Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sejauh yang aku ingat, orang-orang \Nselalu mengatakan hal yang sama tentangku.
Sampah.
Tidak ada gunanya.
Tidak berguna.
Aku lahir dan dibesarkan di daerah kumuh.
Orang tuaku tidak bekerja \Nbahkan tidak peduli aku makan atau tidak.
Ketika aku lapar, aku mencuri, atau merampas.
Selain membunuh, aku akan melakukan apa saja.
Aku tidur ketika aku ingin,
dan terbangun kapan pun aku mau.
Aku bebas.
Aduh.
Hei, kalau jalan lihat-lihat!
Seekor landak jalanan, ya?
Sampah.
Tolong, ampuni aku.
Sudah cukup.
Siapa kau?
Bebaskan saja kehidupan
yang selalu berubah
Tanpa adanya kenyataan,
masih belum kulakukan
Sudah sifatku ingin femes
semua rumor pun ku terima
Tujuan awalku sudah tuntas
tapi ingin kulihat kelanjutannya
Mayat yang terbengkalai ini
gunakan lalu dibuang
Biar kuperkenalkan namaku, catat baik-baik di otakmu!
Aku tak butuh taktik kemenangan
karena hampir keseluruhan bergantung keberuntungan
Aku juga siap memberi jawaban, apakah ini langkah yang tepat?
Di sini, di tengah-tengah lingkaran satan
Tradisi lembur para budak korporat
Bangunlah, Banker!
Cepat bayar aku
Satu baris, satu jotosan
Jawab dengan fantasimu
Berdirilah, orang-orang terfavorit
Ampunilah
Kejahatanku di masa lalu
Hukumlah diriku
dengan hukuman yang pantas
Bimbinglah diriku
Jika memang pantas diselamatkan
Aku ingin melihat
keindahan dunia ini melalui orang yang kucintai
Hari ini indah seperti biasa
besok pikir belakangan
teruslah mengembara
dalam kecemasan tubuh fana ini
Semua yang terpancar hampa
dalam sekejab mata akan berubah
Sorakan itu terdengar
dengan jelas dan fana.
Murid & Guru
Kita tidak akan menemukan arus yang ke luar dari pulau, \Njadi tak perlu menelusuri pantai terus.
Terik matahari dan pasir yang\N panas akan membuat kita lelah.
Berhentilah selalu merasa benar!
Itu adalah ide terbaik yang \Nakan muncul dari orang bodoh sepertiku.
Ada serangga dan monster di hutan.
Kita bisa mengalahkan mereka dengan bekerja sama.
Sekarang aku tahu kau seorang wanita,\Naku ingin menghindari bahaya.
Sudah kuputuskan aku benar-benar ingin menikahimu.
Terlalu cepat untuk itu dalam banyak hal.
Kita harus meninggalkan tempat ini hidup-hidup \Nsebelum kita mulai berpikir tentang pernikahan.
Mari kita bermain aman, \Nmeskipun itu membutuhkan waktu lebih lama.
Kita akan menghindari pertempuran sebisa mungkin.
Kehati-hatianmu akan \Nmembuatmu menjadi suami yang baik.
Hah?
Apa? Siapa?
Dia baru saja jatuh dari langit...
Hutannya... jadi berisik. \NItu tidak biasa.
Aku melihat banyak mayat Soshin.
Juga tidak biasa.
Apa kalian yang melakukannya?
Ia berubah menjadi seorang pria.
Itu jelas monster. \NKita harus lari.
Kenapa melarikan diri?
Hah?
Tidak ada gunanya.
Bukan berarti itu penting,
tapi bukankah itu mengganggumu\N ketika segala sesuatunya tidak seperti biasanya?
Aku sendiri tidak menyukainya.
Heh, kau bergerak dengan baik untuk ukuran manusia.
Kau cepat sekali untuk ukuran manusia.
Nurugai-san!
kita akan berlari sesuai aba-abaku.
Jangan berpikir untuk mengalahkannya, lari saja.
Oke.
Aku tidak punya banyak stamina, tapi...
Aku bangga dengan kecepatan pedangku.
Oh?
Sekarang!
Kau merobek bajuku.
Sungguh mengerikan.
Eh?
Gu...
Guru!
Lari, Tenza!
Ya, Guru!
Siapa dia?
Yamada Asaemon Shion.
Dia guruku.
Dia buta.
Tapi dia tetap berlari dengan lancar.
Dia tampaknya "melihat" dengan menggunakan bau dan suara.
Kita sudah cukup jauh.
Nurugai-ku...\Neh maksudku,
Nurugai-san, karena guru \Nada di sini, kita akan baik-baik saja.
Bagaimanapun, aku berhutang nyawa pada Shion-san,\N dan dia mengajariku menggunakan pedang.
Tameshi-itto-ryu Peringkat\N 4 Yamada Asaemon Shion
Beliau sangat luar biasa lho-
Kau terlalu mengandalkan kecepatanmu, \Npada akhirnya gerakanmu jadi ceroboh.
Seranglah kepala atau kaki terlebih \Ndahulu saat menghadapi lawan seperti itu.
Aku juga bisa mendengar betapa \Nsuam-suam kuku seranganmu.
Setiap serangan harus dilakukan dengan hati-hati.
Aduh!
Bahkan di situasi seperti ini \Nkau masih bertindak seperti guru.
Aku sebenarnya agak lega.
Kau masih menyelesaikannya \Ndengan lemah seperti biasanya.
Dasar. \NAku senang kau baik-baik saja.
Karena terakhir kali aku melihatmu ada di kapal.
Apakah kau sebegitu khawatirnya?
Ngomong-ngomong, Guru. \NApa yang telah kau lakukan sendirian?
Aku sudah menyelesaikan tugasku\N dan akan menuju perjalanan pulang.
Tidak dapat menemukan arus \Nyang menjauh dari pulau,
Aku terus mencarinya.
Sama seperti kita.
Aku menemukan apa yang tampak seperti arus\N yang mengarah keluar hanya di satu tempat, tapi...
Aku mendengar suara dan mendeteksi kehadiran\N yang tidak pernah kualami sebelumnya.
Menyadari bahwa ada batas-batas tertentu yang\Nbisa dicapai oleh seorang tunanetra sepertiku,
Aku mencari orang lain yang juga sedang akan pulang.
Tolong antar kita ke sana.
Bersama-sama, kita bertiga\N bisa melakukan sesuatu.
Mungkin.
Tapi pertama-tama...
Apa yang kau lakukan, Guru?
Giliranmu untuk menjelaskan.
Kenapa kau melindungi seorang penjahat?
Kau diperintahkan untuk \Nmengeksekusi penjahat dengan segera
jika mereka melanggar peraturan \Natau terjadi hal yang tidak diharapkan.
Itulah yang aku lakukan.
Dia mencoba merayuku.
Jadi aku mengeksekusinya,
setidaknya tanpa rasa sakit.
Kau tampaknya membantu penjahat ini. Jelaskan alasannya.
Tergantung pada jawabanmu, \Neksekusi mungkin akan dilakukan.
Anak ini tidak melakukan kejahatan.
Aku sudah hafal sebagian besar isi daftar itu.
Aku tahu keadaan para penjahat.
Tapi zaman kita hidup menentukan apa itu kejahatan, Tenza.
Yamada Asaemon adalah pedang \Nyang diayunkan dari waktu ke waktu.
Tidak masuk akal jika pedang memilih siapa yang ditebasnya.
Di atas segalanya, kau melanggar aturan tersebut
ditafsirkan sebagai pengkhianatan yang\N dilakukan oleh seluruh klan Yamada.
Tindakan satu orang bisa mengancam seluruh klan.
Tapi kau mengajariku cara menggunakan pedang.
Ketika aku masih menjadi gelandangan,
kau menerimaku, meskipun kau tidak berkewajiban.
Karena aku merasakan adanya\N akal dan potensi dalam dirimu.
Maka aku pun demikian.
Aku merasakan adanya potensi di dunia \Ndi mana anak ini bisa hidup dengan bebas.
Kau telah berbicara seperti pria dewasa.
Karena ajaranmu.
Selain itu, aku tahu kau orang yang baik.
Aku tahu kau akan mendengarkanku\N jika aku berbicara dari hati.
Aku tak mengerti kenapa kau mau membantu orang.
Jika kau bersikeras.
Tuh kan!
Lihat kan? dia benar-benar orang yang baik!
Uh, ya.
Tapi, masalah ini masih di ajukan
Jika melindungi gadis ini akan mengancam \Nklan Yamada atau bahkan mengancammu...
Saat itu...
Ada apa?
Gadis? Tak kusangka kau mengetahuinya.
Tentu saja tahu lah.
Aku punya mata yang bagus untuk menilai seseorang.
Kau suka banget candaan seperti itu.
Salam kenal, Guru.
Salam kenal, Nurugai.
Tapi kau tak perlu memanggilku "Guru."
Aku tidak mengajarkan apa-apa.
Jangan buang waktu untuk \Nmemeriksa arus yang kau temukan ini.
Pelankan suaramu.
pergi diam-diam serta berhati-hati.
Ancaman terbesar yang kita \Nhadapi saat ini adalah monster itu.
Itu tidak mungkin manusia.
Kita harus mempertimbangkan bagaimana \N cara meresponnya jika ketemu dia lagi.
Jika cuma bisa lari, maka kita harus\N bisa melakukan apapun untuk itu.
Kalian meremehkanku.
Aku terselamatkan, Guru.
Terima kasih.
Guru!
Lho he?
Kupikir aku telah melepas kepalanya. boleh juga.
Aku sudah terbiasa dengan itu.
Kau harus hidup untuk menjadi Tan,
tapi kau sangat menyebalkan,\Njadi mending kubunuh saja.
Apa yang harus aku lakukan? aku harus lari, tapi...
Tidak, mau tidak mau aku harus melawannya.
Jurus Tameshi-itto-ryu...
Tunggu, Ten-
Tebasan kilat!
Sudah kubilang, aku sudah terbiasa dengan itu.
Tenza!
Hei, Guru.
Kenapa kau menerima orang sepertiku?
Jaga bahasamu.
Kenapa kamu membawaku, Guru?
Mengambil nyawa adalah tugas kita.
Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk menolong orang lain.
Memang benar bahwa kau sedikit kasar di beberapa bagian...
tapi aku merasakan potensi dalam dirimu.
Nah, bukankah kau hebat?
Aku tak mengerti kenapa kau mau membantu orang.
Sialan.
Kau ceroboh dengan pedangmu.
Kau membiarkan emosimu mengendalikanmu.
Kemarahanmu, dan keraguanmu.
Aku tidak ingin menjadi seorang samurai.
Ini tak ada gunanya.
Aku tidak meminta kau untuk \Nmengikuti hidup samurai dari awal.
Tapi suatu hari nanti, jika kau\N menemukan sesuatu yang ingin kau lindungi,
kemampuan pedang yang telah kau\N kembangkan pasti akan membantumu.
Sesuatu yang ingin aku lindungi...
Lihatlah pohon sakura itu.
Batangnya ramping, dan bunganya masih kuncup.
Tetapi kuncup mengandung segala macam potensi.
Begitu juga denganmu.
Akan tiba saatnya tunas-tunas potensi muu berkembang.
Sampah.
Tidak ada gunanya.
Tidak berguna.
Seekor landak jalanan, nih?
Sekarang, lanjutkan.
Tidak.
Aku tidak memiliki potensi!
Aku tidak punya status atau uang.
Sejak aku lahir, aku tidak pernah memiliki potensi!
Aku berhenti.
Apa?
Aku bilang aku berhenti.
Aku sudah muak dengan gaya hidup yang ketat ini.
Aku ingin hidup seperti yang aku inginkan.
Apa kau serius dengan itu?
Ya.
Kalau begitu aku punya syarat.
Sebuah syarat?
Hanya satu pukulan.
Kapan saja, di mana saja. \NDaratkan satu pukulan padaku.
Jika kau bisa melakukan itu,
maka aku akan mengizinkanmu untuk berhenti.
Aku tidak punya waktu untuk ini.
Kau mau ke mana? \N Dojo ada di arah lain.
Shion memberitahuku tentang kesepakatanmu.
Apa kau sudah mendaratkan pukulan padanya?
Apakah kau akan menyeretku kembali?
Lakukan sesukamu.
Hah?
Tapi sebelum kau pergi, temani aku jalan-jalan.
Aku bangun terlalu pagi dan\N tidak ada yang bisa dilakukan.
Mantan juniorku Shion tidur di sini.
Namanya Tesshin.
Adik seperguruan?
Sepertimu, dia tidak bermoral.
Dia memiliki bakat, tapi dia kurang motivasi.
Kalau begitu, Guru pasti telah \Nmembuatnya bekerja keras, sepertiku.
Pada saat itu, Shion fokus untuk \Nmeningkatkan kemampuannya sendiri.
Dia tidak memiliki semangat yang\N sama untuk mengajar seperti sekarang.
Pada akhirnya, Tesshin berkata bahwa ia akan\N hidup sesuka hatinya dan meninggalkan dojo.
Untuk sementara waktu, keadaan tetap sama.
Hari itu, Shion keluar untuk menguji pedangnya seperti yang biasa dia lakukan
dan berdiri di hadapan penjahat itu.
Tapi Shion tidak mau menurunkan pedang yang dia angkat.
Mungkinkah?
Ya.
Shion menyadari bahwa penjahat yang \Nada di hadapannya adalah Tesshin.
Setelah meninggalkan dojo,
Tesshin akhirnya kesulitan untuk menghidupi \Ndirinya sendiri dan beralih ke dunia kriminal.
Apa yang dilakukan Guru?
Tentu saja, dia memenggalnya \Nsebagai Yamada Asaemon.
Shion dengan jelas mendengar kata-kata terakhir Tesshin.
Rupanya, dia mengatakan ini.
"Guru, aku minta maaf."
Saat itulah Shion menjadi bersemangat
mengajar adik-adik kelasnya \Ndan mulai membantu orang lain.
Jika kau menjalani hidup sebagai bajingan, \Nkau mungkin akan berakhir dengan cara yang sama.
Dia mungkin merasa akan sia-sia jika hal itu terjadi.
Kau juga.
Akan tiba saatnya tunas-tunas potensimu berkembang.
Bagaimana?
Bisakah kau lari dari tempat ini tanpa \Nmendaratkan satu pukulan pun padanya?
Ah, Tenza.
Guru, lawan aku sekali lagi.
Kau tampak berbeda dari sebelumnya.
Aku tidak pernah secara serius mengabdikan\N diriku pada sesuatu sebelumnya, tapi...
Sisi-sisimu terlalu terbuka.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Maish belum.
Aku ingin mendaratkan pukulan padanya.
Dia adalah orang pertama yang percaya pada potensiku.
Hei, Guru.
Dapatkah aku percaya pada potensiku sendiri?
Dan seperti yang kau katakan, suatu hari nanti...
Suatu hari nanti, akankah aku \Nmenemukan seseorang yang ingin kulindungi?
Ujung jariku menjadi dingin.
Tapi aku merasa panas dari dada ke atas.
Aku mengerti.
Aku sekarat.
Kita semua akan dibunuh oleh monster ini.
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!
Bahkan jika aku mati, aku akan\N memastikan mereka berhasil kabur.
Aku tak peduli bagaimana aku melakukannya.
Aku akan melakukan apa saja \Nuntuk mengulur waktu bagi mereka.
Menjauhlah.
Lari. cepat lari.
Kalian berdua, lari.
Jangan, Guru.
Kau tidak bisa mengalahkannya.
Kau tahu itu, 'kan?
Tenggorokanku terlalu rusak untuk berbicara.
Guru, tolong lari.
Hanya satu kata.
Biarkan aku bicara.
Tenza!
Guru, aku minta maaf.
Padahal sudah merawatku sejauh ini...
Nurugai-san, tolong hiduplah.
Kau memiliki potensi.
Potensi...
Aku ingin tahu potensi apa yang aku miliki.
Dia cukup tangguh.
Kenapa kita meninggalkan dia? Aku akan kembali!
Jangan.
Ini yang diinginkan oleh Tenza.
Tapi tetap saja... kau adalah gurunya, 'kan?
Bukankah dia muridmu?
Dia lebih dari itu!
kita adalah saudara yang menginginkan hal yang sama.
Dia mempertaruhkan nyawanya untuk kita. \N Aku tidak bisa menyia-nyiakannya.
Kita tidak bisa mengalahkan monster itu sekarang.
Jika kita tidak lari, kita semua akan mati.
kita harus mundur.
Tapi aku bersumpah \Nakan membuatnya membayar.
Sotto kasanete mita
Aku mencoba melapisi dengan lembut
Dakedo mo hamidashita
Namun kertasnya melengkung
Hashi no hou dake yabutta
Mantab! Aku berhasil mengenaimu!
Dakedo anata wa sono mama de ii to
Itu sangat mengesankan.
Sekarang kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan.
Chirakatta kakera wo mou ichido tsunaide
Guru, apakah kau akan terus mengajar-\Ntidak, maksudku...
Naoshite kureta
Guru, dengan rendah hati aku mohon agar \Nkau terus mengajariku menggunakan pedang.
Kokoro wa kami hitoe
Tentu saja.
Sono kokoro wo kanjiteitai
Aku ingin merasakan hati itu
Itsu no hi mo akeru ashita wo matte
Setiap kalinya, akuu menanti hari esok tiba
Hakanai yume ni kogarete
Aku mendambakan mimpi yang fana
Anata wa dareka wo kyou mo omoi nagara
Hari ini, dirimu akan teringat seseorang lagi
Mune ni idaita negai oi tsuzukeru no deshou
dan terus mengejar harapan yang kau dekap di hati, bukan?
Itsuka sono koe ga todokimasu you ni
Semoga suara itu kelak dapat tersampaikan
Nando kizutsuitemo
Berkali-kali pun dirimu terluka
Mamori tsuzuketa ai ga
Semoga cinta yang terus kau lindungi...
Itsuka anata wo tsutsumimasu you ni
kelak akan menyelimuti dirimu.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.