Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aku adalah orang yang sangat tidak menonjol,
sering kali harus dilihat lebih dari dua kali
dan perlu lima kali baru orang lain bisa melihat keberadaanku.
Namun...
Kubo selalu bisa menemukanku.
(Menatap) Menatap.
Ada apa dengan pandangan itu?
Kubo, apakah kau melihat Shiraishi?
Kau pernah bilang kau sangat ahli dalam menemukan Shiraishi, 'kan?
Beri tahu aku dia ada di mana. Aku mau mengambil lotre hari ini.
Aku tidak melihatnya hari ini.
Namun, aku ingin memberi hormat pada Shiraishi.
Maaf, aku tidak bisa membantumu.
Aku pergi cari dia.
Aku rasa Kubo jelas-jelas bisa menemukanku...
- Tidak, Kubo seharusnya sudah menemukanku. - Menatap.
Mengapa dia berbohong tentang itu?
Shiraishi.
Rambutmu berantakan.
Rambutnya berdiri dan aneh sekali.
Jika dilihat orang lain, apakah akan merasa malu?
Namun, jika aku tidak bilang, orang lain mungkin tidak akan menyadarinya.
Aku rapikan dahulu.
Baik, silakan.
Baru pertama kali melihat rambutnya berantakan.
Imut sekali.
(Kubo-san wa Mobu o Yurusanai)
(Episode 6: UKS dan Tokoh Utama) Akan sangat merepotkan ketika
barangku hilang atau tertinggal.
(kartu pelajar)
Karena barang yang tertinggal atau hilang bisa dilihat oleh orang lain,
tetapi mereka tidak bisa menemukanku.
Jadi, biasanya aku akan sangat berhati-hati.
Namun, sama seperti kehilangan kartu pelajarku sebelumnya,
terkadang barangku juga bisa hilang.
Barangmu jatuh.
Terima kasih.
Namun, belakangan ini sepertinya aku menjadi lebih sering ditemukan.
Namun, perasaan aneh macam apa ini?
Apakah karena anak ini berbicara denganku?
Sebentar.
Dia sangat mirip dengan seseorang...
Ada apa, Saki?
Kau siapa?
Aku ingat orang ini adalah...
Penjaga toko buku...
Kau adalah pemuda yang waktu itu membaca buku di sana.
Persepsi yang aneh tentangku.
Aku tidak membacanya.
Dasar.
Apakah Nagisa sudah mengembalikan kartu pelajarnya padamu?
Nagisa? Kartu pelajar?
Aku dengar dari Kubo, kartu pelajar itu ditemukan oleh kakaknya...
Mungkinkah kakaknya Kubo adalah...
Benar, itu aku.
Aku adalah kakaknya Nagisa, Akina Kubo.
Ini adalah adik sepupunya, Saki Kubo.
Terima kasih telah menjaga Nagisa biasanya.
Tidak. Aku adalah Junta Shiraishi.
Pantas saja dia mirip seseorang, ternyata mirip Kubo.
Saki terlihat sangat mirip dengan Nagisa saat SMP.
Begitu ya.
Pikiranku telah tertebak.
Saki sangat imut, 'kan?
Bukankah dia sangat imut?
Ya...
Sama imutnya dengan Nagisa.
Itu...
Aduh.
Dalam hal ini, mereka memang sekeluarga.
Karena Saki sangat menyukai dan mengagumi Nagisa,
jadi, dia mau memanjangkan rambutnya sekarang.
Bagaimana menurutmu?
Tidakkah kau merasa jika rambut Saki panjang, akan lebih mirip Nagisa?
Seharusnya begitu.
Aku perlihatkan padamu. Ini adalah foto Nagisa saat SMP.
Mirip sekali.
Nagisa sangat imut, jadi, aku sangat senang.
Apakah menurutmu aku akan menjadi seimut Nagisa?
Apa?
Anak Muda,
cepat beri tahu dia.
Seharusnya begitu.
Kau kalah dari anak kecil, Anak Muda.
Karena kau begitu berusaha,
aku berikan foto Nagisa padamu.
Kau harus menjaganya dengan baik.
Ayo, kita bertukar informasi kontak.
Faktor genetik Keluarga Kubo menakutkan sekali.
Aku sudah pulang.
Kakak, Saki, selamat datang kembali.
Nagisa.
Hari ini kami bertemu dengan Shiraishi yang waktu itu kartu pelajarnya hilang.
Apa?
Ada apa? Kau sangat peduli?
Tidak.
Apakah Shiraishi mengatakan sesuatu?
Sepertinya begitu. Benar, 'kan, Saki?
Ya.
Kakak Shiraishi bilang aku bisa menjadi seimut Nagisa.
Begitu ya? Baguslah.
Ya.
Nagisa, kau juga. Bagus sekali.
Kau menyebalkan sekali.
Kami juga sekalian bertukar informasi kontak.
Lain kali ajak dia datang ke rumah kita lagi saja.
(Gugup) Mengapa kau bilang datang lagi?
Kakak, mengapa kau bisa tahu?
Astaga, kau benar-benar pernah membawanya ke rumah kita?
Wow!
Kakak.
Sepertinya hubungan Nagisa dan Kakak Shiraishi sangat baik.
Ya.
Mengapa Saki cemberut?
Omong-omong, Junta, kau sebentar lagi ujian akhir semester, 'kan?
Ya.
Bagaimana persiapanmu?
Lumayan.
Ah.
Kalau nilaimu menurun, game-mu akan disita.
Apa?
Minggu depan adalah ujian akhir semester, kalian harus berjuang.
Ujian...
Saat ujian, karena aku tidak menonjol,
jadi sangat sulit untuk mengambil penghapus yang jatuh ke lantai.
Bahkan jika aku angkat tangan, juga tidak akan dilihat oleh guru.
Jadi, aku akan membawa 10 penghapus pada saat ujian.
Kalau nilaiku menurun, game-ku akan disita.
Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi bagaimanapun caranya.
Hazuki, bantulah aku belajar.
Dasar.
Banyak sekali orang yang belajar di ruang kelas hari ini.
Belajar bersama teman?
Itu tidak ada hubungannya denganku.
(Perpustakaan)
Aku tidak tahu apa yang tidak kumengerti dalam soal ini.
Bagaimana ini? Kisi-kisi ujian...
Kubo, mengapa kau ada di sini?
Shiraishi, harap tenang di perpustakaan.
Aku datang untuk mengembalikan buku.
Oh begitu.
Apakah kau sedang belajar?
Ya.
Aku baru mempelajari bagian ini kemarin.
Jika ada yang tidak kau mengerti, aku ajarkan saja.
Apa?
Kau tidak perlu sungkan.
Tunggu aku sebentar.
Mulai sekarang, aku adalah gurunya Shiraishi.
Dari mana dia mendapatkan kacamata itu?
Penjaga perpustakaannya adalah temanku, aku meminjamnya darinya.
Ketahuan lagi.
Ternyata begitu.
Omong-omong, Kubo sangat cerdas,
aku bisa menanyakan bagian yang tidak kumengerti tadi padanya.
Namun, dia adalah Kubo.
Kalau kau salah, harus menyuruhmu melakukan apa?
Seperti itu.
Shiraishi, kau bahkan tidak mengerti ini?
Rasanya dia akan mengatakan itu...
(Game Disita. Ditertawakan oleh Kubo.) Namun, aku memang tidak mengerti.
Kalau nilaiku menurun, game-ku akan disita.
Sudah tidak bisa memikirkan begitu banyak.
Aku tidak mengerti soal nomor lima.
Pasti akan ditertawakan.
Nomor lima? Coba aku lihat soalnya.
Jika kau tidak mengerti soal ini, berarti...
Nomor tiga dan nomor empatnya...
Juga salah.
Nomor lima adalah aplikasi dari nomor tiga dan nomor empat.
Jadi, tidak akan bisa dikerjakan jika tidak mengerti rumus di sini.
Kita mulai dari nomor tiga dan nomor empat dahulu saja.
Eh?
Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?
Bukan. Bagaimana cara mengatakannya?
Kau pikir aku akan menertawakanmu karena kau tidak bisa menjawab soal semudah ini?
Bukan.
Ekspresimu telah mengkhianatimu.
Bukan hanya dalam hal pelajaran,
aku tidak akan menertawakan orang yang mau berusaha melakukan hal yang dia tidak bisa.
Baik, ayo kita kerjakan soalnya.
Setelah dia mengajariku, aku menyadari...
Benar.
Kubo sangat pandai mengajar.
Rasanya seperti guru sungguhan.
Shiraishi, kau mengerjakannya dengan baik.
Ekspresimu menarik sekali.
Shiraishi, apakah kau akan belajar di perpustakaan juga besok?
Mungkin begitu.
Begitu ya? Kalau begitu, ayo kita belajar bersama juga besok.
Sampai jumpa, Shiraishi.
Terima kasih untuk kacamatanya.
Tidak apa-apa, itu hanya kacamata biasa.
Sampai jumpa besok.
Sampai jumpa besok.
Aku juga sudah harus pulang.
Belajar bersama...
Aku pikir hal seperti ini tidak ada hubungannya denganku.
Sampai jumpa besok?
Rasanya aku mulai menantikan datangnya hari esok.
Namun, keesokan harinya aku malah tidak bisa pergi ke sekolah karena demam...
Pertama kalinya minta izin.
Meskipun itu bukan hal yang perlu dibanggakan,
tetapi sejak SD, aku selalu hadir di sekolah.
Namun, aku tidak menonjol.
Bahkan jika minta izin, juga tidak akan ada masalah.
Teman-teman sekelasku mungkin juga tidak akan sadar sebelum diberi tahu guru.
Jika ada yang akan tahu...
Kepalaku sakit sekali.
Rapat kelasnya sampai di sini saja.
Oh ya, Shiraishi minta izin hari ini karena demam.
Sekarang sangat mudah demam, kalian juga harus memperhatikan kesehatan.
Shiraishi minta izin?
Ya.
Aku tidak menyadarinya.
Bagaimanapun juga, dia biasanya tidak menonjol.
Kubo, apakah kau menyadarinya?
Apa?
Aku juga tidak menyadarinya sebelum guru mengatakannya.
Benar juga.
Sepertinya dia menyadarinya.
(Apakah demammu sudah membaik?)
(Bolehkah aku pergi menjengukmu?)
Sampai jumpa besok.
Sampai jumpa.
Ada apa denganmu, Nagisa?
Sudah waktunya pulang sekolah.
Kubo, jika aku izin sakit, ingatlah untuk menjengukku.
Mengapa tiba-tiba berkata seperti itu?
Saat aku demam, jika ada gadis sepertimu yang menjengukku,
aku rasa demamku pasti akan langsung sembuh.
Be...Benarkah?
Apa yang sedang kau bicarakan?
Saat demam, bukankah akan merepotkan jika membiarkan orang datang menjenguk?
Sepertinya benar.
Nagisa, kau belum pulang?
Ya. Hazuki, Tama, kalian pulang dahulu saja.
Baik, sampai jumpa besok.
Sampai jumpa besok.
Tama sepertinya tidak akan demam.
Tidak seperti itu.
Harus mengirim apa agar tidak merepotkannya?
Tanyakan padanya "Apakah kau baik-baik saja?"
Namun, dia juga tidak baik-baik saja.
Main aman saja dan katakan "Jagalah kesehatanmu".
Lalu, pergi jenguk dia...
(Jelas-jelas sudah sepakat untuk belajar bersama hari ini.)
Tidak baik untuk mengatakan itu.
(Apakah kau akan ke sekolah besok?)
(Apakah kau akan ke sekolah besok?)
Ini pesan dari Kubo.
(Apakah kau akan ke sekolah besok?)
(Seharusnya bisa.)
Kakak, ayo bermain.
- Seita, Kakak masih demam. - Ayo bermain.
Aku mau.
- Aku mau. - Jangan sentuh ponselku.
Ibu!
Aku mau!
(Ingin bertemu denganmu.) I...Ini...
Aku harus bagaimana, Seita?
(Maaf, itu Seita! Dia tidak sengaja mengirim stiker!)
Begitu ya? Seita yang kirim?
Kalau begitu, aku balas saja.
Kakak.
- Jangan bercanda. Kakak perlu istirahat. - Kakak.
- Ayo pergi, Seita. - Tidak mau.
Kakak.
(Kesepian sekali. Peluk) Ini...
(Kakak yang mengirim stikernya!)
Ternyata kakaknya? Mengagetkanku saja.
Sepertinya demam lagi.
Pulang saja.
(Anda memiliki pesan baru)
Pesan dari kakak ya?
Dingin sekali.
(Kubo Won't Let Me Be Invisible Ahciuu!)
(Harap Tenang)
Aku terlambat,
tetapi pasti tidak ketahuan.
Seharusnya tidak akan ada yang menyadari bahwa aku tidak ada.
Meskipun aku bisa masuk secara terang-terangan.
Kau terlambat.
Lagi pula tidak ketahuan. Masuk saat pelajaran kedua saja.
Eh?
Kubo.
Ternyata Shiraishi.
Kubo terlihat agak linglung.
Maaf, berdiriku kurang mantap.
Itu...
Ternyata Shiraishi tidak izin hari ini.
Bagus sekali.
Itu...
Apakah kau bersembunyi di sini karena terlambat?
Tidak bisa seperti itu.
Sakit sekali.
Kau tidak apa-apa, 'kan?
Sepertinya aku agak demam, sedang mau pergi ke UKS.
Begitu ya.
Maaf telah menghentikanmu.
Minta guru temani kau pergi ke UKS saja.
Bahaya bagimu jika berjalan sempoyongan seperti ini sendirian.
Sekarang sedang ada kuis, aku tidak enak merepotkan guru.
Shiraishi, cepatlah masuk ke kelas.
Kubo terlihat agak pucat.
Selama ujian, juga tidak ada yang bisa membawa Kubo ke UKS.
Namun, akan gawat jika dia jatuh dari tangga.
Lagi pula, aku juga berniat untuk masuk ke kelas saat pelajaran kedua.
Selain itu, itu mungkin juga ditularkan olehku.
Kubo.
Aku temani kau ke UKS saja.
Jika kau tidak bisa berdiri dengan mantap, bersandarlah di bahuku.
Bukan, itu... Tidak apa-apa...
Apakah kau mau menemaniku pergi ke UKS?
Jika kau tidak merasa aku merepotkan.
Terima kasih.
Kalau begitu, mohon bantuanmu.
Baik.
Permisi.
Guru sedang tidak ada.
Pokoknya, biarkan Kubo berbaring dahulu saja...
Bagaimana ini? Apakah perlu mencari guru?
Perlukah mengukur suhunya dahulu?
Shiraishi, terima kasih.
Sama-sama.
Tangan Shiraishi
dingin dan nyaman.
Tangan Kubo sangat hangat...
Sudah tertidur?
Ampunilah aku.
Apakah ada orang di sana?
Ada aku. Maaf, aku...
Tidak apa-apa.
Dia agak demam,
jadi, aku membiarkannya tidur di ranjang terlebih dahulu.
Terima kasih, serahkan urusan selanjutnya padaku.
Baik.
Aku yang hari ini...
Bagaimana cara mengatakannya?
Meskipun aku tidak layak menerima sebutan ini,
tetapi aku selalu merasa
seperti seorang tokoh utama.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.