Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
dongdotmovie(.)my(.)id Bantu support @dongdotmovie untuk tidak mengubah link
SERIAL NETFLIX ORIGINAL ( Follow IG Kami @dongdotmovie )
Jurnal Kapal.
Sepuluh hari berlayar.
Sepuluh hari dan sudah tiga orang terbunuh
di kapal sialan ini.
Kami hanya bisa melanjutkan perjalanan.
Tapi jika aku tak sampai dengan selamat,
aku mau ada catatan tentang yang terjadi
agar tindakan yang tepat bisa diambil.
Semua berawal di hari keberangkatan.
Para penumpang yakin bahwa ini perjalanan terbaik dalam hidup mereka.
Mereka sangat salah.
RUTE BUENOS AIRES
- Kau gugup? - Sedikit.
Dan kau?
Sedikit juga.
Kurasa begitulah kalau perjalanan satu arah.
Lihat! Itu dia!
Hati-hati.
Tolong jangan berjalan.
- Aku tak apa. - Yakin?
- Aku bisa sendiri. - Permisi.
Tolong aku. Mereka akan membunuhku.
Apa?
Jika mereka temukan aku, mereka akan bunuh aku.
Kupanggil polisi.
Jangan. Aku harus naik ke kapal bagaimanapun juga.
Tak mungkin, tiket sudah lama terjual habis.
- Carol. - Nona, tolong masuk mobil.
- Siapa yang akan membelanya selain kita? - Eva!
Ada banyak penjaga. Kita tak bisa.
- Tolong, kumohon. - Jangan menangis.
Dia akan membunuhku.
Ada cara untuk menolongnya.
Aku tak mengerti Ibu.
- Anda gila. Gila. - Tolong diamlah Fransisca.
Dia dan obsesinya menolong orang.
- Kenapa Anda biarkan dia? - Tidak.
Fransisca benar, Eva. Suatu hari nanti kita bisa kena masalah besar.
Hari itu adalah hari ini.
Albatros
Selamat pagi. Ke mana tujuan Anda?
Rio de Janeiro.
- Ada yang ingin dilaporkan? - Maaf?
Tidak ada.
- Selamat jalan. - Terima kasih.
Terima kasih.
Detektif Varela.
Saya petugas keamanan kapal.
Mengapa kotak ini tak ditaruh dengan barang berat lainnya?
Mungkin kau tak tahu akan ada pernikahan di kapal.
Fernando Fábregas, pemilik perusahaan kapal.
Ya.
Tentu saya tahu.
Kakakku adalah tunangannya.
- Ya. - Maaf, Nona.
- Selamat atas pernikahannya. - Terima kasih.
Selamat jalan.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Kalau boleh saya bilang, ini hal tergila yang pernah Anda lakukan.
Aku tak tahu bagaimana melakukannya.
Brasil.
- Semua akan baik-baik saja. - Ya.
Ayo.
Ini luar biasa!
Selamat datang.
Selamat datang di Bárbara de Braganza, Nyonya.
Terima kasih.
- Semoga perjalanan Anda menyenangkan. - Anda mau segelas sampanye?
Ya. Aku membutuhkannya.
Keponakanku!
Paman Pedro. Kami senang Paman bisa datang.
Mana bisa kulewatkan pernikahan salah satu keponakan favoritku?
Kalian favoritku.
- Apa kabar, Paman? - Kalian sendiri?
Kami baik.
Masih belum terbiasa tanpanya.
Aku mau kue raspberi, Fransisca.
Perjalanan ini harus jadi perayaan
untuk hormati ayahmu.
Benar, Paman.
- Kita harus terus maju. - Tentu.
Itu yang ayah mau.
- Paman sudah punya kunci? - Ya dan akan beres-beres.
Kita bisa bertemu nanti, jika mau,
untuk lihat kapalnya berlayar.
Baik.
Tentu. Sampai jumpa di sana.
Pergilah. Segera.
- Kita akan ditangkap. - Apa yang Ibu bilang?
- Ibu tak mau dengarkan aku. - Tapi ibu masih mendengarmu.
Permisi.
Apakah Pak Fabregas bisa temui kami segera?
Tenang, Nona Villanueva. Saya akan sampaikan Anda di sini.
Eva.
Ada pria di sana, memerhatikan kita.
Ini dia. Kabin 130.
Salah satu kabin terbaik. Petugas akan bantu.
Jangan khawatir, Agustin. Biar kuurus.
Nicolas Vazquez, Perwira Pertama Barbara de Braganza.
Anda para gadis Villanueva.
Kau benar. Namaku Carolina.
- Ini adikku Eva. - Senang bertemu.
Senang Anda di sini.
- Kalian senang akan berlayar? - Ya.
Sampai tak bisa tidur.
Sampai beberapa hari ke depan. Ayo.
Pak Fernando minta saya untuk perhatikan kebutuhan Anda.
Mereka baru naik kapal.
Sebuah keajaiban bisa mengapung.
Tak ada hubungannya dengan Tuhan.
Ini keajaiban mesin. Panjangnya 312,7 meter.
Anda pernah lihat Menara Eiffel?
Bayangkan itu terbentang di laut.
Kecepatan maksimumnya 32 knot
berkat 200.000 tenaga kuda dari empat turbin turbo elektrik.
- Luar biasa. - 1650 penumpang.
1651.
Kabin kelas utama memiliki air panas, tentunya.
Seprai dan handuk kapas Mesir. Terbaik sedunia.
Kabin dan kamar mandi dibersihkan tiap pagi.
- Dan ini... - Petugas! Permisi.
Aku perlu ke kamar mandi.
Tentu, silakan.
Permisi.
- Silakan nikmati, dan selamat datang. - Terima kasih.
Permisi.
Saya ingin ingatkan
ada makan malam Kapten pukul 21.00.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Maaf.
Kau tak apa?
Ya.
Terima kasih.
Aku tak tahu bagaimana berterima kasih
atas pertolonganmu. Kau selamatkan hidupku.
Tak perlu berterima kasih.
Tapi tunanganku pemilik kapal. Aku harus beri tahu dia.
Jangan.
Mereka akan keluarkan aku dari kapal.
Mohon tunggu sampai kapalnya berlabuh.
Jangan biarkan mereka kembalikan aku ke pelabuhan.
Semakin lama ditunda, akan semakin buruk.
- Fransisca, sudahlah. - Eva!
Fransisca benar.
Paling tidak Anda masuk akal
Aku tak harusnya biarkan dia ikut.
Kau tak mau tahu apa yang terjadi?
Siapa namamu?
Namaku Luisa Castro Bermudez.
Bisa tunjukkan identitas?
Aku tak bawa, Nona.
- Aku hanya punya baju ini. - Tenang. Ini bukan interogasi.
Ini interogasi.
Kau lari dari siapa?
Jika kau tak percaya kami, kami takkan percaya padamu.
Aku kabur dari tunanganku.
Mereka menyuruhku menikahinya, tapi aku tak cinta.
Ini bukan jaman dahulu. Kau bisa menolak.
Sudah. Tapi dia mau membunuhku.
Katanya jika aku tak nikahi dia, aku tak boleh nikahi orang lain.
Jika dia menemukanku,
dia akan bunuh aku.
Kenapa tak telepon polisi?
Dia orang yang berkuasa.
Aku mau pergi jauh, dan hidup damai.
Kumohon. Jangan katakan apa pun
sebelum sampai. Aku takkan ganggu lagi.
- Ayah akan bantu dia. Aku yakin. - Jangan, Eva.
Jangan ungkit-ungkit ayah untuk membujukku.
Maaf, tapi semua harus sesuai prosedur.
Carol, tolonglah.
Jangan beri tahu Fernando.
Ya, silakan.
Sebentar.
Ya, sebentar!
Ya, terima kasih.
Kau sudah di sini.
- Waktunya tak tepat? - Tidak.
Aku mau bertemu denganmu.
Apa kabar? Kau suka kabinnya? Masuklah.
Kami hanya mau menyapamu, kami tak mau mengganggu.
- Aku tahu kau sibuk. - Kau tak pernah mengganggu.
Ada masalah?
Tidak.
Kau gugup tentang perjalanan? Tentang pernikahan?
Tidak.
- Aku mau beri tahu... - Halo.
Tengah malam, dek atas.
Dekat sekoci nomor enam.
Tengah malam.
Mereka bilang semua tamu sudah naik.
Semua kebutuhan akan dipenuhi.
Ini kabin mereka. Mungkin kau mau berkunjung.
Ya.
Sampai jumpa saat makan malam.
- Terima kasih. - Tentu, Sayang.
Apa yang kau mau beri tahu?
Tak ada.
Aku akan ke palka untuk pastikan semuanya aman.
- Kau butuh sesuatu? - Tidak. Semuanya baik.
- Yakin tak ada yang salah? - Ya. Apa yang bisa salah?
Pergilah, tak apa.
Sampai jumpa.
- Terima kasih. - Semoga aku takkan sesali ini.
Bagaimana?
Kami akan tunggu sampai berlayar untuk beri tahu.
- Agar mereka tak kirim kau kembali. - Terima kasih.
Berterima kasihlah pada adikku, sulit melawannya.
Terima kasih. Kau selamatkan hidupku.
Gadis ini tak bisa di sini lama-lama.
Dia akan tinggal di kabin kami.
Agar Anda tak tepergok dengan penumpang gelap.
Terima kasih, Fransisca.
Tunggu.
Bawa kunci cadangannya.
Kau harus sering kemari untuk bawakan barang.
- Selamat pagi. - Selamat pagi, Pak Fernando.
Apa kau yang simpan kotak tunanganku dan saudarinya?
Ya, Pak.
Ini dia.
Bagus, terima kasih.
Suruh orang bawa koper mereka ke kabin.
Ya, Pak.
Bersiap ke Brasil.
Bersiap ke Brasil.
- Kapten. - Kapten.
Bagaimana ramalan cuacanya?
Langit cerah di tiga hari pertama.
Dengan hembusan angin dari timur laut. Kekuatan empat.
Suhu terendah 70 derajat...
Burung albatros!
Tak biasanya ada di sini.
Pertanda buruk.
Jangan percaya takhayul.
Suruh orang bersihkan dan perbaiki retaknya.
Kita harus berlayar.
Ya, Kapten.
- Anda tak apa, Kapten? - Ya. Aku tak apa.
Kini, kita benar-benar akan pergi.
Kupikir saat ini takkan tiba.
Ini perjalanan hebat. Kita harus nikmati.
- Kuharap kau benar, Paman. - Tentu.
Kata orang akan tenang setelah badai.
Demi kue Fransisca
Paman yakin badai telah berlalu.
Siapa sangka?
Saat pertama bertemu dirimu,
kau pria lusuh yang berjalan di jalanan kotor.
Lihat dirimu sekarang.
Pria lusuh ini sangat berterima kasih pada Anda, Kapten.
Ayo berlayar.
Maju perlahan!
PELAN-PELAN
Maju perlahan!
Malam ini, tidak akan ada cahaya tumpah
Dari lampu di dekat laut
Malam ini, tidak akan ada cahaya tumpah
Karena tak ada minyak
Karena tak ada minyak
Karena tak ada minyak
Malam ini, tidak akan ada cahaya tumpah
Dari lampu di dekat laut
Kata orang kau pergi Ke La Gomera
Kata orang kau pergi Tapi kenapa kau tak mau ajak aku
Tapi kenapa kau tak mau ajak aku
Kata orang kau pergi Ke La Gomera
Kata orang kau pergi Ke La Gomera
Kata orang kau pergi Tapi kenapa kau tak mau ajak aku
Perawan La Candelaria
Yang tercantik
Yang tercantik
Dia letakkan kerudungnya
- Awal yang baik. - Diam, Verónica.
Tidak, Ibu. Aku takkan diam. Aku sudah diam satu jam.
Membawa penumpang gelap ini ide mereka, mereka yang harus urus dia.
Hanya ada dua kasur. Di mana kita akan tidur?
Mudah. Kau dan dia tidur di sini. Ibu tidur di sana.
Aku bisa tidur di mana pun. Aku tak mau menyusahkan.
Sudah terlambat, 'kan?
Aku mengerti, tapi kau tak tahu artinya memulai dari awal.
Ya, tapi tak semua akan mulai dari awal.
Beberapa punya kehidupan yang sama.
di sini, di Brasil dan di Tiongkok. Melayani majikan.
Itu pekerjaan mulia seperti yang lainnya.
Kalau kau angap ini mulia, lakukanlah.
Apa yang Ibu bilang? Jaga mulutmu.
Bantu Ibu bongkar barang.
Carolina!
Natalia! Kau mengagetkanku.
Mengapa kau tak bersama saudaraku?
Dia di ruang kapal, memastikan kapal tak tenggelam.
Kau harus terbiasa. Begitulah Fernando. Mementingkan pekerjaan.
Kau masih punya waktu kabur dan menghindar dari menikahinya.
Aku tak akan lakukan itu.
Jika Fernando sibuk, kau bisa ikut kami.
Kami akan minum martini di bar sebelum makan malam.
Terima kasih undangannya.
Tapi aku masih harus bersiap untuk makan malam.
Terserah.
Kau tahu kami di mana kalau mau ikut.
Paman boleh kupotret?
- Potret? - Ya.
- Di sini? - Sempurna.
Ada yang salah, Eva?
Maafkan aku, Paman.
Dengar, kakakmu bisa lakukan yang dia mau dengan hidupnya.
Benar, setelah ayahmu meninggal, Paman ingin
dia pimpin perusahaan bersamaku.
Paman bisa lakukan sendiri.
Tak masuk akal tanpa ayah dan kakakmu.
Aku senang sudah jual perusahaan.
- Aku mengerti keputusan kakakmu. - Sebenarnya aku tidak.
Katakan itu lagi setelah kau jatuh cinta.
Jika aku akan jatuh cinta, aku tak akan menyerah.
Giliran Paman memotretmu. Senyum.
Lebih besar. Senyum. Bagus. Senyum.
Bagus.
Kakakmu tak menyerahkan apa pun.
Dia hanya mengubah bisnisnya.
Bukan sepatu,
tapi kelihatannya bisnis yang baik.
Mungkin ini yang terbaik. Siapa tahu?
Carolina gadis pintar.
Dia tak sepertimu, tapi...
Sekarang Paman mau bersiap-siap
untuk makan malam kapten.
Silakan.
Dimas, ayolah. Kau tak lihat ada yang datang?
Maaf.
- Terima kasih. - Permisi.
Apa kita saling kenal?
Kurasa tak mungkin.
Ya. Kau benar. Pasti aku akan ingat.
Aku Sebastián de la Cuesta. Dengan siapakah aku berbicara?
- Verónica. Verónica de García. - Verónica. Kau suka namamu?
Nama yang indah.
Bahasa Yunani, artinya "wanita pemenang". Berenike. "Wanita pemenang."
Itukah dirimu?
- Bukan. - Pertama kali naik kapal?
Ayo naik ke dek.
Indah melihat daratan bergerak menjauh.
Sebuah tontonan. Kau harus lihat.
Sebenarnya, kitalah yang bergerak.
Daratan tidak pergi.
Daratan pergi ke mana pun yang kau mau.
Kau benar. Aku begini karena coba buat gadis pintar terkesan.
Selamat malam.
Sampai jumpa lagi.
Aku tak ingin dia pergi tapi senang melihatnya pergi.
Kau tak mulai menulis sekarang, 'kan?
Tidak.
Jangan terlalu dipikirkan. Novelmu akan selesai saat tiba di Rio.
Kuharap begitu.
Aku belum bisa menulis apa pun sejak Ayah meninggal.
- Bisa bukakan pintunya? - Ya.
Selamat malam, Eva.
Kurasa kau tak perlu datang makan malam.
- Kenapa? - Gadis lain akan iri padamu
dan mereka tak mau naik kapalku lagi.
Kau berlebihan.
Apa kabar, Verónica? Kukira ibumu akan di sini.
Ibu saya ada urusan.
Baiklah.
Kau butuh satu hal lagi.
Lencana insinyur.
Milik ayah kami.
Aku tahu dia pasti ingin kau memakainya.
Sebuah kehormatan. Terima kasih.
Mari pergi.
Verónica.
- Kurasa ibumu butuh bantuanmu. - Ya, saya rapikan ini dulu.
Tuan Zalacain.
Malaikat jatuh dari surga! Kau yakin ini mejaku, Alfonso?
Maaf. Aku hanya ingin periksa ulang keberuntunganku.
Yang bilang kapten dapat meja terbaik pasti salah.
Tak kukira saat ini akan tiba.
Aku senang kau di sini setelah semua masalah itu.
Masa yang sulit, tapi orang mulai pulih setelah perang.
Kapal ini buktinya. Kau tak bisa bayangkan awalnya.
- Hanya rongsokan. - Tuan Fábregas.
Senang berjumpa.
Permisi.
Tengah malam. Jangan lupa.
Senang membantu. Terima kasih.
Keponakanku tersayang, berjalanlah di sampingku.
Mendekatlah agar kalian bisa memamerkan Paman.
Dokter!
- Senang berjumpa denganmu, - Tak yakin apa adikmu setuju.
Selama kau tak memegang jarum, aku takkan lari.
Aku masih ingat saat dia di bawah kasur, menangis.
Senang dokter bisa datang.
Aku lega kau menjaga semua penumpang.
Kuharap aku tak diperlukan.
Karena itu berarti semua sehat.
Maaf. Salah kabin.
Pantas aku tak bisa buka pintu.
Verónica harusnya sudah di sini. Ke mana gadis itu?
Sebelum kita makan,
saya ingin bersulang untuk orang yang jadi teladan saya bertahun-tahun.
Dia bisa jadi ayah mertua terbaik,
tapi dia meninggal beberapa bulan lalu.
Carlos Villanueva, ayah tunangan saya.
Orang yang berkomitmen menjaga, di masa sulit peradaban kita,
nilai-nilai seperti kesetiaan,
cinta keluarga,
kehormatan dan kebebasan.
Dan karena kami akan mulai hidup baru di Brasil
ketiadaannya terasa lebih berat.
Untukmu, Carlos.
Agar di mana pun kau berada, kau memimpin langkah kami
dan kami bisa hidup dalam keadilan dan damai.
Untuk Carlos!
Untuk Carlos!
Tak ada yang mengerti penderitaanku.
Aku bernyanyi karena tak bisa menangis lagi.
Carolina.
Menikah adalah keputusan terburu-buru. Aku siapkan kapal, agar kita bisa lari.
Aku masih punya waktu untuk pikirkan.
Masih ada beberapa malam juga.
- Gunakan perjalanan ini untuk cari istri. - Kau pikir aku tak melakukannya?
Sebenarnya jika kau tak cepat, aku akan nikah duluan.
Maaf, aku bicarakan Eva, Pasti kau tak sibuk malam ini.
Kalau bukan karena reputasimu, akan kuterima.
- Tapi aku tak naif. - Sayang sekali.
Kalau kau dekati dia, kulempar kau ke kapalmu dan kuhanyutkan ke laut.
- Mau berdansa? - Tentu.
Saat-saat aku menangis
Karena kehilangan cintamu
Kucari kau ke mana pun kupergi
Tapi kau tak bisa kutemukan
Untuk apa kucium orang lain?
Kalau bibirmu tak ingin menciumku lagi
Dan kau
Entah kau di mana
Entah petualangan apa Yang kau akan hadapi
Kau sangat jauh dariku
Dariku
Kita orang paling membosankan di kapal ini.
Kau ingin ke bawah sana, 'kan?
Aku ingin bersama Clara.
Kalau buka jendela, mungkin bisa dengar dia nyanyi.
Harusnya tak kukatakan pertanda buruk tadi.
Kapten tak suka.
Dia terlihat khawatir.
Tak usah cemas. Dia tak akan menyalahkanmu.
Ini perjalanan pertamanya setelah sekian lama. Wajar dia cemas.
Dia hanya sedih.
Dia rindu istrinya.
Tak ada yang bisa kita lakukan.
Semoga perjalanan ini bantu dia mengatasinya.
Bagaimana malam pertamamu di kapal?
Baik.
Boleh tahu sedang apa kau di sini? Sudah malam dan kau sendirian.
- Aku cari Bintang Utara. - Takkan ditemukan di sana.
Kau harus lihat ke sini.
Di sana.
Salah satu dari itu.
Jujur, aku tak pernah lihat bintang sebanyak itu.
Belum? Kupastikan akan ada di sana besok dan lusa.
Bagaimana kalau minum sampanye? Pasti itu pertama kalimu juga.
- Tidak. - Tidak?
Maksudku, ya. Pertama kalinya bagiku. Tapi aku ingin di sini saja.
Tentu, aku juga.
Siapa yang mau di sana dengan orang kaku dan membosankan?
- Dan kau tak seperti mereka? - Tidak.
Aku pengecualian.
Biar kutunjukkan padamu.
Awas tanganmu terbakar di pipa.
Aku ingin sekali, tapi ibuku sedang sakit. Dia di kabin.
Apa kau tinggalkan ibumu sendiri?
Pergilah.
Aku tak anggap kau menolak. Kita minum sampanye lain waktu.
Tentu.
Fernando.
- Aku harus katakan sesuatu. - Jamku mati.
- Apa? - Jamku. Jam berapa sekarang?
Aku tak tahu.
- Sepertinya tengah malam. Kenapa? - Tak apa.
Aku menanti telegram dari Rio, penting.
Tak bisa menunggu?
Hanya sebentar saja.
- Sampai jumpa nanti, ya? - Baiklah.
Aku naik ke kabin untuk ganti sepatu.
Kutunggu kau di sana.
Kapten, kita baru dapat laporan cuaca terbaru. Tak ada perubahan.
Aku akan naik ke anjungan.
- Tak perlu. Saya hanya beri kabar. - Ini perintah. Ambil alih tempatku.
Minumlah, nikmati pestanya.
Kapten, Anda tak apa?
Ya. Hanya saja, sejak Carmen meninggal, aku tak lagi menikmati ini.
Kau pasti sangat mengerti soal itu.
Jangan cemas.
Siboney
Aku mencintaimu
Sangat kuinginkan cintamu
Siboney
- Kau menunggu seseorang? - Kenapa bertanya?
Karena kau sendirian, hanya menonton. Seperti tak kenal siapa pun.
Jujur, saya tak tahan situasi begini.
- Maka saya coba tak halangi. - Kalau begitu jangan berdansa.
Saya mau kalau dengan Anda.
Bahwa aku mencintaimu
Dan bahwa kau
Harta bagiku
Siboney
Aku memikirkanmu Dengan senandung tidur tanganmu
Apa menurutmu kau sudah cukup minum?
Tentu belum. Aku masih bisa dengar kau bicara.
Pergilah tidur saja sebelum kau permalukan diri.
Dengarkan suaraku
Itu yang kau mau, 'kan?
Siboney
Jika kau tak datang
Apa?
Pikirmu aku tak tahu kau mengamatinya?
Siboney
Kau di mimpiku
Aku mendambakanmu Tak sabar kutunggu kau di caney-ku
Siboney
Jika kau tak datang
Aku akan mati karena cinta
Kau tak apa?
- Sedikit mual. - Benarkah?
Bagaimana bisa?
Ayo keluar cari udara segar.
Dua hari pertama memang sulit.
Sampai badan kita terbiasa goyangan ombak.
Kukutuk
Kau harus mengalaminya.
Setahun lalu, jika ada yang berkata
bahwa kita akan ada di sini, tanpa beban, menuju Brasil.
Tanpa beban? Aku bukan tanpa beban.
Mengapa tak kau coba?
Cobalah. Kau akan merasa lebih baik.
Yang terburuk telah usai.
- Dan waktu akan pulihkan semua. - Akan butuh banyak waktu.
Aku tak akan bernapas lega sampai kita tiba di Brasil.
Aku mau berdansa.
Sedang apa kau di sini?
Sudah lebih baik, Nona?
Kita sudah berdansa, kau boleh berhenti pakai bahasa formal.
Tentu, terserah maumu.
Aku terkejut dengan kegelapan di sini.
Kau akan menyukainya.
Berapa lama kau sudah berlayar?
Hampir 10 tahun. Sebenarnya aku tak ingin jadi pelaut.
Waktu aku usia 15, aku mencuri jam atau apa saja di pelabuhan.
- Benarkah? - Ya?
Aku tak bangga tapi tak malu juga.
Keluarga kami ada enam orang dan miskin.
- Aku curi ini dari kapten. - Kapten kapal ini?
Ya. Dia suruh aku memilih.
Antara dibawa ke kantor polisi atau masuk akademi kelautan.
Aku melihat kesempatan dan mengambilnya.
Dan kau sendiri?
Kakakmu akan menikah dan pindah ke Brasil.
Kau dapat apa di sana?
Seorang pria.
Wah!
Sudah kuduga kau punya seseorang.
Bukan seperti yang kau pikirkan.
Pria yang ingin kutemui adalah penerbit buku.
Aku penulis dan dia tertarik dengan karyaku.
Obrolan ini makin menarik.
Novelmu tentang apa?
Kesempatan kedua.
Kau di tempat yang tepat. Itulah yang dicari semua orang di sini.
Kau punya karya lain?
Ya...
Buku kumpulan cerita singkat. Aku menulisnya dahulu,
dan tak mau kuingat.
Ada wanita jatuh ke laut!
Komando anjungan.
Orang jatuh ke laut. Sisi kiri kapal.
Orang jatuh ke laut di sisi kiri.
Perhatikan mesin!
Catat posisi kita. 60 derajat ke kiri.
60 derajat ke kiri, Pak!
Sekarang putar penuh ke kanan dan kembali ke posisi.
Aku mau semua siap di pos, meski kalau harus diseret dari kasur.
- Baik, Pak. - Hentikan mesin.
Hati-hati! Perlahan!
Pelan.
Siapa yang melihatnya jatuh?
Ikut saya.
- Anda yakin? - Ya, aku yakin.
- Lampu kapal bisa buat bayangan. - Aku yakin, Kapten.
Seorang wanita. Aku dengar teriakannya sebelum jatuh.
Saya dengar juga tapi tak lihat. Saya hadap belakang.
- Aku baru dengar. Sudah tahu siapa? - Kami belum tahu.
- Aku bersedia bantu. - Suruh penumpang ke ruang makan.
- Awak butuh tenang untuk tangani ini. - Tentu.
Tolong dengar!
Kembalilah ke ruang makan. Kami butuh kerja sama Anda semua.
Masuklah kembali dengan teratur.
Terima kasih.
Buat kopi dan teh untuk semua.
Kau lihat saudariku?
Dia naik ke atas untuk ganti sepatu. Dia belum kembali?
Belum. Aku harus mencarinya.
Aku mencari saudariku. Dia pergi ke kabin.
- Kau melihatnya? - Dia menuju ke area kelas tiga.
- Ada apa? - Ada wanita jatuh ke laut.
Astaga! Kau di sini!
Kau gemetar!
Apa yang terjadi? Kapal berhenti.
Ada wanita jatuh ke laut, kupikir kau.
Aku tak apa. Tapi ada yang terjadi.
Ada apa?
Luisa memukul saya dan pergi. Hati-hati.
Dia ambil kunci kabin Anda, Nona.
Wanita itu jatuh dari sekitar kabin kita.
Tak mungkin.
Carol, kita harus beri tahu yang terjadi.
- Biar kujelaskan. - Tidak, Carolina. Kau ceroboh.
Masuklah.
Semuanya berantakan. Apa yang dia cari?
Pastikan barang berharga tak hilang. Tak terbayang ini bisa terjadi.
Tunangannya bilang akan membunuhnya jika tak mau menikah dengannya.
Membunuhnya? Paman tak mengerti mengapa kau tak bilang.
Dia dalam bahaya, bukankah kau harus beri tahu orang?
Kami menunggu kapal menjauh dari daratan.
Dia datang untuk mencuri.
Semua yang dia katakan tentang pria itu adalah bohong.
Dia tak bohong. Aku yakin itu.
Kau tak mengenalnya. Bagaimana bisa yakin?
Ada pertengkaran di sini. Dia tak sendiri. Tidakkah kau lihat?
Luisa tak terjatuh, dia didorong.
- Eva. - Nona.
Dengan hormat, kami belum tahu siapa wanita yang jatuh.
Varela benar. Kita tak bisa berteori absurd.
- Absurd. - Ya, se-absurd membantu penumpang gelap.
Tentu. Itulah dia. Hanya penumpang gelap.
Siapa yang peduli dengannya?
Dia bukan siapa-siapa, 'kan?
Rapikan tempat ini.
Cukup untuk hari ini.
Ada kabar, Pak?
Pak?
Anda baik-baik saja?
Itu bukan kecelakaan.
Apa maksud Anda?
Wanita itu tak terjatuh ke laut.
Pak.
Berapa kali aku harus suruh kau perbaiki kaca ini?
- Aku tak lihat ada yang hilang. - Aku juga.
Berarti dia tak datang untuk mencuri.
Jelas dia berbohong tentang tunangannya.
Aku tak tahu apa maunya.
Ada sesuatu yang belum saya katakan.
Seorang pria berusaha masuk saat Anda makan malam.
Apa? Seperti apa dia?
Entahlah. Saya tak sempat lihat.
Apa itu normal juga?
Kita duduk berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa?
Kau mau kita lakukan apa?
Aku tahu Luisa jatuh ke laut dan seseorang mendorongnya.
Tak ada yang peduli, tapi aku peduli. Aku akan cari tahu yang terjadi.
Dia jatuh dari tempat ini.
Maaf.
Ini semua salahku.
Harusnya kau tak bawa dia ke kapal.
Tapi kau sudah tahu.
Dia di dalam koper, 'kan?
Gadis itu.
Bagaimana kau tahu?
Kalau aku juga bakal begitu.
Cobalah pergi tidur.
Terjemahan subtitel oleh Anggelia Greatya
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.