Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Saat bersamamu kubisa rasakan♪
♪Dunia seakan hanya milik berdua♪
♪Kuingin nikmati bersamamu♪
♪Kuingin menari bersamamu♪
♪Kuingin menari bersamamu♪
=Little Mom=
Lebih cacat moral mana?
Perempuan yang hamil di luar nikah...
atau laki-laki yang menghamili perempuan di luar nikah,...
lalu meninggalkan dia begitu saja?
Naura?
Aku kira kau sudah pergi. Aku mencarimu.
Kata Tya besok kau ke Papua?
Kita pergi, yuk?
Siapa tahu kita tidak bisa bertemu lagi.
Maaf aku tidak bisa.
Ayah dan ibuku sudah menunggu.
Aku pulang dulu, ya.
Sebentar.
Selama ini kau tahu Yuda sekolah di sini?
Baru tahu.
Sama seperti kalian.
Kau mau pacaran lagi dengan dia?
Aku tidak membicarakan hal itu dengannya.
Baik, tapi kau pernah bilang...
kalau kau masih mau bertemu dengan Yuda walaupun kau harus tetap sakit hati.
Lalu?
Sayangnya dia tidak seperti yang aku harapkan.
Kau ingat, 'kan? Kau pernah bilang kepadaku,...
kalau kita tidak mau sakit hati,...
jangan berharap kepada orang yang pernah membuang kita.
Aku tidak mau mengharapkan Yuda.
Ya sudah, kalau begitu, aku pulang dulu ya, aku buru-buru.
Baik. Hati-hati, ya.
Nanti kirim pesan, ya.
Hasil pertandingan kita seri.
Itu artinya,...
kau bisa mendekati Naura lagi sampai pertandingan berikutnya.
Tadi dia bilang kepadaku...
kalau dia sudah tidak mau lagi bersamamu.
Dia sudah benar-benar sakit.
Pecundang.
Pernahkah kau merasakan benci dan cinta di saat bersamaan?
Itu yang aku rasakan kepada Yuda.
Aku muak kepadanya,...
tapi aku juga masih berharap kepadanya.
Pikiranku sibuk memintaku untuk berhenti memikirkan Yuda,...
tapi hatiku berkata lain.
Naura?
Ayah dan Ibu ke restoran dulu, ya.
Kau di rumah saja.
Jangan ke mana-mana ya, Nak!
- Sudah, Bu? - Sudah, yuk.
Ibu? Bu, sebentar.
Kenapa, Naura?
Yah, Bu, aku mau ikut, ya?
Soalnya sebulan lagi aku sudah tidak bisa ke mana-mana.
Aku mau ikut Ayah dan Ibu.
Nanti pasti aku akan bosan sekali, Bu.
Ini pasti bawaan bayi.
Diberi tahu malah mengeyel.
Kalau itu, terserah Ibu. Ayah tidak ikut-ikut.
Ya sudah, kau ikut, tapi janji di dapur saja.
Baik, Bu, siap. Nanti aku akan di dapur saja.
Lagian, aku mau sambil belajar.
Selamat datang di Bali.
Saat ini kita sedang berada di Taman Budaya Wisnu Kencana.
Ini sepertinya mau ada upacara adat nih, Bu.
Naura?
Celine!
Celine!
Apa, Widi?
- Itu, lihat! - Lihat apa?
- Naura? - Naura?
Naura bukannya sudah ke Papua, ya?
- Sedang apa dia di sini? - Apa?
Naura ada di sini?
- Ya. - Mana?
Tadi mobilnya ada di sebelah kita, tapi sudah pergi.
Coba saja kau telepon, sekalian kau tanyakan.
Kenapa dia masih di Bali? Bukannya seharusnya sudah di Papua?
- Cepat. - Sabar.
Tidak diangkat.
Nama restoran ayah dan ibunya apa?
Aku agak curiga kepada Naura.
Kenapa?
Kemarin saat aku bertemu dia di restorannya,...
dia seperti kaget dan gugup begitu.
Kita ajak mengobrol juga seperti cari-cari alasan.
Mungkin dia kaget karena kalian datangnya bergerombol.
Ya, tidak seperti itu, Keenan.
Naura.
- Dia mau ke mana? - Tidak tahu.
Keenan, ayo ikuti.
Hai!
Kalian kenapa bisa tiba-tiba ada di sini?
Maaf mengagetkan.
Tadi Celine sedang jalan, lalu dia melihatmu.
Aku ingin menemuimu di restoran,...
tapi Celine malah lihat kau pergi.
Jadi kami berdua mengikutimu sampai sini.
Kau tidak jadi kembali ke Papua?
Tidak. Tiba-tiba ayahku ada urusan mendadak di sini.
Kau menginap di sini?
Ini sepertinya bukan penginapan.
Ya, memang ini rumah mitra ayahku.
Omong-omong, kau sibuk atau tidak? Pergi, yuk.
Dari kemarin aku ingin mengobrol denganmu.
Bagaimana kalau kita ajak Naura saja ke pesta di pantai hari ini?
- Ide bagus! - Ya.
Ada anak-anak juga di sana.
Sepertinya tidak bisa, pasti aku tak diizinkan ayah dan ibuku.
Aku yang minta izin. Mereka ada di dalam?
Tidak ada.
Mereka sedang di restoran.
Ya sudah, kita ke restoran saja dan minta izin.
- Betul! - Ya sudah, jangan.
Begini saja, daripada merepotkan ayah dan ibuku,...
tidak apa-apa, aku ikut saja,...
tapi sebentar, ya. Aku ganti baju dulu.
Duduk saja dulu.
- Ya. - Baik.
Keenan.
Kau pergi berdua saja dengan Naura.
Kau mau ke mana?
Aku sangat lapar,...
lalu tadi aku lihat sepertinya di sekitar sini ada restoran yang enak.
Nanti aku akan menyusulmu ke pesta.
Agar kau bisa berduaan juga dengan Naura. Ya, 'kan?
- Terima kasih, ya. - Ya.
- Ya sudah, aku pergi dulu, ya. - Baik, hati-hati.
Dah.
Halo, Widi?
Maaf aku tidak bisa ikut ke pesta dulu.
Soalnya harus ada yang aku cari tahu,...
tapi harus ada juga yang kau kerjakan.
Ayo!
Memangnya boleh mengadakan pesta di perjalanan sekolah seperti ini?
Ini waktu bebas,...
tapi diberi waktu hanya dua jam.
Lagian, kami juga menginap di sini.
Di hotel ibuku.
Ini pantainya.
Ibuku sangat senang karena aku ada peningkatan di pelajaran dan basket.
Syarat di pesta ini hanya tidak boleh ada alkohol,...
tidak boleh rokok, dan tidak boleh aneh-aneh.
Kebetulan juga tim basket kita menang lawan tim SMA dari Semarang hari ini...
dan masuk ke babak berikutnya.
Jadi, semua senang.
Omong-omong, mau kuambilkan minum apa? Jus jeruk atau yang lain?
Apa saja, tapi tidak usah repot-repot.
Tidak apa-apa. Sebentar, ya.
Baik.
Naura!
Naura!
Aku sangat merindukanmu!
Kenapa kau masih di sini?
Ya, aku memang...
Ayahku ada urusan yang belum selesai di Bali.
Jadi, kami perpanjang di Balinya.
Omong-omong, kau ke sini bersama Keenan?
Jadi, setelah putus dari Yuda, kau sedang pendekatan dengan dia?
Tidak. Kami hanya berteman.
Kak Yuda bagaimana?
Kita tidak usah membahas dia, ya. Lagian, kami sudah putus.
Ini jaketmu dibuka.
Ya, kenapa pakai jaket?
Ini kan di pantai, Naura. Masa, pakai jaket begini?
- Aku bantu lepas. - Tidak, sebentar!
Soalnya aku tidak tahan dengan...
Perutmu kenapa keras sekali?
Tidak. Perasaanmu saja.
Soalnya memang akhir-akhir ini aku makannya banyak sekali.
Lalu, sudah lima hari aku sembelit.
- Serius? - Seperti ini lagi.
- Kenapa? - Aku sakit perut lagi.
Toilet sebelah mana, ya?
- Toilet sebelah sana. - Mau kuantar atau tidak?
- Tidak usah. - Ayo kita antar!
- Tidak apa-apa, nanti kususul kalian. - Baik.
- Serius ya, Naura? - Jangan lama-lama, ya?
Jangan lama-lama, Naura!
Naura mana?
Naura ke toilet.
- Ke toilet? - Ya.
Naura?
Naura.
Kau kenapa di sini?
Kau bersama sia...
Sudah ke toiletnya?
Ini minumanmu.
Gabung dengan anak-anak, yuk.
Kau sedang apa di sini?
Pamanku kerja di sini.
- Yuda! - Yuda, ke mana saja kau?
Di sini kau ternyata. Ke mana saja?
- Ke mana saja? - Sudah, ajak bergabung dengan kita.
Ayo.
- Tidak bisa, aku besok ada tanding. - Sudahlah, santai saja!
Walaupun kita sudah bukan satu tim, tapi kita tetap teman.
Kita tidak sedang bertanding, ayolah.
- Ayolah. - Ayo, tarik saja.
Tidak apa-apa, ya.
Kita tidak usah dekat-dekat dengan dia.
Selamat datang. Silakan.
- Terima kasih. - Ya. Ini.
- Daftar menunya. - Baik.
Silakan.
Sebentar, aku mau tanya.
Ini restorannya baru, ya?
Soalnya tahun lalu aku ke sini, ini belum ada.
Ya, betul, ini restorannya baru.
Aku dengar-dengar juga yang punya orang Jakarta?
Ya, sama orang Bali juga.
Orang Jakarta tinggal di Papua, begitu ya?
Tinggal di Papua?
Maksudnya Pak Cakra dan Bu Yasmin, ya?
Kalau itu aku tidak tahu, tapi aku kenalnya dengan Naura.
Itu dia, Pak Cakra dan Bu Yasmin.
Mereka sekarang di Bali.
Sejak restoran ini berdiri,...
mereka langsung benar-benar tinggal di sini?
Ya. Jadi, dari Jakarta, mereka ke Bali.
Membuat restoran ini, begitu.
Begitu. Ya.
Baik, permainan kita hari ini...
putar botol, jujur atau tantangan.
Jadi, cara mainnya adalah...
kalau ujung botolnya mengarah ke siapa pun yang ada di sini,...
dia harus ambil kertas yang ada di sini,...
tantangannya ada di sini dan harus dilakukan.
Kapan ciuman pertamamu?
Harus jawab.
Baik, aku pilih jujur. Aku belum pernah berciuman.
- Bohong. - Masa?
- Serius! - Ya sudah, kita lanjut.
Naura!
Ambil.
Aduh, aku takut.
Ayo.
Kenapa diam? Apa tulisannya?
Sini, aku bacakan.
Jujur, kau sudah pernah tidur dengan seseorang,...
atau tantangan, kau harus peluk mantan pacarmu.
Jujur.
Aku belum pernah tidur dengan siapa-siapa.
Benar atau tidak? Yuda?
- Tidak pernah. - Sudah.
Kita lanjut lagi.
Keenan!
Tantangan, nyanyikan lagu cinta untuk perempuan di sebelahmu.
Ya sudah, gitar, aku akan bernyanyi.
Ini cuma lagu, bukan apa-apa, ya.
♪Pernah aku mencintai wanita♪
♪Tapi tak seperti♪
♪Saat aku mencintaimu♪
♪Pernah aku merindukan wanita♪
♪Tapi tak seperti saat aku♪
Sini.
Yuda.
Yuda, berhenti!
Kau apa-apaan?
Kau bisa jangan dekat-dekat dengan Keenan?
Kenapa memangnya?
Aku sudah pernah bilang kepadamu, Naura.
Dia itu pembuat onar.
Pembuat onar?
Orang yang kau sebut pembuat onar itu teman yang baik sekali untukku.
Lihat! Dia sudah berubah menjadi diri dia yang lebih baik.
Dia menjadi kapten tim basket.
Dipercaya menggantikan posisimu.
Lagian, apa urusanmu?
Kenapa sekarang tiba-tiba kau menjadi peduli kepadaku?
Kau cemburu?
Lucu.
Kita sudah putus.
- Naura. - Apa?
Aku tidak pernah bilang putus, ya.
Lalu, itu apa namanya?
Kau pergi begitu saja meninggalkanku.
- Kau sudah membuangku! - Aku tidak pernah membuangmu, ya.
- Aku tidak bermaksud untuk itu. - Lalu, itu apa namanya?
Kau sudah pergi meninggalkanku.
Kalau sekarang kau merasa bersalah karena anak ini,...
coba.
Katakan apa saja.
Apa saja.
Kau bahkan tidak bilang maaf sudah meninggalkanku.
Ya, 'kan?
- Naura. - Lepaskan aku.
Hei, lepaskan!
Lepaskan.
Ayo, Naura.
Omong-omong, terima kasih, ya.
Tidak apa-apa.
- Ini pesanannya. - Kenapa kau yang bawa?
Ya, sedang bantu bartendernya. Dia sedang sibuk.
- Baik. - Baik.
Aku baru tahu kalau kau bisa bernyanyi. Suaramu bagus sekali.
Terima kasih, ini hobi saja.
Omong-omong, kenapa tadi kau tidak ambil dulu jujurnya?
Kenapa langsung tantangan?
Apa jangan-jangan ada perempuan yang kau suka, ya?
Tidak ada.
- Masa? - Ya.
Kalau aku ambil jujur tadi, yang lain pasti tak akan percaya, 'kan?
Ya sudah, aku langsung ambil tantangan saja.
Benar.
Naura, kau tidak apa-apa, 'kan?
Naura?
Kau tidak apa-apa?
Naura!
- Bangun! - Naura!
- Naura! - Naura, kau kenapa?
- Ini kenapa? - Naura? Kenapa dia?
- Aku tidak tahu, tiba-tiba pingsan. - Naura, bangun!
- Bangun, Naura. - Naura.
- Pasti kau lakukan sesuatu! - Lakukan apa, kau gila?
Tidak usah bertengkar!
- Naura, bangun. - Naura!
- Ini alkohol. - Alkohol?
Ya.
Naura itu seumur-umur tidak pernah minum alkohol.
Dia itu sedang...
Siapa yang kasih tadi?
Widi, kau campur dengan apa?
Kenapa aku? Aku cuma mengantar.
- Naura, bangun! - Kau bisa mendengarku?
Naura, bangun.
- Bangun, Naura. - Pusing.
- Pusing? - Naura, kau pasti bisa. Ayo bangun.
Bangun, ya.
Kita ke rumah sakit, ya?
Ya sudah, ke rumah sakit, yuk.
Pelan-pelan, ya.
Tunggu! Ini tasnya ketinggalan.
- Ini tasnya Naura. - Baik, terima kasih.
Naura, pelan-pelan, ya.
Yuk.
Sebentar.
Kau tunggu di sini saja, ya.
- Aku bisa sendiri. - Bagaimana bisa? Kondisimu seperti ini.
Aku bisa. Aku bisa jalan sendiri, paham?
Ayo, tidak apa-apa denganku, kita ke UGD.
Tidak usah. Aku tidak perlu ke UGD.
Kau tunggu di sini saja.
Tidak, ayo denganku ke UGD.
Dokter Risma!
Naura?
- Naura? - Dok, bantu aku.
Perutku sakit sekali, ini sepertinya...
- Bibi Risma? - Keenan?
Kenapa kau di sini?
Aku mengantar temanku. Ini Naura.
- Dia pasien Bibi? - Ya.
"Bibi"?
Ya, Bibi Risma, bibiku.
Sebentar.
Bibi bagaimana?
Kakaknya ayahku.
Kenapa doktermu itu bibiku?
Dia dokter kandungan.
Ya, aku kadang-kadang suka...
sakit perut begitu kalau lagi...
Lagi datang bulan.
Kau minum alkohol, tapi kenapa ke dokter kandungan?
Kau minum alkohol? Kau kan sedang ham...
Hampir!
Hampir saja ke dokter lain,...
tapi aku cuma percaya kepada Dokter Risma.
Makanya, Dok.
Sudah kita langsung saja. Ayo, Dok.
Kita mulai USG, ya.
Naura.
Kenapa bisa kejadian seperti ini?
Aku juga tidak habis pikir, Dok.
Sepertinya tadi minuman yang kuminum rasanya biasa saja, tak ada yang aneh.
Untung tadi kau sudah muntah.
Kau harus minum air putih yang banyak, ya.
Janinmu sehat, tidak apa-apa,...
tapi karena kehamilan usia remaja adalah kehamilan yang rentan,...
kau harus lebih hati-hati, ya?
Dok.
Tolong rahasiakan soal ini dari ayah dan ibuku, ya?
Anggap saja hari ini tidak ada kejadian apa-apa.
Lalu,...
tolong rahasiakan juga dari Keenan.
Karena kalau Keenan tahu,...
nanti teman-temanku yang dari Jakarta juga bisa tahu, Dok.
Nanti...
misiku dan keluargaku pergi ke sini, semuanya menjadi berantakan.
Aku minta tolong, Dok.
Ya. Baik.
Ya, Bu, ini di rumah saja.
Ibu dan Ayah pulangnya masih malam, 'kan?
Ya, baik.
Ya, Bu.
Naura.
Kau bagaimana?
Sudah baikan.
Cuma tinggal pusingnya reda saja.
Keenan juga tidak tahu soal ini.
Kau tidak usah takut ketahuan.
Lalu, kandungannya?
Baik saja.
Kenapa?
Kau berharap kandungannya tidak baik-baik saja?
Mati sekalian, begitu?
Tidak.
Kau jangan berbicara seperti itu, Naura.
Maaf.
Maafkan aku.
Ini seharusnya bukan cuma bebanku saja.
Ini juga bebanmu.
Seharusnya bukan cuma aku yang menanggung ini semua.
Kau tidak bisa lari begitu saja.
Aku juga memikirkannya setiap hari.
Aku merasa sangat bersalah kepadamu.
Aku ingin melakukan sesuatu untukmu,...
tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
Jangan lari.
Berhenti menghindar.
Itu caranya.
Kau jangan cuma memikirkan dari kondisimu.
Kau pikirkan kondisiku juga.
Aku harus menutupi kehamilan ini dari semua orang, bersama orang tuaku.
Memangnya ini bayi orang tuaku?
Mana?
Ponselmu.
Kau ganti nomor, 'kan?
Kalau kau masih punya hati,...
punya nyali,...
besok datang ke rumahku, temui orang tuaku.
Kalau kau tidak datang,...
aku cukup tahu orang macam apa kau.
Sayang, kau kenapa belum tidur? Masih belajar?
Ada yang mau aku bicarakan, Bu.
Naura.
Kau belum tidur?
Ayah dan Ibu besok ada waktu di rumah atau tidak?
Memangnya kenapa?
Besok, kalau Yuda masih ada iktikad baik dan peduli kepadaku,...
dia mau datang ke rumah.
(Besok pukul 16.00 setelah kau tanding, aku tunggu di rumah.)
Pertandingan tadi sangat seru, akhirnya kita lolos.
Berkat kau.
Kalian ke sini untuk menonton aku tanding?
Ya.
Aku dan anak-anak Cipta Bangsa akan menontonmu.
Terutama aku.
Khusus untuk menonton kelemahanmu.
Kalau timmu main,...
aku yakin timku akan menang.
Tidak usah mimpi timmu masuk ke final.
Untuk ke situ, lawanmu berat.
Yang seharusnya jangan mimpi itu kau.
Tidak usah mimpi bersama Naura lagi.
Naura sudah tidak menyukaimu.
Kau pegang tangannya, dia tidak mau.
Tak usah berlagu, ya.
Hei, biasa saja.
Kau ingat, saat kau bawa Naura ke rumah sakit dan dia tidak mau?
Dia lebih memilih aku.
Aku yakin timmu akan kalah hari ini.
Berhenti sampai di sini.
Kalau timmu kalah,...
aku akan mengajak Naura pacaran.
Aku dan Naura punya sesuatu yang kau dan dia tidak punya.
Kalian lihat, 'kan?
Ayo pergi, tidak penting.
Yuda, kau ke mana?
Anak itu tidak mungkin datang.
Celine, Kiki.
Kalian lihat Yuda atau tidak?
Tidak.
Kenapa kau belum kembali juga ke Papua?
Ya.
Orang tuaku belum selesai urusannya di sini.
Jadi, kami masih harus di sini dulu.
Urusan palsu.
Aku tahu dari awal kau tidak pernah pindah ke Papua.
Dari Jakarta, kau pindah ke Bali dan tinggal di Bali. Ya, 'kan?
Kau bicara apa? Aku benar-benar tinggal di Papua.
Aku sudah bilang, aku ke sini cuma karena liburan.
Orang tuaku sekaligus mau mengecek restoran mereka yang ada di sini.
Baik kalau kau tinggal di Papua.
Di mana? Jayapura?
Coba sebutkan.
Kau tinggal di mana, kecamatan apa, kelurahan apa,...
sekolah di mana dan nama sekolahmu apa?
Tidak bisa jawab, 'kan?
Bukan urusanmu.
Tunggu!
Aku ingin tahu, kenapa kau membohongi semua orang?
Kenapa Yuda juga bohong soal tempat pindahnya?
Yang satu bilang ke Jepang ternyata ke Bali.
Yang satu katanya pindah ke Papua malah ternyata ke Bali.
Ada apa?
Jawab!
- Aku... - Kau tidak bisa menjawabku, 'kan?
Aku tidak perlu menjawabmu. Bukan urusanmu.
Hei!
Naura, kau tidak apa-apa?
- Ya, tidak apa-apa. - Sedang apa kau di sini?
Aku mau bertemu Yuda.
Celine, kau kenapa menjegal Naura?
Aku cuma ingin dia mengaku kalau dia berbohong.
Dari awal, dia tidak pernah pindah ke Papua.
Dari Jakarta, dia pindah ke Bali dan tinggal di Bali.
Aku juga penasaran.
Kenapa Naura dan Yuda bohong tentang tempat tinggalnya?
Memangnya kau tidak penasaran?
Tidak begitu caranya, itu kasar sekali.
Aku minta maaf, Keenan,...
tapi aku tidak mau kau dibohongi oleh Naura.
Aku juga tidak mau...
kau dibuat sakit hati oleh Naura.
Kau masih belum berubah, ya? Masih sama seperti dulu.
Keenan!
Celine!
Celine!
Celine.
Kiki, kenapa aku selalu salah?
Di depan ayahku, ibuku, dan sekarang Keenan.
Aku cuma mau membongkar keasliannya Naura saja.
Kau ingat surelnya Yuda waktu itu?
Aku yakin, dia punya masalah besar yang tidak bisa mereka tangani.
Ini pasti ada hubungannya dengan mereka yang sama-sama pindah tempat.
Kau memang tidak bisa begini terus, Celine.
Tidak bisa segalanya pakai emosi, ego, dan tak sabaran.
Ya, bagaimana, Kiki? Itu Keenan.
Naura sudah pindah saja, dia masih memikirkannya.
Sekarang Naura pindah ke Bali.
Dia masih mengejar-ngejar Naura sampai ke sini.
Kiki, aku mohon kepadamu.
Jangan bilang-bilang Keenan...
kalau aku yang menyuruh Widi untuk taruh alkohol di minuman Naura.
Aku mohon sekali kepadamu.
Ya.
Tenang saja, aku tidak mungkin beri tahu Keenan soal itu,...
tapi sekarang Widi jadi tidak bisa menonton pertandingan basket. Ya, 'kan?
Ya, walaupun orang-orang tahunya pihak hotel yang menyediakan.
Ibunya Keenan juga jadi kena marah oleh sekolah.
Ya, Kiki.
Widi baik sekali sampai rela berkorban untukku.
Cobalah, Celine, kau jangan asal seruduk.
Pakai taktik.
Ya, tapi bagaimana caranya?
Aku sebenarnya ada satu kecurigaan terhadap Naura,...
tapi aku mau membuktikan dulu itu benar atau tidak.
Pokoknya kalau aku sudah dapat bukti-buktinya dan semuanya benar,...
aku pasti akan memberitahumu.
Terima kasih, Kiki.
Sudah, kau tidak boleh menangis lagi, tidak boleh sedih lagi.
Sebentar. Yuda mana, ya?
Yuda sudah pulang lebih dulu tadi.
Tadinya aku memang tidak mau berharap banyak,...
tapi melihat Yuda yang kelihatan tulus minta maaf,...
rasanya aku luluh.
Dia selama ini cuma takut dan bingung.
Aku mencoba memahaminya...
dan hatiku bilang,...
Yuda masih peduli kepadaku,...
tapi ternyata semua itu terasa sangat semu.
Yuda sudah tak peduli kepadaku.
Sekarang,...
siapa yang mau peduli pada keadaanku sekarang selain orang tuaku?
Siapa?
Naura?
Kau sudah bertemu Yuda?
Kau masih mengharapkannya?
Apa kau tidak lelah perasaanmu dibawa naik turun seperti ini?
Sekarang kau malah mengharapkan Yuda lagi.
Lihat, wajahmu murung begini.
Dibuat kecewa lagi, 'kan?
Aku sebenarnya sudah tidak mau mengharapkan Yuda,...
tapi keadaan yang membuatku mau tidak mau mengharapkannya.
Keadaan apa?
Apa benar selama ini kau tidak pindah ke Papua?
Kenapa?
Ada apa? Kenapa sampai berbohong seperti ini?
Ada masalah pribadi yang tidak bisa kuceritakan kepadamu.
Baik, aku tidak akan menanyakan privasimu lagi.
Terima kasih.
Terima kasih sudah sangat baik kepadaku.
Sama-sama, Naura.
Keenan.
Keenan, tunggu!
Aku minta maaf.
Percuma minta maaf kalau tidak diperbaiki.
Keenan, aku juga mau berubah.
Aku juga sudah berusaha untuk berubah, 'kan?
Kalau tadi, aku kelepasan.
Aku juga sekarang lagi kacau sekali, Keenan.
Keenan, aku minta maaf.
Kau tahu?
Selama aku di Bali, setiap malam ibuku memarahiku.
Dia memaki-maki aku.
Dia juga bilang kepadaku...
kalau ayahku lebih menyayangi kakakku karena aku susah diatur.
Ya, aku tahu aku salah.
Aku salah karena sudah…
Sudah memalsukan surat persetujuan orang tua...
untuk perjalanan sekolah ke Bali.
Namun, seharusnya mereka tahu.
Aku seperti ini...
karena sikapnya mereka juga.
Sekarang kau, Keenan.
Kau yang kuharap bisa menjadi temanku.
Kau malah marah kepadaku.
Aku sangat sedih, Keenan.
Baik.
Janji tidak akan seperti itu lagi?
Kalau kau ada masalah,...
jangan dilampiaskan ke orang lain.
Janji.
Minta maaf ke Naura juga.
Yuda?
Naura.
Aku sudah siap bertemu orang tuamu.
Naura? Naura kau ke mana saja?
Aduh, Naura. Kau ke mana saja?
Yuda.
Paman, Bibi.
Apa kabar?
Baru muncul kau.
Bibi.
- Baru muncul kau sekarang? - Yah!
- Lepaskan, Bu! - Ayah, jangan! Tolong tahan.
- Sabar, Yah! - Ke mana saja kau?
- Ke mana saja kau? - Ayah, jangan.
- Biar aku habisi dia. - Tahan emosimu, tahan!
- Yah? - Mau apa kau ke sini?
- Mau apa? - Tahan emosi! Ayah!
Yah.
- Tahan, Yah. - Biarkan, Bu.
- Biar tahu rasa dia! - Yah.
Maaf, Paman, Bibi.
Aku minta maaf, Paman, Bibi.
Maafkan aku.
Saat itu aku tidak tahu apa yang ada di pikiranku, Paman.
Aku ketakutan.
Hidupku,...
sekolahku,...
masa depanku, dan juga...
orang tuaku, Paman.
Sama.
Naura juga begitu.
Bahkan lebih berat darimu.
Sayangnya dia tak bisa kabur seperti kau.
Dia harus mengurus kehamilannya.
Kau kira gampang?
Dalam situasi seperti ini,...
kau tahu, kalau perempuan itu lebih berat untuk menghadapi ini semua.
Kau protes, kenapa Naura tidak menggugurkan kandungannya?
Supaya semua ini selesai, ya?
Selesai buat siapa?
Selesai buatmu?
Egois.
Kau cuma memikirkan dirimu sendiri.
Kau tidak pernah memikirkan Naura!
Aku memikirkan Naura, Paman.
Memikirkan?
Kau memikirkan kesalahanmu karena kau pernah meninggalkan Naura.
Ya, 'kan?
Aku mau bertemu dengan orang tuamu.
Ibuku punya penyakit jantung, Paman.
Aku takut kalau dia tahu berita ini, dia syok...
dan dia bakal kenapa-kenapa.
Ayahku juga...
Dia sangat temperamental, Paman.
Kalau untuk menyampaikan suatu hal seperti ini, aku perlu waktu, Paman.
Apa yang menjamin kau supaya tidak kabur?
Aku tinggal bersama pamanku, Paman.
Namanya Paman Harris. Aku juga sekolah di sini sekarang.
Jadi, aku tidak akan bisa kabur lagi.
Aku juga tidak mau melakukan itu, Paman.
Aku mau bertemu dengan pamanmu.
Ya, benar.
Ibunya Yuda yang punya penyakit jantung.
Benar, ayahnya itu temperamental.
Kalau salah waktu memberitahunya,...
Yuda bisa dihampiri dan dibunuh di tempat.
Begini.
Aku akan bantu cari waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka.
Baik kalau begitu.
Namun,...
lalu mau bagaimana?
Apa mereka berdua mau dinikahkan?
- Menikah? - Menikah?
Dari semua yang aku alami ini,...
aku sama sekali tidak terpikir untuk...
menikah.
Selama ini aku cuma berpikir untuk menyembunyikan kehamilanku.
Melahirkan, menjaga rahasia ini,...
tetap fokus belajar,...
tapi sama sekali tak terpikirkan soal menikah.
Apa?
Menikah?
Bu?
Yah?
Sebenarnya menikah itu harus atau tidak?
Ya, memang tidak harus.
Tergantung pilihan hidup masing-masing orang.
Namun, untuk situasi sepertimu,...
Ayah dan Ibu berpendapat,...
harus.
Kenapa begitu?
Ayah sebenarnya tidak suka dengan Yuda.
Dia sudah kabur, meninggalkanmu,...
tidak menghargaimu sama sekali,...
tapi setelah Ayah bertemu dengannya,...
Ayah mengerti posisinya.
Siapa pun pasti sulit dan berat untuk menghadapi masalah seperti ini.
Apalagi Yuda.
Yang masih usianya sama seperti kalian.
Memangnya nanti anakmu tidak butuh ayah?
Memang di akta kelahiran anakmu, ayahnya mau ditulis siapa?
Bagaimanapun, Yuda itu harus bertanggung jawab.
Karena memang ada hak anaknya di situ.
Namun,...
bagaimana soal rencana kita yang akan mengakui anakku sebagai adikku?
Naura.
Nanti kita semua akan bicara dengan kedua orang tuanya Yuda.
Ya, untuk sementara waktu,...
kita lakukan saja sesuai rencana.
Nanti kalau anakmu lahir,...
di depan umum, kau bilang saja itu adikmu.
Jadi, kau tidak dikeluarkan juga dari sekolah...
dan kau tidak malu juga, 'kan?
Begitu juga dengan Yuda.
Apalagi Yuda itu mau menjadi atlet basket.
Terbayang nasibnya kalau dia dikeluarkan dari sekolah, 'kan?
(Naura, ada yang mau aku bicarakan. Kau ada waktu hari ini?)
Naura.
Ayah dan ibumu mengizinkanmu ke sini?
Mereka tidak tahu.
Tadi aku menyelinap keluar.
Lagian, aku mumet di rumah.
Omong-omong, ada apa?
Menurutmu bagaimana soal yang nikah-nikah itu?
Jujur, aku tidak tahu.
Sama.
Maaf, tapi aku benar-benar tidak pernah terpikir soal ini sama sekali.
Sama seperti soal punya anak.
- Maaf aku... - Ya sudah, tidak apa-apa.
Aku mengerti, kita sama-sama tidak tahu.
Namun,...
nanti katanya orang tuaku akan...
membicarakannya dengan orang tuamu, 'kan?
Kita tunggu saja.
Ya.
Terima kasih, ya.
Kau sudah mau bertemu dengan orang tuaku.
Ternyata kau masih peduli.
Naura.
Aku selalu peduli kepadamu.
Hanya saja...
Aku pernah beraksi seakan aku tidak peduli kepadamu,...
tapi kenyataannya tidak begitu.
Kau ingat, ya?
Mereka kunjungan ke sini juga?
- Pergi, yuk. - Yuk.
Naura! Naura tunggu!
- Naura! - Ya ampun, kangen.
Akhirnya kita bertemu lagi di sini, Naura.
Sedang apa dengan Yuda?
Keenan, mau ke mana?
Sudahlah, tidak usah menghampiri Naura.
Lihat, dia sedang bersama Yuda.
Justru itu, aku mau cari tahu.
Lalu, kalau memang mereka bersama lagi, kau sendiri yang sakit hati.
Ikut aku ke sana, ya.
Kau berjanji kepadaku kau mau minta maaf langsung ke Naura.
Hai, Naura. Hai, Yuda.
Naura, aku minta maaf sekali soal waktu itu.
Aku juga janji tidak akan mengulanginya lagi.
Baik.
Terima kasih.
Omong-omong, kalian sedang apa berdua ke sini?
Sedang berkencan?
Kalian berdua bersama lagi?
Pantas kalau kalian balikan, sama-sama tinggal di Bali, 'kan?
Tinggal di Bali?
Kau tinggal di Bali selama ini?
- Ya, dia tidak pernah tinggal di Papua. - Celine.
Ya, maaf. Aku tidak akan bilang apa-apa lagi.
Pokoknya apa pun itu, itu privasimu, tapi aku mau tanya.
Kalian berdua benar-benar bersama lagi?
Itu juga privasiku.
Maaf aku tidak bisa jawab pertanyaan itu.
Aku pergi dulu, ya.
Naura, boleh mengobrol sebentar?
Tidak boleh.
Lepaskan tanganmu dari Naura.
Kau kira kau siapa? Pacarnya?
Dari tadi Naura tidak pernah bilang kalau kau pacarnya.
Aku calon suaminya.
Apa?
(Bersambung)
♪Terbawa kita dalam suasana♪
♪Ini semua terlalu cepat♪
♪Kita masih muda♪
♪Dalam menjalin asmara♪
♪Tak ingin begini, tak bisa kuhindari♪
♪Semua telah terjadi♪
♪Lupakan mimpi-mimpi♪
♪Akan masa depan♪
♪Dan hadapi kenyataan ini♪
♪Kau buatku berikan♪
♪Semua masa mudaku♪
♪Dan kau pergi begitu saja♪
♪Tinggalkan semua harapan♪
♪Kau buatku berikan♪
♪Semua masa mudaku♪
♪Dan kau pergi begitu saja♪
♪Tinggalkan semua harapan♪
♪Kau buatku berikan♪
♪Semua masa mudaku♪
♪Dan kau pergi begitu saja♪
♪Tinggalkan semua harapan♪
♪Kau pergi begitu saja♪
♪Tinggalkan semua harapan♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.