All language subtitles for Bayi Ajaib 2023 1080p NF WEB-DL sub eng ind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik menegangkan mengalun]

[musik menegangkan berlanjut]

Akhirnya.

Akhirnya...

[Kosim] Seperti janjiku padamu, Laras.

Kita tidak akan pernah hidup susah lagi.

Dan mulai sekarang, orang-orang yang memandang rendah pada kita...

akan tunduk dan hormat pada kita.

[kuda meringkik di kejauhan]

[jangkrik mengerik]

[guntur menggelegar di kejauhan]

[guntur menggelegar]

[musik tegang mengalun]

[musik tegang berlanjut]

[guntur menggelegar di kejauhan]

[ayam berkotek ketakutan]

[suara tulang dipatahkan]

[musik intens]

Terima kasih, Kakek.

Mana uangku?

Mana uangnya?

Mana uang saya?

[suara pria berbahasa Portugis]

[dalam bahasa Portugis] Ya, Kakek.

Saya berjanji. Saya akan memberikan Kakek kehidupan.

[pria] Perhatian kepada seluruh warga desa!

[kentungan dipukul]

Nanti malam gerhana bulan,

Ibu-ibu dan anak-anak harap tinggal di rumah masing-masing.

Karena berbahaya. Bisa diculik setan!

[Atik] Lain kali kalau ada apa-apa, suruh saja anak buah suamimu yang ke sini.

Nanti Mak yang ke rumahmu.

Kamu udah enggak usah jalan jauh-jauh begini.

Tidak apa-apa, Mak. Latihan jalan.

Biar mudah saat melahirkan nanti.

Tinggal nunggu waktunya, lo.

Abang Kosim sudah tidak sabar.

Dia berharap anaknya laki-laki.

Kalau lihat bentuk perutmu, sudah pasti dia laki-laki.

Pasti ganteng seperti ayahnya.

[Atik] Nasibnya juga pasti seberuntung nasib ibunya.

Terima kasih, ya.

Ya, sudah. Mak, saya pulang dulu, ya.

Hati-hati, ya.

[suara pukulan]

[pria mengerang kesakitan]

Saya sederhana saja, Pak Ujang.

Tidak suka yang berbelit-belit.

Apalagi rumit, saya tidak suka.

Ampun, Pak Kosim.

[Kosim] Jadi bagaimana, Pak Ujang?

Mau dibayar pakai tanah,

atau pakai tangan?

[suara gemeresik]

[musik bertempo cepat]

[terengah-engah]

[menjerit kecil]

Jangan.

- Jang... - [suara tiupan angin]

[terengah-engah]

[suara longsoran]

Tolong!

Tolong!

[Laras menjerit]

[Kosim] Laras!

- [warga desa] Bu Laras! - [kentungan dipukul]

- [Kosim] Laras! - [warga desa] Bu Laras!

[terengah-engah]

[suara pria tertawa]

[suara pria menggeram]

- [musik terdengar semakin cepat] - Jangan!

Jangan!

- [warga desa] Bu Laras! - [kentungan dipukul]

[Kosim] Berhenti!

[Laras] Jangan!

Jangan!

[Laras menangis]

Hutan!

- Laras! - [warga desa] Bu Laras!

[Kosim] Laras!

- Sakit, Abang! - Astaga!

Laras harus segera dibawa pulang!

- Ayo kita bantu. - Bantu cepat!

[Laras menjerit kesakitan]

[Laras] Sakit!

[Atik] Cepat!

[Atik] Tahan ya, Laras.

[Laras menjerit kesakitan]

Tidak, Mak. Anak saya tidak apa-apa, 'kan, Mak?

Yang terjadi sama istri saya hari ini...

tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.

[Aris] Baik, Pak.

[musik menegangkan]

Bang Kosim!

[Laras menjerit kesakitan]

Bang Kosim!

Laras!

[Laras] Perut saya sakit, Bang!

Bagaimana, Mak?

Kelihatannya Laras akan segera melahirkan.

- [Laras] Perut saya sakit! - Heti,

- ambil baskom dan air panas ya. - Baik, Mak.

Ayo, Laras. Tarik napas.

Dorong!

- Ayo terus, Laras. - Saya sudah tidak kuat, Bang.

Kamu bisa! Kamu kuat! Kamu kuat demi anak kita, Sayang!

Sedikit lagi, Laras, ayo.

Kamu pasti bisa.

- Dorong. - [musik keras]

- Laras, bangun. - [suara detak jantung]

[kentungan dipukul]

[pria] Gerhana bulan!

Bawa dia ke belakang, ya.

Tutupi dengan kain.

Sekarang gerhana bulan. Jangan sampai wajahnya jadi belang.

Baik, Mak.

Pak.

Kita urus istri Bapak sekarang.

Heti!

[Atik] Bawa air ke sini.

Baik, Mak!

[musik terdengar semakin keras]

[musik menegangkan]

[dalam bahasa Portugis] Kakek.

Telah kuberikan kehidupan kepadamu.

Sekarang berikan aku kemakmuran seperti janjimu, Kakek.

[suara bayi menangis]

[bayi terus menangis]

[musik terdengar semakin keras dan cepat]

[Heti menjerit]

Heti!

Astaga!

Heti.

Pak!

Aku kaya!

Aku kaya! [Dorman tertawa]

[Kosim] Cepat bawa mayatnya, Mak. Kubur jauh-jauh dari sini.

Jangan sampai Laras tahu. Ayo, cepat!

- Terima kasih, Pak. - [suara bayi menangis]

Anak saya.

Anak saya mana?

[suara bayi menangis]

Anakku.

Anakku.

Laras,

anak kita laki-laki.

[bayi menangis]

Anak kita namanya siapa, Bang?

Hadi.

Hadi Nugraha.

Hadi Nugraha.

Kita panggil "Didi".

Ini Ibu, Sayang.

[musik tradisional]

[Laras] Terima kasih.

- [Soleh] Assalamualaikum. - Walaikum salaam.

Pak Soleh. Rini.

Selamat ya, Pak Kosim.

Saya pikir tidak datang.

Walaupun kita bersaing, tapi namanya tali silaturahim harus tetap dijalani.

Sebenarnya tidak perlulah sampai bersaing seperti itu.

Asal Pak Soleh mau mendengar masukan-masukan dari saya.

Saya pasti mendengar masukan-masukan dari Pak Kosim...

selama itu baik untuk kemajuan desa. Ya, 'kan, Pak?

Saya ini lahir di desa ini. Saya besar di desa ini.

Jadi, yang saya lakukan untuk warga desa itu sudah pasti yang terbaik.

Pak Soleh ini kan, istilahnya, numpang.

Sudah ya, bicara soal ambisinya.

Bang, ini lagi hajatan anak kita.

โ™ช Didi jagoan! Didi disunat! โ™ช

โ™ช Didi jagoan! Didi disunat! โ™ช

โ™ช Didi jagoan! Didi disunat! โ™ช

โ™ช Didi jagoan! Didi disunat! โ™ช

[musik menegangkan]

[penonton berteriak ketakutan]

[musik berhenti]

Tahan ya, Di. Sakitnya cuma sedikit seperti digigit semut.

Anak Pak Kosim memang pemberani.

Kok, malah bengkok pisaunya.

[Kosim] Ada apa, Pak?

Tidak bisa disunat, Pak. Pisaunya tidak mempan.

Burungnya Didi keras, Pak.

Kalian jangan tertawa! Didi jadi malu!

- Jangan marah, Nak. - [azan berkumandang]

Bang, Didi kenapa, Bang?

- [bunyi berfrekuensi tinggi] - Diam!

[Kosim dan Laras] Didi!

Pak Kosim.

Kalau pisaunya bisa jadi gini, saya curiga ada yang sedang merasuki anak Pak Kosim.

Ikut saya.

[Kosim] Jangan sembarangan bicara!

Kamu yang tak becus jadi tukang khitan.

Pisaumu palsu!

Kamu sengaja membuat saya malu.

Aris!

Bawa dia keluar!

Suruh tamu-tamu yang lain pulang. Khitanannya batal. Ayo, cepat.

Baik.

Mari Bapak-bapak, Ibu-ibu, keluar ya.

Pak Kosim.

Apa yang terjadi sama Didi tadi

pasti ada hubungannya dengan peristiwa dulu.

Diam.

Saya tidak mau dengar soal itu.

Pak. Saya hanya mengingatkan, Pak.

Dari dulu juga saya selalu diam.

Tapi, Pak, saya sedang butuh banyak uang.

Kalau masih sayang nyawa, Mak, tutup mulut.

- [Laras mengetuk pintu] Didi! - [Didi] Diam!

[Laras] Didi!

- Diam! - [pintu dibuka]

[Kosim] Didi.

Didi tenang, ya. Sudah, tidak apa-apa.

Mereka hanya bercanda, kok.

[suara barang-barang jatuh]

[suara tombol lampu ditekan]

[musik menegangkan]

[bernapas cepat dan pendek]

[suara benturan]

[musik dramatis]

[musik berhenti]

[klakson mobil berbunyi]

Didi.

Didi.

[Didi] Ayah!

[Ahmad] Dasar anak setan!

Disunat enggak bisa!

Eh, sini!

Pegang tangannya dia.

[Rini] Hei, Ahmad. Jangan!

[Didi] Tidak!

Hei, Ahmad! Jangan ganggu Didi!

[Ahmad] Ayo, pergi!

- Kamu enggak apa-apa? - Enggak.

- Menurut kamu, aku aneh tidak? - Tidak.

Tapi kan, aku tidak bisa disunat.

Aku juga tidak bisa.

- Kan, kamu perempuan. - Ahmad lebih aneh.

Dia sudah besar tapi belum disunat.

Ular!

Rasain!

- Didi, tolong! - Rini!

Rini!

[musik bertempo cepat]

Didi!

[pria] Ki Dorman, maaf, tempat pesugihan yang ada di utara

sudah ditutup aparat desa. Disuruh Pak Kades.

[Ki Dorman] Mereka pikir mereka siapa?

Kita harus...

[bunyi berfrekuensi tinggi]

[Dorman mengerang kesakitan]

Ki Dorman?

Pergi kalian! Pergi!

[Dorman berbahasa Portugis]

[berbahasa Portugis]

- [suara pria berbahasa Portugis] - [dalam bahasa Portugis] Dengarkan Kakek.

Apa pun yang Kakek inginkan akan saya lakukan.

[suara pria berbahasa Portugis]

[Soleh] Beberapa tempat keramat sudah saya tutup sebagian

tapi tetap masih ada orang

yang mencari tempat untuk melakukan pesugihan.

Selama masih ada warga desa yang menempuh jalan musyrik untuk kaya,

jadi penguasa,

selama itu pula, dukun-dukun sesat seperti Dorman...

akan terus berjaya, Pak Soleh.

- [Rini] Assalamualaikum. - [Soleh] Walaikum salaam.

Kok, basah-basah, Nak?

Ayo masuk dulu. Ayo, masuk saja.

Didi, terima kasih ya, sudah selamatkan Rini tadi.

Ayo, Rini. Bacaan doa sebelum makan apa?

[Rini berdoa dalam bahasa Arab]

[semua] Amin.

Nanti kamu ya, yang baca doa setelah makan?

Saya tidak bisa.

[Yasa] Ikuti saya, ya.

[berbahasa Arab]

Ayo.

[Rini] Ayo, Didi.

[berbahasa Arab]

Didi!

[Soleh] Rini. Sudah, tak apa-apa.

[pria] Assalamualaikum, Bapak Ibu.

Ini ada kiriman dari Pak Kosim.

Kalau Pak Kosim jadi kades,

hadiahnya lebih banyak lagi, Bu.

[musik menegangkan]

- Rasain kamu! - Awas kamu, Didi!

Didi! Keluar kamu!

[suara pria tertawa]

[suara pria berbahasa Portugis]

Setan!

- [kusir] Tolong! - [kuda meringkik]

Di, mau ke mana?

Main sepeda di halaman.

- Makan dulu ya, Nak. - Sudah.

Astaghfirullah al adzim!

Kok, berantakan begini?

[Rini dan Yuni] Assalamualaikum.

[bisikan lirih]

[bisikan lirih terdengar lagi]

- Maaf ya kami mengganggu. - Tidak apa-apa.

Saya mau mengembalikan pakaian Didi.

Sekaligus ada sedikit makanan. Semoga berkenan.

Terima kasih, Bu Yuni. Jadi merepotkan.

Tapi, kenapa baju Didi bisa ada di Bu Yuni?

Ceritanya panjang.

Bu Laras, Didi ada di mana, ya?

Didi lagi di belakang. Kamu ke belakang saja sana.

Didi!

Didi!

- Didi. - Mau belajar sepeda lagi?

Boleh.

Bagaimana kalau hari ini Laras ikut mengaji?

Tapi, Bu Yuni,

saya tidak bisa mengaji.

Nanti kita belajar bersama.

Sudah. Jangan terlalu banyak dipikirkan.

Ayo.

Baiklah kalau begitu.

Saya siap-siap dulu, ya?

- Didi, aku takut jatuh. - Jangan takut, Rini.

Didi jangan kencang-kencang. Didi!

Jangan takut, Rini. Kan aku sudah bilang, kalau aku akan jaga kamu.

Cantik.

Saya... tidak apa-apa meninggalkan Rini di sini?

Sudah, tidak apa-apa. Biarkan Didi sama Rini main dulu.

Jangan goblok!

Kasih uang kompensasi untuk ganti rugi. Suruh mereka tutup mulut.

Jangan sampai berita ini tersebar ke desa.

Bodoh!

Mau ke mana kamu?

Saya mau ikut acara pengajian sama Yuni.

- Ada apa, Bang? - Si Ahmad anak Pak Asep.

Kecelakaan ditabrak kuda kita.

Aneh.

Kudanya tiba-tiba mendadak gila.

Biar saya yang bawa uang ganti ruginya, Bang.

Sekalian menjenguk Ahmad.

Jika berkenan, saya bisa temani Laras.

Tidak perlu ikut campur.

Urus saja suamimu.

Saya yakin, peristiwa ini akan dijadikan senjata oleh suami kamu untuk merebut

suara di pemilihan nanti.

Ini musibah, Pak Kosim.

Tidak mungkin suami saya memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri. Saya yakin.

Musibah.

[Rini] Ini ada titipan bingkisan dari suami saya Pak Kosim.

Terima kasih ya, Bu, ya. Terima kasih.

Didi...

Didi jadi setan!

Didi jadi setan!

Didi jadi setan!

[Ahmad menangis]

[Rini] Banyak banget!

[Didi] Coba buat lagi.

[Rini dan Didi tertawa]

Didi,

kamu tahu kecelakaan yang dialami oleh Ahmad?

Tidak tahu, Ibu.

Tapi Ahmad menyebut namamu berkali-kali.

Kamu jangan berbohong sama Ibu.

Didi tidak tahu, Ibu.

[Kosim] Ada apa lagi ini?

Ayah!

Didi pasti tahu tentang kecelakaan yang dialami oleh Ahmad.

Yang membuat Ahmad celaka itu kuda.

Bukan Didi.

Ahmad menyebut nama Didi berkali-kali bahkan menuduh dia itu setan!

Harusnya kamu membela anakmu!

Didi tidak jahat, Ibu.

Didi bukan anak setan.

[Aris] Dusun Kaler dan Kulon,

hampir semua warga menyatakan bersedia mendukung Bapak.

[Aris] Yang belum kita dapatkan, Dusun Wetan, Pak.

- Sebar lebih banyak bingkisan. - Sudah, Pak.

- Tapi tidak mempan. - Sebar uang kalau perlu!

[Kosim] Jangan pernah bilang mereka tidak mempan sama uang.

Maaf jika saya lancang.

Masalahnya... uang itu akan tetap mereka ambil.

Tapi suara akan tetap untuk Soleh.

Bapak sendiri tahu kalau mereka itu pendukung Soleh sejak dulu.

[Dorman] Saya bisa membantu kamu untuk menang. Jika kamu mau.

Bisa apa kamu, Dorman?

Apa pun.

Kalau saya menang, apa untungnya buat kamu?

Kosim, kita tidak butuh pemimpin seperti Soleh.

Sejak dia berkuasa di sini, dia menakuti seluruh warga desa dengan dosa dan haram.

Saya sudah mulai muak dengan lagak Soleh.

Dan saya yakin,

bukan cuma saya,

tapi dia juga sudah mengganggu kebahagiaan kamu, bukan?

Ayolah.

Buat apa memilih jalan yang sulit...

kalau ada jalan yang mudah untuk menang.

Saya bisa membuat Soleh menderita.

Tapi sayang,

saya harus menolak tawaranmu.

Saya bisa menang dengan cara saya sendiri.

Baiklah, Kosim.

Semoga kamu tak menyesal nantinya.

[pria] Pak Kosim!

Saya dengar...

apa yang terjadi sama Ahmad itu semua gara-gara Didi.

Ahmad melihat Didi berwujud setan!

Masih berani kamu bicara sembarangan.

Saya cuma ingin bantu, Pak. Ada baiknya Didi...

Pergi kamu dari sini.

Anak saya baik-baik saja!

Tolong Bapak pikirkan dulu baik-baik,

sebelum nanti makin buruk kondisi Didi.

[Kosim] Sudah!

[pria] Nanti, Pak Kosim akan melihat sendiri kenyataannya.

[Kosim] Pergi cepat! Pergi kamu dari sini! Mati kamu!

[Yuni] Laras,

bacalah doa ini.

- Tapi, apakah mungkin Didi... - Setiap orang bisa diganggu oleh setan.

Apalagi kalau hatinya kosong.

Sudah. Baca saja doa ini.

[Yuni] Di dekat Didi.

Ibu, lihat deh, Didi gambar apa.

Gambar apa, Sayang?

Ini Ayah. Ini Didi. Dan ini Ibu.

Kita bertiga satu keluarga. Punya rumah. Hidup bahagia.

- Didi. - Tapi Didi minta maaf ya, Bu.

Kenapa, Sayang?

Soalnya Didi belum bisa gambar perempuan yang cantik kayak Ibu.

[Laras] Kamu benar, Bang. Saya salah sangka.

Saya sudah berpikir buruk ke anak kita sendiri.

Wangimu tidak pernah hilang.

Sejak pertama aku mengenalmu.

Akan tidak ada bunga satu pun di dunia ini yang mampu kalahkan keharumanmu.

Bang,

rasanya saya hamil lagi.

Sudah dua hari ini saya pusing terus.

Tadi juga mual-mual. Sudah dua bulan ini saya sudah tak datang bulan.

Benar yang kamu ucapkan?

Iya.

Akhirnya.

Akhirnya.

Aku selalu berpikir,

sejak kamu melahirkan Didi...

kita tidak akan pernah bisa lagi punya keturunan, Laras.

Ini luar biasa.

Ini anugerah buat kita.

[suara pria tertawa]

[suara pria tertawa]

[suara geraman]

- [menjerit] - [suara pria tertawa]

Penyok banget ini. Aduh!

[musik menegangkan]

[bel sepeda berbunyi]

[musik menegangkan]

- [menjerit] - [suara gigitan]

[suara pria tertawa]

[bayi menangis]

[pria] Dukung nomor dua! Kosim Nugraha.

Dijamin hidup Bapak-bapak dan Ibu-ibu akan sejahtera!

Ingat! Nomor dua! Kosim Nugraha!

[Soleh] Jangan sampai desa kita ini dikenal sebagai desa yang keramat, angker.

Bapak-bapak, dibagi.

Cepat.

Kalau butuh apa-apa, kasih tahu saya.

[Laras berbahasa Arab]

[berbahasa Arab]

Yang datang ke sini...

orang-orang yang tidak berbuat baik,

tidak halal, musyrik.

Padahal desa kita ini adalah desa yang sangat indah, betul?

[warga desa] Betul!

[Soleh] Nyaman, gemah ripah loh jinawi.

Silakan, Bu.

[Soleh] Bapak dan Ibu sekalian,

bisa bersama-sama dengan saya mewujudkannya.

[warga desa] Hidup Pak Soleh!

[Ibu-ibu berbahasa Arab]

[Yuni] Pak Yasa.

Ibu-ibu, perkenalkan. Ini Ibu Wati.

Insyaallah akan bertugas sebagai bidan di desa kita.

Kalian yang sudah ditangani dukun bayi, kalian enggak usah khawatir.

[Wati] Mereka tetap menjadi mitra kami.

[Yuni] Laras. Tuh, ayo. Periksakan kehamilanmu. Sini.

[Rini] Kalau ayahmu menang, kita akan tetap berteman, 'kan?

Kalau ayahmu menang, kita juga tetap berteman, 'kan?

Iya.

Aku juga iya.

Kamu ingin adik kamu laki-laki atau perempuan nanti?

Aku tidak mau punya adik.

[Rini] Lo, kok tidak mau? Kan, memang sebentar lagi kamu akan punya adik.

[musik menegangkan]

Ibuku yang bilang, katanya ibumu sedang hamil.

Didi!

Didi!

Didi. Kamu mengagetkan Ibu.

Sudah pulang? Sama Ayah?

Sini masuk.

Didi!

Didi!

Didi. Kamu kenapa, Nak?

Kamu marah sama, Ibu?

Didi, kamu kenapa, Nak?

Didi kangen sama Ibu.

- Assalamualaikum. - Walaikum salaam.

Silakan, Pak Yasa.

Terima kasih.

Setiap selesai pertemuan dengan warga,

- banyak yang kirim makanan. - Alhamdulillah.

- Wah, ini dia. - Ini, Ayah.

Semur jengkol yang paling enak.

Pak Yasa harus coba.

- Rini mau baca doa lagi, boleh? - Ya, silakan, Nak.

[Rini berdoa dalam bahasa Arab]

[semua] Amin.

Saatnya kita nikmati semur jengkol yang paling enak ini.

Tunggu!

[Yasa berdoa dalam bahasa Arab]

[Yasa terus berdoa dalam bahasa Arab]

- [Soleh] Astagfirullah. - [Yasa] Buka jendelanya.

[Yasa] Sebaiknya mulai sekarang Pak Soleh lebih hati-hati.

Makin dekat hari pemilihan, makin banyak orang yang ingin mencelakai Pak Soleh.

Pak Yasa,

apa mungkin...

ini perbuatan...

Pak Kosim?

Astagfirullah al adzim. Ibu...

Jangan suuzan.

[Dorman berbahasa Portugis]

Didi.

Didi!

[musik menegangkan]

Didi!

Sedang apa kamu, Laras?

Mau salat, Bang.

Salat?

Sejak kapan kamu salat?

Hati saya sedang tidak tenang, Bang.

Saya ingin minta perlindungan Allah, untuk anak kita.

Abang mau jadi imam?

Dulu aku tidak pernah percaya...

salat bisa menyelesaikan masalah kita.

[Rini] Didi!

Didi!

Mana kekuatanmu, Setan Tua?

[bunyi berfrekuensi tinggi]

Nak, apa kamu melihat Didi datang ke rumah ini semalam?

Tapi dia bukan seperti Didi, Ayah.

Maksud Rini, bagaimana?

Kepalanya orang tua,

rambutnya putih.

Albert Dominique.

[pria] Ayah!

[Yasa] Keturunan berdarah Portugis

yang mewarisi kekayaan kakek buyutnya di desa ini.

Dengan kekayaan yang dimiliki, dia sering menyiksa warga yang menentang dirinya.

Memperkosa gadis-gadis desa dan melahap otak monyet kesukaannya.

Hingga suatu hari, warga desa berontak.

Dan kemudian warga desa mengadili Albert Dominique dengan hukuman terberat.

Sesuai dengan dosa yang telah diperbuatnya.

[kuda meringkik]

Hanya ada satu orang di desa ini yang bisa memanggil arwah Albert Dominique

dan kemudian menggunakan tubuh Didi sebagai media perantara.

Siapa, Pak?

Dorman.

[Yasa] Kabarnya, dia itu

adalah salah satu keturunan haram dari Albert Dominique.

Dulu ada yang bilang, kalau neneknya adalah salah satu gadis desa...

yang pernah diperkosa oleh Albert Dominique.

Saya dan Dorman, dulu satu perguruan, Pak Soleh.

Tapi semua ilmu putih yang diberikan guru dia gunakan untuk kepentingan yang hitam.

Apalagi setelah dia percaya dia punya hubungan darah dengan Albert Dominique.

Jadi, kedatangan Pak Yasa ke sini itu...

Bukan hanya untuk kepentingan pendidikan agama, Pak Soleh.

Tapi juga untuk menghentikan perbuatan Dorman sebenarnya.

[Dorman] Kamu pikir kamu bisa menghalangiku dengan paku dan kayu?

Dorman.

Dorman!

Ada peristiwa apa semalam?

Ada kejadian aneh lagi?

Tidak ada, Pak.

Didi.

Kok, kamu enggak sekolah, Nak?

Didi enggak mau sekolah. Didi mau jaga Ibu.

Jaga Ibu?

Soalnya ada yang tidak suka Didi punya adik lagi.

Tahu dari mana kamu kalau kamu mau punya adik lagi?

Didi dengar sendiri dari perut Ibu.

Terus? Siapa yang tidak suka kalau kamu punya adik lagi?

Rahasia, Bu. Nanti kalau dia dengar, bahaya!

Ya. Dia siapa, Didi?

Didi, Ibu belum selesai bicara, Nak!

Didi!

Didi jangan main dekat situ, nanti jatuh ke sumur.

Soal pemilihan, Mak Atik bilang dia bisa yakinkan warga Wetan memilih Pak Kosim

asal Pak Kosim memberi mereka uang sekian, Pak.

Apa saya bilang?

Tidak ada manusia jaman sekarang yang tidak rakus sama uang.

Bagus.

Kasih lebih banyak.

Bagi-bagi. Ambil uang saya, ambil.

Baik, Pak.

Semua akan paham pada waktunya.

Nak. Didi.

Kok, Didi sekarang melawan Ibu.

- [Didi berteriak] Ibu! Tolong, Ibu! - Ya Allah, Didi!

Ibu! Tolong!

Didi!

- Ibu, tolong, Ibu! - Pegang tangan Ibu, Nak!

Ibu tarik! Ayo, Di!

[Albert] Aku tidak ingin punya adik, Ibu!

Jangan!

Jangan!

Jangan!

[Albert menggeram]

Tolong! [batuk]

[Laras] Tolong!

[Laras berdoa dalam bahasa Arab]

[Laras terus berdoa dalam bahasa Arab]

- [bunyi berfrekuensi tinggi] - Diam!

Diam!

Didi!

[Didi] Diam!

Didi kenapa, Nak?

Didi dengar Ayah!

Didi!

Astaga, Laras!

- Cepat ambil tali, cepat! - Baik, Pak!

Alhamdulillah, tampaknya keadaan bayi baik-baik saja.

- [Laras] Bang Kosim, Abang... - Laras...

Sudah, kamu jangan terlalu banyak gerak.

Anak kita, Bang.

Anak kita baik-baik saja, Sayang. Sudah, kamu istirahat.

Bukan. Bukan itu maksud saya.

Didi, Bang.

Didi? Kenapa Didi?

Didi yang menarik saya jatuh ke dalam sumur, Bang.

Abang harus melakukan sesuatu, Abang.

Saya yakin. Saya yakin... itu bukan Didi.

Yang tega melakukan ini semua, pada ibunya sendiri.

[Laras] Ada yang mau jahat sama Didi, Bang.

Jika memang ini kesalahan kita, Bang,

kita harus bertobat.

Ya?

[pintu diketuk]

[Aris] Mak Atik? Mak?

- Eh, Ris. Bagaimana? Dapat uangnya? - Dapat, Mak.

- Tapi... - Ayo, cepat.

Mana?

Ini, Mak.

Semenjak kejadian Ahmad...

Mak khawatir...

rahasia Didi tidak bisa Mak pakai lagi untuk memeras Kosim.

Ini untuk kamu.

Terima kasih.

Tapi, Mak,

saya ke sini juga karena Pak Kosim meminta Mak datang ke rumah.

Mau apa dia?

Bu Laras, Mak. Jatuh ke sumur.

- Hah? - Iya, Mak.

[Atik menghela nafas]

Ini pasti gara-gara bayi siluman itu.

Makhluk itu tidak akan rela jika adiknya lahir.

[mesin sepeda motor berhenti]

- [Aris] Aduh. - [Atik] Aduh.

- Kenapa, Ris? - Enggak tahu, Mak. Tiba-tiba berhenti.

[suara gemeresik]

- Ris. - Kenapa, Mak?

Apa itu, Ris?

- Sebentar, Mak. - Hati-hati, Ris.

[Atik] Ris!

Ris!

Ris!

Aris!

Ris!

[Atik menjerit]

Tolong!

Cari anak saya sampai dapat!

Bawa dia pulang!

[Kosim] Cepat!

[Atik menangis ketakutan]

Tolong!

Tolong!

Tolong!

- [Atik menjerit] - [Albert tertawa]

Tolong!

Tolong!

Tolong!

- Ampun! - [Albert tertawa]

Ampun! Tolong!

[musik menegangkan]

[musik berhenti]

Setan!

- [kentungan dipukul] - [musik menegangkan]

[musik berhenti]

Rini,

Ayah pergi jemput Ibu di rumah Didi dulu, ya.

Kamu di sini saja.

Tutup pintu dan jendela.

Jangan pernah dibuka sebelum Ayah dan Ibu pulang, ya?

Ya, sudah.

- Assalamualaikum. - Walaikum salaam.

[menghela nafas]

Ayah.

Didi.

[Didi] Pak Soleh, tolong saya, Pak.

Didi.

Ayah, itu bukan Didi, Ayah! Pergi, Ayah!

Pak Soleh, tolong, Pak. Sakit, Pak.

- Iya, Bapak di sini, Nak. - Ayah, itu bukan Didi, Ayah!

[Rini] Ayah!

Astagfirullah.

[Soleh berteriak]

Ayah!

[Rini berdoa dalam bahasa Arab]

[Soleh berteriak-teriak]

[Rini] Didi! Jangan, Didi!

Didi! Didi jangan, itu ayah aku, Didi! Lepaskan!

Didi!

[menggeram]

Dorman!

Hentikan perbuatanmu!

[Dorman tertawa]

Yasa.

Yasa.

Daging dan darahmu cocok untuk kakekku.

Jangan, Didi. Aku temanmu Rini.

Lepaskan, Nak.

[Soleh] Dia bukan Didi!

Dia Didi, Ayah! Lepaskan!

- [Rini] Didi! - [Soleh] Dia bukan teman kamu, Rini!

Dia teman aku! Didi!

Didi bangun, Didi!

[Kosim] Didi!

[Soleh] Didi tidak apa-apa. Dia cuma pingsan.

Didi!

[Laras] Didi! Nak!

[Laras] Ibu tahu kamu tak berniat jahat sama Ibu. Bangun, Nak.

Rini baik-baik saja?

- Bu? - Ayah.

Alhamdulillah.

[Soleh] Alhamdulillah.

[Kosim] Didi dengar Ayah, Didi! Ayo, buka mata!

- [Yasa] Pak Kosim! - [Laras] Pak Yasa!

Didi!

[Yasa] Pak Kosim, Didi harus segera kita rukiah.

Arwah setan itu ada dalam tubuhnya!

Ayo cepat, Pak!

- [Yasa berdoa dalam bahasa Arab] - [Didi berteriak]

- [Yasa terus berdoa dalam bahasa Arab] - [Didi] Sakit, Ibu!

[musik menegangkan]

[Yasa terus berdoa dalam bahasa Arab]

[Albert tertawa]

[berbahasa Portugis]

- Pergi! Aku bukan cucumu! Pergi! - [Albert menggeram]

Astaghfirullah al azim.

Didi!

Didi!

Astaghfirullah al azim.

[Laras menangis] Didi!

Didi!

Lunasi janjimu, Kosim.

Janji?

Astagfirullah.

Keluar kau, Dominique! Keluar kau!

[Albert menggeram]

[Yasa] Astagfirullah.

[Kosim] Didi, jangan, Didi!

[Albert berbahasa Portugis]

[Laras] Sadar, Nak! Sadar, Didi!

[Laras berdoa dalam bahasa Arab]

[Laras terus berdoa dalam bahasa Arab]

Ibu...

[Laras] Didi.

[musik menegangkan]

[Albert] Aku yang anakmu!

[Yasa berdoa dalam bahasa Arab]

[Yasa terus berdoa dalam bahasa Arab]

[Yasa berhenti berdoa]

[Albert berteriak lirih]

Rini...

Ayah...

Ibu...

- Kami di sini, Nak. - Alhamdulillah.

Kakek, jangan!

Maaf, Kakek! Jangan, Kakek!

Kakek, jangan! Jangan, tolong, Kakek! Tolong!

Terima kasih banyak. Sudah membantu keluarga saya.

Sama-sama, Pak.

Saya juga mau berterima kasih kepada Pak Yasa.

Bapak sudah menyelamatkan anak saya.

Pak Kosim,

Ingat baik-baik.

Harta...

tidak bisa dijadikan jaminan sebagai pelindung keluarga.

Tapi akhlak...

dan tindakan yang diridai Allah Swt.

Hanya itu pelindung kita dari godaan setan apa pun juga.

["Asmoro Wedho" oleh Andi Zate mengalun]

Saya mau, Pak.

Saya mau bertobat.

Tolong ajari saya.

Bimbing saya.

[Yasa] Insyaallah.

[Kosim] Saya ucapkan terima kasih

atas kepercayaan yang Bapak-bapak berikan karena memilih saya.

Sekaligus saya mau minta maaf...

atas segala khilaf saya selama ini kepada warga desa.

Tapi saya sadar, saya tidak layak memimpin desa ini.

Saya merasa...

Bapak Soleh Bachrudin...

lebih layak untuk menjadi pemimpin desa ini.

Karena apa?

Karena beliau orang yang baik.

Soleh...

Selamat.

Saya serahkan tanah-tanah milik saya

untuk dibagikan sesuai dengan yang berhak...

dan untuk Pak Soleh gunakan membangun fasilitas sesuai program desa.

[warga desa] Hidup Pak Kosim! Hidup Pak Soleh!

Bismillahirrahmanirrahim.

Sakit, Yah! Perih, Bu!

[Yasa] Selamat Pak Kosim, Bu Laras.

Khitanannya sudah selesai.

[semua] Alhamdulillah.

Didi hebat!

[Kosim] Didi,

tidak apa-apa menangis, Nak.

Air matamu itu, air mata kehidupan.

Air mata bahagia.

Nanti ke depannya,

jalan yang akan kamu tempuh untuk mencapai kebahagiaan,

adalah jalan kebenaran yang diridai Allah Swt.

Hebat, Anak Ayah.

Terima kasih.

[Laras menjerit] Bang Kosim!

[Laras menjerit kesakitan]

[suara bayi menangis]

Alhamdulillah.

Alhamdulillah.

[Laras menjerit]

Laras!

[musik menegangkan]

[Kosim] Astagfirullah al adzim!

Tolong!

Hutangmu masih belum terbayarkan, Kosim.

Astagfirullah al adzim.

Kau serahkan bayi ini...

atau kau serahkan Didi kepadaku, Kosim!

["Asmoro Wedho" mengalun]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.