Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
(EPISODE 4)
Kenapa Rang tak kunjung bangun?
Dia benar-benar sakit? Apa dia menderita?
Dari yang kulihat, dia sudah sadar.
Dia cuma malu untuk bangun.
Jadi dia berpura-pura tidur?
Aku mau mengambil air dingin.
- Baiklah. - Tampaknya itu berat.
- Tak apa-apa. - Ya ampun.
Terima kasih sudah membantu. Sana.
Hei, bangun. Cepat, ayolah!
Bangun.
Astaga, aku sampai berlatih akting.
- Mau latihan dahulu? - Boleh.
Apa? Dia putri duyung?
Beraninya kau membawa makanan laut ke garis keturunan rubah ekor sembilan!
Kau selalu saja seperti itu. Selalu membahas garis keturunan.
Selalu menuntutku menjadi dewa gunung, dan meneruskan trah keluarga!
Beraninya kau! Aku mati-matian membesarkanmu!
Dasar berandal!
- Beraninya kau melawanku! - Kakak.
Tak bisakah kau membiarkanku jatuh cinta?
Hei, Berandal. Dasar tak tahu terima kasih!
Astaga! Kalian berdua, enyahlah!
- Pergi! - Baiklah.
Dah.
Kau sudah bangun.
Lihat, aku baik-baik saja.
Kau masih agak demam.
Jangan pegang-pegang.
Kenapa kau melompat ke sumur?
Karena kau sekarat.
Aku jadi punya utang.
Ini waktu yang pas untuk berterima kasih.
Rubah harus membalas budi, apa pun itu.
Terutama saat nyawanya diselamatkan.
Apa yang kauinginkan?
Aku…
Aku ingin jatuh cinta.
Itu terucap dengan cukup natural.
Karena blasteran,
aku selalu ditolak oleh manusia dan iblis.
Tapi kini itu berakhir.
Akhirnya, aku bisa menemukan cinta sejati.
- Kau sedang melantur atau bagaimana? - Tak mempan?
- Memangnya aku makcomblang? - Dia tak menangkap maksudku.
Katakan saja siapa yang harus kubunuh. Aku bisa meledakkan desa dengan mudah.
Tidak perlu seperti itu.
Kalau begitu, bisa kabulkan permohonanku?
- Permohonan? - Anak.
Tujuh saja cukup.
Kau menangis?
Aku terlempar ke tahun 1938 dan bekerja mati-matian.
Tapi untuk kali pertamanya, aku merasa senang berada di sini.
Aku bisa melihat sisi lain Tuan Lee Rang.
Kau benar.
Aku selalu berharap Rang menjalin hubungan normal,
membangun keluarga,
dan menjalani kehidupan normal.
Masalahnya, dia tak pernah memacari siapa pun.
Dia perjaka yang tak pernah menyentuh tangan wanita.
- Kau punya rencana? - Pertama-tama,
kita periksa kecocokan mereka mulai dari nama.
- Astaga, tapi semuanya salah. - Ini sains.
Aku dan istriku mendapat 99 poin.
Hei, tapi aku dan Ji-ah cuma mendapat 25 poin.
Astaga. Pasangan ini cuma mendapat 23 poin!
Nah, 'kan?
Astaga.
Aku juga merindukan Ji-ah.
Kau khawatir? Hyunuiong mungkin selalu menjaganya.
Sebelum aku kemari, ramalan cuaca mengumumkan musim hujan.
Ji-ah selalu menghilangkan payungnya.
Kuharap dia tak kehujanan.
Kokok.
- Kokok. - Ada ayam di sini?
Itu ayam yang kukenal.
Kokok.
Kokok.
- Sedang apa kau di atas situ? - Astaga.
Halo, Kakak Bos.
Kenapa tak mengetuk pintu depan saja?
"Bandit tak pernah memakai pintu depan!"
- Itu kata Bos… - Sudah, cepat turun.
Bagaimana, sudah kauselidiki?
Ini dia. Aku membagikan ini kepada anak buahku.
Lalu?
Ada rumah budaya di belakang Bank Joseon.
Pemiliknya bernama Park Ga, yang berhasil kaya karena tambang emas.
Topeng Merah Putih merampoknya?
Tahu tujuh keluarga bangsawan tambang emas Gyeongseong?
Dia hanya mengincar mereka dan sudah merampok enam keluarga.
Apa yang dia curi?
Itulah yang menurutku aneh.
Uang, emas, sertifikat properti… Semuanya dibiarkan,
kecuali kotak perhiasan.
Kotak perhiasan?
Di sini juga tak ada.
Kak!
Wah!
- Ini emas. - Emas.
Ini emas!
Emas!
Emas!
Ini rumah Sunwoo Chan, yang juga dikenal sebagai "Raja Emas."
- Dan pemiliknya? - Sedang pergi ke Gyeonggi-do.
Yang di rumah hanyalah istri dan putrinya.
Bagus. Masuklah dan curi kotak perhiasannya.
Aku? Enak saja. Aku tak pernah mencuri seumur hidup.
Jadi harus aku? Mantan dewa gunung?
Anggaplah aku masuk dan mencuri kotak perhiasan itu.
Menurutmu itu masuk akal?
Tapi aku tidak mau. Kita intai dan tangkap saja orang itu.
Kita akan menangkapnya dan menyimpan perhiasannya. Cepat, masuk.
Berhentilah membahas soal jadi mantan dewa saat kau terpojok.
Padahal tak ada yang lihat. Tinggal jalan lurus saja. Dasar…
Apa-apaan? Astaga. Dia kebanyakan nonton film.
Angkat tangan.
Sekarang berbalik.
Jangan salah paham.
Sayang! Yoo-ri!
Kau datang mencariku?
- Tak usah mengada-ada. - Aduh.
- Aku merindukan sikapmu yang kasar. - Menurutmu aku memegang apa?
Tentu saja, awal mula cinta kita.
Saat kali pertama berjumpa, sikapmu…
Kau mengancamku dengan pistol dan bahkan mencium pipiku.
Yoo-ri, peluk aku.
Kau bukan orang pertama yang menyelinap.
Kau yang ke-36.
Kau bukan Yoo-ri?
Namaku Sunwoo Eun-ho.
Kau setidaknya harus tahu nama wanita yang menembakmu.
Maaf, Bu.
Maaf? Untuk apa?
Aku melakukan ini di luar kehendakku!
Aduh! Ini benar-benar…
Astaga! Tunggu!
Dia bisa berlari seperti itu setelah ditembak?
Hong-joo, ini bunga yang hanya mekar di Neraka Kuali Api.
Astaga.
Aku sudah merasa hangat saja.
Kau memang yang terbaik, Pak Tua.
Astaga. Jika kau suka hal yang hangat,
kenapa kau terus menghukum dan menyiksa diri sendiri?
Hanya itu caranya agar aku merasa hidup.
Kau masih kesulitan tidur?
Kau memimpikan keluargamu?
Keluargaku…
Mereka menungguku, bahkan di mimpiku.
Aku menaruh nasi mentah di mulut jasad keluargaku, dan merapalkan ini.
"Aku tak pernah meninggalkan kalian."
Sekalipun akan mati, aku ingin mengucapkan itu.
Tapi aku selalu terlambat.
Bahkan kami, yang disebut dewa, masih berduka atas kepergian seseorang.
Aku juga kehilangan putraku.
Aku bisa bertahan hidup karena membesarkan kalian.
Yeon, Moo-yeong, dan kau.
Jika Yeon dan Moo-yeong bertarung, kau akan memihak siapa?
Entahlah.
Pertanyaannya sulit.
Aku suka Yeon sejak awal.
Tapi aku tak bisa meninggalkan Moo-yeong lagi.
Bekas luka di tubuhnya…
Semua itu gara-gara aku.
Mereka anak yang baik.
Tapi kenapa?
Mereka berdua.
Mereka bukan orang yang kukenal.
Hei, cepat.
- Ada wanita yang mirip Yoo-ri. - Benar, si reporter. Aku juga melihatnya.
- Kenapa tak bilang? - Mana kutahu itu rumahnya.
- Dan Topeng Merah Putih? - Dia mengikuti kita.
Kau kuat juga.
Wah.
Keseimbanganmu juga kuat.
Tapi kurang andal dalam bertarung dengan tangan?
Sial.
Kenapa? Kau punya jurus lain?
Sialan.
Mari lihat wajah si Penguntit.
Iblis yang memakai senjata pembunuh?
Rang!
Kau mencoba membunuhku dua kali.
Aku dan adikku ingin tampil maksimal hari ini.
Tangkap dia!
Mau ke mana? Tak ada jalan di sana!
Bos!
Siapa kalian?
Dengan emas yang dia berikan,
aku membeli cukup makanan untuk seisi desa.
- Baguslah. - Mereka cuma tameng.
Sebenarnya siapa keparat ini? Apa kehebohan semacam ini penting?
- Kita lepas saja topeng mereka. - Percuma. Dia sudah pergi.
Bagaimana benda itu?
Ini yeot.
Aku akan segera mendapatkannya, Lee Yeon.
Dan ini.
Ini benda-benda asli.
Bagaimanapun, ini cuma perhiasan.
- Keparat itu mencari apa? - Tunggu.
Ada satu lagi.
- Mau kaukeluarkan dari mana? - Astaga.
- Astaga. - Menjijikkan.
Apa ini?
- Apa? Ini benar-benar Penggaris Emas? - Benarkah?
PENGGARIS EMAS HARTA KARUN HYEOKGEOSE SILLA
- Itu benda pusaka? - Kau tak pernah dengar legendanya?
"Yang memiliki penggaris emas dapat membangkitkan mayat dan dikenal."
Benda ini membangkitkan orang mati
saat kau ukur tinggi dan lebar mayatnya.
Kenapa barang seperti ini ada di sini?
Mungkin tak ada yang tahu cara memakainya.
Aku pernah dengar rumor,
bahwa penggaris Raja Silla ditemukan di pertambangan emas utara.
Kukira itu hanya rumor.
Pusaka yang membangkitkan orang mati?
Siapa yang ingin dia bangkitkan?
Lama tak jumpa.
Nenek Tua.
Apa aku tiba terlalu cepat?
Aku ingin melihat aksi gilamu lagi.
Karena sudah lama tak menemuimu, kupikir aku bisa mampir sebentar.
Mau minum teh?
Kau sebenarnya apa, Nenek Tua?
Kau membesarkan dan hampir membunuhku. Aku jadi agak heran.
Aku? Hanya seorang birokrat.
Aku membesarkan kalian karena kebutuhan, dan menyingkirkanmu karena kebutuhan.
Aku suka kejujuranmu.
Aku merasa makin mudah untuk berbuat semauku.
Aku di sini untuk membuatmu tidak nyaman.
Aku membiarkanmu karena satu alasan.
Kau butuh jawaban.
Bagaimana bisa seseorang yang kaujadikan batu bisa hidup lagi?
Siapa yang berani mengganggu keseimbangan Alam Manusia dan Alam Baka?
Kini Moo-yeong sudah berubah.
Beraninya kau menantangku terang-terangan.
Kau yang…
menelantarkanku.
Kau sendiri yang memilih untuk menentangku,
jadi tak sepantasnya keu merengek.
Benar, 'kan?
Karena itulah…
kau memakai topeng, 'kan?
Kenapa kau datang ke era ini?
Untuk apa?
Untuk membangkitkan kakakku
dan mengambil kembali yang sudah kau dan Lee Yeon ambil.
Kalau mau berbuat jahat…
makanlah dengan teratur.
Sepertinya kau belum sepenuhnya pulih.
Kau akan menyesalinya.
Kau akan menyesal tak membunuhku sekarang.
Astaga.
Aku sudah menyelidiki keberadaan Lee Yeon.
Ada saksi yang janggal di Gunsan.
Benarkah?
Baiklah.
- Kau berhasil bertahan. - Bagaimana kalau Nenek lihat?
Kami sudah bertemu.
Kejutan.
Nih. Makanlah tofu.
Astaga.
Masih terasa seperti mimpi kau berada di sampingku.
Boleh jujur?
Aku tak mengenalimu.
Kau terlihat seperti Moo-yeong yang kukenal.
Tapi aku agak ragu.
Memangnya aku orang yang bagaimana?
Kau ingin menjadi dokter alih-alih dewa gunung.
Kau menyayangi setiap helai rumput.
Kau bisa bertahan saat terluka.
Tapi kau menangis saat aku dan Yeon terluka.
Kalau sekarang?
Sekarang aku bagaimana?
Meskipun kau di sampingku, aku tak mengenalimu.
Aku sungguh tak mengenalimu.
Seharusnya aku tak menjadi…
dewa gunung.
Seharusnya aku tetap di sisimu sebagai Cheon Moo-yeon.
Pada akhirnya mimpimu menjadi mimpiku juga.
- Kau berniat membunuh Yeon? - Jika benar…
kau akan membunuhku?
Kalian sudah menyeretku ke perkelahian kalian.
Kau tahu aku bukan orang yang apatis.
Apa-apaan ini? Kau bilang ini bisa menghidupkannya.
Kau menyebutnya benda pusaka?
Mungkin cara pakainya salah.
Batu Pelindung hanyalah batu biasa jika peletakannya salah.
Kau benar.
Semua ini dimulai dari batu ini.
Batu yang membuat penghalang,
dan pusaka pembangkit orang mati.
Apa yang ingin dia lakukan?
Penggaris Emas tak lagi muncul sejak era penjajahan Jepang.
Pusaka itu hilang dari dunia setelah era ini.
Itu sebabnya dia menjelajahi waktu.
Kita tunggu saja.
- Apa? - Dia pasti kemari untuk pusaka ini.
Kok ada kuda?
Si Putri Duyung mengajak jalan-jalan.
Ya ampun.
Gak terlalu ngebut tuh buat kencan pertama?
Wanita itu akan memeluknya dari belakang dan bilang, "Sayang, kau terlalu ngebut."
Jangan takut. Peraturan lalu lintas tak bisa menghalangi hobiku.
Astaga. Kau gagah sekali.
Berhenti mengusikku!
Biar kutunjukkan gairah bandit. Tuk, tik, tak, tik, tuk.
- Sumpah, minta dibunuh. - Kabur!
Kuda yang tampan. Siapa namanya?
Namanya Lee Yeon.
Nama kakakmu?
Dia sama keras kepalanya.
Tapi kenapa kuda?
Karena kakiku sesungguhnya ekor, aku tak bisa lama-lama berjalan.
Sudah lama mau kuda.
Mimpiku adalah mengendarai kuda sambil melintasi padang rumput.
Kalau mau kebut-kebutan, kenapa tak naik mobil saja?
Tidak. Harus dengan kuda.
IMAJINASI YEO-HEE
Kontak fisik pasti terjadi saat mengendarai kuda.
Kehangatan yang dia rasakan di punggungnya akan meluluhkan hatinya.
Kami pasti akan sama-sama jatuh cinta hari ini.
Pusatkan titik keseimbanganmu ke belakang.
- Sudah kubilang pertahankan posturmu. - Postur?
- Selaraskan kepala, pundak, dan pinggul! - Selaras…
Jangan kejutkan dia dengan suara aneh.
Telinga kuda sensitif.
Maaf, kakiku sakit sekali. Pahaku sudah tak tahan lagi.
Sekarang bayangkan ini.
Bayangkan musuh datang ke arahmu.
Ini bukan waktunya berbicara.
Ini simulasi perang?
Jangan takut. Tambah tenaganya.
Titik keseimbangan ke belakang.
Hiya!
Kau cukup berbakat.
Benarkah?
Kau mau masuk geng banditku? Kau pasti jadi kesatria hebat.
Geng bandit…
Bisa-bisanya aku kehilangan jejak mereka. Astaga.
Mereka berkuda ke mana sih?
Kau berniat membuntuti tiap kali mereka berkencan?
Mereka pasti baik saja.
Kita harus menggelar pesta pernikahan mereka di hotel.
- Bagaimana dengan pernikahan sederhana? - Tidak. Aku mau yang terbaik.
Gedung dan segala pernak-perniknya.
Kita akan memanggil penyanyi terbaik juga.
- Aku yang jadi MC! - Boleh.
Apa itu?
Ya ampun.
- Bayi! - Masih hidup.
Siapa yang tega menelantarkan bayi semanis ini?
Selimutnya terbuat dari sutra berkualitas.
Berarti dia dari keluarga kaya.
Aku tahu! Dia pasti anak seorang gundik.
Mungkin dia dibuang karena perempuan, seperti nasibku.
Atau bayi hasil hubungan gaya Barat.
Itu sedang tren sekarang ini.
Terima kasih atas opini kalian yang tidak penting itu.
Jadi bagaimana? Mau kalian besarkan?
Ini rumah gisaeng. Kami bisa celaka kalau Nyonya tahu.
Sudah dengar, 'kan? Kembalikan dia ke tempat tadi.
- Tidak. Dia bayi buangan. - Lantas?
Itu dianggap pembawa keberuntungan.
Bayi buangan membawa keberuntungan, jadi orang cenderung membawanya ke dalam.
Sudah dengar, 'kan? Aku akan mengurusnya sampai orang tuanya ketemu.
Hei!
Mau?
Bagaimana?
Lumayan lah.
Kau suka makanan seperti apa?
Aku bukan pemilih, tapi kalau ditanya, jawabannya naengmyeon.
Tipemu seperti apa?
Tipeku?
Maksudku, kau suka orang yang bagaimana?
Yang lebih kuat dariku.
Pokoknya, temukan kesamaan.
Apa hobimu?
Aku sedang suka merampok.
Kenapa kau ingin menjadi bandit?
Karena Yeon pasti menentangnya.
Ternyata kalian lebih rumit dari kelihatannya, ya.
Aku bahkan tak pernah bertemu ayahku.
Dan ibuku menyebutku monster.
Lee Yeon satu-satunya keluargaku.
Walaupun dia membuangku seperti sampah saat digoda oleh seorang manusia.
Setidaknya kau masih punya keluarga.
Orang tuamu bagaimana?
Kenapa kau tak kembali ke laut? Kau bisa hidup menjadi putri duyung.
Aku suka Gyeongseong dan bernyanyi di atas panggung.
Aku suka suara obrolan orang dan kilauan lampunya.
Biar kuluruskan.
Tak ada tempat untuk makhluk setengah iblis
di Bumi ini.
Aku pergi.
Aku sudah kewalahan mengurus yang satu ini.
Aku benci anak manusia.
- Pembohong. Soo-oh amat menyukaimu! - Siapa Soo-oh?
Sudahlah. Bawa saja ke Kotak Bayi.
Tak ada tempat semacam itu di sini.
- Kenapa tak dijual saja? - Ayolah.
Kalian tega banget. Sama sekali tak berperikemanusiaan!
- Memangnya kita manusia? - Memangnya kita manusia?
Bukan, itu bukan makanan.
Sudah kubilang berhenti angkat beban.
Kau lapar? Mau makan?
Tolong digendong. Aku mau membeli susu formula dan popok.
Hei, ayo pergi bareng. Aku ada urusan penting di kota.
Kau mau mati?
Aku tak akan lama. Paman beli makanan dahulu, ya?
Astaga.
Hei. Kita harus bagaimana?
- Kita bunuh saja diam-diam. - Jangan.
Bagaimana kalau kita buat hilang saja?
Maaf harus berakhir seperti ini, tapi ini demi kebaikanmu. Ya?
Semoga bertemu orang tua yang baik.
Astaga, baiklah!
Ini beri liar.
Hong-joo sangat menyukainya.
- Ayo. - Astaga, sabar dong.
- Kenapa dia di sini? - Dia datang mencari kita?
Tapi dia bahkan belum bisa berjalan! Siapa bajingan yang melakukannya?
- Cepat, sebelum Shin-ju kembali. - Cepat!
Yang benar saja!
Hidup yang benar, ya!
Sial.
Hei…
Hei, beri tahu. Bagaimana caramu kembali?
Ini manusia atau bukan sih?
Apa dia bayi jadi-jadian?
Astaga.
Lee Yeon pecandu opium?
Ya, pecandu berat.
Semua iblis di Gunsan tahu itu.
- Pernah lihat dia mengisapnya? - Dia bahkan bukan perokok.
- Dia tiba-tiba berhenti? - Tak mungkin.
Shin-ju baru saja mampir dan mencari opium lagi.
Kau juga korban Yeon, 'kan?
- Bukan korban juga… - Kami baru-baru ini membentuk
klub korban Lee Yeon.
Kami bertemu tiga kali sepekan.
KLUB KORBAN UNTUK IBLIS KORBAN SI RUBAH
Kami menawarkan sesi terapi dan jus labu
untuk orang-orang yang dihajar.
Dia menghajar kalian?
Ya.
Hanya karena tak suka nama istriku, dia menghajar kami seperti ini…
Siapa namamu?
- Bae Ah-eum. - Ah-eum?
Nama pacar Lee Yeon?
Ah-eum!
Ah-eum!
Itu nama yang paling dia benci.
Jadi? Kali terakhir kalian melihat dia di mana?
Yeon naik kereta ke Manchuria?
Mungkin dia turun di Gyeongseong. Bertepatan dengan dia meninggalkan Gunsan.
Jae-yoo.
Carilah opium.
Jadi dia makhluk apa?
Tahi lalat pada dahinya…
- Bintang Biduk. - Lantas?
Asterisme yang mengontrol kematian.
Tapi itu juga bermakna membawa kekayaan.
Astaga, ada yang janggal.
Dia terus kembali meski sudah kita buang.
Kenapa dia menangis?
Entahlah.
Berhenti menangis.
Hei, Bedebah Tengik. Kalau menginginkan sesuatu, katakan saja.
Astaga. Kau pikir itu akan membuatnya bicara?
Baiklah. Hei. Jangan menangis. Nih, kuberi uang.
Berhenti menangis.
- Buat pingsan saja. - Hentikan.
Nanti dia mati kalau kau hajar. Punya opium atau obat tidur?
Tangisannya berhenti.
Teruslah gendong dia.
Kemari.
Hei, ini basah.
- Jorok. - Dia pasti BAB.
Hei, aku misofobia.
- Kau yang membawanya kemari. - Bukan aku.
Ayo bertaruh. Yang kalah urus dia sendirian.
Punyamu tinggal dua, punyaku masih ada empat.
- Tidak! - Selamat tinggal.
- Permainan belum berakhir. - Jangan!
Tidak!
Waktumu 30 menit.
Asal kau tahu saja.
Aku sangat membenci manusia.
Apalagi yang menyedihkan dan tak bisa mandiri.
Tak usah minta dikasihani.
Kalau menangis lagi, kubantai.
Apa yang lucu?
Kau mentertawaiku?
Wah, pemandangannya indah.
Kok sepi banget?
- Bagaimana caramu menidurkannya? - Ternyata gampang.
- Apa itu? - Bukan apa-apa.
- Dasar… - Bukan apa-apa…
Bisa-bisanya kau memberinya makgeolli. Astaga.
Darurat! Gawat darurat!
- Ada apa sih? - Nyonya Ryu sudah kembali.
- Siapa? Hong-joo? - Dia ingin menemuimu.
Tuan Lee Rang, bawa bayinya dan sembunyi! Cepat!
- Kenapa? - Kalau ketahuan, kita bisa diusir!
Astaga, pergilah.
- Tuan Lee Rang. - Duh.
Menurutku Nyonya Ryu lebih menyeramkan daripada si Topeng.
Jangan sampai dia memusuhimu.
- Aku harus bagaimana? - Berpura-puralah menyukainya.
- Tidak. - Kenapa? Ini cuma sandiwara.
Karena aku tahu perasaannya tidak main-main.
Sekalipun harus bermusuhan, aku tak mau membohonginya.
Dia temanku.
Wah, kadang dia keren juga.
Bau!
- Kau sudah datang. - Apa ini? Kau mengisap opium?
Kudengar ini bisa menghasilkan banyak uang.
Kau preman? Jangan berjualan itu, meski menguntungkan.
- Kalau begitu, kupakai saja. - Apa? Kau sudah gila?
Bagaimana jika kau kecanduan?
Matanya segar.
Tangannya pun tak gemetar.
Dia bahkan tak terpancing baunya.
Jadi kenapa kau memanggilku?
- Aku punya pertanyaan. - Aku juga.
Agar adil…
masing-masing tiga pertanyaan.
Kalau aku tak bisa jawab?
- Tanggalkan pakaian satu demi satu. - Astaga.
Pertanyaan pertama.
Ingat kapan kali pertama kita berjumpa?
Dia mengetesku.
Pantas saja dia mengisap opium.
Apa dia tahu sesuatu?
Mana mungkin aku lupa.
Kau menikamku begitu melihatku.
Giliranku.
Topeng Merah Putih. Kau kenal, 'kan?
- Ya. - Di mana dia sekarang?
Satu pertanyaan per giliran.
Giliranku.
Kita bersumpah untuk saling melindungi dengan nyawa kita.
Kalau kita melanggarnya?
- Kita akan saling membunuh. - Yeon…
aku berniat untuk menepatinya.
- Kenapa kau memilih dia daripada aku? - Aku belum memutuskan.
Pertanyaan terakhir.
Bagimu, aku apa?
Aku tak bisa memberimu jawaban yang kauinginkan.
Aku tak akan membohongimu
agar kau memihakku.
Sumpah demi nyawaku.
Padahal cukup dijawab dengan satu kata. Dari dahulu hingga kini, kau kaku sekali.
Siapa di balik topeng itu? Dia mengenalku, 'kan?
Mungkin aku juga mengenalnya.
Hei! Hentikan.
Makin tertutup busananya, makin kau cantik.
Oh, ya. Ambil ini.
Entah apa kau masih menyukainya.
Aku pergi, ya.
Kau kenapa, Hong-joo?
Aku mendapat surat dari rumah.
Adik bungsuku sakit keras.
Kalau begitu, beri tahu Taluipa dan pulanglah.
Katanya, jika meninggalkan tempat ini, aku tak akan menjadi dewi gunung.
Dasar nenek tua jahat!
Sebentar.
Nih. Beri liar.
Beri liar bisa mengusir kesedihan.
Ini yang ular makan.
Kau harus mencabut satu bulu mata sebelum memakannya.
Itu akan memurnikan racunnya.
Bagaimana? Aku benar, 'kan?
Jae-yoo.
Ya, Bu.
Kita berangkat ke Manchuria. Siapkan yang perlu kaubawa.
Pada hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!
TAMBANG EMAS JAMI
Ibu menangis, Ayah. Seluruh perhiasannya dicuri.
Itu tidak penting saat ini. Kita punya tambang emas baru!
Jadikan ini berita utama di koran.
Aku, Sunwoo Chan, mungkin sudah dirampok 36 kali,
tapi aku tetap baik-baik saja!
Seperti cara Ayah yang memakai pers untuk urusan pribadi?
Ayah juga mempromosikan kebijakan produksi emas baru Gubernur Jenderal.
Semuanya demi kebaikan negara ini.
Ada lebih dari 5.000 tambang yang sedang dikembangkan.
Baik anak-anak maupun wanita, seisi negeri ini tergila-gila dengan emas.
Lihat ini.
Ini adalah era emas menghasilkan uang.
Halo, Pak Sunwoo Chan.
Nona.
Aku dari Stasiun Jongno.
- Ada urusan apa? - Aku baru mendengar rumor menarik.
Tambang Emas Unsan dari Pyongan, Tambang Emas Jiksan dari Cheonan,
dan Tambang Emas Gahak dari Gwangmyeong…
Kudengar seorang pria muncul tiap kali tambang emas muncul.
- Siapa? - Joseon menyebutnya dewa keberuntungan.
Dewa keberuntungan?
Dia dewa pribumi yang membawa keberuntungan.
Kau jauh-jauh kemari karena takhayul?
Dengan segala hormat,
pernah liat seorang pria bertopi bambu dan berjanggut panjang?
Kudengar dia suka makan wortel seperti kelinci.
Ayah.
Tangkap orang itu.
- Tangkap dia! - Baik.
Tuan Lee Rang!
Tuan Lee Rang!
Tuan Lee Rang!
Pasang taruhan!
Kira-kira yang mana? Di manakah itu?
- Tak ada di situ! - Sial!
- Bangsat, uangku! Uang… - Terima kasih, Tuan-Tuan.
Bos!
Kemarilah.
Setahun 12 bulan, tahun lalu tiga belas,
setahun 365 hari. Ini tak datang tiap hari atau tiap bulan.
Jangan pilih-pilih. Tunjuk saja satu.
- Sudah selesai bicaranya? - Nomor dua!
- Nomor dua. - Oke, aku memasang taruhan.
- Nomor dua. - Ada lagi?
Ini dia. Apakah ada di nomor satu?
- Apa? Kau memilih nomor tiga? - Yah, bukan.
- Bayi ini sudah bisa berjudi? - Kira-kira yang mana?
- Tidak. Bukan nomor dua! - Tidak!
- Ada di nomor tiga. - Ya!
- Astaga. - Terima kasih.
Cepat. Taruhan berikutnya.
Satu jadi dua,
dua jadi empat, empat jadi delapan,
delapan jadi sepuluh, lalu seratus.
Coba, kira-kira yang mana?
Oke. Yang mana?
- Ada di sini. - Bukan, nomor dua.
- Oke. - Nomor dua.
Nomor dua.
Nomor tiga lagi?
- Aku yakin. - Sudah kubilang.
Apakah nomor dua? Yah, bukan!
Nomor tiga. Selamat.
- Ambillah, kalau begitu. - Aneh banget.
- Kau hebat juga. - Ini. Terima kasih.
Dongdaemun? Kita mau ke mana?
Tunjuk satu.
- Tunjuk dan pilih satu. - Aku tak akan tertipu lagi.
Ayo tunjuk lagi. Yang mana?
- Nomor satu? Baiklah. - Nomor tiga.
Baiklah. Kali ini urutannya mundur.
- Bukan. - Apa? Yah.
Bukan juga.
- Ternyata nomor satu. - Wah, kok bisa sih?
Silakan. Terima kasih.
Di manakah itu? Yang mana?
Nomor dua?
- Nomor satu. - Oke, nomor satu.
- Aku mengikuti bayi itu saja! - Aku juga. Nomor dua.
- Baiklah. - Memangnya bayi tahu apa?
Bukan nomor satu.
Nomor dua.
Ini dia. Selamat.
Pergilah, Nak. Pergilah, Nak.
Ke mana tanganku? Lihat baik-baik.
Kalau memperhatikan baik-baik, nasibmu mungkin berubah.
Oke, yang mana? Yang mana?
Sekali lagi.
Nomor tiga?
Nomor tiga.
Aku memasang semuanya.
Kita lihat saja.
Nomor dua.
- Bukan! - Nomor tiga!
Wah!
Kau sungguh membawa keberuntungan.
Bayi keberuntungan!
Bulu, mutiara, dan pisang mahal. Apa semua ini?
Suasana hatiku bagus, jadi aku royal.
- Apa yang terjadi di kota? - Tidak ada apa-apa.
Kenapa?
Astaga.
- Dari mana semua ini? - Aku menang judi!
- Kau berjudi di depan bayi? - Dia mantap. Kita besarkan saja!
Yang benar?
- Kau lihat ini? - Kami akan membesarkanmu, Nak.
Duh, kepalaku sakit.
Astaga.
Aku penasaran ada apa di Manchuria.
Kau bilang pria yang di Myoyeongak adalah Lee Yeon.
Kenapa masih ingin memastikan?
- Yang itu bukan pecandu opium. - Apa maksudmu?
Aku harus melihatnya sendiri.
Rubah ekor sembilan lain yang pergi ke Manchuria.
Maaf sebelumnya.
Kenapa kau menyukai Tuan Lee Yeon?
Aku tak pernah bermain rumah-rumahan semasa kecil.
Karena hidupku terlalu keras.
Tapi saat bersamanya, aku merasa nyaman.
Aneh.
Padahal dia tak pandai berkata-kata manis.
CHEON HO-YEONG
Kakak.
Apa kabar?
Akankah Ayah memarahiku?
- Jadi kenapa kau kabur? - Aku tak mau menjadi dewa gunung.
Kau harus menjadi dewa gunung.
Anak yang memenuhi syarat dipilih oleh Taluipa.
Aku tak suka bertarung karena bagiku itu menyeramkan.
Kau pasti akan menjadi dewa gunung yang hebat.
Karena kau adikku.
Kakak, katakan bahwa aku di jalan yang benar.
Biarkan aku tidur.
Kenapa dia membutuhkan nama?
Bahkan peliharaan buangan punya nama.
Baik, bagaimana kalau Kim Du-han? Dia tumbuh menjadi kuat.
Du-han? Tapi bayi ini perempuan.
Kalau nama yang beken? Dia ditemukan di jalanan.
- Bagaimana kalau Coco? - Coco! Tunggu…
Coba lebih dipikirkan lagi. Nasib manusia ditentukan oleh namanya.
Gumiho?
Bagaimana kalau mengambil nama keluargamu, Lee Mi-ho?
Lee Mi-ho?
Hei. Lee Mi-ho.
- Jangan pegang-pegang. - Kurasa dia menyukainya.
Hei, Mi-ho!
Koo Shin-ju. Kemari.
Mi-ho!
Mau kauapakan dia saat kita harus pulang?
- Kau mau membawanya juga? - Apa boleh?
Aku tahu kau tak akan tega jika melihat anjing jalanan ditelantarkan.
Tapi mengurus anak manusia adalah hal yang berbeda.
Kau sungguh membenci Mi-ho?
Bukan begitu. Kau tahu aku yang membesarkan Rang.
Semua salahku dia harus masuk geng bandit dan juga mati.
Karena aku gagal melindungi dia.
Tapi kau sudah berusaha.
Cari orang tua asuh yang cocok demi kebaikannya.
Kita sudah menangkapnya, tapi dia tak mempan disiksa dan diancam.
Dia hanya makan wortel seharian.
Dia adalah dewa keberuntungan dari Joseon?
Dia muncul di setiap tambang emas yang ada di negeri ini.
Dewa keberuntungan atau bukan, dia pasti mengerti cara mendapatkan emas.
Buat dia bicara.
Demi ekspansi militer,
prioritas kita mengamankan mata uang internasional, emas.
Baik.
Kenapa kita masih mempekerjakannya?
Dia selalu sok kuat di hadapan orang yang lebih lemah
dan yang lebih bisa diperalat.
Bagaimana dengan Ginko?
Kau tak perlu khawatir.
Dia hanya pergi ke lapangan tenis, selebihnya di rumah.
Dia juga rutin pergi ke butik.
Begitu, ya?
Lihat petanya baik-baik!
Katakan di mana lokasi emasnya kalau mau selamat!
Keahlianku adalah memotong tendon orang sepertimu.
- Pasti susah dan melelahkan, ya. - Bajingan!
Baiklah kalau begitu.
Katakan saja. Apa yang kauinginkan?
Carikan aku seorang bayi.
- Permisi. - Ada apa ini?
- Hentikan! - Bukan dia. Sial.
Cari bayi itu. Cepat!
- Siap, Pak. - Sisir tiap tempat!
HADIAH: SATU JUTA WON KANTOR POLISI JONGNO
- Minggir! - Sana, sana!
Apa ini?
Apa itu panti asuhan?
Itu fasilitas milik Gubernur Jenderal. Dia memfasilitasi anak yatim piatu.
- Sudah kubilang jangan kirim dia ke sana. - Kau mau kekuatan bayi ini untuk berjudi.
Mi-ho, aku tak tega mengirimmu ke sana.
Ada apa ramai-ramai?
Oh, itu. Kepolisian Jongno mencari seorang bayi.
Hadiahnya cukup untuk membeli sebuah rumah.
Kalau aku menemukannya, nasibku akan berubah sekejap!
Tunggu.
Lihat.
- Itu bayinya! - Aku menemukannya.
- Lari, Tuan Lee Yeon! - Di sini!
Berhenti!
Tangkap dia!
- Sial! - Tangkap! Cepat, tangkap dia!
Ke kanan! Belok kanan!
- Berhenti! - Berhenti, Bajingan!
- Kemari! Dasar… - Aku dapat dia!
Lepaskan!
- Tidak! - Hei!
- Astaga. - Ya ampun.
Berhenti! Jangan sampai dia lolos!
Tangkap dia!
- Berapa usia bayimu? - Aku kurang tahu.
- Benar? - Kurasa itu bayinya.
Boleh lihat bayinya?
- Apa urusanmu? - Kurasa itu bayinya.
Tangkap!
Sial.
- Tangkap dia! - Tunggu, Keparat!
- Kau menghalangi layar. - Minggir.
- Cepat! Tangkap dia! - Hei, berhenti!
Hei, minggir.
Tangkap dia!
Keluar dari sini!
- Keluar! - Apa?
Memangnya kalian tak pernah nangis?
Oh, maafkan aku.
Hei!
Cepat, tangkap dia!
Tembak!
Kau baik-baik saja.
Baik. Tunggu sebentar, ya.
Aku akan segera kembali. Tak akan lama.
Tangkap dia!
Aku menahan diri agar tak pakai kekerasan di depan bayi, tapi persetan!
Lepaskan! Berengsek!
Maafkan aku! Lepaskan!
Maafkan aku!
Beraninya kau menembak di depan bayi.
- Maafkan aku! - Ngomong apa sih?
Dasar para bedebah. Beraninya menembak ke arah bayi.
Mi-ho!
Mi-ho.
Mi-ho?
Di mana keranjangnya?
Matilah aku.
Mi-ho. Hei, Mi-ho!
Mereka sudah pergi?
Selamat datang.
Kau tahu aku siapa, 'kan?
Aku datang untuk membeli pakaian.
Cocok dengan gayaku.
Masukkan ini ke tagihan Tuan Lee Yeon.
MYOYEONGAK
Astaga. Mi-ho. Maafkan aku.
Ini salahku. Maafkan aku.
Astaga. Dia demam.
- Kita panggil dokter saja. - Jangan. Aku tak percaya siapa pun.
Kau yakin para gisaeng akan tutup mulut?
Ya.
Mi-ho, kenapa kau sakit?
Astaga.
Ayo turunkan demamnya.
Kau seperti ini saat aku sakit?
Kau selalu sakit semasa kecil. Tahu bagaimana repotnya aku?
Aku menyuapimu dengan semua yang menyehatkan.
Aku tak ingat.
Makanya, orang bilang jasa yang membesarkan anak tak dikenang.
Kenapa kau menerimaku? Kau bahkan baru tahu aku adikmu saat itu.
Ayah memberitahuku.
Apa?
Sejak aku kecil, dia menitipkanku pada Nenek Tua.
Aku tak pernah tahu apa dia masih hidup.
Suatu hari, dia datang dan bilang,
"Ayah lupa memberitahumu bahwa kau mungkin punya adik."
- Aku akan membunuhnya jika berjumpa lagi. - Anak yang baik.
Aku akan membantumu.
Seperti apa ayah kita itu?
Aku bahkan tak tahu wajahnya.
Dia kerap menjadikanku target anak panah, memberiku jamur beracun,
dan mengikatku di batu untuk dilempar ke sungai.
Rupanya sikapmu yang seperti ini bukan kebetulan.
Kenapa demamnya tak kunjung mereda.
Hei. Kau datang.
Mi-ho.
Demamnya sudah turun.
Ya, aku senang sekali.
Mulai sekarang, aku yang akan membesarkan Mi-ho.
Kerja kalian bagus.
Jangan ada noda yang tersisa. Mengerti?
- Baik. - Oke. Kerja bagus.
Kerja bagus, Semuanya.
Jangan meninggalkan jejak judi.
Pastikan tak ada setitik debu pun.
- Itu buruk untuk saluran pernapasannya. - Baik.
Apa? Bau apa ini?
Siapa yang berani merokok?
Berikan kepadaku.
Matikan rokok itu.
- Hei! - Dilarang merokok, mulai hari ini.
- Dasar… - Gunakan kata-kata yang baik.
- Itu losion bayi? - Entahlah.
Periksa apa ada parabennya.
Ini.
- Hei, ini organik, 'kan? - "Organik" apa?
Lupakan saja.
Mi-ho.
Ayo kita makan siang begitu kau selesai.
Turunkan dia. Nanti dia bau tangan.
Ikatan terbentuk di usia ini. Jangan pertanyakan caraku merawat anak.
Sampai kapan aku harus membacakan ini?
Sampai Mi-ho tertidur.
Aku akan membawanya ke Universitas Negeri Seoul.
Astaga, kau dramatis sekali.
Kau suka ini, 'kan?
Lihatlah.
BUTIK OBOK
Astaga, di mana kemeja itu? Aku yakin kusembunyikan di sini.
Kodenya tertulis di situ.
Jika tersebar, seisi organisasi bisa terancam.
Benar sekali.
- Kalian mencari apa? - Yeo-hee.
Lihat kemeja motif bunga di sini?
Itu sudah terjual kemarin.
Kepada siapa?
Di mana tempat untuk membeli bedak bayi?
Apa-apaan…
Astaga. Ini membuatku gila.
Maaf.
- Aku? - Aku memesan kemeja itu secara khusus.
Ini milikku.
Sebutkan harganya. Akan kubayar berapa pun itu.
Maaf, ini tidak dijual.
Maaf, Bu.
Kau yang malam itu.
MANCHURIA
Lihat yang kita temukan.
Wah!
Biar kulihat. Tujuh tahi lalat pada dahinya.
- Itu dia. - Siapa kalian?
Aku Detektif Jung Dae-seung dari Stasiun Jongno.
- Lantas kenapa? - Berikan bayi itu.
Apa?
Cepat.
Alah.
Basi banget.
- Biarkan mereka pergi. - Bayinya dahulu.
- Tolong kami. - Kalau begitu, apa boleh buat.
Mi-ho.
- Nih. - Kau sudah gila?
Biasanya tokoh utama akan merelakan bayi seperti orang bodoh.
- Tapi kami bukan manusia biasa. - Memangnya kalian siapa?
Semacam asosiasi orang tua.
- Pokoknya, habislah kalian hari ini. - Dasar bajingan gila.
Jangan bicara kasar di depan bayi.
Dasar bajingan.
Oh? Baiklah.
Perlu kuinjak-injak dia?
Ayo kita injak-injak.
Makan nih!
Wus…
Apa ini?
Dia bau darah.
Kantor Gubernur memberi tawaran.
- Jika aku tak membawa bayi… - Di mana Hong-joo saat ini?
Aku tak akan memaafkanmu.
Tambang emas…
Aku menemukan emas!
- Jika aku membawa Anggrek culikan… - Jangan takut.
…dia akan memberitahuku lokasi bayi itu.
Aku dan Lee Yeon akan bertarung sampai mati.
Teman-temanku akan memulai perang.
Siapa kau?
Ini aku.
Terjemahan subtitle oleh Zulfikar Irfan
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.