All language subtitles for Timeline

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Aku punya impian...

...memiliki kebun arbei sendiri.

Hati-hati.

Perlu tambah sedikit kecap?

Oke, cukup.

Kenapa kau menyuruhku memasak?

Padahal masakanmu lebih enak.

Karena seandainya,

...aku sudah tiada.

Kau bisa urus diri sendiri.

Jangan Thun.

Lainkali jangan bicara begitu lagi.

Sayang, menulis surat buatmu itu hal yang menyenangkan.

Kau adalah penggerak hidupku.

Apa kini, Mat sudah kuat?

Semoga Mat bisa mengurus rumah.

Ketika aku pulang.

Aku bisa lihat dirimu yang kuat.

Bukan wajah yang penuh airmata.

Jangan cemaskan aku.

Aku tak pernah meninggalkanmu.

Lihat sekeliling.

Kau akan merasakan?

Aku selalu berada di sisimu.

Menunggu hingga kau kuat.

Aku takkan tinggalkan kau di desa yang dingin ini.

Percayalah.

Mat...Mat.

Aku mau ke kota, kau mau titip apa?

Tunggu sebentar.

Maaf, baju sekolahmu rusak lagi.

Tak apa-apa.

Jika sembahyang sudah selesai, tunggulah di depan.

Oke.

Aku akan selalu berada di sini.

Thun.

Selamat pagi, Ayah.

Aku sekolah dulu Bu...

Tan, hujan, ayo masuk, kau bisa sakit.

Cepat

Kenapa Ibu menyuruhku masak?

Masakan Ibu kan lebih enak.

Selamat ulang tahun.

Kau suka, nak?

Suka.

Ibu Tan, apa kabar?

Tan bolos sekolah, malah corat-coret di tembok, dia harus dihukum.

Ibu guru, terima kasih.

Tan.

Aku tak suka sekolah.

Sayang.

Sudah makan?

Aku merindukanmu hari ini.

Jaga diri

Aku tahu, aku tak berada disana.

Kau pasti merasa kesepian.

Semoga surat ini bisa menguatkanmu.

Agar ada tenaga untuk hadapi kesulitan.

Kau harus tegar.

Ayah.

Semoga anakmu bisa masuk universitas.

Dia tak usah tinggalkan rumah,

...setelah lulus kuliah bisa teruskan usaha ayahnya.

Halo, Bang.

Terakhir aku tanya, kau sudah bicara dengan ibumu?

Belum, aku tak bisa bicara.

Jangan lupa, kau masih tunggu apa lagi?

Sebentar, nanti aku bicara.

Sebenarnya, aku mencemaskan ibuku

Kau pikirkan saja sendiri.

Kemarin aku ke universitas lagi, ada banyak gadis cantik.

Tan.

Tan, ada apa?

Kenapa kau terdaftar di fakultas jurnalistik Universitas Bangkok?

Hubungi staf sekolahmu, pasti ada yang keliru.

Ibu, tidak keliru.

Aku tidak daftar fakultas pertanian.

Kenapa begitu?

Aku tidak mau kuliah di sini.

Aku mau ke Bangkok.

Kenapa kau tidak membahasnya dengan Ibu?

Kau diterima di situ.

Jika kau ngotot mau ke sana,

...aku akan mendukungmu.

Kurasa ibumu memahamimu.

Ayah, aku sangat menyayangi Ibu.

Tan, makan yang banyak.

Di bangkok, mungkin sulit makan ini.

Maksud Ibu, aku diizinkan kuliah di Bangkok?

Ya.

Terima kasih, Ibu.

Aku juga senang. bagus!

Halo, Paman Wa.

Kata ibumu, kau mau kuliah di Bangkok.

Masuk fakultas jurnalistik.

Bagus.

Suka?

Kuberikan sepeda ini sebagai kado untukmu.

Saat kau berangkat...

...kuantar sepeda ini ke stasiun.

Dan helm.

Kau harus pakai helm, disana berbahaya.

Tapi mungkin Ibu tak setuju.

Aku akan bicara padanya, dia pasti setuju.

Terima kasih, Paman.

Aku bantu.

Taruh di dalam.

Terima kasih, Paman.

Senang bisa membantu.

Bisnya mau berangkat.

Bu, aku pergi dulu.

Tolong jaga ibuku.

Nanti kubawa ibumu menengokmu di Bangkok.

Rajin belajar, jaga diri.

Jangan lupa doakan Ayah, dia akan menjagamu.

Jangan khawatir, aku takkan lupa.

Cepat, aku sudah lapar sekali.

Cepat duduk.

Bagaimana?

Aneh sekali.

Kau makan daging?

Ya.

Aku panggangkan untukmu.

Begini cara orang Bangkok makan.

1 2 3

Bang.

Pakaiannya ketat, menurutmu bagaimana?

Ini sudah model, yang longgar tidak keren.

Semuanya begini?

Ya, jangan kampungan.

Yang ini keren.

Cepat ganti baju.

Tidak ada waktu lagi untuk bertemu teman-teman baru.

Kemana?

Bang, sini.

Apa kau merasa beruntung menjadi temanku?

Kita mau segera pulang?

Aku sering merayu gadis di facebook, ada banyak gadis di sini.

Besok pagi ada ospek mahasiswa baru, kau masih bisa minum?

Baru minum sedikit, tak apa-apa.

Harus puas minum dulu.

Ayo minum.

Pahit.

Minum saja, lama-lama biasa. Gampang sekali.

Terlambat.

Stop.

Jadwal masuk jam berapa?

Jam 6.

Kau telat, apa kau masih mau kuliah di sini?

Ya.

Katakan yang keras.

Ya!

Katakan dengan melihat semua temanmu!

Lihat semua.

Datang satu lagi.

Kebetulan sepasang.

Ulurkan tangan.

Cepat. ulurkan.

Oke, semua makan dulu.

Usai makan, ada dua kegiatan.

Kenapa kau tak bangunkan aku?

Sial! Kau sudah kubangunkan, tapi kau tak ada reaksi.

Kubangunkan beberapa kali.

Masih bangunkan dia?

Kalau aku, kutendang saja.

Lihat apa dia masih tidur.

Oke, dia dapat kucing sebagai partner.

Kucing? Namaku June, bukan kucing.

Hei ngobrol apa?

Kalian mau pulang? / Ya...

Sebelumnya, aku harus ada relawan untuk pertunjukan.

Jika bagus, kalian boleh pulang awal.

Oke.

Yang penting ada pertunjukan kan? / Ya.

Beri tepuk tangan.

Bantu rias mereka.

Aku tak bisa menari.

Kita sudah bersama, bantulah.

Menari yang agak merangsang.

Mau belajar menari dengan mereka?

Ya.

Aku tak bisa.

Tolonglah, aku mau pulang.

Kita mau menari.

Ayo tepuk tangan, siap, 1 2 3.

Tunggu, aku baru mau menari.

Kau harus menari.

Ya.

Siap, 2 1.

Kau mau kemana?

Mengejar kereta, mau jalan-jalan.

Sendirian?

Teman-temanku pada tidak bisa.

Jika menunggu, tidak ada waktu lagi.

Hari ini menyenangkan.

Aku pergi dulu.

Dah.

Universitasnya bagus, Bu.

Cuma belum ada yang kukenal.

Bu, aku ingin beli i-phone.

Banyak fitur, aku bisa kirim email.

Bisa lihat Ibu dengan skype.

Ibu lihat dulu apa ada uang atau tidak.

Baiklah, aku tak buru-buru.

Kau sering-sering telepon ya.

Ibu mau tahu kalau kau baik-baik saja disitu.

Terima kasih.

Tan... Tan.

Kau harus bayar tagihan biaya air dan listrik.

Terima kasih.

Ada yang lain?

Kapan bayar biaya pupuk?

Aku jual arbei dulu baru bisa bayar.

Bisa ditunda dulu?

Tak apa-apa.

Mat, dia suruh aku bilang.

Jika mau jual tanah, ingat hubungi dia.

Aku pergi dulu.

Semua baca bab pertama.

Biaya setiap hari 300 baht.

300 baht sudah cukup.

Jika lulus, gaji minimal 15.000 baht. / Ya, dia orangnya.

Kita lihat.

Orang yang kemarin.

Lihat apa?

Ada 1000 orang lebih yang suka.

Cepat hapus.

Bawa ke sini.

Aku pergi dulu.

Apa?

June.

June, lihat.

Siapa yang unggah di youtube?

Dua orang ini terus siarkan, semua orang akan tahu.

Bagaimana pun tak bisa dihapus habis.

Beberapa hari lagi pasti orang akan lupa.

Orang akan lupa lewat beberapa hari.

Ayo, kita cari tempat.

Rayakan perkenalan kita.

Minum sampai habis, baru minum sedikit.

Sudah, dia tak bisa minum lagi.

Masih oke?

Ya.

Aku mau tahu bagaimana rasanya.

Tan sungguh anak yang baik.

Semua tanya kenapa.

Tanya dari pagi sampai malam, kenapa?

Jade? / Ya.

Aku Lei, silahkan duduk. / Terima kasih

Barangku hilang.

Apa itu?

Hatiku hilang.

Sudah berapa kali kau pakai kata rayuan itu?

Aku mau ke toilet dulu.

Mau muntah? Atau dia mengejekku?

Dua-duanya.

Bang, lihat Tan sebentar.

June saja, aku mau bersama Ying.

Lihat, apa itu?

Bagus sekali.

Cepat direkam saja.

Sudah tidak membantu, malah tertawa.

Ini menyenangkan.

Nasib kita berdua hampir sama.

Makin parah tiap hari.

Dengar, jika nanti ada yang menghinamu,

...gigit saja dia, gigit!

Tan... Tan...

Merusak suasana saja.

Aku tak mau main anjing lagi.

Tan... Tan...

Tan.

Setelah sadar, sarapan, lalu segera kuliah.

Mat, kerjamu sungguh serius.

Wa.

Mana bisa aku tak rajin?

Nanti tak ada arbei yang bisa dibeli oleh Wa.

Mungkin aku salah...

...sehingga kau sampai kerja berat.

Tidak salah, ini demi kebaikan.

Jika kau tak sering beli arbeiku.

Pertanianku sudah bangkrut.

Waktu Tan masih kecil, kita sudah saling mengenal.

Kalau ada apa-apa bilanglah padaku.

Kau pun tahu, kapan saja aku bisa bantu.

Saat ini aku bisa sibuk sekali.

Jaga dirimu baik-baik.

Kak Mat, ada apa?

Tunggu.

Tidak pulang?

Kau gambar siapa? Kenapa cemberut?

June, aku kaget.

Lihat apa?

Hari ini kau tampak beda.

Cuma beda gaya, bajunya saja.

Tan, ada waktu?

Ya, kenapa?

Ayo nonton film.

Kau mau?

Sudah mau main. Ayo cepat!

Ini uang penjualan arbei. / Terima kasih.

Kenapa Mat terlihat berbeda?

Hari ini cantik sekali.

Ah, aku dari salon, itu yang biasa perempuan datangi.

Mat, ayo makan.

Oke.

Aku iri pada mereka.

Wa, bisa antar ke kota?

Mau bahas soal tanah dan pohon arbei.

Dengan senang hati.

Mat nanti izinkanlah aku untuk mengundangmu makan.

Silakan naik.

Tan, bagaimana filmnya?

Parah, film apa ini?

Tidak tahu ceritanya tentang apa.

Film seperti ini mendapatkan penghargaan?

Ya.

June.

Kak.

Terima kasih sudah menonton filmku.

Filmnya bagus.

Aku pergi dulu.

Hei, mau pergi atau tidak?

June, siapa dia?

Kak Orn, dia sepupuku.

Umurnya lebih tua 4 tahun.

Dia sutradara film tadi.

Yang ini.

Aku bikin facebook baru...

...untuk merayu gadis.

Kau tak takut Ying tahu?

Jangan khawatir.

Foto dan namanya palsu.

Isi infonya juga palsu.

Ying takkan tahu.

Bagus.

Tan.

Kau sudah temukan pasanganmu?

Sepertinya sudah.

Ini yang pertama.

Namanya?

Liso.

Enak.

Nanti akan sering bikin untukmu.

Tan, siapa nama anjing ini?

Tan.

Kau dengar?

Namanya...

Apa?

Kapong (kaleng) saja.

Karena saat ditemukan...

...buntutnya penuh kaleng (kapong).

Kapong.

Kapong?

Boleh juga... Pong... Pong... Kapong...

June.

Aku mau minta bantuanmu.

Ya, ada apa?

Aku minat pada klub film.

Mau masuk klub Kak Orn untuk tahu film.

Tadi kau bilang tak suka film?

Kini aku baru tertarik.

Kita masuk klub itu bersama...

...supaya aku bisa makin mengerti.

Iya kan? Bisa memahami film.

Tan suka Kak Orn.

Jika mau, daftar saja sendiri.

Jika kau tak kenalkan aku pada Kak Orn...

...mungkin dia takkan menerimaku masuk.

Tolong, June.

Akan kulakukan apapun untukmu.

Sungguh, apa saja?

Mat, lihat sini.

Semua pohon arbei mati.

Semua sudah kering.

Mat, hanya tersisa yang ini.

Beberapa hektar juga sama saja.

Halo, Bu.

Ibu baik-baik saja?

Aku baik-baik saja.

Terima kasih aku bisa kuliah disini.

Aku banyak belajar hal baru.

Hidup disini baik.

Tapi hubungan antar manusianya agak aneh.

Ibu tak perlu mencemaskanku.

Aku bisa cepat beradaptasi disini.

Aku rindu Ibu, dari anakmu.

Kapal mau berangkat.

Cepat beli tiket.

June, tunggu.

Kenapa kau begini?

Jangan-jangan kau naik sepeda dari bangkok.

Kau bilang...

...aku boleh naik sepeda sampai pelabuhan?

Maksudku, ke pulau naik sepeda.

Bukan naik sepeda dari bangkok kemari.

Aku sudah sampai sini.

Nanti, masih ada tenaga naik sepeda?

Di rumah aku sering naik sepeda kemana-mana.

Tapi sekarang...

...istirahat dulu.

Nafasku hampir habis.

Cepat kemari.

Beli tiket, kapal mau jalan.

Oke, minta 2 tiket.

Kuberi diskon.

Bagus.

Ini punyaku.

Cepat.

Nah, ini.

Lihat, disana.

1 2 3.

Bergaya ya.

1 2 3.

June, kapal terakhir jam berapa?

Jam 5 sore.

Sekarang jam berapa? / Jam lima lebih...

Astaga.

June, bagaimana pulangnya?

Besok saja.

Tampaknya kau santai, tidak khawatir.

Untuk apa khawatir?

Seperti hari ini.

Bisa duduk di pantai melihat laut.

Tan, kau tahu?

Impianku...

...bisa seperti sekarang, keliling dunia.

Membuka mata.

Membuka mata?

Kau mau kemana?

Lihat ini.

(100 Tempat yang Harus Dikunjungi)

Semuanya?

Jika sudah kunjungi semua...

...kau bisa jadi turis.

Ya.

Makanya, itu cuma impian.

Tan, apa impianmu?

Entahlah.

Aku tak pernah memikirkannya.

Aku tak mau di rumah, aku tak mau bertani.

Aku tak mau jadi bayangan siapapun.

June, aku iri padamu.

Kau tahu apa yang kau inginkan.

Tan, kau tahu?

Aku pernah nyaris mati.

Saat itu aku masih kecil,

...sedang main di pantai.

Lalu aku tenggelam tenggelam.

Ketika aku merasa mau mati.

Aku beruntung, Kak Orn menolongku.

Hidup kita penuh hal yang tak pasti.

Jadi kita harus ambil peluang untuk lakukan hal yang disukai...

...sebelum kita mati.

Ganti pose, 1 2 3.

June, kau sudah beritahu orang rumah?

Ya.

Aku mau menginap dengan pacarku.

Bercanda.

Kau menggila lagi.

Di pantai bisa melihat bintang yang bagus sekali.

Tapi aku mau tahu.

Jika ke tengah laut lihat bintang,

...bagaimana pemandangannya?

Mungkin gelap, tak terlihat apa-apa.

Tak terlihat laut dan bintang.

Jika ke tengah laut lihat bintang...

...harus sewa kapal besar.

Baru bisa ke tengah laut.

Rasanya aku menggelikan.

Tidak, akulah yang menggelikan.

Kau suka film, bajumu juga modis.

June.

Kak Orn.

June, apa kabar?

Aku senang June dan Tan mau membantu syuting film.

Oke.

Pesan makanan.

Tan pesan dulu.

Aku sudah kenyang.

Aku yang traktir.

Oh ya?

Aku mau semua menu.

Bercanda saja kok.

Para pemain film...

...mestinya sudah lengkap.

June dan Tan, ya kan?

Ya.

Kalian hubungi tempat syuting.

Ada nomor teleponnya.

Masih ada saran?

Mau syuting di luar?

Boleh saja kalau masih ada dananya.

Ganti lokasi saja.

Jangan.

Harus di luar.

Aku ada ide.

Syuting di rumahku saja, oke?

Pemandangannya indah.

Bisa kuusulkan makan dan menginap gratis.

Jangan bohong.

Kalian bagaimana?

Harus begitu?

Begitu saja.

Terima kasih.

Terima kasih sudah mau membantuku.

Bagiku, film ini amat penting.

Kau bintang penyelamatku.

Hei, ayo dia sudah pergi.

Tan.

Tasmu.

Permisi, aku mau cari June.

Ya, ya.

Aku pergi dulu.

Ayo pergi.

Sepedamu?

Naik ini.

Aku duduk dibelakang.

Naik berdua, menghabiskan energiku.

Menghabiskan energi?

Sejak awal, aku mau ikut klub film.

Jika aku tak boleh duduk dibelakang...

...kau pergi sendiri saja.

Tunggu.

Pegangan baik-baik.

Kenapa?

Jalannya jelek.

Aku pergi dulu.

Sama seperti dulu, tambah susunya.

Jika sedikit, aku tak mau.

Kau haus?

Tambah susunya.

Cantik sekali, June.

Aku?

Maksudku sepedanya.

Lihat.

Untuk apa yang bulat dibelakang?

Tempat botol air.

June.

Di sana lebih bagus.

Tan, lihat sini.

Ada pameran karya seni.

Apa?

Karya seni dan lukisan.

Ayo lihat.

Lihat lukisan ini.

Bagus sekali.

Sangat teliti.

Materialnya asli.

Jangan dipegang.

Dilarang.

Lukisan ini indah.

Ya, indah.

Tan.

Tan, lihat sini.

Cepat sini.

Tan.

Laut di malam hari, apakah seindah ini?

Terlalu indah.

Berdiri disini, sangat terasa indahnya pemandangan.

Nanti kita lihat bersama ya?

Oke.

Kenapa kempes?

Aku tak seberat itu.

Bukan karena kau.

Karena sepedanya yang sudah tua.

Bagaimana?

Bannya pecah.

June, sini.

Lihat, sepeda ini bagus?

Lihat.

Sepedamu baru bagus.

Bodoh, sepeda tua mana bisa dibandingkan yang baru.

Warnanya juga bagus.

Warna ini bagus.

Sepeda siapa ini?

Orang itu.

Ini merk lama.

Ya, lihat.

Sulit dicari lagi.

Anak muda.

Sepeda disitu punyamu?

Dijual?

Jika dijual, aku naik apa?

Tidak sulit.

Pilih sepeda mana saja di tokoku.

Sebagai ganti.

Sungguh boleh sembarang pilih?

Ya.

Jangan.

Kenapa?

Kami tidak menjualnya.

Diperbaiki saja. Sayang.

Nanti jika kau mau menjualnya...

...hubungi aku.

Sepeda yang ini?

Dari Italia.

Italia?

Benar-benar aku tak percaya.

Sepeda tua ini masih ada yang mau.

Manusia memang begitu.

Ada yang lama, mau yang baru.

Ada yang baru, mau yang lama.

Ya, sama seperti aku.

Aku ingin makan labu goreng.

Kenapa?

Makanan khas desaku.

Setiap hari Ibu memasakkannya untukku.

Aku sudah bosan, ketika tahu bisa kuliah di bangkok.

Aku senang sekali.

Tapi kini aku kangen pada masakan Ibu.

Mat.

Minggu depan aku mau ke Bangkok.

Kau mau menengok Tan?

Ada apa?

Mat.

Tak apa-apa.

Aku tak yakin...

...yang kulakukan sekarang benar atau tidak.

Aku paham.

Tapi kau tak mau terima bantuanku.

Coba kau cicipi dulu.

Mat, kenapa?

Coba kulihat.

Maaf.

Selai arbei ini buatan kalian? Enak sekali.

Ya, buatan kami.

Dan kami mengajari cara membuatnya.

Ya, ini ada keterangannya.

Terima kasih.

Wa, cepat lihat.

Aku menemukan solusinya.

Apa?

Kau pasti dapat ide dari orang lain.

Lihat.

Aku mau belajar, hanya 2 hari.

Seterusnya juga boleh.

Apa kabar semuanya?

Hari ini kuajarkan caranya.

Minyak, masih butuh minyak?

Potong jadi dua.

Pelan sedikit.

Jika ada tahu, boleh digoreng bersama.

Apa tahu itu?

Ayah, Ibu, apa tahu itu?

Setiap kali rasanya sama.

Tuan Song?

Bisa, besok kuantarkan.

Masih mau 10 kotak?

Mungkin tunggu 2-3 hari.

Ayah, Ibu.

Sini, cicipi.

Ya.

Cepat cicipi.

Bagaimana rasanya?

Rasanya bagaimana?

Enak sekali.

Harus dimakan dengan nasi.

Jangan.

Nanti kubuatkan lagi untuk kalian.

Kau hanya menyuruh kita makan sedikit?

Tan.

June.

June.

Kak Orn mengajakku makan.

Bagus.

June, ada apa?

Kubawa sisa nasi untuk Kapong.

Tampaknya enak.

Harusnya cicipi makanan yang belum pernah dimakan.

Lakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Jika tidak, kita tak tahu apa-apa.

Tidak tahu cara mengembangkan diri.

Kak Orn cantik dan pandai.

Tak usah memuji, ayo kita makan.

Tan.

Sepeda lama ditukar sepeda baru?

Keren kan?

Katanya sepeda ini baja tahan karat.

June, lihat, sangat enteng.

Hatimu tak puas?

Kadang, yang baru belum tentu cocok.

June.

June.

Tan.

Lukis gambar kartun diriku.

Tak mau.

Jika tidak sama, nanti kau memarahiku.

Tidak.

Aku mau tahu seperti apa gambar kartunku.

Tolonglah.

Tan Rinda.

Usai kuliah, temui aku.

Oke.

Aku pergi dulu.

Dah.

June.

Kucari Kak Ornn dulu.

Dah.

Fakultas ada beasiswa.

Aku sudah lihat, nilaimu paling bagus.

Kurasa kau lebih sesuai.

Ini beasiswa ke Jepang.

Bacalah di rumah, lalu bahas dengan orang tuamu.

Beritahu keputusanmu.

Oke.

Halo, Bu.

Kau seminggu tak ada kabar...

...dan tidak menelepon.

Belakangan aku agak sibuk.

Bantu kakak kelas bikin film.

Aku tak ada waktu.

Katanya kau mau sering telepon.

Mana bisa begitu?

Dia hanya membantu kami.

Kau bilang begitu?

Tidak bisa menghubungimu.

Tan, kau tak apa-apa

Kau gadis beracun.

Begitu saja, Bu.

Pelan-pelan, sini aku bantu.

Taruh dulu.

Ada apa, Mat?

Ke loteng, aku bantu lihat.

Pelan sedikit.

Jika kau tidak membantu, pasti aku akan repot.

Tak apa-apa.

Belakangan banyak yang pesan selai arbei.

Butuh banyak bahan.

Jangan lupa.

Kau ini kan perempuan.

Jangan pindahkan barang berat.

Tak tahu siapa yang akan menjagamu?

Nyonya Mat, silakan ambil obat.

Kuberi obat penurun darah dan penambah darah.

2 kali sehari, tiap kali 2 butir.

Minum sehabis sarapan dan makan malam.

Terima kasih.

Tan, bagaimana?

Sungguh nyaman.

Kak Orn, sini aku bantu.

Bu.

Kak Orn.

Halo, Bu.

Apa kabar?

Ini Kak Orn, sutradara film ini.

Terima kasih sudah pinjamkan tempat ini pada kami.

Senang kalian kemari. / Maaf.

Kak Orn, sini.

Ini rumahku.

Kak Orn tidur disini malam ini.

June, kau tidur dilantai?

Oke.

Itu biasa di desa.

Tampaknya terlalu kecil...

...tapi hawanya bagus.

Ada yang bisa dibantu?

Bantu mencicipi.

Kin, kau kerjakan yang lain.

Cicipilah.

Yang ini?

Coba, enak?

Enak sekali.

Siap.

Mulai.

Ayo habiskan.

Stop.

Paman.

Bisa keras sedikit, oke?

Mulai.

Stop.

Setelah aktor selesai bicara.

Stop sebentar, baru kau bicara.

Stop.

Paman, bisa terus diminum.

Stop.

Tiup sini.

Tidak bisa.

Ini bisa dipakai?

Ya, terima kasih.

Hebat, apinya bisa besar.

Lihat, benihnya sudah tumbuh.

Stop.

Kakek, Nenek, sekali lagi...

...tolong dialognya lebih alami.

Bolehlah.

Mau makanan kecil?

Terima kasih.

Oke, kalian mau?

June... June...

Keluar dulu, mereka sedang syuting.

Maaf.

Tunggu, tak usah dibereskan.

Tulisan perpisahanku.

Aku mau tinggalkan Jing Wan.

Tanah yang asing.

Setiap kali kesepian,

...aku akan ingat wajahmu yang kukenal.

Pada saat terakhir...

...awal perpisahan.

Surat ini adalah bagian dari rumah ini.

Ayahnya Tan yang menemukan surat ini...

...dan menyukainya.

Akhirnya jadi barang milik kami.

Sampai dia pergi.

Waktu Tan dilahirkan, ayahnya Tan sudah meninggal.

Tan pernah bilang padamu?

Tidak.

Duduklah.

Oke.

Sebenarnya,

...ayahnya Tan pernah tulis surat seperti itu.

Tapi sayang sekali.

Ibuku sangat menentang.

Aku pun suka surat seperti itu.

Tulisannya mendalam.

Saat ayahnya Tan ingin meninggalkan dunia ini.

Dia banyak menulis surat seperti itu ini.

Kau tahu June?

Sampai hari ini, setiap kata di surat itu...

...menusuk dalam ke hatiku.

Dan memberiku semangat untuk bertahan.

Sulit dipercaya.

Surat sekecil itu bisa beri arti begitu besar.

Hawa disini nyaman.

Aku tidak mau kembali ke Bangkok.

Nanti kau boleh sering kemari.

Ya.

Pohon ini bagus.

Bagus sekali.

1 2 3.

Kau tambah gemuk?

Tolong buka pintunya.

Terima kasih.

Nanti kita akan bersama.

Tan.

Kau tidak tinggal beberapa hari lagi di sini?

Kan kau libur, kenapa mau ke Bangkok?

Kita belum sempat ngobrol lama.

Masih banyak yang harus kukerjakan di Bangkok

Aku pergi dulu. / Tunggu...

Orn yang cantik itu pacarmu?

Bukan.

Bukan pacarku.

Bilanglah pada Ibu ada apa.

Tidak ada apa-apa.

Aku tak melakukan hal buruk.

Jangan cemas, aku pergi dulu.

Tunggu sebentar.

Tan.

Kami pergi dulu. / Dah.

Dah.

Datang lagi ya.

Ya.

Cepat, ayo.

Bisa sampai lebih pagi.

Tan.

Tan.

Aku tak sempat pergi.

Kau sudah tua.

Katanya kau ke Jing Wan...

...bersama Tan.

Kapan perginya?

Bagus sekali.

Ya kan?

Ini juga boleh.

Dan, dan...

Bantu tuangkan, aku sekalian.

Bagaimana dengan filmmu?

Begitulah, tak ada apa-apa.

Biasa saja.

Bagaimana Hari Valentine-mu?

Begitulah.

Ada yang mau kubahas.

Apa? Aku masih sibuk bersama teman-teman.

Tidak apa-apa, jaga diri baik-baik.

Harusnya aku tak kemari. / Lebih baik aku main ke kota dengan June.

Ayah, Ibu, aku pulang.

Kemana saja kau?

Ke kota.

Sudah kau putuskan beasiswa ke Jepang?

Ayah, Ibu, tidak ada masalah.

Apa rencanamu?

Sebenarnya aku pun tak tahu mesti bagaimana.

Aneh sekali.

Aneh bagaimana?

Dulu kau banyak inisiatif.

Kenapa sekarang begitu ragu?

Tak seperti watakmu.

Bu.

Apa, nak?

Aku pun tak ingin jadi begini.

Tapi aku tak tahu harus bagaimana.

Jangan menangis, tidak apa-apa.

Jangan menangis.

Sudah makan?

Ya.

Aku naik dulu.

Makan, makan.

Kado kecil.

Sebagai tanda terima kasih sudah bantu syuting.

Kak Orn, terima kasih.

Suka?

Bagaimana kau tahu aku suka ini?

Jika suka, sering-seringlah dipakai.

Namanya apa?

Janpan.

Ingat, gambarlah untukku.

Jepang.

Kapong.

Tambah teman baik.

June.

Ternyata kau disini.

Tan.

Ada apa?

Ada yang mau kurundingkan.

Katakan.

Kak Orn memintaku jadi aktor di filmnya.

Dia bilang aku pasti suka...

...dan bisa lakukan dengan baik.

Tapi aku merasa tak bisa.

Menurutmu?

Lakukanlah hal yang kau sukai.

Bukan yang Kak Orn sukai.

Tunggu, June.

June... June...

Benar juga.

Namun aku tak tahu apa yang kusukai.

Jadi aku ikut syuting dulu dengan Kak Orn...

...sampai tahu apa yang kusukai.

Baru kukerjakan, bagaimana?

June, lihat.

Kado dari Kak Orn untukku.

Pasti bagus jika lukis gambar kartun pakai ini.

Kak Orn sungguh memahamiku.

Kau harus yakin apa yang kau sukai.

Butuh apa dalam hidupmu.

Jika tidak, kau hanya jadi pengikut saja.

Tidak punya percaya diri.

June.

Ini pacarmu yang baru?

Kan kemarin baru ketemu?

Kami berpisah.

Kan belum lama?

Sejak kukenal, kau sudah ganti pacar 5 kali.

Hidup manusia.

Bisa menemukan separuh dirinya itu tak mudah.

Kan aku sedang cari.

Ada yang selama hidup tak bisa menemukan separuh dirinya.

Terima kasih sekali.

Bisa bawa?

Orn.

Bagus sekali.

Terima kasih.

Awal filmmu tentang Valentine sangat bagus skenarionya.

Kau rasa bagianku, kurang oke?

Tidak.

Tan.

Jangan lupa peringatan 18 tahun wafatnya Ayah.

Sabtu?

Oke, senang bisa membantu.

Tan... Tan...

Ying.

Tan.

Kau tahu June kemana?

Sudah berhari-hari dia tidak kuliah.

Dia tidak bilang padamu?

Dia dapat beasiswa ke Jepang.

Aku pergi dulu.

Cepat beli nanti tidak keburu.

Nak, besok jam 23:30 kuantar dengan mobil.

Tan.

Cicipi selai arbei buatan Ibu.

Ini enak sekali.

Baru makan sedikit sudah kenyang?

Bu, aku ngantuk.

Aku tidur dulu.

Halo, Kak Orn.

Maaf, belakangan aku agak sibuk...

...mengantar orang cari lokasi syuting.

Senang sekali, tapi amat sibuk.

Terlalu sibuk dan tak bisa telepon?

Siang malam harus syuting.

Jika ada waktu, kita bisa ketemu. Sudah dulu ya.

Kak Orn.

Maaf, tadi Ibu lewat, jadi terdengar.

Telepon dengan pacar?

Kan aku sudah bilang.

Dia bukan pacarku.

Bukan juga tidak apa-apa.

Andai benar pacarmu, Ibu pun tidak bisa apa-apa.

Asal tidak mengganggu kuliahmu.

Nilai semester dulu bagus sekali.

Apapun yang kulakukan tak bisa puaskan Ibu.

Aku memang tak bisa sebaik Ayah.

Kenapa bicara begitu?

Sebab Ibu selalu menganggapku sebagai pengganti Ayah.

Ibu tidak mau buat kau sedih.

Aku tidak bisa ikuti kehendak Ibu.

Di dunia ini, tak ada yang bisa digantikan orang lain.

Bukan begitu?

Sama seperti Ibu yang menjaga pertanian ini.

Pertanian ini impian Ayah kan?

Yang dikerjakan Ibu...

...seperti yang mau Ibu lakukan?

Atau harapan Ayah yang sudah mati.

Hati-hati di jalan.

Tan.

Sejak awal, kau tak cocok dengannya.

Kau sama seperti pembantunya.

Kau harus memutuskan.

Kau dan June yang merawat anjingmu.

Anjing itu, sini.

Anjingmu, lihat.

Bangun besok pagi, anggap saja kau belum pernah mencintai siapapun.

Ayo minum.

Anda mau wariskan hartamu untuk siapa?

Tan anakku satu-satunya, kuwariskan semua untuknya.

Tan.

Silakan tanda tangan di sini.

Nanti, dokumennya akan diantar untukmu.

Terima kasih.

Tan, dimana kau?

Saat kami bangun, kau sudah tak ada.

Kami kira kau mati tenggelam.

Entahlah, kini aku di pulau kecil.

Mau apa kesana?

Kenapa?

Tak ada ibu, kesepian?

Kapan bisa jawab sms-ku? / Aku dan Kapong menunggumu.

Halo, June?

Aku Paman Wa, dengar baik-baik.

Tan.

Bu, makan yang banyak.

Paman, kau menyukai ibuku?

Ya.

Kenapa tidak memberitahunya?

Dia sudah ada seseorang yang paling dicintai.

Kau.

Keadaan sudah baikan, istirahat saja dirumah.

Jangan kerja berat.

Terima kasih. / Sama-sama.

Pelan-pelan, Bu.

Terima kasih, Wa.

Aku pergi dulu.

Tan, jaga baik-baik ibumu.

Kalau ada apa-apa telepon aku.

Terima kasih. / Dah.

Bu, minum obat setelah makan nasi.

Tan, aku mau lihat pembukuan pertanian kita.

Bawa ke sini.

Baru keluar rumah sakit, dokter sudah bilang...

Bukan kerja, cuma mau lihat pembukuan.

Ibu keras kepala, dimana bukunya?

Didalam laci Ibu.

Aku sangat merindukanmu, Thun.

Rindu sampai hatiku mau hancur.

Tapi kau jangan cemas.

Aku harus kuat agar anak kita besar dengan kebahagiaan.

Ada masa depan yang indah.

Aku bersumpah.

Kau tahu Thun?

Betapapun sepi dan susahnya.

Melihat senyum anak kita yang ceria...

...segenap derita pun lenyap.

Senyum Tan memberiku tenaga untuk mengatasi kesulitan.

Ini pertama kalinya, aku berpisah dengan Tan.

Aku sendirian dirumah.

Tan memilih kuliah di Bangkok.

Awalnya, aku tidak mau dia ke Bangkok.

Aku cemas, dia bisa jadi rusak di Bangkok.

Tapi aku tahu tak boleh terus menahan dia disini.

Lelaki harus keluar melihat dunia.

Apakah keputusanku benar Thun?

Kini satu-satunya yang kukhawatirkan adalah...

...bukan hanya 1-2 hari kita kekurangan uang.

Tan kuliah di Bangkok.

Pengeluaran tambah besar.

Jika tanah dijual,

...bisa selesaikan masalah.

Aku ingin jual, tapi akhirnya batal.

Karena tanah ini amat penting bagiku.

Aku mau mewariskannya kepada Tan.

Jika suatu hari dia butuh uang.

Kuputuskan jual selai arbei...

...untuk mendapat uang lebih banyak.

Tapi sangat melelahkan.

Kini Tan tidak dirumah...

...dan tak menelepon.

Aku hampir tak tahan lagi.

Namun, betapapun susahnya, aku bisa tegar.

Aku tak menangis demi menjaga sumpahku padamu.

Bu.

Maaf.

Tidak apa-apa.

Bu, ada labu goreng yang panas.

Tampaknya enak.

Masakanku enak, makan yang banyak.

Aku mau mulai kuliah.

Bukankah kau harus ke Bangkok untuk kuliah?

Semua sudah oke.

Bu, aku ingin pindah ke fakultas pertanian disini...

...supaya nanti aku bisa membantumu.

Jangan begitu.

Kenapa?

Dengarkan Ibu.

Ibu pernah bertanya, yang kau lakukan sekarang...

...apakah yang kau inginkan?

Aku selalu memikirkan itu.

Aku sudah jelas.

Yang kulakukan sekarang adalah yang kuinginkan.

Rasanya menyenangkan.

Melanjutkan impian orang yang kita cintai.

Membuat Ibu merasa dia tak pernah pergi.

Kini kau mau bertani.

Mimpi Ibu jadi kenyataan.

Apa kabar?

Kau harus punya hidupmu sendiri.

Kejar impian sendiri.

Cari yang kau inginkan dalam hidupmu.

Terima kasih.

Pohon kecil Tan.

Ini alamat June di Jepang.

Terima kasih.

Selamat datang.

Maaf, boleh menaiki ini?

Boleh.

Sungguh? / Ya.

Oke, lewat sini.

Terima kasih.

Maaf.

Aku mau kesini, boleh?

Oke, oke.

Katakan jika ada masalah.

Oke. / Terima kasih.

Maaf mengganggu.

Gambar laut dan bintang, sudah tidak ada?

Itu karya lama, sudah lama dipamerkan disini.

Ini apa?

Lautan luas dan bintang.

Bagus sekali.

Bagus?

Halo, sudah sampai.

Oke.

Tunggu aku.

Jika aku menunggu orang seperti kau, apa aku masih ada kesempatan?

Aku sudah hilangkan penyakit itu. Kini kutahu apa yang mau kulakukan.

Jika kau pulang, banyak yang mau kukatakan, aku tunggu.

Tan? Aku Kak Orn.

Tolong!

Mana boleh pergi begitu saja?

Aku mengerti perasaanmu, Tan.

Terima kasih.

Terima kasih.

Aku turut berduka cita.

Terima kasih kalian bisa hadir.

Aku percaya, anakku bahagia saat dia pergi.

Banyak yang tak bisa kukatakan padanya.

Karena Orn dan Tan orang yang kucintai.

Kubuat facebook anjing kita dengan nama Kapong.

Untuk mengungkapkan perasaanku.

Aku berusaha agar tan mencintaiku, tapi tak berhasil.

Akhirnya kuputuskan mengambil peluang terakhir.

Sebagai teman baik di facebook.

Aku mengira jika Tan menerima pertemanan facebook-ku sebelum ke Jepang.

Aku dapat katakan seluruh perasaanku kepada Tan.

Apapun yang terjadi.

Hari ini Tan mau sayur labu goreng, jadi kumasakkan.

Ini pertama kalinya aku belajar masak.

Berkali-kali baru sukses.

Tapi yang terakhir beruntung makan...

...bukan Tan, melainkan anjing kita Kapong

Saat ke rumah Tan, kulihat pohon kecil ini.

Bagus sekali.

Ibumu yang bilang...

...kau yang menanam pohon ini.

Tolong Ibu rawat pohon ini.

Kini tumbuh semakin tinggi.

Merawat sesuatu dan melihatnya tumbuh-kembang...

...adalah hal yang membahagiakan.

Sepeda tua Tan bagus sekali.

Mungkin Tan belum tahu nilai kenangannya.

Maka kubantu menyimpannya.

Jika suatu hari, dia kangen sepedanya...

...dan menginginkannya, biar dia cari aku saja.

Kak Orn, mari kubantu cari kado untuknya.

Karena dia sibuk syuting.

Aku tahu kado yang harus dibeli.

Tapi mau yang memuaskan, butuh waktu lama.

Krayon Janpan, kado yang paling cocok.

Tan bisa punya Krayon Janpan yang bagus.

June pernah memuji gambar Tan.

June bicara sejujurnya.

Kadang...

...mungkin menggambar itu kesukaan Tan.

Jika tidak, dia pun takkan sering menggambar.

Tidak peduli kapanpun.

Halo, Tan.

Aku ada hal yang ingin kukatakan padamu.

Aku mau bilang, pada masa lalu...

...aku bisa mengenalmu.

Jika kita bisa lakukan hal yang kau sukai, aku akan merasa senang.

Aku...

...berharap semoga hidupmu menyenangkan.

Lakukan apa yang kau inginkan.

Jika hari itu ada...

...aku pun akan merasa senang.

Kenapa aku terus menangis?

Aku sangat senang bisa mengenalmu.

Sehingga ada peluang bertemu,

...peluang mencintaimu.

Meski ini hanya pikiranku saja.

Dah.

June.

Kau pernah memintaku gambar kartun...

...ingin tahu kartun dirimu seperti apa.

Ini wajahmu didalam hatiku.

Membuatku kangen.

Tan.

June, aku akan mulai lakukan apa yang kusukai.

Aku tahu dalam hidup kita, peluang bagus tak banyak.

Akhirnya terlewatkan.

Mungkin nanti tidak ada lagi.

June, kau ajari aku memahami nilai kehidupan...

...dan hal-hal yang biasa dalam kehidupan.

Tapi itu membuatku merasa kau selalu disisiku

Aku mau pergi ke semua tempat didalam impianmu.

Kau pergi bersamaku.

Hati-hati di jalan, nak.

Jaga diri Ibu.

Oke.

Dah.

Kini aku mau naik sepeda untuk melihat laut dan bintang kita.

Kau tahu Juna?

Bisa membantu wujudkan impianmu, membuatku bahagia.

Cinta kita akan selalu terus bersinar.

Aku selalu merindukanmu, Tan.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.