All language subtitles for Susah.Sinyal.2017.NF.WEB-DL- Sub Indo

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Subtitle dibuat secara manual oleh: @Nell.aja

Aduh, Ki. Oma tidak bisa nyanyi.

Aku mohon, Oma. Sekali-kali saja.

Masa disuruh nyanyi? Oma ngomong aja fals.

Oma asal saja, yang penting kebersamaan.

Senyum.

Oma tahu tidak?

Followers aku banyak opa-opanya?

Ayo, senyum. Lihat kamera.

Mana di mana, si anak kambing saya

- Pagi, Oma. - Pagi.

Hei, Nyai Blorong! Woi!

Masya Allah.

Ada lo? Maaf.

Maaf?

Aku lagi fokus benerin radio!

Kalau jadi TV bagaimana?

Lagian lo ngapain ngejogrok di situ?

Berisik! Cabe-cabean!

Yang namanya blender memang berisik!

Tidak bisa disilent!

Yang harusnya bisa disilent itu kamu, Sasha.

Mbak, Ki.

Saya sudah bikin akun IG-nya.

Itu, saya sudah follow @pastitinggilangsing

terus @spesialispemutihkulit

sama @jokowi.

Kali aja dapat sepeda. Ya, 'kan?

- Ini. - Kok, Saodah? 'Kan sudah kubilang

ganti saja "Sasha".

Mbak?

Kata bapak saya Saodah itu artinya bahagia.

Lagian apaan, "Sasha"? Mecin?

Mau aku follback?

Tapi kayaknya "Sasha" lebih bahagia?

Mecin, mecin, deh.

Oma, video audisi aku sudah tembus 15.000 views.

Lima belas ribu? Keren!

Aku berangkat dulu, ya?

Eh, abisin!

Terus ini, jangan sampai tidak habis.

Da!

Apa?

Belum cium.

Anak Oma belum bangun?

Da!

Pagi, Pak Hasan!

Pagi, Bu Ellen. Menginap lagi, Bu?

Iya, biasa.

Tapi Ibu sudah sarapan?

Saya tidak biasa sarapan, Pak?

Pak Hasan saja yang sarapan, ya?

Selamat makan, Pak.

Kenapa ada orang yang tidak suka yang namanya sarapan?

Padahal sarapan penting sekali walaupun sedikit.

Sudah mau berhenti masih saja menginap.

Berkas-berkas ini harus gue beresin buat serah terima.

Masa iya ngurusin diri sendiri berkasnya?

Gue bisa bantuin lo.

Lo saja malas pulang.

Ayo. Cepat.

Nanti saja. Nyusul, ya?

Bagaimana, Ki?

Lucu, deh.

Pasti Oma lo, ya?

- Iya, don? Siapa lagi? - Pantesan bagus.

Ki?

Gokil! Lo keren parah!

Wow!

Niat ya, lo?

Ikut-ikutan audisi buat acara TV. Biasanya lo sebal?

Ini beda, Jessie?

Jurinya Andien.

Gue akan bikin dia terpesona.

Sedikit halusinasi, tapi optimis!

Ngomong-ngomong, lo ikut audisi itu, sudah izin nyokap?

Memang perlu?

Oh iya, Ki. Ngomong-ngomong Andien

lo sudah lihat belum postingan barunya dia di Jepang?

- Keren-keren banget. - Kerenan juga yang di Sumba.

- Iya, 'kan? - Itu juaranya.

- Mari, Pak. - Kamu hebat, Ellen.

Terima kasih banyak atas kerja keras kamu selama ini.

Pak.

Iwan juga kerja keras.

- Oh, ya? - Lebih keras Ellen, Pak.

Kerja keras sampai tidak pernah pulang. Dilupain sama keluarganya.

Iya, pokoknya terima kasih, ya?

Ngomong-ngomong, semoga berhasil dengan kantor kamu yang baru nanti.

Terima kasih.

Ada saya juga Pak nanti.

Semoga kita jadi langganan, ya?

- Maksud kamu? - Maksud...

Supaya saya dapat kasus terus, begitu?

Tidak, maksud saya bukan begitu.

Iwan, orang kalau kena kasus itu stress, Iwan.

- Stress! - Sama, saya juga stress...

- Tapi... - Papi!

- Cassandra! - Papi. Aku telepon Papi dari tadi.

Ini baru beres, Sayang.

- Papi baru mau nyalain HP... - Aduh, sudah!

Darren, kamu mau ikut pawai 17-an, ya?

Pi, Dareen ulang tahun, 'kan, Pi?

- Lupa pasti? - Ya ampun.

- Iya. - Sudah, ayo!

- Ellen, maaf... - Ayo kita jalan dulu. Telat!

- Sudah telat banget. - Maaf, ya?

Gue salah, ya?

- Apaan? - Memang gue salah ngomong tadi?

Bilang langganan?

- Iya. - Menurut lo?

Iya, maksudnya kalau sampai ada apa-apa, dia ke kita, begitu!

Iya, tapi jangan sumpahin ada apa-apa.

Sama aja, 'kan, lo? Lo mengerti maksud gue.

Toilet dulu. Mules gue sama Pak Handi.

- Hai, Ellen. - Ya ampun...

Senang banget, kayaknya menang sidang?

Biasa kalau klien senang

- bos lo juga pasti senang, 'kan? - Ya.

Sidang jam berapa?

Jam satu. Tapi biasa, sudah dua jam telat.

Hakimnya sibuk.

- Iya. - Iya.

- Iya, gue masuk dulu, ya? - Oke.

Da.

Ayo, Man.

Ngeliatin apa sih?

Ibu. Mau ke mana?

Ke apotek sebentar.

Beli apa? Biar saya saja.

Tidak masalah! Dekat, 'kan?

Sebagai kepala divisi keamanan di rumah ini

saya menghimbau Ibu untuk tidak pergi sendirian.

Sudah, main air sana!

Woi, Ngatno! Gue pukul lo, ya!

Itu tidak kamu temani?

Sudah gue tawarin, dia yang tidak mau!

Siram-siram lagi gue sapu muka lo!

Sapu...

Lagian, menyapu pakai walkman!

- Norak! - Lo yang norak!

Di kebun pakai baju hijau.

ABRI, lo?

Basah muka gue!

Aduh, kau lagi.

Didalam pelajaran itu

jangan kau main-main...

Apa itu namanya, Instajram.

Instagram, Bu.

Aku pun paham bahasa Inggris.

"G" itu dibacanya "ji", Instajram.

Iya Instajram.

Terserah Ibu Juru.

Meledek? Iya?

Bu. Instagram itu menghasilkan.

Saya saja masih SMA sudah bisa cari duit sendiri dari endorsement.

Endas, endos. Tidak ada urusannya sama aku ya, Dik!

Yang penting, kau ikuti peraturan.

Di dalam kelas di dalam pelajaran tidak boleh main handphone.

Paham?

Paham?

Iya, Bu Sondang!

Bagus. Ya sudah, sana.

HP saya?

Itu bukan HP saya.

Nah.

Bukan juga.

Ini kau pilih sendiri. Makanya kalau punya HP ditandai.

Biar tahu aku. Pusing sekali kepalaku.

Terima kasih, ya. Bryan!

- Iya, Ci? - Kipas gue. Kipas.

Ci.

Matching amat? Janjian?

Iya, mau nonton.

Wan, mama lagi mau ngomongin soal katering.

Iya, Ma. 'Kan sudah dibahas? Masakan Cina saja tidak apa-apa sudah.

Tapi, 'kan, Cina macam-macam, Wan?

Ada Cina Kanton

ada Cina Mandarin

- atau Cina... - Yang paling Cina saja.

Oke? Terima kasih, Ma.

- Halo? Wan? - Da.

Ini baru katering. Belum baju pengantin, suvenir...

Kenapa?

Pada ke mana orang-orang?

Kejutan!

- Selamat, Mbak! - Terima kasih.

KAMI AKAN MERINDUKANMU ELLEN

Yang mau berhenti bukan cuma Ellen. Buat gue mana?

Tadinya kami mau bikin, cuma belum sempat.

- Bikin apa? - Ini, Wan. Rencananya

di depan ada balon udara melayang

terus ada tulisannya, "Selamat jalan Iwan."

Dari kiri dan kanan muncul kembang api.

Saat kau masuk, disambut sexy dancer.

- Mana? - 'Kan sudah kubilang, belum sempat.

Iya, masa tidak ada apa-apa sama sekali?

Ada. Ini?

SAMPAI JUMPA IWAN!

Ini doang?

Iya, tidak! Itu?

Pesta seperti ini hanya untuk pekerja

yang masa baktinya itu lima tahun ke atas.

Tapi saya cuma kurang tiga bulan, Pak?

Lima tahun, kurang tiga bulan

'kan, cuma empat tahun sembilan bulan?

Gue yang Cina dia yang perhitungan.

Bagaimana?

Persiapanmu. Aman?

- Aman. - Rekrutmen-mu?

Untuk sementara waktu saya berdua sama Iwan bisa.

Tidak mungkin berubah pikiran, ya?

Dua belas tahun saya belajar di sini, saya rasa cukup, Pak Haryo.

Lagian nanti sayang pesta kejutannya sudah niat begini, Pak.

Ya. Pasti papamu bangga sama kamu.

Oma tidak apa-apa?

Tidak, cuma capek sedikit.

Sudah kita pulang saja, Kiara tidak usah les. Ayo!

Ya ampun, Ki.

Bagaimana lagumu?

Kok jadi lagu?

Iya, itu yang penting. Bagaimana lagumu?

Ternyata bikin lagu itu... Masih gampang nyanyi, ya?

Iya. Untung suara kamu itu bagus.

Coba Oma yang ikut audisi. Apa tidak lari semua para jurinya?

Oma.

Hei, Bryan. Kok genteng metal belum lo pindahin?

Berat banget, Ci.

Berat mana sama hidup lo kalau gaji lo gue potong?

Berat genteng.

Wan, mama cuma mau ngomongin warna kain.

Ungu apa?

Ungu apa bagaimana maksudnya? Ungu ya ungu lah?

Ungu, 'kan, ada ungu macam-macam, Wan?

Ada ungu anggrek, ungu magenta, ungu terong...

Terong, 'kan, hijau?

Terong, 'kan, ada yang warna ungu?

Kamu bagaimana sih?

Kalau di lalapan hijau bundar begitu, 'kan?

Itu terong yang bundar, Wan. 'Kan ada terong yang panjang?

Mama tadi tidak bilang yang dimaksud terong yang panjang.

Kok kita jadi membahas soal terong?

Mama tadi duluan ungu terong ungu terong.

Sudah, ya? Aku lagi rapat sama Ellen. Da.

- Ribet, ya? - Iya.

- Pantas lo malas kawin lagi, ya? - Hei!

Bukan karena itu juga.

Karena apa?

Karena semua laki-laki itu brengsek.

Termasuk Aji?

Ya, gue tidak tahu.

Lo tidak tahu, 'kan?

Kok menuduh? Siapa tahu dia baik?

Lo pernah disogok apa sama dia?

Sogok?

- Lo di belakang gue ketemu dia? - Tidak.

Hei, El. Gue cuma ingin lihat lo senang.

- Gue tidak perlu laki-laki untuk senang. - Oke.

- Itu anak bagaimana? Kece tidak? - Kece.

Dia lulus cum laude. Universitas top.

Dan bapaknya itu expat. Tajir.

Tidak butuh duit. Cocok buat firma baru yang kere. Iya?

Dan dia sudah lulus ujian advokat.

OB sama resepsionis bagaimana?

Nah, soal itu. Bagaimana kalau kita cari resepsionis merangkap jadi OB?

- Lo ada kandidatnya? - Ada.

Memang mau pekerjaan campur-campur begitu?

Mau.

Tidak mau.

Memangnya kamu tidak bosen di rumah mengurus kebon saja?

Saya sudah bangga menjadi kepala divisi agrikultur, Mbak.

Agrikultur itu pertanian.

Di rumah saya, 'kan, tidak ada sawah?

Saya sudah kerasan kerja di rumah.

Jadi kamu yakin?

Maaf, Mbak Ellen. Saya tidak minat kerja di sini.

Yang mau magang di sini.

Aku Ngatno. Kepala divisi rumah tangga di kantor ini.

- Hai, Nganto. - Ngatno.

- Nganto. - Ngat...

Ngat?

- No. - No.

- Ngatno. - Nganto!

Betul! Dibilang Ngatno.

- Halo, Astrid. - Hei.

Saya Iwan. Ini Ellen.

Kita ngobrol di dalam saja, ayo.

- Ayo. - Kamu di sini saja.

Oma.

Kita liburan akhir tahun mau ke mana?

Ya ampun, masih lama, Ki.

Pantai, ayo. Ya?

Kok tiba-tba pantai?

Habis nonton Moana lagi.

Moana lagi? Tidak bosan-bosan.

Neneknya sama Moana itu kita banget, tahu tidak, Oma?

Oma tidak mau disamakan sama neneknya si Moana.

- Kenapa? - Dia suka pakai baju minim begitu.

Oma bisa masuk angin pakai baju kayak begitu.

Hai!

Hai.

Sudah pulang?

Lagi pada ngapain?

Lagi cerita Moana.

Moana itu kartun...

Anak perempuan di pantai itu...

Yang punya teman, temannya binatang...

Bukan binatang.

Alien warna biru.

Itu Lilo & Stich.

Aku tidur dulu, ya?

Selamat malam.

Selamat malam, Ki.

Bagaimana kantor?

Iya, kita lihat saja.

Si Ngatno akhirnya mau bantu saya di kantor.

Iya dia juga bilang.

Tapi kasihan Saodah, kehilangan teman berantem.

Ellen. Kamu sudah pernah lihat

YouTubenya si Kiara belum?

Ngomong-ngomong soal YouTube, Instagram, dan segala macamnya itu

apa tidak sebaiknya kita batasi Kiara, ya?

Iya, soalnya pengaruh buruk jauh lebih banyak, Ma.

Tidak apa-apa.

Mama ini, apa saja tidak apa-apa.

Ini, lihat dulu.

Kok audisi ya, Ma?

Iya. Itu buat The Next Voice.

Lomba nyanyi yang ada di TV.

Tunggu. Audisi untuk lomba nyanyi di TV.

- Iya. - Ma.

Memang kenapa?

Ma, saya tahu persis bentuk kerjasamanya akan seperti apa.

Tapi Ellen, anakmu itu sangat berbakat.

Mama cuma ingin kita berdua

mendukung dia supaya sukses.

Mengerti, Ma. Saya paham.

Tapi Kiara masih sekolah, Ma.

Belum juga kuliah. Nanti kalau sudah sarjana

mau ke mana saja, mau ngapain, terserah!

Maaf, Ma.

Ellen...

Jangan mengambil asumsi terburuk dalam segala hal.

Capek tahu?

Sekali-sekali, mengerti maunya Kiara itu apa.

Ajak dia ngobrol.

Anaknya judes sama saya bagaimana mau ajak ngobrol, Ma.

Begini.

Kamu harus berusaha untuk memahami dia.

Dekati dia.

Anakmu itu sudah gede.

Iya, Ma.

Ki. Mama buatin sarapan. Kamu makan ya, Nak?

Nanti kamu sakit.

- Iya, Wan. - El, lo ke kantor, 'kan?

Iya gue sebentar lagi jalan.

Buruan, ada klien.

- Serius? - Beneran.

Oke, gue ke kantor.

Lalu kalau boleh saya tahu, kenapa Cassandra pilih kami?

Pertama karena rekomendasi dari Papi.

Terus kedua... Maaf ya, cuma, 'kan...

Mbak Ellen sudah pernah divorce?

Dan menang hak asuh anak jadi aku rasa kita bakal cocok.

Ya sudah.

Kalau begitu saya tunggu kabarnya nanti sore.

Misalnya tidak bisa kabari saja.

Karena saya harus cari pengacara lain.

Oke, pasti saya kabari.

- Ya sudah. Aku lanjut syuting lagi. - Oke.

Mbak. Minta foto satu kali.

Naikan dikit. Gendut dari bawah.

Pakai timer.

- Lagi ya, Mbak. - Hush!

Satu kali.

- Boomerang, dong? - Hush.

- Kalau satu kali, ya satu kali saja. - Sudah.

- Terima kasih, Mbak. - Iya, terima kasih.

Permisi.

Parfum artis. Harum.

El, lo kok kayak tidak minat sama kasus ini?

Ya, lo minat banget sama kasus kayak begini.

Ya, minat lah. Gila apa, lo?

Wan.

Gue buka firma sendiri biar bisa memilih kasus yang seru-seru.

Bukannya malah mengurus artis cerai!

Lo salah fokus

jangan fokus di kata cerainya, fokus di kata artisnya.

Cassandra Salim itu bintang sinetron paling top sekarang.

Dan?

Dan publikasinya bakal kayak apa lo kebayang tidak?

Kebayang. Ribet, Iwan.

Ribet? Publikasinya justru mendatangkan klien-klien ke kantor kita.

Klien yang seru-seru tadi itu.

Duitnya bisa buat menutup operasional. Benar tidak, gue?

Strid. Benar tidak, gue?

Facebook, Twitter, Instagram.

El, dengarkan omongan gue.

Lo kalau tidak dengarkan omongan gue mau dengarkan omongan siapa lagi?

Oke.

Kita ambil kasus ini.

Tapi kalau sampai ada apa-apa.

Oke. Sepakat?

- Maaf, Mas Iwan. - Kenapa?

Mas Iwan yakin...

Mau ambil Mbak Cassandra sebagai klien kita?

Yakin?

Syukurlah, Mas.

Selfie aku tadi buram!

- Wan. - Hei, Ji.

Ellen. Turut berduka cita, ya.

- Terima kasih. - Selamat buat kantor baru.

Iya, kecil-kecilan dulu.

Semua firma hukum gede juga mulainya dari kecil.

Maaf.

- Tunggu apa? Ayo. - Oke.

Kita mulai mediasi kita hari ini, ya?

Penggugat ibu Cassandra Salim?

Iya saya, Pak.

Dan tergugat Bapak Marco Alexander, betul?

- Iya, Pak Jaksa. - Kok Jaksa?

Hakim. Saya Hakim.

Hakeem Olajuwon?

Hakeem Olajuwon!

Bertahan!

Pemain NBA. Basket?

Michael Jordan tahu dong? Kalau Michael Jordan tahu lah?

Seliting sama Michael Jordan.

Yang nomboknya suka melet?

- Mabuk itu, Pak. - Kamu mabuk?

- Amit-amit, Pak, mabuk. - Yakin tidak lagi mabuk?

Kalau mabuk saya ngomongnya sudah begini...

Itu? Orang kalau belum pernah mabuk

tidak mungkin bisa menirukan orang mabuk dengan bagus begitu.

Terus tadi kamu ngomong apa? Selinting?

Liting. Seliting sama Michael Jordan.

Seangkatan!

Selinting. Saya dengar.

Suruh saja cek darah, Pak.

Cek darah? Memangnya malaria?

Ini kali, Pak. Hobinya dugem.

IG story-nya tiap lima menit sekali...

Enak saja! Kok jadi aku? Aku tidak pernah minum, ya?

Lagian kamu bisa tidak bedakan dugem sama live music?

Itu yang ada gitarnya, ada basnya, ada orjennya?

Itu! Aku butuh musik di hidup aku buat penyegaran. Aku itu stres!

Memang kamu? Kerja juga jarang. Tidak pernah syuting?

Iya tahu yang sibuk!

Sibuk main Instagram aja itu, Pak!

Tiap hari endorse! Pemutih pelangsing, pemutih pelangsing...

Ini putih sama langsing, pakai yang mana?

Tidak penting dari yang mana.

Yang penting uangnya halal.

Kamu pikir gampang cari duit? Ngabisinnya yang gampang!

Apalagi punya suami keluarganya kerjanya morotin melulu.

Oke. Tenang. Sudah.

Gantian ngomongnya, ya? Giliran saya.

Ini kalian sudah kayak host Inbox. Saling rebutan ngomong.

Santai saja tidak usah tegang. Santai.

Santai Parangtritis.

Santai Anyer?

Ini lawakan saya lebih lucu dari lawakan NBA tadi lho?

Ya sudah. Kalau begitu kita mulai saja.

Apa pun itu, 'kan, damai itu tetap lebih baik.

Apalagi ini menyangkut hak asuh anak.

Coba kalian pikirkan kalau kalian cerai.

Nanti kalian jomblo.

Harus ganti status di Facebook.

Dari "in a relationship"

bingung, 'kan? Mau "complicated", apa mau "single"?

Sementara proses mediasi masih berlangsung?

Sudah gitu harus pedekate lagi sama orang baru?

Repot.

Saya dari awal sudah jelas, Bu.

Hanya menjalankan peraturan.

Peraturan mana yang menyuruh guru menghancurkan HP siswa?

Lho? Aku minta baik-baik tidak kau kasih, ya, kurebut lah.

Kalau Ibu tidak berusaha merebut, HP saya tidak bakalan jatuh!

Lagian kau, asik main Instajram saja!

Instagram, Bu.

Ibu sama anak sama saja. Instajram, Instagram.

Cukup.

Kiara. Pertama-tama sesuai peraturan sekolah

kamu dikenakan pengurangan nilai.

Kedua.

Kamu suka nyanyi, 'kan?

Saya akan minta kamu selama satu bulan

menjadi asisten pelatih di ekskul paduan suara

membantu Ibu Sondang.

- Tapi, Bu... - Cukup.

Kamu sudah boleh menunggu di luar.

Saya mau bicara dengan mama kamu sebentar, ya?

Ibu Sondang.

Saya juga, Bu?

Iya, Bu.

Sebelumnya, saya turut berduka cita, ya?

Mama kamu itu sangat baik sekali orangnya.

Kalau dulu orang tua siswa lain jaga jarak dari guru BP

dia justru datang menghampiri saya.

"Hei, Bu Ros. Bagaimana kabarnya Ellen?

Kira-kira Ellen butuh penyuluhan?"

Bu.

Saya minta maaf atas perbuatan Kiara hari ini.

Kiara nanti dulu. Kamu bagaimana kabarnya?

Bu.

Kalau boleh kita fokus ke Kiara dulu, ya?

Kirara baru bisa bahagia, kalau dia punya mama yang bahagia.

Boleh saya usul?

Bagaimana kalau kalian liburan dulu?

Cari tempat yang tenang...

Biar kamu dan Kiara

bisa punya waktu berkualitas.

Saya baru saja buka firma sendiri.

Sekarang kami lagi ada kasus perdana, ini cukup penting buat...

Lebih penting dari Kiara?

Halo, sekarang Sigi Savero sudah siap temani lo

di 101.4 Trax FM Hits yang kamu suka.

Siapa yang ingin minta lagu langsung saja...

Kita liburan, ayo?

Ke pantai?

Ke Bali atau ke Lombok. Mau tidak?

'Kan kamu belum pernah ke Lombok?

Tidak usah, Ma. Terima kasih.

Lagian, 'kan, Mama sibuk?

Tidak kok, mama bisa atur.

Sudah, Ma. Angkat saja.

Males banget tidak sih?

Liburan berdua sama nyokap?

Pasti basi.

Ki, lo selalu cerita sama gue

lo mengeluh melulu kalau nyokap lo tidak ada waktu buat lo, dia selalu sibuk.

Tidak ada salahnya lo liburan dulu?

Dari pada lo sedih terus kayak begini?

Dan gue rasa...

Oma lo juga ingin melihat lo senang.

Senyum.

Halo, Ellen Tirtoadtmodjo & Partners

dengan Mister Ngatno, kepala divisi pelayanan pelanggan.

Ada yang bisa saya bantu?

Bisa bicara dengan Mbak Ellen? Saya mau konsultasi.

Silahkan diceritakan kasusnya apa, kami akan mencarikan solusi.

Sombong!

Hei, Mas Nganto. Mbak Cassandra ada di dalam?

Dik Astrid.

Sebagai pengacara yang profesional harus datang tepat waktu.

Bukan begitu. Aku sudah izin.

Aku tadi harus ke kampus. Soalnya aku harus ngomong sama dosenku.

Hei, tunggu.

Bisa di ulang?

Bodoh.

Soccer.

Sepak bola.

Main bola?

Kapan?

Jadi kapan kita bisa sidang?

Jadwal Mbak Cassandra bagaimana?

Penuh stripping semua kecuali Senin.

Ya sudah. Senin saja.

Senin tidak bisa ada siaran langsung.

- TV? - Instagram.

Tidak ada libur hari apa, begitu?

Tidak ada libur.

Namanya juga anak sinetron. Kalau belum tipus, belum libur.

Ya sudah, Mas Iwan. Nanti aku saja yang atur jadwalnya

- sama Louis, ya? - Tolong, ya.

Oke. Ada satu lagi yang paling penting.

Kalau kamu bertemu wartawan dan menjawab semua pertanyaan

usahakan jawabannya diplomatis saja.

- Diplomatis. - Ya.

Apa itu?

- Mbak Cassandra! - Sebentar.

- Satu pertanyaan saja. - Mbak Cassandra!

- Mbak Cassandra! - Tolong, ya. Biar...

Mbak Cassandra apakah benar telah menggugat cerai Mas Marco?

Dan terkait akan hak asuh anak

Darren nanti akan ikut Mbak Cassandra atau ke Mas Marco?

Apakah Mbak Cassandra percaya teori Bumi datar?

Oke. Sebentar ya, Mas. Pertanyaannya satu-satu.

Saya percaya banget Bumi itu datar.

Tapi untuk Darren hak asuhnya bagaimana?

Apakah akan ke Mbak Cassandra atau ikut ke Mas Marco?

Iya, terus proses perceraian Mbak Cassandra sudah sampai mana?

Tapi banyak teori yang mengatakan bahwa Bumi itu bulat?

- Itu konspirasi, Mas. - Konspirasi dari mana, Mbak?

Kita dari kecil belajar geografi dan isinya itu Bumi bulat!

- Apakah Bapak ada bukti-buktinya? - Ada!

- Dan... - Kalau untuk Darren?

Tunggu dulu!

Dari SD kita sampai SMA

belajar globe itu bentuknya bulat berarti Bumi itu bulat!

- Tidak bisa, dong! - Masuk akal.

Masuk akal bagaimana, Mas?

Tidak bisa. Yang benar itu Atlas. Atlas itu datar.

Jadi Bumi itu datar. Iya?

- Bumi itu datar, 'kan, Mas? - Mbak. Atlas itu datar...

- Darren... - Tunggu dulu!

Karena secara penggambaran dari atas makanya bentuknya datar.

Kalau dari atas itu berdasarkan dengan realita, Mas.

Berarti realitanya Bumi adalah datar.

- Realitanya globe itu bulat. - Tidak bisa...

Darren!

Apa...

Percaya kalau Bumi juga datar?

- Hai, Kiara. - Hai, Ma.

Mama bilang kita mau pergi liburan, 'kan?

Ya sudah. Aku mau.

Tapi aku, 'kan, yang pilih tempatnya?

Iya betul. Kamu maunya ke mana?

Aku mau ke Sumba.

Oke...

- Mama tahu, 'kan? - Tahu.

Oke. Da.

Memang di Sumba itu ada apa, ya?

Sunda, lalapan, mungkin?

Sumba!

Sumba?

Di mana itu?

Aku sering ke sini. Menginap di hotel tanteku.

Kalau Mbak Ellen mau, aku bisa tanyakan.

Oke.

Ini benar di Indonesia?

Makanya lo kalau liburan jangan ke Makau terus.

Yang penting menang!

El, serius deh.

Kalau mau pergi, pergi aja. Demi Kiara.

Kok gue berat meninggalkan kantor ya, Wan?

Tidak percayaan banget. Ada gue, ada Astrid.

Kalau Kiara senang, lo juga senang.

Dengerin, kenapa? Gue ini sahabat lo yang terbaik.

Bukan. Gue ini sahabat lo satu-satunya.

Oke. Persiapan sidang bagaimana?

Gue kabari terus dari Jakarta. Kita bisa chat, email, video call...

Manfaatin teknologi.

TIDAK ADA LAYANAN

Selamat sore, Ibu!

- Dengan Ibu Ellen, ya? - Iya.

Perkenalkan, saya Yos. Dan yang macam ubur-ubur ini, Melki.

Ibu, ada masalah?

Di sini memang susah sinyal?

Kalau di sini orang bilang sinyal GSM.

Geser Sedikit Mati.

Kalau di hotel?

Lebih parah.

Memang di pulau ini yang dapat sinyal cuma kartu Indosel.

- Nanti saya belikan kartu SIM-nya. - Oke.

Kalau di hotel ada wi-fi?

Ada, Nona.

Bahkan ada kata sandinya!

Hotelnya jauh?

Tidak jauh, Ibu. Cuma dua jam saja.

Dua jam?

Lebih lama lagi kalau kita naik kuda. Untung kita naik mobil.

Tapi rasanya kayak naik kuda, ya?

Sepi banget, sih?

Seram.

Jangan takut, Nona. Kami ini petugas hotel, bukan penculik!

Masa pikir kita penculik? Memangnya kita mau bius

terus ambil mereka punya ginjal?

Lalu mayatnya kita buang di semak-semak!

Terus mereka dimakan sama anjing liar!

Tersisa tulang belulang. Susah diotopsi!

Terus mereka hilang jejak.

- Melki... - Keluarganya cari tidak dapat!

Melki, Melki!

Kenapa, Bos?

Orang kota, susah diajak bercanda.

Kaku sekali!

- Halo. - Hai.

- Kamu temannya Astrid, ya? - Iya.

Saya tantenya Astrid.

Kenapa? Tidak mirip, ya?

Jadi, ibunya Astrid, adik saya.

Suaminya itu bule, makanya, Astrid campur-campur begitu.

- Ini anak kamu? - Iya.

Kayak Astrid, ya? Campur-campur juga?

Iya. Campur, Mbak.

Hei, jangan panggil Mbak.

Panggil saja tante.

Tua, muda, balita semua panggil saya Tante Maya.

- Tante Maya. - Iya.

- Saya Ellen. Ini Kiara. - Halo.

Kiara, kamu cantik banget sih, Sayang?

Tante, di sini ada wi-fi, 'kan?

Sebenarnya ada, tapi lagi ngadat.

Tukang servisnya dipanggil tidak datang-datang.

Kalian pasti capek, ya?

- Abe! - Minumnya, Bu.

Terima kasih, Ri.

- Silahkan. - Terima kasih.

Orange juice, 'kan, Tante Maya?

Kunyit asem.

Be.

Halo.

- Saya Abe. - Halo.

Bagaimana, Nona? Suka sama pemandangannya?

Iya, suka.

Oh iya. Ini kunci kamar.

Di situ ada kata sandi wi-finya.

Tapi maaf. Kita punya wi-fi lagi rusak.

Iya. Tidak apa-apa. Tidak perlu juga.

Kalau begitu, mari saya antar.

- Ini pantainya. - Wow.

Mari kalau begitu. Kamarnya sebelah sini.

- Binatang apa, Sayang? - Tidak tahu!

Ada capitnya terus habis itu ada tanduk!

Yang itu?

Ya usir dong, Yang!

Kenapa?

Mau foto, Tante.

- Foto. - Mau foto.

Sudah biasa seperti ini kalau mau foto. Ayo, kemari.

- Kamar di sini... - Silahkan.

Terima kasih, Tante.

Itu nangis, lho?

- Mau foto. - Kamu cari saja!

Kamar ke sini.

Kalau mau menyalakan kipas, kontaknya ada di sini.

Tidak ada AC?

Konsep kita kembali ke alam.

Tidak ada AC, tidak ada TV.

Oksigen murni.

Tarik...

Lepas.

Tarik...

Jepit!

Jepit?

Lepas...

Sudah. Istirahat, ya?

Nanti kita makan malam. Ayo.

Mari.

Iya?

Maaf, Ibu. Sepertinya dompet Ibu jatuh.

Ya ampun.

- Abe, terima kasih, ya. - Sama-sama, Ibu.

- Kalau begitu, mari. - Sebentar.

- Ini buat kamu. - Jangan, Ibu.

Saya senang bisa membantu. Mari, Ibu. Saya pamit dulu.

Selamat malam, Ibu!

Ibu, selamat malam.

Iya?

Iya, Ibu. Ini kartu SIM Indoselnya.

Paket Hoki. Tapi sesuai dengan namanya

sinyalnya juga tergantung hoki.

- Jadi kadang ada, kadang lenyap. - Oke.

Sebentar. Sebentar, ya.

- Ini buat ongkos. - Terima kasih banyak, Ibu.

Ibu kalau butuh apa-apa panggil saya saja.

Jangan panggil Abe, apalagi Melki.

Melki itu orangnya mata duitan!

Terima kasih banyak, Ibu.

Malam.

Iya?

Selamat malam, Ibu. Makan malam sudah siap.

Menunya enak dan bermacam-macam.

Bermacam-macam, 'kan?

Bermacam-macam ikan.

Memang ikan.

Tapi ikan di sini beda dengan ikan di Jakarta.

Beda apanya?

Beda logatnya!

Kakak Charles, Kakak Charles tidak suka ikan?

Saya trauma pernah jatuh ke dalam akuarium

saya dicupang ikan cupang.

Jadi kalau masalah ikan

tidak, Mas.

Mungkin Kakak Charles mau saya masak yang lain, yang di kulkas?

Yang kaleng-kalengan begitu?

- Boleh, Mas. Adanya apa, ya? - Sarden.

Coba dong, Charles. Ikan di sini segar. Beda lho?

Tapi mukanya mirip...

Sayang, tidak apa-apa kamu tidak makan ikan.

Kamu bisa makan cabai, tomat... Apa saja, apa saja!

Yang penting kamu tidak lapar...

Besok, 'kan, kita memperingati hari spesial kita? Ingat tidak?

- Angel malaikatku! - Charles pengeranku!

Hari yang spesial! Hari yang spesial!

- Charles, Angel? - Iya?

Memangnya kalian sudah menikah berapa lama?

Tiga hari.

Dan setiap hari adalah hari peringatan!

Sayang, kamu kayak Raisa tapi tidak mirip.

Kamu kayak Young Lex tapi putih.

Maaf. Kaos yang kalian pakai ini maksudnya apa, ya?

Ini untuk menggambarkan...

- Sayang... - Kita kebalik!

- Balik aja samaan? - Kita ketukarnya pasangan!

Itu jadi...

"Love"!

- Benar! - Bagus! Sekolah!

Daripada mual, ayo kita makan...

Hei! Jangan sentuh.

Butuh bantuan, begitu?

Betul! Sudah menjadi tugas kami sebagai karyawan

untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Tidak usah! Jangan pikir aneh-aneh.

Sudah terlambat, Koh.

- Kau tidak apa-apa? - Tidak apa-apa. Untung cuma teh.

Coba kalau susu, lengket!

Susu lengket?

- Kalian berdua ambil buah. - Buah?

Ayo silahkan, daripada ikannya lengket?

Ellen. Suami kamu tidak ikut?

Kami bercerai waktu Kiara umur dua tahun, Tante.

Maaf, ya.

Tapi enak kayak kamu ini.

Kamu masih muda anaknya sudah gede.

Jadi kayak teman, begitu.

Pasti hubungan kamu dekat, ya?

Lumayan.

Lagu apa itu?

Bagaimana? Mari, duduk.

Ini lagu bahasa Sumba.

Kirain lagu bikin sendiri.

Susah sekali itu bikin lagu sendiri.

Iya sih. Aku juga lagi bikin lagu.

Tapi belum beres-beres.

Saya boleh dengar?

Tapi belum beres?

Belum beres, ya?

Sayang sekali malam ini terang bulan.

Kok sayang? Bukannya bagus?

Iya, bagus.

Tapi kalau langit gelap, baru tampak betul bintang-bintang.

Nyanyi lagi, ya?

Ada lagu untuk usir bulan, tidak?

Biar gantian sama bintang?

Aduh, jangankan usir bulan

usir nyamuk saja saya gagal setengah mati.

Sudah biarkan saja.

Abe anaknya baik. Tidak akan macam-macam.

Iya.

Saya malah sebenarnya senang lihat Kiara tertawa lagi begini.

Memangnya kenapa?

Omanya baru meninggal, Mama saya.

- Turut berduka, ya. - Terima kasih, Tante.

Kamu ibu yang hebat.

Jauh-jauh ke sini demi anak.

Aku senang bertemu kalian.

Biasanya ketemu yang bulan madu terus.

Tidak masalah kalau tidak ada wi-fi. Karena ada kegiatan lain.

Pencet.

Ngomong-ngomong, hotelnya kenapa namanya Humba Sunrise?

Kenapa tidak Sumba Sunrise?

Humba sama Sumba itu sama arti.

Tapi kami, kami bilangnya Humba.

- Kamu asli sini? - Iya.

Rumah keluarga saya tidak jauh dari sini.

Satu jam saja jalan kaki.

Satu jam jalan kaki itu dekat?

Kami sudah biasa jalan kaki dari kecil.

Ngomong-ngomong itu Koh Chandra sama Siti

sedang berbulan madu juga?

Itu malah yang setiap malam paling berisik.

Koh Chandra itu pemilik tambak udang.

- Siti itu penyanyi dangdut. - Oh ya?

Kalau kamu apa, Len? Profesinya?

Saya pengacara.

Wow.

Bayarannya jam-jaman. Kayak warnet.

Sombong sekali! Kayak bisa main gitar saja!

Nona, kalau soal musik, Bos saya jagonya.

Kakak Yos, dia sudah ciptakan lagu.

- Oh ya? - Iya.

Jangan sembarangan!

Malu-malu.

- Yang Bos biasa nyanyikan malam-malam. - Yang mana?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Melki, itu "Hymne Guru"!

- Yakin? - Kau ini...

Melki!

Jangan marah, Nona. Saya tidak pernah menyanyi itu malam-malam.

Bagaimana, El?

Ini tidak bisa gue unduh, Wan.

Emailnya apaan sih memangnya?

Ini petunjuk buat Cassandra.

Kalau dia mau diwawancarai infotainment. Mau lo ulas dulu tidak?

Mau, cuma bagaimana?

Pokoknya begini, gue percaya aja sama lo.

Kalau ada yang penting lo telepon atau SMS.

- Iya? - Oke.

Terima kasih, El.

Terima kasih, Wan.

- Bagaimana, Mas Iwan? - Langsung email saja ke Cassandra.

Halo, Wan?

Kamu kalau ada waktu mampir ya ke rumah.

Ma, ini Ellen lagi di luar kota, aku lagi ribet.

Di kantor cuma berdua sama Astrid.

Berduaan sama Astrid? Siapa itu Astrid?

Wan, kamu mau kawin, jangan macam-macam!

Ma, Astrid itu anak magang di kantor.

Sudah deh.

Mama cuma mau bahas Tea Pai.

Tea Pai cuma masalah minum teh apanya yang mau dibahas?

Justru itu, tehnya mau pakai daun apa?

Daun teh, masa daun ganja?

Teh, 'kan, macam-macam?

Ada Oolong ada Jasmine...

Sudah, ya? Da.

Wan?

Tapi kenapa Mas Iwan yang sibuk sendiri?

Tunangan gue Cindy lagi S2 di Australia.

Lagian dia mengurus gedung sama dekor.

Tea Pai itu semacam upacara minum teh. Tapi...

Kawin sama orang Cina, nanti lo ngerti.

Mas!

Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?

Mas, kipas di kamar saya rusak.

Itu bukan rusak, Nona. Ini memang sudah jam tujuh.

Jadi, listrik sudah tidak ada.

- Bagaimana? - Iya jadi...

Tempat ini terpencil, jadi listrik belum masuk.

Di sini pakai genset.

Gensetnya itu

cuma menyala dari jam enam sore sampai enam pagi besoknya.

Listriknya cuma menyala 12 jam sehari?

Ya, betul. Nona hitungnya cepat juga, ya?

Ki? Ada apa?

Mama tahu tidak kalau di sini listriknya cuma menyala setengah hari?

Tidak tahu.

Tapi tidak apa-apa.

Tidak apa-apa bagaimana?

Yang benar saja hotel tidak ada listriknya?

Ada, tapi menyalanya nanti, ya?

Tapi panasnya sekarang!

Kiara! Kamu ini pagi-pagi sudah marahi orang, ini, 'kan, bukan salah dia?

Iya memang, yang salah Mama.

Kenapa jadi mama yang salah? Kamu yang mau ke Sumba.

Memang tidak ada hotel yang ada listriknya?

Pagi!

Sarapan, ayo!

Hari ini aku punya trip buat kalian. Seru, pokoknya!

Kita mendaki, terus piknik di air terjun!

Sabar, ya.

Sarapan, ayo.

- Hei. - Tante.

Hari apa ini?

Kamis, Tante.

Jangan pura-pura lupa, Yos.

Abe?

Aliran darah kamu supaya lancar.

Biar aura kamu cerah.

Memangnya aura saya kenapa, Tante?

Gelap.

Bos, pakai saja, Bos. Awal-awal saja sakit.

- Lama-lama? - Menderita!

Aduh sakit sekali! Menusuk sampai ke otak!

Sakitnya di mana?

Yang ini, Tante. Ini.

Masalahnya ini.

Lubang pantat?

Tidak salah cetak, Tante?

Coba periksa. Minta bantuan Melki.

Takutnya ada apa-apa?

Abe.

Sepatu bola saja pul ke bawah

kenapa ini pulnya ke atas?

Kamu kayaknya harus ke pasar, belanja bulanan.

- Sekarang? - Pakai motor. Ya?

Iya. Siap, Tante.

Mobilnya mau saya pakai.

Cie, mau belanja?

- Belanja bumbu dapur. - Ikut, dong?

Kalau saya dengan senang hati, tapi memang boleh?

Iya, sih.

Dia tidak seru.

Melki, kau bisa bantu saya cek sesuatu?

Bisa, Bos. Cek apa?

Bagaimana ngomongnya, ya? Nanti saja sudah.

Ki.

Kalau kamu tidak ingin ikut mama tidak apa-apa.

- Serius? - Iya.

Mama cuma ingin kamu senang, jadi terserah kamu saja.

Aku mau ikut Abe ke pasar.

Boleh?

Oke.

Oke?

Tapi tidak pulang malam-malam, ya?

Oke.

Da.

Balik ke hotel sebelum gelap.

- Iya. - Siti...

Ayo, Koh. Nanti ketinggalan.

Siap, Bos.

Semuanya sudah siap?

Siap!

Semuanya! Sudah sampai!

Melki! Bangun!

Tante Maya. Katanya kita mau ke air terjun?

Iya. Tapi mobil cuma bisa sampai di sini.

Selanjutnya perjalanan jalan kaki.

- Ayo berangkat! - Siap berangkat!

Ayo!

Koh, nanti kalau aku capek bagaimana? Gendong, ya?

Nanti kalau aku mati bagaimana?

Siti yang gendong.

Tapi jangan nangis.

- Kakak Angel, Charles. Minum dulu. - Iya.

Ini.

Ini, ya.

Kakak Charles kenapa?

Banyak banget kuda di sini, ya?

Tenang saja. Kuda itu bukan hewan buas

dia itu hewan ternak. Santai!

Saya trauma pernah jatuh dari kuda.

Sejak itu saya tidak mau lagi berhubungan sama kuda.

Apa itu kuda poni...

Kuda catur...

Karate...

Karate?

Kuda-kuda!

Tapi tenang saja Kakak Charles, di depan sana sudah tidak ada kuda.

Paling kalajengking!

Dia melotot!

Sayang, kamu, 'kan, Skorpio?

Masa kalajengking gigit kalajengking?

Sampai!

Maaf.

Air terjunnya di mana?

Di bawah sana, Ibu!

- Oke. - Mari.

Lanjut!

Iya.

Turun. Ayo, Koh.

Kayaknya aku salah kostum. Apa aku robek sedikit, ya?

Betul Kakak Siti. Robek saja!

- Saya bantu, Kak? - Jangan sentuh!

Kebanyakan.

- Tidak apa-apa, sudah pas. - Kurang sepuluh senti itu.

Biar aman, Koh. Demi keselamatan.

- Bantuin, Mas. - Iya, saya jaga di sini.

Kak Charles!

Kakak Charles kenapa lagi?

Saya trauma pernah jatuh dari jungkat-jungkit.

Baru jungkat sudah jungkit.

Kakak Charles hidupnya banyak trauma, ya?

Sudah tidak apa-apa. Sini. Pegang tongkat.

Saya trauma dengan tongkat, pernah jatuh waktu lari estafet!

- Aduh! Tidak apa-apa! - Jangan!

- Biarin! - Tidak apa-apa!

Kak Seto!

Kakak Charles, ayo mandi!

Saya tahu, pasti Kakak Charles trauma, 'kan?

Pernah jatuh dari air terjun, 'kan? Kemudian di cupang sama lumut, 'kan?

Tahu saya.

Bukan saya, tapi ayah saya.

Ayah saya terjun dan itu terakhir kali saya melihat ayah saya.

Sekarang setiap saya melihat anak sungai

saya selalu kepikiran ayah saya ada di situ atau tidak.

Dan saya tidak akan lupa kata-kata terakhir ayah saya.

"Ayo Charles, airnya tidak dingin kok?"

Saya hitung ikan di kali sebelah dulu, Kakak Charles.

Kamu kenapa?

Yos. Kamu lompat dong!

Tidak, Ibu! Macam anak kecil saja!

Saya kasih 100.000!

Dua ratus ribu!

Yos, 500.000!

Ibu Ellen, 500.000!

Aku dulu kayak kamu, Len.

Maksudnya kayak saya bagaimana, Tante?

Hanyut sama Jakarta. Keasikan kerja.

Cari duit, lupa nikmatin hidup.

Tapi saya menikmati hidup saya, Tante.

Saya suka sekali sama pekerjaan saya.

Suka atau cinta?

Maksudnya?

Kalau cinta...

Maka kita akan memberikan milik kita yang paling berharga.

Apa coba?

Uang?

Waktu.

Itu yang paling berharga.

Lucu banget!

Lucu banget kayak bawa galon begitu.

Langsung baris. Mari.

Saya bantu, Koh.

Nomor yang anda tuju...

Hai, Ma!

Tadi aku ke goa dan

Oh iya. Aku beli ini.

Tadi kamu janji apa sama Mama?

Janji?

Mama bilang jangan pulang malam-malam.

Balik ke hotel sebelum gelap. Kamu bilang oke.

Tapi, 'kan, aku tidak bilang janji?

Kiara, setiap omongan kita itu janji!

Mama dari tadi telepon kamu tidak bisa-bisa, Ki!

Mama itu khawatir!

Batere aku habis, Ma!

Semalam sampai langsung tidur?

Lupa cas power bank.

Tadi pagi, bangun-bangun listrik sudah mati.

Bagaimana dong?

Mama rasa seharusnya kamu jauh lebih dewasa daripada ini.

Jangan minta maaf kalau kamu tidak benar-benar tulus. Mengerti?

- Capek sekali hari ini. - Kita yang kerja semua.

Abe tidak bikin apa-apa.

Bos, yang bulan madu, 'kan, di situ? Itu?

Kemasukan, mungkin?

Tapi kalau bulan madu juga ada yang kemasukan?

Tapi yang saya maksud bukan kemasukan setan.

Saya tahu itu, Melki.

- Yakin? - Kak Melki?

- Abe. - Sial.

Melki! Saya tahu itu!

Melki! Kau pikir kau saja yang sekolah?

Kiara? Kiara, bangun!

Apaan sih, Ma? Masih pagi.

Bangun ikut mama, ayo.

Ke mana sih, Ma?

Sini. Percaya sama mama. Cepat, ayo.

Ada sinyal, Ma!

Mama tahu.

Sekarang saatnya bikin jingle versi kamu!

Terus itu kamu dibayar?

Iya.

Pakai uang?

Ya, masa pakai doa?

Iya, tidak. Siapa tahu barter?

Persediaan wafer seumur hidup, mungkin?

Tidaklah. Pakai duit.

Lumayan, 'kan?

Lumayan.

Soalnya mama pikir yang bisa cari uang di Instagram hanya...

Ya, selebritis-selebritis yang terkenal.

Sebentar lagi juga aku terkenal.

Kalau lolos audisi The Next Voice.

Hai, Jessie.

Itu videonya sudah aku unggah. Bagaimana? Aman?

Gitu, kek? Keren tahu?

Panik tahu, gue gara-gara urusan wafer?

Manajer macam apa begitu doang sudah panik?

Iya. Lagu bagaimana?

Masih progress.

Judulnya apa?

Untuk Mama.

Ciye...

- Ya, El? - Bagaimana, aman?

Aman. Ini surat panggilan sidang sudah gue pegang.

Besok lo balik, 'kan?

Iya, jadi.

Oke. Kiara bagaimana?

Senang banget dia. Semoga sampai Jakarta senang juga.

Amin. Ya sudah. Sampai jumpa.

- Oke. Terima kasih, Wan. Da. - Da.

Iya, Ma?

Wan, kamu kalau ada waktu

temani mama ke pasar Mayestik cari kain, ya?

Ya ampun. Pasar Mayestik?

Ma, repot banget. Ngapain sih?

Wan, mama tidak tahu harus bagaimana sama kamu?

Kamu kalau tidak mau repot, ya, jangan resepsi!

Kamu bikin pengumuman saja pakai toa.

Iya sudah. Iya, nanti.

Nanti aku telepon balik, ya. Oke? Da.

Wan? Halo?

Aduh.

Ini anak, ya. Makan hati, gue!

Saya juga makan hati, Ci.

Ya!

Aku diterima!

Aku diterima!

Hei, kau apakan orang punya anak itu?

'Kan kemarin ajak keluar satu hari?

- Aku diterima? - Kenapa saya lagi?

Kalian berdua pakai narkoba, ya?

Sembarangan saja.

Kena angin duduk, ini.

- Siti. - Ya?

Ajarin joget yang benar. Masa begitu?

Kayak ayam mau disembelih.

Iya. Kalau kayak gitu gimana mau ada yang nyawer?

Terus-terus, Ki?

Jadi audisi online bukan berdasarkan jumlah views.

Tapi yang menurut juri bagus saja.

Berarti Andiennya sudah lihat video kamu nyanyi?

Tapi, 'kan, itu cover lagu orang?

Terus kenapa memangnya?

'Kan nanti aku mau nyanyiin lagu aku sendiri?

Ma. Lihat.

Bagus tidak?

Wow!

Aku ingin jahit ini untuk audisi nanti.

Sayangnya mama tidak mewarisi bakat Oma soal jahit-menjahit, Ki.

Ya, tidak apa-apa, Ma. Tidak harus Mama yang jahit.

Tapi Mama bantuin, ya?

Kalau bantuin...

Sudah pasti!

- Tapi ada syaratnya. - Apa?

Tolong lihat jemuran di depan, siapa tahu ada yang tertinggal.

Oke, kirain apa?

Periksa yang di bawah juga, Ki. Siapa tahu ada yang jatuh.

Ki?

Kiara?

Aku jadi ingat film Moana, Ma.

Pas malam-malam di laut itu...

Langit penuh bintang...

Tiba-tiba...

Tiba-tiba neneknya muncul, 'kan?

Ki kangen Oma, Ma.

Mama juga kangen, Ki, sama Oma.

Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa hidup tanpa Oma.

Ki?

'Kan mama ada di sini buat kamu?

Mulai sekarang, mama yang jagain kamu.

Mama dampingin kamu...

Oke?

Janji?

Janji.

Ellen.

Hei.

Iya.

Baik.

Kok tahu sih?

Bagus? Atau mau peragaan busana?

Coba, Mbak Jes!

Ya allah.

Gelap banget. Cepat. Takut.

'Kan ada mama?

Kamu sudah siap?

Satu, dua...

Tiga.

Mana, tidak ada apa-apa?

Banyak banget.

Lagu sudah beres, Ki?

Sebenarnya sudah.

Cuma belum PD saja.

Manajer sudah bilang bagus lo masih belum PD juga?

Iya, 'kan, lo bilang begitu cuma biar gue seneng saja.

Tidak, Ki. Beneran bagus.

Kalau lo tidak percaya, lo rekam terus lo unggah ke YouTube.

Lo lihat saja bagaimana responnya, sekalian cek ombak. Iya tidak?

Kita lihat saja nanti.

Nyokap lo beneran jemput?

Gue kira hoaks?

- Da. - Da, Ki.

Mas, ini HP aku.

Oh iya. Maaf.

Itu akun apa?

Itu akun gosip, Mas.

Biasanya aku update gosip-gosip artis dari situ.

Seru tahu?

- Lihat sebentar. - Jangan, Mas.

- Lihat sebentar. - Mas.

Tidak akan gue banting!

Siake, siake.

Siake itu kayak sialan tapi lebih amsiong lagi.

Kawin sama orang Cina, nanti mengerti.

Pokoknya sampai kasus ini selesai

jangan sampai ada blunder kayak begini lagi.

Tapi aku tidak mabuk dan ini benar sepupu aku dua-duanya.

Iya tapi botolnya itu.

Ini dia ulang tahun.

Dia buka botol.

Aku cuma iseng, cuma gaya-gayaan pegang botol kayak begini.

Aku mana mungkin minum?

Makan tape ketan saja muka aku merah?

Oke, oke.

Ini sudah kejadian.

Apa kamu bisa buktikan bahwa dua orang ini sepupu kamu?

Iya.

Oke.

Kita rekap dari awal, biar jelas.

Ya?

Ji. Foto Cassandra yang di Lambe Murah tadi.

Yang motret.

- Halo. - Hai, Ellen.

- Sibuk? - Ada apa, Ji?

Di dekat kantor lo ada restoran sushi baru, enak banget.

Cobain yuk? Sekalian ada yang mau gue obrolin sama lo.

Sudah Ji tidak usah sok tidak berdosa begitu kenapa?

Tidak berdosa? Maksud lo...

Itu foto Cassandra di...

Lambai Murah itu.

Maksud lo gue yang nyebarin foto itu?

Ellen, gue tidak sejahat itu.

Begini, kita ketemu

gue jelasin semuanya sama lo. Oke?

Tidak.

tapi gue sudah ada janji.

Oke?

Nasi gorengnya enak.

- Bikin? - Iya dong.

Beneran?

Iya dibikin sama abangnya.

Lagian, Mbak nanya begitu?

Di mana-mana nasi goreng dibikin.

Kalau dipetik itu jambu, cabe, gitar.

Ma, besok temani Kiara cari kain.

Jangan besok, Ki. Besok mama harus ketemu saksi sidang.

Lusa. Mau tidak?

Nanti kalau kelamaan

bikinnya jadi buru-buru dan hasilnya jadi tidak bagus.

Memang kamu tidak berani sendirian?

Tapi kira paling tidak bisa kalau disuruh menawar?

Gue? Nawar?

Hanya karena mentang-mentang gue Cina?

Terus lo berasumsi gue jago nawar?

Wan, bukan begitu. Maksud gue kalian sekeluarga itu...

Cina. Gue sekeluarga Cina? Terus?

Pedagang, Iwan.

Kalian sekeluarga itu pedagang.

- Terus? - Nyokap bokap lo punya toko.

Jadi pasti sudah biasa lihat tawar menawar.

Ya, yang punya toko mereka, yang tawar menawar mereka?

Lo pikir kemampuan tawar menawar turun dari generasi ke generasi?

Genetik? Ini genetik!

Iwan, gue harus wawancara sepupunya Cassandra.

Dan gue harusnya ada di situ, bantuin lo.

Ya, lo juga bisa bantuin gue dengan ke toko kain sama Kiara, Wan.

Tolong, gue harus tepati janji gue ke anak gue.

Lo tepatilah janji lo ke anak lo.

Wawancara saksi biar gue.

Oke.

Oke.

Jadi lo akan wawancara saksi...

Tanpa gue?

Iya?

Wan.

Ini kasus perdana kita.

Iya, gue paham.

Dan gue juga yakin lo paham betul

seberapa pentingnya saksi ini buat kasus kita.

Jadi...

Wawancara atau toko kain?

Toko kain.

Kasih gue alamatnya.

Seratus lima puluh ribu, Bu, per meter.

Jangan bohongi gue dong, lo masih orok gue sudah jualan.

Tiga puluh ribu.

Tidak bisa, Bu. Seratus empat puluh ribu saja.

Begini, kita ambil tengah-tengahnya, ya?

Lima puluh ribu. Bungkus.

- Lima puluh ribu. - Tidak bisa, Bu.

Om Iwan, sebelah mana yang bagus?

Tidak tahu, gue tidak pernah ke sini?

- Ke sana saja, ayo. - Ayo.

Jangan. Ke sana lebih bagus.

- Katanya tidak pernah ke sini? - Iya tapi ini tanggal genap

ke arah utara fengshuinya lebih bagus.

Tapi itu tokonya lebih gede?

Terlalu gede tidak boleh. Kita dukung industri kecil dan menengah.

Jadi saudara saksi yakin betul

bahwa penggugat yang adalah sepupu anda sendiri, Cassandra ini

tidak minum alkohol?

Yakin. Itu pegang botol buat gaya-gayaan doang.

Baik. Terima kasih atas keterangan saudara saksi.

Dari pihak tergugat ada pertanyaan?

Terima kasih, majelis hakim yang terhormat.

Saudara saksi.

Benar bahwa foto ini

diambil di acara ulang tahun anda?

Benar, Pak.

Bisa anda jelaskan

jam berapa acara ulang tahun anda dimulai?

Jam 11.

Malam juga ya, jam 11?

Jam 9.

Jadi jam 11 atau jam 9?

Bisa ambil tengahnya saja? Jam 10?

Saya tanya sekali lagi saudara saksi.

Jam berapa acara ulang tahun anda dimulai?

Jam 9.

Baik. Jadi acara ulang tahun anda

dimulai jam 11, ya?

Jam 9.

Oh iya. Jam 9. Mohon maaf.

Foto yang tadi saya tunjukkan, diambil jam berapa?

Sudah lupa, Pak.

Ya, dijawab seingatnya saja.

Jadi itu acara ulang tahun saya, Pak. Ramai banget ya, 'kan?

Terus datang, ditutup mata saya.

Pas buka, "Surprise!" Cassandra datang.

Ada badut, penari ular, terus...

Saudara saksi.

Tolong jangan berbelit-belit.

Datang, surprise

penari dipatuk ular

dibawa ke ambulans, satpol PP datang...

Jam berapa foto itu diambil, saudara saksi?

Fotonya diambil jam 10.

Majelis hakim yang terhormat.

Selanjutnya mohon dicatat sebagai bukti

dalam perkara ini

bahwa kami telah menemui orang yang mengambil foto ini

dan jejak digital menyatakan bahwa foto ini

diambil pukul setengah satu pagi.

Majelis hakim yang terhormat.

Fakta bahwa penggugat hadir di sana sampai larut malam

membuat kami khawatir

atas pengawasan terhadap Darren.

Mengingat saat ini Darren masih berada didalam asuhan penggugat.

Keberatan majelis hakim. Ini adalah asumsi belaka.

Oke, oke. Baik.

Ada pertanyaan lain?

Tidak ada. Terima kasih majelis hakim yang terhormat.

Sudah semua saksi-saksi dari penggugat dan tergugat?

Kalau begitu, untuk sidang berikutnya

saya minta Darren Antonio untuk dihadirkan.

Panitera tolong dicatat.

Siapa tadi namanya, Pak?

Darren Antonio.

Siapa itu, Pak?

Sudah catat saja.

Pokoknya kita hari ini fokus saja.

Kejar soal status perceraian sama Darren.

- Soal Darren. - Oke. Gue kejar Darren.

Mbak Cassandra, sebentar!

Mas Marco, satu pertanyaan.

Status perceraiannya sudah sampai mana?

Terus masalah hak asuh anak keputusannya sudah bagaimana?

Mas Marco, bagaimana prediksi MU Liverpool nanti malam?

Pakai ditanya? MU lah? 'Kan di kandang MU? Bagaimana sih?

- MU! - MU!

- Skornya? - 4-0.

Itu juga karena kasihan.

Tidak bisa dong. Tidak bisa kayak begitu.

Liverpool tahun ini sudah beda sudah berbenah.

Iya betul, Mas. 'Kan Coutinho juga tidak jadi dijual.

- Ini Darren bagaimana? - Sudah diam ini tentang Liverpool.

Fansnya Liverpool.

Glory, glory

Man United

Glory, glory, Man United

Glory, glory, Man United

Darren!

Mas Darren.

Sejak kapan dipanggil Marco?

- Ini bapaknya, Darren anaknya. - Ini Marco.

Bego banget gue!

El, Aji itu sudah pengalaman banget mengurus beginian.

- Sementara kita masih baru. - Sudahlah.

Gue rasa wajar kalau kita masih berat perjuangannya...

Ya, lo juga lagian mau aja terima kasus kayak begini!

Mbak Ki! Bajunya sudah jadi!

Wow!

Bagaimana, Ma? Bagus tidak?

Bagus.

Tadi roknya agak kepanjangan.

Tapi sekarang pas! Iya, 'kan?

Iya itu sudah bagus. Ininya tidak usah. Buat Sasha aja.

Ini bawa sana.

Ma. Mama jadi, 'kan, temani aku ke audisi Senin depan?

- Jadi. Jam dua, 'kan? - Ya.

Mama sidang pagi, jadi jam 12 sudah selesai.

- Pak? Pak panitera? - Ya?

Ini sudah setengah sepuluh.

Oh iya.

Begini.

Pak hakim masih di MA. Serah terima jabatan.

Nanti selesai baru dimulai sidang.

- Ini serius? - Serius.

Ibu yang kasus narkoba?

Kasus apa itu dia?

Kasus yang penculik anak itu.

Kecepetan tidak sih?

Ya mending kecepatan daripada terlambat?

Pagi banget sudah pada datang?

Daripada bengong mendingan bantu gue beres-beres.

- Aku gugup sekali. - Tidak apa-apa.

Perhatian-perhatian. Semuanya sebentar lagi kita akan mulai

dan yang pasti jangan lupa berdoa sama satu lagi

kalau sudah terkenal, jangan pada belagu, ya?

Hai, aku Kiara. Nama kamu siapa?

Kamu umur berapa?

Kamu tidak gugup?

Maaf, ya. Mila jangan diajak ngobrol. Dia harus simpan suaranya.

Maaf.

Juri kita Reza Chandika!

Iya. Tidak ada rencana tepuk tangan?

Jerinx SID!

Kenceng banget gitu tepuk tangannya.

Dan Andien!

Terima kasih. Halo semuanya!

TUNJUKKAN SUARAMU

Hai. Mila, ya?

Sudah siap, Dik?

Mainkanlah.

Ya ampun.

Anak gue keren!

Stage!

Oke sekarang lagu berikutnya.

- Sudah! - Cukup!

Nanti kecengklak kasihan tidak ada yang ngurutin soalnya. Sudah.

Ini seni. Ini murni.

Saudara saksi, bisa anda jelaskan

apakah betul Bapak Marco

pernah bekerja sebagai presenter handal di televisi anda?

Iya, betul. Lima tahun yang lalu.

Semua suka sama dia.

Dari artis, kru...

Kenapa akhirnya Pak Marco tidak lagi menjadi presenter di televisi anda?

Dia inginnya cuma satu program saja satu hari.

Karena ingin meluangkan waktu lebih banyak bersama Darren.

Padahal waktu itu rating dia lagi tinggi-tingginya.

Jadi demi meluangkan waktu bersama dengan Darren.

Yang setahu saya seperti itu.

Majelis hakim yang terhormat cukup dari kami, terima kasih.

Dari pihak penggugat ada pertanyaan?

Iya, terima kasih majelis hakim.

Pak Richard, ketika Pak Marco harus datang ke lokasi syuting misalnya

apakah dia pernah terlambat?

Iya beberapa kali.

Apakah betul ketika sorang artis datang terlambat ke sebuah produksi

itu akan mempengaruhi artis-artis lain, kru

bahkan keseluruhan produksi tersebut hingga mengalami kerugian?

Iya, lumayan.

Baik, jadi apakah seseorang dengan tabiat tersebut

bisa dibilang seseorang yang bertanggung jawab?

Keberatan majelis hakim yang terhormat.

Penggugat terlalu mengarahkan jawaban saksi.

Hai Darren. Kamu kelas berapa?

Kelas lima, Oom.

Tidak apa-apa panggil Oom. Boleh.

Asal jangan panggil tante saja, ya?

Oh iya, Darren. Oom mau tanya.

Selama ini kamu lebih sering main sama siapa?

Mama atau papa?

Papa.

Senang main sama papa?

Senang.

Memang Darren tidak senang kalau bareng sama mama?

Senang, tapi mama kerjaannya syuting terus.

Tapi Darren tahu, 'kan, mama itu sibuk kerja buat Darren juga.

Biar Darren bisa beli mainan yang bagus-bagus.

Darren tidak mau mainan dari mama. Maunya main sama mama.

Halo Kiara.

Terima kasih.

Jadi hari ini kamu akan nyanyiin lagu ciptaan kamu sendiri?

Boleh tau judulnya?

Belum ada.

Ya sudah, cepat. Saya lapar.

Heh? Iya, iya. Buset.

Bintang malam

Dengarkan aku bercerita

Maaf. Boleh saya coba sekali lagi?

Kamu itu buang-buang waktu saya saja di sini.

Tidak, tidak, tidak begitu.

- Mohon maaf, masih kecil. - Ini acara apa sebenarnya?

Tapi itu memang customer service dimarah-marahin?

Kiara, halo, Sayang. Kamu kenapa, Sayang?

Kayaknya badannya lagi kurang fit, ya?

Kamu lagi meriang, mungkin? Atau sedikit lesu?

Mungkin kamu harus minum ini, kopi telor.

Sudah, sudah. Jujur kalau menurut aku

suaranya Kiara itu unik banget. Iya, 'kan?

Dan lagunya juga bagus. Bagus banget.

Hanya sepertinya kondisinya tidak seratus persen fit hari ini.

Iya, Kiara?

Jadi kita ketemu lain kali saja, ya?

Semangat, Kiara.

- Da, Kiara. - Oke berikutnya.

- Kiara, kita bisa... - Mbak Ki kenapa?

Habis itu dia langsung naik taksi ke bandara, Tante.

Sudah, ayo.

Bintang malam

Dengarkan aku bercerita

Tentang hati

Yang telah temukan tempat untuk berpulang

Biar masa lalu pergi menjauh Dan tak kembali

Biarkan saja

Karena tak perlu ada

Detik waktu tersia-sia

Saat tersadar

Kiara, sarapan dulu, ayo.

Kiara?

Masih di sini?

Saya memang suka di sini, sunyi, tenang

tidak macet, tidak berisik.

Iya, kalian yang tiap malam berisik.

Yang berisik itu...

Kalau saya yang pentingnya kerja.

Sudah mendingan sekarang makan dulu biar kerjanya kuat!

Kalau kuat kamu berisik lagi.

Yos. Melki.

Ya, Tante.

Hibur dia. Tante mau siapkan sarapan.

- Siap, Tante. - Siap, Tante.

Mundur. Kau tahu apa?

Adik Nona Manis, jangan sedih-sedih begitu.

Lihat ini pantai sudah begini indah ikut bersedih kalau adik bersedih.

Betul sekali, jangan sedih-sedih, Nona.

Lebih bagus Nona dengar cerita lucu.

Betul itu, cerita lucu Nona.

Kakak Yos punya cerita lucu.

- Oh iya? - Ada.

Yang mana?

Yang kita berdua pergi ke pasar Watumbaka.

Yang kita lihat penjual celana turun?

- Itu lucu, ya? - Lucu itu. Sikat, Bos.

Jadi begini Adik Nona.

Suatu hari saya dan Melki pergi ke pasar Watumbaka.

Ditengah jalan, jalan lumayan ramai.

Tapi kami bertemu dengan kakak adik, mereka juga mau ke pasar.

Suami istri, Bos.

Suami istri? Yang kita jalan...

Jadi kami bertemu suami istri, mereka mau ke pasar juga. Di jalan.

Suami istri romantis sekali, mereka mengayuh sepeda pelan-pelan...

Motor, Bos!

Mereka naik motor. Mengayuh dari mana?

- Bawa motor. - Yakin, motor?

Motor!

Ya sudah.

Jadi ini suami istri mereka naik motor.

Jadi mereka tidak kayuh, mereka gas.

Mereka gas sampai di pasar, kami ditempat sayur-sayuran, 'kan?

Mereka ke penjual babi. Kemudian mereka...

Penjual kambing, Bos!

Babi dari mana? Kambing?

- Babi! - Kambing!

Kambing. Babi dari mana? Itu kambing!

'Kan pas itu kita pergi ke pasar sama-sama mereka pakai motor

terus mereka parkir, kita parkir di belakangnya.

Pas kita turun, mereka turun, hampir dihajar saya punya kaki.

Mereka lewat, mereka pergi pas dia jalan begitu

mereka pergi ke penjual kambing!

- Pas sampai... - Sombong!

Kalau kau lebih tahu kenapa tidak kau yang cerita dari tadi?

Saya cerita kau potong.

Kau pikir saya punya cerita ini kue ulang tahun?

Itu babi, Melki! Saya tahu!

Kau pikir kau saja yang sekolah?

Kenapa, Be? Abe?

Abe tidak panggil kau, Melki! Sini, tanggung jawab kau!

Gara-gara kau cerita jadi tidak lucu.

Melki!

Maaf, Adik Nona. Melki memang begitu. Melki!

Tarik, tarik, kuat! Tarik!

Tarik!

Satu!

Gawat!

Nona, tidak apa-apa?

Jangan sentuh!

Koh, kami ini mau bantu.

- Siapa tahu keseleo. - Iya.

Dia tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa Siti?

Tidak apa-apa, kok?

Yang penting kita menang!

- Betul kau! - Kiara.

Ki. Kiara.

Ki. Mama mau minta maaf, Ki.

Kalau tidak benar-benar tulus mendingan tidak usah minta maaf.

Kiara, Kiara, dengarkan mama dulu.

Mama mohon.

Dengerin apa, Ma?

Dengerin pembelaan Mama?

Kayak Mama selalu membela klien-klien Mama?

Ayo, Ki. Itu pekerjaan mama.

Yang biayain hidup kita ya, itu.

Jadi Kiara harus bayar supaya bisa dibelain sama Mama?

Satu-satunya orang yang sayang sama aku, perhatian sama aku

malah harus pergi.

Sekarang aku tidak punya siapa-siapa.

Iya, 'kan?

Kupikir pengacara akan selalu punya pembelaan.

Mama itu takut sama kamu, Ki.

Mama takut kamu tidak bisa sayang sama mama seperti sama oma.

Sekarang mama sudah tidak tahu lagi musti mulai dari mana.

Mulai saja dari menjelaskan kenapa mama jaga jarak sama aku.

Kenapa aku yang harus selalu menanggung salahnya papa?

Kamu tidak tahu apa-apa soal papa kamu.

Karena Mama yang tidak pernah mau cerita.

- Kamu tidak akan mengerti. - Memang Mama sudah pernah coba?

Ki, mama mohon, soal papa kamu, lupain aja!

Oke?

Mama punya sesuatu mama ingin kamu lihat, ya?

Apaan sih, Ma?

Kiara tolong lihat dulu.

Papa salah apa?

Mama yang salah.

Dulu mama masih terlalu muda.

Opa kamu waktu itu sudah sakit-sakitan.

Mama cuma ingin nyenengin opa.

Kasih apa yang opa ingin banget.

Yaitu cucu. Kamu, Ki.

Tapi ternyata nikah muda itu sama sekali tidak gampang.

Papa kamu ternyata tidak siap hidup dengan satu perempuan saja.

Mama sakit hati, Ki.

Sampai akhirnya mama kuliah lagi, kerja lagi.

Senang lagi.

Itu pelarian mama.

Saking senangnya mama sampai tidak sadar.

Tanggung jawab mama itu sebenarnya apa.

Tiba-tiba mama kayak kehilangan waktu, Ki.

Kamu sudah gede.

Setiap mama ingat papa kamu...

Mama jadi ingat betapa naifnya mama dulu.

Dan tidak seharusnya kamu menderita karena kesalahan mama sendiri, Kiara.

Jadi ini salahnya mama.

Mungkin Mama salah.

Tapi Mama tidak sendiri.

Aku sudah bukan anak balita yang dulu Mama titipin ke oma.

Mama bilang, Mama janji mau jagain aku.

Aku juga mau, jagain Mama.

- Janji? - Janji.

Maafin mama, Kiara.

Tadi Mama mau tunjukin apa?

Kita duduk di sini dulu.

Hai Kiara, aku sudah nonton video kamu nyanyi tadi.

Sayangnya aku tidak bisa bantu kamu di The Next Voice kali ini. Maaf banget, ya?

Tapi, aku sekarang mau keluarin album baru

kamu mau tidak jadi featuring di salah satu lagu aku?

Mau, ya?

Ki.

Mama tahu mungkin ini tidak akan bisa menebus kesalahan mama selama ini.

Mama cuma...

Jadi kapan ke sini lagi?

Nanti pas wi-finya sudah dibenerin.

- Ellen, aku Desember ke Jakarta. - Oke.

- Kita ketemuan, ya? - Iya.

Lagi ada kerjaan, Tante?

Aku?

Lomba capoeira.

Awas jatuh, Tante Maya!

- Kok bisa, Ma? - Bisa apa?

Itu, video?

Iya bisa lah.

Ruang audisi ada di mana, ya?

Ruang audisi pintu masuknya ada di sebelah sana, Mbak.

- Oke. - Tapi, Mbak...

- Mbak Andien? - Iya?

Maaf, permisi. Saya mamanya Kiara.

Kiara Tirtoatmodjo, yang tadi audisi.

Boleh minta waktunya Mbak Andien sebentar? Tiga menit saja.

Mama ngomong apa ke Andien?

Kalau urusan ngomong pengacara tidak usah dilawan.

Memberikan putusan sebagai berikut.

Satu, mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian.

Dua, menetapkan hak asuh anak

Darren Antonio, kepada...

Tergugat, Marco Alexander.

Namun tetap memberikan penggugat Cassandra Salim

hak untuk bertemu dan memberikan kasih sayang sebagai seorang ibu.

Darren!

Kangen Ayah, si ganteng!

Aku mau naik banding.

Mbak Ellen.

Halo?

Ya sudah, oke. Tapi kalau sudah direkam

nanti mama lihat dulu hasilnya kayak apa nanti baru boleh di unggah, ya?

Mama bawel banget sih, ya?

Tidak. Kalau jelek mama tidak mau.

- Benar. - Oke.

- Benar, janji? - Iya, iya. Oke.

Mama bisa tuntut kamu, jangan macam-macam.

- Tuntut? - Iya.

Aku juga punya pengacara.

- Siapa? - Oom Iwan.

Oom Iwan pasti kalah sama mama.

Oke.

Stop.

Ini sudah melanggar pasal 335

perbuatan...

Tidak menyenangkan.

Tapi itu menyenangkan untuk kita.

Iya, 'kan, Be?

Iya. Itu tadi merdu sekali, Ibu.

Sudah diajarin ngerayu rupanya.

Sedikit.

Mana, ya, yang enak? Ini tidak hangus.

Kita kayaknya harus karaoke sekantor.

- Iya. - Tidak.

- 'Kan suka nyanyi? - Ayo Mbak Ellen.

Tidak. Mendingan jangan. Pasti kamu mau nyanyi lagu F4, 'kan?

- F4 itu apa, ya? - Pura-pura lupa.

Waktu jaman Meteor Garden dulu, dia selalu sok-sokan jadi Hua Ze Lei.

Ke mana-mana selalu jalan berempat.

Kenapa kamu harus memancing keretakan dalam rumah tangga?

- Aku, 'kan, cuma jujur? - Tidak perlu sejujur itu juga.

- Cin, ada foto? - Tidak ada.

Tapi video.

Jangan dong.

- Kamu masih ada videonya? - Iya dong.

Iya.

Iya saya ke depan. Sebentar, ya.

Oke.

Oi! Ngatno.

Berisik, tahu!

Namanya petasan itu memang berisik. Tidak bisa di silent.

Tapi ini masih jam tujuh, tahun barunya belum mulai!

Ini namanya check sound!

- Maaf. - Hati-hati.

- Ini aku taruh di mana? - Di sana.

Katanya tidak butuh laki-laki untuk bikin lo senang?

Bukan senang. Lengkap.

Lengkap.

- Hei, Ji. - Hei, Wan.

Semuanya, kenalin ini Aji.

- Hai Aji. - Halo.

Hai, Aji. Aku Maya.

Tante Maya?

Tua, muda, balita semuanya pakai Tante?

Kali aja ini suka sama yang matang.

Aku fleksibel lho?

Fleksibel banget, ya?

Ini Kiara.

Kiara Tirtoatmodjo.

Hai. Hai Kiara.

- Calon penyanyi terkenal. - Wow.

Kiara, ini Aji Pamungkas.

Calon papa, mungkin?

- Kiara... - Kayaknya tahun baru, papa baru!

Mbak Ellen sudah sama Mas Aji.

Kamu tidak mau sama aku?

Ngaca! Muka berminyak begitu, kayak gorengan adem.

Maaf, ya.

Mungkin ini mengecewakanmu.

Tapi aku tidak mau terlibat cinta segitiga!

Yang ada kita benci segitiga!

Ayo Mbak. Jangan dekat-dekat dia. Nanti ketularan miskin!

Kau ini kepala batu, lihat sendiri!

Ini bapak yang kemarin jual?

Lihat apa yang dijual? Babi!

Sudah kubilang yang bapak ini jual babi!

Masa ini babi?

- Abe? - Saya pinjam. Melki!

Ya ampun! Jadi kayak begini

makanya jangan suka durhaka sama orang tua.

Jadi kayak gini kamu bentuknya.

Itu karangan bunga untuk siapa, Ngatno?

Untuk Oma...

Ini anaknya?

- Kamu Marco? - Darren!

Sombong sekali. Macam kau bisa main gitar saja.

Sudah biarin saja.

Abe anaknya baik, tidak akan macam-macam.

Kau berani sama saya, ya?

Kamu ini pagi-pagi sudah marahin orang, ini bukan salahnya dia.

Ya memang. Yang salah itu papa.

Hah? Kok jadi salah papa?

Ya habis salah siapa?

Salah gue? Salah teman-teman gue?

Apa yang kamu lakukan ke aku itu, jahat.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.