All language subtitles for Fauda.S01E03.1080p.NF.WEB-DL.DDP2.0.x264-NTb

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American) Download
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

SERIAL ORIGINAL NETFLIX

[BAHASA ARAB] [Cobalah duduk.]

[Begitu. Allah akan membantumu.]

[Lebih baik?]

[Baik.]

[Kapan kita melakukan serangan bom?]

[- Serangan bom?] [ -Tentu.]

[Dalam beberapa pekan... Saat sudah temukan relawan.]

[Dengarkan. Para Yahudi mendatangi rumah ibuku]

[dan membunuh adikku di pernikahannya.]

[Lakukan serangan besok.]

[Tapi kukirim siapa?]

[Cari seseorang,]

[jika tak bisa, kucari orang yang bisa cari seseorang.]

[Baik.]

[Begini, ada seorang gadis, tapi menurutku itu bukan ide bagus.]

[Siapa dia?]

[Amal.]

[Jandanya Bashir.]

[Dia ingin menjadi syahid,]

[tapi dia keluarga.]

[Dia bukan keluarga.]

[Dia seharusnya menjadi keluarga.]

[Siapkan dia untuk serangan bom hari ini, Walid, bukan besok.]

[Pastikan dia tetap hidup dan tidak mati syahid.]

[Beri dia alat peledak yang bisa ditaruh di tasnya]

[dan lari dari TKP.]

[Aku punya ide lokasi serangan.]

[Lihat.]

[- Apa ini?] [- Kutemukan di rumah ibumu.]

[Salah satu Yahudi menjatuhkannya.]

[Kucari tahu logo itu, ini yang kutemukan.]

[Kirim dia ke sana.]

Hei.

Aku... Maaf tentang...

- Tak apa. - Aku tak...

Itu saudara bodohmu.

- Dia dengan siapa? - Entah.

- Hai. - Hei.

- Aku Gali. - Daria.

Aku Boaz, salam kenal.

Hai, aku Doron.

- Apa kabar? - Apa kabar?

- Jadi? - Aku akan ke kebun anggur.

- Dah. - Kau hendak ke mana?

- Mau minum teh? - Mau teh? Teh.

Kopi?

Tidak, tadi sudah di kemah dekat kebun anggur.

- Kebun anggur? Doron akan bunuh kau. - Jangan beri tahu.

Mau aku merahasiakan dari suamiku?

Bisa kuambilkan sesuatu?

- Tak usah. - Kau buat anggur di sini, bukan?

Ya, tapi baru akan enak sekitar penghujung 2020.

Jadi, tak ada apa-apa?

Mau?

Berikan padaku.

Kau tak tahu dia tak merokok?

Aku tahu.

Dia khawatir diusir jika ketahuan merokok

dan jika ketahuan berbohong, mereka pun akan mengusirnya.

Ini.

Kau terganggu aku merokok?

- Berikan. - Boaz, kau sedang apa?

Astaga...

Sayang...

Dia sebodoh ini saat kecil?

Tahukah kau dia ikut... grup teater komunitas?

Hei!

- Benarkah? - Tidak.

Kau tak tahu sandiwara buruk yang harus kutonton saat itu.

Baik, hei... Tak apa.

Ayo, aku ada ide.

RUMAH SAKIT RAFIDIA, NABLUS

Kami diberi tahu Abu Ahmed berada di RS Rafidia.

Salah satu dokter IGD merawat dia.

Ke sana sendiri, sementara Naor bantu kau dari luar.

[Aku pergi hari ini, benar?]

[- Sudah atur semua?] [- Ya.]

[- Ada satu masalah.] [- Apa?]

[- Dr. Abu Sharif.] [- Kenapa?]

[Dia khawatir nyawamu terancam jika kau pergi.]

[Dia sok tahu, dia tahu apa?]

[Cari orang lain.]

[Aku ingin keluar hari ini, jelas?]

[Baik.]

[Walid?]

[Walid?]

[- Shirin.] [- Walid, itu kau!]

[Apa kabar, Nak?]

[Baik. Kapan kau kembali dari Prancis?]

[- Belum lama.] [- Kau sedang apa?]

[Aku sedang apa? Aku bekerja di sini.]

[Kau sedang apa? Orang rumah sehat?]

[Ya, sehat. Aku hanya periksa diri.]

[Periksa? Baik.]

[Kau sudah besar.]

[Aku hampir tak mengenalmu.]

[Ada kabar apa lagi? Kenapa tak mampir?]

[Aku akan mampir, janji.]

[Mampirlah. Ibuku sangat merindukanmu.]

[Aku juga.]

[Kirim salamku untuk ibumu.]

[Kirim salamku untuk bibi Suha. Bilang aku pun rindu dia.]

[Baik.]

[- Shirin?] [- Ya?]

[- Aku perlu bantuanmu.] [- Apa?]

[Aku mengawasi Abu Ahmad, sang Panter.]

[Dia di sini.]

[- Tapi dia sudah mati.] [- Dia masih hidup.]

[- Dia hidup dan di rumah sakit ini?] [- Ya, tapi dia terluka.]

[Bantu aku mengeluarkannya sebelum mereka membunuh dia.]

[- Kau bekerja dengannya?] [- Ya, tapi bukan soal itu.]

[Ini soal keluarkan dia diam-diam. Kondisinya buruk.]

[Dia satu lantai di atas ruang bersalin.]

[Karena itu dr. Abu Sharif sering ke sana?]

[Ya.]

[Jika ada Abu Sharif, kenapa perlu aku?]

[Dia harus keluar sekarang, tapi Abu Sharif tak paham.]

[- Katanya itu berbahaya.] [- Aku percaya itu.]

[Tapi lebih berbahaya membiarkan dia di sini.]

[Ayolah, bantu keluarkan dia.]

[Sudahlah, Nak.]

[- Kenapa?] [- Aku tak bisa.]

[Shirin...]

[Jika Yahudi bunuh dia, aku yang bertanggung jawab.]

[Kumohon!]

[- Bagaimana anak-anak?] [- Baik.]

[Alhamdulillah.]

[Kuambilkan sesuatu agar tekanan darahmu turun.]

[- Kuperiksa sejam lagi.] [- Baik.]

[- Ya?] [- Baik.]

[Aku dipanggil mendadak ke ruang bersalin.]

[- Bisa kau urus sendiri?] [- Ya.]

[- Halo.] [- Hai.]

[Ada apa?]

[Kucoba perbaiki jendela dan terjatuh.]

[- Baik, siapa namamu?] [- Amir, Amir Mahajne.]

[- Berapa usiamu?] [- Usiaku 38 tahun.]

[Tarik napas yang dalam.]

[Lihat kemari.]

[Penanya, bukan aku.]

[Maaf.]

[Merasa pusing?]

[- Penglihatanmu kabur?] [- Pening.]

[Mungkin gegar otak.]

[Kau akan menginap malam ini untuk observasi.]

[Setelah perawat bersihkan lukamu, kau akan dipindai.]

Bukan dia, ada info baru.

Cari dr. Abu Sharif, dari penyakit dalam.

Kami kirim kau fotonya.

Baik.

[Terima kasih, Dr. Shirin.]

[Sama-sama, Amir.]

[Abu Sharif sedang apa seharian di bangsal bersalin?]

Bicaralah.

- Ayah. - Ya, Nak.

[Pasiennya di sini, aku di dekat dia.]

- Kau yakin? [- Ya. Harus kukirim salam?]

Tidak, tunggu.

[Kenapa tidak? Hanya sebentar.]

Jangan sentuh dia, dengar? Awasi dia dan tunggu saudaramu.

[Ayah tak percaya aku?]

Jelas percaya, tapi jangan gegabah.

- Kau di mana? [- Di bangsal bersalin.]

- Di mana? [- Bangsal bersalin.]

- Dia di sana? [- Ya.]

Kusuruh saudaramu ke sana. Jangan bergerak.

Doron, bersumpahlah kau tetap diam.

Siapkan Steve masuk rumah sakit dalam 30 detik.

Kirim drone, satu di atas rumah sakit dan satu di atas persimpangan Tapuah.

[Sialan, dia lolos!]

[Ayah, pasiennya hilang.]

- Pakai kendaraan apa? [- Ambulans.]

- Ada ambulans. - Suruh Steve kejar mereka segera!

Dia bergerak. Jemput dia di pintu masuk!

Siagakan semua pos pemeriksaan di timur RS

untuk cegah dia dan lepaskan tembakan jika perlu.

Kirim helikopter!

Segera, di atas rumah sakit.

[- Aku menangkapmu.] [- Apa?]

[Aku tak izinkan kau pulang.]

[Ya, tapi aku sudah pulih.]

[Jika merasa pusing, aku akan kembali agar kau merawatku.]

[Entah jika aku mau terima, aku tak merawat pasien tak penurut.]

[- Selamat tinggal.] [- Selamat tinggal.]

Dia menuju timur, lewat Al-Quds.

Ambulans itu berjalan pelan, masih di Al-Quds.

Kau akan segera menyusul dia.

Tepat setelah belokan ini.

Itu dia.

Dekati dia, injak gas!

- Kenapa tak kau hentikan dia? - Moreno, tenang.

Kita membuntuti mereka, biarkan aku bekerja.

Steve, kau melewati dia, hadang dia, dan kita bawa pergi Abu Ahmad dari sana.

Kukerjakan.

Jika dia lewati kita, tembak bannya.

- Dekati dia! - Sudah.

Lewati dia. Bersiap untuk tindakan.

[Matikan mesin.]

[Tangan di atas!]

[Ayo, keluar!]

[Keluar!]

[Di mana Abu Ahmad? Mana dia?]

[Mana Abu Ahmad?]

[- Kau akan ke mana?] [- Pos pemeriksaan.]

[- Di mana Abu Ahmad?] [- Siapa dia?]

[- Mana Abu Ahmad?] [- Aku tak tahu!]

[- Di mana Abu Ahmad?] [- Aku tak tahu!]

Ayo, Steve.

[Halo, Amal.]

[Masuklah.]

[Ini Khaled. Khaled, ini Amal.]

[Kami sebut dia Yahudi,]

[karena orang yakin dia Yahudi.]

[Kuantar kau ke pos pemeriksaan dan kau lanjutkan dengan Khaled.]

[- Kau tak apa?] [- Ya, aku tak apa.]

[Kau akan membawa tas ini.]

[Lihat.]

[Dua kabel ini terhubung ke sakelar ini.]

[Hati-hati, tombol ini sangat sensitif.]

[Jangan buka penutupnya sampai kau siap tekan tombol.]

[Paham?]

[Kutunjukkan cara membawa tasnya.]

[Taruh di bahumu.]

[Masukkan tanganmu.]

[Kau merasakannya?]

[Itu sakelarnya.]

[Ingat baik-baik letaknya agar tak perlu dilihat saat dipegang.]

[Begitu ditekan,]

[waktumu tiga menit hingga bom meledak.]

[Letakkan.]

[Kau pahlawan nasional karena melakukan ini.]

[Pahlawan nasional?]

[Aku ingin menikah dan punya anak.]

[Jangan cemas, kau akan begitu.]

[Baik, ayo.]

Siapa mereka?

Para pelayat di tenda berkabung Bashir Hammed.

- Aku kenal orang ini. - Dari pernikahan?

Bukan, bukan dari sana.

Itu Walid Al-Abed, dia salah satu suruhan Abu Ahmed.

Nurit, perbesar.

Dia bicara ke dokterku di rumah sakit.

- Tentang apa? - Aku tak dengar percakapan mereka.

Nurit, cari tahu apa pun tentang dokter ini.

Shirin Al Abed, 32 tahun.

Ibunya dari Nablus, ayahnya dari Paris,

dia sepupu Walid Al-Abed.

Dia selalu bolak-balik Ramallah-Paris,

sedikit beraksen Prancis saat berbahasa Arab.

Belajar kedokteran di An-Najah, sekolah di Ecole Medicine,

relawan di "Doctors Without Borders" di Beirut pada 2006.

Dia janda. Menikah usia 23 tahun dengan ahli kimia pengidap sklerosis

yang meninggal empat tahun kemudian.

Kalau perjodohan? Dia seperti Wonder Woman Arab.

Semua coba jodohkan, tapi dia tak tertarik.

Dia sibuk bekerja di IGD

di RS Rafidia di Nablus.

Mereka sangat senang padanya.

Daripada mengikuti dia, pindahkan dia ke RS Hadassah.

- Bisa disadap? - iPhone dia dari luar negeri.

Perlu koneksi ke perangkatnya.

Mari ke rumah sakit dan sambungkan.

Dia selalu bawa ponsel.

Mari cari saat dia tinggalkan ponselnya.

- Aku tahu. - Kapan?

Dia lari 50 putaran sehari di kolam renang umum di Ramallah.

- Besok buka untuk wanita. - Kita kirim Boaz.

Boaz? Caranya? Memakai Burqini?

Punya dia begitu kecil sampai dilarang masuk walau khusus pria.

- Aku saja. - Yang benar saja.

Kenapa tidak?

Tak ada mata-mata wanita.

- Biar Nurit pelopornya. - Doron, jangan ikut campur.

Itu khusus wanita, memakai baju renang,

takkan sulit baginya. Apa masalahnya?

- Ayo lakukan. - Bagus, terima kasih.

Hei, aku tak mengiakan, lupakan saja.

[Nurit, tersenyumlah. Bukankah ini keinginanmu?]

[Nur, lompat saja ke dalam air.]

Sekarang!

Dia bawa ponselnya saat mandi,

menaruh semua di tasnya!

[Kita bicara lagi nanti, ya?]

Tak ada masalah, tenang.

[- Selamat pagi.] [- Selamat pagi.]

Bagus.

Nurit, tak apa-apa. Tenanglah.

Berjalanlah keluar pelan-pelan.

[Nur, bagaimana? Kau pecahkan rekor dunia?]

[Ke belakangku.]

[Dokter? Kau mengenaliku? Hai.]

[Halo.]

[Maaf, pasienku 50 orang sehari.]

[Tentu saja. Aku Amir, Amir Mahajne.]

[- Senang bertemu, Dokter.] [- Shirin. Aku juga.]

[Aku pun senang bertemu.]

[Kau dari rumah sakit dengan gegar otak, bukan?]

[Kau ingat.]

[Syukur aku tak apa-apa.]

[Ini adikku, Nur.]

[Nur, ini dokter penyelamat hidupku.]

[Aku cuma beri dia aspirin.]

[- Butuh tumpangan?] [- Tidak, aku bawa mobil.]

[Aku terlambat untuk bekerja.]

[- Dah.] [- Dah.]

[Berikan ponselnya.]

[Di mana?]

[- Dr. Shirin, tunggu...] [- Ada apa?]

[Berikan ponselmu sebentar.]

[Ayolah, jangan khawatir.]

[Jangan khawatir.]

[Sudah.]

[Kini aku punya nomormu.]

[- Kau tak bisa minta?] [- Jika kau menolak?]

[Yah...]

[- Akan kutelepon.] [- Entah jika kuangkat.]

[Shirin...]

[Dah.]

[Semua aman.]

[Jangan takut.]

Kerjamu bagus.

TEL AVIV

[Kita tiba.]

[Itu pubnya.]

[Dengar, satu hal lagi yang harus kuberi tahu.]

[Ini bukan sebarang pub.]

[Pembunuh Bashir sering kemari.]

[Kita akan balas mereka.]

[Dia mungkin di dalam sana,]

[tapi jika tak ada, dia akan mengerti ini urusan pribadi.]

[- Kau senang?] [- Ya, sangat senang.]

[Bagus.]

[Kita pertegas ke mereka, mereka takkan pernah aman di mana pun.]

[Jika mereka datangi rumah kita, kita pun juga.]

[Amal, kau sanggup?]

[Baik.]

[Penting mereka tak mencurigaimu, paham?]

[Bukalah.]

[Bagus. Sekarang tutup.]

[Masuk, duduk di bar,]

[minta minuman, aktifkan bomnya,]

[tinggalkan tas, dan keluar.]

[Waktumu tiga menit sampai meledak.]

[Ingat, hanya tiga menit.]

[Kutunggu kau di sini.]

[Lalu kita pergi. Paham?]

[Ada pertanyaan?]

[Aku pesan apa?]

[Pesan... Coca Cola.]

[- Baik, Coca Cola.] [- Coca Cola Diet.]

[- Itu saja. Coca Cola diet.] [- Coca Cola diet.]

[Katakan.]

- "Bisa pesan Coca Cola diet?" [- Bukan.]

"Bisa pesan Coca Cola diet?"

"Bisa pesan Coca Cola diet?"

"Bisa pesan Coca Cola diet?"

"Bisa pesan Coca Cola diet?"

[Begitu.]

[Amal...]

[Allah bersamamu.]

Hei, kau tak apa-apa?

Ada apa? Ada yang melukaimu?

Mau hubungi seseorang?

Mau minum apa? Air putih atau apa?

Bisa pesan Coca Cola diet?

Baik, segera.

[Ayolah, di mana kau?]

Terjemahan subtitle oleh GSK

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.