All language subtitles for [Indo] Red Balloon - Episode 17

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

"Red Balloon"

"Seo Ji Hye"

"Lee Sung Jae"

"Hong Soo Hyun"

"Lee Sang Woo"

"Jung Yu Min"

"Yoon Mi Ra, Yoon Joo Sang, Lee Bo Hee, Jung Bo Seog"

"Kim Hye Seon, Choi Dae Chul, Lee Sang Suk, Seol Jung Hwan"

"Red Balloon"

"Semua tokoh, organisasi, dan peristiwa"

"Dalam drama ini hanyalah fiksi"

"Episode 17"

Eun San...

Aku ayah Cho Eun San.

Maafkan aku.

Tolong maafkan aku.

Bagaimana kamu tahu aku ibu Eun San?

Dia bercerita betapa kamu mencintai uang

dan meniru tawamu.

Aku mendengar tawamu tempo hari

dan menyadari kamu ibunya Eun San karena Eun Kang memperkenalkanmu.

Maafkan aku.

Eun San-ku baru berusia 28 tahun,

sementara kamu punya istri dan dua anak.

Bagaimana bisa pria seusiamu

menggoda wanita lebih muda untuk berselingkuh?

Maafkan aku.

Aku tidak akan membuang waktuku.

Kamu sudah menghancurkan hidup putriku,

jadi, dia harus diberi kompensasi atas apa yang dia alami.

Berapa yang bisa kamu berikan?

Itu milikmu. Enyahlah.

Dua kaus dan dua celana pendek.

Mungkin hanya aku

yang memakainya sepanjang tahun.

Orang lain harus rendah hati seperti aku.

Itu bagus, bukan?

Apa itu bagus bagimu? Kendalikan dirimu.

Kamu masih muda, tapi hanya bisa mendekati wanita.

Aku melihat Dae Geun di motel baru-baru ini.

Motel? Dengan siapa?

Tentu saja seorang wanita. Haruskah kamu bertanya?

Dia tampak tergila-gila kepadanya.

Dae Geun dan aku sangat mirip.

Kami selalu terpikat wanita yang lebih tua.

Aku tidak bisa menunjukkannya secara gratis.

Berikan aku uang,

dan aku akan membiarkanmu melihatnya.

"Pinjaman Sekali Coba Duri"

"Pinjaman Kredit Duri Club"

Ada yang bisa kubantu?

Begini...

Sudah kuduga. Aku mengenalimu.

Kamu suami Ko Geum Ah, bukan?

Ya, benar.

- Boleh aku bertanya kamu siapa? - Kamu tidak ingat aku?

Kita pernah bertemu di masa lalu.

Sebelum kamu menikahi Bu Ko,

istrimu menjalin hubungan dengan seorang pria.

Dia ayah dari anakku. Kamu tahu ceritanya.

Kenapa kamu datang ke sini?

Apa yang akan kamu lakukan?

Istrimu jauh lebih tua darinya,

tapi dia menggodanya karena dia masih lajang.

Dia pasti sangat memengaruhinya,

mengingat dia tidak melupakannya setelah menikah denganku.

Itu sebabnya kami bercerai.

Kami sedang membahas tentang kembali bersama,

tapi mereka kembali menjalin hubungan.

Aku akan menanganinya jika kamu tidak bisa.

Kedua anakmu juga masih sekolah,

jadi, aku yakin kamu mengerti.

Jangan libatkan anak-anak dalam masalah orang dewasa.

Aku mengerti maksudmu, jadi, pulanglah.

Urus istrimu!

Aku belum pernah melihat suami

yang tidak marah setelah melihat ini.

Siapa itu?

Ini aku, Ibu. Cha Won.

Dasar menantu kurang ajar!

Beraninya kamu datang ke sini!

Seolah-olah ada yang bisa kamu katakan!

Aku yakin kamu sudah tinggal dengannya.

- Tidak. - Yang benar saja.

Aku melihatmu dengan mataku sendiri!

Perselingkuhan kalian berdua

menghancurkan hidup seorang wanita.

Kamu pikir kamu akan hidup bahagia

setelah menginjak-injak putriku?

Aku akan menguras darahmu perlahan sampai kamu mati.

Ayo. Mari kita bicara dengan orang tuamu.

- Ibu. - Ayo!

Kita harus bicara.

- Ikuti aku. - Ibu.

Keluar!

Astaga. Bu Yeo.

Aku datang ke sini karena tidak bisa menahan amarahku.

Putriku mengalah, tapi bukan berarti dia lemah.

- Putramu sudah menyakitinya. - Apa?

Sebagai orang tuanya, kalian harus memohon maaf kepadanya.

Apa yang kamu lakukan?

Ada apa dengan kerahmu? Kamu yang melakukan ini kepadanya?

Benar. Aku menarik kerahnya!

Sulit dipercaya. Aku tidak pernah menyentuh putrimu,

tapi kamu berani menarik pakaian putraku..

Kamu sangat kuat untuk wanita yang sedang sakit.

Kamu kesal karena itu?

- Aku hampir berbuat lebih jauh. - Sulit dipercaya.

Kamu hampir saja memukulku.

Putri dan ibunya sama-sama kasar.

Apa? Kamu menyebut kami kasar?

Kamu memang seperti itu.

Beraninya kamu menarik kerah putraku!

Aku melakukannya karena dia pantas mendapatkannya.

Jangan meremehkan Ba Da karena dia tidak punya siapa-siapa.

Aku belum mati.

Tapi setelah aku mati, aku akan menghantui kalian

untuk membalas dendam.

Terima itu!

Terima itu?

Selama ini kamu berpura-pura sopan dan berkelas.

Jujur saja. Jika putrimu lebih baik,

putraku tidak akan berselingkuh darinya.

Diam!

Bu Yeo, maafkan aku.

Aku menunggu saat yang tepat

karena tidak ada cara untuk menenangkannya sekarang.

Apa yang kamu tunggu

padahal putramu tinggal dengan simpanannya?

Saat putranya salah,

orang tua harus mengajarinya.

Apa yang dia bicarakan? Kamu tinggal dengannya?

- Tidak. - Aku melihatnya sendiri.

Benarkah itu?

Bagaimana aku tahu?

Aku yakin itu tidak benar.

Perceraiannya belum tuntas.

Eun Kang pasti tinggal di sana untuk menjaga Mi Poong.

Dia sudah lama melakukan itu.

Lihat? Ba Da punya teman yang merawat anaknya sendiri,

tapi kamu berani membentak kami.

Apa?

Aku menyalahkanmu atas semua ini!

Ibu mertua putraku baru saja menarik kerahnya kemari.

Dia datang jauh-jauh ke rumah kami

untuk menyalahkan kami.

Kami terlibat kekacauan ini hanya karena kamu.

Kudengar kamu bahkan di rumahnya.

Apa kamu masuk ke sana setelah Ba Da pergi?

Tentu saja tidak, Bu Na. Bukan begitu.

Jangan berpikir macam-macam.

Beraninya kamu!

Kamu tidak cukup baik untuk Cha Won.

Kamu mengerti maksudku, bukan?

Eun Kang, bisa kita bicara?

Tentu.

Benarkah?

Ibumu menemuinya dan meminta 100.000 dolar.

Eun San tidak boleh dimanfaatkan. Ibuku sangat keterlaluan.

Jangan marah kepada ibumu.

Ada alasan orang menerima kompensasi.

Kupikir kamu harus tahu.

Tapi jangan beri tahu Eun San.

Kamu tahu dia akan mengamuk.

Ini uang yang kamu berikan kepadaku.

Berikan kepada ibuku.

Kamu mungkin sudah menyadarinya sekarang,

tapi dia tidak akan mundur sampai kamu membayarnya.

Terima kasih, Eun Kang.

Aku tidak mengembalikannya untuk mendengarmu berterima kasih.

Itu untuk membantu adikku merasa tenang.

- Lalu... - Bagaimana keadaan Eun San?

Bagaimana keadaannya?

Jangan menanyakan hal seperti itu.

Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia.

Anggap saja dia baik-baik saja.

Ini pasti juga sulit bagimu.

Tapi jangan terlalu berharap.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan Cha Won yang sebenarnya,

tapi kebanyakan pria termasuk aku

adalah pengecut yang egois.

Tidak banyak pria rela menghancurkan keluarga mereka demi wanita lain.

Zaman mungkin sudah berubah,

dan bercerai bukan kesalahan lagi,

tapi begitulah pria.

Ada banyak alasan untuk itu,

tapi terutama demi anak-anak mereka.

Tapi jangan marah karena ucapanku ini.

Itu kenyataan.

Aku memutuskan mengambil jalan ini

untuk melihat akhirnya.

Aku tidak ingin hancur karena mereka

yang meremehkan dan menolakku.

Rasa sakitnya membuatku sulit bangun di pagi hari.

Tapi karena aku sudah sampai sejauh ini,

aku akan melakukannya sampai akhir.

Astaga.

Ada apa dengan pisau ini? Astaga, aku kesepian.

Hei!

Kenapa kamu berteriak memanggilku?

Astaga. Kenapa kamu mengasah pisaumu?

Itu membuatku takut.

Kenapa? Apa kamu bersalah atas sesuatu?

Aku takut pisau saat kecil,

itu sebabnya aku tidak bekerja di dapur.

Aku harus menjaga ucapanku di depan orang yang membawa pisau.

Kamu tidak memasak karena takut pisau?

Kamu selalu punya alasan untuk segala hal.

Aku akan keluar sebentar.

Kamu juga keluar kemarin. Ada apa denganmu belakangan ini?

Teman-temanku mengajakku pergi

karena aku akan sibuk begitu tahun ajaran baru dimulai.

Pakaian itu tampak baru. Kapan kamu membelinya?

Kamu tidak setia. Kenapa kamu berbelanja sendiri?

Aku tidak membelinya.

Dahulu aku biasa memakainya saat masih SD.

Saat masih SD?

Mari kita lupakan saja.

- Astaga! - Astaga.

Kamu harus berbenah dengan ibu hari ini.

Ayah sedang mengasah pisaunya.

Besok, Ibu. Aku akan segera kembali.

Ayah, aku akan melakukannya saat kembali.

Biarkan saja seperti ini.

Hei. Ada apa dengannya?

Apa yang dia kenakan? Usianya lebih dari 50 tahun.

Biarkan saja dia.

Dia bilang dia memakainya saat SD.

Kelas berapa?

Kelas enam? Kelas lima?

Kelas empat.

Mari kita berpura-pura tidak tahu.

Dia harus menanyakan usianya sendiri sebelum memutuskan memakai sesuatu.

Seseorang mungkin berpikir dia berselingkuh.

Wanita yang berselingkuh mungkin tidak menyadarinya sendiri,

tapi orang lain menyadarinya lebih dahulu.

Mereka bilang penjaga keamanan apartemen yang pertama tahu.

Kita tidak punya penjaga keamanan. Siapa yang akan berpikir begitu?

Benar.

Ini bukan saatnya mengasah pisau.

Jika dia hamil, itu akan menjadi masalah besar.

Sekarang?

Aku akan pergi ke Gunung Seorak.

Ada hal mendesak?

Aku tidak bisa.

Aku harus pergi melihat matahari terbit di Puncak Daecheongbong.

Aku mengerti, Pimpinan Ko.

Kenapa kamu pergi ke Puncak Daecheongbong?

Aku mendaki ke sana sesekali saat sedang banyak pikiran.

Gadis yang terlibat perselingkuhan dengan menantumu...

Masalah itu sudah selesai, bukan?

Dia gadis kurang ajar.

Aku menyuruhnya menandatangani memorandum, tapi dia menolak.

Aku mencoba menarik kerahnya

dan menemui orang tuanya, tapi dia diam saja.

- Dia bukan gadis biasa. - Kamu menarik kerahnya?

Itu hanya ungkapan.

Tapi apa salah gadis itu?

Menantumu yang kurang ajar.

Kamu pernah bilang aku harus memberi pelajaran kepada pezina.

Orang mungkin berpikir kamu ayah dari gadis itu.

Selain itu,

wanita yang berselingkuh dengan putraku itu adalah masalahnya.

Aku mencoba menemui orang tuanya,

- tapi dia bilang tidak punya. - Dia mengaku sebagai yatim piatu?

Kupikir aku mendengar orang tuanya masih hidup,

tapi tiba-tiba saja dia mengaku tidak punya orang tua.

Dia meminta maaf,

tapi kurasa dia tidak akan melepaskan putraku.

Sepertinya dia juga masih sering mengunjungi rumah putraku.

Itu sebabnya...

"Seratus ribu dolar"

Dia datang.

Kamu harus menyapa pria ini.

Dia temanku.

Senang bertemu denganmu. Namaku Cho Eun Kang.

Senang bertemu denganmu.

Yang benar saja.

Duduklah.

Kamu tahu,

aku tidak bisa tidur karena terlalu frustrasi.

Itu sebabnya aku mengatakan ini.

Tunggu. Kalian berdua...

Margamu juga Cho, bukan?

Bukan Cho. Margaku Joo.

Sudah kubilang namaku Joo Dae Bong.

Margamu Joo?

Kupikir margamu Cho selama ini.

Anehnya, kalian berdua

tampak mirip.

Aku ragu itu benar.

Pimpinan Ko. Lebih baik masalah ini

dibahas secara pribadi.

Aku pasti akan menyampaikan pesannya.

Pulanglah lebih dahulu, Pak.

Baiklah.

Dengarkan dan lakukan perintahnya.

Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi!

Ayo pergi.

- Kamu dari mana saja? - Nanti saja. Jangan bicara padaku.

"Real Estat Eoeum, Real Estat Mawon"

Tasku!

- Kamu baik-baik saja? - Tasku!

Tasku!

Tidak!

Astaga.

Astaga.

Seharusnya ini diganti sejak lama.

Jika pencuri masuk, dia akan memeriksa laci dahulu.

Apa yang harus kulakukan dengan ini?

Astaga, selalu ada masalah bahkan saat aku punya uang.

Akhirnya aku merasa tenang sekarang.

"Cho Dae Bong"

Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Anda akan dialihkan ke kotak suara.

Di mana kamu? Pulanglah segera setelah mendengar ini.

Ini kabar baik.

Astaga!

Para wanita berselingkuh dengan pria yang sudah menikah

karena orang tua mereka tidak membesarkan dengan baik.

Semua anak dipengaruhi oleh orang tua mereka.

Maafkan ayah, Eun Kang!

Maafkan ayah, Eun San!

Aku ayah yang buruk!

Astaga!

Satu, dua, tiga, empat, lima...

Totalnya 100.000.

Tunggu. Biar kuhitung lagi.

Satu, dua, tiga, empat, lima nol.

Apa hebatnya kertas kecil ini?

Kami mempertaruhkan nyawa untuk ini.

Bahkan seekor anjing tidak akan menerima uang ini.

Salah Ibu kami menjadi seperti ini.

Seharusnya Ibu mengurusnya sendiri!

Setidaknya Ibu harus merahasiakannya dari kami!

Ibu dan Ayah yang membuatnya seperti ini!

Jika Ibu tidak bisa melakukan apa pun untuk kami karena uang,

setidaknya cintai kami karena itu tidak perlu biaya.

Menurut Ibu kenapa aku tidak bicara di rumah?

Benarkah...

Benarkah itu?

Kita tidak mengenal

anak-anak kita sendiri.

Kupikir aku yang paling mengenal anak-anakku.

Tapi aku sama sekali tidak mengenal mereka.

Bagaimana bisa mereka berdua...

Kenapa bisa sampai seperti ini?

Apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka sekarang?

Kamu tahu apa yang paling mengejutkanku?

Orang seperti kita

cepat menyadari masalah dan bisa berpikir cepat.

Itu yang biasa dilakukan orang miskin seperti kita.

Orang-orang dari keluarga kaya yang dibesarkan dengan cinta.

Tidak mencemaskan atau memikirkan orang lain.

Itu karena mereka tidak perlu melakukannya.

Saat dia melihatku di kedai teh,

orang lain akan sangat terkejut,

tapi dia berpura-pura tidak mengenalku.

Dia sudah terbiasa hidup seperti itu.

Itu seperti refleks bagiku.

Aku bisa melihat bagaimana Eun Kang hidup sampai sekarang.

Aku bisa melihat bagaimana putri-putri kita bertahan hidup.

Itu karena kita miskin.

Mereka harus cepat dalam bertindak agar tidak kelaparan.

Aku tidak bisa mengatakan apa pun

atau pergi ke mana pun.

Jadi, aku berjalan ke sungai.

Dia hanya mengikutiku tanpa bicara.

Saat melihat sungai,

aku sadar sudah mendorong

anak-anakku ke sungai dingin itu.

Aku bilang kepada pria tua itu

bahwa dia harus memberi pelajaran kepada para wanita simpanan.

Kami pergi mengonfrontasi Eun San yang berselingkuh.

Aku menyuruhnya menghukum Eun Kang.

Memikirkan Eun San di apartemen itu

masih membuatku takut.

Bagaimana bisa seorang ayah dan putrinya

bertemu seperti itu?

Aku akhirnya

bertemu Eun Kang seperti itu hari ini.

Aku menangis saat melihat sungai.

Dia tidak menyalahkanku atas apa pun

dan menepuk punggungku tanpa bicara.

Dia pasti kesulitan, tapi dia masih berusaha menghiburku.

Bagaimana aku bisa menebus dosaku?

Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak tahan lagi.

Ini bukan salahmu.

Ini salahku.

Aku bicara sembarangan saat bekerja di rumah itu.

Aku yang membuat putri-putri kita menderita.

Aku yang menghancurkan putri-putriku sendiri.

Aku bahkan tidak pantas menyebut diriku sebagai ibu.

Kita tidak tahu keadaan akan menjadi seperti ini.

Jangan menangis.

Kita harus bersemangat agar mereka bisa terus maju.

Baiklah.

Eun Kang...

Eun San...

Sekarang?

Kalian tidak bertengkar, bukan?

Baik, Ibu. Aku akan pulang dengan Eun San.

Selamat datang, putri-putri kami.

Kamu berjanji tidak akan menangis.

Ada apa ini?

Ibumu ingin mengakrabkan diri dengan kalian hari ini.

Tanpa Paman. Hanya kita.

Ayahmu dan ibu sudah meniup banyak balon.

Apa maksudmu?

Kamu bahkan membohongi keluargamu sendiri?

Kami lelah meniupnya, jadi, kami membeli pompa.

Itu cantik. Eun Kang suka balon.

Astaga.

Eun Kang tidak suka saat ibu memakai ini.

Kenapa Ibu terus memakai itu?

Dia membayar mahal untuk itu. Dia tidak ingin rugi.

Kupikir ini spandeks. Wanita di toko itu memang keterlaluan.

Wanita pemilik toko pakaian itu.

Duduklah. Ini tidak akan hancur.

Ini akan baik-baik saja selama sepuluh tahun lagi.

Duduklah.

Ibumu yang membuat semua ini.

Dia membuat makanan kesukaan kalian.

Ayah yang membayarnya, mengerti?

Kenapa Ibu membuat banyak sekali?

- Pasti ini mahal. - Agak mahal.

Untuk putri-putri kami.

Ayah bahkan membeli sampanye.

Ayah hampir lupa. Gelas sampanye.

- Kita bisa minum dengan apa pun. - Baiklah.

Astaga.

Baiklah. Mari berpesta dengan putri-putri kesayangan kami.

Eun Kang. Eun San.

Maafkan ayah.

Selain itu, terima kasih.

Tidak ada yang terjadi.

Mari kita melupakan semuanya dan mulai dari awal.

Jangan cemas.

Ayah akan melindungi kalian dari semua orang.

Apa pun kata orang, kalian berdua putri kesayangan ayah.

Maaf, Ayah,

karena aku gagal menjadi putri yang baik.

Jangan bilang begitu.

Ayah memercayai kalian berdua.

Maafkan ibu.

Ibu gagal sebagai orang tua.

Ibu bahkan tidak bersikap seperti orang dewasa.

Ibu tidak membantu kalian.

Sudah tanggung jawab ibu untuk membesarkan kalian,

tapi ibu tidak mengerti dan malah menyakiti kalian.

Itu karena ibu bodoh. Tolong maafkan ibu.

"Cek, 100.000 dolar"

Ibu belum pernah melihat 100.000 dolar

seumur hidup ibu.

Ibu belum pernah menyentuh uang sebanyak itu.

Ibu senang saat mendapatkannya.

Ibu pikir ini akan menyelesaikan segala masalah.

Ibu pikir hidup Eun San akan berubah.

Dahulu ibu begitu bersemangat

setiap kali melihat uang

berapa pun jumlahnya,

tapi ibu belum pernah melihat uang yang membuat ibu sangat sedih.

Simpan ini dan cobalah membuka toko.

Kamu harus menjaga dirimu.

Kamu harus tegar.

Orang seperti kita tidak akan mati karena masalah seperti ini.

Aku tidak pernah melihat Ibu memberikan uang seperti itu.

Tidak baik jika seseorang berubah secepat itu.

Lakukanlah perlahan saja.

Apa maksudmu? Lebih baik langsung berubah.

Seperti merokok. Kita harus langsung berhenti.

Kenapa berhenti secara bertahap?

Itu sebabnya kita gagal berhenti. Benar, bukan?

Ibu benar.

Baik. Kenapa tidak?

Terima kasih sudah memasak hari ini, Ibu.

Aku juga akan membelikan Ibu pakaian baru.

Kenapa kamu tiba-tiba memberi ibu uang?

Lihat tanganmu yang langsung menerima uang itu.

Kamu harus berhenti mencintai uang.

Biarkan Ibu menikmati pemulihan dengan uang.

Lakukan itu, Ibu.

"Astaga."

Astaga.

Ibu hebat.

Kamu juga harus melakukannya.

Astaga.

Astaga. Kalian berdua memang putri Yang Ban Sook.

Tentu saja. Mereka putri-putriku.

Kamu tidak punya apa-apa?

Aku belum digaji.

Benar. Ibu, ini.

Taruh di wajah Ibu seperti ini.

Aku sudah menghabiskannya.

- Ini. - Berikan kepada ayah.

Ibu merasa senang hari ini.

Ini, Cho Dae Bong. Uang tip.

Ayah mendapat produk kecantikan ini dan uang tip.

Kalian berdua. Katakan keinginan kalian.

Kami hanya punya satu keinginan.

Keinginan kami adalah kalian berdua berhenti bertengkar.

Kami tidak akan bertengkar lagi. Kamu mau melihat buktinya?

Anak-anak melihat kita.

Geum Ah. Mari kita berkeliling sekali lagi.

Kita sudah melakukannya tiga kali.

Bagaimana kita bisa bertahan tanpa bertemu sampai sekarang?

Haruskah kita melakukan yang dahulu kita lakukan?

- Kamu belum lupa, bukan? - Tentu saja belum.

"Ubi jalar besar"

"Ubi jalar segar"

"Ubi jalar kastanya"

"Ubi jalar labu"

"Aku akan makan sampai sakit"

Cho Dae Geun.

Karena kamu tidak di sini, ubinya membusuk.

Daguku.

Daguku sakit.

Kamu harus pulang.

- Baiklah. - Baiklah. Masuklah.

Mari kita bicara.

Berhentilah menemui pria itu.

Kenapa tidak? Apa tidak boleh?

Apa?

Aku melakukan apa yang kamu lakukan. Apa tidak boleh?

Geum Ah.

Aku diam saja saat kamu berselingkuh.

Aku hanya meyakinkan diriku bahwa itu semua salahku.

Aku kacau saat mengetahui perselingkuhanmu,

tapi kini giliranmu merasakan hal yang sama.

Kita impas sekarang, jadi, aku sama sekali tidak menyesal.

Jadi, jangan ikut campur dan berpura-pura tidak tahu.

Delapan belas tahun kita bersama.

Tidak, bahkan sejak aku bertemu ayahmu di usia 17 tahun,

emosiku sudah dikendalikan dan ditekan.

Kemarahan yang terpendam membuatku sakit.

Aku kehilangan harga diriku sebagai pria

dan rasa malu itu terlalu berat untuk ditanggung,

tapi aku tidak berhak mengatakan apa pun.

Seperti katamu, kita impas sekarang.

Jadi, aku akan menganggap penghinaan ini sebagai bagianku.

- Tapi... - Hentikan omong kosong itu.

Kamu tahu betapa kesepiannya aku?

Kamu yang membuatku seperti ini.

Kamu yang memulai semua ini.

Menopause membuatku stres,

tapi kamu harus menginjak-injak

harga diri istrimu yang merupakan ibu dari dua anakmu.

Wanita itu 23 tahun lebih muda daripada aku.

Bagaimana aku bisa menandinginya?

Kini aku tahu kenapa orang bilang usia bisa menjadi senjata.

Tapi kamu menyuruhku mengakhirinya.

Lihatlah dirimu.

Apa maksudmu? Ada apa denganku?

Apa aku tampak putus asa bagimu?

Pikirkan saja urusanmu sendiri bagaimana pun itu terlihat bagimu.

Aku juga bisa mengencani pria yang 20 tahun lebih muda.

Aku hanya memilih untuk tidak melakukannya.

Kamu berani menyebut dirimu seorang ibu?

Katakan.

Bisakah kamu bilang kamu bersikap seperti ayah yang baik?

Aku mengerti perasaanmu,

dan aku tahu alasanmu melakukan ini.

Maafkan aku, Geum Ah.

Aku salah.

Akhirnya.

Kamu tidak pernah meminta maaf atas tindakanmu,

tapi kini kamu meminta maaf.

Pak Ji,

kenapa kamu menikahiku

padahal kamu tidak mencintaiku?

Apa untuk menafkahi keluargamu?

Karena kamu ingin menguasai harta keluargaku?

Aku yakin kamu ingin memukulku.

Tapi kamu tidak akan bisa

karena kamu takut kepada ayahku.

Kamu takut diusir.

Ejek aku sesukamu.

Bersikaplah sinis sesukamu.

Lakukan apa pun yang kamu inginkan sampai kamu merasa lebih baik.

Itu aneh.

Kamu sama sekali tidak takut berselingkuh dengan wanita itu.

Kamu tidak menduga aku akan bersikap seperti ini

saat kamu bermesraan dengan wanita itu?

Kamu pasti takut karena perceraian akan membuatmu bangkrut.

Benar.

Aku takut bangkrut.

Jadi, aku akan menerima apa pun yang kamu katakan kepadaku.

Injak-injak aku,

hancurkan aku,

robek harga diriku,

dan ludahi wajahku.

Namun, jangan sakiti Chun dan Woon.

Anak-anak kita pintar dan cepat menyadari sesuatu.

Mereka tahu kita punya masalah.

Syukurlah.

Lagi pula, mereka akan tahu saat kita bercerai.

Jangan bilang begitu.

Aku tidak akan berselingkuh lagi,

jadi, akhiri perselingkuhanmu sebelum anak-anak kita tahu.

Keterkejutan dan sakit hati yang akan mereka rasakan

saat mengetahui perselingkuhan ibu mereka?

Kamu tidak tahu betapa menyakitkannya itu.

Aku bicara dari pengalaman.

Aku tidak bisa membiarkan anak-anak kita mengalami itu.

Selain itu,

aku tidak akan pernah bercerai.

Jika itu yang kuinginkan,

aku tidak akan bertahan sampai sejauh ini.

Aku mengabdikan hidupku kepada ayahmu

dengan menjadi kacungnya selama ini.

Aku tidak akan menyerah.

Aku sudah menjadi pebisnis selama lebih dari 20 tahun.

Aku tidak membuat kesepakatan yang menyebabkan kerugian.

"Dae Geun"

Aku sudah pulang.

Kamu sudah pulang?

Cepat sekali.

Ini sudah larut, jadi, kurasa tidak ada kemacetan.

Aku juga.

Kita akan bicara lagi besok. Selamat malam.

Dia bilang apa?

Aku berhasil membuat dia sadar,

dan dia sopan.

Dia tampak seperti wanita muda yang baik.

Apa bagusnya menggoda suami teman?

Aku yakin dia punya alasan.

Perselingkuhan terjadi karena kedua pihak saling menyukai.

Maksudku...

Begitulah hidup.

Jangan mencari wanita itu lagi

dan jangan lakukan apa pun.

Kita bicara lagi lain kali, Pak.

Mulai sekarang,

jangan menangis di depan anak-anak kita.

Tidak akan.

Kita harus tetap tegar agar mereka juga tegar.

Terima kasih, Eun Kang.

Terima kasih karena kamu sudah memberi Pak Ji uangnya.

Pokoknya, aku akan menerima uang ini

karena menerimanya akan membuatnya tenang.

Aku belum pernah melihat ayah kita menangis seperti itu.

Ketahuan olehnya

lebih memalukan daripada menyelinap keluar kafe.

Aku juga belum pernah melihat Ayah menangis.

Aku paling takut ketahuan oleh keluarga kita sendiri.

Aku tidak memberi contoh yang baik sebagai kakak,

dan itu memalukan.

Betapa menyedihkannya aku.

Menurutmu apa yang akan terjadi?

Entahlah.

Aku membiarkan diriku mengikuti arus.

Eun San,

jangan menangis lagi.

Aku tidak ingin membuat orang tua kita sedih lagi.

Aku berjanji.

Aku tidak akan menangis lagi.

Aku menyingkirkan pria kotor itu,

jadi, lakukan apa yang kamu mau bersama dia

dan simpan dia untukmu sendiri.

Maafkan aku.

Tidak bisakah kamu berselingkuh dengan orang yang lebih baik?

Tidak banyak pria rela menghancurkan keluarga mereka demi wanita lain.

Kamu tidak cukup baik untuknya!

"Dari Cho Eun Kang"

Bertahanlah, Eun Kang.

Jangan biarkan mereka meremehkanmu.

Kamu cukup baik.

Semoga berhasil, Eun Kang.

Nenek Jeon Hee memukul Bibi Eun Kang.

- Kapan? - Beberapa hari lalu.

Dia menghinanya,

menjambaknya,

dan memukulnya.

Bibi Eun Kang menangis.

Kasihan Bibi Eun Kang.

Mi Poong memberitahuku.

Ibu Ba Da bersikap kejam kepadamu.

Aku meminta maaf mewakilinya.

Aku lebih tenang setelah dipukul seperti itu.

Kudengar dari ibumu dia datang ke rumahmu

dan mengamuk.

Ibuku membentakmu, bukan?

Ya, sedikit.

Aku membuatmu mengalami hal yang tidak seharusnya.

Maafkan aku.

Aku merasa bersalah.

Aku merindukanmu.

Ada apa, Direktur Shin?

Profesor? Aku tidak tahu.

Bersama istri-istri kita?

Tentu saja aku akan datang. Sampai jumpa besok.

Profesor Han sakit.

Lima teman kami dan pasangan mereka

berkumpul di rumahnya setiap tahun.

Aku tahu.

Dia dokter yang membantumu di sekolah kedokteran.

Kondisinya mungkin akan memburuk,

karena itu mereka ingin mengunjunginya di rumah sakit besok.

Pasangan juga diundang,

jadi, kamu harus mengajak Ba Da.

Entah apa dia akan setuju.

Profesor itu memimpin pernikahan kami,

jadi, setidaknya aku akan bertanya.

Ba Da harus hadir.

Baiklah.

"Perekrutan untuk Program Sukarelawan Afrika"

"CEO, Ji Nam Chul"

Halo?

Halo?

Apa itu kamu, Eun San?

Eun San.

Jangan ditutup.

Kamu tidak menjawab teleponku, jadi, aku menelepon dari telepon umum.

Apa kamu kesulitan di rumah karena aku?

Tidak.

Tidak seperti itu.

Kamu baik-baik saja, bukan?

Mari kita bertemu sekarang.

Sekali lagi saja.

Aku akan menunggu di depan tempat berkemah kita.

Aku akan menunggu sampai kamu datang.

Aku tidak akan datang. Jangan menungguku.

Jangan pernah menelepon lagi.

- Kita bicara lagi lain kali. - Pak Ji.

"Jazz Club Lovers'

Jazz Club Lovers'

"Bisakah kita bertemu lagi?"

"Setelah malam ini berlalu"

"Di dalam hatiku"

"Kamu meninggalkanku dengan perpisahan"

"Kamu sudah pergi"

Kenapa kamu datang jauh-jauh kemari?

Aku datang karena frustrasi.

Mari kita selesaikan hari ini.

Menyelesaikan apa? Bagaimana kamu tahu rumahku?

Kamu pikir aku tidak bisa mencari tahu?

Ayah.

Hei. Kamu terlambat.

Ini pasti putramu.

Kamu harus pergi sekarang. Aku akan segera mengurus semuanya.

- Kamu kelas berapa? - Aku menyuruhmu pergi.

Ayo masuk.

- Tapi... - Siapa itu?

Bukan siapa-siapa.

- Apa dia penagih utang? - Bukan.

Masuklah.

Itu putramu, bukan? Benar.

Dia memang putramu.

- Berhenti minum! - Ini terlalu sulit.

Wajahmu merah.

Kamu perlu naik taksi?

Tidak.

Halo. Aku Ji Nam Chul.

- Apa? - Aku suami Ko Geum Ah.

Bisa kita bicara sebentar?

Tidak ada tempat untuk bicara di sekitar sini.

- Masuklah. Mari kita pergi. - Tidak.

Aku akan bicara singkat saja dan memberitahumu di sini.

Istriku...

Jangan temui dia lagi.

Kumohon.

Maafkan aku,

tapi aku tidak berhak melakukan itu.

Pilihan untuk menemuiku atau tidak

ada di tangan Geum Ah.

Jika kamu ingin memukulku, silakan saja.

Aku sudah tahu tentang kamu selama ini.

Aku juga tahu kamu dipaksa berpisah karena ayah mertuaku.

Tapi

kini dia sudah menikah dan berkeluarga.

Yang terpenting, dia ibu dari dua anakku.

Aku datang menemuimu demi anak-anakku.

Aku memintamu, sebagai sesama pria.

Aku yang akan menangani

tentang keputusan istriku.

Kumohon.

"Tidak ada penumpang"

"Geum Ah"

"Geum Ah"

- Geum Ah. - Pukul berapa kita bertemu?

Kurasa aku akan agak sibuk hari ini.

Apa ada masalah? Kita seharusnya pergi bersama hari ini.

Kita tidak bisa bepergian hari ini.

Aku ingin segera bertemu denganmu.

Lalu kapan kita harus bertemu? Besok?

Geum Ah, masalahnya...

Halo?

- Halo? - Ada apa dengan koneksinya?

Dae Geun. Teleponnya terus terputus.

- Haruskah aku meneleponmu lagi? - Tidak, Geum Ah.

Mari kita bicara nanti.

Aku tidak bisa mendengarmu.

Dae Geun!

Dae Geun!

Aku datang.

Kamu sudah datang.

Dia bilang akan ikut denganmu?

Kami selalu pergi ke pertemuan ini sebagai pasangan.

Kamu membeli banyak bahan makanan. Berikan tanda terimanya.

Tidak apa-apa. Itu hanya camilan untuk Mi Poong.

Kamu sudah mengeluarkan uang untuk ini dan sebelumnya juga.

Bagaimana penampilanku? Apa ini cocok denganku?

Ya, gaya rambutnya juga bagus. Kamu tampak sangat berbeda.

Kita bisa saja membeli es Americano.

Kita tidak perlu datang ke tempat sebagus ini.

Pesta perpisahan ini terlalu mewah.

Biji kopinya campuran, bukan?

Beri aku campuran pemanggang medium.

Biji kopinya campuran, bukan?

Beri aku campuran pemanggang medium.

- Buat espresso a ristretto. - Buat espresso a ristretto.

- Alih-alih krim kocok, - Alih-alih krim kocok,

- tambahkan busa kental di atasnya. - Tambahkan busa kental di atasnya.

Untuk siropnya, - Untuk siropnya,

- tambahkan satu tetes vanila, - tambahkan satu tetes vanila,

- dan tiga tetes hazelnut. - Dan tiga tetes hazelnut.

- Dan untuk taburan terakhir, - Dan untuk taburan terakhir,

- taburkan bubuk cokelat. - Taburan bubuk cokelat.

- Berapa kalori itu? - Berapa kalori itu?

Tidak apa-apa. Biar kucari sendiri. Terima kasih.

- Haruskah kita pesan yang ini? - Ya, ayo.

Sebentar.

Eun Kang.

Kamu datang untuk menemui seseorang?

Kenapa kamu memakai wig?

Aku mencobanya untuk melihat seperti apa jika rambutku kupotong.

Apa model rambut ini tidak cocok untukku?

Ya. Aku melihat foto temanmu di ponselmu.

Dia tampak seperti ini.

Kenapa kamu melakukan ini?

Apa maksudmu?

Apa hanya dia yang bisa menata rambutnya seperti ini?

Aku juga bisa memakai pakaian seperti ini.

Benar. Aku harus pergi ke suatu tempat.

Bukankah tidak nyaman karena kamu tidak punya mobil?

Pasti rasanya tidak nyaman karena dahulu kamu punya mobil.

"Lima puluh dolar"

"Rumah Sakit Seoul Chun"

Terima kasih untuk hari ini.

- Kalau begitu, aku akan pergi. - Biar kuantar.

Kamu tidak perlu berpura-pura.

Semua orang sudah pergi. Tidak akan ada yang melihat.

- Mari ke suatu tempat dan bicara. - Aku sibuk. Aku harus bekerja.

Aku datang hari ini

hanya karena dia membantu saat ibuku sakit.

Aku kemari bukan untuk menjadi pasanganmu.

Aku akan keluar setelah berganti pakaian.

Ini

sangat sulit.

Kurasa aku akan menggila karena membayangkan banyak hal.

Kamu memanfaatkanku, seperti Ba Da.

Kamu pasti melihatku sebagai pelayan.

Kamu bisa memanggilku kapan saja selama kamu memberiku uang.

Aku tidak mengira itu akan membuatmu kesal.

Aku hanya bersyukur kamu menghabiskan banyak uang.

Kamu tidak akan

bercerai, bukan?

Seolah-olah kamu menyangkal hubunganmu denganku.

Seolah-olah kamu menyesal menghabiskan malam denganku.

Saat Ba Da tahu dan pergi, kamu mengejarnya.

Kamu menerima surat cerai, tapi pergi ke pertemuan pasangan.

Kamu berdandan sangat rapi hari ini.

Pasti kamu ingin membuat seseorang terkesan.

Bahkan saat aku diam saja, dahulu kamu tahu perasaanku.

Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi sekarang.

Kamu tampak seperti orang lain.

Kamu tahu segalanya tentang aku?

Minum di sini sendirian,

aku merasa sangat tidak berharga.

Aku merasa sangat tidak penting dan menyedihkan.

Sulit melihatmu melakukan semua itu.

Kamu masih

memakai cincin itu.

Mungkin aku tampak tidak tegas.

Tolong mengerti bahwa sulit bagiku untuk memutuskan sekarang.

Aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah yang belum selesai.

Ada langkah yang diperlukan untuk berpisah dengan seseorang.

Seharusnya kami juga meluangkan lebih banyak waktu

untuk membicarakan Mi Poong,

tapi dia pergi begitu saja tanpa melakukan itu.

Aku sangat tidak menduga itu dan merasa bingung.

Setidaknya aku harus melakukan itu.

Setidaknya.

Kupikir hidupku akan menderita selamanya,

tapi saat bertemu denganmu,

rasanya seperti jutaan balon terbang ke langit.

Itu membuatku ingin mencoba lagi.

Tapi keinginanku tidak penting, bukan?

Perasaanku tidak penting, bukan?

Apa arti diriku bagimu?

Pelampiasan emosimu?

Cara untuk memenuhi hasratmu?

Atau mainan untuk dimainkan saat kamu bosan dengan pernikahan?

- Eun Kang. - Itu tidak penting.

Tidak penting seperti apa aku di masa lalu.

Penuhi kewajibanmu

kepadaku juga.

Aku sudah mengutarakan pemikiranku.

Kini giliranmu.

Lebih menyakitkan melihatmu memaksakan diri untuk mencoba.

Kenapa kamu melakukan ini, Eun Kang?

Kamu pikir aku tidak membayangkan masa depan bersamamu?

Sejak malam kita bersama,

tidak, aku akan jujur.

Sejak sebelum itu.

Jauh sebelum itu.

Mungkin jauh sebelum kamu menunjukkan perasaanmu,

aku kesulitan.

"Bagaimana rasanya saat memeluknya?"

Seperti apa rasanya hidup dengan wanita seperti itu?

Tentu saja, aku memikirkan itu.

Lalu kenapa?

Itu saja.

Aku tidak cukup baik.

Kenapa kamu bilang begitu?

Orang biasanya membicarakan seseorang di belakang,

tapi orang-orang mengatakan semua tepat di depanku untuk kudengar.

Mereka bahkan tidak memperlakukanku seperti manusia.

- Kamu harus berhenti minum. - Kamu pikir aku mabuk?

Aku belum pernah mabuk karena harus mengurus orang lain.

Aku berpura-pura mabuk sebelumnya.

Aku minum karena tidak bisa menghadapi ini dalam keadaan sadar.

Aku terus bertanya-tanya apa yang kalian lakukan

dalam perjalanan pasangan kalian.

Aku tidak tahan membayangkan itu. Itu sebabnya aku minum.

Eun Kang. Kumohon.

Kamu tahu bagaimana rasanya balon pecah saat ditiup?

Bagaimana rasanya saat itu pecah bahkan sebelum diterbangkan

dan diinjak oleh semua orang setelah jatuh ke tanah.

Aku dipermalukan.

Tidak ada yang bisa kulakukan.

Aku hanya hanyut di sungai

dan hampir tenggelam.

Aku merasa seperti akan mati.

Seolah-olah aku kehabisan napas dan mati.

Tidak bisakah kamu

meraih tanganku

dan mengangkat diriku dari air?

Aku tidak peduli jika kamu mencampakkanku lagi.

Aku sudah memutuskan.

Kini giliranmu memutuskan.

Aku bertanya kepada Ki Han di mana kantormu.

Aku akan pergi.

Aku ingin mengatakan sesuatu.

Kamu minum alkohol?

Aku minum cukup banyak untuk mengumpulkan keberanian.

Beri aku air.

Ini kali pertama

kamu mengambilkanku air.

Ada apa dengan kantor ini?

Lalu kukumu?

Aku tidak ingin belas kasihanmu.

Aku mematikan pemanasnya. Tempat ini dingin.

Ayo kita pergi.

Kami sudah tutup.

Baiklah... Silakan duduk.

Aku akan pergi nanti.

Terima kasih.

Kamu bilang kamu minum alkohol karena ingin mengatakan sesuatu.

Silakan katakan.

Tidak ada orang di sini.

Alasanku menerima semuanya tanpa mengatakan apa pun

saat semua orang melihat hari itu, tepat di tempat ini,

adalah karena aku sudah berbuat salah kepadamu.

Jadi, kamu tahu perbuatanmu salah?

Tapi sebagian juga salahmu.

Jika aku melakukan kesalahan,

itu karena aku memercayaimu.

- Lebih seperti meremehkanku. - Apa?

Masalahnya bukan kepercayaan. Kamu pikir aku tidak penting.

"Kamu pikir akan kehilangan suamiku karena wanita seperti dia?"

"Omong kosong."

Kamu mengatakan itu kepada temanmu. Ingat?

Apa menyenangkan mentertawakanku?

Itu lelucon yang bisa kukatakan tentang siapa pun, bukan hanya kamu.

Saat dia bilang aku ceroboh

dan menyuruhku tidak bersikap baik kepadaku,

kenapa kamu tidak bilang aku temanmu saat itu?

Kamu tidak pernah bilang aku temanmu.

Aku tidak pernah bilang kamu temanku

karena itu hanya akan memperpanjang percakapan.

Gadis suruhan yang bisa kamu panggil dengan mudah

untuk berbagai tugas dengan sedikit bayaran.

Artiku bagimu hanya sebatas itu.

Itukah alasanmu memperkenalkan pria seperti itu kepadaku?

Seorang duda dengan dua anak?

Kepada temanmu yang punya orang tua baik-baik,

kamu memperkenalkan seorang dokter.

Kamu bahkan tidak pernah meminta maaf. Kenapa?

Karena kamu bisa.

Aku tidak tahu tentang itu.

Lagi pula, kamu tidak bertemu dengannya.

Kamu memberiku cincin pertunangan saat kubilang akan menikah.

Kamu baik sekali.

Meski itu bukan dibuat untukku,

tapi untuk pernikahan orang lain yang dibatalkan.

Aku bahkan tidak sepadan dengan produk promosi 10 dolar di TV.

Kamu mabuk?

Aku membuat cincin itu dengan upayaku sendiri.

Itu milikku sebelum kujual.

Aku memberimu cincinku.

Kenapa kamu tidak menerima 10.000 dolar yang kuberikan kepadamu?

Itu bayaran karena menjadi pesuruhmu selama 20 tahun.

Bayaranku cukup rendah.

Kamu yang mulai membantuku sejak awal.

Aku selalu membayarmu untuk setiap tugas yang kamu lakukan.

Itu setara dengan gaji purnawaktu.

Itu harga

untuk menjaga kesombonganmu.

Bukankah uang yang kamu perlukan?

Aku memberimu yang kamu perlukan.

Inikah yang pantas kudapatkan karena melakukan itu?

Kuakui.

Aku tetap di sisimu karena hal-hal yang akan kudapatkan darimu.

Kamu memanfaatkanku setelah mengetahui kelemahanku itu.

Kamu memanggilku kapan pun kamu ingin,

bahkan untuk mengurus ibumu dan anakmu.

Kamu juga mengajakku dalam perjalanan bisnismu.

Kamu duduk di kelas bisnis, dan aku duduk di kelas ekonomi.

Kamu menyuruhku menganggapnya sebagai perjalanan.

Tapi aku yang mengurus kopermu.

Aku yang membawa barang-barangmu,

jadi, itu bukan perjalanan bagiku.

Aku alarmmu yang membangunkanmu setiap pagi,

seorang pemijat yang merawat lengan, dan kakimu,

dan juga pencicip makanan.

Aku berlutut di bawah kakimu dan melepas sepatu bot panjangmu,

membawakan pembalut wanita untukmu,

dan mengambil sumpit yang kamu jatuhkan.

Saat kamu mengatakan "kimchi", aku akan mengatakan,

"Permisi. Bisa minta kimchi lagi?"

"Bisa minta sumpit baru juga?"

Aku selalu berterima kasih setiap kali kamu membantuku.

Hanya dengan kata-kata.

Tapi matamu mengatakan,

"Untuk inilah kamu di sini." Tatapan matamu mengatakan itu.

Aku juga penasihat pernikahanmu.

Dari masalah dengan mertuamu sampai masalah percintaan.

Sejak kapan aku menginginkan hidupmu?

Saat aku diinjak-injak olehmu

dan diperlakukan lebih rendah daripada seorang teman.

Kamu menginjakku, dan aku menggeliat.

Percakapan ini tidak ada gunanya.

Aku belum selesai.

Kamu bertanya bagaimana aku bertahan di sisimu

dan apa kamu memotivasiku.

Tidak.

Akulah yang memotivasimu.

Saat kamu melakukan perjalanan keluarga,

kamu mengajakku sebagai pengasuh agar kamu bisa bersenang-senang.

Aku mengikutimu seharian, menggendong Mi Poong di punggungku.

Aku akan tidur

dengan Mi Poong di sana.

Dan kamu...

- Suara dari kamarmu... - Kamu gila.

Ada apa? Kamu merasa bersalah?

Kamu tidak merasakan apa pun saat melihatku di pagi hari?

Kamu gila.

Kamu ingin membahas ini sampai akhir?

Aku tidak buta atau tuli.

Kamu bahkan tidak memperlakukanku seperti manusia.

Biasanya, teman tidak nyaman dalam situasi itu.

Seorang teman akan cemas dan tidur dengannya,

membiarkan anaknya tidur dengan suaminya.

Apa kamu serius? Kamu yang bilang tidak apa-apa.

Berapa kali kamu menyuruhku dan suamimu berdua saja?

Kamu bahkan tidak pernah cemas.

Kesombonganmu yang membuatmu begini.

- Bukankah itu benar? - Cho Eun Kang.

Apa pun yang kamu katakan,

kamu pezina yang menggoda suami temanmu selama 20 tahun.

Aku menggoda suamimu, tapi dia yang bertindak.

Itu yang melukai harga dirimu.

Beraninya kamu!

Kamu tahu ada sesuatu di antara Cha Won dan aku.

- Aku tidak tahu itu. - Kamu tahu.

- Hei. - Cha Won adalah tipemu.

Kamu mendapatkan nomor teleponnya saat kali pertama melihatnya,

mulai memacarinya, dan menikahinya juga.

Kamu berbeda dibandingkan aku.

Kamu seharusnya bertanya setidaknya sekali jika kamu temanku.

"Apa dia orang yang kamu suka?"

Aku harus berdiri di sana

dan melihat orang yang aku suka menjadi milikmu.

Jadi, hanya kamu yang punya perasaan.

Ayah Mi Poong bahkan tidak ingat.

Dia berpura-pura tidak tahu.

Kamu masih tidak mengenal pria?

Biar kuberi tahu yang sebenarnya.

Bahkan jika tidak mendatangiku,

dia tidak akan mendatangimu.

- Mungkin kamu benar. - Perbuatanku juga tidak salah.

Tapi perbuatanmu salah.

Salahkan orang yang tepat.

Aku kemari bukan untuk menyalahkanmu.

Aku ingin mengatakan hal-hal yang tidak pernah bisa kukatakan,

bahkan jika aku harus mengonsumsi alkohol.

Kita berteman,

tapi kamu bisa mengatakan apa pun sementara aku perlu alkohol.

Ba Da.

Saat aku mengunjungi rumahmu saat kita masih kecil,

kamu bahkan punya mangkuk dan sendok sendiri.

Ibumu terus mengatakan "putriku".

Aku tidak pernah dipedulikan seperti itu.

Jadi, itu sangat menarik bagiku.

Kamu punya segalanya.

Sepatu dan tasmu mewah.

Rumahmu mewah. Orang tuamu terhormat.

Suamimu juga.

Aku ingin menjadi dirimu.

Jadi, aku memakai parfum dan jubahmu.

Aku tidak menggoda suamimu karena merasa sesak

setelah meniup semua balon itu.

Kurasa aku menginginkannya bukan karena dia Cha Won,

tapi karena dia suamimu.

Kamu mengobarkan keinginan dalam diriku.

Aku iri kepadamu selama 20 tahun.

Aku berjuang untuk menjadi seperti kamu.

Aku sangat ingin menjadi dirimu.

Jadi, aku memakai sepatu hak tinggi dan rok mini seperti kamu.

Aku memakai wig dan memesan kopi seperti kamu.

Jadi,

kamu ingin status sosialmu naik dengan menggoda suami temanmu?

Sadarlah.

Kamu tidak akan bisa menjadi diriku sekeras apa pun kamu mencoba.

Jangan sombong.

Tidak ada yang bisa kamu banggakan.

Kamu mendapatkan semuanya dari orang tuamu.

Kamu tahu bagaimana hidupku.

Aku berusaha keras untuk mencapai posisiku sekarang.

Aku tahu kamu berusaha.

Tapi aku tahu perbedaan di antara kamu dan aku.

Aku naik tangga

sementara kamu naik eskalator.

Kita mulai dari titik yang berbeda.

Larilah menaiki tangga.

Dan salahkan orang tuamu jika kamu ingin menyalahkan seseorang.

Aku tidak akan menyalahkan siapa pun.

Hanya saja...

Kamu dan aku lahir di keluarga yang berbeda.

Aku tidak pernah membencimu.

Aku hanya iri kepadamu.

Aku tidak menyalahkan orang tuaku.

Aku merasa kasihan kepada mereka sekarang.

Aku bisa merasakan sedikit duniamu berkat kamu.

Itu sangat manis.

Kudengar tempat paling menyakitkan

bukanlah neraka.

Tapi tempat dengan pemandangan surga terbaik.

Mereka menyebutnya deprivasi relatif.

Andai aku tidak pernah bertemu denganmu.

Andai saja.

Aku tidak mengambil lipstik yang jatuh di bawah mejaku,

maka aku tidak akan merasa kurang karena kita tidak akan bertemu.

Aku belajar cara menyerah begitu aku lahir.

Aku belajar cara menahan keinginanku.

Aku tidak ingin menahannya lagi.

Aku lelah.

Berhentilah mengeluh.

Kurasa aku sudah cukup mendengarkanmu.

Kamu menyuruhku mempertahankan tanda pezina

yang tidak akan hilang dengan detergen apa pun yang kupakai.

Aku tidak sanggup melakukan itu bahkan jika aku ingin.

Hancurkan aku

sesukamu.

Lakukan sesukamu.

Tapi karena sudah begini,

tidak bisakah aku menjadi dirimu dan hidup seperti kamu?

Apa maksudmu?

Kamu tahu maksudku.

"Red Balloon"

Kakakku menanggung semua perbuatan keluargamu kepadanya.

Mari kita akhiri ini. Lepaskan kakakku.

Kami berbeda dibandingkan kamu. Cinta kami tulus.

Apa Cho Eun Kang baik-baik saja?

Anggap saja itu salahmu karena salah memilih teman.

Kamu hamil?

Mari kita pergi bersama.

- Sekolahmu. - Aku tidak bisa membiarkan anakku.

Bersama perusak rumah tangga. Pergi dari sini!

Dia terus berjuang saat melarikan diri.

Dia tidak akan mati dengan mudah.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.