Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Esperanto
Ewe
Faroese
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BADAN PERFILMAN, MEDIA PERS, RADIO & TV
LE VISION PICTURES
PERFECT VILLAGE
TENCENT PICTURES
Follow IG: @broth3rmax
SHADOW [bayangan]
DALAM KONDISI PERANG YANG TIADA HENTI SERTA PERLAWANAN PIHAK DALAM,
RAJA CINA & PARA BANGSAWAN TERUS MENERUS TERANCAM DIBUNUH.
UNTUK BERTAHAN, DIAM-DIAM MEREKA MENGERAHKAN PENGGANTI YANG DIKENAL SEBAGAI "BAYANGAN".
"BAYANGAN" MELAYANI TUANNYA DENGAN BERANI WALAU NYAWA TARUHANNYA,
DAN MEMBUKTIKAN KESETIAANNYA DENGAN RELA MATI.
MEREKA TAK TERCATAT DALAM SEJARAH, MEREKA MENJALANI HIDUP TAK JELAS DAN HILANG TANPA JEJAK.
INI KISAH TENTANG SEORANG "BAYANGAN". KISAH DIMULAI DARI MADAM,
ISTRI KOMANDAN BESAR KERAJAAN PEI, MENGHADAPI PILIHAN PALING SULIT DALAM HIDUPNYA.
Bolehkah hamba bicara dengan Baginda?
Baginda?
Baginda.
Komandan...
Dia lagi.
Kenapa lagi?
Dia mendatangi Kota Jing kemarin.
Apa?
Dia pergi ke Kota Jing?
Buat apa? / Untuk memberi selamat ulang tahun pada Yang.
Dia perginya kemarin, dan kau baru beritahu sekarang?
Lu, mentriku yang paling terpercaya.
Beginikah caramu mengabdi?
Apa dia sudah kembali? / Belum.
Sana, tunggulah dia.
Saat dia kembali
segera bawa dia menghadapku. / Ya, Baginda.
KEDIAMAN KOMANDAN
terjemahan broth3rmax
Bagaimana?
Ini ditafsirkan, sebagai kekuatan pria.
Tak ada tempat untuk wanita disini.
Qian, pria, asal usul dari segalanya
harus yang menguasai dunia.
Ini ditafsirkan,
itu adalah "Qian". / Ini kehendak Dewa.
Kakak, apa pernah membicarakan ini di Istana?
Ramalan juga menunjukan pertanda positif.
Kapan pertepumpuran dimulai,
Musim panas, atau musim gugur? / Penafsiran menunjukkan...
waktu kita akan tiba dalam 7 hari.
7 hari?
Setelah hujan 7 hari
kita akan menang saat air pasang.
Komandan datang!
Pahlawan kita satu-satunya yang pemberani telah kembali!
Adik.
Lapor, Baginda. / Lapor, Baginda.
Kudengar
kau pergi merayakan ulang tahunnya Yang.
Ya.
Aku yakin kau memberi kata sambutan yang bagus.
Hamba ke Jing untuk mengambil sesuatu.
Kota itu telah dia duduki selama 20 tahun.
Apa dia bersedia mengembalikannya?
Tidak. / Jadi kau menyatakan perang?
Yang dan hamba telah sepakat
dalam beberapa hari, dibawah Pintu-masuk Kota, untuk duel 1 lawan 1,
dan melihat siapa yang akan menang.
Kedua negara kira adalah sekutu.
Sebuah duel antar para kepala komandan kita
itu berarti perang.
Apa kau tak mengerti?
Dia setuju untuk duel.
Baiklah kalau begitu.
Katakan
apa kau yakin bisa mengalahkan dia?
Ya atau tidak?
Berapa peluangmu?
3 banding 10 paling maksimal. / Aneh sekali!
Jika bukan untuk Perjanjian Damai kita
Pei pastinya sudah lama kalah.
Bagus sekali.
Kau merusak segalanya.
Kota Jing masih milik kerajaan Pei.
Itu masih dibawah pendudukan Yang.
Semua orang baik Pei
mendambakan untuk merebutnya kembali.
Tak ada penguasa yang bisa melawan kehendak rakyatnya.
Jika Kota Jing tak direbut kembali, Pei akan hancur dibawah kekuasaan pasuka.
Komandan, beraninya kau bilang begitu?
Aku lebih suka tak merebut lagi Kota Jing,
dari pada menghancurkan Sekutu.
Atas nama paduka
hamba katakan sebaliknya pada mereka.
Dan kau juga mau jadi Raja atas namaku?
Semua sudah terlanjur dilakukan.
Dan hukuman hamba?
Baiklah.
Tak perlu berdebat lagi.
Ayah terlalu cepat meninggal.
Hanya tinggal aku dan adik perempuanku.
Itu berkat dirimu, Komandan,
bila akhirnya aku mendapatkan takhta ini.
Kita ganti topik saja.
Baginda benar.
Mari kita nikmati pertemuan langka ini.
Aku sudah lama dengar
kau dan istrimu memainkan musik duet yang paling indah.
Aku selalu ingin mendengar musik kalian.
Jadi
maukah kalian mainkan?
Baginda, kerajaan kita dalam kondisi sulit.
Hamba sedang kurang enak hati.
Komandan, jangan kecewakan Raja.
Ya, kumohon. Kami semua akan menikmati musik kalian.
Ayo, bawa kemari kecapinya.
Ayo sini.
Sini.
Ayo.
Silahkan.
Kenapa?
Aku, Raja kalian
tak bisakah kalian mainkan untukku?
Komandan.
Baginda, maaf.
Kamu bahkan memulai.
Kenapa harus minta maaf? / Hamba tak akan mengalihkan suami hamba
dengan pemandangan dan suara indah.
Hamba telah bersumpah pada Dewa
bahwa sampai pada hari Kota Jing direbut kembali
hamba tak akan memainkan nada musik.
Kalau tidak... / kalau tidak kenapa?
hamba akan potong jari untuk menebus kesalahan.
Sumpah yang mengesankan pada Dewa.
Tapi aku ini Dewanya Pei.
Aku menyuruh kalian memainkannya.
Apa kalian tak mau mematuhiku?
Baiklah kalau begitu. Hari ini tak usah main.
Bawa mereka pergi.
Ayo. / Tidak!
Mereka akan main. / Kalau begitu aku tak mau dengar.
Komandan
Madam sudah siap untukmu.
Sumpah Madam
juga sumpahku.
Akan kupotong rambutku
untuk memohon pengampunan Dewa.
Komandan, jangan...
jangan lakukan itu...
Baiklah, tak usah main kalau begitu.
Tak usah berlebihan begitu.
Kami akan pergi.
Baginda, mengapa memaksa Komandan memainkan musik?
Tadi aku cuma berusaha
menurunkan keangkuhannya.
Aku harus membereskan semua kekacauan yang dia buat.
Hanya tinggal 1 pilihan.
Putranya Yang, Ping
belum menikah 'kan?
Maksud baginda mau mengatakan...
Menikahkan dengan adik perempuanku yang binal itu.
Bukahkah harus tanyakan dia dulu, mau atau tidak?
Aku ini kakaknya.
Tak perlu ditanyakan.
Kau harus meyakinkan Yang,
kalau Komandan tidaklah mewakili diriku.
Kita tak bermaksud merebut lagi kota Jing.
Apalagi memulai perang.
Lamaranku
menunjukkan kesungguhanku.
Baiklah.
Akan kupilih hari yang baik
untuk pergi melamar. / Kau boleh pergi.
Ya, Baginda.
Untuk memerankan seseorang, 2 jantung harus berdenyut jadi 1 jantung.
Mengenai kasus musik dirimu dan Madam
aku belum berani berlatih.
Aku pantas mati.
Jika kau ketahuan,
kamu memang pantas mati.
Kita berdua pantas mati.
Kau harus menguasai kecapi itu
dan merasakan goresan ini.
Komandan
lakukan saja.
Ramuan ini sangat keras.
Dalam 1 jam
lukanya akan membusuk.
Dan akan mirip dengan lukaku.
Apapun yang kau tahan...
lepaskan saka, kau akan merasa baikan.
Lepaskan!
Saat aku 8 tahun aku kesasar dari ibuku,
tanpa arah, tersesat, lewat Kota Jing
aku pingsan kelaparan.
Pamanmu kebetulan lewat.
Tak akan kulupakan semangkuk nasi itu...
Aku berada disini lebih dari 20 tahun...
Hari-harimu disini, sebenarnya memanglah sulit.
Aku berhutang terima kasih pada kalian berdua.
Paman orang yang kejam.
Tiap kali kau coba-coba lari
dia memukulimu sampai pingsan.
Tempat ini
adalah penjaramu, kurunganmu.
Tolong bantu tekan ini.
Dan setelah dia meninggal
kutempatkan kau pada pelatihan yang sadis.
Pastinya kamu membenci aku karenanya.
Bagaimana mungkin aku membencimu?
Aku rela mati terpotong-potong
untuk membalas budi baikmu.
Yang-lah yang harusnya mati kepotong-potong!
Jika kau bunuh dia
akan kuijinkan kau pulang.
Suamiku.
Paman sangat tepat memilihmu.
Selain mirip denganku
kau juga sangat cerdik.
Semenjak memulai aksimu setahun lalu
kau begitu pandai mengelabui mereka semua.
Terkadang aku penasaran
apakah istriku masih bisa membedakan kita?
Aku telah temukan ibumu.
Ibuku?
Dia masih hidup?
Dia masih ada, di Jing.
Berkelana tak punya rumah di jalanan.
Aku telah membeli rumah lamamu.
Semua sudah disiapkan. Dia tinggal di sana sekarang.
Bagaimana kau bisa menemukan dia?
Apa dia tahu aku masih hidup?
Jadi kau punya taruhan besar
dalam pertempuran ini.
Setelah Jin direbut kembali, kalian berdua bisa bertemu kembali.
Kecapimu perlu di setem ulang.
Kecapimu nadanya pada kunci mayor.
Senarnya harus dikencangkan.
Terima kasih.
Kalian boleh pergi.
Waktumu hanya 4 jam untuk mengoleskan salep ini pada lukamu.
Jangan sampai terlambat sedikitpun.
Suamimu bangsawan paling baik,
paling strategik,
paling dikagumi di Pei.
Sedang aku? Hanya sekedar seorang abdi.
Tak lebih dari sekedar bayangannya.
Kau bukanlah bayangan.
Kau adalah dirimu sendiri. / Maka siapa diriku?
Kau terlahir di Jing,
kau ingin sekali pulang.
Mungkin ibumu
sedang menunggu di ujung jalan.
Melihati orang yang lewat.
Menunggumu kembali.
Bertahun-tahun lalu
ibuku jadi buta.
Bahkan dia tak bisa melihatku.
Jika dia memang menunggu di sana
dia hanya bisa mendengar,
berusaha mendengarkan langkahku.
Bukan dulu, bukan nanti,
kalian tiba-tiba menemukan dia,
tepat waktu untuk memastikan aku mau patuh
berjuang dalan pertempuran ini demi kalian.
Kalian diam-diam terus mengurungku.
Apa kalian orang besar, kaum bangsawan,
tahu apa yang paling aku takuti?
Kegelapan.
Tak ada orang lain,
tak ada cahaya,
tak ada suara.
Hanya diriku sepenuhnya dalam kegelapan.
Aku raba-raba kemanapun, apapun.
Meraba tiap retakan kecil di dinding,
agar terhindar dari kegilaan.
Untuk membuktikan pada diriku bila aku masih hidup.
Makanya kau selalu tidur di lantai
dengan lampu menyala semalaman.
Sekarang saatnya kau pergi ke Istana.
AULA BESAR PEI
Siapa yang ingin bicara?
Hamba, Baginda.
Silahkan.
Hamba telah melanggar perintahmu
pergi ke Jing dan menyatakan perang.
Merusak hubungan Sekutu.
Mohon, Baginda, hukumlah hamba. / Dan apa hukumannya?
Penggal kepala.
Kakak.
Kau tak boleh penggal dia. / Pahlawan besar Kerajaan kita
Jenderal Besar kita
kau tak boleh dipenggal.
Kami bisa apa tanpa dirimu?
Lu, mentriku.
Bagaimana menurutmu?
Dia menyatakan perang kehendaknya sendiri.
Membuat Pei dalam bahaya besar.
Memang itu sebuah kesalahan besar.
Lu!
Baiklah. / Kakak.
Dengan ini kucabut wewenang Komandan.
Menyita pedang dan segelnya.
Untuk selanjutnya dia menjadi rakyat biasa.
Tidak.
Baginda.
Baginda!
Lakukan saja.
Aku tak punya pilihan lain.
Kau lihat "Syair Perdamaian" ini?
Aku menulis dan menggantungnya di sini
sebagai pengingat kita semua
Sekutu adalah sumber hidup kita.
Siapapun yang melanggarnya,
bangsawan ataupun rakyat biasa, akan menanggung akibatnya.
Kita akan selalu menjaga perdamaian.
Jangan pernah bicara perang jika kau tak bisa menang.
Mulai hari ini, siapapun yang membahas ini lagi
akan langsung dipenggal.
Terima kasih telah mengampuni hamba.
Hamba pergi dulu.
Tunggu dulu.
Kakak, apalagi yang kau inginkan?
Tak ada.
Aku cuma mencairkan suasana saja.
Komandan telah berjuang dalam banyak sekali pertempuran
dan sering terluka.
Namun luka yang paling kuperhatikan
adalah yang dari akibat pedangnya Yang.
Luka yang jarang bisa sembuh.
Memang, ya.
Lukanya belum pulih.
Aku menemukan salep langka
yang bisa menyembuhkan lukamu.
Setelah kau pergi hari ini,
siapa yang tahu kapan kita akan bertemu lagi?
Kuingin lihat kau memakai ini
agar aku tahu kau akan baik-baik saja.
Kenapa baginda repot-repot?
Hamba akan kembali dan menjemput istri...
Seperti kataku
aku akan mengoleskannya sendiri.
Luka Komandan ini, juga luka bagi Pei.
Bila kalian semua membuktikan kesetiaan,
akan kulayani kalian dengan cara yang sama.
Komandan
luka ini
kayak luka baru.
Kau mau coba-coba mengelabuiku.
Kumohon Baginda, hukumlah hamba.
Luka lama hamba telah pulih.
Luka yang ini
hamba buat sendiri.
Kekalahan hamba pada Yang adalah rasa malu terbesar.
Luka ini sebagai pengingat
selama Yang masih hidup,
lukaku tak akan sembuh.
Sampai kita merebut kembali Jing,
bagaimana mungkin kita bicara perdamaian?
Lancang sekali kau!
Beraninya melawan perintahku?
Apa sekarang hamba masih Komandan?
Hamba yang akan melaksanakan duel bersama Yang
kenapa itu mengkhawatrikan Baginda?
broth3rmax
Di Istana hari ini
Raja tiba-tiba menantang dia.
Dia mengatasinya dengan baik meskipun ketakutan.
Cukup mengesankan.
Dia boleh juga.
Tapi tak ada yang tahu kalau itu luka baru.
Raja cuma menguji dia.
"Syair Perdamaian"ku
cukup bagus tulisannya.
Kenapa kau turunkan pangkat Komandan?
Maka katakan
kenapa dia harus melukai dirinya sendiri?
Kenapa repot-repot begitu?
Untuk mengingat rasa malu karena kalah.
Itu tindakan yang terhormat.
Dia tak seperti dirimu. Kau tak akan berani merebut Jing.
Yang bisa kau lakukan hanya berkompromi.
Kau jadi lelucon menyedihkan.
Kulakukan ini semua demi Pei.
Kau kira aku tak kenal dirimu?
Yang kau lakukan hanya demi takhtamu.
Baik, memang demi takhtaku...
...yang tak pernah aman seharipun!
Menurut legenda Pedang Hebat Yang
ditempa oleh seorang empu
pada malam bulan purnama.
Ditakdirkan untuk mencabut 100 nyawa
sebagai persembahan pada Dewa Pedang.
Beratnya 40 kilo.
Menyala di malam hari.
Berkilauan di siang hari. Dan membunuh dalam 3 ronde.
Ronde 1. / Kau tak fokus!
Pikiranmu kemana-mana.
Ronde 2.
Suamiku. Kau harus hentikan.
Ulangi lagi.
Aku khawatir tenagamu melemah. / Kenapa kau khawatir?
Baik aku maupun kau, juga melemah.
Ayo!
Ronde 3.
Inilah serangan yang sama persis
dengan yang kuterima dari Yang saat itu.
Kurasa aku cuma memakai separoh tenagaku,
kau sudah tamat.
Suamiku, kubantu berdiri.
Pikiranmu kemana-mana.
Pikiran yang tak fokus, berarti nafas lemah.
Nafas lemah, maka langkah tak mantap.
Bagaimana kau bisa bertahan tanpa langkah yang mantap?
Apa kau sudah lupa siapa dirimu?
Katakan!
Siapa dirimu?
Jing. / Apa?
Jing!
Kau memberiku nama sama dengan "Kota Jing",
agar aku tak lupa tujuan utama kita.
Aku membutuhkanmu hanya karena aku sekarat.
Fokuslah pada tugasmu.
Tak usah pikirkan lainnya.
www.3gpbluray.net
www.3gpbluray.net
www.3gpbluray.net
www.3gpbluray.net
www.3gpbluray.net
www.3gpbluray.net
Menulis dengan irama
kata-kata itu tarian.
Gaya unikku.
Begitu indahnya. / Bagus sekali.
Kaligrafi yang luar biasa. / Sungguh bagus.
Adik.
Lihatlah tulisan "Pei" yang kutulis.
Bagaimana menurutmu?
Lu datang.
Pergilah. Pergi.
Hamba melapor. / Bagaimana perjalananmu ke Jing?
Baginda, sudah disampaikan pada Yang
pinangan pernikahanmu. Mereka cukup senang.
Bagus.
Bagus!
Kak, siapa yang mau menikah?
Kamu.
Tanpa memberitahuku?
Memang kau pikir aku ini apa?
Suatu pernikahan tunggal untuk mendamaikan kedua bangsa.
Kau tuan Puteri,
harusnya mengerti ini. / Aku tak mau!
Menikah saja sendiri!
Lanjutkan.
Namun, untuk berterima kasih pada mereka karena melindungi Kota ini,
Raja mereka menawarkan putrinya pada putranya Yang, Ping.
Mereka tak bisa menolaknya.
Lalu... apa yang harus kita lakukan?
Ping punya ide.
Yaitu...?
Baginda, bolehkah hamba
menjelaskan ini berdua saja? / Apa yang kamu takutkan?
Bicara saja.
Baginda, ini...
Semua yang hadir disini telah mempertaruhkan nyawa demi aku.
Di depan tuan-tuan ini tak perlu ada rahasia.
Ping melamar
Tuan Puteri sebagai selir,
dengan begitu keingian semua orang terpenuhi.
Nah, itu...
juga salah satu cara...
Ping memberikan
belati pribadinya sebagai hadiah pertunangan.
Asal Baginda tak keberatan,
pernikahan dipastikan.
Bunuh!
Bunuh Yang sialan itu...
Baginda, beri hamba 30.000 prajurit
akan kubuat kota Jing bersimbah darah.
Baginda, rebut kembali Jing!
Cincang si Yang.
Rebut kembali Jing. / Jangan lancang!
Apa kalian lupa perintahku?
Siapapun yang bahas merebut Jing
akan dipenggal.
Baginda, ini pelecehan.
Penghinaan, kerajaan kita akan hancur
dibawah kekuasaan Paduka. / Tian, lancang sekali kau
menentang Raja. Seret dia keluar!
Copot pangkatnya. / Pengawal!
Aku sendiri saja.
Kurang ajar sekali dia!
Baginda, apa dia masih menganggap Baginda Rajanya?
Dasar Raja badut!
Baginda, ucapan Tian
mengarah ke pemberontakan.
Tak usah repot-repot, Baginda.
Dasar kau ini...
Baginda!
Minggir kau. / Tuan Puteri.
Minggirlah.
Kuterima hadiahnya.
Beritahu dia aku setuju.
LAPANGAN LATIHAN - JING
Kau membuatku mundur 2 langkah.
Taktik yang bagus, nak.
Kita keluarga Yang dikenal karena kekuatan, kecepatan dan menewaskan dalam 3 ronde.
Namun gesit menghadapi
gerakan pendekar tangguh, itulah inti sesungguhnya teknik kita.
Apa kau pernah melawan pendekar sejati?
Belum.
Saat Komandan Pei berkunjung
bagaimana kesanmu?
Sama seperti yang kubayangkan. Berbeda dan kuat.
Serangan melumpuhkan yang kuberikan padanya...
aku terkejut bila tahu
dia sudah pulih sepenuhnya,
seperti belum terluka sama sekali,
tegap dan ramah seperti dulu.
Dia kesini hanya untuk menemuimu, Ayah.
Dia tak akan berani cari gara-gara.
Ping
kau melamar untuk menjadikan Puteri itu
sebagai selirmu.
Bukankah itu "cari gara-gara"?
Aku ingin mereka berhenti
memanfaatkan pernikahan
untuk merebut kembali Kota Jing.
Tapi aku telah diberitahu
mereka menerima hadiah pertunanganmu. / Apa?
Bukahkah menurutmu itu aneh?
Memangnya kenapa?
Raja mereka memecat Komandannya.
Melukai Tian.
Membuang 2 jenderal hebat
pasti semangat mereka menurun.
Lagipula
jika ada pertanda terjadi masalah di sana
mata-mata akan segera memberitahu kita,
jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kau ada benarnya.
Ayah, sekarang bila Kota ini sudah stabil
Baginda Raja meminta kita lagi
untuk mengerahkan pasukan...
Situasinya cukup tegang di sana.
Kita laksanakan saja. Biarkan 800 prajurit tetap disini
dan kirim 30.000 sisanya untuk mendukung Baginda Raja.
Apa nanti sisa tentara kita disini cukup?
Kita punya benteng alami yang kuat...
Dan paling tidak
aku dan pedangku itu tak terkalahkan.
800 sudah cukup.
Biar kucoba.
Aku sering melihatmu.
Kurasa aku paham gerakannya.
Payung Pei, lembut dan fleksibel.
Sangat efisien dalam kondisi hujan.
Ini bersenjatakan air.
Air adalah "yin".
Gerakan Yang sulit dan ganas.
Seperti api, api adalah "yang".
Yin melawan yang
air mematikan api.
Dan selanjutnya, memakainya dengan gerakan feminin.
Bagaimana menurutmu? / Gerakan feminin?
Aku yang merancang gambar taichi ini.
Kenapa aku tak kepikiran hal itu?
Tonton kami dari pinggir.
Madam, ayo.
Madam, berlatihlah sama Jing.
Ajari dia dengan cepat.
Tunggu apa lagi?
Jika kita tak menemukan cara mengalahkan Yang
semua usaha kita akan sia-sia.
Ini akan mewakili
gaya sabetan pedangnya Yang.
Pelukan erat sama-sama.
Jika pikiran kita bisa menyatu
kau bisa memahami tehniknya.
Cepat!
Madam, maafkan aku.
Ya begitu.
Ini dia caranya.
Beginilah caranya.
Ini dia caranya!
Bangunlah.
Rasanya serangan Yang cukup sengit
maka dia akan cepat kehabisan tenaga.
Jing,
jika kau praktekkan tehniknya Madam
kau bisa membunuh dia.
Ya.
Ada seseorang yang harus kau temui.
Kau boleh pergi sekarang.
Ya.
Hati dan pikiran kalian
benar-benar menyatu tadi.
Kami hanya meniru gerakanmu belaka...
Kenapa ngomongin soal hati dan pikiran?
Apa dia bisa menang?
Tehnikmu
bisa membuat Jing percaya diri.
Dia harus yakin
kalau dia bisa menang
sampai ronde 3 terakhir.
Lalu setelah ronde 3?
Aku akan butuh waktu 1 jam.
broth3rmax
โช
Melodi yang menggema, mendayu-dayu itu
terasa seperti perangkap, tanpa jalan keluar.
Begitu pastinya.
Bagaimana keadaanmu, Tuanku.
Kau tahu ada apa di hutan ini?
100 tahanan dalam persembunyian.
Mereka hidup untuk bertempur dan membunuh
namun anehnya terlihat lembut.
Aku berjanji akan membebaskan jika mereka bisa merebut kembai Jing.
Kubawa mereka ke sana untuk berlatih, namun tak menemukan teknik untuk menang.
Tapi sekarang kita punya satu cara.
Pelajarilah, latihlah mereka.
Jadilah pimpinan mereka.
Ya, Tuan.
Terimalah seruling ini.
Saat kau memainkannya, mereka akan tahu kalau kau diutus olehku,
dan mereka akan mematuhimu.
Akan kulakukan perintahmu, Komandan.
"Komandan" ingin menemuimu.
Komandan!
Aku bukan manusia juga bukan hantu.
Bukan Komandan yang kamu kenal.
Tuan selalu kuanggap Komandan.
Di pertempuran Sungai Mang
kau membunuh lusinan prajurit
demi menyelamatkanku.
Mengalami lebih dari 20 luka.
Berbaring koma selama 3 hari.
Luka kecilku tak ada apa-apanya.
Sini.
Duduklah.
Saat usiaku 8 tahun
di hari pertama Musim Semi
Ayahku dibunuh.
Itu terjadi dalam Istana
di hadapan semua menteri.
Pembunuh itu
memenggal kepalanya
dengan kapak.
Paman khawatir aku akan mengalami nasib yang sama.
Dia mencariku kemana-mana.
Pada akhirnya, di Kota Jing
dia bertemu bocah seumuranku
yang wajahnya mirip denganku.
Dia membawa bocah itu kesini untuk dilatih secara diam-diam,
berharap bisa jadi tamengku dari intrik-intrik istana
untuk melindungiku.
Bocah itu menjadi "bayangan".
Lukaku amat parah tahun lalu.
Kesehatanku menurun, tiba-tiba aku menua.
Tak ada yang tahu soal ini...
Maka kau mulai memanfaatkan si "bayangan"...
Tapi Madam, apa dia... / Madam sudah tahu.
Dia kasihan pada "bayangan".
Dia berdebat denganku
untuk membiarkan si "bayangan" pulang.
Aku memanggilmu ke sini hari ini
agar Madam bisa menunjukkan padamu
cara untuk mengalahkan Yang.
Aku tahu...
Waktu itu Raja memeriksa lukanya...
Apa Raja sudah curiga kalau... dia itu seorang "bayangan"?
Bagaimana menurutmu?
Komandan
kenapa mengurung diri dalam ruang sempit ini
mencoba membaca pikiran Raja?
Mengapa tak menggantikan dia saja
dan menjadi Raja kami? Tak ada seorang jenderal ataupun prajurit
yang ragu untuk mendukungmu.
Sungguh lancang dirimu! / Maaf.
Raja menjalankan tujuannya.
Dirimu...
sangatlah bisa.
Kau selama ini bisa...
untuk merebut kembali Jing.
Aku butuh 3 orang.
Satu adalah si "bayangan".
Kedua sang Raja. Dan ketiga adalah dirimu.
Dari ruang sempit ini
aku akan melaksanakan rencanaku
dan menyaksikan masing-masing kalian memainkan peran,
merebut kembali negeri kita atas namaku.
Bukankan nanti akan sangat menegangkan?
Kemudian?
Aku akan menjadi Raja.
Kau akan menjadi Komandan.
Maaf.
Kau lebih mirip Komandan
ketimbang dia sendiri.
Untuk sesaat di sana tadi
aku tak tahu bersikap apa.
Selama ini aku menjadi Komandanmu
aku akan selalu menjadi Komandanmu.
Itu saja.
Tehnik pedang Yang sulit dan kuat.
Gunakan payung kalian dengan gerakan yang feminin.
Manfaatkan licinnya hujan.
Gunakan "yin" untuk melawan "yang"
hanya itulah cara kita bisa menang.
Mendung dan hujan tiada henti.
"Kita akan menang saat air pasang".
Hujan ini sudah 4 hari.
Jika terus hujan selama 3 hari lagi
air sungai akan meluap
dan Kota Jing akan tergenang hujan badai.
Komandan amat tepat memilih momen ini untuk berduel.
Apapun yang terjadi, menang atau kalah, momen seperti ini telah tiba.
Salah atau benar
benar atau salah
sama kayak permainan catur.
Tapi siapa, pada akhirnya
yang jadi pion?
Maka menjadikan aku seorang selir
juga merupakan taktik dalam permainanmu?
Cuma permainan improvisasi saja sebagai gerakan umpan.
Lalu apa gerakan yang sesungguhnya?
Kalau begitu katakan, apa rencana sesungguhnya?
Untuk besok
untuk memperlancar kemenangan.
Kau begitu muda meninggalkan rumah.
Apa kau tahu jalan pulang?
Kurasa tahu.
Kau bisa menemukan jalan itu?
Kata orang anak anjing terlahir
bisa menemukan tempat kelahirannya
dengan mengendus aromanya.
Selama ini aku rindu pulang.
Aku tahu bisa menemukan jalan pulang.
Sebenarnya...
aku juga jauh dari rumah.
Tapi bukankan Pei ini rumahmu?
"Rumah" mempunyai banyak arti.
Jing.
Untuk mempercepat kemenangan.
Aku tahu
besok aku tak bisa menang.
Sebenarnya
kau punya banyak kesempatan untuk menolak.
Kau bisa saja lari.
Kenapa tak kamu lakukan?
Kau selalu saja nampak begitu patuh.
Sangat bersedia melakukan ini.
Karena dirimu.
Saat aku kecil, aku memang dipaksa.
Namun sejak aku beranjak dewasa,
dan mulai mengenalmu hanya ada satu hal dalam benakku.
Aku mau lakukan
apapun demi dirimu.
Dalam pertarungan besok
aku hanya akan jadi umpan.
Tak ada yang peduli apakah umpan akan hidup atau mati.
Aku peduli.
Malam ini
apakah malam terakhir kau berada disini?
Ya.
Madam.
Terima kasih.
Lapor Jenderal Yang. Komandan dari Pei telah datang sendirian.
Katanya dia datang sesuai kesepakatan.
PINTU MASUK KOTA JING
Ayah, bagaimana kapal itu bisa melewati pertahanan kita?
Semacam trik murahan.
Jenderal Yang
Raja bodoh kita telah memecatku.
Aku tak punya wewenang lagi.
Tak punya tentara. Menghormati perjanjian kita sebagai pria sejati
duel dengan rakyat biasa ini
untuk melihat siapa yang bisa menang.
Ayah
sepertinya ada yang aneh.
Gambar taichi di geladak itu
mungkin saja perangkap.
Itu cuma mistis saja.
Aku penasaran ingin tahu,
permainan apa yang dia inginkan.
Aku tahu kalian sepakat untuk melakukan ini,
namun ayah tetap harus waspada.
Bagaimana kalau membawa beberapa prajurit?
Kami berdua telah membuat perjanjian pria sejati.
Dia datang sendirian, jika aku bawa prajurit
apa aku nanti tak nampak bodoh? Ambilkan tombak-pedangku!
Ayah, kumohon berhati-hatilah.
Jagalah Pintu masuk, lindungi bendera panji kita.
Siap, pak. Akan kujaga dengan nyawaku.
Perhatikan bagaimana aku memberi dia pelajaran.
Ayo.
Tuan Puteri?
Tuan Puteri!
Ini Payung Pei
dibuat khusus untuk duel ini.
Dengan hormat mohon Jenderal ajari dan bimbing hamba.
Ronde 1.
Aku bisa lihat
kau begitu menderita menyiapkan ini.
Aku tak berani melakukan sebaliknya.
Ronde 2.
Tiap busur, hanya untuk 12 panah.
Jadi masukkan dengan benar, jangan sampai macet.
โช!!
Jenderal Muda, musuh menyerang Kota!
Lepas busurnya!
Buka payung!
Tembak!
Hadang!
Ping!
Ronde 3.
Ronde 3!
Bagus sekali.
Belum pernah ada dalam sejarah keluarga kami
menghadapi orang yang bisa bertahan dalam 3 ronde
melawan tombak-pedang Yang.
Lumayan. Kubantu kau menghindari rasa malu.
Kita anggap duel ini seri, dan sudahi sampai disini.
Kita mulai lagi. / Kita sepakat untuk berduel
untuk menentukan seorang pemenang.
Jika tetap kita teruskan ini
akan jadi duel hidup dan mati.
Ayo!
Kota Jing telah direbut!
Kenapa seorang gadis sepertimu tidak di rumah saja?
Apa kau kesini mau cari mati?
Kau telah menghinaku.
Menghinamu?
Aku sendiri tak mengenalmu.
Katamu ingin menjadikanku selir.
Rupanya kamu?
Aku...
aku kesini untuk mengembalikan ini padamu.
Apa?
Istriku tercinta
telah memanfaatkan "bayangan".
Benar atau salah?
Ada sesuatu
yang tak harus benar atau salah.
Yang terjadi terlanjur terjadi.
Suamiku
sekarang ini
aku ingin bermain musik denganmu.
Kota Jing telah direbut!
Kota Jing telah direbut!
Ping...
broth3rmax
Ibu!
Komandan telah berjanji untuk membiarkan aku pergi.
Komandan telah berjanji untuk membiarkan aku pergi!
Aku diperintahkan untuk tidak melihat wajahmu.
Atas perintah siapa?
Perintah Sang Raja.
Baginda Raja menyuruhku menanyakan:
apa kau ingin kembali?
Dimana Tuan Puteri?
Dimana dia?
Dimana dia?
Baginda.
Tuan Puteri
memakai belatinya Ping
untuk membunuh dia.
Ha!
Hari ini kita merayakan
perebutan kembali tanah kita.
Sulang pertama
ditujukan untuk Komandan.
Mohon tunggulah
pahlawan besar Pei
sebentar lagi akan tiba.
Sesuai perintah Sang Raja, penggal dia!
Komandan telah tiba!
Baginda, Komandan telah tiba.
Mari sambut Komandan kita.
Hamba
melapor Baginda.
Kau telah berjuang gagah berani.
Mohon berdirilah
dan duduklah di samping Madam.
Terima kasih, Baginda.
Madam.
Kau telah kembali...
Ya.
Hari ini kerajaan Pei
telah merebut kembali Kota Jing.
Kerajaan kita bersuka cita.
Sesuai perintah Raja, sulang pertama ini
ditujukan untuk Komandan.
Kita minumnya lain hari saja.
Kalian semua boleh pergi sekarang. / Raja memerintahkan
semuanya pergi.
Menteri Lu.
Kau tetap disini.
Ayo, terimalah.
Untuk prestasimu.
Tahu kenapa aku menaikkan jabatanmu?
Menganggapmu sebagai orang kepercayaan terdekatku?
Terima kasih terdalam hamba atas kepercayaan Baginda.
Kepercayaan apa?
Kau
punya keahlian khusus.
Kau diam-diam melapor ke Yang
membuat kemenangan kita jadi mungkin.
Berapa emas yang dia bayarkan padamu?
He he he
Ha ha ha
Kaget aku sendiri yang bunuh dia?
Ini karena aku sungguh senang
ketika dia menyampaikan lamaran pernikahanku, Yang menyuap dia, dan dia kembali,
melamar adik perempuanku menjadi selir.
Aku tak peduli itu idenya siapa!
Aku harus renggut lagi nyawa itu.
Sekarang karena kau telah kembali
pikiranku jadi tenang.
Kau
benar-benar berbakat.
Kerajaan kita tak bisa apa-apa tanpa dirimu.
Mirip.
Sangat mirip.
Bukankah kau sepakat?
Kau tahu
ada satu hal yang membebani pikiranku
jauh lebih berat ketimbang merebut kembali Kota Jing.
itu membuatku tak bisa tidur.
Namun yang bisa kulakukan hanyalah menunggu.
Menunggumu.
Kau membantu merebut kembali kotaku.
Sekarang biar kulakukan sesuatu untukmu.
Tak ada orang disini kecuali kita.
Biar kubuat gampang saja.
Pasangan palsu,
itu tak sebanding dengan pasangan asli.
Akan kubuat keinginan kalian terwujud.
Dan mengenai si Komandan
dia menginginkan jadi terhormat selamanya.
Keinginannya itu juga menjadi kenyataan.
Tugas seorang Raja
membuat impian rakyatnya menjadi kenyataan.
Saat kita melangkah keluar dari ruangan ini
dunia tahunya hanya ada 1 Komandan.
Yaitu yang patuh dan setia.
Kau dan aku, Raja dan Komandannya
kita berdua.
Bagaimana menurutmu?
Sudah kuduga kau akan kembali.
Hanya orang bodoh yang tak mau kembali.
Suami muda sangat penting
berada disisimu siang dan malam.
Bagaimana menurutmu, Madam?
Bagus!
Kau datang tepat waktu.
Mulai nanti malam, aku bisa tidur dengan nyenyak.
Tidak...
Bukankah kau menginginkan pembalasan?
Selama bertahun-tahun, aku tak paham.
Akhirnya
kita berdua bisa menemukan kejelasan.
Hhh...
ha ha ha
Hhh...
ha ha ha
Hhh...
Apa kalian menyangka
kepalaku
yang di dalam kotak itu?
Huh?
Ada sesuatu yang harus diketahui semua rakyat Pei
kalau dia hanya
tak pernah memahami:
akulah
yang menjadi Dewa Pei.
Hi hi hi
Tanpa yang asli tak mungkin ada "bayangan".
Satu prinsip yang tak dipahami semua orang.
Huh?
Kau
mengirim pembunuh untuk menyerangku.
Huh?
Kau membuat ibunya Jing terbunuh
dan mau melempar kesalahan padaku
huh?
Bagaimana bisa ada orang sekeji itu
menjadi Raja Pei?
Suamiku... / Tak usah hiraukan aku!
Waktuku tak banyak tersisa.
Serahkan saja semuanya
padaku.
Jing.
Jing!
Bunuh dia! Balaslah kematian ibumu.
Lalu ambil saja Madam untukmu.
Kuhabiskan seluruh hidupku
dalam bermain kekuasaan dan perang.
Tak pernah merasakan keindahan dunia ini.
Tolong wujudkan keinginanku.
Pergilah!
Semakin jauh, semakin baik.
Pergi!
Komandan
tanpa yang asli
tak akan ada "bayangan".
Kau pasti sudah lama sekali memahami ini.
Baginda,
hamba akan panggilkan tabib Istana.
Tenanglah.
Seorang pembunuh telah menyerang Raja kita.
Raja sudah mati.
Aku, Komandan kalian
telah membunuh si pembunuh itu
di tempat!
broth3rmax, 8 Desember 2018
no resync/re-upload/delete-credit broth3rmax, 8 Desember 2018
follow Instagram: @broth3rmax
TAMAT
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.