All language subtitles for pee mak

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Tolong.

Tolong aku.

Tolong…

Tolong…

Tolong…

Pee Mak.

Pee Mak

Ini sudah lama sekali...

...dan masih belum ada bantuan datang untuk menyelamatkan kita.

Musuh sudah mengepung kita dan menerobos garis pertahanan kita.

Pasukan kita...

...sudah banyak yang gugur dan terluka.

Jika terus-terusan begini...

...kurasa...

...kita pasti akan kalah.

Kenapa kau bicara seperti itu?

Dasar tidak berguna. Kau berasal dari jaman kegelapan ya?

Prajurit Mak terluka.

Hei, Mak!

Aduh.

Separah apa, dok?

Kau akan cepat sembuh.

Kau cuma keseleo.

Keseleo?

Sial!

Kau mengerang...

...seperti cacing kepanasan.

Apa aku bisa pulang ke Phrakanong?

Nak, istriku mungkin sudah melahirkan.

Ini bukan akhir riwayat kita kan?

Brengsek!

Kita jangan menyerah!

Ingat pertempuran Thermopylae di film "300"?

Raja Leonidas.

Stelios.

Mereka semua kekurangan prajurit dan senjata.

Tapi pada akhirnya...

...semuanya mati, kan?

Begitukah?

Maaf.

Aku tak menontonnya sampai habis.

Kalau begitu ingat film "Rocky"?

"Rocky Road" (rasa es krim)?

Enak itu! Mana?

Mana es krimnya?

Ya ampun.

Bagaimana dengan film "Last Samurai"?

Saat pertempuran akhirnya, dia berjuang keras hingga pedangnya hancur.

Dia bahkan tidak berpikir untuk menyerah.

Sementara saat ini kita masih punya pedang.

Tangan dan kaki yang lengkap.

Brengsek!

Maafkan aku.

Kalau begitu pedang saja deh.

Apa kita tak punya kesempatan berjuang?

Yeah!

Bunuh mereka!

Bunuh mereka!

Sial.

Mereka punya pistol. Aku lupa.

Aduh.

Kau tak apa-apa, Mak?

Hei, Shin.

Karena kita semua akan mati...

...boleh aku tanya sesuatu padamu?

Kenapa model rambutmu jelek begitu?

Ketika aku kecil ada wabah pes merebak.

Aku hampir meninggal.

Jadi ibuku bersumpah ke Tuhan jika aku berhasil bertahan hidup...

...akan kujaga model rambutku ini sepanjang hidupku.

Lebih baik aku mati daripada hidup dengan jambul sejelek itu.

Mirip pergelangan kaki anjing yang bengkak.

Kalau rambutmu sendiri?

Ini sekarang sedang tren.

Jangan menembak lagi!

Mak, kau punya kata-kata terakhir?

Aku tak punya kata-kata terakhir.

Apapun yang terjadi, aku akan pulang untuk menemui istri dan bayiku.

Takkan kubiarkan diriku mati di sini.

Begitu juga dengan kalian semua.

Pee Mak…

Pee Mak…

Pee Mak…

Pee Mak…

Kenapa keluar? Cepat masuk.

Pee Mak…

Pee Mak…

Pee Mak…

Pee Mak…

Terlalu banyak yang main. Kau jangan main dulu.

Kenapa tidak boleh?

Tidak punya uang tunai, tidak bisa main.

Ayo lanjutkan.

Kau mau mengocok kartunya hingga subuh, ya?

Kenapa kau tak buat pertunjukkan kartu saja?

Apa ayahmu si David Blaine?

Cepat bagikan. Ayo.

Hei, ada apa?

9 murni.

Sial! Aku 0.

Aku dapat 1, bayar.

Kau kenapa?

Lukaku kambuh.

Aku tak percaya kau berhasil bertahan hidup.

Kau pasti tidak terkalahkan.

Aku senang kalian membawaku kembali kemari.

Kami yang seharusnya berterima kasih.

Tanpamu, Mak, kami semua sudah mati.

Oh, sebenarnya kalian harus memanggil namaku...

...Mark.

Hah?

Marrrrrrk?

Panggil saja aku "Mak".

Satu-satunya orang yang memanggilku "Mark" adalah ayahku.

Tapi dia sudah pulang ke Amerika dengan misionarisnya.

Semua orang di desaku memanggilku "Mak".

Sakit kepalaku.

Hei, kita sampai ke Phrakhanong.

Sudah sampai?

Akhirnya.

Dimana orang-orang?

Terima kasih. / Kembali.

Nak.

Nak.

Nak, Sayang.

Aku pulang.

Nak.

Apa Nak sedang buang air?

Hei, Nak.

Kau tadi dimana?

Aku khawatir sekali.

Kukira aku takkan pernah melihatmu lagi.

Jangan menangis, Sayang.

Kau takkan terlihat tampan.

Tahukah kau, Sayang...

...ketika aku di medan perang...

...aku merindukanmu.

Aku sangat merindukanmu.

Aku sangat sangat sangat merindukanmu!

Aku merindukanmu melebihi siapapun di dunia.

Ya ampun, Mak sudah terjerat!

Sayang, apa kau merindukanku juga?

Tidak.

Kenapa tidak?

Kau sudah tidak mencintaiku lagi kah?

Dasar gila.

Tentu saja aku mencintaimu.

Cuma bercanda kan?

Jangan bercanda seperti itu.

Gombal sekali.

Nak, bagaimana bayi kita?

Dia sedang bermain di situ.

Hei. Sini ayah lihat.

Wow, dia tampan seperti ayahnya.

Kau tahu, aku memberinya nama kesukaanmu.

Benarkah, Nak?

Dang.

Dang, anakku.

Apa kerennya nama Dang?

Pikir saja sendiri.

Nama pembantuku saja lebih keren.

Hei, semuanya.

Ini istriku, Nak.

Halo.

Nak, ini teman-temanku.

Ini Aey.

Ter, Puak dan itu Shin.

Apa yang akan kalian lakukan sekarang?

Kurasa malam ini susah menemukan kapal.

Kami akan tinggal di sini semalam. / Kenapa cuma semalam?

Kalian bisa tinggal di sini hingga perang selesai.

Rumah di seberang itu, sudah kosong sejak bibiku meninggal.

Ada perahu yang bisa kalian pakai. / Ya ampun.

Bibinya takkan menghantui kita kan?

Shin, dia akan menghantuimu hingga rambutmu rontok.

Kami akan tinggal semalam. Kami tak mau mengganggu.

Hei.

Mereka menyambut kita dan kau menolaknya?

Kau tak punya sopan santun ya, Aey.

Benar kan?

Istri Mak cantik sekali.

Hei, hati-hati. Itu istri teman kita.

Kau tahu, aku ini bukan prajurit yang baik.

Bagaimana bisa?

Karena saat perang...

...aku tidak pernah memikirkan Siam...

...ataupun negaraku.

Yang aku pikirkan cuma engkau.

Prajurit sepertiku harusnya dieksekusi oleh pasukan penembak.

Benar.

Kau memang seharusnya dieksekusi.

Kau tahu...

...setiap hari aku menunggumu di dermaga.

Aku sekarang di sini.

Aku janji padamu.

Aku takkan lagi pergi kemana pun.

Hei.

Nak.

Rumah kita ada kunang-kunang juga?

Wow, indah sekali.

Itu hantu "Krasue" (hantu pemakan hati orang). / Apa?

Nak.

Kenapa kau bercanda seperti itu?

Kau kan tahu aku sangat takut dengan hantu.

Apa yang kau cari?

Aku akan memakai jimat Budhaku.

Dokter melepasnya saat mereka membalutku.

Oh.

Banyak darah di kalungmu. Jangan dipakai dulu.

Biar nanti aku bersihkan. / Baiklah.

Istriku adalah wanita paling baik di Siam.

Dan kau juga wangi.

Di kuil ini...

...ada...

...7 pohon palem.

Bukit Myna sudah tidak ada...

...tapi belum kembali.

(Meniru kicauan burung)

(Meniru kicauan burung)

(Meniru kicauan burung)

Hei, lihat. Burungnya tidak takut dengan orang.

Lucu ya.

Ya. Lucu sekali.

Lucu apanya! / Sial.

Kenapa pagi-pagi jadi pecinta binatang? Kau tak lihat kami sedang tidur?

Bagaimana kami bisa tidur jika kau berkicau.

Dan ini juga burung tukan makan. Pergi sana. Makan di tempat lain.

Pergi. Pergi dari rumahku.

Hei! Bangun semuanya.

Kau datang pagi sekali.

Jika terlambat maka pasarnya tutup.

Apa itu di kapal?

Mayat tentara yang mati di perang.

Kuburan semuanya penuh.

Kami harus kembalikan mayat ini ke keluarganya...

...untuk dikuburkan.

Hei.

Ayo dayung.

Ya ampun.

Ikan gabus.

Segar! Kecil dan besar. Kami semua punya.

Wow.

Hari ini pasarnya ramai sekali.

Halo.

Jajanan?

Kami juga punya makanan penutup dan kue-kue.

Bibi Nim.

Aku mau 2 kue dan 2 makanan penutup itu.

Mak. / Ya?

Semuanya sudah habis.

Sial. Kita tidak bisa makan apapun.

Paman Aum.

Mak. / Aku mau beli ikan untuk Nak.

Tidak untuk dijual. Hari ini hari suci Budha. Aku lepaskan mereka.

Sathu. Pergi. Pergi. Pergi.

Jangan menghalangi.

Menurutmu, apa sikapnya itu benar?

Ada apa dengannya?

Toko minuman beralkohol

Bibi Priek.

Bangunlah. Pelanggan datang.

Bibi Priek.

Bibi tidak ingat denganku?

Ada lowongan pekerjaan yang bisa kukerjakan?

Tidak ada.

Ya ampun.

Menurutmu berapa banyak pegawai yang diperlukan di toko minuman beralkohol?

Kau pikir aku butuh bagian penjualan?

Pencampur minuman? Pelayan? Penyambut tamu?

Bartender? Pencuci piring? Pembersih meja?

Aku punya semuanya.

Ayo minumlah.

Dia bahkan punya orang untuk menemani minum.

Bagus sekali.

Sepertinya kau kukenal.

Aku Mak.

Aku baru kembali dari perang.

Jika aku tak bertemu Nak duluan, pasti aku akan dekati Bibi.

Bibi terlihat cantik.

Secantik hantumu!

Kau benar-benar tidak tahu ya, Mak?

Jika kau ingin tahu...

...menunduk dan lihat di antara kakimu, kau akan lihat Nak dan anakmu itu…

Ibu.

Diam. / Ping.

Ibu sudah mabuk. Istirahatlah. / Ibu tidak mabuk. / Ibu.

Kenapa kau tidak lepaskan ibu? / Ayolah. / Ibu tidak mabuk.

Maafkan aku. Ibu selalu membual jika sedang mabuk.

Masuk. / Nak! Nak!

Nak! Biar dia kemari. Aku tidak takut!

Nak… Biarkan dia kemari.

Ada apa dengannya?

Semuanya bersikap aneh kan? / Iya.

Lagipula apa maksudnya Bibi Priek?

Kenapa kau harus melihat di antara kaki?

Latihan yoga?

Ibuku pernah bilang...

...kalau kau melihat di antara kaki...

...kau bisa tahu apakah orang itu hantu.

Maksudmu…

...Nak itu hantu?

Itu gila.

Dia terlalu seksi untuk menjadi hantu. / Benar.

Cantik seperti itu...

...meski dia hantu, aku masih mau.

Lalu kenapa Bibi Priek bilang begitu kepada Mak?

Karena dia mabuk.

Jadi semua yang dia katakan omong kosong.

Dimana Mak?

Kenapa dia tidak minum dengan kita di sini?

Hei, Aey.

Kau menumpahkan minumannya.

Bung, bawa Mak ke sini. Cepat.

Kenapa harus aku?

Karena kau yang minumnya paling sedikit.

Sudah lebih 1 jam, segelaspun kau tak habiskan. / Benar.

Kita kan semuanya mabuk. Jadi, sana pergi.

Oops, salahku.

Hei jangan dibuang-buang. / Cepat.

Mak!

Mak!

Nak, Mak di sini?

Hai, Shin.

Nak.

Apa Mak di sini?

Dia sedang tidur.

Aku akan membangunkannya.

Silahkan masuk dulu.

Dimana Dang?

Nak...

...kau tak apa-apa?

Kau kehabisan "sabut kelapa" (pembalut untuk wanita)?

Shin! Kau ini kenapa?

Puak. Tolong tampar aku?

Keras sekali.

Kau kan yang minta.

Dimana Mak?

Kenapa dia tidak minum dengan kita di sini?

Hei, Aey.

Kau menumpahkan minumannya.

Sial. "Déjà vu".

Apa maksudmu dengan "Déjà vu"?

Kau pergilah dan bawa Mak ke sini sekarang. Cepat.

Tidak mau, kenapa harus aku?

Apa yang kau takutkan?

Kalau Nak benar-benar hantu, peluk saja dia.

Tidak ada yang namanya hantu.

Kau mau taruhan?

Kali ini kau tak bisa mengerjai aku.

Suara drum perang menggelegar saat berangkat untuk perang.

Rasa haus kita akan peperangan besar meski tidak ada tumpangan gajah.

Senja memenuhi kekosonganku dengan rasa cintaku pada orang yang kusayang.

Bangkit dari titik pelepasan aku naikan bendera putih untuk menyerah.

Aku menerobos keluar dan menggosok pedangnya. Yay!

Kau ini kenapa, Shin?

Dimana Mak? / Nak itu hantu!

Nak benar-benar hantu.

Omong kosong apa ini?

Jika kau mabuk, muntah saja di situ.

Benar. Aku ke rumah Mak.

Rumahnya terlihat hancur dan terlantar.

Mungkin Nak sedang malas. / Tapi tempat tidur bayinya mengayun sendiri.

Mungkin ada angin kencang. Kau sedang berhalusinasi.

Halunisasi apanya!

Aku lihat Nak ada di atas rumah. Tapi dia bisa ambil jeruk di kolong rumah.

Mungkin salah satu lengannya lebih panjang?

Kau tak tahu ya, kalau lengan kita tidak sama panjang?

Lihat punyaku. Lihat? Tidak sama kan?

Mungkin Nak menggunakan tongkat untuk mengambilnya.

Kau mabuk dan berhalusinasi.

Hei, kau ingat lagu berbaris kita?

Ayo menari. Siap.

Suara drum perang menggelegar saat berangkat untuk perang.

Rasa haus kita akan peperangan besar meski tidak ada tumpangan gajah.

Senja memenuhi kekosonganku dengan rasa cintaku pada orang yang kusayang.

Mak.

Tidak bisakah kita tidur lebih lama?

Ayolah. Bantu aku.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengan penduduk desa.

Cuma kalian yang bersedia membantu.

Hei, Shin.

Kau sudah selesai paniknya?

Ter, bangunlah dan ikut bantu kita.

Ya, Ter.

Pergilah ambil kapak dan bantu Puak.

Tanya Nak dimana kapaknya.

Apa lagi?

Aku pergi ke rumah Mak. Rumahnya terlihat hancur dan terlantar.

Ibuku pernah bilang...

...kalau kau melihat di antara kaki...

...kau bisa tahu apakah orang itu hantu.

Oh aku…

...mencari kapak. Kau tahu dimana?

Shin.

Aku sudah lihat di antara kaki, aku tidak lihat apapun.

Jadi berhentilah ketakutan.

Benarkah? / Ya.

Bagaimana mungkin?

Astaga.

Sial!

Sial, aku masih belum selesai.

Sial!

Aduh.

Sial, aku melihat #$^&*@%^

Hei, Ter. Wajahmu kenapa?

Aku melihat #$^&*@%^

Kau bicara apa?

Ada #$^&*@%^

Dia bicara apa?

Terima kasih.

Astaga.

Nak itu %^#*@!

Kau itu bicara apa?

Nak itu...

...adalah…

Aku ini apa?

Hei, Ter, wajahmu kenapa?

Hei, kau disengat lebah?

Ibuku bilang, gunakan pasta batu kapur untuk menyembuhkannya.

Kau bisa membuatnya, Nak?

Aku coba dulu.

Terima kasih.

Hati-hati langkahmu ya.

Nak itu #$^&*@%^

Aku melihat #$^&*@%^ di belakang rumah.

Dia benar-benar #$^&*@%^

Ter, jangan konyol.

Kau bicara apa?

Peepee Poopoo, aku tidak mengerti.

Nak adalah hantu.

Hei, di luar hujan, masuklah.

Ter.

Wajahmu kenapa?

Kertas apa itu?

!!?seng!!bah (Disengat lebah)

Sini aku lihat. / Lihat apa?

Kertasnya.

Kertas apa? Aku tidak punya.

Ter.

!!?seng!!bah.

Aku mau lihat kertasnya. / !!?seng!!bah

Sini aku lihat.

Ter.

Ter.

I @^**&^^!# @^*#^*#$^ @^*)* I -+!@&^

Dia bilang "Hujan. Dia mau ambil baju yang dijemur". Dia mau pulang.

Puak, bagaimana kau bisa mengerti?

Aku juga tidak tahu.

Ayo pulang dan angkat jemuran.

Ya ampun, aku hampir menyukai hantu.

Apa yang kau lakukan?

Membereskan barangku dan pergi. Kita tidak bisa tinggal di sini.

Kau yakin, Ter?

Tentu. Aku lihat dengan mataku sendiri. Cincin rubinya sama dengan milik Nak.

Apa batu rubinya besar?

Brengsek. Bukan itu maksudnya.

Waktu kau melihat di antara kaki, kenapa kau tidak melihat apapun?

Entahlah. Aku melihat di antara kakinya dan aku tidak melihat apapun.

Kecuali panci seksinya. / Apa?

Maksudku panci sungguhan di dapur.

Oh. / Dasar idiot!

Kau seharusnya melihat di antara kakimu.

Oh begitukah?

Kenapa tadi kau tidak bilang begitu?

Hah?

Menurutmu Mak bisa membaca?

Tentu. Dia terlihat syok.

Lihat, dia masuk ke dalam.

Aku sudah tahu semuanya.

Kenapa kau tidak memberitahuku?

Kau pikir aku akan merasa jijik?

Siapa yang memberitahumu?

Siapa yang memberitahuku itu tidak penting.

Kita kan sudah janji kalau tidak ada lagi rahasia di antara kita?

Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu.

Bagaimana jika kau tidak bisa menerimanya?

Aku tidak bisa mengambil resiko.

Kenapa aku tidak bisa menerimanya?

Aku kan dulu juga begitu.

Jika sudah tahu kenyataannya, kenapa masih terlihat sedang jatuh cinta?

Aku tak tahu.

Sial… aku tahu kenapa.

Nak itu "gross" (=jorok) bukan "ghost" (=hantu).

Jika dia jorok...

...memangnya kenapa?

Kalau kau benar-benar jorok itu menjijikkan.

Kau tak pernah punya bisul di ketiakmu? Tahun lalu ada 1 dan itu menjijikkan.

Ya ampun, buang-buang waktu.

Ayo kita berkemas dan pergi dari sini.

Ayo kita berkemas sekarang.

Hei, kenapa kau lama sekali, Ter? Ayo cepat.

Aku tidak bisa mengabaikannya.

Apalagi ini?

Apa kita akan membiarkan Mak tinggal bersama hantu?

Aku boleh tidak ikut, ya?

Tidak boleh.

Kau yang lihat lengan panjangnya Nak. Jadi kau yang jelaskan ke Mak.

Kenapa orang secantik itu menjadi hantu?

Apa ada orang?

Ada orang di rumah kah?

Hei, Ping.

Kenapa kau menangis?

Ada yang bisa membantuku menyembelih sapiku?

Aku turut berduka padamu.

Kau pasti benar-benar mencintai sapimu.

Tapi saat kau kelaparan, kau bisa makan apapun. Jangan terlalu dipikirkan.

Dulu aku makan anjingku sendiri. / Bukan itu maksudnya.

Sapi itu untuk persembahan upacara pemakaman.

Pemakaman siapa?

Ibuku.

Bibi Priek meninggal?

Tempo hari di pasar...

...setelah dia beritahu Mak soal Nak, Nak marah sekali dan membunuhnya.

Tadi pagi jasadnya ditemukan mengapung.

Shin dan Ter.

Sial.

Mak.

Mak.

Hei.

Ada apa?

Mak.

Aku harus memberitahumu sesuatu.

Kau tahu istrimu itu...

Istrimu itu…

Cantik.

Apa?

Oh ya, aku ingin memberitahu bahwa istrimu sangat cantik.

Seperti "Miss Universe".

Aku tidak bisa menunggu untuk memberitahumu itu.

Wow, kalian baik sekali.

Kalian tidak perlu membesar-besarkannya.

Oh tidak. Kami harus memberitahumu sekarang.

Lain kali tidak perlu terburu-buru.

Besok pun istriku masih tetap cantik.

Sampai nanti.

Pee Mak.

Kenapa kau tak undang teman-temanmu untuk makan di sini?

Anggap rumah sendiri, ya. Tidak perlu formal.

Silakan.

Semuanya ini enak lho.

Ya.

Aku lihat air liur kalian menetes. Ayo cepat dimakan.

Kami sudah kenyang.

Benarkah? / Benar.

Tadi di pasar ada makanan "buffet".

Wah.

Nanti Nak pasti sedih.

Dia bekerja keras sekali di dapur.

Tidak apa-apa, lain kali saja. / Terserah kalian.

Aku akan makan sendiri. Kalian pasti rugi.

Seharusnya tadi aku tidak makan banyak.

Setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya kita mencicipi.

Wow. Makanan ini kelihatannya enak sekali. Aku coba sedikit ya.

Silakan.

Enaknya. Nikmat sekali.

Sudah kubilang kan.

Kau juga harus coba.

Hah? / Ayo cicipi.

Cobalah. / Ayo Puak, makanlah.

Cobalah. / Makanlah.

Ya, cicipi saja.

Nak, dimana kau belajar memasak?

"Le Cordon Bleu" ya? (Sekolah memasak terkenal)

Shin, kenapa kau tidak makan apapun?

Ya, Shin. Ini jatahmu.

Iya. Itu masakan andalannya Nak lho.

Santaplah, Shin.

Suapan besar ya.

Bagaimana rasanya?

Nikmat sekali.

Nak-ku memang koki paling hebat.

Hei, ada yang mau menggendong Dang?

Dang-ku. Anakku.

Ciluk-ba! Ada apa, Sayang?

Mau bermain dengan Paman Shin ya?

Iya, Shin. Kau kan suka anak kecil.

Ayo main dengan Paman Shin.

Shin, gendong dia ya.

Dang-ku.

Oh, Shin, Dang benar-benar menyukaimu.

Cium aku, Paman Shin.

Cium aku, Paman Shin.

Cium aku, Paman Shin.

Lihat, dia terus tersenyum sekarang. Sini, sini dengan Ayah ya.

Kalian sedang apa?

Oh.

Aku tahu.

Kalian semua...

...suka bermain "charades" kan? (permainan tebak-tebakan)

Seperti yang kita lakukan saat perang, kan? Aku suka ide itu.

Nak, ayo gabung.

Main tebak-tebakan ya?

Cepat, Shin.

Lihat aku nih.

Lempar?

Lembing?

Atlet?

Lempar?

Buang?

Ikan trout?

Bukan?

Kok ikan?

Apa ya?

Dapur.

Dapur?

Oh… koki?

Koki cantik?

Sial, apa sih?

Dapur Nak?

Dapur Mak?

Bukan.

Dapur Mak dan Nak?

Bukan?

Kapan dia bisa menebak dengan benar sih?

Panci?

Pisau?

Tombak?

Benar! / Tadi aku bilang begitu kan!

Ada apa dengan tombak?

Apa itu? / Tubuh?

Ketiak?

Bulu ketiak?

Bukan? / Ketiak basah?

Ketiak bau?

Bukan!

Ketiak benjol?

Bukan itu juga.

Ya ampun!

Aku penasaran berapa sih IQ Mak?

Apa itu, ranjang?

Ranjang, kan?

Ranjang bambu?

Benar! / "Sebuah tombak dekat ranjang" (pepatah = ada bahaya di dekatmu)

Benar!

Yay…

Siapa yang menemukan pepatah ini?

Ayahmu pasti Shakespeare. Itu susah sekali.

Burung?

Terbang?

Kelelawar?

Baju? / Benar!

Anjing?

Lidah?

Anjing lidah ikan?

Anjing lidah ikan memakai baju?

Apa sih?

Ter, apa itu?

Oh Nak? / Bukan.

Cantik?

Seksi?

Apa?

Wanita?

Istri?

Oh aku tahu.

Hantu.

Ada hantu pakai baju.

Benar!

Yay…

Mudah sekali, Ter. Ini baju dan dia hantu.

Hantu pakai baju.

Ini pasti salah.

Jawaban Shin salah, kan?

Ya, Shin salah.

Bagaimana bisa salah?

Ini baju dan dia hantu! Jadi "Ada hantu pakai baju".

Yay.

Ada apa dengan otakmu!

Ini ada apa ya?

Jadi apa jawabannya.

Coba kulihat kertasnya.

Apa yang kau lakukan, Ter?

Aku masih lapar.

Oh ya. Aku lupa aku masak nasi di rumah, sebaiknya aku periksa.

Ya, aku juga mau mengingatkannya.

Ayo pulang sebelum hangus. Ayo cepat.

Bagaimana dengan bajunya? / Lupakan saja.

Kenapa kau tidak beritahu aku jawabannya dulu?

Aku kan sudah menjawab dengan benar. / Benar apanya. Hampir saja ketahuan.

Tunggu dulu!

Shin, cepat.

Shin, ayo.

Tunggu.

Sial.

Shin, cepat.

Hei, tunggu.

Ter, cepat. Ter!

Dia di belakangmu.

Ayo, Ter. Cepat!

Ter, lepas tali kapalnya. Ayo, pergi!

Dayung yang kuat.

Kenapa kita membelok?

Sial! Kita kembali ke situ lagi!

Ke arah sana!

Kenapa malah kau putar lagi?

Kalian buru-buru mau kemana?

Kalian tidak mau menyelesaikan permainannya?

Giliranku kan belum.

Kalimat apa yang mau kau peragakan?

U - S - D - S.

Puak! Apa artinya?

Artinya "Urus Saja Dirimu Sendiri." Kau masih saja bertanya?

Sudah. Pergi saja!

Sial, aku yakin Nak pasti akan mengejar kita.

Dia tidak akan membiarkan kita hidup.

Apa itu?

Sana periksa.

Keluar kalian dari rumah bibiku sekarang juga.

Kau kenapa, Mak?

Kalian tidak ada bedanya dengan penduduk desa...

...yang mengira kalau istriku hantu.

Kau harus dengarkan kami. Istrimu sudah mati.

Semua orang sudah tahu.

Istriku belum mati.

Ping bohong ke semua penduduk desa.

Mereka bilang begitu saat aku di medan perang.

Ping berusaha merayu Nak.

Ketika aku tidak menunjukkan rasa ketertarikan...

...dia menjelek-jelekkanku...

...dengan menyebarkan semua kebohongan.

Semua orang mempercayainya.

Sekarang semua orang membenci Nak juga.

Aku bisa bayangkan adegannya.

Tapi kau tak perlu ubah suaramu seperti itu. / Begitulah.

Ping membodohi kalian juga. / Kau lah yang sedang dibodohi.

Jaga kata-katamu. / Berhentilah jadi orang idiot.

Percayalah pada kami. / Kami memberitahumu ini...

...karena kau teman kami.

Aku tidak butuh teman seperti kalian!

Mak!

Mak!

Aku rasa…

...kita harus lakukan sesuatu yang benar-benar drastis.

Aku sudah mengusir mereka semua.

Memangnya mereka bilang apa?

Aku tidak perduli yang mereka katakan.

Mereka tidak boleh membicarakanmu seperti itu.

Jika kau memang hantu...

...seharusnya aku bisa menembusmu.

Aku coba ya.

Hei.

Hei, aku bisa menembusmu.

Wow.

Keren sekali!

Super keren!

Sudahlah.

Apa yang kau lakukan...

...sampai bisa sekotor ini?

Coba aku lihat makanan apa yang Sayangku persiapkan untukku.

Mmm.

Masakanmu selalu enak.

Nak, Cintaku, kau terlalu cantik...

...untuk menjadi hantu. Benar kan?

Tunggu!

Hantu!

Kenapa kau tidak mencoba menakutiku?

Ayo keluarkan lidahmu.

Takuti aku.

Ah kau tidak asyik. Boo!

Hei, Gendut, jangan buat aku memukul kepalamu ya.

Kau mau semalaman memakai topeng ini?

Kenapa tidak?

Ini kan lucu.

Baiklah.

Aku mulai merasa sedih, melihat jauh ke atas langit.

Sudah hampir malam, sinar mulai memudar.

Aku tahu waktu kita hampir berakhir.

Hatiku hancur tapi tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Aku ingin menangis…

...dan meminta waktu untuk berjalan pelan. Aku perlu waktu.

Untuk saling melihat. Aku berharap bisa hentikan waktu ini…

...selamanya sebelum kita harus berpisah.

Jika Dang bangun dan tidak ada siapapun dia tidak menangis kan?

Jangan khawatir...

...Dang tidak bangun di tengah malam.

Lihat.

10 sen tiap bola.

Jika kau bisa jatuhkan itu semua, kau dapat boneka.

Sayang, lihat ini.

Aku masih pemanasan.

Yang ini pasti kena.

Nyaris.

Ini pasti kena.

Ayo.

Yay!

Kena.

Aduh.

Ada kembang api.

Wow.

Lihat, Nak.

Bidikanku bagus. Aku akan dapat boneka untukmu.

Sejak kecil bidikanku selalu pas.

Antriannya panjang sekali.

Kita lewati saja permainan ini.

Kita coba yang lain saja.

Lihat, antriannya sudah tidak ada.

Kau benar.

Nak…

Kau mencintaiku kah?

Pertanyaan apa itu?

Kenapa?

Kau sudah tidak mencintaiku lagi?

Tentu saja aku mencintaimu.

Sangat mencintaiku?

Sangat sangat.

Sangat sangat sangat sangat sangat mencintaiku?

Hei, Sayang, lihat.

Ada rumah hantu juga.

Kita ke sana setelah ini ya.

Kau tidak takut hantu?

Siapa, aku?

Mana hantunya?

Ayo keluar. Hantu? Tidak ada yang perlu ditakuti.

Sayang...

...jika suatu hari aku meninggal...

...bisakah kau hidup tanpaku?

Kenapa kau bertanya hal ini padaku?

Jawab saja. Aku ingin tahu.

Tidak.

Jika ada yang akan meninggal...

...maka aku ingin meninggal terlebih dahulu.

Jika aku tidak memilikimu, aku tidak bisa hidup.

Tapi jika aku meninggal terlebih dahulu...

...kau pasti akan mudah menemukan suami baru.

Dengan pantat sebesar milikmu!

Rumah hantu

Tolong jaga bonekanya. / Baik.

Ayo masuk, Sayang.

Ya ampun, hantu apa yang masuk ke rumah hantu.

Nanti siapa yang menakuti siapa?

Aku bawa kekuatan ajaib.

Seperti apa?

Beras suci. Aku dapat dari seorang biksu.

Sangat keramat. / Bagus.

Oh ya, Aey dimana?

Dimana dia?

Hei.

Kau darimana saja, Aey?

Aku sakit perut.

Kau pergi lama sekali.

Sayang, jangan takut.

Mainlah denganku.

Boo!

Kurasa teriakanku terlalu keras. Hantunya jadi takut.

Maaf, Mak. Ini untuk kebaikanmu.

Main sini denganku. / Shin, kau yang jaga.

Cepat, Ter. / Puak, pegang kakinya.

Tidak bisa dibuka.

Sial.

Dia menuju kemari.

Kita harus apa? Pintunya terkunci.

Ya ampun.

Terlambat. Dia sudah dekat.

Sekarang bagaimana?

Aku tidak tahu.

Hei.

Kenapa kau lompat-lompat?

Si bocah itu kan juga begitu. Dia semangat sekali.

Mainlah denganku.

Mainlah denganku.

Mainlah denganku.

Mainlah denganku.

Mainlah denganku.

Mau main kah denganku?

Terserah padamu.

Menurutmu Nak tertipu kah?

Propertinya banyak sekali.

Apa-apaan ini?

Hei!

Kalian bukan pengunjung ya?

Atau kalian sudah selesai bekerja?

Kenapa tidak ada yang memberitahuku?

Sial. Membiarkanku bergantungan selama itu...

...bisa memberiku serangan jantung dan membunuhku.

Ayo kita pulang.

Ayo.

Hei, kau yang di sana. Sudah waktunya pulang.

Itu yang berpakaian seperti hantu Nak.

Wow, keren sekali.

Kau orang baru di sini ya?

Ayo pulang.

Ter. Dimana beras sucinya? Berasnya, cepat!

Ayo.

Kenapa kau berteriak seperti itu?

Itu cuma tangan palsu.

Berteriak seperti itu, membuatku panik.

Hei, lepaskan ikatannya. / Ayo.

Ada apa ini?

Nak benar-benar hantu.

Tidak. Itu semuanya cuma ada di kepala kalian.

Seperti tangan ini.

Mak, kemari.

Apalagi sekarang?

Sial, kau menakutiku.

Sial.

Kadal!

Kukira kau melihat….

Nak!

Kok ada berang-berang di sekitar sini?

Kalian tidak mau membiarkan soal ini ya?

Kami memberitahumu sesungguhnya.

Kalau kau tidak percaya, cobalah lihat di antara kaki.

Aku sudah coba dan tidak melihat apapun.

Mungkin caramu salah.

Kau harus melihat ke bawah di antara kakimu sendiri.

Bukan di antara kaki Nak! / Tentu saja.

Siapa yang sebodoh itu?

Istriku belum mati.

Hey, Mak, tunggu.

Mak, kau mau kemana?

Bagaimana bisa dia melihat tapi tidak melihat apapun?

Mak!

Mak! Kau dimana?

Mak!

Sial!

Apa itu darah Mak?

Sial.

Tolong!

Mak, kaukah itu?

Kau tidak apa-apa?

Tolong aku.

Aku terluka.

Tolong aku.

Mak.

Tolong.

Tolong aku.

Mak.

Ada apa?

Lukaku.

Dimana?

Darah banyak sekali.

Lukamu sudah lama, kenapa masih belum sembuh?

Kau punya sesuatu untuk menahannya?

Shin...

...ada yang tidak beres, kan? / Ya, aku tahu.

Ini sudah lewat musim hujan, kan?

Dasar idiot. Bukan itu!

Soal Mak yang melihat di antara kakinya tapi tidak melihat apapun.

Berarti…

...Nak masih hidup.

Tapi mayat yang kulihat di belakang...

...cincinnya sama dengan yang dipakai Nak.

Sial, jika dipikir-pikir...

...cincin yang kulihat, ada di jari manis tangan kirinya.

Lalu kenapa?

Itu cincin pernikahan.

Jadi berarti…

...harusnya Mak juga memakainya!

Terus tekan lukanya.

Puak, lihat.

Pelan-pelan.

Ter, apa yang kau lakukan?

Sial, Ter! Apa yang kau lakukan? Kau melukainya!

Ter, luka Mak masih basah.

Sial kau Mak, kau menakutiku.

Kukira kau memakai cincinmu.

Cincin pernikahanku?

Tanganku sakit jadi aku memakainya di leherku.

Ini mayat tentara yang berperang.

Kuburan sudah penuh sekarang.

Jadi kami harus kembalikan mayat ini ke keluarganya untuk dikubur.

Lukamu sudah lama, kenapa masih belum sembuh?

Tidak perduli apapun aku harus kembali menemui istri dan bayiku.

Ternyata dia.

Lari!

Ter, ada apa?

Ada apa sih?

Tunggu aku.

Sial. Jadi mayat yang aku lihat itu adalah Mak.

Jadi selama ini aku tinggal dengan hantu?

Jadi, Nak benar-benar dijelek-jelekkan.

Bagaimana dengan yang kulihat tangan Nak memanjang ke tanah?

Atau…

Mungkin Nak gunakan tongkat panjang untuk mengambil jeruknya.

Ya, sudah pasti galah itu.

Sial.

Apa kau yakin...

...bahwa Nak masih hidup?

Hore!!

Jadi kita harus ajak dia dengan kita.

Kau berani ambil resiko itu?

Ayolah.

Bagaimana mungkin kita meninggalkan dia seperti itu?

Seorang wanita, sendiri dan rapuh.

Aku tidak perduli. Apapun yang terjadi…

...Nak dan aku akan melarikan diri bersama.

Maksudku melarikan diri bersama kita?

Pikiranmu selalu gunakan kepala di celanamu. Aku tak mau melakukannya.

Hei.

Tapi Puak benar juga.

Kau juga Ter?

Jika suatu hari...

...Nak dihantui...

....kita juga yang harus disalahkan...

...karena tidak memberikan bantuan.

Manusia tidak bisa hidup dengan yang sudah mati!

Cepat.

Nak.

Nak.

Nak.

Lama tak bertemu, apa kabar, Nak?

Aku muak dengan para penduduk desa.

Mereka idiot.

Bisanya mereka percaya pada Ping.

Aku sudah bicara dengan mereka tapi mereka tak mau dengar.

Baru saja aku menangkap lebih banyak demi engkau.

Tolong terima permintaan maaf kami.

Sekarang, kami tidak ragu kalau kau belum mati.

Tidak apa-apa.

Shin. Apalagi yang kau takutkan?

Kesini.

Sini.

Sentuh dia. Percayalah padaku.

Ayo.

Kau benar-benar bisa menyentuhnya kan?

Hantu apa yang punya kulit selembut itu?

Bagaimana dengan makanan daun kering itu? / Ah kau itu.

Kesehatannya dia jaga. Menurutmu bagaimana cara dia menjaga tubuhnya?

Sekarang kan semua orang makan makanan organik.

Karena itu dia terlihat seperti model.

Tapi kan ada cacingnya juga.

Ya ampun.

Organik tidak pakai pestisida, makanya ada cacing.

Begitu penjelasannya, jadi aman untuk dimakan.

Kau tak pernah belajar kebersihan di sekolah ya?

Dimana Pee Mak?

Eehh...

Oh, batas peperangan sudah bergeser kemari.

Bahaya sekali.

Mak bilang ke kami untuk membawamu pergi bersama kami.

Benar.

Kenapa Pee Mak tidak ikut dengan kalian?

Jalan menuju kemari sangat susah.

Jadi dia mengumpulkan ransum dan menunggu di tepi laut. / Ya.

Ya.

Aku akan membawa Dang.

Ayo naik ke perahu.

Ayo, Nak.

Tidak jauh lagi. Mak seharusnya ada di sekitar sini.

Puak, perahunya mau tenggelam.

Sial.

Terlalu berat. Apa yang harus kita lakukan?

Buang saja barang yang tidak dibutuhkan.

Ayo. Lempar, Shin.

Hei, tetap duduk.

Bagaimana ini? Airnya mulai masuk ke perahu.

Apalagi yang bisa kita buang?

Apa Dang masih diperlukan?

Ya pastilah.

Dayungnya. Berikan aku dayungnya. / Hah?

Cepat berikan dayungnya. / Ini. / Berikan padaku.

Apa lebih baik?

Perahunya tidak tenggelam!

Bagus ya perahunya tidak tenggelam.

Tapi sekarang bagaimana kita mendayungnya, Bodoh.

Kenapa kau membuangnya?

Dayungnya sudah jauh.

Apa sebaiknya kita berenang ke arah sana?

Aku tidak bisa berenang.

Sial! Itu Mak!

Pee Mak.

Kalian mau kemana?

Mak, tinggalkan kami sendiri.

Kau sudah mati. Biarkan kami pergi.

Apa yang kalian maksudkan?

Mak meninggal saat perang. Tapi dia masih belum tahu. / Iya.

Lupakan saja dia, Nak. Sekarang kau bisa cari pacar baru.

Aku salah ya?

Kalian semua ini kenapa?

Kalian mau bawa istriku kemana? / Pee Mak.

Ayo pergi.

Cepat.

Ayo.

Pee Mak!

Pee Mak!

Pee Mak!

Pee Mak!

Pee Mak!

Pee Mak!

Sial! Dimana dia? / Aku tidak tahu.

Tolong. Tolong aku.

Pee Mak.

Hei, apa hantu bisa tenggelam?

Jangan biarkan dia menipumu.

Pee Mak.

Tolong, aku kram.

Pee Mak. / Dia kram!

Tolong aku. / Hantu bisa kram juga?

Tolong bantu Pee Mak.

Dia pasti sudah ikut kursus akting.

Tolong aku. / Guru aktingnya pasti Ang Lee.

Dia belum mati. Tolong dia!

Berikan tanganmu, Mak!

Pee Mak.

Tenang. / Kau baik-baik saja?

Apa-apaan ini? Kenapa kalian kabur dariku?

Kami pikir kau adalah hantu.

Lalu kenapa kau berteriak saat kami lempar beras suci kepadamu?

Karena berasnya menancap di lukaku.

Kalau itu kau, kau pasti teriak juga.

Sial. Masalah yang sama datang lagi.

Perahunya mau tenggelam.

Dang masih tetap dibutuhkan kah?

Tentu saja masih.

Teruskan mendayungnya

Ayo. Lebih cepat lagi.

Ayo.

Dayung. Perahunya mulai kemasukan air.

Cepat!

Tunggu.

Tunggu apalagi?

Perahunya mau tenggelam.

Awalnya kukira Nak hantu, dan Mak manusia.

Lalu berganti Nak manusia dan Mak hantu.

Akhirnya Mak bukan hantu, tapi manusia.

Jadi sekarang siapa yang hantu dan siapa yang manusia?

Ter, kau itu bicara apa? / Yah.

Aku mulai bingung sejak kau bicara.

Apalagi namanya hampir sama. Mak, Mak, Nak, Nak.

Tapi benar kan?

Kalau Nak masih hidup...

...dan Mak juga masih hidup...

...lalu mayat siapa yang ada di belakang rumah?

Aey...

...kenapa kau punya cincin ini?

Aey hantunya!

Kenapa pada saat kita menyadari sesuatu selalu ada kilatan petir sih?

Sial, jangan perdulikan itu.

Ter, tendang dia keluar.

Hei, ayo. Cepat kabur.

Perahunya mulai kemasukan air. / Ayo.

Ayo pergi.

Aey, maafkan aku. Bukan aku yang menendangnmu. Tapi Ter.

Lepaskan dia.

Ayo.

Cepat… Cepat.

Dayung lebih keras. Kita tidak bergerak.

Lebih cepat. / Sial!

Mendayung dengan tangan tidak akan ada gunanya.

Ini dayungnya.

Terima kasih. Berikan padaku, biar aku yang mendayung.

Berikan dayungnya, biar aku saja.

Tunjukkan dayung terbaikmu, Ter! Dayung.

Ter, kenapa kau tidak mendayung?

Ter, kenapa kau malah berhenti ?

Ayo mendayung, Ter. / Ayo, cepat.

Nanti Aey bakal menangkap kita.

Apalagi sekarang, Ter?

Ter, jangan berdiri. Perahunya nanti terbalik.

Apa-apaan sih ini?

Kenapa kau berdiri, Ter?

Mak, minggir.

Ada apa sih?

Shin, minggir.

Aku juga? / Yah, kau minggir.

Minggir kemana? / Kanan.

Baiklah.

Cuma Puak ya? / Shin, kau ke kiri.

Ke kiri? Kiriku atau kirimu?

Pilih salah satu! / Sebelah mana? / Mana saja.

Kiri siapa?

Sisi tangan kirimu yang kau gunakan untuk mengelap pantatmu.

Arah mana? / Lukaku sakit.

Mak, kenapa kau kembali lagi?

Minggir. / Minggir kemana?

Minggir kanan. / Oke.

Shin, minggir ke kiri. Kiri.

Arah mana? / Minggir ke arah mana saja.

Sisi mana? / Sisi mana? / Apa?

Ya ampun. Tundukkan kepalamu.

Dekatkan kepalamu ke kakimu!

Ya ampun, sekarang aku sakit.

Ya ampun.

Suara drum perang menggelegar saat berangkat untuk perang.

Kenapa sekarang kau menyanyi?

Aku tahu.

Dan kenapa sekarang aku jadi menari?

Bangkit dari titik pelepasan aku naikan bendera putih untuk menyerah.

Aku menerobos keluar dan menggosok pedangnya. Yay!

Nak hantunya.

Ayo pergi!

Mak, lompat! Mak, ayo!

Mak!

Mak!

Aku ikut.

Ayo, cepat. Ayo kabur.

Cepat.

Ter, cepat.

Berikan tanganmu, Ter! Cepat.

Mak, cepat!

Mak!

Shin, cepat lompat!

Shin, lompat. Lompat!

Shin.

Shin, lompat!

Shin, lompat!

Sudah kubilang aku kan tidak bisa berenang.

Pokoknya lompat saja.

Shin.

Shin, lompat! / Cepat lompat.

Tolong aku. / Hei, ayo.

Katamu kau tidak bisa berenang. Tapi berenangmu seperti Michael Pelps.

Nak.

Mak, ayo pergi.

Aku tidak mau.

Kau gila. Maaf.

Kenapa kau memukulku? Itu sakit!

Kenapa kau tidak pingsan?

Di film, aku lihat mereka melakukan ini dan mereka selalu pingsan.

Kau ini kenapa sih?

Puak.

Apa dia mati? / Aku tidak tahu.

Seret dia pergi. Cepat lari.

Ayo cepat.

Cepat.

Kami harus apa, Bapa?

Ingat, apapun yang terjadi...

...jangan keluar dari tali suci ini.

Akhir-akhir ini tinggal sedikit yang memberi donasi.

Sudah lama kami menunggu untuk diperbaiki.

Bapa.

Hampir saja aku ngompol di celanaku.

Akhirnya aku ngompol juga.

Bapa, selanjutnya apa?

Jangan khawatir. Akan kutangani ini.

Nak.

Mak, jangan.

Dengarkan aku, Sayang.

Jangan dengarkan dia. / Astaga, ternyata kau itu hantu.

Berhentilah bicara gombal.

Bapa, tolong lakukan apa yang seharusnya Bapa lakukan.

Ter.

Berikan aku air sucinya.

Jangan lukai istriku.

Jangan. Jangan lukai istriku. Lepaskan aku!

Nak.

Siram terus, Bapa. / Pee Mak. / Nak.

Tolong aku. / Mak, jangan.

Pee Mak. / Mak, jangan! / Nak.

Nak.

Lepaskan aku.

Brengsek kau, Ter.

Kau menumpahkan semuanya. / Tidak apa.

Shin, berikan aku beras sucinya.

Lepaskan aku.

Nak.

Nak.

Shin. / Nak.

Hey, lihat, jinak sekali. Makan dari telapak tanganku.

Kenapa tidak coba makan dari kakiku!

Ini bukan waktunya untuk jadi pecinta binatang. / Sudahlah.

Selama kita ada di dalam lingkaran tali suci ini. Kita aman.

Bapa!

Apa-apaan?! Tangan siapa ini?

Sial! Kemana sekarang?!

Kaukah itu, Shin?

Apa-apaan ini?

Sudah waktunya aku pergi.

Ya ampun. Biksunya berhasil menembus dinding.

Putar balik. Aku mulai merinding.

Cepat. / Nak.

Pee Mak. / Nak.

Pee Mak. / Nak.

Pee Mak. / Nak.

Pee Mak.

Ya ampun, sudahlah.

Ini kan bukan permainan memanggil nama.

Ayo kita ke arah sana.

Aey.

Aey, biarkan kami pergi. Kita kan sebelumnya berteman.

Aku tidak melakukan apapun terhadapmu.

Ter! Kau kan yang menendang Aey. Sudah kubilang jangan!

Aku bukan hantu.

Aku tidak percaya padamu. Jangan mendekat.

Jangan dorong!

Nak.

Sekarang kita harus apa, Ter?

Puak, kau masih basah kan?

Tentu. Kenapa memangnya?

Shin, Mak.

Akan kuhitung sampai 3, dorong Puak ke arah Aey sekarang.

Satu. / Bisakah kita berunding dulu?

Dua. / Sial.

Tiga. / Aku benci kalian semua.

Semuanya lompat ke dia. / Lompat untuk apa!

Lihat? Jika kau masih manusia, kenapa kau teriak waktu air suci mengenaimu?

Aku berteriak karena kalian di atasku, dan itu sakit!

Menjijikkan!

Ayo. Bangun. Bangun.

Bangun.

Kenapa air sucinya tidak melukaimu seperti Nak?

Sudah kubilang aku bukan hantu.

Lalu kenapa kau punya cincin itu?

Begini…

...aku butuh uang.

Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, cincin rubinya persis milik Nak.

Apa batu rubi-nya besar?

Dimana Aey?

Kau kemana saja, Aey?

Oh, aku sakit perut.

Maafkan aku.

Aku butuh uang untuk berjudi.

Aku salah menduga. Maafkan aku.

Aku kira kau hantu.

Tapi ternyata...

...tukang judi.

Dan kau terlalu banyak nonton film, selalu ambil kesimpulan sendiri.

Apa kalian lupa sesuatu?

Melupakan apa?

Kalau Nak masih berdiri di sini?

Nak.

Mak, ayo pergi. Lari!

Ayo.

Terkunci.

Yang ini terkunci juga.

Ya ampun, Nak.

Biarkan kami pergi.

Kau hantu harus tinggal di duniamu sendiri.

Kau tak bisa hidup dengan manusia.

Tidak wajar. Asusila.

Tidak akan berhasil. Tidak OKE.

Tidak bisakah kau mengerti?

Jangan main-main denganku!

Sial!

Nak menghilang.

Masih terkunci.

Apa yang akan kita lakukan?

Jika aku berhasil melewati ini, akan kusumbang banyak uang...

...untuk memperbaiki atap ini!

Puak...

...bukan karena atapnya.

Mak, lari!

Nak!

Tolong jangan lukai kami. Aku benar-benar takut.

Dengan bentuk normalpun, aku sudah takut.

Apalagi sekarang dengan kepalamu terbalik seperti "spiderman".

Kenapa kalian terus mencampuri urusan Pee Mak dan aku?

Apa yang sudah aku lakukan pada kalian? / Karena kau hantu jahat.

Kenapa kau membunuh Bibi Priek?

Aku tidak membunuhnya.

Dia mabuk, jatuh ke air dan tenggelam sendiri.

Aku tidak mempercayaimu.

Cantik tapi pembohong kelas berat!

Sudah kubilang aku tidak membunuh siapapun.

Ayo pergi!

Aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai.

Kenapa kalian harus menghalangi?

Ini bukan cinta. Tapi egois.

Benar. Mak tidak bisa pergi kemana-mana lagi.

Penduduk desa semuanya takut padanya.

Aku juga takut.

Kenapa kau tidak ke tempat yang seharusnya kau berada?

Ya, seperti bibinya Mak. Dia kan tidak kembali.

Begitu juga dengan Bibi Priek.

Mereka mungkin sudah reinkarnasi dan menikah lagi.

Kau sudah mati. Bagaimana kau bisa bersama Mak?

Jika aku tidak bisa bersama Mak di dunia...

...maka Pee Mak harus pergi denganku.

Kenapa kau masih berdiri di situ?

Mak.

Mak.

Setakut itukah kau padaku?

Maafkan aku.

Jika aku pernah melukaimu...

...aku tidak akan bisa tinggal dengan diriku sendiri.

Jangan menangis, Sayang.

Kau tidak akan terlihat tampan.

Maafkan aku.

Karena telah membohongimu selama ini.

Aku hanya ingin bersamamu selama aku bisa.

Bahkan walau hanya 1 hari lagi.

Kau masih ingat apa yang kita bicarakan di kincir berputar?

Maafkan aku.

Kau tidak boleh mati terlebih dahulu sebelum aku.

Berjanjilah padaku.

Saat aku pergi...

...kau harus meneruskan hidupmu.

Nak.

Kau tidak perlu pergi kemanapun.

Kau bilang kau membohongiku.

Kau sama sekali tidak membohongiku.

Meski aku bodoh...

...tapi aku tak sebodoh itu kalau aku tak tahu istriku memang sudah mati.

Aku mengantar teman-temanmu dulu ya.

Nak.

Nak.

Nak.

Apa yang kau lakukan...

...hingga bisa sekotor ini?

Coba aku lihat makanan apa yang Sayangku persiapkan untukku.

Masakanmu selalu enak.

Nak, Cintaku, kau terlalu cantik...

...untuk jadi hantu.

Benar kan?

Aku menyadari saat kita bermain permainan kata.

Meski semua penduduk desa menghindariku...

...dan tidak ada yang mau menjadi temanku.

Dan meski aku harus makan daun kering setiap hari.

Aku masih selalu ingin bersama denganmu.

Terima kasih.

Tapi itu tidak mungkin.

Kenapa tidak mungkin?

Kita bisa pura-pura tidak ada yang berubah kan.

Selama ini, kita baik-baik saja hidup bersama. / Tapi aku sudah mati.

Yang hidup dan yang sudah mati...

...tidak bisa hidup bersama. Itu tidak wajar.

Kalau memang begitu...

...cintaku padamu adalah keajaiban alam.

Ketika aku di medan perang...

Mak, apa kau punya kata-kata terakhir?

Seharusnya aku mati hari itu.

Tidak ada yang mengira aku bisa berhasil.

Tapi aku menemukan jalan pulang menemuimu.

Tolong.

Tolong.

Tolong.

Tolong.

Tolong.

Pee Mak.

Meski kau sudah mati...

...tapi kau masih bisa kembali untukku.

Kau juga menggunakan kekuatanmu untuk membantuku menembak targetku.

Agar kita bisa pulang membawa boneka untuk Dang.

Apa salahnya...

...jika kita saling mencintai sedalam ini?

Kau tidak takut padaku, Sayang?

Kau tahu aku takut akan hantu.

Tapi aku lebih takut jika hidup tanpa dirimu.

Cuma ada 1 hal.

Jangan pernah bergantung terbalik...

...seperti itu lagi.

Aku hampir kena serangan jantung.

Sial.

Aku tersentuh sekali.

Aku janji pada kalian.

Apapun yang terjadi...

...kita akan selamanya berteman.

Ya.

Jika kau mati dan menjadi hantu...

...aku tidak akan takut.

Tapi aku ingat kau yang menendangku keluar dari perahu.

Ayolah.

Aku sayang kalian.

Nak.

Kau mencintaiku?

Iya.

Seberapa besar?

Nak sangat sangat sangat sangat cinta Pee Mak.

Aku juga...

...sangat sangat sangat sangat mencintaimu.

Nak.

Nak.

Aku membutuhkan waktu untuk saling melihat.

Aku berharap bisa menghentikan waktu ini...

...selamanya sebelum kita harus berpisah.

Sayang, aku cinta padamu.

Berikan tanganmu, untuk memegang dan menjaga agar hatiku tetap hangat.

Biarkan aku menatap matamu agar aku tidak kesepian lagi.

Ijinkan aku miliki cintamu untuk menginspirasiku...

Atapnya sudah tidak bocor lagi, Bapa.

Beritahu kami jika ada yang bisa kami bantu lagi.

Semangat, Sayang.

Hati-hati tanganmu.

Apa?

Duri?

Rambut?

Kau? Dia?

Apa yang dia maksud kepala? / Yah?

Ada kepala di dalam kalimatnya. / Kepala semangka?

Kepala meledak? / Kepala kentang?

Kepala apa?

Kepala udara?

Tidak berkepala!

Tidak berkepala. Pee Mak benar.

Yayy!!

Ini pertama kalinya aku menebak dengan benar.

Shin.

Kalian tidak bahagia untukku?

Rumah hantu. Lebih menakutkan.

Mainlah denganku.

Wow. Terlihat sungguhan.

Seram sekali.

Terima kasih.

Ayo. Cepat.

Lihat ini.

Kau takkan pernah kena targetnya. Kau melempar seperti orang buta.

Kali ini jangan membantuku, ya?

Semuanya.

Mak sudah keterlaluan.

Benar!

Kita tidak bisa biarkan hal yang tidak wajar masuk ke desa kita lagi.

Ya! Kita tidak akan memperbolehkannya.

Tidak akan!

Malam ini aku akan melenyapkannya.

Ada yang mau ikut denganku?

Kami!

Aku juga mau ikut.

Sial.

Sebaiknya cepat sebelum kau ketinggalan.

Ayo. Cepat.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.