Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ampuni saya! Tolong jangan bunuh saya.
- Ibu! Ibu! - Tenang!
Kenapa kamu kemari?
Kamu harus segera pergi dari sini. Mereka akan membunuh kamu.
Sana bantu selamatkan yang lain.
Bantu lepaskan yang lain.
Awas, hati-hati.
- Ayo! - Ayo cepat!
Kamu harus ikut aku sekarang.
Kita pergi dari sini.
Mereka di bawah.
Mereka di bawah.
Tolong dengarkan aku. Kita harus pergi.
Tolong, tolong dengarkan aku satu kali ini saja.
Selamatkan diri kamu.
Tunggu!
Tangkap semua orang yang ada di rumah ini!
Bunuh semua orang Belanda!
Bawa dia!
Matsuya... Matsuya!
Saya mohon bebaskan kami semua.
Kalian janji akan membantu kami semua.
Kami?
Kamu pikir kamu siapa?
Saya sudah membantu kalian.
Saya sudah memberikan semua informasi yang kalian minta.
Saya sudah mengkhianati bangsa saya sendiri.
Saya mohon...
Jangan biarkan kami mati di tanah kami sendiri.
Belanda Bodoh.
Kamu bukan penduduk asli di negara ini.
Kamu akan mati malam ini di tanah saya.
Ayo cepat!
Ayo cepat, cepat!
Jam 14.03.
Aku bosen, Kak.
Terus?
Main tebak-tebakan yuk.
- Tebak-tebakan apa? - Jari.
- Yang kemarin? - Ya.
Yaudah.
- Gak boleh megang. - Kak Ambar gak bisa lihat.
- Jangan jauh-jauh, Dika. - Ini, Kak Ambar.
Curang, gak boleh megang.
Lima, 'kan?
Kak Ambar salah.
Curang. Lagi, lagi, lagi.
Ini berapa, Kak?
Gak boleh.
- Dua, 'kan? - Kak Ambar benar.
- Maksudnya salah. - Tuh, 'kan, Dika curang.
Males Kak Ambar main sama Dika.
Aku gak curang. Emang sebelas jawabannya.
Kenapa bisa sebelas?
- Satu, satu. Sebelas. - Tuh, 'kan?
Kak.
Kak Ambar.
Gak ada siapa-siapa Kak di belakang.
Gak usah diliatin, Kak.
Di kota gak ada nih sawah-sawah kayak gini.
Kita udah tanjakan belum?
Belok kiri, Kak.
- Belok sini? - Ya.
Masih jauh ya, Dik?
Panti Jompo
Masuk ke jalanan itu, Kak. Tapi kayaknya masih jauh.
- Kamu capek gak? - Belum, Kak.
Hati-hati, Kak. Ada mobil, Kak.
Sini.
Hati-hati, Kak. Ada mobil.
Ayo, Kak. Lewat sini, Kak.
- Terima kasih ya. - Hati-hati di jalan.
Ambar! Dika!
Bu!
Sini, sini, sini!
Sini.
- Maaf ya. - Gak apa-apa.
- Hei, lo apa kabar? - Baik.
Bi Wati, penghuni panti yang lain pada kemana?
Kalo lagi lebaran, emang sebagian banyak yang pulang.
Jadi yang tinggal di sini udah tinggal sedikit.
Yuk masuk, yuk.
Wah, gede banget!
Agus, tolong ya anter mereka ke kamarnya ya.
Bi Wati tinggal dulu ke belakang.
Ayo, Ambar.
Dika, ayo.
Nah jadi ini kamar kalian berdua.
Asik ini!
- Ayo, Ambar. - Gede juga Kak kamarnya.
Aku tidur di mana ya?
Dik, jangan diberantakin dulu ya?
Ya, Kak.
Ayo.
Senang banget kayaknya dia.
Hei, Ambar. Semoga lo sama Dika betah di sini ya?
Ambar, sebentar ya.
Ada piano!
Cuma lagu itu Kak yang aku tahu.
Jangan berisik, Dika.
Foto apa nih?
- Siapa yang datang? - Itu cucunya temannya Wati.
Yang namanya Ambar itu, 'kan?
Dika.
Kayaknya panti ini dibuka tahun 70-an deh.
Bapaknya ibunya sudah gak ada karena kecelakaan.
Jadi mereka mau tinggal di sini.
Ambar, Dika, yuk Bik Wati kenalin nih sama semua.
Kenalin ini Kakek Farid. Ini Oma Ida.
Ayo, Ambar. Ayo masuk, masuk.
Salim semuanya ya, Dika.
Ini Nenek Ani.
- Halo, Kek. - Ayo Dika sini, duduk samping Oma.
Sini duduk, Sayang.
Apa?/ Ya, Oma.
Sini Ambar, ini salam dulu nih sama Nenek Ani.
Halo, Nek Ani.
Duduk di sini yuk.
Hadap sini ya.
Kamu buta?
Ani, jangan bicara begitu.
Dia bisa liat.
Gak apa-apa, Nek. Masih bisa liat tapi gak sejelas orang lain.
Burem banget.
Sama. Sama kayak Kakek dulu.
Suka burem-burem kalo ngeliat.
Itu, 'kan, karena Kakek kebanyakan minum.
Bisa aja kamu!
Oh ya, Ambar, kenalin ini Rina.
Dia yang ngerawat kita semua di sini.
Mba Rina.
Rina, sini deh.
Sempet istirahat kalian?
Enggak.
Aku sekalian pamit ya?
Maaf ya tahun ini aku gak bisa lebaran sama kalian semua.
Ya gak apa-apa ya, Oma?
- Agus. - Ya, Bu.
- Titip mereka semua ya. - Ya, Bu.
- Hati-hati ya, Bu. - Ya, oke.
- Dadah. - Dah.
- Aduh Si Wati kenapa cepat pulang ya? - Dah, Oma!
Cucuku...
Oma!
Maaf ya, Oma, aku baru dateng.
Kamu harus tidur di sini seminggu sampai lebaran.
Siap, oke, Oma.
Arthur, sapa yang lain.
Hai, semuanya.
Kalo ada yang cantik gini sih, sebulan di sini juga betah aku.
Dia baru dateng...
Hei!
Lo ngapain pegangan tangan?
Enggak.
- Gimana kabar lo? - Baik.
Dika.
Ini cucu kesayangannya Ida. Kesayangan Oma Ida.
Tapi jarang ke sini.
- Kayaknya gak puasa? - Oh iya.
Cucuku memang tidak puasa.
Kak. Tangkep, Kak.
- Sekali lagi ya, Oma. - Oke.
Hati-hati loh. Inget udah tua, Kek.
Sori, Rina.
- Hati-hati, Kek. - Senyum, Oma. Senyum.
- Nambah lagi, Kek! - Dika!
Lo buka, terus lo masukin coba.
Pelan-pelan ya. Masukin ke sini.
Ya, bisa.
Pelan-pelan.
Bisa, 'kan?
Emangnya lo masih bisa liat?
Bisa kalo sedekat ini mah.
Gue salut banget sama lo.
Bokap nyokap lo udah gak ada, lo harus jagain Dika.
Gak nyangka banget gue.
Tuh, 'kan, tumpah.
Gak apa-apa, tar gue beresin.
- Serius? - Ya, makanya pelan-pelan.
Oh ya, Ambar.
Sori ya.
Waktu itu gue gak bisa dateng buat nguburin.
Gak apa-apa, gue ngerti kok.
Lagian gue yang seharusnya berterima kasih. Lo sama Bi Wati masih nerima gue di sini.
Yaelah apaan sih. Justru kita semua itu senang lo di sini.
Biar tempat ini rame.
Yak gak, Rin?
Agus!
Boleh tolong bawain jam Oma yang ada di dapur?
Oke, Oma.
Ambar, sini deh.
Ini taro dulu.
Ini.
Kalo misal ada suara bel bunyi, itu tandanya ada yang butuh bantuan kita.
Nah kalo lo butuh bantuan, tinggal pencet bel ini.
Oke.
Rin?
Kenapa?
Ngapain sih pegang tangan kayak gitu?
Itu sahabat aku dari kecil.
Taro di situ. Bukan di situ.
Kenapa sih kamu?
Setan itu selama bulan puasa dikurung.
Jadi ini juga harus kita simpen biar rapih.
Kalo gitu foto dulu sama minumannya, Kek.
Dika! Angkat, Dik!
- Satu, dua... - Jangan, jangan, jangan.
- Bahaya. - Kakek gak asik deh.
Enggak. Gak boleh.
Kamu main ini ya. Sekarang tangkap ini.
Kejar!
Bentar, Dika. Bentar, foto dulu dong.
Satu, dua, tiga.
Kek. Coba tangkep, Kek.
- Oma. - Ya?
Sini, Kek. Sini.
Kakek.
Ayo masuk, udah mau ujan.
Kek! Frisbee-nya, Kek.
Biarin aja, besok aja diambil. Ini mau ujan.
Beneran nih, Kek?
Arthur, jemput Dika.
Dika!
Kamu ngapain di sini sih? Ini udah mau ujan. Masuk yuk.
Frisbee-nya masuk ke dalam sana, Kak.
Tuh, 'kan, ujan.
Ditinggal aja ya.
Kita ambil aja deh, Kak.
Yaudah, cari pintunya yuk.
Pelan-pelan, hati-hati.
Nah ini dia pintunya.
Dika!
Kak Ambar?
Ya ampun!
Ngapain sih tuh anak di situ?
Dik!
Sini, Kak!
Dik!
- Dika! - Kak Ambar!
Aduh ujannya deres banget, masuk dong!
Dika!
Dika!
Dika.
Si Arthur, ya?
Nyebelin banget sih!
- Gitu aja kaget! - Kak dia dobrak pintunya.
Bi Wati selalu ngunci nih tempatnya.
Pertama kali gue ke sini.
Ambar, lo, cowok lo gak ada rencana ngejenguk lo gitu?
Atau, emang lo gak punya aja?
Dika, udah ketemu, 'kan, mainannya?
Pulang yuk.
Dika.
Ngapain sih? Kita pulang aja yuk.
Dik.
Wah, keren banget.
Banyak juga nih, Kak.
Barang-barangnya banyak.
Jangan pegang apa-apa ya.
Kotor kayaknya.
Apaan nih?
Banyak barang-barang tua nih.
Kak Ambar!
- Kak Arthur! Tolong, Kak! - Ambar!
- Kak! - Ambar!
- Kak! - Ambar!
Apa nih? Sial.
Kak...
Ayo, Dika.
Ambar.
Pelan-pelan, Dika!
- Ambar, lo gak apa-apa, 'kan? - Kakak gak apa-apa, 'kan?
- Ada yang luka gak? - Enggak, gue gak apa-apa.
Lo yakin gak apa-apa? Ini lumanyan tinggi loh lo jatuh.
Enggak. Enggak apa-apa.
Terima kasih, Dika.
Anjing. Ini kayu-kayu di sini udah lapuk deh.
Aduh!
Ini tempat apa sih?
Gak nyangka ada tempat ginian.
Kak. Itu apa, Kak?
- Sini, Dik. - Hati-hati, Dika.
- Liat, Dik. - Ini buat apaan?
Ini kayaknya gramofon deh.
Model awal-awalan banget kayaknya
Ini nanti kamu pegangkan di sini terus nyala deh keluar suaranya.
Kompo jaman dulu?
Ya, kayak gitu.
Ada pot nih, Dik.
Kayaknya ya, semua pot-pot yang di atas pasti bikinnya di sini.
Tuh ada alatnya.
Benda apa nih?
Ada peti!
- Peti? - Tapi dikunci.
- Ada isinya, Kak? - Pasti.
Tapi gimana bukanya?
Ini apa ya?
Hati-hati, Kak.
Itu apa, Kak?
Itu apa, Thur?
Ini...
Ini patung, 'kan?
Kok gak ada kepalanya sih?
Kak. Kita balik yuk, Kak.
Mbar? Dik?
- Di bawah, Gus. - Sini, Gus.
Wow, tempat apaan nih?
Mbar, Dika, Thur?
Baru tahu gue di sini ada ruang bawah tanah.
Gus, sini.
Ada yang menarik nih, Gus.
Tada. Ada peti. Pasti dalemnya emas, Gus.
Emas? Yang benar lo?
- Yaudah kita bawa ke atas aja yuk. - Ide bagus tuh.
Kalo isinya emas, kita bagi dua, oke?
Bagi tiga dong, Kak.
Boleh.
- Mbar, patungnya itu mau dibawa juga gak? - Enggak lah.
- Ada patung? - Ya.
Ngapain bawa patung itu ke rumah?
Udah dong, buruan nih berat.
Kak. Ayo, Kak.
Mbar, Dika, ayo.
Kak. Ayo, Kak.
Kak? Kak Ambar?
Kak. Ayo, Kak.
Luar biasa, nikmatnya buka puasa hari terakhir.
Sori ya. Agak dalem tadi kayaknya.
- Gimana cara bukanya, Kak? - Oh iya, kita coba ya, Dik.
Pake obeng kayaknya.
Biar gak perih.
Terima kasih, Rin.
Nah, 'kan, kebuka.
Apa-apaan? Apaan nih?
Apa ini, Kak?
Lumayan.
Kak. Banyak barangnya, Kak.
Macem-macem.
Ini apa ya?
Itu namanya pelat.
Orang dulu bilang pelat. Sekarang itu namanya piringan hitam.
Itu kaset jaman dulu, Dika.
Sama kayak yang tadi dong.
Tapi kok namanya pelat? Aneh.
Emang bahasa jaman dulu itu.
Bikin berantakan aja. Apaan sih.
- Gus. - Oi?
- Sini. - Itu siapa, Kek?
Cantik ya?
Itu barang-barang siapa sih?
Ini yang punya pasti orang Belanda yang tinggal di sini.
Pamali ngambil barang orang.
Apalagi barang orang jaman dulu.
Takut ada apa-apanya.
Ani, jaga bicaramu.
Terlalu kamu, masih percaya dengan pamali.
- Jepang sama Belanda sekarang itu sudah tidak ada. - Kamu tuh gak ngerti, gak tau!
Kalo ada apa-apanya gimana?
Kamu itu yang gak ngerti.
- Oma, Nek, udah ya. - Oma.
- Dia memang begitu, kolot, kuno. - Udah ya jangan ribut.
Besok, 'kan, kita lebaran.
Udah tau mau lebaran masih begitu aja.
Kamu sih, Gus, pake bawa itu segala ke sini.
- Jadi ribut, 'kan, oma sama nenek. - Ya.
Tahu lagunya gak, Dik?
Kepala, pundak...
...lutut, kaki.
Ya.
Ayo semuanya, mari kita dansa.
Ayo, Kak.
- Ayo, Ambar! - Ayo, Kak. Sini, Kak.
Ikut dansa yuk.
- Ayo, Nek. - Gak mau ah.
Itu seru!
Oma, hati-hati.
Gus, kenapa nih?
Agus?
- Agus? - Ya, Kek.
- Kak? - Dika.
Kamu cek gih.
Listriknya turun kali.
Udah gak apa-apa, Dik.
Ada apa ini?
Ayo, Gus.
Sekitaran mati semua, Gus?
Aku cek bentar.
Pemadaman bergilir, Kek. Kayak biasa.
Masih perumahan di atas gunung.
Kok malam takbiran begini kok bisa ya mati lampu.
Kenapa begitu, ya?
Kak Ambar kangen ya sama papa mama?
Banget.
Kamu?
Sama.
Semoga kamu betah ya di sini.
Ada sumur serem deh, Kak, di belakang.
Masa sih?
Ya, sumur.
Kak Ambar gak ngeliat yang aneh-aneh, 'kan?
Enggak kok, Dik.
Kak Ambar gak ngeliat apa-apa.
Menurut Dika lagu yang tadi aneh.
Serem. Dika gak suka dengernya.
Udah gak usah diomongin.
Udah yuk, tidur yuk. Udah malem.
Tidur.
Kek?
Oma?
Kaget tau!
Maaf, Sayang.
Maaf, ya?
Itu udah mateng?
Udah hampir.
Tapi nantilah jam tiga aku kebangun lagi.
Gak kuat kalo nyelesainnya sekarang.
Ngantuk banget.
Yang lain udah pada tidur?
Harusnya sih udah.
Tapi aku belum cek kamarnya Ambar.
Ambar terus.
Jangan gitu dong.
Aku itu udah anggap Ambar kayak adek aku sendiri.
Sejak kapan kamu punya adek?
Adik ketemu gede.
Adek-adekan?
Kamu kalo lagi ngambek gini, lucu banget tau.
Itu siapa?
Periksa. Cepetan.
Siapa?
Gak tau.
Yaudah balik ke kamar aja.
Sayang.
Agus?
Rin?
Siapa?
Nama kamu siapa?
Kita harus pergi dari sini.
Kita ke ruang bawa tanah sekarang ya.
Tolong!
Tolong.
Kak. Kakak kenapa?
Kak?
Kak?
Tadi ruangannya nyala.
Kakak ngeliatin apa?
Gak apa-apa. Yuk.
Kak Ambar tadi ngeliat apa?
Enggak kok. Kak Ambar gak liat apa-apa.
Dah yuk tidur.
Rina?
Ida?
Siapa sih masang lagu? Bikin berisik aja.
Rina?
Gus?
Gus?
Rina?
Agus?
Agus ini selalu taro di tengan jalan.
Agus?
Ya, Sayang?
Kamu sih gak bangunin aku?
Kenapa sih pagi-pagi harus marah-marah aja?
Semalem gak aku panasin jadinya basi. Sayur basi tuh pertanda buruk.
Udah. Kan masih ada makanan yang lain.
Terus ketupatnya makan pake apa? Pake sambel?
Udah deh kamu cepetan aja tuh beresinnya. Terus bantuain aku masak.
Aduh, masak apa lagi?
- Ini pancinya yang satu lagi mana? - Itu ada ditempat biasa, Rin.
Mbar, Dika. Duduk dulu aja.
Perasaan kemaren gak seberantakan gini.
Duh gak jadi sholat Eid, ya?
Tadi subuh sih Dika kebangun tapi Dika tiduran lagi.
Gak jadi deh sholat Eid-nya.
Kak Ambar tadi malem kebangun lagi gak?
Lo kebangun?
Tadi malem aku denger suara interkom.
Ada yang manggil gak semalem?
Interkom bunyi?
Semalem, 'kan, mati lampu.
Tapi bunyi interkomnya.
Anehnya gak ada yang manggil.
Dan dari dapur.
- Gus? - Ya, Kek.
Kenapa?
Ini patung apa?
Kenapa patungnya di sini?
Aneh banget.
Kok ada di sini? Siapa yang bawa?
Gus, ini kerjaan lo, 'kan?
Jangan-jangan...
Jangan-jangan...
Ini...
Patung apa sih ini?
- Kenapa, Kek? - Kamu yang bawa?
Lo gak usah pura-pura kaget, Gus. Kemarin lo bilang, "Ngapaian bawa patung ke rumah?"
- Ujung-ujungnya lo bawa juga nih. - Ya, 'kan, gue abis dari dapur.
Tuh lo liat aja, pintu aja udah kebuka. Pasti kerjaan lo nih.
Ya enggaklah. Ini, 'kan...
Arthur, kamu jangan main-main sama Oma. Kamu becanda ya.
Pasti kamu yang bawa patung ini ke sini.
Ya ampun, Oma. Gak mungkinlah. Semalem itu ujan lebat, Oma.
Ngapain juga aku ujan-ujanan, basah-basahan cuma bawa patung beginian.
Thur, gimana mungkin patung itu bisa jalan sendiri.
Kakek!
Sudah. Gak usah ribut-ribut ya.
Ingat, ini masih hari lebaran.
Tuh dengerin kata Oma, masih hari lebaran. Mending lo balikin ke paviliun deh.
Gus, itu balikin. Lo tanggung jawab. Lo gak mau balikin lagi. Gimana sih?
Hei, Mbar.
Ternyata ini buku harian perempuan Belanda.
Yang pernah tinggal di sini.
Kakek baru baca sebagian.
Perempuan Belanda itu, tinggal di rumah ini sejak kecil.
Kedua orang tuanya sangat mencintai Indonesia serta masyarakatnya.
Bahkan dia memberi nama Indonesia pada adiknya yang bungsu.
Hal tragis kemudian terjadi pada keluaraga itu.
Adiknya meninggal di bunuh orang.
Ibunya sakit, kemudian meninggal.
Menyusul ayahnya yang bunuh diri.
Kasian.
Tapi Kakek pernah ngeliat hal aneh di rumah ini?
Maksudnya?
Ambar pernah cerita ini ke orang lain, Kek.
Tapi semenjak mata Ambar dioperasi...
...Ambar jadi sensitif sama hal-hal...
...yang orang biasa gak bisa lihat.
Kamu bisa merasakan hal gaib?
Semalem Ambar liat sesuatu, Kek.
Tapi anehnya...
...kali ini Ambar bisa liat jelas.
Semuanya klir.
Dan yang lebih aneh lagi...
...Ambar denger lagu Belanda itu lagi di interkom.
Lalu Ambar ngeliat perempuan Belanda itu.
Oma, sekali lagi ya. Oma senyum dong.
- Senyum! - Ya, senyum, Oma.
Ya gitu, Oma. Oke pertahankan. Cantik itu!
Satu, dua, tiga.
Cantik sekali, Oma.
- Ambar, Dika, foto yuk. - Sori, telat.
Tidak apa-apa.
Ayo duduk.
Dika. Duduk di sini.
Yey ketupat!
Kamu duduk sama oma. Sini sama Oma ya.
Mba Rina, Agus, foto dulu dong sini.
Ayo, kumpul!
Yuk. Foto yuk.
Senyum ya!
Satu, dua, tiga.
Cantik dan ganteng semua.
Satu lagi ya.
Nenek Ani mana ya?
Oh iya.
- Kamu gak ngecek, Gus? - Kan aku juga repot di dapur.
Aku kira tadi udah dicek.
Yaudah kalo gitu kita foto lagi, gimana?
Yuk, liatin ke sini coba semuanya.
Ambar, ngadep sini semuanya. Senyum seperti biasa.
Satu, dua, tiga.
Nek.
Nek.
Nek?
Nenek Ani udah ada?
Di kamarnya gak ada soalnya.
Lupa banget aku.
Di halaman belakang juga gak ada.
Kita harus cari.
Thur, bantu cari ya? Di halaman depan.
Ayo.
- Nenek Ani! - Ani!
Nek!
Oma. Oma di sebelah sana ya.
- Ani! - Nenek Ani!
Nenek!
- Gus, dibelakang gak ada? - Gak ada.
Coba liat di situ.
Nek! Nenek!
Nenek Ani!
- Nek? - Nenek Ani!
Nenek Ani?
Nek?
Nek Ani?
Nenek?
Nek Ani?
Nek?
Nek?
Nek Ani?
Nek Ani?
Nek...
Siapa tuh? Ayo, Rin.
- Mba Rina. Kak Ambar itu. - Dika. Ayo, Dika!
Dika, ayo cepet!
Nenek Ani?
Nenek Ani!
Kak Ambar ngerasa aneh gak sih, Kak?
Kok patungnya bisa ke sana sih, Kak?
Kakak juga gak tau, Dik.
Tapi emang aneh sih.
Sini, ada Kakak kok.
Tenang aja.
Kakak janji ya.
Kalo ngeliat yang aneh...
...kita pergi dari sini.
Yang penting kita sama-sama terus ya.
Kita akan baik-baik aja.
Agus, tolong buka pintunya. Oma mau keluar.
Oma di dalam aja ya. Di luar itu hujan deres, Oma.
Bukain gak, Gus!
Buka!
Thur lo sabar ya.
Gus, itu pilihan lo ya. Kalo lo sama yang lain mau tetap tinggal di sini, yaudah.
Tapi gue, gue mau mastiin keselamatan gue dan oma.
Jadi sekarang lo buka gak pintunya!
Lo buka gak nih pintunya! Mana kuncinya?
Sudah, sudah, sudah!
- Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. - Sabar!
Kek. Aku gak ngerasa aman di sini, Kek.
Gur, ada nenek tua meninggal gak ada kepalanya.
Mau kemana? Mau naik apa?
Kita semua tuh harus cabut dari sini, tau gak!
Ini bahaya tempatnya nih.
Lo gak bisa bawa oma dengan cara kayak gini, Thur.
Gus. Nenek Ani dibunuh, Gus.
Kepalanya gak ada.
Lo mau kita ninggalin jasad Nenek Ani gitu aja?
Ini bukan cuma soal lo.
Ini soal keluarga gue.
Semua orang yang ada di sini termasuk lo itu, keluarga gue.
Tanggung jawab gue.
Kita semua tunggu di sini.
Gue udah telepon polisi.
Agus.
Agus.
Oma itu tidak merasa aman di sini, Agus.
Tolong buka pintunya.
Oma, polisi sebentar lagi dateng.
Oma juga gak boleh jalan jauh-jauh.
Oma. Tolong, Oma.
Tolong.
Rina mohon Oma tetap di sini ya.
Ayo, Oma. Ayo.
Dengerin.
Kalo kita tetap bersama-sama di sini, kita akan aman.
Percaya!
Kalo penghuninya masih ada di sini gimana?
Mau nasib kita semua ini sama kayak Nenek Ani?
Thur! Arthur!
Biarin.
Lama banget sih polisinya.
Mungkin karena lagi lebaran, Gus. Gak semua orang kerja.
Rina. Oma pengen pulang.
Ya, Oma. Sebentar lagi ya, Oma.
Patung di situ ada yang mindahin?
Gak usah main-main lo.
Lo liat tuh.
Gue tahu, lo yang bawa patung itu masuk ke sini, 'kan?
Ya, 'kan?
Gus. Dengerin, Gus.
Coba lo mikir, Gus.
Gue ngapain bawa begituan?
Dan tadi gue ngapain main, gue liat itu patung gak ada di situ, Gus.
Udah cukup!
Aku percaya sama Arthur.
Semalem tiba-tiba aku denger lagu Belanda itu dari interkom.
Terus aku liat ada perempuan Belanda itu di dapur.
Liat?
Maksud kamu apa sih Mbar liat?
Aku bisa ngeliat hal-hal yang kalian gak bisa liat.
Udah deh Mbar. Tolong.
Hari ini tuh udah kacau banget.
Selama aku tinggal di sini juga aku gak pernah liat hal yang aneh-aneh.
Jadi tolong jangan memperkeruh suasana.
Selamat malam, saya dari polsek Cimaju.
Tadi ada yang nelpon?
Halo, semua. Saya Yudi.
Saya turut berdukacita.
Maaf saya baru dateng. Hujan deras di luar.
Membuat perjalanan ke sini, sangat sulit.
Dan sangat disayangkan ya, ada kematian di suasana lebaran seperti ini.
Gak apa-apa, Pak Yudi.
Tapi maaf, Pak. Apa Bapak datang sendirian?
Ya.
Kalian sudah panggil ambulans?
Jadi almarhumah nenek yang meninggal...
...apakah memang sudah sakit sebelumnya atau ada serangan jantung mendadak?
Itu?
Pak?
Pusat. Masuk pusat.
Pusat? Saya butuh bantuan.
Perempuan Belanda yang dimaksud oleh Ambar...
...adalah perempuan Belanda yang juga menulis buku harian ini.
Ini, ini siapa, Kek?
Sebentar.
Berarti karangan di buku ini, dia adalah kepala tentara Jepang.
Namanya Matsuya.
Pusat. Masuk pusat! Saya butuh bantuan.
Saya butuh bantuan, ini ada pembunuhan.
Bangsat!
Hei!
Siapa di sana?
Kelihatannya Matsuya ini dekat dengan orang Belanda itu.
Dia cerita juga, dia sempat dijadikan Jugun ianfu.
Kasihan dia.
- Jugun ianfu? - Ya.
Perempuan penghibur Jepang?
- Telepon mana? - Di sana, Pak.
Jangan-jangan pembunuhnya masih di area ini.
- Mati. - Tadi nyala.
Kak.
Udah, kita di sini aja dulu.
Tapi di sini gak aman.
Arthur, dengerin mereka aja.
Oma. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini, Oma.
Patungnya, Kak.
Kayaknya mati bergilir lagi deh.
Panel listriknya mana?
- Di belakang, Pak. - Kita ke sana.
Jadi ada yang sengaja nih madamin listriknya.
Kalian di sini aja...
...dan kunci semua pintu.
Ayo ikut saya.
- Tolong bantuin. - Ya.
- Bantuin sebentar. - Ya, ya.
- Ini, Dika. - Terima kasih ya, Rin.
Udah gue bilang juga pada gak percaya.
Seharusnya gue udah gak di sini.
Yang lain istirahat dulu.
Kenapa, Dik?
Kak. Kayaknya tadi patungnya gerak, Kak.
Berdiri.
Gramofonnya kok nyala?
Kak?
Sudah, ayo cepat!
Jangan berisik.
Kita harus bertemu di ruang bawah sekarang.
Kak?
Kok bisa nyala?
Ayo kita pergi sekarang.
- Ayo kita ke dapur. - Kita harus pergi sekarang.
Kita tidak punya banyak waktu.
- Kita ke sini. - Nanti mereka datang!
Ambar.
Saya mohon tolong!
Apa yang kalian lakukan?
Ngapain kalian?
Lepaskan dia!
Kakek, kenapa?
Mbar. Kenapa Mbar? Lo ngeliat sesuatu?
Perempuan itu dipukul dan diseret.
Lepaskan!
Pergi kamu dari sini!
Itu suara apa?
Kayaknya itu suara-suara kejadian yang diliat Ambar di rumah ini.
Pergi kalian! Bangsat, bajingan.
Biar gimanapun, dia itu orang Belanda.
Mereka bikin sengsara kita.
Bangsat! Kalian semua bangsat!
Perempuan itu disiksa...
...sama orang-orang kita.
Orang-orang pribumi.
Jangan bergerak.
Jangan bergerak.
Tunjukkan bahwa...
...kita ini lebih kuat dari bangsanya.
Yang sudah menyiksa kalian ratusan tahun.
Itu kenapa, Mbar?
Ada tetara Jepang menghampiri mereka.
Saya memang berjanji...
...akan membantu kalian semua.
Tapi...
...kamu ini bukan bagian dari mereka.
Rasakan pengkhianatan ini!
Mereka semua menginginkan kamu mati.
Rasa cintamu pada mereka...
...tak ada lagi artinya.
Setiap darah saya yang menetes...
...akan membuat hidup kalian semua tidak tenang.
Dika takut, Kak.
Sini, Dika. Peluk Kakek.
Mati lagi!
Akan kubunuh kalian semua!
Bajingan!
Itu suara siapa?
Mbar?
Mbar?
Mau kemana, Mbar?
Mbar?
Mbar.
Mau kemana, Mbar?
Pake payung.
Ambar!
Ambar. Tunggu, Ambar!
Hati-hati, ya!
Mbar.
Pada ngapain di sini?
Dia masuk ke dalam sana.
Patung itu, gue percaya sama Ambar.
Ini ada apaan?
Kalian kemana semua?
Dika bawa oma masuk.
Sayang, ini ada apa sih?
Di dalam gak aman, Gus. Kita semua ngeliat hal yang aneh.
Dia masuk ke dalam sini.
Dia siapa?
Ruangan apa ini?
Ambar kenapa?
Ambar bisa ngeliat kejadian di masa lalu.
Itu apaan?
Itu bayangan yang kita liat tadi di atas.
Mungkin ini ada hubungannya sama kematian Nenek Ani.
Maksud lo?
Kok hidup?
Kok itu bisa hidup?
Itu diapain?
Kamu masih ingat, 'kan...
...lagu yang sering kita nyanyikan di depan halaman rumah dulu?
Aku akan selalu suka masakan Ibu.
Aku akan selalu ingat bagaimana Ibu dan ayahmu begitu mencintai kami
Tapi kemudian...
...semua rasa cinta kalian terhadap bangsa ini...
...malah membuat kalian sengsara.
Itu kenapa, Mbar?
Dia membuatnya menjadi patung.
Dan jasad perempuan itu ada di dalam patung itu.
Jadi itu jasad patung yang di atas?
Aku akan selalu mengenangmu.
Maafkan aku.
Setiap darahmu yang menetes, tidak akan membuat hidup mereka semua tenang.
- Kamu mau kemana? - Hei, lo mau kemana, Mbar?
- Tunggu dulu! - Mbar.
Orang itu keluar.
Lo liat apa, Mbar?
Ini kenapa?
Kenapa, Mbar? Kenapa?
Bangsat kalian!
Kenapa, Mbar?
Hei, kenapa, Mbar?
Laki-laki itu dipukul dan diseret.
Mbar, kok kursinya jatuh?
Tadi gak begini, 'kan?
Hati-hati, Pak.
Aneh.
Apa itu?
Kita harus gimana, Kak?
Naik ke atas!
Terus kita harus gimana?
Pergi buruan!
Ayo naik semua!
Ayo cepat, naik semuanya!
Agus!
Rina!
- Ayo naik! - Agus!
Ayo cepat!
Kita harus keluar dari sini!
Semua masuk ke mobil saya, ayo!
Ayo cepetan, semuanya!
Rina, kita harus pergi dari sini!
- Rina, ayo! - Aku gak mau ninggalin Agus!
Bantu oma!
Ayo, Ambar. Ayo cepat!
Ayo cepat! Lari cepetan!
Cepat!
Ini gak bisa hidup!
Pergi dari sini, cepat!
Kenapa?
Ini kenapa sih? Kok nyala sendiri.
Cepetan, Pak. Nyalain mobilnya!
Setiap darah saya yang menetes...
- ...akan membuat hidup kalian semua tidak tenang. - Matiin!
Kembalikan kepala saya!
Itu! Itu dia di belakang!
Dia mendekat!
Kembalikan kepala saya!
Dia hilang! Gak ada.
Kunci pintunya!
Kunci!
Oma!
Ida!
Gak bisa dibuka!
Tolong!
Oma!
Arthur!
Oma...
- Arthur! - Oma!
Oma!
Arthur!
Arthur!
Arthur!
Arthur...
Kita harus jalan.
Kalo kita keluar, kita yang mati!
Terus kita harus gimana?
Dia pasti ngincer kepala kita semua.
Mungkin kita harus hancurin patungnya?
Kita harus kembali ke dalam.
Ayo, cepet!
Hancurin aja!
Langsung, ayo!
Mbar kenapa?
Tentara Jepang itu...
...membuang kepalanya di sumur.
Sumur di belakang.
Kak Ambar!
Dika!
Ini kita mau ke sana! Kita hancurin di sana!
Hati-hati, Kak.
Dia buang kepalanya di sini.
Kita hancurin di sini aja.
Ambil kapak itu.
Ambil botol-botol alkohol itu!
- Alkohol? - Udah jangan dibahas, cepat!
Cepet!
Itu apa, Kak?
Ambar benar.
Jasadnya ada di patung ini.
Kita buang ke dalam. Kita bakar di situ.
Ambil botol-botol itu! Ambil!
Jerigen itu.
Cepetan.
Ambil itu, cepat!
Cepetan!
Sekarang kita bakar!
Koreknya mana?
Bakar, Pak!
Njing! Di mobil!
Cepet, Pak!
Kek. Ambil di dapur Kek koreknya!
Dika! Ambar!
Dika, Ambar! Tunggu di situ!
Dika!
Dika! Rina! Rin!
Kak Ambar!
Kek. Ambar, Dika jatuh, Kek.
Dika!
Kalian semua akan mati!
- Di bawah. Mereka jatuh, Kek! - Loh kok bisa?
Dika, Ambar!
Dika!
Ambar!
Dika.
Kalian di mana?
Dika...
Kak. Kakak di mana, Kak?
Dika!
Kak. Kakak di mana, Kak?
Kak Ambar!
Dika!
- Koreknya mana? - Ini.
Coba sekarang lempar!
Lempar koreknya!
Rina. Koreknya, Rina!
Dika! Ambar!
Ambar! Dika!
Ambar!
Kak Ambar...
Kembalikan kepala saya!
Dika...
Kak Ambar!
Ambar!
Kakak!
Kak?
Kak.
Kakak baik-baik aja, 'kan? Kak?
Kak! Kakak!
Hei, kalian baik-baik aja?
Dika, tenang. Bantuan segera datang.
Ini semua penghuninya pindah, Bu?
Ya.
Tapi sejak kejadian itu, memang udah gak banyak yang tinggal di panti ini.
Kejadian itu memang cukup gempar, Bu. Beritanya di mana-mana.
Untung yang selamat cukup banyak, Bu.
Kita mau pindah ke lokasi yang lain.
Ada lagi, Pak?
Kek.
- Sekalian. - Ini saja, Pak?
Baik, saya bawa ke mobil ya, Pak.
Perempuan ini sama siapa, ya?
Coba lihat.
Sepertinya adiknya.
Dimas, Elizabeth, Ivanna.
- Kak, ayo. - Ya.
Yuk, Kek.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.