All language subtitles for Natural.Born.Lovers.2012.BluRay. GUN_HS -ID-Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PENERJEMAH: GUN

Halo? Ada orang di dalam?/ Jawablah jika ada orang.

Jika tak ada orang, memang siapa yang jawab?

Ada orang di dalam?

Kenapa pakai bahasa Jepang?

Tak ada yang mau jawab jika pakai bahasa Kanton.

Mungkin dijawab jika pakai bahasa Jepang.

Bagaimana kalau dibentak?

Bagaimana, nih? Pengantinnya hilang!

Itu gawat! Kita takkan bisa makan udang, ya?

Makan, makan... Akan kuberitahu apa makanannya!

Teruslah mencari!/ Ayo, cepat!

Halo?/ Kau di mana? Sedang apa?

Dalam toilet, pipis dan sendiri.

Aku ingin nonton film./ Sekarang?

Kenapa? Sedang sibuk?/ Aku sedang ada rapat.

Setengah jam lagi. Kutunggu di luar bioskop Newmont

Itu saja. Da-dah.

Er...

Halo?

Bos! Kami tak menemukanmu. Di mana kau?

Aku... di sini sinyalnya buruk.

Nanti kuhubungi jika sinyalnya sudah bagus. Dah.

"Setahun sebelumnya"

Hei Nenek, di mana toilet?

Kau buta, Nak?

Sekilas saja bisa ditebak, usiaku tak lebih dari 25 tahun.

Apalagi tampangku yang secantik Angelina Jolie.

Tubuh selangsing Jessica Alba, dan sepintar Sharon Stone.

Kenapa Sharon Stone?/ Bercanda.

Apa maksudmu?/ Sudahlah!

Kau mirip.../ Mirip apa?

Sakit?/ Ya!

Sakit?/ Ya!

Cubit aku! Cubit aku!

Sakit?/ Aduh!

Sakit?/ Sakit sekali!

Tepat!/ Kau idolaku!

Idola apa? Kau salah orang./ Tak mungkin.

Jangan kira aku tak mengenal kau yang sudah dewasa.

Aku sudah lama mendambakan saat seperti ini.

Ini, tolong pegangi tasku.

Kau lihat anak ini? Kau si kecil Tayler!

Jangan kira aku tak mengenal kau yang sudah dewasa.

Tampang serupa. Tak bisa disangkal lagi!

Nenek, kau aneh sekali, ke mana-mana membawa majalah gosip lama

Idolaku, jangan kira aku bodoh. Kupinjam ini dari para penggemarmu.

Agar aku bisa membawanya ke toilet.

Lalu bernostalgia sambil buang air besar./ Penggemarku?

Hari ini ada pertemuan Perkumpulan Penggemar si Kecil Tayler Sedunia.

Kami berkumpul sekali sebulan untuk menonton film-filmmu.

Masih ada yang menonton film itu?

Salah satu kisahnya saat kucingmu menderita gagal ginjal...

...dan kau donorkan ginjalmu untuk menyelamatkannya.

Bagaimana bisa ginjal manusia didonorkan untuk kucing?

Itulah penyebab kematianmu! Sungguh menyedihkan!

Nona-nona, lihat siapa di sini! Idola kita!

Sisakan untukku!

Fai, aku mencintaimu!/ Apa-apaan sih...

Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu.

Tidakkah kau mengerti?/ Lepaskan aku./ Aku mencintaimu!

Jangan tinggalkan aku!/ Lepaskan aku, oke?

Biarkan aku pergi./ Kumohon padamu.

Jika ini karena gadis itu.../ Kenapa jadi buram?

Aku cinta kau, Fai!

Menyingkir kau, Pelacur! Kau merusak rambutku!

"Begitulah awal pertemuan mereka"

"Tiga bulan kemudian"

Hei! Dik! Lewat sini.

Jika adikmu bertanya, katakan kita pergi memancing semalam.

Aku jadi alibi lagi?

Kita teman sekelas di SD, kau mau celakakan aku?

Ia bisa membunuhku jika sampai tahu.

Aku sudah diam-diam.

Tolong atur, ya? Aku pergi.

Bro!

Jika ada masalah, ceritakan saja. Udara dingin di sini.

Jika adikmu bertanya kemana aku dan kau pergi...

...katakan kita bermain Mahjong semalaman.

Tapi aku tak bisa memainkannya.

Sebenarnya, tadi malam adalah ulang tahun ibu pacarku.

Kami makan malam di Shenzhen... pesta daging.

Kenapa selalu aku yang kaulibatkan?

Bro!

Kita pernah teman sekelas di SMU.

Jangan biarkan aku dibakar tanpa berbuat apapun.

Nih, merokoklah.

Serius. Kau tahu betapa gilanya dia.

Jika tahu soal ini, ia bisa membunuhku, lalu pergi dan bunuh diri.

Janji, sekali ini saja.

Hei... Bro...

Tak perlu basa-basi. Kau ingin aku katakan apa?

Bro, kau pastilah penggemar sejati "Bohonglah padaku."

Tolong katakan padanya, tadi malam kita begadang.

Siapa yang meninggal?/ Anjing pacarku.

Semalam aku harus di ranjangnya untuk memberi hiburan.

Bukankah begadang semalaman sedikit rancu?

Ada alasan yang lebih bagus?/ Tak ada waktu.

Dengar, kita pernah jadi teman sekelas di kampus.

Jangan katakan kau tak mau menolongku.

Kau tahu betapa sadisnya dia. Jika ia sampai tahu...

...ia akan membunuhku dulu, lalu kau, lalu dirinya sendiri.

Aku merinding membayangkannya.

Kuanggap kau bersedia. Aku terus jalan.

Memancing, mahjong, ke rumah duka...

Kau kalah, Untung, kau harus minum!

Hai! Hei!

Hei, Adik Angkat!

Hei, Adik!/ Kau telat.

Kalian tepat waktu sekali, ya. Sudah pesan makanan?

Tentu belum! Kami menunggumu! Ayo, minum dulu!/ Nanti saja.

Ato kita pesan dulu./ Jangan repot-repot. Biar dia saja.

Hei, Bro! Tadi malam asyik, kan?/ Kemarin orang ini di sini...

Hei, aku tahu kau di mana!/ Bagaimana kau tahu?

Muridmu memberitahuku, tadi malam kau membuat kue...

...dan kau tidak makan malam sama sekali.

Kau sialan! Katamu kau pergi memancing dengan adikku.

Aku... Bro! Aku memang pergi memancing dengannya.

Ayo, kau saja yang jelaskan./ Begini ceritanya.

Kemarin ia meneleponku saat aku membuat kue.

Katanya ia di Dermaga Kowloon, dan ada banyak ikan di sana.

Kau tahu aku menyukainya.

Jadi, aku setuju ke sana untuk menangkap ikan.

Kuhentikan kerjaanku, lalu naik taksi untuk bergabung dengannya.

Lalu mana ikannya? Aku tak lihat kau bawa ikan ke rumah.

Ia cuma pura-pura. Ini tak ada hubungannya dengan ikan.

Karena kau sering memaki...

...maka kami bebaskan ikan-ikan itu agar tak kena Karma.

Dia juga membantu!

Brengsek! Katamu kalian bermain mahjong semalaman?

Mereka pergi memancing!

Tidak, Sayang, sebenarnya tidak main mahjong semalaman.

Hei, Bro! Sial Kau! Ceritamu jadi berbelit-belit!

Sebaiknya kau luruskan ceritanya!

Sebenarnya, begini ceritanya:

Saat kami sedang duduk memancing...

Dia menelepon dan ingin bermain mahjong...

Karena kami juga ingin main dan beristirahat, kami suruh ia membawa...

...kartu mahjong ke dermaga dan bermain 4 ronde.

Itu tempat keberuntungan! Aku menang terus-menerus.

Murni, Tiga Naga Agung, Empat Berkat Agung...

Mereka mengira aku adalah Dewa Mahjong.

Kau hebat, Ya? Lalu siapa yang kalah?

Si Wong tua dari toko di jalan itu!

Wong? Katamu Wong itu meninggal dan kau harus begadang?

Bagaimana bisa ia kalah?

Bro, tolong kau coba jawab salah sangka ini.

Aku lagi?/ Lakukan saja sebisamu.

Cerita pada akhirnya begini:

Saat kami bertiga main mahjong di dermaga...

...kami putuskan mengajak Wong ikut main.

Tapi saat kami menghubunginya, ternyata ia sudah meninggal.

Karena ia begadang...

...maka kami putuskan membawa mahjong ke rumah duka.

Kalian main mahjong di tempat orang berduka?

Tak ada taruhan uang, dan di sana AC-nya bagus.

Yang terpenting, tak ada keluhan jika hanya main beberapa ronde.

Sekarang sudah jelas keberadaan kami semalam.

Kita harus pesan makanan terbaik, oke?/ Tunggu!

Apa lagi?

Bukan semua yang di sini./ Siapa lagi yang terlewatkan?

Ibu menemukan gadis dari Kanada...

...dan membawanya kemari untuk dipertemukan denganmu./ Apa?

Sial! Kenapa ia belum juga datang?

Permisi, ini keluarga Cheung?

Kau Ching, ya?/ Benar. Ny. Cheung menyuruhku kemari.

Duduklah, Ching, kami sudah menunggumu.

Jadi, Ching, kau ke Hong Kong untuk kerja atau liburan?

Sebenarnya aku pramugari, terbang ke mana-mana.

Saat kembali ke Canada, Ny. Cheung terus memintaku...

...berkunjung dan ikut makan malam bersama kalian.

Tenang saja, kami tiga saudari yang ramah.

Kalian kakak-adik?

Cewek bule itu hasil adopsi, jadi ia tak secantik kami.

Banyak juga orang yang sekacau itu.

Senang berjumpa denganmu! Gadis cantik!

Kau pramugari, ya?

Aku di bagian keamanan, jadi kita seragam

Ini sudah ditakdirkan./ Bodoh!

Ini kencan buta adikmu, bukan kau!

Jika kau tak duduk sekarang juga, kupotong urat nadiku, kau bajingan!

Hei, Adik! Cari tahu ia mau makan apa!

Pakai mangkuk tak apa?

Keluarga kami suka minum teh dengan cara ini.

Bukankah kelihatan lebih baik dengan mangkuk?

Kau sudah capek? Mau nonton film?

Jika kau tak mau, tak perlu memaksa diri.

Apa? Kenapa memaksa diri? Terlihat begitu?

Aku memang ingin mengajakmu nonton film.

Dan sebenarnya... kita tak perlu pura-pura lagi.

Apa maksudmu?/ Kaukira aku tak tahu?

Kita di sini malam ini karena desakan ibu kita.

Tapi kuharap kau tak keberatan jika aku terus terang.

Apa?/ Kau bukan cangkir teh-ku

Tak apa, karena kau bukan tipeku juga.

Maka itu bagus!

Kenapa?/ Aku sudah punya pacar.

Punya pacar tapi tetap kencan buta? Itu 'kan curang.

Cuma bercanda.

Biar kuperkenalkan, ini pacarku, Taro.

Ini. Tn. Cheung./ Salam Tn. Taro./ Senang bertemu.

Asal Jepang?

Ibuku tak suka aku pacaran dengan orang Jepang.

Aku belum berani memberitahukannya.

Ia benci sekali orang Jepang, apa ia wanita ramah atau...

Bukan, kini sebutan mereka "Bunga dari Nanking", iya kan?

Bukan begitu.

Belakangan ini nilai tukar Yen melonjak terlalu tinggi.

Sudah larut malam. Kami harus pergi./ Da-dah.

Tn. Cheung, semoga kita berjumpa lagi./ Oke.

Hei, Bung, ini perampokan!

Apaan ini? Orang macam ini yang ke mana-mana hanya bawa 20?

Aku malah punya 100 hasil kerja. Ada apa denganmu?

Baru kutahui, jadi kurir sejauh beberapa blok bahkan tak cukup bayar taksi.

Kau butuh uang, ya?

Lepaskan aku. Kuserahkan jam tanganku.

Aku ini pemalas, tak pernah pakai jam tangan.

Aku tak mau diburu waktu.

Aku punya ponsel di saku bajuku, ambillah.

Jika kuambil ponselmu, kau akan gunakan GPS untuk melacakku! Tidak!

Jadi apa maumu? Berikan semua barang berhargamu!

Kau sudah punya senjata api, kenapa tak merampok bank saja?

Itu lebih menguntungkan./ Ini cuma sepotong sampah...

Di toko stasiun sana harganya cuma 12.

Tapi berguna, kan?

Kau rampok sialan! Pergilah ke neraka!

Neraka bukan untukku.

Artinya, aku sudah selangkah menuju surga.

Lihat betapa bebasnya diriku!

Bebas.

Karena kau begitu bebas, ambillah uang 20 itu dan pergi.

Jadikan untuk tambahan untuk beli senjata itu.

Kau masih punya sisa 8.

Pasti ada barang berharga. Coba kuperiksa.

Kau memang tak punya apa-apa.

Ini kue sungguhan.

Tolong aku! Hei!

Yeah.

Bro! Aku butuh bantuanmu./ Apa itu?

Dompetku hilang, aku tak punya uang untuk bayar tagihan.

Aku kalah lagi? Kalian selalu menang.

Kalian bersekongkol, ya?/ Kau lihat sendiri aku mengocok.

Coba kuperiksa, mungkin kalian taruh itu palsu.

Bro! Apa kau...

Kepalamu basah kuyup dan wajahmu hijau. Sehabis berenang, ya?

Katamu kau sedang makan dan tak punya uang.

Jadi, kususuri beberapa blok dan membantumu dapatkan uang. Apa ini?

Soal makan memang benar.

Tapi lihatlah ini.

Bukan aku yang makan, tapi teman kecilku ini!

Kita bisa pergi sekarang?/ Kau baru tiba.

Duduklah, kita pesan lagi. Teman kecilku kelaparan lagi.

Jika kau lapar, silakan saja. Aku bawa uang.

Uang, uang, uang...

Pasti cukup untukmu. Aku saja yang pergi.

Karena kau di sini, bawalah gadis ini. Biar kuperkenalkan.

Kutahan dua gadis ini, khususnya untukmu.

Yang kecil seksi menggairahkan ini bernama Wing.

Yang ini lebih baik lagi. Meski kalah seksi, tapi lihat!

Buah dadanya menyembul keluar! Namanya Yuki.

Ayo bersenang-senang./ Layani dia.

Minumlah. Kita main dadu.

Aku merasa tak sehat. Rasanya demam dan menggigil./ Hai, Tampan.

Mau meniup?/ Apa?

Hari ini ulang tahunku. Ayo ikut meniup.

Tidak, terima kasih... ajak dia saja./ Semuanya jangan bergerak!

Ini razia KTP. Keluarkan KTP kalian. Berhenti main-main.

Tak perlu kasar jika mau periksa KTP.

Ini ulang tahun guruku. Memangnya tak boleh?

Kau mengguruiku, ya?/ Benar, aku mengguruimu, Petugas.

Mau digiring ke kantor polisi?/ Ini konyol.

Sebaiknya berharap saja aku menemukan KTP-ku...

Hei! Bro. Bro!

Itu tempat tidurku.

Terima kasih.

Halo?/ Hai, sudah sadar? Semua baik saja?

Kau di mana?/ Di rumah. Nonton acara infotainment.

Kau tinggalkan aku di rumah sakit dan pulang begitu saja?

Aku tak bermaksud begitu.

Tapi, tadi kulihat pintu masuk karaoke sudah dipenuhi paparazzi.

Paparazzi?

Mereka memfotomu./ Memfotoku? Sungguh?

Tapi mungkin tak masalah.

Mungkin mereka tak tahu aku ada di rumah sakit./ Tidak juga.

Saat aku pergi, kulihat mereka mengejar ambulan-mu.

Mungkin mereka masih menunggu di depan pintu.

Saranku, carilah jalan keluar lain.

Kau lihat si Tayler kecil?/ Coba cari di situ.

Kau benar./ Kabarnya, mereka sudah mempersiapkan kabar utama...

They are saying they already have a headline

Judulnya... "Mantan Bintang Cilik Tertidur Bersama Para Gadis Mong Kok."

Kurasa mereka tak sempat memfoto kepalamu.

Sudah dulu.

Kau!

Ini rumah sakit. Siapa yang ijinkan kau keluyuran. Mau apa?

Maaf, Suster, aku tersesat, tak tahu jalan keluar.

Bisa bantu aku?/ Untuk apa?

Kaukira aku mengenalmu?

Saat aku dirampok siang tadi, kau pergi begitu saja.

Ya, sudah.

Maslam itu aku dipukuli, kau pura-pura tak melihatnya.

Persetan kau, Jalang! Cukup sudah!

Baik, anggaplah kita impas, oke?

Tapi aku sedang buru-buru, tolong antarkan aku...

...carikan jalan yang sepi, tak banyak orang.

Mau, kan?

Hei, kenapa memfotoku? Aku akan menjerit!

Aku tak memfotomu, aku memfoto lift ini.

Orang macam apa yang lakukan itu?

Tahukah kau?

Meski usianya sedikit tua, tapi lift ini buatan Jerman...

Dan kita kita ada di sini.

Selain itu, lift ini kokoh, tak berisik, dan kontrol suhunya sangat tepat.

Lift ini sungguh bagus!

Rumah sakit ini ternyata tak pelit untuk membeli lift berkualitas.

Kau tukang reparasi lift?/ Bisa dikatakan, lebih profesional dari itu.

Sejujurnya, aku Anggota Kehormatan dari Klub Elevator Hong Kong.

Ini kartu anggotaku.

Ada ya klub semacam itu?/ Kenapa tidak?

Ada orang suka mengoleksi perangko, ada yang suka menari...

Kenapa orang tak bisa menyukai lift?

Kau tahu, lift adalah salah satu inovasi terpenting dalam sejarah manusia?

Berkat inovasi ini, orang tak perlu naik tangga sepulang kerja.

Berkat inovasi ini, orang bisa punya waktu bersama keluarga...

...sekaligus meningkatkan efisiensi kerja.

Kau tahu yang terpenting?

Lift mengurangi resiko kau terpeleset.

Setelah mendegarkanku, kau pasti tertarik pada lift.

Kebetulan kami menerima anggota baru.

Bagaimana kalau.../ Kita keluar dari lift ini.

Terus lurus lalu turun lewat lift di sana...

Sesampai di sana, buka pintunya. Kau akan tiba di halte bus.

Tak ada orang di sana, kan?/ Tak ada satu pun.

Itu yang kuharapkan. Suster, terima kasih banyak.

Tapi, tolong pertimbangkan untuk bergabung klub elevator kami.

Kami sering berkumpul dan beraktivitas.

Seperti merayakan ulang tahun di dalam lift, adakan arisan...

...dan terkadang adakan acara karaoke di dalam lift.

Bukankah itu menarik?/ Tentu...

Akan kupikirkan.

Hubungi aku jika sudah kauputuskan.

Nih... ini kartuku.

Jika kau mau beli kue, akan kuberi potongan 20 persen.

Kau baik sekali./ Ini bukan apa-apa. Akulkah yang berterima kasih.

Terima kasih./ Terima kasih.

Aku harus kembali kerja./ Baik. Da-dah./ Dah.

Jangan memfoto! Kalian dari harian mana?

Jangan memfoto!

Aku ingin bertemu idolaku!/ Bos sedang tak ada.

Jangan bohong. Aku tahu idolaku di dalam.

Aku cuma ingin tanda tangan.

Jika Anda ingin membeli kue, silakan mendaftar dulu.

Tak usah mendaftar!

Idolaku, aku tak keberatan kau mengejar gadis-gadis muda!

Jika mereka mempermainkannya...

Selama ia tahu arah pelabuhan hatinya...

Idolaku, aku akan menunggumu di rumah!

Ido Sayang, aku pulang untuk memasak makan malam...

...dan menyiapkan busa mandi untukmu.

Ingat, cepatlah pulang.

Da-dah!/ Hati-hati di jalan.

Bos, kemari. Lain kali tolong lebih hati-hati dengan urusan pribadimu.

Semua tahu soal urusanmu dengan gadis-gadis muda. Aku tak peduli.

Tapi kini kau juga kedatangan dua cewek gila!

Yang benar saja? Tiap hari meladeni cewek gila seperti itu!

Itu mengganggu pekerjaan./ Sudah kubilang, bukan aku yang salah.

Teganya jalang itu membimbingku ke gerbang itu.

Aku tak yakin ia melakukannya dengan sengaja.

Tak sengaja? Bukankah ia punya dendam padamu?

Membahas itu bisa membuatku kesal!

Jika aku bertemu jalang terkutuk itu lagi...

Apa...

Ayo, kita lihat./ Apa?

Suster...

Kau sudah menjebakku, untuk apa aku bicara denganmu lagi?

Maafkan aku.

Tapi aku tak tahu para wartawan itu sudah ada di sana. Sungguh!

Aku tak mau bicara. Aku tak percaya ucapanmu.

Aku mengerti.

Itu sebabnya kau tak mau saat kuajak bergabung klub elevator!

Itu karena kau ingin menaruh jebakan untukku.

Hei, kau salah sangka.

Aku bahkan tak suka naik lift. Biasanya aku naik tangga!

Jadi kita tak punya kesamaan minat. Oke, kuterima maafnya. Pergilah.

Tak suka naik lift? Sungguh aneh./ Selain minta maaf...

...aku juga mohon bantuanmu./ Apa itu?

Aku ingin belajar membuat kue.

Sudah lama aku tak menerima murid.

Kau tak perlu menjadikanku murid.

Aku cuma ingin membuat satu kue!

Tahukah kau berapa tarifku untuk menunjukkan cara membuat kue?

Barapapun, katakan! Akan kubayar.

10 ribu. Bagaimana?

Hei, sedang apa kau?

Bisa kita mulai?

Kita sudah siap, belum?

Memangnya kau buru-buru?/ Tidak.

Baguslah.

Oke, tentang kuenya...

Jenis apa yang ingin kau buat?

Terserah./ Terserah? Bukan begitu caranya.

Jika kau ingin aku membuat kue, bukan dengan terserah.

Kau saja yang putuskan!

Lalu, kue ini untuk seseorang atau diri sendiri?/ Untuk hadiah.

Siapa?/ Haruskah kujawab?

Tentu! Ada kisah inspiratif dalam setiap kue.

Semua orang punya kuenya masing-masing. Paham?

Pacar./ Pacar sekarang?/ Mantan.

Y? Z?

Cuma bercanda. Serius amat!

Ayo mulai!

Selesai.

Mau mencicipi?

Tidak, terima kasih. Aku sedang diet.

Waktuku habis!/ Sedang buru-buru?

Kau punya mobil?/ Ya./ Bisa antar aku?/ Ke mana?

Akan kutunjukkan jalannya./ Apa?

Kuenya bahkan belum beres.

Kue indah perlu kotak yang mewah. Tunggu sebentar.

Sial, aku lupa di mana menyimpan kotaknya!

Kupesan saja lewat telepon. Tapi buku teleponku ada di rumah.

Sudah sampai?/ Sampai sini saja. Terima kasih bantuannya.

Terima kasih./ Tak perlu./ Kau boleh pergi sekarang./ Apa?

Tak apa, kau tak perlu terus mengantarku.

Tak masalah. Aku tak keberatan./ Tak perlu, sungguh.

Aku harus pergi. Da-dah!/ Apa?

Fai.

Sudah berapa kali kukatakan, jangan telepon aku.

Tahukah kau, istriku memeriksa ponselku?

Aku harus bohong dan bilang pergi membeli pizza.

Bobo... jangan terlalu dekat denganku.

Kau bahkan tak bisa ditakut-takuti. Kumohon, lepaskan saja aku.

Selamat ulang tahun./ Sekarang bukan ulang tahunku.

Untuk ulang tahun istrimu besok./ Dari mana kau tahu?

Kami pernah jadi teman sekelas di SD, ingat?

Aku yang perkenalkan kalian berdua di ulang tahunku beberapa tahun lalu.

Lalu kau jadian dengannya, dan kau memutuskanku.

Bobo... tak usah ungkit masa lalu.

Tunggu. Kue ini untukku atau untuk dia?

Untukmu.

Bukankah kau ingin mencicipi kue yang kubuat?

Sudah kubuat. Aku tak bohong.

Terima kasih.

Kau cuma ingin aku dapat masalah.

Bagaimana aku bisa bawa ini ke lantai atas?

Katakan saja kau tak menemukan pizza, malah dapat kue sebagai kejutan.

Kau pandai berbohong. Mestinya tak perlu saranku.

Benar.

Apa ini jenis yang kusukai, cokelat?

Ya./ Jika begitu, aku pergi dulu.

Bisakah kita berbincang sebentar lagi?/ Bobou.

Aku sudah bohongi istriku mencari pizza.

Jika ia melihat kita berdua, bisa celaka.

Bukankah tak ada lagi yang perlu kau sampaikan?

Romantika kita bagaikan lagu dari Joey Yung...

"Dari menit ini, tersapu angin musim semi dan hujan musim gugur...

Setengah tahun masa berlalu namun jejak masa lalu terasa sakit."

Sepertinya kau cuma main-main, kenapa kau libatkan Joey?

Bobo... ini cuma putus cinta. Jangan sampai membuatmu sedih.

Lagu dari William So:

"Impian tak bisa kau raih, tak lagi diwujudkan."

Kau siapa, Nak?

Aku pacar Bobo.

Kau pacaran?

Selamat! Sejak kau berkutat...

Aku lega ada seseorang yang bisa menjaganya.

Sudah berapa lama hubungan kalian?/ Baru saja./ Benarkah?

Teman, Bobo punya banyak "kejutan". Kau takkan bisa menerkanya.

Kuharap kau baik saja. Sungguh, Bobo...

Sudah ada orang baru untuk dipermainkan, aku hanyalah kmasa lalu.

Ini bagus! Akhirnya ada orang yang menggantikanku!

Ini lebih baik daripada memenangkan lotere!

Kenapa kau mengaku pacarku tadi?

Aku tak paham mengapa kau suka kodok bermata-empat itu.

Kecuali ia sangat kaya atau berpendidikan tinggi...

Atau dia begitu baik mendonorkan organnya bagi yang membutuhkan.

Atau ia membantu nenek-nenek menyeberang jalan.

Begitula ia bagiku.

Benarkah?

Yang tadi... terima kasih.

Lupakan saja.

Tempat ini menyenangkan, ya?

Di sini?

Tentu saja di sini menyenangkan!

Di sini tak begitu ramai, tapi dekat dengan kota.

Sebelah sana stasiun kereta bawah tanah,

...perbelanjaan dan bioskop cuma butuh 10 menit jalan kaki.

Di sana banyak sekolah bagus.

Jika sudah punya anak, kau tak perlu repot mencari sekolah.

Guru feng shui pernah berkata:

Harta karun naga akan berlari lewat sini tahun depan.

Semua tempat tinggal akan diberkati. Impian mereka akan terwujud.

Kau ini suster atau agen perumahan?/ Aku memang tertarik pada perumahan.

Kenapa kau tak pindah sini saja jika di sini bagus?

Aku pernah tinggal sini.

Tapi brengsek itu mengusirku.

Maaf.

Tak perlu bilang maaf. Bukan kau yang mengusirku./ Ya.

Sudah larut malam. Biar kuantar kau pulang.

Kuemu terlalu mahal.

Mengantarku perlu keluar uang lagi. Aku kehabisan uang.

Aku cuma bercanda soal 10 ribu untuk satu kue itu.

Ini, kukembalikan.

Serius?/ Ya.

Maka aku naik taksi saja./ Terserah saja./ Oke.

Dah./ Dah.

Satu hal lagi.

Joey Yung juga punya lagu.

"Patah hati di musim semi, terobati musim gugur.

Kerasnya kepedihan menyusut dalam kedamaian."

Aku tak pintar dengan kata-kata. Tapi kau mengerti.

Lain kali cobalah itu saat kau ber-karaoke.

Dah.

"Satu minggu kemudian"

Ada yang tak beres dengan kuemu. Ini bisa membuat orang sakit!

Masa bodoh, aku ingin menemui bos-mu!/ Akhirnya kau kembali!

Ada apa?/ Wanita itu ingin menemuimu.

Bos.../ Kau ya orangnya?

Apa sudah gila, menaruh seperti itu ke dalam kue?

Apa maksud Anda, Nona?

Apa maksudku? Sudah pasti kau tahu!

Kau menaruh sesuatu pada kuemu.../ Sayang, sudah kubilang jangan ke sini!

Lepaskan! Biarkan saja!

Kita pulang saja./ Sayang!

Aku akan menuntut mereka! Kutuntut habis-habisan!

Bagaimana bisa? Kita sudah memakannya sampai habis.

Tanpa bukti, tak ada yang bisa kita lakukan!

Apakah kuenya tak enak? Jika tak suka, akan kubuatkan lagi.

Makan saja sendiri! Kuemu mengandung... kotoran...

Sejak makan kuemu, ia menggosok gigi 20-30 kali sehari.

Dan mulai mengigau saat tidur, berkata, mulutnya bau kotoran.

Sudah kubawa ke psikiater, katanya biarkan saja ia menggosok gigi.

Gosok sesukanya, kapan saja.

Akhirnya ia tak lagi gila belanja, membuang-buang uangku.

Tapi kue itu dibuat oleh... Maksudku... memang buatanku.

Tapi aku tak tahu jika isinya, kau tahu...

Aku tahu... Hanya Bobo yang bisa berbuat seperti itu.

Sudah kuduga ia takkan biarkan aku tenang.

Tenang saja, aku takkan menuntutmu.

Aku tak ingin masalah ini diketahui orang banyak.

Aku tak menduga jika kau orang yang mudah kompromi.

Kau bisa jadi teman yang baik.

Ingat kembali saat memakan kue itu...

...aku bahkan mengira itu cokelat rasa-kotoran yang baru.

Persetan. Itu sebenarnya kotoran rasa-cokelat.

Semoga kau tak keberatan dengan perkataanku...

Dengan perlakukan Bobo seperti itu, tentu ia jadi sedikit keterlaluan.

Tapi kau pasti merasa ingin membalasnya, kan?

Dengar, Teman.

Kau tahu cinta itu seperti serial TVB:

Tiap sutradara akan membuat 5 episode secara acak.

Kau takkan tahu episode mana yang bagus...

...kecuali kau mau sabar menonton semuanya.

Bahkan serial TVB!

Kau hanya tahu bagaimana aku memperlakukan Bobo.

Tapi tak tahu bagaimana ia memperlakukan aku, kan?

Aku mau ke toilet. Kau bisa mengaturnya?/ Bisa.

Jangan berantaki perkakasku, ya? Aku segera kembali.

Selesai! Mau mencicipi?

Tidak, terima kasih.

Maaf sudah melibatkanmu./ Aku tak mau menyalahkanmu.

Aku hanya ingin katakan sesuatu...

...bahwa perlu ada perpisahan. Apa gunanya kau berbuat itu?

Semakin kau menekannya, semakin ia membencimu.

Jika aku tak bisa membuatnya mencintaiku...

...setidaknya aku bisa membuatnya membenciku.

Dengan begitu ia akan mengingatku.

Terserah kau saja.

Kau pernah mencintai seseorang? Pernah disakiti orang yang kaucintai?

Jika pernah, kau akan tahu perasaanku.

"Itulah pertengkaran pertama mereka"

Baik, siap, satu... dua... tiga.

Giliranku. Sini.

Sudah bagus?

Tentu bagus!

Lift-nya tetap tua. Bisa diketahui dari suara mesinnya.

Lebih tua dari kakekku, tapi jangan hiraukan usianya.

Lajunya tak melambat. Dari lantai 9 ke bawah sini cuma 2 menit.

Mie instan-ku malah kalah cepat masaknya.

Dulu pernah ada perancang bernama "Mel Liftson".

Ia jadi gila sejak diputus pacar.

Dengan penuh amarah, ia lalu merancang sebuah lift.

Sebutannya "Lift Kesepian".

Konon hanya bisa dinaiki satu orang.

Jika dinaiki dua orang, maka mereka akan mati.

Bisakah lift sejahat itu?/ Kau berani mencobanya bersama?

Tidak, terima kasih. Saatnya istriku memberi makan bayi.

Aku mau pulang membantunya. Sampai jumpa.

Aku akan membantunya.

Kalau begitu, aku tak perlu susah payah mendapatkannya.

Kenapa kau ke sini?

Jadi, ini lift-nya?/ Ya, ini salah satunya.

Boleh kucoba?/ Tentu boleh. Ayo. Kau duluan./ Baik.

Kenapa kau tak ikut?

Lift ini cuma untuk mengangkut satu orang.

Jadi... kau saja yang duluan. Aku akan ke lantai berikutnya

Lalu kau keluar, giliran aku masuk. Begitu seterusnya sampai lantai 4.

Rumitkah ini?/ Sama sekali tidak.

Ini sama seperti berkendara mobil, hanya saja kita memakai lift.

Kutunggu kau di atas.

Wow, kau cepat sekali./ aku seorang atlet.

Lift-nya... Baik saja?

Yah./ Giliranku.

Kau juga cepat!/ Baru tahu, ya? Aku lari maraton tiap tahun.

Cepat LIP!

Waspadai aku untuk maraton tahun depan.

Hati-hati, lorong tangganya gelap.

Tak apa. Aku tahu.

Sedikit rapikan rambutku, agar aku tampak menarik saat ia melihatku nanti.

Perbaiki dandananku agar aku tak tampak bodoh.

Ini makan waktu lama.

Lantai paling atas. Perjalanan selesai./ Cepatnya.

Bisa lain kali./ Lain kali? Kapan?

Kau sudah jadi anggota klub kami, ada banyak lift yang bisa dinaiki.

Sekarang apa?

Sekarang kau... turun dengan lift. Aku turun lewat tangga.

Kenapa tak turun sama-sama?

Kau tak lihat peringatan kutukan itu?

Masuk bersama, mati bersama!

Aku tak menyangka kau percaya tahayul.

Kau tak takut?/ Jika kau tak takut, maka aku juga.

Kau bisa mati./ Bersama.

Kau cukup berani.

Tapi kenapa tanganmu dingin sekali?/ Sejak lahir.

Kebetulan aku kenal tabib Cina, akan kuajak kau ke tempatnya.

Kenapa pintunya tertutup sendiri?

Tenang. Aku tahu penyebabnya.

Lift ini pasti menyadari ada kita berdua di dalam sini.

Tapi jika kau tak bernafas atau bicara, ia takkan tahu.

Tapi kau sendiri yang bicara./ Hei! Sudah kubilang, jangan bicara!

Lift ini mengandung kejahatan.

Sial!/ Kita cuma terjebak!/ Tidak sesederhana itu.

Celakalah kita kali ini...

Kau sangat menyukai lift, Bukankan mati di sini lebih baik?

Jika kau suka pesawat, maukah mati dalam kecelakaan pesawat?

Apa itu?

Sial! Kenapa tempat ini sempit sekali?

Kau kenapa?

Sejujurnya, aku mengidap semacam claustrophobia!

Apa? Selama ini kau tak pernah terjebak dalam lift?/ Tak pernah.

Sial, aku sulit bernafas.

Kau akan baik-baik saja.

Tutup saja matamu.

Tutup matamu./ Tutup mata?

Mungkin kau akan merasa baikan.

Bagaimana?/ Lebih buruk dari sebelumnya.

Apa yang terjadi?

Aku hanya mencoba mengalihkan perhatianmu./ Bukan.

Barusan... apakah kau merasakan semacam... getaran?

Berhasil, kan?

Sulit dipercaya!

Kau masih ingin lift ini turun, kan?

Belum sampai?

"Mereka berciuman dalam waktu lama..."

Ya, ampun. Waktunya kerja./ Satu ciuman lagi.

Aku sudah terlambah lebih dari 2 jam.

Kita makan malam sepulang kerja.

Aku akan meneleponmu./ Ya, telepon aku.

Dah!

Halo?/ Tebak siapa ini.

Ini aku!

Aku rindu sekali!

Bukankah rindu itu artinya...

...kau menginginkan ia saat ia tak ada di sisimu.

Tapi aku di sini, tepat di depanmu. Bagaimana kau bisa rindu?

Sekalipun kau ada di sisiku, aku tetap rindu.

Rindu jenis ini bahkan lebih dari rata-rata yang kaurasakan.

Apa-apaan ini?

Tempat ini tampak berantakan dan banyak cucian yang harus diselesaikan.

Bisa kau mengurusnya?

Hanya kita berdua. Kenapa repot?/ Kau ini suster.

Bagaimana mungkin berantakan?/ Aku 'kan di bagian perawatan intensif.

Maksudnya?/ Pasien di sana tak sadarkan diri, jadi tak ada yang mengeluh.

Sial, lebih buruk lagi.

Oke, aku berangkat./ Tunggu!

Jika tak boleh cium, maka pelukan saja!

Berapa lama?/ 10 menit, dimulai sekarang!

Peluk yang erat!

Lebih erat, atau itu tak masuk hitungan!

Kalian kesurupan, ya?

Tahan. Jika ada yang tak beres, katakanlah. Duduk.

Dari tampang kalian, tampaknya kalian sedang berebut pria yang sama.

Tenanglah. Kalian boleh libur hari ini. Carilah pria lain. Asyik, kan?

Bos, selama kau bersama gadis itu, bukan soal berapa pria yang kami temui.

Kenapa dengan Bobo?

Setiap kali ia tak bertemu kau, ia menelepon kami. Tak masalah.

Tapi ia juga menelepon pacar kami!

Benar. Ia cukup gila menelepon dan menakuti pacarku, katanya...

...ia akan dipenjara jika tak bisa menemukanmu. Bagaimana, nih?

Oke, oke...

Aku akan suruh Bobo, mulai sekarang, ia hanya boleh bicara padaku...

...dan tidak mengganggu pacar kalian, oke?

Itu saja?/ Ada lagi?

Setidaknya ada kompensasi untuk kejiwaan kami.

Jantung kami mudah trauma!/ Begitu traumatis... sakit!

Rasanya sakit. Bos!

Baik, baik, baik. Akan kubayar.

Pergilah.

Tolong dibersihkan, Bos. Terima kasih.

Hei!

Hei, Bro!

Kabarnya kau pacaran dan menyembunyikan diri.

Bukan seperti itu./ Jadi, kau bebas malam ini?

Ada apa?/ Ini ulang tahunku. Ayo minum-minum.

Minum? Boleh juga...

Datanglah sekarang! Apa perlu surat lamaran untuk itu?

Persetan kau./ Tapi tunggu.

Katanya pacarmu itu sangat pemaksa.

Baik! Jam, tempat, siapa yang datang? Tuangkan!

Ya, begitu, dong. Datanglah ke tempat biasanya./ Sampai ketemu di sana!

Sayang... ini aku.../ Tahan. Kau lupa, ya?

Oke, lanjutkan./ Begini, aku tak bisa menemanimu malam ini

Kerabatku baru saja meninggal.

Aku harus ke rumah duka... Ia adalah paman besar keempatku.

Aku tak ingat kau pernah menyinggung soal paman besar keempatmu.

Aku tak inga... Aku...

Maksudku, aku baru menyadari keberadaannya minggu lalu.

Ini memalukan. Aku tak sempat bertemu dengannya.

Tapi rindu sekali./ Aku juga rindu.

Aku segera kembali.

Hanya boleh sebentar./ Tentu sebentar.

Aku cuma membungkuk lalu pulang.

Jangan membungkuk terlalu lama. Telepon jika sudah selesai membungkuk.

Oke. Sudahlah. Dah!

Kau lupa lagi.

Anak baik!

Oke! Da-dah!

Yes!

Bersulang!

Biar kucoba.../ 5, 10... 5, 10.../ Lumayan...

Razia!!

Hai!

Sial!

Kenapa terlambat? Ambil minumanmu!

Kalian pikir aku seperti kalian, tak diawasi, tak ada kerjaan...?

Tunggu! Kenapa sepertinya itu menyusut?

Sudahlah... ayo minum!/ Bersulang!

Jika kalian minum untuk melupakan masalah...

...ayo minum sampai ambruk!

Apakah kalian merasa wanita itu mahkluk yang aneh?

Mereka berubah total begitu kau mulai memacari mereka.

Bahkan lebih cepat dari mengangkat kepala.

Sebelum pacaran, awalnya mereka santai dan menyenangkan.

Tapi selanjutnya, mereka yang mengendalikan segalanya.

Ini sungguh aneh.

Aku ini pacarnya, bukan anjing peliharaannya.

Sama saja dengan istriku.

Saat kami pacaran, dia masih malu-malu.

Jika kusuruh duduk, ia takkan berani berdiri.

Jika kusuruh tidur, ia takkan bangun.

Setelah menikah... persetanlah.

Kau tahu apa yang ia katakan di malam pernikahan kami?

"Sial, cepatlah. Aku capek, brengksek." Aku kaget sekali.

Punyaku tak bisa berdiri dalam waktu lama!

Suatu hari kubawa ia ke dokter. Tahu apa yang terjadi?

Ia didiagnosa mengidap Tourettes!

Sebagai penjaga keamanan...

Jika orang berlaku acuh, tentu kita akan menyumpah.

Tapi dia tidak!

Ia bahkan menyumpahi dokternya: "Cepat, Sial. Aku capek!"

Sedih rasanya. Aku ingin meremas, ayo, sini!

Persetan. Aku selalu bilang: Pacaran itu seperti belanja.

Jika membeli sesuatu, tapi kemudian kau tak suka...

...atau salah beli, kembalikan saja dan ganti yang lain!

Jika mereka tak mau memberi ganti, buat surat keluhan ke Perlindungan Konsumen.

Jika tak berhasil, gantung mereka!

Dalam pacaran, selalu ada iklan yang bohong.

Tapi tak pernah ada kebijakan pengembalian!

Seperti adikmu.

Waktu pertama bertemu, ia mengaku alergi alkohol.

Selanjutnya, baru kutahu, ia lebih kuat minum dariku.

Tahu, apa penjelasannya?

Katanya, "Aku alergi jika tak cukup alkohol."

Omong kosong!

Tipuannya makin lama makin parah.

Berita Kriminal di TV seharusnya meliput dia.

Masalahmu tak sebanding denganku! Masalahku yang terburuk!

Saat pertama kali bertemu, ia mengaku dulunya adalah bule dan sebagainya.

Brengsek! Ternyata ia tak paham istilah Inggris!

Ajegile!

Jika ia bule, kau harus bayar mahal.

Tapi jika bule palsu, haruskah aku dapat diskon?

Dia yang harus bayar.

Bro, di keluargamu banyak penipu. Kini, kaulah yang ditipu.

Itulah karma! Bersulang!

Ayo minum untuk karma!/ Sudah cukup senang-senangnya?

Kenapa kau kemari, Bobo?/ Aku yang harusnya bertanya!

Katamu mau pergi ke rumah duka. Kenapa ada di sini?

Kenapa aku di sini?

Benar. Karena paman-besarnya mencapai usia 109 tahun.

Jadi, kami ingin merayakannya. Maka kami kemari untuknya. Benar, kan?

Benar!

Minum untuk dia?/ Benar!

Semasa hidup, ia sering mabuk.

Ia sewa seluruh tempat ini untuk pesta.

Lihat. Botol ini salah satu yang ia sisakan.

Karena semua sudah di sini, kita harus bersulang untuk paman-besar, oke?

Untuk paman-besar!

Minum!

Bagaimana dengan mereka? Siapa mereka?

Mereka siapa?/ Mereka ini para cucu paman-besar.

Mari kuperkenalkan. Nomor 3, nomor 6, nomor 147, nomor 6, dan nomor 3.

Beri salam ke kakak-angkat.

Salam untuk kakak!

Bukankah mereka punya nama?/ Mereka punya nama!

Benar. Paman-besar sudar terlalu tua.

Ia takut tak mengingat nama mereka.

Jadi, ia berikan mereka semua nomor!

Benar. Nomor jauh lebih mudah.../ Diam!

Kalian pikir aku bodoh, ya?

Kau benar.

Coba kutanya lagi!

Kau bisa jelaskan ini?

Aku saja yang tangani ini di sini. Kalian pergilah.

Bro!/ Pergi!

Baik.

Hei, mau apa?/ Bayar.

Jangan, aku saja.

Hei, kali ini biar aku saja./ Minggir!

Lihat kilau ini, kalian pikir aku tak punya uang?

Meremehkanku, ya?/ Tidak, biar aku saja!

Aku punya. Kali ini benar-benar kubayar.

Biar aku tanggung semuanya. Kalian pergilah.

Dan para gadisnya?/ Bawa saja.

Aku tahu tempat lain yang digunakan paman-besar berpesta.

Ayo pergi sekarang juga dan tetaplah minum untuknya.

Sebaiknya telepon paman-besar pertama./ Meneleponnya?

Kita panas-panasi dia.

Apa lagi yang ingin kausampaikan?

Dari mana kau tahu di sini?/ Kupasang GPS pelacak di ponselmu.

Tentu saja aku tahu. Aku tahu ke manapun kau pergi.

Bobou.

Bukankah itu jadi tak menyenangkan untuk kita berdua?

Sejak kita bersama, pernahkah aku mengawasimu keberadaanmu?

Itu karena aku tak punya rahasia yang perlu kau awasi.

Kalian pria sama saja, semua suka berbohong!

Jika mau ke karaoke, katakan saja.

Kenapa pakai alasan paman-besarmu meninggal?

Betapa tak hormatnya kau./ Aku tak punya paman-besar keempat.

Artinya kau bohong?

Tidakkah kau lelah melakukan ini setiap saat?

Dengan banyaknya bohongmu, tentu saja aku akan lelah!

Maksudku, mengekang seseorang setiap saat.

Tidakkah kau lelah dengan itu?

Aku tak mengekangmu! Aku mencintaimu!

Jika kau mencintai seseorang, kau takkan lelah!

Aku lelah sekali. Apa itu artinya aku tak mencintaimu?

Apa katamu?

Aku lelah sekali...

Sudah terlalu lelah.

Sebaiknya kau sadar ucapanmu!

Sial.

Panggilan Tak Terjawab: Boboe

Hei, Bobo... Ini aku.

Tampaknya aku terlalu banyak minum dan tak sadarkan diri semalam.

Jadi, apapun yang kuucapkan, aku sama sekali tak ingat.

Mohon berbesar hati dan lupakan apapun kata-kataku yang konyol.

Jika kauterima pesan ini, hubungi aku sesegera mungkin.

Terima kasih. Dah.

Aku sayang kau.

Hai!

Sudah terima pesanku?

Di mana kau semalam? Kau membuatku cemas.

Kau tahu siapa aku? Kau mabuk berat semalam.

Saat aku pergi, kau bahkan tak menyadarinya.

Maaf./ Aku tak mau dengar kata "maaf".

Tunjukkan jika kau memang menyesal. Bisa, kan?

Aku harus bagaimana?/ Aku ingin kau berhenti minum.

Berhenti minum? Aku hampir tak pernah minum.

Aku sering melihat kasus sepertimu di rumah sakit.

Awalnya hanya sedikit, lalu kian lama kian memburuk.

Saat mabuk, mereka berbohong, kelahi dan berbagai kekacauan lainnya.

Seserius itu?/ Kau tak mau berhenti?

Mau saja. Itu sepele./ Sungguhan?

Tentu. Aku harus bagaimana?

Aku bicara dengan dokter di rumah sakit hari ini dan...

...ia mengatur program pemberhentian untukmu.

Cukup ikuti petunjuk langkah demi langkah... Itu saja.

Baik, aku harus apa di langkah pertama?

Pakai ini saat makam malam nanti./ Kau sudah menyiapkannya untukku.

Kau bercanda?

Bobo.../ Yes?

Dokter, temanmu itu...

Pernahkah ia merasa aneh, atau cuma aku?

Kurasa metode ini sangat tak berguna.

Sekarang, aku serasa ingin minum sampai mati.

Kulepas saja, ya?/ Jangan!

Pernah dengar, studi psikoanalisis menunjukkan apa yang kau rasakan ini...

...bisa berhasil dengan membuatmu benci dengan rupamu saat mabuk.

Jika kau melihat botol lagi,

...itu akan selalu mengingatkan rasa malumu malam ini./ Sungguh?

Tapi aku sama sekali tak benci diriku. Merekalah yang kubenci.

Mereka terus membicarakan fotoku. Membuatku ingin membanting mereka

Kulepas saja, lalu pulang./ Jangan!

Sekarang, kau tinggal selesaikan 2 putaran lagi.

Rasa malu itu harus dibangun./ Sudahlah. Aku pulang saja.

Jika kau pergi, kita putus!/ Tak perlu begitu.

Bercanda saja. Jangan dibesar-besarkan.

Ayo, jalan.

Ayo makan malam.

Wylie...

Mau diapakan?/ Harus tetap terpasang saat makan?

Tentu!

Siapa gadis tadi?/ Kau takkan kenal meski kuberitahu.

Tentu tak kenal jika tak kau beritahu.

Baik, aku takkan lepaskan ini. Sudah berjam-jam pula.

Kau tetap harus memberitahuku.

Pelayan, aku mau pesan.

Wow, rayakan Halloween lebih awal? Pesan apa?

Dia mantanmu?/ Jika sudah tahu, untuk apa bertanya?

Bagaimana aku bisa tahu apa yang mau kau makan?

Itu cuma tebakan. Ia bukan mantan selama kau tak meng-iya-kannya.

Benar. Jika kau tak katakan, aku tak bisa tahu apa pesananmu.

Kau sadar betapa menjengkelkannya saat kau ajukan pertanyaan restoris?

Bung, kau salah saluran! Nanti aku ke sini lagi.

Kalian pria sama saja, dilahirkan untuk berbohong.

Tapi kebenaran selalu terungkap. Kau sadar itu?

Bagaimana dengan kalian wanita? Suka bermain quiz-quizan!

Segalanya selalu ditanyakan dengan ribuan pertanyaan.

Adakah jawaban sempurna untuk semua itu?

Kurasa kadang ada baiknya tetap menyimpan rahasia dari satu sama lain.

Kurasa kalian terlalu banyak rahasia!

Jika tak kutanya, kau takkan memberitahukannya.

Dan saat kau mau berkata, itu hanyalah secuil!

Bahkan jika sekidit saja ada yang benar, itu sudah dilebih-lebihkan.

Suamiku cuma bicara sampah.

Selamat pagi! Selamat malam! Ayo makan! Ayo bercinta!

Tisu toilet habis, mana korek gigi?

Kenapa kau merasa tak aman?

Bobo, kita sudah habiskan waktu bersama tiap hari.

Kapan aku punya waktu atau kesempatan untuk membodohimu?

Rasa aman sudah pergi!

Jika aku tak merasa aman, itu karena kau tak pernah memberinya padaku.

Memangnya kenapa jika kau tak punya rasa aman?

Tanpa kondom... itu lain cerita.

Wanita licik yang mencari rasa aman berlagak lupa saat sudah aman.

Begitalah bagaimana aku dijebak./ Aku benar-benar tak tahu.

Sudah terlambat sekarang.

Aku merasa mantan pacarmu terlalu buruk untukmu.

Tapi kau tak harus perlakukan aku sama seperti kau perlakukan dia.

Aku tak melakukan apa-apa.

Kalian berdua sama saja.

Awalnya, kau sangat baik padaku. Lalu kau berubah.

Semua pria sama saja! Kalian semua perlu pengawas!

Ambil senjata dan habisi kami semua..

Tapi kalian akan kesal dan mengerang kesepian tanpa kami.

Itu karena pria mengacau, itu yang membuat kami lakukan ini.

Kalian jalang HK selalu memulai pertengkaran!

Berlagak punya kelas tinggi seharian.

...tebar pesona pada pria-pria yang mencoba mendekati kalian.

Tapi mereka cuma penasaran pada kebodohan kalian.

Hah! Kalian HK merasa lebih baik?

Bilang kami cantik saat mendekati kami.

Memanggil jalang HK saat kami menolak kalian.

Otak kalian gila.

Kami mengoleksi komik dan mainan, kalian sebut kami cowok kutu buku.

Tapi wanita dewasa bergaun Hello Kitty, Dan kalian dengan boneka. Lucu, kan? Lemah!

Dewasa sekali, ya... Kau hanyalah bajingan.

Hal pertama yang kau tanyai adalah info WhatsApp kami.

Kedua, berapa ukuran bra kami.

Dan ketiga, siapa yang bayar kamar hotel malamnya.

Kau itu murahan!

Merasa superior, ya?

Pertanyaan pertamamu, "Di mana rumahmu?"

Pertanyaan kedua, "Apa mobilmu?"

Pertanyaan ketiga, "Boleh kita merekamnya dan memasangnya di situs web?"

Kau pikir aku bodoh?

Bicara soal merekam...

Saat aku dan suamiku masih pacaran, kami menonton 3D Sex and Zen

Begitu kami menikah, ia ingin aku mempraktekkan semua adegan film itu.

Itu pun dalam 4D!

Empat apanya...

Kau tak bisa mempraktekkannya. Habiskan makananmu.

Kau memanggilku Casanova saat menginginkannya.

Lalu menyebut budak saat kau tak mau!

Sial! Pokoknya semaumu, kan?

Kenapa kau biarkan ingus di hidungmu? Bersihkan mejamu.

Kutanya sekali lagi...

...siapa kekasihmu itu?

Kenapa kau menyebut Wylie kekasihku?/ Jadi itu namanya?

Wylie! Wylie! ...kedengarnya ia menyenangkan!

Kenapa ia harus jadi kekasihmu?/ Kau sudah selesai?

Belum! Kenapa? Merasa patah hati? Benar sudah putus dengannya?

Pelayan!

Akhirnya tahu apa yang ingin dipesan?

Aku selesai.

Selasai apa. Kau belum pesan apa-apa.

Oh, ia selesai denganmu.

Kau belum sebut kue apa yang kita buat hari ini.

Kau sungguh ingin tahu?/ Kenapa harus rahasia?

Berikan tanganmu./ Kau membuat apa?

Aku tidak sakit, kok, kenapa suhuku diatur?

Karena aku ingin tahu suhu cinta kita.

Akan kubiarkan cokelat meleleh pada suhu ini...

...dan menggunakannya untuk kue.

Inilah kreasi baruku, "Kue Kenangan."

Cobalah.

Kue ini menyimpan semua kenangan kita yang terindah dan termanis.

Kuberikan semua untukmu.

Pernahkah mencintai seseorang?

Pernah disakiti orang yang kaucintai?

Malang benar pria ini.

Halo?

Kakak, kami sedang kacau. Cepat kembali ke toko.

Ada apa?

Siapa orang kaubuat marah?

Ada orang meneror semua keluarga hari ini.

Kau...

Tak apa. Ini cuma cat. Ini tak apa-apa.

Kenapa bisa begini?

Tak ada... aku sedang buang air, tahu-tahu ada yang menyiramiku.

Kau tak lihat pelakunya?

Kau tahu anatomi pria, kan?

Aku sedang buang air, lihat... Jadi, tentu saja aku melihat ke sini.

Bagaimana mungkin aku bisa melihat si penyiram?/ Benar.

Temanmu?

Polisi.

Kali ini apa yang ia lakukan?

Tak ada. Aku di sini untuk melindunginya.

Kita sedang kacau.

Saat bangun tadi pagi, aku diberondong telepon dari para cewekku...

...di Shenzhen, Dongguan, Zhongshan... semua ingin pindah ke tempatku.

Rasanya aku kewalahan.

Kau tak perlu meminta perlindungan.

Bagaimana jika mereka datang lebih cepat?

Ia takut aku akan membunuhnya, jadi ia menghubungi polisi.

Bajingan, satu tidak cukup? Kau punya enam lagi? Kubunuh kau!

Lari!

Jangan lari, Brengsek. Kubunuh kau!

Mana istrimu?

Tadi pagi ia terpeleset kulit melon lalu jatuh dari tangga.

Dia masih di hospital.

Adikku dan suaminya?/ Lucky menghilang tadi pagi.

Mereka sedang menyisir jalan untuk mencarinya.

Kau tahu mereka sudah anggap Lucky anak mereka sendiri.

Katanya mereka takkan pulang sebelum menemukannya.

Persetan!

Apakah seseorang yang marah padamu?

Ini tak boleh dibiarkan. Kau bisa kehilangan keluargamu.

Aku putus dengan Bobo.

Bos! Wanita itu gila. Ia pasti akan mengejar kami.

Bos, sebaiknya kau diam-diam pergi dari sini.

Akan kubantu membelikan tiket ferry./ Aku tak bisa tinggalkan kalian.

Pergi dari sini!/ Apa?

Tidak, tidak, tunggu.

Jika kau tak pergi, kamilah yang celaka.

Sial, Bro!

Dia 'kan cuma perempuan! Apa yang kau takutkan?

Aku akan panggil beberapa preman Hunan untuk melumpuhkannya, dan kau bebas.

Pak! Kuharap kau bercanda!

Halo? Ya, Yeah, baik.

Aku akan segera menemuimu. Baik.

Dah.

Siapa itu?/ Dari Bobo./ Jalang itu masih menghubungimu?

Aku akan menemuinya./ Bro, jangan main-main.

Kau mungkin bisa diajaknya bunuh diri!

Tunggu, tunggu. Jangan. Sebaiknya sembunyi saja.

Kali ini aku tak bisa sembunyi./ Kenapa?

Ia menelepon dari telepon rumahku.

Kenapa kau belepotan darah?

Ini pola kain. Duduklah. Makanan segera disiapkan.

Aku punya banyak makanan untukmu hari ini.

Semua hanya untukmu.

Aku bahkan kue cokelat yang kau dan Fai sukai.

Apa itu?/ Babi panggang. Aku memasaknya seharian.

Ada satu lagi. Aku segera kembali.

Lucky menghilang tadi pagi.

Mereka sedang menyisiri jalanan mencarinya.

Ada apa?/ Tak ada.

Babi yang panggang bentuknya cukup bagus.

Aku memfotonya dan akan memasangnya di OpenRice.

Sudah selesai?/ Sudah.

Mari kita mulai.

Kenapa kau tak makan? Sedang sakit?

Tidak./ Makanlah.

Cukup main-mainnya!

Bobo.

Jadi kau membenciku dan memasang poster-posterku.

Kenapa harus membunuh Lucky? Sulit dipercaya.

Kenapa kau panggang dia jadi begini?

Apa? Lucky apa?

Lucky apa?

Lucky yang kau bantai ini!/ Itu Lucky

Itu Lucky! Sudah jelas!

Jangan asal tuduh./ Asal tuduh?

Lalu kenapa adikku ada di rumah sakit?

Bagaimana suaminya bisa ketumpahan seember cat?

Dan suami adik keduaku...

...siapa yang membocorkan keberadaan dia pada 4 cewek lainnya?

Semua ulahmu!

Aku tahu kau membenciku. Jika benci aku, tumpahkan saja padaku!

Kenapa harus melibatkan keluargaku dan membunuh Lucky?!

Soal poster itu, memang aku pelakunya. Kuakui itu.

Tapi soal keluargamu dan Lucky tak ada hubungannya denganku!

Bobo... biasanya kau gugup saat mengakui sesuatu.

Apa yang kautakutkan sekarang?

Lucky takkan pernah melupakanmu di surga.

Kenapa aku harus mengakui hal yang tak kuperbuat?

Tak ada hubungannya denganmu? Lucky, perhatikan dia baik-baik!

Dia pembunuh! Dialah pembantaimu!/ Baik, kau tak mau itu, kan?

Kubuang saja keluar!/ Tidak sebelum kautunjukkan kepala anjingnya!

Kubuang saja! Ini bukan Lucky!/ Apa maksudmu bukan Lucky?

Kembalikan kepalanya!/ Tapi Lucky itu nakal!

Tahan, jangan bergerak!

Halo?

Bro? Kau baik saja?

Adikmu barusan menelepon.

Katanya mereka sudah menemukan Lucky di tempat sampah.

Apa? Lucky ditemukan?/ Ada lagi.

Bosku menelepon minta maaf.

Ada brengsek yang belum bayar hutang.

Cat itu dimaksudkan untuk dia, tapi malah aku yang jadi salah sasaran.

Tapi semua baik saja.

Karena ia menjanjikan kenaikan gaji, promosi dan bonus!/ Itu bagus!

Bagaimana dengan ipar-ipar lainnya?

Hei, Bro!

Aku baru ingat pelayan keenam itu tinggal di Mongolia.

Semua sudah jelas sekarang. Maaf sudah mengganggu.

Jelas soal adik-adik yang lain.

Kau tahu aku gampang lupa. Tapi aku ingat sekarang.

Sebenarnya, setelah makan melon akulah yang membuang kulitnya.

Sial!

Jadi aku salah menuduh Bobo?/ Benar! Da-dah!

Benar, kan? Ini bukan Lucky./ Maaf.

Aku tak mengira kau tak mempercayaiku!/ Tidak, tunggu!

Semestinya kau tak boleh menyebar posterku.

Itu bisa merusak reputasiku.

Aku minta maaf, deh. Ayo, anggaplah kita impas.

Kau mencintaiku lagi, kan?

Jika tidak, katakan saja, aku akan pergi.

Mungkin ada cara lebih baik bagi kita untuk bisa hidup rukun.

Apa maksudnya?

Aku hanya merasa kau... terlalu menekanku.

Itu membuatku serasa tercekik.

Aku akan memikirkannya?/ Sungguh?

Dan juga...

...aku takkan menyinggung soal Wylie lagi.

Bagus sekali jika kau bisa.

Mau kupotongkan babi panggangnya?/ Ya, kakinya.

Kuantar kau pulang.

Apa yang kaulakukan?/ Aku lupa bilang.

Beberapa hari lalu aku menyewa apartemen di bawahmu, di deretan A.

Jika tempat kita berdekatan, kau tak perlu mengantarku pulang lagi.

Aku juga bisa mengantarmu kerja, dan menjemputmu.

Bukankah itu manis?

Bobo, kenapa harus begitu?/ Semua yang kulakukan untukmu.

Di sini lantaiku. Aku akan menghubungimu jika sampai.

Jadi, jangan buru-buru tidur. Dah.

Lama tak jumpa!

Bagaimana pacarmu? Sudah menikah?

Taro bermain ski di pegunungan tahun lalu, dan dia hilang.

Tim penyelamat sudah menghentikan pencarian.

Bukankah pemain ski lain juga bersamanya?

Mereka sudah ditemukan setelah 1 minggu, tapi Taro...

WOW, seperti film "Alive"...

Mungkin menurutmu mereka memakannya?

Tidak, tidak, maksudku, aku terlalu kaget... Maaf.

Ini ditemukan bersama miliknya.

Apa ini?/ Tagihan.

Sebelum pergi, Taro membawa kue untukku

Aku ingin mencicipinya lagi. Bisakah kau melakukannya untukku?

Tapi tagihan ini sudah sangat kucel.

Tak mungkin mengetahui apa yang pernah kujual padanya.

Tapi tunggu sebentar.

Katamu kau ingin merasakannya lagi, jadi sebelumnya pernah.

Jika pernah, kenapa kau tak tahu kue apa itu?

Hari itu, saat aku diberitahu hilangnya dia,

...aku tak sadarkan diri.

Saat sadar, aku tak bisa mengingat apapun selama 3 hari sebelumnya.

Hal semacam itu bisa terjadi?

Aku ingin sekali membantu.

Di toko kami, tiap hari banyak orang masuk dan keluar.

Sulit melacak kue yang dibawakan untuk orang lain.

Tak ada cara sama sekali?

Tidak perlu.

Kau siap?/ Aku siap untuk apa?

Membangkitkan semua kenanganmu bersama Taro.

Semuanya di sini.

Kalau begitu, kita mulai.

Benar, kau punya sesuatu milik Taro?

Ada.

Ini bisa?

Tentu.

Ulurkan tanganmu.

Untuk bagian ini, anggaplah aku Taro.

Usahakan mengingat sebaik mungkin.

Ini adalah suhu dari cintamu dengan Taro.

Untunglah itu cuma kaos tangan. Jika itu celama dalam, celakalah.

Coba sedikit.

Kau akan mengingat kenanganmu bersama Taro.

Sungguh?/ Mungkin tidak.

Tapi setidaknya kau punya kue untuk dimakan.

Cobalah.

Anggap ini sebagai kesempatan bagimu... bagi Taro.

Ching, kuharap kau mencicipi kuenya sebelum membaca ini...

Jadi, kau bisa merasakan manisnya sebelum pahitnya kenyataan.

Mungkin inilah cara yang lebih baik, karena ada hal penting yang ingin kukatakan.

Kuputuskan berpisah denganmu.

Aku kembali ke Jepang.

Tidak saja untuk menjelajah pegunungan, tapi juga menikah dengan cinta pertamaku.

Dia cinta dalam hidupku.

Akhirnya aku mengerti kenapa saat kutahu ia menghilang...

...mendadak memoriku hilang.

Dari lubuk hati, aku hanya ingin lari dari apa yang kuketahui...

...bahwa sebelum ia pergi, ia sudah tak mencintaiku lagi.

Maaf, ya./ Bukan begitu.

Aku memang harus menghadapi ini.

Justru aku berterima kasih karena sudah memberiku cara melakukannya.

Aku harus pergi.

Dah!

Dah!

Omong-omong, kuenya luar biasa enak.

Dah.

Hai./ Hai.

Hei.

Di mana kau?/ Menuju rumah.

Tak mungkin. Biasanya toko tutup jam 7:30, kau tiba dirumah jam 8:30.

Tapi sekarang sudah jam 8:40./ Ada kemacetan.

Jalur arahmu pulang ada 7 lampu merah, 3 jalan dan 4 penyeberangan.

Dan di sana biasanya tak pernah macet.

Pernahkah mendengar sedikit tentang apa itu kecelakaan?

Siapa yang ada di kamera pengawas itu?/ Siapa apanya?

Yang menyapa "hai" padamu./ Bagaimana aku bisa kenal?

Jika kau tak kenal dia, lalu kenapa kau jawab, "hai"?

Jika dia menyapa "hai", tentu saja kujawab "hai".

Kau meladeni setiap gadis yang kautemui?

Gadis? Itu bukan pria, ya?

Sedang apa di sini?/ Aku sudah menunggumu berjam-jam.

Kenapa menelepon?/ Kenapa kau terlambat?

Sudah kubilang, ada macet./ Kau 'kan bisa ambil jalan lain.

Tak ada macet sebelum tiba di sana, bagaimana aku ambil jalan lain?

Tapi kau tetap bisa ambil jalan lain saat di sana.

Baik, besok aku ambil jalan lain.

Bagaimana jika jalannya diperbaiki?/ Maka tak ambil jalan lain.

Besok tak ada alasan lagi jika terlambat./ Aku sibuk sekali.

Mana ada waktu untukku cari alasan karena terlambat.

Sibuk dan berbohong adalah dua hal berbeda.

Begitu juga dengan apakah mencintai seseorang atau tidak./ Apa katamu?

Bobo, kurasa sebaiknya kau pindah./ Kenapa?

Kenapa pula kau pindah di bawah sana?

Untuk apa tiap hari kau di bawah menungguku seperti pengawal?

Katamu kau ingin sedikit ruang, maka kuberikan padamu!

Kini kau bisa bebas selagi aku masih bisa melihatmu tiap hari. Apa lagi?

Kau bukannya memberiku ruang, kau... kau mengawasiku.

Kalian pria aneh sekali! Sesuka hati berubah pikiran!

Aku tak tahan!/ Memang susah. Lupakan saja.

Lupakan apa?

Aku saja yang pindah.

Pindah ke mana?/ Di mana saja selain di sini!

Apa sih maumu?/ Bobo...

Bisakah kita bisa bicara tenang sebentar saja?

Kau tahu kenapa aku tertarik padamu?/ Karena aku menyenangkan!

Karena setiap kali aku melihatmu, pandanganku jadi kabur.

Mungkin ini semacam perasaan cinta.

Kau terlihat samar-samar, jadi aku ingin melihat lagi.

Jika tetap kabur, kulihat lebih dekat lagi.

Mungkin itu sebabnya aku ingin tetap melihat ke arahmu.

Tak peduli apapun kata orang tentangmu...

...atau bagaimana kau perlakukan aku, aku tak keberatan.

Aku sangat ingin bersamamu.

Karena hatiku berkata, rabun tiga-empat ini...

...mengartikan cinta.

Kau bisa lihat sedikit lebih jelas?/ Aku melihatmu sangat jelas sekarang.

Mungkin benar kata pepatah:

"Kita bertemu dalam ketidakharmonisan, tapi bagian dari pengertian."

Kau mau putus lagi denganku, ya?/ Tidak lagi Bobo.

Tiap kali kita bertengkar, mungkin kita hanya...

....bertengkar tanpa alasan atau ingin berpisah agar bisa berbaikan lagi.

Tapi kali ini berbeda./ Apanya yang berbeda?

Aku sudah temukan tempat untuk pindah.

Kita memulai di dalam lift.

Kini kita putus di dalam lift.

Inilah yang akan mengingatkan kita.

Maafkan aku, Bobo.

"Setelah hari itu, akhirnya mereka benar-benar putus"

"Dua bulan kemudian"

5 kue itu akan selesai sekitar jam 5, harus kita siapkan untuk malamnya. Oke?

Lalu, yang kita lakukan pada tengah malamnya?/ Benar.

Kalian mau makan kue lagi? Kalian lagi hamil, ya?

Sudah dua bulan./ Jangan bilang siapa-siapa./ Tayler!

Halo!

Aku baru kembali dari perjalanan dan bawa ole-ole untuk kalian.

Sungguh? Jangan repot-repot./ Beratnya! Kenapa tak minta bantuan?

Mereka memang heboh.

Bagaimana kabarmu?/ Cukup baik./ Cukup baik, berarti oke.

Lihat, sarung tangannya terlalu besar, ini salah ukuran.

Ini untuk pacarmu!/ Ini bukan gayanya.

Yang ini bukan untuk kalian./ Untuk siapa?/ Ini untukmu.

Aku juga kebagian?/ Bos, lihat, warnanya juga cocok.

Dia tahu ukuranmu./ Ayo, dicoba.

Lumayan!/ Pas sekali!

Terima kasih!/ Kau menyukainya?/ Ya.

Bagus, jadi kita bisa selesaikan kerjaan lebih awal.

Tunggu, aku tak bisa melepasnya...

Bantu dia.

Itu kancingnya, kan?

Hadiah ini bagus sekali.

Lain kali, biar kubalas dengan makan malam.

Kau suka makanan apa?

Permisi, Suster? Di mana ruang Ortopedi no. 1?

Di sana.

Terima kasih./ Sama-sama.

Wylie.

Sungguh... tak ada yang berarti lagi antara aku dan Tayler.

Tak berarti untuk dibicarakan?

Lalu kau kenapa kau langsung pergi saat melihat kami?/ Aku takut.

Takut apa?

Bukankah kau pacarnya? Kenapa kau tak tahu masalahnya?

Masalah apa?

Tayler itu orang yang aneh sekali.

Hia tak suka dikunjungi...

...tapi ia takut jika tak ada orang yang bisa menemukannya.

Ia pernah meneleponku beratus-ratus kali.

Saat tak bisa menemukanku, ia hubungi teman, keluarga dan bosku...

Sampai mereka enggan berdekatan denganku.

Ia mengambil ponselku, memeriksa WhatsApp-ku...

Bahkan mencuri password-ku dan membuka email-ku.

Orang yang datang mendekatiku, langsung ia selidiki.

Aku bahkan melihat ia membututiku.

Hidup yang kami jalani bersama tak ubahnya seperti penjara.

Diawasi siang dan malam.

Pada akhirnya aku harus pindah, mengganti ponselku...

Aku tak menduga malam itu akan bertemu kalian.

Nona, mungkin saja itu karena Tayler tak mencintaimu.

Dengan semua cerita ini, kau ingin menghancurkan hubungan kami?

Mungkin ia tak cukup mencintaimu, makanya ia tak memperlakukanmu begitu.

Bobo!

Hai. Lama tak jumpa./ Sama juga.

Bagaimana kabarmu?/ Tak sebaik kau.

Siapa gadis tadi itu? Pacar baru?

"Satu jam lalu"

Tiap saat kita makan malam, kau selalu makan sedikit.

Sedang menurunkan berat badan, ya?

Aku cuma fokus ke perbincangan kita.

Dia cuma teman biasa, itu saja./ Teman? Tidak seperti teman!

Klub Elevator yang kauceritakan itu menerima anggota baru?

Tentu! Kau mau bergabung? Semua menyambutmu.

Aku bisa membantumu mendaftar sekarang juga.

Nanti kita lihat dulu kapan kau bisa mengajakku ke "lift".

Kapan saja.

Kau selalu menawarkan "lift" pada gadis yang kau kejar?

Bagaimana kau tahu? Kau pasti membuntutiku lagi!

Bobo, kau belum juga berubah.

Ya sudah, aku pergi saja.

Aku pernah bertemu Wylie. Ia bercerita banyak.

Apa yang ia katakan?

Katanya... kita sebenarnya sama./ Dia bohong.

Atau mungkin kau yang bohong.

Sebenarnya, kita memang ditakdirkan bersama.

Bobo, aku dan kau tidak sama./ Kenapa kita tak mulai dari awal saja?

Kau terlalu menekan. Bagaimana mungkin kita sama?

Kita duduk saja dan bicara?

Berikan uang kalian!

Hei, Bung./ Yes!

Kau sudah pernah ambil barangku. Kenapa harus mengikat kami?

Kebetulan sekali, kau lagi yang kena! Aku tak kenal daerah sini.

Apakah di sini ada bus yang menyeberang perbatasan ke Huanggang ?

Tak bisakah kau menjadi penjahat yang lebih baik?

Dari waktu ke waktu tak ada kemajuan./ Persetan kau!

Jika aku bisa lebih baik, pasti sudah punya meja kerja...

...dan tidak perlu merampokmu lagi.

Kau beritahu atau kugores mukanya?/ Jangan!

Jangan, jangan... akan kuberitahu./ Ayo!

Kau keluar ke jalan sana./ Keluar ke jalan.

Belok kiri./ Belok kiri./ Lalu belok kanan./ Lalu belok kanan.

Lewati tiga blok di sana./ Tiga blok di sana.

Akan ada minibus di sana./ Minibus. Bagus, aku suka naik minibus.

Turunlah di pemberhentian ketiga./ Pemberhentian ketiga.

Maka kau sudah ada di pelabuhan Huanggang./ Ya, ampun, rumitnya!

Aku tak mau kerja di daerah ini lagi. Buang-buang uang cuma untuk bus.

Aku pergi dari sini!

Hei, Pak

Kita semesti sudah teman sekarang, kenapa tak lepaskan kami saja?

Lepaskan kalian dan membiarkan kalian melaporkanku ke polisi?

Akan ada pemulung yang melepasmu besok!

Lagipula, kalian berdua masih bertengkar.

Bereskan dulu itu! Sampai jumpa!

Petualang berjiwa bebas sepertiku takkan menebar penderitaan.

Tas wanita itu... kukembalikan saja.

Sial! Aku lupa bicara udik! Persetanlah!

Kau sungguh memberitahu dia bus yang dimaunya?

Ya... tapi bukan ke pelabuhan Huanggang.

Lalu ke mana?/ Kantor polisi Wanchai.

Kau tertawa? Sebaiknya cari cara melepaskan diri.

Ternyata kau bisa melihat langit dari sini, lihat.

Lalu apa?

Tanggal berapa sekarang?/ Setelah tengah malam, 15 Maret.

Para astronom berkata, akan ada fenomena istimewa saat ini.

Asteroid Eros lewati jalur terdekatnya dengan bumi.

Konon, jika ada pasangan melihat itu...

...mereka akan menemukan jalan untuk bersama.

Selama ini aku tak tahu kau tertarik astronomi.

Karena kau hanya tahu cara menyalahkan kelakuanku.

Tapi...

...ternyata kau dan aku sama saja.

Kukatakan padamu, Wylie hanya bicara ngawur.

Baiklah.

Jika begitu, ceritakan saja, apa yang terjadi pada kalian?

Haruskah?/ Mulai lagi, deh. Kau tak pernah cerita apa-apa.

Coba kutanya kau...

Menurutmu aku orang yang baik?

Maka akan kutanya kau... Kau masih mencintaiku?

Bagaimana dengan ini...

Jika kita melihat Eros malam ini, kita ungkap rahasia masing-masing, oke?

Oke. Sepakat!

Kesepakatan bulat.

Sepertinya takkan muncul.

Sepertinya... kita takkan pernah dapat jawaban kita.

Bobou.

Sebenarnya, aku sangat senang melihatmu.

Sepertinya ada sesuatu yang berbeda denganmu.

Jadi aku boleh bertemu kau lagi?

Tentu.

Kapanpun kau mau.

Kau tak takut pacarmu akan marah?

Kenapa kau tak pernah percaya padaku?

Nyonya?

Nyonya? Tolong panggilkan polisi. Kami baru dirampok.

Oke./ Terima kasih.

Aku harus menghadapi kenyataan ini.

Semestinya aku berterima kasih telah memberi jalan untuk ini.

Aku sedang ada rapat.

Setengah jam lagi. Kutunggu di depan bioskop Newport.

Itu saja. Dah.

Kau bilang sedang rapat? Kenapa di sini? Siapa ini?

Dan kau bilang sedang makan malam dengan ibumu.

Kenapa malah diam-diam membututiku?

Memangnya kau siapa? Kenapa membentak pacarku?

Siapa aku? Kenapa tak kautanyakan pacarmu?

Kaukira kebohonganmu bisa membodohiku?

Selagi kau tidur tadi pagi kulihat WhatsApp-mu!

Pelajaran untukmu, jika pesan sudah dibaca, hapus!

Sudah kukatakan berkali-kali, jangan sentuh ponsel-ku!

Tak bisakah kau beri aku privasi?/ Kau tak pernah cukup diberi privasi!

Cukup, jangan curangi aku lagi!

Cara kau menekanku sangat menyebalkan.

Kulakukan itu karena mencintaimu!

Aku sudah muak. Biarkan aku pergi, oke?/ Hei!

Bobo!

Aku berusaha secepatnya kemari./ Aku juga baru datang

Kau bawa tiketnya?/ Tidak./ Biar kubelikan.

Aku tak ingin menonton film malam ini./ Apa?

Ada tempat yang ingin kudatangi.

Sudah tak ada?

Di sini kan tempat 'Lift Kesepian' itu?

Kenapa ke sini malam-malam?

Kenapa bisa begini?/ Gedungnya sudah dirombak.

Dan lift itu?/ Lift apa? Gedungnya sudah tak ada.

Sudah malam, pulanglah.

Ayo, pergi.

Bobou.

Lift itu sudah hilang, lupakan saja.

Akan kuajak kau dengan lift lain.

Kita nonton film?

Jika tak mau, kita bisa makan malam, atau cari minuman.

Kenapa kau tak kembali dan menikah?

"Jam 9, pagi tadi"

Halo?

Kau di mana?/ Di toko. Kenapa berisik sekali di situ?

Ya, banyak pelanggan hari ini. Ada apa?

Aku kembali ke Taiwan untuk menemui ibuku besok.

Mari kita bertemu malam ini./ Malam ini?

Malam ini jadwalku agak padat./ Ya, sudah./ Tidak, tidak.

Hubungi aku lagi nanti, oke?/ Oke, baik.

Sebenarnya, aku tak begitu tahu apa yang kuinginkan.

Aku sudah tahu kau menikah hari ini.

Tapi aku tak bisa merelakannya... Kupaksa kau keluar.

Tapi saat kau sudah keluar, aku merasa bersalah.

Rasanya tak benar.

Kau ingat, aku selalu bertanya, kau mencintai aku atau tidak.

Itu karena... aku tak punya rasa aman... dengan kata "cinta".

Aku tak ingin seperti ini.

Mungkin karena semua pria yang pernah bersamaku...

...berlaku buruk padaku.

Jadi aku merasa semua pria adalah bajingan.

Aku menekanmu, mengawasimu...

Karena aku tak ingin kehilangan kau.

Mungkin menurutmu aku tak tahu bagaimana mencintai seseorang.

Tapi satu hal yang tak kau mengerti...

Aku tak pernah memiliki seseorang yang sepenuh hati mencintaiku.

Bagaimana aku bisa tahu caranya?

Aku tahu malam ini jadi yang terakhir untukku melihatmu.

Dan aku tahu kau mungkin membenciku selamanya.

Tapi aku ingin katakan padamu...

Lebih baik kau membenciku asal mengingatku...

...daripada mencintai tapi melupakanku.

Terima kasih sudah membenciku.

Tenang saja, kali ini adalah yang terakhir aku menekanmu.

Aku akan melepasmu pergi.

Bobou.

Sebenarnya tak pernah sekalipun aku membencimu.

Boleh aku mengundangmu ke acara pernikahan?

Mau?

Jangan ambil yang warna ini.

Lihat, ada 7 warna.

Beli semuanya, jadi kau bisa cocokkan semuanya.

Boleh juga. Dan kau tak perlu mengambilnya sendiri.

Dengan kiriman ke rumah, kau bahkan tak perlu keluar keringat.

Aku selalu bilang begitu ke suamiku.

100- 200, cuma kehilangan kembalian.

Sayang...

Jika aku kehilangan uang beberapa ratus, dan kau diam saja soal itu...

Bukankah itu sedikit kejam?

Jika kau bikin aku kesal lagi Kusikat lagi 20 ribu!

Pergi dari sana, cari kakakku. Cepat!

Tenanglah. Tetap di kisaran 10 ribu, ya? Tanpa diurut, tentunya.

Hei, yang itu boleh juga./ Pernah dengannya./ Pernah?

Ya, lebih segar lebih baik.

Siapa yang mengundangnya?

Pengantin prianya... baru saja... kembali.

Cepatlah./ Acara bisa dimulai.

Kudengar kedua pengantin baru saja jadian dan tak ada yang tahu.

Bahkan kudengar, si pria sudah menghamili si wanita./ Sungguh?

Lalu, kenapa pula mereka menikah buru-buru?

Pengatin pria datang!

Tenanglah, Ayah.

Ke mana dia?

Halo? Ada orang di dalam?

Bagaimana, nih? Pengantin pria menghilang!

Cari dia dulu!/ Ya, cepat, cepat!

Siapa kira pengantin pria ada di toilet pria?

Bisa saja di toilet wanita. Bodoh. Siapa pula yang bisa senakal kau...

Curang, bahkan di hari pernikahanmu.

Lama tak jumpa!

Kenapa telat?/ Aku secepat mungkin ke sini saat pesawatku sampai.

Sungguh?

Ada yang kulewatkan?/ Tidak, acara baru dimulai.

Bukankah banyak kejutan dan banyak yang tak bisa kauterka?

Tapi saat aku ke toko tadi siang kulihat pengumuman...

Yee adalah murid magangku.

Rasanya seperti putriku sendiri yang menikah.

Ini peristiwa istimewa bagiku.

Aku baru saja meneleponmu tadi pagi.

Ya, sudahlah!/ Tidak, tidak.

Hubungi aku lagi nanti, oke?

Tak bisa menebak? Tak ada cincin!

Tidak, tapi aku...

Maaf...

Kau bahkan tak bisa tahu yang mana istrimu./ Itu bercanda.

Kau tak mengira aku cuma menghadiri pernikahan.

Jika bukan kau yang menikah, lalu kenapa mengundangku kemari?

Ada yang ingin kukatakan padamu./ Apa?

Tidakkah kau tahu... kau ini susah sekali ditangani.

Aku bukan digunakan untuk aku kendalikan.

Dan ketidaksukaanmu naik lift, ratusan telepon darimu berhari-hari...

Terutama saat kau diam-diam membuntutiku selalu!

Sudah selesai?

Kau ajak aku ke sini cuma untuk pamer, kan?

Aku belum selesai!

Apa yang membuatku paling tak biasa adalah jika tak bersamamu!

Konon...

...jarak terbaik dengan orang yang kau cintai...

...adalah saat kau tak bisa melihatnya dengan jelas.

Apa maksudmu?

Tenang saja.

Kali ini adalah yang terakhir aku menekanmu.

Saat kulihat kau sekarang, kau samar-samar lagi.

Menurutmu...

...kau sungguh memahamiku?

Tunggu sini.

Cicipi sedikit./ Tidak, terima kasih. Nanti saja.

Sedikit saja. Kubuatkan kue ini khusus untukmu.

Kenapa dingin?

Bukankah Kue Kenangan seharusnya hangat?

Mungkin terlalu di luar.

Sial! Mungkin Bos gagal kali ini?

Kalian salah.

Kebanyakan saat orang jatuh cinta, mereka merasa hangat.

Tapi terkadang ada pengecualian.

Kenapa tanganmu dingin sekali?/ Dari lahir.

Sedingin ini?

Bobo, kau aneh sekali.

Tapi aku mencintaimu betapapun kau aneh.

Maukah kau menikahiku?

"Tiga bulan kemudian"

Sayang, waktunya sarapan!/ Oke.

Selamat pagi./ Selamat pagi.

Buram sekali. Aku masih mencintaimu.

Manis.

Kau bagaimana aku melihatmu?/ Bagaimana?

Saat wanita melihat prianya, di sekelilingnya yang buram.

Halo?

Aku sudah mau selesai.

Siapa itu?/ Dari rumah sakit. Aku ganti pakaian dulu. Santai saja.

Da-dah!/ Da-dah!

Tayler itu orang yang aneh.

Ia tak suka ada kunjungan, tapi takut orang tak bisa menemukannya.

Bagaimana resepsimu?/ Penuh. Kenapa? Ada yang mau datang?

Tidak, cuma was-was orang tak bisa menghubungiku.

Kau tak ingin orang menemuimu, tapi takut tak ada yang bisa dihubungi.

Kau ini aneh!

Ia mengambil ponselku, memeriksa WhatsApp-ku.

Sebenarnya kita berdua sama.

Aku bahkan melihatnya membuntutiku.

Sebenarnya kita ditakdirkan bersama.

Waktu yang kami lalui bersama tak ubahnya penjara.

Bobo, aku dan kau tidak sama.

Kau terlalu menekan. Bagaimana kita bisa sama?

"Rayakan cinta, rayakan penderitaan."

"Rayakan penderitaan, kegilaan yang terjadi."

PENERJEMAH: GUN

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.