Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Aman, adikku.
Aman, sangat sederhana dan penyayang.
Ia selalu memiliki senyuman di wajahnya.
Aman seorang pekerja keras.
Ia akan terus bekerja, hingga merasa puas.
Membuat sketsa dan garis.
Ia juga agak nakal.
Ia akan membuat wajah lucu untuk membuatku tertawa.
Kami sangat bahagia, sungguh.
Aman, ibu dan aku, kami sangat bahagia.
Mendiang ayah kalian, dulu mengatakan...
...putri dilahirkan ke dunia diberkati oleh Allah.
Lalu putra dilahirkan ke dunia tak diberkati oleh Allah?
Gadis bodoh! Putri bisa melayani. Itu maksud perkataannya.
Sampai saat ini, ibu melayani putrinya./ Kenapa kau iri?
Biar kulihat otakmu yang kosong ini.
Kosong apanya? Bu, omeli kakak. Atau, aku akan marah.
Marah!/ Jangan buat putraku marah.
Biarkan dia menonton film.
Sudah 10 kali aku menonton film ini. Aku mau menonton berita.
Kau tahu yang terjadi di kota?/ Memang ada apa di berita?
Mereka mulai menindas kaum tunakarya.
Para pejabat menghasut rakyat untuk melakukan pembunuhan.
Mereka sungguh terkutuk.
Di dunia ini mereka bisa bebas berbuat semaunya.
Tapi di akhirat nanti, mereka pasti akan disiksa.
Lihat! Ibu sampai tak sadar ini sudah larut malam.
Ayo, kalian berdua. Tidurlah./ Ibu.
Nonton beritanya besok saja./ Ibu! Sebentar!
TV-nya dimatikan.
Apa-apan itu, Bu?/ Ini sudah larut.
Good night, Bu. Good night, Aman.
Good night, Kak.
Apa itu "good night"? Kau tak bisa katakan "selamat malam"?
Selamat malam, Bu.
Ayo, tidurlah.
Jangan siksa matamu. Tidurlah.
Semoga Allah menjaga keluargaku dari bahaya.
Anjing itu melolong lagi.
Pertanda buruk.
Astaghfirullah.
Ada apa, Firoz?/ Aman, mereka membunuh teman kita.
Dan membakar toko paman Sadiq./ Kita bisa apa?
Mari kita lihat./ Tidak. Nanti kita akan tertangkap.
Kita takkan tertangkap. Ayo.
Jangan banyak pikir. Ayo!/ Ayo.
Mereka sudah gila! Mereka akan saling membunuh.
Tuhan mengutuk para pembuat senjata dan peluru.
Menjauh dari jendela!
Cari Aman!
Ibu! Aman tidak ada!/ Di mana Aman?
Aman! Aman!/ Aman!
Aman! Aman!/ Aman!
Aman! Aman!
Aman!
Lari, Aman! Lari!
Aman, lari!/ Lari!
Aman, lari!
Aman! Ibu!
Aman!
Berikutnya!
Halo, Ny. Bhige. Semuanya baik saja?
Ya, Nishat Bi. Duduklah.
Tangan anakmu sakit. Bagaimana keadaannya?
Dasar anak-anak. Mereka seolah tak peduli.
Rasa sakit, seiring dengan usia. Satu luka, sakitnya takkan hilang.
Mau minum teh?
Sebaiknya jangan minum teh. Ini saja, puding.
Dimasak dengan susu murni. Tapi, entahlah.
Penjualnya bilang ini murni./ Kau tampak senang. Ada apa?
Fiza telah lulus!/ Lulus?
Bagus! Apa langkah ia selanjutnya?/ Entah. Katanya ia akan bekerja.
Gadis malang, ia bisa apa?
Ia harus jadi tulang punggung keluarga.
Pensiunan ayahnya tak cukup...
...untuk membiayai kehidupan di zaman ini.
Rumah kontrakan tua yang sama. Cara hidup lama yang sama.
Allah adalah pelindungku. Yang bantu kami selama ini.
Membantu kami hidup dengan terhormat.
Nishat Bi, mari kita bicarakan soal tujuanmu kemari...
...setiap minggu, selama enam tahun ini.
Tak ada kabar tentang anakmu. Di TV ia telah dinyatakan "hilang".
Begitu banyak pertanyaan. Hasilnya, nihil.
Kurasa takkan ada kabar.
Tak ada kabar tentang 160 orang. Orang Hindu, maupun Muslim.
Bukan hanya kau. Ada banyak orang yang menangis.
Kenapa aku harus menangis? Biar musuhku yang menangis.
Aku yakin ia masih hidup. Dan ia akan kembali.
Kelak, ia pasti akan datang. Assalamualaikum.
Berikutnya!
Panas sekali hari ini.
Siapa itu?/ Bukan siapa-siapa.
Siapa itu?/ Kubilang, bukan siapa-siapa.
Kenapa kau tegang sekali saat di mobil?
Tak ada apa-apa./ Ada seseorang di jalan.
Kau melihatnya dan kau bereaksi.
Itu ibuku./ Harusnya kau hentikan mobilnya.
Ia takkan suka.
Ia pergi ke tempat itu dan kembali secara diam-diam.
Diam-diam? Ke mana?
Kantor Polisi.
Aku paham.
Jangan khawatir. Kelak, semua akan baik saja.
Percayalah.
Siapa yang tahu masa depan? Ayo, cepat.
Sebentar.
Silakan.
Aku masih tak percaya aku lulus!
Aku hanya membaca catatanmu.
Tapi denganmu, mereka tidak adil.
Setidaknya, harusnya kau dapat nilai 70.
65 itu lebih dari cukup.
Aku tak bisa belajar dengan keras.
Tak bisa belajar di rumah.
Aku harus puas bisa belajar di perpustakaan.
Kau tak bisa konsen belajar di perpustakaan.
Karena Anirudh duduk tepat di hadapanmu.
Gitanjali, aku tak suka dengan omong kosongmu.
Jika kau terus seperti ini, kelak, aku akan mencekikmu.
Ayo, cekiklah aku. Tapi kata-kata terakhirku pasti...
...Anirudh Roy--
Anirudh Roy dan Fiza Ikramullah.
Maaf.
Sekarang, lihat ke kamera.
Baik, senyum yang manis.
Katakan: "cheese"!/ Cheese!
♪ Tuhan menganugerahi orang-orang beriman ♪
♪ Di sini kita akan dikabulkan ♪
♪ Mintalah di sini dengan hatimu ♪
♪ Mintalah dari Haji Ali ♪
♪ Orang beriman ♪
♪ Raja Lautan ♪
♪ Hormat kepada Raja Lautan ♪
♪ Haji Ali, Sang Peramal ♪
♪ Kau adalah penjaga lautan ♪
♪ Kau adalah penjaga lautan ♪
♪ Di pintu-Mu ♪
♪ Berdiri orang-orang beriman, para pencari ♪
♪ Hindu, Muslim, Sikh, Kristen diberkati ♪
♪ Hindu, Muslim, Sikh, Kristen diberkati ♪
♪ Lautan berjaga-jaga ♪
Shehnaz!
Bibi?
Kau sulit ditemui! Sudah melupakan kami?
Tidak.
Banyak pekerjaan di rumah.
Nanti aku akan datang. Sampai jumpa.
♪ Limpahkanlah atas diri kami berkah dari Muhammad ♪
♪ Limpahkanlah atas diri kami berkah dari Muhammad ♪
♪ Tak ada pencari yang pergi dengan sia-sia dari sini ♪
♪ Kau tahu doa di setiap hati ♪
♪ Kau dikenal sebagai Pemberi ♪
♪ Dengarkanlah doa-doa kami ♪
♪ Kabulkanlah doa-doa kami ♪
♪ Semua makhluk bernyanyi memuji-Mu ♪
♪ Makhluk malang ini beristirahat di pintu-Mu ♪
♪ Setiap orang diberkati ♪
♪ Sebelum doaku dikabulkan ♪
♪ Hidupku pasti akan menderita ♪
♪ Siapa pun yang berserah diri kepada-Mu Tuhan akan peduli ♪
Ibu!
Kenapa kau lama sekali?
Masuklah agar diberkati, dan berikan kue pada anak-anak.
Ibu sedang apa?
Bersedekah.
Hentikanlah, Bu.
Ibu belum bilang apa-apa, 'kan?
Kenapa Ibu harus hamburkan uang seperti seorang ratu?
Ibu membagikan puluhan uang seolah habis menang lotre.
Jadi itu sebabnya kau marah? Sayang, andaikan bisa...
...Ibu ingin membagikan ratusan. Mendiang ayahmu--
Aku tak mau dengar yang dikatakan ayah.
Ia sudah meninggal, dan meninggalkan kita!
Istighfar, Fiza! Haruskah kaubicara seperti itu?
Kenapa tidak? Di rumah ini siapa yang hidup? Ibu dan aku.
Pertanyaannya ialah--/ Cukup!
Bicaramu mulai lancang!
Jagalah sikapmu! Suatu hari, kau akan tinggal di rumah lain.
Sikap itu tak boleh dilakukan./ Pertama, Ibu yang harus jaga sikap.
Ini sudah enam tahun.
Ibu telah mengubah rumah ini menjadi ruang tunggu.
Mata, menatap keluar dari jendela. Telinga, terpaku ke pintu.
Satu ketukan, Ibu terlonjak. Siang dan malam, 24 jam.
Selalu begitu. Apa Ibu sadar Ibu telah banyak berubah?
Ibu bahkan berpaling dariku untuk menyembunyikan tangisan.
Kenapa kau terdiam? Katakan saja.
Ibu takkan bilang apa-apa. Karena aku ibumu.
Ibu yang melahirkanmu.
Aku tak mengerti! Sampai kapan ini akan berlangsung?
Sampai kapan kita hidup begini?/ Jangan tanya Ibu.
Tanyakan takdirmu.
Takdir! Kata yang bagus. Tapi hampa. Ibu mau makan apa?
Haruskah aku masak lobak?/ Ya! Aman sangat menyukainya!
Ia biasa memakannya sampai habis!
Maaf.
Ya Allah!
Seorang pria mengirim bunga ini.
Siapa?/ Ia tak beri tahu namanya.
Mengendarai mobil besar./ Mobil besar?
Ya, ia menyuruhku untuk memberikannya kepadamu.
Baik, pergilah.
Siapa Romeo yang mengirim bunga untuk putriku ini?
Tapi dia pelit./ Anggrek. Harganya mahal.
Kenapa membuangnya? Seharusnya kau menaruh di pot.
Bunga akan memberkatimu.
Dulu ayahmu sering membawa melati sekeranjang penuh!
Dan ia memberikannya ke semua tetangga.
Dan sekarang...
...tak ada satu pun yang memberikan bunga di makamnya.
Gadis bunga! Kau tampak cantik!
Bisa dilemparkan saja bunga itu ke kami?
Raspberry!/ Berikanlah bunga itu.
Turunlah!
Dia lari!
Sekali lagi!
Kau mau ke mana terburu-buru membawa bunga?
Jangan panggil aku. Aku sedang ada urusan.
Tak ada salahnya memanggil.
Bahkan kutukan ibu bisa menjadi berkah.
Bagaimana kalau sarapan dulu?/ Tak ada waktu!
Sebentar./ Aku tahu arti "sebentar" itu.
Baik, segeralah pulang. Sebelum matahari terbenam.
Ibu selalu khawatir./ Jam malam ibu adalah perintahku.
Ada perintah lain?
Ibu!
Itu untuk melindungi dari orang jahat.
"Dag, bye bye, cheerio."
Demi Tuhan, jangan bicara bahasa Inggris.
Pergi dan kembalilah dengan senyum.
Masya Allah! Cantik sekali!
Fiza menjadi sangat cantik! Para pemuda akan kagum!
Tutup mulutmu, bodoh! Haruskah kau bicara sesukamu,...
...gadis gila?/ Aku gila?
Seluruh dunia menggilai suaraku, gayaku!
Semua masalah waktu, Nishat Bi. Hilangnya para pengagum...
...kepergian adalah waktu. Aku tetap cantik seperti dulu...
...suaraku tetap indah!/ Dan tetap gila!
Ya!/ Sial.
Berhentilah mengejar gadis itu.
Atau kau akan terus kalah seperti ini./ Bagaimana kalau permainan lain?
Sebentar!
Wah, luar biasa. Ini kejutan menyenangkan.
Kau datang jauh-jauh kemari menemuiku!
Berkas apa itu?/ Aku mau wawancara.
Wawancara? Untuk pekerjaan sambilan?
Untuk apa? Dengar.
Datanglah ke kantor ayahku besok. Akan kuurus pekerjaan untukmu.
Tidak, terima kasih.
Aku tak mau pekerjaan melalui rekomendasi.
Sombong sekali./ Itu harga diri.
Sampai jumpa.
Dengar--
Pertama kali mencari kerja?/ Bagaimana kau tahu?
Pencari kerja tidak melihat jam. Aku sudah pengalaman dalam hal ini.
Tenang. Nomormu takkan muncul sebelum empat atau lima jam.
Tapi di koran, katanya akan langsung diwawancara.
Itu artinya mereka tak mau menghabiskan 2 Rupee per kartu pos...
...untuk menghubungi kita.
Itu hanya drama.
Jangan gugup. Kau akan terbiasa.
Kau akan berhenti melihat waktu.
Kau bahkan akan lupa menanyakan bulan dan tanggal.
Mau minum?
Ini.
Bisleri. Air mineral kota. Direbus di rumah.
Terima kasih./ Minumlah.
Dengar. Wawancara sudah ditutup. Kalian boleh pulang.
Apa kubilang?
Tapi, semoga berhasil lain kali. Dah.
Hei, tak adakah jalan lain selain ini?
Banyak. Tapi aku tak bisa meninggalkan kendaraanku.
Mumbai macet.
Tenang. Dengarkanlah lagu.
Aman! Aman!
Hei, Nona, mau ke mana? Apa kau gila?
Aman! Aman!
Hei, gadis! Kau buta? Sudah gila?
Pergilah ke tempat lain jika ingin mati!
Pulanglah. Itu saja untuk hari ini.
Kenapa kau terlambat? Ibu takut kau juga pergi.
Aku takkan pergi ke mana pun. Aku bisa ke mana?
Memang aku punya jalan keluar?
Kenapa kau mencari pekerjaan? Ibu tidak menyuruhmu.
Kurasa tadi aku melihatnya. Aku lari, tapi jalan sedang macet.
Aku tak bisa berbuat apa-apa! Ayo, Bu. Berikan perhiasanku.
Kenapa?/ Aku mau menggadaikannya.
Untuk apa? Alhamdulillah, kita masih bisa makan.
Aku butuh uang. Aku ingin mengakhiri kegelisahan ini.
Kegelisahan ini tak membiarkan kita mati maupun hidup.
Aku ingin mencari Aman. Untuk itu, aku butuh uang.
Akan dapat harga berapa untuk sepasang gelang dan anting?
Aku bukan menjualnya. Aku hanya menggadaikannya.
Takkan Ibu berikan!
Karena Ibu tak punya nyali untuk mencari kebenaran?
Ibu bahkan tak ingin tahu yang terjadi malam itu.
Yang terjadi pada putramu!/ Ya! Ibu tak ingin tahu!
Bagi wanita tua seperti Ibu, tak ada harapan, selain putra!
Ibu tak punya putra. Tapi harapan, Ibu masih punya.
Kau ingin mengambilnya dari Ibu?
Ibu tak punya apa-apa lagi!
Ibu.
Menyembunyikan penyakit takkan menyembuhkan luka.
Tapi membusuk.
Aku telah memutuskan. Kita takkan hidup menderita.
Aku takkan biarkan penantian ini membunuh kita.
Percayalah, Bu.
Aku mengatakan yang sebenarnya.
Kumohon, Bu.
Aku butuh 25.000. Tolong berikan. Kau tak percaya padaku?
Kami membelinya dari tokomu./ Kau bilang apa, Nona?
Jika aku tak percaya, aku akan ambil untung, bukan?
Katakan, kau setuju 18.000?
Baik, berikanlah.
Boleh aku menelepon?/ Kenapa tidak? 3 rupee untuk panggilan lokal.
Ini. 18.000.
Pak Prakash Ingle?
Jumlahnya sudah benar?/ Ya. Semuanya 4.000.
Kenapa melihatku seperti itu?
Jika sedang tak bertugas, aku akan menghabiskan 7-8 gelas.
Kau harus memberitahuku yang terjadi di malam itu.
Ini salinan pernyataanku di pengadilan.
Semua yang terjadi, dan kulihat ditulis di situ.
Aku sudah dengar pernyataanmu. Aku ada di pengadilan hari itu.
Lalu, kau mau dengar apa lagi?/ Yang tak ada di surat pernyataan.
Kebenaran./ Jangan macam-macam.
Apa aku berbohong di pengadilan?/ Jika kau tak bisa beri tahu...
...kembalikan uang itu.
Yang ingin kaudengar, aku bisa memberitahumu.
Tapi kau berasal dari keluarga baik-baik.
Jadi biar kuberi tahu sesuatu.
Lupakanlah yang terjadi.
Dengar.
Jika koreng dikelupas, itu akan lebih menyakitkan.
Banyak orang dalam kesulitan. Mereka membunuh putra Sawant.
Sawant mengemis.
Lupakan semua itu. Makanlah popcorn.
Ceritakan yang terjadi malam itu.
Dia lari.
Pak! Tolong aku! Mereka akan membunuhku!
Mereka membunuh temanku! Kami tak melakukan kesalahan!
Kau ingin hidup? Kaburlah ke Pakistan!
Suamiku dibakar hidup-hidup dengan ban di lehernya!
Demi Allah! Lakukanlah sesuatu!
Kau lihat apa? Enyahlah. Minggir.
Pergi!
Kami bisa apa?
Bubar!
Mereka menghancurkan kami!
Tangkap dia!/ Jangan diberi ampun!
Lepaskan aku!/ Jangan dilepas! Bunuh dia!
Hei, ambilkan ban! Bakar dia!
Bunuh dia!
Hei, Babu, mereka datang! Lari!
Beberapa orang bilang anak itu diserang lagi.
Aku bisa apa? Tak ada yang bisa dilakukan.
Kau meninggalkan anak sekarat di jalanan?
Itu bukan waktunya sentimen. Jika aku coba selamatkan seorang...
...akan ada empat mayat lain di tanganku.
Tahu ke mana perginya adikku?
Aku bisa bilang apa?
Meski ada yang melihatnya, siapa yang ingat?
Kau sama sekali tak ingat?
Mungkin suatu tempat, apa pun itu?
Kejadiannya sudah lama, mana aku ingat?
Di antara mereka, di antara mayat itu...
...adakah adikku di sana?
Mungkin.
Mungkin tidak?
Ya, mungkin tidak.
Apa tidurmu nyenyak di malam hari?/ Apa katamu?
Aku tak tahu siapa yang harus kukutuk.
Apa? Apa katamu? Kutuk?
Ambillah. Untuk birmu.
Dibakar.
Untuk mendengar inikah aku hidup?
Mungkin dia tak ada di tumpukan mayat itu?
Bahkan setelah mendengar semuanya,...
...aku masih tak percaya.
Jika aku percaya, mungkin mataku takkan kering.
Dia tak mungkin mati.
Katakan, apa yang akan kaulakukan?/ Entah apa yang akan kulakukan.
Aku punya ide tak jelas dalam pikiranku.
Jangan terlibat sesuatu yang berbahaya. Berjanjilah.
Jangan membuatku berjanji, Bu. Percayalah.
Sawant?
Punya uang? Berikan padaku.
Semoga kau bahagia.
Namamu Sawant, bukan?
Siapa kau?
Fiza Ikramullah.
Ikramullah?
Aku tak mau uangmu! Ambil kembali! Aku tidak mau!
Inspektur Prakash Ingle menceritakan tentang kau.
Ceritamu sama denganku.
Ceritaku? Apa yang ia ceritakan? Apa yang diceritakan bajingan itu?
Soal putramu./ Ya. Putraku dibunuh!
Putraku dibunuh! Dan bajingan itu ingin bukti!
Katanya, carikan bukti kalau putramu sudah mati!
Pemerintah ini ingin bukti!
Kau Muslim, bukan? Orangmu membunuh putraku?
Kenapa orangmu membunuh Chandu-ku?
Kesalahan apa yang ia perbuat pada kalian?
Ini bukan soal kau dan aku. Kita semua punya cerita yang sama.
Ayah Hindu kehilangan putranya. Kakak Muslim kehilangan adiknya.
Tapi yang bertanggung jawab untuk ini bukanlah Hindu maupun Muslim.
Apa agama mereka, tak ada yang tahu.
Namun, kenapa mereka membunuh Chandu-ku?
Ia seorang buruh.
Ia sedang pulang bekerja dari pabrik.
Mereka pasti membawanya di truk.
Aku bahkan tak tahu apakah dia mendapat ritual terakhirnya.
Siapa yang menyalakan tumpukan kayunya?
Mungkin menempatkan dia di tumpukan kayu...
...agar tak teridentifikasi.
Mereka ingin bukti karena mereka akan memberi kompensasi. 200.000.
Harga nyawa seorang pemuda. 200.000!
Harga putraku! Harga Chandu! 200.000 potong kertas!
Aku tak mau uang mereka!
Aku tidak mau!
Mau kuapakan uang itu?
Jika aku mengemis, semua orang akan memberi.
Saat aku mati, pemerintah akan mengkremasiku secara gratis.
Tak teridentifikasi!
Seperti mereka yang mengkremasi Chandu-ku!
Aku tak mau itu!
Adakah yang bisa kulakukan untukmu?
Ya! Bisakah kau dapatkan bukti kematian Chandu-ku?
Tak ada yang mau mendengar Sawant.
Seolah sisi kemanusiaan telah menghilang dari dunia ini.
Seperti Aman yang hilang hingga hari ini.
Ini tak layak dicetak.
Kau pernah mempublikasikannya? Kami umumnya tak menerima...
...kisah dari pekerja lepas./ Aku bukan pekerja lepas...
...bahkan aku tak berminat menjadi jurnalis.
Aku datang kepadamu karena...
...kau yang menutup kasus ini./ Apa yang baru dari laporan ini?
Kisah kematian enam tahun lalu./ Mati, ya. Banyak yang mati.
Karena ini tak menguntungkan? Berikan kertasku.
Tapi katakan, Pak Menon. Apa yang akan kaulakukan jika...
...anggota keluargamu yang hilang? Tidakkah kau menulis tentang dia?
Kau akan tetap tak menggunakan surat kabarmu ini?
Jika adikmu yang datang kepadamu, akankah kau mengusirnya seperti ini?
Dan itukah yang dikatakan "pena lebih tajam dari pedang"...
...beginikah?
Maaf, aku kelewatan.
Jika sakitnya lebih dalam, jeritannya lebih keras.
Berikan laporannya. Kita lihat apa yang bisa kulakukan?
DI MANA ADIKKU? SIAPA YANG AKAN MENJAWAB?
Sudah lihat berita ini?/ Bodoh! Aku sudah lihat dan membacanya.
Cari tahu siapa yang menulis berita ini.
Beri tahu dia Y.K. Singh ingin menemuinya. Sekarang.
Membacanya jadi ikut bersedih. Beginilah komunitas kita dianiaya.
Ini bukan waktunya untuk diam. Kita harus bergerak.
Hubungi dia, siapa namanya? Fiza.
Beri tahu dia Pak Syed memanggilnya.
Aku harus beri dia keadilan. Harus.
Ya, aku siap diwawancara./ Siapa dia?
Itu Fiza!
Jangan gugup, Bu.
Aku mencarinya di mana-mana. Tapi di luar sana, gelap gulita.
Tampaknya seolah Aman tersesat di kegelapan.
Tujuanku tak hanya untuk tahu apa yang telah dilalui adikku.
Aku juga ingin tahu kenapa itu harus terjadi.
Dan siapa yang diuntungkan?
Fiza Ikramullah mengajukan pertanyaan agar negaranya menjawab.
Sampai kapan ini akan berlangsung mengatasnamakan agama?
Siapa yang akan menjawab pertanyaan Fiza Ikramullah?
Kau punya fotonya?/ Ya.
Anak tampan.
Apa pekerjaannya? Belajar?
Buku bukan untuknya. Ia tak pernah suka belajar.
Tapi ia pandai menggambar, melukis, kerajinan.
Meski ia tak berpendidikan, ia akan berhasil dalam hidupnya.
Menurut Anda begitu?/ Ya.
Bagaimana kehidupan keluargamu?/ Ibu mengajar bahasa Urdu.
Dan ada uang pensiunan ayah.
Deposito bank yang ia tinggalkan membiayai wisudaku.
Jadi, kau mencari adikmu sehingga ia kembali...
...dan mulai bekerja, agar membiayai rumah tangga?
Aku sama sekali tak bermaksud begitu.
Sekarang kau marah. Aku bertanya karena ingin tahu.
Bisa ke pokok permasalahan?/ Kenapa tidak?
Kini kau seorang sosok terkenal. Jika kauberi tahu orang-orang...
...bahwa kami tak menentang agama atau sekte apa pun,...
...orang akan mendengarmu.
Contohnya, Kerajaan Mughal menyerang dan memerintah kami.
Kami memaafkan mereka.
Orangmu pergi dan membuat negara sendiri.
Tapi kami tak keberatan./ Jangan bilang "orangmu".
Orang yang membuat Pakistan sudah pergi ke sana.
Dan mereka yang tidak pergi kebanyakan sudah mati.
Tak ada orang di negara ini yang membuat Pakistan.
Kami pun bangsa India, sama seperti Anda!
Kau marah lagi, Nn. Fiza. Dengar, maksudku ialah...
...bagi orang berpendidikan dan berpikiran terbuka sepertimu...
...seharusnya tahu banyak tentang partai kami.
Kapan pun kau punya waktu...
...ngobrollah dengan Tim Sukses kami./ Anda mau aku menjadi anggota?
Itu akan menyenangkan! Kau bantu kami, kami bantu kau.
Butuh dua tangan untuk bertepuk tangan.
Jadi Anda bisa memanfaatkanku dan menunjukkannya ke dunia?
Untuk mendapat dukungan orang Muslim?
Kupikir kau seorang liberal./ Anda tak perlu bicara lagi.
Lakukanlah sesuatu, jika Anda mampu.
Dengar--/ Ingatlah yang diajarkan Gita...
...untuk melakukan tugasmu, tanpa mengharap apa pun.
Nyamuk berengsek!
Terima kasih.
Hidup India.
Tolong! Seseorang tolong aku!
Ada apa? Kenapa kau berteriak?/ Bunuh tikus itu!
Bunuh!/ Takut pada tikus?
Ya! Bunuh! Dia akan mengunyahku jika menggigit!
Bodoh, meski dia menjilatimu...
...dia akan mati keracunan!
Tidak akan kembali, bukan?/ Jika nyanyianmu ngawur, pasti kembali.
Katamu nyanyianku ngawur? Kau yang ngawur! Juga ibumu!
Dan nenekmu! Bisamu hanya menakut-nakuti tikus saja!
Memang apa yang kaubunuh? 100 Harimau? Pergi dari rumahku!
Kau tak tahu berterima kasih, Ulfat! Kau memaki orang yang menolongmu?
Memaki? Apanya yang memaki? Gaya bicaraku memang begini.
Jika kau ingin tunjukkan gayamu, pergilah ke tempat pelacuran.
Ini lingkungan terhormat./ Terserah! Jika pengagumku di sini...
...ia akan menutup mulutmu!/ Aku mau tahu siapa "pengagum" itu.
Aman, cintaku! Aku belahan jiwanya, kepercayaannya, walinya.
Kami telah bersenang-senang! Seperti anak-anak.
Tapi aku selalu mengawasinya. Untuk melindungi dari orang jahat.
Tertangkap kau! Sekarang, bayarlah.
Tidak, Aman! Demi Tuhan! Jangan itu. Yang lain saja.
Tidak mau. Itu saja.
Orang tua itu melihatnya.
Aman, kau orang baik, bukan?/ Tidak. Aku jahat!
Aku akan menangis./ Kenapa tidak? Cepat lakukan!
Dan setelah kau tutup mata--/ Tak tahu malu!
Panggil namaku nanti saja. Pertama, bayar dulu.
Tidak!
Baiklah, kalau begitu...
...sit-up seratus kali, sambil pegang kuping. Mulai.
Baiklah.
Satu./ Bagus.
Dua.
Baiklah, tutup matamu./ Itu lebih menyenangkan.
Di bibirku./ Pipi.
Baiklah. Di pipi./ Tutup matamu!
Shehnaz, Sayang!
Aman.
Sedang apa kalian?/ Tidak ada!
Tidak ada?
Sampai jumpa./ Sampai jumpa!
Apa yang terjadi?/ Itu--
Kami bermain petak-umpet./ Aku bisa lihat.
Petak-umpet romantis!/ Tidak begitu, Ulfat Jaan!
Waktu kecil, aku juga sering bermain petak-umpet.
Tapi kini waktu telah menutup mata dan melupakanku.
Aku menunggu untuk ditangkap!/ Kau takkan beri tahu ibu, 'kan?
Kenapa?/ Karena aku pengagummu!
Buktikan.
Jika aku tak menolak pengagumku, aku akan memiliki putra seusiamu.
Pergilah. Shehnaz lari. Kejar. Panggil dia. Ayo, kejar!
Besok akan menjadi hari lain. Jangan lewatkan hari ini!
♪ Oh, Cintaku ♪
♪ Oh, Cintaku ♪
♪ Datanglah padaku, Cintaku ♪
♪ Datanglah padaku, Cintaku ♪
♪ Aku akan mengusapkan sinar mentari di tanganmu ♪
♪ Aku akan tunduk di tanganmu ♪
♪ Pagi terbit seperti mehendi ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Datanglah, Kasihku ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Panggillah secara perlahan agar orang lain tak mendengar ♪
♪ Hanya menyentuh bibirku mereka akan mendengar ♪
♪ Ya, mataku telah berkedip sejak kemarin ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Mataku dikejutkan oleh sebuah cahaya ♪
♪ Aku melihatmu sekilas di cermin ♪
♪ Mataku dikejutkan oleh sebuah cahaya ♪
♪ Aku melihatmu sekilas di cermin ♪
♪ Datanglah, Kasihku ♪
♪ Itu memang sebuah sinar yang sudah mulai menusuk hatiku ♪
♪ Datanglah, Kasihku ♪
♪ Aku akan mengusapkan sinar mentari di tanganmu ♪
♪ Aku akan tunduk di tanganmu ♪
♪ Pagi terbit seperti mehendi ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Oh, Cintaku ♪
♪ Ketika pantai malam berubah merah ♪
♪ Lembaran warna seakan jatuh ♪
♪ Ketika pantai malam berubah merah ♪
♪ Lembaran warna seakan jatuh ♪
♪ Datanglah, Kasihku ♪
♪ Hentikan matahari dan biarkan bersembunyi ♪
♪ Tenggelam dalam air dan biarkan padam ♪
♪ Datanglah, Kasihku ♪
♪ Panggillah secara perlahan agar orang lain tak mendengar ♪
♪ Hanya menyentuh bibirku mereka akan mendengar ♪
♪ Ya, mataku telah berkedip sejak kemarin ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Datanglah padaku, Kasihku. Datanglah ♪
♪ Oh, Cintaku ♪
Shehnaz akan menikah lusa. Apa kau tahu?
Kenapa kau tak pergi dan menyuruhnya menunggu Aman?
Ia akan kembali. Pasti.
Tak ada rahasia dari seorang ibu. Itu pun yang kuinginkan.
Ia akan menikahi Shehnaz, memiliki bayi.
Keluarga kami akan tenteram.
Jika aku punya cara, akan kuhentikan pernikahan Shehnaz.
Tapi bagaimana cara beri tahu Shehnaz agar menunggu lebih lama lagi?
Masya Allah! Pasangan yang serasi.
Bandnya ngawur! Membosankan!
Ini zamannya musik ngawur.
Yang selera musiknya tinggi diam saja.
Sebentar. Kamera!
Selamat datang, Pak! Kami sudah menunggu Anda.
Silakan duduk.
Pak, mau minuman dingin?
Sebentar!
Siapa itu?/ Ulfat Bi! Diam!
Dia Pak Syed. Pejabat tinggi.
Semoga diberkati./ Terima kasih, Kak.
Ini semua berkat doamu.
Shehnaz.
Maaf, Kak. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Kenapa kau minta maaf? Jika kau bisa...
...maafkanlah orang malang itu. Ia telah bersalah kepadamu.
Nak Fiza./ Ya?
Pak Syed ingin bertemu kau./ Baiklah.
Tenang, Nak.
Mendiang ayahmu sering datang kepadaku.
Kau masih kecil saat ia meninggal.
Serangan jantung, bukan?/ Ya.
Makan es krimnya, Nak./ Terima kasih.
Aku memesannya untukmu./ Tidak, terima kasih.
Apa kegiatanmu saat ini?/ Mencari pekerjaan.
Bukan masalah besar. Aku mengelola sebuah sekolah.
Kau bisa memulainya besok kalau mau.
Hazrat Allah Bahari memang benar. "Ibu, saudari, anak perempuan..."
"...dunia meraih martabat darimu."/ Terima kasih. Tapi aku tak bisa...
...memulainya besok./ Ada alasan khusus?
Aku sibuk dengan hal penting.
Beberapa orang berpikir sebaliknya dengan usahamu.
Mereka bilang kau sedang coba meninjau kembali tragedi 1992-1993.
Itu juga bisa berubah menjadi situasi mengerikan.
Mungkin itu akan menguntungkan untuk pencarian adikmu.
Tapi bagi masyarakat, mungkin itu akan merugikan.
Maukah kau pertimbangkan?/ Anda juga harus pertimbangkan.
Boleh atau tidakkah seorang kakak mencari adiknya?
Berhak atau tidakkah seorang ibu mengharapkan anaknya?
Jika kesalahpahaman mengkhawatirkan Anda,...
...Anda harus menghapus keraguan mereka.
Jangan menyangkalku.
Tahan emosimu, Nak. Kata siapa aku bukan di pihakmu?
Dengarkan aku. Luka telah sembuh. Menggali luka, darah akan mengalir.
Pak Syed, aku tak tahu harus bereaksi apa!
Kenapa kalian takut kebenaran?
Anda, inspektur, editor, Y.K. Singh.
Semua orang menyuruhku tutup mulut! Tapi kenapa?
Meski aku tutup mulut, apa masalah akan selesai?
Bahkan laporan Hakim Harikrishna dipublikasikan. Apa gunanya itu?
Kami ingin berdamai! Kau ingin memulai peperangan?
Perdamaian akan terjadi, Pak Syed...
...saat semua orang tetap dalam batasnya.
Yang benar ialah warna hijau dan jingga...
...adalah bagian dari bendera India.
Dan bagiannya harus tetap begitu.
Mereka tak perlu coba mewarnai seluruh bendera.
Apa Anda paham?
Assalamualaikum.
Si cantik sudah datang!/ Hai, Cantik!
Kau sudah menjadi bintang TV. Kau mau tampil bersama kami?
Hei, dia melotot!/ Siapa yang kaupelototi?
Nanti kuhajar kau!
Jangan!/ Lepaskan aku!
Apa yang akan kaulakukan? Apa kami menakutimu?
Hei, dia semakin marah! Raspberry, ada apa denganmu?
Jaga lidahmu! Atau--/ Atau, kau mau berbuat apa?
Tolong! Abdul! Riyaz! Sooraj! Apa kalian ada?
Kalian ada? Ayo, keluarlah!
Ayo, pergilah.
Mundur!
Ayo pergi.
Kenapa kalian malah lari? Bukankah ingin menakuti wanita?
Jika kalian merasa jantan, ayo, hadapi kami!
Ini hanya trailer./ Tunggulah sisa filmnya.
Dasar bajingan! Mereka menganiaya yang lemah.
Jangan bilang begitu, Bu.
Kita tidak lemah.
Bunga!
Ia memberi bunga.
Ibu suka bunga dari anak itu.
Yang terpenting, ada kejujuran dan simpati di matanya.
Kini, ia bahkan tak pelit dengan bunganya.
Kenapa, Bu? Ibu tak berpikir akan menikahkanku dengannya, 'kan?
Apa gunanya berpikir?
Tapi Ibu tak berprasangka soal keyakinan dan kasta.
Orang harus bersih hatinya.
Kenapa jiwa Hindu tak bisa memiliki hati Muslim?
Dan kenapa Muslim tak boleh dengan hati Hindu?
Mendiang ayahmu, dulu mengatakan...
...cinta ialah agama sebenarnya.
Ayo. Sekarang--/ Baca sisa bukunya besok?
Sesuai perintah Ibu!/ Gadis baik.
Ada kabar tentang Aman?
Tidak./ Setelah laporan di koran...
...selain media dan politisi, tak ada yang menghubungimu?
Siapa yang tahu? Mungkin tak ada yang baca laporannya.
Zaman sekarang, orang hanya membaca berita utama.
Anggap ia masih hidup--
Ia masih hidup. Mataku tak mungkin tertipu.
Aku bisa merasakannya.
Lalu, di mana dia? Kenapa ia bersembunyi?
Kenapa ia tak kembali?
Mungkinkah ia bergabung dengan suatu kelompok?
Kelompok apa?/ Jangan tersinggung.
Maksudku, kelompok teroris, atau ekstrimis.
Tunjukkan foto Aman.
Apa yang kaulakukan?
Lihat ini. Aku mendownloadnya dari internet.
Bandingkan matanya.
Aman!
Teroris ini terlihat di suatu tempat di daerah perbatasan.
Daerah perbatasan?/ Aku ikut denganmu, Fiza.
Wanita tak boleh pergi sendirian./ Ini bukan soal pria atau wanita.
Aku harus melakukannya sendiri.
Tak adakah yang bisa kulakukan untukmu?
Jagalah ibuku.
Nyonya.
Ingin memotretku?
Kau pasti telah melihat seluruh gurun.
Gurun Thar ini seperti halaman belakang rumahku.
Tak ada atap di atasnya. Tapi halaman belakangnya luas.
Kau tampak seperti gadis kota. Sedang apa di sini sendirian?
Aku mencari seseorang./ Di lautan pasir dan debu ini?
Mencari seseorang? Pasti sulit menemukannya.
Pernah melihatnya di suatu tempat?
Tak pernah!
Coba perhatikan./ Kau jangan sok pintar, Gadis!
Kutusuk kau!
Nyonya, tolong dilihat!/ Aku tak pernah melihatnya!
Lihat baik-baik. Sekali saja!/ Kubilang tak pernah!
Apa yang terjadi, Bhairav?/ Sama seperti hari lainnya.
Kau tak melakukan hal aneh kemarin malam, 'kan?
Aku sudah insyaf! Kini aku hidup dengan jujur.
Anda mau apa? Roti dan anggur beras?
Diam! Kau tahu yang kutanyakan. Di mana dia?
Reshma ada di dalam. Berpakaian. Kami akan berpesta hari ini.
♪ Sayangku ♪
♪ Sayangku ♪
♪ Biarkan aku minum dari matamu ♪
♪ Sesuatu terasa sakit dalam hatiku ♪
♪ Biarkan aku hidup bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
♪ Sayangku ♪
♪ Biarkan aku minum dari matamu ♪
♪ Sesuatu terasa sakit dalam hatiku ♪
♪ Biarkan aku hidup bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
♪ Kajal di mataku, Payal di kakiku ♪
♪ Digunakan untuk memikat ♪
♪ Aku adalah pinus, Sayang Katakanlah kapan akan hujan ♪
♪ Aku tinggalkan rumah dan berpakaian untuk menjadi pengantinmu ♪
♪ Sayangku ♪
♪ Biarkan aku minum dari matamu ♪
♪ Sesuatu terasa sakit dalam hatiku ♪
♪ Biarkan aku hidup bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
♪ Jika ada kelebihan di mataku ♪
♪ Yang aku cintai akan menjadi pemenangnya ♪
♪ Bercintalah denganku ♪
♪ Momen ini akan berlalu ♪
♪ Bawa aku malam ini, siapa tahu apa yang akan terjadi esok? ♪
♪ Sayangku ♪
♪ Biarkan aku minum dari matamu ♪
♪ Sesuatu terasa sakit dalam hatiku ♪
♪ Biarkan aku hidup bergairah ♪
♪ Bergairah ♪
Bu, aku sudah mencari Aman ke mana-mana.
Tapi, aku hanya melihatnya dalam mimpiku.
Aku sudah merasa cukup dengan pencarian ini.
Hei--
Aman!
Aman!
Aman.
Aman.
Aman, dari mana saja kau?
Kenapa kau meninggalkan kami?
Apa kami bersalah padamu?
Selama ini kami sangat menderita!
Tapi apa yang kaulakukan pada dirimu? Dan bersama orang semacam itu.
Mereka bukan orang jahat.
Lalu orang macam apa mereka? Katakan.
Kenapa kau tak mengatakannya? Katakan!
Lihat mataku, dan katakan!
Apa yang belum kulakukan untuk menemukanmu?
Dan beginikah aku menemukanmu?
Inikah adikku?
Aku ingin senang melihatmu hidup! Inikah kebahagiaan yang kauberikan?
Beginikah?
Kau mau tahu?
Mau tahu?
Maka, ikut aku.
Jihad.
Yang kulakukan ini Jihad.
Melawan siapa?/ Penindasan, ketidakadilan dan kebencian.
Kau berjuang untuk merampas, dan kau sebut Jihad?
Jihad macam apa yang melibatkan perampokan?
Kami hanya mengambil hak kami.
Bagaimana dengan hak ibu dan kakakmu?
Kau datang untuk berdebat denganku?
Tidak.
Tapi aku mau bertanya padamu, kenapa kau lakukan ini?
Minggir!
Rasakan!
Lepaskan dia!
Air.
Air.
Air.
Air../ Air.
Air.
Air. Air.
Air.
Lihat! Dia membuhuh anak itu!
Meski aku kembali setelah itu, apa gunanya?
Kau akan senang, semua orang akan senang.
Tapi sampai kapan?
Seseorang pasti akan menudingku, Kak.
Dan kau tahu konsekuensinya. Sama sepertiku.
Di gurun ini pun semua orang tahu apa yang terjadi di kota itu.
Bagaimana orang-orang sedang dibantai.
Bagaimana wanita dan orang tua disiksa atas nama terorisme.
Aku sudah coba untuk kembali kepadamu.
Aku pernah datang ke Mumbai.
Tapi tak bisa pulang ke rumah.
Aku merindukanmu.
Aku ingat ibu.
Lalu aku biasa melihat gambar melalui jaringan polisi.
Dan tatapan sayumu.
Aku tak tahan! Apa pun yang kulakukan sudah benar.
Ini jalanku. Aku bahagia.
Karena aku selalu jujur pada diri sendiri.
Jika bukan karena Murad Khan, entah apa yang akan terjadi padaku.
Siapa Murad Khan?
Bertemu dia di Mumbai.
Kejar dia!
Jangan takut.
Kita punya tujuan yang sama.
Aku ingin kau dan ibu menganggapku sudah mati.
Tapi aku lupa betapa keras kepalanya dirimu.
Saat rekanku mengatakan bahwa kau mencariku,...
...lalu aku berdoa. Aku berdoa agar kau takkan menemukanku.
Tapi tak satu pun dari doaku yang didengar.
Kau tahu apa sebutan bagi orang yang meninggalkan dua wanita tak berdaya?
Pengecut.
Aku tak berniat menjadi pahlawan. Pahlawan hanya ada dalam dongeng.
Apa yang terjadi setelah itu?
Ia membawaku ke sini.
Awalnya, mereka menertawakanku. Lalu mereka mengobarkan semangat.
Mereka membebaskan diriku dari rasa frustrasi.
Kini aku tahu bahwa hidup tak harus tinggal dalam ketidakberdayaan.
Ada tujuan.
Senjata dan amunisi ini, pembunuhan demi pembunuhan...
...jika ini tujuan hidupmu, aku bisa bilang apa?
Kau telah memutuskan soal hidupmu./ Aku belum memutuskan apa pun, Kak.
Hidup inilah yang menghukumku.
Jika kau bisa tahan dengan penindasan dan ketidakadilan.
Jika kau sanggup melihat kami direndahkan.
Jika kau bisa melihat ibu dan saudari kami diperkosa.
Tempat ini bukan untukmu.
Jika kau bisa melihat tanah dan kemanusiaan kami dicuri,...
...maka kau boleh pergi.
Tapi ingat ini baik-baik. Di tempat asalmu,...
...jangankan hidup terhormat...
...kau bahkan akan mati tanpa martabat.
Keputusan ada di tanganmu.
Aku akan tinggal di sini.
Denganmu.
Kami ingin keadilan!
Mati dengan tanpa kekerasan!
Bunuh mereka!
Aku berutang nyawa padamu.
Satu nasihat untukmu, Aman. Jangan takut kegelapan.
Kau bukan orang tak berdaya. Kau sama seperti kami.
Setiap orang dari kita, sama-sama mengalami...
...kehilangan martabat kita, identitas kita, rumah kita...
...di perselisihan yang sia-sia. Yang terjadi pada kita,...
...jangan biarkan itu terjadi pada orang lain.
Baik itu Muslim, maupun Hindu.
Mulai sekarang, aku takkan mengujimu lagi...
...hingga kau telah dinyatakan siap untuk berperang.
Aku takkan mempertanyakanmu. Kau pun takkan mempertanyakanku.
Mulai hari ini, kau saudara Murad Khan.
Tanamkan api ini dalam hatimu.
Bagaimana dengan Aman? Bagaimana dengan adikku?
Apa yang terjadi padanya?
Ia sudah mati./ Tidak!
Tidak boleh. Kau harus hidup, Aman!
Demi aku, demi ibu.
Kau tak boleh mati demi mereka! Kau harus ikut denganku.
Tak ada yang bisa menghentikanmu, Aman! Ayo!
Kau terbawa emosi. Aku tak bisa pergi.
Jika kau tak mau, akan kulaporkan ke polisi!
Akan kuekspos seluruh kelompokmu./ Polisi tak bisa menemukan kami.
Aman, jangan menentangku. Sebelum aku berangkat...
...aku bersumpah akan membawamu pulang jika kau masih hidup.
Kau ikut denganku! Sekarang!/ Cobalah mengerti, Kak.
Aku tak bisa kembali.
Kau akan ikut. Sekarang!
Kita lihat siapa yang akan menghentikanku.
Ayo, Aman!
Cobalah mengerti, Kak./ Ayo!
Jangan!
Utang harus dilunasi. Biarkan ia pergi.
Tunggu.
Ibu.
Allahu Akbar!
Alhamdulillah!/ Ibu.
Ibu.
Ibu.
Dari mana saja kau?
Apa kau tak ingat Ibu?
Seharusnya kau menelepon Ibu.
Maafkan aku, Bu.
Siapa yang menghentikanmu untuk kembali?
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Pertama, berjanjilah untuk tidak meninggalkan Ibu.
Tidak sampai Fiza menikah.
Tidak sampai Ibu meninggal, kau boleh pergi ke mana pun.
Tidak akan.
Itu sebuah janji?
Kau sudah dewasa!
Masya Allah! Kau bahkan berjenggot.
Nak, kau bahkan tak menulis surat untuk Ibu!
Bagaimana kau bisa tidur tanpa bilang "selamat malam" pada Ibu?
Kau kelihatan lemah! Haruskah Ibu ambilkan makanan?
Kau mau makan?/ Aku telah terjaga begitu lama.
Aku mau tidur sebentar./ Putraku!
Berisik sekali!
Bibi, aku juga mau.
Makanlah permen ini. Putraku telah kembali.
Aman, mari kita bermain./ Tidak. Kau saja yang main.
Kenapa? Kau sudah dewasa, ya?
Untuk apa semua ini, Bu?/ Untuk apa? Ini hari yang baik!
Ibumu sangat bahagia hari ini!
Aman, ayolah.
Ayo, Bu, mari kita nyalakan petasan.
Ayo!
Kualifikasimu bagus. Tapi, entahlah.
Kurasa aku pernah mendengar namamu di suatu tempat.
Apa kau Fiza Ikramullah yang menciptakan kehebohan...
...di koran dan televisi tentang adikmu itu?/ Benar.
Benar?/ Ya.
Kau tahu, perusahaan kami terkenal di dunia.
Kami tak mau ada masalah.
Masalah apa?/ Kau tampak cerdas dan giat.
Juga menarik.
Bagaimana kalau kita bertemu malam ini?
Makan malam, dll. Kemudian...
...akan kuberi kebahagiaan.
Jauhkan ide kotor itu darimu.
Halo? Aku suka ketenangan ini.
Cocok untuk saat berlibur.
Tempat ini memang tenang./ Terkadang kupikir...
...pasti menyenangkan jika kita tak pernah dewasa, 'kan?
Kita tetap akan hidup tanpa aturan.
Kita akan diomeli jika makan paani puri.
Kita tetap punya impian membingungkan,...
...harapan yang tak kita yakini.
Dan ingin cepat dewasa!/ Sedang bernostalgia?
Memang betul, 'kan?
Semua masalah ini dimulai setelah kau dewasa.
Andai kita tak pernah dewasa, takkan ada masalah ini.
Kau tak menyukai Anirudh?/ Entah.
Aku takut untuk bertanya pada diri sendiri.
Turuti nasihatku. Nikahi dia. Bermigrasi ke negara lain.
Takkan ada yang bertanya apa agamamu.
Meski kau memiliki agama.
Semua orang di dunia ini butuh dukungan,...
...dan tak ada dukungan yang lebih baik selain cinta.
♪ Kau adalah udara, musim, kau bukan milik bumi ini ♪
♪ Jika kau adalah awan, mengapa kau tidak hujan? ♪
♪ Seperti burung yang bebas kau terbang ♪
♪ Pulanglah untukku ♪
♪ Seperti udara, aku tidak menunggu ♪
♪ Meskipun aku berhenti, aku tidak tinggal ♪
♪ Saat terbang dengan sayapku aku berkelana ♪
♪ Aku tak memiliki rumah ♪
♪ Dari rumahku di sebuah pohon ♪
♪ Hembusan angin telah membawaku ♪
♪ Seperti daun kering, angin membawaku ke mana-mana ♪
♪ Datanglah ♪
♪ Datanglah padaku sekali saja ♪
♪ Mari kita melambung di tanah ♪
♪ Mari kita melangkah di angin ♪
♪ Mari kita terbang ♪
♪ Mari kita terbang ke tempat yang tak ada jalan tujuan ♪
♪ Di mana tak ada yang tinggal ♪
♪ Hanya di matamu aku akan temukan tempat seperti itu ♪
♪ Kau adalah udara, musim, kau bukan milik bumi ini ♪
♪ Jika kau adalah awan, mengapa kau tidak hujan? ♪
♪ Seperti burung yang bebas kau terbang♪
♪ Pulanglah untukku ♪
♪ Seperti udara, aku tidak menunggu ♪
♪ Meskipun aku berhenti, aku tidak tinggal ♪
♪ Saat terbang dengan sayapku aku berkelana ♪
♪ Aku tak memiliki rumah ♪
Aku tak pernah mampu memberitahumu segalanya.
Aku telah merekamnya untukmu.
Kau akan mengerti setelah mendengarnya.
Ambillah./ Tidak.
Kau lihat apa, Fiza?
Politisi itu. Mereka ada di mana-mana.
Tenang. Lupakan politisi itu.
Begini. Kau jangan mudah menilai.
Kau bahkan tak bersosialisasi.
Ada juga orang yang baik. Kau harus bertemu mereka.
Akan ada pesta di hari Sabtu. Kau mau datang?
Kau pergi saja sendiri./ Tak ada salahnya bertanya.
Dan kalau kau mau, datanglah pukul 18:00.
Dah./ Dah.
Kau dari mana, Kak?
Apa maksudmu?
Apa aku tak berhak bertanya?
Kau mau tahu siapa dia, apa pekerjaannya?
Dia temanku. Anirudh. Saat kau meninggalkan kami...
...ia yang selalu ada di sisiku.
Apa masalahmu?
Kau Aman, bukan?/ Kau benar.
Aman, tak perlu marah padaku. Jika kita saling mengenal...
...kita bisa menjadi teman.
Aku kemari bukan untuk mencari teman.
Katakan saja, kenapa kau menemui Fiza?
Dengar, Aman. Niatku ini tulus.
Aku ingin menikahi Fiza./ Apa dia tahu?
Tidak.
Dan kau pikir kau cukup baik bagi Fiza?
Agak. Sedikit.
Ini bukan soal kurang atau lebih. Ini masalah hidup kakakku.
Katakan. Menurutmu apa yang akan membuat Fiza bahagia?
Bagi Fiza, kau dan ibu adalah segalanya. Aku tahu itu.
Kau yakin tak mau kebahagiaannya akan menghilang selamanya?
Kau jangan pernah temui Fiza lagi.
Paham?
Baiklah.
Jika ini maumu, akan kulakukan. Aku kalah.
Kau menang.
Kutarik kembali kata-kataku.
Berjanjilah. Kau akan selalu membahagiakan Fiza.
Kau akan selalu menjaga kakakku dan ibuku.
Selalu.
Aman, kau sedang apa?/ Tidak ada, Bu.
Hanya sedang membakar lukisan lamaku.
Biar Ibu simpan saja.
Ibu sangat khawatir padamu. Kau bahkan tak bicara dengan Ibu.
Apa kau sudah lupa cara tersenyum?
Akan Ibu tunjukkan caranya.
Mau Ibu tunjukkan caranya?
Teman-teman, kita akan tertawa seperti biasa...
...tapi dengan teknik baru.
Jika diperhatikan semua orang tertawa punya gayanya sendiri.
Sebagian ada yang bisa membuatmu tertawa.
Seperti penjaga di klub kita yang berasal dari Nepal.
Kalian takkan tahu ia tertawa atau menangis.
"Pak, aku harus pergi". Itu salah satu jenis tertawa.
Seorang temanku dari Punjab.
"Bagus sekali!"
Mendengar ia tertawa, seolah ia akan pergi berperang.
Pak Mehta dari Gujarat. Saat ia tertawa...
Kau bisa bayangkan "Tarian Garba" dari cara ia tertawa.
Dan seorang pria Maharashtrian tertawanya seperti ini...
Dia sedang mengunyah tembakau, dan itu sambil tertawa.
Sibuk dengan tembakaunya, tapi tetap saja tertawa.
Ada temanku Subramanyam dari Madras...
Kau harus menyumbat mulutnya untuk menghentikan ia tertawa.
Jadi kuberi tahu teman-teman, tertawalah dengan bebas.
Tertawa seperti orang-orang Punjab...
Seperti orang-orang Madras...
Tertawa itu sangat menguntungkan.
Dunia tak berarti, jika tidak tertawa.
Teruslah tertawa, dan tertawa.
Klub "Ha-Ha Hi-Hi Ho-Ho" ini sangat istimewa di kota ini.
Bersenang-senanglah selagi ibu berbelanja.
Mau apa aku di sana sendirian?
Ibu harus pergi ke pasar, Nak.
Baiklah.
Selamat datang! Mari bergabung.
Kita tak mengeluarkan biaya untuk tertawa.
Kuceritakan tentang orang-orang. Contohnya bintang film kita.
Seperti Shah Rukh Khan...
Cara tertawa dia pelit.
Ia tertawa kemarin. Suaranya baru keluar sekarang.
Anil Kapoor...
Seperti iklan pasta gigi. Itulah gaya masing-masing orang.
Govinda seperti ini...
Kau bisa menghitung giginya, selagi ia tertawa.
Ada begitu banyak jenisnya. Seperti Amrish Puri...
Di hutan, ia bisa mengusir hewan-hewan liar.
Dan bayi takkan mau dilahirkan kecuali ia berhenti tertawa.
Bill Clinton yang terkenal tertawa seperti ini...
Seolah ia memberi bantuan pada dunia!
Smiley, suruh siapa kau mendirikan klub di sini?
Pergilah!
Cukup. Enyahlah.
Hentikan! Apa kalian tak ada kerjaan selain berkelahi?
Kau? Dari mana asalmu?/ Kau mau dihajar?
Kumohon! Kami akan pergi. Kami tak mau cari masalah.
Berani melotot?/ Kau dinafkahi kakakmu...
...dan kau menasihati kami?
Aku takkan melepaskanmu!/ Takkan kami lepaskan!
Kami tahu! Kau membunuh sebelum melarikan diri.
Lari!
Lukanya dalam. Jangan dibuka perbannya.
Terima kasih, Dok.
Jaga dirimu.
Aman!
Shehnaz.
Salim, ini Aman. Yang pernah kuceritakan.
Orang yang dulu mengganggumu? Kenapa kau mengejar istriku?
Andai aku tak mengganggunya, akankah dia menikahimu?
Dia akan menikahiku.
Itu intinya. Tapi dari mana saja kau? Kau tak datang ke pernikahan kami.
Aku tak bisa datang tepat waktu.
Omong-omong, senang bertemu kau.
Pak./ Ya?
Dokter memanggil Anda./ Permisi.
Apa kabar, Shehnaz?
Baik.
Kau tak berpamitan sebelum pergi.
Andai kau menjelaskan...
...aku bisa menunggu.
Maaf, Shehnaz. Aku tak bisa membuat impianmu terwujud.
Kumaafkan.
Kenapa para wanita memiliki hati yang begitu besar?
Kakak, ibu, semuanya memaafkanku. Tak ada yang mengatakan apa pun.
Aku mengatakan. Di hari aku bertunangan,...
...aku berdoa kepada Allah.
Kataku, biarkan Aman berdiri di hadapanku,...
...biarkan ia melihatku menikah dengan orang lain.
Dan biarkan ia memintaku memaafkannya.
Hari ini, keinginanku terwujud.
Shehnaz! Dokter telah mengkonfirmasi!
Ucapkan selamat padaku. Aku akan jadi seorang ayah!
Selamat.
Ayo, Sayang.
Siapa aku? Apa yang kulakukan? Aku belum berbuat apa-apa!
Tak ada bisa kutawarkan kepada siapa pun.
Aspirasi yang kumiliki...
...keadaan telah mengambilnya dariku.
Aku beban bagi ibu dan kakak. Mereka bertahan denganku...
...karena mereka mencintaiku. Aku tak layak atas cinta mereka.
Aku hidup dalam kebohongan!
Jika ibu tahu kebenarannya, apa yang akan ia lalui?
Orang berpaling meski aku mencari pekerjaan sambilan.
Aku tak peduli dengan kasta, keyakinan dan agama.
Yang kupedulikan hanya saran dari Murad Khan.
Aku tidak akan lemah.
Ketidakadilan yang kuderita,...
...takkan kubiarkan siapa pun menderita.
Anonimitas adalah identitas yang lebih baik.
Aku akan kembali.
Assalamualaikum.
Siapa yang bilang aku di sini?/ Tidak ada.
Kupikir seperti tahun lalu, kau akan ke Bombay, kali ini juga.
Kenapa kau datang?
Aku membuat kesalahan, pergi tanpa memberitahumu.
Itu kesalahan kami. Merekrut pahlawan sepertimu.
Apa maumu?
Kau benar. Di sini, jangankan hidup terhormat...
...orang bahkan tak bisa mati dengan martabat.
Benarkah?
Apa maumu?
Aku--
Aku ingin bergabung lagi./ Aku tak mau ada kesalahan lagi!
Kau membuat ini bagai lelucon! Apa ini permainan kriket?
Bisa masuk dan keluar dari tim sesukamu?
Lelucon!
Kenapa kau masih hidup? Karena kau dilindungi Murad Khan.
Hanya karena itu. Kesalahan itu lagi? Tidak!
Aku rela melakukan apa pun! Aku merasa terkurung di sini!
Aku tak tahu harus ke mana dan berbuat apa!
Ambillah. Siapa pun keluargamu, ibumu, kakakmu...
...berikan kepada mereka.
Tapi kali ini, kau jangan melihat ke belakang.
Pergilah.
Gitanjali, dengar--
Hai./ Hai.
Terima kasih sudah datang.
Kau sangat cantik.
Aku tak bisa menolak Gitanjali.
Kuyakin dia menyuruhmu berpakaian begini, 'kan?
Aku sangat bersyukur./ Cuma untuk kali ini.
Aku sangat tahu Gitanjali.
Aku juga tahu ia menggoda seseorang di pintu masuk.
Sebelum ia kembali, ayo kita menari!
Tidak, terima kasih.
Sampai kapan kau akan bilang tidak?
Aku muak! Kau hanya peduli pada Aman.
Tapi aku peduli padamu. Sekarang pun kau tampak tegang.
Aku merasa baik saja./ Lupakan.
Tak bisakah kau sedikit bersenang-senang seperti gadis lain?
Kau tak berhak bicara seperti itu padaku.
Kau sebut ini bersenang-senang?
Kau mau aku seperti mereka?
Baiklah. Jika kau ingin bersenang-senang, lihat saja.
♪ Jika aku mulai nakal ♪
♪ Apa yang akan terjadi padamu? ♪
♪ Rumahmu terbuat dari kaca Bagaimana jika kulemparkan batu? ♪
♪ Aku akan melihat ke dalam matamu ♪
♪ Aku akan membuat hatimu berdebar ♪
♪ Aku akan membuatmu pingsan ♪
♪ Tapi bagaimana jika kau keberatan? ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan melihat ke dalam matamu ♪
♪ Aku akan membuat hatimu berdebar ♪
♪ Aku akan membuatmu pingsan ♪
♪ Tapi bagaimana jika kau keberatan? ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku tertahan ♪
♪ Itu sebabnya aku terlambat ♪
♪ Tapi aku membawakanmu hadiah, dengan cinta ♪
♪ Aku tertahan ♪
♪ Itu sebabnya aku terlambat ♪
♪ Tapi aku membawakanmu hadiah, dengan cinta ♪
♪ Hati terbuat dari kaca ♪
♪ Tapi bagaimana jika pecah? ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Di setiap langkah dalam hidup ♪
♪ Menyembunyikan kebohongan ♪
♪ Semuanya sama, tapi ♪
♪ Aku memiliki keyakinan dalam diriku ♪
♪ Di setiap langkah dalam hidup ♪
♪ Menyembunyikan kebohongan ♪
♪ Semuanya sama, tapi ♪
♪ Aku memiliki keyakinan dalam diriku ♪
♪ Tapi bagaimana jika kau keberatan? ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
♪ Aku akan menari meskipun payal-ku jatuh ♪
Apa kau senang, Tn. Anirudh?
Maaf. Fiza lebih baik menjadi dirinya sendiri.
Aku tak mau ia berubah.
Apa yang selalu kaurenungkan?
Jika ingin menghabiskan waktu, carilah pekerjaan.
Aku lebih suka kau menyelesaikan pendidikanmu.
Untuk apa menyia-nyiakan waktu selama bertahun-tahun ini.
Aku tak menyia-nyiakan waktu. Kau tak pernah memahamiku, Kak.
Mungkin takkan pernah. Maksudku, aku bukanlah orang tak berguna.
Aku punya sesuatu, yaitu tujuan.
Aku mengerti segalanya. Aku tahu yang ada di hatimu.
Takkan kubiarkan kau kembali, Aman.
Jika kau ingin mengantar sebuah revolusi,...
...kau harus tahu penderitaan orang-orang.
Bersatulah dengan mereka./ Aku tak mau berdebat, Kak.
Kenapa kau menasihatiku?/ Karena aku ingin melihat...
...Aman yang dulu menjadi adikku. Apa kau pernah berpikir...
...seberapa banyak kau berubah?/ Tidak. Keadaanlah yang berubah.
Ingat, Kak? Kita biasa bermain di sini saat masih anak-anak,...
...kita biasa bertengkar.
Itu sangat menyenangkan.
Kak, aku punya satu permintaan. Tolong jangan menolak.
Apa maumu?
Apa ini?
Bukalah.
Tak bisakah seorang adik berbuat banyak untuk kakaknya?
Tapi--
Biarkan perhiasan keluarga berada di tempat seharusnya.
Demi masa kanak-kanak yang kita habiskan bersama,...
...demi kenangan kita, janganlah menolak ini.
Tapi, Aman--
Sekali saja, peluklah aku, Kak.
Aku berutang penjelasan ini.
Suatu saat nanti kita harus beri tahu ibu.
Ada apa bisik-bisik?/ Tak ada apa-apa, Bu.
Tak masalah. Suatu saat nanti Ibu akan tahu.
Menjaga rahasia itu menyenangkan!
Haruskah kuberi tahu rahasia Ibu?
Bahkan Ibu pernah berbuat licik.
Terkadang, Ibu mencuri lipstik dan bedaknya Ulfat Jaan.
Untuk menghibur diri, Ibu pindahkan posisi anting hidung.
Terkadang, Ibu memasak manisan untuk sendirian diam-diam.
Ternyata kau di sini! Cepat! Nyalakan TV-nya.
Ada sesuatu di acara TV./ Astaga! Nyalakan.
Dasar bodoh! Bikin khawatir saja!/ Aku khawatir akan melewatkan lagu ini.
Kau tak pernah berubah.
Ayo, Bu.
Bawa dia./ Apa yang kalian lakukan?
Lepaskan aku!
Berhenti! Kubilang berhenti! Mau dibawa ke mana dia?
Dia membunuh selama kerusuhan. Tiga orang.
Aman, jangan khawatir. Akan kupanggil pengacara.
Enyahlah!
Kau cari masalah dengan kami? Kau membakar motorku!
Lepaskan dia!/ Lihat? Itulah balasan kami.
Kau mudah marah, bukan?/ Enyahlah!
Di sana, mereka akan menenangkanmu./ Enyahlah!
Hei, wanita sial! Suruh anakmu ucapkan selamat tinggal./ Pergi!
Minggir./ Hei, Raspberry.
Tinggalkan aku!/ Aku masih di sini. Kenapa cemas?
Bermainlah dengan kami!
Beraninya kalian bicara begitu pada kakakku!
Kakakku!
Dasar bajingan!
Lepaskan, Aman!
Aman, lepaskan!
Beraninya kalian melecehkan kakakku!
Aman!
Pak! Tolong aku!
Aman!
Bu, makanlah sesuatu. Ibu belum makan dari tadi malam. Nanti Ibu sakit.
Aku sudah bicara dengan pengacara. Mengingat catatan kejahatan korban...
...Aman takkan mendapat hukuman berat. Mereka preman. Membuat kerusuhan.
Ibulah yang seharusnya mendapat hukuman berat.
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk anakku.
Anakku, Amanku.
Dibawa pergi di depan mataku, dan aku hanya melihat.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Nak, saatnya perpisahan.
Tutuplah wajahnya.
♪ Jangan bawa dulu peti matinya ♪
♪ Itu temanku ♪
♪ Jangan bawa dulu peti matinya ♪
♪ Itu temanku ♪
♪ Tanahnya masih hangat ♪
♪ Tubuhnya masih segar ♪
♪ Tanahnya masih hangat ♪
♪ Tubuhnya masih segar ♪
♪ Jangan bawa dulu peti matinya ♪
♪ Itu temanku ♪
♪ Bangunkanlah ia ♪
♪ Biarkan aku mengucapkan selamat tinggal padanya ♪
♪ Pamitan macam apa ini? ♪
♪ Perpisahan macam apa ini? ♪
♪ Masih ada kesedihan tersisa yang belum dijalani ♪
♪ Jangan bawa dulu peti matinya ♪
♪ Itu temanku ♪
♪ Tanahnya masih hangat ♪
♪ Tubuhnya masih segar ♪
Kakak. Kakakku tersayang.
Untuk selamanya, Fiza (Musim) telah berlalu, akan selalu berlalu.
Tapi kau tak harus berubah. Ini adalah dunia kejam, Kak.
Yang memaksamu untuk berubah. Tapi kau tak harus berubah, Kak.
Ibu belum pergi, Kak. Ia bersama kita.
Ia akan selalu bersama kita. Aku masih bisa mendengarnya tertawa.
Disadari atau tidak, aku telah sangat menyakitimu.
Jika kau mampu, lupakanlah aku. Dan mulailah kehidupan baru.
Jangan meragukanku, Pak Syed. Berkat Anda...
...keponakanku Nathu menjadi Pemimpin Serikat.
Aku tak meragukan Anda. Aku hanya penasaran, aku di sini...
...sedangkan Anda di sana di hotel bintang lima!
Ini hal yang mutlak. Kita membentuk pemerintahan.
Kita adalah mayoritas. Partai lain juga mendukung kita.
Jika orang Muslim ikut bergabung, keadaan kita akan sempurna.
Anda tahu seberapa banyak orang Muslim yang mendukungku?
Sampai sekarang, di negara ini, Anda adalah orang...
...yang paling berpengaruh di antara pemimpin Muslim.
Dan 15-20 juta orang sudah siap memberikan hidup mereka untuk Anda.
Anda sangat bijaksana.
Apa Anda tahu harga dukungan 15-20 juta kehidupan?
Apa pun perkataan Anda, aku akan meyakinkan partaiku.
Tentu Anda takkan menawarkanku Kepala Bagian Kepemimpinan, 'kan?
Bagaimana kalau Kementerian Dalam Negeri?
Aku sudah menjanjikan Kementerian Dalam Negeri pada--
Oposisi juga terus meneleponku. Mereka menawarkan--
Aku terima.
Mari berjabat tangan./ Mari berpelukan!
Jadi, di hari Idul Fitri kami tetap bisa berdoa di kuil kami.
Subhanallah!/ Jai Sri Ram!
Aliansi ini bisa menyebabkan kerusuhan.
Itu akan bermanfaat bagi kita.
Kenapa kita mengubah rencana kita?
Akankah pemilihan umum menunggu kita?
Jika musuh berkuasa, kita hanya bisa menangis.
Bagi kita, sangat penting memberikan serangan pertama.
Aliansi dalam pemerintahan itu palsu!
Di negeri ini, hanya ada kebenaran. Ini! Hanya ini!
Entah itu negara ataupun politik, semuanya diatur oleh ini.
Saat ini bicara, semua orang mendengar.
Tapi untuk melakukannya kita perlu izin dari kantor pusat.
Tak perlu izin. Perintah!
Dan aku yang memberi perintah. Ada masalah?
Siapa yang akan melakukannya?/ Aku tahu.
Apa kau memikirkan anak itu?/ Ya, dia rekrutan baru.
Dia tak dilatih untuk misi ini. Dia belum melakukan pekerjaan besar.
Semuanya pekerjaan kecil.
Tapi tak semua orang memiliki apa yang ia miliki.
Dia memiliki kegilaan dalam dirinya./ Ini terlalu berisiko!
Persiapkan dia.
Sekarang kau harus kuat. Ini ujian terbesarmu.
Yang pernah terjadi padamu akan terjadi lagi.
Kau bisa hentikan kerusuhan lain. Bersiaplah, Aman.
Atau, orang lain sepertimu akan terbunuh hidup-hidup.
Lakukan, Aman. Jangan biarkan kesalahan itu terjadi lagi.
Paham?
Minta restunya, Kak./ Restuku bersamamu.
Kak, aku melihat Aman.
Di mana? Di mana dia?
Pagi tadi aku pergi menemui dokterku di Mahim.
Aku melihatnya dekat Kuil Ming./ Apa yang kaukatakan?
Penglihatanku tak mungkin salah. Dia ada di sana.
Kenapa tak bicara dengannya? Kenapa tak menghentikannya?
Aku sedang bersama suamiku.
Tolong. Jaga dirimu./ Terima kasih, Shehnaz.
Siapa kau?
Bukan siapa-siapa./ Apa itu "bukan siapa-siapa"?
Setiap orang punya nama, bukan?
Siapa namamu?/ Uday.
Uday, sekarang pulanglah.
Tak ada harapan, Pak! Mereka tewas di tempat.
Hei, apa yang terjadi?
Tunggu.
Halo./ Beres?
Beres.
Habisi dia./ Baik.
Aman!
Aman!
Aman!
Letakkan senjatanya, Aman.
Aku pernah melakukannya.
Letakkan, Aman./ Apa gunanya?
Orang lain akan memungutnya.
Terlalu banyak kebencian, Aman! Lupakan semuanya. Masih ada waktu.
Ini adalah kebencian./ Ini bukan kebencian.
Ini protes melawan kebencian.
Dan yang mati dalam Jihad disebut Syahid.
Jihad artinya berjuang untuk kebenaran.
Dan kebenaran tujuannya demi negara ini. Seharusnya begitu.
Di Al Qur'an tertulis, membunuh itu demi memperjuangkan kebenaran!
Dan kau mengingkari hal itu? Mujahid macam apa kau?
Ubahlah jalanmu, Aman. Masih ada waktu.
Pada akhirnya, keadilan akan menang./ Keadilan macam apa, Kak?
Itukah yang terjadi padaku 6 tahun lalu? Itu keadilan?
Orang seperti Singh dan Syed, apakah mereka benar?
Mereka bisa mengubah segalanya agar lebih baik. Tapi tidak dilakukan.
Mereka punya kekuatan.
Tapi mereka gunakan untuk membuat kita berselisih.
Agar mereka bisa pertahankan posisi dan kursi mereka.
Jika mereka itu benar, maka aku telah berdosa.
Aku murni.
Aku tak pernah bayangkan memegang senjata ini.
Ini hanya datang sebagai garis takdir di tanganku.
Kenapa jadi begini, Aman?
Kebahagiaan kita telah direnggut.
Atau mungkin tawa kita telah dikutuk.
Waktu di saat kau menyayangi dan memarahiku.
Sayang itu masih ada.
Ya.
Setiap hari Minggu, kita biasa membeli buah asam.
Kau akan memijat kepalaku dengan minyak rambut.
Dan kau takkan mengadukan kesalahanku pada ibu.
Atau, ia akan menamparmu.
Jangan ingatkan aku.
Jangan ingatkan aku, Aman.
Kak, pergilah sekarang.
Tidak!/ Polisi sedang kemari!
Aku takkan meninggalkanmu./ Pergilah!
Pergilah!
Berikan senjatanya.
Berikan senjatanya, Aman. Berikan padaku!
Baiklah. Tapi dengan satu syarat.
Syarat apa?
Lihat aku, Kak.
Lihat Aman-mu.
Entah polisi itu akan menembakku,...
...atau mungkin akan menggantungku.
Ini hanyalah drama komedi. Orang akan senang melihatku mati.
Sedikit yang mereka tahu...
...bahwa di jalanan kota ini aku sudah mati di malam itu.
Kau takkan biarkan mereka membawaku, Kak.
Berjanjilah.
Aman.
Tak ada yang bisa kubanggakan dalam diriku.
Setidaknya, biarkan aku mati dengan terhormat.
Ambil ini, Kak.
Tak ada jalan keluar bagiku, Kak.
Ambil senjatanya.
Aman..
Tidak./ Ambil senjatanya.
Tidak.
Ambillah.
Ibu pasti kesepian.
Aku ingin menemui ibu.
Aku ingin berbaring di pangkuannya.
Aku lelah.
Biarkan aku pergi./ Aman.
Biarkan aku pergi, Kak.
La Ilaha Illallah...
...Muhammadur Rasulullah.
Selamat tinggal, Aman.
Nak, cepatlah pulang.
Ibu mengkhawatirkanmu.
Ya Allah, beri aku keberanian.
Ada kabar tentang anakku?/ Tidak ada. Berikutnya!
Alih Bahasa: Alex Lieswan
http://subscene.com/u/736223
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.