Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
KARAKTER DAN KEJADIAN DI FILM INI HANYA IMAJINASI.
Menurut statistik, rata-rata setiap tahunnya,
Vietnam punya lebih dari 300.000 kasus aborsi.
Enam puluh hingga 70 persen di antaranya pelajar.
Yang jelas terlihat, aborsi pada 12 minggu kehamilan
nyaris mencapai 80 persen.
Tolong pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan.
Ini nyawa seorang manusia.
Apa kau akan mempertahankan bayinya…
atau tidak?
Aku takut, Kak. Tolong temani aku.
- Sakit. - Bertahanlah. Hanya sedikit lagi.
Tolong tetap tenang dan berbaring diam, supaya dokter bisa melakukan pekerjaannya.
Tidak, aku tidak tahan.
Sakit!
Dengar, hanya sedikit lagi.
Cobalah untuk relaks. Aku tak bisa operasi kalau kau tegang.
Tapi rasanya sakit sekali.
Bertahanlah. Aku hampir selesai.
Yang tegar!
Jangan tinggalkan aku, Kak!
Semua ini salahku.
Aku mengambil nyawa bayiku.
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak peluk saya
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak peluk saya
CINTA
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak peluk saya
Tolong dengar panggilanku, roh tersesat dari tentara dan warga sipil yang gugur,
anak-anak yatim piatu, dan para wanita di bawah tanah ini.
Aku berdoa untuk kedamaian orang-orang di rumah ini.
Terimalah terima kasihku.
Ya Tuhan!
Nyonya, kenapa berpakaian putih malam-malam?
Apa yang kau lakukan?
Aku memberi persembahan untuk memperkenalkan kita pada para roh di sini.
Kita baru saja pindah ke sini. Jadi, harus beri tahu mereka.
Kita tidak punya altar. Jadi, aku terpaksa melakukannya di luar sini.
Apa kau tahu Tung tak suka hal-hal ini?
Aku tahu.
- Dan kau tetap melakukannya? - Ini urusan spiritual.
Aku tidak bercanda. Tolong bersihkan segera.
Tak bisa. Mereka sedang menikmati makanan mereka.
Apa kau senang kalau aku berbuat begitu padamu?
Di keluarga ini,
kita tak percaya omong kosong ini!
Tolong.
Siapa pun kau, tolong ampuni nyonyaku ini.
Dia sudah dewasa tapi tidak bijak. Dia bicara omong kosong.
Aku menyiapkan persembahan manisan. Nikmatilah dan ampuni dia.
Kau lihat?
Mereka menerima persembahannya. Mereka mengampunimu.
Apa kau gila? Tadi hanya angin.
Itu jelas sekali.
Apa kau anak-anak?
Kau senang main ayunan dan makan manisan, ya?
Silakan datang untuk main kapan-kapan, tapi hanya saat aku tidak di sini.
Aku akan bawakan lebih banyak manisan.
Bisa, tidak? Biar aku yang masak.
Tidak, aku bisa melakukannya sendiri.
Nu?
Tn. Teo akhirnya pulang.
Tn. Teo…
Tuan Tung, selamat datang.
Kalau kau bukan kerabatku,
kau sudah dipecat.
Kita sudah saling kenal sejak kita kanak-kanak.
Kenapa kau berlagak sekarang?
Apa?
Kau bergumam apa?
Bukan apa-apa.
Meskipun saling kenal sejak masih jadi anak yang bermain hujan-hujanan,
takdir telah menjadikan aku pelayanmu.
Jadi, sesuai sopan santun, aku harus memanggilmu Tuan.
Bagaimana bisa takdir membuatmu melakukan sesuatu?
Ibumu mempercayakan kau padaku.
Ini.
Kiriman dari ibuku?
Bukan.
Bawa ke kamarku.
Ya, Tuan.
Sayang!
Kau lapar?
Hadiah untukmu.
Terima kasih.
Kukira kau lupa hari ini ulang tahun pernikahan kita.
Ulang tahun keempat pernikahan kita. Bagaimana mungkin aku lupa?
Sudah empat tahun. Kau sudah bosan?
Bosan? Mungkin harus kucoba.
Coba apa?
Aku tidak melihat apa-apa.
Masakanku.
Permisi, Tuan.
Kerja yang bagus.
Nyonya, permisi.
Terima kasih.
Terima kasih sudah membuatkan makan malam yang hangat.
Benar bahwa tidak ada tempat yang seperti rumah.
Aku senang memasak untukmu.
Selama kau menikmatinya, aku bahagia.
Aku sungguh tidak suka memakai kata-kata klise.
Tapi sejujurnya…
aku berterima kasih padamu
karena sudah mendampingiku selama bertahun-tahun ini.
Tuhan menciptakan pasangan yang sungguh sempurna.
Tuan tampan dan pintar.
Nyonya cantik dan cakap.
Aku sungguh mendoakan kebahagiaan kalian.
Sayang kalian masih belum punya anak.
Maaf. Maksudku kalian mandul.
Tidak, maksudku,
kalian berdua baik dan ramah.
Sayang kalian tidak punya anak.
Kalian tahu apa yang kumaksud…
Nu, tolong urus dapur.
Baik.
Sayang sekali satu keluarga yang bahagia tidak bisa punya anak
sementara wanita lain mencoba menggugurkan anak mereka.
Dengan melakukan kejahatan keji itu, pasti akan ada karma.
Ya Tuhan!
- Apa yang terjadi? - Oh, tidak.
- Ya Tuhan! - Kau tidak apa-apa?
- Kau tak apa? - Aku baik-baik saja.
Aku akan ganti baju, ya?
Kau tidak apa-apa? Nyonya!
Nu, mari kita bicara.
Jangan tinggalkan aku, Kak!
Aku mengambil nyawa bayiku.
Siapa di sana?
Ibu!
Kemarilah dan peluk aku!
Ibu! Kemarilah dan peluk aku!
Apa kau suka hadiahku?
Maaf membuatmu takut.
Tidak apa-apa. Aku terkejut karena suara yang mendadak keluar dari boneka ini.
- Tentu saja. Boneka ini keren. - Ibu! Kemarilah dan peluk aku!
Hanya dengan suara atau sentuhan,
ia bisa menangis, tersenyum, bilang "Ibu", dan memainkan musik.
Kalau kau tidak suka suara ini,
ada tombol di belakang untuk mematikan.
Ibu! Kemarilah dan…
Dia manis.
Lihat wajah bayi ini.
Tapi kenapa kau membelikanku boneka? Aku bukan bayi.
Tidak ada alasan khusus.
Ayah bilang padamu.
Masuklah ke perut ibumu, lalu aku bisa menggendongmu.
Kau dengar aku? Masuklah!
Wow! Ternyata hadiahmu bayi boneka.
Manis sekali!
Kenapa kau di sini?
Tuan, dagingnya tidak disentuh.
Aku tak tahu kau masih ingin memakannya atau tidak.
Kembalilah ke makan malam kita. Aku akan menyusulmu.
Cepatlah. Hidangannya akan dingin.
Aku tahu.
Dah, Sayangku.
Kau manis sekali.
Ini aku, Bibi Ba.
Kau lihat Nhu belakangan ini?
Aku mencoba menelepon dia tapi tak ada jawaban.
Aku khawatir.
Aku akan cari dia.
Terima kasih, Sayang.
Ini bulan Festival Hantu, tapi orang datang berbondong-bondong untuk aborsi.
Nona Phuong!
- Ya? - Matikan airnya.
Aku mau pesan makanan. Kau mau makan apa?
Ada banyak janji lagi sore ini.
Tidak usah. Aku sudah bawa makanan. Terima kasih.
Tolong berikan ini pada Minh. Aku beli ini untuk dia.
Terima kasih.
Dia selalu bicara tentang dirimu.
Sungguh? Dia mungkin rindu padaku.
Kau tahu, aku mengunjungi Minh tempo hari.
Kami mengobrol,
lalu Minh menyuruhku untuk bernyanyi supaya dia bisa merekamnya
dan memutarnya saat aku tak bisa mengunjungi dia.
Aku menyanyikan lima atau enam lagu, tapi kedengarannya tidak terlalu bagus.
Jadi, aku hapus semua saat dia tak melihat.
Apa kau senang di sekolah?
Ya, sekolah itu seru.
Kau punya teman di sekolah.
Aku ingin kembali ke sekolah.
Begitu juga aku.
Kalau begitu, mari segera sembuh agar bisa kembali ke sekolah.
Ya.
- Ibu! - Sayangku!
Kau terlihat segar hari ini, Huy.
Aku punya hadiah untukmu.
Terima kasih, Nn. Phuong.
Anak baik.
- Minum susu, Huy. - Ya.
Nn. Phuong, kau datang kemari!
Ya.
Hati-hati!
Aku dapat hadiah dari Nn. Phuong.
Sudah berterima kasih padanya?
Kau dapat hadiah dari Bibi Ngoc.
Kelihatannya cantik! Ini kubus Rubik.
Ibu, aku punya hadiah untuk Ibu.
Sungguh? Ibu dapat hadiah juga?
Tentu.
Ta-da!
Cantik sekali!
Kau sungguh berbakat.
Ada pantai dan kita main layang-layang di sana.
Cantik sekali!
Minh.
Minh.
Minh! Jangan membuat Ibu takut!
Minh! Minh, Ibu mohon bangunlah!
Perawat!
Ayamku!
Apa-apaan?
Kembalikan ayamku!
Astaga!
Ayamnya baru saja diletakkkan. Dupanya bahkan belum dinyalakan.
Roh-roh belum sempat mencium persembahan mereka,
tapi kalian langsung mengambilnya!
Aku menghabiskan sepanjang pagi untuk menyiapkan ayam itu.
Aku seharusnya tak membuat jamuan besar.
Hantu hidup saat ini bahkan mengalahkan jumlah hantu sungguhan.
Namo Amitabha Buddha. Tolong maafkan aku karena marah.
Sialan! Gadis baju biru itu
lebih cepat dari Haaland.
Kita sudah menunggu di bawah matahari, nyaris musnah,
tapi mereka mengambil ayam beserta hidangannya.
Sekarang, tidak ada yang tersisa, bahkan aromanya.
- Ayah! - Apa?
Ada sesuatu yang baunya seperti babi panggang dengan kulit renyah.
Ayo! Cepat!
DILARANG MEMBUAT KERIBUTAN
Nhu!
Nhu!
Kenapa kau datang ke sini?
Ibumu menelepon. Kenapa tak diangkat?
Kau mengabaikanku juga. Kenapa?
PANTI ASUHAN
Bibi Thuan.
Selamat datang, Bibi Thuan dan Paman Hai Be.
Ada apa?
Aku hanya ingin memberi tahu aku akan berangkat besok.
Aku tidak keberatan.
Tapi seperti yang kau tahu,
panti asuhan kita menghadapi banyak kesulitan.
Jika kau pergi, tidak ada yang menyusui bayi ini.
Tapi aku tidak bisa tinggal lama.
Aku juga tak bisa membawanya pulang.
Keluargaku tidak akan menerimanya.
Aku mengerti.
Tiba-tiba membawa pulang bayi, pasti itu sulit.
Bagaimana kalau begini?
Kau menyusui dia satu minggu lagi,
untuk memastikan kondisinya sehat. Lalu, kau bisa pergi.
Dan…
Bawa dia masuk dan tenangkan dia.
Jembatan papan paku
Terus dipaku
Ibu!
Apa?
Apa kau yakin
setelah menyusui satu minggu lagi,
dia akan berubah pikiran dan merawat anak itu?
Bagaimana aku tahu?
- Bu! - Apa lagi?
Dulu, berapa lama ibuku menyusuiku?
- Satu tahun. - Apa?
Dia menyusuiku selama satu tahun dan tetap meninggalkanku?
Aku menyusuimu.
Bagaimana bisa?
Kenapa tidak? Kau menyusu dengan botol.
Kau minum banyak susu, tapi jadinya sangat mungil.
Sia-sia saja!
Sialan!
Kenapa kau tidak bilang saja?
"Aku menyusuimu dengan botol setahun, tapi kau tetap sangat kecil."
Kau menaruh altar di kamarmu?
Bahkan membakar uang kertas persembahan?
Kau sudah gila?
Karena aku tidak bisa tidur.
Sejak aborsi,
setiap kali menutup mata, aku melihat darah.
Aku juga mendengar bayi menangis.
Jadi, aku harus menaruh altar di sini.
Kurasa bayiku membenciku.
Jangan bicara omong kosong!
Janinmu baru berusia empat bulan. Dia tak bernyawa. Dia tak punya perasaan.
Bagaimana kau tahu perasaan seseorang yang menjalani aborsi?
Perasaan itu menghantuiku
dan membuatku terus bermimpi buruk.
Janin itu jelas punya perasaan.
Ia bukan tak bernyawa seperti katamu.
Kau menyesalinya
atau menyalahkanku karena membawamu ke RS?
Aku hanya menyalahkan diriku sendiri
karena sudah melakukan hal sekeji itu.
Kau seharusnya menyesal karena hamil saat kelas tiga,
bukan setelah aborsi, kau dengar aku?
Pikirkan dirimu sendiri!
Ibumu di kampung halamanmu punya penyakit jantung.
Apa dia akan sanggup menghadapi ini?
Bagaimana denganmu?
Kau masih pelajar. Bagaimana kau akan membesarkan anak?
Aku bergantung pada suamiku.
Jadi, aku hanya bisa membantu uang kuliahmu.
Aku tak bisa menanggung seluruh hidupmu.
Membesarkan anak tidak sederhana.
Bagaimana kau bisa melakukannya sendiri?
Aborsi
adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalahnya.
- Kau paham? - Aku tidak paham. Aku tidak mau.
Kepalaku saat ini
penuh dengan kaki dan tangan bayi
yang tercabik-cabik.
Itu menyakitkan dan kejam.
Saat memikirkan itu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Andai saja aku tidak pernah mendengarkanmu.
Baiklah.
Kalau begitu,
kau harus ingatkan dirimu sendiri
untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Jangan salahkan orang lain!
Kalau kau berani melakukannya,
maka jangan menyesalinya.
Ibu…
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak peluk saya
Mak
Nyonya!
Apa-apaan?
Kenapa kau tidak mengetuk?
Aku mengetuk, tapi kau tidak mendengarku.
Kukira kau dalam masalah. Maafkan aku.
Ada apa?
Tukang listrik sedang memperbaiki jalur listrik di area kita.
Kalau mereka tak selesai lebih awal, akan ada pemadaman listrik malam ini.
Kenapa kau datang ke sini?
Tuan Tung menelepon dan suruh aku masak sup sarang burung untukmu.
Dia bilang dia masih harus menemui banyak klien.
Jadi, dia akan pulang terlambat. Kau tak perlu menunggu.
- Tinggalkan supnya di sana. - Baik.
Kau harus makan supnya dan tidur lebih cepat, Nyonya.
- Nu! - Ya?
Apa kau menyentuh dia?
Aku tidak suka bermain boneka. Kenapa?
Tidak apa-apa.
Kau boleh pergi.
Biar kusiapkan lilinnya untuk berjaga-jaga.
Nu!
Nu!
Rumah yang sangat besar, tapi sering mati listrik.
Kalau seperti ini, jantungku bisa copot suatu hari nanti.
Kenapa ada angin padahal pintunya tertutup?
Bulu kudukku merinding.
Itu pasti mereka.
Aku tidak mau balik badan.
Aku akan pingsan kalau seseorang menyapa.
Jadi, aku akan berpamitan dan pergi!
Keluar!
Tolong aku!
Sayang, bangun!
Ini aku.
Ada apa? Apa yang terjadi?
Itu…
- Ada apa? - Kenapa ia masih di sini?
Itu hanya boneka. Kenapa kau takut?
Aku mimpi buruk.
Aku melihatnya.
Jangan khawatir! Tidak apa-apa.
Mak, peluklah saya Saya mahu mak peluk saya
Aku tak melihatmu belakangan ini.
Ada ibu muda baru. Jadi, aku agak sibuk.
Ada dua kasus hari ini.
Janinnya besar.
Lebih dari enam bulan.
Kau harus hati-hati. Kami baru saja mengganti penjaga keamanan.
Kau sebaiknya pergi.
Tolong beli satu tiket.
Anakku belum makan sejak pagi.
Simpan saja!
Terima kasih.
Hei!
Ini untuk anak-anakmu.
Terima kasih banyak!
Kau sungguh kaya!
Ibu.
- Boleh aku tanya sesuatu? - Apa?
Kalau seseorang tak sanggup membesarkan seorang anak,
apa dia harus mengandungnya?
Apa maksudmu?
Terpikir olehku jika mereka tak mampu membesarkan anak itu,
mungkin aborsi tidak salah.
Hei!
Kalau semua orang berpikir sepertimu, kau takkan terlahir.
Nyawa manusia itu sangat berharga.
Tidak ada alasan yang bisa mengurangi rasa bersalahnya.
Ini hanya sudut pandang sosial.
Berhentilah berpikir seperti itu.
Apa kau bosan melakukan ini?
Tidak sama sekali. Aku senang melakukan ini.
Cinta yang luar biasa!
Kakiku!
Ayo pergi!
Duduk diam!
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK THIEN
Apa yang terjadi tadi…
Kau harus lebih berhati-hati.
Kalau ada yang tahu, situasinya akan rumit.
Aku tahu.
Kenapa kau pergi lebih awal?
Aku akan mengunjungi Minh
dan membayar biaya medisnya.
Kau punya cukup uang?
Aku baru terima gaji.
Jangan khawatir. Aku sanggup membayarnya.
Kakak!
Beri tahu aku kalau butuh bantuan.
- Baik, aku pergi sekarang. - Ya.
Anak Kecil, beristirahatlah dalam damai.
Ampuni orang tuamu.
Janinnya sebesar itu.
Mereka sungguh kejam!
Kalau saja mereka mau berusaha.
Kalau tak bisa membesarkannya, biarkan orang lain yang membesarkannya.
Kemandulan kini bukan hal langka.
Aku, misalnya.
Kau membesarkanku sejak bayi.
Ini bukan pertama kali kita melakukannya.
Kenapa kau marah?
Andai saja
kita tidak perlu melakukan ini.
Nyonya adalah lilin kuning
Tuan adalah lilln biru
Aku segulung kue beras lezat
Kau akan kenyang memakanku
- Nu! - Ya?
Tuan sudah pulang.
Apa ini?
Persembahan.
Aku sudah bilang jangan menyembah di sini.
Kenapa kau masih melakukannya?
- Ha? - Aku bilang takhayul dilarang!
Jangan lakukan lagi!
- Tapi… - Tapi apa?
Aku mengenalmu sangat baik.
Jangan pikir kau bisa bertindak seenaknya hanya karena kita kerabat.
Kenapa selalu aku?
Dia sungguh angkuh!
Aku tidak menyiapkan nampan ini.
Tolong.
Aku sangat menyesal.
Aku disalahkan.
Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku.
Maafkan aku.
Pasti rasanya sakit, ya?
Tidak.
Hanya sedikit.
Ibu.
Ibu di sini.
Suatu hari nanti, saat aku tak bisa bersama Ibu,
jangan…
Jangan sedih.
Aku ingin Ibu tersenyum
seperti
lukisan yang kugambar.
Jangan bicara omong kosong.
Dokter bilang pada Ibu bahwa
kau hanya perlu bertahan sedikit lagi.
Setelah kemoterapi, kau akan segera sembuh.
Saat aku sembuh, Ibu…
Aku ingin kembali ke sekolah.
Pergi ke pantai dan main layang-layang.
Pergi ke pantai dan main layang-layang.
Seperti di lukisan yang kau gambar untuk Ibu?
Ya.
Baiklah.
Saat kau baikan,
Ibu akan mengajakmu ke pantai dan main layang-layang.
Bukan hanya itu,
kita juga bisa mengumpulkan karang dan menangkap bintang laut.
Kau setuju?
Ya.
Jadilah anak yang baik.
Kau lelah. Tidurlah, Sayang.
Ibu.
Bisakah Ibu mendongeng untukku?
Baik.
Ibu akan mendongeng untukmu.
Tapi kau harus berjanji pada Ibu
bahwa kau akan memberi tahu Ibu saat kau kesakitan.
- Jangan dipendam sendiri. - Ya.
Kau sungguh baik dan kuat.
Siapa itu?
Ya Tuhan.
Kenapa kau membangunkanku di tengah malam?
Tolong percayalah padaku. Itu roh seorang anak kecil.
Dia mengetuk pintu dan memainkan piano untuk memanggilku keluar.
Saat aku berada di atas tangga,
aku membungkuk dan melihat dari antara kedua kakiku.
Lalu, aku melihatnya merangkak.
Aku ketakutan sampai jatuh dari tangga.
Bukannya tanpa alasan.
Kau berdiri di atas tangga dan membungkuk ke bawah.
Pantas saja kau jatuh.
Tidak. Mereka marah padaku
karena aku memecahkan nampan persembahan mereka tempo hari.
Tapi yang lebih menakutkan, aku bahkan tak menyiapkan nampan itu.
Itu punyaku.
Apa?
Apa maksudmu?
Aku yang menaruh nampan persembahan itu.
Kau?
Yah,
kau selalu bilang, "Dengan doa, ada kesucian."
Jadi, aku menurutimu.
Itu benar. Tapi terlambat.
Mereka benar-benar marah sekarang.
Ada roh di rumah ini.
Kali ini,
jangan bilang padaku itu angin.
Tidak diragukan lagi,
kau diikuti oleh roh janin.
Dan ia roh yang kuat.
Mungkin itu anak adikmu.
Kau mengajak ibunya aborsi.
Jadi, ia punya dendam dan ingin mencelakaimu.
Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?
Pasang jimat ini di pintu rumah.
Jimat ini akan mengusir rohnya.
Ingatlah untuk memberinya persembahan.
Roh-roh janin yang tidak disembah dan didoakan siapa pun
akan tetap merana dan tidak bisa bebas.
Aku butuh rambut dan darahmu
untuk memutus hubungan di antara kalian berdua.
Jadi, ia tidak akan mengikutimu lagi.
Sejak kapan kau mulai makan bawang segar?
Napasmu bau bawang.
Ini untuk menangkal iblis.
Berkat ini, aku tidak takut lagi.
Hentikan! Jangan bicara omong kosong!
Rumah ini
mulai sekarang akan aman dan baik-baik saja.
Boleh aku minta?
Sejak kapan kau mulai makan buah masam seperti itu?
Rasanya enak.
Kau terlihat aneh belakangan ini.
Aku cuma makan sedikit.
Tidak, maksudku…
Thao!
Ya?
Kau terlihat aneh hari ini, Thao.
Kau sudah gila? Aku Nu.
Kau terlihat mirip Nyonya.
Ingatlah untuk membayar gaji istriku.
Sayang, ganti baju dan ikut aku.
Kita mau ke mana?
- Pergi ke dokter. - Untuk apa?
Kau muntah tiap pagi belakangan ini.
Mungkin aku sakit perut.
Dengarkan aku. Kau harus memeriksakannya.
Tiba-tiba, dia suka yang masam-masam,
bertambah gemuk, dan muntah-muntah.
Hamil tujuh minggu!
Selamat!
Kau yakin?
Pengalamanku sepuluh tahun.
Sayang!
Akhirnya, setelah bertahun-tahun,
aku akan jadi seorang ayah.
Terima kasih, Sayang.
Bolehkah aku bertanya sesuatu, Dok?
Laki-laki atau perempuan?
Aku juga penasaran.
Dengan sepuluh tahun pengalamanku,
di usia tujuh minggu, tak mungkin untuk mengetahui jenis kelaminnya.
Maaf.
Nak Huy sudah meninggal.
Minh belum makan sejak pagi ini.
Dia juga tidak mendengarkanku.
Tolong bicaralah padanya.
- Di mana kami taruh ini? - Ikuti aku.
- Tolong hati-hati. - Baik.
Pelan-pelan.
Letakkan di sini.
Dua, tiga!
Hati-hati. Cepat.
Pelan-pelan. Taruh di sini.
Kau menyukainya?
- Bayi-bayi ini manis. - Tentu saja.
Untunglah kita menyelamatkan mereka tepat waktu.
Kalau tidak, mereka pasti mati.
Ibu!
Apa kau juga memandikanku seperti ini?
Tidak.
Aku menaruhmu di ketel mendidih.
Demi Tuhan. Kau meledekku selama ini.
Wow! Ini warna kesukaanku.
Dan kau tidak bilang apa-apa.
Sekarang, kau mencintai bayi ini lebih dari aku.
Kau cemburu lagi.
Semuanya manis seperti madu saat itu anak pertamamu.
Lebih dari satu anak dan kau akan tahu rasa yang sesungguhnya.
- Nu. - Ya?
Aku akan naikkan gajimu bulan ini.
- Sungguh? - Ya.
Terima kasih.
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak peluk saya
Mak, peluklah saya
Saya mahu mak
Ibu! Kemarilah dan peluk aku!
Keluar!
Keluar!
Keluar!
- Keluar! - Thao!
Bangun!
Thao!
Apa yang kau lihat?
Thao!
Thao!
Thao!
Apa yang terjadi?
- Ada apa, Sayang? - Kenapa boneka itu masih di sini?
Aku sudah membuangnya.
Aku yang memungutnya.
Kupikir sayang membuangnya. Jadi, aku mengambilnya lagi.
- Thao. - Buang boneka ini.
Jauhkan ia dariku!
- Aku tidak ingin melihatnya di sini! - Thao!
Tenang! Kumohon, tenanglah!
Beri tahu aku. Ada apa?
Apa yang terjadi?
Aku mimpi buruk.
Jangan takut. Aku di sini bersamamu.
Jangan takut.
Kembalilah ke kamarmu.
Jangan takut.
Pergilah bekerja.
Aku tahu itu hanya mimpi buruk.
Aku tidak akan membiarkan apa pun memengaruhi bayi kita.
Kau nyaris tidak tidur semalam.
Kau harus beristirahat.
Aku akan kembali untuk mengantarmu ke dokter sore ini.
Tidak perlu.
Aku pergi dengan Nhu saja.
Biar kuajak kau ke temanku, Dokter Bao.
Tak usah. Aku baik-baik saja dengan dokterku.
Dokter Bao laki-laki.
Aku merasa canggung.
- Tapi… - Jangan khawatir.
Dokterku sebagus doktermu.
Aku lebih nyaman dengan dokter wanita.
- Aku berangkat kerja. - Baik.
- Hati-hati di jalan, Sayang. - Baik.
Aku dalam perjalanan.
Kau bawa semua dokumennya?
Nu!
Apa kau membuang jimat yang kupasang di pintu?
- Jimat apa? - Ya atau tidak?
Tidak, aku tidak tahu apa-apa.
JIMAT ANTI ROH JANIN
JIMAT ANTI ROH JANIN
Keluar!
Apa yang terjadi?
Kau tidak apa-apa? Ada apa?
Beri tahu aku apa yang terjadi.
Tolong beri tahu aku!
Jangan menangis. Itu tidak baik untuk bayimu.
Halo?
Apa?
Bicara pelan-pelan.
Kau sudah pulang.
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Saat aku pulang,
Nu memberitahuku.
Aku sungguh khawatir.
Aku tidak apa-apa.
Jangan dengarkan semua kata-katanya.
Aku…
Bayinya menendang. Jadi, aku…
Aku kaget.
Dan…
karena ini bayi pertama kita,
aku tak punya pengalaman dengan ini.
Sayang.
Sesuatu membuatmu takut?
Tidak.
Tidak apa-apa.
Thao!
Beri tahu aku apa ini.
Siapa yang membuatmu percaya hal ini?
Kau harus berkata jujur padaku.
Ini…
jimat keberuntungan.
Ini dari Bibi Ba.
Nhu memberitahunya
kita akan punya anak. Jadi, Bibi Ba mengirimnya untuk melindungi kita.
Ini jimat anti roh janin.
Thao! Kenapa?
Kenapa kau memakai jimat semacam ini
saat kau akan menjadi ibu?
Sebenarnya…
aku mengantar Nhu ke RS untuk aborsi. Jadi…
Pada zaman dahulu kala, ada anak laki-laki bernama Minh.
Ibunya bernama Phuong.
Dia anak laki-laki yang paling lucu.
Ibunya sangat menyayangi dia.
Minh juga menyayangi ibunya.
Minh menggambar dengan bagus, khususnya saat menggambar ibunya.
Ibu di sini.
Kenapa Ibu datang selarut ini?
Maaf.
Ibu dapat sif siang hari ini.
Tahukah Ibu?
Setiap kali aku merindukan Ibu,
aku memutar rekaman.
Aku senang mendengar suara Ibu.
Yang paling Ibu sukai
adalah memelukmu seperti ini.
Kau adalah bantal Ibu.
Hadiah terindah yang Tuhan berikan pada Ibu.
Ibu sangat mencintaimu.
Ibu ingin kau bersama Ibu untuk selamanya.
Aku ingin Ibu
memelukku seperti ini selamanya.
Kau anak yang sangat baik.
Aku hanya berpikir bahwa
ini jalan yang terbaik untuk Nhu.
Aku tidak tahu situasinya akan menjadi seperti ini.
Roh janin itu mengikutiku.
Bagaimana aku bisa tahu itu?
Selain itu,
ia hanya segumpal kecil darah.
Ia tidak punya perasaan.
Sementara kita berdua menantikan kehadiran bayi,
kau menyuruh dia untuk aborsi.
Bagaimana bisa kau melakukan hal seburuk itu?
Aku mengerti.
Semua saham yang aku beli turun.
Dan real estat sulit dijual.
Kita sangat tak beruntung belakangan ini.
Beri aku satu minggu lagi,
aku akan bereskan semua begitu bank mencairkan dana.
Aku akan bicara denganmu nanti.
Sampai jumpa.
Kenapa kau datang ke sini?
Kau sudah makan siang? Ayo kita keluar untuk makan.
Aku tidak lapar.
Aku sibuk. Makan sianglah sendiri.
Soal tadi malam…
Kita bicara nanti saja, ya?
Aku lelah sekali sekarang.
Baiklah, aku akan membiarkanmu bekerja.
Aku yakin dia mencoba bereinkarnasi ke dalam rahimmu
dan membalas dendam.
Dia akan membuntutimu
dan menghantuimu selamanya.
Bisnis suamimu hanya permulaan.
Setelah itu, ia akan mendatangkan malapetaka ke keluargamu
dan benar-benar menghancurkan hidupmu
karena kau merenggut hidupnya.
Anak ini punya kebencian besar.
Kau tentu saja
tak boleh mempertahankannya.
RUANG TUNGGU
Berapa kali kau aborsi?
Hanya sekali.
Kau yakin? Berapa kali?
Tiga kali.
Nona.
Aku dari Panti Asuhan Malaikat Kecil.
Yang aku tahu,
orang datang ke sini sendiri
hanya ketika mereka ingin aborsi.
Kupikir kau…
Jangan lakukan itu.
Kalau kau mau,
aku bisa menolongmu mempertahankan dan membesarkan bayi itu.
Tinggalkan aku sendiri.
Menjauhlah dariku.
Ini aroma darah.
Ini adalah janin-janin yang baru dikeluarkan dari rahim.
Kami mengambilnya dari klinik seperti ini
dan mengubur mereka dengan layak untuk menenangkan mereka.
Jika kau berani melakukan aborsi,
menurutku,
kau sanggup melihat mereka setidaknya sekali saja.
Kuharap anak malang ini
akan membuatmu berubah pikiran.
Menjauh dariku! Enyah!
Depresi selama kehamilan cukup sering terjadi.
Sebagian orang bisa mengatasinya, sebagian harus minum obat.
Yang lebih penting, keluarga harus ada di sisinya
untuk memastikan dia merasa nyaman.
Jika tidak, itu akan memengaruhi bayinya.
Terima kasih. Maaf aku menelepon selarut ini.
DEPRESI SELAMA KEHAMILAN
Kau kembali.
Mandilah. Kuambilkan baju.
Aku ingin kau…
melupakan masa lalu.
Jangan percaya pada jimat
atau takhayul.
Atau bayi kita akan terpengaruh.
Aku tahu…
ini masa yang sangat sulit untukmu.
Karena ini adalah pertama kalinya kau menjadi ibu.
Aku akan selalu di sisimu.
Aku sangat mencintai kalian berdua.
Aku salah.
Aku terbang. Tangkap aku.
Tertangkap!
Aku ingin main perosotan.
Main perosotan? Ayo!
Ikutlah denganku, Ibu.
Tunggu.
Aku ikut.
Hari ini, Polisi Kota menangkap Nguyen Van Nam,
lahir tahun 1978.
Dia mengaku menyebarkan takhayul dan merampas properti
dengan meramal dan menjual jimat.
Astaga, orang-orang yang memercayainya pasti sudah gila.
Banyak korban memberinya banyak uang.
Sayang.
Kau tidak boleh menonton acara-acara yang tidak sehat.
Bisa memengaruhi kesehatan jiwa bayi kita.
Bayi kita masih kecil. Bagaimana dia bisa paham?
Justru sebaliknya. Aku contohnya.
Saat aku masih di kandungan, ibuku selalu menonton opera rakyat modern.
Itu sebabnya aku manis sekali.
Kau terlihat sama juga.
Terima kasih.
Tidak,
kau seperti ini karena jatuh ke sumur dua kali.
Teo, awas!
Aku tahu ceritamu.
Cerita apa?
Nu, ceritakan padaku tentang Teo saat dia masih kecil.
Sebenarnya, namanya bukan Teo.
Tapi "teo".
Dia suka menyodok anjing di rumahku.
Sayangnya, suatu hari, anjing itu mengamuk dan menggigit dia.
Anjing itu mengejarnya keliling kampung.
Ketika diselamatkan,
celananya sudah sobek-sobek.
Penisnya mengerut, seperti ini.
Sejak itu, kami memanggilnya "teo".
Lalu, saat pindah ke kota, aku ubah jadi Teo agar lebih sopan.
Sudah cukup?
Potong gaji bulan ini.
Bibi Thuan.
- Ada apa? - Aku…
Aku menyusui bayiku satu minggu lagi.
Tolong biarkan aku…
terus merawatnya.
Aku senang mendengarnya!
Kau bahkan tak perlu memintaku.
Bagus kau berubah pikiran.
Temani dia.
Aku akan bantu mengemas barang-barangmu.
Selamat tinggal, Bibi Thuan. Selamat tinggal, Kakak Hai.
Selamat tinggal.
Seandainya semua punya kekuatan untuk memikul tanggung jawab seperti dia,
mereka takkan membutuhkan laki-laki.
Dan kita tak perlu melakukan apa-apa.
Kau benar.
Tapi omong-omong,
jika perempuan hidup tanpa laki-laki,
dia akan punya lebih banyak kekhawatiran.
Dan mungkin,
karena semua kekhawatiran dan ketakutan mereka,
mereka harus mencari cara yang tidak manusiawi.
Tapi…
aku lihat kau tak punya laki-laki di sisimu,
tapi kau tetap melakukan hal-hal baik.
Jadi, kau itu apa?
Kau laki-laki atau bukan?
Ya, aku laki-laki. Laki-laki kecil.
Cerewet.
Aku buatkan papan roh untukmu di sini, di kuil ini.
Sekarang, kau bisa mendengarkan Kitab Suci Buddha setiap hari.
Jadi, kau bisa beristirahat dalam damai dan diangkat.
Aku bersumpah melakukan perbuatan baik
untuk menebus kesalahanku.
Sayang…
Maafkan aku.
Sekarang, aku tahu…
bahwa aku salah.
Saat itu, aku hanya berpikir…
itu jalan terbaik untuk ibumu.
Ini semua salahku.
Aku kejam.
Aku mohon…
biarkan kami hidup tenang.
Jangan menghantuiku lagi.
Dan jika…
kau benar-benar ada di sini,
maka…
bisakah kita menjadi ibu dan anak?
Kumohon?
- Ibu. - Ya?
Kita akan pergi ke mana?
Aku punya kejutan untukmu.
Sekarang, pejamkan matamu dan Ibu akan mulai menghitung.
Satu, dua…
- tiga! - Ta-ra.
Ibumu membuatnya untukmu.
Kau suka?
Layang-layangnya bagus.
Terima kasih.
Terima kasih, Ibu.
- Selamat bersenang-senang. - Terima kasih.
Sama-sama.
Kau suka?
Tentu saja.
Minh, sayangku.
Kini kita akan main layang-layang di sini.
Baiklah.
Kalau kau sudah sembuh,
kita ke pantai dan main layang-layang seperti yang selalu kau inginkan. Oke?
Baik.
Mari kita terbangkan layang-layang ini.
Ayo.
- Ayo. - Terbang.
Meluncur.
Meluncur.
Terbang.
Bagus.
Meluncur.
Terbang.
Meluncur.
Kau suka?
Terbang.
Terbang.
Mau main?
Berhenti.
Taruh di wajahmu.
Ayo makan.
Berhenti berputar.
Kau akan merusak hulahopku.
Hulahopmu? Luar biasa!
Kenapa kau tersenyum sepanjang jalan?
Tak ada panggilan dari RS.
Kita tak perlu melakukan apa-apa. Jadi, aku senang.
Aku juga senang.
Nyonya!
Setelah bayimu lahir, bisakah kau berikan baju hamilmu kepadaku?
Terima kasih.
Aku akan berhenti menonton seri Annabel.
Membosankan! Buku ini penuh kalimat, tak ada gambar sama sekali.
Aku harus mengakui bahwa dia sangat mirip.
Sayang.
Jangan terlalu banyak memandang dia. Itu akan memengaruhi bayi kita.
Aku hanya akan memandangmu.
Ibu mengajariku Anak perempuan itu bagaikan harta
Mereka melangkah dengan anggun Mata mereka indah
Aku jujur, bisa dipercaya, tidak menipu
Jika kau cinta padaku, tutup mulutmu…
Aku kembalikan bajumu, Nyonya.
Celaka.
Annabel marah pada kita.
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK THIEN
Kondisi Minh memburuk.
Kau dan keluargamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Kami minta maaf.
Kakak! Kau tidak apa-apa?
Masuklah.
Hai!
RUANG RAWAT INAP
Halo. Aku mendengarkan.
Kakak! Ada apa?
Kakak!
Beri tahu aku.
Kakak!
Apakah Minh…
Apa yang terjadi padanya?
Minh…
sudah meninggal.
Minh!
Anakku!
Bagaimana pemeriksaan kehamilanmu? Apa kata dokter?
Kata dokter,
kami berdua baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.
Dia menyuruhku untuk tenang, makan dengan baik, dan olahraga ringan.
Bahkan lebih baik
kalau kau mengajak aku ke pusat perbelanjaan secara rutin.
Setiap kali aku menawarkan untuk mengantarmu ke klinik,
kau selalu bilang sudah ke klinik.
Kau sangat sibuk. Aku bisa pergi sendiri.
Ada apa?
Aku harus ke toilet.
- Tunggu sebentar. - Baik.
Thao?
Kau Thao, bukan?
Thao!
Thao!
Sudah lama sekali.
Maafkan aku.
Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu.
Kemarilah!
Bergabunglah dengan kami.
Satu, dua, tiga. Loncat!
Di sini seru.
- Thao. - Apa?
Kemarilah.
Ada apa?
Kenapa kau berbohong padaku?
Katamu ini perjalanan untuk membangun tim, tapi hanya ada laki-laki di sini.
Semua teman pacarmu.
Mereka semua rekan kerja, bukan orang asing.
Kau tahu, mereka semua menyukaimu, karena itu…
Aku tahu kau masih sendiri. Jadi, aku mengatur kesempatan ini untukmu.
Aku hanya mau fokus pada pekerjaanku.
Aku tidak mau kisah cinta.
Kenapa serius sekali?
Hei.
Kau pilih saja satu dan biarkan dia menjagamu.
Kau bisa mencampakkannya kalau bosan.
- Kau pikir mereka bodoh? - Tidak.
Mereka tidak bodoh,
tapi perempuan bisa lebih cerdas. Paham?
Cuma aku di sini. Aku tidak nyaman.
Aku juga di sini.
Tolong, berhentilah menggerutu!
Ayo main.
Ini dia sang putri!
Sini!
- Bersulang! - Thao, bersulang!
Perutku penuh.
- Bersulang, Sayang! - Astaga, kau merusak keseruannya!
Kita akan pergi ke mana?
- Masuklah denganku. - Cepat! Lalu, keluarlah bermain.
Ayo minum!
Aku mau tidur sekarang.
Apa yang kita lakukan?
Menjauhlah dariku! Tolong!
Sayang!
- Tolong! - Thao!
Sayang!
Ini aku.
Mimpi buruk lagi?
Rasanya sakit.
Apa…
Astaga! Apa yang terjadi padaku?
Sayang!
Aku akan membawamu ke RS.
BAGIAN GAWAT DARURAT DAN PERAWATAN INTENSIF
Bagaimana keadaannya?
Saat ini dia stabil.
Aku melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Kau bisa membawanya pulang sesudah transfusi.
Terima kasih.
Apakah dia memeriksakan kehamilannya secara teratur?
Kau tahu tentang kondisinya?
Kondisi apa?
Istrimu pernah aborsi. Jadi, dinding rahimnya tipis.
Sulit untuk mempertahankan bayinya.
Ada satu hal lagi.
Aku ingin kau tetap tenang.
Bayimu mengidap Sindrom Down.
Dia akan mengalami cacat parah.
Sebagai temanmu,
kupikir kau sebaiknya tak mempertahankan bayi ini.
Bicarakan dengan istrimu.
Sayang.
Biar kujelaskan.
Aku tidak pernah ingin berbohong padamu.
Itu tidak penting lagi.
Tak perlu menjelaskan apa pun.
Aku tidak punya cukup keberanian untuk memberitahumu soal masa laluku.
Semakin kau banyak bicara, aku semakin merasa kau tak hormati pernikahan kita!
Aku diperkosa!
Aku diperkosa!
Tiga laki-laki,
mereka bergiliran memerkosaku!
Saat aku hamil,
aku bahkan tidak tahu siapa ayahnya!
Bagaimana bisa aku mempertahankan bayi itu?
Aku tidak pernah ingin itu terjadi!
Aku tidak ingin siapa pun tahu soal ini.
Aku tidak ingin mengingatnya.
Sampai aku bertemu denganmu.
Kau mencintaiku dan melindungiku.
Aku pikir
aku hanya perlu tetap diam,
mengubur masa lalu, dan menjalani hidupku saat ini sepenuhnya,
lalu semua akan baik-baik saja.
Tapi aku tidak tahu…
Akulah yang terkejut.
Perempuan yang sangat kucintai begitu lama
adalah orang yang membohongiku lagi dan lagi!
Andai saja kau lebih bijak,
bayi kita tidak akan semalang itu!
Tidak, bukan begitu!
Aku tidak memeriksakan kehamilan karena
aku takut Dokter Bao akan tahu bahwa aku pernah aborsi.
Karena itu, aku menyembunyikannya darimu.
Sudah terlambat. Kau harus menggugurkannya.
Sayang. Jangan…
Ampunilah masa laluku dan kasihanilah anak kita.
Aku mohon padamu. Jangan paksa aku melakukannya.
Aku sangat takut.
Kau tahu betapa hancur hatiku saat memutuskan untuk melepas anak itu?
Hari ini, aku makan lima sendok sup
dan minum setengah gelas susu.
Bibi Ngoc dan Dokter bilang aku pintar.
Dia bilang kalau aku tetap makan dengan baik,
aku akan segera sembuh.
Aku benar-benar merasa sakit hari ini.
Kukira
aku tidak akan bisa pergi ke pantai dengan Ibu seperti yang dijanjikan.
Suatu hari nanti, saat aku tiada,
aku hanya ingin Ibu merindukanku.
Ibu harus
berusaha untuk tidak menangis.
Aku hanya ingin Ibu tersenyum.
Minh.
Tidurlah yang nyenyak.
Dan berjanjilah…
bahwa di kehidupan berikutnya,
kau akan menjadi anak yang sehat.
Janji?
Sampai jumpa, Minh.
Anakku yang pemberani.
Tidurlah yang nyenyak.
Saat kau bangun,
kau akan berada di tempat yang indah dan damai.
Tidak ada lagi rasa sakit.
Jika kau merindukan Ibu,
kau bisa memutar perekam ini untuk mendengarkan suara Ibu.
Ibu sangat mencintaimu.
Kita akan bertemu lagi.
Anakku.
Anakku.
Anakku.
Permisi.
Kau tahu ke mana tandu itu pergi?
Kembalikan anakku.
Kembalikan anakku.
Kembalikan anakku.
Nhu!
Nhu!
Kakak.
Kakak.
Kakak.
Pemisahan Hidup dan Mati.
Tapi kau sangat mencintai dia.
Aku ikut sedih, Paman Teo.
Sungguh menyedihkan.
Kenapa…
Kenapa…
Kenapa bukan aku?
Kenapa kau meninggalkanku?
Seandainya
kita tahu,
situasinya tidak akan seperti ini, bukan?
Hatiku hancur memikirkannya.
Semua ini salahku!
Semua ini salahku!
Salahku!
Aku akan memasak sesuatu untukmu.
Aku tidak bisa makan.
Jangan memasak.
Akhirnya kita bertemu,
ya?
Tapi kenapa kau di sini?
Kau tinggal di mana?
Ini aku.
Ibu.
Ibu.
Aku sudah menunggu Ibu begitu lama.
ANAK TANPA NAMA - USIA 12 MINGGU
Tanggal 14 Mei?
Kau…
Kau anakku?
Aku tidak pernah punya kesempatan menjadi anak.
Aku sangat sedih.
Dingin dan gelap di luar sini.
Aku sangat takut.
Karena Ibu sudah bertemu aku,
tolong sayangi aku sebanyak-banyaknya, Ibu.
Bagaimana kau menemukan Ibu?
Sejak Ibu menggugurkanku,
aku selalu ada di sisi Ibu.
Tapi aku tahu Ibu sangat takut padaku dan tidak ingin bertemu denganku.
Jadi, aku sangat marah pada Ibu.
Maafkan Ibu.
Saat itu,
Ibu tidak cukup berani untuk mempertahankanmu.
Ibu takut bertanggung jawab atas anak yang tidak diinginkan.
Ibu kejam.
Ibu membunuhmu…
hanya untuk memuaskan kebencian Ibu.
Maafkan Ibu.
Jangan menangis, Ibu.
Aku tidak marah lagi pada Ibu.
Tapi sekarang, aku tidak akan bisa bersama Ibu lagi.
Ini terakhir kalinya kita bertemu.
Kenapa?
Ke mana kau akan pergi?
Aku sudah terlalu lama tinggal di sini.
Sekarang, aku harus pergi
karena aku sudah tidak membenci Ibu.
Jangan pergi.
Jangan!
Kau harus tinggal di sini bersama Ibu.
Jangan pergi!
Ibu, aku tak ingin tak punya nama.
Bisakah Ibu beri aku nama?
Ibu cinta padamu, Sayang.
Namamu Thuong.
Thuong. Ya?
Aku sangat mencintai Ibu.
Selamat tinggal, Ibu.
Tidak.
Thuong.
Thuong.
Thuong.
Thuong!
Sayang!
Tolong jangan tinggalkan Ibu.
Sayang.
- Tolong pertahankan bayinya. - Tinggalkan aku sendiri.
Menjauh dariku.
Jika kau berani melakukan aborsi, menurutku,
kau sanggup melihat mereka setidaknya sekali saja.
Kuharap anak malang ini akan membuatmu berubah pikiran.
Sayang.
Kenapa kau meninggalkanku?
Kau pasti…
sangat marah padaku, ya?
Maafkan aku.
Bagaimana mungkin aku tahu bahwa…
ini akan berakhir dengan kematianmu?
Aku tidak ingin meninggalkanmu dan anak kita.
Tapi…
sekarang sudah terlambat.
Jangan marah padaku.
Aku sudah melihat anakku.
Dia mengampuniku.
Tapi…
dia meninggalkanku selamanya.
Maafkan aku.
Ini semua salahku.
Aku tidak bisa mengendalikan kemarahanku.
Ini bukan hanya tentang masa lalumu.
Kalau saja…
Saat itu, aku seharusnya memberitahumu bahwa…
dokter menyuruh kita untuk melakukan aborsi.
Bayi kita mengidap Sindrom Down
dan akan lahir dengan cacat.
Aku memilih cara yang salah untuk mengatakan kebenarannya padamu.
Aku tidak tahu bahwa…
aku akan kehilanganmu dan bayi kita.
Maafkan aku.
Sayang.
Aku masih hidup.
Kenapa kau menaruh potretku di sini?
Ini hanya mimpi.
Mimpi.
Bangun, Thao!
Bangun! Kumohon!
Bangun! Kumohon!
Bangun, Thao!
Sayang!
Aku sungguh telah mati?
Siapa keluarga Nona Thao?
Kakak.
Kau dengar aku?
Kakak!
Kakak.
Sejak kau pergi, dia tenggelam dalam kesedihan.
Dia memikirkanmu sepanjang waktu.
Dia bahkan tidak makan.
Tapi dia terus mengingatkanku untuk memasak hidangan kesukaanmu.
Pemisahan Hidup dan Mati.
Aku merasa sedih untuk Paman Teo.
Aku merasa sedih untuk dia.
Aku ingin hidup.
Aku ingin menjadi istrinya.
Aku ingin melahirkan…
banyak anak.
Aku ingin menjadi ibu.
Aku ingin menjadi ibu.
Kumohon!
Tidak.
Aku masih hidup.
Aku masih hidup!
Aku masih hidup!
Thao.
Kau di sini?
Thao, jawab aku.
Thao!
Anakku Sayang, apa kau tahu bahwa
Ibu mencintaimu dengan segenap hidup Ibu
Memandangmu di buaianmu
Matamu yang polos, cantik sekali
Oh, bayiku bangun.
Oh, Sayang.
Anak Ibu lucu sekali.
Mau keluar?
Keluar bersama Ibu.
Ayo main perosotan.
Ayo kita main, Ibu!
Ayo!
- Kau lucu sekali. - Ayo kita main, Ibu!
Ada kesalahan
yang harus kau tanggung bahkan setelah mati.
Lagi?
Bagaimana bisa kau melihatnya berkali-kali
sementara aku sekali pun belum?
Karena pikiranmu belum bersih.
Ha?
Omong kosong!
Aku akan membersihkan pikiranku.
Aku benar-benar ingin mempertahankan bayiku.
Tapi aku masih pelajar.
Pertahankan atau tidak,
itu keputusanmu.
Anak adalah anugerah tak ternilai dari surga.
Tidak semua orang menerimanya.
Pikirkanlah baik-baik sebelum ambil keputusan.
Aku tidak berani memberi tahu orang tuaku.
Kalau mereka tahu…
mereka tidak akan menerimanya.
Aku…
Aku…
UNTUK MENGENANG ANAK-ANAK KITA,
SEMOGA KITA TIDAK AKAN PERLU MENCERITAKAN KISAH SEDIH INI…
Terjemahan subtitle oleh Hendra Hong
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.