dasar bodoh!
Bajingan tidak tahu aturan tata krama!
Cari mati?
Bangsat.
Bertindak?
Kenapa tidak kau saja yang bertindak sendiri, kampret?
Berikan padaku!
Kau coba saja sendiri!
Lihat tampangmu, kau pasti sanggup.
Sajang-nim.
Lepaskan, brengsek.
Lakukan sesuai kesepakatan, bagaimana?
Hei, Do Kyeong...
Aku tidak mau melakukan apa yang disuruh bajingan itu.
Hei, ayo kita pergi!
Tunggu!
Seonsaeng-nim!
Seon--Seonsaeng-nim!
Sedang apa kau sekarang
di sini?
Tn. Walikota!
Lepaskan aku!
Kusuruh kau lepaskan!
Bicara langsung padaku.
Kau tidak boleh pergi!
Kusuruh kau lepaskan!
Tn. Walikota!
Hei, Tae Gyeong Jo!
Apa?
Kau tidak boleh pergi.
Jangan berkelahi!
Jangan berkelahi!
Jangan!
Jangan ribut!
Lepaskan aku, goblok!
Jangan berkelahi!
Tolong jangan berkelahi!
Apa yang kau lakukan?
Lepaskan aku, bajingan!
Sialan, brengsek!
Lepaskan, bangsat!
Tn. Walikota!
Darah!
Reporter! Reporter!
Orang ini pelakunya.
Orang itu!
Orang itu pelakunya!
Aku tidak apa-apa.
Aku... Park Seong Bae...
akan menyertai Anda semua hingga penghujung jalan.
Park Seong Bae!
[Walikota kota Annam Park Seong Bae diserang dengan benda tajam. Warga Annam berduka]
[Walikota kota Annam Park Seong Bae diserang dengan benda tajam. Warga Annam berduka] Apa akan terus kita biarkan?
[Walikota kota Annam Park Seong Bae diserang dengan benda tajam. Warga Annam berduka] Tidak masalah jika beritanya seperti ini?
Tidak masalah jika beritanya seperti ini?
Siapa yang kau maksud dengan membiarkan?
Masih pagi sudah begini... sial!
Harusnya dihentikan.
Menyebalkan.
Kau tahu jika mereka berdua sudah sekongkol, kan?
Maaf.
Kau sudah kuminta untuk menangkapnya sebelum 20 November.
Seperti yang kau katakan.
Jangan ikut campur masalah ini lagi.
Bujang-nim...
Beri aku sedikit waktu lagi.
Aku pasti akan menangkapnya.
Sialan!
Kenapa dari tadi tidak ada yang tepat sasaran?
Dasar... sialan!
Kenapa kau begitu kecewa?
Aku masih termasuk keluargamu.
Tapi hanya aku sendiri yang tidak tahu. Jadi aku merasa sedikit tidak nyaman.
Kalau semua orang tahu,
itu artinya sebuah pertunjukan, bukan politik.
Singkirkan! Telingaku sakit.
Sial!
Sial!
Ada apa ini?
50 putaran sudah selesai.
Bisa menghilangkan sedikit stres.
Eun Siljang-nim...
Katanya di YTM Main news ada berita tentangku.
Katanya kau jauh lebih tenang dibanding dengan Pres. Robert dari AS, saat mendapat serangan.
Siapa? Aku?
Opini publik sedang ramai membicarakan ini.
Ayo kita nonton sebentar.
Ini karena reaksi Do Kyeong yang cepat.
Bukan, tapi karena Seon Mo yang pintar melindungi.
Kampret satu ini adalah makhluk cacat.
Masih amatir.
Tae Sajang sebentar lagi akan tiba.
Untuk sementara ini ada baiknya jangan menyentuh Tae Sajang.
Belakangan ini polisi--
Do Kyeong...
Kau terlalu penakut.
Jangan menakut-nakutiku.
Jangan sampai mereka berhasil menemukan celah kita.
Katanya Jakdaegi bicara sembarangan.
Bangsat itu sepertinya mengakui kalau ia ke bandara bersama Lee Min Seob.
Jakdaegi jangan sampai membocorkan apapun.
Dia juga bersalah membunuh orang.
Jangan berlagak bodoh, kampret!
Masalah si Hwang yang tewas waktu investigasi
membuatmu dan Jakdaegi terlibat.
Tuan...
Masalah transportasi.
Eun Siljang...
Katanya "kardus buah" di Minpyeong-dong sudah siap.
Iya, aku secara langsung mengawasi pengepakannya.
Byeong Cheon itu...
Hei polisi, keluar!
Kubilang keluar, goblok.
Tapi orang-orang di Minpyeong-dong terlalu mencolok.
Apa mau ganti lokasi saja?
Sialan.
Hyeongnim, bukankah kau kusuruh datang sendiri?
Ini sudah jadi kebiasaan.
Hei, kau tunggu di sini!
Katanya kau sudah bilang ke kelompok sipil kalau kau mau mengundurkan diri.
Aigoo, ucapanmu itu membuatku merasa sedih.
Itu karena aku sempat kehilangan akal.
Belakangan ini aku introspeksi diri terus.
Sudah diumumkan, tidak ada ruginya keluar.
Oh ya?
Jadi sekarang, setelah menjadi pahlawan
kau ingin membuangku, Tae Byeong Jo ke kloset?
Benar, itu niatku.
Maaf, Hyeongnim.
Biarkan aku memberimu sebuah nasehat.
Tidak usah, tidak usah.
Jangan memberiku nasehat.
Aku sudah cukup lelah.
Makanya aku juga takkan memberimu nasehat, Hyeongnim.
Brengsek!
Aku tidak punya niat untuk menerima uang dari gangster.
Aku ingin berpolitik dengan bersih walau sekali.
Tiap hari aku cemas rekanku akan berkhianat.
Akhirnya kau tidak bisa membedakan diri sendirimu seorang Walikota atau penjahat, begitu?
Baiklah, bangsat.
Mulai sekarang aku akan 100% berpihak pada oposisi.
Gunakan otakmu yang cerdas itu dengan baik.
Jika tidak, mungkin kau akan kehilangan nyawamu.
Eun Siljang, Tae Sajang sudah mau pergi.
Hei, aku belum selesai bicara!
Kau mau ke mana?
Seong Bae!
Kusuruh kau berdiri, bajingan!
Berikan pistol!
Apa?
Kusuruh kau ambilkan pistol!
Pistol?
Hwang Seon berikan itu padaku!
Cepat!
Tidak ada peluru.
Hei, coba lihat ke sini.
Brengsek, kau mau ditikam?
Tunggu! Tunggu!
Kenapa? Kau mau menikamku dengan itu?
Tentu saja, bangsat.
Kau pikir aku tidak berani, kampret?
Yang kau tahu cuma memaki.
Hei, gangster!
Keluar!
Apa? Gangster?
Kau pikir dirimu tahu berpolitik?
Kubilang keluar!
Bajingan!
Lepaskan aku! Lepaskan!
Hati-hati terluka!
Turun!
Hyeong, kau lihat?
Turun!
Perbuatanku, Hyeong.
Dia sudah mati?
Sudah mati?
Tidak, dia masih hidup rupanya.
Sialan!
Brengsek!
Jangan pukul dia!
Jangan pukul dia, goblok!
Kubilang jangan pukul dia.
Minggir, bajingan!
Bangun!
Kau tidak terluka?
Ada yang terluka?
Aku suka orang gila seperti dia.
Seperti pria jantan.
Ayo kita pergi!
Sebenarnya begini...
Hei! Hei!
Berdiri di sana!
Dari tadi aku berdiri di sini.
Kenapa Walikota tidak menjawab teleponku?
Kau disuruh Walikota?
Terserah kau mau menganggapnya bagaimana.
Kenapa kau terus bertanya?
Kalau bicara yang sopan sedikit.
Jika tidak, kau akan mati.
Iya.
Tidak ada reaksi apapun dari Tae Sajang?
Tingkatkan jumlah penjaga, jangan sampai lengah.
Bagaimana kondisi Hyeongsu-nim? Sudah baikan? [Hyeongsu: Kakak Ipar]
Sadarkan dirimu, goblok!
Kau tahu apa yang sedang kau perbuat?
Brengsek!
Aku dianggap bocah ingusan terus, sialan!
Hei!
Kau masih anak kecil.
Semalam, aku minum bersama Walikota semalaman.
Walikota bilang ingin bekerja dengan bocah ini seumur hidup.
Lalu?
Aku hanya mau bilang.
Melindas Tae Sajang dengan mobil, nyalimu sekarang sudah besar?
Kau sendiri yang menyuruhku untuk mendapatkan kepercayaannya. Jadi kulakukan semua hal untuknya.
Lalu salahku apa?
Memangnya kau kusuruh jadi gila?
Oh ya?
Hyeong...
Kalau iri artinya kau kalah.
Bajingan!
Hei, Han Do Kyeong!
Sedang apa kalian?
Mereka sedang menginvestigasi TKP.
Kalian ke sini mau main-main?
Semua orang sedang sibuk.
Katanya belakangan ini kau sering bertemu dengan para jaksa dari Kantor kejaksaan.
Benarkah?
Benar ternyata.
Hal ini harus kulaporkan pada Walikota.
Atau kau mau langsung cerita sendiri?
Do Kyeong Hyeong...
Kumohon padamu.
Jangan melakukan hal bodoh.
Orang yang melindungi Park Seong Bae ada di mana-mana.
Kasus Eun Siljang belum ada petunjuk sama sekali.
Aku terpaksa mencurigaimu memberikan petunjuk pada mereka.
Hari Sabtu Walikota Park membunuh Tae Byeong Jo.
Mengubah rencana?
Ada orang?
-Ya?-
Cari tahu keadaan Tae Byeong Jo dan laporkan padaku!
-Baik.-
Paek Seong Bae adalah orang yang hanya mengenal uang.
Darimana ia mengumpulkan uang?
Sejauh mana aku harus membantu agar tugasku dianggap selesai?
Sampai kasus ini berakhir baru dihitung selesai.
Aku hanyalah umpan.
Saat mangsa besar sudah kau dapat, aku akan dilepas, kan?
Karena itu kau rekam?
Kau sendiri yang bilang kalau semuanya harus direkam.
Aku dari Kantor Kejaksaan Gyeonggi.
Unit Khusus, Kim Cha In.
Kasus No 2016-6359.
Asalkan Han Do Kyeong memberikan informasi penting, semua catatan kriminal--
Lebih baik secara tertulis saja.
Kalau itu tergantung seberapa berharga informasinya.
Rekaman suara Eun Siljang di Minpyeong-dong...
Kalian sudah dengar, kan?
Minpyeong-dong, lokasi pembicaraan,
isi pembicaraan.
Apa yang baru saja kukatakan?
Sial, apa aku salah bicara?
Entahlah.
Tidak,
ini sudah benar.
Jangan menyesal.
Ada hal yang menyusahkanmu?
Tidak ada.
Kenapa belakangan ini kau berubah menjadi suami yang baik?
Baik bagaimana?
Terbaring di sini ada bagusnya juga.
Kau yang melakukan perbuatan jahat ternyata...
Foto yang akan digunakan untuk pemakamanku
pakai yang ini saja.
Kau tidak akan mati.
Setelah kau keluar dari rumah sakit, aku akan mengajakmu ke Laut Utara.
Kalau aku mati kau jangan bersedih.
Karena kau adalah pria yang jahat.
Jeong Yoon Hee!
Belakangan ini hidupku serasa di neraka.
Aku akan menjalani operasi seperti yang kau mau, kemudian mati di atas meja operasi.
Jangan berbuat jahat.
Aku sedang menggantikanmu menerima hukuman.
Sudah ketemu?
Kau disuruh ke sana.
Sudah kubawa ke sini.
Masuk dan konfirmasi langsung lebih baik.
Gyejang-nim, apa yang kau temukan? [Gyejang: Supervisor]
Iya.
Pria bertopi yang masuk ke dalam
mirip sekali dengan Eun Siljang.
Aku akan masuk ke sana untuk mengecek.
Hei!
Tidakkah menurutmu aneh masuk ke dalam dengan pakaian seperti itu.
Biar aku yang masuk. Berikan alat penyadapnya padaku!
Baik.
Gyejang, lalu aku?
Biar Do Kyeong saja yang masuk.
Memangnya aku gila mau masuk ke sana?
Biar aku saja.
Hei, alat penyadap!
Bukankah kau adalah umpan?
Pergilah, pancing ikannya!
Mau apa kau?
Kalau aku masuk ke dalam jadi mata-mata, sama saja aku sedang bunuh diri.
Pergi pancing ikannya!
Pancing ikannya!
Kalau benar Eun Siljang, langsung hubungi kami!
Kau harus tepati janjimu padaku.
Rasa percaya di antara kita sangat solid.
Kau sama sekali tidak punya rasa kepercayaan padaku.
Rasa kepercayaan?
Aku sedikit terburu-buru, jadi kuberikan padamu.
Surat penangkapan dirimu.
[Surat Penangkapan]
Kau mau mengampuni kejahatan Han Do Kyeong?
Tidak ada sistem seperti itu di Korea.
Gyejang-nim, kau tidak tahu?
Karena itulah kau tidak bisa pakai dia.
Aku adalah seorang jaksa, biar kutangani sendiri.
Minggir!
Bajingan!
Mau apa kau?
- Sialan! - Kau kira ini rumahmu?
Mau apa kalian?
Kau lihat apa? Bangsat!
Bicara baik-baik.
Bajingan kau!
Aku polisi, brengsek!
Siljang-nim!
Letakkan senjata!
Jangan bergerak, dasar gerombolan sampah!
Awas kubunuh kalian semua!
Brengsek, kemari kau!
Kampret!
Han Hyeong.
Dia orang yang kukenal. Lepaskan dia.
Ini bukan mainan tapi pistol asli dengan peluru.
Jangan!
Kumohon.
Kau tutup saja sebelah mata.
Gerombolan bangsat! Kubunuh kalian!
Aku dikirim ke sini oleh Walikota.
Kau juga tahu dengan jelas.
Jika Walikota sampai tahu, bisa gawat.
Di luar ada orang-orang dari Kejaksaan.
Apa katamu?
Aku lihat ada jaksa yang kukenal.
Benarkah?
Bagaimana ini?
Jangan pukul!
Eun Seonsaengnim.
Suruh mereka pergi dulu!
Kau hafal daerah Annam, kan?
Mati kau!
Baik.
Apa yang terjadi? Mau dikuntit?
Eun Siljang sedang menelepon.
Katanya mau pergi lewat pintu belakang.
Dia minta dijemput oleh seorang pria.
Ayo cek keluar! Cepat!
Sudah sampai?
Baik, cukup.
Dia orangnya!
Berhenti!
Berhenti!
Berhenti!
Apa yang terjadi?
Lihat Eun Siljang?
Detektif Han!
Tunggu!
Brengsek! Kalian takkan kuampuni. Bangsat!
Bajingan kau!
Berani menghajarku? Sialan!
Kampret! Bajingan!
Bangsat!
Hentikan mobilnya!
Bajingan!
Hentikan mobilnya!
Lihat saja nanti, bangsat! Lihat saja nanti!
Bajingan, mana pistolku?
Bajingan!
Hei!
Ternyata kau bandar narkoba?
Siapa bosmu, bajingan?
Dikarenakan kecelakaan ini, sebanyak 20 ribu orang lebih hampir menghirup asap narkoba.
Kemarin malam sekitar jam 10 di lingkar tol Annam sebuah mobil van terbalik karena jalan yang licin akibat hujan.
[Sehingga mengakibatkan tabrakan beruntun 14 mobil.]
[Yang lebih mengagetkan adalah]
[di dalam kardus berisi buah-buahan di dalam mobil van...]
[...terdapat narkoba yang diperkirakan bernilai lebih dari 300 milyar Won.]
Kau sekretaris yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun bagi Park Seong Bae, kan?
Mungkinkah kau sendirian sanggup melakukan transaksi narkoba sebesar 300 milyar?
Kau disuruh Park Seong Bae, kan?
Walikota pasti marah besar, kan?
Tidak.
Justru ia terlihat tenang sekali.
Dia akan menanyakan beberapa pertanyaan padamu.
Pertanyaan apa?
Kau pernah bertemu dengan penyidik dari kantor kejaksaan, kan?
Kalau ketemu pasti sudah kubocorkan. Kau tidak tahu sifatku?
Sudahlah.
Hal yang tidak menguntungkan bagi Walikota, sebaiknya jangan diungkit.
Apa aku sebodoh itu?
Sialan!
Mari kita menilai secara objektif.
Perdagangan narkoba bukanlah kasus yang dapat diabaikan dengan mudah.
Sialan!
Aku sangat ingin tertawa.
Kau yang tidak tahu.
Mulai dari awal tahun ini, Jaksa sudah menargetkan Walikota.
Sudah tidak ada jalan keluar baginya.
Karena itu sebaiknya kau juga lebih baik melarikan diri dan sembunyi ke luar negeri.
Bodoh!
Benar, aku sedang membicarakanmu.
Hei, Moon Seon Mo!
Jas dan dasi, memakai mobil impor...
kau pikir hidupmu sudah indah?
Jangan mengkhianati Walikota.
Kalau orang lain aku tidak peduli.
Tapi jika kau sampai mengkhianatinya, kau lebih kotor dari sampah.
Aku tahu, bodoh!
Aku tidak mengerti kenapa bisa kau sampai sesetia itu.
Tidak usah dimengerti.
Aku tidak butuh pengertianmu, Hyeong.
Kabarnya sudah sebulan belakangan kau sering bersama orang-orang kejaksaan.
Kenapa tidak cerita?
Lupa?
Sebenarnya aku sedang diinterogasi tentang tewasnya Lee Min Seob.
Sebagai saksi.
Aku pernah dijerat oleh salah satu Jaksa.
Namun nama Anda sama sekali tidak pernah kusinggung.
Benarkah?
Menyinggung Lee Min Seob tapi sama sekali tidak menyinggung namaku?
Iya.
Saat membayangkan aku dikhianati olehmu, hatiku rasanya sakit sekali.
Anjing mana yang boleh menggigit tuannya?
Orang yang membunuh Hwang Banjang bukan Jakdaegi.
Anggap saja si pecandu narkoba itu
ada hubungannya dengan kematian Lee Min Seob,
lalu di depan jaksa menyinggung namamu dan namaku.
Artinya aku berada dalam bahaya, kan?
Apa? Bangsat!
Ini hanya sebuah angin topan.
Sekuat apapun anginnya, tidak akan bisa meruntuhkanku.
Dengan adanya cobaan seperti itu, aku, Park Seong Bae justru menjadi semakin kuat.
Tapi aku bisa mati.
Tentu saja!
Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu, karena...
... kau adalah anjingku.
Aku akan membereskan semuanya dengan baik.
Kau akan tetap membantuku, kan?
Iya.
Bangsat!
Walikota baik-baik saja?
Iya.
Hentikan mobilnya.
Eun Siljang terjatuh.
Hyeong, ini aku.
Keduanya sudah kubereskan.
Untuk sementara jangan hubungi aku dulu.
Karena itu aku bilang padamu...
Sebagai dokter aku ingin melakukan operasi padanya untuk yang terakhir kali.
Tapi tidak boleh dijadikan latihan oleh seorang dokter magang.
Kau yang ingin melakukan operasi ini. Sudah berkali-kali kubilang tidak ada harapan.
Aku menyuruh kalian berusaha semaksimal mungkin, kampret!
Kuberi kalian uang.
Aku tidak akan menghindar dari segala macam tudingan.
Jika harus dicambuk, aku akan menerima hukuman cambukan diseluruh tubuhku.
Kau hanya perlu menyelamatkan nyawanya.
Selamatkan nyawanya.
Pada saat ini,
Bisa berdiri di depan Anda semua dengan kepala tegak,
aku merasa sangat bersyukur.
Bicara apa gerombolan sampah ini?
Jika semua kasus diusut sampai akar-akarnya
Republik Korea sudah hancur lebih dari 10 kali.
Duduk!
Aku mau berdiri saja.
Kubilang duduk!
Lembar pengampunan yang kau berikan ini...
setelah ku cari tahu, ternyata hanya kertas sampah.
Aku juga sudah dengar rekaman Park Seong Bae yang kau berikan padaku.
Ternyata sudah diedit. Tidak ditemukan satupun bukti yang kuat.
Kenapa selalu seperti ini?
Karena itu, kau harus bisa membuatku yakin aku itu benar-benar aman.
Dengan begitu baru bisa kurekam dengan baik.
Sudah tahu akan hancur bersama, untuk apa aku membahayakan nyawa?
Mau apa lagi kau, brengsek!
Sangat menarik.
Aku...
...adalah penyelamatmu, Do Kyeong. Jangan lupa itu!
Duduk!
Kukira...
jika aku bersikap tulus padamu, kau akan mempercayaiku.
Menjengkelkan!
Aku yang salah.
Maaf.
Aku terlalu manusiawi. Mulai sekarang takkan begini lagi.
Brengsek, kalian takut pada Park Seong Bae. Tidak berani menangkapnya.
Apa ini? Bajingan!
Singkirkan!
Dia sudah tahu jika aku 'dibeli' oleh kalian.
Sial! Kenapa aku yang selalu jadi korban?
Hei, singkirkan! Bajingan!
Mulai!
Mulai apa?
Jangan mulai, bajingan!
Jangan bergerak!
Pegang yang kuat!
Cukup! Cukup!
Kau tahu apa yang paling kubenci?
Tidak, brengsek.
Tanya saja pada ibumu!
Jangan bicara sembarangan.
Terutama di depanku.
Gyejang-nim, awas tanganmu.
Pegang yang kuat!
Lepaskan!
Buka borgolnya!
Ambilkan sesuatu untuk mengelap.
Seperti tisu.
Aku...Aku...anggap saja aku sial.
Apa salahku, keparat?
Kalian selalu saja...
Tunggu apa lagi? Dudukkan dia!
Gyejang-nim.
Sebelah sini.
Aigoo, kecuali Park Seong Bae tertangkap. Jika tidak, takkan ada habisnya.
Kau mau terus hidup di dalam neraka?
Jaksa...
Aku...
Tidak bisakah aku lepas tangan?
Bukti di mana Park Seong Bae membunuh Eun Siljang, Tae Sajang dan Lee Min Seob, berikan padaku!
Walau aku harus mati, aku tidak akan sanggup melakukannya.
Istri yang sekarat menumpang pada ambulans untuk menjengukmu ke penjara.
Sangat menyedihkan.
Sekarat? Apa maksudmu sekarat?
Sialan!
Han Do Kyeong!
Han Do Kyeong, tenangkan dirimu!
Berikan aku tisu!
Pindahkan ke sini kursinya!
Baik.
Aigoo, jadi seperti apa ini? Dasar!
Sangat menderita...
Sangat lelah, kan?
Iya.
Makanya.
Kuberi kau kesempatan terakhir untuk bisa bertahan hidup.
Mirip dengan intuisi seorang polisi.
Tidak peduli sekuat apapun perjuanganku,
selamanya aku takkan bisa keluar dari sini.
Bisa dibilang aku belum pernah melakukan apapun untukmu.
Maafkan aku, Yoon Hee.
Aku sungguh minta maaf.
[Rumah Duka]
Maafkan aku.
Dia pergi begitu saja.
Hyeong, aku tidak terduga kalau kau hadir untuk berbelasungkawa.
Aku akan pergi memberikan hormat dulu.
Aku mengerti perasaanmu, Hyeong.
Sebaiknya kau pulang saja.
Mana mungkin kau bisa mengerti perasaanku?
Kenapa kau banyak bicara? Kalau sudah datang, kau harus makan dulu hidangan ritual baru pulang.
Sup daging ini...
berasal dari sebuah hotel di Gwanggyo Suwon yang memasok persediaan ke seluruh Gyeonggi.
Rasanya sangat enak.
Demi bisa mencicipi sup ini aku rela datang melayat.
Kau percaya?
Demi bisa makan, orang ini berjuang.
Seon Mo, jangan hanya berdiri saja. Duduklah!
Kau juga makanlah sedikit!
Ya.
Kabarnya operasi Yoon Hee butuh waktu lama, benarkah?
Aku sudah meminta tolong pada Kepala RS agar mencarikan dokter yang kompeten untuk operasi.
Harus lulusan Universitas Seoul.
Ah, terima kasih.
Di dunia ini ada dua macam penyakit. Yang pertama, penyakit yang tidak mematikan.
Dan yang kedua adalah penyakit yang mematikan.
Kau mengerti apa maksudku, kan?
Dia tidak punya harapan hidup.
Sebagai seorang suami kau sudah berusaha dengan baik.
Ucapanmu barusan terdengar menyakitkan kuping.
Karena apa yang kau ucapkan itu tidak tulus.
Bangsat, kau ke sini ingin melayat atau ingin minum-minum?
Tidak usah pura-pura, bajingan!
Karena kau adalah Walikota, demi imej kau harus bersikap seperti ini.
Bagaimanapun juga kau sudah menolong istriku.
Yoon Hee masih hidup, itulah alasan aku melakukan perbuatan kotor untukmu.
Dengan begitu kita impas, kan?
Karena kasus Lee Min Seob,
hanya aku saja yang kena sial.
Tutup mulutmu.
Hyeong...
Sial, kau membuatku hilang selera makan.
Kapan aku akan dibunuh?
Brengsek, kenapa kau aneh sekali hari ini?
Kau hanya perlu memberitahuku saja. Hidup atau mati?
Semua orang pasti akan mati.
Begitu ajalnya sudah tiba, orang pasti akan mati.
Eun Siljang-nim juga tahu dia akan mati?
Hei, Han Do Kyeong! Jangan memprovokasi!
Dasar goblok! Brengsek!
Menurutku apa yang Han Do Kyeong lakukan itu bagus.
Suruh dia tanya tentang Tae Sajang.
Aku merasa sedikit cemas.
Nada bicara kunyuk satu ini.
Untuk sekali ini kita harus percaya padanya.
Han Do Kyeong, jaksa percaya padamu.
Tapi aku tidak. Sial, lakukan dengan benar.
Sial! Bangsat!
Aku akan tanya padanya, kalian tidak usah ikut campur.
Bicara dengan siapa kau?
Dengan Jaksa Kim Cha In.
Kita dikhianati.
Sebaiknya dihentikan sampai di sini saja.
Hei, Han Do Kyeong! Keluar kau!
Brengsek, keluar kau!
Tunggu sebentar!
Kalau mau bicara dengan Park Seong Bae, harus dilakukan dengan tenang.
Mana mungkin dia mau disadap oleh kita?
Mulai sekarang...
aku akan menyampaikan padamu apa yang kudengar.
Aku adalah Jaksa Kim Cha In dari Unit Khusus.
Berdasarkan investigasi kami beserta laporan dari dinas intel,
Kasus pembunuhan Kim Jong Min, penanganan obat-obatan sintetis dalam jumlah besar,
bukti-bukti kuat telah kami kumpulkan dengan lengkap.
Jaksa ini sama saja dengan seorang gangster.
Bukti yang didapatkan secara ilegal tidak bisa digunakan di pengadilan.
Kau tidak tahu?
Pertama, rekaman Joo Jong Dong akan diputar.
Kalau masih tidak bisa, Harian Korea akan dikerahkan.
Tn. Walikota akan menikmati penderitaan ini secara perlahan.
Demi menangkap satu orang, kalian semua ingin ikut terbakar?
Memang jaksa muda jauh lebih hebat.
Dia ada di luar.
Sial, menjengkelkan!
Hei, mundur saja!
Hei, semuanya turun dari mobil!
Keluar!
Duduk!
Jangan bersuara! Diam saja!
Bagaimana kalau kita meminta bantuan?
Jangan mengganggu fokusku.
Hei, foto semuanya!
Mulai sekarang, segala sesuatu yang ada
harus disimpan dan dijadikan bukti.
Mulai foto!
Jaksa, kau tidak boleh keluar.
Cha Seung Mi, kau tetap di sini.
Keluar!
Kampret, sedang apa kau?
Tangkap bangsat ini!
Berdiri, bangsat!
Hei, semua yang ada di sini jangan sampai ada yang lolos.
Aku adalah penyidik dari Pengadilan Negeri Gyeonggi.
Gugatan kami adalah...
mengintai mobil Walikota Annam secara ilegal dan tertangkap basah oleh kami.
Segera ke lapangan parkir rumah duka!
Hei, Moon Seon Mo!
Brengsek, jangan keterlaluan!
Jika tidak, kau akan ditangkap.
Mereka membawa senjata api.
Mereka mengaku sebagai PNS dan jumlahnya banyak sekali jadi waktu sangat penting.
Tolong segera ke sini dalam waktu 5 menit.
Bicara apa bangsat itu?
Hei, bisa sampai ke sana dalam 5 menit?
Diusahakan.
Walikota yang dipilih oleh rakyat,
beraninya mereka menyadap dan merekam secara ilegal.
Menurutmu kau bisa selamat?
Aku berani jamin Jaksa Kim Cha In,
karena masalah ini kau akan kehilangan pekerjaanmu.
Dia tidak bilang apa-apa?
Jaksa, kau diminta untuk menjawab.
Han Do Kyeong, mau apa kau sebenarnya?
Kau sungguh mau membeberkannya?
Dia berharap kau bisa bersikap jantan dan bicara empat mata.
Dia mau aku ke sana, begitu?
Dia sudah berusaha keras, sudah cukup menyusahkan dia juga.
Aku rasa aku akan gila.
Tiba-tiba aku punya pikiran seperti ini.
Telah menyusahkanmu.
Pertama kali berjumpa.
Kau pernah mencicipi Sup daging di sini?
Kalau begitu, bagaimana kalau beri penghormatan terakhir pada Eun Siljang?
Bajingan!
Kalau masalah tidak punya malu, sepertinya kau adalah nomor satu.
Brengsek, aku akan menghabisimu dengan kedua tanganku ini.
Untuk apa kalian bertengkar sampai babak belur begitu?
Mulai sekarang, kalian berdua bicara baik-baik saja.
Coba lihat pandangan mata kalian.
Di dunia ini ada 2 tipe orang.
Yang pertama, orang yang bisa diajak berkomunikasi.
Yang satunya lagi, tidak peduli mulutmu sampai robek, dia takkan bisa mengerti.
Jaksa kita ini termasuk tipe yang mana?
Aku tidak berharap Walikota kami adalah penipu yang suka berdongeng ke sana ke mari.
Ternyata kau pakai barang seperti ini. Sangat murahan!
Aku tidak ingin menggertak aparat negara.
Kita sama-sama orang sibuk. Langsung saja ke pokok permasalahan.
Tn. Jaksa, jangan tertipu oleh mereka.
Apa maksudmu dengan menipu?
Hanya sekedar bicara saja. Tidak akan ada masalah apapun!
Kau keluar dulu!
Bagus!
Kau mau berapa juta?
Aku ingin menyuapmu, Jaksa Kim Cha In.
Kita sama-sama PNS, gaji tahu sama tahu.
Bukan 'berapa' yang kubutuhkan.
Aku hanya ingin pengakuan Walikota bahwa kau membunuh saja. Tidak lebih dari itu.
Serius?
Itu jauh lebih berharga dari uang?
Di dunia ini mana ada orang yang tidak suka uang?
Selama jadi walikota, aku sudah memeriksa banyak orang.
Atasanmu, Jaksa Oh Cheol Soon menerima suap di mana-mana.
Aku, Park Seong Bae, tidak akan mati dengan mudah.
Walau aku harus mati, semua orang akan ikut mati bersamaku.
Hal yang begitu menakutkan berani kau ucapkan?
Ternyata benar rumor yang beredar, kau memang sangat hebat, Walikota.
Hidup itu terlalu singkat. Harus hidup dengan jujur walau sedikit.
Coba beritahu aku kira-kira kau berniat menyogokku dengan berapa juta?
Aku penasaran harganya berapa.
Angka paling adalah 5. Jumlah nol di belakang adalah...
Aigoo, dasar!
Kalau tahu begitu, harusnya dari dulu kupertemukan kalian berdua.
Sudah kuduga kalian berdua bisa akur.
Aigoo, bajingan busuk seperti kau ini mengganggu saja.
Setelah kau menerima sejumlah uang tunai, kau akan berterima kasih padaku.
Aku akan memberimu komisi.
Walikota, sungguh tidak apa-apa.
Walikota, kau harus bisa meyakinkan Jaksa ini.
Aku sangat lelah.
Aku tidak mau jadi mata-mata bagi dua pihak.
Kalian bicarakan baik-baik.
Bangsat yang malang.
Ada apa sebenarnya?
Cepat ke sini!
Bajingan!
Jangan begitu!
Hyeong, kau jangan sampai kena masalah lagi.
Kenapa kau suruh mereka ke sini?
Kebetulan ada yang ingin kubicarakan padamu.
Ikut aku!
Aku ingin membicarakan persyaratan denganmu dengan tulus.
Dengarkan baik-baik, Jaksa. Duduklah!
Jaksa...
Jika bukan karena Jaksa Oh Cheol Soon, kau bukan siapa-siapa.
Tapi, jika aku ada niat, aku bisa membuatmu
naik pangkat jadi Bujang Geomsa atau Chajang Geomsa. [Chajang Geomsa: Kepala Deputi Jaksa]
Sebagai seorang pria, setidaknya harus mencapai pangkat Chongjang. [Chongjang: Menteri]
Kau terlalu banyak mendongeng.
Kau pikir segampang itu membodohiku?
Jaksa, kau datang mencariku karena menginginkan nyawaku.
Demi mempertahankan nyawaku, apapun bersedia kulakukan.
Aku harus serius denganmu sampai kau bersedia melepaskanku.
Walikota kita ini memiliki sorot mata yang membuat orang merasa tidak bisa percaya padanya.
Sepertinya kau tidak mau menerima ketulusanku.
Sangat disayangkan.
Dari awal kalian memang tidak berniat membujuk Kim Cha In.
Kalian belum mengerti situasinya?
Jika kalian bertindak sembarangan, aku bisa mati.
Mereka adalah jaksa, tidak ada kesempatan bagi kita.
Hyeong, Walikota akan membereskan semuanya.
Begitu?
Dia akan selalu mencari kambing hitam.
Kali ini siapa?
Eun Siljang kau yang bunuh, kan?
Perbuatanmu kan?
Sialan! Bangsat!
Iya, perbuatanku.
Kau tahu kenapa aku bisa bertahan sampai sekarang?
Karena kau.
Kau yang membujukku, brengsek!
Bajingan!
Sekarang sudah terlambat bagiku untuk pergi dari sini.
Seon Mo, jika kita terus bekerja dengan dia,
kita hanya akan diperalat olehnya.
Kau tidak lihat aku sekarang ini?
Haruskah aku ke Filipina?
Kita tinggalkan tempat ini sekarang. Seon Mo!
Biarkan mereka saling menggigit.
Orang yang ingin ditangkap oleh Kim Cha In bukan kita.
Jangan banyak bacot! Sebenarnya kau tidak tahu apa-apa.
Kau tahu apa perintah Walikota padaku?
"Do Kyeong pengkhianat, bereskan dia."
Dia tidak salah menilai.
Dia memerintahkanmu untuk membunuhku?
Jangan bertanya padaku!
Kau sanggup menembakku dengan pistolmu?
Tentu saja.
Kalau begitu lakukan, kampret!
Do Kyeong! Berhenti!
Kubilang jangan bergerak!
Kau sanggup menembakku?
Moon Seon Mo, kau takkan sanggup membunuhku.
Hyeong, kau sangat polos.
Kau pikir aku tidak berani?
Kalau begitu, akan ku tembak.
Tembak saja, brengsek! Tembak saja!
Sialan! Lepaskan!
Bajingan!
Sub Indo By PatrickStar
Tembak saja, bangsat!
Hyeong, akan ku tembak.
Tembak saja, brengsek! Tembak saja!
Tembak saja, sialan!
Lepaskan! Kampret!
Dasar bajingan!
Aku bersalah padamu, kampret!
Kau merasa bersalah padaku?
Iya, maafkan aku.
Bodoh!
Sial! Semua ini karena kau, Hyeong! Kau tahu?
Harus bagaimana sekarang?
Moon Seon Mo, jangan pernah percaya pada si keparat Park Seong Bae.
Lepaskan, Moon Seon Mo!
Oke, cukup sampai di sini.
Ini direkam setelah mendapatkan izin resmi dari pengadilan.
Walikota Park, beberapa hari lagi kau akan dapat surat panggilan.
Kau rekam lagi?
Kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
Di negara ini, orang-orang yang paham hukum berlagak semaunya?
Jangan menghalangi kami!
Ayo, kita pergi!
Minggir!
Kenapa?
Tolong keluar.
Dasar brengsek.
Ayo cepat pergi!
Jaksa...
Ayo, pergi!
Apa ini?
Walikota Park, kau melakukan perbuatan seperti ini pada jaksa yang sedang bertugas?
Kau akan dipenjara seumur hidup.
Keluarkan pistolmu!
Kupikir kalian ini pintar.
Jaksa, pikiranmu terlalu polos.
Akan kubiarkan mereka memenggal sebelah lenganku saja.
Pernah dengar kejadian di Minpyeong-dong, pemukiman orang asing dibongkar hingga rata dengan tanah, kan?
Ini adalah balas dendam penduduk sana yang membenciku.
Kau sudah gila?
Tapi kebetulan kalian berada di sini. Jadi, maaf.
Hei, mulai sekarang tidak perlu melepas tembakan kosong.
Langsung tembak saja!
Brengsek, bicara apa kau?
Tembak! Tembak saja! Siapa takut?
Hei, bagaimana ini? Dasar gila!
Seon Mo, bagaimana sekarang? Bangsat!
Bajingan, bagaimana sekarang?
Hyeong, kau sungguh menembakku.
Sial, tidak apa-apa. Kau takkan mati.
Hyeong, aku akan mati, kan?
Hei, Kampret! Kau tidak akan mati.
Kau akan bisa bertahan hidup, bajingan.
Aku pasti akan menolongmu.
Sialan! Sial!
Seon Mo! Brengsek! Hei! Hei!
Sial!
Bajingan.
Keluar kau, bajingan!
Keluar!
Hentikan! Hentikan!
Aku Jaksa Republik Korea.
Brengsek, cepat berlutut!
Walikota, sepertinya aku sudah bersikap lancang.
Oke, baiklah. Aku akan mendengar kemauanmu.
Singkirkan tanganmu, bangsat.
Selagi tanganmu belum kupenggal sampai putus,
singkirkan tanganmu!
Sekarang baru kau mengerti ketulusanku, kan?
Walikota, bukankah masih ada kesempatan terakhir?
Tidak ada, keparat.
Hei, Kim Cha In... Lihat baik-baik!
Aku bisa memotong lenganku.
Potong lenganku!
Apa?
Kusuruh kau potong lenganku.
Pegang baik-baik! Pegang baik-baik!
Walikota!
Pegang yang kuat! Pegang yang benar!
Lihat baik-baik, Kim Cha In.
Hei! Walikota!
Minggir!
Walikota!
Kenapa kau mau membuat diri sendiri cacat?
Aku akan jadi pengikutmu.
Aku tulus.
Aku berbuat seperti ini demi melindungi nyawaku sendiri.
Lenganmu juga akan selamat.
Pembangunan Kota Annam juga akan bisa cepat rampung.
Setia? Aku mau lihat sejauh mana kesetiaanmu.
Sisanya kau bereskan sendiri.
Hei, kau yang rekam.
Mulai rekam.
Jaksa...
Walikota, kau harus menepati janjimu.
Bagus!
Aku tidak mau mendengar jeritan orang. Cepat tuntaskan!
Kenapa?
Siapa? Apa ini?
Han Do Kyeong.
Do Kyeong?
Sepertinya kau dan Seon Mo tidak bersepakat.
Iya, dia sudah mati.
Sial! Karena kau, sekarang harus bagaimana?
Kau membunuh saudaramu sendiri?
Dan juga membunuh jaksa.
Walikota, sebaiknya kau cepat keluar.
Kau masih ingin membunuhku?
Sialan kau.
Park Seong Bae, keluar kau!
Keluar! Keluar!
Bagaimana? Kehabisan peluru?
Akan kubunuh kau, brengsek.
Dengan apa? Bagaimana kau mau membunuhku?
Jangan sentuh aku, bangsat!
Hei, Han Do Kyeong... Dengarkan!
Lihat baik-baik bagaimana aku membereskan tempat ini.
Dasar bodoh!
Nona, di mana kau?
Nona, di mana kau?
Di sini ternyata.
Hei, Park Seong Bae!
Lawanlah aku, brengsek!
Bajingan seperti kau beraninya...
Mati kau!
Aku benar-benar ingin membunuhmu.
Mulai sekarang, kejahatanmu bukan lagi satu atau dua.
Panggil ambulans! Panggil ambulans!
Tolong panggil ambulans!
Jaksa Kim! Jaksa Kim, dengarkanlah!
Pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi sekarang.
Tolong! Panggilkan ambulans!
Pelan-pelan, pelan-pelan.
Bajingan, kau berat sekali.
Aku tertembak! Aku tertembak!
Sudah kupikirkan.
Han Do Kyeong setelah menyadari perbuatannya membunuh Hwang Banjang sudah terungkap,
dia berubah jadi gila. Bilang saja seperti itu.
Kau pasti pintar mengarang cerita.
Karena itu kau juga terluka.
Dan aku juga ikut jadi korban.
Sebaiknya kau segera memanggil ambulans.
Akan kubereskan sisanya. Bagaimana?
Sepertinya kau sangat mirip denganku.
Bajingan!
Mengagetkan saja.
Kau tahu apa masalahmu, Do Kyeong?
Benar, aku punya banyak masalah.
Aku tahu semua itu.
Kau hanya seekor ulat bulu. Tapi sifatmu terlalu keras seperti ular.
Sial! Brengsek!
Sudah kuduga akan seperti ini akhirnya.
Meskipun tahu akhirnya seperti ini, tapi bisa apa aku.
Sub Indo By PatrickStar
===ASURA===
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.