Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Michelle!
Hai, Sayang.
Ini dia. Rumah baru kita.
Sebenarnya tak baru. Kuhabiskan masa kecilku di sini.
Liv bermalasan lagi, membaca majalah.
Lalu?
- Lalu apa? - Lumayan, 'kan?
Mungkin agak terlalu kecil.
Kemari dan lihatlah.
Ini ruang tamu kita yang indah.
Dengan suvenir favoritku dari rumah.
Matthias. Agak gemuk.
Ini tempatku berbisnis katering. Untuk sementara.
- Tempat yang harus kujauhi. - Ya, tepat.
- Kita masih harus membuang itu. - Ini? Kenapa? Aku menyukainya.
Cinta sejatiku.
- Kau konyol. - Aku tak melakukannya dengan benar?
Tentu saja benar.
Waktunya pas sekali.
Sekarang, kita akan tidur, Kawan.
Aku akan pergi.
Aku tak suka ini.
Kau suka ini?
Ini gaun Nenek.
- Awas kepala. - Kau menakutiku!
Hei, Bocah Kecil. Halo. Cilukba.
Lihat kemari.
- Itu Paman Timme dan Ayah. - Lihat.
Sapa mereka. Dah.
Sapa Ayah.
Cepatlah.
Katakan, apa yang akan kau makan setelah kami tak ada?
Kalian bisa antar makanan?
Lucu sekali.
Kubilang kau boleh mengencani kakakku, bukan membawanya ke tempat terpencil.
Tidak, sejujurnya, tempat ini bagus, tapi apa tak akan bosan setelah sebulan?
Begini...
Kita lihat saja nanti. Kau tak mau anggur?
Tidak, terima kasih. Aku lupa, aku punya sesuatu untuk Julius.
Tunggu.
Kuis singkat. Apa yang Paman Timme beli?
A. Hewan yang dia beli mendadak dan tak bisa memeliharanya? Atau...
B. 200 euro utangnya padaku?
Atau C, mesin dayung kemahalan yang tak pernah dia pakai?
Tidak!
Belly.
Belly?
- Ya. - Kau baik sekali. Kau yakin?
- Yakin. Ini akan mengingatkanmu padaku. - Bisakah kau hidup tanpa ini?
Kupikir bisa. Tentu aku bisa.
- Terima kasih, Dik. - Sama-sama.
- Terima kasih. - Ya.
- Lucu sekali. - Ya, 'kan?
Lihat betapa lucunya. Cilukba.
- Taruh ponselmu. - Sebentar.
Berapa jumlah pengikutmu?
196,000.
Artinya dia sangat sibuk. Tiap hari mereka kirimi dia barang untuk dipromosikan.
- Tapi tak satu pun yang berguna untukmu? - Ada.
Seluruh barang di kamar anak dari sponsor. Kami punya persediaan popok untuk setahun.
- Dia akan menyukainya. - Benar?
Ini dia, penyebab aku tak bisa tidur di malam hari.
Kau harus membuat Ayah bergadang begini?
Untunglah kau sangat lucu.
Ayo, minum sedikit.
- Malam yang berat? - Menikmati waktu bersama putraku.
Maaf.
- Aku tak dengar dia menangis. - Tak apa.
- Kau pasti bercanda. - Ada apa?
Lihat itu.
Ayah!
Ayah!
- Pol. - Sedang apa di sini?
Halo, panti jompo Parelhof.
Ketemu.
Terima kasih. Akhirnya ada yang mau membantuku.
Sudah cukup, 'kan? Gigi Ayah bisa rontok.
Ayah menggali kolam itu sendirian.
Benarkah?
Mengesankan. Kau tahu itu, Matt?
Ayah mau memastikan kami tak menguruknya.
Michelle selalu ingin punya kolam.
Baiklah. Ayo, mereka menunggu Ayah.
Ayah menyusuri jalan ini hampir tiap hari saat pergi kerja.
Kadang saat siang, Ayah pulang.
Menemui Michelle.
Michelle selalu ingin punya kolam.
Hampir setiap hari.
Ayo, kita harus jalan terus.
Lewat sana, beberapa berhasil lolos, tapi airnya datang terlalu cepat.
- Apa maksud Ayah? - Kami merahasiakannya dari koran.
Ayah.
Ayah!
Kau tak tahu berapa banyak uang yang dihabiskan.
Dalam apa?
Mereka sudah sering diperingatkan, tapi tak mau mendengar.
Saat sudah terlambat, tentu Ayah harus bersihkan semuanya.
Yang terjadi jauh lebih banyak daripada yang kau kira.
Mungkin ini saatnya orang-orang di sini tahu tentang itu.
Serius, Pol?
Maaf, kami kekurangan staf hari ini. Ada dua orang yang meninggal.
Salah siapa itu?
Tak apa-apa. Dia berjalan ke rumah kami.
Dia melakukannya secara otomatis. Kau tahu kau tak boleh pergi begitu saja.
Mau tambah kopinya?
- Ada lagi yang kau inginkan? - Tidak, terima kasih.
- Hei. - Hei.
Bagaimana ayahmu?
Kami mengobrol panjang lebar. Dia bahkan mengoceh sendiri.
Baiklah.
- Apa dia bisa diatur? - Maksudmu?
Yah...
Dia punya harapan tinggi.
Dia tak begitu saja menjadi CEO.
Di masa lalu, mungkin.
Aku punya stroberi yang sangat manis.
- Kau mau? - Ya, tolong.
MISTERI PABRIK! MAU TAHU?
YA - TIDAK
MATTHIAS BERICHTEN
YA 93% - TIDAK 7%
Google, apa yang bisa kau ceritakan tentang Soubaylo?
Ditemukan 53 artikel.
Artikel satu, "Pabrik kimia sukses. Pekerjaan meyakinkan desa."
SOUBAYLO BERINVESTASI DALAM KIMIA INOVATIF
Kau tidur di sini?
Tidak. Aku tak bisa tidur.
Aku mencari informasi untuk Ayah. Semacam kecelakaan kerja di pabriknya.
- Pol sudah pikun. - Banyak beritanya di internet.
Aku ingin melakukannya untuknya.
Apa tak lebih baik fokus pada hal lain? Yang bisa kalian lakukan bersama.
Ya, ini. Kami bisa melakukan ini bersama.
- Aku tak yakin ini ide bagus. - Menurut pengikutku ini ide bagus.
Baiklah.
Hai.
Halo.
- Apa yang bisa kubantu? - Tokomu cantik sekali.
Yah... Kami baru pindah kemari dan aku mengelola bisnis katering sendiri.
Aku masih mencari pemasok daging lokal, jadi kupikir...
mungkin bagus jika kita bekerja sama.
Antar perusahaan?
Boleh kutinggalkan kartu namaku di sini?
Kami tak menerima kartu nama.
Baiklah.
Baiklah. Semoga harimu menyenangkan.
Sudah. Setelah mencuci tangan, kita lanjut ke langkah kedua.
Tuang air ke dalam botol.
Sudah.
Sekarang, ini yang terpenting. Langkah ketiga, susu formula.
Aku memakai susu formula Baby Joy. Aku sangat senang susu ini, bayiku juga.
Tentu saja, sangat penting menggunakan jumlah yang tepat.
Dalam hal ini, dua level...
Baiklah. Beres.
PASAR ORGANIK
- Halo. - Halo.
Kurasa aku belum pernah melihatmu di sini.
Ya, memang belum. Kami baru pindah kemari.
Kalian pindah ke rumah Pol.
Ya, benar. Dia tinggal di panti jompo sekarang.
Ya, aku tahu.
Penyingkiran yang bagus, ya?
Jika tergantung padaku, kami akan menampungnya.
Aku tak suka panti jompo.
Siapa yang suka?
Siapa namamu?
Aku Liv.
Aku pacar Matthias.
Matthias...
Aku tak mengira dia akan kembali kemari.
Ya, kami merindukan kedamaian dan ketenangan.
Apa dia akan bisa menemukannya di sini?
- Kenapa? - Ada hal yang lebih baik tak diganggu.
Begini, aku...
Aku ingin tahu apa boleh meninggalkan kartu nama di sini untuk bisnis katering.
Tentu. Taruh saja di sana bersama kartu lainnya.
- Di sini? - Sempurna.
Pabriknya masih ada di sana?
Sebagian besar. Kupikir orang tak akan tahu jika kita masuk.
- Baik. Aku akan tiba setengah jam lagi. - Bagus, Kawan. Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Baik, sampai jumpa.
Pegang ini.
- Ini tempatnya? - Ya. Ayo.
Bagaimana cara masuknya? Pintunya ditutup. Kita memanjat, baiklah.
Tunggu. Matti, bantu aku.
- Jadi, pabrik ini dulu milik ayahmu? - Ya.
Dia hebat.
Seperti hutan di luar sini.
Ayo.
Kita bisa masuk lewat sini?
Ayo, kemari.
Astaga, tempat ini besar sekali.
Astaga.
Tapi berantakan sekali.
- Kau berharap menemukan apa? - Entahlah. Aku hanya mau memeriksanya.
Seperti labirin di dalam sini. Semuanya mirip.
Apa yang terjadi di sini?
Lebih berantakan di dalam sana.
Kau tak akan menemukan apa pun di sini.
Kita tak tahu pasti.
Dia menemukan sesuatu.
Kau mau membawanya? Ayo, aku mau pergi.
Kita tak lewat sini tadi.
Astaga.
Menjijikkan. Bau busuk di sini.
Astaga, itu menjijikkan.
Astaga.
Aku mau pergi, ayo. Matti, ayo kita pergi.
- Halo. - Hei.
Aku baru membuat kopi. Kau mau secangkir?
Ya, sepertinya menyenangkan. Terima kasih.
Bagus. Kita akan minum kopi.
Kemari. Bayi kecilku.
Silakan.
Lihat dirimu.
Dia agak mirip Pol.
Pol di masa lalu.
Kuharap begitu.
- Bagaimana kalian saling mengenal? - Lewat Michelle.
Michelle sahabatku.
Tahu-tahu, kami tak saling bicara selama setahun.
- Itu bisa terjadi padamu. - Ya.
- Matthias tak pernah cerita soal ibunya. - Aku tak kaget mendengarnya.
- Tak kaget? - Tak bisa cerita yang tak kita ketahui.
Ya.
AIR LIMBAH SOUBAYLO MENYEBABKAN KERUSAKAN PARAH
RUBANAH DESA-DESA DI SEKITARNYA BANJIR
Matthias?
RISIKO MEMBAHAYAKAN BAGI KESEHATAN PUBLIK
Matthias, makan malam sudah siap.
SULIT BERNAPAS, IRITASI MATA
Kenapa? Bau?
Mungkin sudah busuk.
Jika betul, itu karena kau mencabut kabel lemari pembekunya.
- Untunglah aku ke sana tepat waktu. - Kau tak boleh percayai itu.
Rasanya enak.
Jangan gunakan ponsel di meja makan.
- Kenapa kau bertingkah aneh? - Aku tak lapar. Maaf.
PERGI KE TOKO BERSAMA JULIUS PERIKSA KULKAS. L.
Sebentar.
Maaf, aku hanya...
- Kutebak, itu Julius? Putra Matthias. - Ya.
Kabar cepat menyebar. Tentu saja dia putraku juga.
Ya, biasanya begitulah caranya.
Dulu aku bekerja pada Pol.
Dulu sekali. Saat aku sangat muda.
Setelah itu...
dia sangat jarang datang ke desa ini.
Hei, Pierre.
Jadi, mau beli apa?
- Satu kg daging sapi giling. - Satu kg daging cincang?
Tapi koridor ini membentang lebih jauh.
Di sini juga.
Hanya sedikit orang yang bisa menemukan jalan melewatinya.
Sisanya memakai peta.
Tapi saat listrik padam, mereka tak bisa melihat peta.
Kadang seseorang hilang berjam-jam.
- Mereka sudah menyelidiki koridor ini? - Tidak semuanya.
Beberapa bagian tak bisa diakses karena airnya sangat dalam.
Ayah masih punya petanya?
Ya, ada di loteng.
Hei, Sayang.
Ibu putar lagi.
- Ruangan ini masih dipakai? - Ya, tentu.
Kau masih ada pengunjung, Pol?
Tak boleh, ini sudah terlalu larut. Ayo, Pak, waktunya pergi.
Kau harus minum obatmu.
- Ayo pergi. - Baiklah.
Kerja yang bagus, Nak.
Terima kasih, Ayah.
Matthias?
Dari mana kau?
- Kita mestinya makan malam bersama. - Aku bersama Ayah.
Larut malam begini?
Permisi, boleh aku lewat?
- Kau bisa memberitahuku. - Aku sibuk.
KELUARGA KORBAN MENGAJUKAN TUNTUTAN TERHADAP RAKSASA ZAT KIMIA
(+) = MATI?
LIMA KEMATIAN RESMI?
SAKSI? PENYINTAS? SANGSI?
Aku belum tahu kejadian sebenarnya, tapi mereka...
Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima korban resmi.
Tapi masih ada banyak lagi dan ayahku tahu itu.
Tapi dia tak bisa mengatakan apa pun karena dia terlibat.
Tapi aku akan membantunya.
Karena aku punya buktinya. Di sini.
- Selamat pagi. - Ayahku benar.
Ayo, Tukang Tidur.
Ayahku benar.
Vitamin?
Kau butuh vitamin saat bekerja keras. Benar?
Aku harus mampir ke tempat Ayah nanti. Ada yang mau kubahas.
Ya, tentu.
Apa maksudnya itu?
Aku sudah dapat dua sponsor baru, dan Ayah suka saat aku datang.
Aku merindukanmu.
Aku di sini.
Ibu-ibu.
Semuanya baik saja?
Bukannya itu pahit?
- Hai, Pol. - Ini, ambil satu.
Terima kasih, Kawan. Halo, Pak.
Aku mau ke toilet.
Apa yang kau lakukan?
- Apa maksudmu? - Bersama ayahmu.
Jelas itu sangat bagus untuknya.
Terima kasih.
Hei, Sayang.
- Apa? - Aku hanya menyapa.
- Bagaimana kabar ayahmu? - Sangat baik.
Tenanglah. Aku boleh bertanya, 'kan?
- Kau hanya menanyakan keadaanku. - Apa?
Aku mau sendirian sebentar.
Sendirian? Kita hampir tak pernah bertemu.
Kau hanya di ranjang seharian atau marah tak keruan.
Menurutmu kenapa begitu?
Aku tak melihatmu mengurus bayi kita di malam hari.
Jangan rancu itu dengan pesiar malammu agar disukai di Instagram.
Kapan kau akan serius menanggapiku?
Entahlah. Mungkin saat kau menemukan pekerjaan yang realistis.
Baiklah, aku juga akan mulai membuat kue.
- Kau tak pernah mempersoalkan itu. - Sekarang ya!
Berengsek.
Omong-omong, penghasilanku jauh lebih besar darimu.
- Aku sudah tak tahan denganmu. - Apa maksudmu?
Aku harus pergi.
Kau mungkin lupa. Bersihkan ini sebelum aku kembali.
Jangan lupa botol susu Julius.
Dasar bodoh.
Semua yang kita korbankan demi anak.
- Yang kau katakan tentang Matthias... - Maksudmu pria berengsek itu.
Ya, dia.
Yang tak tahan suara berisik.
Bayi juga bisa sangat berisik, tahu?
Dia bukan orang pertama yang ingin lempar anak keluar jendela.
- Lau. - Aku juga kadang begitu.
- Mungkin aku terlalu merepotkannya. - Apa?
Tidak, konyol. Baguslah mereka berdua sering bertemu.
Ya.
Jika kau sangat khawatir, dia harus bicara dengan seseorang.
Ayo.
Ya. Ya...
- Aku merindukanmu. - Aku juga.
Hei, Sayang. Hei, kenapa?
Tak apa-apa.
Sayang.
Maaf, aku tahu ini sudah malam.
- Hei. - Hei.
Selamat pagi.
Duduklah. Timme beli roti gulung dan kroisan dari toko roti.
Aku membuat saus tzatziki.
Jus jeruk?
Atau kau mau roti Danish? Yang bulat pakai kismis.
Aku tak tahu kita kedatangan tamu.
- Timme, bisa berikan selainya? - Matthias, aku... Kami...
mengkhawatirkanmu.
Kau terlalu lelah, atau terlalu semangat, atau... terlalu segalanya.
Tentu saja aku terlalu lelah. Anak berengsek itu terus menangis.
Apa?
Bung, bicaralah kepada kami.
Atau kepada orang lain jika itu lebih mudah.
Jangan menyangkal bahwa kau tak seperti biasanya.
Sayang?
Sayang.
- Riset bersama ayahmu... - Dia hampir tak mengenalimu.
Apa kau tahu? Pergilah.
Aku tak akan mengulanginya.
Baiklah.
Tapi kau butuh bantuan.
Nanti kutelepon.
Maafkan aku. Aku akan berusaha lebih keras, aku janji.
Aku akan menelepon adikmu.
- Kau akan baik-baik saja? - Ya.
- Baik. Sampai jumpa malam ini. - Baiklah.
CEO DIDAKWA - SOUBAYLO TETAP BUNGKAM TERSANGKA KORUPSI
Ayahku diperas.
Dia tak bisa bicara karena bisa diusir. Atau...
Aku tak tahu apa lagi.
Tapi dia tak bisa bicara.
Dia terpojok. Dia tak punya kesempatan.
Dia tak punya kesempatan.
Ayahku terpojok! Dia tak bisa bicara!
Tapi aku akan membongkar semuanya.
Semuanya. Aku akan membersihkan nama ayahku.
Kutunjukkan kepada semua orang ayahku benar. Karena dia benar.
PERIKSA JULIUS
SEHARUSNYA KAU MALU!
Hentikan.
Hentikan.
Hentikan.
Hentikan!
- Halo, kau menghubungi... - Sialan.
Halo, kau menghubungi Liv. Tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.
Liv, telepon aku setelah terima pesan ini.
Aku mau kau hentikan ini.
- Hei! Kau sudah memeriksanya hari ini? - Tentu. Belum lama.
- Aku mau jalan-jalan. Hentikan ini. - Liv...
Matthias!
Matti!
Halo?
Matthias akan bertanya-tanya aku di mana.
Omong-omong, bagaimana keadaannya?
Dia baik-baik saja.
Dia tak pernah kemari. Hanya kau dan bayimu.
Dia sering bersama Pol.
Apa dia mengatakan sesuatu?
Dia mengalami momen pemahaman.
- Kuharap dia manfaatkan itu dengan baik. - Apa maksudmu?
Kupikir hidup mereka berdua tak mudah, apalagi di dalam rumah besar itu.
Baguslah dia mau bicara lagi. Tak ada yang mengunjunginya dulu.
Ya.
Terima kasih.
- Hei. - Hei.
- Kutinggal di sini. Dia sedang tidur. - Baiklah.
Ya, aku mau memasak untukmu sesekali.
Aku akan taruh ini di kulkas.
Semua berjalan lancar?
Masakannya.
Itu sulit.
- Memang bukan hanya membuat kue. - Ya.
Kau baik sekali.
Tapi ini tak bisa menebus semua kesalahanmu.
Aku tahu.
Nikmatilah.
Payah. Ini tak terlalu enak.
Matthias?
Hei, Matthias?
Aku harus mengambil sesuatu, tapi aku akan segera kembali.
Julius masih tidur, jadi, kau tidur saja lagi.
Telepon aku jika ada apa-apa, ya?
- Hei. - Hei.
Sedekat apa kau dengan Michelle?
Kalian sahabat, 'kan?
Ya.
Lalu setelah dia meninggal?
Kau tak peduli sama sekali tentang Matthias atau Pol?
Aku putus komunikasi dengan Pol. Itulah yang terjadi.
Apa maksudnya itu?
Bagi Pol, tak ada orang yang cukup baik.
Termasuk putranya sendiri.
Itu ciri khasnya.
Kau juga tak cukup baik baginya.
Sejujurnya...
Ayo, pergi. Keluar dari tokoku.
Pergi!
Kau bercanda.
Lihat. Ini buktinya. Ayah benar.
Lebih banyak orang yang mati.
Lihat.
Ini pabriknya.
Di bawah tanahnya lima kali lebih besar. Meluas sampai ke rumah kita.
Jika kutemukan mayat-mayat itu, semua akan tahu kebenarannya.
Lalu tak ada yang bisa menyalahkan Ayah.
Hei, Bocah Kecil.
- Jangan. Ttunggu. - Kau sudah bangun.
Ayah.
Tunggu. Ayah dengar aku? Lihat.
Sudah kubuktikan, koridornya sepanjang 16 km.
Dengarkan aku!
Kulakukan yang Ayah minta!
Baik, jika Ayah tak mau dengar...
Akan kubuktikan ada 15 orang tewas.
Jika Ayah tak mau membantu, akan kulakukan sendiri.
Minggir!
Akan kulakukan sendiri!
Pol?
Michelle.
Michelle.
Pol?
Pol, ini Liv. Hei, ini Liv.
Tunggu.
Kukatakan itu kepada semua orang dan akan terus kukatakan.
Aku benar dan mereka tidak.
Tak ada yang salah denganmu. Tak ada.
Sebelum melahirkan, kau wanita yang sangat kuat.
Sangat kuat.
Aku mengenalmu lebih baik daripada mereka.
Mereka seharusnya mendengarkanku.
KECEMASAN
INSOMNIA, PARANOID
PSIKOSIS PASCA PERSALINAN TURUNAN
Aku sudah lama tahu. Semua akan baik-baik saja.
Aku tak sabar menunggu bayi kita.
Sampai bayi kita lahir.
Michelle...
Kau wanita sempurna.
Aku seharusnya lebih banyak membantumu.
Aku seharusnya menemanimu.
Michelle?
Michelle!
Aku tak bisa menemukanmu.
Michelle!
Michelle!
Air di mana-mana. Aku tak bisa menemukanmu.
Aku tak bisa menemukanmu.
Kau seharusnya yang pertama kuselamatkan.
Kau...
Kau.
Aku harus pergi.
Kau menghubungi Timme. Tinggalkan pesan...
Ya, Sayang, berbaringlah sebentar. Ibu akan segera kembali. Ya?
- Sial! - Apa yang kau lakukan?
Aku akan mengeluarkan mereka!
Tak ada yang perlu dikeluarkan, Sayang. Ayo keluar.
Hentikan! Berhenti menghalangiku!
- Aku akan keluarkan mereka semua! - Matthias!
Matthias!
Michelle!
Ayo. Cepat.
Matthias.
Ayo.
Ayo, Nak.
Terjemahan subtitle oleh Sulaiman
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.