Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Road Home]
[Episode 5]
Aku pergi membeli sesuatu.
Di dalam kotor, belum dirapikan.
Tidak apa-apa.
Kamu ke kamar lihat film sebentar.
Nanti setelah selesai,
akan kuantarkan untukmu.
Aku ingin melihatmu memasak.
Aku belum pernah melihatnya, penasaran.
Kamu penasaran dengan semua hal.
Kamu tunggu sebentar.
Aku rapikan dulu.
Aku membelikanmu barbeku.
Makanlah sendiri.
Baik, aku mengerti.
Pedas sekali!
Mau kusisakan sedikit untukmu?
Tidak perlu, aku tidak suka itu.
Kebetulan selesai makan.
Bagaimana kamu ingin memasaknya?
Mau dimasak apa?
Dilapisi telur lalu digoreng.
Kamu tidak merasa repot?
Lagi pula bukan aku yang membuatnya.
Kamu sudah datang.
Tunggulah di kamar.
Aku tidak mau.
Aku hanya ingin di sini melihatmu bekerja.
Bengkel terlalu dingin.
Tidak perlu dilap.
Nanti aku cuci sendiri.
Aku pergi dulu. Cepat, ya.
Aku tidak sengaja.
Aku hanya ingin melihat akhirnya.
Ayo beres-beres dan makan.
Lain kali kurangi menonton yang seperti ini.
Belajarlah dengan baik.
Aku juga tidak tahu akan tayang yang seperti ini.
Jangan lupa meneleponku.
Semester lalu
performamu sangat buruk.
Aku sering tidak bisa menemukanmu.
Pelatihan banyak,
tempat yang ada sinyal sedikit.
Aku tahu.
Pokoknya telepon aku
saat kamu tidak sibuk.
[Tahun 2010]
[Tahun 2020]
Kamu sedang...
Apakah cinta pertamamu
sudah pulang?
Aku ingin bertemu dengannya.
Seharusnya belum.
Apa maksudmu seharusnya belum?
Kamu tidak menanyakannya?
Anak orang dititipkan di tempatmu.
Bukankah kalian berdua
harus mengirim salam tiga kali sehari?
Pekerjaannya khusus.
Beberapa hari tidak bisa bertemu,
bagaimana mau menyapa tepat waktu?
Lagi pula jika dia kembali,
seharusnya dia akan memberitahuku.
Lama tidak berjumpa.
Kamu masih sama seperti dulu.
Setiap kali bertemu denganmu tidak ada hal baik.
Orang yang sudah di atas 30 tahun,
masih seperti orang berumur belasan tahun.
Memangnya lucu?
Kamu sudah pulang?
Minshan, kamu sudah datang.
Bibi.
Mari.
Duduklah di sebelah Bibi.
Naik apa ke sini?
Ayahku yang mengantarku.
Lalu di mana ayahmu?
Beliau ada janji makan malam,
tidak sempat naik
untuk menyapa Anda.
Tidak perlu.
Tidak perlu secara khusus menyapaku.
Lu Chen, tuangkan segelas air untuk Minshan.
Ibu, aku pergi dulu.
Kakak sebentar lagi datang.
Ibu sedang berbicara denganmu.
Bibi.
Begitu turun dari kereta,
dia langsung datang menemanimu semalaman.
Biarkan dia pulang dan istirahat lebih awal.
Ada yang ingin dikatakan?
Apa hubunganmu
dengan Zhao Minshan?
Jarak sejauh itu pun bisa menempel.
Tidak sampai seperti itu, 'kan?
Aku agak lelah.
Tidak ingin bicara.
Aku dengar,
Zhao Minshan baru cerai belum genap dua tahun.
Kamu berhati-hatilah.
Dia itu orangnya
banyak perhitungan.
Waktu itu aku sudah tertipu olehnya.
Waktu itu kamu yang tidak tahan godaan,
makanya baru bersalah pada Meng Xiaoshan.
Benar, yang kamu katakan benar.
Tidak menyalahkan orang lain.
Salahkan diriku sendiri.
[Bengkel Lu Zheng]
Kamu sudah pulang.
Tubuh Paman Liu kotor.
Sudah terbiasa sejak kecil.
Baiklah.
Ayo, makan di luar.
Semuanya pergi.
Hari ini Paman Liu yang traktir.
Hai Dong, ayo ikut.
Baik, Paman Liu.
Ayo.
Baik-baik saja di Qining?
Kali ini kembali, mau menikah, 'kan?
Dia dengan siapa?
Jangan-jangan
pacar di Qining?
Kamu bahkan tidak memberitahuku.
Tidak berencana menikah.
Lalu apa ayahmu akan membiarkanmu?
Kamu tidak mendengarkan dia.
Bukan, sebenarnya apa yang terjadi?
Siapa yang bisa memberitahuku?
Jadi ayah Lu Chen, Lu,
dari awal hingga akhir,
meminjam dua miliar lebih dari Keluarga Zhao
dan tidak bisa membayar.
Lalu, putri Keluarga Zhao
bilang,
"Begini saja,"
"keluarga kita menjadi besan."
"Uang ini tidak perlu dikembalikan lagi."
Putrinya juga bilang,
"Aku dan Lu Chen,"
"kami adalah teman lama."
"Sudah saling mengenal."
"Aku bersedia menikah dengannya."
Zhao Minshan?
Kamu juga sudah mendengarnya?
Sudah tertebak olehku.
Tapi Lu Chen,
sekarang kamu
tidak perlu takut pada ayahmu lagi.
Sekarang dia juga sudah tua.
Mungkin saja,
dia bahkan tidak bisa menyentuhmu lagi.
Tapi utang ini,
memang tidak bisa dihindar.
Kamu juga putra kandungnya.
Jika kamu tidak membayar utangnya,
dia akan memaksa kakakmu untuk membayarnya.
Benar, tidak?
Sudahlah.
Bukankah Lu Chen baru pulang?
Mari kita bicarakan hal yang menyenangkan.
Ayo.
Baik.
Makan.
Makan.
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Qin Xiaonan.
Letakkan saja pakaianmu di sana.
Nanti Bibi sekalian mencucinya.
Tidak perlu, aku cuci sendiri.
Kamu begitu suka mencuci baju?
Kalau begitu, bantu aku
cuci punyaku juga.
Hanya bercanda.
Tidak apa-apa.
Bawalah kemari.
Aku sekalian membantumu menyucinya.
Aku tidak berani memperbudakmu.
Aku serius, letakkan saja di sana.
Jika kamu
tidak ingin merepotkan Bibi,
nanti aku akan
mencucinya dengan mesin cuci.
Bisa sekalian dikeringkan juga, bagus bukan?
Lusa aku ada perjalanan bisnis,
mungkin tidak bisa
menjaga Qin Xiaonan lagi.
Jika kamu sudah pulang, jemputlah dia.
Jika belum pulang...
Bagusnya dijaga oleh siapa, ya?
Kalau biasanya tidak apa-apa,
ini sudah mau Tahun Baru Imlek.
Titip di rumah siapa pun juga tidak cocok.
Nanti saja.
Katakanlah.
Sedang apa kamu belakangan ini?
Setelah reuni,
aku tidak melihatmu.
Bekerja.
Bisa apa lagi?
Kuberi tahu kamu satu hal.
Aku baru saja mendengar.
Bukankah Zhao Minshan
baru cerai dua tahun yang lalu?
Aku hanya dengar-dengar, Gui Xiao.
Hanya dengar-dengar.
Bukankah Kakak Chen baru pulang
dua hari lalu?
Mereka berdua akan menikah.
Siapa?
Kakak Chen.
Aku pikir terakhir kali Kakak Chen pulang,
kamu pernah mencarinya.
Jadi, aku menelepon untuk memberitahumu.
Lu Chen sudah pulang?
♫Kamu perlahan mengabaikan curahan hatiku♫
Iya.
Kemarin baru pulang.
Sungguh tidak disangka,
siswa tertampan di SMA kita
ditaklukkan oleh Zhao Minshan.
♫Memaksakan diri bisa ditukarkan berapa banyak sikap dingin♫
Selain itu,
Keluarga Zhao sudah menyiapkan acara pernikahan.
Restoran yang dipesan,
♫Selamat malam yang tidak terkirimkan♫
adalah restoran yang dibuka oleh Meng Xiaoshan.
Bukankah kamu dekat dengan Meng Xiaoshan?
Tanyakan padanya.
Dia pasti tahu lebih banyak dariku.
♫Pernah percaya bahwa usaha tidak akan meninggalkan penyesalan♫
Sudah dulu, ya.
♫Tapi kondisi ini terlalu memalukan♫
Kita bicarakan lagi nanti.
Baiklah, sampai jumpa.
♫Siapa yang akan menanggungnya untukku?♫
Kuucapkan lebih awal, selamat tahun baru.
Selamat tahun baru.
♫Kita berjanji untuk bersama selamanya♫
♫Tapi akhirnya tetap berpisah♫
♫Menunggu hingga perlahan melepaskan perlawanan♫
♫Membiarkan waktu berlalu♫
♫Tidak pernah terpikirkan bahwa cinta♫
♫bukanlah semudah♫
♫melewati kesulitan♫
♫Kita menunggu hingga alur cerita berputar balik♫
♫Masih menyimpan harapan♫
♫Berdiri di malam tanpa dirimu♫
♫Yang juga tidak bisa meneteskan air mata♫
♫Lampu jalan di sudut jalan, perjalanan yang redup♫
♫Semuanya sudah terlambat♫
Kudengar, kamu sudah kembali ke Beijing.
Dia hanya memintaku melakukan satu hal.
Aku setuju dan sudah menyelesaikannya.
Sudah saatnya berakhir.
Jangan berpikir terlalu banyak.
Dia tidak pernah mengatakan apa pun.
Halo.
Maaf, Gui Xiao.
Kali ini, ada urusan mendesak di rumah
dan pulang dua hari.
Agak sulit untuk pergi.
Tidak apa-apa.
Lusa aku akan meninggalkan Beijing.
Tahun Baru Imlek sudah dekat,
juga tidak bisa
menitipkan anak pada teman.
Kudengar kamu sudah pulang.
Jadi, aku ingin bertanya kapan kamu ada waktu
untuk menjemput anak?
Lusa.
Biar aku saja yang mengantarnya ke sana.
Aku akan ke sana besok.
Diputuskan seperti ini saja.
Maaf merepotkanmu.
Tidak apa-apa.
Kebetulan aku bisa membantu.
Lu Chen.
Aku sedang menabung.
Setelah tabunganku cukup, aku akan pergi menjengukmu.
Mari bicara satu menit lagi, oke?
Apakah kamu merindukanku?
Tidak bisakah kamu bicara lebih banyak?
Apa kita
tidak punya topik pembicaraan yang sama lagi?
Aku sudah tinggal di sekolah.
Aku beri tahu kamu ya, aku galau sekali.
Di asrama kami ada empat orang.
Aku tidak tahu apakah aku bisa terbiasa.
Gawat.
Ibuku sudah tahu siapa kamu.
Belakangan
aku tidak bisa mengangkat telepon di rumah.
Kamu jangan meneleponku,
tunggu aku meneleponmu.
Lu Chen,
tutup dulu.
Musim dingin begini,
kamu tidak menutup pintu untuk menghalangi angin?
Kenapa matamu merah?
Bertengkar dengan ayahmu?
Tidak.
Teringat masa lalu.
Masa lalu?
Bukankah masa lalumu adalah Gui Xiao?
Kamu teringat apa?
Kenapa kalian bisa putus?
Aku sampai sekarang masih belum mengerti.
Lihat, aku putus dengan Meng Xiaoshan,
itu karena salahku.
Bagaimana dengan kalian berdua?
Salahku.
Saat itu,
dia seorang wanita,
menggantungkan semua perasaannya
pada sebuah telepon.
Tidak bisa bertemu dan bersentuhan.
Betapa kasihannya dia.
Sebenarnya saat itu
aku tidak bisa melihatnya,
aku juga merindukannya.
Sangat rindu.
Setiap kali aku mendengar dia memanggilku Lu Chen.
Memanggil namaku di telepon.
Aku merasa itu adalah
suara termerdu di dunia.
Setiap kali selalu.
Sudah, jangan katakan lagi.
Aku pun sedih mendengarnya.
Menurut usianya,
dia seharusnya sudah menikah,
anak pun seharusnya sudah besar.
Kamu mau ke mana?
Mandi.
Mandi? Ini tahun baru.
Kamar mandimu tidak ada pemanas.
Kamu mau mati kedinginan?
Aku bahkan sudah pernah mandi dengan air es Qining.
Aku paling tidak takut dingin.
Aku pergi memperbaiki mobil.
Bocah ini,
begitu sedih langsung membongkar mobil.
Dia tidak pernah berubah.
Saat datang, aku hanya membawa satu tas.
Sekarang saat pergi ada sebanyak ini.
Ayahku pasti akan marah.
Tidak banyak.
Ini semua
adalah jumlah pakaian yang akan kamu gunakan
saat sekolah nanti.
Mau bertemu dengan Paman Lu.
Senang, 'kan?
Senang.
Tidak tahu apakah bengkel bobrok itu
masih bisa ditinggali.
Sayang sekali.
Sandal ini begitu kecil,
kelak akan dipakai siapa?
Dasar cerewet, ayo.
Ayo.
Bibi Gui Xiao, apa di sini?
Sudah sampai.
Sudah sampai?
Besar sekali.
Lebih besar dari bayanganku.
Halo, aku mencari Lu Chen.
Tunggu sebentar, Nona.
Aku menelepon ke dalam dulu.
Di luar dingin, masuklah dulu.
Ayo. Nak, kamu juga masuk.
Baik, terima kasih.
Ayo.
Ada yang mencari Lu Chen, di depan pintu.
Seorang wanita dan seorang anak kecil.
Nona, dia segera keluar.
Seluruh bengkel ini milik Paman Lu?
Benar, semuanya.
Paman Lu.
Baru beli?
Barangnya terlalu banyak, tidak muat.
Jadi, beli yang baru.
Aku tidak perlu masuk.
Ayo.
Ayo masuk dan duduk sebentar.
Di mana toiletnya?
Sebelah kanan.
Di bengkel dingin,
jangan buru-buru membuka jaket.
Aku akan pergi setelah menyampaikan dua hal.
Sekolah swasta untuk Qin Xiaonan
sudah ketemu.
Perjalanan bisnisku akan sangat lama.
Tapi aku akan menyuruh adik sepupuku,
untuk membawa kalian pergi mengurus pendaftaran.
Aku membelikannya beberapa pakaian.
Kelak saat kamu menjaganya,
setiap tahun juga harus membelikannya beberapa baju.
Tapi tidak perlu terlalu banyak.
Hari biasa ada seragam sekolah.
Kira-kira ini saja.
Apa kamu masih mencintaiku?
Bai Chao bilang,
kamu akan menikah?
Lu Chen.
Benar.
Kapan?
Bulan depan.
♫Bisakah kamu mendengarnya?♫
♫Selama bertahun-tahun♫
Selamat.
♫Harapan dari jiwa terdalamku♫
♫Hati yang murni♫
♫Luka yang sembuh♫
♫Hati yang menantikanmu mengatasi rasa takut♫
Bibi.
Paman Lu mau menikah,
akan lebih sibuk.
Hal yang kukatakan padamu di mobil,
juga harus kamu ingat sendiri.
Selain itu,
jika kamu diabaikan di sekolah,
ingat apa yang Bibi Gui Xiao katakan.
Murid pindahan
semuanya akan mengalami proses ini.
Lama kelamaan mereka akan menerimamu.
Bibi.
Lanjutkan pekerjaanmu, aku pergi dulu.
Tunggu sebentar.
Berapa harga kopernya?
Seratus yuan.
Baju Xiaonan
dan juga beberapa hari ini tinggal di rumahmu.
Sudah merepotkan.
Lu Chen!
Tidak perlu begitu perhitungan.
Kamu juga pernah membantuku di Qining.
Lu Chen!
Memanggilmu juga tidak keluar, ada tamu?
Kamu...
Kamu adalah...
Gui Xiao.
Kamu masih ingat aku?
Zhao Minshan dari Kelas 2.
Lama tidak bertemu, kamu jadi cantik.
Aku tadi
hampir saja tidak mengenalinya.
Kamu adalah
teman yang dikatakan Ibu Lu Chen?
Aku dengar Ibu Lu bilang,
hari ini ada seorang temannya yang akan datang.
Aku berpikir, dia selama bertahun-tahun
selalu di luar.
Aku juga belum pernah bertemu
dengan teman-temannya,
makanya ingin keluar
untuk melihat.
Tidak disangka itu kamu.
Sungguh kebetulan sekali.
Anakmu?
Anak rekan seperjuangannya.
Memintaku membantu mendaftarkan sekolah.
Tidak pernah mendengar Lu Chen menyebutnya.
Anaknya sudah diantar,
aku pergi dulu.
Kamu jangan pergi.
Tinggallah untuk makan siang bersama.
Lu Chen, dasar kamu ini.
Orang sudah jauh-jauh kemari,
masa kamu tidak mengajaknya makan?
Tidak perlu.
Aku sudah ada janji dengan Meng Xiaoshan.
Meng Xiaoshan.
Kalau begitu, lupakan saja.
Nak.
Kenapa? Selesai bicara langsung mau pulang?
Tahu hari ini kamu akan datang,
aku sudah pergi membeli ikan untukmu.
Lain kali saja.
Terima kasih.
Nak, kamu…
makan dulu saja baru pulang.
Diamlah.
Kamu baik-baik saja?
Tidak terluka, 'kan?
Tidak apa-apa.
Bagian ini benar-benar rusak karena tertabrak.
Perbaiki saja di sini.
Satu orang di dalam, ayo kemari.
Ada pekerjaan.
Tidak perlu.
Biar aku perbaiki sendiri saja.
Bukankah lebih baik kamu perbaiki di sini?
Tidak perlu.
Permisi sebentar,
aku ingin memundurkan mobil.
Terima kasih.
Di kamar ini tidak ada pemanas?
Kopermu ini tidak murah.
Orang tuamu
sungguh rela mengeluarkan uang untukmu.
Tidak punya hati nurani.
Pergi kerjakan PR.
Gratiskan semua pesanan di meja itu.
Minta maaf dengan baik.
Halo, Gui Xiao.
Aku lapar.
Cepat pergi ke lobi,
aku angkat telepon sebentar.
Gui Xiao, ada yang aneh dengan suaramu.
Apa ada masalah di rumah?
Mau pinjam uang?
Aku antarkan untukmu.
Tidak.
Aku hanya lapar.
Aku belum makan dari pagi.
Aku kebetulan lewat sini
dan teringat kamu bilang
ingin mentraktirku makan.
Kamu di mana?
Di tepi kanal.
Kanal?
Pintu yang mana?
Di jalan kecil di luar bengkel
keluarga Lu Chen.
Kamu datang menjemputku, 'kan?
Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku.
Aku ada urusan penting dan harus pergi.
Berapa usiamu?
Apa tidak takut pinggangmu keseleo?
Tadi kamu menangis?
Tidak.
Hanya sedikit...
sedih.
Karena Lu Chen, 'kan?
Dulu kalian selalu berkencan di sini,
jangan mengira aku sudah lupa.
Biar aku tebak.
Kamu sedih karena
masalah Zhao Minshan
dan Lu Chen, 'kan?
Masalah perceraian Zhao Minshan saat itu
sudah diketahui oleh seluruh tetangga.
Keluarganya merasa malu, makanya ingin buru-buru menikah lagi.
Tapi setelah bertahun-tahun,
tidak ada satu pun yang dia sukai.
Akhirnya datang seorang
Lu Chen yang datang sendiri.
Jadi, beberapa waktu lalu
setelah bertunangan dengan keluarga Lu Chen
dan menerima mas kawin,
dia pun ingin segera mengadakan
pesta perkawinan besar-besaran.
Semua tetangga dan kenalan sudah diundang.
Kamu ini, kamu sudah umur berapa?
Masih saja menangis demi cinta pertama sepuluh tahun lalu.
Jangan salahkan aku memarahimu, Gui Xiao.
Kamu pikir kamu masih berusia 18 tahun?
Banyak hal yang tidak kamu ketahui.
Dulu saat aku bilang dengan Hai Dong mau putus,
bukankah kami putus dengan tuntas?
Yang seharusnya ditangisi,
sudah kamu tangisi saat kalian putus.
Siapa yang tidak punya cinta pertama?
Kamu terus memikirkan cinta pertamamu,
bagaimana kamu menjalani hidupmu kelak?
Aku lapar.
Baik, aku akan mengajakmu makan enak.
Yang paling enak.
Berikan kunci mobilmu padaku.
Bagaimana dengan mobilmu?
Di sekitar sini semuanya kenalan,
tidak takut hilang.
Nanti aku akan suruh suamiku kemari
dan membawanya pulang.
Setirnya lumayan.
Jika kamu ingin mengendarainya, aku akan bertukar mobil denganmu.
Tidak perlu.
Kamu saja sudah seperti mau mati,
mana mungkin aku mengambil kesempatan dalam kesempitan?
Siapa yang seperti mau mati?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.