Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL ORIGINAL NETFLIX
[BAHASA ARAB] [Cobalah duduk.]
[Begitu. Allah akan membantumu.]
[Lebih baik?]
[Baik.]
[Kapan kita melakukan serangan bom?]
[- Serangan bom?] [ -Tentu.]
[Dalam beberapa pekan... Saat sudah temukan relawan.]
[Dengarkan. Para Yahudi mendatangi rumah ibuku]
[dan membunuh adikku di pernikahannya.]
[Lakukan serangan besok.]
[Tapi kukirim siapa?]
[Cari seseorang,]
[jika tak bisa, kucari orang yang bisa cari seseorang.]
[Baik.]
[Begini, ada seorang gadis, tapi menurutku itu bukan ide bagus.]
[Siapa dia?]
[Amal.]
[Jandanya Bashir.]
[Dia ingin menjadi syahid,]
[tapi dia keluarga.]
[Dia bukan keluarga.]
[Dia seharusnya menjadi keluarga.]
[Siapkan dia untuk serangan bom hari ini, Walid, bukan besok.]
[Pastikan dia tetap hidup dan tidak mati syahid.]
[Beri dia alat peledak yang bisa ditaruh di tasnya]
[dan lari dari TKP.]
[Aku punya ide lokasi serangan.]
[Lihat.]
[- Apa ini?] [- Kutemukan di rumah ibumu.]
[Salah satu Yahudi menjatuhkannya.]
[Kucari tahu logo itu, ini yang kutemukan.]
[Kirim dia ke sana.]
Hei.
Aku... Maaf tentang...
- Tak apa. - Aku tak...
Itu saudara bodohmu.
- Dia dengan siapa? - Entah.
- Hai. - Hei.
- Aku Gali. - Daria.
Aku Boaz, salam kenal.
Hai, aku Doron.
- Apa kabar? - Apa kabar?
- Jadi? - Aku akan ke kebun anggur.
- Dah. - Kau hendak ke mana?
- Mau minum teh? - Mau teh? Teh.
Kopi?
Tidak, tadi sudah di kemah dekat kebun anggur.
- Kebun anggur? Doron akan bunuh kau. - Jangan beri tahu.
Mau aku merahasiakan dari suamiku?
Bisa kuambilkan sesuatu?
- Tak usah. - Kau buat anggur di sini, bukan?
Ya, tapi baru akan enak sekitar penghujung 2020.
Jadi, tak ada apa-apa?
Mau?
Berikan padaku.
Kau tak tahu dia tak merokok?
Aku tahu.
Dia khawatir diusir jika ketahuan merokok
dan jika ketahuan berbohong, mereka pun akan mengusirnya.
Ini.
Kau terganggu aku merokok?
- Berikan. - Boaz, kau sedang apa?
Astaga...
Sayang...
Dia sebodoh ini saat kecil?
Tahukah kau dia ikut... grup teater komunitas?
Hei!
- Benarkah? - Tidak.
Kau tak tahu sandiwara buruk yang harus kutonton saat itu.
Baik, hei... Tak apa.
Ayo, aku ada ide.
RUMAH SAKIT RAFIDIA, NABLUS
Kami diberi tahu Abu Ahmed berada di RS Rafidia.
Salah satu dokter IGD merawat dia.
Ke sana sendiri, sementara Naor bantu kau dari luar.
[Aku pergi hari ini, benar?]
[- Sudah atur semua?] [- Ya.]
[- Ada satu masalah.] [- Apa?]
[- Dr. Abu Sharif.] [- Kenapa?]
[Dia khawatir nyawamu terancam jika kau pergi.]
[Dia sok tahu, dia tahu apa?]
[Cari orang lain.]
[Aku ingin keluar hari ini, jelas?]
[Baik.]
[Walid?]
[Walid?]
[- Shirin.] [- Walid, itu kau!]
[Apa kabar, Nak?]
[Baik. Kapan kau kembali dari Prancis?]
[- Belum lama.] [- Kau sedang apa?]
[Aku sedang apa? Aku bekerja di sini.]
[Kau sedang apa? Orang rumah sehat?]
[Ya, sehat. Aku hanya periksa diri.]
[Periksa? Baik.]
[Kau sudah besar.]
[Aku hampir tak mengenalmu.]
[Ada kabar apa lagi? Kenapa tak mampir?]
[Aku akan mampir, janji.]
[Mampirlah. Ibuku sangat merindukanmu.]
[Aku juga.]
[Kirim salamku untuk ibumu.]
[Kirim salamku untuk bibi Suha. Bilang aku pun rindu dia.]
[Baik.]
[- Shirin?] [- Ya?]
[- Aku perlu bantuanmu.] [- Apa?]
[Aku mengawasi Abu Ahmad, sang Panter.]
[Dia di sini.]
[- Tapi dia sudah mati.] [- Dia masih hidup.]
[- Dia hidup dan di rumah sakit ini?] [- Ya, tapi dia terluka.]
[Bantu aku mengeluarkannya sebelum mereka membunuh dia.]
[- Kau bekerja dengannya?] [- Ya, tapi bukan soal itu.]
[Ini soal keluarkan dia diam-diam. Kondisinya buruk.]
[Dia satu lantai di atas ruang bersalin.]
[Karena itu dr. Abu Sharif sering ke sana?]
[Ya.]
[Jika ada Abu Sharif, kenapa perlu aku?]
[Dia harus keluar sekarang, tapi Abu Sharif tak paham.]
[- Katanya itu berbahaya.] [- Aku percaya itu.]
[Tapi lebih berbahaya membiarkan dia di sini.]
[Ayolah, bantu keluarkan dia.]
[Sudahlah, Nak.]
[- Kenapa?] [- Aku tak bisa.]
[Shirin...]
[Jika Yahudi bunuh dia, aku yang bertanggung jawab.]
[Kumohon!]
[- Bagaimana anak-anak?] [- Baik.]
[Alhamdulillah.]
[Kuambilkan sesuatu agar tekanan darahmu turun.]
[- Kuperiksa sejam lagi.] [- Baik.]
[- Ya?] [- Baik.]
[Aku dipanggil mendadak ke ruang bersalin.]
[- Bisa kau urus sendiri?] [- Ya.]
[- Halo.] [- Hai.]
[Ada apa?]
[Kucoba perbaiki jendela dan terjatuh.]
[- Baik, siapa namamu?] [- Amir, Amir Mahajne.]
[- Berapa usiamu?] [- Usiaku 38 tahun.]
[Tarik napas yang dalam.]
[Lihat kemari.]
[Penanya, bukan aku.]
[Maaf.]
[Merasa pusing?]
[- Penglihatanmu kabur?] [- Pening.]
[Mungkin gegar otak.]
[Kau akan menginap malam ini untuk observasi.]
[Setelah perawat bersihkan lukamu, kau akan dipindai.]
Bukan dia, ada info baru.
Cari dr. Abu Sharif, dari penyakit dalam.
Kami kirim kau fotonya.
Baik.
[Terima kasih, Dr. Shirin.]
[Sama-sama, Amir.]
[Abu Sharif sedang apa seharian di bangsal bersalin?]
Bicaralah.
- Ayah. - Ya, Nak.
[Pasiennya di sini, aku di dekat dia.]
- Kau yakin? [- Ya. Harus kukirim salam?]
Tidak, tunggu.
[Kenapa tidak? Hanya sebentar.]
Jangan sentuh dia, dengar? Awasi dia dan tunggu saudaramu.
[Ayah tak percaya aku?]
Jelas percaya, tapi jangan gegabah.
- Kau di mana? [- Di bangsal bersalin.]
- Di mana? [- Bangsal bersalin.]
- Dia di sana? [- Ya.]
Kusuruh saudaramu ke sana. Jangan bergerak.
Doron, bersumpahlah kau tetap diam.
Siapkan Steve masuk rumah sakit dalam 30 detik.
Kirim drone, satu di atas rumah sakit dan satu di atas persimpangan Tapuah.
[Sialan, dia lolos!]
[Ayah, pasiennya hilang.]
- Pakai kendaraan apa? [- Ambulans.]
- Ada ambulans. - Suruh Steve kejar mereka segera!
Dia bergerak. Jemput dia di pintu masuk!
Siagakan semua pos pemeriksaan di timur RS
untuk cegah dia dan lepaskan tembakan jika perlu.
Kirim helikopter!
Segera, di atas rumah sakit.
[- Aku menangkapmu.] [- Apa?]
[Aku tak izinkan kau pulang.]
[Ya, tapi aku sudah pulih.]
[Jika merasa pusing, aku akan kembali agar kau merawatku.]
[Entah jika aku mau terima, aku tak merawat pasien tak penurut.]
[- Selamat tinggal.] [- Selamat tinggal.]
Dia menuju timur, lewat Al-Quds.
Ambulans itu berjalan pelan, masih di Al-Quds.
Kau akan segera menyusul dia.
Tepat setelah belokan ini.
Itu dia.
Dekati dia, injak gas!
- Kenapa tak kau hentikan dia? - Moreno, tenang.
Kita membuntuti mereka, biarkan aku bekerja.
Steve, kau melewati dia, hadang dia, dan kita bawa pergi Abu Ahmad dari sana.
Kukerjakan.
Jika dia lewati kita, tembak bannya.
- Dekati dia! - Sudah.
Lewati dia. Bersiap untuk tindakan.
[Matikan mesin.]
[Tangan di atas!]
[Ayo, keluar!]
[Keluar!]
[Di mana Abu Ahmad? Mana dia?]
[Mana Abu Ahmad?]
[- Kau akan ke mana?] [- Pos pemeriksaan.]
[- Di mana Abu Ahmad?] [- Siapa dia?]
[- Mana Abu Ahmad?] [- Aku tak tahu!]
[- Di mana Abu Ahmad?] [- Aku tak tahu!]
Ayo, Steve.
[Halo, Amal.]
[Masuklah.]
[Ini Khaled. Khaled, ini Amal.]
[Kami sebut dia Yahudi,]
[karena orang yakin dia Yahudi.]
[Kuantar kau ke pos pemeriksaan dan kau lanjutkan dengan Khaled.]
[- Kau tak apa?] [- Ya, aku tak apa.]
[Kau akan membawa tas ini.]
[Lihat.]
[Dua kabel ini terhubung ke sakelar ini.]
[Hati-hati, tombol ini sangat sensitif.]
[Jangan buka penutupnya sampai kau siap tekan tombol.]
[Paham?]
[Kutunjukkan cara membawa tasnya.]
[Taruh di bahumu.]
[Masukkan tanganmu.]
[Kau merasakannya?]
[Itu sakelarnya.]
[Ingat baik-baik letaknya agar tak perlu dilihat saat dipegang.]
[Begitu ditekan,]
[waktumu tiga menit hingga bom meledak.]
[Letakkan.]
[Kau pahlawan nasional karena melakukan ini.]
[Pahlawan nasional?]
[Aku ingin menikah dan punya anak.]
[Jangan cemas, kau akan begitu.]
[Baik, ayo.]
Siapa mereka?
Para pelayat di tenda berkabung Bashir Hammed.
- Aku kenal orang ini. - Dari pernikahan?
Bukan, bukan dari sana.
Itu Walid Al-Abed, dia salah satu suruhan Abu Ahmed.
Nurit, perbesar.
Dia bicara ke dokterku di rumah sakit.
- Tentang apa? - Aku tak dengar percakapan mereka.
Nurit, cari tahu apa pun tentang dokter ini.
Shirin Al Abed, 32 tahun.
Ibunya dari Nablus, ayahnya dari Paris,
dia sepupu Walid Al-Abed.
Dia selalu bolak-balik Ramallah-Paris,
sedikit beraksen Prancis saat berbahasa Arab.
Belajar kedokteran di An-Najah, sekolah di Ecole Medicine,
relawan di "Doctors Without Borders" di Beirut pada 2006.
Dia janda. Menikah usia 23 tahun dengan ahli kimia pengidap sklerosis
yang meninggal empat tahun kemudian.
Kalau perjodohan? Dia seperti Wonder Woman Arab.
Semua coba jodohkan, tapi dia tak tertarik.
Dia sibuk bekerja di IGD
di RS Rafidia di Nablus.
Mereka sangat senang padanya.
Daripada mengikuti dia, pindahkan dia ke RS Hadassah.
- Bisa disadap? - iPhone dia dari luar negeri.
Perlu koneksi ke perangkatnya.
Mari ke rumah sakit dan sambungkan.
Dia selalu bawa ponsel.
Mari cari saat dia tinggalkan ponselnya.
- Aku tahu. - Kapan?
Dia lari 50 putaran sehari di kolam renang umum di Ramallah.
- Besok buka untuk wanita. - Kita kirim Boaz.
Boaz? Caranya? Memakai Burqini?
Punya dia begitu kecil sampai dilarang masuk walau khusus pria.
- Aku saja. - Yang benar saja.
Kenapa tidak?
Tak ada mata-mata wanita.
- Biar Nurit pelopornya. - Doron, jangan ikut campur.
Itu khusus wanita, memakai baju renang,
takkan sulit baginya. Apa masalahnya?
- Ayo lakukan. - Bagus, terima kasih.
Hei, aku tak mengiakan, lupakan saja.
[Nurit, tersenyumlah. Bukankah ini keinginanmu?]
[Nur, lompat saja ke dalam air.]
Sekarang!
Dia bawa ponselnya saat mandi,
menaruh semua di tasnya!
[Kita bicara lagi nanti, ya?]
Tak ada masalah, tenang.
[- Selamat pagi.] [- Selamat pagi.]
Bagus.
Nurit, tak apa-apa. Tenanglah.
Berjalanlah keluar pelan-pelan.
[Nur, bagaimana? Kau pecahkan rekor dunia?]
[Ke belakangku.]
[Dokter? Kau mengenaliku? Hai.]
[Halo.]
[Maaf, pasienku 50 orang sehari.]
[Tentu saja. Aku Amir, Amir Mahajne.]
[- Senang bertemu, Dokter.] [- Shirin. Aku juga.]
[Aku pun senang bertemu.]
[Kau dari rumah sakit dengan gegar otak, bukan?]
[Kau ingat.]
[Syukur aku tak apa-apa.]
[Ini adikku, Nur.]
[Nur, ini dokter penyelamat hidupku.]
[Aku cuma beri dia aspirin.]
[- Butuh tumpangan?] [- Tidak, aku bawa mobil.]
[Aku terlambat untuk bekerja.]
[- Dah.] [- Dah.]
[Berikan ponselnya.]
[Di mana?]
[- Dr. Shirin, tunggu...] [- Ada apa?]
[Berikan ponselmu sebentar.]
[Ayolah, jangan khawatir.]
[Jangan khawatir.]
[Sudah.]
[Kini aku punya nomormu.]
[- Kau tak bisa minta?] [- Jika kau menolak?]
[Yah...]
[- Akan kutelepon.] [- Entah jika kuangkat.]
[Shirin...]
[Dah.]
[Semua aman.]
[Jangan takut.]
Kerjamu bagus.
TEL AVIV
[Kita tiba.]
[Itu pubnya.]
[Dengar, satu hal lagi yang harus kuberi tahu.]
[Ini bukan sebarang pub.]
[Pembunuh Bashir sering kemari.]
[Kita akan balas mereka.]
[Dia mungkin di dalam sana,]
[tapi jika tak ada, dia akan mengerti ini urusan pribadi.]
[- Kau senang?] [- Ya, sangat senang.]
[Bagus.]
[Kita pertegas ke mereka, mereka takkan pernah aman di mana pun.]
[Jika mereka datangi rumah kita, kita pun juga.]
[Amal, kau sanggup?]
[Baik.]
[Penting mereka tak mencurigaimu, paham?]
[Bukalah.]
[Bagus. Sekarang tutup.]
[Masuk, duduk di bar,]
[minta minuman, aktifkan bomnya,]
[tinggalkan tas, dan keluar.]
[Waktumu tiga menit sampai meledak.]
[Ingat, hanya tiga menit.]
[Kutunggu kau di sini.]
[Lalu kita pergi. Paham?]
[Ada pertanyaan?]
[Aku pesan apa?]
[Pesan... Coca Cola.]
[- Baik, Coca Cola.] [- Coca Cola Diet.]
[- Itu saja. Coca Cola diet.] [- Coca Cola diet.]
[Katakan.]
- "Bisa pesan Coca Cola diet?" [- Bukan.]
"Bisa pesan Coca Cola diet?"
"Bisa pesan Coca Cola diet?"
"Bisa pesan Coca Cola diet?"
"Bisa pesan Coca Cola diet?"
[Begitu.]
[Amal...]
[Allah bersamamu.]
Hei, kau tak apa-apa?
Ada apa? Ada yang melukaimu?
Mau hubungi seseorang?
Mau minum apa? Air putih atau apa?
Bisa pesan Coca Cola diet?
Baik, segera.
[Ayolah, di mana kau?]
Terjemahan subtitle oleh GSK
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.